Showing posts sorted by relevance for query Bekerja. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Bekerja. Sort by date Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Perbenturan agama dan pekerjaan

Liston Siregar


Wartawan BBC Indonesia


Celestina Mba akhirnya terpaksa berhenti kerja pada tahun 2010 karena kantornya meminta dia bekerja hari Minggu.


Perempuan berusia 58 tahun itu merupakan penganut Kristen yang taat dan sejak awal tidak bersedia kerja pada hari Minggu atau Sabat, yang berdasarkan hukum keempat dalam 10 perintah Tuhan merupakan hari khusus untuk memuja Tuhan.


Walau dia menegaskan siap bekerja Sabtu malam -asal Minggu bisa libur- kantornya bergeming dan akhirnya Mba berhenti kerja.


Namun perjuangannya diteruskan lewat ruang pengadilan dengan pemikiran bahwa Dewan Kota Merton -tempatnya bekerja- tidak menghormati agamanya.


Gugatan yang akhirnya ditolak sampai di tingkat banding pada Kamis 5 Desember.


Fakta bahwa waktu masa awal bekerja tiga tahun sebelumnya dia tidak perlu masuk hari Minggu namun belakangan diharuskan, sepertinya bukan menjadi alasan kuat -paling tidak menurut pengadilan- untuk menolak kerja.


Alam sekularisme?


Celestina Mba

Celestina Mba berpendapat Dewan Kota Merton tidak menghormati agamanya.


Semakin hari rasanya memang semakin terbuka ‘kontak langsung’ antara agama dan kebutuhan masyarakat modern.


Rumitnya kehidupan modern yang meningkatkan kebutuhan sehari-hari membuat tuntutan untuk produksi maupun pelayanan semakin tinggi pula.


Kalau dulu mungkin hanya beberapa sektor yang perlu beroperasi total 24 jam penuh dan 365 hari dalam setahun -misalnya rumah sakit, kantor berita, dan polisi- kini semakin banyak orang yang bekerja tanpa batasan waktu.


Dan dalam situasi seperti itu, ada kecenderungan untuk memisahkan lebih tegas lagi antara urusan agama dan pekerjaan.


Orang lebih dikejar untuk mengutamakan dunia material dibanding kehidupan spritual dan rasanya semakin banyak orang yang tidak keberatan untuk itu.


Kasus demi kasus


Tapi apakah kasus Mba bisa dikatakan sebagai bukti dari ketidakpedulian Inggris terhadap keyakinan orang demi pelayanan umum?


Mba bekerja untuk membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan permanen dan menurut hakim para anak-anak itu harus mendapat layanan penuh.


Dalam kasusnya, mungkin hakim berpendapat bahwa ada kepentingan umum yang sebaiknya tidak bisa ditawar-tawar lagi.


Tapi dalam kasus lain, polisi yang memeluk Sikh diizinkan untuk tetap mengenakan turban saat bertugas karena dianggap tidak akan menghalanginya dalam melaksanakan pekerjaan.



Sementara permintaan seorang karyawan beragama Islam agar selalu libur pada hari Jumat namun bekerja di hari Minggu ditolak dengan pertimbangan semua orang seharusnya diperlakukan setara sehingga bergiliran bekerja pada akhir pekan.


Akhirnya, saya pikir, tak ada pegangan mutlak ketika terjadi pertemuan antara keyakinan agama dan pekerjaan.


Di dekat rumah saya ada supermarket kecil yang juga menjual alkohol dan seorang pegawai di kasir mengenakan kerudung.


Saya sempat tertanya-tanya, apakah dia tidak terganggu saat menjual alkohol.


Belakangan saya lihat jika ada pembeli yang membawa alkohol ke mejanya maka dia memanggil temannya untuk mengurus penjualan alkohol itu. Urusan beres.


Di zaman modern, semuanya bisa diatur -paling tidak menuru saya. Anda setuju atau tidak?


Article source: http://www.aktualpost.com/2013/11/17/5456/5-gereja-di-dunia-yang-berubah-menjadi-masjid/


Perbenturan agama dan pekerjaan

Friday, December 6, 2013

Perbenturan agama dan pekerjaan

Liston Siregar



Wartawan BBC Indonesia


Celestina Mba akhirnya terpaksa berhenti kerja pada tahun 2010 karena kantornya meminta dia bekerja hari Minggu.



Perempuan berusia 58 tahun itu merupakan penganut Kristen yang taat dan sejak awal tidak bersedia kerja pada hari Minggu atau Sabat, yang berdasarkan hukum keempat dalam 10 perintah Tuhan merupakan hari khusus untuk memuja Tuhan.



Walau dia menegaskan siap bekerja Sabtu malam -asal Minggu bisa libur- kantornya bergeming dan akhirnya Mba berhenti kerja.



Namun perjuangannya diteruskan lewat ruang pengadilan dengan pemikiran bahwa Dewan Kota Merton -tempatnya bekerja- tidak menghormati agamanya.



Gugatan yang akhirnya ditolak sampai di tingkat banding pada Kamis 5 Desember.



Fakta bahwa waktu masa awal bekerja tiga tahun sebelumnya dia tidak perlu masuk hari Minggu namun belakangan diharuskan, sepertinya bukan menjadi alasan kuat -paling tidak menurut pengadilan- untuk menolak kerja.



Alam sekularisme?


Celestina Mba

Celestina Mba berpendapat Dewan Kota Merton tidak menghormati agamanya.


Semakin hari rasanya memang semakin terbuka kontak langsung antara agama dan kebutuhan masyarakat modern.



Rumitnya kehidupan modern yang meningkatkan kebutuhan sehari-hari membuat tuntutan untuk produksi maupun pelayanan semakin tinggi pula.



Kalau dulu mungkin hanya beberapa sektor yang perlu beroperasi total 24 jam penuh dan 365 hari dalam setahun -misalnya rumah sakit, kantor berita, dan polisi- kini semakin banyak orang yang bekerja tanpa batasan waktu.



Dan dalam situasi seperti itu, ada kecenderungan untuk memisahkan lebih tegas lagi antara urusan agama dan pekerjaan.



Orang lebih dikejar untuk mengutamakan dunia material dibanding kehidupan spritual dan rasanya semakin banyak orang yang tidak keberatan untuk itu.



Kasus demi kasus


Tapi apakah kasus Mba bisa dikatakan sebagai bukti dari ketidakpedulian Inggris terhadap keyakinan orang demi pelayanan umum?


Mba bekerja untuk membantu anak-anak yang membutuhkan bantuan permanen dan menurut hakim para anak-anak itu harus mendapat layanan penuh.



Dalam kasusnya, mungkin hakim berpendapat bahwa ada kepentingan umum yang sebaiknya tidak bisa ditawar-tawar lagi.



Tapi dalam kasus lain, polisi yang memeluk Sikh diizinkan untuk tetap mengenakan turban saat bertugas karena dianggap tidak akan menghalanginya dalam melaksanakan pekerjaan.


Sementara permintaan seorang karyawan beragama Islam agar selalu libur pada hari Jumat namun bekerja di hari Minggu ditolak dengan pertimbangan semua orang seharusnya diperlakukan setara sehingga bergiliran bekerja pada akhir pekan.



Akhirnya, saya pikir, tak ada pegangan mutlak ketika terjadi pertemuan antara keyakinan agama dan pekerjaan.



Di dekat rumah saya ada supermarket kecil yang juga menjual alkohol dan seorang pegawai di kasir mengenakan kerudung.



Saya sempat tertanya-tanya, apakah dia tidak terganggu saat menjual alkohol.



Belakangan saya lihat jika ada pembeli yang membawa alkohol ke mejanya maka dia memanggil temannya untuk mengurus penjualan alkohol itu. Urusan beres.



Di zaman modern, semuanya bisa diatur -paling tidak menuru saya. Anda setuju atau tidak?



(bbc/bbc)





Lebih Banyak Lagi dari BBC Indonesia:


BBC





Lapsus


Article source: http://www.solopos.com/2013/10/09/mr-bean-masuk-islam-media-masih-ngotot-rowan-atkinson-mualaf-454827


Perbenturan agama dan pekerjaan

Thursday, December 27, 2012

Ulama Saudi Doakan Menaker Kena Kanker, Kenapa?

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Sekitar 200 ulama Arab Saudi mengancam bakal mendoakan Menteri Tenaga Kerja Saudi, Adil Fakih, terkena penyakit kanker.

Ancaman itu menyusul rencananya yang membolehkan perempuan Saudi bekerja untuk mencari nafkah dan membantu keuangan keluarga.

Ancaman itu bukan gertak sambal. Saat menggelar rapat kerja dengan Adil Fakih di Riyadh, Selasa (24/12) kemarin, para ulama mengingatkan menteri tenaga kerja sebelumnya, Ghazi al-Ghosaibi yang meninggal akibat kanker, dua tahun lalu.

Seperti dinukil dari Alarabiya.net, Kamis (27/12), di Saudi, perempuan bekerja masih menjadi kontroversi. Masyarakat Saudi yang mayoritas bermazhab Hambali menyatakan perempuan tidak bekerja di luar rumah. Sebab, bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban pria sebagai kepala rumah tangga.

Para ulama menuding Adil Fakih menyusupkan nilai-nilai westernisasi alias pro-Barat. Sebab, membiarkan wanita masuk ke dunia kerja berarti membiarkan serangan westernisasi merusak kebudayaan Arab dan syariat Islam di Saudi.

Para ulama meminta sang mentri segera mencabut kebijakan barunya itu. Adil Fakih diberi waktu selama satu bulan untuk menyelesaikan kasus perempuan yang sudah terlanjur bekerja di luar rumah.

Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/16/m0zcbk-siapakah-bangsa-uighur


Ulama Saudi Doakan Menaker Kena Kanker, Kenapa?

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Wednesday, January 9, 2013

LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Jakarta, GATRAnews – Lian Gogali menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Usahanya yang menginspirasi dan tanpa lelah mengantarkannya menjadi penerima Coexist Prize. —

Kota Poso yang terik, awal November lalu, sekitar 50 ibu-ibu berkerumun di bawah tugu Jam Kota Poso, yang terletak di Jalan Kalimang. Mereka membawa poster kertas putih bertulisan ajakan agar menciptakan perdamaian di kota yang pernah terpecah oleh konflik selama hampir satu dekade itu. ”Kami Perempuan Poso Ingin Damai”, ”Ciptakan Poso yang Bebas dari Ketakutan”, ”Damai Tak Butuh Kekerasan”, begitu beberapa kalimat dalam poster yang dipertontonkan para perempuan setengah baya itu.

Mereka juga meneriakkan yel-yel agar perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan, sembari membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Seorang peserta aksi kadang memberikan seruan dan disambut balasan teriakan, ”Sintuwu maroso,” yang berarti bersatu dan kuat. ”Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kasus agama. Kekerasan Poso adalah bentuk kegagalan pemerintah, dan kami menolak segala bentuk kekerasan,” begitu pesan aksi damai itu yang dibacakan Lina Laando, koordinator lapangan.

Ibu-ibu pendemo dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage, dan wilayah Tentena itu memang ingin kampung mereka damai, tak ada pertikaian lagi. Sejak ada konflik horizontal sekitar tahun 2000, hingga yang paling terbaru adanya pembantaian warga oleh oknum tak bertanggung jawab, akhir Agustus lalu, Poso memang seperti tak henti dirundung teror.

Trauma itu membuat perempuan Poso tenggelam dalam ketakutan. Jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Namun hari itu para perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu itu sudah tak punya rasa takut untuk bersuara.

Ketakutan yang kini berganti menjadi kekuatan itu adalah salah satu hasil usaha panjang perempuan bernama Lian Gogali. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, ini tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Konflik telah memicu saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga.

Ketika konflik Poso pecah, keluarga Lian menjadi korban. Harta dijarah, rumah juga dihancurkan oleh api dan banyak yang terluka. Pada saat itu, Lian sedang belajar untuk meraih gelar master di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. Dia sempat pulang ke rumahnya, menyaksikan dan mengalami langsung getirnya konflik yang terjadi. Meski sedih, dia menyatakan tidak memegang dendam. Ia pun kemudian memutuskan menulis tentang resolusi konflik untuk tesisnya.

Maka, pada 2002-2004, Lian melakukan penelitian di beberapa wilayah pengungsian saat konflik Poso. Ia mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak. Selama penelitiannya itu, Lian menemukan bahwa perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Seperti di masa lalu, selama konflik, sayuran, buah, dan lauk memiliki “agama”. Kristen menolak ikan yang berasal Poso Timur karena takut diracun. Sebaliknya, umat Islam di Poso menyingkirkan sayuran dari permukiman Kristen. Tapi para wanita tidak peduli. Bagi mereka, ini adalah masalah bertahan hidup. Suami dan anak-anak butuh makan.

Ratusan wanita juga membantu satu sama lain selama bentrokan. Seorang ibu muslim di Lage menyembunyikan wanita Kristen selama serangan. Di sisi lain, para pengungsi muslim menerima makanan dari pengungsi Kristen.

Dalam penelitian itu, Lian juga menemukan sesuatu yang kelak mengubah jalan hidupnya. Saat itu, seorang responden bertanya kepadanya, ”Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lian tersadar. Pertanyaan itu selalu diingatnya, bahkan setelah dia kembali ke Yogya untuk menyempurnakan tesisnya. “Saya memutuskan kelak kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dan, memang, begitu kuliahnya kelar sekitar tahun 2009, Lian memilih bekerja pada Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator sekolah perempuan (SP) yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapat, Lian memutuskan membuat SP sendiri. “Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Lalu didatangilah desa-desa di Poso, bertemu para wanitanya, untuk mengenal karakter mereka. Waktu itu, Lian sudah berketetapan hati untuk mengajar perempuan berpenghasilan rendah serta kelompok-kelompok minoritas yang tidak memiliki akses terhadap gender dan pengetahuan soal membangun perdamaian. Dia sengaja tak minta rekomendasi dari aparat desa atau tetua desa. Sebab biasanya dia diarahkan kepada pribadi-pribadi yang punya pamrih, bukan mereka yang benar-benar ingin memperbaiki diri.

Jadi, ada beberapa kriteria calon muridnya waktu itu. Pertama, mereka harus memiliki visi perdamaian inklusif dan keadilan. Mereka juga harus memiliki kemauan berjuang untuk orang lain. Lian pun mengutamakan muridnya adalah para korban kekerasan, karena mereka memiliki akses terbatas pada informasi dan biasanya tak berdaya.

Dengan dana yang terbatas, pada 2011 Lian bisa menyelenggarakan sesi awal SP Mosintuwu di teras rumah kontrakannya di Pamona. Sebuah ruang besar terbuka dengan dinding kayu. Angkatan pertama SP ini, kata Lian, awalnya sekitar 80 orang saja, terdiri dari umat Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Semuanya ibu rumah tangga biasa, lulusan SD, maksimal SMP. Mereka juga diajari menonton film bersama, bermain peran, mengunjungi rumah ibadah, dan sebagainya.

***

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan lancar. Pertemuan pertama diawali tatapan mata saling curiga. Beberapa peserta juga ada yang tidak memiliki komitmen dan meninggalkan kelas. Mosintuwu yang berarti hidup bersama ini pun mengembangkan kurikulumnya sendiri di sekolah itu. Akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, dan perempuan diundang untuk duduk bersama mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas kurikulum dielaborasi oleh Lian dan dibantu Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivis sosial di Tentena.

Meski tertatih, lambat laun sekolah itu bisa digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan kemudian dilengkapi dengan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Ternyata dana dari Belanda itu sangat berguna. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuannya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana. Lian pun bersiap memperluas jaringannya. Apalagi, bila hanya membuka di Pamona, program pemulihan konflik berlatar keyakinan ini tak akan efektif.

Lian akhirnya dengan cepat bisa mendirikan SP setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Namun, karena keterbatasan dana, tempat mengajar ini juga sederhana. Lian sudah biasa mengajar di rumah-rumah penduduk dan teras mereka, bahkan di ladang. Untuk menjaga semangat para perempuan itu, Lian rutin berpatroli ke tiap desa.

Saking semangatnya, ia pernah mengalami kecelakaan hingga perlu menggunakan kruk. Kakinya patah dan menderita infeksi. Dia sempat menjalani sembilan kali operasi. Namun ibu satu anak ini tetap bersemangat. Ia senang murid-muridnya menemukan ruang yang aman dan terbuka untuk berbicara.

Awalnya memang tak mudah menggandeng para perempuan itu. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” kata Lian. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarangnya. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi, jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan.

Hasil tempaan Lian memang luar biasa. Pada upacara wisuda angkatan pertama di Tentena, lulusan Mosintuwu sepakat untuk mengabdikan diri bagi masyarakat dengan membangun sebuah rumah untuk perlindungan perempuan dan anak.

***

SP Mosintuwu kini memiliki delapan modul kurikulum dan yang bisa diselesaikan dalam 10 bulan. Mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender dan isu-isu politik, berbicara di depan umum dan pembangunan ekonomi. Melalui kurikulum ini, para anggota diminta menghilangkan praduga, kecurigaan, trauma, dan dendam, membangun kepercayaan diri serta saling percaya, dan meningkatkan kerja sama.

Tahun ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize, yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya, merendah. Lian terpilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Dalam penjelasan resmi di website Coexist Foundation disebutkan bahwa Coexist Prize baru pertama kali diadakan pada 2012 ini. Para juri memilih enam nominator sebagai finalis. Hingga akhirnya, juri berkeputusan bulat memilih Lian sebagai penerima Coexist Prize. ”Lian Gogali menjadi pemenang karena dia contoh terbaik dari sebuah pengalaman pribadi dan sebuah proyek yang menginspirasi,” kata David Ford, profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mewakili para juri.

Saat menerima hadiah senilai US$ 100.000 itu, Lian Gogali menuturkan bahwa Coexist Prize yang diterimanya adalah penghargaan untuk semua perempuan dan anak-anak yang selama ini bekerja bersama-sama dengannya dalam segala keterbatasan untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Termasuk untuk semua pihak yang tetap percaya dan terus berjuang bagi kesetaraan, untuk perdamaian dan keadilan, melalui gerakan interfaith.

Coexist merupakan yayasan yang sejak 2006 mengupayakan pendekatan antar-keyakinan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, juga masyarakat lain, melalui pendidikan, dialog, dan penelitian. Penghargaan buat Lian itu adalah sebuah pengakuan atas usahanya membangun perempuan Poso menjadi bagian terbaik dalam mereduksi pengaruh hasutan ideologi kebencian.

Kini, setelah satu langkah dilalui Lian, ada satu harapan lagi yang ingin dia wujudkan. Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini dimaksudkan untuk membuka ruang bicara perempuan Poso serta akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya pun ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” katanya. (Mukhlison S. Widodo dan Rach Alida Bahaweres)


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Wednesday, June 12, 2013

Ikut Membangun Masjid, Pria Amerika Ini Akhirnya Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Afriza Hanifa


Dari kota metro New York, Umar Abdul Aziz memilih pindah ke Abiquiu, sebuah kota kecil di New Mexico. Mencari pekerjaan, demikian niat awalnya pindah. Ia merupakan seorang pekerja konstruksi yang tergiur ikut serta pada proyek pembangunan besar di Abiquiu. Ya, Umar melamar menjadi tukang bangunan masjid.


Tapi, siapa sangka kepindahannya ke Abiquiu merupakan pintu awal menuju hidayah. Bekerja membangun masjid bersama pekerja Muslim membuat Umar jatuh hati pada agama ini.


“Aku benar-benar menikmatinya. Itu adalah pengalaman yang indah,” ujar Umar menggambarkan perasaannya saat menjadi bagian dari pembangunan masjid Abiquiu.


Kisah Umar memang berawal dari kesulitan hidup karena menganggur. Ditambah lagi, ia harus menafkahi dua putranya yang saat itu masih berusia sembilan dan 10 tahun. Umar sempat pindah ke Santa Fe dan tinggal bersama adiknya di sana.


Tapi, di kota tersebut Umar tetap saja tak mendapat pekerjaan. Hingga pada suatu pagi, ia membaca sebuah artikel surat kabar mengenai yayasan yang berencana membangun masjid di Abiquiu. Dengan keahlian pertukangan yang ia miliki, ia pun bersemangat untuk mendaftar sebagai pekerja konstruksi di yayasan tersebut.


Keesokan hari, dengan semangat Umar menuju Abiquiu dengan mengendarai truk tua milik adiknya. Ia melamar kerja dan langsung diterima. Ia pun senang bukan kepalang, akhirnya pekerjaan yang ia impikan datang juga. Tak banyak membuang waktu, Umar segera mengemasi barang-barang dan pindah dari rumah adiknya menuju Abiquiu. Di kota kecil itu, dia dan putranya tinggal di sebuah kamp di belakang masjid. Banyak pekerja konstruksi masjid yang tinggal di sana.


Sejak saat itu, Umar pun bertetangga dengan beberapa Muslim. Sosialisasi yang menyenangkan dirasakan oleh Umar. Ia sering kali diajak masak, sarapan, dan jalan-jalan bersama. Setiap kali waktu Subuh tiba, para Muslimin telah terjaga. Umar pun terbiasa mengikuti ritme mereka. Saat bekerja membangun masjid pun mereka menjadi teman yang menyenangkan.
 
“Kami tinggal di perkemahan di belakang masjid dan kami tinggal sepanjang musim panas. Saat itu, kami amat sangat menikmati. Anak-anak saya benar-benar menikmatinya dan itu adalah pengalaman yang indah,” ujar Umar.


Itulah kali pertama ia tertarik pada Islam. Umar pun merasakan budaya yang beragam tak membuat teman-teman Muslimnya itu tak akur. Satu Tuhan dan satu agama membuat beragam etnis hidup rukun. “Aku bertemu banyak orang baik dari tim kerja yang tinggal di desa Abiquiu. Jadi, itu adalah tim yang amat beragam. Aku bertemu Muslim dari Amerika, Eropa, Turki, dan Arab yang ikut serta dalam proyek pembangunan masjid ini,” kata Umar.


Saat mengerjakan proyek masjid, ia mendapat kesempatan untuk belajar teknik bangunan. Menurut Umar, masjid yang dibangun di Abuquiu itu merupakan masjid pertama di Amerika yang bahan bangunannya dari batako. Lengkungan kubah ala Mesir yang tak pernah dijumpai di Amerika diterapkan saat membuat masjid tersebut. Sebagai pencinta konstruksi, Umar pun merasakan kebahagiaan saat ikut membangunnya. “Banyak orang New Mexico yang datang kemari untuk belajar bangunan ala Mesir,” tuturnya.


Alhasil, selama bekerja membangun masjid, hidupnya yang selama ini terlunta tiba-tiba menjadi hal yang menyenangkan. Ia sangat bahagia dapat bergabung bersama Muslimin. Bergaul dengan Muslimin membuatnya mengenal Islam. Sehingga, bukan hanya rezeki yang ia dapat setelah bekerja di sana, hidayah pun kemudian merasuki lubuk hati Umar. Ia mempelajari agama Islam, kemudian memantapkan diri di atas agama yang diridhai Allah. Ia pun memeluk Islam pada 1969.




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/02/19/mig9w8-dubai-ajak-wisatawan-masuk-islam


Ikut Membangun Masjid, Pria Amerika Ini Akhirnya Memeluk Islam

Saturday, December 22, 2012

Ratusan TKI Ikuti Isbat Nikah di Konsulat RI di Tawau

Ratusan WNI yang sebagian besar TKI (Tenaga Kerja Indonesia) menjalani sidang isbat nikah di kantor Konsulat Republik Indonesia di Tawau, Malaysia. Seperti apa kegiatannya?
————
AGUSSALAM SANIP, Tawau
———–
SEBANYAK 490 pasangan suami istri (pasutri) berkebangsaan WNI yang sebagian besar TKI akhirnya bisa bernapas lega. Setelah keluar dari ruangan sidang isbat, pernikahan mereka akhirnya diakui negara. Para pasutri pun memiliki buku nikah yang disampulknya terdapat gambar garuda.

Isbat nikah masal merupakan program Konsulat RI di Tawau yang didukung Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler Direktorat Pelayanan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia  bekerja sama dengan Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Kegiatannya sendiri berlangsung mulai 17 Desember, dan berakhir kemarin (21/12).
 
Konsulat RI bekerja sama dengan sejumlah lembaga tersebut menyelenggarakan isbat nikah (penetapan nikah) untuk 490 pasutri yang berada di wilayah kerjanya. Selama penyelenggaraan istbat nikah, setiap harinya ditargetkan 100-an pasutri hadir untuk diisbatkan. Melalui program ini memberikan legalitas kepada Pasutri yang sebelumnya telah melakukan pernikahan siri secara Islam. Dengan legalitas istbat nikah ini, anak-anak Pasutri tersebut akan mendapatkan Surat Keterangan Kelahiran (Akta Kelahiran) yang memiliki status hukum sebagai anak dari Pasutri yang diisbatkan.

Penyelenggaraan sidang isbat dibuka oleh Kepala Konsulat RI Tawau, Muhammad Soleh pada Selasa lalu (17/12) di kantornya Jalan Sin Onn Batu 2 ½, dihadiri Ketua Pengadilan Agama (PA) Jakarta Pusat Drs. H. Khalilurrahman dan Wakil Ketua Drs. Abdul Hakim, serta hakim Pengadilan Agama Jakarta Pusat Dra. Hj. Rosmida M. Nur, SH. MH dan Dra. Nadhifah SH, MH.
 
Sesuai dan peraturan peraturan undang-undang Republik Indonesia, setiap subjek hukum WNI yang berada di luar negeri, harus beracara atau masuk dalam yurisdiksi hukum “di ibukota negara” dalam hal ini artinya mereka disentralkan  untuk beracara di Pengadilan Negeri Jakarta pusat atau di Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Karena itu, Kementrian Luar Negeri memfasilitasi untuk memproses sebagai upaya perlindungan WNI di luar negeri dalam program Isbat nikah yang juga merupakan program Konsulat RI Tawau.

“Program ini bentuk perlindungan dan keberpihakan kepada WNI yang berada di wilayah kerja Konsulat RI Tawau,” kata Mohammad Soleh.

Untuk memudahkan kegiatan tersebut, Kementerian Luar Negeri yang berkoordinasi dengan Pengadilan  Agama (Jakarta Pusat, telah menugaskan tim yang terdiri dari “majelis hakim” lengkap yang terdiri dari hakim ketua dan dua orang hakim anggota, beserta perangkatnya yang terdiri dari panitera dan operator IT yang mengatur dan menyambut (bukan secara “on line”)  pemberkasan perkara yang langsung didepositokan dalam sistem komputerrisasi yang dimiliki oleh pengadilan agama.

“Semoga melalui kegiatan bisa membantu legalitas hukum pernikahan sesuai peraturan perundang–undangan RI, bagi WNI atau TKI di wilayah kerja Konsulat RI Tawau,” harapnya.

Para pasutri yang mengikuti isbat nikah kata Saleh, rata-rata telah tinggal di Sabah lebih dari lima tahun, dan telah melakukan pernikahan siri dengan pasangannya di perkebunan tempat mereka bekerja. Mayoritas mereka berasal dari daerah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Keseluruhan 490 Pasutri bekerja di ladang di wilayah kerja Konsulat RI Tawau antara lain Ladang Felda Sahabat, Ladang Bongalio, Ladang Sebrang, Ladang Bagahak, Ladang Felcra, Ladang Imam Sime Darby, Ladang KL Kepong, Ladang Ikut Maju, dan Ladang-ladang persendirian.

Hari pertama saja telah diselesaikan 84 perkara. Hari kedua (Selasa, 18/12) telah diselesaikan 114 perkara, dan hari ke-3, sekitar pukul 16.00 waktu tawau telah diselesaikan 92 pasutri.
 
“Jadi total pasutri yang sudah diisbatkan di hari ketiga ini mencapai 290 pasutri. Sesuai dengan yang terdaftar 490 Pasutri,” sebut Soleh.

Menurut Soleh lagi, mereka yang turut serta istbat atau pasutri tersebut diharuskan membayar biaya perkara sebesar Rp 116 ribu yang penyetoran dilakukan langsung oleh para pasutri dengan difasilitasi transfernya oleh para pemilik ladang ke rekening bank milik Pengadilan Agama, Jakarta Pusat. Transfer biaya istbat itu sendiri akan ditetapkan dalam amar putusan sidang isbat (tertulis dalam petikan keputusan hakim isbat).

Untuk proses biaya perkara ini sudah dilakukan sebelum hari “H” persidangan. Artinya seminggu sebelum dilaksanakan sidang para  pasutri tersebut harus menunjukkan bukti  bahwa biaya istbat sudah ditransfer. Mengingat bahwa pengadilan agama juga memiliki bukti dengan on line system bahwa biaya perkara sudah ditransfer sebagai pendapatan negara bukan pajak, maka sidang dapat dibuka untuk memeriksa dan memberikan keabsahan dalam sidang istbat tersebut.

Kementrian Luar Negeri dalam hal ini Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler cq. Direktorat Perlindungan WNI, mendukung “deployment” para hakim pengadilan agama untuk memproses sidang di kantor KRI Tawau, sebagai bagian dari wilayah yuridiksi hukum Indonesia.
 
Setelah porses penetapan istbat nikah selesai, mereka juga mendapatkan suvenir berupa “photo session” di pelaminan yang difasilitasi oleh pihak  Konsulat RI Tawau, yang tujuan memberikan semangat  dan gambaran bahwa mereka adalah sebagai pengantin baru yang resmi menurut hukum di negara Republik Indonesia.(***)

Article source: http://news.detik.com/read/2012/12/18/165313/2121674/934/kristen-dan-islam-agama-terbesar-di-dunia?881101934


Ratusan TKI Ikuti Isbat Nikah di Konsulat RI di Tawau

Sunday, September 15, 2013

Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Jejak Bintang minggu ini, RAP menyelongkar kisah pelakon yang sedang mencipta nama iaitu Johan Ariff As’ari, 27, atau nama pentasnya Johan As’ari. Dia mula dikenali ramai menerusi aksi hebatnya dalam drama bersiri Juvana, arahan Faizal Ishak dan sejak itu dia terus melakar kejayaan dalam kerjaya seninya.


Pasti penonton menyampah melihat aksi jahatnya sebagai Botak dalam Juvana, tetapi di luar lokasi, perwatakan dan karektor sebenarnya amat berbeza.


Johan dilahirkan pada 3 Disember, 1986. Dia anak kedua daripada empat beradik. Untuk mengenali secara dekat peribadi Johan, RAP menemubual ibunya, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, iaitu wanita yang melahir dan membesarkannya.


“Johan seorang anak yang baik dan tidak kedekut. Bukan saja dengan saya, ayah dan adik-beradiknya malah dia juga tidak pernah berkira dengan sepupu dan kawan-kawannya,” kata ibu Johan, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, mengenai aktor yang dikenali selepas membintangi drama bersiri Juvana yang disiarkan di TV3, pada April 2011.



Seperti pada Ramadan lalu, Firdaus beritahu Johan yang telefon bimbitnya tidak berfungsi dengan baik.


“Apabila saya menceritakannya kepada Johan, saya tak bermaksud minta dia belikan saya telefon baru kerana saya bercadang minta ayahnya (Datuk As’ari Ibrahim) yang belikan. Namun sehari sebelum Aidilfitri lalu, dia bawa balik telefon baru bagi menggantikan telefon saya yang rosak itu.


“Paling membuatkan saya terharu dia belikan saya telefon Ipone 5 (64G), sedangkan untuk dirinya sendiri dia beli Ipone 5 (32G). Dia kata untuk saya, dia belikan telefon yang paling canggih dan terbaik. Dia punya yang biasa-biasa saja, tak mengapa.


“Macam itulah sikap Johan, kalau dia dengar saja saya atau adik-beradiknya teringinkan apa-apa, dia akan cari. Beberapa hari sebelum hari raya dia berikan saya duit untuk belikan hadiah kepada semua sepupu perempuannya. Dia tak ada, tak apa, asalkan dia boleh menggembirakan hari orang lain,” kata Firdaus ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Ampang, baru-baru ini.


Apabila mengenangkan kebaikan dan keluhuran hati anak kedua daripada empat beradik itu, Firdaus teringatkan kisah Johan dan adiknya (Muhammad Hazwan, kini berusia 23 tahun) sewaktu mereka bersama-sama bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi Melaka (SMTM).


“Sudah sampai di sekolah baru Hazwan perasan yang dia tertinggal tali leher di rumah. Di SMTM, pelajar lelaki diwajibkan pakai tali leher. Melihatkan adiknya yang dah nak menangis, Johan berikan tali lehernya kepada Hazwan. Katanya, biar dia yang kena denda kerana dia lebih besar.


