Showing posts sorted by relevance for query naskah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query naskah. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Kisah Gadis yang Hidup Sebagai Pria dan Jadi Mualaf di Aljazair

Di Aljazair, Isabelle hidup sebagai pria bernama Si Mahmoud Essaadi. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa.

Perempuan berpikiran bebas dan mandiri itu kemudian bergabung dengan sekte sufi rahasia, Qadiriyyah -- yang didedikasikan untuk membantu orang miskin dan menentang kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair.

Perempuan itu merasa paling bahagia ketika hidup "seperti anjing liar," menunggang kuda melewati gundukan pasir Sahara dan tidur sendirian di bawah bintang-bintang. Kehidupannya kala itu konon liar.

Saat kehabisan uang, ia menuju Paris untuk mencari uang sebagai penulis. Di sana ia bertemu Marquis de Mores -- yang suaminya tewas terbunuh di Sahara.

Perempuan yang menjanda itu menawarkan diri untuk membiayai Isabelle ke Aljazair, untuk menyelidiki pembunuhan suaminya. Pada tahun 1900, perempuan pemberani itu kembali dan tinggal ke El Oued.

Isabelle menulis puluhan cerita dan artikel. Ia juga kerap ikut serta dalam protes anti-kolonialisme.

Sikapnya itu yang mungkin membuatnya kemudian jadi target pembunuhan pada 1901. Kala itu di kota gurun Behima, Isabell diserang oleh seorang pria lokal dengan pedang. Lengan kirinya hampir putus.

Meskipun penyerangnya mungkin disewa pihak Prancis, dalam sidang Isabell memohon agar pelaku tak dihukum mati. Permohonannya tak dipenuhi.

Ia kemudian bertemu dengan seorang anggota militer Slimane Ehnni, jatuh cinta, keduanya lalu menikah. Isabell kemudian bekerja sebagai wartawan perang di barat daya Aljazair dan terus menulis jurnalnya.

Isabelle Eberhardt meninggal dunia pada usia 27 tahun saat berusaha menyelamatkan sang suami (Wikipedia)

Kehidupan keras berpengaruh pada fisiknya. Pada usia 27 Isabelle nyaris tak memiliki gigi, kehilangan hampir semua rambutnya, dan harus bolak balik ke rumah sakit.

Pada tahun 1904, Isabell Eberhardt meninggal dunia saat menyelamatkan nyawa suaminya ketika banjir bandang menerjang rumah mereka yang sederhana di Ain Sefra.

Kisah hidupnya mungkin tak akan pernah diketahui jika editornya tak menerbitkan tulisan-tulisannya secara anumerta -- meski dengan banyak sensor dan pelintiran.

Pada awal 1920-an, sekarung penuh naskah yang belum selesai, catatan, dan buku harian ditemukan di bawah reruntuhan rumah Isabelle Eberhardt meninggal.

Karya-karya Isabell kemudian diterbitkan dalam tiga buku: The Wilder Shores of Love, Writings From the Sand, dan The Oblivion Seekers -- yang memberi wawasan sejarah tentang kehidupan warga Eropa di tengah warga lokal Aljazair. Yang menarik, penulisnya adalah seorang perempuan yang menyamar jadi pria. 

Buku-buku itu juga mengisahkan tentang kehidupan singkat, mistis, romantis seorang Isabell Eberhardt -- wanita muda yang gelisah, berpikiran bebas, dan nekat. 

"

| Kisah | Gadis | yang | Hidup | Sebagai | Pria | Jadi | Mualaf | Aljazair | Isabelle | hidup | sebagai | pria | bernama | Mahmoud | Essaadi | mengaku | seorang | mahasiswa | p> Perempuan | berpikiran | bebas | mandiri | kemudian | bergabung | dengan | sekte | sufi | rahasia | Qadiriyyah | didedikasikan | untuk | membantu | orang | miskin | menentang | kekuasaan | kolonial | Prancis | merasa | paling | bahagia | ketika | seperti | anjing | liar | menunggang | kuda | melewati | gundukan | pasir | Sahara | tidur | sendirian | bawah | bintang | Kehidupannya | kala | konon | p> Saat | kehan | uang | menuju | Paris | mencari | penulis | sana | bertemu | Marquis | Mores | suaminya | tewas | terbunuh | menjanda | menawarkan | diri | membiayai | menyelidiki | pembunuhan | Pada | tahun | 1900 | perempuan | pemberani | kembali | tinggal | Oued | p> Isabelle | menulis | puluhan | cerita | artikel | juga | kerap | ikut | serta | dalam | protes | anti | kolonialisme | p> Sikapnya | mungkin | membuatnya | jadi | target | pada | 1901 | Kala | kota | gurun | Behima | Isabell | diserang | oleh | lokal | pedang | Lengan | kirinya | hampir | putus | p> Meskipun | penyerangnya | disewa | pihak | sidang | memohon | agar | pelaku | dihukum | mati | Permohonannya tak | dipenuhi | p> Ia | anggota | militer | Slimane | Ehnni | jatuh | cinta | keduanya | menikah | bekerja | wartawan | perang | barat | daya | terus | jurnalnya | p> < | p> Kehidupan | keras | berpengaruh | fisiknya | usia | nyaris | memiliki | gigi | kehilangan | semua | rambutnya | harus | bolak | balik | rumah | sakit | p> Pada | 1904 | Eberhardt | meninggal | dunia | saat | menyelamatkan | nyawa | banjir | bandang | menerjang | sederhana | Sefra | p> Kisah | hidupnya | pernah | diketahui | jika | editornya | menerbitkan | tulisan | tulisannya | secara | anumerta | meski | banyak | sensor | pelintiran | awal | 1920 | sekarung | penuh | naskah | selesai | catatan | buku | harian | ditemukan | reruntuhan | p> Karya | karya | diterbitkan | tiga | buku: The | Wilder | Shores | Love |  Writings | From | Sand | Oblivion | Seekers< | memberi | wawasan | sejarah | tentang | kehidupan | warga | Eropa | tengah | Yang | menarik | penulisnya | adalah | menyamar | p> Buku | mengisahkan | singkat |  mistis | romantis | wanita | muda | gelisah | nekat | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this Blog

Saturday, January 19, 2013

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Home Nasional

Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa


 

Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya Kristenisasi melalui budaya


Ahad, 20 Januari 2013

Hidayatullah.com–Penetrasi missionaris Kristen di Jawa cukup massif melalui pintu kebudayaan. Kajian ilmiah menemukan, ada dua macam strategi yang diterapkan para missionary; yaitu dengan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jawa dan pemakaian kebudayaan Jawa ke dalam praktik kekristenan.

Demikian salah penjelasan Arif Wibowo, peneliti Kristologi dan Budaya Jawa Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo dalam seminar yang diadakan nstitut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS)  di Masjid Unair Sabtu (19/01/2013).

Dalam seminar bertajuk “Missionarisme Kebudayaan: Penetrasi Katolik dalam Kebudayaan Jawa” ini, Arif menerangkan landasan strategi Kristenisasi Jawa telah dibangun oleh Franciscus Georgian Josephus Van Lith.

Pada tahun 1904, Van Lith membuka sekolah Guru bernama Kolose Xaverius di Muntilan. Van Lith kemudian mengadopsi unsur-unsur budaya Jawa ke dalam kekristenan dan memisahkan kebudayaan Jawa dari agama Islam.

Caranya, Van Lith melarang orang Jawa yang masuk Kristen mengikuti budaya Eropa. Tapi dianjurkan untuk meneruskan kebudayaan Jawanya. Tujuannya, untuk memberi kesan bahwa Jawa itu Kristen, bukan Islam.

“Padahal, sebelumnya Jawa sangat kental dengan tradisi budaya Islam. Buktinya tulisan pegon lebih dikenal daripada aksara Jawa,” ujar Arif.

Missionaris pada masa lalu membagi-bagikan Alkitab bertuliskan Arab pegon, tidak dengan huruf Jawa.

“Ini menunjukkan, orang Jawa dulu itu sangat kental budaya Islamnya, daripada budaya Hindu,” tambahnya.

Kenapa lantas kemudian yang terkesan, budaya Jawa itu khas Hindu-Budha?

“Karena umat Islam tidak serius menghadapi penetrasi missionaris Kristen itu,” ungkap pemerhati sejarah ini.

Padahal, tambah Arif, sesungguhnya Sunan Giri sudah jauh-jauh mengingatkan akan bahaya ‘kristenisasi’ melalui budaya ini.

Yang memubuat kalah lagi umat Islam dalam ‘pertarungan budaya’ itu adalah ahli-ahli sejarah Muslim kita sangat sedikit. Kalaupun ada kurang serius.

“Akibatnya, banyak sekali litelature-litelatur sejarah Jawa bertulisakan Arab pegon yang diambil orientalis-missionaris. Naskah otentik Walisongo sudah tidak ada. Karena diambil orientalis,” tegasnya.

Menurut Arif, seharusnya umat Islam lebih ofensif, jangan hanya defensif. Sebab, penetrasi kebudayaan mereka seratus persen, sedangkan kita setengah-setengah, ujarnya di hadapan mahasiswa Unair Surabaya.

Padahal dakwah Walisongo itu luar biasa berhasil karena strategi kebudayaannya sangat baik.

“Maka perlu kita buat pusat-pusat studi kebudayaan peradaban Islam dan Jawa di tiap-tiap daerah,” pungkasnya.*

Rep: Kholili Hasib
Red: Cholis Akbar

Article source: http://regional.kompas.com/read/2013/01/20/00115493/Terjerat.Aliran.Sesat.Istri.Laporkan.Suami.ke.Polisi


Umat Islam Perlu Pusat Studi Kebudayaan Peradaban Islam dan Jawa

Saturday, December 15, 2012

Lima Novel Cucu Magek Dirih

Lima Novel Cucu Magek Dirih

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 16/12/2012 07:29 WIB • 36 klik

H. Sutan Zaili Asril

INSYA Allah, pada Jumat (21/12) malam nanti, di Hotel Grand Inna Muara Padang, Cucu Magek Dirih akan me­luncurkan lima dari tujuh no­velnya. Kelima novel itu adalah berjudul Revolusi Kaum Guci, Jalan Terjal dan Berliku, dan Mimpi-mimpi Myan—yang ketiganya disebut trilogi Revo­lusi Kaum Guci. Dua lagi ber­judul Prahara di Surau Kaki Bukit, dan Penelokan. Kelima novel itu relatif tebal dengan jumlah halaman di atas 300 halaman. Kalau tadi dise­but tujuh novel, ada dua novel lagi, berjudul Aku Anak Pem­beron­tak Pemerintah Revolusioner Re­publik Indonesia (AAP-PRRI), dan Sitti Basulam—dua novel yang terakhir mengambil tema sejarah dan mengambil pelataran peristiwa sejarah (AAP-PRRI mengambil pela­taran PRRI, dan Sitti Basulam mengambil pelataran Gerakan 30 September 1965/PKI).

 

Novel trilogi Revolusi Kaum Guci (Revolusi Kaum Guci, Jalan Terjan dan Berliku, dan Mimpi-mimpi Myan), sebetul­nya, semula, adalah sebuah esai Cucu Magek Dirih ketika masih mahasiswa, yang diikutkannya dalam lomba/sayembara pe­nu­li­san antarmahasiswa se-Indonesia yang diseleng­garakan Balitbang Departemen Agama RI di waktu itu (1978). Esai berjudul Menjadikan Surau sebagai Tempat Ibadah dan Pusat Kegiatan Kaum keluar sebagai juara ke satu. Lalu, setelah menjadi wartawan/koresponden Harian Pagi Kom­pas Jakarta di Provinsi Sumatera Barat (1981), ada kehendak Cucu Magek Dirih membukukan esainya itu. Lalu, gara-gara Slamet SM, yang berencana akan menerbitkan, sisa dua rangkap naskah bela­san halaman diketik double-folio itu hilang di tangan Slamat SM. Dikasihkan satu sisa rang­kapnya, juga hilang. Lalu, mun­cul keinginan untuk ”menulis ulang” ide semula—dalam ben­tuk novel.

 

Akan halnya novel Prahara di Surau Kaki Bukit adalah novel yang gagasan dan coretan kasarnya sudah dilakukan sejak Cucu Magek Dirih jadi maha­siswa Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Aga­ma Islam Negeri (FR-IAIN) Imam Bonjol Padang (1974). Ketika itu, Cucu Magek Dirih termasuk ”warga” Pusat Kese­nian Padang—di kemudian hari menjadi Taman Budaya Pa­dang. Gagasan dan garis besar novel Prahara di Surau Kaki Bukit itu disampaikan Cucu Magek Dirih pada seniorya, penyair/sastrawan Hammid Jabbar dan Leon Agusta. Kedua beliau tertarik dan memberikan dukungan moril. Bahkan, tiap bertemu selalu ditanyakan, apa novelnya terus ditulis. Bahkan, saat sudah jadi wartawan Kom­pas pula, ketika bertemu Ham­mid Jabbar dan Leon Agusta di Jakarta masih selalu mena­nya­kan nasib kelanjutan penulisan novel itu.

 

Cucu Magek Dirih melihat novel Prahara di Surau Kaki Bukit adalah karya novel yang terbaiknya. Novel mengambil pelataran cerita pasca-Gerakan 30 September 1965 di mana banyak bintara aktif dan pen­siunan berada di nagari—ter­ma­suk di antaranya anak dan kemanakan dari kaum dalam nagari yang pulang kampung. Peranan bintara aktif dan pen­siunan itu tidak hanya dalam penumpasan kader/anggota/pendukung/simpatisan PKI, tapi, juga menyilaukan pemuka kaum dan warga kaum dan bintara pensiunan masuk da­lam struktur kepemimpinan adat Minang di nagari. Ada di antaranya memang tahu/me­ngerti adat, tapi, lebih banyak yang tidak tahu—apalagi me­ngerti—karena sudah merdeka pergi dari kampung sejak mu­da/baru kembali ke kaum sete­lah pensiun sebagai bintara. Lalu, kepemimpinan adat Mi­nang yang semula luhur disu­sup hal berwajah kepentingan sampai menimbulkan konflik dalam kaum.

 

Akan halnya novel Pene­lokan—nama novel diambil dari nama sebuah dusun di bibir tebing turun ke danau Batur di dekat Gunung Batur Bali, ditulis ketika Cucu Magek Dirih masuk ke lingkungan Ke­lompok Usaha Bakrie (KUB)—jadi anggota direksi. Cucu Ma­gek Dirih mengenal wajah kong­lomerasi/konglomerat Indonesia berbagai hal positif dan negatifnya. Ini kisah wartawan yang bekerja di satu suratkabar harian Jakarta—sudah wakil pemimpin redaksi, mundur dan masuk ke lingkungan ke­lom­pok perusahaan seorang konglomerat. Wartawan itu mampu mengembangkan usa­ha/perusahaan konglomerat keturunan Tionghoa itu sampai ia jadi Chief Executiv Oficer (CEO) di kelompok usaha ko­ng­lomerat itu pada usia muda. Setelah sukses, ia mundur/menghilangkan diri dari pere­daran, dan ”bersemedi di se­buah rumah di Penelokan— me­renungkan perjalanan hi­dup dan berbagai konflik kehi­dupan yang dilaluinya.

 

SEBETULNYA, atas do­rong­an beberapa orang yang mengenal dan membaca tuli­sannya, ada keinginan Cucu Magek Dirih membukukan karya-karya jurnalistiknya, sejumlah makalah tentang jurnalistik, dan makalah-ma­kaah tentang manajemen pers. Karya jurnalistik itu, antara lain, memilih di antara—kata­kan masing-masing 10 berita/laporan yang menonjol selama bertugas di Sumatera Barat, di Riau, dan Sumatera bagian Selatan. Lalu, Cucu Magek Dirih menceritakan bagaimana meliput peristiwa dalam berita/laporan itu. Di antaranya ada karya yang cukup monumental berjudul ”DAS Musi: Batang Hari Sembilan” yang terdiri atas empat laporan dimuat Harian Pagi Kompas di dua halaman tengah yang rupanya dipilih Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Kepen­dudukan, sebagai memenang­kan penghargaan jurnalistik Kalpataru tahun 1989.

 

Di antara makalah-makalah Cucu Magek Dirih tentang jurnalistik sejak ia bertugas di Palembang, Jakarta, Denpasar, dan di Padang. Lalu, tentang manajemen pers/manajemen penerbitan pers—ada kebia­saan Cucu Magek Dirih mem­buat proposal setiap rencana investasi dan pengembangan media, baik Harian Umum Sriwijaya Post Palembang, Harian Nusa Tenggara di Den­pasar, dan Harian Pagi Padang Ekspres—dan termasuk anak-anak perusahaan media cetak dan perusahaan stasiun televisi lokal di lingkungan Padang Ekspres Group. Juga proposal investasi dan pengembangan penerbitan Harian Pelita di Jakarta. Ada rencana mem­bukukan pengalaman Cu­cu Magek Dirih di dalam me­ngelola tiga suratkabar di dae­rah, buku tentang manajemen penerbitan pers daerah, dan termasuk rencana mem­buku­kan semua tulisannya tentang Gamawan Fauzi, dan tujuh novel.

 

Rupanya, ketika seniman/budayawan Wisran Hadi ber­kunjung ke rumah—melihat Cucu Magek Dirih sakit/istira­hat di rumah, ia memberikan sugesti agar mendahulukan untuk menerbitkan novel dari buku lainnya. Biasa wartawan membukukan karya jurnalistik, tapi, wartawan membukukan novelnya, itu luar biasa—jarang terjadi. Wisran Hadi memang mengetahui Cucu Magek Dirih juga menulis novel. Kurang tiga bulan kemudian, Wisran Hadi berpulang, dan Cucu Magek Dirih berutang moril men­da­hulukan membukukan novel. Rencana penerbitan buku novel terkendala karena sejak medio tahun lalu, Cucu Magek Dirih sakit-sakitan/sering masuk-keluar-masuk rumah sakit (di Padang, Kuala Lumpur, Jakar­ta, dan juga di Batam—terma­suk di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta). Karena itu, baru setelah agak pulih, Cucu Magek Dirih dapat mewu­judkan rencana membukukan novel itu.

 

SUNGGUH Cucu Magek Dirih merasa diri kecil, yang sudah merasa cukup bersyukur dan berbahagia dengan apa yang dapat dilakukannya seba­gai wartawan, dan kemudian jadi eksekutif bisnis pers. Se­sungguhnya, sebagai seorang dari keluarga sangat miskin harta dan semula hanya ber­cita-cita menjadi guru agama (Islam) di sekolah rakyat atau sekolah dasar (SD), dan cita-citanya naik/berubah menjadi guru bahasa Arab di sekolah menengah karena mendapat kesempatan melanjutkan ku­liah di Jurusan Bahasa Arab FT-IAIB Imam Bonjol—walau dengan susah payah (tinggal dan jadi garim masjid, serta mengajar mengaji di beberapa rumah). Kemudian, karena jadi seorang aktivis, rantauan pe­mikirannya berubah lagi/ber­kembang—seakan ia tak kon­sisten dan setia dengan cita-citanya semula.

 

Akan hal dunia tulis-me­nulis dan pers sudah dige­lutinya sejak kelas IV Pen­didikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4/6 Tahun Padang dan sejak masuk pada FT-IAIN Imam Bonjol. Minat barunya yang semula hanya membuat­nya membuat cabang cita-citanya dari menjadi guru aga­ma di SD juga menjadi penulis/pengarang—menjadi sastra­wan. Cucu Magek Dirih cukup gandrung membaca/mengikuti perkembangan—juga me­mi­nati karya sastra seperti puisi dan novel yang rupanya mem­buatnya membayangan diri menjadi seorang pujangga. Cucu Magek Dirih sudah me­rin­tis minat jadi pengarang itu sejak di PGAN 6 Tahun Padang dan kemudian di IAIN Imam Bonjol Padang. Cucu Magek Dirih pun termasuk merasa diberi kesempatan oleh hala­man budaya minggu ini/hala­man kebudayaan Harian Umum Haluan yang diasuh penyair Rusli Marzuki Saria—setidaknya Cucu Magek Dirih merasakan dirinya demikian.

 

Lalu ia menjadi wartawan dan kemudian menjadi ekse­kutif bisnis pers, baik masih di  kelompok usaha Kompas-Gra­media (KKG), di kelompok Usaha Bakrie (sampai ia masuk dan keluar-masuk empat kali), terakhir di kelompok usaha pers Jawa Pos/Riau Pos Group (JPG/RPG)—melalui Padang Ekspres Group. Cucu Magek Dirih menyebut diri tersesat da­ri semula bercita-cita jadi se­orang guru, menjadi wartawan, dan kemudian tersesat lagi menjadi eksekutif bisnis pers—menjadi pebisnis/pengusaha bidang pers/media massa. Jadi guru agama secara formal mung­kin sudah berjauhan. Menjadi pengarang, karena menjadi wartawan dan menjadi eksekutif bisnis media. Kata seorang senior Cucu Magek Dirih yang pengarang, kewarta­wanan cenderung membunuh kepengarangan di dalam arti menulis puisi dan menulis cerita pendek dan atau menulis novel.

 

Begitulah, kalau kini Cucu Magek Dirih menerbitkan no­vel-novelnya menjadi buku, ia sendiri tidak tahu, apakah yang ditulisnya itu memang karya sastra. Ada kegamangan dalam dirinya, bercampur-aduk anta­ra jurnalistik dan sastra—se­perti lebih/sangat terlihat pada dua novel AAP-PRRI dan Sitti Basulam yang insya Allah juga dibukukan dalam waktu dekat. Seringkali Cucu Magek Dirih membujuk dirinya sendiri bah­wa apa pun yang ditulisnya dalam bentuk novel mungkin tidak usah dipikirkannya: apa memang karya sastra atau bukan. Entahlah. Mungkin benar begitu. Harapnya, pener­bitan buku novel-novelnya—kini lima dari tujuh novelnya sudah selesai, mengobati hati­nya karena pernah bercita-cita menjadi seorang pengarang—kepada dirinya sendiri Cucu Magek Dirih hendak menga­takan bahwa ia sudah berusaha bersetia dengan cita-citanya semula: juga menjadi penga­rang. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.gatra.com/fokus-berita/21092-israel-semakin-brutal.html


Lima Novel Cucu Magek Dirih

Tuesday, October 15, 2013

Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat.  Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.


Namun, Allah SWT memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.


‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.


Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


                                                                            
                                                                     ***


Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.


Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.


‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.


Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”


Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.


Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.


 ”Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”


Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.


                                                                     ***


Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.


“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.


Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.


Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.


Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.


Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.


                                                                    
                                                                       ***


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.


Sepulang dari  Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.


Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.


“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat  berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.


Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.


“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.


                                                                         ***


Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.


“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”


Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”


Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.


Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.


“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”
 
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.


“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”


Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”


Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.


“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”


Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”


Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.


Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/06/06/078486229/Konvensi-Demokrat-Terbuka-untuk-Anas-Urbaningrum


Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

Monday, April 15, 2013

Sidak DPRD Solo: Ada Soal UN yang Rusak

<!––>




dok.timlo.net/daryono


Solo –  Hasil inspeksi mendadak (Sidak) Komisi IV DPRD Solo terkait pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA/SMK hari pertama, Senin (15/4) di sejumlah sekolah, rata-rata berjalan baik. Hanya ada beberapa soal rusak yang kemudian diganti dengan soal cadangan yang tersedia.


Rombongan Sidak Komisi IV dibagi dalam dua tim. Tim satu memantau sekolah-sekolah di Solo utara yang dipimpin Sekretaris Komisi IV Abdul Ghofar Ismail. Sementara tim dua dipimpin Ketua Komisi IV Teguh Prakosa yang memantau sekolah-sekolah di Solo selatan.


Sidak Komisi IV tim dua dimulai dengan memantau pelaksanaan UN di SMK N 3 Surakarta. Di sekolah itu sebanyak 335 siswa mengikuti UN secara penuh. ” Masuk semua, 335 siswa yang terbagi dalam 18 ruang dimana satu ruang 20 siswa,” ujar Kepala SMK N 3 Solo, Sri Haryanti kepada rombongan Komisi IV, Senin (15/4).


Selanjutnya, Komisi IV melanjutkan sidaknya ke SMK Kasatriyan, SMA MTA, SMK Muhammadiyah 1, SMA Al Islam dan SMK Kristen 1. Dalam pantauan tersebut, di SMK Kasatriyan dilaporkan adanya kerusakan soal. “Ada laporan soal rusak tetapi sudah diganti dengan cadangan. Jumlahnya berapa belum diketahui, tetapi ada laporan itu dari pengawas,” kata Kepala SMK Kasatriyan, Drs Danang Giyarso MSi.


Selain itu, kerusakan soal juga ditemukan di SMA MTA. Kerusakan berupa adanya satu soal yang rusak karena garis tengah. Namun seperti sekolah yang sebelumnya, kerusakan dicukupi dengan adanya cadangan.


Ketua Komisi IV DPRD Solo Teguh Prakosa menyatakan secara umum pelaksanaan UN berjalan dengan baik. “Kondisinya aman dan tidak ada temuan signifikan. Harapannya ini mencerminkan pelaksanaan UN sekolah-sekolah lainnya,” tandasnya.



<!–Dikirim melalui Timlo.Net – Portal Informasi Solo–>


 
 

 
 
 

<!––>


Berita Terkait




Tinggalkan Balasan Batalkan balasan




Article source: http://surabaya.detik.com/read/2013/04/14/215739/2219926/475/lima-anggota-fpi-diamankan-terkait-sweeping-toko-waralaba-di-pasuruan


Sidak DPRD Solo: Ada Soal UN yang Rusak

Saturday, February 16, 2013

Melunasi Utang Sosial

Melunasi Utang Sosial

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 17/02/2013 04:38 WIB

PENYELESAIAN suatu tahapan proses berkehidupan — apalagi satu tahapan cukup penting, rupa-rupanya, lebih dari sebatas psikologis (hendak mengatakan pada diri sendiri bahwa satu tahap kehidupan cukup penting sudah didapat/mampu diselesaikan, dan keluarga ikut berbahagia). Entah di dalam perspektif lingkungan sosial pula, penyelesaian suatu tahapan proses kehidupan memiliki nilai — seakan sekaligus menunaikan suatu beban tanggungjawab sosial. Ibaratnya nilai/beban tanggungjawab sosial adalah utang, penyelesaian satu taha­pan proses kehidupan yang penting terasa menjadi/dirasakan sebagai sudah membayarkan utang—utang ke lingkungan (keluarga dan masyarakat yang mengenal diri kita). Sebagai makhluk h sosial dan atau sebagai khalifah di muka bumi, manusia, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, memang memiliki nilai/beban tang­gungj­awab sosial pada keluarga dan masyarakat lingkungannya.

 

Masalahnya, kemudian, setidak­nya sejauh menurut Cucu Magek Dirih, ada sebagian kita yang me­mahami/memiliki perspektif dan kesa­daran tentang nilai/beban tang­gungjawab sosial yang harus ditu­naikan, dan sebagian kita yang lain pula tidak memahami/memiliki per­spek­tif dan kesadaran tentang nilai/beban tanggungjawab sosial tersebut — secara keras dan kasar bahwa orang demikian disebut egois/hanya memikirkan diri sendiri (keberadaan orang lain pun dipandang hanya untuk dirinya) atau sebagai tidak memiliki kepekaan/kepedulian terhadap mas­ya­rakat lingkungannya atau a-sosial. Ter­lebih pada masyarakat yang me­miliki nilai bersama tentang kolegial/kekeluargaan — betapa pun negara mengakui keberadaan hak individu pun! Nilai/penilaian masyarakat lingkungan terhadap diri seseorang atau tingkah lakunya atau perbuatan seseorang menjadi perlu dan penting — tergantung seseorang tadi memiliki perpektif tentang nilai/beban tanggu­ngjawab sosial itu.

 

Secara spesifik, seorang anak tidak dapat mengabaikan keberadaan dan peranan dari kedua orang tuanya, misalnya, dan tidak dapat menga­bai­kan keberadaan/peranan/penilaian masyarakat lingkungannya. Pada masyarakat Minangkabau, selain kesadaran tentang ada/keberadaa dari para pemuka masyarakat/tetua adat yang harus dihormati/kata dan nase­hat­nya harus didengar dan dilak­sana­kan, juga ada nilai/beban tang­gung­jawab sosial terhadap masyarakat lingkungan suku/korong/nagari, misalnya. Bilamana di dalam paruik/suku dan atau korong/nagari ada kegiatan bersama, maka seseorang yang menjadi warga paruik/suku dan atau warga korong/nagari otomatis mempunyai nilai/beban tang­gung­jawab sosial yang harus mereka tunaikan. Katakanlah kenduri perni­kahan dan atau berita kematian — kaba baik baimbauan (memberi tahu/mengundang)/kaba buruak baam­bauan (kalau tahu harus datang tanpa diberitahu/diundang pun!).

 

Sedang dalam kehidupan, ada pekerjaan/tugas dan atau nilai/beban dari pekerjaan/tugas yang sebetulnya lebih pada diri sendiri, tapi, rupanya juga memiliki nilai/beban sosial untuk menunaikannya. Misalnya, mamak (bersama sumandonya) bertang­gung­jawab segala sesuatu di atas rumahnya (mencarikan suami bagi anak/kema­na­kan; rumah gadang katirisan — juga membangun rumah bagi keluarga; dan mayik tabujua di ateh rumah/harus menyelenggarakan proses me­man­dikan dan mengu­burkan mayat), misalnya. Karna seseorang dikenal/cukup dikenal secara luas, maka segala sesuatu pada diri seseorang itu men­jadi milik masyarakat lingkungan — seakan masyarakat lingkungan berhak me­nge­­tahui/menanyakan/mem­per­soal­kan satu hal atau beberapa hal (tugas/pekerjaan/kegiatan) berkaitan dengan diri seseorang. Suka atau tidak suka, masyarakat lingkungan akan me­nge­tahui atau menanyakan atau bahkan mempertanyakannya

 

BEGITULAH yang dialami/dilalui Cucu Magek Dirih dengan penye­lesaian pendidikan degree strata-1 di jurusan pendidikan bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (PBA-Faktar-IAIN-IB) Padang. Bahwa sebagai mahasiswa pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang angkatan tahun 1974, Cucu Magk Dirih sudah diwisuda jadi sarjana muda (1978). Sesuai kebijakan otoritas pendidikan tinggi Kemenag saat itu, tingkatan pendidikan tinggi dilanjutkan ke doktoral I dan doktoral II — saat itu belum ada sistem kredit semester. Tahun 1979, Cucu Magek Dirih menyelesaikan doktoral II pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang — kecuali ujian dua mata kuliah doktoral I/II mata kuliah ilmu hadits dan ilmu tafsir yang dosennya Drs. H. Sanoesi Latief (saat itu Rektor IAIN-IB Padang). Ujian ilmu hadits dan ilmu tafsir doktoral I (1978) belum dibo­leh­kan Sanoesi Latief karena pekerjaan sebagai staf/pegawai honor (Pj. Sek­retaris) pada Lembaga Bahasa dan permintaan beliau agar melengkapi persyaratan untuk diajukan jadi pegawai negeri sipil (PNS) golongan lu­lusan sarjana muda belum dise­lesaikan.

 

Sebetulnya, juga karena kon­se­kuensi logis dari keterlibatan Cucu Magek Dirih sebagai salah seorang aktivis mahasiswa. Setelah Pang­kopkamtib Laksamana TNI Soedomo membekukan lembaga student gober­ment/organisasi intra­kampus dewan mahasiswa (DM)  — masih mem­pertahankan senat-senat ma­hasiswa (SM) di fakultas-fakultas (1978), Cucu Magek Dirih terlalu berani menye­leng­ga­rakan pertemuan/mengumpulkan para aktivis pengurus DM — juga dari Universitas Andalas dan IKIP Padang di laboratorium Lembaga Bahasa IAIN IB Padang (di mana Cucu Magek Dirih jadi pegawai honorer) Sabtu atau Minggu. Lalu, Cucu Magk Dirih dik­e­tahui mengadakan pembicaraan de­ng­an para pengurus senat-senat ma­hasiswa di lingkungan IAIB IB Padang. Ia ditangkap Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau — Rektor Sanoesi meneyerahkan Cucu Magek Dirih kepada dua perwira TNI berpa­kaian pereman yang datang men­jem­put ke kampus Sudirman Padang.

 

Keluar dari tahanan Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau, Cucu Magek Dirih merasa ia selalu diawasi — ruang geraknya dibatasi. Lalu, terbuka peluang bagi Cucu Magek Dirih menjadi wartawan/koresponden di Harian Pagi Kompas Jakarta untuk daerah kerja provinsi Sumatera Barat. Koordinator warta­wan/koresponden Harian Pagi Kom­pas wilayah Sumatera Barat/Riau memilih Cucu Magek Dirih untuk melalui masa percobaan tiga bulanan — singkatnya ia diterima menjadi wartawan/korespondn Kompas Ja­karta daerah kerja di provinsi Su­matera Barat (1979). Bersamaan pula karena situasi politis tidak men­gun­tungkan, Rektor Sanoesi digantikan caretaker Kol. Purn. Hasnawi Karim (saat itu ia menjabat Kepala Kanwil Depag Sumatera Barat). Situasi itu tak menguntungkan bagi penyelesaian studi Cucu Magk Dirih. Sampai ak­hirnya Cucu Magek Dirih dipindahkan kantor redaksinya menjadi wartawan/koresponden untuk wilayah provinsi Riau — termasuk wilayah provinsi Kepulauan Riau sekarang (1983).

 

Tadinya, Cucu Magek Dirih men­yang­ka penyelesaian kesarjanaannya dapat dilakukan di IAIN Sutan Qasim di Pekanbaru. Rupanya, untuk jurusan PBA di Faktar IAIN Sutan Qasim Pekanbaru belum ada doktoral (baru sampai sarjana muda). Lalu, dari Pekanbaru Cucu Magek Dirih ditarik ke kantor redaksi Kompas Jakarta (1987) — persiapan ke Persda Kelom­pok Kompas Gramedia (KKG) me­nangani proyek kerjasama dengan Harian Umum Sriwijaya Post Pa­lem­bang (1988-1990). Keluar dari Kom­pas/KKG, masuk ke Klompok Usaha Bakri (KUB) — menangani proyek Harian Umum Pelita Jakarta (1990-1992). Lalu, keluar. Masuk ke KUB lagi dan menangani Harian Umum Nusa Tenggara/sekaligus percetakannya. Akhir tahun 1998, return ke Padang, menangani Harian Pagi Padang Ek­spres — terbit perdana pada 26 Januari 1999. Sejak itu terbuka kembali peluang Cucu Magek Dirih menye­lesaikan kesarjanaan-lengkapnya.

 

ALHAMDULILLAH — atas pe­nye­lesaian kesarjanaan di jurusan PBA­-Faktar-IAIN-IB Padang (muna­qasah skripsi judul “Istikhdamu Kasaili al-I’lami Kawasailatun Tarabawiyatun fi Tanmiyati ath-Thaaqaati at-Ta’a­la­miyati Lillungati al-’Arabiyah, se­jum­lah kesalahpahaman terhadap kesar­janaan Cucu Magek Dirih sudah dapat dijawab/diatasi. Selama ini, ada sejumlah kenalan/masyarakat yang menganggap Cucu Magek Dirih lulu­san strata-1 (sarjana) — bahkan ada yang tidak percaya bilamana dijelas­kan bahwa Cucu Magek Dirih adalah orang surau dan atau karena pe­nam­pilan/jabatan Cucu Magek Dirih memimpin beberapa perusahaan lalu menganggap dirinya sarjana ekonomi. Kini, nilai/beban tangungjawab sosial dari Cucu Magek Dirih menerima anggapan/penilaian beberapa pihak tentang pendidikan tinggi/kesar­janaan­nya dapat dijawab — ibaratnya hutang sudah dapat dilunasinya.

 

What ever, sekarang Cucu Magek Dirih memang seorang lulusan strata-1 (sarjana lengkap) untuk jurusan pendidikan bahasa Arab Faktar-IAIN-IB Padang — walaupun sertifikat sarjana tersebut tak akan digunakan jadi PNS. Andai masih ada pihak/kenalan yang menyangka/mengang­gap dan atau menulis nama Cucu Magek Dirih yang menambahkan “drs” atau “SE”, tentu beban morilnya tidak seberat semula — sesungguhnya Cu­cu Magek Dirih adalah seorang su­rau yang semestinya menjadi guru ba­hasa Arab madrasah aliyah/sekolah menengah atas/sederajat. Bukan sar­jana ilmu politik dan atau ilmu eko­nomi yang selama ini dianggap oleh se­ba­gian — terutama saat Cucu Magek Di­­rih bertugas/jadi pemakalah di Ja­kar­ta/di Palembang Sumatera Se­latan dan sekitarnya/di Denpasar Ba­li dan se­kitarnya atau di tempat-tempat lainnya.

 

Akhirnya, di atas segalanya, Cucu Magek Dirih bersyukur kepada Allah — alhamdulillah hamdan jiddan, dan berterima kasih pada keluarganya. Khususnya isterinya Desnayetti yang menguruskan segala hal berkaitan dengan penyelesaian kuliah enam sistem kredit semester tambahan satu semester — karena di doktoral tahun 1978-1979 dahulu mata kuliah itu tak ada, mengurus makalah/tugas diberi­kan dari dosen, mengikuti ujian komp­re, penulisan/perbanyakan naskah skripsi — mencari/mengumpulkan buku dan dokumen diperlukan untuk penulisan skripsi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing (Cucu Magek Dirih belum pulih dari sakit), dan kepada ibunya, Saribanun. Cucu Magek Dirih menyampaikan terima kasih kepada dua dosen pembimbing Prof. Dr. Armen Mukhtar dan Dr. Reihani M. Ag, kepada dekan Prof. Dr. H. Duski Samad MA, penguji Prof. Dr. Masnal Jazuly M.Ag dan Drs. Lokot Nasution M.Ag.***

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=257113:-partai-islam-harus-segera-jalin-komunikasi&catid=17:politik&Itemid=30


Melunasi Utang Sosial