Showing posts sorted by relevance for query konsultasi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query konsultasi. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Very Much for Visiting this Blog

Alisya: Relawan itu Bekerja dengan Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semenjak bersyahadat, Alisya Fianne komit berdakwah. Ketua Yayasan Alisya Nurul Baqi ini mulainya dengan membimbing mualaf di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

"Saya InsyaAllah selalu perjuangkan mualaf agar bisa istiqomah," kata dia dalam pesan singkatnya kepada Republika.co.id, Selasa (6/12).

Menurut Presiden Direktur Alisya Tour and Travel ini, perjuangan yang menjadi tujuan seorang mualaf itu adalah keimanan. Dalam iman mualaf tersebut terhadap panggilan hati.

Hal itu yang kemudian mendorong Fianne untuk siaga 24 jam membantu mualaf yang membutuhkan. Baik sekedar konsultasi maupun curhat. "Jadi, seperti relawan kan ada yang diperjuangkan," kata dia.

Menurut pemahaman Fianne, relawan itu bekerja menggunakan hati bukan materi semata. Intinya, relawan yang bekerja karena Allah tentu akan menikmati setiap prosesnya. "Kayak kemarin sewaktu aksi damai, semua tergerak karena Allah tanpa ada embel-embel," kata dia.

Karena itu, ia berharap kepada mereka yang bertugas sebagai relawan bekerjalah dengan hati. Dengan begitu, Allah akan memudahkan setiap upaya yang dilakukan.

"

| Alisya: | Relawan | Bekerja | dengan | Hati | REPUBLIKA | JAKARTA | Semenjak | bersyahadat | Alisya | Fianne | komit | berdakwah | Ketua | Yayasan | Nurul | Baqi | mulainya | membimbing | mualaf | Masjid | Agung | Sunda | Kelapa | Jakarta | p> Saya | InsyaAllah | perjuangkan | agar | istiqomah | kata | dalam | pesan | singkatnya | kepada | Republika | Selasa | p> Menurut | Presiden | Direktur | Tour | Travel | perjuangan | yang | menjadi | tujuan | seorang | adalah | keimanan | Dalam | iman | tersebut | terhadap | panggilan | hati | p> Hal | kemudian | mendorong | untuk | siaga | membantu | membutuhkan | Baik | sekedar | konsultasi | maupun | curhat | Jadi | seperti | relawan | diperjuangkan | pemahaman | bekerja | menggun | bukan | materi | semata | Intinya | karena | Allah | tentu | menikmati | setiap | prosesnya | Kayak | kemarin | sewaktu | aksi | damai | semua | tergerak | tanpa | embel | p> Karena | berharap | bertugas | sebagai | bekerjalah | Dengan | begitu | memudahkan | upaya | dilakukan | p> |

Thank Very Much for Visit this News

Tuesday, October 29, 2013

MUI Depok Benarkan Jonas Rivanno Sudah Masuk Islam

Selasa, 29 Oktober 2013 17:15 wib

Alan Pamungkas – Okezone

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

DEPOK - Asmirandah membantah calon suaminya, Jonas Rivanno, telah masuk Islam. Berbeda dengan keterangan Asmirandah, Ketua MUI Kecamatan Beji Depok, Ustadz Mahari Madarif, membenarkan Jonas Rivanno telah mualaf.


Muhari berani membantahnya karena dia adalah orang yang mengislamkan Jonas, selepas salat subuh di Masjid An-Nur, Beji, Depok, 21 Agustus lalu. Awalnya, perwakilan keluarga Andah datang menemui Muhari.


“Keluarga dari Asmirandah langsung ke saya, ‘Ada yang mau masuk Islam Pak Haji’. Ya biasa, begitu ngomongnya,” kata Muhari, saat ditemui di kediamannya di Beji, Depok, Selasa (29/10/2013).


Sebelum menyatakan masuk Islam, Jonas sering berkonsultasi kepada dirinya. Itu dilakukannya selama tiga kali pertemuan. Dan di pertemuan terakhir, dia sudah menyatakan kesiapannya mengucap dua kalimat syahadat.


“Dia yang mau masuk Islam disebut, konsultasi dua kali, ketiga kalinya baru diputuskan hari dan tanggalnya,” ungkap Muhari.


Namun, saat ditanyakan alasan Vanno menjadi mualaf, Muhari tidak dapat menjelaskan. Pihak Andah maupun Vanno pun tidak menjelaskan detail tentang alasan tersebut.


“Tujuannya apa memang waktu itu enggak pernah saya singgung, cuma saya bilang ikhlas,” tutup dia.


(nsa)






mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/70777-bella-saphira-masuk-islam-karena-ingin-menikah-dengan-kekasih.html


MUI Depok Benarkan Jonas Rivanno Sudah Masuk Islam

Monday, January 7, 2013

Larangan Duduk Mengangkang di Sepeda Motor Dinilai Berlebihan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Kota Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam akan mengeluarkan aturan larangan bagi perempuan duduk terbuka, atau ngangkang di atas sepeda motor.

Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo menilai, peraturan tersebut berlebihan dan tidak wajar.

“Keputusan yang dimiliki saudara di Aceh itu seharusnya wajar saja. Saya rasa ini sudah berlebihan,” ujar politisi PDI Perjuangan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (7/1/2013).

Ganjar mengatakan, larangan mengangkang saat naik sepeda motor justru berbahaya. Sebab, dengan duduk menyamping di atas sepeda motor, keseimbangan sulit diatur.

“Selain itu, kalau duduk menyamping tapi bukan dengan muhrimnya bagaimana? Sementara duduk mengangkang bonceng dengan muhrimnya? Ini kan jadinya berlebihan,” tuturnya.

Ganjar mempertanyakan apakah perempuag mengangkang di atas sepeda motor, masuk dalam syariat Islam atau tidak. Ganjar juga mempertanyakan perihal keterlibatan masyarakat dalam pembuatan peraturan ini.

“Seharusnya, setiap peraturan apa pun yang dibuat harus melibatkan masyarakat. Itulah fungsi konsultasi politik dan dengar pendapat,” imbuhnya.

Ia pun meminta, bila larangan itu akan masuk dalam perda, maka Pemkot Lhokseumawe harus mempertimbangkan pendapat masyarakat, serta peraturan-peraturan yang sudah dibuat sebelumnya.
“Pemerintah pusat bisa turun tangan kalau ada peraturan daerah yang tidak wajar, karena ada peraturan-peraturan di atasnya,” jelas Ganjar.

Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Pemkot Lhokseumawe akan memberlakukan larangan bagi perempuan duduk terbuka atau ngangkang di atas sepeda motor.

Perempuan duduk ngangkang di atas sepeda motor dinilai tidak sesuai syariat Islam dan adat istiadat setempat.

Pemkot Lhokseumawe akan menyosialisasikan pelarangan ini kepada masyarakat mulai pekan depan, sebelum diterapkan secara penuh. (*)

Article source: http://www.voaindonesia.com/content/atheis-seluruh-dunia-hadapi-penyiksaan-diskriminasi/1561700.html


Larangan Duduk Mengangkang di Sepeda Motor Dinilai Berlebihan

Saturday, November 2, 2013

Dikabarkan Menikah, Keluarga Asmirandah Syok

Pasangan artis Asmirandah-Jonas Rivanno


JAKARTA - Kabar pernikahan pasangan artis Asmirandah-Jonas Rivanno mengundang heboh. Bukan saja karena tanggal pernikahan yang disampaikan antara pihak keluarga dengan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat berbeda, tapi juga menyangkut Jonas yang dikabarkan telah menjadi mualaf. Tak ayal, simpang siur soal hal itu membuat keluarga Asmirandah syok.


“Semuanya kaget dan syok, kok beritanya mencuat sekali. Makanya, aku coba untuk mengklarifikasi,” kata Asmirandah di Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (29/10).


Berikut poin klarifikasinya:


Jonas jadi mualaf (masuk Islam, red)


Versi Asmirandah:


“Ini memang yang menjadi pembicaraan yang cukup serius. Aku tegaskan bahwa itu belum (mualaf)


Versi Ketua MUI Kecamatan Beji Depok, Ustadz Mahari Madarif


“Keluarga dari Asmirandah langsung ke saya, ‘Ada yang mau masuk Islam Pak Haji’. Ya biasa, begitu ngomongnya lalu kami ikuti prosesnya dan kami laksanakan,” ujar Mahari.
Menurut Mahari, ia meng-Islam-kan Jonas pada 21 Agustus 2013 pagi di Masjid An-Nur, Depok. “Kalau soal mualaf sudah benar. Suratnya sudah dipegang. Mungkin dia mau jaga hubungan,” ujar Mahari saat ditemui di Beji, Selasa (29/10).


Mahari menuturkan, proses Jonas menjadi mualaf disaksikan Asmirandah dan 4-5 orang kerabat. Prosesi tersebut memakan waktu 40 menit.


Sebelum memutuskan menjadi muslim, Jonas terlebih dulu berkonsultasi kepada Mahari. Pada konsultasi ketiga, baru Jonas memutuskan hari dan tanggal penetapannya sebagai mualaf. “Dia masuk Islam penuh keikhlasan, tanggung jawab. Jadi sudah ikhlaslah menyatakan syahadat,” ujar Mahari.


Namun meski tak ditemani keluarga, ada Asmirandah yang berada di samping Vanno kala itu. Hal tersebut diungkapkan oleh imam yang membimbing aktor 26 tahun tersebut saat menjalani prosesi pindah agama. “Waktu itu ada sekitar empat atau lima orang, ada Asmirandah juga,” urai Mahari Madarif.


Pernikahan tanggal 17 Oktober 2013?


Versi Jonas:


“Gak ada apa-apa di tanggal 17 itu. Masalah aku dan Andah menikah Januari ya betul,”


Meski membantah sudah menikah 17 Oktober lalu, Jonas Rivanno membenarkan rencana pernikahannya dengan bintang sinetron Maha Kasih ini. Dia dan keluarganya tak mau persiapan pernikahannya terganggu dengan berita ganti keyakinan ini. Mereka akan menikah pada Januari tahun depan.


Vanno mengungkapkan dirinya memang sempat tak direstui keluarga terkait hal tersebut. Vanno yang didampingi Andah dalam jumpa pers menuturkan, hingga kini ia masih terus mencari jalan keluar agar keinginannya untuk menikahi Andah bisa terwujud.


Pesinetron kelahiran 20 Maret 1987 itu mengaku soal beda agama menjadi beban yang berat untuk dihadapi.


Versi H Sobari, Pencatat nikah KUA Beji, Depok, Jawa Barat


“Ya, daftarnya tanggal 10 (Oktober 2013) kemarin. Yang datang ke sini bapak dan anaknya, Asmirandah. Pernikahan tertutup itu dilangsungkan di kediaman keluarga Asmirandah. Yang menikahkan langsung Pak Kepala (KUA), memang yang datang keluarga saja.ins


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Dikabarkan Menikah, Keluarga Asmirandah Syok

Sunday, March 31, 2013

Artis, Guru Spiritual, Dukun

Ariel Noah, Qory Sandioriva dan Andre Taulany

Keberadaan guru spiritual  di kalangan para public figure bukan hal aneh lagi. Peran mereka diharapkan bisa menjadi ‘penyejuk hati’. Namun dalam praktiknya, tak sedikit dari mereka yang melakukan ritual dukun.

Di era serba canggih, ilmu pelet atau santet masih laku di ‘pasaran’. Buktinya? Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  RI sampai merasa perlu untuk mengunjungi 4 negara di Eropa, untuk studi banding tentang hukum pidana dan hukum acara pidana, salah satunya soal santet.
 
Hari gini bicara ilmu ghaib yang sulit diterawang atau dilihat secara kasat mata? Memangnya siapa yang berkepentingan? DPR yang mestinya bekerja atas nama rakyat, sehingga melaksanakan tugas-tugasnya yang punya kaitan dengan masyarakat luas tanpa berdosa mengatakan, “Yang menggunakan ilmu gaib itu rata-rata oknum atau publik figur, pejabat, artis, pengusaha. Orang-orang yang merasa bersaing. Ada yang pelet, ada yang menginginkan perusahaan hancur, ada yang ingin sakit dan sebagainya”.  Kalimat itu dilontarkan oleh Anggota Komisi III DPR, Achmad Dimyati.

Boleh jadi karena menyinggung profesi artis, perkataan Achmad Dimyati ini menjadi menarik. Apalagi kemudian, publik diramaikan oleh berita artis Adi Bing Slamet yang merasa ‘dikerjain’ oleh Eyang Subur. Adi mengatakan Eyang Subur adalah dukun yang mengajarkan aliran sesat kepada pengikutnya. Namun sebagian rekan Adi yang juga sama-sama berprofesi artis, menyebut mantan tukang jahit itu adalah guru spiritual. Nah lho!
 
Istilah dukun dan guru spiritual jelas berbeda. Menurut sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Suprapto, masyarakat harus bisa membedakan antara guru spiritual dengan dukun. Meskipun biasanya mereka sama-sama memiliki keahlian khusus yaitu bisa “menyembuhkan”. “Kata spiritual lebih merujuk ke hubungan manusia dengan Tuhan. Jadi, guru spiritual itu sifatnya menolong dan membantu orang memahami masalah kebatinan/kejiwaan terkait dengan hubungannya dengan sang Pencipta,” kata dia dilansir tempo.
 
Ajaran yang diberikan kepada pengikutnya pun tidak akan bertentangan dengan agama atau kepercayaan yang diyakininya. Suprapto mencontohkan, guru-guru spiritual yang benar tentu menyarankan untuk banyak beramal, rajin berpuasa senin-kamis, atau puasa Nabi Daud. “Tapi kalau ada yang melarang sedekah, tidak salat berjamaah, itu saya kira menjadi tanda tanya. Apa motivasi kegiatan spiritual mereka,” ujarnya.
 
 Sedangkan dukun, adalah orang yang mengobati atau menolong orang sakit dengan memberi jampi-jampi seperti mantra, guna-guna, dan lain sebagainya. Dan saat ini, fenomena yang terjadi di masyarakat adalah marak bermunculan guru-guru spiritual yang sebenarnya lebih mendekati kategori sebagai dukun. “Memang sekarang lebih bervariasi, kalau banyak yang memberi syarat-syarat aneh dan pantangan yang nggak masuk akal itu berarti dukun,” kata dia.
 
Suprapto, mengatakan ada pergeseran peran dan fungsi dari penasihat atau guru spiritual yang beredar di masyarakat saat ini. Banyak di antara mereka lebih berorientasi untuk kepentingan pribadi. “Dari yang semula tujuannya membantu orang dan pengabdian, sekarang bergeser ke arah ekonomi, yaitu mencari keuntungan,” katanya.

Dia menambahkan, “Ketika kliennya sudah resmi menjadi pengikutnya, mereka kemudian minta imbalan tinggi,” kata pengajar mata kuliah Sosiologi Kriminalitas ini.

Persoalannya, sering kali masyarakat terjebak dengan mengatakan dukun sebagai guru spiritual mereka. Kasus artis Adi Bing Slamet yang kini murka kepada Eyang Subur karena merasa ditipu baik secara ‘spiritual’ maupun materi awalnya juga menganggap Eyang Subur adalah guru spiritual. Padahal, setelah melihat ajaran-ajaran yang disampaikan, Adi menyimpulkan Eyang Subur tak lebih sebagai dukun.
 
Lepas dari kasus Adi, keberadaan guru spiritual dan dukun tetap dicari dan dibutuhkan masyarakat sesuai dengan kepentingan yang hanya mereka sendiri yang tahu. Namun, agar tak merasa kecewa seperti Adi Bing Slamet, pengajar mata kuliah sosiologi kriminalitas di UGM ini mengingatkan agar masyarakat tak mudah terpengaruh untuk ikut-ikutan “berguru” pada orang-orang tertentu.
 
Jika memang tertarik untuk datang dengan tujuan penenang hati atau membangun percaya diri, setidaknya harus memegang satu hal penting. “Kuncinya tetap berfikir rasional, namanya konsultasi ya bayar sewajarnya saja. Kalau sampai terkuras hartanya, kita harus sensitif itu tidak benar,” kata dia. Apalagi kalau sudah sampai mengajarkan ilmu-ilmu yang jelas bertentangan dengan ajaran agama.
 
Dengan demikian bukan berarti praktik ilmu hitam bukan tidak bisa dicegah, semua bisa dihentikan, hal ini tergantung seberapa besar usaha manusia untuk memerangi hal yang demikian itu. Dan bukan tak mungkin sengketa yang seperti terjadi pada kasus Eyang Subur dan Adi Bing Slamet tidak akan ada lagi untuk kemudian hari. ins,tmp

Dituduh Main Pelet hingga Kena Santet
Praktik ke dukun untuk main pelet atau santet di dunia hiburan bukan hal asing lagi. Maklum, inilah salah satu ceruk ‘favorit’ untuk membuat orang terkenal sekaligus kaya. Namun ketatnya persaingan di industri seni membuat tak semua orang mendapatkan jalan mulus meraih ‘bintang’.

Ada yang menyerah, ada yang tetap gigih berjuang, namun tak sedikit pula yang memilih jalan pintas misalnya dengan cara mencari sensasi, hingga datang ke orang ‘pintar’. Berikut sejumlah artis yang punya pengalaman tentang dunia klenik. Tak semuanya menjadi ‘pelaku’ , ada pula malah yang menjadi korban gara-gara label artis yang disandangnya.

Cut Memey : Kaya dengan Celana Dalam
Pengusaha Jackson Peranginangin mengaku terkena guna-guna dan diporoti hingga miliaran rupiah ketika pernikahannya secara diam-diam dengan artis Cut Memey terungkap ke publik. Memey dituduh meraup kekayaan Rp 1,5 miliar dengan ilmu pelet.

Sahabat host Olga Syahputra itu dituduh kerap datang ke dukun dan meminta pengasihan agar Jackson tidak sadar menyerahkan kekayaannya. Praktik yang digunakan sang dukun, konon dengan menggunakan celana dalam yang sudah dipakai Memey. Entah apakah ada kaitan ‘sadar’nya Jackson membuat ilmu pelet Memey tidak manjur lagi? Yang pasti pernikahan yang terjadi pada tahun 2003 itu akhirnya kandas, setelah kasus ini mencuat di akhir 2005 hingga pertengahan 2006.

Jackson mengaku sadar setelah datang pada orang pintar yang membuang pengaruh pelet.

Namun Memey menolak semua tuduhan Jackson. Uang yang diberikan Jakson tidak lebih dari kewajiban seorang suami pada istrinya. Beberapa barang kemudian dikembalikan termasuk mobil dan berlian, sebagai pertanda perdamaian mereka.

Iva Trio Macan : Keris di Kasur
Pengalaman mistis pernah dialami oleh personil Trio Macan, Iva Novanda. Dia pernah dua kali terkena pelet dan santet yang salah satunya diduga dilakukan oleh mantan kekasihnya. Gejala yang dirasakan saat itu, semakin nempel dengan pacar, yang menurutnya tidak mungkin terjadi.

“Saat itu jadi sangat nurut sama dia,” ucap Iva Novanda beberapa waktu lalu.

Pengalaman kedua dalam bentuk santet. Saat itu dia melihat keris kecil yang diletakkan di kamarnya. Keris sepanjang jari tengah itu, sudah karatan Diduga benda itu kiriman dari orang yang menginginkan dirinya sakit-sakitan. “Kata bunda itu kenapa Iva masih sakit-sakitan,” kisahnya.
 
Qory Sandioriva : Pelet untuk Kontes
Praktik perdukunan diduga dilakukan oleh Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva agar memenangkan kontes kecantikan yang diikutinya, termasuk Miss Universe di Amerika Serikat.

Praktik tersebut dibongkar oleh ibu Qory sendiri, Ny. Fariawati, yang khawatir dengan kondisi aqidah putrinya.

Dia menggelar konferensi pers meminta agar sang anak meninggalkan ilmu perdukunan yang dilarang oleh agamanya. Sang ibu juga meminta pria berinisial R, yang diduga sebagai penasehat spiritual anaknya, untuk melepas putrinya.

“Dia (lelaki berinisial R) mengubah tingkah laku Qory dengan mengajak mandi kembang dan percaya pada alat-alat tertentu, melepaskan burung pipit, kura-kura dan belut di sungai yang berjalan. Ini sudah menyimpang dari Syariat Islam,” ungkap Fariawati tiga tahun silam.

“Saya ingin meluruskan, bukan membuka aib. Hanya ingin menyelamatkan anak di mata Tuhan dan bertanggung-jawab sebagai orang tua. Agar dia meninggalkan cara-cara yang tidak sesuai dengan Syariat Islam,” sambungnya. Persoalan itu membuat hubungan Qory dengan ibunya sempat merenggang.

Yenny 3 Macan : Sinar Merah
Pedangdut Yenny Anggraeny atau Yenny 3 Macan Asli pernah mendadak pingsan di atas panggung. Dia menghubungkan, pingsannya malam itu karena guna-guna. Sebelumnya sang pembantu melihat benda menyala warna merah yang jatuh di rumahnya.

“Pernah mau kena santet, tapi kena pembantu. Dia sakit, akhirnya pamit pulang, nggak balik karena ketakutan. Pembantu cerita kalau ada cahaya merah mengenai dia pas malam,” tutur Yenny.

Yenny akhirnya mengambil jasa ‘orang pintar’ dan menurutnya santet itu memang dialamatkan kepadanya. Dia pun diberi tips untuk terhindar dari santet dan ilmu-ilmu hitam lainnya, yaitu rajin shalat dan baca Alquran.
 
Andre Taulany : Telur dan Kain Putih
Rumah Andre Taulany di Jl. Gelatik Atas RT 04/RW 09, Kelurahan Renggas, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten pernah dilempar telur dan kembang yang dibungkus dengan kain putih.

Pelakunya segerombolan orang tidak dikenal.

“Jam tujuh saya dibangunin istri, dibilangin kalau di depan halaman rumah, atap dan tiangnya sudah penuh sama telur dan bungkusan kain yang dilempar. Ada tiga bungkusan kain dan isinya masing-masing kembang, silet, dan potongan cuter, telur, dan kertas bertuliskan kata-kata kasar dibungkus kain putih dan dilempar secara menyebar,” katanya.

Diduga, barang-barang praktik perdukunan  tersebut untuk mencelakai pemain Opera Van Java itu. Maklum Andre saat itu maju sebagai wakil walikota Tangerang Selatan. Anehnya dalam bungkusan itu ada kalimat yang dia sendiri tidak mengerti. Bunyi kalimatnya ‘Axxing Sia, Dxxor Sia dan So Suci Sia”. Tiga kalimat tersebut dituliskan pada masing-masing kain dengan dua tulisan bertinta merah dan satu tulisan bertinta hitam.
 
Ariel Noah: Muntah Keris dan Batu
Saat santer kasus video pornonya bareng Luna Maya dan Cut Tary, penyanyi Ariel jadi sasaran santet orang-orang yang memusuhinya. Kakak kandung Ariel, Nazlin Fachridzal mengungkapkan kejadian mistik yang dialami adiknya itu.

“Teman Ariel berkata kepada saya dari dalam perut Ariel keluar benda keris, batu, dan lain sebagainya,” kata Nazlin Fachridzal.

Nazlin memperkirakan ada yang iri atau sirik dengan kesuksesan karir adiknya di dunia hiburan. “Itu bisa jadi terjadi, tapi kemungkinan memang ada yang iri dan si pelaku ingin merusak citra adik saya sebagai public figur,” katanya. kpl

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=257675:hanya-lima-persen-umat-islam-sumbang-ekonomi&catid=77:fokusutama&Itemid=131


Artis, Guru Spiritual, Dukun

Sunday, February 10, 2013

Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Richard Susilo *)

TRIBUNNEWS.COM - Banyak sekali orang Indonesia yang mau ke Jepang. Selain untuk belajar, mencari pengalaman kerja, serta menimba ilmu lebih banyak lagi dari negeri Sakura, tentu juga untuk memahami bahasa Jepang serta budayanya.

Namun kita sering tidak menyadari, bahwa Heiwa no Kuni (negeri damai) tersebut banyak sekali  menggunakan minyak babi, sedangkan orang Indonesia umumnya beragama Islam. Bahkan satu-satunya negara di dunia di mana McDonald menjual makanan dengan menu Po-ku Hanba-ga (Hamburger Babi), hanyalah Jepang.

Inilah yang memberatkan kaum muslim dunia tinggal di Jepang. Harus banyak memilih makanan kalau tak mau makan makanan yang diharamkan agama Islam.

Makanan adalah salah satu sumber utama kehidupan manusia. Manusia akan meninggal kalau tak makan, tapi manusia tidak akan meninggal hanya karena tidak bisa berbahasa asing. Jadi sebenarnya unsur bahasa, walaupun penting, masih kalah  penting dibandingkan makanan, khususnya bagi umat Islam yang mau ke Jepang. Hal ini jelas perlu benar-benar disadari terlebih dulu dan lebih lanjut oleh orang yang mau ke Jepang.

Permintaan Perusahaan

Dalam pertemuan dengan para pimpinan perusahaan Jepang, penulis selalu mendapatkan permintaan agar mencarikan tenaga kerja Indonesia, khususnya bagi perusahaan mereka yang ada di Indonesia, terutama yang mampu berbahasa Jepang sehingga komunikasi antara staf dengan pimpinan orang Jepang dapat berlangsung dengan baik.

Satu bukti sangat nyata bahwa memang bagi yang ingin bekerja di perusahaan Jepang, apalagi di negeri Sakura, harus bisa berbahasa Jepang agar dapat meningkatkan performance-nya lebih baik. Salah satu lembaga yang dapat direkomendasikan adalah Pandan College (www.pandan.ac.id) tidak hanya mengajarkan bahasa Jepang tetapi juga budaya, pola pikir dan cara bisnis orang Jepang dengan pengajar professional. Bahkan lulusan terbaik dari sekolah itu dijamin bisa ke Jepang.

Investasi Jepang di Indonesia saat ini memang masih sedikit sekitar 400 juta dolar AS dibandingkan 20 tahun lalu yang sekitar 4 miliar dolar AS. Jumlah investasi perusahaan Indonesia di Jepang pun sangat kecil hanya sekitar 8 juta dolar AS, paling kecil di antara negara Asean lain.

Hasil survei Jetro dan lembaga lain menunjukkan bahwa kestabilan politik dan keamanan, kepastian hukum, perburuhan (sumber daya manusia yang masih lemah, banyak unjuk rasa), infrastruktur , soal pajak (restitusi pajak tidak lancar berjalan), banyak korupsi, menjadi kendala investor Jepang masuk ke Indonesia.

Tapi lebih konkrit lagi mereka melihat soal perizinan usaha baru di Indonesia yang berbelit-belit. Belum lagi peraturan daerah satu dengan lainnya sering tidak sinkron. Misalnya ada satu kabupaten di Bali mensyaratkan perusahaan asing (PMA) yang mendirikan hotel di sana minimal harus bintang dua. Tetapi di kabupaten lain, juga di Bali, mensyaratkan minimal bintang tiga.

Proses perizinan di Indonesia mencapai 86 hari (hasil survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia [LPEM-UI] September 2007). Sementara negara lain seperti di New Zealand hanya seminggu diurus sudah selesai. Jauh berbeda bukan?

Data dari Bank Dunia (World Bank Investment Climate Surveys 2005) menunjukkan bahwa Indonesia  yang kaya dengan sumber energi dan alam ini masih kalah cepat dalam pengurusan perizinan bagi investor asing dibandingkan Moroko, Uganda, China, India dan bahkan El-Savador.

Keadaan di dalam negeri sendiri yang belum beres ini kenyataan di lapangan memang banyak dikeluhan pengusaha Jepang, “Kalau Indonesia sudah cantik berbenah diri, tak usah kampanye untuk menarik investor asing, dengan sendirinya mereka pasti datang sendiri,” papar seorang Presdir perusahaan besar Jepang kepada penulis.

Memang benar, mungkin ada baiknya kita berkaca diri dulu sebelum bertindak lebih lanjut. Jangan mau di-ninabobo-kan oleh kekayaan alam kita sendiri. Mungkin ada baiknya kita renungkan bersama menjelang peringatan 55 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang ini.
 
Informasi lengkap lihat: http://www.tribunnews.com/topics/tips-bisnis-jepang.
Konsultasi, kritik, saran, ide dan segalanya silakan email ke: info@promosi.jp

*) Penulis adalah CEO Office Promosi Ltd, Tokyo Japan, berdomisili dan berpengalaman lebih dari 20 tahun di Jepang

Article source: http://news.detik.com/read/2012/05/28/180046/1926703/10/pemalsu-ijazah-dibekuk-di-semarang-gaet-klien-di-bimbingan-belajar?9922032


Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Friday, March 29, 2013

Hindari Guru Spiritual yang Seperti Ini

TEMPO.CO, Jakarta – Sudah jadi rahasia umum jika banyak artis, politisi, hingga pejabat di negeri ini yang memiliki guru atau penasehat spiritual. Entah mengikuti tren atau kebutuhan, toh faktanya guru-guru spiritual semacam ini semakin banyak bermunculan di masyarakat.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada Suprapto, mengingatkan agar masyarakat jeli memilah siapa yang patut dijadikan “guru” oleh mereka. Ia pun memberikan beberapa tip soal guru spiritual gadungan yang harus dihindari. “Kalau sudah minta imbalan tinggi, jangan ikuti,” kata dia kepada Tempo, Kamis, 28 Maret 2013.

Menurut Suprapto, sejatinya guru spiritual bekerja tanpa pamrih karena sifatnya menolong orang yang membutuhkannya. Tapi memberi imbalan kepada mereka tidak salah jika dilakukan sewajarnya. “Sekarang banyak yang menjadikan pengikutnya sebagai ladang uang bagi mereka,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga harus menghindari mereka para “guru spiritual” yang memberikan syarat-syarat yang tidak masuk akal dan melanggar norma agama. “Misalnya agama Islam, dilarang sedekah, tidak boleh salat berjamaah, itu harus dipertanyakan. Apa motivasi kegiatan spiritual itu,” ujarnya. “Kalau betul-betul guru spiritual hasil konsultasi dan sarannya ya sesuai dengan nilai agama yang bersangkutan,” kata pengajar mata kuliah Sosiologi Kriminalitas ini menambahkan.

Beberapa hari ini masyarakat dihebohkan oleh ‘serangan’ Adi terhadap seseorang yang disebut-sebut sebagai guru spiritual bernama Eyang Subur, melalui pemberitaan di media. Bekas penyanyi cilik yang pernah menjadi pengikut Eyang Subur itu mengaku ditipu sang guru. Adi menuding Subur mengajarkan aliran sesat, diantaranya minum air bersyarat dan membuatnya membenci orang yang rajin menjalankan shalat lima waktu. Ia juga mengklaim mengalami kerugian ekonomi yang tak sedikit jumlahnya.

MUNAWWAROH


Topik Terhangat: Serangan Penjara Sleman || Adi Vs Eyang Subur || Harta Djoko Susilo ||Agus Martowardojo

Berita terkait:
Profil Eyang Subur: Penjahit Jadi Kolektor Kristal
FPI Persoalkan Sembilan Istri Eyang Subur

Pengacara Eyang Subur Tantang Adi ke Polisi

Article source: http://news.detik.com/read/2013/03/30/002022/2207064/10/akbar-tandjung-parpol-perlu-sayap-organisasi-islam?9911012


Hindari Guru Spiritual yang Seperti Ini

Wednesday, July 3, 2013

Horas Nainggolan Masuk Islam

Bookmark



PARIAMAN, METRO-Saat menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Karan Aur, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Rabu (3/7) kemarin, Horas Naigolan (52) warga Kota Sibolga tanpa paksaan pindah agama dari Kristen Protestan memeluk agama yang diredai Allah SWT yakni Islam. Dengan menjadi mualaf yang ditandai dengan mengucapkan dua kali Sahadat di hadapan Kepala LP Karan Aur Asman Tanjung dan Pengacaranya, Alwis Ilyas nama Horas Nainggolan bertambah menjadi Rahmat Horas Nainggolan. Kemudian setelah itu Rahmat Horas Nainggolan disunat oleh tim medis RS TMC Kota Pariaman.


Rahmat Horas kelahiran Kota Sibolga tersandung kasus

penangkapan ikan dengan jaring gurami di perairan laut Kota Pariaman

empat bulan yang lalu. “Kini saya menjalani hukuman delapan tahun dalam

kasus saya itu. Namun, di LP ini saya mendapat hidayah untuk memaluk

agama Islam tanpa ada paksaan. Saya masuk Islam ini dengan membuat surat

pernyataan di hadapan Kementrian Agama Padangpariaman Kalapas dan

Pengacaranya Alwis Ilyas,” ungkap Rahmat Horas Nainggolan kepada

POSMETRO usai memeluk agama Islam di Musalla LP Karan Aur, kemarin. 


Katanya,

saat ini ia telah menjalani hukuman di LP selama dua bulan 3 hari.

Selama dua bulan itu atau semenjak masuk tanggal 29 April 2013 ia

mendapat binaan dari pengacaranya dan kalapas serta rekan-rekan di LP

ini. Sehingga hatinya bulan untuk masuk agama Islam. Namun, sebelumnya

ia meminta izin kepada keluarga di kampungnya, tapi keluarga tidak

setuju. ”Meski begitu, saya telah membulat tekat untuk masuk agama Islam

dan pindah dari agama sebelumnya. Untuk itu, saya butuh dukungan dari

semua pihak khusus di LP dalam memelajari Agama Islam,” ujarnya.


Kemudian

Kepala LP Asman tanjung dan Penagcaranya Alwis Ilyas saat itu

menyatakan, dengan memeluk agama islam Rahmat Horas Nainggolan banyak

dukungan mengalir. Sehingga diharapkan betul-betul mempelajari semua

yang ada dalam kitab suci al Quran. Apalagi dia mendapat hidayah ini di

LP ini. Ia sebagai kalapas siap untuk membina beliau sampai tuntas

menjalani hukuman di LP ini. Apalagi di LP telah rutin melaksanakan

pengajian-pengajian kepada semua narapidana. ”Kita berharap, dia

memelajari Agama Islam, sehingga menguasai Islam seutuhnya,” ujarnya.


Sementara

itu, Epi Mayardi, Kasi Pendidikan Pompes Kementerian Agama

Padangpariaman menyatakan, dengan mengucapkan dua kali sadat Horas

Nainggolan ini namanya telah bertambah menjadi ramat di belakangnya.

Rahmat Horas Nainggolan membuat surat pernyataan tanpa paksaan memeluk

agama Islam. ”Memang agama adalah satu-satunya agama yang redai Allah

SWT.


Mari kita bersama-sama membimbing beliau sehingga menjadi

mualaf yang saleh. Apalagi ini adalah mukjizat untuk LP Pariaman. Karena

ada narapidana masuk agama Islam menjelang bulan Ramadhan tahun 2013

kali ini,” tambahnya. (efa)





Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/07/03/179929/Kapolri-Disarankan-Konsultasi-dengan-Ormas-Islam-


Horas Nainggolan Masuk Islam

Saturday, July 27, 2013

Tak Ada Salahnya Aktivis & Akademisi Terjun ke Dunia Politik

Bima Arya Sugiarto (Foto: Dok Okezone)Bima Arya Sugiarto (Foto: Dok Okezone)



JAKARTA- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya Sugiarto, merilis buku autobiografi bertajuk ‘Titik Balik’ di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Sabtu (27/7/2013) sore.


Bima mengundang sejumlah tokoh seperti Ketua Partai Bintang Reformasi (PBR), Bursah Zarnubi, artis sekaligus politikus Partai Demokrat, Eko Patrio, Jumhur Hidayat, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, sebagai pembicara untuk mengomentari bukunya tersebut. “Saya tidak setuju ketika Bima berniat masuk ke politik praktis. Tapi politik harus diambil,” kata Burhan memberi sambutan dalam acara tersebut mengenang pertama kali Bima masuk ke PAN.


Namun, belakangan, Burhan mengaku menjadi salut dengan kiprah Bima. “Politik membutuhkan sumber-sumber yang baik. Salah satunya dari kalangan aktivis dan akademisi,” ujar Burhan.


Peluncuran buku ‘Titik Balik’ dimulai pukul 17.00 WIB dan dikemas dalam bentuk diskusi. Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa, tampil sebagai keynote speaker.


Seratusan audiens hadir di acara rilis. Rata-rata audiens tampil mengenakan baju orange. Salah satu peserta, Riadul Muslim, mengaku sangat terkesan dengan Bima Arya. “Bima figur politikus yang mengedepankan politik santun, kecerdasan, tapi tidak pernah menghilangkan idealismenya,” ujar alumni mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif (UIN) Hidayatullah itu menggambarkan sosok Bima Arya.
(ded)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://index.okezone.com/read/2013/02/07/33/758458/terlibat-masalah-diego-michiels-masuk-islam


Tak Ada Salahnya Aktivis & Akademisi Terjun ke Dunia Politik

Monday, June 3, 2013

Terorisme Tak Terkait dengan Islam

IlustrasiIlustrasi



JAKARTA - Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyesalkan terjadinya aksi bom bunuh diri di Poso tadi pagi. Namun PKS berharap agar aksi terorisme tersebut tidak dikait-kaitkan dengan Islam. Meski, selama ini aksi terorisme sering melibatkan jaringan Islam garis keras.


“Nanti dikaitkan lagi dengan Islam? Mudah-mudahan ini tidak dikaitkan dengan Islam, karena itu tidak dapat membantu masalah,” kata Ketua Fraksi PKS Hidayat Nurwahid di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/6/2013).


Anggota Komisi VIII DPR ini benar-benar berharap agar aparat kepolisian benar-benar mengusut secara tuntas peristiwa ini. “Saya berharap hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya, yang tidak salah jangan difitnah dan digebukin,” harapnya.


Seperti diketahui, bom bunuh diri terjadi di halaman Mapolres Poso, Sulawesi Tengah. Pelaku meledakkan dirinya setelah berhasil menerobos pos penjagaan polisi di dekat pintu gerbang.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, bom bunuh diri itu terjadi pagi tadi sekira pukul 08.00 Wita. Tubuh pelaku bersama sepeda motornya hancur dan berserakan di halaman Mapolres Poso atau sekira dua meter dari pos penjagaan.


Sebelum kejadian, pelaku yang diketahui seorang pria masuk ke lingkungan Mapolres Poso sambil mengendarai sepeda motor. Tak lama berselang, terjadi ledakan keras berasal dari tubuh pelaku.


Saat ini, petugas telah memasang garis polisi di lokasi kejadian dan melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga memperketat penjagaaan di pintu masuk maupun keluar untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


Selain itu, personel TNI dari Kodim 1317 Poso juga diterjunkan untuk membantu pengamanan.


Aksi itu mengundang perhatian warga untuk mendatangi lokasi. Namun, polisi yang melakukan penjagaan mencegah warga mendekat untuk mengantisipasi adanya kelompok pelaku yang menyusup di antara warga. (ahm)


Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=318455


Terorisme Tak Terkait dengan Islam

Tuesday, July 2, 2013

Cinta Lelaki Aktivis

(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)(Ilustrasi: Feri Usmawan/Okezone)



“Tidak seharusnya kita berfikir seperti itu ukhti. Kita tidak boleh egois memaksakan kehendak. Kita ini aktivis dakwah, kita hanya bisa mengajak dan menasehati. Serta memberikan kemafhuman bahwa yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil

 

Urusan terima atau tidaknya, itu bukan hak kita untuk memaksanya berubah menjadi muslimah yang mengamalkan Islam secara kaffah. Kita tawakkal serahkan semuanya pada Allah azza wa jalla. Itulah ikhtiar kita. Dan yang paling penting bagi kita selaku aktivis dakwah, isbirun dan jangan menjauhinya tapi berlaku baiklah dan rangkullah ia.

Dakwah ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan tidak mudah menjadikan seseorang berubah secara total. ”

 

Penjelasanku panjang lebar kepada Zahra yang berharap sekali teman perempuannya berubah menjadi muslimah yang menjalankan syariat Islam minimal memakai jilbab. Zahra salah satu akhwat seperjuanganku. Kulihat wajahnya mulai tenang mendengarkan nasihatku.

 

Zahra yang sangat bersemangat ketika berbicara masalah dakwah fi sabilillah guna menyelamatkan generasi muda dari arus globalisasi dan produk-produk yahudi yang liberal dan ingin menghancurkan generasi umat Islam dengan berbagai cara. Bahkan prioritas dan azzam-nya yang membuatku kagum pada Zahra. “Kalaupun aku harus mati dijalan-Nya, maka I’m pround and that my choice” gumamnya suatu ketika bersamaku dalam suatu seminar yang digelar oleh salah satu pondok pesantren.

 

“Tapi kak ! bukankah mereka sudah sering Zahra sampaikan bahwa kewajiban menutup aurat itu perintah Allah yang termaktum didalam Alquran” protes Zahra yang belum sepenuhnya menerima penjelasanku. Aku berfikir positif mungkin karena keinginannya yang terlalu besar sehingga menutup pikirannya untuk berfikir secara realistis.

 

“Benar sekali yang ukhti sampaikan, tapi yang harus diingat siapapun dan darimanapun orang yang menyampaikan kalau bukan dirinya sendiri yang tidak mau berubah maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya. Bukankah ukhti sering mendengarkan firman-Nya dalam surah Ar-Ra’ad 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau bukan kaum itu sendiri yang merubahnya”

 

Jadi disamping kita menyampaikan kebenaran itu, maka diperlukan juga dorongan motivasi dari dalam diri kita untuk melakukan perubahan, bukan sebaliknya. Bersifat apatis terhadap hidup kita. Jika hidup kita biasa-biasa saja dan bersahabat dengan lembah kehinaan dengan melakukan kemaksiatan, kita biarkan diri kita ikut arus tanpa mencoba untuk melawan arus itu. Berprinsip mengalir apa adanya tanpa ada kemaun untuk melakukan sebuah revolusi kearah yang lebih baik.

 

Zahra mendengarkan untaian-untaian kalimat yang kuucapkan dengan seksama. Mencoba memahami setiap kata tersebut, tapi aku yakin Zahra bisa memahaminya. Entah karena untaian nasehat yang kuucapkan kulihat pelupuk matanya menampung air yang bening. Hingga kelopak mata tersebut tak mampu lagi untuk membendungnya seketika menetes membasahi pipinya yang bak baby face. Mata yang binar itupun sayup dan kemerahan.

 

Percakapanku dengan Zahra terhenti seiring dengan terdengarnya seruan menghadap pada Sang Khaliq dari menara masjid. Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan Zahra melangkahkan kaki ini memenuhi seruan-Nya. Karena kusadar aku berstatus sebagai hamba. Abdi Allah yang harus menjalankan kewajibanku. Aku bersyukur karena hati ini masih rindu akan kehadirat-Nya, meninggalkan sifat hedonis dan rindu akan kampung akhirat. Semoga hati ini tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

***

Hari-hariku kembali kujalani dengan sejuta nikmat yang senantiasa aku rasakan dari-Nya. Kicau burung, mentari merekah dan tetesan embun kembali menghiasi cakrawala dunia. Hari ini aku kembali mengukir sejarah dalam lembaran hidupku. Entah sama dengan hari kemarin atau lebih baik lagi atau bahkan sebaliknya. Tapi aku berharap dan ber-azzam hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Karena Rasulullah bersabda “Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia beruntung.”

 

Ku atur waktuku secara sistematik. Mulai dari bangun tidur, aktivistas kuliah, organisasi bahkan mimpi-mimpiku untuk kedepannya. Menginterpretasikan makna kehidupan dengan jalanku sendiri membuatku terkadang mengalami kemandekan untuk menentukan sikap. Tapi itulah manusia terkadang berada pada situasi yang menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan sikap dan solusi.

 

Sudah dua jam lebih aku berdiri di depan kampus menunggu Zahra karena sesuatu hal yang sangat urgent harus kusampaikan. Tak kulihat batang hidungnya berlalu lalang di area kampus. Apa Zahra tidak masuk kuliah ? Atau sakit? Di masjid, perpustakaan atau sudah pulang? Sederetan pertanyaan itu terus mendesakku untuk mencari tahu. Aku menuju ke masjid kampus seakan ada magnet yang menarikku untuk cepat menuju masjid kampus. Jantungku berdebar kencang seperti genderang yang dipukul oleh para seniman mementaskan karya terbarunya dengan spektakuler.

 

“Ya Allah ada apa ini? Aku terus mengucapkan tasbih berdzikir menenangkan hati. Karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Itulah firman-Nya. Aku bergegas ke arah masjid

 

“Masya Allah, ada apa ukhti ?” Setelah berada dalam masjid kulihat Zahra berlinang air mata. Disampingnya Fatimah terusnya membujuknya tapi air mata Zahra semaking berlinang deras. Deras sekali. Membasahi jilbab abu-abu yang menjulur sampai kelutut yang ia kenakan.

 

“Ada apa ukhti ? kenapa ukhti menangis ?” tanyaku dengan rasa penasaran. Fatimah dan Zahra menatapku tanpa berkata apapun. Tatapan yang tidak kumengerti. Suasana menjadi hening, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sejurus aku berfikir keras untuk memecah kebisuan ini.

 

“Kak…….” Suara Zahra memecah keheningan. Aku hanya menunduk seraya menjaga pandangan.

“Kak Hafidz, Zahra dijodohkan kak. Kemarian Zahra dikhitbah dan orangtua Zahra menerimanya tanpa meminta persetujuan dari Zahra. Karena perjodohan itu disepakati sejak Zahra berusia lima tahun. Seminggu sebelum resepsi khitbah orangtuaku baru mengatakannya. Aku bingung kak.”

 

Aku tersentak mendengar penuturan Zahra. Aku mengernyitkan dahi dan menelang ludahku karena kerongkongan ini tiba-tiba kering. Hati ini seakan perih. Rekahnya mentari yang hangat menyusup kesetiap pori-pori tak lagi kurasakan. Lagi terlihat mendung seketika, hampa, hambar dan tak ada daya rasanya untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun susah bagiku.

 

Air mataku kurasakan sebentar lagi akan berjatuhan bak mendung yang siap menurunkan hujan dengan lembab tapi aku tahan dengan segenap kekuatanku. Aku harus tegar. Aku ini laki-laki bagaimana pun konsekuwensinya aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat lemah bahkan lebay dihadapan Zahra dan Fatimah. Bukankah cinta itu tak selamanya harus memiliki. Cinta tidak seharusnya memiliki tendensi yang lain.

 

Cinta terkadang membuat kita bahagia dan sedih. Itulah uniknya cinta. Secara diam-diam aku sangat menyayangi Zahra bahkan aku telah mencintainya.Aku mencintainya dan selama ini aku jaga cinta itu, aku simpan rapat-rapat dalam relung hatiku terbungkuskan harapan untuk suatu hari aku datang mengkhitbahnya. Hingga saat ini aku masih mencintainya dan tak pernah satu orangpun aku katakan perasaan ini bahkan pada dirinya. Aku ingin cinta ini tetap suci hingga kami disatukan dalam ikatan yang halal di mata manusia lebih-lebih lagi dihadapan-Nya tapi harapan itu kini hanyalah sebuah angan yang bergelantungan pada langit dunia.

 

“Ukhti, Insya Allah itulah yang terbaik yang Allah berikan. Syukurilah dan ambillah ibrah dari semua yang berlaku. Allah tahu bahwa ukhti sudah mampu mengemban amanah menjadi istri dan calon ibu kelak, makanya Allah menakdirkan ukhti menikah diusia muda” ucapku pada Zahra dengan mimik wajah yang kubuat bersikap biasa-biasa saja. Mimik wajah yang kubuat bahagia meski hati ini menolak untuk melakukannya

 

“Tapi kak, Zahra belum tahu akhlaknya, pergaulan bahkan semua tentangnya buram bagiku” Zahra seakan belum siap dengan semua itu, mungkin ada alasan yang urgent yang membuatnya belum bisa menentukan sikap. Aku kembali menyakinkannya

 
“La yukallifulluh nafsan illaah wus’aha”. Ingat firman-Nya ukhti. Bukankah setiap problem yang kita hadapi pasti ada solusinya? Seandainya orangtua ukhti tidak mengetahui dan kenal baik dengannya aku percaya beliau tidak akan menerimanya.

 

Pernikahan berarti menyempurnakan separuh agama, kini Allah membukakan jalan untuk menyempurnakan separuh agama itu. Maka jemputlah ia dengan senyuman indah penuh cinta kasih. Rangkul dan peluklah anugrah terindah itu yang Allah peruntuhkan untukmu ukhti. Sambutlah dan mulailah mencoba membuka lembaran baru dengan cinta yang mampu menggetarkan langit dan mendapat Ridha-Nya. Terimalah kenyataan ini dengan dasar cinta karena-Nya.

 

“Karena cinta senantiasa bergerak. Dimana hati saling mengerti satu sama lain berdasarkan intuisi, di mana jiwa-jiwa telah menjadi matang oleh pemahaman. Belajarlah untuk mencintainya karena atas dasar cintalah kehidupan ini akan lebih berwarna” aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia atau sedih semua berpadu menjadi satu aliran.

 

Sudah lama aku tidak pernah melihat Zahra bahkan keberadaannya tak kutahu lagi. Pertemuanku di masjid kampus merupakan pertemuan terakhirku dengan dirinya. Menurut informasi, Zahra berhenti kuliah dan pindah rumah beserta keluarganya. Dia pun tidak pernah memberitahukanku kemana ia pergi.

 

Ada perasan hilang dalam hidupku yang menyergap hari-hariku semenjak kepergiannya tapi aku berusaha memahami setiap kejadian yang kualami. Menyelami akan arti kehidupan dan mengambil sirat makna dibalik semua yang telah berlaku. Kembali kudesain hidupku, kembali menuliskan mimpi-mimpi baru yang kuprioritaskan yang harus kugapai. Menuliskan misi sebanyak-banyaknya dan bertekad untuk lulus ujian akhir dengan predikat mahasiswa terbaik dengan hasil cumlude.

 

Menghiasi hari-hariku dengan berbagai aktivitas padat. Mulai dari kuliah sampai kembali eksis dan menjadi kader militan dalam organisasi. Walaupun bayangan Zahra sesekali melintas dalam benakku, namun secepat itu juga kutepis bayangan wajahnya. Aku harus lebih menggunakan logika.

 

Hembusan angin membelai wajahku. Hari berganti hari, bulan berganti bulan seiring dengan silih bergantinya siang dan malam kehidupanku terus kulalui hingga takdir membawaku pada keadaan statis. Tak terasa aku sudah berada pada tingkatan akhir, seminar proposal sebulan lagi setelah itu penyusunan skripsi. Tapi sebagai aktivis dakwah aku tetap menyisihkan sebagian waktuku untuk mengurusi organisasi dengan mengadakan pengkaderan dan training. Perlahan tapi pasti, ingatan tentang Zahra kian menghilang aku kini lebih bisa menerima kepergiannya dan lebih banyaknya memfokuskan menatap masa depanku.

 

“Apa yang ingin kau lakukan ?” gumamku. Ponselku berdering

“Assalamu’alaikum. Afwan dengan bapak Hafidz ?” Tanya seorang laki-laki yang menelponku.

 

“Wa’alaikum salam iya benar saya sendiri. Siapa ?”

“Afwan menganggu Bapak. Kami dari panitia pelatihan meminta bapak untuk bersedia sebagai nara sumber pada training motivation for teens”

“Deadlinenya kira-kira kapan pak ?”

“Insya Allah tanggal 15 pekan depan pak”. Aku menghela nafas mengingat-ingat rencana untuk pekan depan ternyata kosong

“Insya Allah saya akan datang pak. Saya minta satu hari sebelum deadline-nya tolong hubungi saya, takutnya nanti lupa”

“Iya pak, syukran katsiran semoga Allah memudahkan ”

“ Afwan ” telpon terputus dengan salam

 

***

Hari H training motivasi tiba. Dengan mengenakan baju kokoh berwarna hijau dan celana kain hitam di atas mata kaki, aku menuju tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan menempuh jarak sekitar 15 menit aku menuju dengan mengendarai angkot. Peserta terlihat antre di tempat registrasi, aku menuju ruang tunggu yang telah disediakan oleh panitia.

 

Setelah beberapa menit berlalu acarapun dimulai. Moderator mengucapkan salam dan sambutan kepada seluruh audience. Namaku disebut pula sebagai nara sumber dan nama seorang akhwat. Nurul Hafidzah. Setelah mengerjakan sholat duha, aku melangkah ke audioturium. Langkahku terhenti, mataku menangkap sesosok perempuan yang telah mengisi ruang hatiku dua tahun silam. Ada rasa yang mengalir dalam tubuhku sekorelasi dengan aliran darahku. Desah nafasku menghembuskan arti kebahagiaan.

 

Perempuan yang sudah dua tahun tidak pernah aku lihat kini berdampingan denganku sebagai nara sumber. Di mana saat ingatan tentangnya mulai pudar kini dia hadir kembali.Pandangan kami berpapasan. Zahra kini tampak lebih dewasa.

 

“Astagfirullah” aku menundukkan pandangan memohon ampun. Tidak seharusnya aku memandangnya begitu lama. Aku terus melangkah, aku harus professional dan tidak boleh mendramatir keadaan.

 

“Assalamu’alaikum ukhti ” sapaku setelah berada dekat dengan dirinya

“Wa’alaikum salam” Zahra menjawab salamku dan menundukkan kepala. Tak satupun kalimat atau tanya yang terucap untukku. Pelatihan pun dimulai, aku sampaikan materiku dengan sebaik mungkin, lugas dan detail. Acara berlangsung dengan baik. Antusias dari peserta sangat tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan yang menghujaniku dari peserta aku jawab sebisaku dan tak ada kata tidak bisa, aku tidak ingin peserta merasa kecewa.

 

Setelah training selesai aku tidak melihat Zahra. Mungkin sudah dijemput oleh suaminya? Tanyaku pada diriku sendiri. Sebelum meninggalkan tempat kegiatan, aku bertanya pada salah satu panitia.

 

“Daeng, yang menjadi nara sumber selain saya, itu siapa ? tanyaku mencari tahu, karena moderator menyebut namanya sebagai Nurul Hafidzah bukan Zahra

“Oh, yang berjilbab panjang yang duduk disamping?” aku menganguk

“Namanya Zahra cuma dalam training dan kegiatan lainnya ia sering memakai nama pena Nurul Hafidzah. Soalnya disamping ia mahasiswi ia juga sebagai penulis. Orangnya cantik, muda dan belum ada suaminya” jawab panitia dengan logat Bugis kental. Aku tersentak kaget mendengar penuturan panitia penyelenggara. Kata-kata terakhirnya membuatku sulit untuk berfikir

 

“Belum ada suaminya” Apa Zahra belum menikah? Tapi kenapa? Bukankah dua tahun silam ia dikhitbah? Aku tidak bisa berfikir jernih. Semuanya terasa buram untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Pertanyaan yang entah kapan akan terjawab.

 

“Ya Allah, mengapa disaat aku bisa melupakannya ia kembali hadir dalam kehidupanku. Astagfirullah ” aku tidak seharusnya mengeluh kepada-Nya hanya hal seperti ini.

Waktu terus berlalu, tapi pertanyaan yang memenuhi ruang hatiku masih pertanyaan yang sama. Benarkah Zahra belum menikah? Berkali-kali kutepiskan pertanyaan ini dan berfikir jernih dan realistis.

 

Mungkin saja pertemuanku dengan Zahra hanyalah kebetulan tapi adakah namanya kebutulan di dunia ini? Aku mencoba menghubungi Fatimah berharap ia tahu apa yang sebenarnya berlaku pada Zahra, tapi sia-sia saja nomor Fatimah tidak bisa terhubung meskipun berulang kali kucoba tapi hasilnya nihil. “Mungkin Fatimah telah ganti nomor”

 

Kurebahkan tubuh ini, menghilangkan kepenatan dan rasa penasaran yang menyelimutiku dimalam yang dingin ini. Biarkan rasa ini berbaur dengan dinginnya malam. Disuatu pagi. Dihari yang cerah, pelangi melukis keindahannya di jagad raya. Aku melihat pesan baru dalam inbox ponselku, sebuah SMS dari nomor tanpa identitas nama

 
“Bismillah…
 
Kerinduan cinta menjauhkan tabir, dan menerangi relung-relung hati dengan menciptakan kebahagiaan yang tidak ada kebahagiaan lain dapat melebihinya kecuali ketika jiwa itu memeluk Tuhan. Cinta laksana matahari yang muncul dari awan-awan dan selalu menghangatkan jiwa kita. Sambutlah cintamu akhi yang sudah lama merana menantikan kehadiranmu. Jadikanlah ia ustadzah di rumah yang engkau memadu kasih dibawa naungan ke-Ridhoan-Nya. Bersegeralah akhi. ”

 

Setiap kalimatnya tinggi dan puitis. Aku masih belum mengerti maksud dari bait katanya. Siapakah ia? Akupun membalas pesannya untuk menjawab rasa penasaranku

 
“Bismillah……
 
Afwan, dari setiap untaian kata yang anda tulis aku tidak mengerti. Bahkan tak satupun kalimat yang aku mengerti. Siapakah yang harus kujadikan ustadzah di rumah? Apa yang harus kusegerakan? Afwan siapa ? ”
 
“Bismillah….
 
Afwan akhi kalau setiap kalimatku tak satupun yang antum mengerti. Insya Allah kalau akhi punya waktu datanglah ke TPA AL-Ikhwan besok bakda asar, akhi akan tahu semuanya. Semoga Allah mengampuniku atas kelancanganku semuanya tapi percayalah ini semua demi kebaikan akhi ”

 

***

Bakda asar aku menuju TPA Al-Ikhwan. Aku sengaja sholat asar diperjalanan supaya bisa on time. Kulihat seorang akhwat bercadar sedang membaca buku di halaman masjid dekat TPA. Ia memberi salam tatkala aku semakin dekat dengannya. Aku merasa risih dengan keadaan kami yang hanya berdua saja apa lagi dalam lingkup masjid.

 

“Afwan akhi, ana yang mengirimkan pesan kemarin ” ucapnya memulai percakapan. Suaranya tidak asing bagiku, hanya karena wajahnya dibalik niqob maka aku tidak bisa memastikan siapa dirinya

 

“Afwan ukhti, tidak seharusnya kita berkhalwat nanti ada fitnah ”

“ Insya Allah tidak akhi. Ana ke sini bersama dengan mahram, hanya saja kakak masih di dalam masjid. Kita tunggu sejenak sebelum akhi tahu semuanya ” aku tidak sabar untuk menunggu, kuingin segera mengetahuinya supaya semuanya jelas

 

“Ukhti sebenarnya siapa ? dan apa maksud dari semua ini ? ”

“Ana Fatimah akhi Hafidz ” aku memuji dan bersyukur pada-Nya atas segala yang Dia berikan padaku bukankah kemarin aku ingin sekali bertemu dengan Fatimah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan diriku dan kini Allah membuka jalan ini untukku disaat ku mulai rapuh tapi…tapi perubahan Fatimah, subhanallah ya Allah

 

“Ukhti Fatimah temannya Zahra ? ” tanyaku mencari kepastian

“Na’am akhi (iya, saudaraku)” Fatimah lalu memberiku selembar kertas yang penuh dengan goresan cinta. Aku segera membacanya tanpa satu kata pun yang terlewati

 
Selasa 2007
 
Aku menemukan sesosok pemuda langkah di zaman ini. Tutur katanya senantiasa mengingatkan ku pada kebesaran-Nya dan membuat hati ini semakin terpaut pada-Nya dengan cinta. Cinta yang tulus hanya untuk-Nya. Ya Allah, salahkah jika aku mencintai dan berharap ia menjadi calon bapak dari anak-anakku kelak. Ya Allah jika aku boleh meminta, jadikanlah ia sebagai jodohku di dunia dan di alam keabadian akherat. Jadikanlah ia sebagai imam bagiku untuk meneguk sebanyak-banyak cinta-Mu. Kak Hafidz,
 
Ketiadaan bagi cinta
 
Laksana angin bagi api
 
Ia membakar yang kecil
 
Menyalakan yang besar
 
Datanglah bersamaku
 
Dan jadilah cintaku
 
Kita akan menikmati segala suka cita
 
Yang dihasilkan oleh bukit-bukit
 
Dan lembah-lembah hutan
 
Dan pegunungan
 
(Zahra yang mengharapkan keridhoan-Nya)

 

***

Konvergensi senja dengan bentangan malam kini silih berganti. Kunikmati semuanya dengan penuh keagungan-Nya. Pergulatan di dalam hatiku pun mengiringi perjalananku setelah bertemu dengan ukhti Fatimah. Pergulatan untuk tetap pada titik stagnan atau menjemput cinta dalam mahligai rumah tangga yang diridhoi oleh-Nya. Aku masih belum bisa untuk menentukan sikap. “Apakah aku pantas mendampingi ukhti Zahra ? Apakah ia akan menerima pinanganku? Bagaimana dengan keluarganya jika ia melihat materi sebagai indikasi pertama?” Pergulatan itulah yang membuatku statis pada titik ini. Tidak melakukan sebuah pergerakan yang diwujudkan dalam sebuah treatment untuk memulai.

 

Setelah sholat istikharah berkali-kali ku kuatkan azzam-ku untuk mengkhitbah Zahra. Cukuplah Allah menjadi saksi atas ketulusan dan usahaku. Hari itu matahari semakin meninggi dan aku sudah siap menuju rumah Zahra, semua kemunkinan sudah aku pikirkan. Diterima tidaknya aku serahkan semua pada yang berhak tuk mengatur hidupku. Setelah sampai di ambang pintu rumahnya aku memberanikan diri mengucapkan salam. Dari dalam rumah kudengar suara langkah kaki menuju pintu

 

“Assalamu’alaikum” ucapku setelah kutahu yang membukakan pintu adalah orangtua Zahra

“Wa’alaikum salam”

“Zahranya ada bu ? saya Hafidz teman kampusnya Zahra sebelum ia pindah dua tahun silam”

“Oh nak Hafidz. Zahra sering bicara sama ibu tentang nak Hafidz. Tapi Zahra ….”

“Tapi Zahra kenapa bu ? tanyaku dengan hati yang tidak pasti. Ada firasat yang merasuk ke dalam hatiku yang membuatku merasa takut

 

“Zahra ke London nak, melanjutkan kuliah Sastra Bahasa Inggris di Universitas Oxford”

“Kapan berangkatnya bu ?”

“Alhamdulillah kemarin nak” aku menundukkan kepala dan menyesali diriku sendiri.

 

Seandainya dari kemarin tujuan ini saya segerakan mungkin semuanya berbeda. Atau ini tanda bahwa aku tidak berjodoh dengan Zahra. Kutepiskan perasaan sesal ini dan menata hati untuk berfikir positif, mengambil ibrah dari semua ini. Mungkin garis takdir cuma menuliskan aku dengan Zahra sebatas saudara semuslim yang terikat dalam ikatan ukhuwah islamiyah, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa hati ini masih tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Atau benarkan para pujangga bahwa cinta tak selamanya memiliki ? Kini di sang surya cerah gemerlapan diufuk timur dan kucoba untuk menyunggingkan senyumanku menjalani kehidupan ini. Biarkanlah catatan tentang Zahra menjadi bagian kisah terindah dalam hidupku yang akan menjadi bukti bahwa betapa aku menjaga hati dan cinta ini berdasarkan syariat dan koridor yang seharusnya.

 

“Nak Hafidz” suara ibu Zahra membangunkan ku dari lamunan tentang Zahra

“Nak Hafidz, Zahra pernah bicara sama ibu bahwa ia menginginkan suami seperti nak Hafidz” penuturan ibu Zahra mengangetkanku. Aku menatapnya dalam-dalam mengharap ada harapan dan jalan bagiku untuk menwujudkan tujuan mulia ini, menjadikan Zahra ustadzah di rumahku kelak.

 

“Tapi nak Hafidz sudah terlambat karena…..”

“Maksudnya bu ?”

“Dua hari sebelum keberangkatan Zahra ke London lamaran dari nak Ilham kami terima, begitupun dengan Zahra sudah mengikhlaskan dirinya menjadi istri nak Ilham kelak. Zahra bilang sama ibu bahwa nak Hafidz tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Nak Hafidz cuma menganggapnya sebagai adik, dan itu tidak lebih. Itulah yang Zahra ucapkan sebelum ia menerima lamaran nak Ilham.

 

Zahra juga pernah bilang bahwa ia pernah bertemu nak Hafidz di sebuah seminar dan sangat berharap nak Hafidz datang ke rumah tuk mengkhitbahnya”. Langit cerah di ufuk timur tak lagi indah kulihat. Semua penjelasan ibu Zahra membuat tubuh ini rapuh dan aliran darahku beku. Aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Tanpa aku sadari air mata beningpun menetes sebagai bukti bahwa betapa kuingin dan berharap Zahra menjadi kekasih hatiku yang terikat dengan ikatan suci pernikahan.

 

“Bu, sampaikan salam maafku dengan Zahra dan aku minta sama ibu untuk tidak memberitahukan bahwa aku pernah ke rumah mencarinya. Biarkan ia menjadikan diriku sebagai masa lalu dalam hidupnya”. Aku berpamitan pulang tanpa pernah mengatakan tujuanku datang ke rumahnya. Biarkan semuanya menjadi kisah terindah dan catatan yang tertulis dalam garis takdir. Aku terus berjalan dan berjalan menelusuri lorong-lorong labirin hidupku.

 

Aku harus sadar bahwa mencintai seseorang tidak mutlak kita harus mendapat balasan cintanya dan aku tahu bahwa Allah sedang memberikan pengajaran dan didikan bagiku untuk menjalani fase kehidupan berikut. Allah tahu yang terbaik bagiku bukan hanya hari ini tapi untuk hari berikutnya. Kubiarkan kita ini tetap ada dalam hidupku karena kutahu cinta itu fitrah dan anugrah Ilahi yang terindah yang ia titipkan padaku.

 

Cintaku akan kujaga seperti aku menjaga hati. Aku terus melangkah dan kulihat awan-awan membentuk sebuah harmonisasi cinta yang indah dan kulihat pelangi merangkai garis-garis cinta yang membuat semua insan bahagia karena cinta.

 

Cinta adalah fitrah dan anugrah Ilahi yang harus kita syukuri serta tidak membuat kita buta terhadap hal-hal yang mengotori kesucian cinta. Teruslah menebarkan sayap-sayap cintamu yang membuat hidup ini mendapat ke-Ridhoan-Nya.
 
Oleh  Muhammad Ramli

 

Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIM Sinjai. Bisa dihubungi di khairul.azzam21@yahoo.co.id atau muhramli5@gmail.com. penastaim10.blogspot.com. 085 299 741 298

 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(//ful)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/06/16/moh90d-kanwil-kemenag-jabar-siap-sosialisasi-pemotongan-kuota-haji


Cinta Lelaki Aktivis