Showing posts sorted by relevance for query relawan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query relawan. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Monday, July 15, 2013

Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika


ISLAMIC Society of North America (ISNA) tepat sekali memilih Ingrid Mattson sebagai orang nomor satu. Banyak orang sepakat bahwa sosok Ingrid sangat tepat untuk memimpin Komunitas Islam Amerika Utara, yang merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.



Siapa yang mengira bahwa mualaf ini akan memimpin sebuah organisasi besar dan berpengaruh di Amerika. Siapa sebenarnya Ingrid dan bagaimana kisah hidupnya sehingga bisa menjadi muslimah kesohor?



Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian.



“Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana,” ujar Ingrid dalam buku ‘Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44, Minggu (7/7).



Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.



Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.



Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. “Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang,” ujarnya.



Sejak saat itu, Mattson mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.



Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.



Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. “Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas,” ujar Mattson.



Pada tahun 1987, Mattson lalu memutuskan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson akhirnya menemukan seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.



Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.



Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu.



Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat. Hal ini lantaran namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inagurasi Barack Obama, setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.



Saat itu, Mattson masih menjabat sebagai presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC, sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.



Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.



Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. | sumber: merdeka.com


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=294239:jo-taslim-jadi-mualaf&catid=103:film&Itemid=149


Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika

Wednesday, March 20, 2013

Gelora Islam di Haiti (3)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Meningkat pascagempa
Pada tanggal 12 Januari 2010, Haiti diguncang gempa dahsyat sebesar 7,0 skala richter hingga merenggut banyak nyawa dan meninggalkan kerugian yang besar. Tercatat 300 ribu warga tewas dan kerugian infrastruktur mencapai 14 miliar dolar AS akibat gempa terkuat di Karibia sepanjang dua abad tersebut.

Negara Haiti yang memang miskin pun makin terpuruk, ditambah lagi duka yang terus saja merundung warga. Saat itulah, para relawan Muslim yang dikomando “Islam Relief” hadir menyelamatkan Haiti.

Tiga tahun lalu, Haiti menjadi negara yang porak-poranda. Reruntuhan bangunan dan mayat bergelantungan di mana-mana. Segala fasilitas umum hancur tinggal puing. Rakyat Haiti berada dalam penampungan, berputus asa, menerima nasib untuk hidup enggan namun mati pun sungkan.

Para relawan Muslim kemudian membangkitkan semangat mereka, memberikan bantuan darurat dan membangun kembali kehidupan Haiti yang mati. “Itu adalah bencana alam terbesar yang memukul kota dalam sejarah modern, dan gempa paling kuat di negara Karibia,” tulis web resmi Islam Relief yang hingga kini bahkan masih mengumpulkan donasi untuk membangun kembali Haiti.

Namun musibah tersebut membawa hikmah bagi rakyat Haiti. AP mengabarkan, jumlah Muslimin meningkat tajam pascaperistiwa mengerikan tersebut. Ibu Kota Haiti, Port Au Prince, yang merupakan kota mayoritas kristen kini dipenuhi para pria berkopyah dan wanita berjilbab.

Jalanan ibu kota yang biasanya dipenuhi alunan lagu rohani gereja saat ini dipenuhi azan dengan keberadaan lima masjid di kota tersebut. Selain itu, terdapat anggota parlemen di kursi dewan yang mewakili Muslimin. Televisi lokal pun bebas menyiarkan program Agama Islam.

“Setelah gempa terjadi, banyak orang yang masuk Islam dan bergabung bersama kami. Kami terorganisir. Kami memiliki ruang di masjid untuk menerima orang dan menyediakan makanan untuk mereka,” kata imam sekaligus pemimpin Muslim di Port Au Prince, Robert Dupuy, dikutip AP.

Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/02/18/215608/10/Jurang-Revolusi-II-Mesir


Gelora Islam di Haiti (3)

Friday, July 19, 2013

Anggota Rabithah Ulama Palestina Galang Dukungan Muslim Indonesia

Jakarta – Selama beberapa hari, Kalimantan Timur mendapatkan kunjungan istimewa dari Syaikh Mahmud Muhammad Ashiyam, anggota Rabithah Ulama Palestina. Syaikh Mahmud menyempatkan diri melawat ke Balikpapan, Samarinda, Bontang, dan Sangatta untuk menggalang dukungan atas perjuangan rakyat Palestina.

Dalam kunjungan itu, Syaikh Mahmud menjelaskan situasi dan fakta-fakta penting di Palestina yang perlu dipahami oleh masyarakat Indonesia, selaku saudara mereka sesama Muslim.


Awalnya, ia menjelaskan beberapa hikmah dan rahasia dibalik perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. “Alasan pertama adalah aspek aqidah. Allah ingin mengaitkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, agar umat muslim memahami bahwa kedua masjid tersebut merupakan saudara kembar,” kata Syaikh Mahmud, sebagaimana tulisan yang diterima detikramadan, Selasa (16/7/2013).


Alasan kedua, dalam peristiwa Isra Mi’raj, Allah memerintahkan Rasulullah menjadi imam shalat saat bersama para Nabi dan Rasul. “Ini menjadi simbol estafet kenabian yang berakhir di Rasulullah. Kita tahu pula bahwa dalam peristiwa itu, Allah mensyariatkan salat yang wajib dilaksanakan lima waktu dalam sehari,” katanya.


Dan sejak itu, ketika shalat Rasulullah menghadap arah Masjidil Aqsha. Hal ini berlangsung selama 17 bulan. “Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Masjidil Aqsha merupakan kiblat pertama kaum Muslimin,” jelas Syaikh Mahmud. Rasulullah pun menyatakan terdapat keistimewaan untuk beribadah di tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.


Kondisi saat ini, Masjidil Aqsha telah dikepung oleh Zionis Israel. “Tidak hanya itu, mereka telah mengepung dari seluruh penjuru dan melakukan penggalian di sekelilingnya untuk merobohkan Masjidil Aqsha,” imbuhnya.


Hari ini pun Zionis melakukan pengepungan di Palestina dan jalur Gaza. Mereka melarang masuk BBM dan bahan makanan dan minuman, sehingga masyarakat menjadi kesulitan. Bahkan sebuah laporan menyebutkan, di bulan Ramadan, rakyat Palestina hanya mendapatkan air dan garam saja, yang bisa digunakan untuk sahur dan berbuka puasa.


“Lantas apa kewajiban kita sebagai kaum muslimin pada masyarakat Palestina dan Masjidil Aqsa? Allah dalam banyak ayat memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa. Untuk situasi Palestina, saat ini perlu dikedepankan jihad harta, karena bantuan dana sangat diperlukan dalam perjuangan,” katanya.


Membantu rakyat Palestina, merupakan perintah agama, sebagaimana Firman Allah, Jika ada yang meminta tolong kepadamu dalam urusan agama, maka wajib kita menolong. “Bila ada umat muslim di dunia yang meminta tolong, wajib kita menolong. Para pejuang di Palestina berjanji di hadapan Allah, bahwa mereka tidak akan membiarkan panji tauhid terjatuh. Walaupun hanya memakan air dan garam saja,” katanya.


Syaikh mengatakan, banyak pertanyaan di kalangan ummat Islam, bagaimana bisa menjadi relawan ke Palestina. “Kami katakan, kami di Palestina banyak antrean pejuang. Kaum lelaki kami siap untuk berjuang. Kami tidak membutuhkan mujahid dari luar. Yang kami butuhkan adalah bantuan materi. Sehingga kami bisa bertahan, membeli makanan dan minuman, serta senjata,” katanya.


Ketika kaum Muslimin memberikan bantuan, hal tersebut akan menjadi dukungan yang teramat penting untuk menyelamatkan masyarakat Palestina dan Masjidil Aqsha.


“Dengan bantuan itu, kami bisa menyelamatkan rakyat dari kebodohan, keterbelakangan, dan dari pembantaian zionis Israel. Semboyan kami, jihad dan terus melawan Israel. Dengan itu kami akan menang atau syahid di jalan Allah,” katanya.


Syaikh mengatakan, secara khusus ada bantuan yang dibutuhkan dalam sifatnya untuk pertahanan dan perlawanan. Juga kebutuhan untuk membangun kembali infrastruktur yang dihancurkan oleh Israel. Juga berbagai kebutuhan primer.


Syaikh Mahmud juga memberi pandangannya terhadap tindakan sebagian kalangan yang menyerang asset negara sekutu barat dengan dalih solidaritas sesama Muslim.


“Tindakan yang dilakukan sebagian kelompok itu tidak selayaknya dilakukan. Antara kita dengan negara lain ada perjanjian. Ketika ada orang masuk ke wilayah kita harus dijaga keamanannya. Bangunan mereka juga harus dilindungi,” katanya.


Bentuk solidaritas tidak harus dilakukan dengan kekerasan atau penghancuran. “Misalnya bisa dengan demonstrasi damai, yang diliput media. Kemudian dari peliputan media itu rakyat Palestina menyaksikannya. Hal itu memberikan makna dan sentuhan semangat yang mendalam bagi perjuangan rakyat Palestina,” katanya.


Terkait masa depan konflik di Palestina, apakah perdamaian merupakan solusi? “Dalam Alquran diajarkan, kalau mereka condong pada perdamaian, lakukan itu. Tapi niat itu tidak dimiliki orang Yahudi. Hakikatnya Yahudi itu tidak menghendaki perdamaian. Selama ini yang digembar-gemborkan hanya perspektif media saja,” kata Syaikh.


“Bicara soal perundingan, mereka itu mencuri dan mengambil tanah kami. Harusnya yang dilakukan adalah menghukum orang yang mencuri tadi dan dikeluarkan dari tanah kami. Baru setelah itu bicara perdamaian,” katanya menambahkan.


Syaikh Mahmud juga berbicara mengenai masalah politik yang sedang terjadi di Mesir saat ini. Menurut dia, dampak kudeta di Mesir terhadap roda pemerintahan Palestina relatif berpengaruh. “Namun pengaruh itu dalam skala terbatas. Karena siapapun penguasa di Mesir atau Palestina, bisa kita katakan Palestina butuh Mesir dan Mesir butuh Palestina. Siapapun penguasanya, kita akan saling membutuhkan,” katanya.


Syaikh Mahmud baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Ia mengaku terkejut dengan kemeriahan dan euforia dalam beragama, khususnya di bulan Ramadhan. Ia telah membaca banyak laporan di internet, tentang antusiasme muslim Indonesia menyambut Ramadhan, dan ia kagum akan hal tersebut.


Sementara itu, Taufiq Hidayat, relawan Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Kaltim, membuka peluang bagi warga Kaltim yang ingin membantu rakyat Palestina.


“Penyaluran bantuan bisa melalui rekening BPD Kaltim Syariah nomor 5101407001 dan Bank Syari’ah Mandiri 55555 87874 atas nama Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Kaltim,” kata Taufiq.



*Citizen Journalism dari warga Kabupaten Kutai Timur



Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=319503


Anggota Rabithah Ulama Palestina Galang Dukungan Muslim Indonesia

Friday, May 24, 2013

Pemilu Iran, Inilah Profil 8 Calon Presiden

Grafis Terkait


Tiga Puluh Tahun Revolusi Islam Iran


Foto Terkait


Peluk Ibunda Chavez, Ahmadinejad Diprotes Ulama Iran




TEMPO.CO, Teheran – Pemilihan presiden Iran digelar pada 14 Juni 2013 diikuti delapan calon dari 686 peserta yang disetujui oleh Dewan Pengawal (Revolusi). Siapapun pemenangnya, dia akan menggantikan posisi Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang tidak boleh mencalonkan lagi karena telah menjabat dua kali berturut-turut. Siapa calon Presiden Iran mendatang, inilah profilnya.


Saeed Jalili
Seorang juru runding nuklir Iran kondang, untuk pertama kalinya maju sebagai calon presiden pada pemilu bulan depan. Dia mengaku memiliki hubungan dekat dengan Pemimpin Agung Ayatullah Ali Khamenei.


Namanya mulai moncer setelah dia ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan juru runding nuklir Iran dengan Barat pada 2007.


Lahir di sebelah timur laut Mashhad pada 1965, Jalili bergabung dengan pasukan paramiliter Basij dan menjadi lasykar pejuang dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988 sebagai relawan. Dalam pertempuran tersebut dia mengalami cedera dan kehilangan kaki kanannya.


Jalili bergelar PhD. Tesis doktornya mengenai “Politik dalam Quran”. Beberapa situs berita Iran menyebutnya sebagai seorang intleketual yang loyal terhadap nilai-nilai Islam dan hidup sederhana.


Kritik juru runding ini adalah negara terlalu boros dalam membelanjakan anggaran, khususnya saat Iran menderita akibat tekanan sanksi Barat karena mempertahankan program nuklir.


Mohammad Baqer Qalibaf…


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Pemilu Iran, Inilah Profil 8 Calon Presiden

Thursday, September 19, 2013

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

REPUBLIKA.CO.ID, Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.


Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.


Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.


“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.


Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.


Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.


Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.


“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.


Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.


Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).


Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.


Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.


Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.


Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).


Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.


Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.


Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.


Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.


Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.


“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/09/juwita-bahar-pelit-bicara-soal-pacar-takut-direbut-cewek-lain


Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

Tuesday, March 26, 2013

"Penjajah Zionis Sudah Sita Kunci-kunci Gerbang Maghribi”

Home Palestina Terkini


Direktur Masjidil Aqsha:

“Penjajah Zionis Sudah Sita Kunci-kunci Gerbang Maghribi”


 

Direktur Masjidil Aqsha, Syeikh Najih Bkeirat. Foto: Maan


Rabu, 27 Maret 2013

Hidayatullah.com–Direktur Masjidil Aqsha, Syeikh Najih Bkeirat kemarin (25/03/2013) mengingatkan kaum Muslimin tentang berbagai pengetatan yang sudah dilakukan pemerintah penjajah zionis ‘israel’ terhadap Masjidil Aqsha. Maan News, dikutip Sahabat al Aqsha mengatakan pasukan Zonis telah menyita kunci-kunci gerbang Maghribi agar para pemukim ilegal Yahudi bisa masuk ke dalamnya kapan saja mereka kehendaki.

Penjajah Zionis melakukan pengetatandi pintu-pintu masuk masjid dan melarang masuk sejumlah warga, ulama dan pejabat ke Masjidil Aqsha. Bkeirat sendiri dilarang masuk ke Masjidil Aqsha sejak Oktober lalu.

“Sesudah 35 hari saya ditunjuk menjadi direktur Masjidil Aqsha, saya dilarang masuk ke sana. Penunjukkan ini dibuat oleh Kementerian Yordania. Zionis gagal menghalangi keputusan itu dan akhirnya mereka melarang saya masuk ke Masjidil Aqsha,” terangnya.

Pemerintah penjajah Zionis mengklaim, kehadiran Bkeirat di Masjidil Aqsha mengancam keamanan ‘Israel’ dan ia dituduh menghambat kerja polisi Zionis di wilayah masjid. Larangan ini diperpanjang menjadi enam bulan sejak 3 Maret 2013.

“Saya menerima larangan enam bulan sejak 3 Maret sampai 3 September 2013. Di situ disebutkan, saya harus menjaga jarak sekitar 20 meter dari Masjidil Aqsha. Di dalamnya disertakan peta yang menunjukkan batas-batas yang tidak boleh saya lewati,” ujar Bkeirat.

Ia melanjutkan, “Pesan Zionis dari larangan ini adalah, jika direktur saja bisa mereka larang maka mereka pun bisa melarang masuk para pekerja di Masjidil Aqsha, termasuk relawan.” Bkeirat mencatat, saat ini terdapat 300 orang yang bekerja di Masjidil Aqsha.

Karena penjajah Zionis tidak mampu mengontrol masjid sepenuhnya, Bkeirat menambahkan, mereka berusaha mencegah semua kebijakan Islam yang diimplementasi di Masjidil Aqsha.

Sejak 2004, sebanyak 217 warga Palestina diusir dari Masjidil Aqsha. Dalam salah satu hari, pernah 65 siswa dan guru dikeluarkan sementara 35 orang lainnya dideportasi pada hari lainnya.

Syeikh Bkeirat bekerja di Kementerian Waqaf Palestina sejak 1977. Sejak 2003, sudah tujuh kali ia dilarang masuk ke Masjidil Aqsha. Antara periode 2000-2004, ia dilarang melakukan perjalanan luar negeri dan zionis melarangnya berbicara kepada media selama tahun 2012 lalu. Terkait larangan terbaru yang diterimanya, Bkeirat menegaskan ia akan melawan.

“Saya akan menantang keputusan ‘Israel’ dan menghadapi konsekuensinya,” tegasnya.

Sementara itu, beberapa kelompok pemukim ilegal Yahudi dilaporkan menyerbu Masjidil Aqsha hari Senin kemarin di bawah pengawalan polisi Zionis. Pasukan khusus Zionis dengan senjata lengkap berjaga-jaga di dalam masjid, terutama di bagian depan masjid Qibli guna melindungi pemukim haram Yahudi.

Yayasan Waqaf dan Warisan Aqsha dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, pemukim-pemukim ilegal Yahudi itu memasuki Masjidil Aqsha  ditemani sejumlah rabi lalu melakukan ritual Talmudik. Seperti dilaporkan kantor berita  Palestinian Information Center (PIC), yayasan menyebutkan, ratusan siswa pria dan wanita yang belajar Quran di Masjidil Aqsha dalam keadaan waspada untuk mempertahankan masjid.* 

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/03/13/uli-auliani-tak-nyaman-pacaran-jarak-jauh


"Penjajah Zionis Sudah Sita Kunci-kunci Gerbang Maghribi”

Saturday, September 21, 2013

Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"


PRIA kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.



Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.



Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.



“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.



Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.



Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.



Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.



“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.



Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.



Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).



Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.



Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.



Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.



Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).



Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.



Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.



Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.



Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.



Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.



“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum. | Sumber: republika.co.id


Article source: http://www.republika.co.id/berita/en/national-politics/12/07/13/m723x8-jakarta-election-supervisory-committee-receives-54-complaints


Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"

Sunday, March 31, 2013

Berbagai Ormas Sepakat Tolak Pasal Santet




JAKARTA, suaramerdeka.com - Rencana Pasal Santet yang digulirkan pemerintah ke DPR untuk disahkan ke dalam Rancangan Undang Undang (RUU) KUHP terus menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Bahkan sejumlah ormas secara tegas menolaknya.

Ketua Umum Komando Pejuang Merah Putih (KPMP), Ki Kusumo menilai, Pasal Santet itu rawan fitnah.

“Masalah santet pembuktiannya sulit. Kalau masuk RUU KUHP, sama saja menyuburkan fitnah,” tegas Ki Kusumo di Jakarta Minggu (31/3).

Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) juga angkat bicara soal Pasal Santet. “Karena Pasal santet itu DPR punya alasan keliling ke luar negeri. Padahal itu kan hanya menghamburkan uang rakyat,” ujar Ketua FPI Jakarta, Habib Selon.

Senada juga dilontarkan Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM).  Menurut Ketua FPMM Jakarta Timur, Ade M Nur Ngudu, Pasal Santet tak perlu dimasukkan ke RUU KUHP.

“Masalah ini terus jadi perdebatan, karena pembuktiannya kan sulit. Makanya Pasal Santet tak perlu diatur dalam RUU KUHP,” jelas pria yang juga Ketua Umum Lintas Ormas ini.

Bahkan Ketua Umum Relawan Beringin, Jamaludin justru menuding pemerintah dan DPR menyimpan sesuatu di balik Pasal Santet.

“Saya lihat soal Pasal Santet koq cuma akal-akalan aja. Ada semacam kepentingan dibalik semua masalah ini. Kalau ada Pasal Santet, setan-setan sekalian aja dibikinin KTP, biar sama-sama ngga masuk akal,” katanya.

Sementara itu, Paguyuban Minang Bersatu (PMB) tak kalah keras menyuarakan masalah Pasal Santet.

“Urus itu Century, urus korupsi. Jangan masalah-masalah ngga penting justru diperdebatkan,” tutup Ketua PMB Jakarta, Zuchli Imran.

(
Benny Benke / CN37 / JBSM
)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter
twitter
dan Facebook
Facebook

Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/03/31/078470281/Mangga-Muda-Cara-Soeharto-Redam-Demonstrasi-HMI


Berbagai Ormas Sepakat Tolak Pasal Santet

Tuesday, December 24, 2013

Sakinah Rasheed Merasa Nyaman dengan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Ia menyukai Islam karena melarang penindasan pada kelompok tertentu.


Sakinah Rasheed lahir pada 1950 di Ohio, Amerika Serikat. Masa ini adalah masa yang berat bagi orang berkulit hitam seperti dirinya.


Dia adalah Afro-Amerika dan pada tahun-tahun tersebut sikap rasisme Amerika pada orang berkulit hitam masih terjadi. “Kami dianggap budak dan tak pantas bergaul dengan orang kulit putih,” ujarnya, dilansir dari ifoundislam.


Rasheed dibesarkan dalam keluarga Kristen. Setiap minggu, ia pergi ke gereja bersama ibunya di gereja yang diperuntukkan bagi orang berkulit hitam.


Saat tinggal di Ohio tersebut, ia tak banyak menemukan kawan yang sama-sama berkulit hitam. Kaumnya menjadi masyarakat minoritas.


Saat remaja, ia selalu mendapatkan perlakuan rasisme oleh orang kulit putih. Hal itu juga banyak dilakukan teman sebayanya yang berkulit putih.


Ia selalu mendapatkan stigma bahwa ia adalah keturunan Afrika yang hanya pantas menjadi budak dan anggota dari kelompok tertindas.


“Saya tak terima dengan citra semacam ini. Ini seperti konspirasi untuk menindas kaumku secara psikologis,” katanya.


Televisi setiap harinya, selalu menayangkan tayangan rasisme, penindasan pada orang-orang berkulit hitam, kerusuhan yang dilakukan orang berkulit hitam, pembunuhan Martin Luther King, dan banyak lagi tayangan rasisme yang membuat jiwanya semakin sakit. Hingga, akhirnya ia membaca buku The Autobiography of Malcolm X.


Dari situ, ia mengenal Islam dan tertarik dengan agama yang tidak pernah membeda-bedakan ras manusia tersebut.


“Meski saat itu saya belum sepenuhnya mantap masuk Islam, tapi  saat membaca buku tersebut saya punya keinginan agar suatu saat apabila saya diberikan jalan pada Islam, saya ingin menjadi sosok Muslim seperti Malcom X,” ujarnya.


Ketika menuntut ilmu di perguruan tinggi, hari-harinya disibukkan dengan membanding-bandingkan agama apa yang menurutnya terbaik.


“Satu hal yang aku sukai dari Islam adalah tidak menyukai adanya penindasan pada kelompok tertentu dan tidak membeda-bedakan kelas sosial,” katanya.


Saat sedang membanding-bandingkan agama ini, justru mengarahkannya pada kebingungan. Akhirnya, ketika ia duduk di bangku pascasarjana dalam bidang psikologi, pamannya memberikan sebuah Alquran. “Ia memberikan Alquran ini dan mengatakan saya punya karakter sebagai orang Muslim,” ujarnya.


Karena masih dalam pencarian kebenaran dalam semua agama tersebut, ia pun mulai membaca Alquran dan terjemahannya agar tahu apa saja yang tertulis di dalamnya.


Pada 1976 Rasheed bertemu dengan kawannya yang telah menjadi mualaf Elijah. Dialah yang kemudian menjelaskan tentang unsur-unsur dalam Islam, seperti rukun Islam, apa manfaat Alquran, puasa, juga bacaan-bacaan shalat.


Elijah dan suaminya bisa dengan sabar menjawab pertanyaan yang diajukannya. Bahkan, jawaban yang diberikan lebih memuaskan daripada jawaban dari ibunya atau pastor dari gerejanya.


Setiap mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahunya yang besar pada konsep dari kehidupan dan kematian, ia selalu bisa tersenyum dengan puas.


Rasa gembira pun dirasakannya karena ia merasa lega semua pencariannya selama ini terjawab sudah. Ia akhirnya mantap masuk Islam pada tahun tersebut.


Kemudian, ia menjelaskan tentang pilihan terpenting dalam hidupnya ini pada ibu dan keluarganya. Ia selalu mengatakan, Allah dalam Alquran tidak pernah menyatakan untuk memusuhi agama Kristen dan agama yang lainnya.


“Bertahun-tahun kemudian, sebelum ibu saya meninggal, saya bersyukur telah bisa membuatnya menjadi mualaf juga,” katanya.


Rasheed menyukai Islam karena merasa nyaman. Dalam hatinya, ia selalu yakin inilah jalan yang paling benar untuk mendapatkan rasa bahagia di dunia dan termpat terindah di surga ketika ia meninggal nanti.


Menurutnya, ia bisa merasa bahagia karena ini merupakan hasil dari ibadah yang selalu dilakukannya. Ia sangat mencintai keluarganya, juga anak-anaknya yang telah memeluk Islam.


Dalam pekerjaannya sebagai terapis psikologi, ia merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan emas tersebut karena bisa membantu orang lain menuju ke jalan yang benar menuju Allah.


Di luar pekerjaan profesionalnya, ia juga menjadi relawan untuk mengarahkan jalan yang benar pada para pemuda Muslim yang murtad. “Saya membantu orang lain untuk meningkatkan iman mereka, saya merasa ini berkah,” ujarnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/02/mcurr6-muslim-hidup-leluasa-di-kosta-rika-1


Sakinah Rasheed Merasa Nyaman dengan Islam