Showing posts sorted by relevance for query gigi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query gigi. Sort by date Show all posts

Friday, August 9, 2013

Jadi Dokter Berjilbab di AS, Ranti Tak Lelah Lawan Diskriminasi


Ranti Aryani dan suaminya, Richard J Bennett Jr.

Jakarta – Pengalaman drg Ranti Aryani, didiskriminasi karena memakai jilbab dialami lagi saat dia memutuskan mengikuti program praktek pasca kelulusan pendidikan penyetaraan kedokteran gigi dari New York University (NYU). US Air Force (Angkatan Udara AS) menjadi pilihan praktiknya. Di lembaga ini Ranti mengalami ironi di negara demokrasi.

Karena alasan bergengsi dan bagus untuk mengembangkan skill praktek kedokteran gigi yang dimilikinya, Ranti mendaftar ke Angkatan Udara AS ini. Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab. Ranti mengajukan syarat bila diterima, dia minta diizinkan tetap memakai jilbab.


Setelah mengalami penolakan dari rekruter di AU AS, akhirnya AU AS menerima Ranti. Seorang rekruter mengatakan hak Ranti dijamin oleh peraturan dari Kementerian Pertahanan AS (Departmen of Defence/DOD), DOD 13000.17 yang menjamin praktik keagamaan di angkatan bersenjata AS. Sang rekruter mengatakan hijab bukan menjadi masalah.


“Peraturan DOD itu turun karena dulu ada Kapten Yahudi yang memakai yarmulka (penutup kepala pria Yahudi). Nah bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada masalah jilbab yang muncul. Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” kisah Ranti mengenang awal masuknya dia ke AU AS, Juli 2003 itu ketika ditemui detikcom di Jalan Puter 1, Bintaro Sektor 5, Jakarta dan ditulis Jumat (9/8/2013).


Namun, jaminan sang rekruter yang mengatakan jilbab tak masalah ternyata jauh berbeda dalam praktiknya di lapangan. Saat itu pasca 9/11 pada 2001, Islamofobia dan stigma Islam adalah agama kekerasan masih melekat kuat di benak warga AS, baik di kalangan sipil maupun militer.


“Niat pemerintah mengakomodir, tapi interpretasi di lapangan itu agak sulit. Kalau melihat kembali, pengalaman mengakomodir jilbab ini AS baru berusaha karena masih ada trauma nasional 9/11. Saya masuk setelah 9/11, misinterpretasi di AS itu masih banyak sekali. Saat 9/11, media menampilkan di beberapa bagian di dunia muslim malah bergembira ria, padahal saya saat itu sangat sedih sekali. At that point, I understand why they being careful (Pada titik itu saya bisa mengerti mengapa mereka berhati-hati),” jelas perempuan kelahiran Bogor, 1 April 1972 ini.


Pandangan berbeda sudah dia terima sejak mendaftar ulang di AU AS di Lanud Maxwell, Montgomerry, Alabama. Ranti yang berjilbab ditemani suaminya, Richard G Bennett Jr untuk melakukan daftar ulang. Saat itu Ranti sudah diterima di AU AS, sebagai dokter gigi tentara berpangkat kapten.


“Kantor yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. Mereka memandang saya, up and down, up and down. Oh my God,” kenang Ranti sambil menganggukkan kepalanya memperagakan reaksi di AU AS pertama kali.


Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang. Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatan masuknya, tidak diizinkan membeli seragam tentara kalau tidak menanggalkan jilbabnya. Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan namun harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan.


“Dan mereka tahu saya tidak akan melakukan itu. Untuk buka tutup itu saya pernah alami. Dan saya ingat bagaimana labilnya saya ketika buka tutup jilbab itu, bukan pengalaman yang mengenakkan. Opsi seperti ini saya khawatir jangan-jangan malah saya yang berniat naik turun untuk membuka jilbab daripada menetapkan niat saya dan berlanjut dengan pekerjaan saya,” tegas Ranti.


Dia juga tak diberitahu ada hak-hak yang bisa didapatkannya dari AU AS, fasilitas yang menjadi haknya dikurangi. Ranti lantas menyusun argumen demi argumen, dokumen demi dokumen dan mengadukan perlakuan diskriminasinya sesuai garis komando, mulai dari komandan pangkalan hingga ke Pentagon, AS. Ranti juga mengadukan perlakuan yang diterimanya ke senator, salah satunya Hillary Clinton.


Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya, dan menunjukkannya bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Di sela-sela menunggu ketidakpastian akan nasibnya yang hendak diputuskan, Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.


“Alhamdulillah semua teman-teman satu kantor, kolega, bawahan, atasan saya, kolonel, letkol, semua kolonel pangkalan secara individual itu mereka percaya persamaan HAM. Itu bagian kultur mereka untuk tidak diskriminasi. Walau sulit, saya banyak dukungan moril kan mereka tahu prinsip mereka tentang kesetaraan. Ini memang masalah kultur militer ya, agak rigid, with or without jilbab problem,” jelas Ranti.


Dalam satu prosesnya, Ranti didampingi pengacara dari AU AS. Kendati demikian, 2 dari 3 pengacara malah menyarankan Ranti untuk menerima keputusan AU AS agar dirinya mengundurkan diri daripada memperjuangkan hak-haknya.


Saat menghadapi diskriminasi itu, Ranti yang seorang salik atau pejalan spiritual yang menempuh jalan sufisme, selalu berkomunikasi dengan Sang Khalik atas segala keputusan yang hendak diambilnya. Puncaknya adalah keputusan final yang membuatnya dikeluarkan secara terhormat ‘Honorable Discharge’, tingkat penghentian tertinggi dalam angkatan bersenjata AS, setelah ‘General Discharge’ (dikeluarkan karena alasan yang biasa) dan ‘Dishonorable Discharge’ (dikeluarkan dengan tidak terhormat).


Ranti tak terima karena alasan penghentiannya adalah ‘unsatisfactory performance’ atau performa kinerja yang tidak memuaskan dan tidak kompeten. Dia menilai performa kerjanya dalam merawat gigi tentara AS sangat memuaskan dengan menangani 3 ribu pasien.


Belum lagi dia mendapati bahwa keputusan final yang diteken 5 jenderal AU AS, 4 di antaranya ternyata mengizinkan Ranti memakai jilbab dan 1 jenderal lainnya yang paling senior, Wakil KSAU, memveto keputusan 4 jenderal lainnya.


Setelah perjuangan selama 14 bulan melawan diskriminasi di AU AS, Ranti akhirnya mundur dari AU AS. Ranti mendapati dirinya mengalami ironi di negara pelopor demokrasi di dunia itu. Di sisi lain, tentara AS yang bertugas di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Irak, malah diwajibkan memakai burqa untuk menghormati kultur setempat.


Pernah ada tentara Kristen yang menggugat pemakaian burqa ini karena tak sesuai dengan agamanya dan dikeluarkan. Ranti tak menggugat putusan AU AS itu ke pengadilan karena dirinya sadar dia berhadapan dengan birokrasi raksasa yang digdaya. Yang penting, ikhtiar sudah dijalankan dengan maksimal dan Ranti cukup senang di kalangan jenderal yang lebih muda sudah terbuka pikirannya akan jilbab. Ranti yakin, suatu saat jilbab dan simbol keagamaan lain akan diizinkan dipakai di angkatan bersenjata di negara demokrasi itu, hanya masalah waktu.


“We can hope alot from younger general, mereka sudah open, just waiting that old habit changing giving new world,” tutur Ranti.


Dalam kehidupan dunia, Ranti merasa ini adalah titik terendahnya. Di saat yang sama, inilah titik terdekatnya dengan Yang Maha Pencipta secara spiritual.


“Saya honorable discharge, sampai sekarang US Air Force (USAF) tidak pernah minta maaf pada saya, tapi saya tidak butuh US AF minta maaf karena saya maafkan semuannya. USAF titik terendah saya sebagai seorang profesional, secara spiritual titik tertinggi saya dengan Allah. Saya tak butuh maaf mereka,” kata Ranti.


“Itu bagian dari melakukan usaha dunia kita, sementara dalam hati, kita berserah diri pada Allah. Kita meminta keadilan dari Allah, kita tak bisa bergantung pada dunia ini, kita bergantung pada Allah,” tutur Ranti.


Ranti akhirnya menjadi dokter gigi sipil, berpraktek dari satu klinik ke klinik lain. Perjuangan belum selesai, karena di dunia sipil pun Ranti bergelut dengan diskriminasi. Dukungan sang suami yang menguatkan dalam jalan rohani membuat Ranti ulet berjuang dengan diskriminasi dengan cara yang elegan.


Bagaimana situasi jalur mudik di jalur Selatan Jawa Barat dan Jalur utara Jawa Timur, saksikan di Reportase Pulang Kampung pukul 22.00 WIB Hanya di Trans TV


(nwk/rmd)







Article source: http://www.tabloidbintang.com/extra/61811-film-tentang-cinta-beda-agama,-kenapa-terus-dibuat.html


Jadi Dokter Berjilbab di AS, Ranti Tak Lelah Lawan Diskriminasi

Saturday, August 17, 2013

Ranti Aryani, drg: Menjadikan Jilbab Sebagai Jalan Hidup

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul


Diskriminasi atas jilbab tak mengurungkan tekad Ranti untuk tetap menutup aurat.


Wanita asal Bogor yang kini tinggal di Amerika Serikat, Ranti Aryani, masih mengingat wajah dai sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, Mama’ Abdullah bin Nuh. Wajahnya cerah.


Tatapan matanya tajam dan teduh. Hingga saat ini tak bisa aku lupakan pancaran matanya yang cerah dan memukau itu,” tulis Ranti dalam biografinya, In God We Trust, Ranti Aryani Merentang Jilbab dari Indonesia sampai Amerika.


Ranti memiliki kesan tersendiri ketika mengikuti pengajian Mama’. Dia pernah dipanggil Mama’ langsung. Mama’ pernah berpesan agar rajin mengaji selagi masih muda. Mama’ juga mendoakan Ranti agar menjadi wanita salihah.


Pada suatu malam, Ranti memimpikan Mama’ mengenakan jubah terbaiknya yang bersiap menaiki kapal layar. Mama’ berpaling dan tersenyum simpul kepada Ranti di suatu dermaga.


Jangan sedih, Mama’ tidak meninggal,” pesan Mama’ dalam mimpi Ranti. Kemudian, Ranti terbangun. Dilihatnya sekeliling rumah tempat Mama’ tinggal penuh dengan bendera kuning, tanda Mama’ meninggal dunia.


Ranti banyak mendapatkan pengetahuan agama dari Mama’. Salah satu yang didapatnya adalah kewajiban menutup aurat.


Ranti kemudian bertekad untuk terus berjilbab ketika tampil di tempat umum. Hal ini bukanlah mudah. Ada saja rintangan yang dihadapi untuk menguji konsistensinya berjilbab.


Ranti mengenal jilbab sejak usia remaja. Jilbab dinilainya sebagai ketakwaan. Dia berjilbab sejak menjadi siswi SMPN 4 Bogor.


Ketika itu, anak-anak kerap memakai jilbab dari rumah. Kemudian, melepasnya ketika di sekolah. Ranti melakukan hal sama. Ketika itu, ada peraturan murid harus berseragam sesuai dengan yang ditetapkan.


Diskriminasi

Setamat SMP, Ranti terus berjilbab. Ketika menjadi siswa SMA 1 Bogor, dia tetap menutup rambutnya. Di sekolah itu, diskriminasi yang dialami semakin nyata.


Kepala sekolahnya memberikan pilihan, melanjutkan sekolah atau berjilbab di sekolah lain. Guru-gurunya mencap Ranti dan para sahabatnya sebagai pemberontak karena tak mematuhi aturan berseragam. Hasilnya, Ranti dikeluarkan dari sekolah.


Ranti dan kawan-kawannya yang berjilbab, Hepti dan Sari, harus berjuang mempertahankan idealisme. Berjilbab adalah kewajiban. Berjilbab tidak mengurangi, bahkan menambah keindahan dan kecantikan wanita.


Baginya, ada nilai yang terkandung di dalam jilbab. Jilbab adalah jalan hidup sebagai muslim. It is a way of life,” jelas Ranti kepada Republika, Senin (5/8).


Dengan bantuan orang tuanya, juga orang tua sahabatnya yang senasib, Ranti dan kawan-kawan dibantu lembaga bantuan hukum menggugat sekolahnya ke pengadilan atas perlakuan diskrimantif itu.


Setelah persidangan berjalan enam bulan, wali kota Bogor hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turun tangan, pihak sekolah bersedia berdamai dan mengakomodasi keinginan Ranti dan teman-temannya melalui musyawarah. Gugatan pun dicabut.


Menikah


Ranti bersuamikan seorang Muslim AS, Richard J Bennett Jr. Pria itu menikahi Ranti pada 5 Januari 1996. Ranti dan Rich tinggal di Amerika. Di sana, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Moestopo ini melanjutkan pendidikan penyetaraan di New York University (NYU).


Setelah lulus dari universitas itu, Ranti mengikuti program praktik residensi selama beberapa tahun. Dari beberapa klinik, Ranti memilih berpraktik menjadi dokter gigi di Angkatan Udara Amerika Serikat, tepatnya di Lanud AU AS Maxwell, Alabama. Saya memilih tempat itu karena praktik dokter gigi di sana dikenal paling bagus,” jelasnya.


Tetap berjilbab


Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab di lingkungan Angkatan Udara Amerika Serikat.


Ranti mengajukan syarat, bila diterima dia minta diizinkan tetap memakai jilbab. Perekrut Ranti sempat menolak, tapi kemudian ada perekrut lain yang berani menjamin Ranti.


Dia menceritakan, dulu ada kapten Yahudi yang memakai yarmulka atau penutup kepala pria Yahudi. Nah, bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada jilbab yang muncul.


”Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” jelasnya. Sayang, ternyata pengalaman pria Yahudi itu tidak sama seperti Ranti. Ketika itu, islamfobia berkembang pesat karena dibomnya menara kembar pada 11 September.


Namun demikian, Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang.


Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatannya. Tidak diizinkan membeli seragam tentara bila tidak menanggalkan jilbabnya.


Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan, tapi harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan. Opsi seperti ini dikhawatirkannya karena mengganggu konsistensinya dalam beragama.


Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya dan menunjukkan bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.


Kini, Ranti membuka praktik sendiri di Amerika Serikat. Ranti berperan sebagai dokter gigi. Sedangkan, suaminya berperan sebagai asisten. Selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi,” jelas Rich. Dia kemudian berpesan kepada istrinya agar bersabar dan selalu melawan nafsu amarah.



Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Ranti Aryani, drg: Menjadikan Jilbab Sebagai Jalan Hidup

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Thursday, December 19, 2013

Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Berita Terkait



  • Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?

    Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?


  • Ternyata ayam masih bisa tumbuh gigi!


  • 3 Faktor yang buat manusia seakan merasakan keberadaan hantu

Merdeka.com – Sebuah prasasti berusia 900 tahun ditemukan di sebuah biara di Sudan. Di dalam prasasti itu, ditemukan beberapa rahasia yang terkuak, di antaranya adalah adanya tujuh jasad yang jadi mumi secara alami.


Seperti yang dilansir oleh LiveScience (17/12), biara yang jadi situs penemuan ini dulunya terletak di Kota Tua Dongala. Dulu, kota itu merupakan ibukota sebuah kerajaan besar bernama Makuria yang makmur di sepanjang lembah Sungai Nil.


Makuria sendiri adalah kerajaan Kristen yang berdiri sekitar satu milenium yang lalu atau sekitar tahun 1000-an masehi. Kala itu, Makuria menjalin hubungan baik dengan Kekhalifahan Islam yang letaknya berada di utara.


Adapun dalam prasasti itu disebutkan bahwa salah satu mumi merupakan jasad dari Uskup Agung Georgios, yang diduga merupakan pemuka agama paling kuat pada masanya di sana. Kesimpulan ini dibuat karena identitasnya tertulis di batu nisan dengan tanggal kematian 1113 Masehi dan wafat saat berusia 82 tahun. Selain jasad Uskup Agung Georgios, juga ditemukan enam jasad lain yang semuanya laki-laki dengan kisaran usia 40 tahunan.


Jasad ini sendiri disebut para peneliti tidak dengan sengaja dimumikan atau dalam artian lain mereka jadi mumi secara alamiah. Hal ini terlihat dari pakaian yang dikenakan semua jasad tersebut yang terlihat sederhana.


Dengan adanya temuan ini sendiri para peneliti berhasil menemukan jejak dari sebuah kerajaan yang hilang bernama Makuria. Kerajaan ini diduga pernah ada di sekitar Sudan dan bagian selatan Mesir yang kala itu masih masuk wilayah Islam.


“Periode abad ke-8 sampai 12 merupakan masa emas Makuria,” kata Artur Obluski, peneliti yang mewakili University of Chicago dan University of Warsaw.


Kala berdiri, Makuria dikenal sangat baik menjaga hubungan dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang terletak di utara. Bahkan, kedua kerajaan itu sering melakukan aktivitas perdagangan dan banyak rakyat Makuria yang jadi tentara bayaran Fatimiyah.


Sayang, keharmonisan antar agama ini sirna setelah Dinasti Fatimiyah hilang berganti Dinasti Ayyubiyyah. Pada 1171 masehi, Makuria diserang hingga hancur oleh saudaranya dari utara.












Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/12/10/mxl07s-georgette-lepaulle-tak-pernah-merasa-terlambat-ucapkan-syahadat


Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Thursday, March 21, 2013

Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata

Home Gazw Al-Fikr

Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata


 

ecara psikologis, bullying termasuk merendahkan, kasar, tidak sopan


Kamis, 21 Maret 2013

Oleh: A. Kholis

“Kalmul-lisan anka min kalmis-sinan”
(dilukai lidah lebih pedih daripada dilukai gigi)
–pepatah Arab–

ADA cibiran yang pernah dilontarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk kalangan aktivis Islam. Bunyinya, “Blek ketekuk-tekuk, guru tabligh ambune penguk.” (kaleng terlipat-lipat, guru mengaji baunya tak sedap). Kalimat itu seolah dijadikan jingle sebagai pencitraan tak sedap kalangan PKI terhadap kaum Muslim.

Kala itu, jangankan menyemarakkan dakwah seperti sekarang, untuk menunjukkan identitas Islam saja kaum Muslimin ketakutan. Citra Islam benar-benar hancur. Islam identik dengan miskin, kotor, tidak punya masa depan cerah dalam pekerjaan kecuali menjadi guru mengaji.

Citra seperti ini terus berlanjut meski Orde Lama berganti Orde Baru. Sampai-sampai, di pertengahan 80-90-an, umat Islam malu menunjukkan identitas, apalagi berjilbab.

Pelan-pelan citra itu berkurang tatkala lahir Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di akhir tahun 90-an. Harian Kompas-yang lahir dari institusi gereja–menyindirnya dengan tulisan berjudul “Ijo Loyo-loyo”.

Tampilnya BJ Habibie, sejumlah pejabat negara, dan jenderal Muslim seperti Faisal Tanjung dan R Hartono (yang terang-terangan menggunakan simbol-simbol Islam) punya andil mengubah citra baru Islam di Indonesia. Sementara kelompok harakah Islam yang muncul pasca 1999, seperti tarbiyah (digambarkan dengan PKS), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan sejumlah harakah lain masih “di bawah tanah”.

Sekitar tahun 80-90-an, tidak ada perusahaan, institusi pemerintah, atau lingkungan militer yang menerima karyawati atau pegawai berjilbab. Sekarang, itu tidak terjadi lagi. Bahkan istri dan anak Jenderal (purn) Wiranto pun terang-terangan memakai jilbab. Jika itu terjadi di zaman LB Moerdani, bisa jadi Wiranto sudah “masuk kotak” dan tak akan mampu meraih pangkat jenderal.

Kekerasan Kata dan Simbol

Sepintas cibiran yang dilakukan PKI dan Kompas di atas kelihatan sepele. Namun sebenarnya ada pencitraan negatif terhadap Islam dalam kata-kata itu. Jika kriminolog asal Norwegia, Johann Galtung, pernah menggambarkan ada kekerasan struktural yang biasa digunakan penguasa, maka ini adalah “kekerasan kata-kata” (verbalistic violence).
 
Meminjam istilah Pramono dalam Bahasa dan Sastra Indonesia, Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI (Yogyakarta, 2002), verbalistic violence adalah bentuk kekerasan dalam kata-kata atau berbahasa. Bahasa tak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, namun juga untuk melakukan kekerasan yang kemudian dikenal dengan istilah kekerasan verbal.
 
Ada lagi istilah symbolic violence (kekerasan simbolik). Biasanya, kekerasan seperti ini targetnya selalu berkaitan dengan politik. Menurut Michel Foucault, biasanya kekerasan seperti itu difasilitasi media massa, terutama televisi. Menurut ilmuwan pengidap homoseksual itu, kekejaman seperti itu lahir dan langgeng karena memakai sistem kekuatan kata-kata, juga citra, yang sangat halus (soft domination), yang kehadirannya sering tak disadari.
 
Kekerasan verbal, terutama simbolik, beroperasi melalui ungkapan-ungkapan, baik visual atau kata-kata. Entah itu dalam film, sinetron, games, dan produk visual lain, atau dengan sebutan-sebutan yang kurang mengenakkan. Dan biasanya, kekerasan kata itu lebih menusuk hati dibanding kekerasan fisik.
 
Ingat, penyebutan “Islam modern”, “Islam tradisional”, “Islam Kota” dan “Islam Sarungan” di sekitar tahun 70-an, diakui atau tidak melukai perasaan kaum Nadhiyyin hingga memicu ketegangan dengan warga Muhammadiyah (ibaratnya) sampai tujuh turunan. Kalangan Nahdlatul Ulama kurang nyaman disebut “Islam tradisional” yang konotasinya kurang/tidak maju.
 
Cendekiawan dan Propaganda Kekerasan
 
Yang perlu dicermati, jika kekerasan verbal seperti itu dilakukan oleh orang-orang di luar Islam, seperti contoh PKI atau Kompas tadi, barangkali lebih jelas dengan siapa kaum Muslimin berhadapan. Masalahnya, seiring dibukanya kran kebebasan pers dan reformasi, produk kekerasan kata dan simbol itu justu datang dari kalangan yang disebut-sebut cendekiawan Muslim.
 
Beberapa tahun lalu, muncul istilah “preman berjubah”. Istilah ini dipopulerkan oleh sekelompok orang yang menyebut dirinya Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan, yang dimotori antara lain oleh artis Rieke Dyah Pitaloka dan Badriyah (anggota DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa).

Istilah itu tidak muncul dari kalangan non-Muslim. Bahkan ternyata pencetusnya adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah (kala itu), Prof Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang menulis dalam rubrik Resonansi harian Republika (9 Agustus 2005). Istilah ini kemudian dipakai oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL) untuk melabeli aktivis Islam semisal dari HTI, Front Pembela Islam (FPI), MMI, PKS, atau elemen masyarakat yang ingin menegakkan syariat Islam.

Kekerasan itu kadang dikeluarkan sembarangan untuk mencari rasa aman atau enaknya sendiri. Misalnya, sebagian kalangan seenaknya membuat katagorisasi dengan menyebut dirinya “Islam modernis” dan demokratis, lalu menggolongkan pihak lain sebagai “Islam radikal”, “militan”, atau “fundamentalis” hanya karena tidak setuju Barat, tidak mau tunduk Barat atau anti paham demokrasi. Bahkan takut disebut “teroris”, orang-orang itu ramai-ramai berebut menyebut diri “Islam moderat”.

Atas hak siapa orang boleh atau tidak menyebut yang lain modern dan sebagian yang lain radikal? Apakah karena ada orang yang taat beribadah dan meyakini al-Qur`an paling benar lantas begitu saja disebut radikal atau tekstualis? Kalau boleh seenaknya melakukan katagorisasi seperti itu, mengapa yang lain tak boleh menyebut kelompok liberal sebagai Islam STMJ (shalat terus maksiat jalan) atau “Islam Karaoke” (kanan-kiri oke)?
 
Karena itu, bisa dipahami bila Ketua PP Muhammadiyah sekarang, Din Syamsuddin, menyebut kekerasan kata-kata lebih melukai daripada kekerasan fisik. Din mengatakan hal itu ketika menanggapi obrolan (alm) Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dilansir situs JIL, yang menyebut al-Qur`an sebagai kitab suci paling porno di dunia.

Salah satu bentuk kekerasan verbalistik adalah penyebutan ‘wahabisme’. Istilah “wahabisme” juga dipopulerkan lagi oleh kalangan liberal untuk menyebut kelompok-kelompok yang berseberangan dengan mereka seperti Muhamadiyah, FPI, MMI, PKS, MUI, dan pihak-pihak lain. Awalnya, istilah ini dimunculkan oleh dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla. Ternyata kurang laku, dan kemudian dikeluarkan lagi oleh liberalis lain, Abdul Moqsid Ghozali.
 
Sebutan itu muncul sesaat setelah berlangsung aksi sejuta umat Islam di bawah koordinasi MUI mendukung RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Harap hati-hati, penyebutan “wahabisme” itu bisa dimaksudkan untuk memecah dukungan NU dan Muhammadiyah yang sudah solid menolak pornografi. Tahun 1999, istilah itu menjadi momok kalangan NU ketika Gus Dur dijatuhkan oleh “poros tengah” dari kursi presiden.

Saat ini berbeda, istilah ‘wahabi’, seolah digunakan kalangan NU untuk ‘menyerang’ komunitas lain di luar NU. Seolah-olah semua di luar NU pasti Wahabi. Gerakan ini, belakangan ‘ditunggangi’ kalangan Syiah yang menumpang karena kepentingannya terganggu. Dengan menggunakan istilah ‘wahabi’, kaum Syiah di mana-mana melontarkan kesan seolah-oleh hanya ‘wahabi’ lah yang mengancam kepentingan Syiah. Padahal, NU dikenal paling keras melawan ideologi Syiah. Jadi di mana bedanya NU dengan Syiah jika masih terus menggunakan istilah ini? [baca wawancara Dr Anis Malik Thoha: Barat Diuntungkan atas Stigma Wahabi]

Menurut Ingris Bengis, ada lima format kekerasan kata-kata. Yaitu berwujud gosip dari rasa dengki (malicious gossip), kekerasan pasif (passive-aggression), sikap tidak konsisten (inconsistency), ketidaksopanan, dan amarah. Semua itu melahirkan kekerasan kata-kata.
 
Dalam terminologi psikologis, kekerasan kata-kata masuk dalam katagori agresi berupa perilaku bullying. Bullying secara verbal antara lain menuduh atau menyalahkan, mengritik dengan tajam dan menyakitkan, menjuluki, melecehkan, memfitnah, menyebarkan gosip, membentak-bentak, mengecilkan, menghina atau mendiamkan. Secara psikologis, bullying termasuk merendahkan, kasar, tidak sopan, mempermalukan di depan umum, dan mengucilkan.
 
Biasanya, pelaku bullying adalah orang-orang yang agresif, impulsif, dan kurang memiliki empati. Mereka umumnya juga memiliki kekuatan secara fisik dan emosional (Andrew Mellor). Dengan kata lain, memiliki kelainan psikologis alias kejiwaan.
 
Boleh jadi, luka akibat lidah justru melahirkan kekerasan baru-termasuk fisik–yang tak pernah henti. Oleh karena itu, sangat tidak layak seorang cendekiawan–apalagi mengaku Muslim-melontarkan istilah-istilah yang membuat pihak lain dan saudara-sauda Muslim lain terlukai. Kecuali seperti pendapat Mellor, bahwa pelakunya memiliki gangguan kejiwaan.*
 
Penulis pemerhati masakah gerakan Islam di Surabaya

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/02/05/157005/Telantarkan-Anak-Luar-Nikah,-Penjara-Mengancam-


Cendekiawan, Wahabi dan Kekerasan Kata-kata

Wednesday, August 14, 2013

Kronologi 2,5 Tahun Revolusi Berdarah Mesir

Kairo – Mesir menjadi salah satu pelakon utama dalam gelombang Arab Spring di mana banyak negara di Timur Tengah bangkit menuntut diakhirinya kekuasaan monarki dan pemerintahan otoriter yang bercokol selama beberapa dekade atau turun temurun.


Namun dalam 2,5 tahun sejak digulingkannya Presiden Hosni Mubarak, negara itu tak pernah mengecap manisnya hasil revolusi politik, dan justru dilanda konflik berkepanjangan sampai satu lagi presiden digulingkan.


Peristiwa paling akhir adalah serbuan militer atas kelompok pendukung mantan presiden Muhammad Morsi dan Muslim Brotherhood yang mengakibatkan sedikitnya 149 orang tewas, Rabu (14/8).


Berikut kronologi peristiwa-peristiwa penting di Mesir dalam kurun waktu tersebut:


25 Jan. – 11 Feb. 2011 — Rakyat Mesir melakukan demonstrasi di seluruh negeri menentang 30 tahun kekuasaan Mubarak. Ratusan orang dilaporkan tewas karena Mubarak dan sekutunya mencoba melawan.


11 Feb.— Mubarak mundur dan militer mengambil alih. Militer juga membubarkan parlemen dan membekukan konstitusi sesuai permintaan para demonstran.


28 Nov. 2011-15 Feb. 2012 — Mesir melakukan serangkaian pemilu legislatif selama beberapa pekan. Di majelis rendah, kelompok Muslim Brotherhood memenangi hampir separuh jumlah kursi dan kelompok ultra konservatif Salafis mendapatkan seperempat jumlah kursi parlemen. Sisanya dibagi antara kelompok liberal, independen dan politisi sekuler. Di majelis tinggi yang relatif tidak punya gigi, kelompok Islamis merebut sekitar 90% kursi.


23-24 Mei 2012 — Putaran pertama pemilihan presiden (pilpres) menjaring 13 kandidat, dan akhirnya berakhir pada persaingan Morsi dan Ahmed Shafiq, perdana menteri terakhir di era Mubarak.


14 Juni — Mahkamah Konstitusi memerintahkan dibubarkannya majelis rendah parlemen.


16-17 Juni — Pilpres dilakukan, Morsi menang dengan 51,7% suara.


30 Juni — Morsi diambil sumpahnya sebagai presiden.


19 Nov.— Para anggota partai liberal dan perwakilan gereja di Mesir mundur dari tim perumus konstitusi yang beranggotakan 100 orang, sebagai protes atas kelompok Islamis yang dinilai memaksakan kehendak.


22 Nov. — Morsi secara sepihak mengeluarkan dekrit yang menambah kekuasaannya, sehingga setiap keputusan yang dibuat mendapat imunitas dari pemeriksaan hukum, dan melarang pengadilan membubarkan majelis tinggi parlemen. Manuver ini memicu aksi protes selama berhari-hari.


30 Nov.— Kelompok Islam mempercepat perumusan konstitusi baru, dan Morsi memberi tenggat waktu hingga 15 Desember 2012 untuk dilakukan referendum.


4 Des. — Lebih dari 100.000 demonstran menyerbu istana presiden menuntut dibatalkannya referendum dan perumusan konstitusi. Hari berikutnya, kelompok Islamis menyerang demonstran sehingga pecah kerusuhan di jalan yang mengakibatkan 10 orang tewas.


15 dan 22 Des. — Dalam referendum dua putaran, rakyat Mesir menyetujui konstitusi baru dengan suara 63,8%, namun tingkat partisipasi rendah.


25 Jan. 2013 — Ratusan ribu orang berdemo menentang Morsi dalam peringatan tahun kedua dimulainya perlawanan atas Mubarak. Kerusuhan pecah di banyak tempat.


Feb.-Maret 2013 — Aksi protes pecah di Port Said dan kota-kota lain selama beberapa pekan, mengakibatkan puluhan orang tewas.


7 April — Kelompok Islamis menyerbu katedral Gereja Ortodoks Coptic di mana saat itu sedang melakukan prosesi pemakaman dan peringatan atas meninggalnya empat jemaat Kristen dalam konflik sectarian sehari sebelumnya.


23 Juni — Empat penganut Shiah dipukuli hingga tewas di sebuah desa di pinggiran Kairo.


30 Juni — Jutaan orang berdemo menentang Morsi tepat pada ulang tahun pertama kekuasaannya. Sedikitnya delapan orang tewas dalam kerusuhan di luar markas Muslim Brotherhood di Kairo.


1 Juli — Demonstrasi berlanjut, militer Mesir memberi waktu 48 jam kepada presiden dan kelompok oposisi untuk menyelesaikan sengketa, atau mereka akan turun tangan.


2 Juli — Pihak militer merinci rencana mereka jika kesepakatan gagal diraih: mengganti Morsi dengan pemerintahan sementara, membatalkan konstitusi yang dirumus kelompok Islamis dan mengadakan pemilu dalam tempo satu tahun. Malamnya Morsi berpidato menyatakan tekad untuk mempertahankan legitimasi dan menolak mundur.


3 Juli — Panglima militer Mesir mengumumkan Morsi telah digulingkan dan akan diganti oleh Ketua Mahkamah Konstitusi sampai dilakukannya pilpres baru. Tidak ada jangka waktu yang dibuat, dan para pemimpin Muslim Brotherhood ditangkap. Puluhan ribu pendukung Morsi berkemah di jalanan Kairo dalam aksi demo besar-besaran.


4 Juli — Ketua Mahkamah Konstitusi Adly Mansour diambil sumpah sebagai pejabat pelaksana presiden.


5 Juli — Mansour membubarkan majelis tinggi yang didominasi kelompok Islamis, sementara konflik antara pendukung dan penentang Morsi pecah di Kairo dan Alexandria, seidkitnya 36 orang tewas. Petinggi Muslim Brotherhood Khairat el-Shater ditangkap.


8 Juli — Tentara Mesir menembaki para pendukung Morsi di depan pangkalan militer di Kairo dan menewaskan sedikitnya 50 orang. Mansour memberi tenggat waktu hingga pertengahan Februari 2014 untuk pilpres dan pileg, namun Muslim Brotherhood menolak berpartisipasi.


9 Juli — Mansour menunjuk ekonom Hazem el-Beblawi sebagai perdana menteri dan pemimpin oposisi Mohamed ElBaradei sebagai wakil presiden. Militer mendukung keputusan ini.


26 Juli — Jutaan orang membanjiri jalanan Mesir setelah panglima militer menyerukan agar dia diberi mandat untuk menghentikan setiap “potensi tindak terorisme” oleh pendukung Morsi. Kejaksaan mengumumkan Morsi disidik dalam berbagai kasus termasuk pembunuhan dan konspirasi dengan kelompok militant Palestina, Hamas.


27 Juli — Pasukan keamanan bersama kelompok pria bersenjata berbaju sipil terlibat bentrok dengan para pendukung Morsi di Kairo, sedikitnya 80 orang tewas.


7 Agt. — Kantor kepresidenan Mesir menyatakan upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar damai antara pemerintahan interim dukungan militer dengan Muslim Brotherhood gagal.


11 Agt. — Tentara Mesir mengumumkan akan mengepung dua lokasi demo besar selama 24 jam demi mencegah ada yang masuk ke sana.


12 Agt. — Otoritas setempat menunda rencana mengambil tindakan atas pendemo di tenda-tenda untuk menghindari pertumpahan darah setelah ribuan orang lagi ikut bergabung.


14 Agt. — Pasukan keamanan dengan kendaraan lapis baja dan buldoser menyerbu masuk dan menghancurkan tenda-tenda. Para pendukung Morsi terlibat perang jalanan dengan polisi di Kairo dan kota-kota lain. Sedikitnya 149 orang tewas dan kelompok Islamis yang marah membakar kantor polisi, gedung-gedung pemerintah dan gereja. Kantor presiden mengumumkan kondisi darurat selama satu bulan.


Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/08/14/33/849567/mualaf-sam-brodie-dibimbing-maia-estianty


Kronologi 2,5 Tahun Revolusi Berdarah Mesir

Thursday, April 25, 2013

Gigit Branislav Ivanovic, Twitter Luis Suarez Di-Follow Mike Tyson - Sidomi News

Luis Suarez


Antara Luis Suarez dan Mike Tyson memang sangat berbeda. Yang satu berlaga di lapangan bola, dan satunya beraksi di atas ring tinju. Namun keduanya miliki kesamaan, sama-sama pernah menggigit lawan saat bertanding. Itulah yang mungkin jadi alasan mengapa Mike Tyson men-follow Twitter Luis Suarez.


Kali ini penyerang andalan Uruguay dan Liverpool tersebut berbuat onar lagi. Ia kedapatan menggigit lengan bek Chelsea Branislav Ivanovic. Kabar terakhir yang beredar, akibat ulahnya ini Luis Suarez dihukum tak boleh berlaga di 10 pertandingan sisa Liga Premier Inggris.


Mike Tyson mengaku sangat tertarik dengan kehebohan yang dibuat Luis Suarez. Pemilik akun ini @miketyson ini ingin mengetahui kebenaran kronologinya, tentu saja versi penyerang andalan kota pelabuhan tersebut. Mungkin saja ini alasan mengapa dirinya menjadi follower @luis16suarez.


Mike Tyson sendiri pernah pula menggigit saat di atas ring. Evander Holyfield harus ketiban sial telinganya dilumat gigi si leher beton pada tahun 1997 silam. Simak video di bawah ini untuk menyegarkan kembali aksi brutal petinju botak mualaf ini.



Luis Suarez sendiri telah ajukan permintaan maaf pada Branislav Ivanovic. Sejurus kemudian bek asal Serbia ini senada dengan tidak memerpanjang perkara. Namun sayangnya FA berpendapat lain. Hukuman 10 pertandingan telah dijatuhkan.


Bagi Anda yang belum sempat melihat bagaimana aksi Luis Suarez saat menggigit lengan Branislav Ivanovic, sila simak di video singkatnya di bawah ini.



Article source: http://bola.inilah.com/read/detail/1982072/diberi-hadiah-al-quran-cr7-masuk-islam


Gigit Branislav Ivanovic, Twitter Luis Suarez Di-Follow Mike Tyson - Sidomi News

Wednesday, February 5, 2014

DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Assalaamu’alaikum Wr.Wb.


Bismillaahirrahmaanirrahiim,


Dalam satu literatur saya menemukan singkatan dari diet. Disebutnya dalam bahasa inggris “DIET” stands for: Did I Eat That?. Tapi pemahaman diet yang umum adalah mengatur pola makan.


Menurut istriku, adiknya yang kembar Hilma pernah jatuh lemas dan sekujur tubuhnya berkeringat dingin dikarenakan pola “Diet” yang salah, begitu juga saudara kembarnya Hilda sakit perut yang berkepanjangan, bahkan sampai sesak nafasnya. Awalnya dikarenakan pola makan yang tidak teratur.


Memang agar kurus banyak hal yang diupayakan oleh banyak orang, bukan hanya kaum hawa saja tetapi juga banyak juga para pria yang ingin menjaga penampilannya. Dari mulai Atkins diet, Rawfood diet, Food combaining, diet macan, diet mediterania, acai berry dan berbagai nama diet sampai laris manisnya alat-alat penurun berat badan di tv media.


Biayanya pun beragam dari yang murah sampai yang mahal banget. Tapi saya agak ragu apakah metoda dan pola-pola diet itu banyak berhasilnya atau justru lebih banyak gagalnya.


Jika menela’ah kehidupan Rasulullah SAW, beliau jarang sekali sakit. Pola hidupnya sangatlah sehat. Dari mulai pola makan, istirahat, berolahraga dan sebagainya. Dan mungkin saja bisa dibuat metoda Diet syar’i yang mengikuti pola beliau.


Tentu perlu kajian lebih lanjut dikarenakan makanan-makanan yang berbeda jenisnya dengan makanan kita. Namun ada baiknya kita simak bagaimana islam menuntun umatnya, sebagaimana Alloh swt berfirman; “Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah, 2 : 168).


Sesungguhnya pangkal penyakit kebanyakan bersumber dari makanan. Maka tak heran bila Rasulullah memberi perhatian besar dalam masalah ini. Prinsip pertama makanan dan minuman harus halal dan thoyib (baik).


Maksudnya selain masuk kategori halal, maka makanan dan minuman kaum muslimin juga harus bersih dan mengandung kandungan gizi yang cukup. Juga menghindari dari pola makan yang berlebihan. Sebagaimana ayat ; Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf, 7 : 31).


Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.” (HR. Ibnu Majah no. 3349 dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam shahih sunan Ibnu Majah no. 2720).


Al Fudhail bin Iyyadh mengatakan, “Ada dua hal yang menyebabkan hati menjadi beku dan keras yaitu banyak berbicara dan banyak makan.”“Orang beriman itu makan dengan menggunakan satu lambung sedangkan orang yang kafir makan dengan menggunakan tujuh lambung.” (HR. Bukhari no. 5393, dan Muslim no. 2060).


Mengkonsumsi makanan berlebih selain menyebabkan berbagai macam penyakit juga memotivasi keinginan terhadap dunia yang berlebih. Menurut kajian tasawuf sumber malapetaka yang menimpa manusia itu disebabkan oleh kerakusan terhadap dunia, yang memotivasinya adalah perut dan alat kelamin.


Syahwat kelamin berkaitan dengan perut yang kekenyangan, sedang lapar adalah satu sarana menutup pintu kebinasaan. Ilmu tidak akan masuk kedalam perut yang terisi penuh makanan, banyak makan, banyak minum dan banyak tidur.


Nabi selalu mengambil makanan yang terdekat, memberikan keteladanan kepada orang yang beriman agar tidak diperkenankan “rakus” dan serakah dalam soal makanan.


Rasul lebih sering makan Nabati meski juga memakan daging tapi sesekali saja dan tidak banyak. Daging yang disukai nabi adalah daging yang mudah dicerna yaitu daging bagian lengan. Makanan favorit Rasul adalah labu.


Dari Anas bin Malik mengisahkan, “Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah SAW untuk menikmati hidangan makan yang disajikannya. Maka aku mendatangi undangan makan itu bersama Rasulullah. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah roti gandum serta kuah berisi labu dan daging. Lalu aku melihat Rasulullah menjumputi labu dari pinggiran pinggan. Maka sejak hari itu aku selalu menyukai labu.”(HR Bukhari).
 
Berikut secara ringkas pola sehat kebiasaan Rasulullah SAW. Beliau bangun di sepertiga malam sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Rasulullah SAW juga biasa bersiwak.


Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka sungguh aku sudah memerintahkan mereka Untuk bersiwak (sikat gigi) setiap kali berwudlu” (HR.Malik, Ahmad, dan Nasai dan dinilai Shohih oleh Ibnu Khuzaimah).


Menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan madu. Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan hadits dari Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Nabi SAW, bahwa beliau pernah bersabda.“Artinya : Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”.


Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibnu Al Barra’, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun tersebut.


Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah Khol (cuka) adalah sejenis cairan. Jika kurma dimasukkan ke dalamnya, cairan tersebut akan terasa manis sehingga bisa diminum,dan minyak zaitun dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti gandum. Manfaatnya banyak sekali, di antara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan.
 
Di malam hari, menu utama makan malam adalah sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Sayyidina Umar ra, berkata : Jangan kau jadikan perutmu sebagai binatang ternak. Maka makanan Komposisi terbaik adalah : 10 % Hewani, 60 % biji-bijian, 30 % Sayuran dan buah.


Nabi makan dari berbagai makanan karena sesungguhnya bila makanan yang satu panas akan dipadamkan oleh makanan lain yang dingin. Sebagaimana hadist dari Abdullah bin Ja’far ra, ia menceritakan, bahwasanya ia melihat Rasulullah SAW menyantap kurma dengan mentimun. (HR. Bukhari dan Muslim)


Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas seperti sholat terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna. Nabi bersabda: “Hancurkan makanmu dengan dzikir dan shalat serta Janganlah tidur setelah makan maka hatimu menjadi keras.” (HR. Ibnu Sunni, Thabrani dan Baihaqi).


Dengan pola seperti itu belum lagi ditambah, pengelolaan hati yang sempurna seperti tidak mudah marah, tidak terganggu stress, selalu berbaik sangka, selalu menjaga kebersihan badan dan lingkungan, jika sakit minum obat-obatan herbal, seperti habbats, madu, juz kurma, dan banyak lagi faktor yang membuat Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa pola hidup sehat adalah pola hidup islami.


Karenanya diet syar’i menjadi salah satu persyaratan dari sekian banyak persyaratan agar menjadi sehat yang terintegrasi. Bukan hanya jasadnya saja tetapi juga sekaligus sehat secara ruhiyah. Semoga duo kembar Hilda dan Hilma, juga kita semua dapat mengambil hikmah diet syar’i ‘ala sunnah ini. Insya Allah.


Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/opinion/2012/08/24/apa-aku-peduli/


DIET (did I eat that?) Ala Rasulullah SAW

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe