Showing posts sorted by relevance for query retak. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query retak. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Wednesday, December 19, 2012

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata


Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Asyik Berfoto Bersama Keluarga Di Danau LapindoDanau Lumpur Panas Sidoarjo Menjadi Daerah Kunjungan Wisata
Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering
Bencana Danau Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong-Sidoarjo masih menyisakan duka. Namun, danau ini justru dibuat sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar. Ada banyak kisah di sana.
Akibat kelalaian manusia bencana lumpur panas Sidoarjo terjadi. Di balik duka yang mendalam itu, semangat warga sekitar patut diacungi jempol. Betapa tidak, danau ini mereka sulap menjadi destinasi yang mendatangkan banyak wisatawan.
Bencana lumpur panas Sidoarjo atau yang dikenal dengan Danau Lumpur Lapindo, merupakan bencana tenggelamnya beberapa desa di Kecamatan Porong-Sidoarjo hingga membentuk danau yang begitu luas akibat aktivitas pengeboran minyak. Entah berapa besar kerugian yang ditanggung akibat hilangnya pemukiman penduduk, gedung-gedung sekolah, kantor-kantor pemerintah, persawahan, sektor perindustrian, dan lain-lain.
Akibat bencana ini jalur lalu litas perdagangan Surabaya–Malang dan Surabaya-Banyuwangi sempat lumpuh total. Sehingga berpengaruh pada kehidupan perekonomian di Jawa Timur.
Tiang ukur menunjukkan kedalaman danau lumpur mencapau ratusan meterKamis itu kebetulan hari libur, yaitu hari Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1434 Hijriyah. Kami memanfaatkannya dengan bepergian ke luar kota bersama anak dan istri. Terdorong oleh rasa ingin tahu kami tentang Danau Lapindo, maka berangkatlah kami menuju kota Porong–Sidoarjo.
Sesampai di pintu masuk tanggul Danau Lapindo, seorang penjaga memungut biaya masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Di dalam areal danau, para pengunjung masih dipungut biaya suka rela sebelum memasuki lokasi pusat semburan.
Danau Lumpur Lapindo dikelilingi oleh tanggul yang cukup tinggi, dengan ketebalan tanggul yang memungkinkan kendaran roda empat (dump truck) bisa berjalan lalu lalang melalui tanggul itu. Sebelum memasuki tanggul, masih di Jalan Raya Porong, banyak warga sekitar yang mendirikan warung-warung makan dan minuman. Mereka mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman untuk menambah ekonomi keluarga.
Setiap pengunjung  yang  datang  mereka tawari suvenir-suvenir, berupa kaus dan CD tentang bencana lumpur panas ini. Layanan payung dan ojek juga tersedia bagi pengunjung yang kebetulan tidak membawa motor sendiri.
Mengingat begitu luasnya danau ini, sehingga berjalan-jalan keliling danau tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Terlalu capek dan keadaan udara sangat panas menyengat kulit akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Dari kejauhan tampak sesekali asap putih mengepul timbul tenggelam rupanya. Di sanalah tempat pusat semburan, ada bau khas dan tak sedap yang ditimbulkan akibat keluarnya lumpur panas dari perut bumi muncul dan hilang kembali diterpa angin kemarau.
Kami menyaksikan pompa-pompa air yang berukuran sangat besar, juga kapal-kapal pengeruk lumpur serta mess karyawan BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) yang siang itu kelihatan sepi dan lengang. Hanya suara atap mess yang terbuat dari bahan pelat seng tersingkap akibat tiupan angin yang mengundang perhatian kami.
Tidak lama kemudian, beberapa pasang pengunjung dengan mengendarai sepeda motor mendatangi tempat yang terdekat dengan pusat semburan. Kami lalu berbincang bersama sambil memandangi pusat semburan lumpur.
Mereka datang bersama keluarganya sehabis menengok sanak keluarga di daerah lain,  “penasaran dengan cerita banyak orang tentang danau Lapindo, sekalian main-main kesini,” ungkap salah satu dari mereka.
Sebagian pengunjung,  memanfaatkan waktunya dengan berfoto bersama anggota keluarganya dengan latar belakang danau lumpur yang sudah mengering. Terlihat jelas sekali permukaan lumpur yang mulai mengeras dan retak-retak akibat musim kemarau.
BPLS sengaja memisahkan material yang keluar dari lubang semburan menjadi dua bagian. Sebagian danau khusus menampung air dan danau lain untuk endapan lumpur.
Ali, seorang pemandu wisata menjelaskan, “meski tempat ini terdekat dengan lokasi semburan, namun jaraknya masih puluhan kilometer dari sini. Wisatawan tidak diperkenankan melihat terlalu dekat dengan pusat semburan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjatuh dan lain-lain,”.
Pohon cemara ditanam dengan jarak tanam yang teratur, tampak mempercantik jalan masuk lokasi pusat semburan ini. Meski ada sebagian yang mengering akibat kemarau panjang.
Hari menjelang sore, setelah puas mengunjungi tempat wisata Lumpur Lapindo kami lalu beranjak pulang. Dengan berhati-hati kami menuruni  tanggul yang tinggi itu. Anak kami juga merengek karena perutnya lapar.
Kebetulan ada warung sederhana di dekat danau yang menyediakan makanan khas kota Porong, ote-Ote namanya. Kami pun dengan lahap menyantap ote-ote itu. Ditambah petis Sidoarjo, duh semakin nikmat rasanya. Sebagian lagi kami bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata

Sunday, August 4, 2013

Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Oleh Erik Purnama Putra


REPUBLIKA.CO.ID, Bagi Dini Fitria (31 tahun), melakukan perjalanan jurnalistik ke luar negeri adalah hal biasa. Namun, presenter program “Jazirah Islam” di Trans 7 ini mengaku mendapat berkah tersembunyi ketika mendapat tugas meliput dunia Islam di negara Eropa maupun Amerika Utara.


Sosok yang akrab di panggil Dini ini mengaku, banyak pelajaran dari interaksi dengan beragam karakter umat Islam di negara yang masyarakat Muslim menjadi minoritas.


“Ada hikmah sejarah, perjuangan, dan persahabatan yang bisa kita petik,” kata perempuan yang merangkap sebagai produser program khusus Ramadhan ini kepada Republika, belum lama ini.


Dalam tiga tahun terakhir, beberapa negara yang pernah disinggahi Dini untuk program “Jazirah Islam”, antara lain, Austria, Belanda, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Argentina, Meksiko, dan Brasil. Adapun, negara Asia yang dikunjunginya adalah Thailand, Cina, India, dan Korea Selatan.


Di beberapa negara itu, putri dari pasangan Syamsul Bahri Yunus dan Roslaini Rasyad ini melakukan liputan dokumenter tentang perjuangan umat Islam dalam menjaga eksistensi komunitasnya.


Ia menuturkan, pengalaman mengharukan didapatnya ketika meliput Mezquita Catedral di Kordoba, Spanyol. Bangunan masjid yang sudah menjadi tempat peribadatan warga Katolik itu begitu memikatnya. Ia merasa seperti masuk ke lorong waktu para era kejayaan Islam di Benua Biru.


Tak terasa, air mata Dini terurai saat melihat mihrab masjid telah beralih menjadi altar gereja. “Miris sekali,” akunya. Kesedihannya semakin mendalam ketika Abdul Bahri, seorang Muslim yang menjadi pengantarnya, menuturkan masyarakat Negeri Matador itu memberi stigma buruk terhadap Islam yang selalu dikaitkan dengan isu teroris.


Bertemu mualaf


Pengalaman menarik juga didapat Dini di Italia. Bungsu dari lima bersaudara ini bertemu dengan dua sosok Muslim yang mampu menginspirasinya. Mereka adalah Wali Kota Monte Argentario Arturo Cerully dan fotografer Steffano Romano yang keduanya merupakan mualaf.


Khusus Arturo Cerully, ia merupakan wali kota Muslim pertama di Negeri Piza. Ia memilih Islam karena ajaran kemasyarakatan dan kenegaraan, serta mengikuti agama yang dianut istrinya.


Adapun, Steffano Romano memeluk Islam lewat karya fotografinya tentang perempuan berjilbab. Kecintaannya terhadap ajaran Rasulullah ini mampu membuat keduanya meninggalkan agama leluhurnya.


Pengalaman spiritual paling puncak didapatnya saat berkesempatan menyaksikan beberapa orang dari berbagai negara di Eropa merasa mantap ingin masuk Islam. Proses pengucapan kedua kalimat syahadat calon mualaf mampu menggetarkan hatinya.


Perempuan kelahiran Padang, 23 Maret 1982, ini sangat tergugah setiap kali mengingat momen itu. Pasalnya, untuk memeluk Islam, bukan sebuah pilihan mudah dan memerlukan perjuangan cukup berat bagi warga Eropa.


Rata-rata, mereka yang masuk Islam lebih karena tertarik dengan isi Alquran yang dianggap sangat rasional dan tidak menimbulkan perdebatan. “Karena itu, saya selalu bersyukur memeluk Islam sejak kecil.”


Merasa menemukan Islam di Eropa, ia dibuat terkesima dengan warga Muslim di sana. Ini lantaran rasa persaudaraannya yang sangat kuat di tengah pandangan minor yang diterimanya.


Fakta itu juga dirasakan Dini yang selalu dicurigai petugas di bandara hingga memaksanya harus melepas jilbab yang dikenakannya lantaran dicurigai sebagai teroris.


“Islam di Eropa hanya satu. Mereka tidak membedakan Suni, Syiah, Muhammadiyah, atau NU. Islam ya Islam,” celetuknya.


Di belahan bumi lainnya, perjalanan Dini mengantarkannya bertemu dengan keluarga Indian Muslim yang tinggal di Chiapas, Meksiko. Di daerah kaya sumber daya alam ini, warga setempat masih hidup terbelakang lantaran terlena dengan kehidupan yang dekat dengan alkohol, judi, dan hukum rimba.


Mayoritas warga suku Indian itu yang menjadi penganut animisme berusaha mencari kedamaian dengan memeluk agama Katolik maupun Protestan yang disebarkan masyarakat Eropa. Namun, lanjut Dini, ketenangan yang diharapkan tidak juga ditemukan.


Alhasil, pencarian keluarga itu mengantarkannya mengenal Islam dari kelompok pendatang Muslim asal Spanyol. “Islam menjadi alternatif yang menarik karena bisa mengerem kebiasaan buruk mereka,” katanya.


“Sayang, sekali lagi isu-isu terorisme membuat mereka takut dan akhirnya termarginalisasi,” kata alumnus Universitas Andalas, Padang, ini.


 Menulis novel


Meski hasil reportasenya telah muncul di televisi, Dini merasa belum puas lantaran tidak semuanya tergambarkan. Ini mengingat tayangan dokumenter lebih menonjolkan aspek objektivitas. Atas dasar itu, ia tertarik menuliskan pengalaman subjektifnya ke dalam sebuah novel berisi kisah nyata.


“Alhamdulillah, novel religius ini bisa terbit,” katanya. Karya perdananya itu berjudul Scapa per Amore. Judulnya yang memakai bahasa Italia itu merupakan usulan istri Arturo Cerulli, Sri Semiarti Sastropawiro, yang berarti lari karena cinta.


Scapa per Amore bercerita perjalanan cinta seorang jurnalis televisi, Diva, yang harus memilih antara melanjutkan hubungan dengan tunangannya yang retak atau menerima tugas liputan ke luar negeri. Di tengah kegalauannya, Diva menjatuhkan pilihan memilih menunaikan tugas profesionalnya.


Harapannya, dengan pengalaman spiritual selama liputan akan diperoleh perenungan untuk menentukan langkah berikutnya. Dan, benar saja, perjalanan liputan itu ternyata menggugah banyak makna dan inspirasi. 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138443/HMI-Tegaskan-Ajaran-Laduni-Aliran-Sesat-


Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru