Showing posts sorted by relevance for query Kelapa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Kelapa. Sort by date Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

17 Ribu Warga Jadi Mualaf di Sunda Kelapa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta memiliki program sertifikasi untuk mualaf sejak tahun 1983. Hingga Ramadhan tahun ini, terdapat sekitar 17 ribu warga yang masuk Islam melalui masjid yang berada di pusat kota ini.


“Alhamdulillah, alhamdulillah. Sudah 5 orang yang masuk Islam di bulan Ramadhan ini,”ujar Anwar Sujana, Kepala Bagian Pembinaan Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa saat ditemui RoL dikantornya, Jakarta, Rabu (17/7).


Awalnya, Masjid Agung Sunda Kelapa hanya mengislamkan orang yang ingin masuk Islam saja. Mereka datang, lalu dibimbing untuk membaca kalimat syahadat setelah itu mereka dapat sertifikat lalu selesai. Namun, hal itu di anggap kurang efektif dan pada tahun 2003 di mulailah pembinaan terhadap mualaf.


Ada beberapa materi-materi yang harus diberikan kepada mualaf, yaitu Studi Dasar Islam yang menjelaskan Islam secara global yang menyangkut aqidah, syariat, ibadah, rukun iman, rukun Islam beserta resiko-resikonya. 


Lalu materi selanjutnya adalah Aqidah Ahlak yang mengajarkan tentang keimanan kepada Allah, Malaikat, Alkitab, Rasul, hari Kiamat juga Qada dan Qadar. Materi tersebut di jelaskan lebih dalam dan terperinci.


Berikutnya, materi Pengenalan Alquran. Materi ini membahas tentang isi kandungan, proses turunnya Alquran, juga bagaimana cara  memahami dan meyakini Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Tidak lupa sikap dan etika-etika  terhadap Alquran. 


Kemudian pembinaan ini  memiliki materi Fiqih Ibadah yang mengajarkan para mualaf tentang praktik tata cara shalat seperti berwudhu, rukun shalat dan semua hal yang menyangkut soal ibadah. 


Anwar juga memberitahukan, ada 2 materi baru di pembinaan mualaf ini, yaitu Kristologi yang memberikan pemahaman tentang kitab Injil yang harus di luruskan. Kedua, adalah Fiqih Wanita yang di adakan setiap rabu pagi dan di ajarkan oleh Ustazah.


Fiqih Wanita ini di ajarkan khusus untuk para mualaf  wanita untuk membahas tentang mensturasi dan masalah kewanitaan.


Dari Senin sampai Jumat, Masjid Agung Sunda Kelapa  membuka pembinaan mulai pukul 8 pagi hingga jam 5 sore. Akan ada Ustaz yang selalu siap memberikan materi bagi para mualaf yang ingin melakukan pembinaan.


Khusus di bulan Ramadhan, pada Sabtu dan Ahad, pembinaan akan di mulai setelah Zuhur hingga buka puasa bersama. Sudah dua kali bulan puasa,  Masjid  mengadakan malam Nuzulul Quran dan Iktikaf bersama para mualaf.


Banyaknya para mualaf yang hadir membuat kegiatan untuk mualaf pada Ramadhan ini akan digelar kembali dengan mendatangkan beberapa Ustaz.


Anwar mengaku terdapat kendala dalam membina para mualaf. Terutama, untuk mereka yang diusir dari keluarga.


Menurutnya, pihak masjid sulit untuk membantu menghadapi persoalan para mualaf tersebut. Sebenarnya Anwar menginginkan adanya rumah singgah bagi para mualaf, namun persoalan dana yang masih menjadi masalah.


Article source: http://www.merdeka.com/artis/titi-rajo-bintang-himbau-restoran-tak-sediakan-menu-sirip-hiu.html


17 Ribu Warga Jadi Mualaf di Sunda Kelapa

Friday, July 12, 2013

Kala Beragam Manusia Melebur



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





PELABUHAN Sunda Kelapa, yang sebelumnya selalu berada di bawah bayang-bayang Pelabuhan Banten, pada akhirnya menarik perhatian para saudagar asing di abad ke-16. Sunda Kelapa berkembang menjadi bandar di mana produk-produk berharga, seperti kemenyan, porselen, sutra, kayu gaharu, bulu cenderawasih, dan mutiara, diperdagangkan.

Sebagai rangsangan tambahan bagi pelaut-pelaut yang kelelahan dan kehausan, Sunda Kelapa menyediakan arak bermutu baik, air tebu sulingan, dan air tape yang dibuat pemukim Cina. Woodes Rodgers, kapten kapal galleon Spanyol yang berlabuh di Batavia tahun 1710, mencatat, ”Awak kapal kami saling berangkulan dan mengucapkan rasa syukur karena mereka tiba di tempat pesta minum-minum yang gembira sekali” (Willard A Hanna, 1988).


Seiring dengan perkembangan perdagangan, Sunda Kelapa dengan cepat menjadi daerah yang kosmopolitan. Kawasan itu menjadi lebih kosmopolitan lagi ketika Coen membangun Kota Benteng Batavia sebagai markas perdagangan VOC di Nusantara tahun 1619. Awalnya, ia merancang Batavia sebagai kota koloni bercorak Eropa yang dihuni orang-orang Eropa. Apa daya, ambisinya gagal total karena sedikit sekali orang Eropa yang bersedia datang ke Batavia. Adapun orang Eropa yang sudah ada di Batavia ia anggap ”sampah masyarakat”.


Ia pun sempat mendesak Heeren XVII, 17 direktur VOC yang bermarkas di Belanda, agar mengirim orang-orang terhormat, terutama para gadis. Namun, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan (S Blackburn, 2011).


Agar Batavia yang masih kosong melompong itu berpenghuni, Coen mendatangkan imigran Cina, Ambon, Filipina, dan Jepang. Orang Cina diharapkan menggerakkan perekonomian, sementara Ambon, Filipina, dan Jepang sebagai tenaga keamanan. Ia juga membawa masuk budak-budak dari Coromandel, Benggala, dan budak-budak dari seluruh wilayah Indonesia, seperti Bali, Makassar, Sumbawa, dan Timor, untuk dijadikan tenaga kerja. Ketika Batavia menjadi pelabuhan yang ramai, pedagang-pedagang dari Gujarat dan belakangan Hadramaut juga datang dan menetap di Batavia.


Begitulah sejak awal pendiriannya, penduduk di dalam Kota Benteng Batavia sudah sangat majemuk. Di daerah luar Kota Benteng (Ommenlanden), penduduk lebih majemuk lagi. Awalnya, Ommenlanden hanya dihuni sejumlah kecil penduduk. Seiring dengan perluasan daerah perkebunan VOC dan pedagang Cina ke daerah Ommenlanden, masuklah gelombang imigran bebas baik dari Cina, Jawa, dan Banten. Para mestizo (penduduk beragama Kristen hasil perkawinan orang Eropa dan Asia), mardijker (budak yang telah merdeka), para prajurit, dan mantan prajurit juga masuk ke Ommenlanden dan menetap di sana.


Ramco Raben mencatat, orang Eropa atau Indo- Eropa biasanya tinggal berkerumun di dekat pusat kota. Orang mardijker, komunitas Arab dan Cina mendominasi pinggiran sebelah timur, barat daya, dan barat Ommenlanden. Sebagian orang Cina juga tinggal dalam radius cukup jauh dari kota.


Secara umum, orang Jawa menempati daerah-daerah terjauh dari Ommenlanden, sedangkan orang Bali dan Bugis tidak memperlihatkan pola tinggal yang jelas (K Grijns, P JM Nas (ed), Jakarta Batavia, Esai Sosio-Kultural, 2007).


Belanda sebenarnya menerapkan kebijakan pemisahan (segregasi) permukiman penduduk berdasarkan latar belakangnya. Tujuannya agar penduduk yang beragam itu tidak akan menyatu. Kenyataannya, kebijakan itu tidak jalan di lapangan. Di dalam Kota Benteng, laki-laki Eropa melirik perempuan lokal akibat minimnya gadis-gadis Eropa di Batavia. Imigran awal Cina dan Hadramaut— terutama imigran generasi awal—juga kawin dengan perempuan lokal. Pangkal soalnya sama saja, yakni mereka tidak membawa perempuan dari negeri leluhur ke tanah rantau di Batavia.


Di wilayah Ommenlanden, kawin campur lebih luas lagi dan melibatkan lebih banyak etnis. Lewat perkawinan campur semacam inilah akulturasi budaya terjadi.


Peran perempuan, menurut Susan Blackburn, sangat penting dalam proses akulturasi tersebut. Selain lewat perkawinan, pertemuan budaya terjadi lewat hubungan antara budak dan tuan atau pelayan dan majikan di keluarga orang Eropa ataupun Cina. Betapa tidak, mereka memegang peranan kunci dalam mengurus rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak, hingga memasak. Dari mereka, orang-orang Eropa atau Indo-Eropa mengenal masakan Indonesia.



