Showing posts sorted by relevance for query menikmati. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query menikmati. Sort by date Show all posts

Monday, November 4, 2013

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki
Senin, 4 November 2013 | 6:42


Wartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di TurkiWartawan SP berkesempatan mengunjungi museum bersejarah di Turki


Sebuah perjalanan yang menyenangkan tentunya bagi Wartawan Suara Pembaruan,


Bangun Lubis, yang bertugas di Palembang, ketika mendapat

kesempatan berkunjung ke Republik Turki, selama delapan hari sejak 21 –

29 Oktober 2013 bersama sejumlah wartawan dari Jaringan Pers Nasional

bersama Pemprov Sumsel.


Para wartawan tak hanya berkunjung

ke obyek wisata fisik seperti Kota Istambul yang memiliki dua wilayah

yakni Bagian Asia dan Europea, tetapi juga begitu banyak wisata sejarah

yang sempat membuat terkesima ketika menyaksikannya.


Salah satu yang menarik adalah daya pikat Museum

Haghia Sophia

atau sering juga dibaca dengan sebuta Museum Aya Sofia. Museum

ini sebelumnya adalah sebuah bangunan dimana dulunya adalah Masjid.


Dan

sebelum menjadi masjid, ia adalah gereja yang bernama Haghia Sopia.

Udara dingin yang kira-kira mencapai

10 derajat Celsius tidak menjadi hambatan bagi para wartawan untuk

menikmati kunjungan dan menimmati kota tua ini. Di ceritakan oleh

Pemandu Wisata bernama ,

Ali Ekinci,

(49) yang memandu kami selama berada di sana, bahwa usia bangunan ini

sudah sangat tua, sekitar lima abad.


Bangunan ini merupakan kebanggaan

masyarakat Muslim di Istanbul,

Turki. Keindahan arsitekturnya begitu mengagumkan para pengunjung.

Karenanya, jika berkunjung ke Istanbul, belum lengkap tanpa melihat

kemegahan Aya Sofia.

Tampak dari luar, pengunjung

disuguhkan ukuran kubah yang begitu besar dan tinggi. Ukuran tengahnya

30 meter, tinggi dan fundamennya 54 meter.


Ketika memasuki area

bangunan, pengunjung dibuai oleh keindahan interior yang

dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam

warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.


Di

sinilah simbol pertarungan antara Islam dan non-Islam, termasuk di

dalamnya nilai-nilai sekuler pascaruntuhnya Kekhalifahan Turki

Ostmani (Otomant).


Gereja
 

Sebelum diubah menjadi masjid, Aya Sofia adalah sebuah gereja bernama

Hagia Sophia yang dibangun pada masa Kaisar Justinianus (penguasa

Bizantium), tahun 558 M. Arsitek Gereja Hagia Sophia ini adalah

Anthemios dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Berkat tangan Anthemios dan

Isidorus, bangunan Hagia Sophia muncul sebagai simbol puncak ketinggian

arsitektur Bizantium. Kedua arsitek ini membangun Gereja Hagia Sophia

dengan konsep baru.


Hal ini dilakukan setelah orang-orang

Bizantium mengenal bentuk kubah dalam arsitektur Islam, terutama dari

kawasan Suriah dan Persia.


Keuntungan praktis bentuk kubah yang

dikembangkan dalam arsitektur Islam ini, terbuat dari batu bata yang

lebih ringan daripada langit-langit kubah orang-orang Nasrani di Roma,

yang terbuat dari beton tebal dan berat, serta

mahal biayanya.

Oleh keduanya, konsep kubah dalam

arsitektur Islam ini dikombinasikan dengan bentuk bangunan gereja yang

memanjang.


Dari situ kemudian muncullah bentuk kubah yang berbeda secara

struktur, antara kubah Romawi dan kubah Bizantium.

Bangunan gereja ini sempat hancur beberapa kali karena gempa, kemudian

dibangun lagi. Pada 7 Mei 558 M, di masa Kaisar Justinianus, kubah

sebelah timur runtuh terkena gempa. Pada 26 Oktober 986 M, pada masa

pemerintahan Kaisar Basil II (958-1025), kembali

terkena gempa. Akhirnya, renovasi besar-besaran dilakukan agar tak

terkena gempa di awal abad ke-14.

Pengembangan Turki Ostmani



Pada 27 Mei 1453, Konstantinopel takluk oleh tentara Islam di bawah

pimpinan Muhammad II bin Murad II atau yang terkenal dengan nama

Al-Fatih yang artinya sang penakluk. Saat berhasil menaklukkan kota

besar Nasrani itu, Al-Fatih turun dari kudanya dan melakukan

sujud syukur.

Ia pergi menuju Gereja Hagia Sophia.


Saat itu juga, bangunan gereja Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi

masjid yang diberi nama Aya Sofia. Pada hari Jumatnya, atau tiga hari

setelah penaklukan, Aya Sofia langsung digunakan

untuk shalat Jumat berjamaah. Sepanjang kekhalifahan Turki Ostmani,

beberapa renovasi dan perubahan dilakukan terhadap bangunan bekas gereja

Hagia Sophia tersebut agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan

masjid.

Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam ke negara-negara lainnya.


Sementara

dalam masalah keagamaan, orang-orang Turki terkenal

sangat bijak, sebab mereka tidak memaksakan penduduk daerah taklukannya

untuk masuk Islam, meskipun mereka berani berperang untuk membela

Islam.

Kata Ali, karena orang-orang Turki

yang beragama Islam cukup arif, maka ketika Gereja Hagia Sophia

dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak

dibongkar.


Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas

dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar

bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara

ini, antara lain, dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di

bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun

lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad

III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III,

pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid

yang masih bercirikan gereja.


Termasuk, mengganti tanda salib yang

terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan

menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia

Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain

yang dianggap tidak perlu, juga dihilangkan. Akibat adanya kontak

budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam

dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula

mengenal atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap

meruncing.


Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik

awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat

megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan

timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan

lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan

ruang yang lebih luas dan tinggi.

Museum 

Perubahan drastis terjadi di masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk di

tahun 1937.


Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang

penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat, dan mengganti fungsi

masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran

Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan

Islam diubah lagi menjadi gereja.

Sejak difungsikan sebagai museum,

para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur

menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia.


Bagian di

langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi

dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen

peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Sementara peninggalan Masjid Aya

Sofia yang menghiasi dinding dan pilar di ruangan lainnya tetap

dipertahankan.Sejak saat itu, Masjid Aya Sofia dijadikan salah satu

objek wisata terkenal di Istanbul oleh pemerintah Turki.

Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah

memesona.


Menjadi Inspirasi dalam Perkembangan Arsitektur Islam

Arsitektur Islam dapat dikatakan

identik dengan arsitektur masjid. Sebab, ciri-ciri arsitektur Islam

dapat terlihat jelas dalam perkembangan arsitektur masjid. Salah satu

masjid yang gaya arsitekturnya banyak ditiru oleh

para arsitek Muslim dalam membangun masjid di berbagai wilayah

kekuasaan Islam adalah Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.


Desain dan corak bangunan Aya Sofia

sangat kuat mengilhami arsitek terkenal Turki Sinan (1489-1588) dalam

membangun masjid. Sinan merupakan arsitek resmi kekhalifahan Turki

Usmani dan posisinya sejajar dengan menteri.Kubah

besar Masjid Aya Sofia diadopsi oleh Sinan–yang kemudian diikuti oleh

arsitek muslim lainnya–untuk diterapkan dalam pembangunan masjid.


Salah satu karya terbesar Sinan yang

mengadopsi gaya arsitektur Aya Sofia adalah Masjid Agung Sulaiman di

Istanbul yang dibangun selama 7 tahun (1550-1557). Seperti halnya Aya

Sofia, masjid yang kini menjadi salah satu objek

wisata dunia itu memiliki interior yang megah, ratusan jendela yang

menawan, marmer mewah, serta dekorasi indah.


Dalam sejarah arsitektur Islam,

orang-orang Turki dikenal sebagai bangsa yang banyak memiliki andil

dalam pengembangan arsitektur Islam hingga ke negara lainnya. Misalnya

Dinasti Seljuk yang menampilkan tiga ciri arsitektur

Islam, khususnya arsitektur masjid.

 


Adanya kontak budaya antara

orang-orang Muslim Turki dan budaya Nasrani di Eropa Timur inilah,

arsitektur Islam yang semula hanya mengenal atap bangunan rata dan

bentuk kubah, kemudian mulai mengenal atap meruncing ke atas.

Selain itu, sejak bersentuhan dengan kebudayaan Kerajaan Romawi Timur

ini juga, arsitektur Islam mulai mengenal arsitektur yang bersifat

megah, berkesan perkasa, dan vertikalisme.(*)





Kirim Komentar Anda




Komentar Untuk Artikel Ini


Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/08/21/mrvdhl-geliat-islam-di-polandia


Menikmati Pesona Wisata Museum Bersejarah Turki

Monday, March 11, 2013

Tiwi T2 Belum Mau Ikut Suami ke Jepang

ADA yang berbeda dengan Tiwi personel T2 pasca menikah. Pemilik nama lengkap Prastiwi Dwiarti yang dipersunting pengusaha asal Jepang, Shogo, 16 Februari lalu di Bali itu nampak lebih ceria. Jebolan Akademi Fantasi Indosiar ini mengaku tengah menikmati kebersamaan bersama sang suami.

Menurutnya, tak ada masalah yang muncul meski keduanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda. “Sebelum kita pacaran, dia juga sudah ngenalin banyak kebiasaan dan tradisi di Jepang,” ujarnya saat ditemui di Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (7/3).

Tak hanya dari suaminya, mantan kekasih Ade Govinda ini juga banyak membaca kebudayaan suaminya tersebut. “Selain itu aku juga baca-baca. Setelah sering ketemu jadi makin tahu,” kata wanita kelahiran Bandung, 5 Februari 1986 itu.

Tak hanya itu, perbedaan usia yang terpaut hingga sembilan tahun dengan suami, juga tak membuat Tiwi kesulitan menjalani rumah tangga dengan Shogo. Tiwi mengaku sangat menikmati peran barunya sebagai seorang istri. “Alhamdulilah saya sudah nikah, jadi sekarang punya kebiasaan baru, mudah-mudahan menyenangkan,” kata wanita berzodiak Aquarius itu.

Meski sudah menikah, Tiwi bersyukur suaminya tak membatasi karirnya didunia tarik suara. Dia pun tak mau buru-buru diboyong ke negeri asal sang suami. “Kalau untuk ke Jepang, mungkin nanti. Tapi keluarga suami sudah dateng sih,” tukasnya.

Sempat menjadi pertanyaan mengenai perbedaan agama, Tiwi menegaskan kalau suaminya tersebut telah menjadi mualaf. Tiwi mengaku, sejak awal bertemu suami, dia mulai mengenalkan agama Islam. “Si Shogo itu mualaf, setelah dia menikah. Dari awal ketemu juga aku sudah jejalin Islam ke dia,” ungkapnya.

Lantas, kapan Tiwi akan mengenalkan sosok suaminya di depan umum? Pelantun Malu Dong itu mengatakan, suaminya tidak senang tampil di depan kamera. “Kalau untuk ke acara-acara segera, dia agak kurang senang kamera. Dia nggak begitu senang sama kayak begitu-begitu,” pungkasnya. (dew)

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/09/14/08253075/Unjuk.Rasa.di.Kairo.Berlanjut


Tiwi T2 Belum Mau Ikut Suami ke Jepang

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog

Wednesday, July 17, 2013

Pasar Ramadhan di Tepian Katedral

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Ketika hari mulai sore, para pedagang mulai merapikan tempat jualannya untuk menyajikan beraneka macam kue, minuman ringan, es buah serta beraneka jenis makanan lainnya menjelang umat muslim berbuka puasa.


Trotoar di tepian Katedral Kristus Raja dan Bank Mandiri Kupang yang terletak di Jalan Ir Soekarno itu ramai dipadati pengunjung, baik yang muslim maupun nonmuslim, ketika mentari merangkak perlahan menuju keperaduannya.


Ruas jalan Ir Soekarno, terutama di depan Katedral Kristus Raja Kupang sampai ke Bank Mandiri dan Telkom Plaza menjadi macet karena padatnya arus lalu lintas, terutama kendaraan roda dua dan empat yang mampir sebentar di Pasar Ramadhan itu.


“Itu Pasar Ramadhan yang baru dibuka khusus untuk menyambut bulan puasa. Jika ada umat muslim yang tak sempat buka puasa bersama keluarga, bisa langsung menikmati di Pasar Ramadhan, atau membeli jajan di tempat itu untuk buka bersama keluarga di rumah,” kata Sulaiman Kopong (37 tahun), seorang warga Kota Kupang kelahiran Flores Timur.


Beraneka ragam kue dan jajanan yang disajikan itu, terkesan menggoda selera setiap orang yang melintas di kawasan tersebut. “Enak juga menikmati es buah sambil cuci mata di sini,” komentar Paulus Tadon (30), salah seorang pegawai swasta di Kupang.


Pasar Ramadhan di trotoar tepian Gereja Katolik Kristus Raja Kupang dan Bank Mandiri itu merupakan pengembangan dari pasar senja yang sebelumnya dibuka para pedagang dari Kelurahan Air Mata Kupang di seberang jalan Kantor Bupati Kupang. 


Kawasan itu terkenal dengan Jajan Air Mata (JAM), karena diproduksi oleh para pedagang dari Kelurahan Air Mata. Kawasan itu masih tetap saja ramai meski sudah berkembang ke arah Katedral Kristus Raja dan Bank Mandiri Kupang.


JAM mulai berkembang pada masa pemerintahan Gubernur NTT Herman Musakabe (1993-1998). Ketika itu, isteri sang gubernur, Jeanette Agnes Musakabe, berupaya memberdayakan para pedagang, khususnya kaum ibu rumah tangga dari Kampung Air Mata lewat penjualan jajan tersebut.


Beraneka ragam kue dan makanan ringan lainnya disajikan di atas kereta dorong itu. Lezatnya JAM inilah yang kemudian menjadi pusat perhatian umat muslim di Kota Kupang dan sekitarnya saat buka puasa.


Saat menjelang buka puasa, kawasan itu padat dengan pengunjung. Ada yang langsung buka di tempat itu, ada pula yang hanya membeli jajan untuk buka bersama keluarga di rumah masing-masing. JAM menjadi sangat populer bagi masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya.


Perkampungan muslim di Kota Kupang, terdapat di Kelurahan Air Mata, Bonipoi dan Kampung Solor. Mereka umumnya pendatang muslim dari Kepulauan Solor di Kabupaten Flores Timur, NTT serta turunan Arab. Mereka hidup rukun dan damai dalam bingkai kultur bersama umat agama lainnya seperti Katolik dan Protestan, tanpa adanya persoalan.


Munandjar Widiyatmika, seorang peneliti masuknya agama Islam di NTT dan penulis buku tentang Sejarah Islam di NTT, menyebutkan Islam masuk pertama kali di NTT pada abad ke-15 yang dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Palembang di Kepulauan Solor, Kabupaten Flores Timur.


Sejak masuknya agama Islam di NTT sampai abad ke-16, para perintis belum tergerak mewujudkan lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sebagai penunjang penyebaran agama, seperti penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang tidak saja ditunjang oleh para wali dan ulama, tetapi juga lewat sistem pendidikan di Pondok Pesantren.


Meskipun demikian, kehidupan umat muslim di NTT tetap dihormati dan dihargai oleh mayoritas orang Katolik dan Protestan, karena umat muslim membangun relasi sosial dengan saudara-saudaranya dari Kristen atas dasar bingkai budaya.


Atas dasar itu, munculnya Pasar Ramadhan di trotoar Jalan Ir Soekarno di depan Gereja Katolik Kristus Raja Kupang itu sebagai sebuah simbol nyata bahwa kerukunan hidup antarumat beragama dan antaragama di NTT tidak perlu diragukan lagi, sebab mereka diikat dalam sebuah bingkai budaya yang hakiki.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Pasar Ramadhan di Tepian Katedral

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Monday, March 11, 2013

Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Judul Buku : Nomadic Heart
Penulis : Ariy
Penerbit : B-First, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : xiv + 174 halaman
ISBN : 978-602-8864-72-5
Peresensi : Sam Edy Yuswanto

Sebagai seorang traveler yang telah (dan akan terus) menjelajahi berbagai belahan dunia, ada banyak kepingan-kepingan cerita yang mencuat dari hati para traveler yang dijumpainya. Kisah teman-teman sesama traveler, bahkan cerita paling privasi mereka tertumpah di tiap liku perjalanan. Tawa, nestapa, tangis, bahagia tak ayal mengiringi tiap jengkal tanah yang dilaluinya. Itulah romantika kehidupan, bila direnungi dengan hati sebening telaga, akan membuat hidup ini jauh terasa lebih indah, berwarna, dan menjadi kita lebih bijak dalam memahami tiap inci kehidupan yang akan (atau sedang) kita lalui.

Bagi Ariy, menulis adalah proses menenangkan diri. Menulis itu kontemplasi. Dengan menulis, ia merasa sekolah tanpa henti, karena ia harus banyak membaca, banyak observasi, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dll. Menulis itu ‘curhat sempurna’ tanpa perlu traktir teman untuk mendengarkan. Menulis menjadi cara Ariy untuk berbagi kebahagiaan, berbagi perasaan menyenangkan. Buku ini memuat cerita-cerita yang dialami penulis sejak tahun 2008, saat ia pertama kali masuk komunitas ‘traveler’ dan mulai berinteraksi dengan banyak traveler dunia.
Banyak yang gagap dalam memahami isi pikiran dan filosofi hidup para traveler. Namun, penulis tak mau ambil pusing, tak memaksa orang lain untuk memahaminya. Pasti banyak sekali pertanyaan, mengapa hidup tak dibikin mudah saja? Lahir, sekolah, menikah, bekerja, lalu mati (hal x).

Sejujurnya, penulis sendiri tak terlalu mengerti apa sebenarnya yang membuatnya (dan para traveler lain) tak pernah berhenti bergerak. Mengapa ia lebih memilih berpayah-payah tersesat dan bukan duduk nyaman di sofa menonton televisi sambil ngemil pisang goreng hangat. Tapi yang pasti, ia dan sesama traveler lain seperti berada dalam frekuensi yang seirama. Saat bertemu, mereka saling menyelami, melengkapi, dan berbagi banyak hal. Dalam tiap perjalanan, ada banyak pelajaran penting yang ditemui, baik dari kisah hidup para traveler itu sendiri, maupun dari lingkungan yang mereka kunjungi. Benar kata orang, traveling adalah persoalan proses dan bukan lagi melulu soal destinasi. Traveling adalah sebuah proses memperkaya hati (hal xi).
Banyak orang bertanya, aku sedang menuju ke mana? Melakukan perjalanan beribu mil jauhnya hanya demi satu pertanyaan, apakah hidupmu sudah benar? Mengira di luasnya dunia akan tersedia semua jawaban atas persoalan hidup. Sedikit yang menyadari, bahwa aku sedang tidak menuju ke mana-mana. Aku bahkan mungkin tidak menyadari, bahwa aku sedang bertanya pada diriku sendiri (hal 11-12).

Ariy memilih resign dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Keputusannya itu segampang membalikkan telapak tangan. Sementara di luar sana mungkin ribuan bahkan jutaan orang tengah berjuang mendapat posisi seperti dirinya yang seorang jurnalis. Keputusannya tentu bukan atas dasar emosi. Itu keputusan terbijak menurutnya, yang merupakan hasil perenungan termatang satu tahun terakhir dan satu bulan perjalanan mengelilingi Thailand dan beberapa negara lainnya. Perusahaan tempat ia bekerja sudah tak membuatnya merasa nyaman untuk tinggal lebih lama. Meski di sisi lain, banyak orang bertahan lama kerja di perusahaan tersebut karena banyak alasan. Butuh uang menjadi alasan utama, yang bila dipaparkan lagi akan ada serentet alasan lain bahwa mereka harus membayar cicilan rumah, menghidupi keluarga, status sosial, dll. Namun pada prinsipnya, setiap orang tentu memiliki alasan atas keputusan dalam hidupnya, sebagaimana Ariy, memilih mundur dari perusahaan karena telah merasa nyaman dengan rutinitasnya sebagai traveler. “Aku percaya, di mana aku merasa nyaman, di sanalah seharusnya hatiku berada” ucap Ariy (hal 13-17).

Banyak kisah menarik dalam tiap perjalanan penulis, seperti ketika ia bertemu dengan Monica, gadis kulit putih bermabut pendek yang mengarungi samudera membentang dunia untuk melipur hatinya yang tengah terluka setelah putus dengan sang pacar. Tentang pertemuannya dengan Paul, cowok ganteng rendah hati penyuka traveling sekaligus artis terkenal di Thailand, yang dengan sukarela mau memberi tumpangan tempat tinggal, pertemuannya dengan John Doe, si “Topan Badai” yang suka mengumpat dan marah-marah, hingga pertemuannya dengan Duco, pemuda sopan berwawasan luas, mahasiswa kedokteran dari Belanda, yang tertarik hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Satu hal yang mencengangkan Ariy, Duco terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah gay. Meski begitu, Duco bilang bahwa dunianya tak melulu tentang gay. Dan inilah jawaban Duco saat Ariy bertanya; apakah kamu bahagia, Duco?

“Selama aku bisa bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, sebagai dokter bagi mereka yang membutuhkan jasaku, menjadi guru bagi mereka yang membutuhkan pengetahuanku, dan menjadi teman bagi mereka yang menginginkanku, maka selama itu pula aku akan bahagia,” ujar Duco sambil tersenyum (hal 116-123).  
***
Diresensi oleh Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen.






Article source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/514277/


Menikmati Hidup dengan Cara Berbeda

Wednesday, June 19, 2013

Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Karen Armstrong Pakar Agama: Alquran Mengajarkan Belas Kasih


Di ambang pintu, Karen Armstrong menyungging senyum. Ia mempersilakan masuk, menyapa ramah, dan mengucapkan “How do you do?” Lalu, ia duduk di sofa putih di kamar hotel ia menginap. Perempuan Inggris ini mengisahkan konsep belas kasih yang ia dengungkan, Islam, dan dirinya kepada wartawan Republika, Ferry Kisihandi, dan fotografer, Prayogi, Jumat (14/6) sore. Berikut petikannya.


Sebegitu pentingkah belas kasih bagi Anda?

Saya pikir ini merupakan hal terpenting di dunia. Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.


Menurut saya, ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi semua agama. Ini juga sarana untuk membantu kita bertahan. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk tentu dampaknya juga akan menimpa diri kita. Dan, kita melihat dunia sekarang mengalami hal seperti ini. Maka, sudah seharusnya kondisi semacam itu tak lagi berlangsung. Saya melihat Sang Buddha, Konfusius, dan Yesus semuanya bekerja di sebuah masyarakat yang penuh keserakahan. Tapi, mereka mampu bertahan dengan menggerakkan sikap belas kasih.


Bagaimana mempraktikkannya di tengah dunia yang sekarang sarat kekerasan dan konflik ini?


Saya akui, kini kita tinggal di tempat yang sangat terpolarisasi dan berbahaya. Tapi, pada dasarnya, kita tak bisa mengabaikan pengembangan ide belas kasih ini. Karena itu, sangat mendesak membangun kesadaran global soal ini. Lalu, membangun hubungan lebih baik dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.


Semua sudah melihat, hampir semua musnah oleh senjata yang manusia buat. Demikian pula kalau merunut pada sejarah perang ratusan tahun silam. Itu berulang dan meletuslah perang di Afghanistan, Irak, dan sekarang terjadi di Suriah. Ini situasi berbahaya. Bila agama tak mampu tampil dengan pesan belas kasih yang ada pada ajarannya, mereka akan gagal mengatasi ini semua. Dengan demikian, mereka harus mampu. Apa yang mereka lakukan adalah untuk generasi kita sekarang.


Anda optimistis agama bisa memainkan perannya dengan baik?

Tergantung. Kita semua mempunyai jejak rekam bagus dalam mendorong upaya yang baik. Namun, karena rasa malas, hal itu tak berkembang. Saya bahagia dengan respons terhadap pesan belas kasih yang kemudian dituangkan dalam Piagam Belas Kasih. Muncul gerakan yang begitu aktif di Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Pakistan juga di Indonesia. Jadi, secara alamiah, saya optimistis.


Tapi, kita masih menghadapi kendala utama, yaitu prasangka walaupun telah ada serangkaian dialog antarkeyakinan yang digelar?


Ini sisi alamiah manusia dan pada prinsipnya prasangka harus diatasi. Anda dapat melakukan seperti apa yang ditempuh Islamic Society of North America (ISNA), sebuah organisasi Muslim besar di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa tahun lalu mereka menegaskan untuk menerapkan prinsip belas kasih lewat Piagam Belas Kasih.


Imam masjid yang memimpin kegiatan ISNA menetapkan tekad menciptakan masjid yang penuh belas kasih. Ini maknanya, masjid harus ramah gender dan pemuda, mesti memperluas dialog antarkeyakinan, serta mempelajari cara dalam mengahadapi terjadinya penyalahgunaan agama oleh segelintir orang.


Mereka juga menyebarkan pesan belas kasih yang juga terdapat pada ajaran Islam dalam berbagai pelatihan imam. Maka intinya, akar rumput menjadi bagian yang vital. Di sisi lain, saya melihat adanya dialog di antara para pemimpin agama. Namun sebaiknya, ini tak berakhir pada konferensi. Dan, cara terbaik adalah dengan bekerja bersama-sama.


Langkah ini dapat dilakukan oleh Yahudi, Muslim, Kristen, Buddhis, maupun pemeluk Hindu. Karena itu, alangkah baiknya setiap masjid, gereja, maupun kuil saling menjalankan program untuk saling merangkul dan berdialog dengan orang lain.


Tak jarang, peristiwa semacam pengeboman di Boston membuat seluruh komunitas Muslim disalahkan?

Saya pikir, komunitas Muslim perlu benar-benar proaktif. Terkadang tak ada yang menaruh perhatian penuh saat muncul pernyataan bahwa Islam menentang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Tak pernah digambarkan oleh media mainstream. Di sisi lain, umat Islam harus terus memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa Muslim berbelas kasih dan menentang kekerasan.


Apakah Anda berpikir Muslim akan mampu melakukannya?


Saya tidak tahu. Muslim harus mencoba melakukannya sendiri. Tuhan menyatakan, Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tak mengubahnya. Ini pernyataan yang terkandung dalam Alquran. Saya pikir, jihad sebenarnya adalah berusaha menjadikan hal itu terwujud.


Anda pernah menulis buku tentang Muhammad, kapan pertama kali tertarik mengkaji Islam?

Saat saya bekerja di televisi. Saya membuat program mengenai Perang Salib. Ini berarti saya harus mempelajari tentang Islam. Banyak orang memandang miring agama ini, saya tak paham apa yang mereka katakan. Saya dapat mempelajari Islam dengan baik. Lalu, saya ingin membuat Islam dapat diakses bagi warga Barat sehingga mereka lebih memahami agama ini.


Bagaiman pandangan Anda tentang Muslim di Indonesia?


Saya diundang oleh penerbit buku (Mizan) saya di sini. Dalam kurun 10 tahun ini saya sibuk bepergian ke sejumlah tempat. Pernah juga singgah ke Malaysia. Bagi saya, mesti tinggal beberapa saat dulu di Indonesia, berbicara dengan orang-orangnya, dan mempelajarinya, baru saya bisa menyampaikan opini mengenai Muslim di sini. Saya baru berada di sini pada Rabu (12/6) malam lalu.


Anda menikmati saat berbicara dari satu kuliah umum ke kuliah umum lainnya?

(Karen menjawab sambil tertawa). Tidak benar-benar. Saat kuliah umum, saya selalu mengatakan kepada setiap orang tentang apa yang mesti dilakukan. Saya pergi dari sini kemudian menuju tempat lainnya. Meski tak benar-benar menikmati, saya terkesan dengan sambutan-sambutan yang hangat dan saya sangat menghargainya. Anda tahu, sebenarnya saya adalah seorang yang sangat soliter.


Saya hidup sendiri, saya menyukai keheningan. Saya membutuhkannya termasuk saat menulis. Terlalu berat bagi saya untuk selalu berada di tengah orang banyak. Ini bukan nature saya. Tapi, dalam kunjungan ke Indonesia ini, saya tersentuh. Sebab, ada sambutan hangat dan banyak yang berbuat baik kepada saya. n ed: nur hasan murtiaji


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.harianterbit.com/2013/03/23/ratusan-biksu-budha-kejar-warga-muslim-di-meiktila/


Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

Sunday, July 21, 2013

Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Jakarta – Sementara Jakarta punya Jokowi, Italia punya Arturo Cerulli. Keduanya sama-sama pejabat yang besahaja dan dekat dengan rakyatnya. Saat menghadiri peluncuran buku Scappa per Amore karya Dini Fitria di pusat belanja Blok M, Jakarta Selatan, Kamis sore lalu, Wali Kota Monte Argentario ini cuma ditemani istri dan anak keduanya. Tak ada pengawal, ajudan, atau sekretaris pribadi.

Tapi paling menarik dari sosok Arturo adalah soal keislamannya. Sebagai muslim, dia baru dua bulan lalu terpilih kembali untuk lima tahun berikutnya sebagai wali kota di negeri mayoritas Katolik tersebut. Dia mengaku agama Islam yang dianutnya pernah menjadi bulan-bulanan lawan-lawan politiknya saat berkampanye. Tapi Arturo berhasil meyakinkan bahwa dia semata ingin mengabdi pada kota kelahiran dan warganya.


“Saat itu orang-orang menganggap saya ingin menghancurkan bangunan-bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang (kampanye negatif) sudah selesai,” ujarnya saat berbincang dengan Astrid Septriana dan Arif Arianto dari Detik. Berikut petikan selengkapnya.


Italia identik dengan Katolik, tapi Anda yang muslim bisa menjadi wali kota…


Saat saya mencalonkan diri pada 2008, orang-orang juga menganggap saya gila. Tapi saya pikir, sebagai wali kota yang baik, Anda tidak seharusnya membicarakan agamanya, tapi lihat bahwa ia benar-benar mencoba melakukan perubahan baik, seperti membersihkan jalanan dan mencoba membuat oran lebih bahagia. Lambat laut orang mulai menerima saya dan mereka paham bahwa tidak ada pertimbangan agama untuk menjadikan seseorang sebagai wali kota.


Saya hanya mencoba melakukan hal yang bisa membuat kota lebih baik. Jadi tidak akan membawa hal yang menyentuh wilayah keagamaan. Ternyata ini bisa berjalan bersama antara wali kota muslim dengan kota Katolik. Anak saya juga pergi ke sekolah Katolik. Dia tentunya harus memahami agama Katolik, tapi ia tidak harus mengikuti peraturannya. Saat itu juga sedang terjadi krisis di Italia, jadi wali kota sebelumnya tidak dipilih kembali oleh rakyat, hanya sedikit yang akhirnya terpilih kembali. Saat itu saya senang karena mendapatkan 58 persen suara.


Waktu itu keislaman Anda tidak menjadi bahan kampanye negatif, dikaitkan dengan isu terorisme, misalnya?


Ya, lima tahun lalu tentu saja demikian. Semua surat kabar Italias menuliskan bahwa ada seorang muslim yang ingin menjadi wali kota di sebuah kota. Kabar ini juga menjadi breaking news di televisi. Saat itu orang-orang menganggap keberadaan saya ingin menghancurkan bangunan gereja, juga ingin membangun masjid. Kini mereka tak mengatakan hal itu lagi. Sekarang sudah selesai.


Apa yang membuat Anda kembali terpilih?


Ya dua bulan lalu saya kembali terpilih menjadi wali kota. Saat yang pertama dulu, tentunya rakyat tidak mengenal saya. Jadi saya coba meyakinkan mereka dengan program yang saya rancang. Pada periode kedua, saya tidak menggambarkan kepada rakyat tentang program, tapi mengenai hal yang telah saya lakukan selama lima tahun terakhir. Jadi, jika mereka ingin mengikuti langkahku berikutnya, berikanlah kepercayaan kepadaku lagi. Saya juga sangat sangat menyukai pekerjaan ini. Bisa saya katakan, menjadi wali kota, gaji saya lebih rendah empat kali lipat dibanding sebagai insinyur. Tapi saya tidak peduli pada uang. Menjadi kaya bukanlah tujuan hidup saya. Tujuan hidup saya adalah menikmati hidup.


Bagaimana awal Anda menjadi seorang muslim?


Pada 1988, saya ke Indonesia untuk bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Serpong. Suatu hari saya bertemu dengan Nunuk dan jatuh hati padanya, lalu kami menjalin hubungan dan merencanakan pernikahan. Tapi orangtuanya menentang karena saya bukan dari Jawa dan bukan muslim. Tentunya saya tidak bisa berubah jadi Jawa, tapi saya putuskan menjadi muslim. Jadi saya masuk Islam karena dalam satu keluarga sebaiknya hanya punya satu keyakinan, dan saya lebih nyaman untuk memeluk Islam.


Kenapa merasa nyaman menjadi muslim?


Tidak terdapat banyak perbedaan dari peraturan Islam dan di Kristen. Di kedua agama itu, hanya terdapat satu tuhan. Ketika Anda mampu menjadi seorang penganut Kristen yang baik, Anda juga mampu menjadi seorang muslim yang baik. Kecuali pada cara beribadahnya dan beberapa peraturan lainnya ya.


Respons keluarga saat memilih Islam?


Ibuku mempersilakan saya memilih beralih agama dan memberi kebebasan memilik istri. Saya sempat bercerita kepada Ibu bahwa calon istri saya sangat hitam, tapi ibu justru menukas, “Ini kamu yang akan menikah, bukan saya. Jadi jika kamu menyukainya, silakan saja.” Saat ibu bertemu dengan calon istri saya, ia bilang Nunuk tidak sehitam yang saya gambarkan.


Bagaimana multikulturalisme di Italia?


Mungkin saya belum menceritakan di sana ada kecenderungan, bila seorang pria muslim melecehkan perempuan, koran akan menuliskan pria muslim melakukan hal buruk. Tapi jika seorang pria kristen melakukan yang sama, mereka akan mengatakan, “pria dari Roma atau Milan melakukan hal buruk.” Mereka tidak menyebutkan identitas Kristennya. Jurnalis memberikan kesan tertentu. Tapi, di samping hal ini, kami bisa merasa sangat terintegrasi dari hari ke hari nuansa multikulturalisme semakin menjadi baik.


Seperti apa sih komunitas muslim di Italia?


Tidak banyak orang muslim di Italia. Biasanya orang muslim itu bukan penduduk asli Italia, sebagian imigran dari Afrika Utara atau Eropa Timur. Tentunya mereka membawa kesan sebagai orang yang berkualitas rendah karena datang sebagai imigran gelap. Ini membuat banyak orang beranggapan salah dan buruk kepada muslim. Faktanya, 90 persen imigran gelap muslim tak punya paspor dan pekerjaan.


Anda membuat masjid atau fasilitas untuk muslim?


Tidak. Komunitas muslim di kotaku sangat kecil. Jadi tidak ada cara untuk bisa menambahkan sesuatu. Jika ingin beribadah dengan komunitas muslim, yang terdekat berada sekitar 40 Km dari tempat saya. Di sini komunitas muslimnya lebih besar, dan untuk jarak tempuh 40 Km bisa ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit dengan mobil. Sedangkan di Indonesia bisa memakan waktu satu sampai dua jam ya, ha ha ha…


Seberapa sering Anda mengunjungi Indonesia?


Setelah kedatangan saya ke Jakarta pada 1988, saya kembali lagi ke sini pada 1990-an. Setelah itu, saya rutin ke sini setiap satu atau dua tahun karena istri saya memiliki keluarga di sini.


Selain karena istri, apa yang membuat Indonesia menarik untuk Anda?


Indonesia adalah negara yang benar-benar masih berkembang. Saya melihat seberapa mudahnya menjadi seorang politikus di Indonesia. Pertama karena Indonesia masih baru dalam urusan demokrasi. Sebagai wali kota, telepon saya aktif selama 24 jam. jadi warga bisa menelepon saya kapan pun untuk mengeluhkan apa saja. Saya tidak tahu apakah hal seperti ini mungkin dilakukan di Indonesia.


Jujur, saya datang ke Indonesia tidak dalam frame bekerja, tapi berlibur, dan saya lebih memilih Bali dan Lombok dibanding Jakarta. Jakarta is very good for shopping centre, and I don’t really like shopping centre. Saya juga menyukai Yogyakarta. Di sana lebih tampak keindonesiaannya. Atau ke Bandung dan Bogor.



Tulisan ini diambil dari Harian Detik edisi Minggu 21 Juli 2013.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/04/mntg9h-ada-tiga-kategori-mualaf-di-sumatra-selatan


Arturo Cerulli, Wali Kota Muslim di Negeri Katolik

Saturday, October 5, 2013

Gosip atau Fakta?

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh M Husnaini*


Gosip dan fakta merupakan dua istilah yang bertolak punggung. Istilah pertama bermakna pergunjingan seputar keburukan orang lain. Gosip juga semakna dengan kabar burung yang penyampaiannya minim akurasi data. Berbeda dengan itu, istilah kedua merupakan keadaan atau peristiwa yang nyata. Sesuatu dikatakan fakta biasanya karena didukung data yang kuat dan benar-benar terjadi di lapangan.


Kebenaran fakta bisa diuji secara ilmiah, sementara gosip kerap menyebar ke segala penjuru arah tanpa bisa dilacak juntrungannya. Fakta mampu mengurai kerumitan masalah, sementara gosip justru mengeruhkan masalah. Gara-gara gosip, hubungan harmonis berubah menjadi luapan dendam dan permusuhan. Itulah kenapa Al-Qur’an mengajarkan orang beriman agar senantiasa selektif menerima berita, memilah antara gosip dan fakta.


“Wahai orang-orang beriman, jika orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan mereka, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” [QS Al-Hujurat: 6].


Allah hendak membimbing orang beriman agar tidak mudah termakan fitnah dan adu domba. Langkah pertamanya adalah meneliti keabsahan berita. Setiap yang sampai pada telinga dan mata orang beriman harus melewati uji data. Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan seketika dimuntahkan. Sikap bijak itulah yang harus dipedomani orang beriman agar dapat memungut mutiara fakta di antara serpihan gosip.
 
Kendati demikian, tidak mudah membedakan mana gosip dan mana fakta. Lebih susah lagi ketika kita berada dalam era keterbukaan media seperti sekarang. Masing-masing pihak absah membuat berita, yang tidak jarang di dalamnya campuk aduk antara berita dan fitnah. Dalam situasi demikian, tentu saja orang pusing membedakan mana gosip dan mana fakta.


Sekadar ilustrasi sederhana, sebuah media memberitakan Fulanah kini terancam dipecat dari jabatannya karena terbukti berselingkuh dengan rekan pria sekerjanya. Membaca berita itu, seketika orang membayangkan betapa rendah martabat wanita itu. Sudah berumah tangga dan memiliki tiga putra, kok masih saja doyan bermain api. Di mana gerangan naluri keibuannya.


Tetapi, media lain justru mengabarkan berita berbeda untuk kasus yang sama. Fulanah hanya korban kedengkian rekan-rekannya sehingga digosipkan berselingkuh dengan PIL alias pria idaman lain. Fulanah sesungguhnya wanita jujur. Hanya karena memutuskan menjadi mualaf, banyak rekan sekantornya yang membencinya, sehingga harus dirancang beragam cara untuk menghancurkan reputasinya.


Demikianlah. Beragam berita yang menjadi menu keseharian kita sesungguhnya juga tidak pernah sepi dari gosip dan fakta. Apalagi setiap media pasti mengantongi visi dan misinya masing-masing. Boleh jadi seorang tokoh digambarkan sebagai pahlawan oleh sebuah media, tetapi media lain justru menilainya sebagai pecundang. Juga bukan mustahil seorang pejabat dianggap berjasa oleh sebuah media, tetapi media lain malah melihatnya sebagai perampas hak sesama. Demikian seterusnya.


Pastinya, era keterbukaan ini seakan mengikis semua rahasia. Hampir setiap sisi kehidupan, terutama orang-orang terkenal, layak menjadi berita. Tidak peduli apakah itu aib atau bukan, yang penting dapat menarik minat publik. Anehnya, kita malah tampak antusias menikmati berita sampah itu layaknya santapan wajib keseharian.


Lihatlah mereka yang begitu khusyuk memelototi televisi, koran, dan majalah yang memuat berita seputar kisruh rumah tangga dan permusuhan artis atau tokoh. Disangkanya itu sebuah tontonan hiburan, alih-alih mengonsumsi berita sampah berbau fitnah. Lambat laun, tradisi demikian akan meruntuhkan sendi-sendi moralitas kita sebagai orang beriman.


Untuk dapat memilah antara gosip dan fakta, terutama sekali harus diteliti dengan cermat kredibilitas pembawa berita. Sekiranya berita itu disampaikan media, perhatikan apa kira-kira kepentingan media bersangkutan. Jernihkan nalar dan hati, kemudian pastikan untuk meneliti sumber berita tidak hanya dari satu media. Jangan terburu menyimpulkan sebelum melakukan kajian secara teliti dan mendalam.


Sesulit bagaimana pun, orang beriman harus mampu memastikan bahwa berita yang diterima adalah fakta, bukan gosip. Poin utamanya, jangan sampai menimpakan stigma negatif kepada individu atau kelompok semata berdasarkan kebencian. Nalar dan hati selayaknya dikerahkan untuk menilai segala macam berita secara adil dan berimbang. Menarik merenungkan pesan Allah berikut.


“Wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS Al-Maidah: 8].


*Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’. Alamat Email: hus_surya06@yahoo.co.id


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Gosip atau Fakta?

Monday, August 5, 2013

Selebritis Hollywood ini ternyata Islam, benarkah?


DI tengah glamornya kehidupan selebritis Hollywood, ternyata masih ada beberapa orang yang memegang teguh kepercayaan sebagai Muslim. Bagi mereka, Islam masih menjadi tuntunan hidup mereka.



Maher Zain adalah salah satu musisi yang mendedikasikan karirnya untuk mendendangkan lagu-lagu islami. Sedangkan dunia akting memiliki orang-orang seperti Shahrukh Khan yang pastinya setia menjalankan ibadah di bulan Ramadan, walau jadwalnya sangat penuh.



Selain mereka, siapa lagi bintang-bintang Hollywood yang ternyata memeluk agama Islam dan menikmati bulan Ramadan bersama umat Muslim lainnya? Simak ulasannya di sini!



1. Zayn Malik



Walau sering tampil gila-gilaan bersama rekan-rekannya di One Direction, namun Zayn Malik tetap memegang teguh keyakinan sebagai Muslim. Bintang muda ini sendiri memang terlahir sebagai pemeluk agama Islam. Walau sempat dituduh menggunakan status sebagai Muslim untuk merangkul wanita belia, namun Zayn tetap percaya diri melenggang di dunia hiburan, dan tetap dikagumi penggemar.



2. Maher Zain



Pria kelahiran Lebanon ini pastinya sudah sangat akrab bagi pecinta musik religius. Walau sudah tinggal di Swedia sejak usia delapan tahun, Maher Zain tetap konsisten dengan keyakinannya. Lewat lantunan lagu-lagunya yang merdu, banyak umat Islam yang merasakan kedamaian dan keindahan agama mereka.



3. Shahrukh Khan



Siapa sih yang tidak kenal dengan nama Shahrukh Khan. Pria yang kerap dijuluki King Khan ini tenar karena film-filmnya yang berjudul MY NAME IS KHAN, RA.ONE dan masih banyak lagi. Nama belakangan Khan yang disandangnya jelas jadi identitas yang menunjukkan agamanya. Sayangnya, dia sempat mendapat tudingan miring lantaran sering memerankan tokoh yang beragama selain Islam di filmnya.



4. Mike Tyson



Masa lalu Mike Tyson memang dipenuhi dengan kekerasan dan pelanggaran hukum. Puncaknya, petinju ini dijebloskan ke dalam penjara Indiana karena tindak perkosaan. Namun hidupnya seolah berubah setelah itu. Sepertinya dia belajar banyak selama di penjara hingga akhirnya mengumumkan masuk Islam pada tahun 1995, setelah di bebas dari penjara.



5. Salman Khan



Siapa bilang, di dunia ini tak ada aktor Muslim yang sukses. Selain Shahrukh Khan, Salman Khan juga dikenal sebagai aktor tenar yang berkualitas dan berdedikasi. Namun yang tak kalah penting, dia juga punya wajah tampan dan tubuh yang seksi.



6. Janet Jackson



Sempat hilang dari dunia hiburan, pada bulan Februari 2013 tiba-tiba Janet Jackson dikabarkan sudah menikah diam-diam dengan seorang pria Muslim bernama Wissam Al Mana. Dua bukan kemudian muncul kabar bahwa saudara perempuan Michael Jackson ini telah mengikuti agama suaminya. Kini, dia tak lagi mementingkan karir karena hidupnya fokus pada keluarga dan agama.



7. Cat Stevens a.k.a Yusuf Islam



Nama Cat Stevens populer di tahun 1960 hingga 1970an berkat single-single seperti Morning Has Broken dan Peace Train. Awalnya dia merasa nyaman dengan kehidupannya sebagai artis, sampai akhirnya sesuatu terjadi padanya pada tahun 1978. Dia mengalami apa yang disebut near-death experience. Untungnya, dia bisa selamat dari kematian, dan sebagai rasa syukur dia memeluk Islam dan mengubah nama menjadi Yusuf Islam.



8. Akon



Minuman keras dan narkoba mungkin sudah jadi hal biasa di dunia selebritis. Namun pria bernama lengkap Aliaune Damala Badara Akon Thiam ini ternyata memilih menjauhi itu karena setia karena ajaran Islam yang dianutnya. Dan inilah jalan hidup yang dipilih Akon.



9. Busta Rhymes



Tahun 2007, Busta Rhymes mengumumkan lewat sebuah video bahwa dia telah memilih Islam sebagai agamanya. Pria yang bernama lengkap Trevor Tahiem Smith, Jr. ini mengunggah video tersebut di Liveleak.com dan mulai bertekad menjalani kehidupan sebagai Muslim sejati.



10. Ice Cube



Selain sebagai musisi yang cukup disegani, Ice Cube juga kerap muncul di berbagai film ternama. Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, rapper ini mengakui bahwa dia memeluk Islam sekitar tahun 1990an. Tak ada paksaan dalam dirinya, dan dia melakukannya atas kesadaran dan sepenuh hati.



11. Jermaine Jackson



Kakak Michael Jackson ini resmi memeluk Islam pada tahun 1989. Jermaine Jackson sendiri juga salah satu personil grup Jackson Five yang menjadi awal karir pada Jacksons. Jermaine sendiri adalah orang yang membuat publik yakin bahwa Michael meninggal dalam kondisi memeluk Islam. Hal itu terbukti dari kata-kata ‘Semoga Allah bersamamu selalu, Michael’ saat kematian sang adik pada tahun 2009.



12. Michael Jackson?



Status keislaman Michael Jackson memang masih jadi perdebatan hingga kini. Awalnya, pria yang dijuluki King of Pop ini memeluk agama Saksi-Saksi Jehovah, namun memutuskan keluar pada tahun 1987 karena ada banyak hal yang tak disepakatinya. Ada kabar bahwa dia telah masuk Islam sebelum meninggal, namun tak ada bukti yang benar-benar kuat hingga saat ini.[] sumber : kapanlagi.com


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1934327/teheran-klaim-rontokan-pesawat-tanpa-awak-drone-as


Selebritis Hollywood ini ternyata Islam, benarkah?

Thursday, July 25, 2013

Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Semenjak zaman Charlemagne hingga Christoper Columbus, Islam Spanyol merepresentasikan salah satu dari hubungan intercultural paling produktif dalam sejarah Barat dari dulu hingga kini. Dimulai dari pohon jeruk, irigasi dan perairan, astronomi hingga filosofi Aristoteles yang sudah lama hilang dibawa kembali ke Spanyol oleh umat Muslim.


Gereja, kuil, literatur orang Yahudi saat zaman keemasan, awal mula dunia medis dan matematika, hingga pengertian mengenai filosofi Yunani kuno hanyalah beberapa bentuk dari hasil kolaborasi dan kerja sama dari umat Yahudi, Kristen dan Islam di Semenanjung Iberia selama tujuh abad.


Awal mula perkembangan Islam di Spanyol dibawa oleh Abdur Rahman III pada 711. Umat muslim Spanyol berdomisili di wilayah yang dikenal sebagai Andalusia, di bagian selatan Spanyol.


Abdur Rahman memimpin umat muslim dan juga umat Kristiani serta Yahudi dengan toleransi sangat tinggi. Bersama-sama mereka membangun Cordoba, dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan seni.


Abdur Rahman bahkan dengan berani dan terbuka menyatakan jika dirinya adalah seorang Khalifah. Di bawah kekalifahannyalah muslim Spanyol menikmati kemakmuran dan kejayaan. Ia mulai membangun bangunan monumental, dan mengembangkan Spanyol secara struktural.


Di bawah perintahnya, pada abad ke-10, populasi Cordoba mencapai 100.000 jiwa. Dan konon, Cordoba sendiri mempunyai 700 masjid, 600 istana dan 70 perpustakaan. Cordoba juga mempunyai banyak sarjana, akademisi dan orang-orang intelektual lainnya yang melakukan riset, penerjemahan dan ilustrasi dari buku-buku yang dibawa dari banyak negara Eropa seperti Jerman dan Yunani.


Pada abad ke-11, sebuah kelompok kecil umat Kristiani mulai melakukan pemberontakan. Dan di bawah komando Alfonso VI mereka berhasil merebut Tolode.


Ini adalah cikal bakal Rekonkuista atau juga penaklukan kembali Spanyol oleh bangsa Katolik (Kristiani) dengan membawa satu paham yaitu Spanyol adalah negara Katolik.


Hal ini mendorong banyak pemimpin Islam di Spanyol untuk semakin memperkuat kekuatan mereka. Namun, umat Kristiani lebih superior karena mereka mendapatkan dukungan dan bantuan dari Kristen Eropa. Maka, umat muslim meminta bantuan kepada Bangsa Almovarid, yang nantinya akan digantikan oleh Bangsa Almohad.


Umat Katolik mendeklarasikan pemurnian pada Spanyol yang berarti mereka harus menaklukkan Andalusia dengan tiga kota besar Islamnya yaitu Sevilla, Cordoba dan Granada. Dalam perjuangan umat Katolik itu memaksakan penyerahan kekuasaan oleh umat Islam di ketiga kota Islam Spanyol.


Pertama-tama dimulai dengan perebutan Cordoba dan Sevilla. Awalnya umat Katolik tidak bisa menyentuh Granada. Namun pemurnian mereka harus berakhir bahagia, dan akhirnya Granada juga berhasil ditaklukkan.


Dalam pemurnian tersebut bukan hanya umat Islam yang menjadi korban. Tetapi juga umat Yahudi. Umat Kristiani, Yahudi dan Islam yang dulunya hidup saling berdampingan dan harmonis harus dipaksakan memeluk agama Katolik. Saat itu mereka diberi dua pilihan yaitu memeluk Katolik atau meninggalkan Islam.


Walaupun begitu, banyak cerita zaman kuno yang menyatakan jika Yahudi dan Muslim yang dipaksakan memeluk Katolik secara diam masih banyak yang melakukan ritual keagamaan mereka yang pertama. Yahudi terus melaksanakan Yom Kippur, dan umat Islam tetap salat dan mengaji dalam diam dan kesunyian.


Setelah rekonkuista, banyak masjid dan bangunan Islam yang dibangun atas kerja sama umat Muslim, Yahudi dan Kristiani sebelumnya diubah menjadi gereja Katolik oleh umat Katolik. Dua pemimpin mereka yang terkenal yaitu Ferdinand dan Isabella terkenal dengan pemaksaan akan memeluk Katolik kepada Yahudi dan Muslim.


Kini, umat Islam di Spanyol jelas tidak lagi hidup berdampingan dengan Yahudi dan Kristiani. Kekuatan Katolik yang mantap sejak abad ke-15 memaksa umat Muslim kini menjadi kelompok minoritas di bagian selatan Spanyol, di Andalusia, di tempat yang dulunya adalah surga kecil mereka.












Article source: http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/04/07/05204614/Hidayat.Jakarta.Harus.Bagi.Gula.ke.Daerah.Lain


Spanyol, negeri museum kejayaan Islam

Tuesday, March 12, 2013

Turki, Negara Islam yang Beraroma Kristen

TUESDAY, 12 MARCH 2013

Total View : 522 times

Turki memang negara yang unik. Negara Islam ini masuk menjadi anggota NATO meski sebagian anggota NATO menghambat keanggotaannya. Dengan penduduk berjumlah 70 juta jiwa, 90 persennya beragama Islam namun dicatat sebagai negara pluralis. Selain Islam, Turki juga dikenal sebagai negara yang toleran sehingga di sana juga ada pemeluk agama Kristen, Yahudi, Hindu, dan Konghucu.

Turki menjadi bukti sejarahnya Kristen. Nama delapan kota di Turki diambil tertera dalam Alkitab dan Taurat, seperti Philadelphia. Fakta unik lainnya adalah Turki merupakan tempat rumah terakhir bunda Maria, ibu Yesus Kristus berada. Tidak hanya itu, nabi Musa yang terkenal sebagai pembelah Laut Merah pun meninggalkan tongkatnya di Turki. Semaunya itu menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Turki yang sampai sekarang mereka lestarikan.

Hal ini disampaikan oleh Muhamed Cetin, PhD dari Komisi Luar Negeri Parlemen Turki, yang sedang berkunjung ke Indonesia dalam rangka mengadakan persahabatan dan kerjasama bisnis di Yogyakarta, Indonesia. Menurutnya, banyak perubahan mendasar yang terjadi di Turki selama 15 tahun terakhir, terutama terlihat dari kudeta militer yang sudah tidak ada lagi.

Indahnya persatuan di tengah keberagaman yang patut dipelihara. Di Indonesia sendiri, konflik antar agama masih sering terjadi padahal Indonesia meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam namun bukanlah negara Islam. Kita patut meniru Turki agar kedamaian terjadi di bumi pertiwi.

 

Baca juga :

Peneliti Temukan Kapal Nuh di Turki

Komunitas Kristen Tertua di Dunia Terancam Punah

Mari Membangun Bangsa dengan Memberkati Mereka

Bagaimana Caranya Memberkati Musuh?

Berbagai Masalah Anak dan Cara Penanganan Orangtua

Tips Mudah Cara Benar Pakai Masker

Mengenal Makanan Tradisi Indonesia : Tumpeng

Haii, JCers yang Gabung di Bulan Maret 2013!!

Sumber : inilah.com by lois horiyanti/jawaban.com


Lintas.me


About CBN - Jenice

Article source: http://oase.kompas.com/read/2013/03/12/00270780/Menikmati.Hidup.dengan.Cara.Berbeda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Turki, Negara Islam yang Beraroma Kristen

Sunday, July 14, 2013

Jadi Mualaf, Abanda Ingin Puasa Sebulan Penuh

INILAH.COM, Bandung – Sebagai seorang mualaf, bek tengah Persib Bandung, Ahmad Abanda Herman tak kesulitan menahan haus dan lapar hingga adzan Magrib berkumandang. Apa target Abanda di puasa perdananya ini?


Pada Bulan April lalu, Abanda memutuskan untuk memeluk ajaran Agama Islam. Alasan pemain asal Kamerun itu masuk Islam karena melihat rekan-rekan satu timnya melaksanakan salat berjamaah bersamaan.


Kala itu, Abanda melihat rekan-rekannya melaksanakan salat Jumat. Mantan pemain Persija Jakarta itu mengatakan sungguh indah melihat orang Islam melakukan solat berjamaah.


Di bulan Ramadhan ini, Abanda melakukan puasa perdanannya sebagai seorang muslim. Pemain yang menggunakan nomor punggung 6 di Persib itu pun ingin puasa sebulan penuh.


“Saya mau puasa sampai selesai (satu bulan). Saya menikmati keseharianku dengan berpuasa. Saya tidak mengalami kendala apapun, karena sebelumnya saya pernah belajar puasa,” kata Abanda kepada INILAH.


Bek beusia 28 tahun itu pun menambahkan kalau dirinya memasang alarm untuk bersiap melakukan sahur. Abanda merasa tak ada halangan untuk niatnya berpuasa.


“Saya selalu pasang alarm untuk bangun sahur. Tidak ada masalah. Meski berpuasa, saya rasa juga tidak ada masalah saat latihan,” ia memungkasi. [arn]


Article source: http://www.sinarharian.com.my/hiburan/sherry-ibrahim-rujuk-kerana-wang-1.182347


Jadi Mualaf, Abanda Ingin Puasa Sebulan Penuh

Saturday, June 1, 2013

Perlu pemimpin berjiwa besar

BIARPUN Pilihan Raya Umum Ke-13 (PRU-13) telah berakhir hampir tiga minggu yang lalu, namun pakatan pembangkang masih tidak dapat menerima kenyataan. Malah lebih 10 perhimpunan haram diadakan bagi membangkitkan rasa marah dan kebencian terhadap kerajaan Barisan Nasional (BN).


Perhimpunan haram atau lebih dikenali dengan ‘Blackout 505′ itu nyata mencetuskan rasa gelisah kepada rakyat. Justeru, wartawan Mingguan Malaysia, AZRAN FITRI RAHIM dan ASMA HANIM MAHMOOD bersama jurugambar IRWAN MAJID, mendapatkan pandangan Mufti Kerajaan Kelantan, DATUK MOHAMAD SHUKRI MOHAMAD mengenai perkembangan tersebut.


Dalam pertemuan di pejabatnya di Balai Islam Lundang, Kota Bharu, Mohamad Shukri tanpa berselindung melahirkan rasa kebimbangannya terhadap siri perhimpunan atau cara pakatan pembangkang itu yang disifatkannya telah terkeluar daripada ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah dan mengikut kerangka Syiah serta Khawarij.


Turut disentuhnya ialah mengenai ‘dua pil’ yang paling mujarab yang diajar oleh Islam iaitu bersyukur apabila berjaya dan bersabar apabila gagal. Jika kedua-dua pil itu tidak digunakan, beliau bimbang nikmat yang dikurniakan Allah sebelum PRU-13 iaitu keamanan, akan hancur sekiranya siri perhimpunan tersebut diteruskan oleh pakatan pembangkang.


Sepanjang wawancara tersebut beliau amat menekankan tentang perpaduan umat Islam dan yakin ia akan dapat dicapai kerana masih ada banyak jalan menuju ke arah itu. Ikuti kupasan lanjut tokoh agama ini.


MINGGUAN: Pihak pembangkang mengatakan bahawa pilihan raya ini tidak adil dan zalim. Bagaimana Datuk melihat perkara ini, apakah benar wujud kezaliman di sini?


MOHAMAD SHUKRI: Sekarang ini negara kita, negara yang ada sistemnya, dengan pilihan raya itu sendiri ada peraturan dan undang-undangnya. Jadi kalau kita kata tidak adil, kita sebenarnya dalam kaedah Islam, sesiapa sahaja yang menjadi pendakwa, maka dialah bertanggungjawab untuk membuktikannya, beban bukti itu dipertanggungjawab yang mendakwa. Jadi kalau kita rasa pilihan raya ini berlaku ketidakadilan, maka kita perlu tampilkan bahan-bahan bukti. Kerana dalam kaedah Islam ‘Al-bayyinah alal mudda’ie’ sesiapa yang mendakwa, dialah dibebankan untuk menampilkan bahan bukti.


Setakat ini saya belum nampak tindakan dari segi undang-undang untuk mengatakan bahawa ini tidak adil, pilihan raya berjalan tidak adil. Ini hanya setakat ini dakwaan tidak adil. Jadi dakwaan sahaja tidak semestinya membuktikan ia tidak adil. Perlu dibuktikan dan dalam sistem yang ada kita boleh kemukakan untuk mendapatkan hak keadilan itu seperti petisyen pilihan raya dan lain-lain ruang yang dibuka yang patut dipakai.


Untuk memberi (menentukan) keadilan ini bukan orang ramai. Kalau berlaku kemalangan jalan raya antara A dan B, tentulah B akan kata A yang salah sebab berhenti mengejut, tetapi A pula mengatakan B yang salah kerana melanggar belakang kereta. Jadi bila hendak selesai? Sebab itu perlu dikemukakan kepada pihak pengadilan baru tahu siapa yang salah. Kita tidak dibenarkan menghakimi ketidakadilan itu bukan pada gelanggangnya. Katakanlah kita mengadakan perhimpunan, apakah perhimpunan ini boleh menjadi gelanggang mahkamah untuk menentukan adil atau tidak adil? Sebab itu kita raikanlah peraturan dan undang-undang yang ada kalau kita tidak berpuas hati. Sama ada kita menang atau kalah, kita masih dapat menikmati keamanan, walaupun kalah kita aman apatah lagi yang menang.


Maksudnya perhimpunan itu tidak perlu diadakan secara besar-besaran?


MOHAMAD SHUKRI: Perhimpunan itu kalau hendak diadakan juga, perlu mengikut peraturanlah, kerana undang-undang mengatakan boleh berhimpun secara aman. Nak berhimpun secara aman itu boleh, jadi pihak berkuasa boleh menentukan hendak berhimpun di mana tetapi ia bukan satu mahkamah untuk mengadili ketidakadilan yang didakwa itu.


Dari segi pandangan peribadi, adakah Datuk sendiri melihat ada penyelewengan dalam pilihan raya baru-baru ini?


MOHAMAD SHUKRI: Pilihan raya ini Pilihan Raya ke-13 bagi negara, setiap kali menjelang pilihan raya akan wujudlah dakwaan-dakwaan sebegitu. Tentang ketidakadilan, kita sudah buka ruang untuk pemerhati-pemerhati yang setakat ini tidak mendengar laporan mereka mengatakan pilihan raya berjalan dengan tidak betul. Jadi saya sendiri tidak pernah buat kajian. Kita berbalik kepada yang saya sebut tadi, kalau kita kata pilihan raya ini tidak adil, tidak telus maka kita rujuklah kepada mahkamah. Mengapa kepada hal-hal lain kita boleh rujuk ke mahkamah tetapi dalam pilihan raya kita tidak boleh percaya kepada mahkamah?


Bagaimana pula Datuk melihat kesan PRU-13 kepada umat Islam?


MOHAMAD SHUKRI: Saya cukup terpanggil dengan PRU-13 ini. Kita cukup menaruh kebimbangan trend yang berlaku dalam negara kita, terutamanya apabila rasa tidak puas hati dicetuskan dan dimanifestasi dengan mengadakan perhimpunan-perhimpunan. Perhimpunan ini ada dua, perhimpunan aman dan perhimpunan yang boleh mencetuskan huru-hara. Dalam kaedah Islam, sesuatu yang tidak baik atau ‘mafsadah’ iaitu keburukan dan kerosakan tidak boleh diatasi dengan keburukan yang sama apatah lagi dengan keburukan yang lebih memudaratkan. Satu-satu keburukan tidak boleh diselesaikan dengan melakukan keburukan juga ataupun keburukan yang lebih parah.


Yang keduanya, amalan dalam Islam kita ada ‘al-amru bilmaruf wan nahyu anil munkar’ iaitu melakukan kebaikan mencegah kemungkaran, jadi bagaimanakah pendekatan untuk melaksanakannya? Sekarang ini saya nampak trend itu sudah terkeluar daripada aliran Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ), trend untuk melaksanakan amar maaruf nahi munkar itu semacam tidak mengikut kerangka ASWJ. Ada ternampak bibit-bibit untuk melakukan amar maaruf itu dalam kerangka Syiah, dalam kerangka Khawarij. Ini yang membimbangkan saya. Padahal amalan di negara ini adalah ASWJ. Kecenderungan untuk pergi kepada amalan Syiah dan Khawarij perlu dibendung.


Bagaimana Datuk melihat fitnah yang ditimbulkan pembangkang kerana ia menimbulkan kekacauan dan menanam sikap benci kepada kerajaan?


MOHAMAD SHUKRI: Kita sebagai orang yang beragama, apa juga yang kita putuskan, pendekatan yang kita ambil mesti sesuai dengan tuntutan agama. Kita tidak boleh buat sesuatu mengikut nafsu, sebagaimana maksud hadis Rasulullah SAW, Orang yang lemah itu adalah orang yang mengikut hawa nafsunya”. Jadi ini sebenarnya orang yang lemah, oleh kerana itu apabila kita hendak bertindak perlulah secara bijak, secara rasional dan tidak terkeluar daripada agama.


Jadi maksudnya, Arab Spring atau Malaysian Spring atau orang kata sekarang Anwar Spring tidak perlu berlaku di Malaysia?


MOHAMAD SHUKRI: Tidak perlu berlaku. Kita dalam pengajian agama ada kaedah dipanggil ‘qias’. Ia ada kaedahnya apabila kita hendak kaitkan hukum haram kepada dadah, kita ‘qias’ dengan arak, apa sebab? Di mana persamaan, kerana arak ada elemen memabukkan, Rasulullah kata setiap perkara memabukkan adalah haram, jadi arak dan dadah itu persamaannya kerana boleh menghilangkan kewarasan, jadi kalau kita nak kata Arab Spring , di mana persamaan?


Berlakunya Arab Spring di Mesir, bagaimana suasana rakyat duduk di bawah pemerintahan kerajaan mereka sehingga tercetusnya kebangkitan atau Arab Spring. Tetapi di Malaysia mengapa perlu cetus seperti Arab Spring? Hanya kerana ketidakadilan yang kita katakan sebagai persepsi bukan realiti. Padahal realitinya kita boleh bebas, kalau memang tertekan, pembangkang tidak ada yang menang, kalau pilihan raya berjalan secara tipu, patutnya pembangkang tidak akan menang satu kerusi pun.


Ini pembangkang boleh menang, hampir-hampir menubuhkan kerajaan, diakui masa berkempen ada dirasakan tidak puas hati, tidak diberi ruang dalam akhbar, media elektronik pun terhad, ini ketidakpuasan kitalah, tetapi adakah kita boleh cetuskan seperti Arab Spring itu? Saya fikir banyak lagi ruang-ruang yang boleh. Apakah dengan perhimpunan sahaja untuk menegur ketidaktelusan ini? Mengapa kita tidak boleh gunakan pendekatan sabar? Maknanya masuklah lagi dalam pilihan raya pada masa akan datang dengan mula berkempen hari ini. Barangkali berhimpun itu sudah menjadi cara kempen mereka. Tapi dalam kaedah Islam, apa yang dijangka boleh menimbulkan keresahan, kita tidak boleh mengatakan kita sahaja tidak resah, saya sendiri resah apa kalau hadir perhimpunan, tetapi peniaga-peniaga resah, pemandu-pemandu teksi resah, jalan raya tersekat sana sini, ini menyusahkan, sedangkan dalam Islam, adab-adab jalan raya mesti dipatuhi, halangan tidak boleh.


Datuk melihat bagaimana cara terbaik untuk menyatupadukan umat Islam sebab selepas PRU-13 nampak semakin ada jurang?


MOHAMAD SHUKRI: Saya melihat begini, dari segi Islam ada dua istilah, satu ‘ikhtilaf’ dan satu lagi tafarruq. Al-Quran larang tafarruq, berpecah belah, tapi ikhtilaf berbeza dengan tafarruq. Ikhtilaf bermaksud perbezaan jalan untuk mencapai kepada kebenaran, maknanya berselisih dari segi metodologi atau jalan untuk sampai kepada kebenaran dan mencapai maqasid syariah, objektif daripada syariah.


Itu yang tidak salah dari segi Islam, ikhtilaf tidak dilarang, sebab ulama besar kita, Imam Syafie, Maliki, Hambali dan Hanafi, mereka tidak pernah menidakkan orang lain atau mengatakan si A ini adalah salah. Ulama-ulama kita dalam mazhab-mazhab ini hanya berselisih dalam hal cara atau metodologi sahaja untuk mencapai kebenaran, sebab itu imam Abu Hanafi, Maliki, Hanafi dan Syafie tidak pernah menidakkan satu sama lain. Itu dipanggil ikhtilaf. Metodologi boleh kita berbeza dan memang berbeza pandangan dan pendapat adalah tabiat asal manusia. Jadi kalau kita bagaimana untuk penyatuan umat, kita berbeza pendapat dari segi metodologi tetapi bukan iktirab perbalahan sehingga kita berkerat rotan dan berpatah arang.


Kedua, kaedah yang diterima pakai oleh ulama ialah mana-mana yang kita setuju, kita sepakati, tetapi mana-mana yang selisih, kita toleransi. Jadi bersepakatlah dalam hal yang kita persetujui. Sebenarnya banyak perkara yang lebih banyak kita bersetuju, bersepakatlah dalam hal yang dipersetujui dan bertolak ansur dalam hal yang berselisih. Ketiga, kita sebenarnya sangat memerlukan kepimpinan yang berjiwa besar, fikir bagaimana nak menyatupadukan umat Islam perlu kepada kepimpinan yang berjiwa besar contoh Nabi Muhammad SAW seorang yang berjiwa besar apabila timbul perbalahan di kalangan kafir Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke dinding Kaabah mereka hampir mencetuskan peperangan tetapi bila Nabi masuk, Nabi dapat damaikan kabilah Arab yang mahu berperang ini. Apabila Nabi meletakkan hamparan dan letak Hajar Aswad dan semua ketua kabilah pegang dan usung beramai letak di dinding kaabah perbalahan tidak berlaku, sebab Nabi berjiwa besar.


Kita selagi belum ada pemimpin berjiwa besar, payah untuk kita berdamai. Kita sedang mencari pemimpin yang berjiwa besar, kalau ada pemimpin berjiwa besar, pemimpin ini akan menghargai kebenaran, pemimpin ini bukan hanya pintar, cerdik tetapi pintar dan cerdik kalau tidak sampai kepada kebenaran ia sia-sia jadi kita hendak pemimpin yang berjiwa besar yang boleh akalnya mengawal nafsu. Sekarang ini akal dikuasai, yang dominannya nafsu, inilah terjadi perpecahan dan perbalahan. Kalau akal mendominasi nafsu tak apa, lebih-lebih lagi nafsu dan akal didominasi oleh wahyu amat bagus tetapi sekarang tidak berlaku begitu, nafsu duduk di atas, nafsu mahukan kekuasaan dan kepentingan diri dan puak, maka kalau selagi ini tidak boleh diketepikan, kepentingan puak dan diri tidak diketepikan ia tidak boleh wujud perpaduan.


Kalau kita nak kata macam mana perpaduan hendak dicapai, pemimpin itu yang mustahak. Kita lihat pada tahun 70-an ada pemimpin bernama Tun Abdul Razak, ada pemimpin bernama Datuk Asri Muda yang melihat kepentingan masyarakat Melayu Islam di Malaysia, lalu pergi berunding di Geneva, empat mata lalu balik maka berlakulah kerajaan campuran Kelantan, penyertaan Pas dalam BN kerana mereka berjiwa besar melihat ke depan tetapi tidak lama berpecah balik, ini sejarah. Saya merasakan bahawa kalau kita hendak betul-betul secara sedar keperluan kepada penyatuan umat jangan jadikan gelanggang media tempat untuk mencari perpaduan, kena secara kerahsiaan. Usaha untuk menyatu padukan ini mesti digerakkan secara low profile’ tidak dihebahkan. Biasa dihebahkan, bila masuk surat khabar, orang yang ada kepentingan akan menentang. Sebenarnya usaha ke arah penyatuan umat ini lama diusahakan selepas berjaya dahulu tahun 70-an, tetapi selepas itu bergolak balik sampai hari ini, tetapi kalau ada usaha secara low profile ini saya yakin ia boleh menjadi kenyataan.


Maksudnya Pas dan UMNO mesti bersatu?


MOHAMAD SHUKRI: Siapa sahaja yang merasakan dan bertanggungjawab terhadap agama perlu bersatu, mungkin Pas dan UMNO dan mungkin lain-lain.



Di antara alasan yang sering diberikan oleh pemimpin Pas yang menolak perpaduan ialah UMNO hanya inginkan perpaduan kerana pada ketika ini mereka lemah dan ketika UMNO kuat, mereka tidak pernah memandang Pas. Bagaimana Datuk melihat alasan seperti ini?


MOHAMAD SHUKRI: Pandangan ini masih didominasi oleh perasaan tidak di dominasikan oleh akal yang rasional. Setiap yang rasional akalnya kepada perpaduan cuma perasaan. Sekarang, kalau nak bersatu, A kena masuk B, B kena masuk A. Sekarang kena merasai kepentingan umat Islam itu. Dalam kaedah syarak sendiri disebut, ‘Semoga Allah memberi kemaafan kepada yang telah berlalu’. Orang Melayu selalu kata bila biduk berlalu kiambang bertaut, air yang ditetak tidak akan putus, itu harus ada dalam pemikiran pemimpin kita. Bukan (alasan) kata dia hendak lemas baru dia hendak pada kita, kalau tidak lemas tidak datang kepada kita, itu barang kali cakap-cakap bahasa politik, bila lemah mahu datang minta tolong tetapi benarkah ada pihak yang lemah. Adakah betul-betul UMNO sudah lemah? Apakah Pas lebih kuat daripada UMNO? Saya tidak nampak juga, yang saya nampak, Pas di nombor tiga, DAP nombor satu, PKR nombor dua, DAP yang paling kuat.


Dalam hal politik ini tawar menawar siapa lebih kuat perlu diketepikan, kalau kita berbeza dari segi metodologi tetapi matlamat adalah kebenaran untuk menyelamatkan bangsa, tanah air dan kepimpinan. Kalau kepimpinan terlucut kepada yang lain, masa itu kita hanya menangis tidak berair mata. Mungkin di peringkat saya tidak ada apa sekarang, anak saya tidak ada apa, tetapi mungkin berlaku pada cucu saya. Kita boleh lihat masyarakat kita di negara jiran, apa yang berlaku? Banyak pelajaran di sekeliling kita yang boleh dipelajari terutama di Timur Tengah, Palestin, Iraq, Syria, dan Mesir sendiri mengambil masa yang lama untuk kembali pulih, silap-silap nanti berlaku lagi apabila kita lemah.


Dalam soal ini, kita bukan lihat kepada UMNO dan Pas, kita lihat kepada umat Islam kerana dari segi logik kita tidak kuat kalau kita berpecah, kita akan kuat kalau kita bersatu, kalau kita berpecah dua, dua-dua, kalau ada tiga, tiga-tiga lemah, kita tidak boleh A lemah, B kuat kerana berpecah, kalau berpecah A,B,C tetap lemah sebab al-Quran sebut begitu kalau berpecah hilang kekuatan. Sebab itu isu siapa lemas, lemah dan kuat, kita tidak boleh timbul dalam perpaduan.


Apakah Datuk yakin akan wujud perpaduan UMNO dan Pas yang menjadi impian seluruh umat Islam di negara ini?


MOHAMAD SHUKRI: Memang ajaran agama tidak membenarkan kita pesimis, kita diajar supaya positif dan optimis. Kita masih merasakan jalan untuk penyatuan itu masih ada dan banyak.




Perlu pemimpin berjiwa besar