Showing posts sorted by relevance for query hasutan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query hasutan. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Friday, January 25, 2013

Ormas Islam Demo Kecam Penghancuran Masjid

MEDAN, KOMPAS.com — Massa yang terdiri dari aliansi organisasi masyarakat Sumatera Utara Pembela Masjid mengecam keras penghancuran Masjid Raudhatul Islam dan Madrasah Al-Chairiyah. Massa menuding penghancuran tersebut merupakan upaya memecah belah persatuan umat Islam dan elemen anak bangsa, Jumat (25/1/2013).

Kecaman itu disampaikan massa saat berunjuk rasa di depan Hotel Emerald Garden, Jalan Putri Hijau, Medan. Hotel tersebut, menurut massa, merupakan simbol istana para kapitalis. Massa memaksa masuk ke hotel yang diduga milik pengembang yang menghancurkan masjid mereka. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong antara massa dan petugas kepolisian antihuru-hara. Namun, massa masih dapat dihalau sehingga tidak sampai masuk ke hotel tersebut.

Koordinator aksi, Indra Buana Tanjung, dalam orasinya mengatakan, penghancuran masjid bertentangan dengan Undang-Undang Wakaf dan syariat Islam. “Kami menyayangkan sikap tidak profesional dan proporsionalnya aparat keamanan dalam menyikapi kasus penodaan agama dan penghancuran masjid. Aparat lebih membela dan mendukung kapitalis,” katanya.

Massa mendesak agar PT Jati Masindo mengembalikan masjid-masjid yang sudah dihancurkannya di Kota Medan. Massa juga meminta semua pemimpin daerah melindungi masjid demi kelangsungan kehidupan beragama dan mengimbau seluruh elemen anak bangsa agar tidak mudah terprovokasi oleh hasutan kapitalis.

“Pintu negosiasi sudah tertutup. Kami minta masjid kami didirikan lagi. Kami rindu mati syahid,” teriak Indra lagi.

Sebelumnya, dua kelompok massa bentrok terkait konflik lahan Masjid Raudhatul Islam yang sempat diruntuhkan pengembang, Rabu (23/1/2013). Sempat terjadi aksi saling lempar batu antara ratusan kelompok massa penentang penghancuran masjid yang terdiri dari sejumlah ormas dengan massa yang mengenakan atribut Ikatan Pemuda Karya (IPK). Tidak ada korban jiwa ataupun luka akibat bentrok ini.

Penghancuran dan pemindahan Masjid Raudhatul Islam oleh pengembang properti PT Jati Masindo beberapa tahun lalu terus mendapat tentangan sejumlah ormas. Mereka menyatakan lahan masjid itu tidak bisa dihancurkan atau dipindahkan tanpa cara yang benar karena berstatus wakaf dan memiliki sertifikat wakaf.

Gabungan ormas ini pun kembali mendirikan masjid di pertapakan yang sudah diratakan. Tepat masuk waktu shalat ashar, seluruh massa aksi melaksanakan shalat berjemaah dan mengajak aparat yang berjaga-jaga untuk ikut melaksanakan shalat.






Article source: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=39373


Ormas Islam Demo Kecam Penghancuran Masjid

Wednesday, August 7, 2013

Diserang seratus kali setahun

Beginilah nasib Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Rumah Tuhan ini kerap kekurangan jamaah lantaran tentara Israel mensortir kaum muslim boleh salat di sana.


Kondisi ini kian diperparah oleh serbuan dari kelompok Yahudi radikal. Hasil penelitian oleh Al-Aqsa Foundation for Endowment and Heritage menyebutkan selama 2011 kompleks Al-Aqsa diserang seratus kali.


Serangan itu beragam jenisnya. Mulai dalam bentuk fisik atau tindakan mengancam kesucian dan keamanan masjid pernah menjadi kiblat orang Islam sejagat ini, seperti dilansir International Solidarity Movement Februari tahun lalu. Studi itu itu juga menemukan banyak pernyataan provokatif dan hasutan buat menghancurkan tempat paling suci ketiga bagi kaum muslim setelah Masjid Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.


Laporan dari Yayasan Al-Aqsa ini menyebutkan sepanjang 2011 sekitar lima ribu orang Israel, termasuk pemukim Yahudi dan anggota kelompok militan, pernah menyerbu masuk ke dalam masjid. Padahal, mereka diharamkan masuk ke sana. Mereka menggelar ritual terang-terangan atau secara sembunyi serta membawa lembaran Toha ke dalam Al-Aqsa.


Pejabat intelijen, pemerintah, dan tokoh politik Israel juga makin banyak datang ke masjid. Lebih dari 200 ribu pelancong non-muslim juga dibolehkan memasuki Masjid Al-Aqsa. Beberapa di antara mereka berpakaian tidak sopan.


“Selama 2011, militer Israel melarang 3,7 juta warga Palestina dari Jalur Gaza dan Tepi Barat buat memasuki Al-Aqsa,” tulis laporan itu. Israel berencana membangun sebuah proyek disebut “Taman Talmud” berisi pusat-pusat hiburan dan mal di sekeliling Al-Aqsa. Belum lagi banyak permukiman Yahudi ilegal berdiri di sekitar sana.












Article source: http://www.rancahpost.com/2013086047/menikah-dengan-jenderal-alasan-bella-saphira-masuk-islam/


Diserang seratus kali setahun

Monday, December 30, 2013

Selebrasi Hormat Ala Nazi Anelka Berujung Sanksi

TRIBUNNEWS.COM – Gara-gara gerakan selebrasi ala Nazi, Nicolas Anelka terancam hukuman dari Asosiasi Sepak Bola Inggris. Mantan striker timnas Prancis yang memperkuat klub West Bromwich Albion melakukan gerakan anti-semit saat merayakan gol yang dicetaknya pada pertandingan melawan West Ham United, di Upton Park-London, Sabtu (28/12/2013).


Usai mencetak gol, Anelka berlari ke sisi kanan gawang lawan. Kemudian tangan kiri dilipat dan diarahkan di dekat dada, sedangkan tangan kanan lurus mengarah ke depan namun pada posisi agak ke bawah.


Gerakan yang dilakukan tersebut cukup dikenal di Prancis. Di sana, gerakan itu disebut dengan istilah ‘la quenelle’. Sebuah gerakan dengan menempatkan tangan kiri memegang lengan kanan, sedangkan tangan kanan mengarah ke bawah itu juga dikenal sebagai gerakan hormat Nazi-terbalik.


Anelka melakukan gerakan selebrasi itu pada saat dia mencetak gol pertama dari dua gol yang dibuatnya pada pertandingan yang hasil akhirnya imbang 3-3 tersebut. Gerakan tersebut dilakukan Anelka karena terinspirasi oleh gerakan yang dipopulerkan oleh komedian asal Prancis, Dieudonne M’bala M’bala.


Pelawak teman Anelka itu mendapat kecaman karena pikiran dan pemahamannya yang dinilai termasuk kelompok sayap kanan. Dia juga sudah untuk memberikan penjelasan terkait dia yang dianggap anti-Semit.


Baru-baru ini, gerakan itu juga mendapat tanggapan serius dari Menteri Dalam Negeri Prancis, Manuel Valls. Dia menyebut gerakan tersebut sebagai isyarat anti-Yahudi.


Valls mengatakan dia akan melakukan apa pun untuk mencegah Dieudonne mengkampanyekan gerakan yang dinilai rasis karena termasuk anti-Semitis (anti Yahudi).


Dieudonne merupakan teman Anelka. Dia menyebut gerakan itu sebagai simbol anti kemapanan. Gara-gara “kreativitasnya” membuat gerakan itu dalam aksi komedinya, dia harus berhadapan dengan pengadilan Prancis.


Dukungan buat Dieudonne juga mengalir dari masyarakat, mereka bahkan sengaja secara bersama-sama melakukan gerakan yang biasa dilakukan Dieudonne pada saat di Pengadilan. Sedangkan bentuk dukungan Anelka pada Dieudonne adalah dengan membuat gerakan yang sama sebagai selebrasi usai mencetak gol.


Karena dipicu ulah Anelka, Menteri Olahraga Prancis, Valerie Fourneyron pun merasa perlu ikut berkomentar. Malam hari setelah terjadinya selebrasi Anelka itu menilai selebrasi yang dilakukan Anelkan itu sebagai sebuah gerakan yang ‘provokatif, mengejutkan, dan menjijikkan’. Dia menambahkan: ‘Anti-Semitisme dan hasutan untuk kebencian tidak memiliki tempat di lapangan sepak bola,” seperti dilansir Dailymail.


Anelka yang merupakan pemain sepak bola berusia 34 tahun itu adalah pemain yang lahir di Paris. Dia telah masuk Islam pada tahun 2004. Perubahan yang terlihat dari penampilannya sekarang adalah dia tetap memelihara janggut, sebuah kebiasaan yang jarang dilakukan oleh banyak pemain sepak bola.


Usai pertandingan, dia tidak segera mengomentari kehebohan atas sikapnya itu. Keith Downing, Manajer sementara Albion, menjelaskan apa yang dilakukan oleh striker nya itu hanya untuk menunjukkan dukungan dia kepada seorang teman.


Dia ingin ikut mendongkrak popularitas temannya yang seorang komedian itu dengan ikut melakukan gerakan yang dipopulerkan oleh temannya itu.


“Dia (Anelka) melakukan itu sebagai bentuk dedikasi untuk seorang komedian Prancis yang dia kenal sangat baik. Ini adalah bentuk dari candaan komik yang diungkapkan dengan sebuah gerakan, ” kata Downing.


Setelah ramai jadi sorotan, Anelka pun akhirnya merasa perlu untuk memberikan penjelasan terhadap selebrasi yang dilakukannya itu. Dia mengungkapkan itu melalui akun twitternya untuk konfirmasi.


“Gerakan ini hanya sebuah gerakan yang saya dedikasikan khusus untuk teman saya yang seorang pelawak, Dieudonne’,” katanya. (*)


Article source: http://sidomi.com/251469/foto-istri-muda-anis-matta-szilvia-fabula-asal-hungaria/


Selebrasi Hormat Ala Nazi Anelka Berujung Sanksi

Saturday, October 19, 2013

Menilai tragedi di tanah Arab

HAMPIR setiap hari sejak beberapa tahun lalu, kita akan melihat dan mendengar berita sedih tentang konflik di Syria dan Mesir. Apa yang berlaku di kedua-dua buah negara ada kaitannya dengan beberapa peristiwa penting sebelum ini khususnya 40 tahun dahulu. Pada 6 Oktober 2013, genaplah 40 tahun terjadinya Perang Arab-Israel 1973 (PAI 73) atau Perang Ramadan atau juga dikenali sebagai Perang Yom Kippur. Perang tersebut bermula dalam bulan Ramadan dan hari yang sama adalah Hari Yom Kippur iaitu hari mulia kaum Yahudi ketika mereka sedang bercuti meraikannya.


Rencana ini bukanlah bertujuan untuk membincangkan strategi ketenteraan semata-mata, namun sebagai perkongsian maklumat sejarah kepada generasi muda mengenai kekacauan di rantau Arab yang tidak berkesudahan sehingga ke hari ini. Berlakunya PAI 73 adalah rentetan daripada Perang Arab Israel Ke-3 pada tahun 1967 yang mana Israel telah merampas Gaza, Bukit Golan, Tebing Barat (Baitulmaqdis) dan Semenanjung Sinai daripada negara-negara Islam. Presiden Mesir ketika PAI 73 ialah Anwar Sadat, Syria dipimpin oleh Hafez Assad dan Perdana Menteri Israel adalah Puan Golda Meir.


Manakala Menteri Pertahanan Israel yang hampir-hampir dimalukan ketika PAI 73 adalah Moshe Dayan yang juga digelar “si mata satu”. Banyak buku dan sumber mengenai perang ini ditulis oleh sarjana Barat yang cenderung untuk memperlihatkan tentera Islam lemah, tidak bersatu dan mudah dikalahkan. Adakah dahulu negara-negara Arab semuanya lemah? Atau hanya mainan persepsi Barat seperti apa yang berlaku hari ini.


Pada petang bulan Ramadan 6 Oktober 1973, Tentera Udara Mesir mula membuat serangan udara diikuti serangan meriam artileri darat bertalu-talu dari seberang Terusan Suez ke arah Semenanjung Sinai yang ditakluki Israel. Setelah 15 minit, barulah askar infantri dan komando Mesir menyeberangi Terusan Suez dengan diiringi laungan takbir oleh beberapa askar yang membawa pembesar suara. Mesir mempunyai kekuatan kereta kebal sebanyak 2,200 buah, Syria 1,650 buah dan Israel 2,100 buah. Imbangan pesawat pejuang pula didahului oleh Mesir sebanyak 400 buah, Israel 359 buah dan Syria 280 buah.


Antara negara-negara Islam yang serius membantu Mesir berperang ialah Iraq, Tunisia dan Libya. Iraq menghantar satu skuadron jet pejuang Hawker Hunter buatan British khusus untuk memusnahkan kereta-kereta kebal Israel. Tunisia menempatkan 900 askar infantrinya bagi mempertahankan Port Said dan Libya sejak sebelum PAI 73 meletus lagi membantu pertahanan Mesir dengan kekuatan satu briged kereta kebal dan dua skuadron jet pejuang Mirage V buatan Perancis. Iraq turut membantu Syria dalam perang ini dengan menghantar 30 ribu tentera darat yang dilengkapi 500 buah kereta kebal dan 700 buah kenderaan berperisai.


Senjata rahsia


James R. Schlesinger, Setiausaha Pertahanan A.S. ketika itu mengakui perancangan teliti dan strategi cemerlang Mesir serta Syria. Cuba kita renungkan apakah nasib negara-negara yang membantu Mesir dan Syria (40 tahun dahulu) iaitu Iraq, Tunisia dan Libya selepas berlakunya Arab Spring? Adakah dendam lama ini berkaitan dengan pihak-pihak tertentu yang menghasut rakyat negara-negara tersebut sebelum Mesir dan Syria pula hendak dihancurkan?


Setelah diserang secara mengejut dan bertubi-tubi oleh Mesir dan Syria, Israel pada 9 Oktober 1973 mengugut AS bahawa mereka akan menggunakan senjata rahsia simpanan Israel iaitu bom nuklear, jika tidak menerima bantuan ketenteraan daripada negara Uncle Sam itu. Presiden Nixon yang bimbang akan campur tangan Kesatuan Soviet di rantau Arab akhirnya melancarkan Operasi Nickel Grass untuk menghantar beberapa buah kereta kebal, pesawat pejuang dan lain-lain peralatan pertahanan kepada Israel.


Selain bantuan kelengkapan serta peluru berpandu, AS turut menerbangkan pesawat pengintip strategik jarak jauhnya, SR-71 bagi memantau pergerakan tentera darat dan udara Mesir. Hasil daripada bantuan A.S. inilah Israel pada 14 Oktober 1973 telah berjaya menyusup masuk ke Mesir dengan menyeberangi Terusan Suez menuju ke Kaherah. Henry Kissinger, Setiausaha Luar AS turut mencadangkan kepada Israel agar mara menyerang ibu kota Syria, Damascus. Mungkinkah sejarah akan berulang kembali? Persoalannya sama ada Israel atau AS sendiri yang akan mengebom Damascus.


Selain daripada AS, Israel turut mendapat bantuan daripada salah seorang pemimpin Arab iaitu Raja Hussein, pemerintah Jordan. Berdasarkan buku tulisan Abraham Rabinovich bertajuk The Yom Kippur War: The Epic Encounter That Transformed The Middle East, beberapa hari sebelum bermulanya PAI 73, Raja Hussein telah menaiki helikopter Tentera Udara Diraja Jordan bertemu dengan Golda Meir, Perdana Menteri Isreal di Tel Aviv. Beliau telah memberitahu Meir mengenai serangan yang bakal dilaksanakan oleh Syria dan Mesir.


Buku itu turut menyatakan Raja Hussein tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuan jeneral-jeneral Syria dan Mesir yang sebangsa dengan beliau untuk berperang menentang Israel. Walaupun Raja Hussein menghantar tenteranya membantu Syria, namun ia bukanlah bantuan yang serius. Sedangkan Jordan berkongsi sempadan yang panjang dengan Israel selain telah melepaskan Tebing Barat dan Baitulmaqdis yang menjadi milik Jordan sebelum perang tahun 1967. Jika Jordan menyertai PAI 73 secara bersungguh-sungguh, mungkin situasi di Asia Barat akan menjadi berbeza kini.


Setelah melihat AS gigih membantu Israel menentang Mesir dan Syria, Kolonel Muammar Gadafi, Presiden Libya telah memberhentikan sepenuhnya eksport minyak kepada AS pada 19 Oktober 1973. Sehari berikutnya Arab Saudi di bawah naungan Raja Faisal, Kuwait, Qatar, Bahrain dan beberapa negara Arab lain turut mengikut jejak langkah Libya.


Ketika itu mereka bersatu menentang musuh yang sama. Menurut Edgar O’ Ballance, seorang pengkaji pertahanan warganegara United Kingdom, ketika PAI 73, Israel hampir-hampir tidak mendapat sebarang bekalan minyak daripada laut akibat disekat oleh Tentera Laut Mesir. Sekatan minyak dari laut ini benar-benar mengajar Israel tentang perlunya penguasaan bekalan minyak untuk jangka masa panjang. Ia juga ada kaitannya dengan harga minyak dunia kini.


Pengajaran


Namun secara senyap-senyap Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi tetap menjual minyak kepada Israel sejak sebelum PAI 73 lagi. AS dan kuasa-kuasa besar dunia lain telah mengambil pengajaran atas apa yang berlaku selepas PAI 73 untuk menguasai dan mengawal pasaran minyak dunia. Negara-negara pengeluar minyak utama seperti Iraq menjadi tumpuan untuk dikuasai secara halus atau melalui peperangan. Sebab itu Iraq tetap diserang pada Mac 2003 walaupun tidak mendapat sokongan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).


Selepas beberapa kali berunding, akhirnya Mesir dan Israel menandatangani perjanjian damai pada 17 September 1978. Perjanjian itu dipanggil Perjanjian Kem David atas inisiatif Presiden AS, Jimmy Carter. Sejak sebelum PAI 73 sehingga hari ini, Syria diketahui tidak pernah menandatangani apa-apa perjanjian rasmi dengan Israel. Anwar Sadat, Raja Faisal (Arab Saudi) dan Muammar Gadafi kesemuanya mati dibunuh oleh bangsa mereka sendiri.


Syria sejak dari dahulu sehingga kini mengekalkan hubungan baik dengan Rusia dan menggunakan pelbagai senjata buatan negara bekas empayar komunis tersebut. Berbanding tentera Mesir sebelum PAI 73 yang menggunakan kelengkapan ketenteraan Rusia, mereka telah beralih arah kepada AS selepas PAI 73 sehingga kini.


Jika dahulu Tentera Mesir dan tentera Syria melaungkan takbir ketika berperang menentang perampas tanah mereka, kini mereka bertakbir sambil berbunuhan sesama bangsa sendiri. Anasir asing tidak memerlukan kereta kebal atau jet pejuang untuk memusnahkan Mesir dan Syria. Apa yang perlu hanyalah demonstrasi jalanan, rusuhan, penyebaran hasutan dalam Internet, kebebasan bersuara tanpa had, kebencian terhadap sesama bangsa, ketaksuban kepada pemimpin tertentu dan undangan kepada pihak luar untuk menyelesaikan masalah dalaman negara.


Apakah umat Islam di Malaysia masih tidak mengambil pengajaran atas apa yang berlaku di Mesir dan Syria?



Article source: http://www.tribunnews.com/internasional/2013/10/19/penghina-islam-itu-kini-naik-haji


Menilai tragedi di tanah Arab

Wednesday, January 9, 2013

LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Jakarta, GATRAnews – Lian Gogali menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Usahanya yang menginspirasi dan tanpa lelah mengantarkannya menjadi penerima Coexist Prize. —

Kota Poso yang terik, awal November lalu, sekitar 50 ibu-ibu berkerumun di bawah tugu Jam Kota Poso, yang terletak di Jalan Kalimang. Mereka membawa poster kertas putih bertulisan ajakan agar menciptakan perdamaian di kota yang pernah terpecah oleh konflik selama hampir satu dekade itu. ”Kami Perempuan Poso Ingin Damai”, ”Ciptakan Poso yang Bebas dari Ketakutan”, ”Damai Tak Butuh Kekerasan”, begitu beberapa kalimat dalam poster yang dipertontonkan para perempuan setengah baya itu.

Mereka juga meneriakkan yel-yel agar perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan, sembari membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Seorang peserta aksi kadang memberikan seruan dan disambut balasan teriakan, ”Sintuwu maroso,” yang berarti bersatu dan kuat. ”Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kasus agama. Kekerasan Poso adalah bentuk kegagalan pemerintah, dan kami menolak segala bentuk kekerasan,” begitu pesan aksi damai itu yang dibacakan Lina Laando, koordinator lapangan.

Ibu-ibu pendemo dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage, dan wilayah Tentena itu memang ingin kampung mereka damai, tak ada pertikaian lagi. Sejak ada konflik horizontal sekitar tahun 2000, hingga yang paling terbaru adanya pembantaian warga oleh oknum tak bertanggung jawab, akhir Agustus lalu, Poso memang seperti tak henti dirundung teror.

Trauma itu membuat perempuan Poso tenggelam dalam ketakutan. Jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Namun hari itu para perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu itu sudah tak punya rasa takut untuk bersuara.

Ketakutan yang kini berganti menjadi kekuatan itu adalah salah satu hasil usaha panjang perempuan bernama Lian Gogali. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, ini tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Konflik telah memicu saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga.

Ketika konflik Poso pecah, keluarga Lian menjadi korban. Harta dijarah, rumah juga dihancurkan oleh api dan banyak yang terluka. Pada saat itu, Lian sedang belajar untuk meraih gelar master di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. Dia sempat pulang ke rumahnya, menyaksikan dan mengalami langsung getirnya konflik yang terjadi. Meski sedih, dia menyatakan tidak memegang dendam. Ia pun kemudian memutuskan menulis tentang resolusi konflik untuk tesisnya.

Maka, pada 2002-2004, Lian melakukan penelitian di beberapa wilayah pengungsian saat konflik Poso. Ia mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak. Selama penelitiannya itu, Lian menemukan bahwa perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Seperti di masa lalu, selama konflik, sayuran, buah, dan lauk memiliki “agama”. Kristen menolak ikan yang berasal Poso Timur karena takut diracun. Sebaliknya, umat Islam di Poso menyingkirkan sayuran dari permukiman Kristen. Tapi para wanita tidak peduli. Bagi mereka, ini adalah masalah bertahan hidup. Suami dan anak-anak butuh makan.

Ratusan wanita juga membantu satu sama lain selama bentrokan. Seorang ibu muslim di Lage menyembunyikan wanita Kristen selama serangan. Di sisi lain, para pengungsi muslim menerima makanan dari pengungsi Kristen.

Dalam penelitian itu, Lian juga menemukan sesuatu yang kelak mengubah jalan hidupnya. Saat itu, seorang responden bertanya kepadanya, ”Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lian tersadar. Pertanyaan itu selalu diingatnya, bahkan setelah dia kembali ke Yogya untuk menyempurnakan tesisnya. “Saya memutuskan kelak kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dan, memang, begitu kuliahnya kelar sekitar tahun 2009, Lian memilih bekerja pada Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator sekolah perempuan (SP) yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapat, Lian memutuskan membuat SP sendiri. “Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Lalu didatangilah desa-desa di Poso, bertemu para wanitanya, untuk mengenal karakter mereka. Waktu itu, Lian sudah berketetapan hati untuk mengajar perempuan berpenghasilan rendah serta kelompok-kelompok minoritas yang tidak memiliki akses terhadap gender dan pengetahuan soal membangun perdamaian. Dia sengaja tak minta rekomendasi dari aparat desa atau tetua desa. Sebab biasanya dia diarahkan kepada pribadi-pribadi yang punya pamrih, bukan mereka yang benar-benar ingin memperbaiki diri.

Jadi, ada beberapa kriteria calon muridnya waktu itu. Pertama, mereka harus memiliki visi perdamaian inklusif dan keadilan. Mereka juga harus memiliki kemauan berjuang untuk orang lain. Lian pun mengutamakan muridnya adalah para korban kekerasan, karena mereka memiliki akses terbatas pada informasi dan biasanya tak berdaya.

Dengan dana yang terbatas, pada 2011 Lian bisa menyelenggarakan sesi awal SP Mosintuwu di teras rumah kontrakannya di Pamona. Sebuah ruang besar terbuka dengan dinding kayu. Angkatan pertama SP ini, kata Lian, awalnya sekitar 80 orang saja, terdiri dari umat Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Semuanya ibu rumah tangga biasa, lulusan SD, maksimal SMP. Mereka juga diajari menonton film bersama, bermain peran, mengunjungi rumah ibadah, dan sebagainya.

***

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan lancar. Pertemuan pertama diawali tatapan mata saling curiga. Beberapa peserta juga ada yang tidak memiliki komitmen dan meninggalkan kelas. Mosintuwu yang berarti hidup bersama ini pun mengembangkan kurikulumnya sendiri di sekolah itu. Akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, dan perempuan diundang untuk duduk bersama mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas kurikulum dielaborasi oleh Lian dan dibantu Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivis sosial di Tentena.

Meski tertatih, lambat laun sekolah itu bisa digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan kemudian dilengkapi dengan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Ternyata dana dari Belanda itu sangat berguna. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuannya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana. Lian pun bersiap memperluas jaringannya. Apalagi, bila hanya membuka di Pamona, program pemulihan konflik berlatar keyakinan ini tak akan efektif.

Lian akhirnya dengan cepat bisa mendirikan SP setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Namun, karena keterbatasan dana, tempat mengajar ini juga sederhana. Lian sudah biasa mengajar di rumah-rumah penduduk dan teras mereka, bahkan di ladang. Untuk menjaga semangat para perempuan itu, Lian rutin berpatroli ke tiap desa.

Saking semangatnya, ia pernah mengalami kecelakaan hingga perlu menggunakan kruk. Kakinya patah dan menderita infeksi. Dia sempat menjalani sembilan kali operasi. Namun ibu satu anak ini tetap bersemangat. Ia senang murid-muridnya menemukan ruang yang aman dan terbuka untuk berbicara.

Awalnya memang tak mudah menggandeng para perempuan itu. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” kata Lian. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarangnya. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi, jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan.

Hasil tempaan Lian memang luar biasa. Pada upacara wisuda angkatan pertama di Tentena, lulusan Mosintuwu sepakat untuk mengabdikan diri bagi masyarakat dengan membangun sebuah rumah untuk perlindungan perempuan dan anak.

***

SP Mosintuwu kini memiliki delapan modul kurikulum dan yang bisa diselesaikan dalam 10 bulan. Mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender dan isu-isu politik, berbicara di depan umum dan pembangunan ekonomi. Melalui kurikulum ini, para anggota diminta menghilangkan praduga, kecurigaan, trauma, dan dendam, membangun kepercayaan diri serta saling percaya, dan meningkatkan kerja sama.

Tahun ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize, yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya, merendah. Lian terpilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Dalam penjelasan resmi di website Coexist Foundation disebutkan bahwa Coexist Prize baru pertama kali diadakan pada 2012 ini. Para juri memilih enam nominator sebagai finalis. Hingga akhirnya, juri berkeputusan bulat memilih Lian sebagai penerima Coexist Prize. ”Lian Gogali menjadi pemenang karena dia contoh terbaik dari sebuah pengalaman pribadi dan sebuah proyek yang menginspirasi,” kata David Ford, profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mewakili para juri.

Saat menerima hadiah senilai US$ 100.000 itu, Lian Gogali menuturkan bahwa Coexist Prize yang diterimanya adalah penghargaan untuk semua perempuan dan anak-anak yang selama ini bekerja bersama-sama dengannya dalam segala keterbatasan untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Termasuk untuk semua pihak yang tetap percaya dan terus berjuang bagi kesetaraan, untuk perdamaian dan keadilan, melalui gerakan interfaith.

Coexist merupakan yayasan yang sejak 2006 mengupayakan pendekatan antar-keyakinan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, juga masyarakat lain, melalui pendidikan, dialog, dan penelitian. Penghargaan buat Lian itu adalah sebuah pengakuan atas usahanya membangun perempuan Poso menjadi bagian terbaik dalam mereduksi pengaruh hasutan ideologi kebencian.

Kini, setelah satu langkah dilalui Lian, ada satu harapan lagi yang ingin dia wujudkan. Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini dimaksudkan untuk membuka ruang bicara perempuan Poso serta akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya pun ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” katanya. (Mukhlison S. Widodo dan Rach Alida Bahaweres)


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso