Showing posts sorted by relevance for query nyaris. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query nyaris. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, May 6, 2013

Ditolak Kedubes AS, Massa Forum Rohaniawan se-Jabodetabek Nyaris Bentrok

Thursday, December 13, 2012

Dawan Khai Nyaris Tampar Happy Salma Saat Akting - m.okezone.com

Selasa, 20 November 2012 23:39 wib
Tomi Tresnady – Okezone

Dawan Khai (Foto: Tomi Tresnady/okezone)

Dawan Khai (Foto: Tomi Tresnady/okezone)

JAKARTA – Pemain sinetron Dawan Khai (24) kini bisa merasakan manisnya berkarier di industri hiburan. Pria asal Padang, Sumatera Barat ini bercerita, dulu saat pertama kali ke Jakarta dengan modal nekat pada 2007, beruntung dia cuma butuh waktu dua minggu tinggal di Jakarta langsung lolos casting untuk jadi tokoh Mr. Zo di acara Planet Remaya (ANTV), kemudian berlanjut jadi presenter reality show Cinlok (SCTV).
 
“Orangtua saya dua-duanya sudah pensiun, jadi saya benar-benar tulang punggung keluarga. Makanya harus nekat merantau mencari kerja,” katanya saat ditemui di sela syuting FTV yang tayang di Indosiar di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, belum lama ini.
 
Setelah itu dia cukup penasaran dengan dunia akting, akhirnya ada produser sinetron terpikat dengan wajah gantengnya yang tentu bisa memikat penonton ibu-ibu maupun remaja putri yang memang pasar terbesar produk sinetron. Dia bermain di sinetron Cinderella (SCTV) dan bermain juga di sinetron Mualaf (Indosiar).
 
Di sinetron Mualaf, Dawan mendapat pengalaman yang sangat berharga sekaligus tak akan pernah terlupakan saat beradu akting dengan aktris Happy Salma.
 
“Jadi awalnya saya baru banget kan main sinetron, terus disuruh akting nampar pipinya dia. Saat itu dia ceritanya kakak saya, terus saya perannya bandel banget dan dia perannya buta, saya gampar dia dan hampir kena, dia bilang wah Ade hampir kena,” kenangnya, saat itu Dawan buru-buru minta maaf.
 
Yang ada dibenaknya saat itu kalau main sinetron jika ada adegan menampar harus tampar betulan. “Padahal enggak, ada tekniknya. Untung banget gak kena dia pasti marah,” ujarnya. Saat 2011 Dawan juga baru tahu ternyata adik Happy Salma menikah dengan saudaranya di Padang. “Kita jadi saudaraan deh, hahaha,” ujarnya lagi.
 
Tak selamanya karier di dunia sinetron selalu manis, ada kalanya Dewi Fortuna menjauh hingga menimbulkan ketidak pastian. Dawan pernah merasakan bagaimana kariernya terpuruk hingga sempat membuatnya putus asa.
 
“Saat itu sekitar 2009 main sinetron sepi, sampai putus asa. Apa balik kampung saja ke Padang. Tapi akhirnya saya masih punya tekad untuk terus maju,” katanya.
 
Sempat juga pria yang punya investasi di penggilingan beras ini menjajal dunia tarik suara. Dia membuat grup band bernama Junos dan melahirkan single berjudul “Sempurna”. Namun, sayangnya tak berjalan dengan baik karena single yang rencananya jadi soundtrack film, filmnya sendiri tidak jadi tayang. “Filmnya gak jadi, ya, band juga akhirnya bubar,” katanya.
 
Saat ditanya lebih nyaman menyanyi atau main sinetron? Dawan mengaku ingin jadi penyanyi.
 
“Cita-cita saya memang ingin jadi penyanyi. Saat itu pernah ke label Wannabe, tapi mereka lagi gak cari solois,” tuturnya.
 
Aktor ini sebelumnya pernah juga mengambil peran di sinetron Kejora dan Bintang (RCTI), Hidayah (TransTV) FTV Putri Duyung Jatuh Cinta (RCTI), FTV Pacar Seminggu (RCTI), dan masih ada lagi.
 

(tre)

mobile
Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com
untuk BlackBerry

Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/khazanah/12/05/11/m3v1hg-mujahidah-hindun-binti-amru-diantara-para-syuhada-3habis


Dawan Khai Nyaris Tampar Happy Salma Saat Akting - m.okezone.com

Monday, May 27, 2013

Fatin dan X-Islam Factor

Senin, 27 Mei 2013 11:33 wib

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

Fatin Shidqia (Foto: Arif/okezone)

AJANG X Factor Indonesia (XFI)yang bergengsi dan menjadi acara favorit dalam enam bulan terakhir di RCTI berujung indah dengan kejutan X: Fatin Shidqia Lubis, gadis belia berjilbab, 16 tahun, yang pemalu, lugu, dan baru pertama kali tampil menyanyi di hadapan publik dan layar kaca waktu audisi XFI, ternyata menang.


Dalam pengumpulan SMS, Fatin berhasil mengungguli perolehan SMS Novita Dewi, seorang penyanyi yang matang dengan teknik vokal dan penampilan yang prima. Tapi, tampaknya pemirsa lebih kesengsem melihat gaya Fatin yang lugu, imut, dan asli sehingga SMS membanjir ke arah gadis berjilbab itu. Tepat apa kata musisi Ahmad Dhani: banyak orang yang vokalnya bagus, gayanya bagus, tapi sedikit yang unik dan membuat orang terperangah.


Itulah yang ada dalam diri Fatin sehingga dia pantas menjadi juara XFI pertama. Apa yang menarik dalam diri Fatin selain suaranya yang unik? Ia mempertahankan jilbabnya di tengah kompetisi tarik suara yang menampilkan kultur pop Barat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslimah. Seorang wanita berjilbab dan dididik agama secara ketat oleh keluarganya ternyata mampu mengembangkan inklusivitas kultural Islam sehingga menembus sekat-sekat yang memisahkan budaya Islam dan Barat.


Ketika Fatin menyanyikan lagu “Grenade”-nya Bruno Mars dan kemudian menjadi perbincangan masyarakat cyber di YouTube, jagat musik internasional pun geger. Jutaan orang, dari Barat dan Timur, terkagum kagum dengan suara si imut Fatin. Fatin membawakan lagu “Grenade”—pinjam ungkapan musisi Ahmad Dhani—lebih bagus dari penyanyi aslinya.


Barangkali itulah yang menyebabkan George Levendis melalui akun Facebook dan Twitter-nya @HellasGL menulis: ”Fatin making an impact in XF Indonesia!”. George Levendis adalah sahabat Simon Cowell (pendiri ajang X-Factor).


George juga seorang eksekutif di perusahaan rekaman dan Syco TV, yang merupakan milik bersama antara Simon Cowell dan Sony Music Entertainment. Berbagai pujian juga muncul ketika Fatin menyanyikan lagu “Stay” milik Rihanna dengan gaya yang unik. Rihanna menyanyikannya dengan gaya pop plus busana minimnya yang seksi, sedangkan Fatin menyanyikannya dengan gaya pop plus busana muslimahnya yang elegan. Jagat musik pop pun tercengang, sampai-sampai wartawan Prancis menyatakan: fenomena Fatin sangat unik karena dia memakai busana religius yang tak pernah dipakai penyanyi mana pun di ajang kompetisi dunia selevel X Factor.


Sebuah pertanyaan menarik, apakah fenomena Fatin menunjukkan dunia Islam sedang mengalami perubahan? Jawabnya: selain akidah Islamiyah, rukun Islam, dan rukun iman, Islam sejak dulu mengalami perubahan kultural yang terus menerus. Pinjam kata-kata almarhum budayawan Kuntowijoyo: Budaya Islam telah berubah dan akan terus berubah karena Islam sangat fleksibel. Kunto menggambarkan perubahan besar itu dari kelahiran Islam di Makkah, kemudian besar di India, Eropa, dan akan mengalami kejayaan di Indonesia.


Seterusnya, akan jaya di seantero dunia. Bayangkan, ketika Islam masuk ke Jawa, Wali Songo menciptakan atribut-atribut kultural yang sama sekali berbeda dengan Islam Arab dan Islam Eropa. Wali Song mem-blending budaya Arab, India, dan budaya lokal untuk memasarkan Islam di Jawa. Hasilnya: Islam berhasil menembus ”pasar” masyarakat Jawa pinggiran, masyarakat Jawa pedalaman, sampai masyarakat priyayi Jawa di keraton- keraton yang dikeramatkan dan eksklusif. Islamisasi Jawa yang terus berkembang sampai hari ini tampaknya sulit dipahami para ilmuwan Barat, bahkan tak berhasil diidentifikasi oleh ilmuwan sekaliber Clifford Geertz.


Geertz dalam buku monumentalnya, Religion of Java, misalnya mengategorikan orang Jawa dalam tiga kelompok—santri, priyayi, dan abangan yang masing-masing terpisahkan karena mempunyai karakter-karakter yang tak bisa saling menyatu. Padahal, orang Jawa masa kini, dengan tuntutan modernitasnya, termasuk dalam menjalankan Islam, masih tetap menghormati budaya-budaya nenek moyangnya.


Geertz mungkin akan kaget jika melihat ada gamelan dan keris di rumah tokoh-tokoh Islam modernis sebab simbol-simbol seperti itu khas priyayi Jawa. Di PDIP, partai yang selama ini diidentifikasi sebagai partai abangan, ada lembaga Baitul Hikmah yang di dalamnya duduk tokoh-tokoh modernis Muhammadiyah, termasuk Buya Syafi’i Maarif. Dalam Pemilu 2014, PDIPbahkansecara berani mendudukkan tokoh Islam modernis sekaligus sufistis, Jalaluddin Rakhmat, untuk anggota DPRI. Di sanalah letak ”X” dunia Islam Indonesia: mampu mengasimilasikan berbagai budaya dengan mulus dan akomodatif.


Pada masa lalu Sunan Bonang misalnya menciptakan tembang “Ilir-Ilir” dan “Tombo Ati” yang sangat etnik. Kedua tembang ini sejak dulu menjadi ”lagu wajib” orang-orang dusun di Jawa untuk menunggu kedatangan imam salat waktu magrib, isya, dan subuh. Tembang ciptaan Sunan Bonang ini kemudian hari direvitalisasi oleh Emha Ainun Najib dan dipopulerkan oleh penyanyi Opick sehingga kini nyaris menjadi ”lagu wajib” dalam acara-acara pengajian di Ibu Kota, sinetron religi, dan gelar budaya Islam di seantero Indonesia.


Dari perspektif inilah, kita melihat fenomena Fatin. Gadis berjilbab itu berhasil menyanyikan lagu “Grenade” dengan apik sehingga pemilik lagu aslinya, Bruno Mars, mengacungkan jempol. Ketika Fatin menyanyikan lagu ikon pop Rihanna dengan sangat bagus, tak hanya pencinta musik yang gempar, tapi juga masyarakat awam. Fatin berhasil mengawinkan ikon pop dan ikon muslim dengan jilbabnya— sesuatu yang nyaris tak mungkin terjadi di dunia Timur Tengah dan dunia Barat. Tapi, di Indonesia? Melalui Fatin, dunia muslim kembali menembus tembok-tembok kultural seperti yang dikategorikan Samuel P Huntington.


Orang semacam Huntington niscaya akan terkejut jika melihat Fatin yang berjilbab menyanyikan lagunya Rihanna dengan elegan tanpa kehilangan modernitasnya. Ini artinya, batasan dunia Islam dan dunia Barat yang ”ditembok” secara amat kuat oleh Huntington menjadi runtuh dalam panggung X-Factor yang dimenangi Fatin. Semua itu bukti bahwa generasi baru Islam tidak tunduk pada batasanbatasan kultural yang oleh Huntington diramalkan akan mengalami benturan (clash civilization).


Huntington mungkin tak pernah memprediksi jika seorang muslimah yang tinggal di negeri sejuta masjid mampu menyanyikan lagu-lagu yang dianggap sebagai simbol kultur pop Barat tersebut. Dalam konteks inilah kemenangan Fatin menjadi amat berarti bagi Islam kultural. Bukan sekadar jilbab dan keunikan suara Fatin yang membuat orang kesengsem, tapi secara kultural penampilan Fatin telah berhasil meruntuhkan temboktembok identitas yang selama ini dibangun para fanatikus dunia Barat dan fanatikus dunia Islam.


Tepat sekali bila ajang XFI ditutup dengan lagu “We are The World”-nya, Michael Jackson, karena memang begitulah yang seharusnya terjadi pada umat manusia. Akhirnya umat Islam harus selalu optimistis dengan dinamika kultural yang terus berubah. Jika saat ini panggung peradaban sedang dikuasai Barat, kata Kunto, percayalah pada masa depan panggung itu akan kembali dikuasai Timur.


Yang dimaksud Timur oleh Kunto adalah Indonesia dengan kultur Islamnya yang unik yang merupakan blend dari berbagai kultur di dunia, dari Timur Tengah, Eropa, Hindustan, China, Jawa, dan kultur-kultur lokal lainnya. Itulah ”X-Islam Factor Indonesia”, Islam masa depan. Fatin sudah memulai langkah pertamanya.


M BAMBANG PRANOWO
Guru Besar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten


( (koran Sindo)/Koran SI/tre)true



mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/05/17/224956/10/Mengenal-Tari-Lengger


Fatin dan X-Islam Factor

Tuesday, November 26, 2013

Lima Tahun Teror Mumbai


Malam 26 November 2008 di kota metropolis Mumbai berdenyut selazimnya. Ratusan ribu pegawai terjebak macet saat hendak pulang ke rumah. Hotel dan penginapan di selatan kota masih dipenuhi tamu dari luar dan dalam negeri. Lalu terjadilah ledakan yang kini masuk dalam ingatan kolektif dengan akronim 26/11 itu: kelompok teror Islam tanpa aba-aba melepaskan tembakan dari senjata otomatis terhadap pejalan kaki, meledakan bom dan melemparkan granat tangan ke arah jalan.



Mereka membunuh semua yang teridentifikasi sebagai warga Amerika Serikat, Inggris atau Yahudi. Sandera disekap di dalam hotel dan pertokoan, sebuah tempat peribadatan Yahudi diserbu dan diluluhlantakkan.



Media-media India menampilkan gambar kehancuran, korban yang tewas atau yang sedang meregang nyawa. Pertempuran antara aparat keamanan dan kelompok teroris berlangsung hingga 29 November. Pada akhirnya sembilan orang teroris tewas terbunuh. Seorang pelaku, warga Pakistan, Ahmal Kasab berhasil ditangkap aparat keamanan. Sedikitnya 166 penduduk, sebagian besar warga India, tewas. Amnesty International mengklaim pihaknya mencatat lebih dari 300 korban luka-luka.



“Perang melawan India”


Reaksi demonstran terhadap eksekusi hukuman mati terhadap salah satu pelaku serangan teror Mumbai, Ajmal Kasab di penjara Pune.


Sesaat setelah serangan pemerintah Pakistan menangkap sejumlah tersangka. Saat ini, lima tahun kemudian, mereka dibebaskan lantaran diklaim kekurangan bukti. Sebaliknya warga AS, David Coleman Headly divonis 35 tahun penjara di Chicago lantaran terbukti ikut merencanakan serangan. Sementara Kasab disidang di India dengan dakwaan memicu “perang melawan India”. Ia kemudian divonis hukuman mati dan digantung pada November 2012.



Lima tahun setelah serangan, kasus yang sempat mengguncang dunia itu telah terungkap nyaris sepenuhnya, terutama berkat pengakuan Headley dan Kasab. Adalah Laskar-e Toyiba yang berada di belakang serangan tersebut, sebuah organisasi militan Islam di Lahore yang memiliki kedetakan dengan Dinas Militer Pakistan ISI dan sejak lama berulangkali melakukan serangan terhadap fasilitas militer India di Kashmir.



Amerika Serikat sejak 2001 telah mendeklarasikan organisasi tersebut sebagai kelompok teroris. 2002 pemerintah Pakistan memasukan Laskar-e Toiba ke dalam daftar hitam keamanan. 2010 Uni Eropa menyusul.



Pakistan tidak serius mengungkap


Seorang penduduk Mumbai memperingati korban serangan teror India


Pakistan hingga kini tidak berbuat banyak untuk mengungkap kasus tersebut. Kepada Deutsche Welle Arsgad Mahmood, sejarahwan Pakistan, mengklaim pemerintahannya “menuduh India tidak memaparkan bukti-bukti terkait tersangka. Padalah Pakistan jelas tidak ingin pengadilan membuktikan keterlibatannya dalam serangan tersebut, karena akan sangat memalukan.”



Buat Toqeer Gilani, seorang aktivis di Kashmir, sikap non kooperatif yang ditunjukkan Islamabad tidak cuma sekedar karena ingin menyelamatkan wajah sendiri, “Saya sangat yakin, organisasi Islam Laskar-e Toiba mendapat dukungan dari dinas rahasia Pakistan. Melawan organisasi itu seakan-akan menyerang pemerintahan sendiri.”



Lima tahun kemudian dialog keamanan antara kedua negara yang berlangsung alot belum membuahkan hasil signifikan. Vinod Sharma, wartawan “Hindustan Times”, mengatakan kecurigaan India bertambah besar ketika “jelas bahwa Pakitan tidak memiliki niat menghukum para tersangka.” Menurut Arshad Mahmood, India akan kesulitan berdamai dengan trauma bom Mumbai selama Pakistan tidak berbuat apapun terhadap dalang serangan.



Dialog berlangsung alot



Buat Sharma media di kedua negara ikut memikul tanggungjawab terhadap stagnasi dalam hubungan antara Pakistan dan India. Adalah hal yang lumrah bagi media Pakistan untuk menyerang India, begitupula sebaliknya. “Politik harus berlandaskan dialog. Tapi pandangan ini diacuhkan oleh media-media di kedua negara,” katanya.



Kendati begitu Vinod Sharma tetap optimis terkait masa depan hubungan bilateral kedua negara. Setidaknya Perdana Menteri baru Pakistan, Narwaz Shariif sempat berjanji akan mendorong normalisasi hubungan dengan India.



“Kami yakin terpilihnya Sharif adalah peluang terbaik untuk memperbaiki hubungan bilateral. Tapi segalanya beragantung pada kemampuannya mengatasi perlawanan di dalam negeri,” tukasnya. Menurut pengamat Pakistan, upaya normalisasi hubungan dipersulit lantaran dukungan untuk kelompok ekstrimis Islam sangat meluas di Pakistan, antara lain di Muslimliga, partai pimpinan Sharif.


Article source: http://www.poskotanews.com/2013/10/25/ayah-terbaring-sakit-ratna-dilla-tunda-tur-show/


Lima Tahun Teror Mumbai

Sunday, July 28, 2013

Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?










Tanya:

Assalamu’alaikum Wr Wb


Saya membaca Alquran dan artinya, kemudian menemukan ayat yang artinya sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah: 62).


Apakah benar umat yang menganut agama selain Islam juga mendapat pahala dan syurga? Sedangkan yang saya tahu agama yang Allah ridhai adalah agama Islam. Mohon penjelasannya agar kami yakin. Terimakasih
Wassalamu ‘alaikum Wr Wb


(adick_syaf@yahoo.com)



Jawab:


Persyaratan beriman kepada Allah dan hari Kemudian, seperti bunyi ayat di atas, bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka, tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh Alquran dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Memang akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu persatu. Rasul saw dalam percakapan sehari-hari, sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan hari Kemudian.


Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar-umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya.


Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah memang harus diakui. Tetapi, hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar-pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di hari Kemudian kelak agama siapa yang direstui-nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.




( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://regional.kompas.com/read/xml/2013/06/12/18252539/Penyerangan.ke.Diskusi.Lintas.Agama.Tuai.Kecaman


Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?

Tuesday, October 1, 2013

Kala Garuda Muda Dilarang Ngartis

Pendapatan pesepakbola dunia terbesar dari luar lapangan hijau yaitu iklan produk. Di Indonesia, muncul wacana agar Garuda Muda “diharamkan” memasuki dunia gemerlap itu. Demi prestasi lah alasannya.

Tak bisa dipungkiri, dunia selebritas dan sepakbola memiliki hubungan spesial. Bintang lapangan hijau banyak yang mengeruk uang dari acara televisi hingga iklan. Bahkan di luar negeri, WAGS (wives and girlfriends) pesepakbola mayoritas artis.Namun, di Indonesia diwacanakan agar pemain sepakbola di tim nasional tidak dekat-dekat dengan dunia ikaln. Seperti diketahui, lama paceklik prestasi membuat publik Tanah Air risau dengan masa depan sepakbola Indonesia. Meski digandrungi publik, persepakbolaan Indonesia seolah tak bertaji.


Namun harapan akan membaiknya dunia si kulit bundar itu seakan membuncah saat Timnas U-19 menjuarai piala AFF. Paceklik prestasi selama 22 tahun seakan terobati dengan kemenangan Maldini cs atas timnas Vietnam dalam drama adu penalti.


Prestasi sepakbola Indonesia di tingkat kawasan selama ini hanya bisa dibilang “nyaris” sempurna. Lihat saja tahun 1997, 2000, 2002, 2004, 2010 dan 2011 lalu, Timnas hanya bisa masuk final lalu tunduk kepada lawan baik di ajang Piala Tiger, AFF, maupun Sea Games. Namun kemenangan tim berjuluk Garuda Jaya ini pun diselimuti awan gelap. Menjadi pemain bintang dan berprestasi terkadang banyak godaan.


Lihat saja nasib timnas senior Piala AFF 2010 yang dirusak persiapannya dengan berbagai kunjungan yang tidak penting. Banyaknya tawaran iklan dan menghadiri acara tak penting bisa membuat mereka terlena.


Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo mewanti-wanti agar timnas U-19 dijaga dari gangguan internal dan eksternal. Roy Suryo juga tidak ingin mereka menjadi bintang iklan. Politisi Demokrat ini meminta agar kekompakan tim terus dijaga dan tidak diganggu kepentingan iklan dan komersil lainnya. Dia beralasan, tim ini masih akan terus jalan. Gangguan-gangguan iklan itu akan mengakibatkan ketidakkompakan di tubuh Garuda Jaya.


Selain Roy Suryo , Wakil Ketua Umum PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti juga mengingatkan hal yang sama. Proteksi itu diperlukan agar timnas Garuda Jaya tidak mengalami over ekspos media. Dia meminta agar pemain tidak dibawa ke mana-mana, di luar lapangan rumput. Sebab menurut dia hal itu masih terlalu dini. Misalnya ada beberapa program TV meminta anak-anak hadir di studio.


“Masak anak-anak mau diboyong ke sana kemari, dari studio TV satu ke studio TV yang lain. Tampil di acara hiburan dan entertainment. Bisa-bisa malah merusak mental anak-anak. Mereka masih harus fokus. Masa depannya masih panjang,” ujar La Nyalla.


Ketua Badan Tim Nasional (BTN) ini juga menegaskan bahwa pihaknya akan memagari para pemain timnas Indonesia U-19 dari godaan bintang iklan dan syuting untuk tayangan televisi.


“Kami khawatir akan terkontaminasi dunia hiburan dan menjadi terlalu sibuk dengan agenda di luar sepak bola. Sebab itu akan merugikan pemain sendiri dan berpengaruh ke mental,” ujar La Nyalla Mahmud Mattalitti.


Menurutnya, pihaknya telah belajar dari pengalaman beberapa pemain sepakbola yang mulai tenar dan masuk dunia hiburan. Dia menilai, karir sepakbolanya akan terganggu dan berimbas pada berkurangnya kemampuannya dalam urusan si kulit bundar.


Menpora Roy Suryo juga meminta agar timnas U-19 yang sukses menjadi juara Piala AFF U-19 dijaga dari gangguan internal dan eksternal. Menurut dia sukses timnas adalah perjalanan panjang. Sukses ini bukan merupakan keberhasilan individu tetapi kerja sama seluruh tim.


“Menurut saya, secara internal, jangan sampai di antara mereka timbul ada penonjolan sehingga ada friksi di antara mereka. Semalam yang saya lihat tokoh yang kemudian diangkat dan ditonjolkan ada Ilham. Saya sudah bicara langsung tadi pagi, saya pesankan, kebetulan saja yang jadi penentu. Tapi ini adalah kerja tim,” katanya.


Akibatnya, kata dia, kapten timnas, Evan Dimas yang biasanya menjadi pahlawan, semalam agak sedih karena tidak beruntung mengeksekusi penalti. “Nah itu jangan menjadi soal. Kalau itu diangkat bisa jadi masalah, karena ini kerja tim,” kata Roy menegaskan.


Perlukah pelarangan “ngratis” seperti ini? Ins


Pemain Bola Ini Berpenghasilan Besar dari Iklan
Faktor pemain menjadi salah satu magnet menarik dalam sepakbola. Tidak di pungkiri pemain sepak bola adalah suatu profesi yang dekat dengan ketenaran dan publisitas yang tinggi. Apalagi jika pemain itu memiliki kemampuan hebat atau tampang menawan. Dua aspek itulah yang membuat seorang pemain menjadi incaran pengusaha.


Bayaran dari iklan, tentunya membuat kekayaan sang pemain menebal. Berikut 5 pemain terkaya dunia versi Forbes yang juga menjadi bintang iklan.


Cristiano Ronaldo
Forbes merilis bahwa pendapatan mega bintang klub Real Madrid, Cristiano Ronaldo, mencapai 44 juta dollar atau setara Rp 507 miliar per tahunnya. Hampir setengah dari pendapatan Ronaldo berasal dari iklan.


Pemain Portugal ini mengikat kerjasama dengan Nike, Castrol, Clear Shampoo, Mobitti, Konami, Banco Espirito Santo. Ketenaran Ronaldo setelah 2 kali menjadi runner up pemain terbaik dunia membuatnya menjadi incaran banyak perusahaan lainnya yang mengantre untuk menjadikannya bintang iklan.


Lionel Messi
Lionel Messi, menurut catatan Forbes, memiliki pendapatan per tahun mencapai sekitar 40,3 juta dollar atau setara Rp 464,9 miliar. Pendapatan Messi ini berasal dari gaji sebesar 14 juta dollar, 2 juta dollar dari bonus dan 24 juta dollar dari iklan.


Messi, sebagai seorang pemain sepakbola dengan raihan 4 gelar pemain terbaik dunia, tidak di pungkiri dirinya mencatatkan diri sebagai seorang pesepakbola paling terkenal di dunia. Messi memiliki sponsor dari Adidas yang menyumbang 4 juta dollar per tahun lalu yakni Konami, PepsiCo, Cher, KFC, Gillete.


Sergio Aguero
Pemain asal Negeri Tango ini memiliki pendapatan per tahunnya mencapai 20,8 juta dollar atau setara Rp 239,9 miliar. Aguero telah mengikat kontrak kerjasama dengan beberapa produk dunia di antaranya Puma dan Pepsi.


Aguero dibeli Manchester City dari Atletico Madrid senilai 60 juta dollar. Selama dua tahun keduanya bersama Manchester City, Aguero selalu menjadi salah satu pencetak gol terbanyak bagi klub rival Manchester United ini. Performa apik Aguero membuat masa depannya di dunia sepak bola masih cerah. Dengan umur Aguero yang masih muda yakni 24 tahun membuat Puma terpikat untuk mengikatnya dengan kontrak kerjasama jangka panjang sebagai bintang iklan.


Wayne Rooney
Wayne Rooney, pemain yang mendapat julukan si bengal, memiliki pendapatan per tahunnya mencapai 20,3 juta dollar atau setara Rp 234,2 miliar. Sponsor terbesar Rooney ialah Nike dan Harper Collins. Rooney saat ini tengah mengalami kekeringan dana dari iklan. Pasalnya, EA Sport, sebagai salah satu penyumbang pendapatan terbesar memutus kontrak kerjasama 7 tahunnya.ins


Pesepakbola Indonesia Juga Laris Manis
Iklan, menjadi salah satu cara para atlet Indonesia untuk menambah pundi rupiah mereka. Tentunya, mereka juga kerap berlaku selektif terhadap iklan yang ditawarkan. Jika tidak ada korelasi dengan profesi mereka sebagai atlet, sudah barang tentu tidak akan diterima karena ha tersebut hanya akan mencoreng citra yang sudah melekat dalam dirinya.


Sebut saja iklan sepatu olah raga, makanan ringan penambah daya tahan tubuh hingga iklan sebuah sepeda motor yang kerap menonjolkan sifat macho seorang pria. Berikut beberapa nama pemain Timnas Sepak Bola Indonesia yang menambah pundi-pundi uang melalui jalur hiburan:


1. Irfan Bachdim
Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 11 Agustus 1988 silam tersebut mencuat namanya setelah menjebol gawang Malaysia dalam laga dua tahunan di Asia Tenggara, Piala AFF 2010. Dalam laga perdana, Indonesia berhasil membungkam Malaysia dengan perolehan skor 5-1 dan Bachdim menjadi salah satu pemain yang menjebol gawang Negeri Jiran tersebut.


Rupa yang kebule-bulean membuat seluruh pasang mata tidak bosan memandangnya. Ahasil, wajah blasteran Bachdim pun acap kali menghiasi layar kaca, tentunya di luar pertandingan yang ia lakoni.


Wajah Bachdim yang mulai menghiasi layar kaca dan sampul beberapa media cetak kerap disebut pelaku industri hiburan sangat berpotensial menyedot perhatian konsumen. Alhasil, Bachdim pun menjelma dari seorang atlet muda Indonesia menjadi superstar di dunia hiburan.


Dalam suatu kesempatan, Bachdim sempat menuturkan alasannya menerima sejumlah tawaran iklan yang berdatangan lantaran mengikuti jejak sang idola, Cristiano Ronaldo atau yang akrab disapa CR7.


“Idola saya Cristiano Ronaldo, itu juga salah satu alasannya saya ambil pekerjaan ini (bintang iklan),” tutur suami dari model Jennifer Kurniawan saat itu.


Sebut saja, iklan sampo, iklan minuman berisotonik hingga iklan sebuah sepeda motor mempercayakan Bachdim sebagai top brand mereka.


Namun, sayang, popularitas Bachdim yang meroket di dunia hiburan berbanding terbalik dengan profesinya yang sebenarnya yakni sebagai atlet Indonesia. Harapan sejumlah masyarakat harus pupus dikarenakan gelandang Persema Malang ini lebih menekuni profesi barunya di dunia hiburan.


Nama Bachdim dicoret sang pelatih, Rachmad Dharmawan (RD) dari susunan pemain Timnas U-23 yang dipersiapkan untuk menghadapi SEA Games XXVI di Palembang lantaran mangkir dari latihan Timnas U-23.


Sikap indisipliner dan perubahan gaya hidup juga yang membuat Bachdim tersandung masalah di klub yang selama ini ia bela, yakni Persema Malang.


2. Bambang Pamungkas
Siapa yang tidak kenal Bambang Pamungkas. Striker klub Persija yang akrab disapa Bepe ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Selain kemampuan bermain sepak bola yang tidak lagi diragukan, wajah Bepe yang mengeluarkan aura karismatik kerap membuat sejumlah pasang mata tidak bosan untuk memandang.


Ketajaman Bepe ketika berhadapan langsung dengan gawang lawan dalam adu penalty menjadi salah satu alas an mengapa banyak penikmat Sepak Bola di Tanah Air menaruh kagum terhadapnya. Energi positif yang dipancarkan sang mantan kapten Timnas Indonesia tersebut dilirik sejumlah pelaku di industri hiburan,


Bepe pun dipercaya membintangi sejumlah iklan, seperti iklan makanan ringan yang dipercaya dapat menambah daya tahan tubuh, kemudian ada iklan sepatu dengan merk ternama, iklan handphone hingga iklan obat sakit kepala.


Diharapkan, dengan dijadikannya pria kelahiran Semarang, 10 Juni 1980 silam tersebut menjadi icon sejumlah produk dapat dengan serta merta menyedot perhatian para konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.


3. Christian Gonzalez
Cristian Gonzales merupakan salah satu striker Indonesia yang ditakuti oleh lawannya. Pasalnya, pemain naturalisasi kelahiran Uruguay, 30 Agustus 1978 ini handal dalam posisi penyerang tengah ataupun penyerang tunggal saat di lapangan hijau dan terkenal dengan sundulan mautnya yang dapat menjebol gawang lawan.


Prestasinya di lapangan hijau yang terbilang cemerlang membuat suami dari Eva Nurida Siregar ini dilirik beberapa produser iklan yang mempercayakan Cristian sebagai top brand produk mereka. Alhasil, Pria yang telah mencetak gol sebanyak 173 gol ini dikontrak sebuah produk sepatu olah raga.


Selain menjadi bintang iklan, pria yang resmi menjadi Warga Negara Indonesia sejak 1 November 2010 ini juga dipercayakan membintangi sebuah sinetron yang berjudul Islam KTP. Kendati tawaran dari dunia hiburan mengalir deras, pemain yang dijuluki El Locco tersebut tetap berkomitmen penuh dengan profesinya sebagai atlet Sepak Bola Indonesia. Menurutnya, selama jadwal syuting tidak mengganggu hingga membuat kinerjanya menurun saat merumput, maka hal tersebut akan tetap dilakoni.


4. Andik Firmansyah
Nama Andik Vermansyah kian menjadi tidak asing didengar di telinga saat dirinya ditekling keras oleh bintang David Beckham dalam laga Tim Nasional Indonesia Selection melawan LA Galaxy di Stadion Gelora Bung Karno, Rabu 30 November 2011silam.


Selain itu, gerak yang lincah saat merumput pun juga menjadikan pria kelahiran Jember, 23 November 1991 dijuluki Lionel Messi Indonesia. Seperti para pendahulunya, keunikan Andik juga dilirik sejumlah pelaku industri hiburan khususnya iklan.


Pemain asal klub Persebaya U-18 ini pun dipercayakan membintangi sebuah iklan produk kacang yang sudah tidak asing lagi.ins


Article source: http://internasional.kompas.com/read/xml/2013/09/09/1252305/Panel.Konstitusi.Mesir.Beragam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp


Kala Garuda Muda Dilarang Ngartis

Saturday, January 26, 2013

Penduduk Mali Tidak Bisa Masuk Gereja

SATURDAY, 26 JANUARY 2013

Total View : 148 times

Uskup Augustin Traore yang bertugas di keuskupan di Mali menyatakan bahwa para penduduk Mali bersembuyi di rumah mereka dan tidak berani keluar. Walaupun gereja mereka masih utuh, masyarakat tetap takut masuk karena gereja mereka terletak di jalur operasi pemberontak Islam sehingga hal tersebut dapat membahayakan keutuhan gereja-gereja katolik di Mali.

“Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi sampai kericuhan karena bom Perancis dan pertikaian berakhir,” kata Uskup Traore 16 januari lalu.

Di saat yang sama pasukan perang Perancis telah bersiap untuk menghadapi pemberontakan di Diabaly, 145 km di utara Segou.

Sementara itu Uskup Traore juga menambahkan bahwa hubungan antara orang-orang Kristen dan Muslim di Mali masih tergolong baik menurut skala lokal dan tidak terpengaruh oleh pemberontakan-pemberotakan Islam karena masyarakat masih sangat berkomitmen terhadap karakter sekuler Mali.

“Masyarakat di sini sangat berharap agar konflik ini segera berakhir. Kebutuhan mereka sangatlah mendesak, termasuk kebutuhan tempat yang aman untuk berdoa dan memuji Tuhan,” kata Uskup Traore.

Pemberontakan etnik Tuareg yang menuntut negara bagian terpisah telah menyerbu sebagian besar negara Mali bagian utara. Etnik Tuareg beroperasi bersama dengan grup Islam Ansar Eddine yang dipercayai sebagai bagian dari al-Qaida.

Sean Gallagher, perwakilan Catholic Relief Services, Layanan Bantuan Katolik di Mali mengabarkan bahwa agen pengembangan keuskupan internasional di Amerika telah memberikan bantuan untuk orang-orang yang melarikan diri dari daerah-daerah Keuskupan Mopti yang telah diduduki oleh para pemberontak.

Ia menambahkan bahwa banyak yang sudah melarikan diri ke Segou namun karena ancaman pemberontak di Segou dan Mopti telah meningkat, maka meteka akan bergerak kea rah selatan menuju Bamako.

Uskup Agung Jean Zerbo di Bamako mengingatkan para umat Kristen untuk tetap berharap bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, karena walaupun komunitas internasional telah banyak membantu, namun nasib penduduk Mali akan tetap ada di tangan mereka sendiri.

Kekacauan di Mali merupakan satu dari banyak kasus mengerikan yang terjadi pada umat Kristen di seluruh dunia. Dukungan doa dari saudara-saudara Kristen akan sangat mambantu saudara-saudara kita untuk tetap kuat dalam menghadapi musibah tersebut.


Baca juga artikel lainnya:

Vina Panduwinata Nyaris Terjebak Banjir di UOB Plaza

Single dan Bahagia

Meraih Kekayaan di Tahun Baru (Part 1)

Sumber : christiantelegraph.com / Zee


Lintas.me


About CBN - Rosita

Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/218886


Penduduk Mali Tidak Bisa Masuk Gereja

Wednesday, April 17, 2013

Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Home Nasional



Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli





 

Masjid Nurussa’adah Islamic Center Kupang/UAW



 




Rabu, 17 April 2013


Hidayatullah.com–Bila Anda punya waktu luang, sesekali cobalah berwisata ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, jangan lupa untuk mampir beribadah dan menikmati pemandangan indah Islamic Center Masjid Raya Nurussa’adah Kupang, beralamat di Jalan Soekarno Nomor 24 Fontein, Kota Kupang, NTT. 


Masjid Raya yang sekaligus Islamic Center di Kota Kupang ini belum sepenuhnya rampung untuk saat ini. Kini yang hampir selesai diperkirakan sudah 75 persen. Panitia pembangunan telah mengkonfirmasi bahwa rencana pembangunannya akan rampung pada bulan Juli tahun ini. 


Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Islamic Center Kupang Ir. H. Muhammad Anshor, mengatakan, pusat kegiatan Islam, baik pendidikan dan dakwah, akan dipusatkan di Masjid Raya Nurussa’adah sebagai Islamic Center kota ini. Ia juga menghimbau seluruh ormas Islam dapat bersatu dalam menyelesaikan persoalan umat. 


“Diharapkan dengan adanya Islamic Center dapat memberikan motivasi beragama umat Islam Kota Kupang dan sekitarnya,” kata Muhammad Anshor kepada kontributor Hidayatullah.com, Usman Aidil Wandan, di Kupang, Selasa (16/04/2013).


Meski umat Islam di Kupang minoritas, namun tahap demi tahap pembangunan Masjid Raya dan Islamic Center berjalan tanpa kendala berarti. Hal itu mendapat angin segar pula ketika peletakan batu pertama turut andil memberi sumbangan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik sebesar Rp 100 Juta dan Walikota Kota Kupang Jonas Salean yang beragama Kristen berdonasi sebesar Rp 30 Juta. 


Dikatakan Anshor, di masa mendatang Islamic Center ini terdapat kantor untuk perwakilan ormas-ormas Islam yang ada di Kota Kupang. Ia menjelaskan, dalam bulan Juli mendatang, Islamic Center ini dijadwalkan telah rampung dengan memakan dana sekitar Rp 8 Miliar dari dana Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) Kementerian Agama Pusat Jakarta. Rencananya Islamic Center ini akan diresmikan oleh Menteri Agama Suryadarma Ali.


Kebanggaan Masyarakat Kupang


Wakil Imam Besar Masjid Nurussa’adah Muhammad Ramli mengatakan bahwa Masjid Raya dan Islamic Center serta Pusat Dakwah Islam Nurussa’adah Kota Kupang merupakan ikon kebanggaan umat Islam NTT nantinya. 


Sekretari DDII Provinsi NTT ini mengharapkan, ke depan masjid ini menjadi pusat kegiatan keumatan yang diharapkan mampu berperan untuk meningkatkan mutu dan kualitas umat di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, dan sinergi keumatan.


“Bentuk konkrit yang akan dilakukan adalah sebagai pusat dakwah berkumpulnya ormas-ormas Islam untuk bersama-sama berfikir dan bekerja sama untuk kemaslahatan umat,” kata Ramli. 


Harapan masyarakat Kota Kupang datang dari Saharuddin. Ia berharap semoga dengan adanya Masjid Raya Nurussa’adah kelak menjadi tempat ibadah yang nyaman dan membuat khusyu’ bagi yang beribadah. 


“Harus ada satu tradisi keilmuan yang dibangun nanti melalui pusat pengkajian keislaman. Saya juga berharap ini menjadi masjid percontohan di NTT,” kata Sahar.


Hari ini perkembangan Islam cukup pesat di Kota Kupang. Hal itu dapat dilihat dengan kian semaraknya pengajian-pengajian, baik bapak maupun ibu-ibu serta kaum remaja. Perkembangan umat Islam juga bisa dilihat ketika sholat Jum’at, nyaris tidak ada masjid yang tidak dipadati jama’ah


“Setiap tahun ada saja dari kelompok masyarakat yang masuk Islam menjadi muallaf. Sehingga diharapkan dengan dibangunnya Islamic Center Kupang ini dapat menjadi solusi pembinaan keislaman di Kota Kupang dan sekitarnya,” tutup Ramli.*


Rep: Ainuddin Chalik
Red: Syaiful Irwan


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1941992/tolak-masuk-islam-lidah-pelajar-diiris


Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Friday, March 29, 2013

Pendidikan Karakter Setengah Hati

Pendidikan Karakter Setengah Hati

Oleh : Muhammad Kosim

Guru MTsN di Padang

Padang Ekspres • Jumat, 29/03/2013 12:26 WIB • 84 klik

”Pendidikan Karakter Hanya Slogan”, demikian berita Padang Ekspres, Rabu (27/3). Hal ini be­rangkat dari beragam kasus pelajar yang melanggar hukum sehingga disimpulkan bahwa kenalan pelajar kian meningkat. Berita itu sejatinya bahan renungan bagi pemikir dan praktisi pendidikan yang selama ini mendengungkan pentingnya pen­didikan karakter di sekolah.

 

Apalagi bagi pemegang kebijakan di Sumatera Barat, Pendidikan Karak­ter telah menghabiskan dana miliaran rupiah. Pemerintah Daerah Sumatera Barat telah menetapkan Pergub No. 73 Tahun 2012 tentang “Pendidikan Karakter pada Sekolah/Madrasah di Sumatera Barat”. Bahkan Pemprov Sumbar telah menetapkan satu SMP tiap kabupan/kota sebagai sekolah piloting dengan anggaran fantastis, 300 juta rupiah. Di tahun ini, rencananya dana tersebut akan ditambah 125 juta rupiah untuk tingkat SMP dan 75 juta rupiah untuk SD.

 

Namun, setelah satu tahun berja­lan, apa yang diperoleh dari program tersebut?

 

Jika mengukur keberhasilan pen­di­dikan karakter yang masih “seumur jagung” itu dengan fenomena kenalan remaja yang kian meningkat, seperti yang diberitakan Padek, tentulah kurang adil. Sebab, untuk mem­bangun karakter peserta didik tidak semudah membalik telapak tangan.

 

Tetapi perlu mengevaluasi dan melihat beragam persoalan yang ada sehingga dibutuhkan upaya serius untuk mengatasinya. Banyak persoa­lan yang melatarbelakangi fenomena tersebut, seperti kurangnya pendidi­kan dan perhatian orangtua, pudarnya peran dan tanggung jawab ninik-mamak, ketidakpedulian masyarakat sekitar, kinerja guru di sekolah yang tidak optimal, hingga kebijakan peme­rintah yang kadang bertentangan antara konsepsi dan aplikasi.

 

Namun, tanpa mencari “kambing hitam”, paling tidak sekolah sebagai lembaga pendidikan yang diberi amanah oleh orangtua, melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan dalam mendidik karakter siswa.

 

Di antara persoalan yang harus menjadi perhatian pengelola pendi­dikan, khususnya di Sumatera Barat, dalam pelaksanaan pendidikan karak­ter adalah: pertama, kurangnya kesia­pan guru menjadi model atau teladan bagi peserta didik. Selama ini, guru lebih dibebani untuk melaksanaan pendidikan yang berorientasi pada kognitif. Sementara aspek afektif nyaris diabaikan.

 

Hal itu terjadi secara sistemik. Sejak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa yang kuliah di jurusan keguruan lebih dipersiapkan untuk menguasai materi dan terampil mengajar. Sementara sisi afektif mahasiswa yang akan menjadi calon guru tersebut kurang mendapat perhatian dan pembinaan.

 

Ketika dilakukan rekruitmen guru, termasuk penerimaan CPNS, yang diuji lebih kepada kognitifnya, bahkan banyak fakta yang menunjukkan tes CPNS tersebut tidak menyentuh aspek kepribadian sama sekali.

 

Di saat menjadi guru, lalu dila­kukan pembinaan dengan berbagai training, workshop, lokakarya, dan sejenisnya. Lagi-lagi, materi yang diajarkan tetap berorientasi pada kognitif dan psikomotor/skill guru untuk menyusun perangkat pem­belajaran. Bahkan ketika guru me­ngikuti Pendidikan dan Latihan Pro­fesi Guru (PLPG) untuk memperoleh Sertifikasi Guru, materi yang di­ajarkan tidak jauh berbeda dengan pola training di atas.

 

Akibatnya, ketika di lapangan, guru lebih disibukkan dengan pe­nyam­paian materi yang bersifat kog­nitif (transfer of knowledge), se­mentara proses pendidikan karakter yang berorientasi pada afektif (internalization of values) kurang men­dapat perhatian.

 

Lain lagi dengan aturan bagi guru yang diwajibkan harus memenuhi 24 jam sebagai salah satu syarat mem­peroleh tunjangan sertifikasi, mereka justru disibukkan dengan tugas ter­sebut. Ada yang berpindah-pindah di beberapa sekolah untuk memenuhi tugas wajib 24 jam, ada pula yang disibukkan dengan seonggok pe­rangkat pembelajaran.

 

Ketika diminta melakukan pem­binaan karakter siswa di luar PBM dan tidak dihitung sebagai jam tatap muka, maka banyak yang enggan. Maka berbagai program pengembangan diri yang sarat akan pendidikan karakter, seperti pramuka, kesenian, olah raga, ROHIS, dan sebagainya kurang ber­jalan dengan optimal karena tidak diakui sebagai jam tatap muka. Ironis memang.

 

Begitu juga memberi penghargaan pada siswa, yang diumumkan sebagai juara hanyalah mereka yang mengum­pulkan angka-angka kognitif, semen­tara siswa yang berbudi luhur, tetapi kemampuan kognitifnya tergolong menengah tidak mendapat peng­har­gaan dan tempat istimewa.

 

Maka bagi sebagian siswa—bah­kan sekolah—menghalalkan segala cara agar nilai ujian akhir (seperti Ujian Sekolah dan Ujian Nasional) mendapat angka-angka yang tinggi. Dengan begitu mereka akan dihargai oleh kepada dinas bahkan masyarakat, karena dianggap berhasil meluluskan siswa 100% dengan nilai rata-rata yang tinggi.

 

Dalam perspektif pendidikan Islam, tanggung jawab pendidikan akhlak anak sepenuhnya ada pada orangtuanya. Namun, orangtua sadar akan keterbatasannya sehingga ia menyerahkan anaknya kepada guru di sekolah. Guru menerima amanah mulia dari orangtua. Hukum me­ngem­ban amanah adalah wajib. Kare­na itu, guru disebut sebagai orang tua ruhani (abu al-ruh/spiritual father).

 

Untuk itu, setiap guru harus ber­upaya semaksimal mungkin untuk terlibat aktif membina dan mendidik ranah afektif siswa, di samping ranah kognitif dan psikomotornya.

 

Kedua,bergesernya paradigma tentang agama. Di satu sisi, banyak pakar yang menyebut bahwa agama memiliki peran yang signifikan dalam mendidik karakter setiap manusia. Sebab agama sarat akan nilai-nilai karakter. Apalagi di Sumatera Barat, kultur masyarakatnya demikian kental dengan nuansa agama sehingga di­kenal filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

 

 Namun di sisi lain, agama mulai dipandang sebagai urusan pirvasi seseorang. Negara tidak boleh banyak campur tangan terhadap agama. Misalnya, penulis mendengar per­nyataan beberapa orang mengkritik Pergub No. 73 Tahun 2012 tentang Pendidikan Karakter Sumbar itu “tidak netral”, lebih cenderung pada tataran agama. Bukankah bangsa ini dibangun atas dasar Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa? Bukankah paradigma pendidi­kan yang dikembangkan sesuai de­ngan kearifan lokal, tanpa melakukan deskriminasi terhadap kelompok lain?

 

Tidak itu saja, program-program yang telah disusun dan difasilitasi oleh pemerintah daerah Sumbar terkait dengan agama juga tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Misalnya, satu-satunya propinsi yang membuat Perda (Perda No. 3 Tahun 2007) dan Pergub (Pergub No. 70 dan 71 Tahun 2010) tentang Muatan Lokal Pendidikan Alquran adalah Sumatera Barat.

 

Muatan lokal ini dirasa sangat penting mengingat masyarakat di wilayah ini mayoritas muslim dan dikenal sangat dekat dengan al-Qur’an (ABS-SBK). Nyatanya, seiring kelang­kaan surau sebagai lembaga pendi­dikan, banyak fakta yang menun­jukkan bahwa remaja muslim tidak lagi fasih membaca Al-Quran, apalagi memahami dan mengamalkannya. Padahal Mulok ini diyakini menjadi salah satu upaya yang efektif untuk mendidik karakter siswa.

 

Coba terapkan, seluruh siswa mus­lim dibimbing membaca Al-Quran, lalu mengartikan memahami dan berupaya mengamalkannya. Begitu pula di dalam tas mereka ada al-Qur’an, apakah mereka berani juga mencuri, tawuran, atau berbuat onar, paling tidak ketika memakai seragam sekolah?

 

Akan tetapi, berapa banyak seko­lah yang tak kunjung ridho menerap­kan Pendidikan Alquran sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolahnya. Apalagi pada kurikulum 2013, kedudukan Mulok itu akan semakin terancam karena Mulok lebih diintegrasikan pada Olahraga, Kese­nian, dan Prakarya.

 

Ketiga, kurangnya ketegasan dan kerjasama kepala daerah, khususnya tingkat kota/kabupaten dalam mene­rapkan, mengawal, mengevaluasi, dan menindaklanjuti program pendidikan karakter. Program pendidikan karak­ter kadang dianggap hanya sebatas proyek, kebijakan dari atasan, dan tentu akan bertahan selagi dana proyek yang tersedia masih ada.

 

Seperti yang telah disebutkan di muka, setiap kota/kabupaten di Sum­bar terdapat sekolah piloting. Akan tetapi sumber dana yang diberikan hanya dari APBD Propinsi, sementara APBD tingkat Kota/Kabupaten ku­rang mendapat perhatian di beberapa tempat.

 

Seharusnya, pelaksanaan pendi­dikan karakter tidak saja di sekolah piloting, tetapi seiring dengan itu dikembangkan oleh sekolah-sekolah lain. Maka untuk mendukung program tersebut, butuh dukungan dan ketegasan kepala daerah.

 

Ketegasan dan kerjasama yang dimaksud tidak sekedar meminta guru buat perangkat pembelajaran dengan nilai-nilai karakter, tetapi memberi perhatian dan penghargaan kepada sekolah yang mengedepankan pen­didikan akhlak.

 

Selama ini, masih saja terdengar suara sumbang, kepala sekolah dimin­ta untuk pandai-pandai meningkatkan hasil UN siswa-siswanya. Kepala sekolah yang diberi amanah bukan karena kompetensinya, tetapi karena masuk dalam jajaran tim sukses kepala daerah yang berkuasa.

 

Ketika pendidikan dipolitisir demi kepentingan sekelompok orang, maka hal inilah yang menjadi penyebab utama gagalnya pelaksanaan pen­didikan karakter. Jika di hulu telah keruh, maka sangat sulit untuk me­nyaringnya agar jernih di hilir.

 

Masih banyak persoalan-persoalan lain yang perlu dievaluasi dan ditin­daklanjuti. Tentu butuh keseriusan dan kesungguhan hati. Jika tidak, maka jelaslah pendidikan karakter hanya setengah hati, atau malah hanya slogan. Maka bagi pemegang ke­bijakan, pengelola dan praktisi pen­didikan, sejatinya konsisten antara kata dan perbuatan; antara konsepsi dan aplikasi. Semoga Allah memberi kita pertolongan. Amin. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/11/106612/forbumi_hadirkan_penceramah_nasional/


Pendidikan Karakter Setengah Hati

Thursday, January 3, 2013

Asia Tenggara, Teladan Islam yang Damai (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Pedagang adalah motor penggerak penyebaran Islam di kawasan ini.

Tak dapat dimungkiri, di Asia Tenggara masih ada Muslim yang hidup dalam belenggu kesengsaraan dan ketertindasan.

Meski demikian, dibanding kawasan lain di dunia, Asia Tenggara merupakan contoh baik mengenai kehidupan Muslim yang damai.

Tak seperti kawasan lain, Asia Tenggara nyaris tak memiliki konflik ataupun perang saudara. Meski terdiri dari banyak etnik dan suku bangsa, umat Islam di kawasan ini hidup damai dan saling menghormati.

Beragamnya organisasi keislaman pun tak menimbulkan perpecahan yang memicu pertumpahan darah. Bandingkan dengan Timur Tengah yang bisa dibilang tak ada hari tanpa peperangan.

Begitu pun di Asia Selatan yang menjadi rumah bagi hampir setengah populasi Muslim dunia. Di kawasan itu, api sengketa masih berkecamuk. Pakistan misalnya, terus dirundung isu Taliban dan terorisme.

Menurut pakar sejarah Bondan Kanumayoso, Islam di Asia Tenggara yang tak rentan konflik sangat dipengaruhi sejarah awal mula agama ini masuk dan tersebar. Islam masuk ke Asia Tenggara melalui jalur perdamaian, yakni perdagangan.

“Karena melalui jalur damai maka karakter Islam di Asia Tenggara pun sangat kuat diwarnai nuansa damai. Islam itu sendiri, kan memang artinya damai,” katanya.

Tak ada unsur militer, senjata, ataupun penaklukan wilayah, menurut Bondan, merupakan faktor penting proses Islamisasi Asia Tenggara yang sarat perdamaian. Islam diterima melalui interaksi sosial sehingga penyebarannya begitu natural.

Hal tersebut berbeda dengan penyebaran Islam di Eropa yang tak bertahan lama karena melalui Perang Salib.

“Jadi, Islam masuk bukan kekuatan militer, tapi murni pedagang. Sehingga, penyebarannya lebih mendalam karena proses yang panjang. Pengaruhnya pun lebih panjang. Karena, lewat jalur damai bukan penaklukan wilayah,” jelas sejarawan lulusan Universitas Leiden, Belanda, itu.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/13/m0s9xs-banyak-politisi-indonesia-seperti-geert-wilders


Asia Tenggara, Teladan Islam yang Damai (1)

Sunday, February 17, 2013

Malaysia Deportasi Senator Australia

Katanya Negara Demokrasi

Malaysia Deportasi Senator Australia
Senin, 18 Februari 2013 | 6:59

Nick Xenophon. [ABC]Nick Xenophon. [ABC]

[MELBOURNE]  Senator independen Australia, Nick
Xenophon telah kembali  ke
 Australia setelah dideportasi dari Malaysia.

Senator Xenophon ditahan di Bandara Kuala Lumpur,  Minggu (17/2), dan diberitahu ia dilarang
masuk Malaysia karena dipandang sebagai ancaman keamanan.

Senator Xenophon, yang sering berbicara lantang mengenai masalah hak asasi
manusia di Malaysia, naik pesawat pulang tadi pagi. 

Ia tiba di Melbourne sekitar  pukul  9.20 pagi waktu setempat, dan mengatakan dalam
konferensi pers ia lega sudah kembali di Australia. 

Katanya ia berencana akan membingkai surat perintah deportasinya, dan akan
menjadi kebanggaan di ruang kantornya. “Saya rasa keluarga saya sudah
terbiasa saya menghadapi masalah, tapi tentunya tidak yang seperti ini,”
katanya. 

“Tapi saya meyakinkan mereka bahwa saya diurus dengan baik, Komisaris
Tinggi Australia dan stafnya luar biasa dalam memberikan dukungan. Untuk itu saya
sangat berterimakasih.” 

Kata Senator Xenophon, ia kaget sewaktu dibawa untuk ditahan selama sembilan
jam.  “Saya diberitahu bahwa saya dideportasi berdasarkan pasal
tertentu dalam undang-undang immigrasi, yang pada dasarnya berkaitan dengan
risiko keamanan,” katanya. 

“Tapi agaknya satu-satunya risiko yang saya timbulkan adalah membuat
kikuk pemerintah Malaysia karena advokasi saya bagi pemilu yang bersih di
Malaysia,” tambah dia.

Kata Senator Xenophon, penasihat hukumnya menduga perintah penahanannya
datang dari atas. 

“Sepemahaman mereka, perintah itu datang dari tingkat yang mungkin
berasal dari kantor Perdana Menteri. Itu spekulasi, tapi kantor Perdana Menteri
lah yang perlu mengkonfirmasi atau membantahnya,” katanya.

Senator dari Australia Selatan itu sedianya akan bergabung dengan delegasi
yang sudah punya rencana untuk bertemu dengan anggota-anggota oposisi Malaysia
dan pejabat-pejabat komisi pemilu menjelang pemilihan umum tahun ini. 

Akan tetapi ia malah ditahan, suatu kejadian yang dilukiskan Menlu Australia,
Senator Bob Carr, sebagai menyedihkan dan mengecewakan. 

Kata Menlu Carr, ia sudah berbicara dengan  Menlu Malaysia Dato Sri
Anifah HJ Aman dan menyatakan kekecewaan atas insiden itu.

“Katanya Malaysia keberatan sekali orang-orang asing mencampuri kampanye
pemilu mereka. Katanya, demokrasi Malaysia tidak menerima campur tangan dari
seorang politisi dari luar negeri,” kata Menlu Carr.

Mantan Perdana Menteri Kevin Rudd mengatakan, penahanan itu tidak bisa
diterima dan Australia perlu tegas dalam menanggapinya. ”Kita tegas
dalam demokrasi kita dan oleh karenanya harus tegas dalam respons kita,”
katanya. 

“Senator Xenophon adalah anggota parlemen terpilih Australia dan
sepantasnya diperlakukan dengan respek,” katanya.

Mantan pemimpin Partai Hijau, Bob Brown, mengatakan, deportasi itu
menunjukkan betapa Malaysia nyaris merupakan suatu police state.

“Perlu ada lebih banyak orang dari luar masuk ke negara-negara seperti
Malaysia, yang mengaku demokrasi, tapi memenjarakan siapa saja yang tidak
disukai pemerintah,” katanya. 

Senator
Xenophon berharap insiden ini akan menuai desakan terhadap Malaysia, tapi tidak
berpendapat akan merusak hubungan antar kedua negara. 

“Australia dan
Malaysia bersahabat erat,” katanya.

“Ini tidak bakalan berpengaruh pada hubungan itu, tapi saya pikir kalau
pemerintah Malaysia mengira tindakan ini smart, saya rasa hal itu akan
berbalik menampar keras mereka.”

“Ini tadinya cuma kunjungan yang tidak menonjol … tidak akan
terdengar oleh kalian. Tapi kalau itu berarti lebih banyak warga Australia di
kawasan menjadi tahu betapa menakutkan dan kritisnya keadaan demokrasi di
Malaysia, dan bagaimana demokrasi Malaysia kini berada di persimpangan jalan,
maka itu jelas bagus,” katanya.

Senator Xenophon mengatakan tidak tahu  sampai kapan ia akan dipandang sebagai ancaman
keamanan oleh Malaysia. 

“Saya diberitahu bahwa saya sekarang masuk daftar orang yang diawasi,
dan bahwa saya masuk daftar orang yang dilarang masuk Malaysia untuk waktu yang
tidak ditentukan,” katanya.  

Senator John Williams dari Partai Nasional, anggota parlemen dari
Partai Buruh Steve Georganas, dan anggota parlemen dari Partai Liberal Mal
Washer sedianya juga ikut dalam delegasi itu bersama Senator Xenophon, tapi
sekarang sudah menarik diri. 

Direktur Jenderal immigrasi Malaysia, Alias Ahmad, mengatakan, Senator
Xenophon dilarang masuk karena telah melanggar hukum dalam kunjungan
sebelumnya.

Ahmad mengatakan dalam suatu pernyataan pemerintah bahwa “Malaysia
adalah negara bebas dan demokratis, tapi tidak ada orang yang luput dari
ketentuan hukum.”

Senator Xenophon tahun lalu diundang ke Malaysia untuk misi
pencari fakta oleh pemimpin oposisi Anwar Ibrahim.

Dalam kunjungannya,  dia mengamati
salah satu demonstrasi paling besar di Malaysia dalam puluhan tahun menuntut
perombakan sistem pemilu. 

Ia kemudian mengeritik cara pemerintah Malaysia
menangani acara demo  itu dan peliputan
oleh media pemerintah yang disebutnya bias. 

Sementara itu, Anwar Ibrahim mengeritik keputusan untuk mendeportasi has
Senator Xenophon.

“Ini mencerminkan kenekadan pihak berwenang, pemerintah yang berkuasa,
untuk membungkam para pengeritiknya dan tidak membolehkan masyarakat
internasional mengamati proses pemilu yang curang,” katanya.

Akan tetapi pakar hubungan internasional Amrita Malhi mengatakan, tidak
heran bahwa Malaysia memandang Senator Xenophon sebagai suatu risiko terhadap
keamanan pemilu dan otonominya. 

Katanya,  Malaysia – yang pernah dijajah negara lain – terutama sangat
sensitif terhadap keterlibatan pihak asing. 

Ketua Majelis Ahli Hukum Malaysia, Lee Chee Wee, mengatakan, tidak ada
alasan mengapa Senator Xenophon harus dideportasi, dan memandangnya
sebagai tindakan yang tidak masuk akal.

“Saya pikir Perdana Menteri, yang punya aspirasi tinggi Malaysia
merupakan suatu negara demokrasi modern, perlu menyadari bahwa aspirasi itu
harus diikuti dengan tindakan,” katanya.

Senator Xenophon juga ikut dalam kelompok pengamat yang mengeluarkan laporan
mengenai sistem pemilu Malaysia April lalu. 

Ia sekarang ini sedang menggugat suatu media dukungan pemerintah di Malaysia
yang keliru menyebutkan pidatonya mengenai aliran agama Scientology sebagai
membicarakan Islam. [ABC/L-8]


Kirim Komentar Anda


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/23/mh27sv-alhamdulillah-islam-bersemi-di-jeju-korea-selatan-1


Malaysia Deportasi Senator Australia

Monday, January 20, 2014

Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

TRIBUNNEWS.COM, MANADO – Akibat salah paham, tawuran nyaris pecah antara pemuda Desa Kema 2 dan 3, Kecamatan Kema, Minggu (19/1/2014) sekira pukul 01.00 Wita. Hanya dipicu masalah yang sepele, pemuda dua desa tersebut saling lempar batu. Keadaan dua Desa tersebut sempat mencekam. Kabar tentang adanya korban dalam peristiwa itu membuat sebagian warga terpancing emosinya.


Sebaliknya, banyak warga ketakutan, apalagi listrik sedang padam waktu itu dan banyak petugas bersenjata berjaga di perbatasan desa. Aparat Polres Minut dan Polsek Kema langsung turun mengamankan situasi, hingga tawuran tak berlangsung.


Informasi yang dihimpun Tribun Manado (Tribunnews.com Network), kejadian itu bermula dari seorang warga Kema 3 yang mendatangi Portal di Desa Kema 2. Portal waktu itu sedang ditutup, namun warga memaksa masuk. Salah paham terjadi antara mereka. Apalagi sebelumnya mereka telah mengonsumsi minuman keras.


Hanya itu yang terjadi, namun berbagai isu sudah terlanjur menyebar. Hal itu kontan membuat darah warga dua desa mendidih, hingga bersiap tawuran. Minggu sore digelar pertemuan antara tokoh warga Desa Kema 2 dan 3 di Kantor Camat Kema.


Hadir dalam pertemuan itu, Kapolsek Kema AKP Suparno, Plh Danramil Kauditan 1310 05 Kapten Inf Takumansang serta Camat Kema Jack Paruntu. Dalam pertemuan itu, warga kedua belah pihak sepakat untuk berdamai. Hal tersebut kemudian dituangkan nota kesepahaman antarwarga. Pertemuan selama sekira 3 jam itu diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin dua pemuka agama dari Kristen dan Islam.


Sebelum doa itu, diadakan jabat tangan antara pemuda dua desa yang bertikai. Dengan raut wajah penuh penyesalan, dua kubu yang bertikai berjabat tangan, saling berpelukan sembari mengucap kata maaf. Ternyata, mereka kebanyakan masih punya hubungan saudara.


Kapolsek Kema AKP Suparno mengatakan, perkelahian itu bukan antara dua warga desa, namun hanya antara dua kelompok pemuda.


“Itu hanya antar pemuda saja,” kata dia.


Ia pun membantah, jika ada korban yang kena sabetan parang.


“Yang benar adalah seorang warga, lengannya tersangkut parang,” bebernya.


Dari ciri-ciri kejadiannya, ia menduga ada provokator yang turut bermain. Ia janji akan memburu provokator itu.


“Setahu saya, warga disini bersaudara, warga Kema coba diadu, seperti terjadi di beberapa kabupaten sebelum ini,” katanya.


Suparno juga berjanji akan memberantas peredaran miras di daerahnya, yang ditengarai menyulut perkelahian antarwarga.


Camat Kema Jack Paruntu minta aparat desa untuk menjaga keamanan desa masing-masing.


“Hansip harus berperan, jika ada potensi rusuh harus diatasi,” katanya. (art)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/27/mp29k8-masjid-sheikh-zayed-masuk-landmark-terbaik-dunia


Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

Monday, April 29, 2013

Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2014 bukan saja diramaikan dengan kehadiran para artis atau pesohor negeri. Sejumlah pentolan organisasi kemasyarakatan (ormas) di Ibu Kota yang memiliki basis massa juga mencoba peruntungan menjadi calon wakil rakyat. Mereka sering disebut sebagai penguasa bawah tanah Jakarta, yang memimpin massa akar rumput dan punya pengaruh cukup kuat di kelompoknya masing-masing.


Pada Pemilu 2014 mendatang, setidaknya ada empat penguasa bawah tanah Ibu Kota yang maju sebagai bakal calon anggota legislatif:

1. Jhony Indo

Inilah “Si Robinhood”. Nama aslinya Johanes Hubertus Eijkenboom, namun lebih populer dengan nama Johny Indo. Jhony pada tahun 1970-an merupakan salah satu pentolan preman Ibu Kota yang yang cukup disegani.


Ia dikenal sebagai perampok toko emas yang hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Dari situlah, Jhony kemudian mendapat julukan “Robinhood”. Dalam melancarkan aksinya, Jhony selalu bersama dengan kelompoknya yang bernama Pasukan Cina Kota atau yang disebut “Pachinko”. Mereka menyatroni toko emas pada siang hari.


Namun, setelah sekian kali lolos, akhirnya Jhony tertangkap. Ia kemudian dijatuhi hukuman penjara 14 tahun dan dijebloskan ke Penjara Nusa Kambangan. Meski sudah masuk ke penjara dengan tingkat keamanan tinggi, Jhony sempat kabur dari selnya dan bersembunyi di antara bukit dan parit yang berada di penjara di pulau itu. Namun, keberadaan Jhony tetap bisa diendus aparat.


Kini, Jhony mengaku sudah tobat. Ia kini menjadi pelatih bela diri untuk para sekuriti di Bumi Perkemahan Cibubur. Pada tahun ini, Jhony menyatakan maju sebagai bakal  calon anggota legislatif dari Partai Nasdem untuk DPRD Sukabumi.


2. Tito Refra Kei
Fransiscus Kei atau yang akrab disapa Tito Kei. Ia maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN). Kali ini, ia tidak maju dari kota kelahirannya, Pulau Kei, Maluku Tenggara, tetapi justru dari daerah pemilihan Papua Barat.


Nama Tito sangat melekat dengan kebesaran nama sang kakak, John Kei, yang dibui atas tuduhan sebagai otak pembunuhan terhadap bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono alias Ayung pada tahun 2012 lalu. Kedua kakak beradik ini juga sempat berurusan dengan aparat kepolisian lantaran memotong jari dua pemuda pada Agustus 2008.


John dan Tito sempat diseret ke meja hijau akibat kasus itu. Ketika itu, proses peradilan terpaksa dilakukan di Surabaya untuk mencegah amuk massa. Setelah perkara itu muncul, Tito juga sempat terlibat dalam kasus “Ampera Berdarah”. Saat itu, massa kelompok Kei bentrok dengan kelompok asal Flores pimpinan Thalib Makarim di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat sidang kasus bentrok Blowfish digelar. Tito bahkan tertembak di bagian dadanya yang nyaris mengenai jantung. Namun, Tito akhirnya selamat dalam tragedi tahun 2010 tersebut.


Di luar catatan hukumnya itu, Tito merupakan seorang advokat. Ia pun mendirikan firma hukum bernama Tito Refra, Cosmas Refra and Partner.


3. Lutfi Hakim
Lutfi Hakim merupakan Ketua Umum Front Betawi Rempug (FBR) setelah Ketua Umum sebelumnya meninggal dunia pada tahun 2009 lalu. Ia sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal FBR. Lutfi Hakim termasuk salah satu tokoh Betawi yang cukup populer di kalangan masyarakat.


Kini, Lutfi maju sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk Provinsi DKI Jakarta, tanpa atribut partai politik apa pun.


4. Munarman
Munarman adalah mantan aktivis HAM dan mantan Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ia menanggalkan aktivitasnya di lembaga bantuan hukum itu, setelah menyatakan bergabung dengan sebuah organisasi massa, Front Pembela Islam (FPI).


Di FPI, Munarman pernah menjadi Panglima Komando Laskar Islam dan kini kerap tampil sebagai juru bicara ormas tersebut. Ia juga menjadi salah seorang penentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia bersama tokoh-tokoh lainnya.


Munarman pernah terlibat dalam insiden Monas, 1 Juni 2008. Saat itu, ia bersama Laskar Islam FPI melakukan penyerangan terhadap massa AKK-BB. Pada tanggal 4 Juni 2008, sekitar 1.500 polisi diturunkan ke Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, setelah tidak ada dari pihak FPI yang menyerahkan diri. Munarman pun menolak menyerahkan diri hingga menjadi buronan.


Setelah bersembunyi beberapa hari, Munarman akhirnya menyerahkan diri pada tanggal 8 Juni 2008. Selepas keluar dari penjara, Munarman masih aktif di FPI. Pada Pemilu 2014, Munarman menjadi bakal caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan Sumatera Selatan II.


Berita-berita jelang Pemilu dapat Anda ikuti dalam topik:
Geliat Politik Jelang 2014
Kabar dari KPU
Verifikasi DCS Pemilu 2014


 
















Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/04/22/159222/jadi-caleg-angel-lelga-maju-dari-dapil-solo


Empat 'Penguasa Underground' Jakarta Jajal Jadi Wakil Rakyat

Tuesday, February 5, 2013

Konsekuensi Mengusung Ideologi

Konsekuensi Mengusung Ideologi

Oleh : Jeffrie Geovanie

Founder The Indonesian Institute

Padang Ekspres • Selasa, 05/02/2013 11:46 WIB • 22 klik

Jeffrie Geovanie

Kecaman terhadap kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi tersangka korupsi jauh lebih keras dari kader partai lain yang melakukan hal yang sama. Mengapa begitu? Mari kita lihat.

 

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, begitu­pun saat memilih ideologi. Partai Demokrat di Ame­rika Serikat yang dalam tampilan publiknya saat ini diwakili oleh performance Presiden Barack Obama, pernah mendapatkan kritik keras dari lawan-lawan po­litiknya pada saat terlampau pe­duli dengan asuransi ke­sehatan masyarakat. Mungkin kita heran, kenapa peduli pada masyarakat kok malah di­kritik? Bukankah itu hal yang baik?

 

Peduli pada masyarakat itu baik, tapi bukan pakemnya Par­tai Demokrat yang beri­deologi liberal. Program asu­ransi ke­sehatan Barack Obama di­kritik karena membuat Par­tai Demokrat lebih mirip de­ngan Partai Republik. Itulah politik. Yang positif dan bermanfaat pun tetap dikritik jika dianggap tidak la­zim. Karena kepedulian negara yang tinggi pada na­sib masyarakat adalah kredo partai berhaluan kon­servatif.

 

Di Indonesia, partai-partai nyaris tanpa ideologi. Ka­laupun dianggap punya ideologi, tidak ada pe­r­bedaan signifikan antara yang satu dengan lainnya. Se­mua menyebut diri sebagai partai nasionalis, wa­laupun ada sebagian yang diberi embel-embel, “aga­mis” atau “demokrat”.

 

Semua partai politik ingin berada di wilayah “tengah”, dengan tujuan mau menarik simpati semua golongan. Bahkan PKS yang jelas-jelas berideologi Is­lam pun berusaha masuk ke “tengah”. Karena begitu kuatnya keinginan itu, belakangan partai ini mengu­sung semboyan “PKS untuk Semua”.

 

Kita menghormati pilihan itu sebagai bagian dari hak po­litik PKS. Tapi, sekali lagi, se­tiap pilihan punya kon­sekuensi, bisa po­sitif, bisa juga sebaliknya. Kon­sekuensi positifnya, PKS re­latif diterima semua kalangan, bah­­­kan di wilayah-wilayah mi­no­ritas Muslim, ada kader PKS yang non-Muslim. Mungkin karena upayanya yang terus ke tengah itulah, suara PKS terus me­ningkat, dari tujuh kursi pada Pe­milu 1999 (saat masih ber­nama PK) naik menjadi 45 kursi pada Pemilu 2004, dan naik lagi menjadi 57 kursi pada Pemilu 2009.

 

Apa dampak negatifnya? Secara perlahan namun pasti, PKS kian pudar dari political branding-nya sebagai partai dakwah, yang secara konotatif tak bisa lepas dari Islam yang cenderung fanatik. Kalau brand-nya hanya partai Islam tidak ber­beda dengan Partai Persa­tuan Pem­bangunan (PPP), Partai Ke­bangkitan Bangsa (PKB), atau Par­tai Amanat Nasional (PAN) yang tak bisa dilepaskan dari ba­sis massa Islam. Partai dak­wah, lebih dari sekadar Islam, tapi Islam yang lebih aktif mengajak un­tuk berislam secara kaffah (me­nyeluruh dalam semua as­pek kehidupan).

 

Ketika branding partai dak­wah memudar, dampaknya ne­gatif karena PKS menjadi sama saja dengan partai-partai Islam lain­n­ya yang cenderung men­ja­dikan agama hanya seba­tas ko­moditas politik yang pada ke­nyataannya tidak berbeda de­ngan partai-partai yang sama sekali tidak membawa-bawa nama agama.

 

Karena semakin me­mu­dar­nya ruh dakwah itu­lah, saya bisa memahami jika kader-ka­der PKS pun, dalam aktivitas po­li­tiknya, mulai nyerempet-nye­rem­pet pe­rilaku yang syubhat (di­ragu­kan kadar halal­nya), atau bah­kan mulai memasuki wi­layah yang haram, semisal ko­rup­si.

 

Maka pada saat ada kader PKS yang menjadi tersangka ko­rupsi, apalagi presidennya, pu­blik dibuat terkaget-kaget. Kok bisa ya, partai dakwah ko­rupsi? Pertanyaan ini datang ber­t­ubi-tubi menjejali ruang pu­blik, terutama di jejaring media sosial hingga “maaf” ada yang me­m­plesetkan singkatan PKS men­jadi “Partai Korupsi Sapi”. Duh!!

 

Menurut saya, inilah konse­kuen­si dari pilihan ideologi. Dari awal kelahirannya PKS memilih ideologi yang sensitif, yakni Islam. Saya sebut sensitif karena dalam terminologi Islam terda­pat muatan etika yang sangat ketat. Jika masuk wilayah politik, etika yang ketat ini akan mudah berbenturan dengan banyak perkara yang menurut Islam masuk dalam kategori haram.

 

Ketika ada kader PKS yang ter­jerat perbuatan haram (ko­rup­si), hantaman publik tentu jauh lebih keras. Mirip kasusnya se­­perti yang menimpa kader Par­­tai Demokrat. Bedanya, par­tai asuhan Presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono ini dihan­tam ke­ras bukan karena ideologi yang diusungnya tapi lebih ka­rena iklan anti korupsinya yang sangat gencar. Intinya sama saja, kecaman publik muncul lan­ta­ran ada jurang antara apa yang di­usung dengan yang diker­jakan.

 

Sejatinya, apa pun nama dan ideologinya, setiap partai yang (ka­d­ernya) terlibat korupsi ha­rus dikecam, untuk mem­berikan efek jera. Kecaman terhadap PKS berbeda (jauh lebih keras) di­­s­­ebabkan karena kebe­ra­nian­nya mengusung ideologi aga­ma yang secara doktrinal melarang keras menyuap atau menerima suap. Wallahu a’lam! (*)

 

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/30/167640/Sweeping-FPI-di-Lepau-Tuak-Mendapat-Perlawanan/6


Konsekuensi Mengusung Ideologi

Monday, September 16, 2013

Terpesona ajaran wudhu, pria Amerika ini akhirnya memeluk Islam


ISLAM sangat menganjurkan kebersihan dan wudhu menjadi contoh nyata praktik kesehatan bagi manusia. Itulah yang membuat takjub seorang warga AS bernama Matthew Braun.



Perkara yang seringkali dianggap remeh itu justru membuat pria kelahiran Kota Brodhead, Wisconsin itu jatuh hati pada Islam.



Braun memang seorang yang sangat peduli kesehatan. Minat pendidikannya pun pada segala ilmu kesehatan, terlihat dari gelar master yang ia dapatkan sebagai tenaga kesehatan dari Universitas Ohio.



“Islam memiliki praktik kesehatan yang baik seperti mencuci tangan, kaki dan wajah sebelum shalat lima kali sehari,” ujarnya.



Ketertarikan Braun pada Islam dimulai saat ia mengenyam pendidikan sarjana di Beloit College. Di sana, ia aktif berorganisasi hingga kemudian bertemu dengan seorang gadis asal Kuwait.



Pertemuan itu merupakan kontak pertama Braun dengan muslim. Ia pun kemudian mempelajari apa itu Islam. Saat mempelajarinya, ia terkejut.



“Saya terkejut teryata Islam adalah salah satu dari tiga agama samawi selain Yahudi dan Kristen,” ujarnya.



Braun pun makin tertarik pada Islam, namun belum memutuskan menjadi seorang muslim. Hingga kemudian ia tahu bagaimana Islam sangat menganjurkan kebersihan. Hal itu diketahuinya ketika menempuh pendidikan master studi kesehatan di University of Miami di Ohio. Tak lama, Braun pun kemudian memantapkan hati pada Islam. Ia pun resmi menjadi mualaf pada tahun 1995 di Ohio.



“Banyak alasan saya memeluk Islam. Namun minat awal saya bersyahadat adalah karena tertarik bagaimana Islam memiliki praktik kesehatan yang sangat baik,” tuturnya dikutip dari Beloit Daily News.



Braun melihat praktik wudhu sebagai upaya kebersihan yang sangat brilian. Menurutnya, itu merupakan bagian dari praktik menjaga kesehatan. Mencuci tangan kaki dan membasuh wajah lima kali sehari merupakan praktik kesehatan yang sangat baik. Terpesona dengan ajaran wudhu itulah Braun melabuhkan hati pada Islam.



Setelah memeluk Islam, ia makin jatuh hati pada agama ini. Ia pun mulai rajin menjalankan ibadah wajib. Ia meninggalkan hal-hal haram seperti minum alkohol dan berjudi.



Tentu saja sulit karena hal haram tersebut merupakan gaya hidup pemuda Amerika. Namun Braun mampu mengatasinya. Ia bahkan menjalankan sunnah Rasulullah seperti menumbuhkan jengot.



Kehidupan Braun sebagai muslim nyaris tak mendapat hambatan ataupun tantangan. Hingga kemudian insiden 9/11 mengubah citra Islam menjadi sangat buruk. Ia yang telah berislam hampir tujuh tahun itu tiba-tiba dikucilkan.



Keluarganya yang tak pernah mempertanyakan keputusannya berislam tiba-tiba menginterogasinya. Penampilan Braun pun kemudian dituding sebagai penampilan para teroris. Itu merupakan fase yang berat bagi Braun.



Namun kemudian ia memilih pindah ke Dubai bersama istrinya. Di sana, ia membangun kepedulian terhadap penolakan terorisme. Lebih tepatnya, Braun membentuk komunitas yang menentang keras aksi ekstrem dan radikal.



Terjun ke Masyarakat

Braun yang merupakan seorang tenaga kesehatan tiba-tiba beralih haluan. Ia merasa prihatin yang sangat terhadap kasus bom 11 september di gedung WTC AS tersebut. Ia pun kemudian mengkampanykan antiradikalisme.



“Saya khawatir akan persepsi publik tentang Islam pasca serangan teroris di Amerika Serikat pada 9/11,” kata Braun.



Ia mencatat bahwa para ekstremis dan teroris ada dari semua latar belakang agama. Namun tak ada agama yang mengajarkan terorisme. Mayoritas Muslim, kata braun, seperti penganut agama lain, tidak melakukan teroris dan tidak bersikap ekstrem.



“Kesalahpahaman lain yang populer adalah bahwa madrasah , sekolah Islam yag menggunakan nama Arab, merupakan jaringan terorisme. Padahal sebagian besar sekolah tersebut mengajarkan perdamaian seperti sekolah agama lain,” katanya.



Braun pun kemudian menjadi koordinator P4E Support Group, sebuah organisasi berbasis di Kanada yang memberikan layanan kemanusiaan. Salah satu kegiatan organisasi tersebut yakni mendidik muslim menjadi produktif dan menentang keyakinan dan praktek ekstrim seperti terorisme. “Banyak orang datang kepada saya dan bertanya karena ingin tahu lebih banyak,” pungkasnya. | sumber: republika.co.id


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/09/07/189727/FUI-Ajak-Hary-Tanoe-Masuk-Islam-dan-Hentikan-Kontes-Miss-World-


Terpesona ajaran wudhu, pria Amerika ini akhirnya memeluk Islam