Showing posts sorted by relevance for query Kehidupannya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Kehidupannya. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, September 9, 2013

Karena Islam, Sharon Abulnasr Jadi Sosialita yang Rendah Hati

REPUBLIKA.CO.ID, Sharon Abulnasr, terbiasa hidup glamor ketika belum menjadi Muslim. Ia pebisnis perempuan yang sukses.  Kemana pun ia pergi selalu menjadi pusat perhatian. Namun, konsekuensi dari pergaulannya, lahirlah ego yang tanpa disadari membuat banyak orang berpandangan negatif.


Tuhan punya rencana lain atas kehidupannya. Kehidupannya mulai masuk berbagai masalah. Bisnisnya tak lagi lancar. Keuangannya terganggu dan kehidupan sosialnya mandek.


Dari perjalanan itu, Sharon bertemu Islam. Prosesnya begitu cepat, hingga Sharon tak ragu menerima Islam. “Aku mulai hidup dari nol, tidak hanya finansial saja, tetapi kehidupan sosial. Aku bangun diriku agar tidak seperti masa lalu,” kenang dia seperti dikutip onislam.net, Senin (9/9).


Menurut Sharon, Islam mengajarkan sikap rendah hati dan peduli terhadap sesama. Ini karena, Islam itu mengutamakan persatuan dan kepedulian sosial ketimbang ego pribadi dan nafsu dunia. “Melalui cobaan berupa harta melimpah dan kemiskinan itulah, Allah mencoba ingatkan kita untuk memperbaiki diri,” kata dia.


Bangkit dari keterpurukannya, Sharon belajar menjadi peribadi yang lebih baik. Memang tidak mudah, karena banyak melibatkan berbagai aspek dari kehidupkan manusia. Ini mencakup interaksi sosial, cara membelanjakan yang dan banyak lagi.


“Dahulu, aku tidak memperhatikan apa pandangan orang lain dengan apa yang aku kenakan. Pada akhirnya, aku temukan pikiran orang lain berbeda denganku. Inilah yang diajarkan Islam melalui anjuran berpakaian yang baik dan sopan,” kata dia.


Perlahan, Sharon mulai mengenakan pakaian yang menutupi seluruh auratnya. Ia tinggalkan rok mini atau baju ketat. Selanjutnya, Sharon mulai mengenakan hijab. Ketika ini dilakukan, Sharon merasa banyak orang, utamanya kalangan pria lebih melihat sisi intelektualnya ketimbang tampilan fisiknya.


“Inilah masa dimana saya merasa dihormati sebagai perempuan,” kata dia.


Satu kesimpulan pun muncul dalam pemikiran Sharon. Ketika seseorang sadar bahwa Allah SWT mengawasi setiap hari ini akan baik untuk sarana introspeksi apakah prilaku atau sikap yang ditampilkan berkenan dimata-Nya.


“Iman, adalah hal yang perlu diperlihatkan kepada orang lain, kalau kita tidak bisa memilikinya dihadapan manusia, bagaimana dimata Tuhan Yang Maha Esa,” kata dia.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/09/09/mstyby-carley-watts-model-seksi-pakaian-dalam-wanita-yang-akhirnya-memeluk-islam


Karena Islam, Sharon Abulnasr Jadi Sosialita yang Rendah Hati

Wednesday, January 2, 2013

Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Home Tazkiyatun Nafs

Jadikan Shalat sebagai Madrasah


 

Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan


Kamis, 03 Januari 2013

Oleh: Sholih Hasyim

SETIAP momentum bulan Rajab, biasanya  seorang muslim disegarkan ingatannya oleh peristiwa  monumental, yaitu Isra dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam . Beliau diperjalankan  oleh Allah Subhanahu Wata’ala setelah mengalami tahun kesedihan (‘amul huzni). Disebabkan oleh kematian istri tercintanya dan paman yang dihurmatinya, yang selama ini keduanya selalu mensupport beliau dalam suka dan duka merintis jalan dakwah. 

Perjalanan beliau menembus dimensi ruang dan waktu, memberikan pelajaran mendasar bahwa kerumitan apapun yang dihadapi seorang pejuang kebenaran dan keadilan akan ditemukan solusinya dengan media menegakkan shalat. Dengan shalat, kesulitan apapun yang dihadapi akan menjadi mudah, karena  mengundang intervensi dan keterlibatan Allah Subhanahu Wata’ala (tadakhul rabbani).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[*], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah (2) : 153). 

Ada pula yang mengartikan : mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar (keteguhan dan ketegaran jiwa) dan shalat. Ash Shalatu mi’rajul mukmin (shalat adalah mi’raj – media untuk berinteraksi ke langit  -  seorang mukmin) (al-Hadits).

Selain itu, peristiwa Isra dan Mi’raj menjadi bukti yang sangat valid  alangkah agungnya perintah ibadah shalat. Berbeda dengan perintah yang lain, perintah shalat diterima oleh Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam secara langsung menghadap-Nya di Sidratul Muntaha, tanpa melalui perantara malaikat Jibril. 

Peristiwa bersejarah tersebut, seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim untuk mengadakan evaluasi secara total dan radikal (fundamental) mutu pelaksanaan shalat kita. Dengan harapan ibadah mahdhah tersebut mampu memberikan pengaruh yang signifikan (atsarun fa’aal) dalam membentuk kepribadian muslim secara utuh baik dari sisi mujahadah (kecerdasan spiritual), ijtihad (kecerdasan intlektual) dan jihad (kesedian untuk berkurban di jalan Allah Subhanahu Wata’ala). 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun (63) : 9)

Dengan dievaluasi secara berkesinambungan,  semoga kelak hisab shalat lebih ringan. Juga ada peningkatan mutu baik pisik dan dimensi ruhani. Shalat yang kita lakukan tidak sebatas kaya ritus formal serimonial yang menjemukan, tetapi miskin aplikasi. Kita berharap shalat yang kita lakukan fungsional memberikan maknawiyah (spirit), yang dapat mengantarkan kita menjadi sholih linafsihi (sholih untuk dirinya) dan shalih lighoirihi (shalih kepada orang lain). Dan menjaga keseimbangan dimensi hablun minallah (hubungan vertical) dan hablun minannas (hubungan horizontal).

Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Shalat

Secara empiris mengajarkan, setidaknya ada sembilan pelajaran penting (hikmah)  yang diserap  dalam ibadah shalat.

Pertama: Tazkiyatun Nafs (mensucikan jiwa). Shalat mendidik pelakunya untuk mensucikan dirinya dari virus ruhani yang menjadi pemicu pelanggaran/penyimpangan dalam sejarah perjalanan kehidupan manusia dahulu sampai sekarang. Yaitu, penyakit serakah (thama’), yang diwariskan oleh Adam as. Yang berefek pada terusirnya dari surge, takabur (sombong) yang ditularkan oleh Iblis, berakibat sebagai penghalang masuk surga dan hasud (dengki) yang dipusakakan oleh Qabil, pemicu terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia ini.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Ankabut (29) : 45)

Kedua: Tarbiyatul Wahdah Al Islamiyah (pendidikan persatuan umat Islam). Orang yang shalat menghadap ke tempat/arah yang sama (kiblat), yaitu Baitullah (Ka’bah). Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan yang diikat oleh nilai-nilai prinsip (jamaah), bukan sekedar bergerombol (majmu’ah), berkumpul karena ikatan kerja (materi). Jamaah akan terwujud jika didorong oleh kebersihan hati individunya dari berbagai kepentingan kecuali menomorsatukan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengagungkan syi’ar-syi’arnya. Semua bentuk persahabatan, kesepahaman akan memicu permusuhan dikemudian hari kecuali didasari oleh spirit iman dan takwa. Tahapan persatuan diawali dari saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), saling menyayangi (tarahum), saling menanggung (takaful), saling menolong (tanashur).

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf (43): 67).

Ketiga: Harish ‘ala waqtihi (bersungguh-sungguh dalam mengelola waktunya)

Seorang Muslim jadual kehidupannya diatur oleh waktu shalat. Transaksi milyaran rupiah akan dia batalkan jika panggilan shalat telah dikumandangkan. Ia yakin, jika memperoleh undangan seseorang, maka yang mengundang sudah mempersiapakan hidangan kepada yang diundang. Apalagi yang mengundang adalah Zat Yang Maha Kaya, sudah tentu yang disisi-Nya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka, dia beruapaya melakukannya untuk tepat waktu. Memenuhi adab lahir dan batin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al Anfal (8): 24)

Keempat: Munadhdhamun fil Jama’ah (disiplin dalam berorganisasi). Sholat mendidik tertib organisasi, menyangkut tertibnya berjamaah dengan barisan yang rapi, rapat. Tidak boleh ada barisan yang kosong agar tidak dimasuki syetan. Muslim yang satu dengan yang lain bergaul dengan penuh kedekatan, keeratan dan keakraban. Rasulullah bersabda : Orang beriman itu mudah untuk harmonis dan mudah untuk diharmoniskan, tiada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah jinak dan tidak mudah dijinakkan (al Hadits). Dalam al-Quran panggilan untuk orang-orang beriman (ya ayyuhalladzina amanu – menggunakan jama’ -). Tidak ditemukan dalam al-Quran, sebutan untuk orang beriman dengan kata tunggal (ya ayyuhal mukmin). Hal ini menunjukkan bahwa konsekwensi keimanan seseorang adalah ia harus menempatkan dirinya bagian dari kaum muslimin di seluruh dunia.

Kelima:  Tarbiyatus Sam’i wath Tha’ati (pendidikan ketaatan). Shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan iman, tidak mendahului walaupun sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen (keterikatan yang kuat) atau loyal, serta meniadakan penolakan perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. Sesungguhnya efek ketaatan itu akan kembali kepada kita sendiri. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.”(HR Ahmad). Seorang makmum menyadari jika ia tidak berhasil menanamkan kultur sami’na wa ‘atha’na terhadap pemimpin yang disepakati, maka kelak anak buahnya tidak akan patuh kepadanya. Agar kita memiliki anak shalih/ah, terlebih dahulu kita harus menjadi putra yang shalih/ah bagi orang tua kita. Jika kita mudah mengobral kutukan kepada sesepuh kita, maka anak kita nanti akan mengutuk kita.

Keenam: Qaulu Kalimatil hak ‘inda sulthanin jair (berani menyampaikan kebenaran di depan pemimpin yang zhalim). Shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Karena ia mencintai pemimpinnya, tetapi lebih mencintai kepada kebenaran. Maka, jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan. Tidak membiarkannya melakukan kezhaliman. Teman yang benar bukanlah yang selalu setuju dengan pendapat kita, tetapi yang selalu meluruskan kita jika terjerumus dalam lubang kehancuran.

Ketujuh: Tarbiyatul Musawah  (mendidik sikap egaliter). Shalat mendidik persamaan hak. Surga berhak ditempati bagi orang yang bersegera menuju ketaatan sekalipun dia berasal dari suku Habasyah dan neraka berhak ditempati bagi orang yang berbuat maksiat walaupun ia berasal dari suku Quraisy.  Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status social jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memandang tinggi kedudukan maupun tua umurnya. Karena, Allah SWT tidak menilai kedudukan, keturunan, warna kulit, tetapi menilai hati dan amal kita.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13)

Kedelapan: Tarbiyatush Shihhiyyah (pendidikan kesehatan). Shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik secara sederhana dan mudah gerakannya. Kata ahli hikmah : Bergeraklah terus karena dalam gerakan itu ada barakah (tambahan kebaikan). Air yang  menggenang, tidak mengalir akan menjadi sarang kuman. Demikian pula apabila pisik tidak bergerak secara stimulan dan simultan akan mudah keropos dan gampang terserang penyakit.

Kesembilan: Tarbiyatu Mudawamatidz Dzikr (pendidikan kesinambungan mengingat Allah SWT). Secara etimologis shalat bermakna doa. Karena lafadz yang dibaca dalam shalat adalah berisi doa dan dzikir. Bahkan menegakkan shalat sesungguhnya untuk mengingat kebesaran, kemuliaan dan keagungan-Nya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaha (20) : 14)

Dengan shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam akan menjadikan seseorang untuk selalu mengingat-Nya. Dengan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala hati menjadi tenang, karena selalu ditemani oleh-Nya. Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: Saya selalu menemani orang yang mengingat-KU (ana jaliisu man dzakarani).

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) : 28)

Bahkan, jika kita selalu mengingat Allah Subhanahu Wata’ala, Ia akan selalu mengingat kita. Ada kedekatan hubungan hamba dengan Al Khalik. Jika seseorang dekat dengan-Nya, maka dekat dengan rahmat, maghfirah, dan karunia-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah (2) : 152).

Indikator Diterimanya Shalat

Jika shalat dilakukan dengan khusyu’ dan berlatih untuk berpisah dengan dunia maka akan melahirkan perubahan secara kongkrit pada ranah pola piker dan perilaku pelakunya. Selesai shalat melahirkan manusia baru.  Manusia yang tawadhu (rendah hati), tidak bersikap sombong kepada sesama, tidak meneruskan berbuat maksiat, pada siang hari selalu kontak dengan Allah Subhanahu Wata’ala dengan zikir, memiliki kepekaan social terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.

Ada lima indikator utama yang bisa menjadi standar (tolak ukur) diterimanya shalat seseorang, sebagaimana hadits qudsi berikut :

اِنَّمَا اَتَقَبَّلُ الصَّلاَةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعُظْمَتِي وَلَمْ يَسْتَطِلْ عَليَ خَلْقِي وَلَمْ يَبِتْ مُصِرًّا عَلَى مَعْصِيَتِي وَقَطَعَ النَّهَارَ لِذِكْرِي وَرَحِمَ  المَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلَ وَالاّرْمَلّةَ وَرَحِمَ المُصَابَ

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran-KU, yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk-KU, yang tidak meneruskan maksiat kepada-KU, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-KU, yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal mati suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah.” (Sayid Sabiq, dalam karya tulisnya : Islamuna, hal.119)

Jika nilai-nilai shalat tersebut diatas diwujudkan dalam kehidupan setiap muslim maka secara aksiomatik akan terjadi pencerahan (transformasi) dan penataan ulang orientasi dan perilaku keislaman dan keimanan dalam seluruh aspek kehidupannya baik dalam skala kehidupan individu, keluarga, bangsa, Negara dan dunia. Insya Allah.* 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah 

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/11/29/06123825/Hari.Ini.Rombongan.DPR.RI.Masuk.ke.Gaza


Jadikan Shalat sebagai Madrasah

Tuesday, December 17, 2013

Bilal Philips, Mualaf yang Islamkan 3.000 Tentara Amerika

JIKA pada periode 1970-an, Anda hanya mengenal sosok Jimmy Hendrix,  Brian May, atau Robert Plan dalam dunia musik rock sebagai dewa gitar, atau mungkin ketika itu Anda tengah belajar gitar, Bilal Philips juga sangat jago memainkan dawai enam senar ini.

Semasa menjadi mahasiswa di Universitas Simon Frasier, Vancouver-Kanada, Philips memainkan gitar dalam pertunjukan musik di klub-klub malam. Ketika ia tinggal di Malaysia, ia tampil di panggung-panggung dan dikenal sebagai Jimmy Hendrix-nya Sabah di Malaysia Timur.


Tapi Philips merasa kosong dalam kehidupannya. “Begitu saya menjadi seorang muslim, saya merasa tidak nyaman melakukan itu semua, dan saya memutuskan berhenti main musik secara pribadi maupun secara profesional,” paparnya.


Philips sendiri kemudian memutuskan masuk Islam pada tahun 1972. Proses masuk Islamnya pun terbilang sangat cepat, hanya enam bulan saja setelah membaca buku-buku Islam dan berdiskusi tentang Islam.


Setahun setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Philips mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Tujuannya, ia ingin memelajari Islam dari sumber asalnya, bukan dari praktik budaya.


Sambil kuliah di Saudi, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Riyadh. Saat itu sedang pecah Perang Teluk pada tahun 1991. Ia mempunyai pekerjaan utama yaitu mengajarkan agama Islam pada pasukan AS di basis-basis militer mereka di Bahrain dan di provinsi bagian timur Arab Saudi.


“Karena gambaran tentang Islam begitu terdistorsi di Amerika, setelah perang, saya dan lima orang Amerika lainnya, terlibat dalam proyek untuk menghilangkan keraguan terhadap agama Islam pada sekitar setengah juta pasukan AS yang ada di kawasan Teluk. Hasilnya, lebih dari 3.000 tentara AS akhirnya masuk Islam,” terang Philips.


Ia kemudian pergi ke Amerika untuk membantu memberikan bimbingan rohani bagi para tentara yang baru masuk Islam. Dengan bantuan organisasi “Muslim Members of the Miltary (MMM)”, ia kemudian menggelar berbagai konferensi dan kegiatan yang berhasil mendesak militer AS untuk membangun fasilitas-fasilitas mushola di seluruh basis-basis militernya. Pemerintah AS juga berkewajiban untuk meminta komunitas Muslim mengajukan kandidat ulama yang akan menjadi pembimbin rohani bagi tentara yang muslim di kemiliteran AS.


“Beberapa tentara Perang Teluk yang masuk Islam, pergi ke Bosnia untuk memberikan pelatihan pada rakyat Bosnia dan ikut berjuang bersama mereka melawan kekejaman tentara Serbia,” kata Philips.


Sebelum masuk Islam, Philips adalah seorang Kristen. Ia lahir di Jamaika pada tahun 1947. Kedua orang tuanya adalah guru, dan salah satu kakeknya adalah seorang pendeta.


Sekarang setelah menjadi Muslim, Philips mengatakan tidak punya waktu libur. “Betapa sedikit waktu yang ada, dan berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk Islam,” pungkasnya.***


Article source: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=27&jd=LSI%3A+Suara+Partai+Islam+Kurang+dari+10+Persen&dn=20121015091223


Bilal Philips, Mualaf yang Islamkan 3.000 Tentara Amerika

Monday, August 26, 2013

Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja


MEDIA lokal Inggris bubblenews.com melansir cerita keislaman seorang wanita Belgia keturunan Perancis baru-baru ini. Namanya Josette Marie yang kemudian memakai nama Nur berarti cahaya setelah memeluk Islam di usia 92 tahun.



Nur menceritakan keislamannya saat berkunjung ke wilayah timur Arab Saudi. Di sana, dia bertemu dengan 300 wanita Dammam karena mendapat undangan dari Kantor Kerjasama Bidang Dakwah dan Al Irsyad wilayah Dammam Selatan bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Brussel. Kisahnya membuat wanita-wanita Dammam yang menghadiri pertemuan tersebut jadi terharu.



Nur menceritakan kehidupan sebenarnya dimulai sejak 2010 saat ia memutuskan diri menjadi Muslim. “Saya tidak pernah berpikir untuk masuk Islam, walaupun sejak lama saya telah banyak bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Saya berinteraksi dengan orang-orang muslim dengan menghargai mereka juga menghormati ibadah-ibadah mereka,” katanya.



Dia menceritakan, saat bulan Ramadan tiba dirinya menghindari berkunjung ke rumah muslim saat siang hari. Dia tahu adat muslim menghormati tamu dengan menyuguhkan makanan dan minuman meski mereka sedang berpuasa.



“Saya tidak ingin membuat fitnah dan mengganggu peribadatan mereka. Saya menghormati agama Islam ini dan saya optimis dengan Islam di mana saya selalu membeli daging dan ayam di toko-toko milik orang muslim karena daging mereka disembelih dengan cara Islam, keyakinan saya juga daging-daging itu lebih bersih dan suci,” ujarnya.



Interaksi muslim dan tingginya akhlak mereka, khususnya cara muslim menghormati orang tua menjadi pemicu dirinya menerima Islam. Dia kerap memperhatikan bagaimana muslim menghormati orang lain walau berbeda agama. Mereka, kata dia, juga mengucapkan dan menyampaikan salam kepada Nur dan turut membantunya dalam kehidupan sehari-hari.



“Padahal saat itu saya masih beragama Kristen. Saya menganut Islam tanpa imbalan atau kepentingan apa pun,” katanya.



Dia mengaku terkejut saat diberikan jamuan dari seorang wanita Maroko sebelum Nur memeluk Islam. Nur dirawat tanpa meminta imbalan apa pun. “Semuanya didasarkan atas dasar cinta dan penghormatan serta kasih sayang mereka karena usiaku yang telah tua. Akhlak inilah yang membuat saya cinta kepada Islam dan memanggil saya masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat,” ujarnya.