“Saya yang menghantar mereka ke sekolah pagi itu, bergenang air mata saya melihatkan gelagat mereka dua beradik. Betapa Johan sayangkan adiknya,” katanya.


Adik beradik Johan yang lain, Farah Alya, 29, dan Siti Aisyah, 25.


Cerita Firdaus lagi, ketika dia pergi bercuti di Palembang minggu lalu, Johan beri kad debit bank miliknya kepada ibunya itu agar Firdaus boleh membeli-belah di sana.


“Dia beri kadnya untuk saya berbelanja di sana dan dia tidak meletakkan had keluaran,” katanya.


Ketika Johan belajar di sekolah rendah, dia beri kasut sekolahnya kepada kawan kerana kasut kawannya itu sudah buruk.


“Selepas itu dia sendiri ke sekolah dengan berselipar. Yang ini saya marah kerana dia sanggup berkorban untuk orang lain sampai menyusahkan diri sendiri. Saya beritahu padanya, kalau nak tolong kawan pun, tengoklah juga keadaannya. Tetapi itulah Johan, dia tak sanggup tengok orang susah.


“Pada ketika yang lain, dia nak keluar dengan kawan-kawannya. Saya beri dia RM10 dan ada juga bekalkan dia makanan. Saya fikir dengan bekal itu dia dapat simpan duit belanja yang saya beri kepadanya. Rupanya dia gunakan duit itu belanja kawan-kawan pula.


“Johan seorang yang hatinya lembut dan kalau kita nak tegur dia pun kena cakap perlahan-lahan. Kita tak boleh berkasar dengannya,” katanya.


Menyambung perbualan, jelas Firdaus pada November ini, Johan akan bercuti ke Dubai bersama peminatnya dan dia mengajak semua ahli keluarganya pergi bersama.


“Insya-Allah jika tiada aral, kami akan ikut Johan. Kemudian pada Disember, sekali lagi dia akan ke sana untuk menjalani penggambaran drama. Dalam apa situasi pun, Johan tidak pernah melupakan keluarga,” katanya.


Imbas zaman kecil Johan, selepas melahirkan Johan, mereka sekeluarga berpindah dari Kuala Lumpur (KL) dan menetap di Melaka kerana mengikut bapanya yang aktif politik bertugas di negeri itu.


“Sebelum berkahwin dan sehingga lahirnya Farah, saya bekerja dengan FELDA. Waktu itu, suami sibuk dengan aktiviti politiknya di Melaka dan dia terpaksa berulang-alik antara Melaka dan KL. Kalau suami sibuk, saya akan bawa Farah balik ke Melaka. Selepas saya melahirkan Johan saya berhenti kerja dengan FELDA kerana sukar nak menguruskan anak kecil dan pada sama suami pula tinggal berasingan.


“Kami tinggal di Ayer Molek, Melaka. Di sana saya bekerja dengan Yayasan Melaka. Tidak lama selepas itu saya berhenti kerja menguruskan rumah tangga sepenuh masa. Johan dan tiga adik-beradiknya membesar di sana dan kami sekeluarga berpindah semula ke KL lima tahun lalu,” katanya.


Johan agak nakal ketika kecil.


“Waktu dia berusia sekitar tiga, empat tahun, pintu almari yang menyimpan pinggan mangkuk kena ikat dengan tali kerana dia suka memunggah barang. Dia jenis yang tak duduk diam, ada saja benda yang nak dibuatnya.


“Pernah sekali, ketika itu saya masih bekerja, saya tinggalkan Johan bersama kakak dan adiknya di rumah bersama pembantu, tetapi pembantu rumah saya ini suka berkebun. Tiba-tiba, jiran hubungi saya beritahu salah satu bilik di rumah kami berasap tebal. Nasib baik rumah tak terbakar.


“Rupanya Johan ambil bunga api yang saya simpan atas para dan bawa masuk ke bilik saya. Apabila saya tanya dia macam mana bilik saya boleh terbakar, katanya selepas bermain bunga api dia membuangnya dalam tong sampah yang terdapat dalam bilik itu. Dia tak tahu yang bara daripada batang bunga api itu lama-lama boleh membakar sampah dalam tong sampah itu.


“Mujur api itu hanya menyambar tilam dan ia membakar dalam tilam itu perlahan-lahan sehingga mengeluarkan asap hitam. Api belum sempat merebak ke ruang lain, kalau tidak saya tak tahu apa jadi dengan rumah dan mereka adik-beradik. Ngeri saya nak membayangkannya,” katanya.


Johan suka main parang.


“Dia libas-libas parang itu pada kakaknya yang buat kerja sekolah dan terkena belakang Farah sampai kena jahitlah,” katanya.


Selepas tamat sekolah menengah, Johan menyambung pengajiannya di Universiti Telekom Malaysia Melaka. Namun, selepas dua tahun belajar di sana, dia beritahu ayahnya yang dia tidak mampu meneruskan pengajiannya di sana.


“Kemudian ayahnya minta dia belajar agama dan seterusnya dia dihantar mendalami agama di Jambi, Indonesia. Dia belajar di sana pun tak lama kerana selepas dua tahun dia nak balik kerana dia tak tahan dengan disiplinnya yang ketat.


“Sebagai pelajar agama yang belajar menghafal al-Quran, mereka tidak boleh makan dan minum sebarangan. Kali kedua ayahnya pergi melawat dia di sana, dia minta dikeluarkan daripada sana dan balik ke sini dia belajar pula di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Melaka, dalam jurusan Kaunseling. Apabila dapat berlakon dalam Juvana, dia minta cuti dengan pihak kolej selama setahun tetapi sekarang dah masuk tahun kedua.


“Saya harap dia dapat menyambung pengajiannya yang tertangguh itu,” katanya.
Jelas Firdaus, Johan sebenarnya suka menyanyi dan tidak pernah terlintas pun nak jadi pelakon. Ini mungkin kerana dia mengikut hobi ayahnya yang suka menyanyi.


“Sewaktu musim pertama Akademi Fantasia, dia belajar dalam tingkatan lima dan dia sanggup turun ke KL untuk menyaksikan program itu di sana. Barangkali tak ramai yang tahu Johan pernah pergi menghadiri uji bakat Mentor musim kelima dan bercita-cita nak jadi protege kepada Afdlin Shauki kerana dia amat meminati pelakon itu, tetapi tidak berjaya.


“Ketika uji bakat itu dia buat lawak dan Afdlin kata dia lebih sesuai jadi pelakon daripada penyanyi. Dia jadi pelakon hanya kebetulan kerana Farah yang menulis skrip dan bekerja di belakang tabir dunia penerbitan beritahu Johan, ada uji bakat mencari pelakon Juvana dan waktu itu Johan bercuti semester.


“Dia pergi ke uji bakat itu dan pengarah Juvana, Kamal Ishak mengambilnya berlakon untuk pilot drama itu untuk ditunjukkan kepada TV3. Pihak stesen TV suka dengan lakonan Johan dan Kamal terus mengambilnya berlakon dalam Juvana,” katanya.


Bapa Johan tak suka dia berlakon kerana mahu anak lelakinya itu menyelesaikan pengajiannya setahun saja lagi. Johan berkeras mahu berlakon dan dia memujuk bapanya serta berjanji untuk menamatkan pengajiannya.


“Melihatkan kesungguhan Johan, ayahnya terpaksa mengalah. Selepas dia dah berlakon banyaklah pula gosip yang timbul, tetapi kami sekeluarga tidak terkejut sangat kerana dah tahu industri ini macam mana. Namun sebagai ibu bapa kami berpesan kepadanya supaya berhati-hati dalam setiap tindak tanduk dan percakapannya,” katanya.


Apabila dia digosipkan dengan artis wanita terutamanya Nabila Huda, Firdaus tidak pernah melarang atau pun membantah.


“Siapa pun wanita yang Johan pilih sebagai kawannya atau calon isterinya, kami terima. Apa yang penting ialah kebahagiaan Johan dan siapa pun jodohnya kelak sama ada artis atau orang biasa, saya harap dia bertemu dengan wanita yang baik dan dapat menerima Johan seadanya serta menghormati orang tua.


“Johan ada beritahu saya yang dia nak berkahwin tetapi belum ada calon,” katanya.


Artikel ini disiarkan pada : 2013/09/16





Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=282185:artis-masuk-politik-jangan-hanya-popularitas&catid=17:politik&ItemId=30


Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Wednesday, June 19, 2013

Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Karen Armstrong Pakar Agama: Alquran Mengajarkan Belas Kasih


Di ambang pintu, Karen Armstrong menyungging senyum. Ia mempersilakan masuk, menyapa ramah, dan mengucapkan “How do you do?” Lalu, ia duduk di sofa putih di kamar hotel ia menginap. Perempuan Inggris ini mengisahkan konsep belas kasih yang ia dengungkan, Islam, dan dirinya kepada wartawan Republika, Ferry Kisihandi, dan fotografer, Prayogi, Jumat (14/6) sore. Berikut petikannya.


Sebegitu pentingkah belas kasih bagi Anda?

Saya pikir ini merupakan hal terpenting di dunia. Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.


Menurut saya, ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi semua agama. Ini juga sarana untuk membantu kita bertahan. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk tentu dampaknya juga akan menimpa diri kita. Dan, kita melihat dunia sekarang mengalami hal seperti ini. Maka, sudah seharusnya kondisi semacam itu tak lagi berlangsung. Saya melihat Sang Buddha, Konfusius, dan Yesus semuanya bekerja di sebuah masyarakat yang penuh keserakahan. Tapi, mereka mampu bertahan dengan menggerakkan sikap belas kasih.


Bagaimana mempraktikkannya di tengah dunia yang sekarang sarat kekerasan dan konflik ini?


Saya akui, kini kita tinggal di tempat yang sangat terpolarisasi dan berbahaya. Tapi, pada dasarnya, kita tak bisa mengabaikan pengembangan ide belas kasih ini. Karena itu, sangat mendesak membangun kesadaran global soal ini. Lalu, membangun hubungan lebih baik dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.


Semua sudah melihat, hampir semua musnah oleh senjata yang manusia buat. Demikian pula kalau merunut pada sejarah perang ratusan tahun silam. Itu berulang dan meletuslah perang di Afghanistan, Irak, dan sekarang terjadi di Suriah. Ini situasi berbahaya. Bila agama tak mampu tampil dengan pesan belas kasih yang ada pada ajarannya, mereka akan gagal mengatasi ini semua. Dengan demikian, mereka harus mampu. Apa yang mereka lakukan adalah untuk generasi kita sekarang.


Anda optimistis agama bisa memainkan perannya dengan baik?

Tergantung. Kita semua mempunyai jejak rekam bagus dalam mendorong upaya yang baik. Namun, karena rasa malas, hal itu tak berkembang. Saya bahagia dengan respons terhadap pesan belas kasih yang kemudian dituangkan dalam Piagam Belas Kasih. Muncul gerakan yang begitu aktif di Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Pakistan juga di Indonesia. Jadi, secara alamiah, saya optimistis.


Tapi, kita masih menghadapi kendala utama, yaitu prasangka walaupun telah ada serangkaian dialog antarkeyakinan yang digelar?


Ini sisi alamiah manusia dan pada prinsipnya prasangka harus diatasi. Anda dapat melakukan seperti apa yang ditempuh Islamic Society of North America (ISNA), sebuah organisasi Muslim besar di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa tahun lalu mereka menegaskan untuk menerapkan prinsip belas kasih lewat Piagam Belas Kasih.


Imam masjid yang memimpin kegiatan ISNA menetapkan tekad menciptakan masjid yang penuh belas kasih. Ini maknanya, masjid harus ramah gender dan pemuda, mesti memperluas dialog antarkeyakinan, serta mempelajari cara dalam mengahadapi terjadinya penyalahgunaan agama oleh segelintir orang.


Mereka juga menyebarkan pesan belas kasih yang juga terdapat pada ajaran Islam dalam berbagai pelatihan imam. Maka intinya, akar rumput menjadi bagian yang vital. Di sisi lain, saya melihat adanya dialog di antara para pemimpin agama. Namun sebaiknya, ini tak berakhir pada konferensi. Dan, cara terbaik adalah dengan bekerja bersama-sama.


Langkah ini dapat dilakukan oleh Yahudi, Muslim, Kristen, Buddhis, maupun pemeluk Hindu. Karena itu, alangkah baiknya setiap masjid, gereja, maupun kuil saling menjalankan program untuk saling merangkul dan berdialog dengan orang lain.


Tak jarang, peristiwa semacam pengeboman di Boston membuat seluruh komunitas Muslim disalahkan?

Saya pikir, komunitas Muslim perlu benar-benar proaktif. Terkadang tak ada yang menaruh perhatian penuh saat muncul pernyataan bahwa Islam menentang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Tak pernah digambarkan oleh media mainstream. Di sisi lain, umat Islam harus terus memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa Muslim berbelas kasih dan menentang kekerasan.


Apakah Anda berpikir Muslim akan mampu melakukannya?


Saya tidak tahu. Muslim harus mencoba melakukannya sendiri. Tuhan menyatakan, Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tak mengubahnya. Ini pernyataan yang terkandung dalam Alquran. Saya pikir, jihad sebenarnya adalah berusaha menjadikan hal itu terwujud.


Anda pernah menulis buku tentang Muhammad, kapan pertama kali tertarik mengkaji Islam?

Saat saya bekerja di televisi. Saya membuat program mengenai Perang Salib. Ini berarti saya harus mempelajari tentang Islam. Banyak orang memandang miring agama ini, saya tak paham apa yang mereka katakan. Saya dapat mempelajari Islam dengan baik. Lalu, saya ingin membuat Islam dapat diakses bagi warga Barat sehingga mereka lebih memahami agama ini.


Bagaiman pandangan Anda tentang Muslim di Indonesia?


Saya diundang oleh penerbit buku (Mizan) saya di sini. Dalam kurun 10 tahun ini saya sibuk bepergian ke sejumlah tempat. Pernah juga singgah ke Malaysia. Bagi saya, mesti tinggal beberapa saat dulu di Indonesia, berbicara dengan orang-orangnya, dan mempelajarinya, baru saya bisa menyampaikan opini mengenai Muslim di sini. Saya baru berada di sini pada Rabu (12/6) malam lalu.


Anda menikmati saat berbicara dari satu kuliah umum ke kuliah umum lainnya?

(Karen menjawab sambil tertawa). Tidak benar-benar. Saat kuliah umum, saya selalu mengatakan kepada setiap orang tentang apa yang mesti dilakukan. Saya pergi dari sini kemudian menuju tempat lainnya. Meski tak benar-benar menikmati, saya terkesan dengan sambutan-sambutan yang hangat dan saya sangat menghargainya. Anda tahu, sebenarnya saya adalah seorang yang sangat soliter.


Saya hidup sendiri, saya menyukai keheningan. Saya membutuhkannya termasuk saat menulis. Terlalu berat bagi saya untuk selalu berada di tengah orang banyak. Ini bukan nature saya. Tapi, dalam kunjungan ke Indonesia ini, saya tersentuh. Sebab, ada sambutan hangat dan banyak yang berbuat baik kepada saya. n ed: nur hasan murtiaji


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.harianterbit.com/2013/03/23/ratusan-biksu-budha-kejar-warga-muslim-di-meiktila/


Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

Sunday, June 23, 2013

Zed Zaidi: 'Itu kerja Pak Menteri'

Zed Zaidi



PERKEMBANGAN industri sememangnya menunjukkan peningkatan positif di mana pengkarya dan penggiat seni berlumba-lumba menghasilkan produk yang mampu memenuhi selera penonton.



Namun, dalam keghairahan itu, mungkin mereka terlepas pandang mengenai beberapa perkara yang perlu diberi keutamaan sehinggalah ada sesetengah pihak mula tampil menegur.



Walaupun perkara ini pernah dibangkitkan pada satu ketika dahulu, ianya tidak diberi perhatian khusus oleh pihak yang berkenaan.



Sehinggalah, baru-baru ini, veteran Umno mendesak supaya semua pihak yang bertanggungjawab perlu mengkaji semula bentuk program hiburan yang dilihat boleh melalaikan orang Melayu Islam di negara ini.



Dalam kenyataan itu, Setiausaha Veteran Umno, Datuk Mustapha Yaakub mendesak semua pihak termasuk stesen televisyen, media cetak, Kementerian Komunikasi dan Multimedia, Kementerian Belia dan Sukan, Jakim, majlis-majlis agama Islam, Majlis Fatwa Kebangsaan dan badan bukan kerajaan (NGO) Islam supaya mengadakan diskusi bagi mencari jalan penyelesaian.



Menurutnya, ia perlu diberi perhatian serius kerana hampir keseluruhan penonton dan peminat program hiburan di kalangan orang Melayu.



Selain menggesa agar diwujudkan satu garis panduan untuk setiap program yang disusun, Mustapha juga turut mempersoalkan pengurusan masa untuk sesebuah acara yang tidak mementingkan waktu-waktu solat.



Beliau turut melahirkan rasa bimbang mengenai fenomena suka berhibur di kalangan orang Melayu yang boleh membawa kepada faktor hilangnya jati diri kerana terlalu terdedah kepada bentuk hiburan yang tidak terkawal dan melampaui batas.



Untuk mendapatkan pandangan daripada penggiat seni tempatan, Zass mendapatkan reaksi beberapa pengarah dan penerbit serta menyusun satu temu bual eksklusif bersama Presiden Seniman, Rozaidi Abd Jamil atau lebih dikenali sebagai Zed Zaidi.



Pada hemah anda, adakah budaya hedonisme (suka berhibur) semakin menular di kalangan masyarakat Melayu?

Hiburan adalah satu bentuk terapi yang digunakan hampir keseluruhan masyarakat . Tidak dinafikan, hiburan yang ada mampu membantu kita ‘lari’ seketika daripada masalah yang ada. Namun, ia bergantung kepada bentuk hiburan kerana kita berhak memilih hiburan yang tepat agar ianya tidak mengundang permasalahan di kemudian hari. Tidak salah sekiranya kita berhibur sekali sekala untuk bergembira dan menghilangkan stress. Namun, jangan pula jadikan ia sebagai perkara yang sebati dalam kehidupan seharian.



Adakah hiburan yang sedia ada ini boleh melalaikan masyarakat terutamanya orang Melayu?

Sebagai penonton, kita berhak memilih apa jua bentuk hiburan yang kita mahukan. Namun, perkara ini tidak boleh diletakkan kesalahan pada golongan penghibur kerana mereka hanyalah bekerja. Tapi, saya tak rasa pula hiburan tempatan boleh melalaikan masyarakat.



Apa yang saya lihat, pengaruh hiburan dan budaya luar banyak memberi impak negatif kepada kita. Lihat sahajalah filem-filem dan produk barat yang masuk ke negara kita tanpa pemantauan dari pihak yang berkenaan.Jadi, kenapa pula anak seni tempatan yang terkena tempiasnya?



Jadi, siapakah yang harus dipersalahkan?

Kementerian sepatutnya memainkan peranan dalam hal ini. Setiap dasar yang ditetapkan dikawal oleh kerajaan dan kementerian. Namun, bila sesuatu perkara terjadi, kami sebagai NGO dan badan-badan bawahan akan terkena tempias sekali. Sepatutnya, veteran Umno itu tidak menggunakan medium ini sebagai cara menegur kerana perkara ini boleh disuarakan dalam bentuk perbincangan antara pihak tertinggi. Ini adalah cara lama yang tidak boleh diguna pakai. Cara ini menunjukkan mereka tidak berpuas hati dengan cara anak seni bekerja sedangkan garis panduan ini tidak termaktub dalam dasar kementerian. Ia boleh merumitkan lagi keadaan.



Perlu diingatkan, sumbangan anak seni bukanlah sekangkang kera. Kami juga adalah menyumbang kepada ekonomi negara. Malah, selepas PRU13, sumbangan dan kehadiran kami mula mendapat perhatian. Perkara ini seharusnya disuarakan kepada kementerian dan kerajaan sahaja kerana sebagai NGO, kami hanya mampu menjadi pendesak.



Adakah anda tidak bersetuju dengan desakan itu?



Saya bukan tidak setuju dengan desakan, Cuma cara sahaja yang salah. Saya menyahut cadangan itu dengan membawa industri ke arah yang lebih Islamik. Sebelum ini juga saya pernah menganjurkan program Islamik dan berhasrat agar anak seni menerima baik pendekatan itu. Untuk mengajak mereka secara paksaan, ia sukar dan tak mungkin memberi kesan yang baik. Mereka bebas membuat apa sahaja sekiranya ia tidak termaktub dalam dasar dan polisi kerajaan. Siapa kita untuk melarang daripada memakai seksi, tidak bersentuhan dengan golongan bukan muhrim dan bekerja mengikut waktu yang ditetapkan? Semua ini tiada dalam dasar. Jadi, sebab itulah saya berpendapat, perkara ini akan berubah hanya dengan kuasa Menteri dengan menggubal semula dasar dan polisi.



Adakah perkara ini berjaya dilaksanakan jika mendapat respons daripada Menteri?

Kenapa tidak? Menteri mempunyai kuasa untuk mengubah dasar. Hanya menteri menerusi kementeriannya sahaja yang boleh mengubah perkara ini. Namun, saya sendiri tidak pasti bagaimana bentuk pelaksanaan itu kerana sejak kementerian dipecahkan kepada tiga bahagian, ia semakin merumitkan keadaan. Saya sendiri tidak pasti untuk berhubung dengan kementerian mana sekiranya ada perkara yang ingin diusulkan. Ia semakin rumit.



Kesimpulannya, apa yang anda harapkan daripada menteri dan juga kementerian?

Sebagai menteri yang diberi mandat untuk membawa industri ke tahap yang lebih membanggakan, beliau haruslah memberi khidmat yang terbaik. Selain memantau perjalanan industri, beliau juga harus turun padang untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kehidupan anak seni. Bukan itu sahaja, malah dengan cara itu, beliau akan tahu permasalahan anak seni dari akar umbi. Perlu diingatkan, sekiranya menteri dan kementerian gagal dalam memberi yang terbaik dalam membela nasib rakat, kemungkinan besar, mereka tidak akan diberi kepercayaan untuk mentadbir pada masa yang akan datang. Itulah antara salah satu sebab mengapa artis lebih ramai bertindak menyokong puak pembangkang. Sebagai pucuk pimpinan anak seni, saya menyedari permasalahan mereka dan berharap agar pihak yang berkenaan tidak terlepas pandang mengenai perkara ini.



 


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26071/27/11/2012/kuatkan-solidaritas-dengan-kedermawanan.html


Zed Zaidi: 'Itu kerja Pak Menteri'

Thursday, March 14, 2013

Icuk sugiharto Kapok Jadi Caleg

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA– Batas waktu pengajuan daftar calon sementara (DCS) anggota legislatif 9 April 2013 tinggal tiga pekan lagi.

Fenomena yang tampak saat ini, semua partai, termasuk partai besar memburu artis sebagai vote getter menghadapi Pemilu 2014.

Namun tidak semua artis rupanya tertarik menjadi calon legislatif (caleg). Mantan pebulutangkis Icuk Sugiarto misalnya, merasa kapok menjadi caleg.

Saat sejumlah artis, dan olahragawan top berbondong-bondong masuk partai dan berusaha menjadi calon legislatif, legendaris bulutangkis nasional, Icuk Sugiarto malah tidak tertarik untuk menjadi calon legislatif (caleg).

“Saat ini saya sudah tidak tertarik duduk di lembaga legislatif, meski saya sudah setahun masuk partai politik. Jika para atlet dan artis ingin sejahtera dari menjadi anggota legislatif, itu salah,” ujar Icuk Sugiarto kepada Warta Kota (Tribunnews.com Network), Rabu (13/3/2013).

Pada Pemilu 2009, Icuk merupakan Caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari Kota Solo. Ia bertarung dari daerah pemilihan (Dapil) V Jawa Tengah.

Menurut Icuk anggota legislatif harus benar-benar bekerja untuk rakyat dan jangan hanya mementingkan urusan pribadi. Mereka yang menjadi anggota legislatif memang harus sudah benar-benar mapan dan sudah tidak lagi mementingkan materi sehingga fokusnya benar-benar untuk kemajuan rakyat.

“Kalau menurut saya menjadi anggota legislatif itu harus mau bekerja sosial, tidak mementingkan materi. Mereka yang bekerja di sana itu benar-benar mengawal kondisi yang terjadi di masyarakat tidak hanya duduk manis,” kata Icuk, politisi PPP.

“Jangan orang yang pas-pasan dari segi materi dan ingin mencari nafkah di sana. Nanti akhirnya yang akan terjadi sepeti sekarang ini kerja tidak maksimal dan hanya menginginkan gaji atau malah melakukan ada yang melakukan tindakan korupsi,” ujar Icuk yang saat ini masih menjadi Ketua Harian DPP Bidang Pemuda Olahraga dan Mahasiswa Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Artis masih memiliki magnet dan daya tawar cukup kuat di mata pemilih. Sehingga wajar disunting partai politik dalam pemilu legislatif mendatang, tak terkecuali Partai Kebangkitan Bangsa. Meski begitu PKB mematok standar bagi artis.

Wakil Sekretaris Jenderal PKB Abdul Malik Haramain mengakui partainya juga menggandeng artis. Mereka berpotensi besar sebagai pengumpul massa demi kemenangan PKB dalam pemilu mendatang yang bakal ketat ini.

“Kami tidak munafik bahwa salah satu kriteria artis masuk karena popularitas. Intinya kita tidak ingin punya artis yang jadi anggota DPR, tapi enggak bisa apa-apa,” ujar Malik usai diskusi menyoal RUU Pemilu bersama Perludem di Bakoel Koffie, Jakarta Pusat, Rabu.

Standar yang diterapkan PKB, lanjut Malik, untuk membuang malu terhadap imej selama ini bahwa artis yang duduk di DPR RI hanya menjual popularitas tapi tak bisa memberikan kontribusi apa-apa. Karenanya, kendati artis, mereka juga ditanya kemampuan dan pengetahuan politiknya.

“Parpol juga mestinya malu sehingga kita tetap selektif (untuk artis). Dan itu harus dijaga. Di PKB caleg DCT (daftar calon tetap) itu biasanya kita panggil. Mereka dikasih pelatihan dan capacity building. Setelah jadi baru kita undang lagi untuk persiapan masuk Senayan,” paparnya.

Undangan bagi mereka yang disiapkan untuk ke Senayan, lanjut mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), ini untuk dilatih bagaimana menghadapi publik, termasuk mengajarkan bagaimana menyampaikan gagasan, cara berbicara, hingga muatan pembicaraannya. Ini karena para artis datang atas inisiatif sendiri.

Partai Hanura membantah sejumlah artis papan atas yang bergabung ke partainya akan menjadi bakal calon anggota DPR atau legislatif (caleg). Sejauh ini mereka hanya sebagai kader Partai Hanura.

“Ada yang salah persepsi di publik, seolah-olah yang bergabung ke partai seolah jadi caleg. Bergabungnya artis ke Hanura, karena mereka melihat Partai Hanura bisa menjadi tempat pengembangan seni dan karya mereka, partai bisa menjadi tempat yang nyaman bagi mereka,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPPPartai Hanura, Yuddy Chrisnandi, kepada TRIBUNnews.com.

Yuddy mengakui ada sejumlah artis yang sudah bergabung ke Partai Hanura seperti Meriam Bellina, Krisdayanti, Renny Djayusman, Olla Ramlan, dan Iis Sugiyanto. Namun mereka justru menyatakan tidak ingin mendaftar menjadi caleg.

Menurutnya, artis bergabung ke Partai Hanura tidak harus menjadi caleg. “Mereka di Hanura hanya ingin aktif lewat karya seninya dan membangun bangsa. Beda dengan partai lain, yah saya sebut saja seperti PAN yang memang merekrut caleg dari artis,” terangnya.

“Sampai saat ini, belum ada satu pun dari mereka (kader dari artis) yang daftar caleg,” tandasnya.

Meski begitu, Yuddy mengungkapkan, sejumlah artis papan atas bersedia bergabung ke Partai Hanura melalui kerja jaringan. “Partai kan ada jaringan dan saling mengajak. Tapi, di Hanura tidak perlu sampai diimingi-imingi dia akan jadi caleg,” kata dia. (tribunnews/mtp/coz/fer/yat)

Article source: http://news.okezone.com/read/2012/11/28/59/724277/ibadah-haji-itu-unik-penuh-misteri


Icuk sugiharto Kapok Jadi Caleg

Sunday, March 17, 2013

Australia Makin Serius Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Diplomat
Australia Makin Serius
Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Senin, 18 Maret 2013

Australia kini semakin serius mempererat hubungan dengan Indonesia. Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, mengungkapkan yang dia hubungi pertama lewat telepon setelah ditunjuk sebagai Menlu baru Australia adalah Menlu RI, Marty Natalegawa. Carr menilai Indonesia adalah tetangga utama dan mitra terpenting bagi Australia.

Menlu Carr menilai hubungan kedua negara kini mencapai titik tertinggi. Jumlah kunjungan antarmenteri dalam 5 tahun terakhir lebih dari 120 kali. Ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia telah membangun kebiasaan berkonsultasi satu sama lain. Kebiasaan berkonsultasi ini untuk membahas tantangan-tantangan yang sedang dihadapi sehingga ini merupakan tugas yang tidak pernah selesai. Australia tahun ini berkomitmen menambah program visa kerja khusus untuk turis (working holiday visa) dari 100 menjadi 1.000 orang setiap tahun. Ini tentunya program yang bagus untuk memperbanyak warga Australia yang berlibur sambil bekerja di Indonesia. Begitu juga makin banyak warga Indonesia yang memperoleh pengalaman bekerja sambil berlibur di Australia. “Kami juga mempersiapkan program saling kunjung di bidang seni, budaya, sains, dan teknologi kedua negara pada 2014. Di Australia, Kota Perth disiapkan menjadi lokasi pertama program pelatihan kejuruan untuk peserta dari Indonesia,” kata Carr sambil menambahkan pihaknya juga terus melibatkan lebih banyak lagi peserta program pertukaran sekolah lanjutan. Dia mengungkapkan program pertukaran kunjungan sekolah bernama BRIDGE. Dalam kunjungan proyek BRIDGE di Bali November 2012, Carr mengaku terkesan atas interaksi Sekolah Kristen Tasmania dengan Sekolah Islam setempat dengan saling mengenalkan bahasa dan budaya masing-masing. Kedua negara pun sedang mempersiapkan Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif (yang ditargetkan bisa selesai pada 2014). Dengan demikian kedua negara berupaya untuk menambah lagi fundamental hubungan bilateral. Carr memastikan Pemerintah Australia punya komitmen besar untuk turut membangun Indonesia. Pemerintah federal menganggarkan 1 miliar dolar untuk memenuhi komitmen itu. Lalu kini mulai rutin digelar dialog yang mempertemukan kalangan pebisnis, cendekiawan, tokoh masyarakat, dan media dari Indonesia dan Australia. Kini ada sekitar 50.000 warga Indonesia di Australia menurut data per 2011 dan sebanyak 18.000 dari mereka adalah pelajar. Mereka adalah para duta besar yang berperan bagi Indonesia dalam budaya dan bahasa. Program pertukaran pelajar dari kedua negara pun berjalan lancar. “Ada perbedaan besar dari skema yang terdahulu dengan yang diterapkan pemerintah saat ini. Dulu, melalui The Old Colombo Plan, ditawarkan 570 tempat untuk belajar di Australia per tahun. Namun pada skema saat ini, yang kami sebut sebagai The Australia Awards, menawarkan 5.000 tempat untuk belajar di Australia setiap tahun. Jumlah itu 10 kali lipat lebih besar dari skema Colombo Plan,” katanya. Bagi Carr kebijakan-kebijakan kompleks yang menjadi tantangan bagi kedua negara, berkisar pada penyelundupan manusia, kontra terorisme, perubahan iklim, perlindungan maritim, dan dialog antarkeyakinan. Indonesia selama ini dijadikan sebagai tempat singgah orang-orang yang ingin masuk ke Australia secara tidak sah. Maka kedua pemerintah berkesempatan bekerja sama untuk menanggulanginya. “Kedua negara sama-sama punya kepentingan untuk memperbaiki masalah itu pada asalnya dan saya pikir kami bisa melakukannya. Itulah sebabnya kami terus-menerus membicarakannya dengan Indonesia untuk mencari solusi yang ampuh melalui mekanisme yang disebut Bali Process,” tambah dia. Beberapa pekan lalu, 23 warga Indonesia berencana untuk menggugat pemerintah Australia setelah karena ditahan di penjara dewasa padahal masih berstatus anak-anak dalam kasus penyelundupan manusia. (*/Kardeni)

Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/04/25/125382/Jawara-Pembunuh-Mahasiswi-Diburu-


Australia Makin Serius Mempererat Hubungan dengan Indonesia

Thursday, April 18, 2013

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Home Sejarah



Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)





 

ilustrasi: Perang Salib



 




Kamis, 18 April 2013




/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin-top:0in;

mso-para-margin-right:0in;

mso-para-margin-bottom:10.0pt;

mso-para-margin-left:0in;

line-height:115%;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;

mso-bidi-font-family:Arial;

mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


Oleh: Alwi Alatas


SEBAGAIMANA pernah dijelaskan dalam beberapa rtikel sebelumnya, kaum Muslimin mengalami kekalahan yang menyakitkan pada masa Perang Salib I (1096-1099). Salah satu penyebab utamanya adalah karena perpecahan di dalam tubuh kaum Muslimin. Perpecahan itu terjadi di banyak lini. Para ulama berpecah belah disebabkan perbedaan mazhab, sebagaimana diterangkan secara detail dalam buku Misteri Masa Kelam Umat Islam. Para penguasa pun berpecah belah hebat. Para emir berusaha mempertahankan kekuasaan masing-masing dan merasa enggan untuk menyatukan langkah dalam membangun peradaban dan melayani masyarakat. Dalam situasi seperti inilah Pasukan Salib datang ke Suriah dan Palestina dan menaklukkan sebagian wilayah itu, termasuk al-Quds.


Setelah Pasukan Salib berhasil menguasai al-Quds dan beberapa wilayah Muslim lainnya, para pemimpin Muslim di wilayah itu masih tetap bermusuhan satu sama lain. Bahkan ada di antara mereka yang bekerja sama dengan orang-orang Frank (Pasukan Salib) dalam menghadapi saudara Muslimnya. Sementara pada saat yang sama, orang-orang Frank cenderung bersatu, terutama saat berhadapan dengan kekuatan Islam. Hal ini menyebabkan orang-orang Frank itu berhasil menguasai sebagian wilayah Suriah-Palestina untuk waktu yang cukup lama.


Angin Perubahan


Keadaan ini mulai berubah pada saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada masa ini, kaum Muslimin mulai berusaha menyatukan langkah mereka dan bekerja sama, sementara kekuatan salib justru mulai mengalami perpecahan. Rupanya para ulama dan pemimpin Islam di wilayah ini pada akhirnya mampu merespons tantangan yang mereka hadapi dengan baik. Dan ketika kaum Muslimin mulai menyatukan shaf, Allah menjadikan keadaan musuh justru berkebalikan dari itu. Situasi ini kemudian membawa kaum Muslimin pada kemenangan-kemenangan yang besar dalam menghadapi kekuatan salib, sehingga mereka berhasil membebaskan al-Quds 40 tahun kemudian.


Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kota Edessa (al-Ruha) ke tangan kaum Muslimin pada tahun 1144. Ketika itu yang memimpin penaklukkan Edessa adalah Imaduddin Zanki (1085-1146), pemimpin terkuat di Suriah ketika itu. Imaduddin Zanki mati terbunuh 2 tahun kemudian. Posisinya di Suriah digantikan oleh anaknya, Nuruddin Mahmud bin Zanki (1118-1174), seorang sultan yang soleh yang nantinya memberi perubahan besar di Suriah dan sekitarnya.


Jatuhnya Edessa menimbulkan kemarahan Eropa. Paus kemudian menyerukan dilakukannya Perang Salib II. Maka digalanglah kekuatan dan dihimpunlah pasukan dalam jumlah besar untuk berangkat ke Suriah dalam rangka membalas kekalahan di Edessa. Pasukan Salib II lebih banyak dan lebih hebat dibandingkan pasukan pada Perang Salib I. Pada Perang Salib I tidak ada raja yang menyertainya, hanya ada pangeran. Namun pada Perang Salib II ada dua raja yang memimpin pasukan, yaitu Raja Conrad III (1093-1152) dari Jerman dan Raja Louis VII (1120-1180) dari Perancis. Walaupun pasukan yang berangkat ini lebih dahsyat, tapi situasi yang mereka hadapi tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya.


Dalam Perang Salib II ini Pasukan Salib mengalami beberapa perpecahan. Perpecahan itu tidak dalam bentuk konflik terbuka, tetapi dampaknya sangat serius.


Berikut ini perpecahan-perpecahan yang terjadi di kubu Pasukan Salib.


1. Perpecahan orang-orang Frank dengan Byzantium



Pada Perang Salib I, orang-orang Frank (Eropa Barat) bekerja sama dengan Byzantium (Eropa Timur) dalam serangan ke wilayah Muslim. Di antara kedua pihak ini memang menyimpan perasaan saling tidak suka antara lain karena perbedaan keyakinan di antara mereka, yang satu Katholik dan yang lainnya Kristen Orthodoks. Namun, mereka berusaha menjaga hubungan demi menghadapi musuh yang sama, yaitu kaum Muslimin. Pada Perang Salib I, pihak Byzantium-lah yang mengundang orang-orang Frank untuk membantu mereka masuk ke Asia Minor (kini Turki) dan Suriah. Namun, pada akhirnya ketegangan di antara kedua belah pihak ini semakin sulit untuk didamaikan, terutama pada masa-masa selepas Perang Salib I.


Pada Perang Salib II, Kaisar Byzantium sama sekali tidak mengharapkan datangnya gelombang Pasukan Salib yang baru. Ia belajar dari pengalaman kaisar sebelumnya bahwa kehadiran orang-orang Frank di Suriah-Palestina hanya menimbulkan masalah baru bagi mereka.


Byzantium memang membantu menyeberangkan orang-orang Frank pada Perang Salib II dari Konstantinopel ke wilayah Asia Minor. Namun, belakangan diduga Kaisar Byzantium secara diam-diam telah memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di Asia Minor tentang perjalanan Pasukan Salib ini. Keadaan berikutnya memang sangat tidak menguntungkan bagi Pasukan Salib. Mereka menjadi bulan-bulanan pasukan Turki Saljuk, sehingga pada saat mereka berhasil tiba di Antioch (Antakya) yang terletak di perbatasan Suriah dan Asia Minor, jumlah pasukan mereka sudah menyusut jauh.


2. Perpecahan orang-orang Frank di Utara (Antioch-Edessa) dan Selatan (Palestina)



Pada masa Perang Salib II ini juga mulai terjadi perpecahan di antara para pemimpin Frank yang berada di Utara dan Selatan Kerajaan Latin, kerajaan yang mereka tubuhkan setelah penaklukkan al-Quds. Para pemimpin Frank di Utara, dalam hal ini Antioch dan sisa-sisa wilayah Edessa, ingin agar Pasukan Salib yang baru datang ke Suriah membantu mereka merebut kembali Edessa dan menghadapi pasukan Nuruddin Zanki yang merupakan kekuatan Muslim paling menonjol di Suriah. Namun, para pemimpin Frank di Selatan justru berkeinginan untuk menaklukkan Damaskus. Itulah sebabnya, ketika akhirnya sikap terakhir inilah yang diambil, para pemimpin Frank di Utara tidak mau ikut berpartisipasi.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib


 


Red: Cholis Akbar


Article source: http://bandung.detik.com/read/2013/01/05/190200/2134118/486/reni-tewas-terlindas-truk-akibat-nekat-masuk-jalur-cepat


Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Friday, January 25, 2013

Perampok Bank Muamalat Menangis di Tahanan

JAKARTA, KOMPAS.com – Rahmat (46), tersangka tunggal perampokan Bank Muamalat yang terletak di dalam kawasan Yayasan Pendidikan Jenderal Sudirman, Jalan Pendidikan, Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur, menangis di dalam tahanan. Rahmat meminta maaf kepada mantan atasannya atas aksi nekatnya tersebut.

“Pak Budi, saya minta maaf pak, sungguh, saya minta maaf. Kepala saya isinya setan semua pak, setan semua,” teriaknya sambil menangis di ruang tahanan Polsek Pasar Rebo saat dihampiri oleh salah seorang mantan atasannya di Bank Muamalat, Jumat (25/1/2013) sore.

Warga RT 05 RW 03, Paseban, Senen, Jakarta Pusat tersebut mengaku motif perampokan itu dilakukan tak hanya karena sakit hati terhadap sistem di perusahaan tersebut, namun tersangka juga membutuhkan biaya sehari-hari dua anak yang baru berumur 13 dan 16 serta seorang istri. Pasalnya sudah tujuh tahun tersangka nganggur.

“Saya butuh uang buat biaya hidup. Saya kan nganggur sudah lima tahun lebih. Anak-anak saya butuh makan dan sekolah,” lanjutnya.

“Tapi kamu pakai pisau, pakai ngancam teller, itu sudah keterlaluan Mat. Ya sudah, sekarang jangan pikir kami gimana-gimana lagi, kamu harus terima akibatnya,” jawab mantan atasannya.

Latar belakang tersangka, diketahui mantan karyawan Bank Muamalat yang saat itu berposisi sebagai pengawas operasional bank. Tersangka bekerja di Bank Muamalat di Jakarta Selatan sejak 2005 hingga pada akhirnya kontraknya tidak lagi diperpanjang pada tahun 2010 lalu, karena surat permohonan pemindahan tersangka tidak dikabulkan oleh pihak perusahaan.

Kepala Kepolisian Sektor Pasar Rebo, Kompol L. Sutardi menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka bekerja seorang diri. Dari kronologi kejadian yang dihimpun dari saksi dan korban, tersangka pun diperkirakan amatiran. Hal tersebut dapat dilihat dari cara tersangka dalam menjalankan aksi perampokannya dengan cara konvensional yakni menodong kasir dengan pisau.

Meski demikian, Sutardi tetap akan melakukan pengembangan atas kasus perampokan nekat tersebut. Polisi tetap akan menyelidiki apakah ada kemungkinan bahwa benar tersangka bekerja seorang diri atau masih terdapat tersangka lain.

“Pengembangan tetap akan kita lakukan, apakah ada dugaan tersangka lain atau tidak. Tapi hingga saat ini, aksi perampokan ini dilakukan tersangka tunggal,” lanjut Sutardi.

Aksi perampokan tersebut dilakukan Rahmat, Jumat sekitar pukul 12.30 WIB, saat umat Islam tengah menunaikan ibadah shalat Jumat. Dengan berlagak sebagai karyawan bank, Rahmat yang mengenakan seragam Bank Muamalat masuk ke dalam bank berpura-pura mengantarkan berkas.

Namun, setelah sampai di meja kasir, tersangka mengeluarkan sebilah pisau serta mengancam 4 orang karyawan bank agar tidak berteriak. Ia pun mengikat empat karyawan itu dengan tali serta menutup matanya dengan lakban hitam serta mengambil uang Rp 55.390.000 di atas meja.

Beruntung, saat tersangka hendak melarikan diri menggunakan motor, salah satu dari empat karyawan berhasil melepaskan diri. Ia berteriak minta tolong bahwa bank itu usai dirampok. Tiga orang, yakni sekuriti, sopir serta anggota TNI AD yang mendengar teriakan korban sekaligus melihat tersangka kabur langsung menghalaunya. Tersangka pun diserahkan ke kepolisian bersama dengan uang hasil rampasan dan barang bukti.

“Tersangka akan kita hukum berat, Pasal 365 KUHP tentang Pencurian disertai Kekerasan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara,” ujar Sutardi.






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26848/19/01/2013/suripto:-waspadai-agenda-tersembunyi-dibalik-isu-suriah-dan-sampang.html


Perampok Bank Muamalat Menangis di Tahanan

Sunday, March 17, 2013

Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas

Ulet dan pantang menyerah. Itulah Maman Abdurrahman. Pengusaha muda asal Desa Mukok, Sanggau, Kalbar ini sukses mengembangkan usahanya di bidang perminyakan dan gas (migas). Bahkan perusahaan yang dipegangnya, Starborn Chemical, berkembang pesat menyaingi perusahaan asing yang juga bidang perminyakan.

Pria berpostur besar tinggi ini benar-benar tidak membayangi kalau dirinya akan terjun di dunia usaha. Apalagi di bidang perminyakan. Pada tahun 1998, Maman pergi ke Jakarta, niatnya ingin mendaftar menjadi polisi. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 3 Pontianak, Maman tidak bisa ikut bersaing menjadi polisi, karena umurnya yang masih terlalu muda (belum 17 tahun), hingga tidak memenuhi syarat. Jadi, mesti menunggu setahun lagi agar syarat mendaftar polisi terpenuhi.

Daripada menganggur, pria kelahiran Desa Semuntai, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau ini memilih untuk kuliah di Universitas Trisakti Jakarta. Maman lulus di Fakultas Teknik Jurusan Perminyakan. Selama setahun bergelut di dunia kampus, Maman aktif di dunia pergerakan dan organisasi kemahasiswaan. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketika itu sedang bergejolak pergerakan mahasiswa untuk mewujudkan reformasi pemerintahan.

Pria kelahiran 1980 ini mengaku bingung. Dia yang lebih banyak menghabiskan waktu kecilnya di Semuntai, Sanggau serta Sekadau dan menyelesaikan sekolahnya di Kota Pontianak, harus ikut berdemonstrasi mewujudkan reformasi di Semanggi I dan Semanggi II serta di kampusnya Trisakti, dengan konstalasi perpolitikan nasional yang mencekam. Merasa asyik menuntut ilmu perminyakan dan aktif di dunia pergerakan, sirna sudah keinginan Maman untuk menjadi polisi.

“Saya selalu ingat dengan pesan guru saya di SMA Negeri 3 dulu. Selagi ada niat baik dan usaha, tidak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa kita lakukan, tentunya juga harus ditunjang dengan kemampuan atau ilmu yang kita miliki,” ungkap Maman.

Maman fokus menyelesaikan kuliahnya tanpa harus menghilangkan keikutsertaannya di dunia pergerakan. Maman mengubah mimpinya menjadi akademisi atau teknokrat di bidang perminyakan dan menempa pola pikirnya dengan pemikiran HMI. Dua perspektif atau pola pikir tergabung dalam dirinya, yakni pemikiran di bidang perminyakan dan pergerakan HMI.

Sakitnya menjalani hidup yang berjauhan dengan keluarga tidak mematahkan semangat pemuda desa ini untuk menuntut ilmu dan berkiprah di Jakarta. Kebetulan jurusan perminyakan ini dibangun dengan pola militer. Solidaritas benar-benar ditekankan di kampusnya itu. Persaudaraan sesama mahasiswa jurusan perminyakan benar-benar terjaga. Saling bantu sesama mahasiswa, khususnya mereka yang datang dari daerah. Meskipun harus merogoh kocek mengumpul uang receh untuk makan, namun tetap saling berbagi dengan kawan-kawannya yang lain, baik dari Papua, Kaltim, Aceh, maupun provinsi lainnya.

Mereka yang kuliah di Universitas Trisakti sekitar 30 ribu mahasiswa dari semua fakultas. Rata-rata mereka orang-orang berduit. Hampir semua yang kuliah di situ anak pejabat di republik ini. Ada anak gubernur, bupati, maupun pejabat TNI serta Polri bahkan anak menteri. Banyak didominasi anak-anak Jakarta. “Kita ini anak-anak daerah relatif termaginalkan di Trisakti. Namun kita tetap optimis, anak-anak daerah juga mampu seperti anak-anak di Jakarta,” jelas Maman.

Pada tahun 2004, mungkin karena jalan Allah juga, Maman diberikan kepercayaan oleh kawan-kawannya menjadi Presiden Mahasiswa Trisakti. Dari sinilah awal kariernya berorganisasi untuk masuk ke panggung yang lebih besar di dunia kemahasiswaan.

Hebatnya, ternyata pemuda Mukok ini menjadi Presiden Trisakti pertama dari daerah. Selama ini selalu dijabat anak-anak Jakarta yang berbasiskan militer. Ini menjadi sebuah motivasi baginya, bahwa anak daerah juga mampu. “Kita dari daerah jangan berkecil hati. Kita juga memiliki peran tersendiri di mana pun kita berada,” paparnya.

Pascakuliah, Maman mengambil jalan yang berbeda dari kawan-kawan aktivisnya. Mereka lebih banyak memilih jalur politis dengan bergabung di partai poltik (parpol). Sedangkan Maman mengembangkan keilmuannya di bidang perminyakan.

Maman menjadi engineer atau tenaga profesional di perusahaan Premier Oil, salah satu perusahaan perminyakan asing dari Inggris. Dari sinilah dia banyak mendapatkan pengalaman tentang industri perminyakan di beberapa negara. Karena Premier Oil, aset usahanya bukan hanya ada di Indonesia tetapi juga negara lain, seperti Filipina, Thailand, dan India, serta London sebagai kantor pusatnya.

Bagi Maman, perspektif global dari sektor ekonomi di Indonesia tidak bisa lepas dari situasi internasional. Namun bukan berarti harus menghamba pada globalisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan globalisasi ini untuk kepentingan bangsa.

“Itu yang saya dapatkan dari pengalaman bekerja di perusahaan asing. Kultur profesionalisme dan good governance itu juga diterapkan di negara asing. Ini menurut saya harus dibawa untuk mengembangkan kampung halaman kita dan bangsa kita. Saya bekerja di perusahaan Premier Oil hampir tujuh tahun. Saya sempat disekolahkan di Australia selama enam bulan untuk mengembangkan industri perminyakan,” jelasnya.

Pada tahun 2010, Maman bersama rekan bisnisnya mengembangkan perusahaan perminyakan, Starborn Chemical PT Luas Birus Utama. Pada dasarnya perusahaan yang dikembangkannya bukanlah perusahaan baru, melainkan perusahaan lama yang sudah berdiri sejak tahun 1993 silam. Maman bersama mitra kerjanya mengambil alih perusahaan itu dan memperbaiki manajemennya.

Starborn Chemical yang berkantor di Jalan Industri Selatan IV, Kawasan Industri Jababeka 2 Cikarang, Bekasi ini murni 100 persen perusahaan lokal. Perusahaan ini bergerak di bidang penyedia jasa dan kebutuhan bahan-bahan kimia di industri perminyakan. Maman dan rekan-rekannya membuat beberapa produk untuk kebutuhan fasilitas produksi di perusahaan minyak dan gas (migas). Salah satu contoh, membuat produk kimia, agar tidak terjadi karatan pada pipa minyak. Starborn Chemical juga membuat bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produksi minyak.

“Kita coba kembangkan teknologi kimia dengan teknologi perminyakan. Kita juga buat produk bahan-bahan kimia untuk kebutuhan grilling di wilayah pengeboran,” ungkap Maman.

Banyak juga suka duka dalam mengembangkan Starborn Chemical. Maman harus turun ke hutan menuju lokasi pengeboran. Harus jual mobil untuk modal pengeluaran kantor setiap bulannya. Kini Starborn Chemical sudah bisa bersaing dengan perusahaan asing di dunia migas. Pengalaman Maman di Premier Oil diterapkan di perusahaannya sekarang. “Alhamdulillah bagus. Dulu perusahaan ini kolaps, sekarang bisa berkembang lagi. Sebelumnya karyawan kita sekitar 20 orang dan sekarang sudah hampir 50 orang. Kita sekarang juga lagi kerja di lokasi pengeboran minyak. Hampir beberapa perusahaan minyak di Indonesia, kita ikut andil untuk mengerjakannya. Sekarang kita juga lagi ekspan di Petronas—Malaysia dan Slumber Zee—Thailand. Total aset Starborn Chemical sudah mencapai 3 Juta US Dollar dengan revenue per tahun 8-10 juta US Dollar,” kata Maman.

Pria yang tak menyangka bisa mencari nafkah dan sukses berkarier di ibu kota negara ini juga melepaskan masa lajangnya di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Maman si anak Mukok mempersunting Agustina Hastarini yang akrab disapa Tina Astari, artis sinetron yang wajahnya sudah tidak asing lagi di layar kaca. Setelah menikah dengan Maman, Tina tidak lagi berakting. Wanita berwajah cantik itu ingin fokus melayani suaminya dan mengasuh si buah hatinya Merpati Cattleya Zarita Rahman.

Maman yang lama bekerja di perusahaan asing memberikan pandangan, globalisasi jangan dilihat sebagai bentuk penjajahan di Indonesia. Masyarakat harus mengubah pola pikirnya, bahwa globalisasi itu juga sebagai alat untuk pengusaha lokal ekspansi ke negara lain. Jangan dibalik. Menganggap globalisasi sebagai sebuah sistem atau kesepakatan global, untuk menjajah Indonesia. “Bagi saya itu sebuah pemikiran yang pesimis. Kita harus berpikiran optimis, menjadikan sistem global ini untuk keuntungan kita,” katanya.

Ada tiga perusahaan besar dunia yang menjadi pemain besar di bidang kimia perminyakan. Sementara perusahaan lokal Indonesia hanya Starborn Chemical. Namun Starborn Chemical ini bisa bersaing dengan pemain internasional. Bahkan saat ini Starborn Chemical akan menembus pasar Malaysia dan Thailand.

“Tergantung niat kita mau atau tidak dan kita yakin atau tidak. Kalau kita tidak yakin, maka sulit juga mewujudkan apa yang diinginkan. Kemudian ambisi. Tapi tetap dengan dasar profesionalisme dan transparansi sistem keuangan di perusahaan. Dasar kualitas dan kompetensi juga harus digunakan. Dulu banyak yang mengatakan bahwa perusahaan lokal sulit bersaing di dunia migas, buktinya kita juga mampu bersaing. Kita mampu membuktikan perusahaan lokal yang tidak ada tenaga asingnya sanggup membuktikan di mata internasional dan dunia migas,” ungkap Maman.

Merasa dapurnya sudah mengepul dengan baik, Maman kembali lagi kepada aktivitasnya di organisasi. Kini Maman bergabung ke organisasi kepemudaan di Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan menjadi pengurus dewan perwakilan pusat Partai Golkar.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Selagi kita punya niat baik dan keyakinan, saya yakin putra Kalbar juga mampu memimpin bangsa ini baik di dunia ekonomi maupun politik,” ujar Maman. (hamka saptono)

Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=57178


Aktivis yang Sukses Kelola Perusahaan Migas