Showing posts sorted by relevance for query Momen. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Momen. Sort by date Show all posts

Saturday, August 10, 2013

Momen Kumpul Saat Lebaran Wulan Guritno

Momen Kumpul Saat Lebaran Wulan Guritno


FOTO


VIDEO


TEMPO.CO, Jakarta – Terlahir dari orang tua yang berbeda kewarganegaraan, Wulan Guritno lebih memilih untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Keputusannya tersebut diikuti pula dengan pilihan memeluk keyakinan untuk menjadi seorang muslim. Sehingga cukup jelas, setiap Idul Fitri Wulan Guritno akan memilih merayakannya di Indonesia, ketimbang di Inggris, negara tempat ibunya berada.


Mudik ke Inggris? Keluarga di Inggris kristen semua. “Pas umur saya 17 tahun orang tua kasih kebebasan. Saya pilih kewarganegaraan dan agama, Indonesia dan Islam,” kata Wulan saat ditemui di daerah Kemang beberapa waktu lalu.


Wulan bercerita bahwa dulu dirinya sering pulang dan mudik ke Solo. Berhubung keluarganya yang di Solo saat ini banyak di Jakarta jadi dirinya tidak lagi melakukan tradisi mudik ke tanah kelahiran ayahnya tersebut.


Momen berkumpul dengan keluarga saat lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh Wulan karena kesulitan untuk bertemu dan berkumpul pada hari-hari biasa. “Lebaran seringnya kumpul di rumah eyang, menghabiskan waktu sekitar 2 sampai 3 hari di rumah eyang. Tidur aja udah kayak sarden tapi seneng ngumpul,” ungkap wanita kelahiran London 14 April 1980 ini.


Tradisi yang biasa dilakukan Wulan dan keluarganya saat lebaran biasanya memang berpusat di rumah eyangnya. “Ngumpul ya di base camp eyang puteri, kita bantu eyang di rumah, semua cucu dan mantu bagi-bagi tugas, biar eyang juga tenang pas terima tamu yang banyak berdatangan.”


AISHA


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Momen Kumpul Saat Lebaran Wulan Guritno

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

Sunday, December 1, 2013

Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Rosita Budi Suyaningsih

Ia menemukan jawaban semua pertanyaannya di dalam Alquran.


Tak pernah terbayangkan dalam hidup Jared Craig Morris (26 tahun) berpindah soal keyakinannya. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan dan saat kecil ia pernah punya cita-cita menjadi seorang pastor.


Satu momen yang paling diingatnya, yang memantapkan dirinya untuk masuk Islam adalah saat menggendong putri pertamanya. Tiga tahun lalu, tepatnya 7 Juni 2010, putrinya yang diberi nama Mary Lee Rose lahir.


”Saat itu, bidan memberikannya pada saya untuk digendong, kemudian dia langsung berhenti menangis,” ujarnya dilansir dari laman ifoundislam, pekan lalu.


Momen ini tak pernah akan dilupakannya. ”Saat itu, saya memandang lekat mata indah anak perempuan saya, dan saya merasa yakin tentang keberadaan Allah,” kata pria Amerika ini.


Latar belakang keluarga Craig sebenarnya adalah Kristen yang taat. Saat berusia 12 tahun, ia punya cita-cita untuk menjadi pastor.


Semua kesehariannya fokus pada cita-cita tersebut, banyak membaca buku, dan bertemu ahli agama Kristen. Alkitab selalu dipelajarinya secara nonsteop, dibawa kemana pun dan dibacanya berkali-kali.


Ia lahir di Indianapolis, negara bagian Indiana, kemudian besar di daerah Hamilton. Selama itu, tak pernah ia bersentuhan langsung dengan Islam.


Hingga akhirnya, ia bertemu seorang mualaf di tempat kerjanya, enam bulan sebelum kelahiran putrinya. Mereka kemudian banyak berbincang tentang Islam.


Sang mualaf tersebut tidak pernah bermaksud untuk mengajak, apalagi memaksa Jared agar masuk Islam. Obrolan mereka kebanyakan bersifat ringan, diiringi gelak tawa, layaknya mengobrol bersama dengan teman lainnya.


Dalam setiap obrolan tersebut, ia mendapatkan gambaran tentang Islam. Sebuah hal yang tidak pernah dikenalnya sejak ia kecil.


Ketika kecil saat ia rajin membaca buku-buku agama, ia tak pernah mendapatkan informasi tentang Islam. Agama lain seperti Buddha, Hindu, ia pernah tahu. Namun Islam, baru ia dengar sekarang.


Selain kurang informasi, ia sendiri sangat jarang bertemu dengan orang yang beragama Islam. Justru, di Amerika semua media, baik televisi maupun surat kabar, terkesan memusuhi Islam dan selalu menjelek-jelekkannya.


Temannya ini membuka matanya pada Islam. Ia pun punya kesimpulan Islam dan Kristen sebenarnya sangat mirip, hanya ada beberapa perbedaan esensi di antara keduanya.


Kemudian, temannya yang mualaf itu pindah. Ia pun merasa kehilangan. ”Walau ia telah jauh, tapi kami terus berhubungan,” katanya.


Di saat ia merasa kehilangan seorang teman yang membuka wawasannya tentang Islam, ia pun mempertanyakan imannya. ”Saya ingin lebih yakin pada keberadaan Tuhan,” ujarnya.


Perang batin ini membuatnya frustrasi. Ia muak dengan semua dokumentasi yang menjelek-jelekkan Islam. Padahal, ia mulai mengagumi Islam, salah satunya adalah cara ibadahnya yang menyembah pencipta-Nya (ini berarti sikap sujud ketika shalat).


Lama kelamaan, ia justru melihat sisi jelek dari agama yang selama ini ia anut. Ia pun mulai membandingkan. Ia merasa dia tidak sesuci umat Islam. Bahkan, ia iri dengan umat Muslim yang bisa setaat itu pada Tuhannya.


Ia hanya ingin menjadi manusia yang taat dan bisa percaya pada Tuhannya dengan sepenuh hati. Namun, ia tidak tahu harus mencari informasi yang menenteramkan jiwanya ke mana lagi.


Dalam kebimbangannya ia merasa mendapatkan jalan buntu. Ia bahkan ditinggalkan oleh calon istrinya, mengalami kesulitan keuangan, dan ia pun menjadi pengangguran.


Ia sadar, saat itu tak ada lagi yang peduli padanya. Padahal, selama ini ia telah bekerja keras untuk menjadi seorang penganut Kristen yang baik.


Ia pun frustrasi dengan hal ini dan saat itu hatinya berkata untuk mulai mencari tahu tentang Islam. Ia mengunjungi Masjid Al Huda dan bertemu dengan beberapa kaum Muslim di sana.


Selama dua hari, ia banyak berbincang tentang Islam. ”Mereka mengatakan kepada saya, betapa pentingnya menjadi seorang Muslim,” katanya.


Di sana ia juga diperlihatkan sebuah Alquran dan ia terkejut ternyata kisah lahirnya Yesus dijelaskan. Di sanalah ia mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, terorisme yang dilakukan ternyata tidak dibenarkan oleh Alquran.


Sepulangnya dari tempat tersebut, justru ia bertambah galau. Ia pun pergi ke gereja dan mengajukan banyak pertanyaan pada pendetanya.


Sang pendeta tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan berdasarkan Alkitab. ”Ini sangat berbeda dengan Alquran di mana semua jawaban atas pertanyaan saya ada di sana,” ujarnya.


Alquran, menurutnya, bisa memberikan jawaban dengan cara yang masuk akal. ”Saya masih ingin lebih banyak bukti dan lebih banyak bukti lagi yang meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang tepat bagi saya,” katanya.


Satu hal lagi yang memantapkan hatinya adalah konsep politik dan kepemimpinan dalam Islam. Selain itu, seringnya ia bertemu dengan orang Muslim membuat kedekatan antarsesama Muslim ini seperti saudara. ”Saya pun mantap untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,” katanya.


Gugup. Itu yang ia rasakan sebelum bersyahadat. Apalagi, kesaksiannya masuk Islam disaksikan orang banyak.


Namun, setelah dua kalimat syahadat terlontar dari mulutnya, ia langsung merasa berbeda. ”Saya merasa benar-benar tanpa dosa untuk pertama kalinya dalam hidup saya,” ujarnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/10/16/murdls-yayasan-orbit-bagikan-daging-kurban-kepada-mualaf-lautze


Jared Craig Morris Yakin pada Islam Saat Menatap Mata Putrinya

Saturday, December 10, 2016

Maria Elaine Memilih Ikuti Pelajaran Agama Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam.

Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya.

Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah. Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya.

Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas. Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya.

Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

ԉ۪Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,Չ۪ ungkap Maria. Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam.

"

| Maria | Elaine | Memilih | Ikuti | Pelajaran | Agama | Islam | REPUBLIKA | JAKARTA | Meski | ayahnya | lebih | dulu | menjadi | mualaf | Venerissa | tetap | mengalami | masa | gelisah | menentukan | keyakinan | yang | dipegangnya | tertarik | ingin | tahu | banyak | tentang | p> Ia | mempertany | mengapa | perlu | puasa | Mengapa | perempuan | haid | boleh | beribadah | istilah | bukan | mahrom | kategori | aurat | pada | Ayahnya | pernah | memaks | putri | sulungnya | untuk | mengikuti | jejaknya | p> Meski | sebagai | orangtua | berpesan | baik | jika | Muslim | begitu | mengantar | gereja | setiap | akhir | pekan | sendiri | merasa | keputusan | karena | panggilan | hati | Suara | adzan | membawa | ketenangan | hatinya | p> Selama | pelajaran | agama | semasa | juga | memilih | duduk | mendengarkan | kelas | membaca | menulis | Alquran | memahami | artinya | p> Jadilah | penolong | bagi | teman | sekelasnya | mencatatkan | ayat | atau | hadits | Hingga | akhirnya | 2012 | bersyahadat | Momen | akbar | hidup | gadis | tahun | berlangsung | sederhana | p> Dengan | bulat | didampingi | guru | seorang | selama | memang | dekat | dengannya | Ujian | terhadap | orang | beriman | Ditanya | tanya | oleh | keluarga | menjawab | sempat | tertekan | p> ԉ۪Saat | ilmu | saya | masih | sedikit | Saya | atas | diuji | Allah | Չ۪ | ungkap | Akan | masalah | demi | dilewatinya | menyerah | mempelajari | mendalami | sangat | bersyukur | telah | menemukan | pencerahan | kedamaian | dalam | p> |

Thank You Very Much for Visiting this Article

Monday, August 5, 2013

Kala Para Calon Presiden "Berkendara" dengan Iklan Komersial



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>






JAKARTA, KOMPAS.com
— “Pemimpin itu harus bejo (bersih, jujur, ojo dumeh), jangan masuk angin“.


Anda mungkin tahu kalimat itu. Di layar televisi, kalimat itu diucapkan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, pada salah satu iklan produk jamu. Ceritanya, Mahfud tengah menjadi dosen.


Kemunculan Mahfud di televisi tentu saja meraih perhatian publik. Banyak kalangan langsung mengaitkan kemunculan Mahfud dalam dunia iklan komersial itu dengan rencananya maju sebagai calon presiden pada 2014. Ketika masih menjadi Hakim Konstitusi, Mahfud hanya menyiratkan akan maju pada Pilpres 2014. Keinginan itu disampaikannya secara gamblang setelah pensiun.


Tak hanya Mahfud, ada beberapa tokoh nasional lain, yang disebut-sebut sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, muncul di luar kebiasaan. Sebut saja Menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (Purn) Pramono Edhie, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dan Ketua DPR Marzuki Alie. Biasanya, mereka hanya tampil dalam pemberitaan di media massa.


Sama seperti Mahfud, Dahlan juga tampil dalam salah satu produk jamu. Dengan beberapa artis, Dahlan mempromosikan produk tersebut dengan latar belakang negara di Eropa. Seperti diketahui, tanpa malu-malu, Dahlan juga pernah menyampaikan keinginannya menjadi presiden.


Hal yang sama dilakukan Pramono. Dia juga tampil sebagai bintang iklan produk jamu. Pada akhir masa jabatan sebagai KSAD, Pramono sempat muncul dalam iklan layanan kesehatan TNI AD, yakni operasi katarak.


Awalnya, Pramono mengaku belum memiliki rencana terjun ke dunia politik setelah pensiun dari militer. Belakangan, adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu bergabung dengan Partai Demokrat. Ia lalu secara terbuka mengaku ingin maju dalam konvensi partai tersebut.


Lain lagi Gita. Selain tampil di iklan terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Perdagangan, Gita sempat tampil di iklan ucapan ulang tahun perusahaan otomotif terkenal di Indonesia. Gita juga mengaku ingin ikut konvensi Demokrat.


Marzuki jauh lebih dulu tampil dibanding mereka. Marzuki membintangi produk kipas angin buatan lokal. Dalam iklan itu, Marzuki mengaku bahwa keluarganya menggunakan produk dalam negeri. Sama seperti Pramono dan Gita, Marzuki juga siap bertarung dalam konvensi Demokrat.


Efektif atau cuma “angin lalu“


Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengatakan, saat ini mereka yang hendak maju di pilpres tentu memanfaatkan acara, kegiatan, talk show, termasuk iklan komersial untuk menaikkan popularitas. Dalam komunikasi politik, kata dia, tindakan itu sering disebut hype politic atau memalingkan perhatian publik melalui media massa.


“Mereka, kata Gun Gun, sedang mengonstruksi diri seperti yang diinginkan. Tujuannya adalah memengaruhi persepsi publik. Jadi, mereka akan all-out memanfaatkan situasi dan menjadi free rider dalam setiap momen yang mempunyai nilai popularitas,” kata Gun Gun ketika dihubungi, Jumat (2/8/2013).


Gun Gun menambahkan, masalahnya, upaya mereka itu tidak otomatis akan berefek positif terhadap elektabilitas. Publik akan membaca pencitraan mereka historis berjenjang. Artinya, jika citra yang ditampilkan di televisi berbeda 180 derajat dengan keseharian mereka, kata dia, maka koherensi karakterologisnya akan lemah.


Dampaknya, menurut Gun Gun, perilaku narsistis mereka akan dianggap angin lalu saja. Aktivitas pencitraan yang over-expose juga berpeluang membuat orang jenuh dan tidak memberi respek lebih.


“Pencitraan boleh-boleh saja, tetapi kalau tidak sesuai dengan reputasi mereka juga tidak akan berguna banyak,” kata doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu.


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>








































Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/68905-jenazah-ully-artha-didoakan-secara-islam-dan-kristen.html


Kala Para Calon Presiden "Berkendara" dengan Iklan Komersial

Thursday, April 18, 2013

Abanda Herman Jadi Mualaf

Bandung – Pemain belakang Persib Bandung, Abanda Herman, kini memeluk agama Islam. Berjalan dengan khusyuk, Abanda menjadi mualaf dengan disaksikan langsung oleh rekan-rekannya di ‘Maung Bandung’.

“Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.”


Dua kalimat syahadat itu meluncur tanpa hambatan dari mulut Abanda dan terdengar oleh seluruh tamu yang hadir melalui pengeras suara. Abanda mengucap kalimat tersebut sembari duduk sila beralas karpet di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Kamis (18/4/2013), tepat pukul 16.16 WIB


Pengucapan dua kalimat syahadat oleh pesepakbola kelahiran 20 Februari 1984 itu dibimbing oleh Ustaz Jujun Junaedi. Jujun membaca syahadat di hadapan Abanda yang memakai peci putih dan berbalut jubah putih. Lalu mantan pemain Persija itu mengikutinya.


Di samping kanan Abanda duduk pelatih Persib Jajang Nurjaman, sementara Manajer Persib Umuh Muchtar menjadi saksi.


“Saksi sebenarnya cukup dua orang. Tapi ini disaksikan ratusan orang,” jelas Jujun.


Masjid yang lokasinya tak jauh dari rumah Umuh itu desesaki banyak orang, yang di antaranya adalah ibu-ibu pengajian. Usai menjadi muslim, Abanda tersenyum semringah.


Sejumlah pemain Persib yakni Maman Abdurrahman dan Airlangga Sucipto mengabadikan momen tersebut. Keduanya bergegas merogoh ponsel kamera dalam saku celana dan langsung menjepretkannya. Selain itu, player Persib yang hadir antara lain Atep, Cecep Supriatna, I Made Wirawan.


(bbn/din)


Article source: http://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/internasional/masuk-masjid---kate-middleton-berkerudung-dan-lepas-sepatu.html


Abanda Herman Jadi Mualaf

Sunday, December 22, 2013

Hari Ibu Momentum Cetak Generasi Saleh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seorang ibu turut berperan dalam mencetak generasi yang saleh. Itu sebabnya, peringatan Hari Ibu yang jatuh pada Ahad (22/12) ini, merupakan pengingat hal tersebut.


“Ibu, figur yang segala prilaku dan perkataan akan diingat anak-anaknya. Jadi, kesalehan seorang ibu akan diingat anaknya,” ucap Wakil Paguyuban Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa kepada ROL, Ahad (22/12).


Melalui kesalehan itu, kata dia, anak-anak dikenalkan dengan Peciptanya dan bagaimana ia diciptakan. Dengan begitu anak-anak akan mengerti dan mengapa kesalehan itu penting.


Ditanya momen spesial apa yang dialami bersama ibu, Ketua Yayasan Al-Isya Nurul Baqi ini, mengatakan kebersamaan, kasih sayang setiap hari dan beribadah bersama-sama setiap hari. “Ini yang sangat saya ingat kendati beliau sudah tidak ada,” ucapnya.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26848/19/01/2013/suripto:-waspadai-agenda-tersembunyi-dibalik-isu-suriah-dan-sampang.html


Hari Ibu Momentum Cetak Generasi Saleh

Wednesday, August 14, 2013

Rayakan Idul Fitri di Korsel, Krisdayanti tetap sajikan opor ayam

Krisdayanti bersama Yuni Shara dan keluarganya pilih merayakan momen Idul Fitri di Korea Selatan. Meski demikian, istri Raul Lemos itu tetap menghidangkan masakan yang selalu disajikan saat lebaran tiba.



“Tetap ada lontong, opor, rendang semua dibikin di sana,” ungkap wanita kelahiran 24 Maret 1975 itu saat sampai di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (14/8).



Krisdayanti tetap merayakan Lebaran dengan opor ayam meski tengah berada di Korea Selatan.



10 Penjara Paling Mengerikan di Seluruh Dunia
10 Seni Penyajian Makanan Yang Super Imut, Ingin Mencicipi?
10 Fashion Show Gila dan Tidak Biasa
10 Rumah Pohon Paling Unik di Dunia, Ingin Menginap?
10 Item Yang Wajib Ditambahkan di Menu K-Pop



Penyanyi asal Batu, Jawa Timur itu mengaku baru sampai di Korsel pas malam takbiran. Bersama keluarganya, ia melaksanakan salat Idul Fitri keesokan harinya di Korea. “Malam takbiran sampai sana, paginya kita salat Ied di Itaewon,” katanya.



KD mengaku bersyukur, karena mayoritas orang yang berada di kota tersebut, mayoritas memeluk agama Islam. Makanya suasana lebaran di sana pun lebih terasa.



“Di Itaewon itu daerah muslim, jadi di bis takbir sendiri. Terasa banget suasananya, ketemu pelajar Indonesia di Korea dan siangnya jam satu kita diundang open house di kedubes Indonesia di Seoul,” pungkasnya. (kpl/aal/abs/sjw)












Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3720


Rayakan Idul Fitri di Korsel, Krisdayanti tetap sajikan opor ayam

Friday, March 8, 2013

Kaki Saya Masih Kesulitan saat Salat

SETELAH tersangkut kasus pemukulan terhadap Mef Paripurna di salah satu cafe Kawasan Senayan Jakarta, banyak yang memperkirakan karis Diego Michiels di sepakbola tanah akan berakhir. Selain karena banyak pecinta sepakbola Indonesia yang mengecam, Pria kelahiran  Deventer, Belanda, 8 Agustus 1990 itu pun sempat frustasi dengan kondisi kompetisi Indonesia.

Diego Michiels pertama kali ditahan oleh Polsek Tanahabang pada 10 November 2012 atau hanya beberapa hari sebelum Timnas Indonesia berangkat ke AFF Cup di Malaysia. Tapi siapa sangka, Diego justru mendapat anugerah di dalam penjara. Kekasih Nikita Willy itu masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Diego Muhammad.

Kamis (7/3), adalah salah satu momen berharga untuk Diego. Meski diputus bersalah dengan hukuman penjara 3 bulan 20 hari, namun Diego tetap berhak menghirup udara bebas karena sudah menjalani masa tahanan selama 3 bulan 20 hari.

Lalu seperti apa antusiasme Diego Michiels untuk kembali membela Timnas Indonesia. Berikut petikan wawancara Diego Michiels dengan Mahbub Amiruddin dari JPNN setelah divonis di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Bagaimana perasaan Diego setelah divonis ringan pengadilan?

Saya selalu happy, enjoy. Saya dinyatakan bersalah walaupun sebenarnya saya tidak bersalah, tapi tidak apa-apalah.

Rencana setelah bebas?

Saya akan melakukan yang terbaik untuk timnas Indonesia. Saya akan bergabung dengan Timnas Indonesia lagi. Saya tidak akan menggelar syukuran. Rasa syukur saya wujudkan dengan bekerja keras. Selama di penjara saya tetap menjaga kondisi fisik, saya juga tetap bermain futsal tiap malam. Saya yakin bisa main untuk Timnas. Saya berlatih keras untuk itu, sekarang rutin training, makan, tidur, dan training lagi.

Sekarang persaingan di Timnas ketat, pelatihnya juga baru. Masih optimis lolos seleksi timnas?

Tentu saja saya optimis bisa bergabung membela Indonesia. Saya akan berjuang, nanti biarkan pelatih yang mentukan, saya terpilih atau tidak.

Diego memeluk Islam saat berada di penjara. Apa yang mendorong memeluk Islam? Apakah karena Nikita Willy?

Saya sudah lama mengenal Islam, dan menjadi semakin tertarik masuk Islam setelah berada di Indonesia. Masuk Islam itu karena saya melakukannya sendiri, keinginan itu datang dari hati sendiri. Saya tidak mau disuruh-suruh, kalau ada yang nyuruh nanti jadinya terpaksa. Jadi dari diri sendiri aja.

Belajar Islam dimana?

Saya belajar Islam dari buku-buku yang saya baca. Waktu ditahan di  Salemba (Rumah Tahanan Salemba Jakarta Pusat) saya ketemu dengan seorang teman yang asalnya dari Pakistan. Saya banyak belajar Islam dari dia.

Ada kesulitan?

Ya, kaki saya agak sulit dalam mengerjakan salat. Ada juga beberapa kalimat dalam bahasa Arab yang juga sulit untuk saya ucapkan. Saat ini saya jalanin saja dulu. Shalat yang rajin.

Bagaimana dengan orang tua, apa merestui Diego masuk Islam?

Saya sudah berbicara pada orang tua sekitar sebulan lalu dan mereka mengizinkan. Waktu masih di Belanda saya memang sering bermain bersama teman saya yang Islam, lalu saya mulai mempelajari buku dan akhirnya saya sekarang memutuskan masuk Islam. Saya senang sekarang.

Hubungan dengan Nikita Willy bagaimana?

Nikita pasti senang saya bisa masuk Islam. Dia baru saja menunaikan umroh dan saya masuk timnas.

Kapan nikahnya?

He he he, belum-belum. Cari duit dulu. (abu/jpnn)

Article source: http://index.okezone.com/read/2013/02/07/33/758458/terlibat-masalah-diego-michiels-masuk-islam


Kaki Saya Masih Kesulitan saat Salat

Thursday, July 11, 2013

Dulu Membenci, Setelah Jadi Mualaf Kini Mencintai Puasa

REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Marcos. Dia berasal dari Manila, Filipina. Lelaki ini tinggal di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), selama lebih dari sembilan tahun. Marcos awalnya merupakan seorang non-Muslim.


Baginya, dahulu puasa adalah bentuk pengorbanan bodoh. Menurut Marcos, menahan diri dari semua kebutuhan jasmani merupakan suatu mimpi buruk.


Bulan Ramadhan adalah kiamat kecil bagi saya. Ketika semua tempat hiburan ditutup, kata dia kepada Arab News, beberapa waktu lalu. Menurut dia, puasa bertentangan dengan naluri dan hak-hak mahkluk hidup. Puasa perbuatan tidak logis dan menyiksa.


Pertanyaan mengapa seorang Muslim harus berpuasa terus memunculkan pertanyaan di otaknya setiap hari. Mengapa ada agama besar yang melarang manusia menikmati  ciptaan Tuhan? Mengapa harus menyiksa diri menahan lapar dan haus, padahal dua kebutuhan itu sangat penting?


Namun, perlahan hidayah mulai menghampiri Marcos. Seorang teman sekamar menjawab semua gelembung pertanyaan di otaknya itu. Semua prasangka negatifnya tentang puasa ternyata tidak benar. Apalagi, setelah dia membuktikan sendiri.


“Allah memberikan saya Islam. Saya menemukan tentang pernyataan-pernyatan saya (dahulu) yang ternyata tidak benar, “kata dia.


Marcos memilih bersyahadat dan mengubah namanya menjadi Ahmed Moamen. Tahun ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya dia hadapi pascakeislamannnya.


Pengalamannya berpuasa memberi keyakinan, rukun Islam ketiga itu adalah cara hidup yang sehat. Tubuh-tubuh ini juga punya hak untuk beristirahat. Setidaknya, setahun sekali. Ini adalah kebijaksanaan yang agung, ujarnya seperti dikutip Onislam.


Pengalaman yang mirip juga dialami mualaf lainnya, Amnah Jordon (Jordon Caroline) dari Afrika Selatan. Bagi dia, Ramadhan adalah momen paling intim antara manusia dengan Sang Maha. Kegiatan baik apa pun terganjar dengan kebaikan yang dinilai berlipat ganda.


Ini kegiatan keagamaan yang mudah dan paling saya nanti. Hati saya merasa dekat bersama-Nya, ujar dia. Pengalaman Jordon menjadi pengalaman-pengalaman pribadi dalam mendalami agama yang diimaninya beberapa tahun lalu.




Article source: http://travel.kompas.com/read/xml/2013/06/27/0949061/Senja.di.Kota.Lama.Jerusalem


Dulu Membenci, Setelah Jadi Mualaf Kini Mencintai Puasa

Tuesday, December 25, 2012

Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

JAKARTA – Puji Tuhan. Malam Natal di seluruh Indonesia berjalan damai dan aman. Pantauan posko operasi Lilin Mabes Polri menyebutkan, secara umum tidak ada gangguan keamanan di malam yang dikuduskan umat Kristiani itu.
   
Kapolri Jenderal Timur Pradopo bersama jajarannya tadi  mengunjungi sejumlah gereja di Jakarta untuk meninjau pengamanan yang dilakukan anak buahnya. ”Kehadiran saya untuk melihat adik adik mengamankan ibadah di  Jakarta,” ujar Timur di gereja Katedral Jakarta tadi malam (24/12).  

Secara umum menurut Timur, seluruh wilayah Jakarta malam ini aman dan seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan khidmat. Selain Jakarta, secara keseluruhan kondisi malam Natal di seluruh Indonesia juga berjalan dengan aman dan tertib.  ”Laporan dari daerah semuanya kondusif. Ini kita syukuri, alhamdulillah,” kata alumnus kpol 1978 itu. 

Titik pengamanan disesuaikan dengan kondisi. Jumlah personel di masing-masing provinsi berbeda-beda. ”Kalau untuk daerah, Pemda sudah menyiapkan untuk mengamankan kegiatan agama,” katanya.

Khusus di Jakarta, dikerahkan 5.992 personel untuk menjaga 16 ribu gereja di Jakarta. Aparat tersebut adalah aparat gabungan dari satuan Polri, TNI, Satpol PP dan Dishub Jakarta.

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menambahkan, pengamanan akan berlangsung terus sampai awal 2013. ”Polri terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan adanya kerawanan, termasuk terorisme,” katanya.
Pengerahan pasukan Brimob, Densus dan intelijen dilakukan secara terkoordinasi. ”Tentu, jumlah dan plottingnya disesuaikan dengan analisa situasi,” katanya.

Secara terpisah, sumber Jawa Pos di lingkungan anti teror menyebutkan hingga tadi malam, kesiapsiagaan terhadap aksi terorisme sangat tinggi. ”Berbagai data intelijen yang masuk kami evaluasi dan kami ukur kadar akurasinya,” katanya.

Tren ancaman sebenarnya terbaca sejak dua pekan lalu. Saat penangkapan tersangka terorisme Roki Aprisdianto di madiun, Densus 88 menemukan beberapa ketarangan yang cukup mengejutkan. Namun, penyidik ini menolak menjelaskan secara detail. ”Yang jelas, kerawanan di Poso juga kami ukur. Itu bisa saja pengalihan strategi agar konsentrasi Densus kesana saja. Kami tidak boleh terkecoh,” katanya.
  
Menteri Agama Minta Masyarakat Tetap Akur

Di bagian lain, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menghimbau seluruh masyarakat Indonesia menyambut hari Natal 2012 dengan hikmat. ’’Harus tetap akur,’’ katanya usai pembukaan Konferensi Internasional tentang Fatwa di Jakarta kemarin (24/12).
 
Setiap perayaan natal, atau hari besar keagamaan non-Islam lainnya, selalu memunculkan persoalan. Yakni, sempat muncul fatwa jika umat muslim diharamkan mengucapkan selamat natal atau hari besar agama non-Islam lainnya. Dari kecenderungan ini, menteri yang akrab disapa SDA itu mengatakan tidak perlu dipersoalkan.

’’Pemerinta h nyatakan umat muslim boleh mengucapkan selamat natal kepada umar yang merayakannya,’’ kata SDA. Bahkan dia mengatakan akan mengikuti perayaan natal nasional yang rencananya digelar 27 Desember nanti. ’’Dalam momen perayaan natal nasional itu saya datang dan mengenakan kopyah,’’ kata dia lantas tertawa.

SDA mengatakan jika memperdebatkan fatwa yang mengharamkan umat muslim mengucapkan selamat natal tidak relevan lagi dengan semangat kebersamaan. Dia mengatakan tidak menjadi persoalan jika ada umat muslim yang mengucapkan selamat natal bahkan ikut merayakan natal.

’’Yang penting keteguhan imannya sebagai seorang muslim tetap terjaga,’’ tandas menteri yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Selain meminta masyarakat menjaga solidaritas menyambut natal, SDA secara resmi juga mewakili unsur pemerintah juga mengucapkan selamat natal kepada umat yang merayakannya. Dia berharap perayaan natal ini bisa berlangsung dengan hikmat dan aman.

SDA juga mengecam jika ada pihak-pihak yang ingin mengusik ketenangan natal tahun ini. Jika kebetulan yang mengusik ini adalah umat muslim, dia mengatakan bisa memperburuk citra umat muslim di mata dunia. SDA mengatakan jika saat ini pihaknya sedang membangun citra positif umat muslim. Terutama  umat muslim yang ada di Indonesia.

’’Umat muslim di Indonesia itu bukan umat muslim yang suka kekerasan atau perang,’’ katanya. Sebaliknya, umat muslim di Indonesia adalah umat yang ramah dan toleransi. Entah itu kepada sesama muslim atau dengan umat agama lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono yang mendampingi SDA juga menyampaikan selamat natal. ’’Tidak perlu diperdebatkan halal-haram mengucapkan selamat natal,’’ kata dia. Agung juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat natal 2013 kepada masyarakat yang merayakannya. (rdl/ wan)

Article source: http://nasional.inilah.com/read/detail/1940569/pks-mesin-partai-itu-kader-bukan-artis


Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

Saturday, March 9, 2013

Vatikan bantah penguduran diri Paus lantaran terlibat skandal

Takhta Suci Vatikan kemarin mengecam media Italia yang telah menulis berbagai pemberitaan terkait intrik, korupsi, dan pemerasan, terkait pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Vatikan menyebut tindakan itu merupakan suatu langkah untuk menggoyang pelaksanaan Konklaf atau pemilihan Paus baru pengganti Paus Benediktus XVI bulan depan.

Stasiun televisi Aljazeera melaporkan, Sabtu (23/2), Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, kemarin membantah rumor, informasi salah, dan terkadang fitnah, yang berhubungan dengan penyelidikan dilakukan komite Kardinal pada tahun lalu terkait dokumen-dokumen rahasia Paus yang bocor.

“Ada orang yang ingin mengambil kesempatan dari momen ini untuk menyebarkan kekacauan dan ketidakpercayaan terhadap Gereja Katolik Roma dan pemerintahan Vatikan,” kata Lombardi.

Baru-baru ini, tabloid the Panorama dan surat kabar La Repubblica menulis, keputusan Paus Benediktus XVI untuk mundur dari jabatannya lantaran dipicu oleh laporan rahasia yang dibuat oleh tiga orang Kardinal.

La Repubblica menulis pada 17 Desember tahun lalu, Paus menerima sejumlah berkas laporan dari tiga kardinal yang ditugaskan untuk menyelidiki skandal kebocoran informasi Vatikan. Pada hari itu juga kemudian Paus mengambil keputusan untuk mundur.

Menurut La Repubblica, berkas dokumen itu memuat hampir 300 halaman terikat tali merah dan disimpan di apartemen kepausan dan akan diserahkan kepada paus yang terpilih berikutnya.


{paging_prev_label}

{paging_next_label}


Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/03/08/161881/Kaki-Saya-Masih-Kesulitan-saat-Salat-


Vatikan bantah penguduran diri Paus lantaran terlibat skandal

Sunday, August 4, 2013

Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Oleh Erik Purnama Putra


REPUBLIKA.CO.ID, Bagi Dini Fitria (31 tahun), melakukan perjalanan jurnalistik ke luar negeri adalah hal biasa. Namun, presenter program “Jazirah Islam” di Trans 7 ini mengaku mendapat berkah tersembunyi ketika mendapat tugas meliput dunia Islam di negara Eropa maupun Amerika Utara.


Sosok yang akrab di panggil Dini ini mengaku, banyak pelajaran dari interaksi dengan beragam karakter umat Islam di negara yang masyarakat Muslim menjadi minoritas.


“Ada hikmah sejarah, perjuangan, dan persahabatan yang bisa kita petik,” kata perempuan yang merangkap sebagai produser program khusus Ramadhan ini kepada Republika, belum lama ini.


Dalam tiga tahun terakhir, beberapa negara yang pernah disinggahi Dini untuk program “Jazirah Islam”, antara lain, Austria, Belanda, Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Argentina, Meksiko, dan Brasil. Adapun, negara Asia yang dikunjunginya adalah Thailand, Cina, India, dan Korea Selatan.


Di beberapa negara itu, putri dari pasangan Syamsul Bahri Yunus dan Roslaini Rasyad ini melakukan liputan dokumenter tentang perjuangan umat Islam dalam menjaga eksistensi komunitasnya.


Ia menuturkan, pengalaman mengharukan didapatnya ketika meliput Mezquita Catedral di Kordoba, Spanyol. Bangunan masjid yang sudah menjadi tempat peribadatan warga Katolik itu begitu memikatnya. Ia merasa seperti masuk ke lorong waktu para era kejayaan Islam di Benua Biru.


Tak terasa, air mata Dini terurai saat melihat mihrab masjid telah beralih menjadi altar gereja. “Miris sekali,” akunya. Kesedihannya semakin mendalam ketika Abdul Bahri, seorang Muslim yang menjadi pengantarnya, menuturkan masyarakat Negeri Matador itu memberi stigma buruk terhadap Islam yang selalu dikaitkan dengan isu teroris.


Bertemu mualaf


Pengalaman menarik juga didapat Dini di Italia. Bungsu dari lima bersaudara ini bertemu dengan dua sosok Muslim yang mampu menginspirasinya. Mereka adalah Wali Kota Monte Argentario Arturo Cerully dan fotografer Steffano Romano yang keduanya merupakan mualaf.


Khusus Arturo Cerully, ia merupakan wali kota Muslim pertama di Negeri Piza. Ia memilih Islam karena ajaran kemasyarakatan dan kenegaraan, serta mengikuti agama yang dianut istrinya.


Adapun, Steffano Romano memeluk Islam lewat karya fotografinya tentang perempuan berjilbab. Kecintaannya terhadap ajaran Rasulullah ini mampu membuat keduanya meninggalkan agama leluhurnya.


Pengalaman spiritual paling puncak didapatnya saat berkesempatan menyaksikan beberapa orang dari berbagai negara di Eropa merasa mantap ingin masuk Islam. Proses pengucapan kedua kalimat syahadat calon mualaf mampu menggetarkan hatinya.


Perempuan kelahiran Padang, 23 Maret 1982, ini sangat tergugah setiap kali mengingat momen itu. Pasalnya, untuk memeluk Islam, bukan sebuah pilihan mudah dan memerlukan perjuangan cukup berat bagi warga Eropa.


Rata-rata, mereka yang masuk Islam lebih karena tertarik dengan isi Alquran yang dianggap sangat rasional dan tidak menimbulkan perdebatan. “Karena itu, saya selalu bersyukur memeluk Islam sejak kecil.”


Merasa menemukan Islam di Eropa, ia dibuat terkesima dengan warga Muslim di sana. Ini lantaran rasa persaudaraannya yang sangat kuat di tengah pandangan minor yang diterimanya.


Fakta itu juga dirasakan Dini yang selalu dicurigai petugas di bandara hingga memaksanya harus melepas jilbab yang dikenakannya lantaran dicurigai sebagai teroris.


“Islam di Eropa hanya satu. Mereka tidak membedakan Suni, Syiah, Muhammadiyah, atau NU. Islam ya Islam,” celetuknya.


Di belahan bumi lainnya, perjalanan Dini mengantarkannya bertemu dengan keluarga Indian Muslim yang tinggal di Chiapas, Meksiko. Di daerah kaya sumber daya alam ini, warga setempat masih hidup terbelakang lantaran terlena dengan kehidupan yang dekat dengan alkohol, judi, dan hukum rimba.


Mayoritas warga suku Indian itu yang menjadi penganut animisme berusaha mencari kedamaian dengan memeluk agama Katolik maupun Protestan yang disebarkan masyarakat Eropa. Namun, lanjut Dini, ketenangan yang diharapkan tidak juga ditemukan.


Alhasil, pencarian keluarga itu mengantarkannya mengenal Islam dari kelompok pendatang Muslim asal Spanyol. “Islam menjadi alternatif yang menarik karena bisa mengerem kebiasaan buruk mereka,” katanya.


“Sayang, sekali lagi isu-isu terorisme membuat mereka takut dan akhirnya termarginalisasi,” kata alumnus Universitas Andalas, Padang, ini.


 Menulis novel


Meski hasil reportasenya telah muncul di televisi, Dini merasa belum puas lantaran tidak semuanya tergambarkan. Ini mengingat tayangan dokumenter lebih menonjolkan aspek objektivitas. Atas dasar itu, ia tertarik menuliskan pengalaman subjektifnya ke dalam sebuah novel berisi kisah nyata.


“Alhamdulillah, novel religius ini bisa terbit,” katanya. Karya perdananya itu berjudul Scapa per Amore. Judulnya yang memakai bahasa Italia itu merupakan usulan istri Arturo Cerulli, Sri Semiarti Sastropawiro, yang berarti lari karena cinta.


Scapa per Amore bercerita perjalanan cinta seorang jurnalis televisi, Diva, yang harus memilih antara melanjutkan hubungan dengan tunangannya yang retak atau menerima tugas liputan ke luar negeri. Di tengah kegalauannya, Diva menjatuhkan pilihan memilih menunaikan tugas profesionalnya.


Harapannya, dengan pengalaman spiritual selama liputan akan diperoleh perenungan untuk menentukan langkah berikutnya. Dan, benar saja, perjalanan liputan itu ternyata menggugah banyak makna dan inspirasi. 


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/03/138443/HMI-Tegaskan-Ajaran-Laduni-Aliran-Sesat-


Dini Fitria, Memburu Jejak Islam ke Benua Biru

Sunday, January 27, 2013

Bina Santri dan KAMUS Peringati Maulid Nabi

Hal itu disampaikan Ustadz Dr H Bukhori Ismail Simangunsong MA pada ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (24/1) di Komplek Perguruan Bina Santri Jalan Pasar III Medan Perjuangan.

Kegiatan itu digelar Perguruan Bina Santri bekerja sama dengan Keluarga Abituren Musthafawiyah Purbabaru (KAMUS) Mandailing Natal (Madina).

Menurut ustadz dari Jakarta ini, fenomena lainnya saat ini banyak orang menyembah “berhala” walau wujudnya berbeda dengan pada zaman jahiliyah yang menyembah patung.

Bentuk berbeda itu, saat ini umat Islam meninggalkan kewajibannya, dikarenakan demi kecintaan terhadap materi atau hedonisme. Bahkan zaman sekarang perzinaan dan pembunuhan anak (aborsi) sudah semakin berkembang di tengah masyarakat hingga sampai ke pedesaan.

Karena itu momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ustadz Bukhori mengajak umat Islam untuk meneladani perilaku Rasulullah.

Dia juga mengajak khususnya kepada alumni Musthafawiyah menjadi benteng moral bangsa. dengan menyesuaikan perkataan dengan perbuatan.

Kerusakan Moral

Pembicara lainnya Ustadz Drs H Hamdan Yazid MA mengakui kerusakan moral bangsa saat ini, bukan karena kesalahan kurikulum di sekolah, bukan karena guru yang tak pandai mengajar, dan bukan juga karena tak pandainya pakar yang membuat kurikulum, tetapi memang umatnya yang telah rusak.

“Sebabnya umat Islam sekarang ini tengah dihimpit kemiskinan ekonomi, karena itu untuk membangun umat harus terlebih dahulu membangun ekonominya,” kata Yazid.

Pimpinan Yayasan Bina Santri Drs H Sotar Nasution, MHB menyatakan sangat prihatin atas merosotnya akhlak bangsa saat ini, terutama juga di kalangan generasi muda.

“Umat Islam harus kembali pada nilai-nilai moral ajaran Islam. Pesan Maulid Nabi yang harus ditangkap bukan kelahiran Nabi Muhammad, tapi yang terpenting adalah melihat ajaran Islam itu secara lebih komperhensip untuk dilaksanakan,” ujar Sotar yang juga Sekretaris Dinas Kominfo Kota Medan ini.

Acara itu dirangkaikan penyerahan hadiah kepada para pemenang Festival Anak Saleh (FAS) tingkat TK-SD se-Kota Medan yang digelar sejak 21-23 Januari di Perguruan Bina Santri.

Turut hadir diantaranya Ketua Umum DPP KAMUS Dr H Raihan Nasution LC, MA, Kabag Agama Biro Binsos Setdaprovsu Drs HM Hatta Siregar MSi, Camat Medan Perjuangan Rachmad Harahap, Ketua Panitia H Sori Monang Rangkuti MTh, Kepala Sekolah Bina Santri Dra Hj Latifah Hanum Batubara dan sejumlah alumni Pesantren Musthafawiyah (twh)

Article source: http://www.merdeka.com/artis/10-film-berkompetisi-jadi-best-visual-effect-oscar-2013.html


Bina Santri dan KAMUS Peringati Maulid Nabi

Friday, August 9, 2013

Jamaah Mualaf Tionghoa di Masjid Lautze Meningkat Tajam

JAKARTA – Sepanjang bulan suci Ramadan tahun ini, jumlah warga khususnya dari etnis Tionghoa yang berpindah memeluk agama Islam (mualaf) di Masjid Lautze, Jakarta Barat, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu.


Menurut staf Pembina dan Pengislaman Mualaf Masjid Lautze, Ustad Suhaemi, pada Ramadhan kali ini jumlah warga Tionghoa yang menjadi mualaf di masjid ini sebanyak 37 orang.


“Jumlah mualaf di Masjid Lautze selama Ramadan meningkat. Tahun ini, ada sebanyak 37 orang, sedangkan Ramadan tahun lalu hanya 20 orang,” katanya di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Barat, Jumat (9/8/2013).


Selain jumlah mualaf, paparnya, jumlah jamaah di Masjid Lautze juga mengalami peningkatan, khususnya saat pelaksanaan shalat Ied yang digelar pada Kamis (8/8/2013)yang dipimpin oleh imam dan khatib Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan Shaberah.


“Tahun lalu, jumlah jamaah yang mengikuti shalat Ied disini hanya sekitar 400 orang, sedangkan tahun ini mencapai lebih dari 500 jamaah dan didominasi oleh warga Tionghoa”.


Dia mengungkapkan sepanjang Ramadan, Masjid Lautze mengadakan acara buka puasa bersama selama empat kali yang digelar setiap Sabtu.


“Acara buka puasa ini sebetulnya ditujukan bagi para mualaf di Masjid Lautze, baik mualaf baru maupun mualaf yang sudah lama. Jadi, ini seperti momen kumpul-kumpul. Tapi, acara ini juga terbuka untuk umum, siapa saja yang shalat di masjid ini pada waktu Maghrib, kita berikan makanan untuk berbuka puasa”.


Pihak masjid Lautze, juga memberikan pembinaan khusus kepada mualaf selama Ramadan, yakni kesempatan untuk menjadi imam dalam shalat tarawih.


“Kita memberikan kesempatan kepada mualaf untuk menjadi imam saat shalat tarawih. Ini merupakan latihan kepemimpinan. Kelak, diharapkan imam tersebut dapat menjadi pemimpin yang baik bagi keluarganya,” jelasnya. [Bisnis]


 


130714_masjidniujie-china.jpg130714_masjidniujie-china.jpg130714_masjidniujie-china.jpg


Article source: http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=45104


Jamaah Mualaf Tionghoa di Masjid Lautze Meningkat Tajam

Monday, January 13, 2014

Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

REPUBLIKA.CO.ID, Yusuf Ali Bernier merupakan mualaf dari Kanada. Sebelum menjadi Muslim, hidupnya lekat dengan gereja. Pelayanan gereja terutama ritual berulang , bernyanyi , dan doa kepada Yesus atau Maria atau Tuhan dan kadang-kadang orang-orang kudus menjadi hal-hal yang mengiringi pertumbuhan Yusuf.


Ia biasa duduk dengan bingung membaca Alkitab sembari merekam dalam tape recorder. Setelah selesai, Ia akan memutar rekaman kembali dengan harapan menangkap makna dari apa yang baru saja dibacanya. Namun, cara itu tak juga membantunya memperoleh apa yang ia cari.


Pada suatu hari, ia menyaksikan khotbah di televisi dimana acara tersebut  memerintahkan pemberian Alkitab gratis dan menyumbangkan sebanyak yang bisa dilakukan ( yang tidak bisa banyak dilakukan anak laki-laki sepuluh tahun ) kepada penginjil televisi. Ganjarannya Ia akan menerima surat terima kasih dan berkat dan yang membuat saya merasa baik .


Hal itu berlangsung selama satu tahun atau lebih sampai akhirnya Ia menjadi terlalu frustrasi, kehilangan, dan ​​bosan dengan seluruh proses. Bukannya mengerti, Yusuf malah semakin bingung memahami arti yang ada di dalam injil.


“Aku memiliki Alkitab di lemari laci dan saya hanya akan menyebutnya sesekali pada saat saya remaja. Aku menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah benar-benar memahami Alkitab. Artinya , ironisnya , sampai nanti ketika saya menjadi Muslim. Saat itulah aku mulai mendapatkan pemahaman yang lengkap itu,” jelasnya, seperti dilansir dari Onislam, Selasa (14/1).


Apa yang membuat Ia bingung dengan Injil adalah kontradiksi antara kitab tersebut dan apa yang telah diajarkan oleh para imam dan pendidik agamanya. Ia menemukan bahwa hampir setiap aspek keyakinannya terguncang atau tidak masuk akal sama sekali setelah mengacu pada Injil.


Ia merasa inti dari imannya yang telah dipelajari  adalah palsu. Hal tersebut membawa dirinya ke titik di mana pesimis dan sinis terhadap agama. Akhirnya saat remaja,  Ia pun seperti mengejek Agama yang diyakininya dengan pergi gereja sembari mengunyah permen karet dan setengah hati berpartisipasi dalam pelayanan.


Ia akan bersuara pada saat menyebutkan Tuhan atau Yesus. Ia tidak tahu apa yang bisa dipercaya lagi. Satu-satunya hal yang Ia yakini adalah bahwa Tuhan itu ada. Semua kebingungan dan kekecewaannya dari usia sepuluh tahun akhirnya memicu mencari Kebenaran dan akhirnya membawanya ke agama yang disebut Islam.


Pertemuan pertamanya dengan orang-orang Muslim adalah melalui transaksi bisnis. Hangat dan murah hati keramahan mereka memenangkan hatinya. Ia juga tergelitik dengan orang Muslim yang setia  dengan Allah dalam ungkapan-ungkapan seperti  Alhamdulillah (semua Segala puji bagi Allah ) dan Insya Allah ( Insya Allah ).


Ia tidak pernah melihat orang-orang dalam keadaan iman yang kuat seperti ini sebelumnya. Yusuf menemukan Kebaikan, kemurahan hati dan sifat belas kasih mereka adalah sebuah bagian dari seorang Muslim. Hal ini lantas mendorongnya ingin menjadi seperti mereka.


“Ini adalah apa yang menarik dari orang-orang Islam , ini adalah apa yang membuat saya tertarik terhadap Islam,” ujarnya.


Setelah peristiwa tersebut, Ia mulai mempelajari dasar-dasar Islam. Semakin Ia belajar, Yusuf semakin ingin tahu. Ia mempelajari Islam melalui buku-buku yang ditulis oleh umat Islam dan juga membaca terjemahan Al-Quran. Ketika itu, hanya beberapa orang yang tahu bahwa Ia sedang belajar Islam.


Ia beralasan karena tidak ingin ada campur tangan dari umat Islam dan terutama dari teman-teman Kristen dan Yahudinya. “Saya tahu bahwa jika ada yang membimbing dan membantu saya dalam pencarian kebenaran adalah Allah,” jelasnya.


Seiring waktu berlalu , pengetahuannya berkembang menjadi alam Kebenaran sampai sekarang tanpa sepengetahuan saya . Islam menjadi kekuatan yang kuat seperti magnet menarik dirinya lebih dekat dan lebih dekat untuk itu.


Allah adalah satu-satunya hal dipikirkannya ketika melayang tidur dan pikiran pertama ketika terbangun. Islam membangun intelektual serta hatinya dan Ia menjadi begitu semangat tumbuh untuk itu.


Baca Quran


Ia akhirnya belajar Surat Al – Ikhlas meskipun belum Muslim. Ia mulai mengajar diri untuk berdoa dengan menggunakan buku dan membaca satu-satunya Surah yang Ia tahu. Ia merasakan kebutuhan yang sangat besar untuk bersujud kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta maaf dan petunjuk menjadi hal yang paling masuk akal baginya.


Tak lama kemudian, Ia berangkat berlibur sembari membawa Qur’an. Empat hari kemudian, Ia yang sendirian di negara asing terkena sakit parah. Ia hanya terbaring selama sebulan dan setiap hari kehilangan hampir satu pon berat badanya.


Menghadapi kematian, Ia yang sendirian dalam penderitaan ingat memohon kepada Allah untuk tidak membiarkannya mati dalam kondisi tidak lengkap. Waktu itu Ia  belum dikonversi menjadi Muslim tapi dalam hatinya selalu ingin menjadi seorang Muslim. Ia tersadar dahulu seperti menunda-nunda mencoba untuk mempelajari segala sesuatu yang benar.


Kini, Ia percaya bahwa itu adalah panggilan untuknya dari Sang Maha Penyayang. Itu adalah untuk momen baginya untuk mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk menunda sesuatu yang ingin dilakukan.


Setelah memohon, kondisnya berangsur baik dan Ia bisa kembali ke Kanada. Dua minggu setelah kembali ke Kanada Ia masuk Islam. “Al- Hamdulillah saya tidak mati sebelum mengatakan syahadat,” ujarnya.


“Allah  Maha Penyayang. Dia memberikan orang banyak peluang dan tanda-tanda . Bagian yang sulit adalah tidak begitu banyak orang mengenali tanda-tanda tersebut,” jelasnya.


“Islam seperti obat. Ini perubahan perilaku menyimpang dan menenangkan serta membuat jiwa menangis. Islam adalah agama Kebenaran dan Quran adalah panduan untuk semua aspek kehidupan. Quran memberi saya semua jawaban atas pertanyaan saya,” kenangnya.


Ini, lanjutnya,  meringankan kebingungan saya dan mengubahnya menjadi kejelasan dan pemahaman . Tidak pernah terlintas ada agama yang Kebenaran mutlak dalam bentuk yang paling murni . Jika seluruh umat manusia menyadari bahwa kebenaran ini adalah agama Islam.


“Saya berdoa kepada Allah untuk membimbing kita semua ke jalan yang lurus. Jalan semua nabi Allah termasuk Ibrahim , Nuh , Musa , Yesus , dan Muhammad ( damai atas mereka semua ),” tandasnya.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/01/10/mz6xau-israel-curi-kunci-gerbang-masjid-al-aqsha


Yusuf Ali Bernier Kagum Dengan Ucapan Alhamdulillah

Friday, January 17, 2014

Semarak Islam di Hong Kong

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Pemerintah mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan umat Islam.


Suara azan mengalun merdu dari sebuah masjid di Nathan Road, Hong Kong. Azan tersebut diserukan imam dari masjid tersebut, yaitu Ahmed Cheung Wong Yee atau yang dikenal sebagai Imam Cheung.


Saat itu hari Jumat, siang hari. Bersamaan dengan suara azan, mulai berdatanganlah laki-laki Muslim yang akan menjadi jamaah shalat Jumat.


Meski daerah ini merupakan wilayah bisnis yang padat, pada waktu tersebut, para laki-laki rela menanggalkan pakaian kerja mereka dan berganti dengan pakaian yang layak untuk dipakai shalat.


Beberapa wanita Muslim juga terlihat berada di dekat masjid sambil melantunkan ayat-ayat Alquran. Setelah iqamat dilantunkan, shalat Jumat pun dimulai.


Ini merupakan sekelumit cerita aktivitas kaum Muslim yang tinggal di Hong Kong. Meski menjadi minoritas karena jumlahnya hanya sekitar 250 ribu jiwa, umat Islam diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah.


Hong Kong merupakan kota metropolis dan merupakan wilayah yang terpisah dari daratan Cina serta lama berada di bawah kekuasaan Inggris. Hingga akhirnya pada 1997, Inggris menyerahkan kedaulatan Hong Kong kepada Cina.


Laman Islamonline menuliskan Muslim telah mendiami Cina sejak seribu tahun lalu. Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang melakukan perdagangan melintasi jalur sutra, jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan dunia Barat.


Khusus di Hong Kong sendiri, Muslim banyak yang datang bersamaan dengan kedatangan koloni Inggris yang menjadikan wilayah ini sebagai basis dagang East India Company.


Untuk menjaga kawasan Hong Kong, Inggris mempekerjakan tentara yang berasal dari India yang kebanyakan adalah Muslim.


Islam ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Jumlah penganut Islam pun semakin banyak. Orang Cina di daerah ini yang kemudian memutuskan untuk masuk Islam dikenal dengan nama Hui.


Kini, Muslim di Hong Kong sebagian besar merupakan orang Cina asli. Selain itu, juga ada Muslim yang berasal dari warga pendatang, seperti Pakistan, Malaysia, Filipina, Arab, Afrika, dan negara lainnya. Juga banyak yang merupakan keturunan campuran antaretnis.


Masyarakat Indonesia sendiri menyumbangkan jumlah yang lumayan banyak dalam komunitas Muslim. Kebanyakan dari mereka adalah para TKI yang mencari peruntungan hidup di sana sebagai pekerja rumah tangga.


Mereka menyebut diri mereka sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI). Jumlahnya tak kurang dari 120 ribu orang. Kegiatan pengajian dan aktivitas Islami lainnya sering digelar sembari bersilaturahim.


Antropolog dari Chinese University, Hong Kong, Paul O’Connor dalam bukunya Islam in Hong Kong: Muslims and Everyday Life in China’s World City yang terbit pada 2012, menjelaskan masyarakat Hong Kong yang mayoritas memeluk agama lain selain Islam sangat toleran.


“Mereka yang akan berjualan daging babi tidak akan melalui jalan yang banyak didiami oleh orang Islam sebagai bentuk saling menghormati,” tulisnya.


Mayoritas penduduk Hong Kong beragama Buddha, Tao, dan Konghucu. Agama lain yang menjadi minoritas, seperti Kristen, Yahudi, Sikh, dan Hindu, juga punya penganut di sini.


Menurut laman Islam.org, sekitar 1850-an, Muslim di Hong Kong mulai membantuk organisasi yang resmi yang kemudian diakui oleh Pemerintahan Inggris pada saat itu. Organisasi tersebut adalah Badan Wakaf Komunitas Islam (Incorporated Trustees of the Islamic Community Fund).


Organisasi Muslim ini kemudian menunjukkan tajinya yang akhirnya bisa membangun beberapa tempat ibadah secara resmi di wilayah ini. Sebelumnya, Muslim di Hong Kong menggelar shalat berjamaah di tempat terbuka di pinggir jalan saja.


Lahan pertama yang diubah menjadi masjid adalah yang berada di Jalan Shelley Nomor 30. Di kawasan elite ini, sebuah masjid kecil dibangun pada 1890, kemudian diperluas dan direnovasi lagi pada 1905. Masjid yang diberi nama Masjid Jami’a ini menjadi yang tertua di Hong Kong.


Lahan lain kemudian juga disiapkan untuk pemakaman Muslim yang terletak di daerah Happy Valley. Dibangun pula sebuah masjid kecil di dekatnya. Pemakaman Muslim lain juga dibuat di Cape Collinson.


Di Hong Kong, kita bisa menemukan beberapa masjid besar lainnya. Antara lain, Masjid Ammar dan Islamic Center Osman Ramfu Sadick di Oi Kwan Road, serta Masjid Stanley. Hanya di masjid-masjid inilah suara azan bisa diperdengarkan.


Daerah Kowloon dulu biasa dipakai untuk beribadah para tentara Muslim yang berasal dari India. Mereka tinggal di barak militer Whitfield yang kini dijadikan Kowloon Park.


Di tempat ini kemudian dibangun pula sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Kowloon lengkap dengan Islamic center di sana yang dibangun pada 1984.


Tak hanya masjid, di sini juga dibangun perpustakaan, tempat pendidikan membaca Alquran, juga taman kanak-kanak.


Imam Cheung kini menjadi imam besar Masjid Kowloon. Menurutnya, meski Muslim menjadi minoritas di Hong Kong, pemerintahnya mulai memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan Muslim. “Misalnya, kini mereka menyediakan daging halal yang disembelih sesuai dengan hukum Islam,” ujarnya.


Cheung merupakan salah satu imam yang punya kontribusi besar bagi pengembangan ajaran Islam di kota yang dulunya merupakan koloni Inggris ini. Ia dibesarkan dan belajar di kawasan Cina Selatan dekat pelabuhan Guangzhou atau yang dikenal sebagai Kanton.


Ia menjadi imam mengikuti jejak ayah dan kakeknya yang merupakan seorang imam juga. Meski kini usianya telah lanjut, Imam Cheung masih setia mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Islam.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/08/07/156502871/Momen-Kumpul-Saat-Lebaran-Wulan-Guritno


Semarak Islam di Hong Kong

Tuesday, July 23, 2013

Jalan Islam Sam Brodie




VIVAlife-Lelaki itu dulu kerap tampil di layar televisi sebagai perempuan. Namanya mencuat sejak tampil di acara reality show ‘Living the Dream’ dan ‘Big Brother 7 UK’. Dia kelahiran Medan, 14 Maret 1987. Dia adalah Samuel David Alexander Brodie, akrab disapa sebagai Sam Brodie.
 
Sejak umur 12 tahun, Sam mengubah penampilannya dari lelaki menjadi perempuan. Rambutnya panjang, wajahnya cantik dipoles make up, dan jemarinya lentik terawat. Meski dikecam keluarga, tapi penampilannya itu justru membuatnya moncer menjadi artis.


Di Inggris, dia meraih banyak prestasi, antara lain Nicest Big Brother Housemate Award dari BBLB Channel 4  pada 2010. Dia kerap muncul di majalah, surat kabar, stasiun radio, dan sejumlah program televisi lainnya.


Rezekinya pun yahud. Sam getol berbisnis dengan menjual DVD, dan lagu-lagu single. Dia juga rajin menulis sebagai kolumnis. Sekali tampil di iklan TV, dia dibayar sekitar 100.000 Poundsterling. Sebagai model ia juga teken  kontrak dengan Burberry. Terakhir penghasilan Sam tercatat US$4,6 juta.


Tapi, sukses sebagai pesohor di negara makmur rupanya tak membuat Sam bahagia. Ia tetap seorang lelaki yang menyaru perempuan. Itu membuatnya tak tenang. Akhirnya Sam buka rahasia. Kepada publik, ia mengaku sejatinya ia adalah seorang pria.
 
Kejujuran itu malah kian melambungkan namanya. Sam makin terkenal. Tapi batinnya tambah meradang. Ia sungguh ingin kembali menjadi lelaki. Dalam keadaan galau itu dia rajin membaca kitab suci. Dan, sejumlah ayat Al-Quran membuatnya tersentak.


Saat ditemui di ANTV, Gedung Epicentrum kawasan Jakarta Selatan, Sam bercerita panjang lebar soal perjalanan spiritualnya.


Pada suatu hari, Sam yang masih tampil sebagai perempuan itu membaca salah satu ayat Al Quran. Isi terjemahan dalam kitab itu mengungkapkan larangan pria berpenampilan seperti wanita dan sebaliknya. Itu membuatnya menangis.


“Ada bisikan seperti mengatakan pada saya, hidup yang saya jalani selama ini penuh dosa”, ujarnya.


Dia mengatakan kitab suci umat Islam itu memberinya petunjuk bahwa sekarang waktunya dia harus berubah. Kembali ke jati dirinya sebagai laki-laki diakuinya tidak mudah. Selama satu dekade dia tampil sebagai perempuan.  Dalam keseharian, ia juga hidup layaknya sebagai perempuan.
 
Tapi keputusan Sam telah mantap. Ia tak lagi berdandan sebagai wanita. Risikonya jelas ada. Ia harus meninggalkan gemerlap, dan renyahnya dunia hiburan di Inggris, negeri yang memberinya kelimpahan materi dan ketenaran.


Keputusan itu rupanya memberikannya hikmah yang lain. Keluarga yang dulu menjauhinya, kini kembali menerima Sam. Keputusan besar lain yang diambil Sam adalah pulang ke Indonesia, dan menetap di tanah air untuk seterusnya.


Terinspirasi Maia Estianty


Sam pergi ke Inggris setelah dia lulus dari Jakarta International School (JIS), dan melanjutkan pendidikan ke Greenwood Academy di Dreghorn. Pada 2008, Sam pulang kembali ke Indonesia.
 
Dia berkisah, sebelum ikut dalam acara Big Brother di televisi Inggris, dia bukanlah siapa-siapa. Ia bahkan sempat menjadi pembantu hingga karyawan sebuah kafe.


Banyak sejarah pahit dalam hidupnya. Dia, misalnya, pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil. Dia juga pernah ditelantarkan keluarganya hingga hidup di sebuah panti asuhan di Inggris.
 
Sejak kembali ke tanah air, Sam memutuskan tampil sebagai manusia baru. Dia total meninggalkan atribut keperempuanannya itu. Ia menumbuhkan kumis, dan merawat jenggotnya.
 
Di Indonesia,  Sam mulai menjajal dunia tarik suara di bawah manajemen Ahmad Dani. Dari situ ia bertemu Maia Estianty, yang kini menjadi mantan istri Dhani.


Bertemu Maia, Sam seperti menemukan guru. Rasa penasarannya tentang isi Al Quran dan Islam, sering pula ia curahkan pada Maia. “Awalnya setiap hari aku datang ke rumah Bunda Maia. Setiap kali aku ke sana, aku tanya soal Islam,” katanya.


Tapi Maia merasa dia sendiri masih belajar, dan belum sempurna menjadi muslim. Akhirnya, Maia memberikan Sam sebuah kitab suci. “Bunda bilang, kamu mending baca Al Quran saja,” ujarnya.


Tak berhenti di situ, Sam makin penasaran pada Islam.  “Setiap kali aku datang ke rumah Bunda, aku tanya terus. Tapi bunda Maia bilang, dia bukan guru agama, jadi saya disuruh belajar Islam pada guru agama,” ceritanya.


Dari situ, Sam pun memperdalam agama Islam, dengan guru agama. Diakui Sam, Maia memang memberinya ilham untuk memeluk Islam. “Tapi sekarang, karena kesibukan masing-masing, kami sudah jarang bertemu,” tuturnya.


Menjadi muslim


Setelah melewati proses pencarian selama 18 bulan, Sam akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim di tahun 2010.  Dia tertarik pada Islam lantaran ia melihat adanya kebersamaan. Sam merasa punya keluarga besar, ketika ia melihat para muslim merayakan Lebaran, dan juga saat menajalankan ibadah puasa.


“Maklum, 14 tahun saya hidup sendiri, kesepian jauh dari keluarga. Saat saya ke Bandung saya merasakan suasana Lebaran, begitu indah.”


Saat buka puasa, katanya, juga begitu. Ada sesuatu yang menarik untuknya. Ia melihat kebersamaan dalam Islam. Setelah memeluk Islam, lelaki keturunan Skotlandia itu dihujani  banyak pertanyaan, misalnya kenapa memilih agama itu, dan sebagainya.
 
Tapi Sam menjawabnya santai. Bagi dia, agama seperti handphone dengan fitur dan aplikasi yang selalu up to date.  “Jadi sama seperti Islam, kenapa saya memilih Islam, karena Al Quran itu paling up to date.”


Menjadi muslim, bagi Sam, punya banyak tantangan.  Saat itu, timbul pro dan kontra di keluarganya. “Untuk yang bukan dari agama Islam, mereka berpikir saya memilih agama yang salah.”


Tapi Sam justru semakin yakin, bahwa  tidak ada agama yang salah. Kepercayaan itu, kata Sam, sangat personal. “Bagi saya, ya Islam itu agama itu paling benar,” ujarnya. Ia kini mengganti namanya menjadi Muhammad Sam.


Dia juga tak menyesal dengan pengalaman hidupnya yang pernah kelam. Justru karena itulah ia bisa menemukan hidayah.  “Bagi saya, lebih baik punya pengalaman hidup yang buruk dan penuh kontroversi. Sekarang saya bisa menghargai segala sesuatu yang sudah pernah saya alami. “


Belajar ikhlas


Menjadi muslim, Sam lalu giat belajar tentang Islam. Awalnya, ia sulit menjalankan ibadah shalat lima waktu. Di masjid atau musholla, ia sering bingung.
“Saya selalu lihat kanan dan kiri, karena belum  mengerti adat-adatnya bagaimana. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah lancar shalat.”


Ia mulai dari nol, seperti anak TK yang belajar mengaji. “Aku juga belajar Iqra,” ujarnya. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari mereka yang sejak lahir sudah menjadi muslim. Ia juga belajar tentang makna ikhlas, sikap menerima karena ketakwaan. Sikap ikhlas, kata dia, sangat penting dalam segala hal.  Baginya, butuh waktu sangat lama untuk bisa bersikap ikhlas.
 
Kini Sam telah menemukan pendamping hidup. Ia menikah dengan sahabatnya, Indry, seorang wanita Indonesia. Mereka kini punya seorang putri yang lucu, Kimmy Caitlyn Malika, lahir 2011.
 
Sam juga makin mantap ingin berkiprah di tanah air. “Saya orang Indonesia, saya ingin maju di sini,” kata pria yang mengaku dekat dengan sosialita Paris Hilton.


Sewaktu hijrah ke Indonesia, semua penghasilannya selama di London ia titipkan pada notaris di sana. Di Jakarta, dia kini bekerja di perusahaan multinasional. Ia juga menolak sejumlah tawaran kerja di luar negeri, karena ingin berkarir di tanah air.


Dan Sam memang tak bisa jauh dari dunia televisi.


Saat ini, dalam momen Ramadan, dia mengisi acara sahur sebulan penuh untuk program Pesbukers di ANTV.  “Saat Lebaran aku juga ada acara syuting film layar lebar, dan ada jadwal tiga program FTV. Semua acara itu saya anggap rezeki,” ujar Sam.


Article source: http://ramadan.detik.com/read/2013/07/23/074216/2310922/631/yarlina-haliwah-alhamdulillah-orangtuaku-ikhlas-aku-masuk-islam?992204cbr


Jalan Islam Sam Brodie