Selain itu, pemicu lainnya ia memeluk Islam juga disebabkan saat ia berkunjung ke Maroko. Di sana, Nur menyaksikan kejadian yang membuatnya menangis. Pasalnya, keluargga Fatimah yang menerimanya terdiri dari seorang kakek dan nenek serta cucu-cucunya. Semua hidup dengan saling menghormati dan menghormati yang lebih tua. Mereka, kata dia, mencium kepala dan tangan yang membuat air matanya bercucuran menyaksikan keindahan Islam ini.



“Hal yang paling membuat saya sakit hati, adalah perlakuan putri saya satu-satunya yang usianya telah mencapai 74 tahun. Ia seorang kristen, ia hidup bersama suami dan empat orang anaknya di Perancis, setelah putriku mendengar kabar ke-Islaman saya, ia menjauhkan diri dari saya dan tidak mengakui saya. Bahkan ia mengganggap saya mengidap penyakit demensia dan mengatakan bahwa rumah jompo adalah tempat yang layak buat saya,” katanya.



“Ucapannya sama sekali tidak berbudi. Saya masih ingat peristiwa yang terjadi tahun 1930, saya masih dapat menceritakannya, keluargaku dari orang-orang Perancis. Mereka adalah dari keluarga borjuis aristokrat, mereka memutuskan saya setelah saya bersuami Belgia yang miskin,” kisahnya.



Setelah mengetahui dirinya masuk Islam, keluarga besar Nur memutuskan untuk tidak memberikan harta warisan kepadanya. Bahkan, kata dia, media-media Belgia juga menuduh dirinya telah menerima imbalan yang menyebabkan dirinya menjadi muslim.



Nur juga menceritakan dirinya kini telah menunaikan haji. Dia menolak untuk menggunakan kursi roda dan lebih memilih tawaf dengan berjalan kaki.



“Saya masih mampu melakukan hal tersebut dan saya tidak sakit, dulu saya membiasakan diri berolahraga dengan berjalan dan berenang. Allah juga telah memberikan petunjuk serta masih bisa berpuasa di Ramadan selama dua tahun berturu-turut,” katanya.



Dia menyesali kehidupannya sebelum memeluk Islam. Bahkan dia menyatakan terlahir kembali sejak 2010 setelah menjadi muslim. “Inilah kehidupan saya yang sebenarnya dan masa lalu adalah kerugian,” tuturnya.



Nur memiliki cita-cita terakhir di usianya yang kian senja sebagai seorang muslim. “Harapan saya bisa kembali ke Makkah dan melakukan umrah dan saya meninggal di tanah suci dan dikuburkan di kuburan orang-orang muslim,” ujarnya.[](bna)


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Kisah wanita Belgia yang memeluk Islam di usia senja

Monday, August 5, 2013

Selebritis Hollywood ini ternyata Islam, benarkah?


DI tengah glamornya kehidupan selebritis Hollywood, ternyata masih ada beberapa orang yang memegang teguh kepercayaan sebagai Muslim. Bagi mereka, Islam masih menjadi tuntunan hidup mereka.



Maher Zain adalah salah satu musisi yang mendedikasikan karirnya untuk mendendangkan lagu-lagu islami. Sedangkan dunia akting memiliki orang-orang seperti Shahrukh Khan yang pastinya setia menjalankan ibadah di bulan Ramadan, walau jadwalnya sangat penuh.



Selain mereka, siapa lagi bintang-bintang Hollywood yang ternyata memeluk agama Islam dan menikmati bulan Ramadan bersama umat Muslim lainnya? Simak ulasannya di sini!



1. Zayn Malik



Walau sering tampil gila-gilaan bersama rekan-rekannya di One Direction, namun Zayn Malik tetap memegang teguh keyakinan sebagai Muslim. Bintang muda ini sendiri memang terlahir sebagai pemeluk agama Islam. Walau sempat dituduh menggunakan status sebagai Muslim untuk merangkul wanita belia, namun Zayn tetap percaya diri melenggang di dunia hiburan, dan tetap dikagumi penggemar.



2. Maher Zain



Pria kelahiran Lebanon ini pastinya sudah sangat akrab bagi pecinta musik religius. Walau sudah tinggal di Swedia sejak usia delapan tahun, Maher Zain tetap konsisten dengan keyakinannya. Lewat lantunan lagu-lagunya yang merdu, banyak umat Islam yang merasakan kedamaian dan keindahan agama mereka.



3. Shahrukh Khan



Siapa sih yang tidak kenal dengan nama Shahrukh Khan. Pria yang kerap dijuluki King Khan ini tenar karena film-filmnya yang berjudul MY NAME IS KHAN, RA.ONE dan masih banyak lagi. Nama belakangan Khan yang disandangnya jelas jadi identitas yang menunjukkan agamanya. Sayangnya, dia sempat mendapat tudingan miring lantaran sering memerankan tokoh yang beragama selain Islam di filmnya.



4. Mike Tyson



Masa lalu Mike Tyson memang dipenuhi dengan kekerasan dan pelanggaran hukum. Puncaknya, petinju ini dijebloskan ke dalam penjara Indiana karena tindak perkosaan. Namun hidupnya seolah berubah setelah itu. Sepertinya dia belajar banyak selama di penjara hingga akhirnya mengumumkan masuk Islam pada tahun 1995, setelah di bebas dari penjara.



5. Salman Khan



Siapa bilang, di dunia ini tak ada aktor Muslim yang sukses. Selain Shahrukh Khan, Salman Khan juga dikenal sebagai aktor tenar yang berkualitas dan berdedikasi. Namun yang tak kalah penting, dia juga punya wajah tampan dan tubuh yang seksi.



6. Janet Jackson



Sempat hilang dari dunia hiburan, pada bulan Februari 2013 tiba-tiba Janet Jackson dikabarkan sudah menikah diam-diam dengan seorang pria Muslim bernama Wissam Al Mana. Dua bukan kemudian muncul kabar bahwa saudara perempuan Michael Jackson ini telah mengikuti agama suaminya. Kini, dia tak lagi mementingkan karir karena hidupnya fokus pada keluarga dan agama.



7. Cat Stevens a.k.a Yusuf Islam



Nama Cat Stevens populer di tahun 1960 hingga 1970an berkat single-single seperti Morning Has Broken dan Peace Train. Awalnya dia merasa nyaman dengan kehidupannya sebagai artis, sampai akhirnya sesuatu terjadi padanya pada tahun 1978. Dia mengalami apa yang disebut near-death experience. Untungnya, dia bisa selamat dari kematian, dan sebagai rasa syukur dia memeluk Islam dan mengubah nama menjadi Yusuf Islam.



8. Akon



Minuman keras dan narkoba mungkin sudah jadi hal biasa di dunia selebritis. Namun pria bernama lengkap Aliaune Damala Badara Akon Thiam ini ternyata memilih menjauhi itu karena setia karena ajaran Islam yang dianutnya. Dan inilah jalan hidup yang dipilih Akon.



9. Busta Rhymes



Tahun 2007, Busta Rhymes mengumumkan lewat sebuah video bahwa dia telah memilih Islam sebagai agamanya. Pria yang bernama lengkap Trevor Tahiem Smith, Jr. ini mengunggah video tersebut di Liveleak.com dan mulai bertekad menjalani kehidupan sebagai Muslim sejati.



10. Ice Cube



Selain sebagai musisi yang cukup disegani, Ice Cube juga kerap muncul di berbagai film ternama. Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, rapper ini mengakui bahwa dia memeluk Islam sekitar tahun 1990an. Tak ada paksaan dalam dirinya, dan dia melakukannya atas kesadaran dan sepenuh hati.



11. Jermaine Jackson



Kakak Michael Jackson ini resmi memeluk Islam pada tahun 1989. Jermaine Jackson sendiri juga salah satu personil grup Jackson Five yang menjadi awal karir pada Jacksons. Jermaine sendiri adalah orang yang membuat publik yakin bahwa Michael meninggal dalam kondisi memeluk Islam. Hal itu terbukti dari kata-kata ‘Semoga Allah bersamamu selalu, Michael’ saat kematian sang adik pada tahun 2009.



12. Michael Jackson?



Status keislaman Michael Jackson memang masih jadi perdebatan hingga kini. Awalnya, pria yang dijuluki King of Pop ini memeluk agama Saksi-Saksi Jehovah, namun memutuskan keluar pada tahun 1987 karena ada banyak hal yang tak disepakatinya. Ada kabar bahwa dia telah masuk Islam sebelum meninggal, namun tak ada bukti yang benar-benar kuat hingga saat ini.[] sumber : kapanlagi.com


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1934327/teheran-klaim-rontokan-pesawat-tanpa-awak-drone-as


Selebritis Hollywood ini ternyata Islam, benarkah?

Wednesday, November 6, 2013

Hijrah Shamsul, Nora


  • Shamsul dan Nora muncul dalam rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah. – Foto Sinar Harian oleh SAFWAN MANSOR


MAAL Hijrah atau Awal Muharram adalah hari paling bermakna bagi umat Islam kerana memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada 622 Masihi.



Ia menandakan tahun baru dan segala amalan pada tahun ini akan dihisab dan amalan seterusnya akan dikira dalam buku baru.



Hijrah Rasulullah SAW memberi kesan besar kepada umat Islam dan tidak terkecuali melibatkan beberapa selebriti.



Sejak akhir-akhir ini menyaksikan beberapa selebriti yang dahulunya mengaku alpa, tetapi kini hati mereka semakin mendekati Islam.



Antara artis yang telah berhijrah ialah Nora dan Shamsul Ghau Ghau.



Ternyata, perubahan mereka bukan untuk menunjuk-nunjuk sebaliknya ia lahir daripada kesedaran sendiri dan kedua-dua penggiat seni itu bakal muncul dalam sebuah rancangan bual bicara baru berjudul Hijrah Munawwarah yang ditayangkan di saluran TV Alhijrah.



Rancangan 13 episod yang mula bersiaran pada 25 Oktober lalu itu menampilkan Shamsul sebagai pengacara bersama tetamu jemputan pada setiap minggu untuk berkongsi kisah penghijrahan mereka.



Akui Shamsul, dia kini lebih selesa dengan program berbentuk keagamaan apatah lagi setelah terpilih mengacarakan program tersebut.



“Apabila mereka tawarkan untuk jadi pengacara program ini, saya terus rebut peluang tanpa fikir panjang kerana rancangan ini berkisarkan penghijrahan seseorang dan bagaimana melaluinya.



“Selain sebagai rezeki, kandungan program ini juga bagus, maka ini adalah peluang keemasan buat saya,” jelasnya.



Manakala bagi Nora pula tawaran dari penerbit, Iswati Ishak, untuk dia berkongsi kisah hijrah dalam hidup sememangnya tidak disia-siakan.



“Saya berbesar hati untuk berkongsi dengan masyarakat mengenai penghijrahan saya. Benda baik, elok kalau kita kongsi bersama.



“Lagipun saya selesa dengan pendekatan yang dibawa Shamsul, mungkin sebab dia juga orang seni seperti saya,” ujar Nora mengenai program itu.



Selain Nora, barisan selebriti seperti Nazrey Johani, Catriona Ross, Adam Corrie Lee dan Ustaz Ebit Lew merupakan antara tetamu jemputan dalam setiap episod berasingan.



Justeru sempena sambutan Maal Hijrah kali ini, mari kita ikuti cerita penghijrahan penyanyi Nora dan  Shamsul.




Tanda kesyukuran – Nora



Lima tahun lalu, sempena sambutan ulang tahun yang ke-35, Nora atau pemilik nama sebenar Wan Norafizah Ariffin ini mengambil keputusan untuk tampil dengan imej barunya, bertudung.



Penyanyi kelahiran Cik Siti Wan Kembang itu menyifatkan, penghijrahannya melalui satu fasa baru dalam kehidupannya.



“Hijrah itu adalah suatu perubahan. Pada usia tertentu, sudah pasti kita mahu sesuatu perubahan ke arah lebih baik dalam diri kita.



“Tidak kiralah perubahan itu kecil atau besar, asalkan kita menjadi lebih baik,” katanya yang anggap detik hijrah itu sebagai tanda syukur kepada nikmat ALLAH SWT.



“Saya bersyukur apabila lihat anak-anak di depan mata. Tetapi pada ketika itu, saya sekadar mengucapkannya di bibir sahaja.



“Apabila saya fikirkan semula, saya tertanya-tanya adakah itu cara untuk bersyukur? Bertitik tolak daripada perasaan itu pada lima tahun lalu, saya tekad mahu berubah.



“Lalu, pada usia 35 tahun saya buat keputusan untuk lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SWT,” jelasnya.



Ceritanya lagi, pada peringkat awal penghijrahannya, dia terpaksa berdepan dengan cabaran dan penerimaan masyarakat yang agak skeptikal namun itu semua dapat diatasinya.



“Pada peringkat permulaan berhijrah, saya akui agak tertekan apatah lagi ada ‘bisikan’ seperti menyuruh saya membuat konsert terlebih dahulu, tunggu umur 40 tahun atau selepas tunaikan haji barulah menutup aurat.



“Namun, saya tekad ingin berhijrah kerana apabila sudah mendapat hidayah, janganlah kita berpaling kerana mungkin hidayah itu akan ditarik balik.



“Tetapi kini, cabaran itu hanya lebih kepada bagaimana mahu menyesuaikan diri lebih-lebih lagi saya terlibat dalam industri hiburan,” katanya.



Ujarnya, sebagai seorang artis bertudung, had dan batasan perlu diletakkan agar tidak dipandang serong oleh masyarakat.



“Saya banyak rujuk pada ustaz dan membaca buku-buku agama mengenai apa yang boleh dan tidak.



“Kita masih lagi boleh menyanyi atau menyampaikan sesuatu yang baik, tetapi perlu menjaga setiap kelakuan, penampilan, percakapan dan apa yang kita sampaikan.



“Jika saya rasa perjuangan saya betul, maka saya akan teruskan. Kita juga jangan sesekali menegakkan benang yang basah. Jika kita melakukan kesilapan, tak salah jika kita mengakuinya,” katanya.




Siri kartun animasi



Melihat kepada tanggungjawabnya sebagai anak seni, Nora sambil dibantu suaminya yang juga komposer, Johan Nawawi dan anak-anaknya menghasilkan siri kartun animasi bertajuk Ummi…Ceritalah Pada Kami! yang kini sudah masuk musim kedua.



“Penghasilan kartun animasi ini adalah salah satu tanggungjawab kami dalam mendidik kanak-kanak dengan cara Islam.



“Saya boleh menyanyi dan suami pula boleh buat lagu untuk rancangan itu,” jelasnya.



Kata ibu kepada empat anak ini, idea untuk menghasilkan siri kartun animasi itu tercetus atas kesedaran untuk menghidangkan program bermanfaat untuk tontonan kanak-kanak dan keluarga yang bukan sahaja menghiburkan malah memberikan pengajaran.



“Sebagai seorang ibu, saya terpanggil untuk menghasilkan sesuatu bermanfaat di samping menghiburkan kanak-kanak.



“Penerbitan siri animasi ini adalah jawapan terbaik untuk menarik perhatian mereka kerana ia paling dekat dan relevan dengan golongan cilik,” katanya.



Siri kartun animasi  itu akan ditayang semula pada Januari depan di TV9 pada Khamis jam 8.30 pagi dan Sabtu pada jam 6 petang.




Tinggal di depan rumah Allah



Tidak seperti Nora, pengalaman Shamsul agak berbeza. Ramai beranggapan pelakon dan pelawak ini mula berhijrah setelah pulang mengerjakan ibadah haji, tahun lalu.



Hakikatnya, bapa kepada tiga anak ini berubah mendekatkan diri kepada ALLAH SWT secara beransur-ansur sejak beberapa tahun kebelakangan ini.



“Seperti kita ketahui, pengertian hijrah sebenar adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Tetapi untuk kita di zaman ini, hijrah membawa erti luas.



“Berubah daripada yang baik menjadi jahat juga sesuatu penghijrahan. Tetapi pastinya kita mahu berhijrah daripada tidak baik menjadi lebih bagus,” katanya.



Jelasnya lagi, titik tolak penghijrahannya bermula setelah berpindah dari Cheras ke Bangi sementelah lagi rumah itu pula letaknya betul-betul di hadapan sebuah masjid.



“Rumah di depan masjid, tetapi saya tidak pernah pergi ke masjid untuk solat berjemaah.



“Tetapi, saban waktu surah Ar-Rahman sering diperdengarkan dari corong pembesar suara masjid sehingga satu hari saya terdetik untuk mencari maksud akan surah itu.



“Selepas mengetahui maksudnya mengenai kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT, hati saya terdetik untuk mengikut ajaran yang diperintahkannya,” katanya.



Pemilik nama sebenar Shamsul Azahar Aliddin ini berkata, cabaran terbesar perlu dihadapinya adalah bagaimana dia mahu memperbetulkan keluarganya terlebih dahulu terutama mengajar isterinya menutup aurat.



“Saya ambil pendekatan Rasulullah SAW, kita jangan terlalu pandang jauh hendak mengajar orang terutamanya akhlak sebaliknya betulkan diri kita dahulu. Apabila akhlak kita bagus, maka orang sekeliling kita juga akan bagus seperti anak-anak, keluarga, jiran-jiran dan lain-lain.



“Berat untuk saya menyatakan hasrat berubah kepada isteri sendiri apatah lagi untuk mengajak dia menutup aurat dan bertudung sebab sebenarnya untuk membentuk dan memberi dakwah pada isteri bukanlah senang. Tapi lama-kelamaan isteri menerimanya dengan sikap terbuka dan ALLAH SWT telah kabul permintaan saya,” katanya berhasrat bergelar pendakwah suatu hari nanti.




Tidak tinggal dunia seni



Tambah Shamsul, penghijrahannya itu bukanlah bererti dia akan meninggalkan dunia hiburan sebaliknya akan terus menerima tawaran berlakon dan nyanyian jika bersesuaian.



“Tiada masalah untuk melakukan sesuatu yang mengikut perintah ALLAH, tetapi saya  cuba elak hal bercanggah. Saya ada juga terima tawaran untuk mengendalikan majlis keagamaan.



“Aktiviti lakonan masih ada, tetapi aktiviti itu semakin kurang kerana turut memberi tumpuan kepada mencari ilmu dan menghabiskan masa bersama anak-anak,” katanya.



Dalam pada itu, pada awal hijrah, dia ada terfikir kemungkinan untuk berundur dari dunia seni.



“Saya ada bertanya kepada ustaz tentang hasrat untuk berundur daripada dunia hiburan, tetapi dia kata kalau saya berhenti, anak-anak nak makan apa?



“Apabila difikirkan, saya masih ada tanggungjawab kepada keluarga dan masyarakat. Saya kena mempamerkan lakonan yang boleh memberi kebaikan dan menjauhi kemungkaran,” katanya yang bakal muncul dengan telefilem Lelaki Buaya terbitan TV3

di samping Shah Jazle dan Jasmin Hamid.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/16/stalled-iran-nuclear-probe-raises-diplomatic-pressure/


Hijrah Shamsul, Nora

Wednesday, September 18, 2013

Mitos Gelombang Muslim (1)

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Azyumardi Azra


Ada banyak mitos gelombang Muslim di Barat, tegasnya Eropa dan Amerika Utara. Terdapat kalangan Barat yang sangat khawatir dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk warga Muslim dalam diaspora masing-masing. Kekhawatiran ini ditambah terus mengalirnya migran Muslim dari kawasan dunia Islam yang menurut imajinasi mereka akhirnya bakal membuat kaum Muslim menjadi mayoritas penduduk di kedua benua itu dan selanjutnya menguasai politik setempat.


Sejumlah penulis Barat yang membawa semangat anti-Muslim mengklaim, misalnya, pada 2025 nanti populasi Muslim mencapai sekitar 40 persen penduduk Uni Eropa, dan menjelang pertengahan abad 21 mereka menjadi mayoritas di benua ini. Klaim tentang gelombang Muslim ke Eropa dan Amerika Utara menimbulkan berbagai ‘mitos’ yang meningkatkan sikap anti-Muslim dan fobia Islam di kalangan masyarakat kedua benua tersebut. Akibatnya, kecemasan juga kian meningkat di kalangan Muslim, baik yang merupakan generasi kedua atau ketiga atau migran yang belum lama datang ke Eropa atau Amerika Utara.


Mengadakan beberapa kali perjalanan ke Eropa Barat sepanjang September 2013, saya juga menemukan peningkatan kecemasan di antara kaum Muslim Eropa tentang kian kuatnya sikap permusuhan (hostility) dari penduduk ‘pribumi’ lokal. Misalnya Ali Mahmud, sopir taksi asal Baghdad yang membawa saya dari Hotel Sheraton di pusat Kota Stockholm ke Bandara Arlanda pada awal September. Ketika saya tanya tentang kehidupannya belakangan ini, dia menjawab singkat, hidupnya kian sulit dan hampir selalu mendapat tatapan tajam penumpangnya yang mengisyaratkan kemarahan dan kebencian.


Mencoba berefleksi tentang nestapa Ali dan kalangan kaum Muslim Eropa lain, saya ibarat mendapatkan “pucuk dicinta ulam tiba” di Bandara Arlanda ketika di salah satu toko buku menemukan karya Doug Saunders, The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (New York: Vintage Books, 2012). Meski buku ini mencakup anak judul “immigrants” secara umum, isinya hampir sepenuhnya menyangkut tentang kaum Muslim migran yang menetap di Eropa dan Amerika Utara.


Walaupun begitu, ‘gelombang’ imigran ke Barat sebenarnya bukan hanya mencakup kaum Muslim. Sebelum datangnya migran Muslim setelah Perang Dunia II, sampai sekarang masih berlangsung apa yang disebut sebagai ‘gelombang’ Katolik dan ‘gelombang’ Yahudi di Eropa maupun Amerika Utara. Tetapi, gelombang kedua masyarakat keagamaan ini dalam hal tertentu berbeda dengan gelombang migran Muslim yang mulai berlangsung intensif sejak masa pasca-Perang Dunia II sampai sekarang.


Gelombang-gelombang imigran ke Barat selalu mendapatkan ‘perlawanan’ dari masyarakat lokal. Meskipun dalam kasus migran Muslim belakangan kelihatan lebih sengit. Kesengitan itu jelas banyak terkait dengan peristiwa penyerangan WTC di New York dan markas Pentagon 11 September 2001 di AS, yang kemudian disusul pengeboman di London dan Madrid.


Ketika gelombang kaum Katolik ke AS terus meningkat sejak dasawarsa awal abad 20, pada 1949 seorang penulis, Paul Blanchard, menerbitkan buku American Freedom and Catholic Power. Buku ini segera menjadi hit dengan masuk daftar best seller harian the New York Times selama 11 bulan berturut-turut. Edisi pertamanya terjual 240 ribu kopi dan dicetak ulang sampai 26 kali.


Blanchard menyalakan ‘lampu merah’ yang menyentakkan masyarakat Protestan Amerika. Ia mengatakan, gelombang migran Katolik ke Amerika mendatangkan ancaman serius bagi demokrasi, kesetaraan, dan sekularisme Amerika. Menurut dia, migran Katolik berasal dari negara-negara yang hampir sepenuhnya otoriter, fundamentalis secara keagamaan, dan menentang hak-hak perempuan serta menolak pembatasan kelahiran (birth control).


Selain itu, gereja Katolik menganut dogma tidak bisa diubah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. “Gereja [Katolik] adalah peninggalan otoritarianisme abad pertengahan yang tidak punya tempat pas dalam demokrasi Amerika,” tulisnya.


Lebih jauh, seperti juga tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Muslim belakangan, Blanchard menuduh migran Katolik dengan tingkat kelahiran yang tinggi bakal melampaui jumlah masyarakat Protestan, dan akhirnya menguasai kepresidenan Amerika. “Mereka tidak bakal terintegrasi, sebaliknya, membuat masyarakat terpisah yang berencana jahat (plot) memaksakan keimanan mereka secara lebih luas.”


Persepsi yang sama juga berlaku bagi kaum Yahudi yang mulai bermigrasi ke Amerika Utara sejak dasawarsa akhir abad 19. Umumnya mereka berpindah karena meningkatnya sikap anti-Yahudi di Rusia dan Eropa Timur. Semula, mereka bermigrasi ke Eropa Barat yang kemudian juga menjadi anti-Yahudi sehingga akhirnya berpindah ke Amerika Utara–AS dan Kanada.


Memang, di kota besar seperti New York, di mana terdapat imigran Yahudi dalam jumlah signifikan, mulai terlihat mereka membentuk masyarakat terpisah. Mereka tampil dengan penampilan fisik, agama, bahasa, pakaian, dan makanan (kosher) yang khas. Media setempat berulang kali mengingatkan dalam laporannya tentang “masalah orang asing” yang telah “menguasai” pertetanggaan. Orang-orang Yahudi sering dianggap sebagai pelaku kriminal, sehingga Komisioner Polisi New York, Theodore Bingham, pada 1908 menulis di North American Review, “Meski orang Yahudi hanya seperempat penduduk kota, separuh mereka adalah kriminal.”


Article source: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/130917162730/limit/0/Umat-Kristen-Mesir-Dipaksa-Bayar-Pajak-300-Ribu-Per-Hari.html


Mitos Gelombang Muslim (1)

Saturday, December 21, 2013

Tanjung yang berlumpur



 Kerja-kerja memasak berlanjutan selama 12 hari, berakhir pada 15 Dis, namun kerja-kerja membersihkan rumah mangsa berlarutan sehingga ke hari ini, atas permintaan, jika ada. Hampir 10 ribu bungkusan barangan dan beras telah diedarkan termasuk juga di Kampung Semangat, Ubai, Kg Belukar, Kg Pahang dan Cherok Paloh yang berada didalam DUN Inderapura. Ada sebahagiannya saya sendiri yang menghantarnya, ada juga rakan-rakan Unit Amal. Terkadang tu rasa malu juga dengan sebahagian sikap masyarakat Melayu dalam kawasan saya, sesetengah tu umpama orang Somalia yang sepertinya kebuluran sangat, bila masuk je lori, menderu datang mengejar lori dan berebut-rebut barangan, ish .. takde akhlak sungguh lah. Saya minta semua bersabar dan saya akan hantar kerumah masing, tapi tak nak berganjak juga, tetap juga bergayut ditepi lori, tak kira lelaki atau perempuan, serupa je.


Seorang rakan daripada Kuala Lumpur, dia dan rakan-rakan bawa dapur gas dan barangan dapur, dia berhasrat untuk cuba bagi sendiri dan meminta izin dari saya, saya benarkan. Lori langsung tak dapat bergerak, diserbu, semua nak ambil dapur, sepertinya semua rumah rosak dapur, seorang terkadang ambil dua tiga biji, sampai kepada peringkat mereka memanjat lori, setelah habis separuh lori, rakan saya terpaksa menutup pagar lori dan cabut lari, sebab kelihatannya barangan hanya berkisar pada orang yang sama. Sangat memalukan, dia datang ke rumah saya dan menurunkan sebahagian yang lain “maaf deh, itu lah sebahagian rakyat ana”.. dia ketawa dan ligat menggelengkan kepala “fuhh, teruk betul, macam artis ana kena serbu, bukan nak autograf, tapi nak dapur gas”, katanya sambil ketawa. Namun keadaan ini tidak berlaku di Sungai Isap, orang Sungai Isap kelihatannya agak lebih tabah dan lebih berdisplin. Tak hairanlah, kerana Masjid dan Surau di Kawasan ini agak makmur dengan majlis ilmu menjadikan mereka sabar dengan dugaan dan memiliki kemuliaan diri. Kemiskinan jiwa ini hanya boleh diubati jika mereka kembali kepada Islam, ini adalah diantara tanggungjawab saya, InsyaAllah saya mencuba sedaya upaya.


Kerja-kerja pembersihan bermula dari 6 Dis, saya pun turut serta membantu rakan-rakan Unit Amal, rumah pertama yang saya bantu bersihkan ialah rumah Allahyarham Tuan Haji Jamin di Sg Isap Damai, beliau meninggal pada 5 dis, ketika banjir masih besar dan ketika saya sedang gawat untuk menghantar nasi ke Masjid Sg Isap Damai. Saya tak sempat pergi menziarahi jenazahnya yang di kebumikan di Bukit Ubi, namun terasa juga kehilangannya, sebab dia adalah orang yang sering juga menyumbang untuk Ma’had Tahfiz Darul Fikri dan sosok tubuhnya sentiasa kelihatan ketika saya berkuliah di Masjid Sg Isap Damai dan Surau RRM Permatang Badak. Saya memilih rumah beliau sebagai rumah pertama yang saya bantu untuk mengambil kesempatan mengucapkan takziah pada Isterinya Kak Pah dan juga anak-anaknya.


Pelbagai peristiwa berlaku ketika kerja pembersihan rumah mangsa, ada sebuah rumah tu, tak lah besar sangat, masih sebahagiannya belum dibaik pulih, saya terjumpa sebuah bekas berisi barangan kemas, disebabkan berselut, saya hampir membuangnya, tapi terlintas hati nak bukak dulu, rupanya barangan kemas, semuanya emas, berat juga tu, saya jangkakan mungkis ratusan ribu kot, rupanya tuan rumah dah melilau mencari, “Alhamdulillah Ustaz, nasib baik jumpa, akak dah puas mencari” .. nampak kelegaan dan kegembiraan di wajahnya. Almari tempat dia menyimpan barangan kemasnya pecah, bekas itu agak hanyut dan tenggelam dalam selut di penjuru rumah bersama timbunan barangan lain. Masa air naik, dia tak ambil tahu pun pasal barang tu, nak selamatkan diri je, sempat juga saya selitkan tazkirah kepadanya “begitulah kak, walau banyak manapun pun harta kita, berapa mahal pun emas kita, dia tak dapat jadi penolong kita, yang tolong kita adalah Allah swt, masa akak ditimpa banjir, emas akak semuanya tenggelam, lansung tak dapat tolong akak, begitulah kalau kita mati nanti, emas ni tak boleh buat apa-apa kecuali amal dan aqidah kita je yang jadi harta untuk bebaskan diri dari neraka” .. dia angguk “betul Ustaz”.


