Showing posts sorted by relevance for query berpesan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query berpesan. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Maria Elaine Memilih Ikuti Pelajaran Agama Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski ayahnya sudah lebih dulu menjadi mualaf, Maria Elaine Venerissa tetap mengalami masa-masa gelisah menentukan keyakinan yang akan dipegangnya. Ia tertarik dan ingin tahu banyak hal tentang Islam.

Ia mempertanyakan mengapa perlu puasa? Mengapa perempuan haid tidak boleh beribadah? Mengapa ada istilah bukan mahrom? Mengapa banyak kategori aurat pada perempuan? Ayahnya tak pernah memaksakan putri sulungnya itu untuk mengikuti jejaknya.

Meski sebagai orangtua, ayahnya berpesan akan lebih baik jika Maria menjadi Muslim. Meski begitu, ayahnya tetap mengantar Maria ke gereja setiap akhir pekan untuk beribadah. Ia sendiri merasa keputusan menjadi Muslim karena panggilan hati. Suara adzan membawa ketenangan di hatinya.

Selama jam pelajaran agama Islam semasa SMP dan SMA, Maria juga lebih memilih duduk mendengarkan pelajaran itu di kelas. Ia juga sudah bisa membaca dan menulis Alquran, tapi belum memahami artinya.

Jadilah ia penolong bagi teman-teman sekelasnya untuk mencatatkan ayat atau hadits. Hingga akhirnya di 2012, Maria bersyahadat. Momen akbar bagi hidup bagi gadis 19 tahun itu berlangsung sederhana.

Dengan keyakinan yang bulat, ia bersyahadat didampingi guru agama Islam dan seorang guru yang selama ini memang dekat dengannya. Ujian terhadap orang beriman juga ia rasakan. Ditanya-tanya tentang Islam oleh keluarga dan ia belum bisa menjawab, Maria sempat merasa tertekan.

‘’Saat itu ilmu saya masih sedikit. Saya merasa keyakinan saya atas Islam sedang diuji Allah SWT,’’ ungkap Maria. Akan tetapi masalah demi masalah bisa dilewatinya. Ia juga tak menyerah untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Ia sangat bersyukur telah menemukan pencerahan dan kedamaian dalam Islam.

"

| Maria | Elaine | Memilih | Ikuti | Pelajaran | Agama | Islam | REPUBLIKA | JAKARTA | Meski | ayahnya | lebih | dulu | menjadi | mualaf | Venerissa | tetap | mengalami | masa | gelisah | menentukan | keyakinan | yang | dipegangnya | tertarik | ingin | tahu | banyak | tentang | p> Ia | mempertany | mengapa | perlu | puasa | Mengapa | perempuan | haid | boleh | beribadah | istilah | bukan | mahrom | kategori | aurat | pada | Ayahnya | pernah | memaks | putri | sulungnya | untuk | mengikuti | jejaknya | p> Meski | sebagai | orangtua | berpesan | baik | jika | Muslim | begitu | mengantar | gereja | setiap | akhir | pekan | sendiri | merasa | keputusan | karena | panggilan | hati | Suara | adzan | membawa | ketenangan | hatinya | p> Selama | pelajaran | agama | semasa | juga | memilih | duduk | mendengarkan | kelas | membaca | menulis | Alquran | memahami | artinya | p> Jadilah | penolong | bagi | teman | sekelasnya | mencatatkan | ayat | atau | hadits | Hingga | akhirnya | 2012 | bersyahadat | Momen | akbar | hidup | gadis | tahun | berlangsung | sederhana | p> Dengan | bulat | didampingi | guru | seorang | selama | memang | dekat | dengannya | Ujian | terhadap | orang | beriman | Ditanya | tanya | oleh | keluarga | menjawab | sempat | tertekan | p> ‘’Saat | ilmu | saya | masih | sedikit | Saya | atas | diuji | Allah | ’’ | ungkap | Akan | masalah | demi | dilewatinya | menyerah | mempelajari | mendalami | sangat | bersyukur | telah | menemukan | pencerahan | kedamaian | dalam | p> |

Thank You Very Much for Visiting this Article

Saturday, August 17, 2013

Ranti Aryani, drg: Menjadikan Jilbab Sebagai Jalan Hidup

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul


Diskriminasi atas jilbab tak mengurungkan tekad Ranti untuk tetap menutup aurat.


Wanita asal Bogor yang kini tinggal di Amerika Serikat, Ranti Aryani, masih mengingat wajah dai sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, Mama’ Abdullah bin Nuh. Wajahnya cerah.


Tatapan matanya tajam dan teduh. Hingga saat ini tak bisa aku lupakan pancaran matanya yang cerah dan memukau itu,” tulis Ranti dalam biografinya, In God We Trust, Ranti Aryani Merentang Jilbab dari Indonesia sampai Amerika.


Ranti memiliki kesan tersendiri ketika mengikuti pengajian Mama’. Dia pernah dipanggil Mama’ langsung. Mama’ pernah berpesan agar rajin mengaji selagi masih muda. Mama’ juga mendoakan Ranti agar menjadi wanita salihah.


Pada suatu malam, Ranti memimpikan Mama’ mengenakan jubah terbaiknya yang bersiap menaiki kapal layar. Mama’ berpaling dan tersenyum simpul kepada Ranti di suatu dermaga.


Jangan sedih, Mama’ tidak meninggal,” pesan Mama’ dalam mimpi Ranti. Kemudian, Ranti terbangun. Dilihatnya sekeliling rumah tempat Mama’ tinggal penuh dengan bendera kuning, tanda Mama’ meninggal dunia.


Ranti banyak mendapatkan pengetahuan agama dari Mama’. Salah satu yang didapatnya adalah kewajiban menutup aurat.


Ranti kemudian bertekad untuk terus berjilbab ketika tampil di tempat umum. Hal ini bukanlah mudah. Ada saja rintangan yang dihadapi untuk menguji konsistensinya berjilbab.


Ranti mengenal jilbab sejak usia remaja. Jilbab dinilainya sebagai ketakwaan. Dia berjilbab sejak menjadi siswi SMPN 4 Bogor.


Ketika itu, anak-anak kerap memakai jilbab dari rumah. Kemudian, melepasnya ketika di sekolah. Ranti melakukan hal sama. Ketika itu, ada peraturan murid harus berseragam sesuai dengan yang ditetapkan.


Diskriminasi

Setamat SMP, Ranti terus berjilbab. Ketika menjadi siswa SMA 1 Bogor, dia tetap menutup rambutnya. Di sekolah itu, diskriminasi yang dialami semakin nyata.


Kepala sekolahnya memberikan pilihan, melanjutkan sekolah atau berjilbab di sekolah lain. Guru-gurunya mencap Ranti dan para sahabatnya sebagai pemberontak karena tak mematuhi aturan berseragam. Hasilnya, Ranti dikeluarkan dari sekolah.


Ranti dan kawan-kawannya yang berjilbab, Hepti dan Sari, harus berjuang mempertahankan idealisme. Berjilbab adalah kewajiban. Berjilbab tidak mengurangi, bahkan menambah keindahan dan kecantikan wanita.


Baginya, ada nilai yang terkandung di dalam jilbab. Jilbab adalah jalan hidup sebagai muslim. It is a way of life,” jelas Ranti kepada Republika, Senin (5/8).


Dengan bantuan orang tuanya, juga orang tua sahabatnya yang senasib, Ranti dan kawan-kawan dibantu lembaga bantuan hukum menggugat sekolahnya ke pengadilan atas perlakuan diskrimantif itu.


Setelah persidangan berjalan enam bulan, wali kota Bogor hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turun tangan, pihak sekolah bersedia berdamai dan mengakomodasi keinginan Ranti dan teman-temannya melalui musyawarah. Gugatan pun dicabut.


Menikah


Ranti bersuamikan seorang Muslim AS, Richard J Bennett Jr. Pria itu menikahi Ranti pada 5 Januari 1996. Ranti dan Rich tinggal di Amerika. Di sana, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Moestopo ini melanjutkan pendidikan penyetaraan di New York University (NYU).


Setelah lulus dari universitas itu, Ranti mengikuti program praktik residensi selama beberapa tahun. Dari beberapa klinik, Ranti memilih berpraktik menjadi dokter gigi di Angkatan Udara Amerika Serikat, tepatnya di Lanud AU AS Maxwell, Alabama. Saya memilih tempat itu karena praktik dokter gigi di sana dikenal paling bagus,” jelasnya.


Tetap berjilbab


Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab di lingkungan Angkatan Udara Amerika Serikat.


Ranti mengajukan syarat, bila diterima dia minta diizinkan tetap memakai jilbab. Perekrut Ranti sempat menolak, tapi kemudian ada perekrut lain yang berani menjamin Ranti.


Dia menceritakan, dulu ada kapten Yahudi yang memakai yarmulka atau penutup kepala pria Yahudi. Nah, bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada jilbab yang muncul.


”Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” jelasnya. Sayang, ternyata pengalaman pria Yahudi itu tidak sama seperti Ranti. Ketika itu, islamfobia berkembang pesat karena dibomnya menara kembar pada 11 September.


Namun demikian, Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang.


Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatannya. Tidak diizinkan membeli seragam tentara bila tidak menanggalkan jilbabnya.


Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan, tapi harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan. Opsi seperti ini dikhawatirkannya karena mengganggu konsistensinya dalam beragama.


Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya dan menunjukkan bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.


Kini, Ranti membuka praktik sendiri di Amerika Serikat. Ranti berperan sebagai dokter gigi. Sedangkan, suaminya berperan sebagai asisten. Selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi,” jelas Rich. Dia kemudian berpesan kepada istrinya agar bersabar dan selalu melawan nafsu amarah.



Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Ranti Aryani, drg: Menjadikan Jilbab Sebagai Jalan Hidup

Friday, October 25, 2013

Bella Saphira dan Suami Naik Haji


JAKARTA, KOMPAS.com — Artis peran Bella Saphira baru saja pulang beribadah haji bersama suaminya, Agus Surya Bakti. Bella berangkat ke Tanah Suci untuk kali pertama, setelah memeluk agama Islam pada 26 Juli 2013.

Menurut pihak manajemennya, Rio, Bella sudah berangkat ke Tanah Suci sejak awal September lalu. “Berangkatnya tanggal 10 September atau 9 September, saya lupa,” kata Rio ketika diwawancara melalui telepon, Kamis (24/10/2013).


Manurut Rio, Bella enggan berbagi cerita soal pengalaman spiritualnya. Menurut Rio pula, mereka sudah berpesan mengenai hal itu kepada pihak manajemen Bella. “Ya, dari atas (Bella dan Agus), enggak mau (dibeberkan ke publik) kalau untuk urusan ibadah. Ibadah itu kan urusan dengan Tuhan,” kata Rio. (Okki)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/10/23/mv49zs-mantan-politisi-antiislam-swiss-kini-aktif-di-masjid


Bella Saphira dan Suami Naik Haji

Friday, May 3, 2013

Terpidana Kasus Korupsi Susno Duadji Serahkan Diri - VOA Indonesia

— Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Kepolisian Republik Indonesia, Komjen (Purn.) Susno Duadji, yang juga terpidana korupsi, menyerahkan diri kepada pihak berwenang Kamis (2/5) menjelang tengah malam, setelah sekian lama menjadi buron.


Jaksa Agung Basrief Arief dalam keterangan persnya di kantor Kejaksaan Agung Jakarta, Jumat, menjelaskan, penyerahan diri itu merupakan hasil negosiasi dirinya dengan terpidana kasus korupsi itu, yang diwakili oleh Untung Sumaryo selaku penasihat hukum keluarga Susno.



Dalam pertemuan itu, tambah Basrief, Untung menyampaikan pesan dari Susno dan keluarga, agar eksekusi dilakukan hanya oleh tim jaksa penuntut umum. Untuk itu, ujar Basrief, dirinya kemudian mengerahkan empat orang petugas Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk menjemput Susno.



Menurut Basrief, Susno sudah masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Cibinong sejak Kamis menjelang tengah malam.



“Saya nyatakan dengan pelaksanaan eksekusi yang sudah selesai ini, pencantuman Pak Susno sebagai buron tidak berlaku lagi. Dan yang kedua, saya ucapkan terima kasih atas semua dukungan terlebih pada keluarga pak Susno. Yang telah berjiwa besar untuk mencapai kesepakatan sehingga terlaksananya eksekusi ini, demikian juga untuk pak Susno,” ujar Basrief.



Kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta Didiek Darmanto mengatakan Susno mengatakan akan mengajukan peninjauan kembali atas putusan kasasi Mahkamah Agung.



“Pesan yang disampaikan Susno adalah bahwa ia bukan menyerahkan diri melainkan patuh pada hukum. Jaksa dan Polisi adalah sahabat bagi saya dan telah bekerja dengan baik. Lalu Susno juga mengatakan, walaupun putusan (kasasi MA) membuat multitafsir tapi saya tetap menjalani putusan. Yang ketiga, Susno meminta, jangan mengadu domba polisi dan jaksa karena akan dapat dipolitisir, polisi dan jaksa telah bekerja dengan baik. Susno juga berpesan bahwa ia dalam kondisi baik dan akan mengajukan peninjauan kembali,” ujarnya.



Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Maret 2011 memutuskan Susno bersalah karena menerima uang sogokan Rp 500 juta untuk mempercepat penyidikan kasus yang menyangkut PT Salmah Arowana. Susno juga dinyatakan bersalah karena terbukti menyalahgunakan wewenangnya dalam penggunaan dana pengamanan pemilihan kepala daerah Jawa Barat pada 2008 sebesar Rp 4 Miliar saat menjabat menjadi kepala polisi daerah Jawa Barat.



Majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun enam bulan kepadanya. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta dan Susno juga didenda Rp 200 juta dan dihukum membayar uang pengganti kerugian negara Rp 4,2 miliar. Di tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi yang diajukan Susno Duadji.



Terkait putusan kasasi MA itu, Susno sebelumnya menolak dieksekusi, karena dalam putusan kasasi MA itu tidak dicantumkan bahwa Susno harus menjalani penahanan  selama tiga tahun enam bulan sebagaimana putusan pengadilan negeri yang dikuatkan oleh pengadilan tinggi.



Pada Senin, Susno tampil dalam sebuah video yang diunggah ke YouTube, mengejek Kejaksaan Agung yang gagal menahannya di Bandung, Jawa Barat. Susno mengatakan ia masih di Bandung dan bersikeras bahwa keputusannya untuk tetap buron adalah bagian dari upayanya menegakkan keadilan.



Article source: http://surabaya.detik.com/read/2013/04/14/173327/2219886/475/pelaku-sweeping-toko-waralaba-di-pandaan-akan-ditindak-tegas


Terpidana Kasus Korupsi Susno Duadji Serahkan Diri - VOA Indonesia

Thursday, January 9, 2014

Perginya seorang amil

PEMBACA budiman, kali ini saya ingin mendedikasikan tulisan ini buat sahabat saya, Almarhum Aidi Munawer Ahmed Shukri, mantan Pengurus Besar, Lembaga Zakat Selangor (LZS). Lebih 10 tahun dahulu, beliaulah insan yang telah memperkenalkan LZS kepada saya. Beliau jugalah yang meyakini bakat dakwah yang tersemai dalam diri saya, lalu memberikan peluang hingga akhirnya saya mampu menjadi seperti hari ini.


Insya-Allah, dalam setiap usaha dakwah yang saya lakukan, pasti ada sebahagian pahala yang tertitip untuknya di alam barzakh sana. Sebelum itu, beberapa bulan yang lalu kala menjelangnya tarikh 1 Januari 2014, saya telah menerima satu pesanan ringkas (SMS) daripada Aidi.


“Tuan-puan dijemput ke majlis bacaan Yaasin, tahlil dan doa selamat sempena perasmian perusahaan ikan salai saya pada 1 Januari 2014…”


Saya terkejut dengan SMS berkenaan. Untuk makluman, sahabat saya ini telah berjuang lebih dari lima tahun melawan serangan jantungnya.


Selama itu, Institut Jantung Negara (IJN) telah menjadi rumah utamanya dan rumahnya sendiri menjadi rumah kedua. Malah dadanya juga telah beberapa kali dibelah, ditebuk dan dibelah.


Saya tidak akan lupa saat beliau mengisahkan, sakitnya dada dibelah tidak tergambar dengan kata-kata dan beliau seboleh mungkin tidak mahu lagi menjalaninya.


Malam 31 Disember 2013, lebih kurang pukul 8.20 malam, sahabat saya itu berjuang untuk saat-saat akhir mencicipi saki baki nafas yang terukir di dunia ini.


Kala itu, saya sedang menyampaikan kuliah Maghrib di sebuah surau dan yakin ribuan orang lain bersiap-siap demi menanti detik 12 tengah malam, sama ada di program penuh hiburan mahu pun di majlis ilmu penuh peringatan. Sahabat saya itu pula, sedang bersiap-siap menerima panggilan Ilahi.


Esoknya, 1 Januari 2014 saya menerima khabar kematian. Sayangnya, saya tidak dapat mengunjunginya lantaran anak perlu mendaftar masuk ke asrama.


Namun, saya gagahi menziarahi isterinya Kak Yati selepas itu. Apatah lagi kami memang jiran lama dan saling mengenali. Kak Yati pun berkongsi kisah 40 hari sebelum suaminya, Aidi dijemput Ilahi. Saya yakin, kisah ini ada iktibar besar yang wajar dikongsi.



Majlis tahlil



“Pada 1 Januari 2014 baru-baru ini, benar-benar kami adakan majlis tahlil besar-besaran seperti yang Aidi mahu. Tapi, bukan sebagai perasmian perniagaanya, sebaliknya atas kematiannya.”


Kak Yati kelihatan begitu tabah menghadapi suasana. Benar, ujian berat yang telah dia dan anak-anaknya lalui sekian lama, membuatkan mereka lebih kuat mendepani ujian kehilangan.


Sejak Aidi mengidap sakit jantung sekitar 2006, kehidupan mereka sekeluarga berubah warna. Jangankan anak-anak dan isterinya, saya sebagai teman sepejabat pun turut merasai kehilangannya di tempat kerja.


“Aidi tidak guna langsung wang pampasan persaraan daripada LZS (Aidi telah bersara awal ekoran masalah kesihatan). Seluruh wangnya lebih daripada RM300,000 itu, dia manfaatkan untuk membuka kilang menyalai ikan.


“Malah dia pesan sangat-sangat, apa pun yang terjadi selepas ini, sama ada dia masih ada atau pergi, kilang itu mesti terus beroperasi. Tetapi, bukan untuk kami anak-beranak, sebaliknya untuk para asnaf zakat,” kata Kak Yati.


Itulah kesungguhan sahabat saya ini dalam meladeni amanah zakat. Biarpun nyawa sudah di hujung usia, dia tidak pernah melupakan asnaf zakat, khususnya kaum fuqara wal masakin dan mualaf yang melata.


“Kami membuka kilang itu di Subang Bestari dan Aidi mahu agar para pekerjanya diambil daripada kalangan asnaf zakat yang memang ditempatkan di sana oleh LZS. Baginya, dia mahu kilang itu menjadi nadi pembangunan diri asnaf,” kata Kak Yati.


Hakikatnya, komitmen Aidi menyantuni para asnaf bukanlah perkara baharu. Dalam buku Diari Seorang Amil (terbitan Galeri Ilmu), ada saya paparkan perihal kisah kami sama-sama menyelamatkan seorang bapa tunggal dan dua anak gadis suntinya di hutan simpan Kemensah pada 2003.


Malah, sebelum saya menjawat jawatan amil pun, Aidi pernah membawa saya mengunjungi sebuah keluarga miskin di Kampung Tok Pinang, Serendah dalam bulan Ramadan dan membawa pelbagai barangan untuk disedekahkan.


Saya juga tidak akan lupa saat seorang penerima bantuan bertaraf Orang Kurang Upaya (OKU) yang datang ke Pejabat LZS di Shah Alam pada 2013 untuk meminta LZS membaiki kerusi rodanya yang sudah rosak. Kebetulan dia bertemu Aidi, langsung kerusi rodanya digantikan dengan yang baharu. Malah siap berkuasa elektrik lagi. Menangis pakcik itu menerima hadiah kerusi roda baharu berkenaan.


Justeru, pengalaman saya dalam memikul tugas sebagai amil zakat bersama Aidi amat mengesankan. Maka, saya tidak hairan kecintaannya kepada para asnaf telah membuatkan dia sanggup menafkahkan seluruh wang pampasannya untuk tujuan menyediakan pekerjaan kepada sebilangan asnaf yang memerlukan. Calang-calang orang, pasti tidak sanggup melakukan sedemikian.


“Aidi juga berpesan, jika perniagaan itu menghasilkan keuntungan, maka jangan lupa tunaikan zakat. Malah, dia juga pesan agar lebihkan bahagian untuk diinfak.


“Bagi kami anak-beranak, sudah ada bahagian lain yang dia tinggalkan. Jadi, kami tidak perlu terlalu mengharap kepada perniagaan,” ujar Kak Yati.


Demikianlah wasiat yang Aidi titipkan kepada isterinya, kala usia 40 harinya kian mengensot meninggalkannya. Kesungguhan Aidi merealisasikan perniagaannya itu, dengan ‘kebugaran’ kira-kira sebulan yang Allah SWT berikan sebelum mentakdirkan dia harus pulang kepada Allah SWT, ibarat memberikan kesempatan terbaik buat Aidi merealisasikan impian.


Ya, impian menyantuni asnaf zakat selagi usia masih terpahat, kala 40 hari kian mendekat.



Bina sekolah tahfiz



“Aidi sebenarnya berhasrat untuk membina sekolah tahfiz selain daripada membina perniagaan demi membantu asnaf. Amat besar cita-citanya, tapi tidak sempat dia penuhi semua,” kata isterinya.


Demikianlah, masa yang berenjak, namun saya tetap terkenangkan betapa Aidi dan saya dahulu sama-sama mengimarahkan rumah Allah, bertadarus sepanjang malam di bulan Ramadan. Sama-sama turun mencari orang susah hingga kawasan pedalaman, sama-sama bergelut menjayakan Karnival Ummah dan banyak lagi memori indah yang telah kami catatkan di kanvas persahabatan kami.


Di akhir kalam ini, saya hanya mengharapkan semoga Aidi diberikan Allah SWT kelapangan dalam kuburnya. Selapang hatinya dahulu yang tega menyisihkan ‘masa dan harta’ demi melunasi maslahah ummah. Duhai sahabat, terimalah daripadaku dan pembaca sekalian, hadiah berupa sakalung surah buatmu dalam menagih kasihnya Allah, al-Fatihah.



PENULIS ialah Eksekutif Dakwah di Lembaga Zakat Selangor (MAIS)



Nota: Dalam tempoh tiga bulan ini, LZS telah kehilangan tiga orang amil, iaitu Mohd. Rais Jamil, Aidi Munawer dan Mohd. Lutfi Ibni Hijar, semoga mereka ditempatkan dalam kalangan orang-orang yang soleh. Amin.




Article source: http://www.theglobejournal.com/Opini/memahami-konflik-berdarah-di-mesir/index.php


Perginya seorang amil

Tuesday, August 6, 2013

Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Keadilan datangnya daripada Allah. Salah satu daripada nama-nama Allah ialah “Yang Maha Adil”. Keadilan lazimnya digandingkan dengan kebenaran, kerana tanpa mengetahui etika tersebut, kita tidak dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, apatah lagi amal bakti yang diiktiraf sebagai berkebajikan di sisi Allah Taala. Di dalam Surah Al-Maidah ayat 8, Allah menyebut :

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa.”


Ayat ini membuktikan bahawa kebenaran dan keadilan tidak dapat dipisahkan. Seorang Muslim yang dibimbing wahyu Allah pasti meyakini bahawa menerima keadilan adalah ketaatan, menegakkannya adalah kewajiban dan memperjuangkannya adalah jihad. Dalam urutan keutamaan yang ditentukan oleh Islam dalam sebuah pemerintahan menurut Imam al-Mawardi, keadilan terletak di tempat yang tinggi selain daripada amanah. Ketinggiannya itu mengatasi perkara-perkara lain seperti kestabilan dan kemakmuran ekonomi. Kerana kestabilan negara yang dipimpin oleh pemerintah yang korup, sebenarnya adalah kestabilan yang palsu.


Sekiranya nilai kebenaran dimanipulasi dan keadilan dikesampingkan dalam sesebuah etika pemerintahan, maka tunggulah detik-detik kehancuran. Masyarakat tidak lagi percaya dan yakin dengan sistem perundangan yang rosak serta pemerintahan yang zalim. Natijahnya masyarakat akan menyelesaikan masalah masing-masing dengan caranya tersendiri seperti pemberontakan, pengeboman, keganasan dan apa jua cara kekerasan sehingga menumpahkan darah.


Dalam Islam, keadilan merentasi batas kaum dan bangsa bahkan agama. Hanya apabila keadilan telah ditegakkan dan kezaliman dihapuskan, maka kebaikan-kebaikan yang lain akan terlaksana dengan jayanya. Begitupun perlu kita fahami bahawa keadilan bukan hanya satu konsep yang berkaitan dengan pemerintahan dan politik sahaja, walaupun sehingga ke hari ini konsep keadilan terus menjadi tema penting terutamanya dalam bidang pemerintahan. Melaksanakan keadilan dan menghapuskan kezaliman juga merupakan antara falsafah sistem kehakiman dalam Islam.


Sebelum tema keadilan menjadi konsep politik, ia adalah konsep terulung bersifat metafizik yang diperjuangkan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, keadilan tidak lebih daripada satu perkataan yang boleh membangkitkan emosi, bahkan penegakan syiarnya juga adalah sebuah agenda Islam bagi meneruskan legasi perjuangan baginda Rasulullah SAW. Oleh itu, Ibn Khaldun (1332 M – 1406 M) di dalam “Muqaddimah”, turut mengaitkan ketidakadilan adalah penyebab kerosakan struktur negara sekaligus memporak-perandakan bangsa.


Ketika Islam tersebar di Andalus, keadilan adalah mercu tanda penyebaran dakwah yang menjadi haruman di kota yang penuh berprestij itu. Kehadiran umat Islam di Andalus bukanlah suatu bentuk yang agresif mahupun permisif, tetapi atas permintaan pemerintah bahagian Ceuta (wilayah Sepanyol terletak di Afrika Utara) ketika itu yang bernama Count Julian untuk membalas dendam terhadap Raja Don Roderic yang telah melakukan kekejaman dan penindasan di Andalus. Maka, jemputan Count Julian itu adalah untuk mengembalikan keadilan di Andalus dengan meyakini umat Islamlah pelopornya yang layak dijadikan pautan.


Kehadiran Islam di Andalus sekali gus menjadikan kota itu sebagai model terbaik bagaimana toleransi beragama telah dilaksanakan oleh umat Islam jauh sebelum konsep itu kini kononnya diperjuangkan oleh Barat. Ramai sejarawan Barat sendiri termasuk Edward Gibbon (1737 M – 1794 M) mengakui bahawa ketika zaman Andalus diperintah oleh orang Islam yang memakan tempoh ratusan abad, orang-orang Kristian dan Yahudi hidup dalam kedamaian dan keamanan. Namun, malangnya toleransi beragama yang dicontohkan oleh umat Islam tidak dihargai baik oleh orang-orang Yahudi mahupun Kristian.


Toleransi hancur setelah Andalus berada di tangan orang-orang Kristian. Sejarah mencatatkan pada abad ke-13 sahaja, 3 juta orang Islam dan 2 juta orang Yahudi diusir dari Andalus. Bukan hanya umat Islam dipaksa tukar agama, bahkan masyarakat Kristian yang beraliran “Unitarian” juga dipaksa bertukar kepada “Trinitarian”. Seramai 40 ribu orang Yahudi menerima “Converso” (masuk Kristian secara paksa). Ia berlaku setelah Andalus ditakluki Ferdinand III. Masjid Cordova yang indah dan megah, dibina Abd al-Rahman al-Dakhil pada 788 Masihi ditukar menjadi gereja pada 1236 Masihi.


Tahun-tahun berikutnya berlaku operasi pemurtadan secara besar-besaran di Andalus. Tribunal kegerejaan dilaksanakan dengan amat kejam, orang Kristian yang tidak mengamalkan ajaran Trinitarian digantung dan dibakar, sehingga masyarakat Andalus berada dalam kegelapan kembali setelah berada dalam kemuncak ketamadunan. Hanya pada 1813 M inkuisisi tersebut dinyatakan sebagai bertentangan dengan perlembagaan dan dihapuskan pada 1834 M. Inkuisisi itu jugalah yang menimbulkan kebencian masyarakat Eropah kepada agama dan dan melahirkan semangat ilmiah moden dan rasional melampau sehingga anti kepada konsep ketuhanan.


Begitupun sebenarnya titik-titik hitam dalam sejarah pemerintahan khilafah Islam di Andalus mula memperlihatkan petanda kejatuhannya apabila keadilan tidak lagi menjadi prinsip pentadbiran mereka. Ketika keadilan dibakul-sampahkan, bukan hanya cahaya ketamadunan dan keilmuan hilang dari bumi Andalus, kedamaian beragama juga hilang dari bumi yang kini disebut Sepanyol itu. Populasi masyarakat Islam di Andalus ketika itu semakin berkurangan akibat penindasan dan operasi pemurtadan beramai-ramai.


Ayuh kita perhatikan ketika Al-Hakam I (796M) menaiki takhta menggantikan ayahnya iaitu Hisham, bahawa ayahandanya telah berpesan, “Hendaklah kamu (wahai Hisham) berlaku adil kepada semua tanpa mengira miskin atau kaya, berbuat baik dan berlemah lembut kepada orang yang bergantung kepadamu. Kerana semuanya sama-sama ciptaan Allah. Amanahkan penjagaan kota-kota dan daerah-daerahmu kepada ketua yang setia dan berpengalaman; kenakan hukuman tanpa belas kasihan menteri-menteri yang menindas rakyatmu…”


Namun, malangnya Al-Hakam I tidak mengikuti pesan ayahnya. Al-Hakam I justeru tidak peduli nasib rakyatnya, bahkan kejam terhadap mereka. Beliau merupakan sultan pertama yang dikelilingi 6 ribu pengawal peribadi. Beliau menghukum rakyatnya dengan kejam walaupun atas kesalahan kecil, sehingga menyebabkan rakyat tidak berpuas hati dan berlakulah beberapa siri pemberontakan. Pada zamannya juga Barcelona jatuh ke tangan Kristian, dan ia adalah kejayaan besar pertama diperoleh oleh Kristian. Kejayaan tersebut telah memberikan momentum “reconquesta” (penaklukan kembali) kepada golongan Kristian untuk menyerang umat Islam. – rujuk “al-Mu’jib fi Talkhis Akhbar al-Maghrib”


Selain percubaan serangan yang ingin dilakukan oleh kaum Kristian untuk melakukan reconquesta terhadap kerajaan-kerajaan Islam di Andalus, perpecahan dalaman akibat perbezaan kasta kepada umat Islam turut berlaku. Sifat angkuh golongan autokrat terhadap golongan bawahan, antara bencana tertewasnya tentera Islam dalam peperangan Las Navas de Tolosa pada 1212 Masihi, perang di mana kembalinya titik peralihan golongan Katholik menguasai Andalus. Dalam peperangan tersebut berlaku keengganan sultan dinasti al-Muwahidun mendengar nasihat panglimanya berbangsa Barbar yang lebih berpengalaman. Kekalahan itu menyebabkan 70 000 orang Islam disembelih atas arahan ketua bishop wilayah Toledo, Rodrigo Jiménez de Rada.


Zaman kejatuhan Andalus juga ditandai dengan kerakusan golongan pemerintah yang sanggup memperalatkan ulama. Perkara ini diakui Ibnu Khaldun di mana beliau sempat menyaksikan peristiwa bagaimana kerajaan-kerajaan Islam yang gagah perkasa di Andalus, tumbang satu persatu akibat fungsi dan peranan ulama tidak diberikan kedudukan yang sewajarnya. Ibnu Khaldun menceritakan ketika beliau berada di Andalus, ulama sering diperalatkan golongan pemerintah. Penghargaan terhadap ulama yang pada awal Islam benar-benar jujur dan ikhlas bertukar menjadi pemanfaatan para pemimpin (umara) terhadap kaum ilmuwan (ulama).


Jelas Ibnu Khaldun lagi, bibit-bibit zaman kejatuhan Andalus ketara terpampang apabila sering berlaku perpecahan politik dan perebutan kuasa yang amat dahsyat sehingga pemerintah cuba melakukan apa sahaja untuk memastikan kuasa berada di tangan mereka. Pertikaian dalaman berlaku setelah kekuasaan tidak lagi berada di tangan pemimpin yang adil. Kerajaan-kerajaan kecil yang dinamakan dengan “Muluk al-Tawaif”  atau taifa de reyes, terlalu lemah untuk melawan gelombang reconquesta. Maka, adalah suatu kebodohan jika kesilapan-kesilapan masa lalu itu kita ulangi di masa ini.


Benar, umat Islam pernah memiliki model kemajuan yang indah dan gemerlapan di masa lalu. Tetapi, sungguh malang apabila cita-cita kegemilangan berhujung dengan kejatuhan demi kejatuhan, apatah lagi jika kejatuhan tersebut berpunca daripada keruntuhan nilai-nilai keadilan sedangkan Islam menegaskan umatnya berlaku amanah dan adil. Untuk kembali bangkit, yang kita perlukan adalah kesungguhan dan keikhlasan, bukan hanya semangat dan slogan-slogan kosong. Yang jelas nasib umat Islam pada masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan pada hari ini.


http://www.tarbawi.my



Andalus, selepas terlucutnya keadilan

Sunday, September 15, 2013

Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah

Jejak Bintang minggu ini, RAP menyelongkar kisah pelakon yang sedang mencipta nama iaitu Johan Ariff As’ari, 27, atau nama pentasnya Johan As’ari. Dia mula dikenali ramai menerusi aksi hebatnya dalam drama bersiri Juvana, arahan Faizal Ishak dan sejak itu dia terus melakar kejayaan dalam kerjaya seninya.


Pasti penonton menyampah melihat aksi jahatnya sebagai Botak dalam Juvana, tetapi di luar lokasi, perwatakan dan karektor sebenarnya amat berbeza.


Johan dilahirkan pada 3 Disember, 1986. Dia anak kedua daripada empat beradik. Untuk mengenali secara dekat peribadi Johan, RAP menemubual ibunya, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, iaitu wanita yang melahir dan membesarkannya.


“Johan seorang anak yang baik dan tidak kedekut. Bukan saja dengan saya, ayah dan adik-beradiknya malah dia juga tidak pernah berkira dengan sepupu dan kawan-kawannya,” kata ibu Johan, Datin Firdaus Datuk Abdul Kader, 56, mengenai aktor yang dikenali selepas membintangi drama bersiri Juvana yang disiarkan di TV3, pada April 2011.



Seperti pada Ramadan lalu, Firdaus beritahu Johan yang telefon bimbitnya tidak berfungsi dengan baik.


“Apabila saya menceritakannya kepada Johan, saya tak bermaksud minta dia belikan saya telefon baru kerana saya bercadang minta ayahnya (Datuk As’ari Ibrahim) yang belikan. Namun sehari sebelum Aidilfitri lalu, dia bawa balik telefon baru bagi menggantikan telefon saya yang rosak itu.


“Paling membuatkan saya terharu dia belikan saya telefon Ipone 5 (64G), sedangkan untuk dirinya sendiri dia beli Ipone 5 (32G). Dia kata untuk saya, dia belikan telefon yang paling canggih dan terbaik. Dia punya yang biasa-biasa saja, tak mengapa.


“Macam itulah sikap Johan, kalau dia dengar saja saya atau adik-beradiknya teringinkan apa-apa, dia akan cari. Beberapa hari sebelum hari raya dia berikan saya duit untuk belikan hadiah kepada semua sepupu perempuannya. Dia tak ada, tak apa, asalkan dia boleh menggembirakan hari orang lain,” kata Firdaus ketika penulis berkunjung ke kediamannya di Ampang, baru-baru ini.


Apabila mengenangkan kebaikan dan keluhuran hati anak kedua daripada empat beradik itu, Firdaus teringatkan kisah Johan dan adiknya (Muhammad Hazwan, kini berusia 23 tahun) sewaktu mereka bersama-sama bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi Melaka (SMTM).


“Sudah sampai di sekolah baru Hazwan perasan yang dia tertinggal tali leher di rumah. Di SMTM, pelajar lelaki diwajibkan pakai tali leher. Melihatkan adiknya yang dah nak menangis, Johan berikan tali lehernya kepada Hazwan. Katanya, biar dia yang kena denda kerana dia lebih besar.


“Saya yang menghantar mereka ke sekolah pagi itu, bergenang air mata saya melihatkan gelagat mereka dua beradik. Betapa Johan sayangkan adiknya,” katanya.


Adik beradik Johan yang lain, Farah Alya, 29, dan Siti Aisyah, 25.


Cerita Firdaus lagi, ketika dia pergi bercuti di Palembang minggu lalu, Johan beri kad debit bank miliknya kepada ibunya itu agar Firdaus boleh membeli-belah di sana.


“Dia beri kadnya untuk saya berbelanja di sana dan dia tidak meletakkan had keluaran,” katanya.


Ketika Johan belajar di sekolah rendah, dia beri kasut sekolahnya kepada kawan kerana kasut kawannya itu sudah buruk.


“Selepas itu dia sendiri ke sekolah dengan berselipar. Yang ini saya marah kerana dia sanggup berkorban untuk orang lain sampai menyusahkan diri sendiri. Saya beritahu padanya, kalau nak tolong kawan pun, tengoklah juga keadaannya. Tetapi itulah Johan, dia tak sanggup tengok orang susah.


“Pada ketika yang lain, dia nak keluar dengan kawan-kawannya. Saya beri dia RM10 dan ada juga bekalkan dia makanan. Saya fikir dengan bekal itu dia dapat simpan duit belanja yang saya beri kepadanya. Rupanya dia gunakan duit itu belanja kawan-kawan pula.


“Johan seorang yang hatinya lembut dan kalau kita nak tegur dia pun kena cakap perlahan-lahan. Kita tak boleh berkasar dengannya,” katanya.


Menyambung perbualan, jelas Firdaus pada November ini, Johan akan bercuti ke Dubai bersama peminatnya dan dia mengajak semua ahli keluarganya pergi bersama.


“Insya-Allah jika tiada aral, kami akan ikut Johan. Kemudian pada Disember, sekali lagi dia akan ke sana untuk menjalani penggambaran drama. Dalam apa situasi pun, Johan tidak pernah melupakan keluarga,” katanya.


Imbas zaman kecil Johan, selepas melahirkan Johan, mereka sekeluarga berpindah dari Kuala Lumpur (KL) dan menetap di Melaka kerana mengikut bapanya yang aktif politik bertugas di negeri itu.


“Sebelum berkahwin dan sehingga lahirnya Farah, saya bekerja dengan FELDA. Waktu itu, suami sibuk dengan aktiviti politiknya di Melaka dan dia terpaksa berulang-alik antara Melaka dan KL. Kalau suami sibuk, saya akan bawa Farah balik ke Melaka. Selepas saya melahirkan Johan saya berhenti kerja dengan FELDA kerana sukar nak menguruskan anak kecil dan pada sama suami pula tinggal berasingan.


“Kami tinggal di Ayer Molek, Melaka. Di sana saya bekerja dengan Yayasan Melaka. Tidak lama selepas itu saya berhenti kerja menguruskan rumah tangga sepenuh masa. Johan dan tiga adik-beradiknya membesar di sana dan kami sekeluarga berpindah semula ke KL lima tahun lalu,” katanya.


Johan agak nakal ketika kecil.


“Waktu dia berusia sekitar tiga, empat tahun, pintu almari yang menyimpan pinggan mangkuk kena ikat dengan tali kerana dia suka memunggah barang. Dia jenis yang tak duduk diam, ada saja benda yang nak dibuatnya.


“Pernah sekali, ketika itu saya masih bekerja, saya tinggalkan Johan bersama kakak dan adiknya di rumah bersama pembantu, tetapi pembantu rumah saya ini suka berkebun. Tiba-tiba, jiran hubungi saya beritahu salah satu bilik di rumah kami berasap tebal. Nasib baik rumah tak terbakar.


“Rupanya Johan ambil bunga api yang saya simpan atas para dan bawa masuk ke bilik saya. Apabila saya tanya dia macam mana bilik saya boleh terbakar, katanya selepas bermain bunga api dia membuangnya dalam tong sampah yang terdapat dalam bilik itu. Dia tak tahu yang bara daripada batang bunga api itu lama-lama boleh membakar sampah dalam tong sampah itu.


“Mujur api itu hanya menyambar tilam dan ia membakar dalam tilam itu perlahan-lahan sehingga mengeluarkan asap hitam. Api belum sempat merebak ke ruang lain, kalau tidak saya tak tahu apa jadi dengan rumah dan mereka adik-beradik. Ngeri saya nak membayangkannya,” katanya.


Johan suka main parang.


“Dia libas-libas parang itu pada kakaknya yang buat kerja sekolah dan terkena belakang Farah sampai kena jahitlah,” katanya.


Selepas tamat sekolah menengah, Johan menyambung pengajiannya di Universiti Telekom Malaysia Melaka. Namun, selepas dua tahun belajar di sana, dia beritahu ayahnya yang dia tidak mampu meneruskan pengajiannya di sana.


“Kemudian ayahnya minta dia belajar agama dan seterusnya dia dihantar mendalami agama di Jambi, Indonesia. Dia belajar di sana pun tak lama kerana selepas dua tahun dia nak balik kerana dia tak tahan dengan disiplinnya yang ketat.


“Sebagai pelajar agama yang belajar menghafal al-Quran, mereka tidak boleh makan dan minum sebarangan. Kali kedua ayahnya pergi melawat dia di sana, dia minta dikeluarkan daripada sana dan balik ke sini dia belajar pula di Kolej Universiti Islam Antarabangsa Melaka, dalam jurusan Kaunseling. Apabila dapat berlakon dalam Juvana, dia minta cuti dengan pihak kolej selama setahun tetapi sekarang dah masuk tahun kedua.


“Saya harap dia dapat menyambung pengajiannya yang tertangguh itu,” katanya.
Jelas Firdaus, Johan sebenarnya suka menyanyi dan tidak pernah terlintas pun nak jadi pelakon. Ini mungkin kerana dia mengikut hobi ayahnya yang suka menyanyi.


“Sewaktu musim pertama Akademi Fantasia, dia belajar dalam tingkatan lima dan dia sanggup turun ke KL untuk menyaksikan program itu di sana. Barangkali tak ramai yang tahu Johan pernah pergi menghadiri uji bakat Mentor musim kelima dan bercita-cita nak jadi protege kepada Afdlin Shauki kerana dia amat meminati pelakon itu, tetapi tidak berjaya.


“Ketika uji bakat itu dia buat lawak dan Afdlin kata dia lebih sesuai jadi pelakon daripada penyanyi. Dia jadi pelakon hanya kebetulan kerana Farah yang menulis skrip dan bekerja di belakang tabir dunia penerbitan beritahu Johan, ada uji bakat mencari pelakon Juvana dan waktu itu Johan bercuti semester.


“Dia pergi ke uji bakat itu dan pengarah Juvana, Kamal Ishak mengambilnya berlakon untuk pilot drama itu untuk ditunjukkan kepada TV3. Pihak stesen TV suka dengan lakonan Johan dan Kamal terus mengambilnya berlakon dalam Juvana,” katanya.


Bapa Johan tak suka dia berlakon kerana mahu anak lelakinya itu menyelesaikan pengajiannya setahun saja lagi. Johan berkeras mahu berlakon dan dia memujuk bapanya serta berjanji untuk menamatkan pengajiannya.


“Melihatkan kesungguhan Johan, ayahnya terpaksa mengalah. Selepas dia dah berlakon banyaklah pula gosip yang timbul, tetapi kami sekeluarga tidak terkejut sangat kerana dah tahu industri ini macam mana. Namun sebagai ibu bapa kami berpesan kepadanya supaya berhati-hati dalam setiap tindak tanduk dan percakapannya,” katanya.


Apabila dia digosipkan dengan artis wanita terutamanya Nabila Huda, Firdaus tidak pernah melarang atau pun membantah.


“Siapa pun wanita yang Johan pilih sebagai kawannya atau calon isterinya, kami terima. Apa yang penting ialah kebahagiaan Johan dan siapa pun jodohnya kelak sama ada artis atau orang biasa, saya harap dia bertemu dengan wanita yang baik dan dapat menerima Johan seadanya serta menghormati orang tua.


“Johan ada beritahu saya yang dia nak berkahwin tetapi belum ada calon,” katanya.


Artikel ini disiarkan pada : 2013/09/16





Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=282185:artis-masuk-politik-jangan-hanya-popularitas&catid=17:politik&ItemId=30


Jejak Bintang: 'Botak' sanggup berselipar ke sekolah