Showing posts sorted by relevance for query gurun. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query gurun. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 22, 2013

Mali, Petualangan Perancis Paling Berisiko

PARIS, KOMPAS.com - Saat dunia memusuhi Libya, Perancis tampil paling depan membantu pemberontak. Dan kini, lebih dari 2.000 prajuritnya tengah bertempur melawan pemberontak Islam di Mali.

Namun, sejumlah analis mengatakan, kembalinya Perancis sebagai pemain utama di panggung internasional nampaknya lebih banyak mengundang risiko ketimbang pujian.

Dulu, Perancis dikenal sebagai salah satu negara kolonial terbesar di dunia. Koloninya tersebar mulai benua Amerika, Afrika dan Asia. Sayangnya, seperti halnya negara kolonial lainnya, Inggris, pengaruh Perancis kini memudah di balik Amerika Serikat.

Perancis memang menentang invasi AS ke Irak pada 2003 -sebuah langkah yang memicu kemarahan di antara banyak politisi AS- namun, Perancis juga mendukung AS di Perang Teluk I 1991 dan di Afganistan.

Saat rakyat Libya mengangkat senjata untuk melawan Moammar Khadafi pada 2011, dengan cepat Perancis menjadi pendukung utama pemberontak dan mengirim pesawat tempur untuk menghentikan laju pasukan pemerintah yang hampir menghabisi pasukan pemberontak.

Keterlibatan Perancis di Libya, kemudian disusul intervensi militer NATO yang menyediakan dukungan serangan udara sehingga pasukan pemberontak mampu menggulingkan Khadafi hanya dalam beberapa bulan saja.

Keputusan cepat juga dilakukan pemerintah Perancis di bawah pimpinan Francois Hollande. Pemimpin beraliran sosialis ini dengan cepat menyetujui pengiriman militer untuk membantu angkatan darat Mali yang kewalahan menghadapi pemberontak.

Keputusan Hollande itu diambil sehari setelah pasukan pemberontak militan yang terkait Al-Qaeda, yang sudah menguasai wilayah utara, bergerak untuk merebut wilayah selatan Mali.

Baik intervensi di Libya maupun Mali, Perancis mendapatkan pujian dari dunia internasional. Namun, sejumlah analis politik khawatir keterlibatan Perancis di Mali lebih berisiko, karena konflik di Mali berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

“Perancis berharap negara-negara Afrika dan Eropa ikut mengangkat senjata. Namun, negara-negara Eropa lain terlalu pengecut,” kata Philippe Moreau-Defarges, peneliti lembaga riset IFRI di Paris.

Pasukan koalisi Afrika yang diharapkan membantu Mali bisa mencapai 6.000 personil dijadwalkan tiba di Bamako dalam waktu dekat. Sementara AS dan sejumlah negara Eropa menjanjikan bantuan berupa pesawat angkut dan bantuan logistik.

Sejauh ini, Perancis adalah satu-satunya negara Barat yang mengirimkan pasukan tempurnya ke Mali.

Berebut Pengaruh di Afrika

Keterlibatan Perancis di Mali juga bukan sekadar urusan melawan pemberontak Islam. Namun, juga untuk mengembalikan pengaruh Perancis di benua yang sebagian wilayahnya pernah menjadi jajahan Perancis itu.

Apalagi dalam beberapa tahun belakangan ini, pengaruh China baik dari sisi politik dan investasi berkembang pesat di Afrika.

“Afrika tengah melepaskan diri dari Perancis dan Perancis ingin tetap tampil di Afrika,” papar Moreau-Defarges.

Salah satu bukti lain upaya Perancis menancapkan pengaruhnya di Afrika adalah di Pantai Gading, yang juga bekas jajahannya. Pada 2011, Perancis membantu menggulingkan presiden yang kalah dalam pemilu namun tidak mau turun dari jabatannya. Pasukan Perancis membantu menggulingkannya dan mendudukkan rivalnya sebagai presiden Pantai Gading.

Pemerintah Perancis membantah jika keterlibatannya di Mali adalah bentuk dari neo-kolonialisme. Sebab, intervensi di Mali mendapat dukungan Dewan Keamanan PBB dan sejumlah negara Afrika. Bahkan, pemerintah Mali meminta Perancis untuk mengirimkan pasukannya.

Berlangsung Lama

Petualangan Perancis di Mali, yang dimulai hanya beberapa bulan setelah Perancis menarik pasukannya di Afganistan, nampaknya bakal menjadi salah satu misi Perancis yang paling memakan biaya.

Menlu Perancis Laurent Fabius menggambarkan misi militer Perancis ini hanyalah untuk menahan laju pemberontak, terutama hanya menggunakan serangan udara dan hanya akan berlangsung beberapa pekan saja.

Namun, sejak intervensi Perancis ini bisa melibatkan hingga 4.000 prajurit dan Menhan Jean-Yves Le Drian mengatakan misi militer Perancis di Mali adalah untuk menguasai seluruh wilayah Mali, maka skenario beberapa pekan agaknya tak mungkin terlaksana.

Pernyataan Le Drian itu berarti Perancis kini memiliki misi untuk menghancurkan pemberontakan Islam di bagian utara Mali yang wilayahnya lebih luas dari Perancis. Apalagi, di kawasan gurun pasir seperti itu para pemberontak bisa lebih mudah keluar masuk Mali ke negara-negara tetangganya.

Bahkan PM Inggris David Cameron memperingatkan bertempur melawan militan Islam di kawasan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan mungkin dekade dan tidak mungkin diselesaikan dalam hitungan bulan.

Hal itu sudah terbukti di Afganistan, pasukan AS yang sudah satu dekade berada di negari itu tak kunjung berhasil memadamkan pemberontakan Taliban. Begitu pula dengan kegagalan AS di Somalia.

“Nampaknya di gurun Sahara ini, Perancis akan menghadapi skenario yang sama seperti dihadapi AS di Somalia dan Afganistan,” kata Bertrand Badie dari Institut d’Etudes Politiques Paris.

 






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/25169/02/10/2012/dr-adian:-multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme.html


Mali, Petualangan Perancis Paling Berisiko

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Monday, April 1, 2013

Perempuan Tidak Boleh Sendirian Masuk Arab Saudi

Senin, 1 April 2013 – 23:33 wib

Mekkah, Arab Saudi (Foto: shedexpedition)

Mekkah, Arab Saudi (Foto: shedexpedition)

Arab Saudi

Arab Saudi atau Kerajaan Arab Saudi yang terletak di Jazirah Arab. Wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali.

Arab Saudi menjadi tempat di mana Kota Mekkah dengan Ka’bah berdiri, sebagai kiblat umat Muslim. Hal ini menjadikan Mekkah kota suci bagi umat Islam di seluruh dunia.

Setiap tahun, ribuan umat muslim dari penjuru dunia datang ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tak hanya ke Mekkah, umat Muslim berziarah ke Madinah, Jeddah, dan kota-kota lain dengan masjidnya yang indah.

Namun, lupakan mengunjungi Arab Saudi bila Anda adalah wisatawan perempuan yang berpergian sendiri. Perempuan yang ingin masuk ke negara ini wajib ditemani oleh seorang pria, yang merupakan kerabat atau suaminya.

mobile
Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com
untuk BlackBerry

Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/12/09/11/ma5dbe-sekarang-agama-dijadikan-atribut-tutupi-kebobrokan


Perempuan Tidak Boleh Sendirian Masuk Arab Saudi

Tuesday, January 22, 2013

37 sandera tewas di Aljazair

Perdana Menteri Aljazair Abdul Malik Sellal mengumumkan jumlah korban tewas pada insiden penyanderaan di sebuah lokasi kilang gas di gurun Aljazair .

Korban tewas mencapai 37 orang dari delapan negara berbeda, termasuk sebelas pekerja asal Aljazair, seperti dilansir Aljazeera, Selasa (22/1).

Korban tewas yang sudah dipastikan oleh masing-masing negara adalah tiga warga Amerika Serikat, tujuh warga Jepang, enam pekerja Filipina, dan tiga warga Inggris.

Sellal juga mengatakan tujuh korban lain belum teridentifikasi dan lima pekerja lainnya hilang. Sebanyak 25 sandera ditemukan selamat dan sedang diidentifikasi.

Dia juga menyebut 29 tentara militan penyandera itu datang dari Mali. Pasukan Prancis dan Afrika masih bertempur dengan sejumlah kelompok bersenjata di wilayah utara.

Sellal menyatakan kelompok militan penyandera itu adalah warga Aljazair dan warga asing dari beberapa negara seperti Tunisia, Mesir, Mali, Nigeria, Kanada, dan Mauritania.

Para penyerang itu menempatkan bahan peledak pada sebuah pipa gas dengan tujuan meledakkan kilang itu. Mereka awalnya bermaksud membajak sebuah bus yang membawa pekerja asing ke bandara terdekat dan menjadikan mereka sandera.

“Mereka menembaki bus itu dan pasukan penjaga balas menembak ke arah mereka,” kata Sellal.

Pernyataan Sellal itu merupakan pengumuman resmi pertama dari pemerintah Aljazair. Sebelumnya laporan jumlah korban tewas masih simpang siur.

Menteri Dalam Negeri Aljazair Ahad lalu menyatakan sebanyak 32 tentara militan tewas selama insiden itu dan pasukan pemerintah berhasil membebaskan 685 pekerja Aljazair dan 107 pekerja asing.

Seorang pekerja asal Aljazair bernama Abdul Kadir mengaku melihat sebuah mobil jip berisi tujuh orang menerobos masuk ke kompleks kilang gas itu. Seorang tentara pemberontak merampas telepon seluler milik para pekerja kemudian mematikan kamera keamanan.

“Kamu warga Aljazair dan muslim. Kamu tak perlu takut. Kami mencari orang Kristen yang membunuh saudara-saudara kami di Mali dan Afganistan,” kata Kadir menirukan ucapan seorang penyandera.

Pasukan kelompok Islam militan pimpinan Mokhtar Belmokhtar yang mempunyai kaitan dengan Al-Qaidah menyerang kilang gas di Aljazair Rabu pekan lalu. Aksi itu mereka lakukan sebagai balasan atas keterlibatan pasukan Prancis di Mali.

Article source: http://www.beritasatu.com/nasional/83833-koalisi-partai-agama-usung-capres-alternatif.html


37 sandera tewas di Aljazair

Saturday, January 19, 2013

Sandera tewas dalam operasi di Aljazair

Truk tentara Aljazair di Tigantourine

Belum disebutkan kebangsaan dari sandera yang tewas saat operasi pembebasan.

Pasukan Aljazair menewaskan 11 militan Islam dalam upaya pembebasan sandera di kompleks gas alam di gurun pasir Sahara.

Namun tujuh sandera tewas lebih dulu dibunuh oleh para militan, seperti dilaporkan kantor berita Aljazair, APS.

Warga asing -antara lain
Klik

Inggris, Norwegia dan Jepang-
Klik

termasuk dalam yang disandera namun kebangsaan dari korban yang tewas tidak disebutkan.

Beberapa saat sebelum operasi dilancarkan, pimpinan kelompok penyandera, Abdul Rahman al-Nigeri, mengatakan pemerintah harus memilih antara berunding dengan mereka atau sandera akan mati.

Dia mengatakan ranjau darat sudah dipasang di kawasan kompleks gas alam Tigantourine sudah dan mengancam akan meledakkan kompleks jika tentara Aljazair menyerbu masuk.

Fasilitas gas alam Tigantourine sudah dikepung oleh pasukan Aljazair sejak Kamis 17 Januari, sehari
Klik

setelah dikuasai kelompok militan Islam.

Operasi pembebasan sebelumnya menewaskan sejumlah sandera sementara kelompok penyandera tidak berhasil dilumpuhkan dan tetap menahan sekitar 35 orang.

Hari Jumat (18/01), sekitar 573 warga Aljazair dan sekitar 100 dari 132 warga asing yang bekerja di kompleks tersebut berhasil dibebaskan.

Fasilitas gas alam Tigantourine yang dioperasikan oleh perusahaan Aljazair, Inggris dan Norwegia ini terletak di dekat kota Amenas, sekitar 100km dari perbatasan Aljazair dengan Libia.

Article source: http://news.detik.com/read/2013/01/19/121321/2147152/10/tak-sediakan-guru-agama-sekolah-favorit-di-blitar-terancam-ditutup?9922022


Sandera tewas dalam operasi di Aljazair

Monday, January 21, 2013

Pasukan Perancis dan Mali Masuk Kota Diabaly

BAMAKO, KOMPAS.com – Pasukan Perancis dan Mali, Senin (21/1/2013), mulai memasuki kota Diabaly yang menjadi sasaran serangan udara dan pertempuran sejak dikuasai pasukan pemberontak Islam sepekan lalu.

Konvoi sekitar 30 kendaraan lapis baja yang membawa 200 tentara Perancis dan Mali masuk ke Diabaly pukul 9.00 GMT atau pukul 16.00 WIB tanpa mendapatkan perlawanan berarti.

Sebelum pasukan darat kedua negara ini memasuki Diabaly, militer Perancis terus melakukan serangan udara dengan menggunakan jet dan helikopter tempur.

Pasukan Perancis mengatakan enam serangan udara dalam 24 jam terakhir itu mengincar kendaraan bersenjata milik pemberontak. Pasukan Perancis mengklaim operasi militer menghadapi militan Mali mendapatkan kemajuan yang cukup berarti.

Selain menyerang Diabaly, pasukan Perancis juga disebar ke berbagai kota di wilayah utara seperti Markala, Niono dan Mopti. Demikian juru bicara militer Perancis Kolonel Thierry Burkhard.

Perancis memulai ofensif milternya di Mali pada 11 Januari dan mengatakan seharusnya negara Afrika yang menjadi pemimpin operasi ini.

Sementara itu sebanyak 400 prajurit dari Nigeria, Togo dan Benin pada Minggu (20/1/2013) sudah tiba di Bamako sebagai bagian dari pasukan multi-nasional Afrika untuk membantu Mali. Selain itu, pasukan Mali -yang terbiasa dengan medan tempur gurun pasir- juga sudah tiba di Bamako.

 






Article source: http://www.republika.co.id//berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/12/03/22/m1ahwy-rektorat-uin-sunan-kalijaga-kecam-polisi-masuk-kampus


Pasukan Perancis dan Mali Masuk Kota Diabaly