Showing posts sorted by relevance for query terbunuh. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query terbunuh. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, June 17, 2013

Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Home Sejarah



Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan Islam





 

Kaum Alawi rayakan festival di Banyas, Suriah, selama Perang Dunia II (foto: Wikipedia)



 




Selasa, 18 Juni 2013


Oleh: Artawijaya


BAGHDAD baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.


Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.


Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.


Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama  dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)


Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.


Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”


Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil  tunduk pada kekuasaan Tartar.


Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”.  Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.


Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”


Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut.


Padahal  Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.


Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)


Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu  Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai  Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”


Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.


Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)


Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina.


Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin.


Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak)  kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.


Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)


Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258


Pengkhianatan Selanjutnya


Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan  Khilafah Utsmaniyah pada 1924.


Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.


Sebuah dokumen luar negeri Prancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang di antaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad.


Surat tersebut berisi permohonan agar Prancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Prancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:


 
“Presiden Prancis yang terhormat,


Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.


Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.


Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.


Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Prancis.”


Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Prancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)


Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle,  dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali  bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.


Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”


Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/559376/ikatan-pelajar-nu-kecam-penyerangan-pesantren-al-idrisiyyah


Syiah, Dokumen Prancis dan Penghianatan di Balik Runtuhnya Kekhilafahan ...

Friday, August 16, 2013

Kekerasan berdarah kembali pecah di Mesir

Bentrok di Mesir

Bentrok antara kelompok pendukung Morsi dan pasukan keamanan terjadi sejak 14 Agustus.


Polisi antihuru-hara menyerbu dua kamp kelompok pendukung mantan presiden yang digulingkan militer, Mohammed Morsi di Kairo pada 14 Agustus yang menyebabkan tewasnya lebih 600 orang.


Sejumlah pasukan keamanan juga tewas. Ini adalah kerusuhan terburuk di Mesir sejak gerakan prodemokrasi dilancarkan dua tahun silam yang berhasil menggulingkan Hosni Mubarak. Kekerasan di Mesir berawal tanggal 3 Juli saat jabatan Morsi sebagai presiden yang terpilih melalui pemilu dicopot.


Apa yang terjadi di kamp pendukung Morsi?


Pasukan antihuru-hara menyerbu dan membubarkan secara paksa dua kamp pengunjuk rasa di Masjid al-Adawiya dan Lapangan Nahda pada 14 Agustus.


Mereka menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pemrotes dan melancarkan tembakan. Selain itu mereka juga mengerahkan buldoser.


Lebih 600 orang tewas dalam operasi ini, menurut pemerintah. Sementara Ikhwanul Muslimin, yang mendukung aksi protes, menyebut angka lebih 2.000 jiwa.


Kedua kamp diduduki para pengunjuk rasa yang menginginkan Mohammed Morsi ditetapkan kembali sebagai presiden Mesir yang sah, setelah digulingkan militer menyusul massa yang melakukan protes menentangnya.


Pendukung Morsi mengabaikkan peringatan pemerintah yang menginginkan agar mereka mengakhiri protes.


Apa yang menyebabkan Presiden Morsi digulingkan?


Mesir

Pendukung Mohammed Morsi menuntut dia dipulihkan ke jabatan presiden.


Saat tahun pertama ia menjabat, Presiden Islamis berselisih dengan beberapa institusi utama dan beberapa sektor masyarakat dan banyak rakyat Mesir menganggapnya kurang berupaya mengatasi masalah ekonomi dan sosial.


Sejak itu Mesir terpecah antara kelompok pendukung Morsi yang Islamis dan lawannya, termasuk partai sayap kiri, liberal, dan sekuler.


Pada 30 Juni 2013 jutaan orang turun ke jalan untuk memperingati satu tahun pelantikan presiden dalam sebuah protes yang diprakarsai oleh gerakan Tamarod.


Protes ini mendorong militer untuk memberikan peringatan bagi Morsi pada 1 Juli bahwa mereka akan turun tangan dan menjalankan rencananya jika dia tidak dapat memenuhi permintaan publik dalam jangka waktu 48 jam.


Saat mendekati batas waktu, Morsi bersikeras bahwa ia adalah pemimpin Mesir yang sah.


Pada 3 Juli panglima militer, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi mengumumkan pelengseran Morsi dan menunjuk Ketua Mahkamah Konstitusi, Adly Mansour untuk mengawasi masa peralihan yang dijalankan oleh para teknokrat hingga terpilihnya presiden dan parlemen yang baru.


Beberapa tokoh berpengaruh Mesir menyetujui langkah ini, termasuk Imam Besar Al-Azhar, kepala Gereja Kristen Koptik, pemimpin oposisi Mohamed ElBaradei, dan partai garis keras Salafist Nour.


Tentara dilengkapi dengan kendaraan bersenjata mengamankan lokasi-lokasi penting di Kairo saat para pengunjuk rasa pendukung Morsi mulai turun ke jalan-jalan.


ElBaradei menjadi wakil presiden sementara tetapi akhirnya mengundurkan diri saat aksi militer pada 14 Agustus.


Siapakah Mohammed Morsi dan apa yang terjadi pada dirinya?


Mohammed Morsi masuk ke jajaran petinggi Ikhwanul Muslimin, gerakan Islamis yang dilarang selama beberapa dekade di bawah pemerintahan Husni Mubarak, kemudian menjadi kepala partai politik, Partai Keadilan dan Kemerdekaan.


Ia menang tipis dalam pemilu pada Juni 2012 dan menjadi presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis. Pemilu yang dianggap bebas dan adil menyusul Revolusi Mesir yang berhasil menggulingkan pemerintahan Hosni Mubarak pada Februari 2011.


Sejak itu Morsi ditahan di lokasi yang tidak disebutkan dan dituduh merencanakan serangan di penjara saat pemberontakan 2011 menentang Presiden Hosni Mubarak.


Beberapa tokoh senior dari kelompok Ikhwanul Muslimin juga sempat ditahan, termasuk wakil pemimpin kelompok, Khairat al-Shater yang dituduh menghasut.


Apa yang terjadi menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer?


Militer Mesir mengerahkan kendaraan berlapis baja dan buldoser untuk membubarkan kamp pengunjuk rasa.


Para pendukung Morsi menggelar unjuk rasa yang menyerukan pengangkatan kembali Morsi sebagai presiden, dengan perhatian tertuju pada markas militer yang diyakini sebagai tempat penahanan Morsi.


Berbicara setelah korban mencapai setidaknya 51 orang di luar Markas Militer pada 8 Juli, Partai Keadilan dan Kemerdekaan menyerukan untuk melakukan pemberontakan menentang “mereka yang ingin mencuri revolusi dengan tank”.


Pada 27 Juli, lebih 70 orang terbunuh dalam bentrok dengan pasukan keamanan di kamp Rabaa al-Adawiya. Pasukan dituduh menggunakan senjata yang dianggap tidak perlu. Sementara kementrian dalam negeri menuduh para pengunjuk rasa memakai senjata api.


Kelompok anti-Morsi juga turun ke jalan. Jenderal Sisi mendorong mereka untuk beraksi pada 26 Juli, sekaligus memberikan “mandat untuk melawan segala bentuk kekerasan dan terorisme” kepada tentara.


Bahkan sebelum operasi pembubaran kamp, lebih 250 orang terbunuh dalam demonstrasi dan bentrokan dengan pasukan keamanan. Sebagian besar korban jiwa adalah pendukung Morsi.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer, Jenderal Sisi mengatakan bahwa Adly Mansour akan memimpin selama “masa transisi hingga presiden berikutnya terpilih”.


Adly Mansour menjelaskan rencana untuk masa transisi termasuk peninjauan kembali konstitusi yang didukung oleh Morsi dan pemilihan parlemen pada awal 2014. Rencana ini ditentang oleh Ikhwanul Muslimin dan juga dikritik oleh partai sayap kiri dan liberal.


Jenderal Sisi berjanji untuk “tidak akan mengabaikan satu orang atau satu kelompok pun” dan mendorong memperkuat kaum muda dan mengintegrasikan mereka ke dalam institusi negara”.


Tetapi ia tidak menyebutkan jangka waktu masa transisi atau peran apa yang akan dijalankan oleh militer.



Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26618/02/01/2013/catatan-kritis-untuk-buku-40-masalah-syi%E2%80%99ah-(1).html


Kekerasan berdarah kembali pecah di Mesir

Saturday, August 17, 2013

Krisis Mesir: Pendukung Morsi bertahan di masjid al-Fath

Bentrok di Mesir

Bentrok antara kelompok pendukung Morsi dan pasukan keamanan terjadi sejak 14 Agustus.


Polisi antihuru-hara menyerbu dua kamp kelompok pendukung mantan presiden yang digulingkan militer, Mohammed Morsi di Kairo pada 14 Agustus yang menyebabkan tewasnya lebih 600 orang.


Sejumlah pasukan keamanan juga tewas. Ini adalah kerusuhan terburuk di Mesir sejak gerakan prodemokrasi dilancarkan dua tahun silam yang berhasil menggulingkan Hosni Mubarak. Kekerasan di Mesir berawal tanggal 3 Juli saat jabatan Morsi sebagai presiden yang terpilih melalui pemilu dicopot.


Apa yang terjadi di kamp pendukung Morsi?


Pasukan antihuru-hara menyerbu dan membubarkan secara paksa dua kamp pengunjuk rasa di Masjid al-Adawiya dan Lapangan Nahda pada 14 Agustus.


Mereka menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pemrotes dan melancarkan tembakan. Selain itu mereka juga mengerahkan buldoser.


Lebih 600 orang tewas dalam operasi ini, menurut pemerintah. Sementara Ikhwanul Muslimin, yang mendukung aksi protes, menyebut angka lebih 2.000 jiwa.


Kedua kamp diduduki para pengunjuk rasa yang menginginkan Mohammed Morsi ditetapkan kembali sebagai presiden Mesir yang sah, setelah digulingkan militer menyusul massa yang melakukan protes menentangnya.


Pendukung Morsi mengabaikkan peringatan pemerintah yang menginginkan agar mereka mengakhiri protes.


Apa yang menyebabkan Presiden Morsi digulingkan?


Mesir

Pendukung Mohammed Morsi menuntut dia dipulihkan ke jabatan presiden.


Saat tahun pertama ia menjabat, Presiden Islamis berselisih dengan beberapa institusi utama dan beberapa sektor masyarakat dan banyak rakyat Mesir menganggapnya kurang berupaya mengatasi masalah ekonomi dan sosial.


Sejak itu Mesir terpecah antara kelompok pendukung Morsi yang Islamis dan lawannya, termasuk partai sayap kiri, liberal, dan sekuler.


Pada 30 Juni 2013 jutaan orang turun ke jalan untuk memperingati satu tahun pelantikan presiden dalam sebuah protes yang diprakarsai oleh gerakan Tamarod.


Protes ini mendorong militer untuk memberikan peringatan bagi Morsi pada 1 Juli bahwa mereka akan turun tangan dan menjalankan rencananya jika dia tidak dapat memenuhi permintaan publik dalam jangka waktu 48 jam.


Saat mendekati batas waktu, Morsi bersikeras bahwa ia adalah pemimpin Mesir yang sah.


Pada 3 Juli panglima militer, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi mengumumkan pelengseran Morsi dan menunjuk Ketua Mahkamah Konstitusi, Adly Mansour untuk mengawasi masa peralihan yang dijalankan oleh para teknokrat hingga terpilihnya presiden dan parlemen yang baru.


Beberapa tokoh berpengaruh Mesir menyetujui langkah ini, termasuk Imam Besar Al-Azhar, kepala Gereja Kristen Koptik, pemimpin oposisi Mohamed ElBaradei, dan partai garis keras Salafist Nour.


Tentara dilengkapi dengan kendaraan bersenjata mengamankan lokasi-lokasi penting di Kairo saat para pengunjuk rasa pendukung Morsi mulai turun ke jalan-jalan.


ElBaradei menjadi wakil presiden sementara tetapi akhirnya mengundurkan diri saat aksi militer pada 14 Agustus.


Siapakah Mohammed Morsi dan apa yang terjadi pada dirinya?


Mohammed Morsi masuk ke jajaran petinggi Ikhwanul Muslimin, gerakan Islamis yang dilarang selama beberapa dekade di bawah pemerintahan Husni Mubarak, kemudian menjadi kepala partai politik, Partai Keadilan dan Kemerdekaan.


Ia menang tipis dalam pemilu pada Juni 2012 dan menjadi presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis. Pemilu yang dianggap bebas dan adil menyusul Revolusi Mesir yang berhasil menggulingkan pemerintahan Hosni Mubarak pada Februari 2011.


Sejak itu Morsi ditahan di lokasi yang tidak disebutkan dan dituduh merencanakan serangan di penjara saat pemberontakan 2011 menentang Presiden Hosni Mubarak.


Beberapa tokoh senior dari kelompok Ikhwanul Muslimin juga sempat ditahan, termasuk wakil pemimpin kelompok, Khairat al-Shater yang dituduh menghasut.


Apa yang terjadi menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer?


Militer Mesir mengerahkan kendaraan berlapis baja dan buldoser untuk membubarkan kamp pengunjuk rasa.


Para pendukung Morsi menggelar unjuk rasa yang menyerukan pengangkatan kembali Morsi sebagai presiden, dengan perhatian tertuju pada markas militer yang diyakini sebagai tempat penahanan Morsi.


Berbicara setelah korban mencapai setidaknya 51 orang di luar Markas Militer pada 8 Juli, Partai Keadilan dan Kemerdekaan menyerukan untuk melakukan pemberontakan menentang “mereka yang ingin mencuri revolusi dengan tank”.


Pada 27 Juli, lebih 70 orang terbunuh dalam bentrok dengan pasukan keamanan di kamp Rabaa al-Adawiya. Pasukan dituduh menggunakan senjata yang dianggap tidak perlu. Sementara kementrian dalam negeri menuduh para pengunjuk rasa memakai senjata api.


Kelompok anti-Morsi juga turun ke jalan. Jenderal Sisi mendorong mereka untuk beraksi pada 26 Juli, sekaligus memberikan “mandat untuk melawan segala bentuk kekerasan dan terorisme” kepada tentara.


Bahkan sebelum operasi pembubaran kamp, lebih 250 orang terbunuh dalam demonstrasi dan bentrokan dengan pasukan keamanan. Sebagian besar korban jiwa adalah pendukung Morsi.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh militer, Jenderal Sisi mengatakan bahwa Adly Mansour akan memimpin selama “masa transisi hingga presiden berikutnya terpilih”.


Adly Mansour menjelaskan rencana untuk masa transisi termasuk peninjauan kembali konstitusi yang didukung oleh Morsi dan pemilihan parlemen pada awal 2014. Rencana ini ditentang oleh Ikhwanul Muslimin dan juga dikritik oleh partai sayap kiri dan liberal.


Jenderal Sisi berjanji untuk “tidak akan mengabaikan satu orang atau satu kelompok pun” dan mendorong memperkuat kaum muda dan mengintegrasikan mereka ke dalam institusi negara”.


Tetapi ia tidak menyebutkan jangka waktu masa transisi atau peran apa yang akan dijalankan oleh militer.



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/07/26/mqj06o-bella-saphira-masuk-islam-atas-keingingan-sendiri


Krisis Mesir: Pendukung Morsi bertahan di masjid al-Fath

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Wednesday, September 25, 2013

Sepak Bola dan Sujud Syukur

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Imron Baehaqi


Cabang olahraga yang paling digandrungi masyarakat dunia adalah sepak bola. Sekalipun tidak mahir bermain bola, bahkan menendangnya pun kaku atau sama sekali tidak bisa, tetapi menontonnya hobi luar biasa. Begitulah faktanya.


Ada sebuah fenomena menarik dari dunia bola, yaitu pada saat terciptanya gol kemenangan yang disertai sujud syukur. Seperti dilakukan oleh pemain-pemain Muslim kelas dunia, salah satunya adalah Demba Ba.


Bintang pemain sepakbola yang sekarang mengabdi di klub Chelsea Inggris ini selalu melakukan aksi sujud syukur setiap mencetak gol. Sebuah aksi yang berani sekaligus mengharumkan Islam di tengah kehidupan Inggris yang mayoritas non Muslim.


Aksi sujud syukur yang dilakukan di tengah lapangan tersebut menunjukkan adegan spiritual dari sosok pemain yang berkepribadian Muslim. Meskipun berada di antara suasana gemuruh dan pujian para suporternya, Demba Ba masih ingat Allah dengan menjatuhkan keningnya ke tanah. Sujud syukur.


Konon khabarnya, pemain bola asal Senegal ini jauh dari kebiasaan minuman alkohol, menjaga shalat lima waktu dan tetap berpuasa di bulan Ramadhan. Sosok pemain bola yang masih langka dan jarang ditemukan, khususnya di  dunia Eropa yang kehidupan masyarakatnya penuh dengan kebebasan dan materialistik.


Selain itu, ia juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Sehingga sesekali ia menyisihkan sebagian gajinya untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin di negaranya.  Kekentalan akidah, kerendahan hati dan kedermawanannya ini sepatutnya menjadi teladan bagi segenap umat Islam, khusunya para pesepakbola Muslim lainnya.
 
Dalam konteks Nasional, terutama di tanah air, aksi sujud syukur yang dilakukan oleh pemain-pemain Muslim kita sering juga dilakukan. Misalnya baru-baru ini, Evan Dimas dan kawan-kawan melakukan sujud syukur karena gol-gol kemenangannya pada saat menghadapi timnas Malaysia dan Timor Leste yang menentukan keberhasilan mereka untuk melaju ke semi final dan final Piala AFF U-19. Dan di babak penentuan yang menegangkan, aksi sujud syukur dilakukan kembali setelah mereka menjadi juara di laga bergengsi Asia itu setelah mengalahkan Timnas Vietnam lewat adu penalti.


Menurut Jumhur atau mayoritas pendapat ulama, sujud syukur adalah sunnah, karena hal tersebut pernah dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan para tabi’in.
Sebagimana diriwayatkan oleh Abu Bakrah, ”Bahwa Nabi Muhammad SAW ketika mendapatkan kabar gembira beliau bersujud karena bersyukur kepada Allah”. (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan Turmudzi).


Dan dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa Rasulullah SAW melakukan sujud syukur kepada Allah ketika mendengar berita bahwa raja Hamadan masuk Islam.


Perbuatan Nabi Muhammad SAW tersebut kemudian diteladani oleh para sahabat dan tabi’in. Salah satunya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang melakukan aksi sujud syukur ketika mendapat kabar bahwa Musailamah Al-Kadzdzab (nabi palsu) terbunuh oleh pasukan Muslim.


Hakikatnya, pada saat seseorang melakukan sujud syukur dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, pemain bola atau siapa saja, berarti ia telah bertawakal dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Pujian, kesyukuran, pensucian dan pengagungan itu diyakininya hanya milik Allah SWT.


Di samping itu, hikmah dan faedah dari sujud syukur adalah dapat melahirkan sifat tawadhu (rendah hati) atau mencegah dan menghilangkan sifat sombong atau takabur pada pelakunya.


Orang yang tawadhu menyadari bahwa apa saja yang dimilikinya, rupa cantik atau tampan, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, kemenangan atau keberhasilan, pangkat dan jabatan dan lain sebagainya, semuanya itu adalah karunia dari Allah.


Oleh sebab itu, penting kiranya kita membaca dan merenungkan kembali firman Allah SWT berikut ini, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu semua datang dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNya kamu meminta pertolongan.” (QS.An-Nahl [16]:53). Wallahu Al-Musta’an.





 


Article source: http://female.kompas.com/read/2012/12/01/11411196/Ingin.Jadi.Model.Berjilbab?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kfmwp


Sepak Bola dan Sujud Syukur

Tuesday, November 26, 2013

Lima Tahun Teror Mumbai


Malam 26 November 2008 di kota metropolis Mumbai berdenyut selazimnya. Ratusan ribu pegawai terjebak macet saat hendak pulang ke rumah. Hotel dan penginapan di selatan kota masih dipenuhi tamu dari luar dan dalam negeri. Lalu terjadilah ledakan yang kini masuk dalam ingatan kolektif dengan akronim 26/11 itu: kelompok teror Islam tanpa aba-aba melepaskan tembakan dari senjata otomatis terhadap pejalan kaki, meledakan bom dan melemparkan granat tangan ke arah jalan.



Mereka membunuh semua yang teridentifikasi sebagai warga Amerika Serikat, Inggris atau Yahudi. Sandera disekap di dalam hotel dan pertokoan, sebuah tempat peribadatan Yahudi diserbu dan diluluhlantakkan.



Media-media India menampilkan gambar kehancuran, korban yang tewas atau yang sedang meregang nyawa. Pertempuran antara aparat keamanan dan kelompok teroris berlangsung hingga 29 November. Pada akhirnya sembilan orang teroris tewas terbunuh. Seorang pelaku, warga Pakistan, Ahmal Kasab berhasil ditangkap aparat keamanan. Sedikitnya 166 penduduk, sebagian besar warga India, tewas. Amnesty International mengklaim pihaknya mencatat lebih dari 300 korban luka-luka.



“Perang melawan India”


Reaksi demonstran terhadap eksekusi hukuman mati terhadap salah satu pelaku serangan teror Mumbai, Ajmal Kasab di penjara Pune.


Sesaat setelah serangan pemerintah Pakistan menangkap sejumlah tersangka. Saat ini, lima tahun kemudian, mereka dibebaskan lantaran diklaim kekurangan bukti. Sebaliknya warga AS, David Coleman Headly divonis 35 tahun penjara di Chicago lantaran terbukti ikut merencanakan serangan. Sementara Kasab disidang di India dengan dakwaan memicu “perang melawan India”. Ia kemudian divonis hukuman mati dan digantung pada November 2012.



Lima tahun setelah serangan, kasus yang sempat mengguncang dunia itu telah terungkap nyaris sepenuhnya, terutama berkat pengakuan Headley dan Kasab. Adalah Laskar-e Toyiba yang berada di belakang serangan tersebut, sebuah organisasi militan Islam di Lahore yang memiliki kedetakan dengan Dinas Militer Pakistan ISI dan sejak lama berulangkali melakukan serangan terhadap fasilitas militer India di Kashmir.



Amerika Serikat sejak 2001 telah mendeklarasikan organisasi tersebut sebagai kelompok teroris. 2002 pemerintah Pakistan memasukan Laskar-e Toiba ke dalam daftar hitam keamanan. 2010 Uni Eropa menyusul.



Pakistan tidak serius mengungkap


Seorang penduduk Mumbai memperingati korban serangan teror India


Pakistan hingga kini tidak berbuat banyak untuk mengungkap kasus tersebut. Kepada Deutsche Welle Arsgad Mahmood, sejarahwan Pakistan, mengklaim pemerintahannya “menuduh India tidak memaparkan bukti-bukti terkait tersangka. Padalah Pakistan jelas tidak ingin pengadilan membuktikan keterlibatannya dalam serangan tersebut, karena akan sangat memalukan.”



Buat Toqeer Gilani, seorang aktivis di Kashmir, sikap non kooperatif yang ditunjukkan Islamabad tidak cuma sekedar karena ingin menyelamatkan wajah sendiri, “Saya sangat yakin, organisasi Islam Laskar-e Toiba mendapat dukungan dari dinas rahasia Pakistan. Melawan organisasi itu seakan-akan menyerang pemerintahan sendiri.”



Lima tahun kemudian dialog keamanan antara kedua negara yang berlangsung alot belum membuahkan hasil signifikan. Vinod Sharma, wartawan “Hindustan Times”, mengatakan kecurigaan India bertambah besar ketika “jelas bahwa Pakitan tidak memiliki niat menghukum para tersangka.” Menurut Arshad Mahmood, India akan kesulitan berdamai dengan trauma bom Mumbai selama Pakistan tidak berbuat apapun terhadap dalang serangan.



Dialog berlangsung alot



Buat Sharma media di kedua negara ikut memikul tanggungjawab terhadap stagnasi dalam hubungan antara Pakistan dan India. Adalah hal yang lumrah bagi media Pakistan untuk menyerang India, begitupula sebaliknya. “Politik harus berlandaskan dialog. Tapi pandangan ini diacuhkan oleh media-media di kedua negara,” katanya.



Kendati begitu Vinod Sharma tetap optimis terkait masa depan hubungan bilateral kedua negara. Setidaknya Perdana Menteri baru Pakistan, Narwaz Shariif sempat berjanji akan mendorong normalisasi hubungan dengan India.



“Kami yakin terpilihnya Sharif adalah peluang terbaik untuk memperbaiki hubungan bilateral. Tapi segalanya beragantung pada kemampuannya mengatasi perlawanan di dalam negeri,” tukasnya. Menurut pengamat Pakistan, upaya normalisasi hubungan dipersulit lantaran dukungan untuk kelompok ekstrimis Islam sangat meluas di Pakistan, antara lain di Muslimliga, partai pimpinan Sharif.


Article source: http://www.poskotanews.com/2013/10/25/ayah-terbaring-sakit-ratna-dilla-tunda-tur-show/


Lima Tahun Teror Mumbai

Thursday, May 23, 2013

Seorang Korban Misil AS Bermaksud Lakukan Teror

Satu di antara ke-empat warga AS yang terbunuh dalam serangan pesawat tanpa awak, berniat terlibat dalam terorisme kekerasan melawan Amerika.


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/01/22/155312/Kemendikbud-Halalkan-Pungutan-di-Eks-Sekolah-RSBI-


Seorang Korban Misil AS Bermaksud Lakukan Teror

Thursday, April 18, 2013

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Home Sejarah



Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)





 

ilustrasi: Perang Salib



 




Kamis, 18 April 2013




/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin-top:0in;

mso-para-margin-right:0in;

mso-para-margin-bottom:10.0pt;

mso-para-margin-left:0in;

line-height:115%;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;

mso-bidi-font-family:Arial;

mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


Oleh: Alwi Alatas


SEBAGAIMANA pernah dijelaskan dalam beberapa rtikel sebelumnya, kaum Muslimin mengalami kekalahan yang menyakitkan pada masa Perang Salib I (1096-1099). Salah satu penyebab utamanya adalah karena perpecahan di dalam tubuh kaum Muslimin. Perpecahan itu terjadi di banyak lini. Para ulama berpecah belah disebabkan perbedaan mazhab, sebagaimana diterangkan secara detail dalam buku Misteri Masa Kelam Umat Islam. Para penguasa pun berpecah belah hebat. Para emir berusaha mempertahankan kekuasaan masing-masing dan merasa enggan untuk menyatukan langkah dalam membangun peradaban dan melayani masyarakat. Dalam situasi seperti inilah Pasukan Salib datang ke Suriah dan Palestina dan menaklukkan sebagian wilayah itu, termasuk al-Quds.


Setelah Pasukan Salib berhasil menguasai al-Quds dan beberapa wilayah Muslim lainnya, para pemimpin Muslim di wilayah itu masih tetap bermusuhan satu sama lain. Bahkan ada di antara mereka yang bekerja sama dengan orang-orang Frank (Pasukan Salib) dalam menghadapi saudara Muslimnya. Sementara pada saat yang sama, orang-orang Frank cenderung bersatu, terutama saat berhadapan dengan kekuatan Islam. Hal ini menyebabkan orang-orang Frank itu berhasil menguasai sebagian wilayah Suriah-Palestina untuk waktu yang cukup lama.


Angin Perubahan


Keadaan ini mulai berubah pada saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada masa ini, kaum Muslimin mulai berusaha menyatukan langkah mereka dan bekerja sama, sementara kekuatan salib justru mulai mengalami perpecahan. Rupanya para ulama dan pemimpin Islam di wilayah ini pada akhirnya mampu merespons tantangan yang mereka hadapi dengan baik. Dan ketika kaum Muslimin mulai menyatukan shaf, Allah menjadikan keadaan musuh justru berkebalikan dari itu. Situasi ini kemudian membawa kaum Muslimin pada kemenangan-kemenangan yang besar dalam menghadapi kekuatan salib, sehingga mereka berhasil membebaskan al-Quds 40 tahun kemudian.


Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kota Edessa (al-Ruha) ke tangan kaum Muslimin pada tahun 1144. Ketika itu yang memimpin penaklukkan Edessa adalah Imaduddin Zanki (1085-1146), pemimpin terkuat di Suriah ketika itu. Imaduddin Zanki mati terbunuh 2 tahun kemudian. Posisinya di Suriah digantikan oleh anaknya, Nuruddin Mahmud bin Zanki (1118-1174), seorang sultan yang soleh yang nantinya memberi perubahan besar di Suriah dan sekitarnya.


Jatuhnya Edessa menimbulkan kemarahan Eropa. Paus kemudian menyerukan dilakukannya Perang Salib II. Maka digalanglah kekuatan dan dihimpunlah pasukan dalam jumlah besar untuk berangkat ke Suriah dalam rangka membalas kekalahan di Edessa. Pasukan Salib II lebih banyak dan lebih hebat dibandingkan pasukan pada Perang Salib I. Pada Perang Salib I tidak ada raja yang menyertainya, hanya ada pangeran. Namun pada Perang Salib II ada dua raja yang memimpin pasukan, yaitu Raja Conrad III (1093-1152) dari Jerman dan Raja Louis VII (1120-1180) dari Perancis. Walaupun pasukan yang berangkat ini lebih dahsyat, tapi situasi yang mereka hadapi tidak lagi sama sebagaimana sebelumnya.


Dalam Perang Salib II ini Pasukan Salib mengalami beberapa perpecahan. Perpecahan itu tidak dalam bentuk konflik terbuka, tetapi dampaknya sangat serius.


Berikut ini perpecahan-perpecahan yang terjadi di kubu Pasukan Salib.


1. Perpecahan orang-orang Frank dengan Byzantium



Pada Perang Salib I, orang-orang Frank (Eropa Barat) bekerja sama dengan Byzantium (Eropa Timur) dalam serangan ke wilayah Muslim. Di antara kedua pihak ini memang menyimpan perasaan saling tidak suka antara lain karena perbedaan keyakinan di antara mereka, yang satu Katholik dan yang lainnya Kristen Orthodoks. Namun, mereka berusaha menjaga hubungan demi menghadapi musuh yang sama, yaitu kaum Muslimin. Pada Perang Salib I, pihak Byzantium-lah yang mengundang orang-orang Frank untuk membantu mereka masuk ke Asia Minor (kini Turki) dan Suriah. Namun, pada akhirnya ketegangan di antara kedua belah pihak ini semakin sulit untuk didamaikan, terutama pada masa-masa selepas Perang Salib I.


Pada Perang Salib II, Kaisar Byzantium sama sekali tidak mengharapkan datangnya gelombang Pasukan Salib yang baru. Ia belajar dari pengalaman kaisar sebelumnya bahwa kehadiran orang-orang Frank di Suriah-Palestina hanya menimbulkan masalah baru bagi mereka.


Byzantium memang membantu menyeberangkan orang-orang Frank pada Perang Salib II dari Konstantinopel ke wilayah Asia Minor. Namun, belakangan diduga Kaisar Byzantium secara diam-diam telah memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di Asia Minor tentang perjalanan Pasukan Salib ini. Keadaan berikutnya memang sangat tidak menguntungkan bagi Pasukan Salib. Mereka menjadi bulan-bulanan pasukan Turki Saljuk, sehingga pada saat mereka berhasil tiba di Antioch (Antakya) yang terletak di perbatasan Suriah dan Asia Minor, jumlah pasukan mereka sudah menyusut jauh.


2. Perpecahan orang-orang Frank di Utara (Antioch-Edessa) dan Selatan (Palestina)



Pada masa Perang Salib II ini juga mulai terjadi perpecahan di antara para pemimpin Frank yang berada di Utara dan Selatan Kerajaan Latin, kerajaan yang mereka tubuhkan setelah penaklukkan al-Quds. Para pemimpin Frank di Utara, dalam hal ini Antioch dan sisa-sisa wilayah Edessa, ingin agar Pasukan Salib yang baru datang ke Suriah membantu mereka merebut kembali Edessa dan menghadapi pasukan Nuruddin Zanki yang merupakan kekuatan Muslim paling menonjol di Suriah. Namun, para pemimpin Frank di Selatan justru berkeinginan untuk menaklukkan Damaskus. Itulah sebabnya, ketika akhirnya sikap terakhir inilah yang diambil, para pemimpin Frank di Utara tidak mau ikut berpartisipasi.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib


 


Red: Cholis Akbar


Article source: http://bandung.detik.com/read/2013/01/05/190200/2134118/486/reni-tewas-terlindas-truk-akibat-nekat-masuk-jalur-cepat


Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Monday, June 24, 2013

Cinta kelembutan benci kekerasan

Dicaci, diseret, diusir dari tanah kelahiran mereka. Itulah nasib menimpa 168 pengungsi Syiah di Gedung Olah Raga Sampang, Madura Jawa Timur, Kamis pekan lalu.


Mereka mengungsi di sana setelah permukiman mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dirusak dan dibakar, akhir Agustus tahun lalu. Penyerangan oleh sekitar 200 orang itu membuat dua penganut Syiah terbunuh, puluhan lainnya luka, dan sepuluh rumah terbakar.


“Kami pasrah kepada Allah. Kami tidak takut karena kami tidak mengganggu mereka,” kata Iklil Almila saat dihubungi merdeka.com Jumat pekan lalu melalui telepon selulernya. Iklil adalah adik dari Tajul Muluk, pemimpin komunitas Syiah di Sampang. Dia kini mendekam di penjara karena dituduh menodai agama.


Banyak pihak mengecam kejadian itu, termasuk Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama Said Aqil Siradj. Dia menegaskan pengusiran itu menyalahi prinsip Islam. “Umat Islam itu harus memelihara keutuhan agama dan pendapat, keselamatan jiwa, harta, keluarga, dan kebebasan mempertahankan harga diri.”


Tindakan itu memang bertolak belakang dengan ajaran Nabi Muhammad. Rasul termulia ini selalu mencintai kelembutan dan membenci kekerasan.


Seperti hadis diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar dari Muhammad bin Jafar dari Syubah dari Abi Ishaq dari Abi Abdullah al-Jadali bersumber dari Aisyah: “Rasulullah bukan orang keji. Beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.”


Dalam hadis lain diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al-Hanzani dari Ubadah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya bersumber dari Aisyah: “Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali kala beliau berjihad. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan perempuan.”


Kalau masih belum percaya, simak sejumlah riwayat menyebutkan Rasulullah setia menyuapi menggunakan tangan kanannya nenek renta pengemis kafir di pojokan sebuah pasar. Padahal, pengemis ini kerap mencaci dan menghina nabi. Tapi nabi tidak membalas.


Nabi juga tidak pernah memberi tahu kalau yang dihina adalah dirinya. Pengemis tak tahu diri itu baru mengetahui setelah Rasulullah meninggal. Ceritanya Abu Bakar menggantikan tugas nabi menyuapi pengemis itu. Rupanya, nenek ini tahu cara menyuapi Abu Bakar berbeda.


Setelah diberitahu yang menyuapi telah meninggal, pengemis ini terkejut. Dia makin kaget lantaran tahu yang memberi makan selama ini adalah Rasulullah. Tanpa berpikir panjang, pengemis ini lantas masuk Islam.


Karena akhlak mulianya pula, seorang Yahudi saban hari mencaci, menghina, dan meludahi nabi juga masuk Islam. Sebab, Rasulullah adalah orang pertama menengok dia ketika sakit.


Seperti inilah seharusnya perilaku kaum mengaku umat Nabi Muhammad: mencintai kelembutan dan membenci kekerasan.












Article source: http://www.utusan.com.my/utusan/Rencana/20130607/re_03/969-bukan-nombor-bertuah


Cinta kelembutan benci kekerasan

Friday, January 17, 2014

Pelajaran Dari Kematian Ariel Sharon

Normal

0



false

false

false


EN-US

X-NONE

X-NONE


MicrosoftInternetExplorer4




<w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"

DefSemiHidden=”true” DefQFormat=”false” DefPriority=”99″

LatentStyleCount=”267″>

<w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Normal”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”heading 1″/>



<w:LsdException Locked="false" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false"

QFormat=”true” Name=”Title”/>


<w:LsdException Locked="false" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false"

QFormat=”true” Name=”Subtitle”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Strong”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Table Grid”/>


<w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”No Spacing”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 1″/>


<w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”List Paragraph”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Quote”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Quote”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 1″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 2″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 3″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 4″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 5″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Shading Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Light Grid Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Shading 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium List 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 1 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 2 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Medium Grid 3 Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Dark List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Shading Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful List Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” Name=”Colorful Grid Accent 6″/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Subtle Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Emphasis”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Subtle Reference”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Intense Reference”/>

<w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"

UnhideWhenUsed=”false” QFormat=”true” Name=”Book Title”/>



/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-priority:99;

mso-style-qformat:yes;

mso-style-parent:”";

mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;

mso-para-margin:0in;

mso-para-margin-bottom:.0001pt;

text-align:justify;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:11.0pt;

font-family:”Calibri”,”sans-serif”;

mso-ascii-font-family:Calibri;

mso-ascii-theme-font:minor-latin;

mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;

mso-fareast-theme-font:minor-fareast;

mso-hansi-font-family:Calibri;

mso-hansi-theme-font:minor-latin;}


yang tak terlupakan oleh kaum Muslimin sampai kapanpun adalah menghasut tentara Kristiani Phalengis Lebanon dan menyerang penghuni kemah pengungsian yang menyebabkan 4000 orang awam terbunuh


Siapa yang tidak kenal dengan Ariel Sharon, nama aslinya Ariel Scheinermann, lahir pada tahun 1928 di permukiman Yahudi Kfar Malal, ayahnya seorang sarjana Agronomi dan ibunya seorang dokter. Sejak muda Ariel Sharon sudah terlibat gerakan zionis. Ia dibesarkan di lingkungan militer. Sejak umur 14 tahun Sharon masuk militer dan dikader pasukan militer bawah tanah Yahudi.


Sejak tahun 1942 hingga tahun 1972 Ariel Sharon aktif di bidang militer, ia pernah menjadi penasehat keamanan Perdana Menteri Yitzhak Rabin (1975), dan pernah menjadi Menteri Pertanian pada masa Menachem Begin (1977). Pada tahun 1981 Ariel Sharon diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Dialah “arsitek” peperangan Lebanon sejak 1982, menghancurkan infrstruktur PLO, pembantaian pengungsi Palestina di Shabra dan Shatila yang menewaskan ribuan umat Islam.


Pada tahun 2001 Ariel Sharon terpilih sebagai Perdana Menteri, mengalahkan Ehud Barak. Masa kekuasaannya Sharon mengejar habis-habisan kelompok pejuang Palestina dan mengklaim Yaser Arafat-lah sebagai penghalang bagi terciptanya perdamaian di Palestina. Gerakan Sharon melawan orang-orang yang dianggap teroris banyak mendapat dukungan dari Amerika Serika dan Eropa, dan menyusul terjadinya pengeboman Word Trade Centre (2001).


Selama masa kekuasaan Sharon, gerakan teror meningkat tajam, korban jiwa dan harta di Palestina tidak terhitung jumlahnya, dan bagi orang-orang Arab dan Islam menganggap Sharon sebagai penjahat perang dan “pembunuh massal”, sementara bagi orang-orang Yahudi dan Israel menganggap Sharon sebagai pahlawan nasional.


Jati diri seorang Yahudi nampak jelas pada Ariel Sharon sebagai orang paling benci terhadap Islam, sebagaimana dikatakan di dalam Alquran” Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka (QS. Al-Baqarah: 120). Kebenciannya kepada Islam dan kaum muslimin tidak mengenal prikemanusiaan.


Bukankah Sharon pernah mengambil seorang bayi dari ibunya lalu melemparkannya ke dinding, dan dia menembaki sekumpulan keluarga setelah disuruhnya berbaris dengan teratur, dan kejahatan kemanusiaan Sharon yang tak terlupakan oleh kaum Muslimin sampai kapanpun adalah menghasut tentara Kristiani Phalengis Lebanon dan menyerang penghuni kemah pengungsian yang menyebabkan 4000 orang awam terbunuh dengan kejam. Sama halnya dengan pembantaian di Shabra dan Shatila, semua yang menjadi mangsa dan korban pembantaian Sharon adalah umat Islam.


Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Sharon terhadap kaum Muslimin di Palestina dan Arab lainnya telah dirasakan pembalasannya ketika akhir-akhir hidupnya, dimana di usia senjanya Sharon mengalami koma terpanjang dalam sejarah, yaitu sejak tahun 2006.


Ariel Sharon tergeletak di rumah sakit bertahun-tahun. Menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, kematiannya setelah mengalami koma selama 8 tahun, organ-organ tubuhnya membusuk, penyumbatan di bagian otaknya menyebabkan kerusakan di bagian tubuhnya, ususnya membusuk, ia tidak sadarkan diri selama bertahun tahun, seakan-akan dia mayat hidup atau “mumi hidup” yang masih bernyawa tapi mati.


Tepatnya pada tanggal 11 Januari 2014 Ariel Sharon mengakhiri kehidupannya setelah mengalami penderitaan yang amat berat. Kematiannya tidak ditangisi oleh manusia, mayatnya seakan-akan tidak diterima oleh bumi. Maha benar Allah Swt yang telah berfirman di dalam Alquran: Maka tidak ditangisi oleh langit dan bumi akan kematiannya (QS. Ad-Dukhan: 29).


Ayat di atas menceritakan kematian Fir’aun yang sangat kejam terhadap kaumnya. Kata ‘baka’ diartikan menangis yang biasanya digunakan untuk perbuatan manusia. Sedangkan ayat di atas menceritakan bahwa langit dan bumi tidak menangis atas kematian Fir’aun. Oleh sebab itu, para pakar Tafsir mengatakan di dalam ayat tersebut terdapat kata sisipan yang diartikan penghuni langit dan bumi tidak merasa sedih atas kematiannya.


Kematian Fir’aun dan Ariel Sharon memiliki persamaan, dimana jasad Fir’aun tidak diterima oleh bumi, hingga saat ini jasad Fir’aun dimumikan dan masih utuh disimpan di Museum Tahrir-Cairo Mesir dan dapat disaksikan oleh manusia di dunia ini sebagai pelajaran bagi para penguasa yang zalim phobia terhadap Islam, diktator, tangan besi, bersukaria di atas penderitaan rakyatnya, dan sederet kejahatan kemanusiaan dilakukan oleh Fir’aun. Bacalah firman Allah Swt di dalam Alquran surat Yunus ayat 92: Maka hari ini kami simpan jasad mu (wahai Fir’aun) sebagai tanda (ayat) bagi orang hidup di belakang hari, akan tetapi kebanyakan manusia lalai terhadap ayat-ayat kami.


Akan halnya Ariel Sharon, meskipun kejahatannya tidak sampai menandingi Fir’aun yang mengangkat dirinya sebagai “Tuhan” tapi paling tidak kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya mirip dengan apa yang dilakukan oleh Fir’aun ketika ia memerintahkan penyembelihan kepada pengikut Nabi Musa As.


Dan pembataian/pembunuhan terhadap seorang manusia sama dengan membunuh semua manusia, sebagaimana memelihara kehidupan seorang manusia sama dengan memelihara kehidupan semua manusia. Hal itu dikarenakan manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini, antara satu dengan yang lain saling membutuhkan.


Allah Swt berfirman: Oleh sebab itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa-siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi ini, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia, siapa-siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan-akan dia memelihara kehidupan semua manusia (QS. Al-Maidah: 32).


‘Ala kullihal, apapun yang dirasakan oleh Ariel Sharon menjelang akhir-akhir kehidupannya, belum setimpal dengan kejahatan yang dilakukannya dengan apa yang dirasakan oleh ribuan umat Islam yang menjadi korban pembantaian Ariel Sharon. Oleh sebab itu, azab dan siksa yang ditimpakan kepada Ariel Sharon menjelang kematiannya hanya merupakan “panjar azab” Allah di dunia ini dan di akhirat kelak dia akan menerima azab Allah seutuhnya. Allah Swt berfirman di dalam Alquran: Pasti kami rasakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar ( di akhirat) agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS. As-Sajadah: 32).


Kata “merasa” di dalam ayat di atas, berarti menjadikan seseorang merasakan, baik dengan fisik maupun jiwanya. Apa yang dirasakan Ariel Sharon berdasarkan keterangan dokter ahlinya bahwa dia berada di bawah “kesadaran minimal” meskipun dalam keadaan koma, akan tetapi dia merasakan sakit dan mampu merespon ketika mendengar suara saudara-saudaranya dan orang yang memembesuknya.


Pendek kata, kematian Ariel Sharon merupakan pelajaran bagi penguasa tirani, dan pelajaran bagi siapa saja yang masih cinta kemanusiaan dan keadilan. Wallahua’lam bil ash-shawab ***** (H.M. Nasir, Lc., MA : Penulis:Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah )


 



Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/05/14/08385680/Telepon.yang.Menggetarkan


Pelajaran Dari Kematian Ariel Sharon