Showing posts sorted by relevance for query upaya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query upaya. Sort by date Show all posts

Wednesday, June 26, 2013

Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Home Gazw Al-Fikr



Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi





 

Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?”



 




Rabu, 26 Juni 2013


Oleh: Kholili Hasib


PROGAM Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?” meninggalkan banyak catatan. Pertama, tema “Syiah Diusir, Negara Kemana”  telah menunjukkan TV One berada dalam posisi kelompok Syiah. Kedua, tak adanya banyak perwakillan Sunni yang sejak lama keberatan ulah Syiah yang dinilai menyakiti perasaannya (baca; mayoritas NU). Karenanya, agak aneh saja jika acara ini justru dirasakan menjadi ajang pembelaan tokoh-tokoh Syiah. Sementara perasaan dan hak kaum mayoritas (Sunni-NU) justru diabaikan.


Fokus Persoalan


Sudut pandang menilai kasus Syiah di Sampang harus terfokus pada akar persoalan. Bahwa kasus ini murni karena dipicu dakwah pelecehan Shahabat Nabi. M. Nur, mantan pengikut Tajul Muluk –pemimpin Syiah Sampang– memberi kesaksian, “Sejak 2008 Tajul mulai menyampaikan khutbah Jumat bahwa rukun Islam ada 8, rukun iman ada 5, khalifah Nabi Muhammad bukan Abu Bakar, Abu Bakar dikatakan merampok dari Ali”. Demikian seperti dalam release laporan tim BASRA (Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura) yang pernah berdialog dengan Tajul Muluk.


Berkaitan dengan itu, PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur pada Oktober 2012 mengirim peneliti yaitu HM. Shiddiq Abdurrahman untuk investigasi lapangan. Hasil investigasi PWNU di antaranya menyimpulkan bahwa ada indikasi kuat kejadian bentrokan telah disekenario sejak awal oleh Syiah. Menurut laporan PWNU yang dimuat majalah AULA edisi Oktober 2012, bahwa sekenario bentrok telah dipersiapkan di kota Malang. Mereka melanggar kesepakatan bahwa anak-anak Syiah mau dibina di pesantren Ahlus Sunnah, agar mereka tidak terjerak ajaran sesat. Berikut sebagian hasil investigasi PWNU Jawa Timur:
“Kala itu terjadi perdebatan sengit ketika ada rombongan anak-anak Syiah yang mau balik pondok. Para santri mempertanyakan keseriusan Pemkab Sampang untuk memondokkan mereka. Demikian juga mereka menolak tidak berangkat ke Bangil lantaran terikat aturan pesantren yang mengharuskan para santri untuk segera ke pondok. Pada saat bersamaan, penduduk bersikukuh untuk melarang rombongan meneruskan perjalanan lantaran sudah terikat kesepakatan bahwa anak-anak tersebut akan modok di pesantren Ahlus Sunnah bukan Syiah dengan biaya Pemkab.


Para penduduk yang awalnya mencegat, ikut mengawal minibus yang membawa anak-anak Syiah tersebut karena khawatir rombongan hanya pura-pura pulang, namun tetap berusaha berangkat dengan cara diam-diam. Saat akan memasuki kediaman Tajul inilah, ada seseorang Syiah yang membuat garis di jalan sambil mengingatkan dengan suara keras: “Polisi dan para penguntit dilarang masuk. Kalau sampai melewati garis, akan mati”.


Dari arah pesantren Tajul Muluk, ternyata ada sekelompok orang berseragam serba hitam dengan senjata tajam terhunus di tangan. Dan benar adanya, begitu ada penduduk yang melewati garis, ternyata terjadi ledakan dan beberapa benda keras beterbangan. Sebagian penduduk terluka, termasuk dalam hal ini Kapolsek Omben. Suasana pun berubah liar, kedua belah pihak saling lempar batu.


Dengan siap siaganya beberapa orang yang bereseragam hitam dan menghunus senjata tajam, serta adanya bahan peledak di area kediaman Tajul Muluk, kuat indikasi bahwa kejadian tersebut sudah disekenariokan sejak awal. Bahkan ada kabar bahwa kondisi ini sudah dimusyawarahkan di Malang, meskipun kebenarannya perlu diungkap.


Para penduduk yang sejak awal memang tidak mempersiapkan diri untuk bertarung akhirnya terdesak. Terpaksa mereka mundur ke perkampungan, menghindar serangan warga Syiah. Dalam situasi terdesak, ada sebagian penduduk menggunakan pengeras suara milik Masjid.


Dari speaker disampaikan kesediaan masyarakat sekitar untuk membantuk menghadapi serangan pengikut Tajul Muluk. Gayung pun bersambut. Terjadilah saling serang antar dua kubu”.


Dari laporan tersebut, sesungguhnya ada pelanggaran kesepakatan dari pihak Syiah. Jika saja, pengikut Tajul Muluk memenuhi kesepakatan dan menerima persyaratan damai dengan cara tidak akan menyebarkan ajaran pelecehan, pasti tidak akan terjadi bentrok.


Dari hasil kajian, beberapa pihak terkait melakukan upaya-upaya penyelesaian. MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim mencegah aliran Syiah dengan upaya edukatif, menerbitkan fatwa tentang Syiah. Surat fatwa bernomor 01/SKF-MUI/JTM/I/2012 berisi kesesatan ajaran Syiah. Sementara Gubernur Jatim menerbitkan Peraturan Gubernur No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.


Baik fatwa maupun Pergub Jatim diterbitkan untuk mencegah umat Islam Jatim melakukan tindakan tercela yang bisa memicu chaos. Upaya edukatif ini berusaha mewujudkan umat yang beradab, memahami etika beragama dan bermu’amalah antar sesama. Bahwa tindakan menghina ajaran lain bisa memantik konflik sosial. Dengan diterbitkannya dua surat keputusan tersebut, diharapkan di Sampang maupun di daerah-daerah lain tidak adalagi umat yang terinfiltrasi ajaran-ajaran ‘aneh’ dengan menghina Sahabat Nabi, istri Nabi dan lain-lain.


Pembinaan Penganut Agama


Berdasarkan hal itu, Pemkot Sampang pun berjanji membiayai anak-anak Syiah untuk mengirim ke pondok pesantren Ahlus Sunnah. Pencegahan dini harus dilakukan. Sebab, jika anak-anak tersebut dibiarkan jadi menganut ajaran penistaan terhadap Sahabat, maka Sampang akan terus membara lagi kelak.


Upaya-upaya aparatur pemerintah, ulama dan pihak keamanan harus didukung. Solusi mereka menyentuh akar utama penyebab konflik. Bahwa, penistaan terhadap Sahabat dan Istri Nabi yang dilakukan secara publik yang menjadi sebab bentrok. Menutupi akar utama, apalagi memotongnya justru akan memelihara konflik menjadi lebih besar lagi.


Yang harus kita cerna baik-baik, bahwa kekerasan membabi buta adalah kriminil tapi bukan berarti Islam tidak memiliki sikap tegas terhadap  penistaan agama. Terhadap aliran sesat, Islam memiliki aturan yang adil. Memang ada perintah bersikap ramah namun diperintah pula bersikap tegas. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah merobohkan masjid Dhirar yang dibangun oleh Abu ‘Amir Ar-Rahib.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus bertindak tegas, sebab masjid Dhirar dibangun dengan tujuan untuk menghasut umat Islam, membela kaum kafir dan berefek memecah belah para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.


Peristiwa itu direkam dalam al-Qur’an: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. al-Taubah: 107-108).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin membiarkan penyimpangan itu yang bisa mamantik perpecahan umat Islam. Pertimbangannya dua hal penting; Abu ‘Amir Ar-Rahib berpotensi melakukan penyesatan massal dan memancing permusuhan.


Yahudi bani Quinuqa’ dan bani Nadzir pernah diusir oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah. Gara-garanya, mereka mengkhianati perjanjian. Bahkan, beberapa orang Yahudi dari bani Quraidzah dieksekusi karena ganasnya mereka memusuhi dan mengancam fisik para sahabat. Kecuali wanita dan anak-anak, mereka dilindungi dan diperlakukan dengan lembut (Sirah Ibn Hisyam jilid 3).


Berbuat baik dan bersikap bijak terhadap non-muslim atau  penganut kepercayaan yang berbeda, tidak menghalangi Islam untuk berdakwah. Mereka tetap disebut dakwah Islam, tapi bukan bersifat memaksa. Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan.


Dalam konteks Negara Indonesia, ajaran-ajaran ekstrim Syiah yang melecehkan Shahabat serta gerak dakwah politik Syiah harus jadi catatan pemerintah. Perlu ada penelusuruan lebih dalam lagi. Apalagi terdapat laporan tentang sayap militant Syiah. H. As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU, pernah mengatakan bahwa terdapat jaringan militansi Syiah. Dalam tulisannya berjudul “Gerakan Syiah di Indonesia”, di www.nuonline.com pada 30/5/2011, As’ad berpendapat bahwa terdapat jaringan yang berupaya membuat lembaga bernama Marja’iyyat al-Taqlidi seperti di Iran. Pemicunya adalah, doktrin kemutlakan imamah berdasarkan politik.


Maka dapat disimpulkan bahwa ajaran pelecehan terhadap kesucian agama-lah yang sesungguhnya memicu konflik sosial. Ajaran seperti ini jika dibiarkan memperkeruh keamanan masyarakat, karena penodaan agama hakikatnya melanggar Hak Asasi Manusia. Pelecehan terhadap agama hakikatnya pelecehan terhadap hak manusia. Sebab, hak manusia yang paling asasi adalah hak untuk menjaga agamanya. Jika kesucian agama dihujat, maka telah terjadi pelanggaran hak asasi yang berat. Pelecehan agama bukan domain toleransi lagi, sebab toleransi adalah menghormati tanpa mencaci-maki. Jika konsep toleransi ‘dibumbui’ caci maki Shahabat, maka ini toleransi yang ilusi alias rancu.*


Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/622779/komnas-ham-cuek-soal-tebus-ijazah-anak-bapak-mantap-jual-ginjal


Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Friday, December 14, 2012

Israel Semakin Brutal

Jakarta, GATRAnews – Jalur Gaza semakin bersimbah darah. Meski dikecam para pemimpin seluruh dunia, terutama negara-negara Islam, aksi negara zionis itu tak berhenti memberangus Palestina.Sejak Rabu pekan lalu hingga Selasa (20/11/2012) kemarin, roket Israel telah menghantam 1.400 titik di kota Gaza. Dengan dalih menghancurkan markas Hamas yang mereka anggap teroris, Israel telah menewaskan 110 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Kebanyakan serangan Israel dilakukan dari udara menggunakan pesawat tempur F-16, dibantu oleh kapal perang yang bersiaga di perairan Gaza. Sementara itu, menurut juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), pejuang militan Hamas telah menembakkan 544 roket ke wilayah Israel. Sebanyak 290 di antaranya gagal mendarat karena ditangkal oleh sistem pertahanan Iron Dome.
Agresi Israel atas Gaza dimulai dengan penyerangan dari udara yang menewaskan Komandan Militer Hamas Ahmed al-Jabari. Serangan tersebut lantas diteruskan dengan serangan-serangan lainnya yang menewaskan banyak warga sipil Gaza.
Israel mengklaim, serangan mereka berhasil menghancurkan ratusan gudang senjata Gaza, termasuk bunker yang menyimpan persediaan roket Grad yang mampu mencapai jarak 40km. Israel juga mengaku telah menghancurkan banyak roket Fajr-5 buatan Iran yang bisa masuk ke wilayah Israel sedalam 60km.
Pemusnahan etnis itu berlangsung di depan mata publik dunia. Saat Mesir menggalang upaya diplomatik untuk gencatan senjata, pihak Israel malah bersiap melakukan invasi darat ke Gaza. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Israel untuk AS, Michael Oren.
Menurut Oren, invasi darat adalah cara terakhir untuk membasmi Hamas jika solusi diplomatis tidak dihasilkan. “Persenjataan berat seperti tank, artileri dan infanteri telah kami tempatkan di dekat perbatasan dengan Gaza,” ujarnya. Ia menambahkan, sebanyak 75.000 tentara Israel telah ditugaskan untuk mengepung Palestina, dan setengahnya telah disiagakan di perbatasan.
Dikhawatirkan, invasi Israel ke Gaza akan memicu banyak korban seperti perang tahun 2008 yang menewaskan 1.400 warga Gaza.
Menghadapi rencana serangan darat itu, pemimpin Hamas Khaled Meshaal tidak merasa jerih. “Kami tidak ingin peningkatan ketegangan, atau perang di darat. Tapi jika itu terjadi, kami tidak takut dan tidak akan mundur,” tegasnya.
Upaya diplomasi untuk menghentikan kekerasan di Gaza masih terus dilakukan. Kemarin, Sekjen PBB Ban Ki-moon dan delegasi Israel menyambangi Mesir untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata. Mesir sebagai pihak mediator mengaku optimis pembicaraan tiga pihak akan berlangsung positif.
Menurut pihak Mesir, Hamas setuju gencatan senjata, jika Israel menghentikan agresinya, menghentikan pembantaian dan menghapuskan blokade Gaza. Sementara Wakil Perdana Menteri Israel Moshe Yaalon menuding bahwa pemicu perang adalah ulah Hamas yang melontarkan roket dan rudal ke warga Israel. “Jika ketenangan terjadi di selatan dan tidak ada serangan teroris dari Jalur Gaza, kami tidak akan menyerang,” tegasnya.
Hujan Kutukan
Tragedi di Jalur Gaza itu mengundang solidaritas masyarakat internasional. Aksi protes pun bermunculan di mancanegara. Para pemrotes, walau berbeda gaya dan pendekatan, memiliki sikap yang sama: serangan apapun yang membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan tidak bersenjata patut dikutuk.
Walau berdalih membalas serangan ratusan roket Hamas dari Gaza, serangan udara Israel sejak 14 November 2012 telah mengundang kemarahan karena turut menewaskan banyak warga sipil, termasuk anak-anak Palestina. Tidak kurang, para aktivis di Korea Selatan, pemuka umat Yahudi di Amerika Serikat, hingga anak-anak sekolah di Indonesia menyuarakan sikap yang sama: menentang serangan brutal Israel.
Demonstrasi massal hingga doa bersama berlangsung di beberapa tempat sejak akhir pekan lalu. Ratusan unjuk rasa dalam beberapa hari terakhir telah digelar secara serentak, tidak saja di negara-negara Islam maupun negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim seperti di Tunisia, Yaman, Mesir, dan Aljazair. Warga di Australia, Italia, Korea Selatan, Spanyol dan lain-lain pun kompak menyuarakan kemarahan atas Israel.
Ali Golin termasuk yang berdemonstrasi di Kota Istanbul, Turki, pada Jumat pekan lalu. “Saya yakin bahwa semua umat Muslim harus menunjukkan solidaritasnya. Semua faksi dan perbedaan hanya menghacurkan tujuan kita,” kata Golin seperti dikutip Ynet.com.
Seorang demonstran di Istanbul, Ali Golin, menyerukan kepada dunia bahwa bila ingin menentang Israel, semua umat harus kompak. “Kita tidak dapat mencapai apa-apa hanya dengan mengecam Israel. Kita harus mengambil aksi yang nyata,” ujarnya.
Seorang warga Korea Selatan pun menyatakan solidaritasnya bagi warga Palestina dengan ikut berdemosntrasi di luar Kedutaan Besar Israel di Seoul. “Kalian tidak boleh memaksa warga Palestina jadi korban. Kalian tidak boleh membunuh anak-anak di mana pun,” seru aktivis tersebut.
Seruan serupa juga dilontarkan warga Australia saat ikut berdemonstrasi di Kota Sydney. “Israel tengah menerapkan kebijakan yang membantai banyak orang di Gaza,” kata wanita bernama Sylvia Hale, yang mantan anggota parlemen dari Partai Hijau.
Sebagian publik di Amerika Serikat pun menyuarakan simpati yang sama. Saat pemerintahnya menyatakan dukungan kepada Israel, tidak sedikit para warga yang mengecam aksi militer negara zionis yang menimbulkan banyak korban jiwa di kalangan warga sipil itu.
Dalam suatu aksi yang berlangsung di Kota New York pada Minggu (18/11/2012), sekitar 500 orang memprotes atas jatuhnya banyak korban di kalangan warga Palestina.  Saat itu, sedikitnya sudah ada 70 warga Palestina –termasuk 20 anak-anak– yang tewas dan 600 orang lainnya luka-luka.
Bahkan ada seorang pemuka Yahudi yang turut mengecam aksi Israel. Menurut harian The New York Times, seorang rabi bernama Yisroel Dovid Weiss menyatakan simpatinya kepada warga Palestina. “Kami malu atas aksi yang sedang berlangsung mewakili bangsa kami. Kami justru menangisi para korban,” kata Weiss.
Reaksi PBB
Saat tekanan publik dari penjuru dunia kian menguat, PBB pun terus berupaya mengakhiri kekerasan brutal di Gaza dengan cara diplomasi. Menurut stasiun berita Al Jazeera, Sekjen PBB Ban Ki-moon pekan ini akan mengunjungi Yerusalem dan Ramallah, yang masing-masing adalah ibukota Israel dan Otoritas Palestina.
Ban Ki-moon, Ahad (18/11/2012), menyerukan Israel dan Hamas untuk menyepakati gencatan senjata. Ban meminta kedua pihak merundingkannya dengan Mesir dalam mewujudkan upaya perdamaian ini.
Dalam pernyataannya, Ban mengatakan ingin bertolak ke dua negara yang terlibat konflik untuk mendukung upaya gencatan senjata. Namun, PBB belum memberikan jadwal Ban akan menuju kesana. Media Israel mengatakan bahwa ia akan pergi ke Yerusalem, sementara Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan Ban juga akan pergi ke wilayah Palestina.
Sekjen PBB mengatakan dirinya “sangat sedih” dengan laporan-laporan tewasnya warga Palestina, termasuk 10 anggota dari satu keluarga. Ia mengaku “cemas” atas penembakan roket-roket dari Gaza ke Israel.
“Ini harus dihentikan. Saya sangat mendorong para pihak untuk bekerja sama dengan semua upaya dipimpin oleh Mesir untuk segera mencapai gencatan senjata. Setiap eskalasi lebih lanjut pasti akan meningkatkan penderitaan penduduk sipil yang terkena dampak dan itu harus dihindari,” kata Ban.
Ban Ki-moon akan melobi para pemimpin Israel dan Palestina untuk mengakhiri krisis. Sebelumnya, ia telah bertemu dengan Ketua Liga Arab, Nabil al-Arabi, dan menyatakan dukungan kepada Presiden Mesir, Mohamed Morsi, untuk menjadi mediator bagi perundingan damai Israel dan kelompok Hamas.
Ini merupakan tugas yang sangat mendesak bagi Sekjen PBB, mengingat dalam seminggu ini jumlah korban sipil di Gaza sudah melebihi seratus jiwa. (HP, dari berbagai sumber)

Israel Semakin Brutal

Wednesday, January 16, 2013

Bersama Tangani Teroris

Oleh Said Aqil Siradj

KOMPAS.com – Kembali teroris berulah. Di awal Januari 2013 ini, Detasemen Khusus Anti-teror 88 menembak mati lima terduga teroris di Dompu dan Bima. Kelima tersangka itu, menurut polisi, bagian dari tujuh teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang dari Poso yang masuk ke Bima melalui jalur pelayaran dari Makassar, Sulawesi Selatan. Densus 88 juga menemukan bahan baku 261 bom pipa di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Kawanan teroris ini diduga mengincar kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Teroris juga diduga menargetkan menghancurkan sebuah hotel di Bima. Selain di NTB, teroris juga diduga hendak menghancurkan tempat ibadah dan kantor polisi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rupanya teroris masih kuat bercokol di negeri ini, terus berbenah diri, membangun sel-sel jaringan, dan siap melancarkan aksinya. Banyak yang mengakui bahwa gerakan kelompok terorisme sangat terorganisasi, dinamis, dan memiliki tujuan tertentu. Jangan kaget bila jaringan teroris telah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Penyakit akut

Terorisme barangkali layak diibaratkan penyakit diabetes. Manakala seseorang sudah terkena penyakit yang disebut-sebut sebagai pembunuh manusia tingkat kedua di dunia setelah kanker tersebut, ia seolah sudah divonis mustahil sembuh. Kadar gula penyandang diabetes kadang naik, kadang turun, bergantung pola diet makan, obat, dan olahraga.

Kata dokter, belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang pankreas tersebut. Namun, sudah banyak obat yang setidaknya bisa menurunkan atau menetralkan kadar gula, baik medis maupun herbal.

Persis dengan seseorang yang sudah terjangkiti ”penyakit” radikal dan terorisme. Entah karena awalnya berangkat dari ikut-ikutan pengajian-pengajian ”keras”, salah dalam membaca buku keagamaan, atau akibat rasa ”terasing” dari pergaulan sosial alias frustrasi sosial, masalah keterjepitan ekonomi, dan sebagainya.

Mengobati militansi yang didasari semangat jihad yang kebablasan ini memang tak seperti membalik tangan. Namun, jelas perlu terapi yang mujarab. Memang sudah cukup banyak dilakukan, seperti deradikalisasi, resosialisasi, reedukasi, dan reintegrasi. Cara-cara tersebut harus terus digencarkan demi kemanjuran menyembuhkan penyakit akibat ”overdosis” dalam memaknai ajaran keagamaan.

Penanganan komprehensif

Pada 7 Januari lalu, saya kedatangan empat warga Poso, Sulawesi Tengah. Mereka ke PBNU difasilitasi aktivis Gerakan Pemuda Anshor dan dua komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Keempat orang ini meluapkan kecemasan terhadap sikap aparat dalam penanganan terorisme belakangan ini. Setelah mendengar segala keluh kesah mereka, saya manggut-manggut dan berjanji akan mencoba menyampaikan laporan warga Poso ini kepada Presiden.

Apa yang hendak saya wedarkan ini tentu sama sekali bukan untuk menggembosi tindakan pemberantasan teroris, tetapi lebih sebagai upaya membantu agar penanganan terorisme bisa lebih baik. Kita berharap penanganan sejumlah kasus dugaan terorisme di Tanah Air lebih profesional, menghindari sikap represif yang dapat menimbulkan waswas di masyarakat.

Memang, menghadapi ulah teroris seolah kita dibuat ”kelabakan” atau katakanlah ”dilematis”. Padahal, kelompok teroris ini bila beraksi bertindak brutal tanpa mengindahkan norma sosial dan bahkan keagamaan. Namun, pihak berwenang dituntut dalam menangani teroris harus selalu berjalan di jalur hukum dan norma-norma kemanusiaan lantaran perlu sealur dengan pemberlakuan HAM yang didudukkan sebagai ”norma internasional”. Misalnya, salah tangkap atau salah tembak bisa menimbulkan gejolak yang makin memanaskan suasana.

Adanya ”rambu-rambu” seperti ini bisa-bisa menimbulkan sikap dan tindakan ”maju kena mundur kena” sekalipun perlakuan dan penanganan terhadap terorisme lebih punya ”keleluasaan” dibanding penanganan kejahatan biasa. Sebab, terorisme dimasukkan kategori kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Sebenarnya yang justru lebih menarik dan bikin penasaran adalah model penanganan terorisme di negeri kita yang dirasa masih ”luwes dan lunak”. Namun ternyata, penanganan terorisme di negeri ini dipandang paling sukses dibanding negara lain, bahkan dibanding Amerika Serikat yang katanya jadi ”ikon” demokrasi justru memberlakukan tindakan represif terhadap tahanan kasus terorisme.

Fakta ini perlu jadi kebanggaan kita sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran sehingga segala upaya penindakan terhadap segala bentuk brutalisme selalu berjalan berdasar pada hukum yang berlaku serta norma-norma yang adiluhung. Bukan lantas menjadi ”peluang” bagi kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan aksi anarkis, terutama terhadap mereka yang diposisikan sebagai minoritas.

Tak bisa dimungkiri, aksi terorisme merupakan tindakan sadis yang melanggar kemanusiaan dan ajaran mulia keagamaan. Prinsip ini yang secara fundamental wajib menjadi pegangan dalam menindaklanjuti upaya melawan teroris. Jangan sampai kemudian tindakan yang sudah dirancang bangun demikian rupa jadi terkesan ”lembek”.

Di tataran perilaku

Apa dan siapa teroris itu? Teroris bukan penyandang sakit jiwa (psikopat), penderita gangguan jiwa (neurotik), atau orang- orang yang sadis. Pengamat Barat sebelumnya menghujami tuduhan, teroris itu akibat ketersumbatan libido seksual mereka lantaran banyaknya larangan perilaku seksual dalam ajaran Islam.

Meminjam hasil penelitian Sarlito Wirawan Sarwono (2012), para teroris adalah orang-orang biasa. Beberapa di antaranya bahkan tergolong cerdas. Kebetulan mereka punya ideologi berbeda dengan kita. Ideologi ini sangat diyakini seolah-olah ideologi mereka paling benar dan yang lain salah.

Para teroris adalah orang-orang normal yang beranak-istri, setia kawan, patuh pada orangtua, dan bekerja mencari nafkah sebelum buron.

Ideologi mereka tak ubahnya ideologi-ideologi radikal lainnya yang berada di luar basis keagamaan. Sebutlah ideologi kaum kiri yang bersumber pada Marxisme seperti pemberontak komunis di Kolombia dan Filipina. Juga seperti sekte-sekte radikal Aum Shinrikyo di Jepang dan Yoel Lerner dari Yahudi radikal di Israel. Mereka sangat militan dalam doktrin dan kalap dalam melakukan aksi kekerasan.

Akhirnya, kita perlu menimang-nimang pemahaman yang lebih baik atas gejala terorisme sehingga mampu menindaknya lebih cepat dan tepat. Pendekatan komprehensif banyak diakui berbagai pihak belum terlaksana dalam penanganan terorisme di negeri ini.

Apa yang selama ini dilakukan, seperti program deradikalisasi, perlu lebih ditingkatkan menjadi program disengagement. Maksudnya, kita tak lagi hanya berkutat di tataran ideologi, tetapi juga di tataran perilaku.

Seiring itu, perlu keterlibatan masyarakat dalam memberi informasi, mewaspadai, dan menyikapi bekas narapidana teroris sehingga langkah-langkah pembinaan, preventif, dan penegakan hukum menjadi lebih sinergis.

Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Bersama Tangani Teroris

Sunday, April 7, 2013

Masih Ada Upaya Saling Serag Karena Beda Ormas

SOREANG, (PRLM).- Banyaknya ormas Islam di Indonesia bukanlah tanda adanya perpecahan umat Islam melainkan harus dijadikan ajang untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul-khairat). Namun, sampai saat ini masih ada upaya saling serang bahkan “mengafirkan” kepada sesama Muslim hanya karena beda ormas.


“Tiap ormas Islam hanya mengajak masuk Islam dan menjalankan ajaran Islam bukan mengajak warga agar masuk ormasnya,” kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Syarikat Islam (SI) Jabar, KH. DR. Ade Suherman, SH.I, dalam pelantikan DPW SI di Masjid Alhikmah. Cikoneng, Bojongsoang, Minggu (7/4/2013).


Kiai Ade mengatakan, tidak boleh sebuah ormas islam mengklaim masjid yang dibangunnya sebagai masjid ormas Islam. “Semua masjid adalah milik Allah sehingga beda paham dalam Islam tidak menghalangi seseorang masuk dan beribadah di dalam masjid,” ujarnya.


Dia merasa prihatin dengan banyaknya klaim terhadap masjid-masjid sehingga masjid terbatasi jemaahnya. “Kadang ada klaim masjid ini milik ormas Islam sehingga Muslimin dari ormas Islam lainnya tidak mau masuk ke masjid. Ini kan ironis,” katanya.


Pelantikan DPW SI Jabar dilakukan Ketua DPP SI, KH. Amarullah, disaksikan ratusan Muslimin pengurus dan kader SI se-Kab. Bandung.(A-71/A-147)***


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/01/06/pengajian-dibubarkan-polisi-kapuas


Masih Ada Upaya Saling Serag Karena Beda Ormas

Sunday, January 13, 2013

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Leon Agusta

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa 

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan panganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Leon Agusta Penyair Tinggal di Jakarta






Article source: http://beritasore.com/2013/01/11/bi-terbaik-dalam-promosikan-keuangan-syariah/


Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Friday, July 5, 2013

Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Home Sejarah



Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)





 

Sultan Al Fatih (dalam Film Fetih 1453) memberi perlindungan penganut Kristen



 




Jum’at, 05 Juli 2013


Oleh: Ady C. Effendy


Kejatuhan Konstantinopel: Faktor di balik Keberhasilan Penaklukan

SETELAH
gencatan senjata, Sultan Murad II secara mengejutkan menyerahkan tahta kepada putranya Muhammad II, yang pada saat itu baru berusia dua belas tahun. Pada Rabi II 848 H/ Juli 1444M, Muhammad II diangkat sebagai sultan oleh ayahnya. Dia ingin mempersiapkan anaknya untuk sesegera mungkin mengambil alih kekuasaan yang telah menyibukkan dirinya seumur hidupnya.


Alasan lain yang disebutkan untuk suksesi yang sangat cepat ini adalah bahwa Sultan Murad II ingin memastikan legitimasi pemerintahan putranya melawan seorang pangeran palsu keturunan Turki Usmani yang mengklaim kekuasaan dan tinggal di dalam kota Konstantinopel, yaitu pangeran Orkhan.


Pemerintahan pertama Sultan Muhammad II yang tercatat dari Rabi II 848H / Juli 1444M hingga Djumada II 850H/August 1448M, menemui kegagalan. Krisis internal pemberontakan Hurufi di Edirne pada 8 Djumada II 848/22 September 1444. Krisis eksternal yang ditimbulkan oleh fakta bahwa sepuluh tahun gencatan senjata rupanya dilanggar oleh raja Hungaria yang menyeberangi sungai ke Bulgaria. Paus mengampuni raja Hungaria atas sumpah yang telah diucapkannya dengan alasan bahwa hal itu tidak berlaku karena ia bersumpah untuk seorang kafir. Dalam 4-8 Djumada II 848 H/ 18-22 September 1444M, raja dan tentara salib siap untuk pertempuran.


Pada bulan November 1444, dengan bantuan pelaut Genoa, tentara Usmani di bawah Murad II menyeberang ke Eropa dan melawan tentara salib di dekat pelabuhan Laut Hitam Varna, utara dari Konstantinopel. Dinasti Utsmani menang secara telak, raja Hungaria tewas, dan hanya sedikit yang lolos.


Murad II mengupayakan untuk memastikan suksesi Sultan Muhammad II setelah mengajaknya untuk turut dalam kampanye militer yang besar di kawasan Balkan – melawan Hungaria di Kossova di 852H/1448M, dan melawan Albania pada musim panas 854H/1450M. Murad II memerintahkan anaknya untuk menikahi Sitti Khatun putri Dzul Kadirid penguasa, yang secara tradisional merupakan sekutu Turki Usmani melawan Karamanids, dan kemudian tinggal di istana ayahnya di Manisa, Anatolia. Tak lama setelah menerima kabar kematian ayahnya, Sultan Muhammad Al Fatih sekali lagi kembali ke tahta Usmani pada 16 Muharram 855H/18 Februari 1451M.


Ancaman eksternal terus menempatkan kepemimpinan Sultan Muhammad II dalam ancaman. Kaisar Bizantium, dalam upaya untuk mendapatkan konsesi dari Sultan Muhammad II, mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Pada saat yang sama, Karamanid Ibrahim menginvasi wilayah sengketa di Hamid-ili. Wazir Candarli berhasil menahan Byzantium dan Serbia dengan konsesi teritorial, sedangkan sultan muda memulai kampanye militer pertamanya melawan pasukan Karamanid tersebut. Ancaman Kaisar Bizantium tidak selesai dengan pemberian konsesi sebelumnya.


Bahkan, karena mengejar kekayaan, kaisar Kristen itu kembali mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Sultan Muhammad II, setelah mencapai kesepakatan dengan Karamanid, bertekad untuk kembali ke Edirne dan memecahkan masalah Bizantium secara tuntas. Dengan dukungan Panglima militer Zaghanos, ia mulai merencanakan pukulan militer yang akan mematikan kerajaan tua itu, pertama dengan membangun kastil Boghaz-Kesen di Bosphorus.


Dia juga telah mengamankan perjanjian dengan Venesia (13 Sha’ban 855/10 September 1451) dan Hungaria (25 Syawal 855/20 November 1451) serta menyewa seorang ilmuwan Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam paling kuat yang pernah dikenal untuk menghancurkan dinding tua Konstantinopel.


Panglima Zaghanos dan Syekh Shihabuddin mendukung perang tersebut seraya menegaskan ancaman bahaya yang ditimbulkan dari Bizantium untuk kekhilafahan Islam dan dapat memecah kesatuannya. Keberhasilan penaklukan akan sangat tergantung pada efisiensi waktu dan efektivitas pengepungan.


Pada bulan Maret 1453M, tentara Usmani meluncurkan long-march menuju kota. Pada tanggal 2 April, orang di kota melihat tentara besar sejumlah lebih dari seratus ribu tentara mendekati kota. Kaisar Constantine XI benar-benar cemas dengan situasi tersebut.


Seorang berkebangsaan Venesia bernama Nicolo Barbaro telah tiba pada musim semi di kota itu. Kaisar sangat menghargai dukungan ini pada situasi yang sangat mengkhawatirkan sehingga ia memberikan empat gerbang kota dan semua kunci yang ada pada mereka kepadanya. Para penjaga Konstantinopel juga memblokade Golden Horn dengan rantai besi untuk mencegah berlalunya setiap armada laut Turki Usmani. Populasi kota selama pengepungan itu diperkirakan berjumlah sekitar dua ribu orang asing dan 4,773 orang Yunani untuk melindungi dinding kota yang panjangnya 23 km.


Di sisi lain, Tentara Turki Usmani berkemah di luar tembok kota. Para tentara elit Janissary menjaga tenda merah dan emas tempat Sultan Muhammad Al Fatih berdiam, sedangkan tentara reguler menduduki dua daerah: “barat kota sepanjang daerah dataran rendah di sekitar Sungai Lycus, yang mengalir melalui tengah Konstantinopel, dan di dekat Barbaro Galata / Pera di pantai utara Golden Horn.”


Diperkirakan terdapat sekitar 145 kapal Turki Usmani rendah berlabuh di Kolom Ganda, sebuah pelabuhan di Bosporus yakni 3 km sebelah utara kota. Mempertahankan kota Konstantinopel dari laut adalah Alvise Diedo, seorang kapten kapal dan pedagang Venesia, yang menguasai sekitar dua puluh enam kapal tinggi dan perahu-perahu kecil, dan bertugas mempertahankan pelabuhan Golden Horn.



Pengepungan di Konstantinopel


Sebelum pengepungan dimulai, Sultan, mengikuti tradisi Islam, menawarkan warga Konstantinopel kesempatan untuk menyerah, pilihan yang akan menyelamatkan hidup dan harta mereka. Tetapi kaisar yang sombong terlalu mustahil untuk mengambil penghinaan seperti itu.


Pada tanggal 6 April pengepungan bersejarah dimulai dengan membuka tembakan meriam yang merusak parah dinding dekat gerbang Charisian sekitar setengah mil (0.8 km) utara Sungai Lycus. Para pembela kota berusaha untuk memperbaiki dinding. Beberapa hari kemudian, meriam membombardir dinding lagi dan benar-benar menghancurkan tembok luar sehingga memaksa para pelindung kota untuk membangun sebuah benteng tanah dan kayu di atasnya. Dampak meriam sangat besar sehingga meninggalkan lubang di dinding yang tidak dapat diperbaiki. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan tujuh kali sehari dan membutuhkan persiapan lama sebelum penembakan.


Pada tanggal 15 April, selama pengepungan, empat kapal penuh persediaan berlayar menuju kota, didanai oleh Paus dan duta besar Konstantinopel, melalui Laut Marmara. Suleiman Baltoghlu, laksamana armada Turki Usmani, mengerahkan puluhan kapal untuk mencegat dan menghancurkan empat kapal itu. Sayangnya, angin yang bertiup melawan arus membuat kapal-kapal Turki Usmani tidak mampu bermanuver.


Kapal Italia yang lebih tinggi dan bersenjata lengkap secara mengherankan lolos dan masuk ke Pelabuhan Tanduk Emas setelah para pelaut itu berhasil memukul kembali pelaut Turki  Usmani dengan tombak, kapak, batu dan panah. Di darat, tentara Usmani cukup berhasil. Giovanni Giustiniani memimpin para pembela kota dengan berani dan memukul kembali upaya musuh untuk membakar benteng dan membunuh para pembelanya. Setelah empat jam, pasukan Usmani mundur.


Para pembela kota mengambil kesempatan untuk memperbaiki lubang di dinding dengan balok kayu, tanaman merambat, cabang, bumi dan puing-puing. Sementara itu, Sultan telah merencanakan untuk memasuki pelabuhan Golden Horn dengan membangun jalan yang tidak lazim melintasi lereng bukit dekat Galata / Pera ke pelabuhan. Keesokan harinya, sekitar tujuh puluh kapal Turki Usmani berlayar menuju rantai besi. Satu per satu, kapal diangkat dan ditarik ke darat. Pasukan Lembu dan roda menyeret kapal-kapal itu ke gelondongan kayu yang diminyaki dengan lemak hewan … dan dalam hitungan jam kapal-kapal itu telah tiba dengan aman di dalam Golden Horn. “Keberhasilan pelaut Turki Usmani dalam memasuki pelabuhan telah membuat populasi kota lebih menderita karena kehabisan persediaan dan terhalang dari memancing ikan.


Di dalam kota Konstantinopel, orang-orang Kristen dari semua sekte berkumpul ke Gereja Hagia Sophia untuk mengadakan Misa bersama-sama. Mereka bersatu setidaknya untuk sesaat setelah sengketa selama berabad-abad antara gereja Yunani dan Latin. Giustiniani dan tentaranya mengambil posisi antara dinding bagian dalam di Lycus Valley dan benteng luar di mana tentara Turki Usmani pasti akan menyerang. Gerbang pada dinding bagian dalam di belakang mereka ditutup. Tidak ada jalan bagi mereka untuk mundur.


Pada pagi hari Selasa, tanggal 29 Mei 1453M, serangan berkekuatan penuh dimulai. Teriakan disela pertempuran, suara drum, alat musik, dan terompet dibunyikan oleh tentara Usmani seluruh lembah, dan diikuti oleh lonceng gereja yang memperingatkan penduduk kota dari ancaman yang datang.


Pertempuran dimulai dengan serangan oleh tentara non reguler yang sebagian besar berasal dari Balkan. Mereka berupaya untuk mendaki berbagai daerah sepanjang dinding menggunakan tangga untuk menyibukkan dan mengalihkan perhatian para pembela kota dari pertempuran utama di bagian Lycus Valley. Setelah dua jam pertempuran, tentara non regular diperintahkan untuk mundur. Sekarang, tentara reguler, yang bersenjata lengkap, sangat disiplin dan sebagian besar dari Anatolia menyerbu Lycus Valley. Sementara itu, meriam raksasa Urban terus menghancurkan dinding tanpa menyisakan waktu yang memadai untuk perbaikan oleh pembela.


Setelah dua jam, para pasukan Janissary (pasukan elit khusus) menyerbu ke lapangan pertempuran, sementara Muhammad Al Fatih memimpin sejauh parit. Para pembela yang kelelahan berjuang tanpa rasa takut selama satu jam.


Salah satu kelemahan, bagaimanapun, mulai terungkap oleh tentara Turki Usmani, sebuah gerbang kecil – Kerkopotra – di sudut barat laut kota itu dibiarkan terbuka. Itu digunakan untuk memungkinkan pembela kota untuk menyelinap dan meluncurkan serangan rahasia pada musuh, tapi terbuka karena seorang tentara pembela kota tampaknya lalai ketika ia masuk kembali ke kota. Orang-orang Turki Usmani bergegas memasuki pintu gerbang, beberapa dari mereka dipukul mundur, tetapi beberapa puluh tentara berhasil masuk ke dalam kota.


Saat matahari terbit, pemimpin militer kota, Giustiniani, tertembak di jarak dekat, yang merusak baju pelindungnya. Setelah menerima cedera parah ini, semangat pertempuran telah benar-benar hilang darinya dan ia bergegas menaiki kapal untuk meninggalkan medan perang. Ketika gerbang dibuka oleh pasukan Turki Usmani, kepanikan telah mengalahkan semangat para pembela kota sehingga beberapa meninggalkan posisi mereka.


Dalam pukulan terakhir terhadap pasukan pelindung kota, Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukan elit khusus (tentara Janissari) untuk memperbaharui serangan mereka dan para pembela benar-benar melarikan diri saat ini. Bendera kekaisaran Bizantium akhirnya dirobek dan digantikan dengan bendera Kekhilafahan Islam Turki Usmani. Konstantinopel telah jatuh dan sejarah Bizantium benar-benar berakhir sepenuhnya tanpa kemampuan lebih lanjut untuk bangkit kembali.


Setelah menerima sinyal kemenangan, sisa tentara Usmani bergegas ke kota. Para pelaut di kapal perang Turki Usmani di Golden Horn menyerang dinding pelabuhan dan keluarga nelayan membuka gerbang dan mendapatkan janji bahwa mereka tidak akan dibunuh. Kaisar Byzantium, Konstantinus XI, telah menghilang dari tempat kejadian, tanpa catatan sejarah kemana perginya. Sultan Usmani kembali ke tendanya dan memenuhi janjinya kepada orang-orang dari kota Konstantinopel dan Galata / Pera bahwa keluarga dan harta mereka akan dibiarkan utuh, sementara tentaranya mengambil ghanimah dari sebagian besar harta yang tersisa didalam kota.


Penutup


Catatan sejarah tentang konflik sektarian berkepanjangan yang melanda tanah Kristen terutama di Konstantinopel dan upaya tanpa henti oleh para pemimpin Muslim sepanjang era keemasan Islam untuk merebut Konstantinopel telah menunjukkan kepada kita bagaimana wacana agama selama abad pertengahan memainkan peran yang sangat penting dalam rangkaian peristiwa di masa lalu.


Para tentara Perang Salib yang dikirim setelah seruan dari Paus di Roma untuk mengambil alih tanah suci Yerusalem dari orang-orang kafir telah membawa dampak negatif bagi tanah Kristen. Alih-alih berhasil dalam upaya mereka untuk merebut kembali tanah suci, Pasukan Salib malahan menghancurkan kehidupan Kristen di kota Konstantinopel Bizantium dan kota Kristen di dekatnya. Hal ini telah menyebabkan ketidakpuasan yang sangat mendalam pada sisi Kristen Ortodoks Yunani terhadap Gereja Katolik Roma.


Hal ini akhirnya membuka jalan bagi Kekhilafahan Usmani Muslim sehingga berhasil merebut kota bersejarah itu dan menyebabkan pukulan telak bagi kekaisaran Kristen Bizantium yang telah berdiri selama berabad-abad tanpa ada kemampuan untuk menghidupkan kembali dinasti yang punah itu. Alasan yang mungkin dikemukakan untuk ketidakmampuan ini adalah fakta bahwa para pemimpin dan penduduk di kota Kristen telah benar-benar lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Gereja Roma.


Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih hidup damai di bawah pemerintahan Usmani Muslim yang menjamin kebebasan mereka dan memperlakukan mereka dengan adil daripada hidup di bawah Gereja Roma yang sangat menindas. Aturan Usmani selama abad pertengahan itu terbukti sangat adil dan damai terhadap orang Kristen dan Yahudi yang bahkan cenderung dianiaya di tanah Eropa pada abad pertengahan.


Faktor lain yang mendukung kemenangan Utsmani dalam menaklukkan ibukota Bizantium adalah faktor teknologi militer canggih. Keputusan untuk menyewa Urban, seorang ilmuwan Hungaria, untuk menciptakan meriam terkuat yang pernah ada di zaman pertengahan telah menjadi factor penting bagi keberhasilan pengepungan. Faktor terakhir yang berkontribusi terhadap kemenangan yang menentukan terhadap kekaisaran Bizantium selama berabad-abad adalah semangat keimanan yang membakar tanpa kenal lelah kekuatan militer Muslim Usmani pada umumnya, dan terutama Sultan Muhammad Al Fatih.


Akhirnya, jatuhnya Konstantinopel tidak akan mungkin terjadi tanpa faktor-faktor tersebut. Keruntuhan dari Kekaisaran Bizantium juga tidak mungkin untuk dipertahankan jika masih ada percikan semangat pada hati orang-orang Kristen Yunani untuk menghidupkan kembali kekaisaran mereka. Adalah rasa jijik selama berabad-abad dan kelelahan yang luar biasa akan konflik sektarian Kristen dan persepsi umum mereka akan keadilan kekhilafahan Muslim yang baru telah membantu dalam menjaga stabilitas pemerintahan Kekhilafahan Utsmani yang panjang atas penduduk Kristen Yunani di wilayah tersebut.*


Penulis sedang melanjutkan S2 di Qatar


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/06/18/6/179051/Ratusan-Jemaah-Keluar-dari-Ajaran-Ahmadiyah


Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Monday, June 10, 2013

Pengelolaan Yatim Harus Masuk Perundangan (Bagian-1)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Amri Amrullah


Anak yatim belum mendapat perhatian khusus.


JAKARTA – Ketua Dewan Pembina Persaudaraan Pengelola (PP) Yatim Indonesia Hatta Rajasa mengusulkan agar pengelolaan anak yatim diatur dalam perundang-undangan.


Sebab, kata Hatta Rajasa, pengelolaan anak yatim di Indonesia saat ini belum mempunyai landasan hukum yang spesifik.


Usulan ini disampaikan Hatta dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) II sekaligus peringatan Isra Mi’raj dan pertemuan Forum Yatim ASEAN III di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/6).


“Saat ini, belum ada kriteria formal anak yatim dalam konstitusi kita. Dalam aturan pengentasan kesejahteraan sosial hanya kriteria anak yang wajib diayomi negara, yakni fakir miskin, anak terlantar, dan anak jalanan. Namun, anak yatim tidak disebutkan secara spesifik oleh institusi negara,” ujarnya.


Oleh sebab itu, kata dia, sangat wajar bila kita harus memperjuangkan pengaturan anak yatim ini agar masuk dalam pengelolaan negara.


Sudah saatnya kriteria anak yatim masuk dalam aturan perundangan dan masuk dalam daftar penyandang masalah kesejahteraan sosial.


Walau sadar upaya tersebut tidak mudah, ia menegaskan, ini adalah upaya konkret umat Islam Indonesia dalam menyantuni anak yatim.


Hatta menjelaskan, saat ini di Indonesia terdapat sekitar 3,5 juta anak yatim. Dan, yang perlu disadari, banyak di antara mereka yang belum mendapat perhatian khusus, terutama hak hidup layak.


“Anak yatim perlu mendapatkan hak pendidikan dan hidup layak untuk kehidupan berkelanjutan mereka,” tegasnya.



Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=278854:transparansi-pembatasan-kuota-calon-haji&catid=14:medan&Itemid=27


Pengelolaan Yatim Harus Masuk Perundangan (Bagian-1)

Thursday, January 31, 2013

Singapura Dicuncang Gay

Bila di Indonesia sedang ramai gugatan undang-undang (UU) mengenai migas dan sekolah, di Singapura pemerintahannya ‘panas-dingin’ menghadapi tuntutan aturan pernikahan pasangan gay.

Kasus pernikahan sejenis kembali mengguncang publik. Kini giliran Singapura yang menghadapi dilemma tersebut.Pemerintah Singapura dalam rilisnya  mengatakan akan menggelar proses persidangan untuk menghadapi gugatan yang dilakukan pasangan gay terhadap salah satu pasal hukum pidana negara kota itu.

Gary Lim dan Kenneth Chee, pasangan gay, resmi menggugat pasal 377A yang menyatakan perbuatan homoseksual sebagai tindakan kriminal. Pasangan yang sudah hidup bersama selama 15 tahun itu menilai, pasal 377A tidak konstitusional.

“Kami tidak takut akan ditangkap polisi karena kami hidup sebagai pasangan gay, tetapi pasal itu melabel kaum kami sebagai kriminal, dan kami tidak menginginkannya,” jelas Kenneth.

Proses persidangan di Mahkamah Agung akan dilaksanakan 14 Februari mendatang. Aedit Abdullah, Kepala Jaksa Penuntut Singapura, akan bertindak sebagai perwakilan pemerintah. Gugatan ini sendiri bukanlah gugatan pertama. Sebelumnya Tan Eng Hong, menggugat pasal itu setelah dia ditangkap tahun 2010 dengan tuduhan melakukan seks oral di toilet mal.

Gary menambahkan, walaupun pemerintah sudah melunak dengan tidak akan terlalu pro-aktif dalam menerapkan pasal itu, namun kasus di mana individu dijerat dengan pasal 377A masih kerap terjadi. Selain itu, kata Gary, sangatlah mungkin, ada pihak-pihak yang mengeluh terhadap kaum gay dan menggunakan pasal ini untuk menjerat komunitas gay.

Pengacara Choo Zheng Xi, yang mewakili Gary dan Kenneth menyatakan, pasal ini mempersulit upaya organisasi non-profit yang bergerak di bidang perlindungan kaum gay. “Pasal ini menyebabkan masyarakat mempertahankan stigma dan diskriminasi terhadap kaum gay, mulai dari sekolah dan tempat kerja hingga menyebabkan (gay, red) bunuh diri,” jelasnya.

Pasangan yang berprofesi sebagai desainer ini telah banyak menghabiskan waktu untuk komunitas gay. Mereka mendirikan grup sosial, The Bear Project, dan juga telah mengumpulkan petisi untuk menggugat pasal kontroversial itu. Mereka berharap dapat melakukan yang lebih baik lagi melalui gugatan ini.

Pro-Kontra
Gereja-gereja di Singapura pun menyerukan jemaatnya secara khusus dan masyarakat secara umum untuk membentuk ‘barikade’ menghadapi gugatan hukum pasangan gay.

Asia One melaporkan, mobilisasi akan dilakukan secara terbuka dan online oleh 100 gereja dan 40.000 anggota jemaat Kristen yang tergabung dalam komunitas LoveSingapore. Mereka akan menyerukan penolakan keras terhadap pencabutan pasal tersebut.

Dimotori oleh Pendeta Lawrence Khong, gembala sidang di Faith Community Baptist Church, Khong memperingatkan nilai-nilai keluarga dan kebebasan beragama akan terancam jika pasal itu dicabut.
“Negara-negara lain yang mencabut pasal sejenis telah menyaksikan kehancuran keluarga yang merupakan unit paling dasar dari kehidupan. Hal ini berimbas negatif ke masyarakat dan juga pembangunan bangsa,” ucap Khong.

Khong mendesak Pemerintah Singapura untuk memelopori upaya memberikan pendidikan moral yang tepat kepada masyarakat dan memastikan bahwa definisi keluarga tetap terdiri dari ayah, ibu, dan anak.

Sementara itu, Pendeta Yang Tuck Yoong, anggota eksekutif LoveSingapore, menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab terhadap isu ini. “Kami siap untuk pertempuran ini.”

Paerin Choa, pimpinan komunitas Pink Dot, menjawab Singapura adalah negara yang beraneka ragam dan mereka menghargai perbedaan pendapat.

Bereaksi lebih keras, grup humanis di bawah pimpinan Mark Kwan mengeluarkan pernyataan bahwa pasal ini mengkriminalisasi gay yang tidak berafiliasi ke agama apa pun atau yang memiliki kepercayaan. Gay bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama mereka. Kwan merilis surat terbuka kepada Menteri Kehakiman K Shanmugam untuk mencabut pasal itu.

Kondisi makin memanas. Sebab, Scott Teng, seorang peneliti, melaporkan Pendeta Yang Tuck Yoong ke kepolisian menyusul komentar pedasnya terhadap komunitas gay Singapura. Yang memicu kontroversi menyusul tulisannya di situs web gereja tempatnya bertugas, Cornerstone Community Church.

Dalam tulisan berjudul “Firing the First Salvo” yang menyerukan umat Kristiani untuk mempersiapkan diri menghadapi “perang” melawan kaum gay. Dia juga menegaskan bahwa gereja tidak boleh lengah menghadapi bahaya homoseksualitas yang sudah berada di depan mata. Yang mengakhiri tulisannya dengan menekankan bahwa ini adalah tanggung jawab gereja untuk menghancurkan “kekuatan gelap” tersebut.

Pendeta Yang sendiri sudah mengganti judul tulisannya menjadi “Times and Seasons” dan menghilangkan referensi secara spesifik terhadap kaum gay.

Teng, yang merupakan seorang gay, memutuskan untuk melaporkan Yang karena dia menilai tulisan tersebut bernada menghasut masyarakat yang berpotensi menimbulkan kekerasan fisik terhadap kaum gay. “Sangat mungkin ada jemaat ataupun pengikut Dr Yang yang menanggapi tulisan ini secara harfiah dan memicu hal yang tidak diinginkan,” jelas Teng.ins

Indonesia Sepakat Pernikahan Sejenis Haram
Di Indonesia isu pernikahan sejenis juga snater beredar. Bahkan beberapa artis pria diduga memiliki hubungan ‘janggal’ tersebut. Sebut saja gosip percintaan Indra Bruggman Bertrand Antolin hingga Olga Saputra dan Chand Kelvin. Meski semuanya menampik kabar tersebut.

Pemerintah dan seluruh elemen bangsa sendiri sepakat, atas alasan apa pun pernikahan sejenis melanggar nilai-nilai ajaran agama apa pun. Islam secara tegas mengharamkan pernikahan tersebut.

Anggota Majlis Tarjih PP Muhammadiyah Marifat Iman mengatakan, mereka yang mendukung pernikahan sejenis atas nama hak asasi manusia (HAM) justru melanggar HAM itu sendiri. “Jika HAM yang seharusnya diperjuangkan adalah hak yang sesuai dengan kodrat alam dan digariskan Tuhan,” katanya. Menurutnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan, binatang saja ditakdirkan untuk hidup bersama lawan jenisnya.

Ketua Komisi Fatwa MUI Ma’ruf Amin mengungkapkan, pernikahan sejenis melanggarkan nilai-nilai ajaran agama Islam. “Agama Islam jelas melarang pernikahan sejenis. Haram hukumnya,” ujarnya. Menurutnya, mereka yang menyukai sesama jenis memiliki masalah psikologis yang perlu diobati. “Itu harus disembuhkan. Bukan dituruti maunya. Dalam hatinya ada penyakit,” ujarnya.

Menurut hadis Rasulullah SAW, “Barang siapa yang mendapatkan orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (praktik homoseksual dan lesbian) maka ia harus menghukum mati, baik yang melakukannya maupun yang dikumpulinya,” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-baihaqi).

Rakyat Barat Menolak
Penolakan terhadap pernikahan sejenis atau terkenal dengan kelompok lesbian, gay, bisexual, transgender (LGBHT) tidak hanya datang dari kalangan Muslim. Sebelumnya, pemimpin Katolik Roma di Inggris dan Wales mengkritik rencana Pemerintah Inggris yang akan melegalkan pernikahan sejenis dalam kotbah malam natalnya. Uskup Agung Westminster Vincent Nichols menyatakan, rencana itu sangat tidak masuk akal.

Ratusan penduduk Paris juga memprotes rencana pelaksanaan rancangan undang-undang yang memperbolehkan pernikahan sejenis di Prancis oleh Presiden, Francois Hollande menjelang Juni ini.

