Showing posts sorted by relevance for query tangannya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query tangannya. Sort by date Show all posts

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Wednesday, June 12, 2013

Kaasiyaatun 'Aariyaat

Ali r.a. berkunjung kepada Nabi saw. bersama Fatimah r.anha. Nabi saw sedang menangis terisak. Ali bertanya, “Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, hai Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis ?”


Rasulullah saw menjawab, “Hai Ali pada malam ketika aku diisra’kan ke langit, kulihat beragam wanita dari umatku disiksa di neraka, aku menangis karena beratnnya siksaan itu. Aku lihat wanita digantung rambutnya dan otaknya mendidih. Ada wanita digantung dengan lidahnya, sedang air mendidih dituang ke tenggorokan. Ada lagi wanita kedua kakinya dipasung hingga buah dada dan kedua tangannya terbelenggu di ubun-ubun. Allah Swt perintahkan ular dan kalajengking untuk menyiksa. Ada wanita digantung dengan kedua buah dadanya. Ada wanita berkepala babi dan berbadan keledai, mengalami beribu siksa. Ada wanita berbentuk anjing, sedang api neraka membakar dirinya masuk melalui lubang mulut dan keluar melalui duburnya, sementara para malaikat memukulinya dengan godam panas.”


Fatimah r.anha bangkit dan berkata, “Wahai kekasih dan permata hatiku, sesungguhnya apa yang mereka lakukan dengan siksa seberat itu ?” Rasulullah saw: “Wahai putriku, perempuan digantung dengan rambut sendiri karena tak menutup rambut dari pandangan lelaki lain. Perempuan digantung menggunakan lidah karena menyakiti suami. Perempuan digantung dengan kedua buah dada karena mengotori tempat tidur (bersetubuh dengan lelaki lain). Perempuan dipasung kedua kakinya dan kedua tangannya dirantai ke ubun-ubun, Allah perintahkan ular dan kalajengking menyiksa, karena tak mandi junub, tak mandi setelah haid dan melalaikan sholat. Perempuan berkepala babi berbadan keledai karena pengadu lagi pendusta. Perempuan berbentuk anjing dan api membakar masuk melalui mulut dan keluar melalui dubur, karena suka mengungkit (pemberian ke suami) dan dengki. Putriku, celakalah istri maksiat pada suami’.


Kemudian Nabi saw bwesabda :


“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim/2128).


Belum pernah ada tapi terjadi setelah beliau tiada. Menurut An Nawawi, ‘kasiyaatun ‘aariyah dalam hadis itu, bermakna; Pertama, wanita mendapat nikmat tapi tak bersyukur. Buka aurat, kepala, telapak kaki, paha, celana dan rok di atas dengkul. Budaya barat berbumbu maksiat bercumbu aurat. Kedua, wanita berpakaian tapi kosong amal, tak mengutamakan akhirat dan tidak taat. Ketiga, wanita sengaja pamer anggota tubuh. Berpakaian tapi telanjang. Keempat, wanita berpakaian tipis hingga jelas bagian dalam. Zohirnya berpakaian, hakikatnya telanjang. (Syarh Muslim, 9/240). Akan muncul di kalangan umatku, lelaki menunggang atas pelana, turun di pintu masjid. Isteri dan anak perempuannya berpakaian tipis dan ketat. Di kepalanya bonggolan (sanggul atau tocang) seperti punuk unta. Laknatlah mereka. Sungguh mereka wanita terlaknat” (HR Ahmad 2/223).


Ibnu ‘Abdil Barr rah.a memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat; wanita berpakaian tipis menggambarkan bentuk tubuh. Pakaian belum menutup anggota tubuh yang wajib ditutup sempurna. Berpakaian namun hakikatnya telanjang. Perempuan muslim mengenakan kerudung menutup kepala dan rambut, namun bahan tipis, transparan, ketat, sehingga menampakkan lekuk tubuh. Kepala dibalut kerudung atau jilbab, kaos ketat, celana full pressed body, konon kerudung gaul. Padahal mereka melecehkan syariat. Simbolnya Islam modelnya batil. Wanita berkerudung gaul tutup aurat dengan paradigma, ‘perempuan harus mensyukuri keindahan tubuh sebagai anugerah Allah, lalu memamerkannya.’ Maraknya kerudung gaul akibat akal minim dilanda iklim. Ikut-ikutan, korban iklan, sambil berangan, ‘Nikmatilah keindahan tubuh dan kecantikanku.’ Adakah yang mau mendekat ? Adakah yang mau memandang ? Adakah yang mau tersenyum ? Setiap orang mengigau, ‘Aduhai betapa cantiknya ?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa berpakaian sombong (berbangga) di dunia maka Allah akan pakaikan kehinaan di akhirat.’(HR Abu Dawud). Al Munawi memaknai kaasiyaatun ‘aariyaat (berpakaian tapi telanjang); wanita berpakaian tipis tampak kulit. Menampakkan perhiasan tanpa pakaian takwa. Makna lain, tandanya tidak syukur nikmat. Menutup sebagian, membuka sebagian. (Faidul Qodir, 4/275).


Kaasiyaatun ‘aariyaat ; ‘Wanita berpakaian tipis nampak bagian dalam tubuhnya dan membuka sebagian aurat yang wajib ditutup.’ Jika wanita mengetahui sesuatu haram tapi menghalalkannya, maka ia jatuh ke derjat kafir. Bagi mukminah, menundukkan pandangan; menjaga kemaluan; tidak menunjukkan perhiasan kecuali apa yang seharusnya; menutupi dada dengan kerudung; tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada suami dan mahram.


Di sini akan tampak selas bahwa syariat itu berkaitan langsung pada Allah Swt, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Setiap amalan menuju kesempurnaan tauhid. Berpakaian bukan sekadar tutup aurat, adat atau model dari keadaan dan tempat tertentu, tapi kaitannya adalah ketaatan terhadap syariat. Ada pendapat kalau di kolam renang boleh pakai bikini, di lapangan bola boleh pakai celana pendek, cadar itu budaya Arab tidak cocok untuk Indonesia, berjubah dan berjanggut budaya Arab tidak sesuai budaya kita. Itulah mulut- mulut tak bertanggungjawab. Padahal itu ajaran Islam yang jelas, baku, bersih dan furqon (pembeda), dilandasi nash yang qath’i. Coba anda jalan-jalan di Amerika, London, Meulborne (Australia), Nagoya (Jepang) jelas kelihatan wanita muslimah dan non muslimah dari cara berpakaian. Padahal muslimnya minoritas. Justru terbalik, di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Di tempat umum, kita enggan mengucap salam, kalau-kalau yang dihadapi non muslim. Karena hak menjawab salam dengan kata Alaikumussalaam wajib dan untuk sesama muslim. Tapi karena orang Islam (terutama wanitanya) kebanyakan cara berpakaiannya sama saja dengan wanita non muslimah, bahkan pada waktu-waktu shalat kebanyakan muslimahnya tidak shalat, sehingga tak ada yang membedakan mereka, maka menjadi rancu. Tak menunjukkan Islam sebagai Furqon. Islam KTP, tak ada dalam kehidupan nyata. Semestinya ingat, isi neraka itu mayoritas perempuan. Rasulullah saw. sekembali Isra dan Mi’raj, menyaksikan, perempuan digantung dengan rambutnya, otak di kepalanya mendidih. Mereka dulu tak melindungi rambut (tak berjilbab) agar tak dilihat lelaki lain. Perempuan yang digantung dengan lidahnya, tangan dikeluarkan dari punggungnya, kerongkongan dituang minyak panas. Mereka suka menyakiti hati suami dengan kata-kata. Perempuan mengunyah-ngunyah badan sampai hancur sambil berteriak kesakitan, Allah cipta badan baru dan lebih mulus, lalu dikunyah-kunyah lagi. Dulu, di dunia sering mempertontonkan tubuh dan aurat di depan khalayak (seperti penyanyi, penari, perenang, artis dan sebagainya). Perempuan digantung dengan buah dada dari arah punggung dan air pohon zaqqum dituang ke kerongkongannya. Merekalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa izin suami. Perempuan diikat dua kaki dan dua tangan sampai ke ubun-ubun dan dibelit ular dan kala jengking. Mereka yang mampu sholat dan puasa, tapi tak mau mengerjakan, tak berwudhu dan tak mau mandi junub. Keluar rumah tanpa izin suami (wanita karir, TKW), tidak mandi dan tidak bersuci selesai haid dan nifas. Perempuan makan daging tubuhnya sementara di bawahnya api menyala. Perempuan berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang (para artis, selebritis, wartawan gosip, antara lain dalam infotainment, tari-tarian, showbiz dan wanita karir). Perempuan memotong badan sendiri dengan gunting neraka. Karena suka mencari perhatian orang agar melihat perhiasan diri (artis dan selebritis). Perempuan kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai. Suka mengadu domba dan pendusta. Perempuan berwajah anjing, ular dan kala jengking masuk ke mulut dan keluar melalui dubur. Yakni, suka marah kepada suami dan memfitnah orang. Jika ancamannya jelas, kenapa wanita masih pakai rok dosa ? pamer paha ? pamer rambut ? pamer telapak kaki ? pamer leher ? Jawabannya ada pada iman masing-masing.


                                                        Penulis, pemerhati masalah keislaman.


Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/03/29/154627/mui-sumut-pelaku-kumpul-kebo-harus-dihukum-berat


Kaasiyaatun 'Aariyaat

Wednesday, August 14, 2013

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Cerminan Keberagaman di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Keberhasilan pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi juara pada Kejuaraan Dunia 2013 sungguh membawa angin segar bagi Indonesia. Tidak hanya angin segar bagi prestasi Indonesia di bidang olah raga, keberhasilan Tontowi/Liliyana merupakan cerminan dari keberagaman di tanah air.


Liliyana Natsir sebelumnya sudah dua kali berturut-turut menyandang gelar juara dunia bersama Nova Widianto yang juga memeluk agama Katolik. Sejak Nova gantung raket, Butet, sapaan akrab Liliyana, harus berpasangan dengan Tontowi Ahmad yang dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang kuat. Kedua orang tua pemuda asal Sumpiuh, Banyumas itu bahkan sudah menunaikan ibadah Haji. Sementara itu Liliyana Natsir dibesarkan dalam keluarga Katolik di Manado.


Meski berbeda latar belakang daerah dan agama, keduanya tetap tampil bagus dan berhasil menyandang gelar juara dunia. Selain itu, Tontowi/Liliyana juga dua kali menjuarai All Englan dan Singapura Terbuka dalam jumlah yang sama.


Dalam perbedaan, Indonesia juga pernah meraih prestasi di bulu tangkis. Masih ingat jelas Indonesia pernah melahirkan pasangan ganda putra legendaris Ricky Subagja/Rexy Mainaky yang pernah meraih medali emas di Olimpiade Atlanta. Ricky Subagja memeluk Islam, sementara Rexy memeluk Kristen Protestan. Saat merayakan kemenangan, Ricky dan Rexy pun kerap melakukan hal yang berbeda. Ricky menengadahkan kedua tangannya, sementara Rexy bersujud dan mengatupkan tangannya.


Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Ricky Subagja/Rexy Mainaki adalah segelintir cerminan keberagaman di Indonesia. Namun demikian, setidaknya keberhasilan mereka menyampaikan pesan bahwa selama bersatu di atas keberagaman, Indonesia bisa berjaya.


Article source: http://www.gatra.com/entertainmen/apa-siapa/35588-jadi-mualaf,-bella-saphira-teteskan-air-mata.html


Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Cerminan Keberagaman di Indonesia

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Monday, December 24, 2012

Ketua MPU Aceh pun Terkena DBD

Banda Aceh – Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, Drs. Tgk. H. Gazali Mohd Syam terserang penyakit  Demam Berdarah (DBD) di Lhokseumawe. Saat ini ia sedang dirawat di rumah sakit Bunga Melati Kota Lhokseumawe.

Informasi Ketua MPU Aceh  sedang sakit diperoleh dari keluarganya saat The Globe Journal hendak mengkonfirmasi menyangkut dengan perayaan Tahun Baru 2013 dan hukum dalam Islam mengucapkan selamat Natal untuk umat Kristen.

“Bapak lagi sakit, terserang demam berdarah di Lhokseumawe,” ungkap istrinya Afnizar saat dihubungi oleh The Globe Journal Senin (24/12/2012).

Menurut penjelasan Afnizar istrinya Ketua MPU Aceh Drs. Tgk. H. Gazali Mohd Syam. Ia terserang sakit saat pulang ke Lhokseumawe bersama keluarganya. Sesampai di Lhokseumawe ketua MPU Aceh harus dilarikan ke rumah sakit akibat terserang penyakit DBD.

“Sudah dua hari ini Bapak masuk rumah sakit,” tukasnya kembali.

Istrinya Afnizar sempat meminta maaf, bukannya Drs. Tgk. H. Gazali Mohd Syam  tidak mau mengangkat telephon. Akan tetapi, ditangannya terpasang infus, sehingga tidak bisa menggerakkan tangannya.

“Bapak gak bisa angkat telphon, karena tangannya masih ada infus, jadi ini dengan istrinya,” jelas Afnizar kembali.

Article source: http://kabarcepat.com/2012/12/23/-cegah-remaja-masuk-tempat-hiburan-fpi-nyaris-bentrok-lawan-preman-


Ketua MPU Aceh pun Terkena DBD

Saturday, July 20, 2013

Kepemimpinan Rasul di Madinah

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb.


Ustaz, tokoh-tokoh liberal selalu menjadikan kepemimpinan Rasulullah di Madinah, khususnya dengan adanya piagam Madinah, sebagai pembenaran akan pendapat dan pemikiran mereka.


Rasulullah sangat toleran dan tidak bersikap keras terhadap golongan agama lain yang ada di Madinah pada waktu itu dan membiarkan mereka menjalankan ajaran agama mereka secara bebas. Bagaimana sesungguhnya memandang kepemimpinan Rasulullah di Madinah?


Ardiansyah Firman – Yogyakarta


Waalaikumussalam wr wb.


Allah SWT berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8).


Dalam ayat ini, Allah menegaskan, tidak ada larangan bagi orang beriman berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memerangi agama Islam. Juga, tak mengusir kaum Muslimin dari kampung halaman mereka.


Dalam ayat lain, Allah memerintahkan, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Dialah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS al-Anfal [8]: 61).


Allah menegaskan pula, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).


Inilah yang menjadi sandaran Nabi dalam berinteraksi dengan orang-orang kafir. Beliau memang sangat toleran dan penuh kasih sayang, baik kepada kaum Muslimin maupun kepada non-Muslim.


Banyak orang kafir dan musyrik yang masuk Islam karena keluhuran budi dan kemuliaan akhlak Nabi. Hal itulah yang beliau tuangkan dalam piagam Madinah yang dianggap sebagai konstitusi pertama di dunia.


Semua golongan, umat Islam dengan kaum Muhajirin dan Ansharnya, kaum Yahudi dengan berbagai kabilahnya, dan orang-orang musyrik Madinah dilindungi dan dibiarkan bebas menjalankan ajaran agama masing-masing. Tetapi, dengan syarat mereka mematuhi piagam Madinah dan tidak mengkhianati isinya.


Namun, ketika isi perjanjian dalam piagam Madinah itu dilanggar salah satu pihak yang bersepakat, sebagaimana kaum Yahudi dari Bani Quraizhah ketika melanggar piagam Madinah, berkhianat dengan membantu musuh-musuh Islam dalam perang Khandaq, Rasulullah memerangi dengan mengepung mereka sampai 25 malam hingga akhirnya mereka menyerah.


Lihatlah bagaimana hukuman yang dijatuhkan Rasulullah kepada Yahudi dari Bani Quraizhah. Rasulullah menyerahkan hukuman atas mereka kepada Sa’d bin Mu’az yang kemudian memutuskan semua laki-laki Yahudi Bani Quraizhah dibunuh, wanita dan anak-anaknya dijadikan tawanan, sedangkan hartanya dijadikan harta rampasan perang yang dibagikan kepada kaum Muslimin. Inilah konsekuensi dari Piagam Madinah tersebut.


Kalau kaum liberalis memperhatikan hukuman ini, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk mengatakan bahwa Nabi sangat toleran atau malah sebaliknya, menuduh Nabi sebagai pemimpin sadis yang kejam.


Begitu juga sikap Nabi terhadap kaum kafir yang memerangi Islam dan tidak bersikap damai. Rasulullah bersikap tegas dan selalu melindungi hak dan kepentingan kaum Muslimin.


Hal itu sesuai firman Allah, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS al-Mumtahanah [60]: 9).


Dan dalam hadis Nabi juga dijelaskan mengenai persoalan ini. Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pernah juga memukul seorang pembantu. Beliau hanya memukul jika sedang berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu pun, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali, jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau akan membalas dengan hukuman hanya karena Allah ‘Azza Wa Jalla.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bish shawab.


Ustaz Bachtiar Nasir


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Kepemimpinan Rasul di Madinah

Tuesday, July 2, 2013

Abu Bakar yang Setia

REPUBLIKA.CO.ID, Abu Bakar tetap menemani Rasulullah saat peristiwa hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah pada 622 M.  Dia menjadi sahabat satu-satunya yang menemani Rasulullah.


Kesetiaan Abu Bakar semakin menjadi tatkala dia mengikat tali kekeluargaan dengan Nabi Muhammad. Anak perempuannya, Aisyah, menikah dengan Rasulullah beberapa saat setelah hijrah.


Nama awal Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah. Dalam lembaran sejarah disebutkan nama ayahnya adalah Abu Quhafah. Ini pun bukan nama sebenarnya. Utsman bin Amir demikian nama lain dari Abu Quhafah. Abu Bakar lahir pada 573 Masehi, lebih muda sekitar tiga tahun dari Nabi Muhammad.


Sebelum masuk Islam, ia dipanggil dengan sebutan Abdul Ka’bah. Ada cerita menarik tentang nama ini. Ummul Khair, ibunda Abu Bakar sebelumnya beberapa kali melahirkan anak laki-laki.


Namun setiap kali melahirkan anak laki-laki, setiap kali pula mereka meninggal. Sampai kemudian ia bernazar akan memberikan anak laki-lakinya yang hidup untuk mengabdi pad Ka’bah. Maka, lahirlah Abu Bakar.


Setelah Abu Bakar lahir dan besar ia diberi nama lain; Atiq. Nama ini diambil dari nama lain Ka’bah, Baitul Atiq yang berarti rumah purba. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Abdullah. Nama Abu Bakar konon berasal dari predikat pelopor dalam Islam. Bakar berarti dini atau awal.


Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah mengabarkan tentang keutamaan sahabat sekaligus mertua beliau ini. “Tak seorang pun yang pernah kuajak masuk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu ragu dan berhati-hati kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunggu-nunggu atau ragu-ragu ketika kusampaikan hal ini,” sabda Rasulullah.


Hal ini pula yang menyebabkan ia dilantik dengan gelar Ash-Shiddiq di belakang namanya. Abu Bakar memang selalu membenarkan Rasulullah tanpa sedikit pun keraguan. Pada peristiwa Isra’ Mikraj, Abu Bakar adalah orang pertama yang percaya saat Rasulullah menyampaikan hal itu. Tanpa setitik pun ada kebimbangan di benaknya.


Abu Bakar memulai misi mulia dalam menyerukan agama Allah, sehingga berkat tangannya, Allah memberikan hidayah-Nya kepada generasi pertama Islam (As-Sabiqunal Awwalun), di mana dengan kesabaran dan kesungguhan mereka membangun Islam.


Ia mulai menyebarkan Islam kepada orang-orang di kaumnya yang ia percayai, orang yang berteman dan duduk bersamanya. Sehingga banyak sekali yang masuk Islam karenanya seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf.


Mereka ini berangkat menemui Rasulullah ditemani Abu Bakar. Lalu beliau menawarkan Islam kepada mereka, membacakan Al-Qur’an, menjelaskan kebenaran Islam, hingga mereka beriman.


Betapa mulianya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang telah mengislamkan lima dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Umar berkata, “Abu Bakar adalah junjungan kami dan telah memerdekakan junjungan kami, yakni Bilal.”


Ibnu Umar berkata, “Dahulu kami melakukan pemilihan kepada orang-orang pada zaman Nabi Saw masih hidup siapakah yang terbaik, maka kami memilih Abu Bakar dan kemudian Umar bin Khatab dan kemudian Utsman bin Affan.” (HR Bukhari)


 



Abu Bakar yang Setia

Sunday, January 27, 2013

Saat patung bugil di Istana dituding jadi sumber bencana Jakarta

Jakarta seakan tidak lepas dari bencana banjir. Hampir tiap tahun, ibu kota Indonesia ini selalu kebanjiran. Bahkan, banjir besar lima tahunan terus mengancam warga.

Bukan menyalahkan ahlinya yang tidak becus mengelola Jakarta, Forum Umat Islam (FUI) menuding kemaksiatan menjadi sumber bencana di Jakarta dan Indonesia. Apalagi ada karya seni berupa patung wanita setengah bugil di Istana Negara, hal ini dianggap penyebab Indonesia selalu dirundung bencana.

“Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan tidak akan masuk malaikat ke dalam satu rumah yang ada patung-patung. Apalagi ini patung-patung wanita bugil. Ikon bangsa kita kan Istana, ini sumber syirik, kemaksiatan,” kata salah satu koordinator FUI Bernard Abdul Jabbar kepada merdeka.com, Senin (21/1) lalu.

Bernard membenarkan penyebab banjir karena tanggul jebol atau curah hujan yang tinggi. Tapi menurutnya itu semua adalah kehendak Allah karena melihat terlalu banyak maksiat di Jakarta. FUI baru mengetahui banyak karya seni wanita setengah bugil setelah melihat pemberitaan Istana kebanjiran.

“Kalau dari kacamata Islam ini mengurangi keberkahan bangsa kita. Kalau malaikat saja tidak mau masuk ke Istana bagaimana negara kita mau diberkahi,” tambahnya.

Bernard meminta para pemimpin negeri ini agar mendekatkan diri pada Allah. Para pemimpin yang adil akan membawa berkah bagi seluruh warga, bukan hanya umat Islam tetapi juga agama lain.

“Telah banyak kerusakan di muka bumi ini karena tangan-tangan manusia. Seharusnya para pemimpin bertobat,” tegasnya.

Ketika merdeka.com mencoba mengkonfirmasi mengenai pernyataan yang disampaikan salah satu koordinator FUI Bernard Abdul Jabbar, pihak Istana memilih tidak berkomentar. Termasuk ketika mencoba bertanya kepada Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha.

Ditemui usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Gedung Utama Kementerian Sekretariat Negara, Julian hanya diam dan mengadahkan tangannya tanpa menyebutkan satu kata pun sembari masuk ke dalam lift bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Ketua KEN Chairul Tanjung.

Diketahui ada empat patung wanita bertelanjang dada di Komplek Istana Kepresidenan. Patung-patung itu merupakan peninggalan Presiden Soekarno.

Article source: http://news.detik.com/read/2012/10/27/090320/2073822/10/christop-rela-bermalam-di-stasiun-juanda-demi-daging-kurban-di-istiqlal?9911012


Saat patung bugil di Istana dituding jadi sumber bencana Jakarta

Tuesday, January 22, 2013

Istana tak mau tanggapi soal patung bugil penyebab banjir

Forum Umat Islam (FUI) menilai kemaksiatan menjadi sumber bencana di Jakarta dan Indonesia. Apalagi ada karya seni berupa patung wanita setengah bugil di Istana Negara, hal ini dianggap penyebab Indonesia selalu dirundung bencana.

Ketika merdeka.com mencoba mengkonfirmasi mengenai pernyataan yang disampaikan salah satu koordinator FUI Bernard Abdul Jabbar, pihak Istana memilih tidak berkomentar. Termasuk ketika mencoba bertanya kepada Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha.

Ditemui usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Gedung Utama Kementerian Sekretariat Negara, Julian hanya diam dan mengadahkan tangannya tanpa menyebutkan satu kata pun sembari masuk ke dalam lift bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Ketua KEN Chairul Tanjung.

Sebelumnya, Bernard mengatakan penyebab banjir karena tanggul jebol atau curah hujan yang tinggi. Tapi menurutnya itu semua adalah kehendak Allah karena melihat terlalu banyak maksiat di Jakarta. FUI baru mengetahui banyak karya seni wanita setengah bugil setelah melihat pemberitaan Istana kebanjiran.

“Kalau dari kacamata Islam ini mengurangi keberkahan bangsa kita. Kalau malaikat saja tidak mau masuk ke Istana bagaimana negara kita mau diberkahi,” tambahnya.

Bernard meminta para pemimpin negeri ini agar mendekatkan diri pada Allah. Para pemimpin yang adil akan membawa berkah bagi seluruh warga, bukan hanya umat Islam tetapi juga agama lain.

“Telah banyak kerusakan di muka bumi ini karena tangan-tangan manusia. Seharusnya para pemimpin bertobat,” tegasnya.

Article source: http://jakarta.okezone.com/read/2012/10/10/505/702125/fpi-bantah-nyuruh-ahok-masuk-islam


Istana tak mau tanggapi soal patung bugil penyebab banjir

Wednesday, February 20, 2013

Jenderal polisi: Personel harus sadar pentingnya anjing pelacak

Direktur Polisi (Dir Pol) Satwa Mabes Polri, Brigjen Pol Machfud Arifin terus menyidir personel Polri yang enggan memanfaatkan anjing pelacak. Menurutnya, akibat tak percaya pada satwa didikan satuannya, banyak polisi yang melakukan tindakan sia-sia, salah satunya adalah Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan.

Tangan perwira menengah Polri itu putus karena mengutak-atik bom buku yang ditujukan untuk aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, pada 2011 lalu.

“Tidak perlu Kasat Reserse tangannya putus kalau dia pakai binatang. Karena tidak percaya sih. Kemampuan anjing saya unggul melacak kriminal umum, handak dan narkoba. Nggak perlu tuh Gegana itu kalau sudah terdeteksi bom untuk di mal kalau anjing sudah turun, dia jongkok itu berarti bom,” terang Brigjen Machfud Arifin di Humas Polri, Rabu (20/2).

Menurut Machfud, polisi Indonesia harus sadar pentingnya anjing pelacak. Bahkan film-film luar negeri pun sudah mencontohkannya. Dia juga mengklaim anjing pelacak didikan satuannya pernah digunakan oleh pasukan pengamanan presiden Amerika Serikat untuk sterilisasi.

“Waktu kehadiran Bush dan Hillary Clinton, satwa kita yang masuk. Di film-film nyari pelaku cari pakai anjing di film Rambo, penangkapan Osama juga masuk pakai satwa ini,” jelas dia.

Jenderal polisi bintang satu ini juga pamer soal kehebatan anjing pelacak milik satuannya.

“Satwa kita mampu mendeteksi kecelakaan lalu lintas padahal yang nabrak enggak tahu, diendus anjing kita tahu kendaraannya. Kasus di Bogor longsor, kita bantu kalau terlambat pasti mati. Sekarang menyiapkan pelatihan BNPB untuk peranan dalam kemanusiaan itu,” bangganya.

Machfud mengimbau agar polisi di kesatuan lain tak usah segan menggunakan satwa didikannya. “Seharusnya mereka sangat bersyukur kita ada, nggak usah dikasih makan manfaatkan kita, rugi kalau merasa bisa mengatasinya. Di unjuk rasa juga ada protapnya, ada satwa yang berperan, sebelum Brimob,” tutupnya.

Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/02/20/mahasiswa-stain-pamekasan-tuntut-pergantian-pengelola-perpustakaan.html


Jenderal polisi: Personel harus sadar pentingnya anjing pelacak

Thursday, December 27, 2012

Kaleidoskop Dunia Islam: Bayi Lahir Bawa Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, NIGERIA – Seorang bayi di Nigeria lahir sembari membawa Alquran dari rahim ibunya.

Sejatinya, ibu bayi tersebut beragama Kristen, tapi setelah melihat keajaiban tersebut, sang ibu dan nenek bayi langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan diri masuk Islam.

Seperti diberitakan harian Pmnewsnigeria, Senin (14/5), , bayi tersebut lahir di 112 Olateju Street, Mushin, Lagos State, Nigeria Barat Daya pada 7 Mei 2012 lalu. Saat keluar dari rahim ibundanya, bayi tersebut membawa sebuah mushaf kecil di tangannya.

Kikelomo Ilori, ibu si bayi, adalah wanita 32 tahun yang bekerja sebagai seorang ahli kecantikan. Ia langsung mengganti namanya menjadi Sherifat ketika masuk Islam. Hal itu diikuti nenek bayi tersebut yang mengganti namanya menjadi nama Islam.

Kelahiran bayi itu pun menyedot perhatian para ulama di negara benua hitam tersebut. Para ulama di Nigeria berkumpul untuk memberikan nama si bayi. Setelah menyampaikan ceramah singkat, seorang ulama Nigeria, Ustad Abdul Rahman Olanrewaju Ahmed, memberikan nama si bayi Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo.

Untuk menghindari syirik dan kesesatan, Ustad Abdul Rahman juga menasihati sang ibu bila bayinya bukanlah seorang nabi, meskipun ia terlahir dari rahimnya sambil memegang Alquran. Menurutnya, kejadian itu merupakan kehendak Allah, untuk mengirim bayi tersebut ke dunia dengan cara yang menakjubkan.

Kelahiran sang bayi pun memberi berkah bagi tetangga sekampung. Pedagang tumpah ruah menjual berbagai souvenir terkait bayi tersebut, mulai dari kaos, tasbih, dan foto si bayi.

Tak heran bila kelahiran bayi tersebut dianggap kontroversial oleh sebagian pihak. Ada yang menganggap mustahil, namun sebagian lainnya menganggap kejadian tersebut adalah kuasa Tuhan.

Bahkan, seorang dokter dipecat gara-gara mengatakan kejadian tersebut adalah hoax alias berita bohong. Padahal saksi, media dan ibunya sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/hikmah/12/04/16/m2kssg-pemimpin-bijaksana


Kaleidoskop Dunia Islam: Bayi Lahir Bawa Alquran

Monday, June 24, 2013

Cinta kelembutan benci kekerasan

Dicaci, diseret, diusir dari tanah kelahiran mereka. Itulah nasib menimpa 168 pengungsi Syiah di Gedung Olah Raga Sampang, Madura Jawa Timur, Kamis pekan lalu.


Mereka mengungsi di sana setelah permukiman mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dirusak dan dibakar, akhir Agustus tahun lalu. Penyerangan oleh sekitar 200 orang itu membuat dua penganut Syiah terbunuh, puluhan lainnya luka, dan sepuluh rumah terbakar.


“Kami pasrah kepada Allah. Kami tidak takut karena kami tidak mengganggu mereka,” kata Iklil Almila saat dihubungi merdeka.com Jumat pekan lalu melalui telepon selulernya. Iklil adalah adik dari Tajul Muluk, pemimpin komunitas Syiah di Sampang. Dia kini mendekam di penjara karena dituduh menodai agama.


Banyak pihak mengecam kejadian itu, termasuk Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama Said Aqil Siradj. Dia menegaskan pengusiran itu menyalahi prinsip Islam. “Umat Islam itu harus memelihara keutuhan agama dan pendapat, keselamatan jiwa, harta, keluarga, dan kebebasan mempertahankan harga diri.”


Tindakan itu memang bertolak belakang dengan ajaran Nabi Muhammad. Rasul termulia ini selalu mencintai kelembutan dan membenci kekerasan.


Seperti hadis diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar dari Muhammad bin Jafar dari Syubah dari Abi Ishaq dari Abi Abdullah al-Jadali bersumber dari Aisyah: “Rasulullah bukan orang keji. Beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.”


Dalam hadis lain diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al-Hanzani dari Ubadah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya bersumber dari Aisyah: “Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali kala beliau berjihad. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan perempuan.”


Kalau masih belum percaya, simak sejumlah riwayat menyebutkan Rasulullah setia menyuapi menggunakan tangan kanannya nenek renta pengemis kafir di pojokan sebuah pasar. Padahal, pengemis ini kerap mencaci dan menghina nabi. Tapi nabi tidak membalas.


Nabi juga tidak pernah memberi tahu kalau yang dihina adalah dirinya. Pengemis tak tahu diri itu baru mengetahui setelah Rasulullah meninggal. Ceritanya Abu Bakar menggantikan tugas nabi menyuapi pengemis itu. Rupanya, nenek ini tahu cara menyuapi Abu Bakar berbeda.


Setelah diberitahu yang menyuapi telah meninggal, pengemis ini terkejut. Dia makin kaget lantaran tahu yang memberi makan selama ini adalah Rasulullah. Tanpa berpikir panjang, pengemis ini lantas masuk Islam.


Karena akhlak mulianya pula, seorang Yahudi saban hari mencaci, menghina, dan meludahi nabi juga masuk Islam. Sebab, Rasulullah adalah orang pertama menengok dia ketika sakit.


Seperti inilah seharusnya perilaku kaum mengaku umat Nabi Muhammad: mencintai kelembutan dan membenci kekerasan.












Article source: http://www.utusan.com.my/utusan/Rencana/20130607/re_03/969-bukan-nombor-bertuah


Cinta kelembutan benci kekerasan

Thursday, June 27, 2013

Istanbul: Ibu Kota Kekaisaran Utsmani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Chairul Akhmad


Sultan Mehmet II melangkah masuk ke kota dengan penuh kemenangan pada Selasa sore, 29 Mei 1453 M, melewati Gerbang Adrianopolis yang kini dikenal dengan Eirne Kapi. Bangsa Turki menyebutnya sebagai Fatih, sang Penakluk. Julukan ini yang membuat Mehmet II terkenal di kemudian hari.


Dia baru berusia 21 tahun saat menjadi sultan selama dua tahun terakhir, tapi kini menaklukkan kota yang paling terkenal di seluruh dunia yang dikenal bangsa Turki sebagai Istanbul.


Sebuah plakat di gerbang mencatat perjalanan masuk Fatih yang penuh kemenangan. Saat itu, sang sultan mengenakan serban lancip di kepalanya dan sepatu berwarna biru langit di kakinya, menunggang seekor keledai dan membawa pedang Nabi Muhammad di tangannya. Ia berjalan di depan 70 – 80 ribu ksatria, sambil berseru, “Jangan berhenti para penakluk! Kalian adalah penakluk Konstantinopel!”


Sang Penakluk kemudian berkuda menuju Gereja Aya Sofia. Tiba di sana, ia turun dari tunggangannya lalu berlutut mengucurkan sejumput tanah ke atas serbannya sebagai tanda kerendahan hati. Fatih menatap gereja itu dan memerintahkan agar dialihfungsikan menjadi masjid dengan nama Aya Sofia Camii Kabir, Masjid Agung Aya Sofia.


Sehari setelah penaklukan, tepatnya 30 Mei 1453, dia pun memeriksa isi kota, setelah itu mengumumkan bahwa Istanbul akan dijadikan ibu kota negara. Fatih mendorong orang-orang Yunani yang melarikan diri dari Konstantinopel sebelum penaklukan itu untuk pulang kampung. Dia juga menempatkan para tahanan yang menjadi bagiannya dari rampasan perang di kota. Fatih memberikan tanah dan rumah kepada orang-orang ini dan membebaskan mereka dari pajak untuk waktu tertentu.


Di samping itu, sebagian besar populasi baru dipicu ketetapan kekaisaran yang memanggil orang-orang untuk menetap di ibu kota. John Freely dalam Istanbul: The Imperial City mengatakan, para penduduk baru ini yang terdiri atas kaum Muslim, Kristen, dan Yahudi berasal dari seluruh pelosok kekaisaran. “Banyak di antara mereka yang ikut serta dalam sejumlah ekspedisi yang dilakukan Fatih dalam penaklukan Konstantinopel,” tulisnya.


Kaum Muslim segera membangun masjid atau mengubah gereja-gereja Bizantium menjadi masjid seperti yang dilakukan Fatih atas Aya Sofia. Beberapa masjid pertama yang didirikan setelah penaklukan masih bisa dilihat di daerah pasar di sepanjang Tanduk Emas antara Galata dan Jembatan Ataturk—walau semuanya dibangun kembali atau dipugar pada abad-abad berikutnya.


Pengembangan ibu kota
Penduduk yang bukan beragama Islam dikelompokkan dalam millet atau “bangsa” menurut agamanya. Masing-masing dipimpin kepala agamanya, sehingga millet Yunani dipimpin patriark Ortodoks, bangsa Armenia dipimpin patriark Gregorian, dan Yahudi dipimpin kepala rabi.


Kewenangan yang diberikan Fatih, menurut Freely, tak hanya untuk urusan keagamaan. Tapi, juga pada sebagian besar masalah hukum selain kasus kriminalitas yang harus ditangani hakim-hakim sang sultan. Dan, sistem millet yang dilanjutkan penerus Fatih sampai akhir Kesaisaran Utsmani menjadi sebuah alat dalam kebijakan pemerintah. “Sesuatu yang berjalan dengan baik dalam Negara Utsmani yang berkarakter multietnis,” kata Freely.


Tak lama setelah penaklukan, Fatih membangun sebuah benteng dalam Gerbang Emas bernama Yedikule, Puri Tujuh Menara. Pada akhir 1453 M, ia pun memindahkan istananya dari Edirne ke Istanbul. Saat itu, dia membangun sebuah istana di Bukit Ketiga yang digambarkan sebagai “lokasi terindah di kota”. Istana ini kemudian dikenal sebagai Eski Saray, Istana Tua. Sebab, enam tahun kemudian Fatih memutuskan untuk membangun sebuah istana baru di Bukit Pertama, Topkapi Saray yang terkenal.


Atas desakannya, sejumlah wazir pun mendirikan kompleks masjid kota itu yang tiga di antaranya masih berfungsi. Kota Turki baru, Istanbul, berkembang di sekeliling kompleks-kompleks masjid yang dibangun sang sultan dan para wazirnya—perkembangan yang berlanjut pada zaman penerus Fatih.


Fatih juga mendirikan Kapali Carsi atau Bazar Tertutup, sebuah pasar raksasa di Bukit Ketiga di dekat Beyazit Meydani. Di sekeliling Kapali Carsi terhampar han besar atau caravanserai, di mana para pedagang Utsmani membawa barang dagangan mereka di toko-toko berkubah yang masih memenuhi gang beratap dari labirin yang luas ini. Ini adalah jantung perdagangan Istanbul pada masa pemerintahan Fatih dan masih bertahan hingga kini.


Sensus Pertama di Istanbul
Sensus pertama di ibu kota Istanbul, termasuk Galata, diperintahkan Fatih pada 1477 M. Sensus yang hanya meliputi kediaman sipil dan tak menyertakan kelas militer atau mereka yang hidup di istana kekaisaran, menghitung keluarga dalam kategori agama dan etnis.


Hasilnya, tercatat 9.486 Muslim, 4.127 Yunani, 1.687 Yahudi, 434 Armenia, 267 Genoa, dan 332 keluarga Eropa selain Genoa. Semua anggota kelompok terakhir hidup di Galata. Jumlah populasi Istanbul dari sensus itu diperkirakan mencapai 80 – 100 ribu orang, menggandakan populasi yang menempati kota itu sebelum penaklukan.


Warga yang berada dalam Kota Istanbul di balik tembok tuanya meliputi 88 persen dari populasi ibu kota tersebut. Sisanya, hidup di Galata dan sebagian lagi hidup desa-desa Bosporus atau lingkungan di ibu kota di kedua sisi selat. Tujuh puluh persen yang tinggal di Kota Istanbul yang dilindungi tembok pertahanan adalah Muslim Turki dan sisanya non-Muslim. Sedangkan, di Galata sebaliknya.


Sensus pada 1477 M itu juga mencatat ada 31 keluarga Gipsi di Istanbul. Semuanya tinggal di mahalle yang dikenal sebagai Sulukule, tepat di dalam Tembok Theodosius di Bukit Keenam. Tempat perkemahan mereka tercatat sejak abad ke-14 dan keturunan mereka masih hidup hingga saat ini.


Article source: http://index.okezone.com/read/2012/05/30/373/638184/mico-fasilitasi-keberagaman-agama-di-tanah-air


Istanbul: Ibu Kota Kekaisaran Utsmani

Monday, December 30, 2013

Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria

Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 3


Anis Matta baru saja memperkenalkan istri keduanya, Szilvia Fabula, yang berasal dari Hungaria. Namun, aksi sang presiden PKS pamer istri yang bule cantik, disinyalir sebagai upaya menaikkan elektabilitas partai. Benarkah demikian?


Rabu, 25 Desember 2013, saat melakukan jogging, Anis Matta tidak hanya mengajak ketiga putranya. Tetapi juga, seorang perempuan cantik berjilbab yang sesekali digenggam tangannya oleh sang politisi. Karuan saja, sosok wanita tersebut mengundang perhatian.


Anis sendiri, tidak sungkan untuk mengungkap sosok berparas ayu tersebut. Katanya kepada media, “Ini istri saya, namanya Szilvia Fabula, Saya bertemu dengannya saat di Hungaria, ketika acara suatu konferensi di Turki. Dari Hungaria ke Turki ‘kan tidak jauh.”



Pernikahan Anis Matta dengan Szilvia sudah berlangsung lama. Tanpa sungkan, Anis juga mengisahkan persuaannya dengan sang pujaan hati delapan tahun lalu. Setelah empat bulan meyakinkan Szilvia, akhirnya kedua sejoli ini menikah pada tahun 2006 lalu di Indonesia. Tentu saja, sebelumnya Szilvia terlebih dahulu sudah menjadi mualaf.


“Kami sempat surat-suratan. Dia baca surat saya dan sempat diskusi selama 4 bulan. Setelah rentang sekian bulan, dia memutuskan jadi mualaf dan akhirnya saya nikahkan dia pada tahun 2006 di Indonesia,” ungkap Anis kepada Liputan6.



Dari pernikahannya dengan Szilvia, Anis mendapatkan anugerah seorang putri, bernama Shofia Anis Matta yang lahir pada bulan September lalu. Shofia adalah anak ke-10 Anis, setelah dari pernikahan pertamanya dengan Anaway Irianti Mansyur dikaruniai sembilan anak.


Namun, upaya Anis memperkenalkan keluarga ke depan publik, ditanggapi miring oleh beberapa kalangan. Ada yang menilai, ini adalah ‘kampanye terselubung’ dari sang presiden PKS untuk mengukur seberapa jauh reaksi masyarakat terhadap partainya.


Penilaian tersebut tentu saja dibantah oleh PKS, melalui sekjennya, Muhammad Taufik Ridho yang berkata, “Poligami itu urusan pribadi. Jangan masuk ke ruang pribadi. PKS juga tidak menyuruh menghadirkan istri muda ke publik untuk menaikan elektabilitas.”


Penasaran dengan kecantikan Szilvia Fabula? Berikut ini foto-fotonya.



Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 3


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungariav 2


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 1


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/03/mcv825-pengakuan-hari-besar-islam-di-broward-masih-dikaji


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria

Monday, January 14, 2013

Minum Kopi Bersama "Salafi“

Dekat sebuah stasiun pengisian bahan bakar-SPBU di sebuah lokasi di kota Bonn. Ada banyak pria muda dengan baju olahraga santai berdiri di pinggir jalan. Hujan turun rintik-rintik. Ini tempat saya berjanji bertemu dengan dua anggota Salafi yang disebut-sebut sebagai pengkhotbah radikal.

Jam lima sore lewat satu menit, seorang pria menemui saya. ”Ya, kami ini radikal”. Dia tersenyum. Usianya awal dua puluhan, bercukur rapih, setelah jeda sejenak dia menambahkan: ”Kami radikal tepat waktu.” Senyumannya melebar.

Dia tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman. ”Anda harus mengerti tentang hal ini”. Pemahamannya yang ketat tentang Al Quran tidak mengijinkan dia bersalaman dengan seorang perempuan, demikian dia menjelaskan.

Orang muda itu lebih jauh menerangkan, pembicaraan saya dengan kedua pengkhotbah Salafi akan direkam dengan kamera. ”Ini lebih aman untuk kamu, ini lebih aman untuk kami. Tapi kamu tentu tidak wajahmu ingin ikut terekam dalam film ini, atau bagaimana?

Kedua pengkhotbah Salafi ingin penampilan mereka direkam. Mereka menunggu di sebuah Cafe di seberang pompa bensin. Kami lalu pergi ke sana. Musik Turki mengalun dari pengeras suara. Yang lebih tua, Abu Nagie mengaduk kopinya, yang lebih muda, Abu Dujana, bermain dengan iPhone putihnya. Mereka mengucapkan salam dengan ramah dan memanggil pelayan Cafe: ”Tolong bawa satu kopi lagi”.

Mencari Islam yang ”murni”

Juru bicara Dinas Perlindungan Konstitusi, Verfassungsschutz, dari negara bagian Nordrhein Westfalen yang saya temui sebelumnya, menyebut kedua orang itu sebagai „pengkhotbah Salafi yang berbahaya.“

Tapi seorang pakar Islam dari Universitas Osnabrück membantah. Salafi adalah kelompok yang ultraortodoks, tapi apa mereka berbahaya? ”Tidak harus demikian”, kata Elhakam Sukhni. Ia calon doktor di Institut untuk Studi Islam di Osnabrück.

Sukhni menjelaskan, Salafisme adalah aliran Islam yang sangat konservatif, yang mengacu pada masa-masa awal Islam, jadi pada masa kehidupan Nabi Muhammad dan para wali generasi awal. ”Kelompok Salafi menolak interpretasi dan ajaran yang disebarkan setelah masa-masa awal itu.”

Abu Dujana: “Anda tentu bertanya tentang Syariah.”

”Ini Islam yang sebenarnya”, demikian disebutkan oleh anggota Salafi di Bonn, Ibrahim Abu Nagie. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai seorang muslim biasa. Ia tidak ingin disebut sebagai Salafi. Itu adalah sebutan yang digunakan oleh media dan politik untuk memecah-belah Islam, katanya.

Anggota Salafi yang lain, Abu Dujana menerangkan, memang ada ”kampanye terencana” yang dilakukan media dan politik untuk menyerang Salafi. ”Para penesehat zionis” yang menyarankan pemerintah Jerman melakukan itu, tambah Abu Nagie sambil tersenyum. Dia berasal dari Palestina dan datang ke Jerman pada usia 18 tahun. Di Gaza, katanya, dia bermimpi tentang Jerman: tentang teknik dan disiplin.

”Anda sekarang tentu akan bertanya tentang Syariah”, kata Abu Dujana. Ia mengelus janggut hitamnya, yang terlihat seperti seorang gerilyawan Kuba. Dia pintar, terdidik, dan terdaftar sebagai mahasiswa, tegas Abu Dujana. Tentu saja dia ingin Syariah diberlakukan di Jerman, tapi itu tidak mungkin. Belum mungkin. Dalam sistem Syariah, orang tidak begitu saja dipotong tangannya. Ada peraturan dan ada ahli hukumnya, jelas dia.

Diawasi dengan cermat

Menurut perkiraan Verfassungsschutz, ada sekitar 3800 pengikut Salafisme di Jerman. Jumlahnya terus naik, Tapi dari jumlah ini, hanya sedikit yang setuju dengan aksi kekerasan. Tapi batasan dari salafisme yang berkiprah secara politis dan yang siap melakukan kekerasan tidak jelas. Anggota Verfassungschutz dari Nordrhein-Westfalen menyatakan, mereka mengawasi perkembangan ini dengan cermat dan juga dengan cemas.

Kelompok Salafi yang siap melakukan kekerasan adalah „minoritas di dalam kalangan minoritas“, jelas pengamat Islam Elhakam Sukhni. Dari tiga kelompok yang termasuk Salafi di Jerman, yang mendukung kekerasan hanya sebagian kecil saja. Masih ada kelompok lain, yaitu ultraortodoks.

”Yang perempuan memakai cadar penutup muka, yang lelaki memakai baju panjang”. Menurut Sukhni, kelompok ini jarang tampil ke publik, karena mereka hidup terisolasi seperti dalam sebuah masyarakat paralel. Lalu ada lagi kelompok seperti Abu Nagie dan Abu Dujana. ”Belakangan mereka sangat sering disorot, terutama karena kegiatan ”dakwah” yang mereka lakukan.”

Anggota Salafi membagikan terjemahan Quran bahasa Jerman

Abu Nagia dan Abu Dujana berkenalan di sebuah mesjid di kota Köln. Sejak delapan tahun mereka melakukan ”dakwah”. Mereka menamakannya: undangan menjadi Islam. Ibrahim Abu Nagie menyebut kegiatan itu sebagai ”marketing” atau ”mengasihi sesama manusia”.

Pada awalnya, mereka merekam khotbah-khotbah dan menyebarkannya lewat CD. Lalu mereka mengunggah rekaman itu ke internet. Kemudian mereka melakukan kegiatan membagikan Quran dan melakukan berbagai seminar. Peminatnya juga cukup banyak.

Pengamat Islam Sukhni juga mengamati kecenderungan ini. ”Untuk pertama kalinya khotbah disampaikan dalam bahasa Jerman, dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Ini tentu menarik.”

Ibrahim Abu Nagie bercerita tentang pelayanan lewat telpon. Setiap hari banyak anak muda menelpon, sekitar 200 percakapan telpon per hari. Misalnya banyak murid perempuan Muslim yang menelpon dan meminta nasehat karena mereka tidak mau ikut pelajaran renang di sekolah. Abu Nagie mengatakan, ia menasehati para murid agar memberi hadiah Quran kepada kepala sekolah dan selanjutnya bersabar.

Menarik Untuk Orang Muda

Mengapa Salafisme jadi menarik untuk anak muda? Saya mengunjungi salah satu mesjid di kota Bonn untuk mencari jawabnya. Saya menaiki tangga ke mesjid dan menemui seorang gadis anak sekolah. Dia sedang bercakap dengan temannya dan menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan saya.

”Kamu juga sudah masuk Islam?”, dia bertanya. Dia tersenyum lembut. Lantai mesjid dipenuhi dengan sajadah yang tersebar seperti mosaik. Dari jendela yang tidak terisolasi dengan baik masuk udara dingin dan suara bising kendaraan di jalan.

”Insya Allah dia bisa mengenali Islam yang benar,” kata seorang wanita yang lebih tua dalam bahasa Arab sambil menunjuk dengan dagunya ke arah saya. Wanita yang lebih muda mengangguk dan menjawab: ”Insya Allah”. Tubuhnya ditutupi oleh kain hitam, yang membuat dia kelihatan lebih tua. Dia menceritakan bahwa dirinya sama sekali tidak terganggu bahwa banyak orang sering menatapnya dan dia punya banyak masalah di sekolah. Allah akan memberi imbalan untuk semua kesulitan yang dia hadapi, kata anak sekolah itu.

”Terutama remaja antara 15 sampai 20 tahun yang tertarik pada Salafisme”, papar pengamat islam Elhakam Sukhni. Mereka akan bersikeras telah menemukan kebenaran yang absolut. Tentu saja ada kemungkinan, bahwa sebagian kecil dari antara mereka mendukung aksi kekerasan.

”Radikalisasi sendiri lewat internet”, demikian kata Sukhni. Maksudnya adalah anak-anak muda yang mengikuti dengan bersemangat pesan-pesan ekstrimis lewat Youtube, misalnya dari Al Qaida. Abu Nagie dan Abu Dujana mengatakan, mereka tidak menyerukan aksi kekerasan. Orang mungkin hanya bisa menuduh mereka tidak mengambil posisi yang tegas tentang kekerasan.

Masalah Kekerasan

Bentrokan antara Pro NRW dan Salafi di Bonn, 5 Mei 2012

Kedua pengkhotbah Salafi dari Bonn yang bertemu dengan saya di Cafe ini memang tidak memberi pandangan tegas tentang kekerasan. Kalau ada remaja yang tertarik dengan tema kekerasan, mereka tentu akan membahas hal itu dengan para remaja, kata Abu Dujana. ”Ini bukan tema yang tabu”. Tapi seringnya, anak muda yang memang mau melakukan aksi kekerasan tidak akan datang kepada mereka.

Bulan Mei tahun lalu ada kelompok ekstrim kanan yang menamakan diri Pro NRW melakukan aksi di Bonn. Mereka sengaja melakukan provokasi dengan menunjukkan foto karikatur Nabi Muhammad.

Abu Nagie dan Abu Dujana menceritakan, ketika itu mereka berdua berkeliling dari mesjid ke mesjid. ”Saya mengatakan pada orang-orang, jangan pergi keluar. Jangan biarkan kalian diprovokasi.”

Tapi tetap saja banyak anggota Salafi yang kemudian melakukan aksi demonstrasi tandingan di Bonn. Akhirnya terjadi bentrokan dengan polisi. Seorang polisi terluka ditusuk oleh seorang demonstran dan harus dirawat di rumah sakit.

”Tentu saja ada beberaoa pelaku kekerasan”, kata Abu Dujana. Suaranya terdengar kesal. Ia menuturkan, setiap minggu dalam pertandingan sepakbola atau demonstrasi kelompok kiri terjadi juga kekerasan. Tapi kalau menyangkut kelompok Salafi, semua orang langsung mengeritik.

Dia menyatakan tidak mengerti, mengapa politisi tidak mencoba mengajak kelompok Salafi duduk di satu meja, ”berbicara dengan kami”. Tapi Ibrahim Abu Nagie segera menggeleng kepala. Tidak, dia tidak mau bertemu dengan politisi, juga tidak dengan kanselir Angela Merkel. ”Hanya kalau dia masuk Islam.” Orang lain yang ada di Cafe tertawa.

Abu Dujana meletakkan sebuah Quran untuk saya di atas meja. ”Ini untuk Anda, khusus dilaminasi”. Abu Nagie tersenyum: ”Bahwa saya bisa menyampaikan pesan Allah kepada Anda, ini adalah kebahagian terbesar bagi saya”.

Dia lalu menunjuk pada iPhone putihnya: “Dinas pelindung konstitusi – Verfassungsschutz selalu ikut mendengar”, kata dia. Tapi ini tidak mengganggunya. Malah sebaliknya: „Ini betul-betul menyenangkan!“ Dia sering berbicara dengan telpon genggamnya tentang kasih Allah, kata dia. Yang dia maksud tentu para pegawai Verfassungsschutz yang menyadap percakapan telponnya. Dia yakin, beberapa pekerja Verfassungsschutz sudah ada yang masuk Islam.

Abu Nagie bertanya, apa saya tidak mau membawa beberapa kitab Quran dan membagikannya di redaksi saya. Dia masih punya beberapa eksemplar di mobil, yang bisa saya bawa.

Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/01/12/17543741/Lanskap.Baru.Politik.2014


Minum Kopi Bersama "Salafi“