KOMPAS/LASTI KURNIA Rombongan turis mancanegara menggunakan sepeda sewaan berkeliling di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (30/3/2011). Wisata kota tua dengan mengunjungi situs bangunan tua dan lokasi bersejarah merupakan salah satu paket yang digemari turis mancanegara yang berkunjung ke Jakarta.

Gaya hidup keluarga-keluarga campuran semakin lama memang semakin mengindonesia pada abad ke-19. Orang Belanda yang kaya ataupun miskin mengenakan sarung, menikmati tidur siang setelah makan, dan doyan rijsttafel.

Sebagian dari perempuan indo yang pandai memasak menyebarkan makanan lokal bercita rasa barat atau sebaliknya lewat buku-buku. Buku-buku tersebut antara lain Boekoe Masakan Baroe yang ditulis Nyonya Johanna dan diterbitkan di Batavia tahun 1897 serta Kokki Bitja yang ditulis Nonna Cornelia dan cetakan kesembilannya diterbitkan tahun 1880 (Susan Blackburn, 2011).


Hal itu juga terjadi pada keluarga Cina Peranakan. Mereka kehilangan sebagian karakter asli pendahulunya. Sebagian memeluk agama Islam dan mengganti nama mereka dengan nama-nama Islam. Dengan demikian, mereka terserap ke dalam komunitas pribumi.


Orang-orang Bali yang lama tinggal di Batavia juga terserap ke dalam komunitas lokal. Jejak mereka sebagai orang Bali benar-benar hilang di Jakarta dan menjadi Betawi (Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, 2007).


Begitulah, beragam manusia dari berbagai latar belakang etnis dan ras melebur menjadi Betawi. Jejak mereka mewarnai produk-produk kebudayaan Betawi, mulai dari pakaian, musik, hingga makanan.


Namun, tidak semua pendatang asing mengalami proses peleburan yang sama. Ketika Terusan Suez dibuka tahun 1869, perempuan-perempuan Eropa dan Cina berdatangan ke Batavia dalam jumlah cukup banyak. Kedatangan perempuan Cina dan Eropa secara mendadak menghentikan kebiasaan kawin campur laki-laki Eropa dan Cina dengan perempuan lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17. Akibatnya, terbentuklah subkomunitas totok dalam komunitas-komunitas keturunan itu (Anthony Reid: Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2008). (Budi Suwarna/Iwan Santosa/Ahmad Arif)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>





































Article source: http://www.sinarharian.com.my/global/pelampau-yahudi-cemari-al-aqsa-1.181553


Kala Beragam Manusia Melebur

Wednesday, June 5, 2013

Menari bersama si Bambu Gila

Rabu, 5 Juni 2013 – 03:21 wib



Bambu gila (Foot: Wego)

Bambu gila (Foot: Wego)


Bambu Gila, Maluku


Mendengar nama ‘Bambu Gila’ mungkin pikiran Anda akan teralih kepada sebuah benda bernama bambu. Tidak sepenuhnya salah, karena tarian berasal dari Maluku ini juga menggunakan medium bambu.


Bambu Gila merupakansebuah tarian yang mengandung unsur mistis dan kemenyan. Sebanyak tujuh pria kuat bertarung melawan sebatang bambu dengan panjang sekira 2,5 meter dan berdiameter 8 cm. Ini merupakan pemandangan menarik, saat menyaksikannya Anda akan merasakan pengalaman supranatural yang mungkin jarang atau belum pernah Anda rasakan sebelumnya.


Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh (bambu) Gila atau Bara Suwen. Pertunjukan ini bisa ditemui di dua desa, yaitu Desa Liang, Kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di Provinsi Maluku Utara, atraksi ini dapat dijumpai di beberapa daerah di Kota Ternate dan sekitarnya.


Untuk memulai pertunjukan ini, sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian, asap kemenyan diembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe, maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu.


Fungsi kemenyan atau jahe untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.


Dalam berbagai atraksi yang melibatkan hawa mistis, manusialah yang dirasuki oleh roh mistis tetapi dalam tarian ini roh mistis yang dipanggil dialihkan ke dalam bambu. Ketika pawang membacakan mantra berulang-ulang, dia lantas berteriak “gila, gila, gila!”. Atraksi bambu gila pun dimulai. Alunan musik mulai dimainkan ketika tujuh pria yang memegang bambu mulai merasakan guncangan bambu gila.


Bambu terlihat bergerak sendiri ketika pawang mengembuskan asap dan menyemburkan jahe ke batang bambu. Para pria yang memeluk bambu mulai mengeluarkan tenaga untuk mengendalikan kekuatan guncangan bambu. Ketika irama musik mulai dipercepat, bambu bertambah berat dan menari dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Atraksi bambu gila berakhir dengan jatuh pingsannya para pemain di arena pertunjukan. Hal yang unik dari pertunjukan ini, kekuatan mistis bambu gila tidak akan hilang begitu saja sebelum diberi makan api melalui kertas yang dibakar.


Bambu yang digunakan merupakan bambu lokal. Namun, proses memilih dan memotong bambu tidak sembarangan, karena dibutuhkan perlakuan khusus. Pawang terlebih dahulu meminta izin dari roh yang menghuni hutan bambu tersebut.


Bambu kemudian dipotong dengan adat tradisional. Bambu dibersihkan dan dicuci dengan minyak kelapa kemudian dihiasi dengan kain pada setiap ujungnya. Dahulu, bambu langsung diambil dari Gunung Gamalama, gunung api di Ternate, Maluku Utara. Saat ini, tarian bambu gila dipelajari dan dimainkan di luar Pulau Maluku.


Tradisi tari Bambu Gila diyakini sudah lama dimulai sebelum masa Islam dan Kristen masuk ke kepulauan ini. Saat ini, tarian ini hanya dipentaskan di beberapa desa kecil. Melihat tarian ini merupakan pengalaman spiritual yang unik. Lantunan mantra dari pawang dan tabuhan tifa menciptakan pertunjukan yang tidak bisa Anda temukan di tempat lain di dunia. Apalagi jika Anda ikut menari dengan bambu gila, membuat pengalaman ini sulit untuk Anda lupakan.




mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://news.liputan6.com/read/569944/5-teori-konspirasi-yang-merebak-dalam-tragedi-bom-boston


Menari bersama si Bambu Gila

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Sunday, December 22, 2013

Hari Ibu Momentum Cetak Generasi Saleh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang ibu turut berperan dalam mencetak generasi yang saleh. Itu sebabnya, peringatan Hari Ibu yang jatuh pada Ahad (22/12) ini, merupakan pengingat hal tersebut.


“Ibu, figur yang segala prilaku dan perkataan akan diingat anak-anaknya. Jadi, kesalehan seorang ibu akan diingat anaknya,” ucap Wakil Paguyuban Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa kepada ROL, Ahad (22/12).


Melalui kesalehan itu, kata dia, anak-anak dikenalkan dengan Peciptanya dan bagaimana ia diciptakan. Dengan begitu anak-anak akan mengerti dan mengapa kesalehan itu penting.


Ditanya momen spesial apa yang dialami bersama ibu, Ketua Yayasan Al-Isya Nurul Baqi ini, mengatakan kebersamaan, kasih sayang setiap hari dan beribadah bersama-sama setiap hari. “Ini yang sangat saya ingat kendati beliau sudah tidak ada,” ucapnya.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26848/19/01/2013/suripto:-waspadai-agenda-tersembunyi-dibalik-isu-suriah-dan-sampang.html


Hari Ibu Momentum Cetak Generasi Saleh

Wednesday, January 8, 2014

Timnas U-23 Berbaur dengan Muslim Naypyitaw

Metrotvnews.com, Naypyitaw: Timnas U-23 sepak bola Indonesia berbaur dengan komunitas muslim Naypyitaw saat menjalankan ibadah Salat Jumat di Masjid Jar May (Jami) di wilayah Lae Way, Naypyitaw, Myanmar, Jumat (20/12).



Diego Michiels dan kawan-kawan meski baru pertama kali menginjakkan kaki di masjid yang dibangun sejak 1890 ini ternyata langsung mendapatkan sambutan hangat dari komunikas muslim Ibu Kota baru Myanmar itu.



“Assalamualaikum,” sapa sekelompok muslim yang menunggu kedatangan Timnas Indonesia bersama atlet-atlet peserta SEA Games 2013.



Rombongan pemain timnas langsung menjawab sapaan muslim Naypyitaw dengan “Waalaikumsalam”. Sang tuan rumah pun langsung mengarahkan rombongan atlet ke dalam masjid yang berada di tengah perkampungan itu.



Bayu Gatra, Mokhamad Syaifudin bahkan Diego Michiels langsung masuk kedalam masjid. Sebelum masuk, semua pemain Timnas Indonesia U-23 mendapatkan peci dari salah satu muslim Naypyitaw.



Diego Michiels sempat menjadi pusat perhatian. Meski demikian, pemain naturalisasi asal Belanda tetap tenang dan tersenyum kepada jamaah yang kebetulan dilewatinya.



Salat Jumat langsung dilakukan seperti pada umumnya. Meski berada di Naypyitaw, khotbah Jumat yang dilakukan oleh pemuka agama asal Naypyitaw tetap menggunakan bahasa Arab.



Seusai Salat Jumat, Diego Michiels kembali menjadi pusat perhatian masyarakat setempat. Bahkan ada beberapa masyarakat lokal yang memfoto kekasih artis Nikita Wily saat minum kelapa muda yang berada di luar masjid.



“Semoga semua pemain diberikan kesehatan sehingga mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” kata salah satu pemain Timnas Indonesia, Andik Vermansyah.



Setelah semuanya selesai, pemain timnas dan rombongan langsung kembali ke hotel untuk istirahat. Sore harinya langsung menjalani latihan di lapangan Wunna Theikdi. (Antara)



Editor: Agus Tri Wibowo



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/01/05/myw4bu-ruba-qewar-jatuh-cinta-pada-alquran


Timnas U-23 Berbaur dengan Muslim Naypyitaw

Monday, January 27, 2014

Rumah terkena banjir, Maria Eva pulang kampung

Berita Terkait



  • Bereskan banjir, wali kota Depok belum berencana bertemu Jokowi

    Bereskan banjir, wali kota Depok belum berencana bertemu Jokowi


  • Jokowi sebut macet dan banjir hambat pembangunan Jakarta


  • Ahok sebut Pemprov DKI juga bisa tuntut warga penyebab banjir

Merdeka.com – Rupanya Maria Eva mengalami apa yang jadi derita sebagian warga Jakarta. Rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, terendam air hingga ketinggian lutut orang dewasa. Saat tahu rumahnya kebanjiran, Maria langsung tancap gas menuju kampung halamannya di Surabaya.


“Rumah aku itu kebanjiran selutut orang dewasa. Saat banjir, aku pas banget di tol. Langsung aku ke bandara, balik ke Surabaya,” ujarnya disela-sela memberi bantuan banjir Kelompok Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI) dan Media Center Kementerian Ekonomi dan Pariwisata Kreatif di SD Madrasah Islam Al-Bahri, Cawang, Jakarta Timur, Senin (27/1).


Tiap tahunnya, memang rumahnya selalu menjadi langganan banjir. Tahun yang lalu pun, air dengan ketinggian yang sama juga masuk ke dalam rumahnya.


“Cuma kayaknya yang terparah tahun ini ya. Sampai ada yang seatap rumah, untung rumah aku tempatnya masih agak tinggi jadi cuma kebanjiran selutut. Cuma yang namanya kebanjiran ya tetap saja nggak enak,” katanya.
Rumah kebanjiran, stronga href=
Dari kejadian itu, tentu Maria mengaku mendapat kerugian, baik barang yang terbawa air di rumahnya maupun dari segi pekerjaan karena akses jalan tertutup oleh air. Makanya ia pun berharap pemerintah cepat dalam mengatasi masalah tahunan itu.


Pedangdut yang kerap digosipkan memiliki hubungan asmara dengan banyak pejabat itu mengharapkan pemerintah DKI Jakarta bisa segera menuntaskan masalah banjir.


“Supaya banjir nggak terus terusan melanda Jakarta. Kalau Ibukota kena banjir terus, aktivitas banyak yang terhenti dan terganggu,” pungkasnya.



(kpl/aal/abs/phi)












Article source: http://www.antaranews.com/berita/415331/anelka-terancam-dikenai-sanksi-berat-oleh-fa


Rumah terkena banjir, Maria Eva pulang kampung

Wednesday, December 18, 2013

Asmirandah Tidak Pindah Agama

Asmirandah


Anton Zantman yakin anaknya tidak mungkin melakukan hal itu

DEPOK – Keputusan artis Asmirandah untuk membatalkan pernikahannya dengan pesinetron Jonas Rivanno karena perbedaan keyakinan,  tak menyurutkan isu lain yang berkembang selanjutnya. Gosip kali ini tak kalah menghebohkan.  Mantan kekasih aktor Dude Herlino itu dikabarkan pindah agama, mengikuti jejak Jonas yakni Kristen. Benarkah?


Isu tersebut langsung dibantah paman Andah, Armand Abu Ahmad. Dia menegaskan Jakarta, gadis kelahiran 5 Oktober 1989 ini tidak pernah dibaptis.  “Semua pemberitaan di sosial media tidak benar,” katanya, Senin (16/12). Menurut dia, Andah tidak mungkin gegabah mengambil keputusan. Apalagi menyangkut agama.


Armand mengatakan, hingga saat ini keluarga besar dan kedua orang tua Andah tidak tahu adanya pembaptisan. Tidak mungkin juga, kata dia, keponakannya itu tidak memberitahukan kedua orangtuanya kalau ingin pindah agama. “Saya dan orangtua Asmirandah saja tidak tahu tentang dibaptisnya Asmirandah,” dia menegaskan.


Masalah Andah ramai setelah mencuat isu pernikahan diam-diamnya dengan aktor Jonas Rivanno pada Oktober lalu. Permasalahan semakin pelik ketika Jonas membantah telah masuk agama Islam, sebelum menikahi aktris Terfavorit ajang Panasonic Gobel Awards 2012 dan Indonesia Kids Choice Awards 2013 itu. Padahal, orangtua Andah sendiri menjadi perantara masuknya Jonas ke agama Islam.


Belakangan, Jonas mengakui pernah masuk Islam dan telah kembali ke agama sebelumnya. Hal ini, membuat orangtua Andah terpukul sehingga berakhir pada pembatalan pernikahan mereka pekan lalu.
 
Setelah pernikahan pasangan artis Asmirandah dan Jonas resmi dibatalkan di Pengadilan Negeri Depok, keluarga Asmirandah sangat tertutup. Rumah Asmirandah, di Jalan Tanah Baru, Kelurahan Tanah Baru, Beji, Depok, selalu tertutup dan keluarganya enggan menerima kedatangan orang luar.


Armand juga memastikan bahwa kedua orangtua Asmirandah tidak akan setuju jika anaknya menikah lagi dengan Jonas. “Orang tua tidak merestui bila pernikahan tersebut terjadi, apalagi sampai ke Singapura seperti isu yang tersebar,” kata dia.


Meski begitu, Armand dan keluarga besarnya berharap tidak ada pernikahan kembali. “Harapan saya dan keluarga, semoga tidak terjadi pernikahan yang kedua antara Andah (sapaan Asmirandah) dan Jonas.”


Dia juga meminta semua pihak mendoakan kebaikan bagi keluarga mereka. Terutama untuk Asmirandah agar terhindar dari musibah dan perpindahan agama.


Asmirandah sendiri hingga saat ini belum juga menunjukkan batang hidungnya untuk memberikan klarifikasi mengenai kabar dirinya pindah keyakinan. Menurut informasi, Andah beberapa kali terlihat mengunjungi gereja Tiberias di kawasan Kelapa Gading.


Saat hal tersebut ditanyakan langsung kepada ayah Andah, Anton Zantman mengungkapkan dirinya juga belum mengetahui tentang hal itu. Namun, ia menegaskan bahwa Andah tidak mungkin melakukan hal itu.


“(Kalau benar) aku tidak (akan) setuju hubungannya (dengan Jonas Rivano),” tegasnya saat ditemui di kediamannya, Senin (16/12) malam.


Dia mengaku, selama ini putrinya telah mengecewakan keluarga dengan keputusan tersebut. Meski menyayangkan keputusan Andah, Anton berusaha menghormati Andah yang telah dewasa sehingga dapat membuat keputusan sendiri. dtc,tmp


Article source: http://www.republika.co.id/berita


Asmirandah Tidak Pindah Agama

Friday, July 5, 2013

Madonna Sering Cari Sensasi dengan Hal-hal Gila

Madonna Sering Cari Sensasi dengan Hal-hal Gila


Liputan6.com, Los Angeles : Aksi terakhir Madonna memang membuat publik tercengang khususnya umat muslim. Bagaimana tidak, jika sang artis berdandan dengan cadar mirip hijab yang dipakai kaum wanita yang memeluk agama Islam. Foto itu dinilai kontroversial.

Seperti diberitakan oleh The Sun, Jumat (5/7/2013), sebulan lalu, pelantun Material Girl itu pernah menodongkan pistol ke arah kelapa seorang laki-laki hanya untuk mempromosikan filmnya.


Tak hanya itu, pada turnya baru-baru ini wanita berusia 54 tahun itu juga menarik payudaranya keluar sampai putingnya terlihat di tengah kerumunan orang banyak dan juga mencium pacarnya dengan menjulurkan lidahnya di atas panggung.


Dari serentetan fakta itu Madonna sepertinya gemar menciptakan sensasi yang membuat orang-orang lebih dari sekedar terkejut. Saat ini Madonna dinilai sebagai artis yang menyebalkan lantaran kelakuan yang telah menodai kariernya sebagai penyanyi pop yang legendaris.


Publik berharap agar Madonna menghentikan kegilaannya dan kembali membawa prestasi dan karya musik yang mengagumkan.
(Fei)


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29260/05/07/2013/iman-dan-faktor-faktor-lain-kejatuhan-konstantinopel-(3-habis).html


Madonna Sering Cari Sensasi dengan Hal-hal Gila

Sunday, December 15, 2013

'Dua Ribuan' untuk Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjadi kewajiban setiap Muslim untuk membantu mualaf. Itu bisa dilakukan dengan banyak hal.


Yang menjadi masalah, umat Islam kadang bingung bagaimana cara membantu mereka. “Iya, memang masalahnya seperti itu. Mereka bingung mau bantu apa,” ungkap Alisya Fianne, Wakil Ketua Paguyuban Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), kepada ROL, Kamis (21/11).


Selain bingung, kata dia, kemana harus membantu. Ini terjadi, karena tidak semua masjid memiliki pembinaan mualaf. “Padahal tidak seperti itu, setiap masjid kendati tidak ada pembinaan mualaf, tentukan ada satu atau dua orang yang memutuskan bersyahadat di sana,” kata dia.


Selain masalah kemana, kata dia, ada yang bingung berapa dan apa bantuan yang harus diberikan. Menurut Fianne, besaran bantuan yang diberikan itu tidak penting. Yang utama adalah niat dan kemampuan. “Bantuannya kecil, apapun itu bentuknya kalau niat untuk membantu, Insya Allah akan membawa berkah,” kata dia.


Melihat dari situasi ini, Fianne berencana membuat satu kampanye yang intinya mengajak umat Islam untuk membantu mualaf. “Sebenarnya tidak mualaf saja, tapi banyak pihak yang dibantu. Nah, bentuk bantuannya ini, umat Islam hanya cukup menyisihkan uangnya dua ribu rupiah saja,” kata dia.


“Seperti saya katakan setiap bantuan besar atau kecilnya akan mendapatkan balasan dua kali lipat. Jangan lihat nominal tapi semangat untuk membantu, jadi bisa lho dengan hal kecil bisa berdampak besar,” kata dia.


Nantinya, kata dia, dua ribu yang terkumpul ini akan disalurkan kepada yang berhak. Selain itu, uang yang terkumpulkan akan dipergunakan kepada mereka yang belum umrah dan mungkin tidak bisa berhaji. “Saya ketika berkeliling daerah, banyak ditemukan orang tua yang belum haji tapi mereka telah mengumpulkan uang sejak lama, nah mereka ini salah satu yang dibantu,” kata dia.


Terkait mekanismenya, kata Fianne, akan disiapkan satu wadah yang akan mempemudah masyarakat untuk menyisihkan uangnya. Sebagai contoh saja, setiap majelis taklim akan menyiapkan satu kotak amal yang bertujuan untuk itu.  “Intinya, apa yang kami kumpulkan ini disalurkan langsung,” kata dia.


Fianne berharap melalui kampanye ini akan tergerak satu semangat berdakwah. “Beramalkan juga dakwah. Saya percaya jiwa sosial umat Islam begitu tinggi. Sudah banyak contoh soal itu, tapi ini cakupannya lebih luas tidak hanya satu orang tapi banyak orang,” kata dia.


Article source: http://jaringnews.com/seleb/movie/23934/protes-film-anti-islam-iran-boikot-oscar-


'Dua Ribuan' untuk Mualaf

Saturday, January 19, 2013

Tak Sediakan Guru Agama, Sekolah Favorit di Blitar Terancam Ditutup



Blitar – 6 Sekolah favorit Katolik/Kristen terancam ditutup di Blitar. Pangkal persoalannya, sekolah itu disebut Kemenag tidak menyediakan guru agama. Rekomendasi itu akan diberikan Kantor Kementerian Agama Kota Blitar kepada Wali Kota.

“Katanya, Rabu kemarin (16/1) kepala sekolah enam sekolah ini, bertemu dengan yayasan, namun hingga kini, belum ada laporan masuk kepada kami, atas kesediaan mereka menjalankan PP 55 itu,” jelas Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama, Kantor Kemenag Kota Blitar, Baharudin saat dikonfirmasi, Sabtu (19/1/2013).

Baharudin menguraikan, 6 sekolah itu yakni SDK SM, SDK dan SMPK YS, SMPK YG, SMAK dan SMK D. Sekolah itu, seharusnya sesuai PP No 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan menyediakan guru agama bagi agama-agama siswa.

“Kepala sekolah masih menunggu keputusan yayasan,” imbuhnya.

Baharudin menepis kabar yang menyebar lewat BBM, bahwa ada pemaksaan pengajaran agama Islam bagi sekolah itu. Memang sesuai peraturan Wali Kota Blitar, setiap sekolah negeri, siswa muslim dari SD sampai SMP, dan SMP masuk SMA wajib bisa membaca pengajaran al quran.

Menurut Baharudin, atas kasus ini, Sabtu siang ini, ada agenda pertemuan antara kepala sekolah se-Kota Blitar di Aula Dinas Pendidikan Daerah Kota Blitar.

“Ya, ditunggu nanti jam 13.00 WIB, ada rapat dengan semua kepala sekolah di bawah yayasan agama di Dikda Kota Blitar, membahas masalah ini, termasuk enam kepala sekolah swasta dimaksud juga akan hadir,” terangnya.

(gik/ndr)

Article source: http://life.viva.co.id/news/read/343815-adzan-buat-christian-gonzales-terpikat-islam


Tak Sediakan Guru Agama, Sekolah Favorit di Blitar Terancam Ditutup

Tuesday, April 2, 2013

Perluas Pasar Ekspor, HIPMI Bidik Timur Tengah

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir harus digunakan sebaik mungkin untuk menggerakkan ekonomi nasional dan memperluas pasar ekspor produk Indonesia. Menyadari hal itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) terus bergerak untuk mencari pasar ekspor.

Salah satu daerah yang dituju untuk ekspor HIPMI adalah Timur Tengah. Untuk itu, pada awal Mei mendatang HIPMI akan mengadakan kunjungan bisnis dan perjalanan religi ke Timur Tengah yang diikuti pengurus dari pusat hingga daerah.

“Program ini merupakan perpaduan antara lawatan bisnis dan perjalanan religi ke Timur Tengah yakni ke Amman (Yordania) dan Yerusalem (Israel). Jadi ada misi bisnis dan kebhinekaan yang kita emban,” ujar Ketua panitia Titi Rusdi, di Kantor BPP HIPMI, Gedung Palma One, Jakarta, Senin (1/4).

Titi menjelaskan, Yordania merupakan negara strategis untuk kerjasama bisnis dengan Indonesia. “Dari segi penduduk, Yordania memiliki jumlah penduduk mencapai 100 juta jiwa. Selain itu Yordania melalui Pelabuhan Aquba juga merupakan pintu masuk distribusi ke Suriah, Palestina, Lebanon, Irak, Mesir, dan Arab Saudi. Jadi posisinya sangat strategis,” terang Titi. Apalagi, lanjutnya, kondisi sosial politik Yordania relatif stabil. Pada 2011 lalu, perdagangan Indonesia-Yordania mencapai US$403 juta. Sedangkan hingga Agustus 2012 perdagangan kedua negara sudah mencapai US$364 juta.

Perjalanan dari tanggal 5-13 Mei 2013 ini akan diikuti 100 orang. “Rombongan akan dipimpin langsung Ketum BPP Hipmi Raja Sapta Oktohari. Nanti di Yordania kami akan diterima langsung oleh Raja Abdullah. Jadi ini dalam upaya menjajaki potensi bisnis, investasi dan perdagangan antara Yordania-Indonesia,” ungkap Titi.

Untuk kunjungan ke Israel, menurut Titi, pihaknya hendak mempelajari energi surya dan teknologi pangan. “Semua orang tahu, teknologi pangan Israel merupakan yang terbaik di dunia. Mereka di tanah gersang, tapi bisa hasilkan produk pangan berkualitas. Ini yang harus kita pelajari,” katanya.