Ada juga yang malu-malu, bila saya sendiri yang bersihkan rumah mereka, “Ustaz gi lah rumah orang lain”, ngapa nya?.. tanya saya..”malulah Ustaz, ada ke wakil rakyat dok cuci rumah saya” .. kata dia, saya kata “sekarang tak jadi wakil rakyat dah, saya sekarang adalah Unit Amal”, saya nak cuci juga rumah ni” ..dia pun diam. Sebenarnya kalaulah orang memahami betapa antara sebab yang mendatang ketenangan jiwa ialah apabila kita dapat membantu manusia yang sedang kesusahan, nescaya manusia ni tak kan duduk diam apabila melihat saudaranya yang ditimpa kesusahan. “Barang siapa yang membantu orang yang kesusahan, nescaya Allah swt akan melapangkan kehidupannya”. Saya dah biasa dengan kerja kasar begini, lagi pun inilah antara kerja Unit Amal, saya kan Unit Amal, dah hampir 25 tahun saya jadi Unit Amal, dari belum kawin sampai sekarang dah 11 anak tetap juga jadi Unit Amal, pastu apa nak hairan ..Unit Amal cuci rumah..biasalah tu..


6 Dis, saya semakin mendapat kekuatan, kerana dua buah surau lain yang turut sama memasak untuk diagihkan kepada mangsa, malahan dua buah bot rakan kami dari Kempadang telah berjaya dibawa ke Sungai Isap, ini memudahkan kami untuk menghantar makanan dan keperluan lain ke Sungai Isap Damai dan juga kawasan-kawasan lain walaupun bukan dalam kawasan saya seperti pedalaman Kampung Badak dan Kg Chendering. Terkadang orang memohon bantuan bukan kerana kawasan tetapi kerana mengenali saya, saya pun ambil sikap tak kisah, selagi ada saya bagi, saya pun tak suka dan tak minat nak simpan hak orang, barang-barang yang banyak ni bukan saya punya, semuanya untuk mangsa banjir. Orang UMNO yang dok kat Kampung saya ni pun datang jugak, bukan UMNO biasa tapi UMNO gred A, dari jauh dah berbau, saya kenal sangat mereka ni, sebab mereka ni sekampung. Keadaan saya pulak semakin sibuk, pimpinan dari seluruh negara datang ke rumah termasuk Dato Sri Presiden dan beliau sempat turut serta berjalan kaki menghantar sumbangan dari rumah ke rumah di Sungai Isap Taman Murni bersama Ust Dato Tuan Ibrahim, Ust Yusof Embong, Ust Suhaimi Saad dan beberapa pimpinan yang lain, rasa bangga gak bila TGHH dok pikul plastik ada gambar saya.


Tak tidur malam dibuatnya, hampir sepanjang masa talipon berbunyi dan tetamu datang samada untuk bertugas ataupun menghantar bantuan dari jauh dan dekat, samada organisasi parti, ngo atau orang perseorangan. Semua PAS Negeri-negeri menghantar bantuan samaada tenaga ataupun sumbangan, juga dari DAP Pahang, DAP Yong Peng dan DAP Teratai, persatuan-persatuan Cina juga datang menghulurkan sumbangan, persatuan pemandu-pemandu bas sekolah dan macam-macam lagi ngo yang datang, entah apa nama pun saya dah tak ingat, yang pasti UMNO tak de. Dengan bantuan surau-surau juga pihak kami boleh menyediakan lebih 2500 bungkus nasi sehari untuk diedarkan. Alhamdulillah juga berkat selama ni berkuliah di Masjid-Masjid dan Surau-Surau, banyaklah Masjid Surau dari seluruh negara menghantar sumbangan begitu juga rakan-rakan termasuk juga rakan FB, bebanan menjadi sangat ringan dek pertolongan orang ramai, hingga ketikanya ruang rumah saya tidak boleh dilalui lansung kerana dipenuhi barangan.


Aduan kekurangan makanan masih berlaku, di SEMSAS ada mangsa yang menghubungi bahawa mereka tidak dibekalkan makanan, saya dimaklumkan lebih 300 orang mangsa dari Sg Isap yang ditempatkan disitu, yang ramainya daripada Seri Damai dan pengurusan disitu diketuai oleh geng UMNO Seri Damai, disebabkan orang Sg Isap bukan orang kawasan tersebut, maka keutamaan diberikan kepada orang Seri Damai, kebiasaannya orang Sg Isap tak dapat apa-apa, Alhamdulillah mereka menghubungi saya dan setiap hari pihak saya menghantar bekalan kesana. Kini saya dah agak bebas bergerak untuk menghantar bekalan, bot dah ada, kenderaan darat pun dah boleh bergerak walaupun trafik masih perlahan, bekalan boleh dihantar mengikut permintaan, tenaga pun dah ramai, anggota Unit Amal pun dah mula bertugas, Ust Saharudin pun dah boleh bertugas untuk membantu saya, banyaklah pusat penempatan yang dapat kami hantarkan bantuan seperti Sg Isap, Chung Ching, SEMSAS, Medan Warisan, SK Tanah Putih, SK Belukar, SK Permatang Badak, Chendering dan juga kawasan-kawasan rumah kampung yang masih terperangkap tiada bekalan makanan.


Kerja-kerja menghantar sumbangan dari rumah-kerumah juga bermula, sebanyak hampir 10 ribu bungkusan telah diedarkan dalam masa 8 hari, namun ada juga yang mengadu tak dapat, saya pun tak boleh berbuat apa-apa sebab mungkin mereka tiada dirumah dan yang menghantar itu bukannya saya, tetapi Unit Amal dari luar, pastinya mereka tidak mahir dengan perumahan disini hingga ada yang tertinggal ataupun tempat yang sama berulang kali. Ada juga insan jenis tamak, dah dapat pun kata tak dapat, ada juga UMNO gred A yang sombong dan tidak mahu menerima sumbangan dari PAS dan ada pulak cerita dari seorang anggota Unit Amal yang saya tugaskan untuk menghantar sarapan pagi, setiap bungkusan ada air mineral, roti saiz besar dan sardin, bila bagi bungkusan dia buka “hari-hari roti, takde makanan lain ke, dah tiga hari asyik roti je, tak nak lah” , sabar je lah, itu hanya kes terpencil, hampir keseluruhannya menerima dengan senyuman dan ucapan terima kasih, berhadapan dengan manusia yang ramai begitulah, kita tak mungkin akan dapat menyempurnakan kehendak orang ramai. Isteri dan anak-anak kita yang hanya beberapa orang itu pun kekadang kita gagal nak puaskan hati mereka, inikan pula ribuan manusia.


Pada 5 Dis, air telah mula menurun, tetapi terlalu perlahan, sms masih bertalu tentang keadaan mangsa-mangsa banjir yang berada di Pusat Penempatan, makanan tak cukuplah, susu bayi tak adalah dan macam-macamlah aduannya yang hanya menambahkan rasa kasihan, namun air masih dalam, bot Unit Amal masih bertugas untuk memindahkan mangsa banjir di Kawasan baru yang dinaiki air, rakan-rakan dari sebelah Kempadang masih gagal untuk menyeberangi banjir yang menutupi jalan untuk sampai ke Sungai Isap bagi membawa bot yang lain. Bungkusan nasi ditambah lagi, kerja-kerja memasak semakin bertambah dan memenatkan, melebihi kenduri kawin, cumanya, Alhamdulillah petugas semakin ramai, ahli-ahli PAS cawangan Seri Damai turut datang membantu terutama muslimat.


Sebelah petang saya menerima panggilan daripada Ust Husni, beliau terperangkap dan berada di tingkat atas rumahnya, antara jelas dan tidak jelas beliau memaklumkan bahawa ada seramai lebih 300 orang mangsa yang berada di Masjid Sungai Damai, dari semalam belum makan. ya Allah, sedihnya rasa, saya dan rakan-rakan segera memasak lagi untuk mereka, setelah siap dibungkus, saya menghubungi rakan Unit Amal untuk menggunakan bot, tapi malangnya mereka berada di Teluk Mahang untuk memindahkan mangsa dan sememangnya bot awam tidak dibenarkan untuk beroperasi oleh pihak bomba pada waktu malam, sementelah lagi, baru sahaja ada dua orang anak beranak yang mati lemas disitu. kami sampai di Permatang Badak seusai solat maghrib, memohon jasa baik bomba, namun sepertinya keberatan, macam-macam alasan, alasannya baik tapi mengecewakan, mujurlah ada seorang lelaki yang baru saya kenali pada malam itu, dia ‘lelaki bermulut laser’, setelah saya ceritakan padanya, lalu dia segera bertemu dengan pihak bomba, entah apa yang dileterkannya, pihak bomba bersetuju untuk membawa saya kesana, dia tak kenal saya, begitu juga pihak bomba dan saya pun tak pernah kenal mereka.


Kami memunggah nasi kedalam bot bomba, bersama saya juga seorang lelaki yang membawa banyak bekalan makanan, beliau dari K.L … Beliau membawa makanan untuk Ibu Bapa dan keluarganya yang berada di Penempatan Sg Isap setelah dimaklumkan mangsa menghadapi masaalah dengan bekalan makanan, beliau dah sampai disitu sejak jam 2.00 petang lagi, beberapa kali beliau minta tolong dengan pihak bomba dan pertahanan awam untuk diizinkan bealiau menaiki bot bomba untuk menghantar makanan, tapi hampa. Kami dibawa dengan bot bomba yang besar, tetapi hanya lima orang sahaja yang dibenarkan untuk naik, saya turut naik bersama seorang rakan dan lelaki tersebut, bersama dua orang pihak bomba, bot melalui Permatang Badak, saya bertanya kepada pihak bomba “kenapa melalui jalan ini, jauh, kenapa tak melalui laluan biasa, lebih jelas dan mudah”, dia diam dan meneruskan perjalanan. Saya pun diam kerana menganggap bahawa dia dah tahu jalan tu, sebab dia dah dua hari bertugas”. Bot besi yang begitu besar bergerak perlahan, sesekali tersangkut pokok-pokok menjalar, hingga ada ketikanya kami terpaksa turun untuk menolak bot.


Agak mengecewakan apabila bot yang dah hampir sampai ke jambatan permatang badak tidak dapat meneruskan perjalanan, saya dimaklumkan kipasnya pecah, terkena jalan, tidak dapat dibayangkan betapa kecewanya saya, terbayang-bayang wajah yang saya kenali, sedang menunggu makanan daripada kami di Masjid Sg Isap Damai. Kami terpaksa bantu pihak bomba menolak bot untuk kembali semula ke Simpang Permatang Badak, tempat mula kami bergerak, hampir satu kilometer kami terpaksa menolak bot besi yang begitu besar, nak patah pinggang rasanya bila ada ketikanya terpaksa mengawal bot agar tidak hanyut bila bertembung dengan arus deras. Sabar dan terus sabar dan terus tolak, akhirnya sampai juga semula ke Jalan Besar, saya diminta agar memohon pertolongan dengan pihak bomba yang lain di Simpang Sungai Isap pula, terpaksa pulak punggah semula makanan dan barang-barang kedalam lori untuk dibawa ke Simpang Sungai Isap.


Pihak bomba bersetuju untuk menghantar dengan bot yang lebih kecil, ketika baru nak memulakan perjalanan, datang pulak sorang Ketua Pemuda Bahagian UMNO, saya lihat dia buat pengarahan pada pihak bomba, bomba pulak sepertinya bekerja untuk dia, saya bagitahu padanya supaya diberikan keutamaan pada saya untuk menghantar makanan ke Sungai Isap Damai, saya ceritakan padanya tentang keadaan mangsa disana yang dah tak makan nasi selama dua hari..”Ok lah YB , YB pergi hantar dahulu”, saya pun tak pasti apa akan berlaku jika saya tiada disitu, namun saya dah tak berdaya, cuma arahkan anak buah saya Ust Afif untuk mewakili saya, saya dimaklumkan oleh anak buah saya, bahawa nak sampai ke Masjid Sg Isap Damai pun pihak bomba singgah di tempat lain beberapa kali, hinggakan makan masa hampir sejam setengah untuk sampai ke Masjid Sg Isap Damai, dah lah tolak bot dan punggah semula barang tadi dah makan masa hampir dua jam, sangat menyakitkan hati. Bot bomba, tentera, pertahanan awam, polis berlambak-lambak dalam negeri Pahang, semuanya dibeli dengan cukai rakyat kenapa tak digunakan untuk membantu rakyat di Sg Isap, hinggakan sebiji bot bomba terpaksa buat berpuluh-puluh kerja?.


Begitu juga dengan bekalan makanan, mengapa masih tak mencukupi, apakah pihak tentera, polis atau mana-mana agensi yang memiliki kemudahan untuk memasak, tak boleh nak masak dan dihantarkan ke situ?, kenapa masih mengharapkan pihak JKKK untuk memasak di pusat penempatan dalam keadaan kelengkapan yang agak minima, dah la tu rumah JKKK pun tenggelam air juga, pastinya dia pun kelam kabut juga, pastu pulak sesetengah tu dok pelihara syaitan, hinggakan dalam keadaan begitu pun masih nak berdendam dengan orang PR hinggakan berlakunya sikap dikriminasi. Lebih kurang jam 12 malam, saya terima SMS “terima kasih ustaz, nasi dah sampai, inilah nasi yang pertama kami makan sejak semalam”, ngalir jugak air mata lelaki saya, bukannya apa, dok fikirkan kasihan kat anak-anak kecil, cuba kalau kena kat anak-anak kita sendiri, apa perasaan?, kalaulah sekiranya kelambatan dan kelemahan pengurusan banjir ini adalah berpunca dari sikap balas dendam kerajaan kepada PR, apa yang saya boleh katakan “memang mereka ni sepertinya takde hati perut lansung” …….


Pada pagi 4 Dis, saya pulang dari batu 3 dengan mengharung air ke Kampung Seri Damai, sebak dada melihat Masjid Al Fatah yang sebahagian besarnya ditenggelami air, lebih sebab disepanjang berjalan kaki melihat ribuan manusia berada dijalanan, ada yang menangis, ada yang kelihatan tenang, ada yang kelihatan tension, pelbagai wajah kelihatan. Saya sempat bertanya dengan beberapa orang “kenapa tidak berada di penempatan” ada yang menjawap “dari semalam tak dapat makan-makan lagi, sebab tu mereka keluar juga, moga-moga dapat cari kedai untuk membeli makanan”, tapi malangnya semua kedai tutup, kelihatan semuanya mundar mandir, ada juga yang memang dihantar ke situ kerana pusat penempatan penuh, menunggu arahan dari pihak bomba, kasihan sungguh …akhirnya saya sampai juga kerumah dengan menumpang sebuah motorsikal di Permatang Badak, tiada apa difikirkan kecuali saya mesti segera membantu.


Saya tidak memikirkan untuk melawat pusat penempatan, kalau saya pergi dengan tangan kosong hanya akan menambahkan kesedihan sahaja, apatah lagi banyak sms yang diterima, mereka mengadu kelaparan, tidur atas simen, anak-anak tiada pampers dan macam-macam. Bagi saya, saya mesti cuba selesaikan apa yang penting dahulu, mereka lapar, anak-anak kecil kelihatan menangis mungkin kelaparan, tak berguna kalau saya hanya sibuk berkeliaran di Pusat Penempatan untuk tunjuk muka, tetapi hanya sekadar jual muka semata-mata tapi tak dapat menolong, lebih baik saya berbuat sesuatu yang dapat ringankan beban mereka. Dua orang pembantu yang mengikuti saya kata “nanti apa kata orang, kalau ustaz tak pergi pusat penempatan” .. saya kata “takpe, kita buat yang penting dulu dan buat sesuatu kerana Allah swt, bukan manusia, yang penting ikhlaskan diri, nanti Allah swt sendiri akan bagitahu kepada mereka”. Kalau sekadar nak tunjuk muka, baik saya berdiri je kat tepi jalan, simpang masuk ke Sg Isap tu, tapi apa kerja pun tak jadi, dah la rakan-rakan jadi mangsa banjir, takkan saya yang mampu bergerak dan mengatur kerja, nak tercegat je, konon tunjuk muka .. rasanya kalau sekadar nak tunjuk muka je kat tepi jalan, sama je taraf saya dengan tiang letrik kat tepi jalan Sungai Isap tu, tercegat je, tapi takde faedah lansung.


Tanpa bertangguh sesampainya di rumah saya segera ke Pasar Ikan Jaya Gading, Alhamdulillah jalan kerumah saya telah boleh dilalui, agak menghairankan sebenarnya, sebab kebiasaannya air banjir di Kampung saya agak sukar untuk surut, tetapi kali ini, ianya surut dalam masa sehari, ini memudahkan saya untuk berulang alik kepasar. Saya kerahkan seluruh keluarga saya untuk turut membantu, juga Ustaz-ustaz kat Darul Fikri, kami memasak sebanyak yang boleh, selesai memasak kami hantarkan kepada penghuni jalan di Sungai Isap, sedihnya bila lihat mereka berebut-rebut, kemudian masak lagi, hantar lagi, masak lagi, hantar lagi, masak lagi tak henti-henti hingga malam, hantar sebanyak mungkin makanan yang boleh. Lauk tak kira dah, asalkan boleh alas perut. Bantuan masih belum datang, gunakan segala duit yang ada untuk beli barangan basah, panggilan talipon dari seluruh negara hampir menyebabkan saya tak boleh berbuat apa-apa, kerja nak jawap talipon je, tangan kanan pegang senduk, tangan kiri pegang talipon, tak jawap tak boleh, kerana itulah cara untuk saya dapatkan bantuan luar.


Saya mencuri ruang masa untuk menghubungi sahabat-sahabat seluruh negara untuk mendapatkan bantuan, disamping saya update perkembangan semasa dalam FB, Alhamdulillah bermula dari petang 5 Dis, bantuan mula datang dan mencurah-curah setiap hari, rombongan yang pertama datang menghantar bantuan ialah daripada Temerloh. Ma’had Tahfiz Darul Fikri menjadi sangat sibuk selepas itu dengan kehadiran ratusan petugas dan kenderaan keluar masuk untuk menghantar bantuan makanan dan sebagainya. Sms masih lagi bertalu dengan aduan dari pusat penempatan terutama di Sungai Isap, Tanah Putih dan SK Chun Ching, semua peti undi di tempat ini telah dimenangi oleh PAS pada PRU yang lalu. Terlalu banyak aduan atas sikap diskriminasi ketua kampung dan JKK yang mengetuai pusat penempatan, saya akan dedahkan pengakuan mangsa nanti. Begitu juga dengan jentera kerajaan yang terlalu maksima untuk membantu mangsa dalam banjir yang begini besar, apakah ini adalah balas dendam terhadap kawasan-kawasan yang dikuasai oleh PR ?…


Pada pagi 3 Dis, saya dah rakan-rakan Unit Amal Kuantan termasuk Ayah Ngah (Imam Masjid Al Fatah) memulakan kerja-kerja memasak, jentera PAS Tanjung Lumpur kebanyakkannya sudah tidak dapat bersama kerana rumah mereka telah dinaiki air terutama yang tinggal di Sungai Isap dan Tanah Putih, ada sebahagian dari mereka telah berpindah ke Pusat penempatan mangsa banjir, tak mungkin mereka dapat membantu saya, jalan untama ke Rumah saya pun dah dinaiki air ke paras pinggang, namun saya keluar juga mengharung air ke Masjid Al Fatah untuk bersama dengan Unit Amal memasak untuk mangsa banjir. Sewaktu kami mula memasak air diperkarangan Masjid Al Fatah hanya separas buku lali, air begitu cepat naik, hinggakan api dapur gas yang digunakan untuk memasak terpadam beberapa kali akibat dinaiki air, bila padam kami alas dengan batu, terpadam lagi, alas lagi, entah berapa kali terpadam dan kami alas lagi dengan batu sehinggalah siap membungkus lebih kurang pukul 3.30 petang, ketika itu air didalam Masjid Al Fatah telah pun hampir mencecah paras pinggang. Hari tu kali pertama saya solat zohor dalam air bersama Ust Yusof Embong (Tim Pesuruhjaya PAS Pahang)


Saya dan rakan-rakan menghantarnya ke penempatan Sekolah Sg Isap Taman Murni dengan menaiki bot, saya terus ke kantin sekolah, bertemu dengan Dato Tengku Zul (calon BN yang menentang saya waktu PRU 13 baru ni), kami berbual seketika, bertanya khabar dan perkembangan semasa berkaitan banjir, mungkin beliau adalah ketua operasi penempatan mangsa banjir, saya balik dan berjanji untuk membantu menghantar bantuan makanan ke Pusat tersebut. Selesai menghantar makanan, kelihatan air semakin naik dengan mendadak, hari semakin malam, kebetulannya pulak malam tersebut air pasang besar, saya minta Ust Saharudin menghantar saya balik, bimbang juga kat Isteri dan anak-anak yang masih kecil, namun jalan kerumah saya telah dipenuhi air hingga keparas dada dengan arus yang sangat deras, pihak bomba tidak membenarkan sesiapapun melalui jalan tersebut, memang begitulah keadaan di Kampung saya hampir setiap tahun. Talian talipon pulak agak terganggu, bila tanya isteri keadaan dirumah, entahlah dengar tak dengar, bunyi macam ok jer, saya pun berpatah balik, lupakan soal mereka.


Malam tu saya tinggal di Pondok Pemuda Al Kalthumiah, bt 3, panggilan talipon hampir tak henti-henti dari rakan-rakan jamaah, terutama dari Sungai Isap, ada yang terperangkap, ada yang minta tolong ambil mereka dan macam-macam lagi, untuk berjalan kaki ke Sungai Isap dah tak boleh, bot yang digunakan oleh Unit Amal terpaksa pergi membantu mangsa, bukannya sekejap, apatah lagi di tengah malam yang gelap diiringi pula oleh hujan lebat, jalan dah terputus, rakan-rakan dari Kempadang dan sebelah Tanjung Lumpur tidak dapat membantu kerana terputus hubungan, Tanjung Lumpur pula dinaiki air pasang, Sg Soi dan Kempadang pun dinaiki air juga, buntu juga saya dibuatnya untuk mendapatkan tenaga membantu saya. Semua jalan untuk ke Kuantan terputus, sedihnya bila baca sms rakan yang mengharapkan pertolongan, tiada apa yang boleh saya lakukan dalam keadaan begini kecuali perbanyakkan berdoa. Tamparan hebat bagi saya bila semua jentera PAS dan Unit Amal tidak dapat membantu saya kerana kesemua rumah mereka telah dinaiki air termasuk rumah Ust Saharudin (Pengarah Jab Amal Negeri), beliau juga berpindah, bawa lari isteri dan anak-anaknya, saya terputus hubungan dengannya selama dua hari disebabkan tiada line talipon, saya pun tak tahu beliau dimana, entahkan hidup atau mati.


Malam tu tak lena tidur, namun dek keletihan terlelap juga seketika di Pondok Pemuda, tapi tak boleh lama, baru nak terlelap, air naik membasah tubuh, lari pula ke tempat lain, pun serupa juga, akhirnya dah tak de tempat boleh tidur, tunggu je la sampai pagi sambil memikirkan apakah tindakan yang akan dibuat esok , saya menghubungi pihak bomba dan polis untuk bertanya tentang perkembangan semasa, namun takde jawapan lansung, kecewa juga saya dibuatnya. Saya mengharapkan dalam keadaan begini sepatutnya pihak keselamatan ‘all out’ untuk membantu rakyat, dengan segala kemudahan yang mereka ada hasil dari cukai rakyat, mereka boleh gunakan segala jenis kenderaan darat, air dan udara untuk membantu rakyat, bukannya selalu pun, apalah salahnya gunakan helikopter untuk selamatkan mangsa yang terperangkap dan mengapa dalam keadaan banjir yang begini besar, bot yang digunakan untuk membantu mangsa hanya boleh dibilang dengan jari sahaja, dah habis ke bot dalam negeri Pahang ni, saya sempat bertanya kepada anggota bomba dan pertahanan awam, kenapa hanya sebanyak ini sahaja bot yang digunakan?, jawapannya ‘tiada arahan menyeluruh’ , jika benar tiada arahan menyeluruh ertinya kerajaan tidak all out untuk membantu mangsa, kerajaan apakah ini ……..


Musim tengkujuh dah mula berlabuh, memang saya agak risau juga, takut-takut banjir besar akan berlaku, rupanya apa yang saya bimbangkan benar-benar terjadi. Saya dan Unit Amal Kuantan sememangnya dah menubuhkan jawatankuasa untuk persiapan menghadapi kemungkinan banjir, memang setiap tahun pun kami begitu semenjak tahun 2001 lagi, selepas banjir besar di Sungai Isap. Masa tu memang kelam kabut dibuatnya, kami tiada persediaan, sebab tak pernah berlaku dan lansung tak terduga ianya akan berlaku di Sungai Isap, saya memegang jawatan sebagai ketua Dewan Pemuda PAS Kaw Paya Besar, masa tu Sungai Isap berada di dalam DUN Penur yang dimenangi oleh PAS, banjir naik dengan mendadak, rumah saya di Kampung Seri Damai juga dinaiki air separas pinggang, namun bila dengar keadaan yang buruk di Sungai Isap, saya segera turun untuk membantu.


Air mula naik sebelah pagi, saya sampai di Taman Guru hampir waktu asar, orang dah ramai kat Masjid Al Hidayah Batu 5, semua mereka belum makan sejak pagi, saya dan beberapa orang rakan dok bincang macamana nak masak, maklum tiada persediaan, nak pergi beli makanan bukannya senang, dalam keadaan jalan dah dipenuhi air, kereta pulak jem dan banyak yang tersangkut tengah jalan, agak sukar nak pergi, nak jalan kaki, jauh la pulak, nak menghala ke Kuantan dah tak boleh, dalam keadaan begitu saya ternampak sebuah ambulan, saya menahannya dan minta tolong dengan pemandu ambulan supaya bawa saya ke pasaraya di Taman Tas untuk membeli bahan makanan, agak lucu juga, saya beli mee hon, dapur, gas, kuali dan bahan-bahan memasak dengan menaiki ambulan, masa balik dari pasaraya, pemandu memasang siren kecemasan agar kami cepat sampai, kami memasak di Markas Taman Guru, walaupun air dah naik tapi kami tetap juga goreng mee hon “mee bodo” je, kasihan kat orang, terutama kanak-kanak yang dah lapar.


Keadaan yang hampir sama juga berlaku pada banjir 2013 baru-baru ni, apa yang berlaku diluar jangkaan, saya tak menduga banjir kali ini begitu besar dan cepat, dah la tu, meliputi pulak seluruh Kuantan, hingga melibatkan hampir semua rumah anggota Unit Amal dan jentera PAS Kuantan. Pada 2 Dis baru ni, saya sepatutnya berkuliah di Jerantut, saya bertolak ke Jerantut lebih kurang jam 5.30 petang, ketika itu hujan lebat, hati sentiasa berdebar-debar takut berlaku banjir, ketika saya sampai di Gambang, melihat hujan begitu lebat dan tidak henti-henti saya mengambil keputusan untuk berpatah balik. Saya pulang kerumah untuk solat maghrib dan menukar pakaian, terus ke Sg Isap dan memang betul, apa yang saya resah kan betul-betul terjadi, air dah mula melimpah masuk kedalam rumah terutama di Sg Isap Damai, malam tersebut saya dan rakan-rakan sempat untuk membantu 2 keluarga di Sg Isap Damai untuk berpindah.


Setelah itu saya ke Tanah Putih untuk meninjau keadaan disana, Alhamdulillah sahabat-sahabat pemuda dan Unit Amal bertindak pantas untuk mengawasi jalanraya agar kenderaan melalui jalan alternatif kerana jalan di Tanah Putih sebelum jambatan Sungai Kuantan telah dipenuhi air dan tidak selamat untuk dilalui, saya turut sama membantu sehingga tengah malam, saya , Ust Sahrudin (pengarah Jab Amal Negeri Pahang) dan anggota Unit Amal Kuantan berkumpul pula di Masjid Al Fatah untuk perbincangan persiapan seterusnya sehingga lah kami segera ke Kg Kurnia kerana telah dimaklumkan air naik dengan mendadak disana, kami sempat membantu memindahkan sebuah keluarga ke PASTI Al Fatah .. hampir pagi barulah kami pulang kerumah masing-masing. Pada esoknya 3 Dis seawal pagi kami telah berkumpul di Masjid Al Fatah untuk memulakan kerja-kerja memasak setelah dimaklumkan telah ramai mangsa yang berpindah ke penempatan mangsa banjir, tiada lain yang difikirkan kecuali kebimbangan apa yang berlaku pada tahun 2001 itu berulang, takut mangsa kelaparan, kalau masa tu mungkin saya tidak dipersalahkan, cuma mungkin rasa bersalah kalau tak membantu, tetapi 2013 saya bukan lagi ketua pemuda tapi saya adalah YDP PAS Kuantan yang juga sebagai ADUN, saya mesti berusaha sedaya upaya untuk membantu rakyat dan pengundi saya.


Masa yang berbaki beberapa jam untuk menunggu pagi 3 Dis lansung tidak melelapkan mata, kalau dulu, waktu muda-muda, masa sedang segak, banjir adalah kegembiraan bagi saya, maklum takde tanggung jawap, apa yang saya fikirkan ialah mengatur strategi untuk menahan pukat, memasang ‘taut’, meredah hutan memburu ikan baung dan tapah kat dalam hutan belakang rumah saya. Bila musim banjir memang lumayan, seronok dapat ikan sungai, besar-besar pulak tu, orang kena banjir, itu dia punya pasal, saya tak fikir pun pasal orang, maklum ‘tengah tolol’. Bila ingat-ingat ‘bodohnya aku’, serupa je macam memerang yang dok cari ikan sampai lupa kesusahan orang lain, sedangkan kalau saya susah bukan ikan-ikan tu yang menolong saya, malahan manusialah yang akan menolong saya, doa dan solatkan jenazah saya bila saya mati, cari ikan tak salah, tapi kalau sampai tak tolong orang dalam kesusahan rasanya susah sikit nak menjawap di hadapan Allah swt bila mati nanti, apatah lagi kalau dah jadi wakil rakyat, terpaksalah lupakan semua kesukaan saya, sebab PAS Tanjung Lumpur menang bukan dengan sebab undi dari ikan tapi rakyat.


Ustaz Rosli ialah Adun Tanjung Lumpur, Kuantan.


Article source: http://www.merdeka.com/dunia/kian-sukses-jadi-musisi-setelah-masuk-islam.html


Tanjung yang berlumpur

Thursday, September 19, 2013

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

REPUBLIKA.CO.ID, Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.


Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.


Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.


“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.


Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.


Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.


Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.


“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.


Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.


Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).


Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.


Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.


Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.


Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).


Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.


Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.


Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.


Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.


Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.


“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/09/juwita-bahar-pelit-bicara-soal-pacar-takut-direbut-cewek-lain


Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'