Anehnya, para petinggi negeri itu tampaknya tak mengubris. Tak tanggung-tanggung, Undang-Undang yang digagas Perdana Menteri Inggris David Cameron itu akan memberi sanksi kepada siapapun yang nantinya menolak adanya pernikahan sejenis.

“Panitera alias pejabat kantor sekretariat pengadilan bakal dituntut apabila ketahuan menolak pengajuan pernikahan sesama jenis atau gay,” demikian isi Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pernikahan gay di Inggris, seperti dikutip Dailymail.

Meskipun dihujani protes dan kritik pedas, Cameron tetap bersikeras akan memperjuangkan aturan ini. Sementara, sejumlah menteri kabinetnya banyak yang menentang apa yang Cameron yakini sebagai sebuah keadilan yang harus ditegakkan.

Menteri Pendidikan Michael Gove menyatakan akan melindungi para guru penentang pernikahan sejenis yang bakal dipecat atas sikapnya itu. Namun, seorang sumber di Departemen Pendidikan mengkhawatirkan pemecatan guru-guru tetap akan tetap terjadi.

Sementara, Menteri Kebudayaan Inggris Maria Miller, yang juga menteri atas kesetaraan, menyatakan akan mengkaji dan mendalami perlakuan yang sama dan adil terhadap pasangan gay.

“Pernikahan adalah institusi yang sangat penting dan sakral, salah satu yang kerap berubah sepanjang sejarah kita, dan akan terus berubah. Nilai-nilai kekeluargaan mengikat perkawinan dan masyarakat bersama-sama,” jelas Miller.

Dalam kasus ini, lanjut dia, kita akan lebih memperkuat pentingnya arti pernikahan dalam masyarakat. RUU ini melindungi sekaligus mempromosikan kebebasan beragama, sehingga semua organisasi keagamaan dapat bertindak sesuai ajaran dan keyakinan masing-masing.

Selain menteri, sejumlah anggota parlemen juga mengkhawatirkan efek domino dari RUU tersebut. Apabila RUU tersebut telah sah menjadi UU, kemungkinan besar akan diadopsi negara-negara lain.ins

NEGARA YANG MELEGALKAN PERNIKAHAN SEJENIS
1. Belanda
Pemerintah Belanda melegalkan pernikahan sejenis pada tahun 1996, 15 tahun setelah aktivis gay mengusung isu tersebut ke permukaan pada awal tahun 1980. Parlemen Belanda membentuk satu komisi khusus untuk melihat efek hukum dari legalitas pernikahan sejenis. Empat tahun kemudian undang-undang pun disahkan. Alhasil, sejak tanggal 1 April 2001, pernikahan sejenis telah resmi diakui secara hukum di Belanda.

2. Belgia
Satu tahun setelah legalitas pernikahan sejenis diberlakukan di Belanda, undang-undang serupa diajukan pula ke parlemen Belgia. Kemudian pada tanggal 1 Juni 2003, pernikahan gay pertama dilakukan secara resmi dan diakui secara hukum. Salah satu pasangan pertama yang menikah adalah Alain De Jonge dan Olivier Pierret.

3. Spanyol
Pada tanggal 8 Juni 1901, Elisa Sanchez Loriga, berpakaian layaknya seorang pria dan menggambar alias seperti laki-laki. Wanita ini menikahi pasangan lesbinya, Marcela Gracia Ibeas. Setelah kebenaran itu terkuak (dan diterbitkan dalam dua surat kabar), mereka kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dan harus meninggalkan Spanyol untuk menghindari penangkapan. Maka, pernikahan mereka menjadi pernikahan sejenis pertama yang tercatat dalam sejarah Spanyol.

Pada tanggal 30 Juni 2005, Parlemen Spanyol melegalkan pernikahan sejenis. RUU ini sangat ditentang oleh Gereja Katolik, tetapi hasil jajak pendapat menunjukkan 62% dari majelis mengabulkan UU tersebut.

4. Kanada
Pada saat Parlemen mengesahkan pernikahan gay pada 20 Juli 2005, hampir semua provinsi di Kanada telah melegalkan hukum tersebut. Setelah mengesahkan UU tersebut, Kanada menerbitkan lebih dari 15.000 surat nikah bagi pasangan sejenis yang tinggal di negara itu atau hanya datang untuk menikah.

5. Afrika Selatan
Di beberapa negara Afrika, seorang pria dapat dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup jika ketahuan gay. Namun Afrika Selatan memiliki hukum berbeda, negara ini memberi hak-hak kepada kaum LGBT untuk menikah sejak 30 November 2006.

6. Norwegia
Pernikahan sejenis menjadi topik diskusi di dewan pemerintah Norwegia. Pada tahun 1993, Norwegia menjadi negara kedua, setelah Denmark, yang melegalkan pernikahan sejenis.

7. Swedia
Swedia adalah salah satu negara paling liberal di dunia dan 71% penduduknya mendukung pernikahan sejenis. Legislasi pernikahan sejenis disahkan pada bulan Mei 2008. Lima bulan kemudian Gereja Lutheran Swedia mengumumkan dukungan penuh untuk pernikahan sesama jenis.

8. Portugal
Homoseksualitas dipandang sebagai sebuah kejahatan di Portugal sampai tahun 1982. Kemudian tahun 2009, para LGBT hanya menerima dukungan 40% dari parlemen. Setelah Perdana Menteri Jose Socrates kembali terpilih tahun 2009, ia membuat UU yang melegalkan pernikahan sejenis. Hukum itu mulai berlaku sejak 5 Juni 2010.

9. Islandia
Di Islandia, tidak satu pun anggota parlemen memberikan suara “Tidak!” tentang legalisasi pernikahan sejenis. Keputusan itu didukung oleh orang paling kuat di Islandia, Perdana Menteri Johanna Sigurdardottir. Mungkinkah ini hanya sebuah kebetulan? Pada tanggal 27 Juni 2010, hari yang sama saat undang-undang itu mulai berlaku, Perdana Menteri Islandia menikahi pasangan gaynya.

10. Argentina
Argentina menjadi negara bagian terakhir di Amerika Selatan yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Tepat pada tanggal 22 Juli 2010, hukum itu mulai berlaku di Argentina.

11. Meksiko
Sejak 21 Desember 2009, pernikahan sesama jenis dapat dilakukan di ibukota Meksiko, Mexico City. Rupanya, hukum tersebut hanya berlaku di kota itu.

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277445:kapolres-sambut-baik-terbentuknya-pamk&catid=15:sumut&Itemid=28


Singapura Dicuncang Gay

Tuesday, July 2, 2013

Warga Ahmadiyah di NTB Sulit Dapatkan KTP dan Akta Kelahiran

Para anggota jemaat Ahmadiyah yang mengungsi di Asrama Transito Mataram, Nusa Tenggara Barat mengalami kesulitasn mendapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun akta kelahiran.


Juru bicara pengungsi Ahmadiyah, Sahidin kepada VOA mengatakan hingga saat ini pemerintah daerah tidak mau memberikan akta kelahiran untuk 29 anak Ahmadiyah yang tinggal di pengungsian dengan alasan karena tidak adanya surat nikah yang merupakan syarat membuat akta tersebut.



Sahidin menyatakan sebenarnya keluarga Ahmadiyah yang tinggal di Transito, Mataram memiliki surat nikah tetapi musnah ketika terjadi penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di wilayah itu, saat rumah mereka dibakar. Menurut Sahidin, saat ini ia begitu sedih karena takut anaknya tidak bisa masuk ke Sekolah Dasar (SD) karena tidak memiliki akta kelahiran.



Bukan hanya akta kelahiran, 40 warga Ahmadiyah yang ada di Transito pun  juga tidak diberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Saat ini, 116 orang warga Ahmadiyah masih tinggal di Transito.



“Saya merasa betul-betul kecewa, menyesalkan tindakan pemerintah seperti ini. Dia kan sudah tahu bahwa kami ini sudah sekian kali mengalami penjarahan, sudah sekian kali rumah kami dibakar,” ujarnya Jumat (21/6).



“Harapan kami supaya kami itu diperlakukan seperti warga negara Indonesia pada umumnya, itu harapan kami, supaya kami tidak dibeda-bedakan. Ok lah kalau soal masalah keyakinan atau ideologi ya boleh lah tetapi kalau masalah kenegaraan ya janganlah dibeda-bedakan kami ini.”



Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Ardi Daud mengungkapkan pihaknya saat ini sedang melakukan koordinasi terkait masalah ini. Pihaknya, lanjut Ardi, akan mengecek apa yang menyebabkan warga Ahmadiyah yang berada di Asrama Transito tidak mendapatkan dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP).



“Prinsipnya akan kita dorong seluruh warga negara tanpa terkecuali termasuk saudara-saudara kita yang ada di Transito khususnya untuk bisa memiliki itu. Dan itu hak setiap warga negara untuk mendapatkan dokumen kependudukan. Undang-undang menjamin, kita akan mendorong mereka memiliki itu artinya sesudah jelas apa yang menjadi hambatan di daerah,” ujarnya.



Peneliti lembaga hak asasi manusia Setara Institute, Ismail Hasani,  meminta pemerintah serius mencarikan solusi untuk jemaat Ahmadiyah yang telah tujuh tahun masih tinggal di pengungsian. Pemerintah, menurutnya, tidak boleh melakukan pembiaran terhadap mereka.



Dia juga menilai seluruh peristiwa yang selama ini dialami oleh kelompok Ahmadiyah tidak terselesaikan secara tuntas.



Ismail mengatakan telah terjadi pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait Ahmadiyah.



“Di dalam dua periode kepemimpinannya, persoalan Ahmadiyah tidak selesai tertangani dan pelanggaran konstitusi ini terjadi. Jaminan-jaminan yang ada dalam konstitusi memang menuntut upaya-upaya lanjutan agar dia bisa ditegakan dan agar dia bisa melimpahkan keadilan tetapi seperti yang kita ketahui bersama, seluruh persoalan yang terkait Ahmadiyah dibiarkan dan bahkan sebaliknya justru jemaat Ahmadiyah mengalami kriminalisasi,” ujar Ismail.



“Hak korban untuk mencari tahu kebenaran dan mendapatkan keadilan juga menghadapi tembok besar karena negara tidak memproses para pelaku dan aktor-aktornya.”


Article source: http://www.sinarharian.com.my/kesal-gambar-masjid-dipijak-1.177832


Warga Ahmadiyah di NTB Sulit Dapatkan KTP dan Akta Kelahiran

Monday, September 23, 2013

Pembinaan Mualaf Juga Butuh Peran Pesantren

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Pembinaan mualaf merupakan tugas seluruh umat Islam, termasuk pesantren. Itu sebabnya, sosialisasi perkembangan dakwah dikalangan mualaf perlu dilakukan, dengan harapan pesantren dapat turut berperan.


Yayasan Al-Isya Nurulbaqi, selaku lembaga pembinaan mualaf, Ahad (22/9) kemarin melakukan sosialisasi pemahaman tersebut sekaligus silaturahmi akbar di Ponpes Nur El Falah, Kubang, Serang, Banten. Hadir dalam acara itu, Menteri Agama, Suryadharma Ali.


“Sosialisasi ini merupakan bagian dari pengembangan pembinaan mualaf di seluruh daerah baik tingkat kelurahan hingga pusat,” ungkap Ketua Yayasan Al-Isya Nurulbaqi, Alisya Fianne, dalam pesan singkat kepada ROL, Senin (23/9).


Menurut Fianne, melalui sosialisasi ini diharapkan pesantren dapat menjadi mitra yayasan dalam pengembangan dakwah mualaf di Banten. Ini sekaligus memperkuat usaha dimana lembaga mualaf terus berinovasi dalam upaya menjangkau seluruh mualaf.


Sosialisasi yang dimaksud bagaimana perkembangan dakwah dikalangan mualaf saat ini. Lalu tantangan apa saja yang dihadapi mualaf. Lalu bagaimana peranan umat Islam dalam hal ini. Apa saja yang dilakukan Yayasan dalam upaya mendorong mualaf sehingga menjadi Muslim yang kaffah.


“Tentunya, pesantren lebih mengetahui bagaimana cara mencintai Islam. Ketika mualaf sudah mencintai Islam, Insya Allah akan lebih mudah menerima Islam,” kata dia.


Pada kesempatan itu, Yayasan Al-Isya Nurulbaqi yang juga bergerak dibidang Tour and Travel ini memberikan bantuan kepada anak-anak pesantren yang tidak mampu. Mereka memberikan beasiswa sebesar 1 juta rupiah kepada tiga orang santri yang tidak mampu namun berprestasi. Yayasan juga memberikan hadiah dua paket umrah dan dua tabungan umrah masing-masing sebesar lima juta rupiah.


“Melalui bantuan ini, saya ingin katakan seorang muallaf itu bisa menyantunilewat al-isya nurulbaqi. Jadi, mualaf tidak lagi disantuni terus tetapi juga menyantuni sehingga ada kebanggan menjadi seorang mualaf,” katanya,


Article source: http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=63836


Pembinaan Mualaf Juga Butuh Peran Pesantren

Sunday, March 10, 2013

Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Persaingan bisnis perbankan tahun 2013 diprediksi semakin ketat, khususnya persaingan antara bank umum baik syariah maupun konvensional dengan Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S). Dengan tetap menanamkan dan menerapkan budaya kerja ‘Smarter, Harder, dan Faster’ terhadap seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki, Tri Hari Widjajanto yakin perusahaannya terus mencatatkan pertumbuhan.

Tidak tanggung-tanggung, Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah ini memproyeksikan pertumbuhan aset perusahaan yang digawanginya tahun ini mencapai Rp 144,48 miliar atau tumbuh 51 persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp95,9 miliar, dengan target petumbuhan pembiayaan sebesar 64 persen atau RP 132,39 miliar. Sementara tahun sebelumnya perusahaan bisa membukukan pembiayaan sebesar Rp 80,5 miliar atau tumbuh 71 persen dari 2011.

Semua pencapaian di atas tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Widjajanto mengenang, saat pertama kali masuk menjadi Direktur tahun 1998 silam, total aset PT BPRS Baktimakmur Indah hanya Rp 100 miliar. Namun, tangan dingin pria kelahiran Kediri, 28 Februari 1965 ini membawa banyak perubahan di dalam tubuh perusahaan. Saat ini operasional BPRS yang dikelolanya bersama dengan seorang direksi lainnya memiliki 70 staf dan 30 tenaga non staf, serta jaringan kantor sebanyak 6 kantor cabang. Salah satu upaya yang dilakukan diantaranya dengan menerapkan ‘Smarter, Harder, dan Faster’.

Smarter menurutnya harus dimiliki oleh semua orang. Dalam artian, dalam menghadapi kompetisi yang sekarang sudah semakin ketat, SDM perusahaan harus cerdas. “Dengan kecerdasan itu, semua upaya kita menjadi efisien,” katanya.

Sedangkan harder, kata dia, semua dikerjakan dengan kerja keras. Pekerjaan harus dituntaskan dan tidak bisa kerja setengah-tengah. Dan terakhir adalah faster. “Kita harus lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan kompetitor kita,” ujarnya.

Terbukti, penerapan ketiga unsur tersebut membawa nama Widjajanto makin disegani di kalangan perbankan Jawa Timur, terutama perbankan syariah. Sehingga, tahun 1999-2004 ia didapuk menjadi Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Jawa Timur. “Ketua Asbisindo Jatim yang pertama adalah saya, sehingga saya tahu persis kondisi perbankan syariah di Jawa Timur,” katanya.
 
Di sisi lain, ia mengungkapkan kesuksesannya mengelola BPRS tidak lepas dari prinsip kejujuran, amanah, dan apa adanya. Semua pekerjaan dilakukan secara serius, dan tidak berdasarkan main-main. Meski demikian, sukses memimpin BPR Syariah diakuinya bukan hasil jerih payahnya sendiri. Diakuinya, semua kesuksesan itu merupakan hasil menghimpun atau menggerakkan tenaga-tenaga berkompeten yang ada di sekitarnya.

Kendati begitu, bukan berarti perjalanan menuju kesuksesannya itu tidak mengalami kendala. Apalagi, terjadinya liberalisasi perbankan sekarang ini sudah tidak bisa terhindarkan lagi. “Pasar atau segmen kita sudah ada liberisasi perbankan. Itu menyebabkan persaingan pasar menjadi lebih besar dan kompetitif. Siapa yang punya modal besar, itu yang menang. Kita bagaimana? Kita dalam menghadapi itu menggunakan 3 hal, yaitu ‘Smarter, Harder, dan Faster’. Dan juga harus memanfaatkan yang orang lain tidak bisa,” paparnya.

Ia mencontohkan, ketika kejadian lumpur Sidoarjo tahun 2006 silam, banyak perbankan memilih keluar dari Porong untuk menghindari dampak langsung semburan lumpur Sidoarjo. Akan tetapi Widjajanto melihat sebaliknya. Ia merasa yakin, di porong itu sekecil apapun masih ada transaksi ekonomi, yang memungkinkan perbankan masih bisa hidup. Peluang itu dimanfaatkan betul oleh Widjajanto.

Dia mencoba membuka kantor perwakilan di kawasan Candi Sidoarjo yang lokasinya dekat dengan Porong. “Dan alhamdulillah perkembangan disana sampai sekarang masih bagus. Disana saya memanfaatkan peluang. Saya melihat disana masih ada orang jual tempe dan jual sayur. Dari situ berarti ada orang kulak kedelai untuk di buat tempe, orang kulak sayur untuk dijual kembali. Disana ada transaksi perdagangan, dan saya masuk,” jelasnya.

Ke depan, ia berencana melakukan ekspansi dengan menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan non bank. Kerjasama yang dikenal dengan aliansi strategis itu bukan didasari dengan Ukuwah Islamiyah, melainkan Ukuwah Muammalah.

Bahkan, walaupun berlabel syariah, ia tidak ingin menjaring nasabah hanya terbatas pada umat muslim. Karena menurutnya perintah Nabi Muhammad bahwa perbankan syariah tidak dikhususkan untuk orang islam, tapi memakai cara-cara orang islam. “Cara kerja nabi secara muammalat atau berhubungan bisnis dengan siapapun, termasuk nasrani maupun yahudi, sehingga kita sebagai perbankan syariah memiliki nasabah dari berbagai macam kalangan,” jelasnya. “Kalau kita bicara non muslim, maka harus bicara keuntungan secara rasional. Kalau berhubungan dengan perbankan syariah yakin aman dan menguntungkan, dan kita tidak boleh membatasi,” tambahnya.

Tantangan krisis
Krisis ekonomi 1998 adalah krisis yang telah memukul sistem ekonomi di Asia terutama Asia Tenggara dan Korea Selatan. Widjajanto ingat betul, bagaimana krisis itu menyebabkan nilai rupiah melemah, ditambah para spekulan bereaksi dengan membeli dolar, sehingga menurunkan nilai rupiah lebih jauh lagi.

Hal ini akhirnya membuat banyak perusahaan di Indonesia menjadi bangkrut akibat beban hutang yang melonjak sampai hampir 10 kali lipat. Bangkrutnya perusahaan-perusahaan tersebut menyebabkan pinjaman-pinjaman yang dikucurkan oleh perbankan menjadi macet. Sehingga bank menghadapi masalah likuiditas. Tercatat ada 25 bank yang dinyatakan dilikuidasi pada tahun 1998.

Di saat seperti itu, Widjajanto harus memutar otak bagaimana caranya bisa bertahan dari hantaman krisis. Beruntung, karena perbankan syariah tidak ikut-ikutan memakai bunga simpanan yang besar tapi dengan sistem bagi hasil, pada tahun 1999 krisis pun bisa dilaluinya. Bahkan, di tahun yang sama dia mendapatkan award dari Info Bank kriteria bank dengan BPR Syariah yang mempunyai laba terbesar di Indonesia. “Apa sih kuncinya? Manfaatkan peluang yang ada. Di saat bank lain keluar, maka kami masuk. Itu memang tantangan,” tandasnya.

Ia pun tidak khawatir dengan ancaman Non Performing Loan (NPL) tinggi. Pada kenyataannya NPL yang ada selalu bisa diminimalisir. Ia berpandangan, penyebab NPL tinggi dimulai dari bagus atau tidak menganalisa pembiayaan yang masuk. Sebelum memberikan pembiayaan atau kredit, terlebih dahulu harus menganalisa secara tajam. “Sejak permohonan masuk kita harus selektif, dari situ kita terhindar,” sarannya.

Adapun segmen yang menjadi bidikannya rata-rata dari sektor perdagangan tradisional. Sejauh ini, sekitar 80 persen pembiayaan berasal dari sektor tersebut. Berkat mengoptimalkan layanan dengan jemput bola dan pro aktif, pihaknya yakin bisa memenangkan persaingan di segmen tersebut.

“Untuk merebut pasar kita harus jadi bank yang teller mate, seperti penjahit. Produk kita harus fleksibel. Apa yang dibutuhkan nasabah asal itu syariah dan sesuai dengan sistem perbankan, apapun kita harus layani,” tukasnya.

Pernah bangkrut
Walau sekarang menduduki jabatan Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah, Tri Hari Widjajanto mengisahkan pernah menghadapi getirnya hidup. Selepas kuliah strata satu di Fakultas hukum Universitas Negeri Surakarta (UNS) tahun 1990 silam, ia tidak langsung bekerja. Ia mengakui betapa sulitnya saat itu mencari kerja. Untuk itu, dia mulai membuka usaha dengan modal dari orang tuanya. Sayang, usahanya itu tidak berlangsung lama.

Kemudian tahun 1992, Widjajanto melamar di Koperasi BPR yang berlokasi di Nongkojajar Pasuruan Jawa Timur. Rupanya Dewi fortuna tidak jauh darinya. Ia diterima kerja sebagai collector funding. Tugasnya keluar masuk pasar untuk menjemput dana tabungan ke pedagang. Pekerjaan itu hanya bertahan sampai tahun 1993.

Keluar dari Koperasi itu, dia hijrah ke Surabaya dan bekerja di Bank Bumi Putera sampai dengan 1997. Lagi-lagi, ia harus resign karena bank tersebut terkena likuidasi. Tidak patah arang, mendengar informasi lowongan sebagai direktur di PT BPRS Baktimakmur Indah, ia bergegas mengirim lamaran kerja. Diperusahaan itu Widjijanto diterima sebagai direktur.

Punya latarbelakang hukum tidak membuatnya kesulitan beradaptasi dalam dunia perbankan. Bahkan, dalam menghadapi nasabah ia lebih pede (confidence) karena tahu hukum transaksi. “Tapi saya belajar banyak di bidang ekonomi. Saya bisa dikatakan mengatasinya,” pungkasnya. ins

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/01/hujan-batu-di-hotel-emerald-medan


Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Tuesday, August 6, 2013

Wako Ingin Pesantren Menasional

Wako Ingin Pesantren Menasional


Padang Ekspres • Selasa, 06/08/2013 13:58 WIB • Redaksi • 47 klik


M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ya­ng rutin diadakan Pemko Pa­dang selama Ramadhan menjadi program nasional. Program ini ber­manfaat dalam pembentukan ka­rak­ter anak sejak dini.


 


Seperti diketahui Pesantren Ramadhan diikuti 54.897 murid SD, 47.435 siswa SMP, dan 42.790 siswa SMA dan siswa nonmuslim 4.766 siswa mulai dari SD hingga SMA.


 


“Ini hendaknya menjadi program nasional. Inilah yang dibilang Pak Presiden character building (pembangunan karakter). Ini se­ba­gai upaya pembentukannya dari awal,” kata Fauzi Bahar kepada sejumlah wartawan, usai pe­nu­tupan kegiatan pastoral di Gereja HKBP Padang, kemarin (5/8). Kegiatan pastoral dilaksanakan oleh siswa beragama Kristen.


 


Saat menutup Pesantren Ra­mad­han di Masjid Nurul Yakin, Kompleks Perumahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Mi­nggu (4/8) malam, Fauzi me­nga­takan, banyak manfaat yang di­dapat dari kegiatan tersebut, te­ru­tama meminimalisir kriminalitas.


 


“Orang Islam yang tidak taat pada agamanya rentan menjadi pelaku kriminal, kejahatan, ko­rup­si dan sebagainya. Begitu juga penganut Kristen, yang tidak taat akan melakukan kejahatan,” jelas­nya.


 


Melalui Pesantren Ramadhan, salah satu upaya menanami nilai-nilai agama bagi generasi muda sejak usia dini. “Negara ini men­jamin setiap umat, setiap warga untuk memeluk agama dan beri­ba­dah menurut agama dan ke­per­cayaan masing-masing,” tu­tur­nya.


 


Pembentukan karakter, ka­tanya, akan lebih ber­man­faat kendati mengeluarkan biaya besar. Manfaatnya akan dirasakan secara luas. “Jika kita bina olahraga sepakbola dengan biaya Rp 5 miliar ha­silnya tentu tidak akan begitu besar kita rasakan. Tapi jika kita bina anak-anak ini dengan pembentukan akhlak dan budi pekerti akan lebih bermanfaat karena akan langsung dira­sakan dampaknya. Ayah mana yang tidak suka anaknya da­tang ke gereja, masjid, vihara, dan pura,” terangnya.


 


Melalui kegiatan tersebut, intensitas beribadah anak-anak bertambah dari hari bia­sanya. “Saya terharu pada anak-anak tadi begitu antu­sias. Anak-anak ini berada di gereja 3 minggu berturut-turut. Tingkat intensitasnya beribadah meningkat diban­ding hari-hari biasa. Yang biasanya hanya sehari ke ge­reja, itu pun bersama ke­luarga. Kini mereka setiap hari selama tiga minggu ke gereja,” im­buhnya.


 


Di samping manfaat ter­se­but, pembentukan karak­ter dan akhlak ini dapat me­redam ge­sekan antaragama. “Selama ini terjadi gesekan antaragama di­sebabkan le­mah­nya pen­ge­ta­­huan agama mereka,” tu­kuk­nya. Fauzi berharap Pesantren Ramadhan dilanjutkan oleh wali kota terpilih nantinya. “Kalau wali kota berikutnya tidak melakukan hal ini, warga harus mendesaknya. Hal ini dibutuhkan warga,” paparnya.


 


Senada dengan itu, pen­deta gereja HKBP Padang, Afolo Waruwu, juga berharap kegiatan serupa dapat dilan­jutkan oleh wali kota Padang baru nantinya. “Disayangkan tidak dilanjutkan,” ujarnya.


 


Dia mengatakan, pem­bina­an rohani bagi siswa siswi Kristen bermanfaat mem­be­ntuk karakter mereka. De­ngan demikian, anak-anak terfokus untuk belajar pemahaman agama. “Anak-anak kita an­tusias” katanya.


 


Paraklaweh Unggul


 


Secara terpisah, Kelurahan Paraklaweh Kecamatan Lu­buk­begalung berhasil me­ngung­guli 14 kelurahan dalam pe­laksanaan Pesantren Ra­mad­han 1434 H/2013 M. Ini predikat terbaik ketiga kalinya yang diraih secara berturut-turut sejak 2011 lalu pada kegiatan yang sama.


 


“Ini prestasi yang ketiga kalinya untuk tingkat Ke­ca­ma­tan Lubeg. Jadi harapan kita tinggal selangkah lagi, yakni mengukir prestasi di tingkat Kota Padang nantinya,” ujar Lurah Paraklaweh Ganefardi, saat penutupan Pesantren Ramadhan tingkat Kecamatan di Masjid At Taubah, Parak Laweh, Lubeg, kemarin.


 


Total peserta pesantren 171 siswa terdiri dari 60 murid SD dan sederajat, 59 siswa dari SLTP serta sisanya pelajar SLTA.


 


Selain itu, aparatur kelurahan yang bekerja sama dengan Karang Taruna Aster Biru, Parak Laweh, juga men­ye­rahkan bantuan kepada 89 orang anak yatim yang ma­sing-masingnya mendapat santuan sebesar Rp 500 ribu.


 


Ketua Karang Taruna Aster Biru, Paraklaweh, Febrinal me­ngu­ngkapkan, selain fokus pada kegiatan sosial ke­mas­ya­rakatan, organisasinya juga aktif dalam mendukung pem­ben­tukan men­tal generasi muda salah satunya melalui Pesantren Ramadhan ini. (bis/zul)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/207819


Wako Ingin Pesantren Menasional

Sunday, December 23, 2012

Ungkap Korupsi, KPK Harus Fokus Pada 3 Hal Ini

INILAH.COM, Jakarta – Tahun sebentar lagi berganti, namun persoalan skandal korupsi Hambalang dan bailout Bank Century belum juga menemukan titik terang.

Pengamat hukum dari Universitas Islam Indonesia, Muzakir meminta agar KPK lebih aktif lagi melakukan upaya-upaya demi terbongkarnya kasus-kasus besar tersebut.

“Ini kan menjadi tanggung jawab KPK, mestinya KPK gesit sedikit, tingkatkan gereget untuk lakukan pemeriksaan pada semua pihak yang terlibat,” kata Muzakir saat dihubungi INILAH.COM di Jakarta, Minggu (23/12/2012).

Dalam mengungkap skandal korupsi tersebut, lanjut dia, KPK harusnya berfokus pada tiga hal.

Ada tiga lingkaran, pertama pemain-pemain yang masuk lingkaran ini yaitu orang yang terlibat penggelembungan anggaran. Kedua, orang yang mengolah dan mendistribusikan. Setelah ada dana, mereka akan menyimpan, mengalihkan ke pihak-pihak tertentu. Ketiga, orang yang memperoleh dana ini.

“KPK telusuri aliran dana tersebut larinya kemana, apakah lari ke perseorangan, ke tokoh politik, atau organisasi politik, atau siapa saja yang terima dana itu,” tegasnya.

Menurut Muzakir, orang-orang yang terlibat dalam tiga lingkaran tersebut mulai dari jajaran Kemenpora hingga pejabat di DPR. Dia meyakini apabila KPK fokus pada tiga hal tersebut, persoalan-persoalan itu segera terang-benderang.

“Tiga link yang menurut saya harus dibongkar semuanya itu. Kalau KPK berpijak pada saran saya seperti ini, saya yakin (akan terungkap),” tegasnya. [yeh]

Article source: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=22ea0dbe05b884b259906b3f364c8258&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a


Ungkap Korupsi, KPK Harus Fokus Pada 3 Hal Ini

Thursday, March 28, 2013

Liga Arab Setujui Bantuan Dana untuk Yerusalem Timur

YERUSALEM – Liga Arab akhirnya menyetujui usulan Qatar untuk menggalang dana 1 miliar dolar AS  atau sekitar Rp 9,7 triliun bagi Yerusalem Timur Arab, yang diinginkan Palestina menjadi ibu kota negara independen di bawah kesepakatan perdamaian dengan Israel.

Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, mengatakan negaranya akan memberikan 250 juta dolar (Rp2,4 triliun). Dia mengemukakan hal itu dalam pidato pembukaan pada konferensi tingkat tinggi Liga Arab di Doha yang memusatkan pembahasan pada masalah krisis di Suriah dan macetnya upaya-upaya perdamaian Israel-Palestina.

“Pertemuan tingkat tinggi menyerukan dibentuknya dana untuk membantu Yerusalem senilai 1 miliar dolar AS untuk mendanai proyek-proyek dan program yang akan menjaga karakter Arab dan Islam kota tersebut dan memperkuat keteguhan warganya,” demikian rancangan resolusi pertemuan yang dikutip Reuters, Kamis (28/3).

Menurut rancangan resolusi, Bank Pembangunan Islam yang berpusat di Jeddah, Arab Saudi itu akan mengatur dana tersebut. Presiden Palestina, Mahmud Abbas menyambut baik penggalangan dana untuk membantu menjaga karakter Arab di Yerusalem itu dan mengimbau negara-negara Arab memberikan kontribusi.

“Pendudukan Israel berjalan secara sistematis dan cepat di Yerusalem Timur Yahudi, mengubah penampilan dan mencabut para penduduk dari akarnya, menyerang Masjid Al Aqsa dan situs-situs suci Muslim dan Kristiani,” kata Abbas dalam pidatonya di konferensi tingkat tinggi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor, menyebut prakarsa itu sebagai suatu simbol yang memalukan bagi Qatar. “Keberatan terhadap Yahudisasi Yerusalem adalah hal yang tak masuk akal dan bisa disamakan dengan keberatan terhadap kodrat Katolik Vatikan atau Islamisasi Mekkah,” kata Palmor.

Nasib Yerusalem telah menjadi salah satu butir paling mengganjal dalam perundingan-perundingan damai Timur Tengah masa lalu. Dengan mengutip hubungan alkitab Yahudi dengan kota suci tersebut, Israel mencaplok setengah bagian Yerusalem Arab dan sekitarnya pada tahun 1980. Tindakan itu ditentang oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Otoritas Palestina, yang mengelola beberapa bagian Tepi Barat yang diduduki Israel, saat ini berada dalam krisis keuangan yang parah. Sekira 200 ribu warga Israel tinggal di Yerusalem bagian Arab yang dicaplok Israel, termasuk 1.000 orang yang berada di sekitar Kota Tua Arab. ant

Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_smg/2012/07/29/125642/Dijanjikan-Masuk-PHT-IAIN-Walisongo-30-Mahasiswa-Tertipu


Liga Arab Setujui Bantuan Dana untuk Yerusalem Timur

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog