Showing posts sorted by relevance for query mengherankan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query mengherankan. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Sunday, February 24, 2013

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Home Internasional

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia


 

Sebuah baliho di Kelantan

 


Senin, 25 Februari 2013

DALAM konstelasi perpolitikan Malaysia, Kelantan selalu “stand out” atau tampil beda dari negeri-negeri lain di negeri Semenanjung Tanah Melayu.  Betapa tidak, di negeri yang terletak di Pantai Timur Malaysia ini  Partai Islam Semalaysia (PAS), yakni partai oposisi paling sengit bagi pemerintah yang sedang berkuasa di Putrajaya, selalu keluar sebagai pemenang. Hal tersebut sudah berlangsung selama dua puluh dua tahun. Sebenarnya sudah sering kali para pemimpin Barisan Nasional (BN), berkoar-koar akan mengambil alih pemerintahan negeri Kelantan. Tetapi sejauh ini rakyat Kelantan tetap tidak bergeming dari kepemimpinan ulama. Begitu mereka menyebut pemerintahan PAS.

Fenomena ini tentu menarik dicermati di saat partai-partai Islam di Indonesia sedang kelimpungan. Seandainya survei-survei yang banyak beredar mengenai bakal anjloknya suara partai Islam di Indonesia memang layak dipercayai.

Berada di Kelantan pada detik-detik menjelang Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia ke-13 merupakan pengalaman menarik karena penulis berkesempatan bertemu dan berbincang secara langsung dengan beberapa orang calon pemilih. Kesan bahwa partai Islam sudah menjadi lagu lama seperti yang sering didengungkan lembaga-lembaga survey seolah tidak berlaku di Negeri Serambi Makkah ini.

Kepemimpinan ulama bagi rakyat Kelantan adalah prinsip karena menjadi bagian dari perjuangan menegakkan syariat. Sementara di Indonesia istilah “syariat” ini semakin dijauhi karena telah dilekatkan dengan streotipe menakutkan: terorisme!

“Bisa-bisanya mereka mengaku Muslim tetapi ketika dibicarakan hukum Islam eh ketakutan. Mereka bilang hukum hudud itu sudah ketinggalan zaman. ‘Lagu’ gapo (apa pula) ini?,” ujar seorang penceramah di Masjid Wakaf Bharu malam Jumat itu.

Pengajian yang menghadirkan penceramah terkenal Malaysia tersebut dikerumuni ribuan anak-anak muda. Tidak kira anak muda yang bersorban atau yang ‘masih’ memakai anting-anting serta memakai kalung sebesar ibu jari semuanya rela duduk berdesak-desakan. Sambutan terhadap penceramah ‘selebriti’ seperti Azhar Idrus selalu seperti itu.  Sehingga jalan umum memasuki masjid terpaksa disulap jadi selasar tambahan.

Tetapi jangan bayangkan Azhar Idrus sering tampil di RTM 1 atau TV3 sehingga dia disebut selebriti. Penceramah yang tidak ramah dengan arah kebijakan pemerintahan di Malaysia tidak mungkin bisa masuk televisi untuk berceramah. Ketenarannya, selain karena ceramahnya memang ‘asyik’, adalah manajemen publikasi yang baik dengan memanfaatkan social network seperti youtube.

Suasana religius Kelantan tersebut kembali terlihat pagi berikutnya. Ribuan orang kembali meramaikan kuliah rutin yang digelar di sebuah musholla di tengah kota. Sementara diluarnya pula meriah dengan bazar-bazar yang diadakan penduduk dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota Bharu.

“Kuliah seperti ini diadakan secara rutin setiap jumat pagi,” ujar Rusydi salah seorang warga Kota Bharu sambil membawa penulis mengitari beberapa blok yang dipenuhi dengan tenda-tenda di mana penduduk dari pelosok Kelantan menjajankan dagangan mereka.

Biasanya kajian di Dataran Ilmu tersebut diisi langsung oleh Menteri Besar (Gubernur, red) Kelantan, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Tetapi karena Menteri Besar Kelantan tersebut sedang melakukan umrah ke Tanah Suci, ceramah lalu dibawakan oleh ustadz-ustadz senior yang memang ramai sekali jumlahnya di Kelantan.

Tidak mengherankan jika Kelantan seperti gudang ustadz bagi Malaysia, mengingat Kelantan sejak zaman dahulu sudah dikenal sebagai “negeri pondok pesantren.”

Sampai saat ini mayoritas pelajar Malaysia yang studi di Kairo, Mesir, juga berasal dari Kelantan. Jumlahnya lebih dari dua ribu orang. Ketika para ustadz ini berpolitik, mereka ingin persepsi politik sebagai “dirty arts” atau kerja kotor diisi dengan ruh Islam menjadi kerja dakwah. Sebagai kerja dakwah, politik harus bersih. Mungkin terdengar klise, tetapi politik uang misalnya amat sulit dipraktekkan di Kelantan.

Menarik juga dicermati dukungan kuat yang didapatkan PAS dari kalangan intelektual dan profesional di Kelantan. Menurut YB Dato’ Hj Che Abdullah Mat Nawi, anggota dewan asal Wakaf Bharu, hal ini terjadi karena imej positif yang berhasil didapatkan PAS setelah bekerja keras dengan bersih dan sungguh-sungguh selama 22 tahun menerajui (memerintah) negeri Kelantan.

“Didaerah seperti Kubang Krian yang didiami doktor, dosen dan cerdik pandai … cukup letakkan topi haji diatas meja undi maka secara otomatis suara mereka akan diraup oleh PAS,” ujar Dato’ Che Abdullah Mat Nawi pula.

Menurutnya  kepercayaan  yang diberikan rakyat adalah amanah. Entah berapa orang yang sanggup melakukan ini: keluar rumah pukul tujuh pagi, turun ke pelosok-pelosok desa untuk menyambangi rakyat lalu pulang jam 1 atau 2 dini hari. Tetapi aktifitas tersebut merupakan rutinitasnya jika kebetulan tidak ada jam kantor. Selama dua hari mengikuti aktifitas keseharian exco Negeri Kelantan membuat penulis berpikir “kalau saya YB dah lama minta berhenti!”

Tak punya hak royalti

Negeri yang sempat ditinggali Manohara ini sama sekali tidak bisa dikatakan miskin. Pertanian di Kelantan adalah nomor dua terbesar di Malaysia.

“Tetapi Kelantan bisa kaya raya jika tuntutan kami agar royalti minyak dan gas yang telah disetujui secara tertulis dengan pihak Petronas sejak tahun 1975 segera dikembalikan ke rakyat,” ujar beberapa orang warga Kelantan.

Bagi orang Kelantan sikap pemerintah pusat terhadap mereka selama ini dianggap tidak adil. Sabah dan Sarawak menerima royalti minyak dan gas bumi mereka, demikian pula Trengganu, tetapi Kelantan tidak diberi apa-apa.

Isu ini dimainkan kembali oleh partai-partai oposisi di Malaysia menjelang Pilihan Raya Umum 13 yang disebut sebagai Pilihan Raya (Pemilu) paling menentukan dalam sejarah Malaysia.

Setelah terdepak dari kekuasaan pada tahun 2003, seiring dengan eko reformasi di Indonesia, Mahathir Muhammad tidak lantas tenggelam seperti keluarga cendana. Pengaruhnya luar biasa mencengkram, sehingga dia mampu menyingkirkan Abdullah Ahmad Badawi yang menggantikannya ketika itu lalu digantikannya dengan orang yang bisa melindungi ‘kebijakan-kebijakannya’ yaitu PM Dato’ Sri Najib Tun Razak.

Begitu kuatnya pengaruh Mahathir dalam kebijakan Najib ini diakui sendiri oleh PM yang merupakan incumbent itu. Seperti dikutip oleh Malaysiadigest.com (3 Desember 2012), Najib mengakui jasa Mahathir dengan Visi 2020nya, “Dia dapat tugas mudah, saya dapat sulitnya,” ujar Najib dengan maksud bercanda, “dia mengumumkan visi 2020, saya yang harus mengisinya. Karena dia masih terus memantau saya.”

Kalau dalam PRU 13 UMNO dan aliansinya dalam Barisan Nasional sampai kalah dengan Pakatan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim maka reformasi yang sesungguhnya bakal terjadi di semenanjung tanah Melayu ini.  Sejauh ini saja, hasil dari PRU 12 lima tahun yang lalu, sudah ada empat dari tiga belas Negara bagian di Malaysia, yaitu: Kedah, Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor yang telah berhasil dikuasai Pakatan Rakyat. Meskipun Perdana Menteri Najib Tun Razak begitu yakin akan mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai PR tersebut ke tangan BN namun banyak analis yang meragukan kemampuan BN melakukan hal tersebut.

Di jejaring sosial, misalnya, orang masih hangat membicarakan kejadian di Penang beberapa waktu yang lalu. Seperti diberitakan media massa, lebih jelas lagi di Youtube, BN telah berhasil membawa Psy si penari Gangnam Style ke Penang bersempena dengan sambutan Hari Raya Imlek. Tarifnya tidak tanggung-tanggung: dua juta ringgit untuk bergangnam ria bersama Psy selama kurang dari lima belas menit.

Di sela-sela acara tersebut Perdana Menteri Malaysia melontarkan pertanyaan,  “Are you ready for BN?” Tetapi di luar dugaannya, para pengunjung yang didominasi kawula muda justru meneriakkan: “No!” secara beramai-ramai.

Memang agak sulit membayangkan seperti apa nasib syariat Islam jika PR berhasil menduduki Putrajaya dalam PRU 13 nanti. Partai Keadilan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim jelas bukan partai berbasis Islam seperti PAS. Begitu pula DAP, anggota Pakatan Rakyat yang didominasi masyarakat China dan India, sama sekali bukan partai yang ideologically friendly dengan visi dan misi yang diperjuangkan PAS. Sejauh ini partai-partai tersebut memang berhasil disatukan oleh kepentingan sesaat.

Mengenai isu ini Presiden PAS, Abdul Hadi Awang menegaskan dengan tidak ragu-ragu, “PAS memberi jaminan kerjasama dengan parti Pakatan Rakyat -dengan DAP, dengan PKR- selagi dapat mempertahankan Melayu Islam. Sekiranya kerjasama itu merugikan Melayu Islam, merugikan Islam…PAS keluar dari Pakatan Rakyat dan tidak ada ragu-ragu lagi.” Sikap seperti inilah, menurut hemat kita, yang membuat PAS tidak pernah kehilangan dukungan konstitutennya. Setidaknya di negeri Kelantan Darun Naim.*

Syaifullah Yudha,  penulis adalah peminat kajian Bahasa dan Peradaban Islam. Saat ini sedang mengawali perjalanan ke negeri-negeri di Asia Timur

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/hmi-jangan-masuk-kemelut-politik/30593


“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Friday, May 31, 2013

PKS Siap Pimpin Koalisi Partai Islam

Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Indra mengatakan partainya siap memimpin koalisi partai berbasis massa Islam dengan kesiapan semua infrastruktur dan kader yang dimiliki PKS.


“Apabila pada akhirnya partai-partai Islam mempercayakan PKS (memimpin koalisi), kami sangat siap untuk memimpin,” kata Indra kepada Antara di Jakarta, Jumat (31/5).


Dia mengatakan dalam membangun bangsa dan negara, PKS tidak bisa berjalan sendiri namun membutuhkan harmonisasi dengan parpol lain dan juga elemen masyarakat.


Menurut dia, partainya sangat terbuka untuk berkoalisi dengan partai lain dalam membangun bangsa.


Indra menjelaskan PKS selama ini membangun sistem dan struktur partai bukan mengandalkan figur seseorang.


Karena itu menurut dia, tidak mengherankan apabila suara PKS terus meningkat dari setiap penyelenggaraan pemilu dan menang dalam beberapa pemilihan kepala daerah.


“Tiap pemilu suara kami selalu naik, dan beberapa pilkada seperti di Jawa Barat, Sumatera Utara, Sukabumi, Hulu Sungai Selatan yang diikuti kader kami, PKS menang,” ujarnya.


Menurut dia masyarakat Indonesia yang saat ini semakin religius, perlahan akan berkorelasi dengan keberpihakan mereka kepada partai Islam khususnya PKS.


Dia mengatakan masyarakat semakin cerdas dalam melihat masalah dan memilih partai yang bekerja nyata bagi mereka.


“Kami percaya dengan ideologi dan asas yang kami miliki. PKS tidak akan terus menjaga hasil karya yang sudah kami perbuat untuk bangsa ini,” katanya.


Di Pemilu 2004, PKS memperoleh suara sebanyak 7,34 persen atau 8.325.020 dari total dan mendapatkan 45 kursi di DPR dari total kursi sebanyak 550. Dan pada Pemilu 2009, PKS memperoleh suara sebanyak 8.206.955 suara atau 7,9 persen dan mendapat 57 kursi di DPR (10 persen).


Pada Pemilu 2014 PKS memperoleh nomor urut tiga dan menargetkan masuk dalam tiga besar pemenang pemilu. Namun di awal tahun 2013, mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap KPK karena diduga terlibat dalam pengaturan pemberian kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian kepada PT Indoguna Utama.


KPK juga mengenakan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kepada Luthfi sehingga berbagai asetnya disita lembaga pemberantasan korupsi tersebut.


Sebelumnya, Survei Lembaga Klimatologi Politik menyebutkan masih terpuruknya elektabilitas partai berbasis massa umat Islam dan tokoh-tokohnya.


Hal itu semenjak meninggalnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan “hilangnya” Amin Rais dari peredaran politik nasional sehingga partai Islam dan tokohnya tidak diperhitungkan lagi.


PKS, PAN, PKB, PPP dan PBB masih menghuni papan bawah tingkat elektabilitas.


PKS yang menargetkan posisi tiga besar pada Pemilu 2014, dalam survei itu berada di posisi ketujuh dengan perolehan 5,1 persen suara responden. Setelah PKS, kemudian diikuti partai Islam lainnya secara berturut-turut yakni PAN (4,6 persen), PKB (4,4 persen), PPP (3,9 persen), dan PBB (0,9 persen).


Krisis kepemimpinan, kapasitas ketua umum partai Islam baru di level manajerial belum menjadi penggalang solidaritas atau “solidarity maker” bagi umat Islam. Tokoh itu tidak memiliki kapasitas sebagai pendulang suara atau “vote getter” dalam pemilu sehingga membutuhkan artis.


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/09/11/siswa-tk-telat-dihukum-tak-boleh-masuk-kelas


PKS Siap Pimpin Koalisi Partai Islam

PKS Siap Pimpin Koalisi Parpol Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebagai partai politik (parpol) yang berasaskan Islam, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki basis massa yang ‘real’ jika dibandingkan dengan beberapa parpol yang beraliran yang sama.


Sadar akan kondisi tersebut, parpol yang berlambang kapas yang diapi dua bulan sabit ini mengaku siap menjadi pemimpin koalisi parpol Islam. Salah satu dasarnya adalah kesiapan semua infrastruktur dan kader yang dimiliki PKS.


“Apabila pada akhirnya partai-partai Islam mempercayakan PKS (memimpin koalisi), kami sangat siap untuk memimpin,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS, Indra kepada Antara di Jakarta, Jumat (31/5).


PKS, menurut dia, dalam membangun bangsa dan negara tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan harmonisasi dengan parpol lain dan juga elemen masyarakat. Oleh sebab itu, PKS, ia melanjutkan, sangat terbuka untuk berkoalisi dengan partai lain dalam membangun bangsa.


Indra menjelaskan PKS selama ini membangun sistem dan struktur partai bukan mengandalkan figur seseorang. Oleh sebab itu, menurut dia, tidak mengherankan apabila suara PKS terus meningkat dari setiap penyelenggaraan pemilu dan menang dalam beberapa pemilihan kepala daerah.


“Tiap pemilu suara kami selalu naik, dan beberapa pilkada seperti di Jawa Barat, Sumatera Utara, Sukabumi, Hulu Sungai Selatan yang diikuti kader kami, PKS menang,” ujarnya.


Menurut dia, masyarakat Indonesia yang saat ini semakin religius, perlahan akan berkorelasi dengan keberpihakan mereka kepada partai Islam khususnya PKS. Dia mengatakan masyarakat semakin cerdas dalam melihat masalah dan memilih partai yang bekerja nyata bagi mereka.


“Kami percaya dengan ideologi dan asas yang kami miliki. PKS tidak akan terus menjaga hasil karya yang sudah kami perbuat untuk bangsa ini,” katanya.


Pada Pemilu 2004, PKS memperoleh suara sebanyak 7,34 persen atau 8.325.020 dari total dan mendapatkan 45 kursi di DPR dari total kursi sebanyak 550. Dan pada Pemilu 2009, PKS memperoleh suara sebanyak 8.206.955 suara atau 7,9 persen dan mendapat 57 kursi di DPR (10 persen).


Pada Pemilu 2014 PKS memperoleh nomor urut tiga dan menargetkan masuk dalam tiga besar pemenang pemilu. Namun di awal tahun 2013, mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap KPK karena diduga terlibat dalam pengaturan pemberian kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian kepada PT Indoguna Utama.


KPK juga mengenakan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kepada Luthfi sehingga berbagai asetnya disita lembaga pemberantasan korupsi tersebut. Sebelumnya, Survei Lembaga Klimatologi Politik menyebutkan masih terpuruknya elektabilitas partai berbasis massa umat Islam dan tokoh-tokohnya.


Hal itu semenjak meninggalnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan ‘hilangnya’ Amin Rais dari peredaran politik nasional sehingga partai Islam dan tokohnya tidak diperhitungkan lagi. PKS, PAN, PKB, PPP dan PBB masih menghuni papan bawah tingkat elektabilitas.


PKS yang menargetkan posisi tiga besar pada Pemilu 2014, dalam survei itu berada di posisi ketujuh dengan perolehan 5,1 persen suara responden. Setelah PKS, kemudian diikuti partai Islam lainnya secara berturut-turut yakni PAN (4,6 persen), PKB (4,4 persen), PPP (3,9 persen), dan PBB (0,9 persen).


Krisis kepemimpinan, kapasitas ketua umum partai Islam baru di level manajerial belum menjadi penggalang solidaritas atau ‘solidarity maker‘ bagi umat Islam. Tokoh itu tidak memiliki kapasitas sebagai pendulang suara atau ‘vote getter‘ dalam pemilu sehingga membutuhkan artis.


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/politisi-perempuan-ppp-terpilih-sebagai-presidium-kahmi/27705


PKS Siap Pimpin Koalisi Parpol Islam

Tuesday, April 30, 2013

Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Home Opini



Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash





 


 




Selasa, 30 April 2013


Oleh: Abdullah al-Mustofa


AJANG Miss World 2013 yang sudah diagendakan akan diadakan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim sekaligus memiliki penduduk Muslim terbesar jumlahnya di dunia (Indonesia)  menimbulkan penolakan keras dari para tokoh dan lembaga Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Penolakan dari para tokoh dan lembaga Islamm itu memang wajar dan tepat, karena event Miss World – meskipun dibungkus dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan ada wacana bikini diganti kebaya -  tetaplah bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, serta agama, budaya dan adat istiadat mayoritas bangsa Indonesia


Miss World dan segala ajang sejenis dari tingkat lokal hingga internasional semua mempunyai satu kesamaan, sama-sama menilai kecantikan wajah dan semua segi penampilan fisik wanita.
Kontes-kontes kecantikan seperti Miss World dan Miss Indonesia adalah contoh yang jelas menunjukkan hal tersebut. Kontes-kontes semacam itu meskipun mengklaim tidak sekadar menilai para pesertanya dari segi penampilan fisik saja tapi juga dari segi kepribadian dan kecerdasan, namun tetap mementingkan penampilan fisik.


Mustahil jika kontes-kontes tersebut sama sekali tidak mementingkan penampilan fisik karena terbukti sejak proses perekrutan peserta. Yang layak menjadi peserta adalah wanita-wanita yang berpenampilan fisik yang menarik dan bagus.


Itulah sebagian fenomena di jaman edan ini yang merendahkan wanita. Tapi Barat atau mereka yang silau kepada Barat termasuk sebagian kaum Islam mengangap sebaliknya.


Mereka menganggap fenomena tersebut menghargai dan memuliakan wanita serta menjadikan wanita berharga dan mulia. Padahal sesungguhnya itru adalah racun yang mematikan tapi dianggap madu. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu madu dianggap tidak waras. Sedangkan Islam yang sesungguhnya adalah madu dianggap racun. Mereka yang tidak mengatakan dan tidak menganggap itu racun dianggap tidak waras.


Kemuliakaan Wanita antara Islam dan Logika


Ada banyak dalil naqly (dalil al-Qur’an dan al-Hadits) dan ‘aqly (logis) yang menunjukkan Islam sangat memuliakan wanita. Salah satu dalil naqly adalah: Dalam riwayat Aisyah ra bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata;  “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)


Ketentuan di atas menunjukkan adanya sedikit perbedaan antara pia dan wanita dalam batas aurat dan ketentuan berpakaian. Batas aurat bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan ketentuan berpakaian bagi wanita adalah pakaian harus longgar, tidak transparan dan tidak tipis.


Perbedaan ini bukan untuk merendahkan wanita dan memperlakukannya secara tidak adil. Sebaliknya hal itu menunjukkan Islamm menghargai, menghormati dan memuliakan wanita, serta mendudukkan wanita pada posisi yang sangat tinggi dan mulia. Mengapa demikian?


Secara logika, dengan memenuhi ketentuan menutup aurat sesuai syar’i membuat seorang wanita tidak kelihatan bentuk dan kondisi tubuh, serta bentuk dan warna rambutnya. Hal ini mendorong dan menciptakan kondisi di mana wanita tidak termotivasi untuk berusaha mencapai dan mendapatkan penghargaan dari pihak lain, menilai dan menghargai dirinya sendiri dari, serta berlomba-lomba dalam segi pemampilan fisik, tapi dari segi selain itu, yakni kecerdasan, kepribadian, kualitas pribadi, ketakwaan, prestasi dan amal shaleh.


Kondisi ini tidak terbatas berlaku bagi wanita yang bersangkutan saja. Namun juga berlaku bagi wanita lainnya, pria, orang-orang di sekitarnya dan masyarakat dalam lingkup terkecil seperti keluarga dan lingkup yang luas seperti negara.  Semua pihak tersebut akan menilai dan menghargai wanita bukan dari segi penampilan fisik, tapi dari segi lainnya yang antara lain meliputi kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) dan prestasi  mereka.


Mass Brainwashing


Sejatinya, dibalik Miss World dan semua ajang sejenis –seperti berbagai hiburan dan tontonan yang diproduksi Barat dan para pembantunya– selalu ada udang di balik batu (hidden agenda) berupa mass brainwashing (cuci otak besar-besaran) yang diagendakan.


Barat selalu menanamkan worldview dan isme-isme yang dianutnya ke dalam otak sebanyak mungkin warga dunia. Worldview Barat adalah sekular-liberal. Isme-isme Barat di antaranya materialisme, liberalisme, pluralisme, humanisme, feminisme dan  pragmatisme.


Untuk mendukung agenda cuci otak besar-besaran tersebut, Barat dibantu oleh para “robot-robot” yang berasal dari warga pribumi termasuk dari kalangan Muslimin.


Di antara para “robot” yang berkartu identitas Muslim itu adalah mmereka yang menyebut diri  mereka sebagai kaum liberal. Mereka tidak cukup masuk kedalam dan menggunakan bidang studi Islam – dengan memakai metodologi keilmuan dari Barat dan Kristen dalam melakukan pembacaan dan penafsiran yang baru dan nyleneh terhadap al-Qur’an dan Hadits -, tapi  mereka juga masuk ke dalam dan menggunakan bidang politik, pendidikan, sosial dan budaya.
Dalam bidang politik, di Indonesia mmereka masuk kedalam partai politik-partai politik, DPR dan atau melobi anggotanya, masuk ke dalam Kementrian Agama dengan dibentuknya Kelompok Kerja Pengarus-utamaan Gender dan Tim Penyusun Counter Legal Draft KHI, dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.


Dalam pendidikan, ereka memasukkan worldview dan isme-isme Barat ke dalam pesantren dan  dalam kurikulum dan buku-buku pegangan mulai pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi Islam maupun umum.


Dalam bidang sosial antara lain  mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam menentukan orientasi seksual, untuk menikah atau tidak, menikah dengan sesama jenis kelamin, untuk tidak menyusui anak, dan mentalak suami. Dalam bidang budaya antara lain mereka mempromosikan kebebasan wanita dalam berpakaian dan berekspresi.


Tidak mengherankan, bila cara berpikir, berpendapat, bersikap dan bertindak para ‘robot-robot’ Barat ini selalu mengkampanyekan ‘bebas dari Tuhan’. 
 
Dalam kehidupan nyata, sebagian masyarakat Indonesia telah menjadi korban cuci otak yang berkaitan dengan Miss World dan ajang lain sejenisnya. Tidak sedikit gadis-gadis Indonesia yang bermimpi terpilih sebagai Miss World, Miss Indonesia, Miss Jilbab atau gelar-gelar lain sejenis. Hal itu terbukti ketika event-event seperti itu akan diselanggarakan selalu tidak sepi dari peminat.


Agen Setan


Sungguh aneh, di negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini ada warganya yang bisa menjadi korban cuci otak. Sungguh lebih aneh lagi ada pihak-pihak tertentu yang ikut terlibat dalam mensukseskan Miss World, semua event sejenis dan proyek-proyek cuci otak lainnya yang diagendakan Barat di negeri ini.


Tapi lebih aneh lagi karena  mereka  kok mau-maunya menjadi setan. Sebab al-Quran dengan tegas menyebutkan  agen ‘cuci otak’ seperti ini adalah setan.


الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ


“yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, mereka semua adalah setan-setan dari golongan manusia.” (QS. An-Naas [114]:6).* 


Penulis peneliti  Islammic Studies Forum for Indonesia (ISFI) Kuala Lumpur Malaysia, Pengelola fanspage fb SBQ (Sukses Bersama Qur’an)


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Miss World, Kemuliaan Wanita dan Brain Wash

Friday, July 5, 2013

Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Home Sejarah



Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)





 

Sultan Al Fatih (dalam Film Fetih 1453) memberi perlindungan penganut Kristen



 




Jum’at, 05 Juli 2013


Oleh: Ady C. Effendy


Kejatuhan Konstantinopel: Faktor di balik Keberhasilan Penaklukan

SETELAH
gencatan senjata, Sultan Murad II secara mengejutkan menyerahkan tahta kepada putranya Muhammad II, yang pada saat itu baru berusia dua belas tahun. Pada Rabi II 848 H/ Juli 1444M, Muhammad II diangkat sebagai sultan oleh ayahnya. Dia ingin mempersiapkan anaknya untuk sesegera mungkin mengambil alih kekuasaan yang telah menyibukkan dirinya seumur hidupnya.


Alasan lain yang disebutkan untuk suksesi yang sangat cepat ini adalah bahwa Sultan Murad II ingin memastikan legitimasi pemerintahan putranya melawan seorang pangeran palsu keturunan Turki Usmani yang mengklaim kekuasaan dan tinggal di dalam kota Konstantinopel, yaitu pangeran Orkhan.


Pemerintahan pertama Sultan Muhammad II yang tercatat dari Rabi II 848H / Juli 1444M hingga Djumada II 850H/August 1448M, menemui kegagalan. Krisis internal pemberontakan Hurufi di Edirne pada 8 Djumada II 848/22 September 1444. Krisis eksternal yang ditimbulkan oleh fakta bahwa sepuluh tahun gencatan senjata rupanya dilanggar oleh raja Hungaria yang menyeberangi sungai ke Bulgaria. Paus mengampuni raja Hungaria atas sumpah yang telah diucapkannya dengan alasan bahwa hal itu tidak berlaku karena ia bersumpah untuk seorang kafir. Dalam 4-8 Djumada II 848 H/ 18-22 September 1444M, raja dan tentara salib siap untuk pertempuran.


Pada bulan November 1444, dengan bantuan pelaut Genoa, tentara Usmani di bawah Murad II menyeberang ke Eropa dan melawan tentara salib di dekat pelabuhan Laut Hitam Varna, utara dari Konstantinopel. Dinasti Utsmani menang secara telak, raja Hungaria tewas, dan hanya sedikit yang lolos.


Murad II mengupayakan untuk memastikan suksesi Sultan Muhammad II setelah mengajaknya untuk turut dalam kampanye militer yang besar di kawasan Balkan – melawan Hungaria di Kossova di 852H/1448M, dan melawan Albania pada musim panas 854H/1450M. Murad II memerintahkan anaknya untuk menikahi Sitti Khatun putri Dzul Kadirid penguasa, yang secara tradisional merupakan sekutu Turki Usmani melawan Karamanids, dan kemudian tinggal di istana ayahnya di Manisa, Anatolia. Tak lama setelah menerima kabar kematian ayahnya, Sultan Muhammad Al Fatih sekali lagi kembali ke tahta Usmani pada 16 Muharram 855H/18 Februari 1451M.


Ancaman eksternal terus menempatkan kepemimpinan Sultan Muhammad II dalam ancaman. Kaisar Bizantium, dalam upaya untuk mendapatkan konsesi dari Sultan Muhammad II, mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Pada saat yang sama, Karamanid Ibrahim menginvasi wilayah sengketa di Hamid-ili. Wazir Candarli berhasil menahan Byzantium dan Serbia dengan konsesi teritorial, sedangkan sultan muda memulai kampanye militer pertamanya melawan pasukan Karamanid tersebut. Ancaman Kaisar Bizantium tidak selesai dengan pemberian konsesi sebelumnya.


Bahkan, karena mengejar kekayaan, kaisar Kristen itu kembali mengancam untuk melepaskan pangeran Orkhan. Sultan Muhammad II, setelah mencapai kesepakatan dengan Karamanid, bertekad untuk kembali ke Edirne dan memecahkan masalah Bizantium secara tuntas. Dengan dukungan Panglima militer Zaghanos, ia mulai merencanakan pukulan militer yang akan mematikan kerajaan tua itu, pertama dengan membangun kastil Boghaz-Kesen di Bosphorus.


Dia juga telah mengamankan perjanjian dengan Venesia (13 Sha’ban 855/10 September 1451) dan Hungaria (25 Syawal 855/20 November 1451) serta menyewa seorang ilmuwan Hungaria bernama Urban untuk menciptakan meriam paling kuat yang pernah dikenal untuk menghancurkan dinding tua Konstantinopel.


Panglima Zaghanos dan Syekh Shihabuddin mendukung perang tersebut seraya menegaskan ancaman bahaya yang ditimbulkan dari Bizantium untuk kekhilafahan Islam dan dapat memecah kesatuannya. Keberhasilan penaklukan akan sangat tergantung pada efisiensi waktu dan efektivitas pengepungan.


Pada bulan Maret 1453M, tentara Usmani meluncurkan long-march menuju kota. Pada tanggal 2 April, orang di kota melihat tentara besar sejumlah lebih dari seratus ribu tentara mendekati kota. Kaisar Constantine XI benar-benar cemas dengan situasi tersebut.


Seorang berkebangsaan Venesia bernama Nicolo Barbaro telah tiba pada musim semi di kota itu. Kaisar sangat menghargai dukungan ini pada situasi yang sangat mengkhawatirkan sehingga ia memberikan empat gerbang kota dan semua kunci yang ada pada mereka kepadanya. Para penjaga Konstantinopel juga memblokade Golden Horn dengan rantai besi untuk mencegah berlalunya setiap armada laut Turki Usmani. Populasi kota selama pengepungan itu diperkirakan berjumlah sekitar dua ribu orang asing dan 4,773 orang Yunani untuk melindungi dinding kota yang panjangnya 23 km.


Di sisi lain, Tentara Turki Usmani berkemah di luar tembok kota. Para tentara elit Janissary menjaga tenda merah dan emas tempat Sultan Muhammad Al Fatih berdiam, sedangkan tentara reguler menduduki dua daerah: “barat kota sepanjang daerah dataran rendah di sekitar Sungai Lycus, yang mengalir melalui tengah Konstantinopel, dan di dekat Barbaro Galata / Pera di pantai utara Golden Horn.”


Diperkirakan terdapat sekitar 145 kapal Turki Usmani rendah berlabuh di Kolom Ganda, sebuah pelabuhan di Bosporus yakni 3 km sebelah utara kota. Mempertahankan kota Konstantinopel dari laut adalah Alvise Diedo, seorang kapten kapal dan pedagang Venesia, yang menguasai sekitar dua puluh enam kapal tinggi dan perahu-perahu kecil, dan bertugas mempertahankan pelabuhan Golden Horn.



Pengepungan di Konstantinopel


Sebelum pengepungan dimulai, Sultan, mengikuti tradisi Islam, menawarkan warga Konstantinopel kesempatan untuk menyerah, pilihan yang akan menyelamatkan hidup dan harta mereka. Tetapi kaisar yang sombong terlalu mustahil untuk mengambil penghinaan seperti itu.


Pada tanggal 6 April pengepungan bersejarah dimulai dengan membuka tembakan meriam yang merusak parah dinding dekat gerbang Charisian sekitar setengah mil (0.8 km) utara Sungai Lycus. Para pembela kota berusaha untuk memperbaiki dinding. Beberapa hari kemudian, meriam membombardir dinding lagi dan benar-benar menghancurkan tembok luar sehingga memaksa para pelindung kota untuk membangun sebuah benteng tanah dan kayu di atasnya. Dampak meriam sangat besar sehingga meninggalkan lubang di dinding yang tidak dapat diperbaiki. Namun, meriam itu hanya bisa ditembakkan tujuh kali sehari dan membutuhkan persiapan lama sebelum penembakan.


Pada tanggal 15 April, selama pengepungan, empat kapal penuh persediaan berlayar menuju kota, didanai oleh Paus dan duta besar Konstantinopel, melalui Laut Marmara. Suleiman Baltoghlu, laksamana armada Turki Usmani, mengerahkan puluhan kapal untuk mencegat dan menghancurkan empat kapal itu. Sayangnya, angin yang bertiup melawan arus membuat kapal-kapal Turki Usmani tidak mampu bermanuver.


Kapal Italia yang lebih tinggi dan bersenjata lengkap secara mengherankan lolos dan masuk ke Pelabuhan Tanduk Emas setelah para pelaut itu berhasil memukul kembali pelaut Turki  Usmani dengan tombak, kapak, batu dan panah. Di darat, tentara Usmani cukup berhasil. Giovanni Giustiniani memimpin para pembela kota dengan berani dan memukul kembali upaya musuh untuk membakar benteng dan membunuh para pembelanya. Setelah empat jam, pasukan Usmani mundur.


Para pembela kota mengambil kesempatan untuk memperbaiki lubang di dinding dengan balok kayu, tanaman merambat, cabang, bumi dan puing-puing. Sementara itu, Sultan telah merencanakan untuk memasuki pelabuhan Golden Horn dengan membangun jalan yang tidak lazim melintasi lereng bukit dekat Galata / Pera ke pelabuhan. Keesokan harinya, sekitar tujuh puluh kapal Turki Usmani berlayar menuju rantai besi. Satu per satu, kapal diangkat dan ditarik ke darat. Pasukan Lembu dan roda menyeret kapal-kapal itu ke gelondongan kayu yang diminyaki dengan lemak hewan … dan dalam hitungan jam kapal-kapal itu telah tiba dengan aman di dalam Golden Horn. “Keberhasilan pelaut Turki Usmani dalam memasuki pelabuhan telah membuat populasi kota lebih menderita karena kehabisan persediaan dan terhalang dari memancing ikan.


Di dalam kota Konstantinopel, orang-orang Kristen dari semua sekte berkumpul ke Gereja Hagia Sophia untuk mengadakan Misa bersama-sama. Mereka bersatu setidaknya untuk sesaat setelah sengketa selama berabad-abad antara gereja Yunani dan Latin. Giustiniani dan tentaranya mengambil posisi antara dinding bagian dalam di Lycus Valley dan benteng luar di mana tentara Turki Usmani pasti akan menyerang. Gerbang pada dinding bagian dalam di belakang mereka ditutup. Tidak ada jalan bagi mereka untuk mundur.


Pada pagi hari Selasa, tanggal 29 Mei 1453M, serangan berkekuatan penuh dimulai. Teriakan disela pertempuran, suara drum, alat musik, dan terompet dibunyikan oleh tentara Usmani seluruh lembah, dan diikuti oleh lonceng gereja yang memperingatkan penduduk kota dari ancaman yang datang.


Pertempuran dimulai dengan serangan oleh tentara non reguler yang sebagian besar berasal dari Balkan. Mereka berupaya untuk mendaki berbagai daerah sepanjang dinding menggunakan tangga untuk menyibukkan dan mengalihkan perhatian para pembela kota dari pertempuran utama di bagian Lycus Valley. Setelah dua jam pertempuran, tentara non regular diperintahkan untuk mundur. Sekarang, tentara reguler, yang bersenjata lengkap, sangat disiplin dan sebagian besar dari Anatolia menyerbu Lycus Valley. Sementara itu, meriam raksasa Urban terus menghancurkan dinding tanpa menyisakan waktu yang memadai untuk perbaikan oleh pembela.


Setelah dua jam, para pasukan Janissary (pasukan elit khusus) menyerbu ke lapangan pertempuran, sementara Muhammad Al Fatih memimpin sejauh parit. Para pembela yang kelelahan berjuang tanpa rasa takut selama satu jam.


Salah satu kelemahan, bagaimanapun, mulai terungkap oleh tentara Turki Usmani, sebuah gerbang kecil – Kerkopotra – di sudut barat laut kota itu dibiarkan terbuka. Itu digunakan untuk memungkinkan pembela kota untuk menyelinap dan meluncurkan serangan rahasia pada musuh, tapi terbuka karena seorang tentara pembela kota tampaknya lalai ketika ia masuk kembali ke kota. Orang-orang Turki Usmani bergegas memasuki pintu gerbang, beberapa dari mereka dipukul mundur, tetapi beberapa puluh tentara berhasil masuk ke dalam kota.


Saat matahari terbit, pemimpin militer kota, Giustiniani, tertembak di jarak dekat, yang merusak baju pelindungnya. Setelah menerima cedera parah ini, semangat pertempuran telah benar-benar hilang darinya dan ia bergegas menaiki kapal untuk meninggalkan medan perang. Ketika gerbang dibuka oleh pasukan Turki Usmani, kepanikan telah mengalahkan semangat para pembela kota sehingga beberapa meninggalkan posisi mereka.


Dalam pukulan terakhir terhadap pasukan pelindung kota, Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukan elit khusus (tentara Janissari) untuk memperbaharui serangan mereka dan para pembela benar-benar melarikan diri saat ini. Bendera kekaisaran Bizantium akhirnya dirobek dan digantikan dengan bendera Kekhilafahan Islam Turki Usmani. Konstantinopel telah jatuh dan sejarah Bizantium benar-benar berakhir sepenuhnya tanpa kemampuan lebih lanjut untuk bangkit kembali.


Setelah menerima sinyal kemenangan, sisa tentara Usmani bergegas ke kota. Para pelaut di kapal perang Turki Usmani di Golden Horn menyerang dinding pelabuhan dan keluarga nelayan membuka gerbang dan mendapatkan janji bahwa mereka tidak akan dibunuh. Kaisar Byzantium, Konstantinus XI, telah menghilang dari tempat kejadian, tanpa catatan sejarah kemana perginya. Sultan Usmani kembali ke tendanya dan memenuhi janjinya kepada orang-orang dari kota Konstantinopel dan Galata / Pera bahwa keluarga dan harta mereka akan dibiarkan utuh, sementara tentaranya mengambil ghanimah dari sebagian besar harta yang tersisa didalam kota.


Penutup


Catatan sejarah tentang konflik sektarian berkepanjangan yang melanda tanah Kristen terutama di Konstantinopel dan upaya tanpa henti oleh para pemimpin Muslim sepanjang era keemasan Islam untuk merebut Konstantinopel telah menunjukkan kepada kita bagaimana wacana agama selama abad pertengahan memainkan peran yang sangat penting dalam rangkaian peristiwa di masa lalu.


Para tentara Perang Salib yang dikirim setelah seruan dari Paus di Roma untuk mengambil alih tanah suci Yerusalem dari orang-orang kafir telah membawa dampak negatif bagi tanah Kristen. Alih-alih berhasil dalam upaya mereka untuk merebut kembali tanah suci, Pasukan Salib malahan menghancurkan kehidupan Kristen di kota Konstantinopel Bizantium dan kota Kristen di dekatnya. Hal ini telah menyebabkan ketidakpuasan yang sangat mendalam pada sisi Kristen Ortodoks Yunani terhadap Gereja Katolik Roma.


Hal ini akhirnya membuka jalan bagi Kekhilafahan Usmani Muslim sehingga berhasil merebut kota bersejarah itu dan menyebabkan pukulan telak bagi kekaisaran Kristen Bizantium yang telah berdiri selama berabad-abad tanpa ada kemampuan untuk menghidupkan kembali dinasti yang punah itu. Alasan yang mungkin dikemukakan untuk ketidakmampuan ini adalah fakta bahwa para pemimpin dan penduduk di kota Kristen telah benar-benar lelah dengan konflik berkepanjangan dengan Gereja Roma.


Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih hidup damai di bawah pemerintahan Usmani Muslim yang menjamin kebebasan mereka dan memperlakukan mereka dengan adil daripada hidup di bawah Gereja Roma yang sangat menindas. Aturan Usmani selama abad pertengahan itu terbukti sangat adil dan damai terhadap orang Kristen dan Yahudi yang bahkan cenderung dianiaya di tanah Eropa pada abad pertengahan.


Faktor lain yang mendukung kemenangan Utsmani dalam menaklukkan ibukota Bizantium adalah faktor teknologi militer canggih. Keputusan untuk menyewa Urban, seorang ilmuwan Hungaria, untuk menciptakan meriam terkuat yang pernah ada di zaman pertengahan telah menjadi factor penting bagi keberhasilan pengepungan. Faktor terakhir yang berkontribusi terhadap kemenangan yang menentukan terhadap kekaisaran Bizantium selama berabad-abad adalah semangat keimanan yang membakar tanpa kenal lelah kekuatan militer Muslim Usmani pada umumnya, dan terutama Sultan Muhammad Al Fatih.


Akhirnya, jatuhnya Konstantinopel tidak akan mungkin terjadi tanpa faktor-faktor tersebut. Keruntuhan dari Kekaisaran Bizantium juga tidak mungkin untuk dipertahankan jika masih ada percikan semangat pada hati orang-orang Kristen Yunani untuk menghidupkan kembali kekaisaran mereka. Adalah rasa jijik selama berabad-abad dan kelelahan yang luar biasa akan konflik sektarian Kristen dan persepsi umum mereka akan keadilan kekhilafahan Muslim yang baru telah membantu dalam menjaga stabilitas pemerintahan Kekhilafahan Utsmani yang panjang atas penduduk Kristen Yunani di wilayah tersebut.*


Penulis sedang melanjutkan S2 di Qatar


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/06/18/6/179051/Ratusan-Jemaah-Keluar-dari-Ajaran-Ahmadiyah


Iman dan Faktor-faktor lain Kejatuhan Konstantinopel (3-habis)

Thursday, March 21, 2013

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita

Dewasa ini ummat Islam dihadapkan dengan berbagai macam tantangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan pemikiran. Tantangan-tantangan itu datang dengan pola dan ragam yang berbeda. Datangnya pun tidak saja berasal dari luar, namun muncul dari tubuh ummat Islam sendiri. Sudah barang tentu hal ini menambah masalah baru dan menjadi pekerjaan rumah ummat yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Pada kenyataannya, ummat Islam yang tengah diterjang berbagai ekspansi itu belum sadar betul akan apa yang sedang dihadapinya. Ummat Islam belum bangkit seutuhnya. Sebagian mereka masih sibuk bertengkar satu sama lain. Sebagian masih gemar beradu argumen dan dalil pada perkara ijtihadiyah yang tidak ada habis-habisnya. Sebagian masih cenderung fokus pada satu amalan dan mengenyampingkan amalan lainnya. Bahkan sebagian besar malah tidak berbuat apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dalam pandangan Syaikh Hasan Al-Banna, keterpurukan ummat Islam disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

1.Perbedaan pandangan politik, fanatisme, perebutan kekuasaan dan kedudukan. Padahal Islam mewanti-wanti hal tesebut serta menganjurkan kehati-hatian terhadap kekuasaan, bila perlu menghindarinya;

2.Perbedaan pandangan agama dan mazhab. Penyimpangan agama seperti beriktikad dan menggeluti istilah-istilah yang mati, tidak memiliki ruh, tidak hidup, menyepelekan kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, jumud, fanatik terhadap pendapaat tertentu, dan gemar berdebat kusir;

3.Tenggelam dalam kemewahan dan syahwat;

4.Meninggalkan ilmu ilmiah dan pengetahuan alam, lalu mengalihkan orientasinya pada filsafat dan ilmu khayalan;

5.Terperdayanya pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Demikianlah diagnosa penyakit yang dilakukan oleh Syaikh Hasan Al-Banna. Ternyata, problem utamanya ada dalam tubuh kaum Muslimin sendiri.

Dalam menanggulangi problematika ummat diatas, sebagai barisan waratsatul anbiya’, para ulama yang peduli nasib ummatnya berjuang sekuat tenaga mencari solusi terbaik. Ini dimaksudkan agar permasalahan tidak berlarut-larut dan ummat sadar atas kekeliruannya.

Satu di antara ulama kontemporer yang concern dan istiqomah mengawal serta menyuntikkan semangat kebangkitan ummat Islam adalah, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ia terlahir sebagai motivator ummat. Dengan orasi, pena, bahkan jiwanya, ia wakafkan dirinya demi Izzul Islam wal Muslimin. Ia melakukan pemetaan terhadap problem keummatan kontemporer dan menghadirkan solusi konkrit yang up to date namun tetap orisinil. Ia menulis banyak buku, yang sebagian besar adalah dalam ranah pemikiran yang diramu apik dengan kajian fikih, akidah, muamalah, politik, dan cabang Islam lainnya. Satu di antara buah pikirannya adalah, pentingnya skala prioritas dalam beramal dan beribadah, terutama pada masa seperti saat ini. Hal ini dituangkan dalam sebuah buku Fi Fiqhil Aulawiyyat (Dirasah Jadidah fi Dhau’I Al- Qur’an was-Sunnah).

Dalam mukaddimah bukunya itu, Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini menulis: “Studi  yang  penulis  sajikan  di  hadapan  Anda  sekarang ini merupakan sebuah topik yang kami anggap sangat penting, karena ia  memberikan  solusi  terhadap  tiadanya keseimbangan -dari sudut pandang  agama- dalam  memberikan  penilaian  terhadap perkara-perkara,   pemikiran   dan   perbuatan;   mendahulukan sebagian perkara atas sebagian yang lain;  mana  perkara  yang perlu   didahulukan,   dan   mana   pula  perkara  yang  perlu diakhirkan; perkara mana yang harus  diletakkan  dalam  urutan pertama,  dan  perkara mana yang mesti ditempatkan pada urutan ke tujuh puluh pada anak tangga perintah  Tuhan  dan  petunjuk Nabi  saw. Persoalan ini begitu penting mengingat keseimbangan terhadap masalah-masalah yang perlu diprioritaskan  oleh  kaum Muslimin  telah  hilang  dari  mereka pada zaman kita sekarang ini.

Sebelumnya, saya menyebut perkara  ini  dengan  istilah  ”fiqh urutan pekerjaan”; namun sekarang ini dan sejak beberapa tahun yang lalu saya menemukan istilah yang lebih pas,  yaitu  ”fiqh prioritas”;   karena   istilah  yang  disebut  terakhir  lebih mencakup, luas, dan lebih menunjukkan kepada konteksnya.”

Kajian ini sebetulnya  dimaksudkan  untuk  menyoroti  sejumlah prioritas  yang  terkandung  di  dalam  ajaran  agama, berikut dalil-dalilnya,  agar  dapat  memainkan  peranannya  di  dalam meluruskan    pemikiran,    membetulkan   metodologinya,   dan meletakkan  landasan  yang  kuat  bagi  fiqh   ini.   Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya;  kemudian  mau membedakan  apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap  berat  dan apa  pula  yang  dianggap  ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan  demikian, tidak  akan  ada  lagi  orang-orang yang melakukan tindakan di luar batas kewajaran,  atau  sebaliknya,  sama  sekali  kurang memenuhi  syarat.  Pada  akhirnya,  fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai  pandangan  antara  orang-orang  yang  memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.” 

 

Mengenal Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Sebelum membahas tentang fiqih prioritas yang ditawarkan oleh Syaikh Al-Qaradhawi, terasa sangat penting apabila kita mengetahui profil pemikir muslim kontemporer yang satu ini. Profil atau biografinya sangat mudah didapatkan, baik di media cetak, terlebih lagi di dunia maya. Sebab,  tokoh kita ini sangat tersohor di kalangan kaum Muslimin. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah tokoh agama, intelektual Islam terkemuka dan ulama yang sangat terkenal di dunia yang berasal dari Mesir. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan ulama di seluruh dunia karena reputasi ilmiahnya mampu memecahkan persoalan umat  sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadits. Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan Al-Qaradhawi merupakan nama keluarga yang diambil dari nama daerah tempat mereka berasal, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Yusuf Al-Qaradhawi lahir di desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Hingga menyelesaikan affairs doktor pada tahun 1973. Untuk meraih gelar doktor di Universitas al-Azhar, Kairo, ia menulis disertasi dengan judul “Zakat dan Pengaruhnya dalam Mengatasi Problematika Sosial”. Disertasi ini telah dibukukan dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk dalam edisi bahasa Indonesia. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Selain itu, pada tahun 1957, Yusuf Al-Qaradhawi juga menyempatkan diri memasuki Institut Pembahasan dan Pengkajian Arab Tinggi dengan meraih authority tinggi bahasa dan sastra Arab.Dalam perjalanan hidupnya, Qaradhawi pernah mengenyam “pendidikan” penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Al-Qaradhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidakadilan rezim saat itu.

Al-Qaradhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik. Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Al-Qaradhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Al-Qaradhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Al-Qaradhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligus istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan Islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat  Islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Al-Qardhowi menempati posisi basic dalam pergerakan Islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada Islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen.

Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Al-Qaradhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, Ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, consecutive tokoh tokoh Islam, sastra dan lainnya. sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Fiqih Prioritas Sebagai Solusi

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Al-Qaradhawi sering menawarkan istilah-istilah baru, terutama dalam rangka pembaharuan fiqih. Istilah-istilah tersebut awalnya kurang populer di lidah kaum Muslimin. Sehingga tidak jarang mengundang kritikan dari pengkaji Ilmu-ilmu keislaman. Ia memperkenalkan istilah Fiqih Prioritas atau Fiqh Al-Aulawiyya, Fikih keseimbangan atau Fiqh Al-Muwazanah, fiqih kekinian atau Fiqh Al-Waqi’, fiqh perbedaan pendapat atau Fiqh Al-Ikhtilaf, dan beberapa istilah lain.

Dalam kajian fiqih prioritas, dalam bukunya, Al-Qaradhawi tidak menyebutkan defenisi yang komprehensif tentang apa yang dimaksudkannya dan tidak menyertakan dari mana defenisi itu ia nukil. Al-Qaradhawi hanya menulis, “Di Antara konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  ”fiqh  prioritas”  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a’mal).Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal

“… Cahaya di atas cahaya…” (QS.An-Nuur: 35) 

Al-Qaradhawi menitikberatkan kajian fiqih prioritas ini pada urutan amal yang semestinya diutamakan atau didahulukan. Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting. Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang.

Sesungguhnya apa yang ia tulis dalam bukunya ini sejatinya bukan hal baru dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw bertebaran nash-nash yang mengindikasikan prioritas amal. Bila dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Qawaidhul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdussalam, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, dan I’lamu Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, substansi dari fiqih prioritas banyak ditemukan. Dalam kajian ini, Al-Qaradhawi memang bukan yang pertama, namun ia dapat dikatakan sebagai ulama yang menghadirkannya kembali ke tengah-tengah ummatdengan wajah baru. Hal inipun diakuinya, bahwa karya-karya klasik itulah yang banyak menginspirasi penulisan fiqih prioritas.

Dalam bukunya, ia menceritakan celaan Al-Ghazali kepada orang-orang yang sezaman dengannya. Kebanyakan mereka menekuni fiqih saja dan melupakan cabang ilmu yang lain. Terbukti, terjadi kekosongan luar biasa di dunia kedokteran, yang mana tak ada seorang dokter pun melainkan ia seorang Nasrani atau Yahudi. Oleh Al-Ghazali, orang cerdik pandai di zamannya itu disebut sebagai orang yang tertipu (al-Mugtarrun).  Al-Ghazali juga menganggap orang yang bola-balik menunaikan haji setiap tahun, padahal amalan itu adalah amalan sunnah, sebagai orang yang tertipu. Alasannya, alangkah baiknya jika ongkos haji-haji sunnah tersebut dialokasikan untuk kemaslahatan sosial. 

Syekh Yusuf juga mengutip sebuah dialog, yaitu saat Abu   Nashr   al-Tammar   berkata, “Sesungguhnya   ada  seorang  lelaki  yang  datang  dan  ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Bisyr bin al-Harits  sambil berkata  ”Aku  telah berniat melakukan ibadah haji, barangkali engkau hendak memerintahkan sesuatu kepadaku.”  Bisyr  berkata kepadanya:  ”Berapa  biaya  yang telah engkau persiapkan untuk itu?” Dia menjawab, “Dua ribu dirham.”

Bisyr berkata, “Apakah yang hendak engkau cari  dalam  hajimu? Karena  zuhud,  rindu  kepada Baitullah, ataukah untuk mencari keridhaan Allah SWT?”

Dia menjawab, “Saya hendak mencari keridhaan Allah SWT.”

Bisyr berkata, “Kalau engkau hendak  mencari  keridhaan  Allah SWT,   sementara   engkau   tetap   berada   di   rumahmu  dan membelanjakan dua ribu dirham itu (bukan untuk berhaji), serta engkau   merasa  yakin  bahwa  engkau  akan  dapat  memperoleh keridhaan itu, maka apakah  engkau  akan  melakukannya  (haji) juga?”

Dia menjawab, “Ya.”

Bisyr  berkata,  ”Pergilah, berikan dua ribu dirham itu kepada sepuluh kelompok manusia ini: orang yang berutang  agar dia dapat membayar utang-utangnya; orang miskin agar dia dapat bangkit kembali; orang yang  menanggung  pemeliharaan  anggota keluarga  yang  banyak agar mereka tercukupi keperluannya; dan pengasuh anak yatim agar dia dapat  menggembirakan  mereka. Kalau hatimu kuat, berikanlah uang itu kepada salah satu kelompok  tersebut, karena  sesungguhnya  usahamu  untuk menggembirakan hati seorang Muslim, memberikan pertolongan kepada orang yang bersedih hati,  menyelamatkan orang  yang sedang  dalam  keadaan  berbahaya, memberikan  bantuan kepada orang yang lemah, adalah lebih baik daripada seratus kali haji yang  dilakukan setelah haji wajib dalam Islam. Berdirilah dan berikanlah uang itu kepada mereka sebagaimana  kami memerintahkan  kepadamu.  Jika tidak, maka katakanlah apa yang terdetik di dalam hatimu?”

Dia menjawab, “Wahai Abu Nashr, perjalananku lebih kuat  dalam hatiku. “

Bisyr   lalu  tersenyum,  kemudian  mendekatinya  dan  berkata kepadanya:  ”Harta  kekayaan  yang  dikumpulkan  dari  kotoran perniagaan  dan  syubhat,  membuat  hawa  nafsu  bertindak  di dalamnya untuk memamerkan amal  shalehnya  Padahal  Allah  SWT telah  berjanji  kepada  diri-Nya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya.”

“… Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 127). 

Dalam kajian Fiqih prioritas ini, nampak sekali  kedalaman ilmu Al-Qaradhawi. Dari susunan atau sitematika penulisan, ia mencoba mengklasifikasikan prioritas-prioritas/aulawiyat dengan cukup mendetail. Ia menulis pembahasannya menjadi beberapa bab besar. 

Pertama, prioritas dalam bidang ilmu dan pemikiran. Di sini ia menulis prioritas ilmu atas amal, prioritas kelayakan pada urusan kepemimpinan, keutamaan bagi da’I dan pengajar, keutamaan pemahaman atas hapalan, keutamaan substansi atas zhahir, prioritas ijtihad daripada taklid, prioritas studi analisa dalam urusan dunia, prioritas dalam pendapat –pendapat fiqih.

Kedua, prioritas dalam urusan fatwa dan dakwah. Di sini ia menulis tentang prioritas mempermudah urusan dari pada mempersulit,  prioritas perkara yang penting disegerakan, prioritas perubahan fatwa sesuai dengan perubahan zaman.

Ketiga, prioritas dalam bidang amal. Ia menulis tentang prioritas amal yang kontinu atas amal yang terputus, prioritas amal yang manfaatnya dirasakan banyak orang atas amal individual, prioritas amal pada zaman fitnah,  prioritas amal hati dari pada amal anggota badan. Perbedaan fadilah amal sesuai masa, tempat, dan keadaan. Prioritas amal duniawi dan prioritas amal ibadah.

Keempat, prioritas dalam perintah-perintah. Di sini dengan cermat Al-Qaradhawi memilahnya menjadi, prioritas usul (Pokok) atas furu’ (cabang), prioritas faraidh atas nawafil, prioritas fardhu ain atas fardhu kifayah, prioritas hak hamba atas hak Allah semata, prioritas hak jamaah atas hak pribadi.

Kelima, prioritas dalam perkara-perkara yang terlarang. Di sini Al-Qaradhawi membahas tingkatan-tingkaytan kekufuran, perbedaan dosa besar dan kecil, munafiq, dan penyakit-penyakit hati.

Keenam, prioritas dalam bidang reformasi. Ia membahas tentang tantangan harakah dakwah terkini dan efektifitas amar ma’ruf  nahi mungkar. Ia juga mengulas tentang manakah yang lebih penting untuk didahulukan antara tarbiyah  (mendidik) masyarakat dengan pemahaman Islam yang benar atau mengkampanyekan penegakan syariat secara frontal. Dalam hal ini ia memilih cara yang pertama.

Ada baiknya penulis mencantumkan satu pembahasan dalam buku Fiqih Prioritas, yaitu pada pembahasan Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata.

Jika  fardhu ain harus didahulukan atas fardhu  kifayah,  maka sesungguhnya  dalam  fardhu ain juga terdapat beberapa tingkat perbedaan prioritas. Oleh  karena  itu,  kita  sering  melihat ajaran  agama ini menekankan hukum-hukum yang berkaitan dengan hak hamba-hamba Allah.

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat  diberi  toleransi,  dan  berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang  ulama  yang berkata,  ”Sesungguhnya  hak  Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun  di  atas  aturan  yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang  hukumnya  juga  wajib;  maka  yang  harus didahulukan  ialah  kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan  ibadah  haji  sampai dia  membayar  utangnya;  kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai  piutang,  atau  dia  meminta  pembayaran utang  itu  ditunda,  dan  dia  meyakinkannya  bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

Untuk kepentingan hak hamba-hamba di sini –khususnya hak yang berkaitan  dengan  harta  benda–  maka  benarlah  hadits yang berbicara tentang mati syahid (suatu tingkat    kematian  yang paling  tinggi derajatnya, dan dicari oleh orang Islam sebagai upaya pendekatannya  kepada  Tuhannya)  bahwa  kesyahidan  itu tidak menggugurkan utang darinya, kalau dia mempunyai utang.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan,

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  ”Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  ”Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.”(HR. Muslim)

Yang lebih mengherankan lagi ialah sabda Nabi saw,

“Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piatang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya.” (HR. Ahmad, Nasa’I, dan Al-Hakim) 

Kesimpulan 

Dalam setiap buku kajian harakah dan pemikiran yang ditulisnya, Al-Qaradhawi tidak pernah luput mengkampanyekan gagasan Islam moderat yang arif. Moderat dalam beragama dalam arti tetap dalam koridor syariat, tidak terjebak dalam ektrimisme atau terjerembab dalam liberalisasi. Ia membuka pintu ijtihad bagi ahlinya, membuang kejumudan dan mengajak kepada inovasi, mengedepankan toleransi dan menghindari perpecahan, memprioritaskan substansi nash dari pada terjebak dalam faham zhahiri, menutup pintu fanatisme golongan dan mengajak kepada ukhuwah Islamiyah. 

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengusung moderatisme Islam karena ia adalah alumni Al-Azhar. Al-Azhar sendiri masyhur sebagai institusi yang paling terdepan mengkampanyekan moderatisme. Oleh beliau dan para Azhariyun lainnya, beragama secara moderat adalah tuntutan Islam itu sendiri. Tidak saja dalam urusan ibadah, namun mencakup segala bidang, termasuk juga akidah. Inilah jalan yang ditempuh oleh para salaf yang disebut kaum ahlussunnah wal jamaah. 

Berbeda dengan ulama kontemporer lainnya, Dr. Yusuf  Al-Qaradhawi menurut penulis memiliki keunggulan dan ciri khas tersendiri dalam setiap buku yang ditulisnya. Di samping karena kemudahan bahasa yang dipakainya, analisa yang tajam namun berdalil, uraian yang panjang dan komprehensif, walaupun sedang mengkritisi pendapat orang lain. masih tetap santun. Inilah yang membuat syaikh ini tetap disegani oleh siapapun. Tidak heran bila oleh banyak kalangan, syaikh Al-Qaradhawi ditasbihkan sebagai pemikir terbesar dewasa ini.

Kajian fiqih prioritas adalah satu dari beberapa solusi atas keterpurukan ummat dewasa ini. Syaikh ingin membantu membangkitkan kesadaran ummat bagaimana cara beragama yang benar, mana perkara yang harus didahulukan, mana yang lebih pantas untuk ditinggalkan, dan bagaimana bersikap seharusnya terhadap sesama manusia.

* Penulis adalah : PENGASUH PONPES DARUL MUHIBBIN NW MISPALAH PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NTB.

Article source: http://www.ctpost.com/news/article/Egypt-military-signals-support-for-president-3782486.php


Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Fiqih Prioritas - LOMBOKita