Showing posts sorted by relevance for query opini. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query opini. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Sunday, December 16, 2012

Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Foto: Chairul Sya’ban | Dok TGJ Mirza Alfath (di depan mikrophone) sedang menyampaikan permintaan maaf.Usai disyahadatkan kembali oleh MPU seraya meminta agar Mirza Alfath (MA) dan masyarakat saling memaafkan, kasus penghinaan terhadap Islam di akun facebooknya reda di media, tetapi di jejaring sosial dan mulut ke mulut isu ini masih hangat dibicarakan. Kita pantas bersyukur masalahnya telah selesai, namun ada hal lain yang luput dari berbagai analisis. Penulis mendalami isu ini dari dua sisi, Pertama, sebenarnya heboh kejadian ini sangat dipengaruhi oleh faktor blow up media cetak hingga sang dosen mendapatkan kawalan polisi bagai seorang pejabat dan akhirnya mendapat sangsi dari rektor Universitas tempat ia bekerja.

Jika tidak, kasus ini mungkin akan berlalu dengan sendirinya di alam maya. Ke dua, dari sisi “bahan hinaan” yang diposting oleh yang bersangkutan, seharusnya menjadi perhatian khusus justru nyaris tidak “tersentuh”. Opini Hafnidar Hasbi (HH), dosen dari Universitas yang sama, (Freemason JIL dan Yahudi, Serambi, 30 /11/2012) sebenarnya juga tidak memberi jawaban spesifik untuk itu walaupun menurut HH secara pribadi MA mengaku sebagai penganut freemason.  

Semua sepakat tentang keharusan mewaspadai gerakan laten freemason, JIL atau sejenisnya dengan berbagai upaya antisipatif yang disinggung panjang lebar dalam opini tersebut. Tetapi mengkooptasikan analisis dan kesimpulan bahwa yang bersangkutan memiliki keterkaitan organisatoris dengan Freemason, JIL atau Yahudi diperlukan pembuktian, jika tidak dikhawatirkan akan menjadi “senjata makan tuan”. Tuduhan tak berdasar, bahkan tidak tertutup kemungkinan akan mengarah ke ranah pidana.Al- Qur’an mengajarkan agar dalam menyikapi berbagai objek berita harus dimulai dengan prinsip dan langkah-langkah check,  re-check and balance.

Selain itu, ada uraian HH yang sangat berpotensi menimbulkan bias bagi masyarakat luas untuk tidak dibenarkan berpikir kritis, misalnya HH menyebutkan bahwa latar belakang seorang jadi freemason disebabkan “..adanya pergulatan pikiran hebat yang terjadi dalam diri seseorang yang cenderung terlalu berpikir kritis terhadap fenomena di sekelilingnya” … Mereka siap melindungi dan terus merekonstruksi pemikirannya (cuci otak) melalui diskusi- diskusi, forum ilmiah, media cetak maupun elektronik.

Pernyataan ini bisa membunuh kebebasan media dan lembaga pendidikan, menggiring umat untuk tidak boleh berpikir kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitar plus persoalan global yang secara tidak langsung terkait dengan kita. Sebaliknya, diskusi kelompok kecil atau publik harus semakin digalakkan untuk memunculkan ide- ide brilian, merajut perbedaan- perbedan pandangan menjadi  solusi alternatif mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Di era Blackberry Messenger (BBM) ini, isu apapun bisa menyebar cepat setiap saat, sebab itu kita ingin agar reaksi massa tidak berujung pada “vonis dan hukuman” di luar penegak hukum/ lembaga peradilan. Seperti kasus Peulimbang yang kebetulan terjadi beruntun sebelum kasus MA, sebelumnya ada ‘insiden’ sekolah Fajar Hidayah, dan masih banyak lagi. Apalagi bila sampai mengakibatkan nyawa melayang “sia- sia”, karena kekerasan / pembunuhan dengan alasan dan dalam bentuk apapun di luar proses pengadilan tidak dibenarkan oleh hukum Negara/ Agama. 

Dalam sebuah Hadits Rasul bersabda: ”Si pembunuh dan yang dibunuh masuk neraka”, maksudnya jika terjadi kasus saling serang/ bunuh, para terduga pelaku harus difasilitasi untuk berdamai secara kekeluargaan, jika tidak tercapai kesepakatan damai baru ditempuh jalur hukum. Bagaimanapun, orang yang masih hidup tetap terbuka kemungkinan untuk berdialog, diberi pencerahan dan bertaubat sebab Allah Maha menerima taubat, hanya saja tentu membutuhkan “pendekatan” dan waktu. Tidak sedikit orang yang awalnya menghujat Islam dari kalangan muslim atau nonmuslim, setelah memahami dengan benar dan bertaubat, tampil menjadi pembela Islam di garda terdepan seperti Umar Ibn Khattab RA.

Benar bahwa masyarakat memiliki kewajiban mengawasi pelaksanaan syari’at atau bila menduga ada praktik menyimpang, tetapi tetap harus berkoordinasi dengan pihak berwenang dan bila kemudian terbukti sipelaku belum menghentikan kegiatan nya, dengan kepala dingin dan seksama, tetap saja harus ditempuh upaya secara hukum bersama pihak berwenang. Bila tidak, situasi justru akan semakin panas, meruncing, tak terkendali sehingga tindakan fisik alam bawah sadar karena terbakar nafsu amarah. Dalam skala makro ini bisa merambat dan melahirkan dendam- dendam baru menjadi konflik horizontal berkepanjangan yang terlalu sulit untuk dipulihkan.

Nampaknya indikasi ke arah itu sudah ada karena ini bukan kasus pertama, na’ udzubillah. Hendaknya jangan sampai ada kesan “pembiaran” terhadap kasus- kasus seperti ini, akhirnya “mengendap” apalagi menganggapnya sebagai efek jera agar aliran sesat tidak terulang. Menurut antropolog muslim, akar munculnya aliran sesat adalah ideologi akibat “kekosongan spiritual” sehingga orang yang notabene berpendidikanpun bisa terjangkit, kasarnya, orang yang menganut sebuah ideologi dalam kadar yang ekstrim “tidak takut mati”. Untuk melawannya diperlukan gerakan “counter ideologi” secara sistematis di semua lini terutama oleh kalangan Ulama Dayah, Kampus, LSM, Pemerintah dan tokoh masyarakat karena tindakan fisik berresiko semakin menyuburkannya.  

Memang tidak mudah, mungkin jika penulis berada di lokasi juga akan serba spontan dan emosional, manusiawi. Tetapi yang harus diingat bahwa jangan sampai niat membela agama (syari’at) dalam hitungan menit berubah menjadi bumerang tanpa sadar merusak sendi- sendi sosial dan ukhuwwah Islamiyyah yang mudah sekali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu termasuk jaringan freemason, JIL, Yahudi dan lain- lain. Bahkan orang Islam anti- syari’at sendiri untuk kepentingan merusak syari’at dari dalam.

Ke luar, mereka mempromosikan “wajah Islam” (syi’ar) yang angker dan menyeramkan, bahkan yang lebih miris bukan hanya dari isu- isu ekternal Islam, isu internal Islam seperti perbedaan aliran keislaman (mazhab) yang dibenarkan oleh agama pun selama ini faktanya lebih ampuh ‘menggerogoti’ fondasi persatuan dan menyulut permusuhan sesama umat Islam.     

Kembali ke MA, dari sisi “bahan olok- olok”, sebagian postingnya merupakan klaim atau pertanyaan- pertanyaan ‘biasa’ yang telah lama berkembang dalam kajian keislaman sehingga tidak seluruhnya murni penghinaan tapi juga faktor keawaman. Untuk itu, tidak semuanya harus dikemukakan atau dijawab melalui karya ilmiah/ ilmiah populer seperti saran Hasan Basri M. Nur (Al- Qura’n Bukan Skripsi, Serambi, 7/12/2012). Status dan komentar jejaring sosial juga merupakan ruang lingkup tersendiri dalam membangun kultur peradaban.

Hadits Rasulullah memberi bimbingan untuk ini: “Berbicaralah kepada manusia menurut tingkat pemahamannya”. Artinya ada level kajian tertentu yang merupakan “konsumsi” forum terbatas tidak boleh disebarkan ke publik tampa “sensor”. Nah, dengan berprasangka baik, di sinilah letak herannya,  dari sekian banyak facebooker yang sudah lama berdebat dengan MA tidak adakah yang mampu menjawab ‘celotehan- celotehan liar’ nya sehingga butuh “bantuan” media cetak? Ada apa di balik ini?

Beruntung dan respek kepada respon cepat aparat keamanan, kebijakan MPU dan sikap warga dalam menyikapi “efek negatif” dari surat pembaca (T. Zulkhairi, Droe keu droe, Serambi, 20/11/2012) tidak berakibat fatal.
Wahbah Zuhaily, Pakar Hukum Islam Internasional di sela- sela kunjungannya ke Aceh beberapa waktu lalu, sempat mengingatkan Aceh agar tidak “overdosis” menghadapi berbagai kritikan penegakan syari’at Islam. Ia menegaskan: “bahwa Aceh sedang mengemban tugas besar, jalannya masih panjang dan terjal, pada hakikatnya menjawab kritik dengan cara- cara yang cerdas dan proporsional adalah bagian fundamental dari syari’at itu sendiri yang sangat dikedepankan sejak era Nabi Muhammad SAW”.

Karenanya, diperlukan kehati hatian dalam memblow up isu- isu sensitif di media massa sehingga tidak perlu “membakar lumbung padi hanya untuk menangkap seekor tikus”. Pola pengelolaan dan respon isu via media massa secara terukur dan objektif dari ‘subjek berita’, ‘objek berita’ dan ‘publik’ akan berdampak positif bagi terciptanya keseimbangan antara etika dan kebebasan berekspresi di dunia maya. Tentu saja bukan ’kebebasan mutlak’ ala- barat.     

Sebagai contoh, penulis coba menjawab posting MA tanggal 3 Juli 2012; “Hukum Syariah jelas banyak sekali kelemahan dan kekurangan, ia sudah tidak layak lagi dipertahankan bagi manusia modern dan masyarakat maju. Hukum syariah hanya cocok pada jamannya ketika manusia masih minim ilmu pengetahuan”. Salah satu kelemahan syariah Islam adalah bahwa hukum-hukumnya tidak pernah memperkenankan ‘bukti- bukti lapangan’ dan ilmu pengetahuan dalam mengambil keputusan hukum, ia hanya bersandar pada saksi-saksi yang ter-reputasi, misalnya dalam kasus pemerkosaan, “korban harus membawa 4 orang saksi yang melihat langsung untuk menjatuhi hukuman kpd tersangka”. Sementara dalam kasus perzinahan, perempuan hamil cukup dijadikan bukti perzinahan telah terjadi untuk di rajam (meskipun hukum rajam sendiri tidak diatur dalam Al-Quran). Adakah keadilan dalam hukum Allah yang katanya Maha Adil itu?” (rilis theglobejournal.com, 23/11/2012).

Kesimpulan di atas rancu, dalam sistem hukum Islam, saksi bukan satu- satunya alat bukti.  Secara tersurat Al- Qur’an baik untuk kasus pemerkosaan atau zina memang tidak menggunakan istilah alat bukti (al- bayyinah), tetapi istilah ini diterangkan lebih lanjut dalam Hadits. Lafaz al- bayyinah memiliki makna tak terbatas mencakup segala sesuatu yang sah dan bisa menjadi alat bukti di pengadilan seperti surat- surat, alat pemeriksaan setempat (bukti- bukti lapangan). Keterangan ahli termasuk bantuan iptek/ sains seperti tes medis (DNA) untuk kasus pemerkosan/ perzinahan, uji laboratorium biji kopi luwak dan lain- lain sehingga sangat layak dipertahankan bagi manusia super modern sekalipun.

Yang tidak realistis, bila al- Qur’an/ Hadits menyebut DNA, laboratorium, CCTV dan sebagainya yang belum ada pada saat diwahyukan oleh Allah. Harusnya 4 orang atau 2 orang saksi yang ter- reputasi sesuai konteksnya di mana kondisi waktu itu saksi masih merupakan alat bukti yang dominan dan meminimalisir terjadinya kesaksian palsu. Inilah letak keadilan Allah yang Maha Tahu dan Maha adil. Ya, semoga MA menjadi yang terakhir, bila ia serius ingin mempertahankan pahamnya, silahkan berargumen “seliar- liarnya” di forum- forum tertentu bersama para ahli. Kalaupun ingin memposting di jejaring sosial jangan lupa menuliskan kata- kata ”status dan komentarnya bukan untuk konsumsi media cetak (publik)!”.

Penulis adalah Presenter AcehTV, email/fb azmiliano_rox@yahoo.com.

 

Article source: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/19/327290/293/14/Peserta-Ujian-Masuk-PTAIN-Naik-150-Persen


Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

Wednesday, July 17, 2013

Divonis 730 Tahun Penjara, Disiksa sampai Buta

Divonis 730 Tahun Penjara, Disiksa sampai Buta


Pejuang Palestina Berkeliling Dunia Mencari Dukungan


Padang Ekspres • Rabu, 17/07/2013 12:02 WIB • Adiyansyah Lubis • 213 klik


Syekh Doktor Abdul Aziz memberikan cenderamata kepada Padang Ekspres


Warga Palestina terus berjuang untuk kemerdekaan negaranya terhadap penjajahan Zionis Israel. Berbagai cara mereka tempuh untuk membuka mata dunia tentang biadabnya perlakuan Israel terhadap masyarakat Palestina.


 


Seperti yang dilakukan Syekh Doktor Abdul Aziz, seorang pemikir Palestina yang menetap di Qatar karena ditangkap, dipenjarakan dan diusir Israel dari negaranya. Dia berkeliling ke negara-negara Islam untuk menceritakan kondisi bang­sanya, sehingga tidak menelan bulat-bulat berita yang dibuat Israel, seolah-olah Israel yang diserang.


 


Kemarin (16/7), Syekh Doktor Abdul Aziz, berkunjung ke kantor redaksi Padang Ekspres Jalan Bypass Pisang KM 7. Doktor Jurusan Sastra Inggris itu didampingi Komite Nasio­nal untuk Rakyat Palestina (KNRP) yang dibawa Wakil Ketua DPRD Pa­dang, Budiman dan seorang penter­jemah, Sumar Suhartono.


 


Abdul Aziz menceritakan, kondisi umat Islam di Palestina hidup dalam ketakutan. Mereka setiap hari diburu dan dibunuh tentara Zionis.


 


Abdul Aziz ingin mem­perlihatkan kepada dunia in­ter­nasional bahwa Palestina tidak aman. Masyarakat Pales­tina di bawah bayang-bayang tentara Israel yang setiap saat menebar ancaman.


 


Abdul datang ke Sumbar pada Minggu (14/7) lalu, dan berencana mengakhiri kunju­ngannya Sabtu (20/7) depan. “Dia bakal mengunjungi mas­jid-masjid di Sumbar,” kata Budiman.


 


Abdul melalui penerje­mahnya menceritakan, saat ini hampir 5 ribuan masyarakat Palestina menjadi tahanan tentara Israel dan menjalani penyiksaan.


 


Demikian juga yang dira­sakan Abdul. Selama di taha­nan, Abdul sempat mera­sakan sakitnya disiksa dengan sinar X yang dipancarkan ke otak­nya. Tujuannya, untuk mem­buatnya gila. Tentara Israel menyiksa masyarakat Pales­tina, terutama yang mempu­nyai pendidikan tinggi.


 


“Mereka takut, kondisi sebenarnya yang dialami Pa­les­tina tersebar ke dunia inter­nasional. Mereka ber­usaha menutup semua kanal infor­masi yang bisa membuat kon­disi sebenarnya di Palestina itu menyebar,” ujarnya.


 


Abdul mengungkapkan, Israel menguasai media infor­masi dan menyebarkan opini propaganda dengan cara me­nu­tup informasi sebe­narnya di Palestina. “Israel yang mem­bantai dan membunuh masya­rakat Palestina, tapi di luar seolah-olah Israel lah yang menjadi korban. Sebaliknya, kami yang berusaha mem­pertahankan Masjidil Aqsha, berjuang tidak saja untuk Palestina tapi juga untuk du­nia, justru dianggap sebagai pembunuh,” papar Abdul.


 


Abdul menceritakan, dia ditangkap dan diburu di ru­mahnya. Waktu itu tengah malam, tentara Yahudi meng­geledah dan merusak semua peralatan dan perabotan ru­mahnya dan menangkapnya.


 


Abdul diadili pengadilan Israel. Abdul dinyatakan ber­salah dan dihukum 730 tahun. “Luar biasa hukumannya. Pa­da­hal saya tak ada salah, hanya karena punya pendidikan lebih saja. Saya dipenjara bersama ribuan warga Palestina lain­nya,” tuturnya.


 


Beruntung bagi Abdul, dia dibebaskan setelah dilakukan pertukaran tahanan dengan tentara Israel yang berhasil ditangkap pejuang Palestina. Satu nyawa tentara Israel di­har­gai dengan 1.027 nyawa warga Palestina. “Saya waktu itu sudah menjalani hukuman 7 tahun 1 bulan,” terangnya.


 


Meski begitu, Abdul belum juga mendapatkan kebebasan. Dia malah tak diperbolehkan tinggal di Palestina. “Kini saya menetap di Qatar dan men­dapat suaka di sana,” jelasnya.


 


Bukti kekejaman Israel dirasakan Abdul. Selama di tahanan mendapat siksa, mem­buat Abdul kehilangan penglihatan. Meski demikian, semangat Abdul untuk terus berjuang demi tanah kela­hirannya tak pernah pudar.


 


Abdul menceritakan, kehi­dupan warga Palestina hidup seperti di dalam penjara. Kom­pleks Masjidil Aqsha disekat Israel sekelilingnya dengan membangun dinding sepan­jang 700 meter dan tinggi 10 meter lebih. Warga Palestina dilarang untuk masuk ke Mas­jidil Aqsha, terutama untuk melaksanakan ibadahnya.


 


Di sepanjang benteng itu dibuat pos polisi yang jum­lahnya lebih dari 70 ribu pos. Setiap orang yang ingin masuk harus melapor terlebih dahulu.


 


Saat ini, katanya, Israel gencar mendatangkan Yahudi-Yahudi dari berbagai belahan dunia. Orang-orang Yahudi itu berkumpul di Palestina untuk menguasai Palestina. “Tapi kami tetap bertahan. Kami yakin Allah SWT akan meno­long kami,” aku Abdul yang berharap simpati dunia inter­nasional pada Palestina.


 


“Semoga apa yang saya sampaikan menyentuh hati dan perasaan umat muslim di seluruh dunia agar mau mem­bantu warga Palestina bebas dari ketidaknyamanan yang terjadi selama ini,” tambahnya.


 


Pemimpin Perusahaan Pa­dang Ekspres, Twoefly menye­but, “Perang hari ini tidak lagi perang dengan senjata, tapi perang propaganda informasi. Para Ikhwanul Muslimin juga harus melakukan hal serupa. Menyampaikan informasi se­be­narnya kepada media bahwa kondisi di sana lebih buruk dibandingkan dengan apa yang diberikan di media Israel selama ini,” paparnya. (bis)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://beritasore.com/2013/06/12/pemkab-labuhanbatu-beri-beasiswa-420-siswa-masuk-ptn/


Divonis 730 Tahun Penjara, Disiksa sampai Buta

Friday, June 14, 2013

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Budi Prasetyo

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Budi Prasetyo


Pihak kepolisian kembali menjadi sorotan kaum Muslimin. Bukan karena prestasinya mengungkap pelanggaran hukum, namun kali ini karena kontroversi pelarangan jilbab bagi polisi wanita (polwan). Kontoversi ini mencuat setelah ada laporan masuk ke MUI bahwa pihak kepolisian melarang penggunaan jilbab.


Kontroversi memanas ketika jawaban resmi Polri melalui Kabagpenum Polri Kombes Pol Agus Rianto, larangan jilbab semata-mata karena masalah anggaran. Banyak pihak mengecam kebijakan Polri ini, tidak saja kaum Muslim, tetapi juga Komnas HAM.


Polri sebagai representasi negara seharusnya menjujung tinggi nilai-nilai HAM. Tidak hanya itu, negara harus konsisten dengan UUD 1945 yang secara jelas mengatur tentang kebebasan seseorang untuk memeluk dan menjalankan agamanya.


Sebagai institusi penegak hukum, selayaknya Polri berdiri paling depan dalam penegakan hukum tersebut. Larangan berjilbab dalam konteks ini ada pengingkaran institusi ini terhadap penegakan UUD 1945 yang merupakan dasar berdirinya negara. Dalam masalah jilbab ini, Polri hendaknya harus segara mencabut larangan jilbab ini dan menghargai setiap bentuk kebebasan beragama yang dijamin oleh undang-undang.
 
Wajib dilindungi
Dalam konteks HAM, sejatinya jilbab telah masuk pada forum internum (kebebasan internal). Setiap manusia berhak untuk bebas berpikir (thought), bersikap sesuai hati nurani (conscience), dan menganut suatu agama (religion) atau keyakinan (belief) pilihannya sendiri. Sudah menjadi keputusan universal bahwa hak-hak tersebut mutlak, yakni tidak dapat dikurangi atau dibatasi oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun (non-derogable).


Jilbab menjadi bagian dari forum internum, sebab penggunaannya merupakan hasil dari sebuah pengembangan pemikiran dan penafsiran terhadap keyakinan yang dianut, yakni Islam. Dalam konteks HAM, hal itu harus dilindungi, sebagai sebuah bentuk penafsiran dan pemikiran.


Setiap orang juga bebas menjalankan agama atau keyakinannya dengan ibadah dan pengamalan (forum eksternum). Dari konteks ini, pembatasan menggunakan jilbab hanya boleh dilakukan berdasarkan hukum. Yakni, melindungi keamanan, kesehatan, atau hak-hak dan kebebasan yang mendasar.


Dari berita yang beredar di banyak media, pembuatan larangan jilbab di Prancis bukan karena alasan yang dibenarkan. Karena, memang tidak ada alasan pembenaran bagi Prancis untuk melarang penggunaan jilbab ini.


Tentunya, sebagai institusi negara, Polri harus bisa melakukan perlindungan (protect), pemenuhan (fulfill), dan menghormati (respect) terhadap HAM. Negara seringkali abai dalam kewajibannya melindungi, memenuhi, dan menghormati HAM.


Indonesia masih menjadi negara yang pemerintahannya menjadi salah satu pemerintahan yang masuk dalam daftar pelanggar HAM. Pelanggaran-pelanggaran HAM sering terjadi dan negara tidak mampu berbuat banyak terhadap kasus-kasus tersebut.


Seringkali pula negara bersikap ambigu dalam penegakan HAM, seperti halnya terhadap demokrasi. HAM dan demokrasi diperjuangkan ketika menguntungkan rezim. Tetapi, menjadi musuh saat HAM dan demokrasi tersebut mengancam eksistensi kekuasaan sebuah rezim. Tentunya, pemerintah sadar larangan penggunaan jilbab merupakan sebuah pelanggaran dan harus segera diakhiri.
 
Stigma negatif
Stigmatisasi terhadap Islam yang seringkali digembar-gemborkan pihak tidak bertanggung jawab, telah membangun sebuah citra negatif terhadap keberadaan simbol-simbol Islam. Islam dilihat para penyebar kebencian sebagai sebuah ancaman nyata terhadap demokrasi dan HAM.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa tuntutan sebagian wilayah menggunakan Islam sebagai salah satu sumber hukumnya semakin banyak. Banyak daerah seakan berlomba-lomba untuk membuat perda syariah, perda yang lebih banyak mengatur tetang wilayah moral yang merujuk pada hukum Islam.


Islam kini diidentikkan dengan pria berjenggot dengan gamis dan celana komprang. Perempuannya berjilbab besar dengan busana muslim panjang, bahkan bercadar. Lebih menyeramkan lagi, Islam terstigma dengan terorisme.


Dalam opini yang dibangun selama ini, semua teroris adalah orang Islam. Orang-orang itu diperkenalkan menggunakan nama-nama Islam. Inilah wajah para Islam yang setiap saat disuguhkan kepada masyarakat. Dan, secara pelan-pelan stigma masyarakat tentang Islam ini terbentuk.


Di lain pihak, media selalu membumbui kekerasan yang terjadi dengan label Islam. Baik itu kekerasan antarormas maupun antaranggota masyarakat. Media lebih senang menampilkan simbol-simbol Islam yang dikenakan pelaku anarkisme menjadi konsumsi berita. Inilah yang menyebabkan Islam dipandang negatif.


Termasuk, pelarangan jilbab bagi anggota polwan. Apa pun dalihnya, ketika ada peraturan yang melarang penggunaan jilbab, maka itu berarti merupakan pelanggaran terhadap HAM. Semua lembaga, terutama institusi pemerintahan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, harus benar-benar menjunjung tinggi UUD 1945 dengan memperhatikan HAM.


Untuk itulah, dibutuhkan sebuah kesepahaman baru untuk meluruskan kecurigaan-kecurigaan terhadap Islam. Semua pihak harus sama-sama menciptakan perdamaian, menghormati hak asasi manusia (HAM), dan, bagi umat Islam, hendaknya bisa menunjukkan Islam yang damai dan rahmatan lil alamin-nya. n
  


Direktur Eksekutif The Hasyim Asy’ari Institute


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Budi Prasetyo

Wednesday, February 13, 2013

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Home Opini

Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine’s Day


 


Kamis, 14 Februari 2013

oleh: Zainal Arifin, S. Pd

APOLOGI kaum Orientalis-Nashrani ternyata belum mampu menjelaskan kebenaran asal-usul Valentine’s Day. Simpang-siurnya versi tentang sejarah Valentine’s Day membuktikan tidak logisnya memperingati dan merayakan rasa “Kasih Sayang” hanya setiap 14 Februari tiap tahunnya.

Dan sebagai umat Islam yang memiliki peradaban mulia, kita seyogyanya memakai kacamata iman untuk filterisasi kebudayaan kafir dan tidak sekedar ikut-ikutan apalagi dalam urusan keimanan.

Dalam al-Qur’an surat al-Israa’ [17] ayat 36, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Selain tanggung jawab di akhirat kelak, manusia yang mengikuti ajaran dari golongan kafir yang sesat, sedangkan mereka telah mengetahui ilmu dan hukumnya, maka itulah golongan manusia yang zalim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah [2] ayat 145 yang artinya:“…Dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

Dua firman Allah tersebut secara jelas melarang umat Islam mengikuti budaya orang kafir seperti Valentine’s Day. Terlebih-lebih peringatan tegas dari Rasulullah dalam haditsnya, “Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan ummatku (ummat Islam).” (Riwayat Tirmidzi).

Perkembangan umat Islam hingga detik ini belum diimbangi penerapan syari’at Islam secara kaffah, sehingga masih banyak generasi Islam di muka bumi ini yang terjebak dalam tradisi Valentine’s Day. Lihatlah papan reklame, iklan-iklan di media elektronik, poster-poster di jalanan, dekorasi di tempat-tempat perbelanjaan dan media masa yang bertebaran dewasa ini ketika mendekati 14 Februari, banyak diantaranya berisi pernak-pernik yang bernuansa pink dan menawarkan aksesoris Valentine’s Day.

Sungguh berbahayanya tradisi Valentine’s Day yang telah merasuki pikiran generasi umat manusia. Tradisi orang-orang kafir yang telah didesain untuk membujuk rayu generasi umat Islam masuk ke dalam “lubang biawak”. Rasulullah bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, hingga kalian masuk lubang biawak (dhabb) sekalipun kalian akan ikut memasukinya”. Para sahabat bertanya, “Maksudnya Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah, “Lalu siapa lagi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Begitu mudah musuh-musuh Islam memperdaya generasi Muslim dengan budaya hedon hasil rekayasa mereka. Dan keadaan ini sudah diprediksi oleh Rasulullah dalam haditsnya, “Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit.” Rasulullah menjawab, “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahn’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi, “Apakah penyakit ‘wahn’ ituya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Cinta kepada dunia dan takut mati.” (Riwayat Abu Dawud).

Sulit diterima nalar sehat bahwa budaya Valentine’s Day yang tidak sesuai dengan syari’at Islam mampu konsisten digandrungi banyak kalangan umat Islam dari generasi ke generasi. Akibatnya, perlahan namun pasti banyak generasi Muslim yang menggeser nilai-nilai akidahnya dan banyak dari mereka yang memilih jalan kesesatan. Inilah konsekuensi yang pernah dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam haditsnya; “Barangsiapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.” (Riwayat Abu Dawud).

Bukankah peradaban Islam sudah cukup jelas memberi teladan mulia? Sebagaimana teladan dari nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang mencontohkan tingginya rasa kasih sayang beliau kepada sesama makhluk Allah. Kasih sayang yang tidak terkhusus pada satu hari ataupun satu orang saja.

Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam begitu besar kasih sayangnya kepada musuh-musuh Allah meski di medan perang sekalipun. Belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tercermin dari perilakunya yang lemah lembut kepada keluarga, sahabat atau siapapun termasuk tumbuhan dan binatang. Permasalahannya, mengapa St. Valentine yang diteladani sebagian generasi Islam saat ini?

Ingat, budaya Valentine’s Day adalah “cambuk” bagi umat Islam, umat yang senantiasa merindukan peradaban Islam kembali bangkit di muka bumi ini seperti zamannya Rasulullah dan para sahabat dulu. Upaya untuk menangkal arus globlisasi yang bermuatan negatif benar-benar urusan serius yang mesti diprioritaskan solusinya disamping gerakan dakwah lainnya. Strategi jitu melawan budaya Valentine’s Day menjadi kebutuhan primer generasi sekarang ini dan mesti segera dipenuhi, sebelum paganisme, liberalisme, pluralisme, sekulerisme dan sekutunya kian menjangkiti umat Islam.

Menolak Budaya Valentine’s Day

Bukan rahasia lagi jika dunia ini dihuni manusia-manusia yang heterogen, kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri dalam upaya menolak budaya pagan ala Valentine’s Day. Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dan senantiasa memberi solusi dalam setiap permasalahan umat hingga akhir zaman. Berikut beberapa tuntunan Islam dalam rangka melawan propaganda kafir yang salah satunya Valentine’s Day.

Al-Qur’an Pedoman Hidup

William Ewart Gladstone, perdana menteri Inggris (periode: 1864-1874, 1880-1885, 1886-1891, 1892-1894), pernah mengatakan, “Selagi al-Qur’an masih berada di tangan kaum Muslimin, maka Eropa (bangsa Barat) tidak akan bisa menguasai Timur (mayoritas bangsa Islam). Bahkan Eropa itu sendiri akan terancam.”

Itulah ketakutan yang nyata dari musuh-musuh Islam, wajar jika kemudian mereka membuat perayaan Valentine’s Day agar generasi Islam larut di dalamnya dan melupakan al-Qur’an.

Diturunkannya kitab suci al-Qur’an kepada seluruh umat manusia adalah berkah bagi mereka yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Al-Qur’an juga menyampaikan nikmat Allah SWT‎ karena menjadi petunjuk dan solusi atas segala macam problematika kehidupan ini. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-‘Imran [3] ayat 103, yang artinya: ”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Membangkitkan Kesadaran Berilmu

Demi membebaskan manusia terutama kaum muslimin dari “cengkraman” Valentine’s Day yang merupakan product budaya jahiliyah yang penuh kehinaan, maka menuntut ilmu adalah suatu keharusan tanpa batas waktu. Dengan ilmu, ummat Islam tidak akan menjadi ummat yang hanya “mengekor” budaya kafir yang sudah jelas bertujuan merusak kesucian agama Islam. Drs. M. Zainuddin, MA dalam bukunya “Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam” menyatakan, “Kedudukan ilmu adalah sebagai bagian dari agama dan fungsi dari ilmu adalah sebagai sarana memperoleh tujuan agama. Maka ilmu wajib dicari.” (Zainuddin, 2006:78).

Pernyataan yang sinergi dengan Hadits Rasulullah yang artinya: “Sedikit ilmu lebih baik daripada banyak beribadah (tetapi tidak berdasarkan ilmu).” (Riwayat Tirmidzi). Dan Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Mujaadilah [58] ayat 11, yang artinya: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikianlah ulasan yang dapat penulis sampaikan sebagai sumbangsih pemikiran menuju perubahan umat. Sekedar refleksi atas merebaknya virus Valentine’s Day yang telah menciderai norma masyarakat beradab, tanpa mendiskriminasikan siapapun. Karena, penulis yakin masih banyak generasi umat Islam di dunia ini yang berdakwah dan berjuang dengan ikhlas demi mewujudkan peradaban Madani.*

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hidayatullah Batam

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/189891


Muslim Beriman “Pantang” Rayakan Valentine's Day

Saturday, November 30, 2013

Jonas Rivano Akhirnya Mengaku Pernah Mualaf

Jakarta – Jonas Rivano akhirnya menggelar jumpa pers terkait berita miring tentang dirinya yang menghiasi media-media hiburan beberapa hari terakhir. Pada kesempatan itu, Vano menarik ucapan bahwa ia tidak pernah menjadi mualaf.

“Saya selaku pribadi mencabut penyataan sebelumnya. Saya pernah jadi mualaf,” ujar Vano saat menggelar jumpa pers bersama istrinya, Asmirandah di Rafles Hills, Cimanggis, Depok, Jumat (15/11/2013).


Selanjutnya, Vano juga meminta maaf kepada semua instansi terkait yang merasa telah dikecewakan oleh dirinya.


“Dengan setulusnya dan sedalam-dalamnya, saya meminta maaf kepada semua instansi, baik MUI Depok, KUA Depok, dan Masjid An Nur, saya mohon dibukakan pintu maaf untuk saya dan Andah,” katanya.


Namun ketika ditanyakan apakah saat ini dirinya masih memeluk agama Islam, Vano enggan untuk menjawabnya. Ia ingin membiarkan hal tersebut menjadi opini publik.


“Keyakinan saya itu hak saya sebagai manusia, pertanggungjawabannya saya kepada yang di Atas,” jawabnya.


Sebelumnya, Jonas Rivano dikabarkan telah menjadi mualaf pada tanggal 21 Agustus 2013 sebelum menikah dengan Asmirandah pada 17 Oktober 2013. Namun beberapa waktu lalu, Vano menyangkal jika dirinya pernah mengucapkan dua kalimat syahadat.


(dar/ich)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS Windows Phone. Install sekarang!



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/10/08/mubn34-narbaez-warga-as-yang-memeluk-islam-karena-terpikat-sujud-dan-wudhu


Jonas Rivano Akhirnya Mengaku Pernah Mualaf

Friday, April 26, 2013

Duet Bomber Boston Terpengaruh Al Qaeda?

INILAH.COM. Washington – Jauh hari sebelum dua pengebom Maraton Boston beraksi pekan lalu, adik Tamerlan Tsarnaev yang selamat bernama Dzhokhar Tsarnaev, sudah mendapat suntikan radikalisasi, menurut para pakar psikologi dan terorisme.


“Masa dewasa adalah saat paling penting dalam pembentukan identitas seseorang,” ujar Sherry Mc Carty profesor psikologi dan konseling di Northern Arizona University yang mendapat bea siswa Fullbright untuk belajar di Rusia.


“Jika sudah tumbuh perasaan terisolasi, maka ini akan membuat masalah dan upya asimilasi dengan masyarakat yang berbeda menjadi faktor penentu,” ujar McCarthy merujuk pada masalah psikologis yang dialami Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev, duet pengebom Maraton Boston.


Perasaan diperlakukan tak adil, identitas diri yang take jelas dan merasa tidak menjadi bagian masyarakat telah menjadi pemicu ampuh yang mendorong orang bisa bertindak layaknya teroris.


Randy Bourma, profesor strategi dan informasi di University of Southern Florida dan pakar psikologi terorisme menyatakan, ia tak khusus menyoroti Tsarnaev bersaudara, namun secara umum terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tindak terorisme. “Ada banyak penyebab tindak terorisme, jarang yang sebabnya tunggal dan khusus. Banyak kemungkinannya,” ujar Bourma.


Namun sejumlah faktor, menurut para ahli, mungkin berpengaruh terhadap perilaku Tsarnaev bersaudara. Temasuk karena mereka berasal dari republik bekas Uni Sovyet yang dianggap sebagai bahaya laten dalam psikologi Perang Dingin, dan mereka memiliki akses baik ke Rusia maupun AS serta ada kesempatan merealisasikan motif politik dan keagaamaan yang mereka yakini, kata para ahli.


“Mekanisme sentral radikalisasi dimulai dari gerutuan politik,” ujar Clark McCauley, seorang profesor psikologi sosial di Bryn Mawr College.


“Orang Chechen berperang melawan Rusia dari generasi demi generasi, dan sebagian orang Chechen mengintepretasikannya sebagai konflik Muslim versus Kristen…AS dan Rusia sama-sama negara Kristen,” tulis McCauley di blog Psychology Today bertajuk “Radikalisasi Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev”.


“Para anggota Al Qaeda juga berkeliaran di Chechnya. Beberapa anggota Al Qaedah dilaporkan berjuang membela orang Chechen di sebuah sekolah Beslan sewaktu meletus krisis penyanderaan di 2004. Sebagai nilai budaya, orang Chenchen menganggap loyalitas adalah terpenting dalam masyarakat: Musuh teman saya adalah musuh saya,” tulis McCauley.


Mekipun dua tersangka duet pengebom ini beretnis Chechen, namun Dzhokhar Tsarnaev kabarnya tak pernah pulang kampung. Sedangkan Tamerlan yang diberitakan pernah mengunjungi Chechnya, kemungkinan berhubungan dengan kaum Islam radikal sana.


Tamerlan berupaya berbaur dengan warga Boston, tapi orientasinya lebih kepada Chechnya yang banyak dihuni golongan Islam garis keras. Kembali ke Boston, kemungkinan Tamerlan membimbing adiknya untuk masuk dalam jalan pikiran radikalnya dan merencanakan kekerasan masif dengan meledakkan bom Maraton Boston.


“Mekanisme radikalisasi adalah mencintai seseorang yang sudah teradikalisasi. Ini seperti adik manis yang diajak ngebom..Kita melihat tayangan video, sang adik bergegas mengikuti kakaknya di garis finish Maraton,” ujar McCauley.


Lebih berspekulasi lagi McCauley bilang, sejak Tamerlan pulang kampung dan merasa “disconnected” dari AS mungkin inilah yang membuat dirinya terbuka terhadap ide dan berhubungan dengan Al Qaeda serta kaum militan Chechen.


Pandangan seperti ini memang sepertinya yang paling diinginkan baik oleh AS dan Rusia untuk membentuk opini publik. Kedua pemerintah sama-sama membenci gerakan radikal seperti Al Qaedah dan gerilyawan Chechen.


Hubungan AS dan Rusia kini seperti mencapai titik pertemuan paling ideal yang lama dikungkung psikologi Perang Dingin yang terus menimbulkan saling curiga.


Secara bisnis yang berdimensi politis, baru awal April ini Kementerian Pertahanan AS menyetujui pembelian helikopter Rusia untuk kepentingan pelatihan tentara Afganistan. Ini menjadi simbol terpenting bakal makin baiknya hubungan AS dan Rusia. [Dari berbagai sumber]


Article source: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/30/90854/lipi_peran_perempuan_dalam_politik_terkendala_kultur/


Duet Bomber Boston Terpengaruh Al Qaeda?

Saturday, January 18, 2014

Video Rasis Israel, New York Times Tak Ingin Pembaca Tahu

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika menteri-menteri dalam pemerintahan Israel memicu amuk massal, menyebut imigran Afrika ‘kanker’, kaum minoritas di sana juga menghadapi wajah lain rasisme yang selalu dialami warga Palestina.


Hanya saja situasi itu sangat jarang masuk media arus besar. Salah satunya video di bawah “Israel’s New Racism: The Persecution of African Migrants in the Holy Land” yang diproduksi oleh David Sheen dan  Max Blumenthal.


Blumenthal, yang pernah bergabung pula di Daily Beast, dikenal kerap mereportase gerakan sayap kanan di AS dan rasisme di Israel. Reputasi hasil reportasi yang nyaris tanpa bias membuat ia dihormati di Barat dan juga di dunia Islam terutama Timur Tengah.


Atas alasan itu pula, satu media terbesar di Amerika Serikat, The New York Times, memintanya membuat video dokumenter mengenari rasisme di Israel dengan durasi kurang lebih 11 menit. Ia menjelaskan kepada Consortium News, mengenai permintaan New York Times Hanya saja begitu para redaktur koran melihat hasilnya, mereka menolak menayangkan.


“Saya diminta membuat video oleh opini dokumenter The New York Times, rubrik terbaru dalam website mereka yang menayangkan video dokumenter. Saya dikenal untuk video pendek dokumenter-dokumenter mengenai sayap kanan di AS dan ekstremisme di Israel, mereka khusus meminta video dari saya,” tutur Blumenthal kepada Consortium News awal pekan ini.


Ketika ia tidak berhasil menggarap videonya tepat waktu, New York Times bahkan memanggilnya dan mengatakan mereka menginginkan video dari Blumenthal segera.


‘Jadi saya pun mengirimkan satu video yang saya buat bersama kolega saya, David Sheen, seorang jurnalis Israel yang juga selalu meliputi situasi dan kondisi non-Yahudi Afrika di Israel dengan topik sangat luas dibanding jurnalis siapa pun di dunia.


Ia mengakui mengambil juga adegan menggambarkan program-program membuat syok dari pemerintah terhadap komunitas Afrika di Tel Aviv dan mewawancara aktivis hak asasi manusia. “Saya pikir itu adalah dokumenter jujur yang dibuat baik menggambarkan situasi di sana, yang sangat sedikit diketahui oleh orang Amerika di sini,” paparnya.


Inti video Blumenthal dan Sheen ialah penggambaran bagaimana tak hanya warganya tetapi juga pemerintah Israel dalam memperlakukan imigran Afrika. Kesimpulannya, sangat mengejutkan.


“Kami juga memasukkan analisa. Kami merangkaianya dalam gaya mereka (New York Times) dan ditolak, begitu saja tanpa penjelasan setelah mereka sendiri yang meminta,” ungkap Blumenthal. Ia juga mengirim vide tersebut ke situs berita portal utama di sana dan mereka tidak meresponnya. “Padahal mereka sering kali meminta artikel khusus dari saya di masa lalu,” paparnya.


Akhirnya, The Nation–yang sebenarnya tipe media cukup ‘pemalu’ dalam menayangkan kritik terhadap Israel–setuju mempublikasikan video tersebut. Saat itulah video itu menyebar dan juga tayang di YouTube.


Komentar Sheen, termasuk menu utama yang bagus bagi mereka yang tidak akrab dengan topik tersebut.


Di dalamnya juga ada wawancara dengan Michael Ben-Ari yang tak pernah dipublikasikan. Tokoh ini adalah salah satu rasis anti-Afrika paling terkenal di Israel dan mantan anggota parlemen Israel, Knesset.


Ben Ari juga memiliki sejarah panjang menyulut rasisme dan kebencian terhadap Palestina dan Kristen.


Seperti juga videonya, buku baru Blumenthal juga menggabarkan realitas blak-blak rasisme di Israel, yang hingga kini media arus besar Amerika tak punya nyali dan tak mau untuk menghadapinya.


Article source: http://news.liputan6.com/read/784415/kisah-anis-matta-taklukkan-gadis-hungaria


Video Rasis Israel, New York Times Tak Ingin Pembaca Tahu

Tuesday, April 30, 2013

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Home Opini



Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash





 


 




Selasa, 30 April 2013


Oleh: Abdullah al-Mustofa


AJANG Miss World 2013 yang sudah diagendakan akan diadakan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim sekaligus memiliki penduduk Muslim terbesar jumlahnya di dunia (Indonesia)  menimbulkan penolakan keras dari para tokoh dan lembaga Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Penolakan dari para tokoh dan lembaga Islamm itu memang wajar dan tepat, karena event Miss World – meskipun dibungkus dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan ada wacana bikini diganti kebaya -  tetaplah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, serta agama, budaya dan adat istiadat mayoritas bangsa Indonesia


Miss World dan segala ajang sejenis dari tingkat lokal hingga internasional semua mempunyai satu kesamaan, sama-sama menilai kecantikan wajah dan semua segi penampilan fisik wanita.
Kontes-kontes kecantikan seperti Miss World dan Miss Indonesia adalah contoh yang jelas menunjukkan hal tersebut. Kontes-kontes semacam itu meskipun mengklaim tidak sekadar menilai para pesertanya dari segi penampilan fisik saja tapi juga dari segi kepribadian dan kecerdasan, namun tetap mementingkan penampilan fisik.


Mustahil jika kontes-kontes tersebut sama sekali tidak mementingkan penampilan fisik karena terbukti sejak proses perekrutan peserta. Yang layak menjadi peserta adalah wanita-wanita yang berpenampilan fisik yang menarik dan bagus.


Itulah sebagian fenomena di jaman edan ini yang merendahkan wanita. Tapi Barat atau mereka yang silau kepada Barat termasuk sebagian kaum Islam mengangap sebaliknya.


Mereka menganggap fenomena tersebut menghargai dan memuliakan wanita serta menjadikan wanita berharga dan mulia. Padahal sesungguhnya itru adalah racun yang mematikan tapi dianggap madu. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu madu dianggap tidak waras. Sedangkan Islam yang sesungguhnya adalah madu dianggap racun. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu racun dianggap tidak waras.


Kemuliakaan Wanita antara Islam dan Logika


Ada banyak dalil naqly (dalil al-Qur’an dan al-Hadits) dan ‘aqly (logis) yang menunjukkan Islam sangat memuliakan wanita. Salah satu dalil naqly adalah: Dalam riwayat Aisyah ra bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata;  “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)


Ketentuan di atas menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara pia dan wanita dalam batas aurat dan ketentuan berpakaian. Batas aurat bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan ketentuan berpakaian bagi wanita adalah pakaian harus longgar, tidak transparan dan tidak tipis.


Perbedaan ini bukan untuk merendahkan wanita dan memperlakukannya secara tidak adil. Sebaliknya hal itu menunjukkan Islamm menghargai, menghormati dan memuliakan wanita, serta mendudukkan wanita pada posisi yang sangat tinggi dan mulia. Mengapa demikian?


Secara logika, dengan memenuhi ketentuan menutup aurat sesuai syar’i membuat seorang wanita tidak kelihatan bentuk dan kondisi tubuh, serta bentuk dan warna rambutnya. Hal ini mendorong dan menciptakan kondisi di mana wanita tidak termotivasi untuk berusaha mencapai dan mendapatkan penghargaan dari pihak lain, menilai dan menghargai dirinya sendiri dari, serta berlomba-lomba dalam segi pemampilan fisik, tapi dari segi selain itu, yakni kecerdasan, kepribadian, kualitas pribadi, ketakwaan, prestasi dan amal shaleh.


Kondisi ini tidak terbatas berlaku bagi wanita yang bersangkutan saja. Namun juga berlaku bagi wanita lainnya, pria, orang-orang di sekitarnya dan masyarakat dalam lingkup terkecil seperti keluarga dan lingkup yang luas seperti negara.  Semua pihak tersebut akan menilai dan menghargai wanita bukan dari segi penampilan fisik, tapi dari segi lainnya yang antara lain meliputi kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) dan prestasi  mereka.


Mass Brainwashing


Sejatinya, dibalik Miss World dan semua ajang sejenis –seperti berbagai hiburan dan tontonan yang diproduksi Barat dan para pembantunya– selalu ada udang di balik batu (hidden agenda) berupa mass brainwashing (cuci otak besar-besaran) yang diagendakan.


Barat selalu menanamkan worldview dan isme-isme yang dianutnya ke dalam otak sebanyak mungkin warga dunia. Worldview Barat adalah sekular-liberal. Isme-isme Barat di antaranya materialisme, liberalisme, pluralisme, humanisme, feminisme dan  pragmatisme.


Untuk mendukung agenda cuci otak besar-besaran tersebut, Barat dibantu oleh para “robot-robot” yang berasal dari warga pribumi termasuk dari kalangan Muslimin.


Di antara para “robot” yang berkartu identitas Muslim itu adalah mmereka yang menyebut diri  mereka sebagai kaum liberal. Mereka tidak cukup masuk kedalam dan menggunakan bidang studi Islam – dengan memakai metodologi keilmuan dari Barat dan Kristen dalam melakukan pembacaan dan penafsiran yang baru dan nyleneh terhadap al-Qur’an dan Hadits -, tapi  mereka juga masuk ke dalam dan menggunakan bidang politik, pendidikan, sosial dan budaya.
Dalam bidang politik, di Indonesia mmereka masuk kedalam partai politik-partai politik, DPR dan atau melobi anggotanya, masuk ke dalam Kementrian Agama dengan dibentuknya Kelompok Kerja Pengarus-utamaan Gender dan Tim Penyusun Counter Legal Draft KHI, dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.


Dalam pendidikan, ereka memasukkan worldview dan isme-isme Barat ke dalam pesantren dan  dalam kurikulum dan buku-buku pegangan mulai pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi Islam maupun umum.


Dalam bidang sosial antara lain  mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam menentukan orientasi seksual, untuk menikah atau tidak, menikah dengan sesama jenis kelamin, untuk tidak menyusui anak, dan mentalak suami. Dalam bidang budaya antara lain mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam berpakaian dan berekspresi.


Tidak mengherankan, bila cara berpikir, berpendapat, bersikap dan bertindak para ‘robot-robot’ Barat ini selalu mengkampanyekan ‘bebas dari Tuhan’. 
 
Dalam kehidupan nyata, sebagian masyarakat Indonesia telah menjadi korban cuci otak yang berkaitan dengan Miss World dan ajang lain sejenisnya. Tidak sedikit gadis-gadis Indonesia yang bermimpi terpilih sebagai Miss World, Miss Indonesia, Miss Jilbab atau gelar-gelar lain sejenis. Hal itu terbukti ketika event-event seperti itu akan diselanggarakan selalu tidak sepi dari peminat.


Agen Setan


Sungguh aneh, di negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini ada warganya yang bisa menjadi korban cuci otak. Sungguh lebih aneh lagi ada pihak-pihak tertentu yang ikut terlibat dalam mensukseskan Miss World, semua event sejenis dan proyek-proyek cuci otak lainnya yang diagendakan Barat di negeri ini.


Tapi lebih aneh lagi karena  mereka  kok mau-maunya menjadi setan. Sebab al-Quran dengan tegas menyebutkan  agen ‘cuci otak’ seperti ini adalah setan.


الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ


“yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, mereka semua adalah setan-setan dari golongan manusia.” (QS. An-Naas [114]:6).* 


Penulis peneliti  Islammic Studies Forum for Indonesia (ISFI) Kuala Lumpur Malaysia, Pengelola fanspage fb SBQ (Sukses Bersama Qur’an)


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Wednesday, June 19, 2013

Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Karen Armstrong Pakar Agama: Alquran Mengajarkan Belas Kasih


Di ambang pintu, Karen Armstrong menyungging senyum. Ia mempersilakan masuk, menyapa ramah, dan mengucapkan “How do you do?” Lalu, ia duduk di sofa putih di kamar hotel ia menginap. Perempuan Inggris ini mengisahkan konsep belas kasih yang ia dengungkan, Islam, dan dirinya kepada wartawan Republika, Ferry Kisihandi, dan fotografer, Prayogi, Jumat (14/6) sore. Berikut petikannya.


Sebegitu pentingkah belas kasih bagi Anda?

Saya pikir ini merupakan hal terpenting di dunia. Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.


Menurut saya, ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi semua agama. Ini juga sarana untuk membantu kita bertahan. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk tentu dampaknya juga akan menimpa diri kita. Dan, kita melihat dunia sekarang mengalami hal seperti ini. Maka, sudah seharusnya kondisi semacam itu tak lagi berlangsung. Saya melihat Sang Buddha, Konfusius, dan Yesus semuanya bekerja di sebuah masyarakat yang penuh keserakahan. Tapi, mereka mampu bertahan dengan menggerakkan sikap belas kasih.


Bagaimana mempraktikkannya di tengah dunia yang sekarang sarat kekerasan dan konflik ini?


Saya akui, kini kita tinggal di tempat yang sangat terpolarisasi dan berbahaya. Tapi, pada dasarnya, kita tak bisa mengabaikan pengembangan ide belas kasih ini. Karena itu, sangat mendesak membangun kesadaran global soal ini. Lalu, membangun hubungan lebih baik dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.


Semua sudah melihat, hampir semua musnah oleh senjata yang manusia buat. Demikian pula kalau merunut pada sejarah perang ratusan tahun silam. Itu berulang dan meletuslah perang di Afghanistan, Irak, dan sekarang terjadi di Suriah. Ini situasi berbahaya. Bila agama tak mampu tampil dengan pesan belas kasih yang ada pada ajarannya, mereka akan gagal mengatasi ini semua. Dengan demikian, mereka harus mampu. Apa yang mereka lakukan adalah untuk generasi kita sekarang.


Anda optimistis agama bisa memainkan perannya dengan baik?

Tergantung. Kita semua mempunyai jejak rekam bagus dalam mendorong upaya yang baik. Namun, karena rasa malas, hal itu tak berkembang. Saya bahagia dengan respons terhadap pesan belas kasih yang kemudian dituangkan dalam Piagam Belas Kasih. Muncul gerakan yang begitu aktif di Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Pakistan juga di Indonesia. Jadi, secara alamiah, saya optimistis.


Tapi, kita masih menghadapi kendala utama, yaitu prasangka walaupun telah ada serangkaian dialog antarkeyakinan yang digelar?


Ini sisi alamiah manusia dan pada prinsipnya prasangka harus diatasi. Anda dapat melakukan seperti apa yang ditempuh Islamic Society of North America (ISNA), sebuah organisasi Muslim besar di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa tahun lalu mereka menegaskan untuk menerapkan prinsip belas kasih lewat Piagam Belas Kasih.


Imam masjid yang memimpin kegiatan ISNA menetapkan tekad menciptakan masjid yang penuh belas kasih. Ini maknanya, masjid harus ramah gender dan pemuda, mesti memperluas dialog antarkeyakinan, serta mempelajari cara dalam mengahadapi terjadinya penyalahgunaan agama oleh segelintir orang.


Mereka juga menyebarkan pesan belas kasih yang juga terdapat pada ajaran Islam dalam berbagai pelatihan imam. Maka intinya, akar rumput menjadi bagian yang vital. Di sisi lain, saya melihat adanya dialog di antara para pemimpin agama. Namun sebaiknya, ini tak berakhir pada konferensi. Dan, cara terbaik adalah dengan bekerja bersama-sama.


Langkah ini dapat dilakukan oleh Yahudi, Muslim, Kristen, Buddhis, maupun pemeluk Hindu. Karena itu, alangkah baiknya setiap masjid, gereja, maupun kuil saling menjalankan program untuk saling merangkul dan berdialog dengan orang lain.


Tak jarang, peristiwa semacam pengeboman di Boston membuat seluruh komunitas Muslim disalahkan?

Saya pikir, komunitas Muslim perlu benar-benar proaktif. Terkadang tak ada yang menaruh perhatian penuh saat muncul pernyataan bahwa Islam menentang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Tak pernah digambarkan oleh media mainstream. Di sisi lain, umat Islam harus terus memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa Muslim berbelas kasih dan menentang kekerasan.


Apakah Anda berpikir Muslim akan mampu melakukannya?


Saya tidak tahu. Muslim harus mencoba melakukannya sendiri. Tuhan menyatakan, Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tak mengubahnya. Ini pernyataan yang terkandung dalam Alquran. Saya pikir, jihad sebenarnya adalah berusaha menjadikan hal itu terwujud.


Anda pernah menulis buku tentang Muhammad, kapan pertama kali tertarik mengkaji Islam?

Saat saya bekerja di televisi. Saya membuat program mengenai Perang Salib. Ini berarti saya harus mempelajari tentang Islam. Banyak orang memandang miring agama ini, saya tak paham apa yang mereka katakan. Saya dapat mempelajari Islam dengan baik. Lalu, saya ingin membuat Islam dapat diakses bagi warga Barat sehingga mereka lebih memahami agama ini.


Bagaiman pandangan Anda tentang Muslim di Indonesia?


Saya diundang oleh penerbit buku (Mizan) saya di sini. Dalam kurun 10 tahun ini saya sibuk bepergian ke sejumlah tempat. Pernah juga singgah ke Malaysia. Bagi saya, mesti tinggal beberapa saat dulu di Indonesia, berbicara dengan orang-orangnya, dan mempelajarinya, baru saya bisa menyampaikan opini mengenai Muslim di sini. Saya baru berada di sini pada Rabu (12/6) malam lalu.


Anda menikmati saat berbicara dari satu kuliah umum ke kuliah umum lainnya?

(Karen menjawab sambil tertawa). Tidak benar-benar. Saat kuliah umum, saya selalu mengatakan kepada setiap orang tentang apa yang mesti dilakukan. Saya pergi dari sini kemudian menuju tempat lainnya. Meski tak benar-benar menikmati, saya terkesan dengan sambutan-sambutan yang hangat dan saya sangat menghargainya. Anda tahu, sebenarnya saya adalah seorang yang sangat soliter.


Saya hidup sendiri, saya menyukai keheningan. Saya membutuhkannya termasuk saat menulis. Terlalu berat bagi saya untuk selalu berada di tengah orang banyak. Ini bukan nature saya. Tapi, dalam kunjungan ke Indonesia ini, saya tersentuh. Sebab, ada sambutan hangat dan banyak yang berbuat baik kepada saya. n ed: nur hasan murtiaji


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.harianterbit.com/2013/03/23/ratusan-biksu-budha-kejar-warga-muslim-di-meiktila/


Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

Saturday, January 12, 2013

Lanskap Baru Politik 2014

Muhammad Qodari 

JAKARTA, KOMPAS.com – Hasil rapat pleno KPU soal verifikasi faktual parpol peserta Pemilu 2014 diperkirakan meloloskan 10 partai dari 34 yang mendaftar ke KPU (Kompas, 8/1). Ke-10 partai itu adalah PAN, Demokrat, PDI-P, Hanura, Gerindra, Partai Golkar, PKB, PKS, PPP, dan Nasdem.

Bagi yang optimistis, lolosnya 10 parpol untuk Pemilu 2014 membuka lanskap baru politik Indonesia ke depan. Lanskap pertama, harapan bahwa pilihan masyarakat akan lebih berkualitas karena jumlah partai jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Bandingkan jumlah parpol peserta Pemilu 2014 dengan Pemilu 1999 yang 48 parpol, 2004 (24), dan 2009 (38).

Pilihan yang sedikit ini diharapkan kondusif untuk masyarakat membuat pilihan berkualitas. Apalagi 9 dari 10 parpol yang lolos adalah partai lama yang sudah dikenal kiprahnya, baik di legislatif, eksekutif, di media, maupun di masyarakat. Jadi, masyarakat punya catatan tentang kinerja mereka. Pemilu 2014 akan menjadi hari penilaian bagi parpol-parpol tersebut.

Harapan yang lebih berkualitas juga diharapkan terjadi untuk level calon anggota legislatif (caleg). Berkurangnya jumlah partai secara signifikan secara dramatis juga mengurangi jumlah caleg.

Lanskap berikutnya, kemungkinan perubahan wajah politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Saat ini terjadi perbedaan situasi antara konstelasi politik di pusat (DPR) dan di daerah (DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota). Jika di pusat hanya ada 9 partai politik, di daerah jumlah parpol jauh lebih banyak sehingga lebih ”hiruk-pikuk”. Di DPRD 2009, jumlah parpol lebih banyak sebagai kombinasi dari tiadanya ambang batas parlemen untuk masuk DPRD dan jumlah peserta pemilu 38 parpol. Akibat tak ada ambang batas parlemen untuk DPRD, tak ada kursi DPRD yang ”hangus” seperti terjadi di DPR.

Pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi, aturan Pemilu 2014 hanya memberlakukan ambang batas di tingkat nasional seperti pada 2009 (sebelum keputusan itu ambang batas juga berlaku di tingkat daerah). Namun, dengan jumlah peserta pemilu yang hanya 10 parpol, jumlah parpol di DPRD juga tidak akan lebih dari 10. Ini membuat komposisi parpol di DPRD kurang lebih akan sama dengan DPR. Perbedaannya pada posisi dan jumlah kursi sesuai daerah masing-masing.

Skeptisisme

Jika analisis di atas menampilkan kemungkinan perubahan dan harapan pada Pemilu 2014, bagian berikut menampilkan kekhawatiran dan skeptisisme. Skeptisisme pertama adalah kinerja DPR hasil Pemilu 2014. Disinyalir salah satu sebab rendahnya produktivitas legislasi DPR akibat jumlah partai dan fraksi yang terlalu banyak di Senayan.

Salah satu solusinya mengurangi jumlah partai dan fraksi di DPR dengan ambang batas parlemen. Namun, ambang batas 3 persen yang ditetapkan untuk Pemilu 2014 (naik 0,5 persen dibanding Pemilu 2009) diduga tidak akan mampu mengurangi jumlah parpol di DPR secara signifikan. Bahkan, bukan mustahil jumlah parpol di DPR justru naik dari 9 ke 10 parpol, dengan asumsi 9 partai lama dan satu partai baru (Nasdem) semua mendapat suara di atas ambang batas. Kemungkinan ini besar karena Hanura sebagai partai ”bontot” dalam Pemilu 2009 meraih suara di atas 3 persen pada pemilu itu. Sementara Nasdem telah menembus suara di atas 3 persen dalam aneka survei akhir-akhir ini.

Skeptisisme berikutnya soal wajah politik nasional Indonesia secara umum di masa yang akan datang. Mafhum diketahui banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap kinerja parpol, politisi, dan aneka lembaga pemerintahan. Kenyataan bahwa 9 dari 10 parpol yang lolos pemilu adalah partai lama dapat ditafsirkan: wajah politik Indonesia ke depan tidak akan berubah banyak karena aktornya secara garis besar yang itu-itu saja. Termasuk peta calon presiden yang notabene akan keluar dari parpol-parpol tersebut di atas.

Sekarang, bagaimana cara menjawab potensi kekecewaan tersebut di atas? Soal ambang batas tidak mungkin diubah. Karena itu, harus diterima kemungkinan jumlah parpol di DPR tetap 9 atau malah jadi 10. Berdasarkan pengalaman pemilu di era Reformasi, memang angka ambang batas yang bisa memangkas jumlah parpol di DPR adalah minimal 5 persen. Solusinya adalah memperbaiki mekanisme pembahasan UU di DPR dan di tiap parpol agar target legislasi dapat tercapai.

Adapun solusi kekecewaan terhadap parpol di masa depan secara inheren terkandung dalam mekanisme demokrasi itu sendiri. Dalam demokrasi diharapkan terjadi proses reward and punishment (hadiah dan hukuman) dari masyarakat terhadap peserta pemilu dan selanjutnya proses belajar dan memperbaiki diri dari para peserta pemilu itu terhadap kesalahannya. Saya meyakini mekanisme hadiah dan hukuman itu berlaku dalam politik Indonesia. Buktinya PDI-P yang menang Pemilu 1999 bisa kalah di 2004, sedangkan Partai Golkar yang menang di 2004 kalah di 2009, sementara hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Demokrat yang menang Pemilu 2009 turun.

Tentang calon presiden 2014, ada tiga langkah untuk memunculkan alternatif wajah calon pemimpin nasional. Pertama, menurunkan aturan presidential threshold (ambang batas capres) Pemilu 2009 yang mencapai 20 persen suara dan/atau 25 persen kursi. Pilihan yang mudah adalah ”menyamakan”-nya dengan ambang batas parlemen, yakni 3 persen, untuk mengajukan pasangan calon sendiri. Namun, melihat pengalaman politik selama ini, agaknya angka itu akan bertemu di tengah, yaitu di rentang 10 persen-15 persen. Kedua, partai membuka kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai calon. Ketiga, partai membuka pintu bagi tokoh-tokoh di luar partai.

Agamis vs nasionalis

Lepas dari harapan dan skeptisisme terhadap calon peserta Pemilu 2014, jumlah peserta yang 10 sebetulnya kian mendekati opini masyarakat. Paling tidak ini terungkap dari hasil berbagai survei, di antaranya survei oleh Indo Barometer pada Juni 2008 dan Agustus 2010.

Secara ideologi, 10 partai peserta pemilu juga cukup mencerminkan konstruksi ideologi parpol di Indonesia yang kerap dibagi dalam dua spektrum. Untuk spektrum partai agamis/berbasis massa agama versus nasionalis/sekuler, ke-10 partai itu dapat dibagi dalam partai agamis (PKS, PPP, PAN, PKB) dan nasionalis (PDI-P, Partai Golkar, Partai Demokrat, Gerindra, Hanura, Nasdem).

Dalam spektrum partai agamis, ada dua subspektrum, yakni agamis Islam dan Kristen. Subspektrum agamis Islam bisa dibagi lagi dalam sub-subspektrum agamis Islam modernis dan agamis Islam tradisionalis. Adapun yang hilang dalam 10 parpol peserta Pemilu 2014 adalah wakil dari subspektrum agamis Kristen.

Sementara untuk spektrum partai nasionalis, dapat dibagi lagi dalam subspektrum kanan/developmentalis versus kiri/ populis. Tentu penggolongan ini relatif dan dapat diperdebatkan. Akan tetapi, pesannya adalah: walau jumlah partai peserta pemilu menurun jauh dibandingkan 2009, sebetulnya cukup mewakili spektrum ideologi politik yang ada.

Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26737/12/01/2013/dsn-mui:-ulama-mesir-haramkan-sukuk-karena-alasan-maslahat-.html


Lanskap Baru Politik 2014

Thursday, January 9, 2014

Perginya seorang amil

PEMBACA budiman, kali ini saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat sahabat saya, Almarhum Aidi Munawer Ahmed Shukri, mantan Pengurus Besar, Lembaga Zakat Selangor (LZS). Lebih 10 tahun dahulu, beliaulah insan yang telah memperkenalkan LZS kepada saya. Beliau jugalah yang meyakini bakat dakwah yang tersemai dalam diri saya, lalu memberikan peluang hingga akhirnya saya mampu menjadi seperti hari ini.


Insya-Allah, dalam setiap usaha dakwah yang saya lakukan, pasti ada sebahagian pahala yang tertitip untuknya di alam barzakh sana. Sebelum itu, beberapa bulan yang lalu kala menjelangnya tarikh 1 Januari 2014, saya telah menerima satu pesanan ringkas (SMS) daripada Aidi.


“Tuan-puan dijemput ke majlis bacaan Yaasin, tahlil dan doa selamat sempena perasmian perusahaan ikan salai saya pada 1 Januari 2014…”


Saya terkejut dengan SMS berkenaan. Untuk makluman, sahabat saya ini telah berjuang lebih dari lima tahun melawan serangan jantungnya.


Selama itu, Institut Jantung Negara (IJN) telah menjadi rumah utamanya dan rumahnya sendiri menjadi rumah kedua. Malah dadanya juga telah beberapa kali dibelah, ditebuk dan dibelah.


Saya tidak akan lupa saat beliau mengisahkan, sakitnya dada dibelah tidak tergambar dengan kata-kata dan beliau seboleh mungkin tidak mahu lagi menjalaninya.


Malam 31 Disember 2013, lebih kurang pukul 8.20 malam, sahabat saya itu berjuang untuk saat-saat akhir mencicipi saki baki nafas yang terukir di dunia ini.


Kala itu, saya sedang menyampaikan kuliah Maghrib di sebuah surau dan yakin ribuan orang lain bersiap-siap demi menanti detik 12 tengah malam, sama ada di program penuh hiburan mahu pun di majlis ilmu penuh peringatan. Sahabat saya itu pula, sedang bersiap-siap menerima panggilan Ilahi.


Esoknya, 1 Januari 2014 saya menerima khabar kematian. Sayangnya, saya tidak dapat mengunjunginya lantaran anak perlu mendaftar masuk ke asrama.


Namun, saya gagahi menziarahi isterinya Kak Yati selepas itu. Apatah lagi kami memang jiran lama dan saling mengenali. Kak Yati pun berkongsi kisah 40 hari sebelum suaminya, Aidi dijemput Ilahi. Saya yakin, kisah ini ada iktibar besar yang wajar dikongsi.



Majlis tahlil



“Pada 1 Januari 2014 baru-baru ini, benar-benar kami adakan majlis tahlil besar-besaran seperti yang Aidi mahu. Tapi, bukan sebagai perasmian perniagaanya, sebaliknya atas kematiannya.”


Kak Yati kelihatan begitu tabah menghadapi suasana. Benar, ujian berat yang telah dia dan anak-anaknya lalui sekian lama, membuatkan mereka lebih kuat mendepani ujian kehilangan.


Sejak Aidi mengidap sakit jantung sekitar 2006, kehidupan mereka sekeluarga berubah warna. Jangankan anak-anak dan isterinya, saya sebagai teman sepejabat pun turut merasai kehilangannya di tempat kerja.


“Aidi tidak guna langsung wang pampasan persaraan daripada LZS (Aidi telah bersara awal ekoran masalah kesihatan). Seluruh wangnya lebih daripada RM300,000 itu, dia manfaatkan untuk membuka kilang menyalai ikan.


“Malah dia pesan sangat-sangat, apa pun yang terjadi selepas ini, sama ada dia masih ada atau pergi, kilang itu mesti terus beroperasi. Tetapi, bukan untuk kami anak-beranak, sebaliknya untuk para asnaf zakat,” kata Kak Yati.


Itulah kesungguhan sahabat saya ini dalam meladeni amanah zakat. Biarpun nyawa sudah di hujung usia, dia tidak pernah melupakan asnaf zakat, khususnya kaum fuqara wal masakin dan mualaf yang melata.


“Kami membuka kilang itu di Subang Bestari dan Aidi mahu agar para pekerjanya diambil daripada kalangan asnaf zakat yang memang ditempatkan di sana oleh LZS. Baginya, dia mahu kilang itu menjadi nadi pembangunan diri asnaf,” kata Kak Yati.


Hakikatnya, komitmen Aidi menyantuni para asnaf bukanlah perkara baharu. Dalam buku Diari Seorang Amil (terbitan Galeri Ilmu), ada saya paparkan perihal kisah kami sama-sama menyelamatkan seorang bapa tunggal dan dua anak gadis suntinya di hutan simpan Kemensah pada 2003.


Malah, sebelum saya menjawat jawatan amil pun, Aidi pernah membawa saya mengunjungi sebuah keluarga miskin di Kampung Tok Pinang, Serendah dalam bulan Ramadan dan membawa pelbagai barangan untuk disedekahkan.


Saya juga tidak akan lupa saat seorang penerima bantuan bertaraf Orang Kurang Upaya (OKU) yang datang ke Pejabat LZS di Shah Alam pada 2013 untuk meminta LZS membaiki kerusi rodanya yang sudah rosak. Kebetulan dia bertemu Aidi, langsung kerusi rodanya digantikan dengan yang baharu. Malah siap berkuasa elektrik lagi. Menangis pakcik itu menerima hadiah kerusi roda baharu berkenaan.


Justeru, pengalaman saya dalam memikul tugas sebagai amil zakat bersama Aidi amat mengesankan. Maka, saya tidak hairan kecintaannya kepada para asnaf telah membuatkan dia sanggup menafkahkan seluruh wang pampasannya untuk tujuan menyediakan pekerjaan kepada sebilangan asnaf yang memerlukan. Calang-calang orang, pasti tidak sanggup melakukan sedemikian.


“Aidi juga berpesan, jika perniagaan itu menghasilkan keuntungan, maka jangan lupa tunaikan zakat. Malah, dia juga pesan agar lebihkan bahagian untuk diinfak.


“Bagi kami anak-beranak, sudah ada bahagian lain yang dia tinggalkan. Jadi, kami tidak perlu terlalu mengharap kepada perniagaan,” ujar Kak Yati.


Demikianlah wasiat yang Aidi titipkan kepada isterinya, kala usia 40 harinya kian mengensot meninggalkannya. Kesungguhan Aidi merealisasikan perniagaannya itu, dengan ‘kebugaran’ kira-kira sebulan yang Allah SWT berikan sebelum mentakdirkan dia harus pulang kepada Allah SWT, ibarat memberikan kesempatan terbaik buat Aidi merealisasikan impian.


Ya, impian menyantuni asnaf zakat selagi usia masih terpahat, kala 40 hari kian mendekat.



Bina sekolah tahfiz



“Aidi sebenarnya berhasrat untuk membina sekolah tahfiz selain daripada membina perniagaan demi membantu asnaf. Amat besar cita-citanya, tapi tidak sempat dia penuhi semua,” kata isterinya.


Demikianlah, masa yang berenjak, namun saya tetap terkenangkan betapa Aidi dan saya dahulu sama-sama mengimarahkan rumah Allah, bertadarus sepanjang malam di bulan Ramadan. Sama-sama turun mencari orang susah hingga kawasan pedalaman, sama-sama bergelut menjayakan Karnival Ummah dan banyak lagi memori indah yang telah kami catatkan di kanvas persahabatan kami.


Di akhir kalam ini, saya hanya mengharapkan semoga Aidi diberikan Allah SWT kelapangan dalam kuburnya. Selapang hatinya dahulu yang tega menyisihkan ‘masa dan harta’ demi melunasi maslahah ummah. Duhai sahabat, terimalah daripadaku dan pembaca sekalian, hadiah berupa sakalung surah buatmu dalam menagih kasihnya Allah, al-Fatihah.



PENULIS ialah Eksekutif Dakwah di Lembaga Zakat Selangor (MAIS)



Nota: Dalam tempoh tiga bulan ini, LZS telah kehilangan tiga orang amil, iaitu Mohd. Rais Jamil, Aidi Munawer dan Mohd. Lutfi Ibni Hijar, semoga mereka ditempatkan dalam kalangan orang-orang yang soleh. Amin.




Article source: http://www.theglobejournal.com/Opini/memahami-konflik-berdarah-di-mesir/index.php


Perginya seorang amil