Disampaikannya, perjalanan ini juga merupakan perjalanan religi. “HIPMI prihatin dengan kondisi kita saat ini, banyak terjadi gesekan yang berkaitan dengan kepercayaan. Padahal kebhinekaan dan toleransi merupakan nilai negara kita. Karena itu kami ingin tunjukkan, bahwa di HIPMI pengurus yang Islam dan Kristen bisa melakukan perjalanan religi bersama,” paparnya. Bagi yang beragam Kristen akan melakukan perjalanan ke Israel, sedangkan yang muslim akan melakukan ibadah umroh ke Mekah dan Madinah.

Sementara itu, Ketua Kompartemen Agribisnis dan Kelautan HIPMI Joshepine Tampubolon menyatakan, pihaknya melihat volume ekspor komoditas perkebunan Indonesia ke Yordania bisa ditingkatkan. Pada tahun lalu, ekspor komoditas ke Yordania tumbuh 15 persen. “Tahun ini bisa mencapai 20 persen,” katanya. Beberapa hasil perkebunan yang menjadi komoditas ekspor ke Yordania selama ini adalah, karet, kelapa sawit dan triplek.

Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2859


Perluas Pasar Ekspor, HIPMI Bidik Timur Tengah

Saturday, March 16, 2013

Berbagi kenangan bersama Dian Piesesha

Jakarta (ANTARA News) – Tanpa panggung megah, tata lampu gemerlap, dan aksi panggung sensasional, Dian Piesesha hadir dengan suara merdu mendayu khasnya di hadapan keluarga, sahabat, dan penggemar yang menyaksikan konser “Kerinduan” pada Jumat (15/3) malam.

Pukul 20.30 WIB, saat rintik hujan membasahi sebagian wilayah Jakarta, musik intro lagu “Tak Ingin Sendiri” mengantar Dian ke panggung yang ditata sederhana di Ballroom Hotel Kartika Chandra, Jakarta. 

Ia mengenakan celana panjang hitam dan baju hitam berlengan panjang dengan aksen keemasan rancangan putrinya, Poppy Karim. Rambutnya disanggul rapi.

Penonton yang hampir memenuhi ruangan dengan sekitar 350 kursi itu menyambutnya dengan sorakan, suitan, dan tepuk tangan riuh. Dian lantas membuka konser dengan melantunkan lagu “Kucoba Hidup Sendiri.”

“Bagaimana mungkiiin percaya kepadamu, sedangkan ulang tahunku kau tak ingat lagiii. Bagaimana mungkiiin kau masih menyayangku, sedangkan kehadiranmu bagai aaangin laaluuuu….”

Ia juga melantunkan lagu-lagu yang pada masa lalu populer seperti “Hadirmu”, “Cemara-Cemara Cinta”, “Kerinduan”, “Pengorbanan”, “Tak Ingin Sendiri”, “Cinta”, Permata Hatiku”, dan “Engkau Segalanya Bagiku” dengan iringan musik dari Audiensi Band.

“Saya malam ini ingin mengajak semua nyanyi dan nostalgia. Dan saya senang semua keluarga saya bisa hadir di sini…,” katanya.

Menurut Dian, ini adalah pertunjukan pertama dia yang disaksikan oleh seluruh keluarga, ibunda, adik-adik, anak-anak, dan cucunya. 

“Ibunda saya seharusnya sudah berangkat umroh ke Tanah Suci, tapi karena (penerbangan) pesawatnya ditunda jadi dia bisa berada di sini melihat saya,” kata Dian serta menghampiri, mencium dan mengucap terima kasih kepada ibunda yang selalu mendukung ia menyanyi.

Lantas dengan panduan Dorce Gamalama, sebagian penonton menyenandungkan, “Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku”, lagu Melly Goeslaw yang berjudul “Bunda”.

Di sela-sela konser yang berlangsung sampai sekitar pukul 23.00 WIB itu Dian juga menghampiri dan menyapa para penggemar dan rekan-rekan yang hadir.

“Ada Mbak Dorce, Titi Sumantri, Tuti Wasiah, Yayuk Suseno, pacarnya Jelly Tobing, Ayu Soraya, Cintami Atmanegara, Yetti… Juga ada penggemar dari Masamba, Makassar, serta Malaysia,” kata Dian, yang sejak tahun 1980-an sampai sekarang sudah merilis 22 album.

Kawan yang lain, Dewi Yull, Eddy Silitonga, dan Wahyu OS–salah satu penyanyi JK Records– berbagi panggung dengan Dian. 

Dian berduet dengan Wahyu OS. Ia juga menyanyikan lagu tradisional Sunda, “Es Lilin”, bersama Dewi Yull sebelum Dewi menghangatkan ruang konser dengan dua lagu lamanya, “Jangan Ada Dusta Diantara Kita” dan “Terus Berlari Mengejar Matahari”.

Sementara Eddy Silitonga membawakan tiga lagu, termasuk “Biarlah Sedih” dan “Mama”, dengan lengkingan suaranya.

Nostalgia
Dian tak hanya membawa orang-orang bernostalgia dengan lagu-lagu lawasnya, dia juga berbagi hadiah dan cerita dengan keluarga, sahabat dan para penggemar.

Penyanyi berbintang Pisces yang lahir pada 9 Maret 1961 dengan nama Dida Diah Daniar itu bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di sebuah desa di Bandung Selatan.

Dia bertutur tentang kesukaannya menyanyi, juga bagaimana dia belajar menyanyi dan menjadikannya sebagai profesi untuk membantu keluarga. 

“Umur 16 tahun saya belajar menyanyi untuk cari uang. Waktu itu saya hanya tahu beberapa lagu. Lalu saya lihat orang China ini, mualaf yang banyak berkecimpung dalam dunia kebudayaan Sunda. Saya dikasih belajar lagu-lagu Mandarin, yang membuat saya banyak diundang untuk manggung,” katanya tentang gurunya, Tan De Seng.

Tan De Seng, salah satu maestro kesenian Sunda, memetik gitar mengiringi Dian kembali ke masa-masa dia belajar menyanyi dengan melantunkan lagu satu lagu berbahasa Mandarin.

Dian juga mengenang masa-masa dia menyanyi untuk TNI. “Tahun 1970-an sampai 1980-an saya adalah penyanyi Kopassus, penyanyi yang diangkut dengan Hercules. Waktu itu kami menyanyi tanpa bayaran,” kenangnya.

Dorce mengingat Dian sebagai penampil sederhana kala itu. “Waktu show di Mabes TNI sepatunya putus, lantas saya iba, sepatu saya saya pinjamkan kepadanya. Itulah pengorbanan saya untuk Dian,” kata penyanyi dan komedian itu berlagak serius, mengundang derai tawa penonton.

Dewi Yull, yang mengaku menyaksikan metamorfosa Dian Pesesha dari masa muda hingga dewasanya, mengatakan “Dia tetap rendah hati dan bersuara indah.”

Sementara Eddy Silitonga, penyanyi bersuara tinggi dan melengking kelahiran Pematang Siantar, mengingat Dian sebagai “penyanyi bersuara merdu tapi galak.”

“Suaranya masih prima, salah satu penyanyi Indonesia yang saya suka dan saya banggakan,” kata penyanyi kelahiran 17 November 1950 itu.

Penggemar Dian juga mengenang suara merdunya. Kerinduan mereka mendengarkan suara Dian yang mendayu terobati malam itu.

Nelly Kardinal (60) dan suaminya Kardinal (71) ada di antara barisan penonton yang menyaksikan penampilan Dian. Kedua pensiunan itu menikmati lagi lagu-lagu Dian yang populer semasa mereka muda.

“Nostalgia masa dulu, biar nggak cepet pikun,” kata Nelly, yang mengaku masih sering membeli kaset-kaset Dian, serta menambahkan,”Sampai kadang sudah beli, beli lagi, sampai numpuk di rumah.”

Aziz, pekerja butik asal Pemalang yang kini berusia 46 tahun, juga gembira bisa menyaksikan langsung penyanyi kesukaannya manggung. “Saya suka hampir semua lagu-lagunya, suaranya merdu dan mendayu,” katanya.

Nova dan Susan yang sudah menyukai suara Dian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, tahun 1979, hampir selalu mengikuti Dian melantunkan lagu meski kadang mereka sudah tak hafal lagi judulnya.

“Suaranya dari dulu sampai sekarang masih bagus,” kata Susan, yang kini tinggal di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kerinduan dan sambutan para penggemar juga menyuntikan semangat kepada Dian, yang sebelumnya ragu bisa tampil menyanyikan sampai 16 lagu dalam sebuah konser setelah sempat mengalami kelumpuhan tahun lalu.

“Malam ini sangat berarti… Saya yakin semua yang hadir di sini masih sayang dan mencintai saya. Terimakasih atas kehadirannya. Ini semangat untuk saya melanjutkan karya pada usia yang sudah berkepala lima,” demikian Dian Piesesha.

Editor: Aditia Maruli

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/01/05/mg5byb-ppp-usung-arief-mudatsir-cagub-jateng


Berbagi kenangan bersama Dian Piesesha

Thursday, December 27, 2012

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Jakarta : Hingga menjelang berakhirnya 2012, berbagai peristiwa kelam menodai Bumi Pertiwi. Bentrokan antarwarga kerap terjadi. Suku, agama, ras, jenis kelamin, organisasi massa, status ekonomi, sosial, dan bahasa menjadi pemicunya. Akankah persoalan ini tuntas dan tak akan terulang lagi pada 2013?

Pengamat sosial dan budaya Irfan Abu Bakar memprediksi hal itu masih mungkin terjadi. “Mungkin akan muncul di tempat lain, karena Indonesia ini kan luas. Yang nggak kebagian akan terjadi tergantung status sosialnya,” kata Irfan di Jakarta.

Kawasan yang rawan terjadi konflik, tutur dia, adalah daerah yang cenderung homogen dan relasi antara kelompok yang berbeda belum terbangun dengan baik. Termasuk yang rawan adalah daerah yang belum punya pengalaman untuk hidup berdampingan dengan kelompok berbeda. Hal ini berbeda dengan kawasan yang di dalamnya terdapat masyarakat individual, berpendidikan tinggi, dan kurangnya pengalamannya terhadap perbedaan. Di kawasan seperti ini akan jarang terjadi konflik sosial.

Irfan menilai langkah pemerintah menindak tegas pelanggar hak asasi manusia sejauh ini sudah benar. Tapi efektivitas tindakan pemerintah tersebut masih dipertanyakan. Tindakan penanganan hukum tidak dilakukan dalam upaya untuk menyelesaikan atau memperkecil tindakan serupa di masa yang akan datang, tapi biasanya muncul karena tekanan dari berbagai pihak, kemudian melakukan tindakan kepada pelakunya.

“Dalam hal ini, elite agama juga bertanggung jawab bagaimana caranya melindungi keyakinan umat tanpa harus menjatuhkan korban orang lain,” saran Irfan.

Berikut adalah kasus-kasus sosial yang mengiringi perjalanan 2012:

1. Waria

Kehadirannya selalu menuai kontroversi di masyarakat. Ada yang ektrem menolak, ada yang netral, ada pula yang menyambutnya. Akhirnya mereka pun seringkali menyingkir dan tersingkir dari kehidupan sosial masyarakat. Pada 3 Desember 2012, ormas FPI membubarkan secara paksa acara kontes kecantikan di antara sesama waria. Kontes yang bertajuk Miss Waria 2012 itu dituding tidak memiliki izin. Hal itu pun diiyakan Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Yossi Prihambodo. Yossi menyatakan kegiatan yang diadakan di Gedung Nyi Ageng Tirtayasa, Kuningan, Jakarta, itu tidak mendapatkan rekomendasi dari Pemda DKI. Akhirnya acara yang dihadiri 400 peserta itu pun bubar juga. FPI mendapatkan laporan dari warga sehari sebelum acara berlangsung. Tidak hanya di Ibukota, kejadian serupa terjadi pula di Tegal, Jawa Tengah.

Bintang Idol Dangdut, sebuah kontes menyanyi yang diadakan para waria di Dedy Jaya Plaza, Kota Tegal, harus berakhir karena dibubarkan ormas Majelis Talim Darunnadzir Al Barokah. Sama seperti Miss Waria 2012, kegiatan Paguyuban Waria Tegal dan Shinta Management ini akhirnya pun urung dilaksanakan. Meski kecewa, para waria itu tak dapat berbuat banyak.

Untuk menyuarakan aspirasi kaumnya, Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia (FKWI) Yulianus Rotteblaut (50) mencalonkan diri sebagai komisioner Komnas HAM pada 20 Januari 2012, namun tak lolos. Keinginan waria yang akrab disapa Mama Yulie ini mendapatkan restu dari puluhan rekannya di FKWI. Sosoknya hadir untuk memperjuangkan kaum-kaum marginal, seperti halnya kaum transgender. Calon komisioner Komnas HAM yang kandas dalam fit and proper test di DPR pada 2007 lalu ini menuntut hak atas kaumnya dihargai sebagai warga negara. Perjuangan serupa dilakukan Dede Oetomo dengan menjadi calon komisioner Komnas HAM. Namun aktivis gay dalam komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) serta pendiri komunitas GAYa Nusantara ini kandas juga di DPR pada Oktober 2012.

Meski demikian kehadiran kaum waria mendapat perhatian lebih dari Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lelaki yang akrab disapa Ahok ini mengingatkan waria pun makhluk ciptaan Tuhan yang harus diberikan hak dan mendapat tempat yang sama. Pria berkacamata ini pun mengimbau tegas penanganan penderita AIDS yang di antaranya adalah kaum waria. “Masak kalau ada keluarga kita seperti itu, apa mesti kita bunuh? Kita buang?” cetus Ahok. Tak salah memang jika pada Pilkada DKI Jakarta, kaum waria melalui Mama Yulie menyatakan dukungannya pada Joko Widodo alias Jokowi dan Ahok.

2. Konflik Beragama

Sulit Beribadah di ‘Rumah’ Sendiri. Majelis Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin mengalami kesulitan menjalankan ibadah. Mereka tak bisa masuk ke GKI Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat karena disegel dan digembok warga. Peristiwa itu terjadi sejak 2010 hingga 2012. Mereka sampai mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mendatangi Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada 12 Februari 2012 dan 11 Maret 2012. Para jemaat terus mendesak dan tak akan meninggalkan lokasi sampai mereka bisa beribadah di GKI Taman Yasmin. Apalagi mengingat mereka sudah mengantongi izin mendirikan gereja dari Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman.

Ahmadiyah, Terasing di Negeri Sendiri. Kekerasan juga dialami warga Ahmadiyah. Persoalan jemaah pengikut Mirza Ghulam Ahmad itu kembali mengemuka setelah kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada awal Februari 2011. Sejumlah ormas Islam pada 13 November 2012, kembali mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi melarang segala aktivitas keagamaan Ahmadiyah dan membubarkan aliran tersebut. Di Cianjur, Jabar, massa FPI bahkan mendatangi masjid Ahmadiyah dan mengusir seorang warga yang sedang salat di dalam tempat ibadah. Pada 26 Oktober 2012, puluhan orang dari FPI Bandung Raya merusak kaca Masjid An Nasir milik jemaah Ahmadiyah di Astana Anyar, Kota Bandung.

Perseteruan Panjang Sunni Versus Syiah. Tak kalah panas terjadi konflik Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Keributan dipicu penyerangan muslim Sunni terhadap warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Kasus ini berawal dari persoalan keluarga sejak 2004 antara Tajul Muluk dan Rois. Dari masalah pribadi kemudian menyebar di masyarakat luas.

Pertikaian pun berujung bentrok antarwarga yang terjadi pada 29 Agustus 2012. Insiden itu menewaskan dua orang dan lainnya cedera, serta belasan rumah dibakar. Korban meninggal adalah kakak beradik, Muhammad Khosim (45) dan Thohir (40). Usai kejadian itu banyak warga Syiah mengungsi dan menempati GOR Wijaya Kusuma sebanyak 276 orang. Majelis Ulama Indonesa (MUI) Kabupaten Sampang berencana menekan warga Syiah masuk Sunni jika ingin kembali ke Desa Karang Gayam. Ini mengingat masih ada 75 persen warga Syiah menolak masuk Sunni.

30 Jemaah Syiah di Sampang, sempat dipaksa menandatangani surat pernyataan pindah aliran dari Syiah ke Sunni. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya Andy Irfan Junaidi mengatakan, warga Syiah itu mendapat tekanan atau intimidasi untuk berpindah keyakinan atau akan dibakar rumahnya.

Dalam kasus ini Polri menetapkan Roisul Al Hukuma sebagai tersangka. Adik kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang itu mendekam di Polda Jawa Timur dan diadili di Pengadilan Negeri Surabaya. Rois dijerat pasal berlapis yakni, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 354 tentang penganiayaan berat, Pasal 170 tentang pengeroyokkan dan perusakan, serta Pasal 55 dan 56, yakni turut serta membantu melakukan kejahatan.

3. Konflik Horisontal

Pertikaian Berdarah di Mesuji. Kasus pertikaian berujung maut warga di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung sudah berlangsung lama, yaitu sejak 1996. Masalah yang sudah mengakar itu murni dipicu sengketa lahan warga dengan perusahaan. Anggota Komisi III DPR Azis Syamsuddin pun menilai sengketa tanah perkebunan kelapa sawit menjadi akar masalah utama kasus Mesuji, baik di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.

Sementara anggota DPR Zainun Ahmadi menganggap hingar-bingar pemberitaan kasus Mesuji, baik di Kabupaten OKI atau di wilayah Lampung, tak menyentuh akar permasalahan. Zainun berpendapat banyak kasus serupa di Tanah Air, tapi selalu berujung tidak pada akar masalahnya yaitu salah urus agraria dan sumber daya alam. Anggota Komisi II ini menyatakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lebih senang menganalisa kejanggalan dalam informasi yang disampaikan Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi kepada DPR.

Pada tahap awal, TGPF Mesuji menyodorkan enam butir rekomendasi kepada pemerintah untuk penuntasan insiden sengketa lahan antara perusahaan dan warga yang menewaskan sembilan orang. Rekomendasi disampaikan Ketua TGPF Mesuji Denny Indrayana, saat melaporkan hasil investigasinya kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto di Jakarta, 2 Januari 2012. Berikutnya TGPF Kasus Mesuji merampungkan hasil penyelidikan mereka terhadap bentrokan, baik di Mesuji Lampung dan Sumsel, 16 Januari 2012.

Saat awal terjadi kehebohan jumlah korban tewas berjumlah 30 orang. Belakangan Polri merilis kronologis dan data penyelidikan terkait kasus dugaan pembantaian di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan. Dari tiga peristiwa di Ogan Komering Ilir dan Lampung, Polri mencatat 9 orang meninggal dalam kurun waktu 2010-2011.

Kasus yang mengemuka di Mesuji antara lain masalah pengelolaan lahan milik adat di areal kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Register 45 Way Buaya. Kejadian di Talang Pelita Jaya, Desa Gunung Batu, Mesuji, Lampung mencuat sejak Februari 2006. Selanjutnya, kasus sengketa tanah lahan sawit seluas 1533 hektar (ha) antara warga Desa Sodong, Mesuji, Sumsel dengan PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang berakhir dengan tragedi pembantaian terhadap dua orang petani di tengah kebun sawit pada 21 April 2011.

Pada wilayah yang sama, sengketa tanah lahan sawit seluas 17.000 (ha) antara warga desa Sri Tanjung, Kagungan Dalam dan Nipah Kuning, Mesuji, Lampung dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) yang puncaknya berujung pada kematian Zaini pada 10 November 2011.

Tolak Harga BBM Naik Berujung Aksi Anarkis Warga. Keputusan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memicu gelombang protes warga di Jakarta dan daerah. Unjuk rasa mahasiswa berujung bentrok dengan aparat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, 29 Maret 2012 malam. Pengunjuk rasa memblokade Jalan Diponegoro, sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM. Pos polisi yang dirusak massa membuat situasi tak terkendali. Serangan batu dan botol pun dibalas tembakan gas air mata aparat.

Masih di Jakarta. Forum Masyarakat Miskin berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Selain berorasi, demonstran juga menggelar spanduk berisi penolakan. Setali tiga uang dengan protes warga di Bogor Jawa Barat. Ratusan warga SUTET atau saluran udara tegangan ekstratinggi sekabupaten Bogor ramai-ramai mengubur diri selama sekitar lima jam. Seorang di antaranya pingsan saat beraksi.

Sementara unjuk rasa anti kenaikan BBM berlangsung anarkis di Ternate, Maluku Utara. Bandara Baabullah diserbu, fasilitas keselamatan bandara tak luput dari amukan massa. Ratusan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara pun berunjuk rasa menolak kenaikan BBM bersubsidi. Mereka merusak mobil milik anggota DPRD Kabupaten Konawe Utara. Sedikitnya 25 mahasiswa diringkus dalam insiden itu. Kemudian seribu lebih mahasiswa di Pontianak, Kalimantan Barat yang berdemonstrasi menduduki halaman gedung DPRD Kalbar.

Sedihnya saat warga Jakarta berunjuk rasa menolak kenaikan, di daerah harga BBM malah sudah naik. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Wilayah Tengah Endang Kesumayadi mengatakan, survei Kadin terhadap 17 kabupaten di 4 provinsi yang berbatasan dengan negara, harga BBM bersubsidi di kawasan ini sudah naik jauh lebih tinggi dari Rp 1.000 per liter.

Pada akhirnya hasil rapat paripurna DPR disepakati untuk menunda rencana kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Dengan demikian harga BBM bersubsidi tidak jadi naik. Belakangan DPR membolehkan pemerintah menaikkan harga BBM tahun 2013 setelah RUU APBN 2013 disetujui menjadi UU.

Teror Berkepanjangan di Bumi Papua. Serangkaian penembakan masih terjadi di bumi Papua. Suasana ini mengusik ketenangan warga. Ini mengingat banyak korban tewas adalah warga, selain aparat kepolisian. Masih hangat terjadi teror tersebut dialami Beni Yamamo dan Piter Tumoka yang menumpang mobil Kepala Desa Nayaro, Papua. Beni cedera di dada kanan dan Piter terluka di kaki. Kendaraan mereka ditembaki orang tak dikenal (OTK) di Mile 37 area PT Freeport Indonesia. Atas kejadian itu, dua dari lima penumpang mobil terluka.

Anggota Brimob, Briptu Ronald yang sedang bertugas tewas ditembak orang tak dikenal. Kasus penembakan bermula saat Ronald bersama sembilan rekannya yang lain tengah berpatroli di Mile 37 Freeport, Papua, pada 7 Februari 2012 sekitar pukul 08.15 WIT.

Di kawasan areal Freeport juga mendapat teror. Seorang korban di antaranya Seperius Yamiru yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika. Seperius merupakan satu dari empat korban penembakan di areal PT Freeport. Tercatat penembakan di kawasan PT Freeport, sejak Juli 2009 hingga 9 Februari 2012 sedikitnya 15 orang tewas. Sedangkan 54 orang terluka.

Seorang wanita bernama Fredika Metal Neki misalnya. Perempuan berusia 38 tahun itu ditembak orang tak dikenal di kawasan Trans-Papua dekat Sungai Digul, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, 21 November 2012. Fredika tewas dengan bekas luka tembak di bagian pelipis kiri. Ketika itu, petugas menemukan Fredika dalam kondisi tak bernyawa. Dalam penyelidikannya Mabes Polri mendapati barang bukti peluru kaliber 4,5 mm, 1 selongsong peluru, tas, dan sandal yang diduga milik Fredika.

Korban lain yakni Pendeta Rika Metalmety. Sang pendeta yang bertugas selama sepuluh tahun di Gereja Betlehem, Boven Digoel ditemukan tewas di pinggir Jalan Trans Asiki, Merauke. Lokasi penemuan mayat berjarak sekitar 150 meter dari pos polisi Kalimak Boven Digoel. Diduga Pendeta Rika ditembak teman dekatnya yang merupakan seorang anggota TNI, 22 November 2012.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 27 November 2012 beberapa orang kelompok bersenjata menyerang Markas Kepolisian Pirime, Lany Jaya, Papua, 27 November 2012. Kapolsek Pirime Ipda Rolfi Takubesi, Briptu Daniel Makuker, dan Briptu Jefri Rumkorem tewas dalam insiden itu. Polda Papua menangkap tujuh penyerang Mapolsek Pirime. Seorang di antaranya, YW (40) diciduk saat polisi menyisir sekitar Pirime. Sementara enam lainnya dibekuk pada 29 November 2012 di Distrik Piramid, Kampung Muara Game, Kabupaten Jaya Wijaya. Mabes Polri memastikan para pelaku terkait jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

4. Perjuangan Hidup Pahlawan Devisa

Seringkali disebut sebagai pahlawan devisa, tak menjamin Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjalani hidup layaknya pejuang atau super hero yang tangguh. Mereka justru kerap dianggap sebagai pihak yang lemah dan menjadi korban penganiayaan. Di luar negeri sana, banyak dari TKI yang harus menelan pahitnya hidup di negeri orang. Tak digaji, dipukuli, diperkosa menjadi makanan mereka selama di perantauan. Itu yang sering diberitakan media tanah air.

Beredarnya selebaran iklan ‘TKI On Sale‘ pada Oktober lalu menjadi topik hangat menjelang akhir tahun 2012. Dalam iklan tersebut, TKI ditampilkan layaknya barang komoditi. Dengan deposit 3.500 ringgit, warga Malaysia yang tertarik dapat segera menikmati jasa TKI yang dibandrol dengan harga 7.500 ringgit dan diskon sebesar 40 persen.

Menanggapi berita ini, pihak konsuler KBRI di Malaysia pun melakukan penyelidikan terhadap penyebar iklan itu. Pelacakan dilakukan demi menelusuri alamat yang tercantum pada selebaran iklan yang tersebar. Namun, hanya ditemukan tempat cukur bernama Southern’s Guy di alamat yang tertera itu. Pada 1 November lalu, Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) meminta klarifikasi dan protes kepada pihak Malaysia terkait hal ini. Kecaman pun datang dari Kementerian Luar Negeri Malaysia. Mereka berjanji akan mengusut kasus yang diduga terdapat unsur human trafficking (perdagangan manusia) ini. Sementara ini, Kepolisian Malaysia sudah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Belum diketahui jelas siapa dan apa motif di balik pembuatan iklan ini. Di sisi lain, anggota dewan pun berusaha meningkatkan perlindungan kepada TKI dengan merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Berita miris pun datang dari Arab Saudi. TKI Satinah binti Jumadi yang berasal dari Jawa Tengah masih ketar-ketir menunggu kepastian hukuman matinya. Wanita berusia 40 tahun ini dituduh membunuh majikan perempuannya serta mencuri uang sebesar 37.970 Riyal Saudi (RS) pada 2009 lalu. Setelah proses panjang bertahun-tahun, pihak keluarga majikannya mau memaafkan Satinah. Dia bisa terhindar dari hukuman gantung jika membayar diyat sebesar 10 juta RS sebelum 14 Desember 2012. Angin segar berhembus pada pertengahan Desember. Meskipun pemerintah hampir kehabisan waktu menegosiasikan penurunan nominal diyat TKI Satinah, Arab Saudi memberikan kelonggaran 6 bulan untuk melunasi diyat itu. Selain Satinah, masih banyak TKI kita yang mengalami nasib serupa.

Kabar naas kembali datang dari Negeri Jiran. Seorang TKI wanita diperkosa 3 aparat polisi Diraja Malaysia. Kejadian bermula pada 9 November lalu saat TKI yang bernisial SM ini terjaring pemeriksaan dan hanya membawa fotokopi paspor. Alih-alih dibawa ke kantor polisi di Prai, Pulau Pinang untuk diproses, korban malah diperkosa. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib SM. Dia harus menahan malu saat media Malaysia ramai-ramai mengekspos identitas dirinya. Masyarakat Indonesia pun bertambah geram. Ketiga polisi pelaku aksi bejat itu tidak ditahan. Masing-masing hanya dikenakan denda sebesar 25 ribu ringgit dan wajib lapor sebulan sekali. Mereka pun diseret ke meja hijau. Setelah 12 Desember lalu persidangan urung digelar, hakim menjadwalkan sidang lanjutan pada 25 dan 26 Februari 2013 mendatang.

5. Pencuri Sandal Jepit dan Koruptor Kakap

Pencuri Sandal dan Koruptor dua kata tersebut sama-sama memiliki makna negatif, yakni sama-sama mencuri, mengambil hak orang lain tanpa seizin pemiliknya. Yang membedakannya adalah nilai atau kadar barang yang dicuri. Bila pencuri sandal jepit tentu hanya mendapatkan barang yang nilainya tidak lebih dari Rp 10.000, itu pun bekas pakai. Sedangkan, koruptor kakap mencuri uang negara dari rakyat yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta hingga triliunan rupiah. Keduanya layak dihukum dengan seadil-adilnya.

Namun hukum ternyata hanya masih tegas terhadap rakyat kecil. AAL, remaja berusia 15 tahun ini dibawa ke meja hijau karena dituduh mencuri sandal jepit di depan rumah kos Briptu Ahmad Rusdi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Anehnya, peristiwa yang terjadi sekitar November 2010 silam itu baru dibawa ke pengadilan oleh sang korban yang nota benenya aparat penegak hukum enam bulan kemudian, pada Mei 2011 lalu, AAL pun diancam hukuman 5 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum karena melanggar pasal 362 KUHP. Meski akhirnya tidak dimasukkan penjara dan dikembalikan kepada keluarga oleh majelis hakim namun AAL menyandung status terpidana karena dinyatakan bersalah. Persidangan kasus pencurian yang mendapat sorotan media dan publik ini pun menuai kecaman. Massa menganggap persidangan ini mengada-ngada. Publik marah dan kecewa karena hukum sangat digdaya dengan kasus pencurian yang melibatkan rakyat kecil ini terlebih melibatkan pelaku yang masih di bawah umur. Sejumlah LSM pun menggalang aksi dukungan bagi AAL dengan mengumpulkan “1.000 sandal untuk Kapolri”. Sedangkan pada kasus-kasus korupsi besar bernilai ratusan miliar hingga triliunan yang melibatkan pejabat publik hukum takluk tak berdaya.

Sebutlah kasus suap Rp 24 miliar terkait pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan terdakwa Miranda Swaray Goeltom yang melibatkan Nunun Nurbaetie. Nunun yang notabene istri mantan Wakapolri Adang Darojatun itu sempat buron berpelesiran ke luar negeri. Adang yang seharusnya menjadi panutan rakyat sebagai anggota DPR dari Fraksi PKS ini selalu berkilah istrinya sedang “sakit”. Nunun akhirnya bisa ditangkap KPK dan diseret ke pengadilan. Namun, panggung sandiwara hukum kembali ditampilkan. Nunun hanya dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. Nunun akhirnya hanya divonis 2,5 tahun dan denda Rp 150 juta subsidier 6 bulan. Putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta ini menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Kedua kasus tersebut sama-sama melibatkan unsur aparat hukum sebagai korban dan keluarga mantan petinggi polisi sebagai pelaku. Namun, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dan kepolisian masih saja pilih kasih dalam menegakkannya. Hukuman untuk Nunun jauh lebih kecil ketimbang AAL. Semoga tak terulang pada 2013 dan penegak hukum mendapat tempat di hati rakyat.

6. Bernafas dalam Lumpur Lapindo

Enam tahun lebih duka menyelimuti korban semburan lumpur panas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan ribu warga dipaksa meninggalkan permukiman, lahan pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan akibat tenggelam menjadi lautan lumpur. Selain kerugian harta benda dan matinya roda perekonomian rakyat, semburan ini juga mengakibatkan kerusakan alam dan ekosistem yang dahsyat di wilayah tersebut. Hingga kini semburan lumpur bercampur gas yang berasal dari lokasi pengeboran Lapindo Brantas Incorporation di Dusun Balongnongo – Desa Rekonongo, Kecamatan Porong itu masih terus keluar. Data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyebutkan semburan tersebut mengeluarkan lumpur setidaknya 10 ribu hingga 15 ribu kubik per hari. Berbagai upaya telah dilakukan membuat pemerintah untuk mengatasinya, namun bencana yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu tetap tidak bisa dikendalikan, apalagi dihentikan.

Persoalan ganti rugi warga yang terdampak semburan lumpur panas masih juga belum selesai. Lapindo dengan kekuatan partai politik besar di belakangnya bermain mata dengan kekuasaan dengan mengalihkan tanggung jawab kelalaiannya kepada negara, seraya menyebutnya sebagai bencana nasional. Negara pun dibebani pembayaran ganti rugi kepada rakyat Sidoarjo melalui APBN. Sebagaimana hasil ahli geologi dunia konferensi internasional American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan pada 2008 menyebutkan sebagian besar ahli 42 dari 58 ahli menyatakan adanya kesalahan pengeboran gas sebagai penyebab. Hanya tiga ahli yang menyebut sebagai bencana alam, ironisnya ketiga ahli tersebut berasal dari Indonesia.

Semburan lumpur Lapindo yang juga diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2007 lalu menemukan kesalahan teknis dalam proses pemboran sehingga mengakibatkan semburan lumpur dan gas berbahaya tersebut keluar. Upaya penegakan kasus tersebut secara pidana juga kandas. Kasus yang sudah menetapkan 13 tersangka dari Lapindo maupun subkontraktor itu akhirnya ditutup Kepolisian Daerah Jawa Timur. Polri melalui Wakil Kadiv Humas Anton Bachrul Alam yang sempat kritis kini malah bungkam seribu bahasa meski menjabat Kapolda Jawa Timur.

Persoalan ganti rugi korban Lapindo oleh negara melalui APBN digugat lembaga lingkungan hidup Walhi dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI juga kandas di Mahkamah Konstitusi awal Desember 2012. Menurut Walhi, gugatan ini bukanlah persoalan tidak peduli dengan nasib korban, melainkan ditunjukkan bagaimana negara bertindak tegas terhadap kejahatan korporasi yang merusak lingkungan serta seluruh sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat Sidoarjo. Kejahatan tersebut seharusnya ditindak tegas dengan menyita seluruh harta benda Lapindo dan jika perlu “pemiliknya”, bukan dibebankan kepada uang negara yang notabene dari kantong rakyat.

Namun pemerintah, DPR, dan institusi penegak hukum tak bertaring. Hingga menjelang penghujung 2012, lumpur panas Lapindo masih terus menyembur menenggelamkan Sidoarjo. Pembayaran ganti rugi pada korban pun tak kunjung tuntas. (Ais/Ndy/Adi)

Article source: http://www.voaindonesia.com/content/article/1522476.html


KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit