Showing posts sorted by relevance for query dibandingkan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query dibandingkan. Sort by date Show all posts

Sunday, January 5, 2014

Islam Bertahan di Kolombia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Para imigran Muslim bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera.

Kolombia terkenal sebagai negara berkembang yang banyak terjadi kriminalitas. Adanya kartel narkoba yang besar dan terpelihara hingga kini memperburuk kondisi negara yang berada di Amerika Selatan ini.


Namun, di antara hiruk pikuk kehidupan warganya, ada eksistensi dari umat Muslim yang selalu berusaha untuk menunaikan semua ibadahnya, hidup dengan damai, dan terus berdakwah.


Awal mula Muslim yang tinggal di wilayah ini adalah para imigran yang berasal dari negara-negara Timur Tengah sekitar akhir abad ke-19.


Kemudian, disusul para imigran yang berasal dari Asia Selatan dan kini juga banyak warga lokal yang tertarik menjadi mualaf.


Ada tiga hal yang mendorong lahirnya komunitas Muslim di negara yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa pengantar ini. Pertama, periode setelah konflik politik di negara-negara Timur Tengah.


Kedua, jatuhnya Kekaisaran Ottoman yang mendorong minoritas Arab ke tanah Amerika. Ketiga, migrasi warga Palestina setelah perang dunia kedua dan setelah penciptaan Negara Israel pada 1948 serta migrasi warga Lebanon sekitar 1960-an.


Kolombia memiliki populasi Muslim sebanyak 86 ribu jiwa yang berarti mencakup 0,2 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 42 juta orang. Kebanyakan Muslim Kolombia adalah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina.


Mereka datang ke Kolombia sekitar 1880 hingga 1960. Mereka datang karena perang yang terjadi di Timur Tengah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi dibandingkan tempat asal mereka.


Kebanyakan, para imigran pertama tampak sebagai Muslim yang taat dibandingkan dengan generasi kedua dan ketiganya. Muslim generasi pertama sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Arab antara satu dengan yang lain.


Dari tulisan Diego Castellanos yang berjudul Islam in Colombia: Between Assimilation and Exclusion, dijelaskan kehidupan Muslim di Kolombia sangatlah kompleks. Karena, budaya masyarakat lokal masih sangat kuat, tulisnya.


Muslim menjadi kaum minoritas di negara ini. Dan, melihat apa yang terjadi dalam kesehariannya, tidak terjadi proses asimilasi yang signifikan antara Islam dengan budaya masyarakat setempat. Warga asli menolak adanya proses asimilasi dengan Islam.


Tapi, justru karena inilah Islam malah bisa bertahan sesuai aslinya, berbeda dengan kedatangan agama lain, seperti Kristen Pantekosta yang mendaur ulang formasi praktik-praktik leluhur masyarakat asli Kolombia.


Kehadiran komunitas Muslim yang sudah selama 40 tahun ini menjaga eksistensinya justru memperlihatkan bahwa agama inilah yang paling luhur di antara yang lainnya, tulis Diego.


Para imigran Muslim ini justru bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera lebih layak dibandingkan warga lainnya. Ini membuat orang-orang Muslim di Kolombia, disegani.


Padahal, fasilitas, sarana, serta gaya hidup warga Kolombia sangat tidak mendukung pada eksistensi komunitas Muslim. Karena, gaya hidup warganya yang sangat menyimpang dengan ajaran Islam membuat asimilasi Islam dan budaya setempat sulit tercapai. Ini membuat penyebaran Islam mengalami hambatan yang sangat besar.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tersendat, komunitas Muslim tetap ada di sejumlah besar Kota Kolumbia. Akhir-akhir ini, terjadi fenomena yang begitu menggembirakan.


Banyak warga setempat yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam. Ini membuat jumlah jamaah di masjid-masjid di Kolombia semakin bertambah banyak. Juga, berbagai lembaga sosial Islam yang punya banyak anggota baru.


Salah satu yang menjadi alasan kuat mengapa banyak orang Kolombia memutuskan masuk Islam karena menurut mereka, berdasarkan logika Islam menawarkan sebuah kehidupan religius yang dibangun berdasarkan ketuhanan Esa dan kepercayaan adanya Tuhan di sepanjang hidupnya.


Muslim di Kolombia bisa mengembangkan karakter yang universal yang memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang bisa dipeluk oleh ras, etnis, ataupun warga negara manapun, jelasnya.


Satu hal lagi yang membuat jumlah mualaf semakin banyak di Kolombia adalah karena jalur perkawinan. Orang-orang Muslim di sana hanya mau menikahi orang Muslim juga. Ini membuat warga setempat yang jatuh cinta pada pemuda Muslim, akhirnya berani untuk masuk Islam.


Beberapa tahun terakhir Muslim Kolombia semakin terbuka untuk memperlihatkan identitas mereka, apalagi Pemerintah Kolombia tidak lagi menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara.


Para perempuan yang mengenakan jilbab dan laki-laki menggunakan baju khas masyarakat Timur Tengah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Kolombia.


Populasi Muslim Kolombia terbanyak berada di Kota Maicao, bagian dari wilayah La Guajira. Di sinilah masjid termegah se-Amerika Selatan, Omar Ibnu al Khattab, yang didirikan pada 1987 berada.


Populasi Muslim di sini diperkirakan sekitar 8.000 orang. Sayangnya, di kota ini terjadi banyak aksi kriminalitas, seperti penyelundupan, baik rokok, barang-barang elektronik, narkoba, senjata, hingga pencucian uang, sama seperti kota-kota lain di Kolombia.


Article source: http://sidomi.com/224403/rowan-atkinson-masuk-islam-mr-bean-muslim/


Islam Bertahan di Kolombia

Sunday, February 10, 2013

Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Richard Susilo *)

TRIBUNNEWS.COM - Banyak sekali orang Indonesia yang mau ke Jepang. Selain untuk belajar, mencari pengalaman kerja, serta menimba ilmu lebih banyak lagi dari negeri Sakura, tentu juga untuk memahami bahasa Jepang serta budayanya.

Namun kita sering tidak menyadari, bahwa Heiwa no Kuni (negeri damai) tersebut banyak sekali  menggunakan minyak babi, sedangkan orang Indonesia umumnya beragama Islam. Bahkan satu-satunya negara di dunia di mana McDonald menjual makanan dengan menu Po-ku Hanba-ga (Hamburger Babi), hanyalah Jepang.

Inilah yang memberatkan kaum muslim dunia tinggal di Jepang. Harus banyak memilih makanan kalau tak mau makan makanan yang diharamkan agama Islam.

Makanan adalah salah satu sumber utama kehidupan manusia. Manusia akan meninggal kalau tak makan, tapi manusia tidak akan meninggal hanya karena tidak bisa berbahasa asing. Jadi sebenarnya unsur bahasa, walaupun penting, masih kalah  penting dibandingkan makanan, khususnya bagi umat Islam yang mau ke Jepang. Hal ini jelas perlu benar-benar disadari terlebih dulu dan lebih lanjut oleh orang yang mau ke Jepang.

Permintaan Perusahaan

Dalam pertemuan dengan para pimpinan perusahaan Jepang, penulis selalu mendapatkan permintaan agar mencarikan tenaga kerja Indonesia, khususnya bagi perusahaan mereka yang ada di Indonesia, terutama yang mampu berbahasa Jepang sehingga komunikasi antara staf dengan pimpinan orang Jepang dapat berlangsung dengan baik.

Satu bukti sangat nyata bahwa memang bagi yang ingin bekerja di perusahaan Jepang, apalagi di negeri Sakura, harus bisa berbahasa Jepang agar dapat meningkatkan performance-nya lebih baik. Salah satu lembaga yang dapat direkomendasikan adalah Pandan College (www.pandan.ac.id) tidak hanya mengajarkan bahasa Jepang tetapi juga budaya, pola pikir dan cara bisnis orang Jepang dengan pengajar professional. Bahkan lulusan terbaik dari sekolah itu dijamin bisa ke Jepang.

Investasi Jepang di Indonesia saat ini memang masih sedikit sekitar 400 juta dolar AS dibandingkan 20 tahun lalu yang sekitar 4 miliar dolar AS. Jumlah investasi perusahaan Indonesia di Jepang pun sangat kecil hanya sekitar 8 juta dolar AS, paling kecil di antara negara Asean lain.

Hasil survei Jetro dan lembaga lain menunjukkan bahwa kestabilan politik dan keamanan, kepastian hukum, perburuhan (sumber daya manusia yang masih lemah, banyak unjuk rasa), infrastruktur , soal pajak (restitusi pajak tidak lancar berjalan), banyak korupsi, menjadi kendala investor Jepang masuk ke Indonesia.

Tapi lebih konkrit lagi mereka melihat soal perizinan usaha baru di Indonesia yang berbelit-belit. Belum lagi peraturan daerah satu dengan lainnya sering tidak sinkron. Misalnya ada satu kabupaten di Bali mensyaratkan perusahaan asing (PMA) yang mendirikan hotel di sana minimal harus bintang dua. Tetapi di kabupaten lain, juga di Bali, mensyaratkan minimal bintang tiga.

Proses perizinan di Indonesia mencapai 86 hari (hasil survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia [LPEM-UI] September 2007). Sementara negara lain seperti di New Zealand hanya seminggu diurus sudah selesai. Jauh berbeda bukan?

Data dari Bank Dunia (World Bank Investment Climate Surveys 2005) menunjukkan bahwa Indonesia  yang kaya dengan sumber energi dan alam ini masih kalah cepat dalam pengurusan perizinan bagi investor asing dibandingkan Moroko, Uganda, China, India dan bahkan El-Savador.

Keadaan di dalam negeri sendiri yang belum beres ini kenyataan di lapangan memang banyak dikeluhan pengusaha Jepang, “Kalau Indonesia sudah cantik berbenah diri, tak usah kampanye untuk menarik investor asing, dengan sendirinya mereka pasti datang sendiri,” papar seorang Presdir perusahaan besar Jepang kepada penulis.

Memang benar, mungkin ada baiknya kita berkaca diri dulu sebelum bertindak lebih lanjut. Jangan mau di-ninabobo-kan oleh kekayaan alam kita sendiri. Mungkin ada baiknya kita renungkan bersama menjelang peringatan 55 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang ini.
 
Informasi lengkap lihat: http://www.tribunnews.com/topics/tips-bisnis-jepang.
Konsultasi, kritik, saran, ide dan segalanya silakan email ke: info@promosi.jp

*) Penulis adalah CEO Office Promosi Ltd, Tokyo Japan, berdomisili dan berpengalaman lebih dari 20 tahun di Jepang

Article source: http://news.detik.com/read/2012/05/28/180046/1926703/10/pemalsu-ijazah-dibekuk-di-semarang-gaet-klien-di-bimbingan-belajar?9922032


Ke Jepang Bukan Susah Bahasa, Tetapi Susah Makanan Berlabel Halal

Thursday, April 4, 2013

4 PTN di Bandung Sediakan 40 Ribu Kursi

BANDUNG - Empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Bandung, Jawa Barat menyediakan sekira 40 ribu kursi untuk calon mahasiswa baru yang akan masuk melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2013.

Empat kampus negeri yang menyediakan 40 ribu kursi kosong itu yakni Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Sekretaris Eksekutif SBMPTN Panitia Lokal Bandung Asep Gana menyebutkan, jumlah 40 ribu kursi kosong yang disediakan tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu yakni 36 ribu kursi.

“Kita sediakan sekira 40 ribu, ini jauh lebih banyak dibandingkan kuota tahun lalu,” kata Asep, dalam jumpa pers di kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Bandung, Kamis (4/4/2013).

Kuota 40 ribu tersebut berdasarkan peningkatan peminat yang ingin masuk PTN yang mencapai 10-15 persen pertahunnya. Artinya, antusiasme calon mahasiswa sangat tinggi dalam mengikuti saringan masuk ke kampus negeri.

“Rincian penerimaan mahasiswa untuk program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Sos Humaniora sebanyak 15 ribu, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Saintek 15 ribu. Dan untuk Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC) sebanyak 10 ribu,” bebernya.

Pendaftaran SBMPTN 2013 sudah berlangsung sejak 15 Maret 2013 lewat online dengan mengakses www.sbmptn.or.id. Biaya seleksi SBMPTN untuk kelompok IPA dan IPS sebesar Rp175 ribu, untuk IPC Rp200 ribu, dan ujian keterampilan Rp150 ribu per jenis ujian keterampilan.

Asep mengakui ada kenaikan biaya pendaftaran. Sebab, tahun ini tidak ada subsidi dari pemerintah. Namun kelebihan pada pendaftaran kali ini satu peserta bisa memilih tiga  program studi (prodi). “Sebelumnya kan hanya dua prodi,” ujarnya.

Sementara ujian tulis akan dilaksanakan 18-19 Juni 2013, dan untuk ujian keterampilan dilaksanakan 20-21 Juni 2013. Hasil ujian ini akan diumumkan Jumat 12 Juli 2013.(ade)

Article source: http://olahraga.inilah.com/read/detail/1974292/jadi-mualaf-diego-michiels-dikhitan


4 PTN di Bandung Sediakan 40 Ribu Kursi

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Thursday, October 3, 2013

Mitos Gelombang Muslim (3)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Azyumardi Azra


Mitos gelombang Muslim begitu merasuk imajinasi sebagian masyarakat Eropa dan Amerika Utara, yang dengan instan digunakan oleh para politisi dan penulis ultra kanan. Bagi mereka, ada empat hal yang patut diwaspadai  masyarakat Barat karena bagi mereka amat mengkhawatirkan.


Pertama, pertambahan jumlah migran Muslim yang dapat berujung pada pembentukan ‘bangsa’ Muslim Barat; kedua, masalah integrasi kaum Muslim yang sangat sulit dengan lingkungan budaya lokal Barat; ketiga, privatisasi agama atau sekularisme negara-negara Barat yang justru mendapat respons balik dari masyarakat Muslim; dan keempat, tantangan kaum Muslim terhadap monokulturalisme Barat.


Adalah citra dan persepsi banyak kalangan Barat bahwa benua mereka terus ‘ditenggelamkan’ kaum Muslim. Menurut ‘teori’ atau tepatnya mitos ini, jumlah migran Muslim terus bertambah; dan pada saat yang sama keluarga Muslim terus beranak pinak secara cepat, sehingga dalam beberapa dasawarsa ke depan, kaum Muslim menjadi penduduk mayoritas Eropa dan Amerika. Begitu menjadi mayoritas–menurut mitos ini–kaum Muslim segera memaksakan Islam beserta syari’ah kepada penduduk ‘asli’ setempat yang jumlahnya merosot secara cepat.


Yang namanya ‘mitos’ tentu saja jauh daripada kenyataan. Seperti dibuktikan Saunders dalam The Myth of the Muslim Tide: Do Immigrants Threaten the West (2012) berbagai fakta tentang pertumbuhan penduduk Eropa dan Amerika Utara sama sekali jauh dari klaim tersebut. Memang pada 1950 hanya ada sekitar 300.000 Muslim di 27 negara Eropa; dan kini berkisar antara 15 sampai 20 juta atau antara tiga sampai empat persen jumlah total sekitar 405 juta penduduk benua ini.


Menurut estimasi Pew Research Center, Washington DC, jika tingkat migrasi dan pertumbuhan penduduk Muslim sekarang ini dikalikan, penduduk Muslim Eropa pada 2030 mencapai 29,8 juta (4,5 persen). Untuk AS, penduduk Muslim meningkat dari 2,6 juta pada 2010 menjadi 6,2 juta pada 2030, atau(1,7 persen jumlah total penduduk negara ini. Survei Pew Research Center ini–di samping banyak survei lain–membuktikan kemustahilan kaum Muslim menjadi mayoritas di kedua benua tersebut.


Mitos selanjutnya adalah kaum Muslim, baik generasi pertama migran maupun generasi kedua dan selanjutnya yang lahir di perantauan Eropa dan Amerika Utara sangat sulit berintegrasi dengan masyarakat lokal beserta budaya dan tradisinya. Saunders tidak menolak adanya kesulitan tersebut. Generasi pertama migran Muslim sibuk dengan usaha untuk survive; bekerja kasar apa saja yang akhirnya membuat mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Keadaan ini memengaruhi generasi kedua, yang hanya secara ‘beringsut’ lebih baik dari orang tua mereka.


Kenestapaan seperti ini terutama terjadi di Eropa. Sementara di Amerika sebaliknya–migran Muslim adalah cerita tentang kesuksesan pendidikan, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok keagamaan lain. Menurut berbagai survei, sekitar 40 persen anak muda Muslim berhasil menyelesaikan pendidikan S1 atau S2. Dengan persentase ini, anak muda Muslim hanya dikalahkan pemuda Yahudi (61 persen), tetapi jauh lebih unggul dibandingkan rata-rata pemuda Amerika yang hanya 29 persen berhasil memperoleh gelar S1 dan S2.


Meski demikian, cerita sukses dalam pendidikan tinggi ini tidak lantas berarti pemuda Islam dapat dengan mudah mencapai mobilitas ekonomi. Kajian di beberapa negara Eropa menunjukkan, begitu pemuda Muslim berpendidikan tinggi masuk lapangan kerja, mereka mendapatkan gaji lebih rendah dibanding pemuda tempatan. Padahal, pendidikan mereka lebih tinggi atau sedikitnya setara dengan pemuda ‘pribumi’, dan lagi pula mereka juga fasih berbahasa lokal yang sudah menjadi bahasa ibu mereka. Saunders menyimpulkan: “anak-anak migran Muslim menghadapi hukuman karena agama dan etnisitas mereka di pasar kerja”.


Menghadapi diskriminasi dalam lapangan kerja, kaum Muslim umumnya di Barat masih juga berhadapan dengan mitos lain, yaitu bahwa mereka dengan mudah terjerumus ke dalam ekstremisme dan radikalisme. Bagi kalangan ultra kanan Barat, ekstremisme kaum Muslim di wilayah mereka bersumber dari ketidakpuasan dan  kemarahan kepada dunia Barat dengan segala sistem politik dan realitas sosial budayanya.


Sejauh mana kebenaran anggapan ini? Menurut sebuah survei Gallup, kaum Muslim yang menyimpan kemarahan hanya separus dari masyarakat pribumi Inggris. Tidak banyak berbeda, 76 persen Muslim Inggris merasa nikmat dengan kehidupannya, sementara 82 persen masyarakat lain umumnya. Di AS, 84 persen migran Muslim generasi pertama puas dengan kehidupan mereka; lebih tinggi daripada penduduk Amerika umumnya yang hanya 75 persen.


Kepuasan itu meningkat pada generasi kedua migran Muslim yang mencapai 90 persen. Bahkan, di lingkungan di mana masjid mereka menjadi sasaran vandalisme, 76 persen Muslim setempat menyatakan, komunitas pertetanggaan mereka sebenarnya terdiri atas orang baik-baik.


Mitos-mitos semacam itu dapat terus membiak. Tapi, mitos-mitos tidak berdasar itu juga dapat berkurang ketika setiap dan seluruh Muslim yang menetap for good atau selamanya di Barat dapat menampilkan diri seperti diharapkan Islam–tampil sebagai representasi rahmatan lil ‘alamin. Inilah yang juga masih menjadi ‘PR’ bagi kaum Muslim sendiri.


Article source: http://www.theglobejournal.com/Infotainment/bin-youcef-aktor-hollywood-yang-kumandang-azan-di-gereja/index.php


Mitos Gelombang Muslim (3)

Sunday, November 17, 2013

Gedung Ibadah di Kota Tua



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





Oleh: Windoro Adi

Ada banyak museum di Kota Tua—Museum Jakarta, Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bahari. Bosan dengan itu, ternyata ada sederet gedung ibadah yang menjadi saksi kemegahan dan keakraban masyarakat yang tinggal di Batavia.


Yuk menyusur gedung-gedung ibadah tersebut. Ada beragam rumah ibadah di Kota Tua. Jika langkah mulai menyusuri Jalan Perniagaan Raya menuju Jalan Tubagus Angke, ada beberapa masjid dan langgar yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Di tepi Kali Angke, dekat persimpangan Jalan KH Moh Mansyur Jembatan Lima-Jalan Tubagus Angke, tak jauh dari Jalan Perniagaan Raya, tampak gedung Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1833 atau 1249 Hijriah. Hingga kini, masih digunakan untuk ibadah.


Ketika itu, langgar ini menjadi tempat favorit bagi pedagang serta awak perahu dan rakit yang datang dari Banten dan Tangerang.


Dari sana mereka membawa bahan-bahan bangunan, beraneka buah dan rempah, serta bermacam barang kelontong dan tekstil yang akan mereka jual di Batavia. Mereka menyusuri Kali Cisadane ke sodetan kali bernama Mookevart (di tepian Jalan Daan Mogot) sebelum masuk ke Kali Angke.


Langgar dengan luas lantai dasar 8 x 24 meter ini berada di lingkungan RT 002 RW 001, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora. Lantai bawah digunakan sebagai tempat wudu dan tempat penginapan pedagang serta awak rakit dan perahu.


Arsitektur langgar berunsur Eropa klasik tampak pada tiang-tiangnya, dipadu unsur China pada penyangga balok-balok kayunya dan Jawa pada denah dasarnya.


Tak jauh dari langgar terdapat masjid tertua di Jakarta yang masih berdiri, Masjid Al Anshor (1648), di Jalan Pengukiran II. Juga Masjid Annawar (1760) di Jalan Pekojan Nomor 71.


Di seberang Kali Angke, di Gang Mesjid 1, berdiri Masjid Angke atau Masjid Al Anwar (1761) yang dibangun seorang kontraktor China untuk orang Bali yang beragama Islam.


Selain Masjid Angke, ada pula Masjid Kebon Jeruk (1786) yang berarsitek Bali, Belanda, Jawa, dan China. Lokasi masjid ini berada di Jalan Hayam Wuruk Nomor 8 (masih di lingkungan Jakarta Barat, tetapi sudah di luar batas Kota Tua).


Tentang kedua masjid ini, penulis banyak buku tentang Batavia, Heuken SJ, menyebutkan, orang Belanda menganggap kaum pribumi adalah orang-orang yang tinggal di tanah Jawa. Jadi, orang pribumi itu orang Jawa. Orang Jawa itu beragama Islam. Artinya, tunduk pada peraturan hukum Islam. Maka, orang Bali yang tinggal di tanah Jawa (termasuk Batavia) yang beragama Hindu pun harus tunduk pada hukum Islam.


Berbeda dengan orang-orang China yang masuk Islam kala itu. Mereka masuk Islam agar dianggap golongan pribumi sehingga mereka bisa bebas dari pajak kuncir rambut dan beban pajak lainnya yang hanya ditanggung orang China.


Klenteng


Jangan heran apabila jumlah masjid di kawasan Kota Tua jauh lebih sedikit daripada jumlah klenteng di sana. Sebab, ada satu masa di era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Persatuan Dagang Hindia Timur, jumlah orang China mendominasi Batavia.


Dari perempatan Jalan Perniagaan Barat-Tambora 8 dan Jalan Perniagaan Raya-Pangeran Tubagus Angke, masuklah ke Jalan Tambora 8 di tepi Kali Opak. Tak berapa lama menyisir jalan tersebut, di sisi kiri jalan akan tampak gapura dengan papan bertulis ”Kwan Tee Bio d/n Lamceng, Jakarta Barat”, pertanda masuk ke kompleks Kelenteng Arya Marga atau Nan Jing Miao.


Klenteng dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi, dikelilingi 12 rumah petak sewa milik yayasan pengelola klenteng. Klenteng terbagi dalam empat ruang besar.


Di ruang belakang ada dua altar untuk menghormati mendiang Kapitan The Liong Hui. Di atas altar utama disimpan abu dan patung kayu sang kapitan asal Nanjing, Kabupaten Zhanzhou (Fujian) itu.


Tahun 1824, Kapitan The membangun kelenteng ini. Karena tidak memiliki keturunan, seluruh kekayaan ia habiskan untuk membangun rumah ibadah ini. Pengelolaan rumah ibadah ia percayakan kepada Tjhung See Gan.


Agar biaya pemeliharaan kelenteng terjamin, tahun 1839 Kapitan The meminta Tjhung membangun 12 rumah petak sewa yang hasil sewanya untuk ”menghidupi” kelenteng.


Sepeninggal Tjhung, kelenteng terbengkalai dan menjadi tempat tinggal pengemis. Beruntung, kondisi merana tersebut berakhir setelah tahun 1978, kelenteng dibersihkan, dikelola, dan dirawat Kepala Kelenteng Basri Oemar (Oey Sek Hai).


Jika dibandingkan dengan plafon Kelenteng Tian-Hou atau Wihara Dewi Samudera (1784) di Bandengan Selatan atau dengan Kelenteng Feng-shan Miao (1751) di Jalan Kemenangan III/48, plafon Kelenteng Kapitan The pasti kalah indah.


Altarnya pun kalah bagus dengan altar yang ada dalam Kelenteng Lu Ban Gong (1784) yang terletak di Jalan Bandengan Selatan 36. Meskipun demikian, Kelenteng Arya Marga menjadi satu-satunya kelenteng yang dibangun kapitan China di Batavia.


Pada periode 1812-1847, pembangunan kelenteng (Taois) dan wihara (Buddhis) umumnya dilakukan kongsi dagang dan lebih banyak ditujukan menghormati dewa dagang atau yang berhubungan dengan perdagangan. Lingkungan kelenteng pun sering dijadikan tempat pertemuan untuk membahas rencana bisnis.


Sebelum era ini, kelenteng di Kota Tua dibangun dengan berbagai tujuan. Dewa yang diletakkan di altar pun beragam, tidak didominasi dewa dagang. Kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan kelenteng lebih sering dilakukan daripada pertemuan-pertemuan dagang.


Kelenteng Li Tie-guai atau Wihara Budhidharma di Jalan Perniagaan Selatan, yang menjadi tempat beribadah orang China terpopuler di kawasan Glodok, adalah salah satu kelenteng yang dibangun untuk dua di antara ”Delapan Hyang Mulia”, pelindung kongsi dagang.


Gereja


Di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Jalan Mangga Dua berdiri megah Gereja Sion. Sebuah mimbar bergaya barok karya H Bruyn (1695) berdiri di tengah altar. Di atasnya terpasang kanopi Gereja Kubah, yang juga ada kota Batavia tapi sudah dibongkar Gubernur Jenderal Belanda Daendels tahun 1808.



DHONI SETIAWAN Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis terletak di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Pembangunan Gereja dimulai pada tahun 1693 dan diresmikan 1695.

Pembuatan mimbar bersegi delapan dengan paduan ukiran China, Eropa, dan India ini menghabiskan biaya 260 ringgit, sedangkan biaya pembangunan gereja ini 3.000 ringgit pada 1695. Menghadap altar, di sebelah kanan, berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17. Kursi itu dibuat khusus bagi petinggi VOC, termasuk buat para Gubernur Jenderal Belanda. Di tengah atas sandaran kursi yang terbuat dari kayu hitam itu terukir kitab suci yang terbuka. Di kiri-kanannya ada dua malaikat kecil.

Di salah satu dinding gereja ada batu bertulis dalam bahasa Belanda yang artinya, ”Batu pertama gereja ini diletakkan 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn”. Meski menjadi satu-satunya tempat ibadah umat Kristen di Kota Tua, kondisi gereja ini terawat baik dibandingkan dengan semua tempat ibadah bersejarah di Kota Tua. (JOS)


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>



































Article source: http://news.liputan6.com/read/708601/euforia-pelantikan-kalemnya-jokowi-garangnya-ahok?wp.hdln


Gedung Ibadah di Kota Tua

Monday, June 3, 2013

Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Home Sejarah



Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)





 

Perjalanan haji yang terbesar dilakukan oleh Mansa Musa (1312-1337)



 




Selasa, 04 Juni 2013


oleh: Alwi Alatas


REPUBLIK Mali di Afrika Barat meraih kemerdekaannya dari Prancis pada tahun 1960. Negeri dengan jumlah penduduk mendekati 15 juta orang itu mayoritasnya beragama Islam. Mata pencaharian utama penduduknya adalah dalam bidang pertanian dan perikanan. Garam dan emas merupakan sumber daya alam utama yang ada di negeri itu. Sebenarnya Mali merupakan negeri penghasil emas ketiga terbesar di Afrika. Tetapi separuh penduduknya hidup dengan penghasilan kurang dari 1,25 Dollar Amerika per hari (https://en.wikipedia.org/wiki/Mali). Memiliki kekayaan tambang tetapi rakyatnya hidup dalam kemiskinan, Mali menampilkan ironi yang kurang lebih sama dengan Indonesia dan beberapa negeri Muslim lainnya.


Terjadinya perpecahan di negeri itu baru-baru ini serta masuknya intervensi asing (Prancis) sejak Januari 2013 tentu membuat keadaan masyarakat Mali menjadi semakin susah. Boleh jadi adanya sumber daya alam, serta upaya mempertahankan hegemoni atas bekas daerah jajahan, merupakan alasan sebenarnya dari kedatangan pasukan Prancis ke negara itu, walaupun yang dijadikan pretext oleh Prancis untuk melakukan invasi adalah munculnya kelompok Islam militan di sana. Kendati menuai protes dari kelompok kiri di Prancis dan dianggap memiliki tujuan tidak jelas, dewan nasional Prancis memutuskan untuk memperpanjang keberadaan militer Prancis di Mali (http://www.globalresearch.ca/mali-under-french-military-occupation/5334200).


Keadaannya sungguh sangat berbeda pada tujuh abad sebelumnya. Seperti yang ditulis oleh A.J.H. Goodwin (1957: 110): “Kerajaan Ghana-Melle (Mali, pen.) pada abad keempat belas jauh lebih kuat, jauh lebih kaya, jauh lebih terorganisir, dan bahkan jauh lebih melek huruf dibandingkan kekuasaan Kristen yang mana pun di Eropa.” Berbicara tentang Mali, Islam, dan emas pada abad pertengahan, ada hal menarik dari sejarah negeri itu yang akan kita bahas berikut ini.


Dinasti Lion King


Pada abad ke-13 dan 14 di wilayah ini pernah berdiri Kerajaan Mali. Informasi tentang kerajaan ini disebutkan dalam cerita lisan setempat yang biasanya bercampur dengan legenda. Selain itu, ia bisa ditemukan juga dalam kisah perjalanan Ibnu Batutah serta beberapa kitab sejarah, terutama yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dan Shihabuddin al-Umari.


Kerajaan Mali didirikan oleh Sun-Djata Keita (1217-1255) atau Sundiata. Ia berasal dari suku Mandinka (Malinke) yang banyak menetap di Mali dan wilayah sekitarnya. Dalam Tarikh Ibn Khaldun, jilid 6 (2000: 266-7) tokoh ini disebut dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu Mari-Djata, yang bermakna lion king. Dalam bahasa setempat, Mari bermakna ‘raja’ dan Djata bermakna ‘singa’ (al-asad). Tokoh ini berhasil menyatukan bangsanya yang sempat dikuasai oleh Kerajaan Soso (Susu). Ia mengalahkan dan menaklukkan kerajaan itu serta mendirikan Kerajaan Mali. Ia memerintah selama 25 tahun dan memakai gelar Mansa (Raja diraja) di depan namanya, begitu juga dengan raja-raja berikutnya.


Islam sudah mulai berkembang di wilayah ini pada abad ke-11 dan 12. Al-Bakri, seorang sejarawan yang hidup pada abad ke-11 menyebutkan bahwa pada masa itu sudah ada satu kerajaan kecil bernama Malal yang penguasanya masuk Islam setelah kedatangan seorang Muslim ke wilayah itu saat terjadi kekeringan. Muslim tadi melakukan shalat Istisqa (shalat minta hujan) dan dengan izin Allah wilayah itu selamat dari kekeringan.


Ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Soso sebenarnya merupakan sebuah reaksi atas perkembangan Islam di wilayah itu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Sun-Djata berhasil menumbangkan kerajaan itu dan mendirikan kerajaan Mali. Kerajaan baru yang didirikan oleh Sun-Djata ini terus berekspansi dan berkembang hingga mencakup wilayah Senegal, Niger, dan Gambia. Ketika kerajaan ini berdiri, Islam sedang tumbuh dengan cukup pesat di Afrika Barat. Aktifitas perdagangan lintas Sahara yang didominasi para pedagang Muslim pada gilirannya menghubungkan Mali dengan negeri-negeri Muslim di Afrika Utara. Hal ini lantas mendorong para penguasa Mali menjalankan kebijakan yang lebih memihak pada Islam (Bosworth, 1991: 257-8).


N. Levtzion dalam artikelnya, “The Thirteenth- and Forteenth- Century Kings of Mali” (1963), telah menyusun daftar raja-raja Mali berikut perkiraan masa pemerintahan masing-masing dengan merujuk pada Tarikh Ibn Khaldun dan beberapa sumber lainnya. Raja Muslim pertama di wilayah Mali yang disebut oleh Ibnu Khaldun adalah Barmandana. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup untuk mengetahui apakah tokoh ini sama dengan raja Malal yang disebutkan oleh al-Bakri. Selain itu juga tidak diketahui apa hubungan antara Barmandana dengan raja berikutnya yang lebih dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Mali, yaitu Sun-Djata (Mari-Djata) yang memerintah selama 25 tahun.


Mansa (raja) berikutnya adalah Uli yang merupakan anak Sun-Djata. Masa pemerintahannya beririsan dengan masa pemerintahan Baybars (1260-1277) di Mesir. Dua raja berikutnya adalah anak-anak Sun-Djata lainnya, yaitu Wati dan Khalifa. Yang terakhir ini digambarkan sebagai penguasa yang kejam sehingga akhirnya dijatuhkan dari kekuasaannya. Ia digantikan oleh keponakannya, Abu Bakar, yang merupakan cucu Sun-Djata dari seorang anak perempuannya. Abu Bakar lalu digantikan oleh seorang bernama Sakura yang memerintah pada pergantian abad ke-13. Sakura adalah seorang budak yang dibebaskan (freed slave) yang rupaya muncul sebagai orang kuat di istana. Tapi ia mati dibunuh dan kemudian digantikan oleh Qu yang merupakan anak Uli dan cucu dari Sun-Djata. Setelah itu Qu digantikan oleh anaknya Muhammad yang memerintah hingga sekitar tahun 1312.


Sun-Djata mempunyai seorang saudara lelaki, Abu Bakar, yang membantunya dalam mendirikan kerajaan Mali. Pemerintahan Mali setelah kepemimpinan Mansa Muhammad (w. 1312) berpindah kepada keturunan Abu Bakar ini. Yang pertama menjadi raja dari jalur ini adalah Mansa Musa (1312-1337) yang merupakan cucu Abu Bakar. Ia adalah raja terbesar yang pernah memerintah Kerajaan Mali. Kemudian ia digantikan oleh anaknya yang bernama Magha, yang menurut lisan setempat bermakna Muhammad. Setelah memerintah selama empat tahun, kepemimpinan diteruskan oleh Sulaiman, saudara Musa, yang memerintah selama 24 tahun. Selepas itu masih ada beberapa raja Mali lainnya, tetapi keadaannya sudah banyak menurun, karena sering terjadi intrik dan konflik di dalam istana.


Kerajaan Mali masih bertahan hingga abad ke-15 dan 16, tetapi hanya dalam bentuk kerajaan lokal, bukan sebagai imperium sebagaimana sebelumnya. Ia semakin tenggelam dengan masuknya penjajah Eropa pada masa-masa setelahnya.*/bersambung


Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib”




Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/asian-finance-bank-likely-target-as-islamic-mega-lender-say-sources


Islam dan Kerajaan Mali abad ke-13 dan 14 (Bag 1)

Saturday, January 12, 2013

Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Padang Ekspres • Minggu, 13/01/2013 08:05 WIB • • 60 klik

Mohammad Nuh

Tangerang, Padek—Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menghapus sekolah negeri ber­taraf internasional atau rintisan sekolah bertaraf internasional (SBI/RSBI) diduga me­ngun­tu­ngkan sekolah swasta berlabel internasional. Sekarang mereka menjadi pemain tunggal penyedia lanyanan pendidikan berkualitas meskipun biayanya mahal.

 

Potensi itu saat ini menjadi kegelisahan jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk itu, me­reka meminta sekolah negeri eks RSBI bisa menjaga kualitasnya.

 

”Kalau bisa kualitasnya harus naik dibandingkan ketika masih dila­beli RSBI,” tandas Mendikbud Mohammad Nuh usai bertemu dengan guru se-Kota Tangerang Selatan di Univeristas Terbuka (UT) kemarin.

 

Pihak Kemendikbud me­mas­ti­kan jika MK tidak mela­rang se­kolah negeri eks-RSBI untuk te­rus menggenjot kualitas layanan pen­didikan. Begitu juga untuk se­kolah-sekolah negeri lainnya. Se­­bab yang menjadi amar pu­tu­san MK adalah penghapusan pasal di UU Sisdiknas yang me­lan­dasi pengoperasional SBI/RSBI.

 

Perkara biaya untuk meng­gen­jot kualitas tersebut, Nuh mengatakan, pengelola tidak perlu khawatir. Dia mengatakan, pemerintah tidak akan tinggal diam.

 

”Masak salah kalau kami pemerintah ingin menciptakan sekolah berkualitas. Coba nilai dengan hati,” ujar menteri asal Surabaya itu.

 

Kemendikbud sedang menjajaki pemberian hibah kompetisi untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sekolah eks-RSBI dan sekolah umum lainnya berhak berkompetisi untuk merebutkan hibah ini. Dengan hibah ini, diharapkan bisa membantu pembiayaan peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.

 

Dengan terjaganya kualitas pendidikan di sekolah-sekolah eks-RSBI itu, Nuh mengatakan layanan pendidikan unggul tidak akan dimonopoli sekolah-sekolah swasta berlabel international yang menjamur di kota-kota besar. Diantaranya di Jakarta dan Surabaya.

 

Nuh mengatakan ketika RSBI masih ada masyarakat memiliki dua alternatif untuk menerima layanan pendidikan unggul. Yakni melalui sekolah negeri berlabel RSBI atau ke sekolah swasta internasional itu. ”Bagi golongan tertentu mungkin tidak masalah masuk sekolah swasta top yang biayanya juga top itu,” kata Nuh.

 

Tetapi untuk kalangan masyarakat dengan tingkat ekonomi pas-pasan, tentu sulit untuk mengenyam pendidikan bertaraf internasional di sekolah swasta itu. Jalan satu-satunya adalah dengan masuk sekolah negeri yang juga bertaraf internasional (RSBI).

 

Mantan rektor ITS itu mengakui jika dalam praktiknya banyak masyarakat kurang mampu mengeluh sulitnya akses masuk ke sekolah RSBI. Tetapi dia mengatakan jika kasus seperti ini sebagian besar hanya terjadi di Jakarta saja. Di kota-kota lainnya, seperti Surabaya, pemko setempat mengklaim jika sekolah RSBI tidak memungut biaya apapun kepada siswa.

 

”Kalau dalam praktiknya (pembiayaan RSBI, red) ada yang melenceng, ya ayo kita perbaiki,” tandasnya. Nuh mengatakan, kurang tepat ketika dalam urusan RSBI ini yang melenceng adalah tataran implementasi tetapi langsung mencabut dasar hukumnya.

 

Sumber di internal Kemendikbud menduga ada konspirasi besar di balik putusan MK ini. Dengan digugurkannya sekolah RSBI dia menduga saat ini sekolah-sekolah swasta internasional itu tertawa lebar. Sebab, muncul dugaan jika RSBI dibiarkan berjalan terus hingga beralih status menjadi SBI, posisi sekolah-sekolah swasta internasional itu terancam.

 

Terkait tudingan ini, Nuh tidak mau berpolemik lebih jauh. Intinya karena putusan penghapusan RSBI ini sudah digedok MK, maka Kemendikbud dengan legawa harus menjalankannya. Dia bahkan mengatakan, hari ini (13/1) akan bertemu langsung dengan Ketua MK Mahfud MD dalam forum alumni Universitas Islam Indonesia (UII) di Jakarta.

 

Dalam forum ini, Nuh mengatakan, akan berkomunikasi secara nonformal dengan Mahfud. Inti pembahasannya adalah soal putusan penghapusan RSBI. ”Soal RSBI ini murni urusan akademik. Jangan sampai ditunggani kepentingan politik,” ujar mantan Menkominfo itu.

 

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dirjen Dikdas) Kemendikbud Suyanto mengatakan, sebelum ada RSBI siswa-siswa yang mampu menembus olimpiade internasional didominasi sekolah-sekolah swasta internasional. Sayangnya Suyaeminta nama-nama sekolah langganan olimpiade internasional itu tidak dikorankan.

 

Setelah sekolah negeri RSBI mulai tumbuh di Indonesia, mantan rektor UNY itu mengatakan banyak siswanya mampu tembus ke olimpiade internasional. Bahkan berhasil menyabet juara atau medali emas. ”Banyak itu dari pelosok Semarang, Jawa Timur, dan lain-lainnya,” tutur Suyanto.

 

Untuk itu Suyanto berharap sekolah-sekolah eks RSBI tidak melunturkan tradisi mengikuti olimpiade internasional. Dia mengatakan untuk mengikuti olimpiade internasional ini tidak ujug-ujug. Tetapi melalui seleksi berjenjang mulai dari level kabupaten/kota hingga nasional dulu.

 

Selain menyanjung soal keunggulan RSBI, Suyanto mengakui juga sekolah dengan label itu memang memiliki kelemahan. Dia mengatakan kelemahan utama adalah soal akuntabilitas. Suyanto mengatakan seharusnya pemda yang menaungi sekolah RSBI harus mendorong akuntabilitas pengelolaan keuangan di sekolah.

 

Mulai dari komite sekolah, orangtua siswa hingga LSM bahkan media massa tidak perlu ditutup-tutupi untuk mengakses laporan keuangan di RSBI. Sebab, bagaimana pun juga sekolah RSBI negeri memiliki tanggung jawab transparansi kepada masyarakat karena memang lembaga publik. (wan/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/01/12/154084/WN-Vietnam-Ketahuan-Bikin-Paspor-RI-


Nuh: Eks-RSBI Harus Tetap Berkualitas

Wednesday, May 8, 2013

Perancis Kesulitan Atasi Islam Radikal di Penjara - VOA Indonesia

— Di Perancis, jalan menuju Islam radikal seringkali dimulai dengan tindak kejahatan ringan yang melemparkan seorang anak muda ke penjara yang terlalu padat dan penuh kekerasan yang menghasilkan mualaf yang siap untuk jihad.


Saat negara ini meningkatkan keamanan sejak Januari ketika pasukan-pasukan Perancis mulai melawan kelompok Islamis yang terhubung al-Qaida di Mali, pihak berwenang semakin khawatir mengenai pertumbuhan militan di penjara Perancis.



Namun, meski ada upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini, kondisi di belakang jeruji besi masih mengubah pemuda Muslim sasaran empuk bagi mereka yang merekrut jihadis, menurut penjaga, kepala penjara, mantan narapidana, pemuka agama dan ahli pidana yang diwawancarai oleh kantor berita Reuters pada beberapa bulan terakhir.



“Saya bertemu orangtua-orangtua yang mengatakan: ‘Anak saya masuk penjara sebagai penjual narkoba dan keluar sebagai fundamentalis’,” ujar Hassen Chalghoumi, imam masjid di Drancy, pinggiran kota Paris.



Kelompok Islamis di Mali telah memperingatkan bahwa Perancis adalah sasaran untuk serangan, yang paling baru dalam sebuah video yang muncul Selasa. Hal ini menambah kekhawatiran dalam negara yang, menurut badan polisi Europol, telah menangkap 91 orang pada 2012 untuk dugaan terorisme yang diinspirasikan agama.



Perancis memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa, sekitar lima sampai enam juta orang, sebagian besar merupakan warga negara yang patuh dan cinta damai. Fenomena radikalisme agama di penjara bukan terjadi di Perancis saja, tapi juga di Inggris, Amerika Serikat sampai Afghanistan. Namun Perancis menonjol karena lebih dari setengah narapidananya merupakan Muslim, banyak diantaranya dari komunitas yang miskin dan pengangguran.



Kakak beradik dari Chechnya yang merupakan tersangka pemboman Boston, meski bukan mantan narapidana, lebih jauh menggarisbawahi ancaman yang diberikan oleh para militan soliter – anak-anak muda dari komunitas imigran yang bergerak sendiri atau dalam kelompok kecil yang terdrong ke dalam kelompok Muslim garis keras.



“Kita menghadapi musuh eksternal di Mali, namun juga musuh di dalam sebagai produk radikalisasi,” ujar Menteri Dalam Negeri Perancis Manuel Valls.



“Mereka mulai sebagai penjahat kelas teri, kemudian menjual narkoba, masuk penjara dan berubah menjadi Muslim radikal dan benci Barat,” ujarnya pada media lokal pada Februari.



Penjaga penjara Villepinte Blaise Glangbazo mengatakan radikalisasi Islam merupakan ancaman serius dalam sebagian besar penjara di Perancis.



“Namun di penjara yang lebih keras seperti Villepinte, kecenderungan itu semakin mudah. Ini sekolah yang baik.”



Populasi penjara Perancis meningkat sepertiganya dalam dekade terakhir, sebagian karena kebijakan pemerintah konservatif yang memberikan hukuman berat bagi pidana berulang.



Menurut para ahli, salah satu cara mengatasi Islam radikal di penjara adalah melalui pemuka agama yang memberikan ajaran moderat. Namun Perancis kurang memiliki pemimpin Muslim, yang jumlahnya hanya mencapai 160 orang dibandingkan dengan 700 pemuka agama Kristen.



Abdelhak Eddouk, rohaniwan untuk penjara Fleury-Merogis di luar kota Paris selama sembilan tahun sebelum ia mundur baru-baru ini, mengatakan perlu ada 480 rohaniwan Muslim, berikut panduan yang lebih jelas mengenai tugas mereka.



Pemerintah hanya menambah 30 orang untuk penjara tahun ini dan tahun depan. (Reuters/Alexandria Sage)



Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28193/17/04/2013/masyarakat-tv-sehat-desak-kpi-hentikan-sinetron-rendahkan-simbol-islam.html


Perancis Kesulitan Atasi Islam Radikal di Penjara - VOA Indonesia

Wednesday, October 23, 2013

Fenomena baharu dasar luar Riyadh?

MEMBINGUNGKAN, mengejutkan dan tidak masuk akal adalah antara reaksi masyarakat diplomatik antarabangsa terhadap keputusan Riyadh menolak kerusi Majlis Keselamatan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) yang dimenangi oleh Arab Saudi pada proses pemilihan yang dikatakan berlangsung agak sengit.


Mengejutkan kerana diplomat Arab Sausekian lama telah berusaha dengan begitu keras bagi mendapatkan sokongan negara PBB lain untuk mengundi pencalonan Riyadh kerana Majlis Keselamatan dianggap forum terpenting dalam arena politik antarabangsa. Malah sebagai salah satu langkah persediaan, Riyadh telah membentuk satu kumpulan khas yang terdiri daripada diplomat berpengalaman untuk melobi negara lain.


Terdapat lima kekosongan tempat sebagai ahli tidak tetap Majlis Keselamatan berikutan akan tamatnya keahlian Azerbaijan, Guatemala, Maghribi, Pakistan dan Togo pada 31 Disember 2013. Pada pemilihan terbaru Chad, Chile, Lithuania, Nigeria dan Arab Saudi terpilih untuk penggal selama dua tahun.


Di antara kelima-lima negara yang baharu dilantik, Arab Saudi dijangkakan memainkan peranan paling efektif kerana Riyadh mempunyai pengaruh yang agak kuat terhadap ahli tetap Majlis Keselamatan iaitu Amerika Syarikat (AS), Britain, Peranchis, Rusia dan China.


Lebih membingungkan lagi adalah keputusan Riyadh menempelak kerusi Majlis Keselamatan hanya selepas beberapa jam diumumkan secara rasmi oleh PBB adalah kerana tidak puas hati terhadap kaedah PBB menangani krisis Syria, Palestin dan kegagalan badan tersebut menwujudkan Timur Tengah sebagai kawasan bebas senjata pemusnah besar-besaran.


Sebab itulah terdapat diplomat antarabangsa meluahkan perasaan dengan menyatakan keputusan Riyadh tersebut tidak masuk akal kerana dengan berada dalam Majlis Keselamatan, ketiga-tiga isu tersebut boleh dibawa ke dalam agenda perbincangan.


Memang benar Riyadh kurang berpuas hati dengan status ahli tidak tetap kerana tidak mempunyai kuasa pembatal seperti mana lima ahli tetap. Tetapi setiap ahli tidak tetap berpeluang menjadi pengerusi badan tersebut kerana jawatan itu dilaksanakan secara bergilir. Pengerusi mempunyai tanggung-jawab yang agak besar kerana mampu mewarnai agenda perbincangan Majlis Keselamatan.


Tindakan Riyadh juga dianggap satu fenomena baru bagi pengamalan dasar luar Arab Saudi yang selama ini lebih bersifat di sebalik tabir dan tidak begitu menonjol jika hendak dibandingkan dengan negara Arab lain.


Langkah Riyadh dengan secara langsung ditafsirkan telah mengkritik secara terbuka terhadap organisasi Majlis Keselamatan dan ini dinilaikan sebagai bertentangan dengan pengamalan dasar luar berprofil rendah Arab Saudi.


Begitu juga dengan mengkritik krisis Syria, Riyadh sebenarnya tidak berpuas hati dengan Washington yang telah menjalin persefahaman dengan Moscow mengenai isu penggunaan senjata kimia yang dikatakan didalangi oleh tentera kerajaan Bashar al Assad. Bukan menjadi rahsia lagi Riyadh banyak membantu tentera pemberontak Syria untuk menjatuhkan kerajaan Bashar dan keengganan Washington meneruskan operasi ketenteraan telah membantut usaha menggulingkan Bashar.


Begitu juga dengan meluahkan rasa tidak puas hati terhadap proses perdamaian kemelut Palestin-Isreal sebenarnya juga mengkritik AS secara terbuka. Ini adalah kerana Washington mempunyai pengaruh terhadap Israel terutama sekali terhadap isu yang melibatkan pembangunan penempatan haram Yahudi di Tebing Barat.


Memang benar selama ini Riyadh sememangnya tidak berpuas hati dengan sikap Israel tetapi mengkritik secara terbuka sekutu kuatnya AS melalui tindakan drastik menempelak Majlis Keselamatan juga ditafsirkan sebagai fenomena baru pengamalan dasar luar Riyadh.


Kegagalan Majlis Keselamatan memperjuangkan isu kawasan bebas senjata pemusnah besar-besaran Timur Tengah yang menjadi salah satu sebab tindakan drastik Riyadh adalah berkaitan dengan pembangunan nuklear oleh Israel dan Iran.


Tanpa perlu berselindung Israel sememangnya mempunyai kemampuan senjata nuklear dan keadaan ini berlaku kerana perlindungan dan sokongan yang diberikan oleh AS kepada Tel Aviv. Sekali lagi walaupun isunya adalah Israel tetapi sebenarnya Riyadh menempelak Washington.


Tetapi paling menarik adalah mengapa isu senjata nuklear menjadi salah satu pencetus adalah bukan sangat kerana pemilikan senjata nuklear Israel tetapi disebabkan senario hubungan diplomatik Washington dan Teheran sudah mula menunjukkan tanda- tanda berbaik bermula dengan pelantikan Presiden Iran iaitu Hassan Rouhani. Riyadh mentafsirkan hubungan yang baik di antara Washington dan Teheran akan memulihkan ekonomi Iran yang dianggap seteru kepada Arab Saudi.


Tidak kira apa jua tuduhan masyarakat diplomatik antarabangsa terhadap tindakan Riyadh tersebut yang dikatakan merugikan negara Arab dan juga negara Islam lain, ia adalah satu fenomena baru dan tidak dijangka boleh berlaku kerana ia melibatkan secara langsung hubungan Riyadh-Washington.


Bibit-bibit rasa tidak puas hati Riyadh terhadap Washington mula kelihatan berlaku secara terbuka apabila Washington mengumumkan untuk mengenakan sekatan bantuan ketenteraan berjumlah AS$1.3 bilion yang diberikan kepada Mesir setiap tahun akibat peristiwa rampasan kuasa tentera terhadap kerajaan Mohammed Morsi beberapa bulan lepas.


Mungkin ada hikmahnya tindak-tanduk Riyadh menarik diri kerana tidak dinafikan struktur Majlis Keselamatan adalah begitu pincang sekali. Bayangkan dari 193 negara yang menganggotai PBB hanya lima negara ahli tetap Majlis Keselamatan yang mempunyai kuasa mutlak untuk mengadili dan menghukum negara lain sementara negara lain hanya memainkan peranan sisi sahaja. Semoga tindakan Riyadh dapat menyedarkan kuasa besar akan kepincangan tersebut.


PENULIS ialah Geostrategis Institut Geospatial dan Sekolah Perdana UTM.



Article source: http://news.detik.com/read/2013/01/04/140927/2133214/10/solusi-kemenag-soal-pungli-di-kua-tetapkan-tarif-atau-beri-insentif?9911012


Fenomena baharu dasar luar Riyadh?

Thursday, July 11, 2013

Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Kaligrafi mendapat tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena bertujuan memperindah lafal Allah.


Jika menyebut seni kaligrafi, belum tentu bertuliskan Arab atau menuliskan ayat suci Alquran. Banyak tulisan lain, seperti Jepang, Cina, dan Yunani, yang juga memiliki seni visual tersebut. Secara bahasa, kaligrafi memang bermakna seni tulisan indah, yakni dari bahasa Yunani allos yang bermakna indah dan graphein, yakni menulis.


Kaligrafi Arab (khat arab) atau yang sering dikenal dengan kaligrafi Islam, hanyalah salah satunya. Hanya, Muslimin Indonesia terbiasa menyebut kaligrafi pada huruf indah Arab yang menuliskan Alquran.


Bagi bangsa Arab, tulisan pun sebetulnya bukanlah hal yang utama. Bangsa Arab pada masa lalu lebih bangga dengan lisan yang pandai bersyair ketimbang menulis indah. Kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Jikalau ada syair yang amat cantik, itu pun hanya ditulis jika akan digantungkan pada Ka’bah. Pun ketika Islam datang.


Alquran hanyalah disimpan dalam memori para sahabat. Kitabullah baru ditulis setelah banyak hafiz yang wafat di medan pertempuran. Maka, barulah dimulai penulisan Alquran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan baru mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.


Tak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan sesuatu yang diperhatikan. Meski aksara Arab diperkirakan telah muncul seabad sebelum Islam datang, kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Meski perkembangannya lamban, kaligrafi pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat Muslim.


Philip K Hitti dalam History of the Arab mengatakan, seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah dan didukung oleh ayat Alquran surah 68 ayat 1 dan 96 ayat 4. Kedua ayat tersebut, yakni “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, surah al-Qalam ayat 1 dan “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”, surah al-Alaq ayat 4. Maka, saat muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, kaligrafi langsung menjadi primadona kesenian Islam.


                                                              *****



Pada tahap berikutnya, lanjut Hitti, kaligrafi sepenuhnya menjadi karya seni Islami dan membawa pengaruh pada seni lukis yang dikui banyak kalangan. Melalui karya kaligrafi, seorang Muslim menyalurkan bakat seninya yang tidak bisa diekspresikan melalui representasi objek-objek yang hidup. Seorang penulis kaligrafi atau kaligrafer menempati kedudukan yang terhormat dan mulia melebihi kedudukan para pelukis.


Terdapat beberapa pelopor pengembangan kaligrafi Arab, di antaranya, al-Raihani (meninggal 834) yang mengembangkan kaligrafi pada masa kekhalifahan al-Ma’mun dari Dinasti Abasiyah. Ia menyempurnakan gaya kaligrafi Rihan, sesuai dengan namanya. Kemudian, Ibn Muqlah (meninggal 940), seorang menteri Abasiyah yang tangan kanannya dipotong oleh Khalifah al-Radhi. Dengan tangan kiri, ia mampu menulis dengan indah.


Terdapat pula nama Ibn al-Bawwb (meninggal 1022 atau 1032), anak seorang pegawai di Majelis Umum Baghdad. Ia menemukan gaya kaligrafi muhaqqaq. Lalu, pelopor terakhir yang amat masyhur, yakni Yaqut al-Mutashimi. Muncul pada pengujung periode Abasiyah, ia sangat kondang sebagai ahli kaligrafi terkemuka yang namanya diabadikan sebagai nama gaya tulisan, yakni Yaquti.


“Dinilai dari karya kaligrafi Yaquti yang masih bertahan hingga kini dan sejumlah karya kaligrafi lain, capaian artistik dalam bidang kaligrafi pada periode ini tidak bisa dianggap tinggi. Bisa dikatakan kaligrafi merupakan satu-satunya kesenian Arab yang produknya saat ini, baik kalangan Muslim maupun Kristen, bisa kita lihat di Konstantinopel, Kairo, Beirut, dan Damaskus. Karya-karya mereka menampilkan nilai keindahan dan keagungan yang lebih tinggi dibandingkan terdahulu yang pernah diproduksi sepanjang masa,” kata Hitti.


 
                                                             *****


Lebih perinci, Habibullah Fadzoili dalam Athlasul Khat wa al-Kutub membagi enam periode perkembangan kaligrafi. Pertama, yakni era pertumbuhan di mana saat itu huruf Arab belum memiliki tanda baca atau masih gundul. Gaya kufi muncul saat periode ini. Kedua, yakni era pertumbuhan. Periode kedua baru dimulai saat kekhalifahan Bani Umayah. Saat itu, gaya kufi mulai perkembangan lebih indah. Gaya tsulus, naskhi, muhaqqaq, raihani, riq’I, dan tauqi’ muncul pada periode yang berlangsung hingga pertengahan kepemimpinan Dinasti Abasiyah tersebut.


Ketiga, periode penyempurnaan di mana mulai muncul metode kaligrafi lengkap dengan standardisasinya. Gaya-gaya sebelumnya mulai dimodifikasi dan diberi kaidah. Periode keempat, yakni pengembangan kaidah dan metode pada era sebelumnya. Saat itu mulai muncul harmonisasi dua gaya dalam satu kanvas. Kemudian, periode selanjutnya, yakni masuk ke pengolahan.


Pengembangan teknik lebih mendapat penekanan dalam era ini. Saat itu, ratusan gaya telah berhasil diciptakan para kaligrafer. Periode terakhir, yakni saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir dan Dinasti Safawi berkuasa di Persia. Pengembangan gaya terus terjadi saat periode tersebut hingga mencapai puncak saat periode Turki Utsmani.


                                                    ******


 
Berkembang di Timur
Saat Dinasti Abasiyah runtuh akibat serangan Mongol, perkembangan kaligrafi justru makin memuncak. Apalagi, saat itu terdapat pelopor kaligrafer ternama, Yaqut. Islamnya putra Hulagu Khan, Abaga, menjadikan Dinasti Mongol menganut Islam. Saat itulah kaligrafi mengalami perkembangan di negeri Islam timur, terutama saat Mongol di bawah kepemimpinan Ghazan dan Uljaytu.


“Ghazan seorang Muslim yang terpelajar memberikan dukungan besar terhadap seni Islam, termasuk kaligrafi dan penyalinan buku. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan penggantinya, Uljaytu, yang kemudian menjadi era kemajuan seni dan sastra. Uljaytu memiliki dua orang kepercayaan, yakni Rashid al-Din dan Sa’d al-Din. Keduanyalah yang selalu melindungi para pelajar, seniman, dan kaligrafer. Pada masa Uljaytu inilah, perkembangan kaligrafi mencapai puncaknya,” demikian yang tertulis di web calligraphicworld.


Pascaberakhirnya generasi Mongol pada abad ke-14, kaligrafi masih menjadi primadona di bawah kekuasaan Dinasti Timurid yang pimpin Timur Leng. Dia menciptakan gaya baru kaligrafi untuk penulisan Alquran. Menggantikan gaya Mongol, gaya ini lebih memiliki pola megah dan geometris.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/ledakan-bom-di-kuil-buddha-lukai-2-orang/1696938.html


Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

Sunday, March 10, 2013

Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Persaingan bisnis perbankan tahun 2013 diprediksi semakin ketat, khususnya persaingan antara bank umum baik syariah maupun konvensional dengan Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/S). Dengan tetap menanamkan dan menerapkan budaya kerja ‘Smarter, Harder, dan Faster’ terhadap seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki, Tri Hari Widjajanto yakin perusahaannya terus mencatatkan pertumbuhan.

Tidak tanggung-tanggung, Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah ini memproyeksikan pertumbuhan aset perusahaan yang digawanginya tahun ini mencapai Rp 144,48 miliar atau tumbuh 51 persen dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp95,9 miliar, dengan target petumbuhan pembiayaan sebesar 64 persen atau RP 132,39 miliar. Sementara tahun sebelumnya perusahaan bisa membukukan pembiayaan sebesar Rp 80,5 miliar atau tumbuh 71 persen dari 2011.

Semua pencapaian di atas tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Widjajanto mengenang, saat pertama kali masuk menjadi Direktur tahun 1998 silam, total aset PT BPRS Baktimakmur Indah hanya Rp 100 miliar. Namun, tangan dingin pria kelahiran Kediri, 28 Februari 1965 ini membawa banyak perubahan di dalam tubuh perusahaan. Saat ini operasional BPRS yang dikelolanya bersama dengan seorang direksi lainnya memiliki 70 staf dan 30 tenaga non staf, serta jaringan kantor sebanyak 6 kantor cabang. Salah satu upaya yang dilakukan diantaranya dengan menerapkan ‘Smarter, Harder, dan Faster’.

Smarter menurutnya harus dimiliki oleh semua orang. Dalam artian, dalam menghadapi kompetisi yang sekarang sudah semakin ketat, SDM perusahaan harus cerdas. “Dengan kecerdasan itu, semua upaya kita menjadi efisien,” katanya.

Sedangkan harder, kata dia, semua dikerjakan dengan kerja keras. Pekerjaan harus dituntaskan dan tidak bisa kerja setengah-tengah. Dan terakhir adalah faster. “Kita harus lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan kompetitor kita,” ujarnya.

Terbukti, penerapan ketiga unsur tersebut membawa nama Widjajanto makin disegani di kalangan perbankan Jawa Timur, terutama perbankan syariah. Sehingga, tahun 1999-2004 ia didapuk menjadi Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Jawa Timur. “Ketua Asbisindo Jatim yang pertama adalah saya, sehingga saya tahu persis kondisi perbankan syariah di Jawa Timur,” katanya.
 
Di sisi lain, ia mengungkapkan kesuksesannya mengelola BPRS tidak lepas dari prinsip kejujuran, amanah, dan apa adanya. Semua pekerjaan dilakukan secara serius, dan tidak berdasarkan main-main. Meski demikian, sukses memimpin BPR Syariah diakuinya bukan hasil jerih payahnya sendiri. Diakuinya, semua kesuksesan itu merupakan hasil menghimpun atau menggerakkan tenaga-tenaga berkompeten yang ada di sekitarnya.

Kendati begitu, bukan berarti perjalanan menuju kesuksesannya itu tidak mengalami kendala. Apalagi, terjadinya liberalisasi perbankan sekarang ini sudah tidak bisa terhindarkan lagi. “Pasar atau segmen kita sudah ada liberisasi perbankan. Itu menyebabkan persaingan pasar menjadi lebih besar dan kompetitif. Siapa yang punya modal besar, itu yang menang. Kita bagaimana? Kita dalam menghadapi itu menggunakan 3 hal, yaitu ‘Smarter, Harder, dan Faster’. Dan juga harus memanfaatkan yang orang lain tidak bisa,” paparnya.

Ia mencontohkan, ketika kejadian lumpur Sidoarjo tahun 2006 silam, banyak perbankan memilih keluar dari Porong untuk menghindari dampak langsung semburan lumpur Sidoarjo. Akan tetapi Widjajanto melihat sebaliknya. Ia merasa yakin, di porong itu sekecil apapun masih ada transaksi ekonomi, yang memungkinkan perbankan masih bisa hidup. Peluang itu dimanfaatkan betul oleh Widjajanto.

Dia mencoba membuka kantor perwakilan di kawasan Candi Sidoarjo yang lokasinya dekat dengan Porong. “Dan alhamdulillah perkembangan disana sampai sekarang masih bagus. Disana saya memanfaatkan peluang. Saya melihat disana masih ada orang jual tempe dan jual sayur. Dari situ berarti ada orang kulak kedelai untuk di buat tempe, orang kulak sayur untuk dijual kembali. Disana ada transaksi perdagangan, dan saya masuk,” jelasnya.

Ke depan, ia berencana melakukan ekspansi dengan menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan non bank. Kerjasama yang dikenal dengan aliansi strategis itu bukan didasari dengan Ukuwah Islamiyah, melainkan Ukuwah Muammalah.

Bahkan, walaupun berlabel syariah, ia tidak ingin menjaring nasabah hanya terbatas pada umat muslim. Karena menurutnya perintah Nabi Muhammad bahwa perbankan syariah tidak dikhususkan untuk orang islam, tapi memakai cara-cara orang islam. “Cara kerja nabi secara muammalat atau berhubungan bisnis dengan siapapun, termasuk nasrani maupun yahudi, sehingga kita sebagai perbankan syariah memiliki nasabah dari berbagai macam kalangan,” jelasnya. “Kalau kita bicara non muslim, maka harus bicara keuntungan secara rasional. Kalau berhubungan dengan perbankan syariah yakin aman dan menguntungkan, dan kita tidak boleh membatasi,” tambahnya.

Tantangan krisis
Krisis ekonomi 1998 adalah krisis yang telah memukul sistem ekonomi di Asia terutama Asia Tenggara dan Korea Selatan. Widjajanto ingat betul, bagaimana krisis itu menyebabkan nilai rupiah melemah, ditambah para spekulan bereaksi dengan membeli dolar, sehingga menurunkan nilai rupiah lebih jauh lagi.

Hal ini akhirnya membuat banyak perusahaan di Indonesia menjadi bangkrut akibat beban hutang yang melonjak sampai hampir 10 kali lipat. Bangkrutnya perusahaan-perusahaan tersebut menyebabkan pinjaman-pinjaman yang dikucurkan oleh perbankan menjadi macet. Sehingga bank menghadapi masalah likuiditas. Tercatat ada 25 bank yang dinyatakan dilikuidasi pada tahun 1998.

Di saat seperti itu, Widjajanto harus memutar otak bagaimana caranya bisa bertahan dari hantaman krisis. Beruntung, karena perbankan syariah tidak ikut-ikutan memakai bunga simpanan yang besar tapi dengan sistem bagi hasil, pada tahun 1999 krisis pun bisa dilaluinya. Bahkan, di tahun yang sama dia mendapatkan award dari Info Bank kriteria bank dengan BPR Syariah yang mempunyai laba terbesar di Indonesia. “Apa sih kuncinya? Manfaatkan peluang yang ada. Di saat bank lain keluar, maka kami masuk. Itu memang tantangan,” tandasnya.

Ia pun tidak khawatir dengan ancaman Non Performing Loan (NPL) tinggi. Pada kenyataannya NPL yang ada selalu bisa diminimalisir. Ia berpandangan, penyebab NPL tinggi dimulai dari bagus atau tidak menganalisa pembiayaan yang masuk. Sebelum memberikan pembiayaan atau kredit, terlebih dahulu harus menganalisa secara tajam. “Sejak permohonan masuk kita harus selektif, dari situ kita terhindar,” sarannya.

Adapun segmen yang menjadi bidikannya rata-rata dari sektor perdagangan tradisional. Sejauh ini, sekitar 80 persen pembiayaan berasal dari sektor tersebut. Berkat mengoptimalkan layanan dengan jemput bola dan pro aktif, pihaknya yakin bisa memenangkan persaingan di segmen tersebut.

“Untuk merebut pasar kita harus jadi bank yang teller mate, seperti penjahit. Produk kita harus fleksibel. Apa yang dibutuhkan nasabah asal itu syariah dan sesuai dengan sistem perbankan, apapun kita harus layani,” tukasnya.

Pernah bangkrut
Walau sekarang menduduki jabatan Direktur PT BPRS Baktimakmur Indah, Tri Hari Widjajanto mengisahkan pernah menghadapi getirnya hidup. Selepas kuliah strata satu di Fakultas hukum Universitas Negeri Surakarta (UNS) tahun 1990 silam, ia tidak langsung bekerja. Ia mengakui betapa sulitnya saat itu mencari kerja. Untuk itu, dia mulai membuka usaha dengan modal dari orang tuanya. Sayang, usahanya itu tidak berlangsung lama.

Kemudian tahun 1992, Widjajanto melamar di Koperasi BPR yang berlokasi di Nongkojajar Pasuruan Jawa Timur. Rupanya Dewi fortuna tidak jauh darinya. Ia diterima kerja sebagai collector funding. Tugasnya keluar masuk pasar untuk menjemput dana tabungan ke pedagang. Pekerjaan itu hanya bertahan sampai tahun 1993.

Keluar dari Koperasi itu, dia hijrah ke Surabaya dan bekerja di Bank Bumi Putera sampai dengan 1997. Lagi-lagi, ia harus resign karena bank tersebut terkena likuidasi. Tidak patah arang, mendengar informasi lowongan sebagai direktur di PT BPRS Baktimakmur Indah, ia bergegas mengirim lamaran kerja. Diperusahaan itu Widjijanto diterima sebagai direktur.

Punya latarbelakang hukum tidak membuatnya kesulitan beradaptasi dalam dunia perbankan. Bahkan, dalam menghadapi nasabah ia lebih pede (confidence) karena tahu hukum transaksi. “Tapi saya belajar banyak di bidang ekonomi. Saya bisa dikatakan mengatasinya,” pungkasnya. ins

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/02/01/hujan-batu-di-hotel-emerald-medan


Terapkan 'Smarter, Harder, dan Faster'

Monday, October 21, 2013

Pakai Jilbab, Rihanna Kunjungi Masjid Sheikh Zayed

Saturday, July 27, 2013

Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

REPUBLIKA.CO.ID, Daya tarik Sydney Opera House yang megah mendadak sirna, tergantikan oleh kesederhanaan Masjid Tempe yang mengobati kerinduan untuk melaksanakan sholat tarawih di tanah air. Berikut ragam cerita pengalaman mengenai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas masyarakat islam Indonesia di Sydney, Australia.


                                                                   *******
“Jamaah yang parkir di pom bensin dan Railway station road, mohon memindahkan mobilnya ke tempat yang agak jauh, kita harus menjaga dengan tetangga-tetangga di sekitar kita. Kalau memang ada tempat kosong yang kita gunakan tapi alangkah baiknya kita agak jalan jauh sedikit demi menjaga agar kita semua dapat menyambut berkah kehadiran bulan Ramadhan ini” demikian pengumuman Ustadz Lukman Hakim, President Center of Islamic Dakwah and Education (CIDE) usai shalat Isya pada malam pertama menyongsong bulan Ramadhan 1434 H.


“Kehati-hatian” yang disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim tersebut, bukan hanya karena umat Muslim minoritas di Australia. Sebagai umat mayoritas pun, Islam selalu mengajarkan untuk menghormati tetangga dan orang-orang di sekitar lingkungan kita.


Umat Islam di Australia memang hanya 2,2 persen, ini jauh berbanding terbalik dengan di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslim. Dari data wikipedia, 61 persen penduduk Australia adalah Kristen, termasuk diantaranya 25,3 persen adalah Katolik Roma dan 17,1 persen Protestan. Sementara 22,2 persen adalah pemeluk nonagama termasuk mereka yang atheis, humanis dan agnostik. Jumlah 2,2 persen umat Muslim di Australia berarti hanya kurang dari 500 ribu orang, bila dihitung dari populasi seluruh Australia sebesar 22 juta jiwa yang berarti hanya sepersepuluh dari penduduk Indonesia.


Perbedaannya, bila di tanah air hampir di setiap kelurahan atau daerah memiliki masjid atau mushola, tidak demikian halnya dengan di Australia. Umat Muslim yang ingin melaksanakan ibadah tarawih harus melakukan perjalanan untuk mencari masjid yang dekat di wilayah mereka. Beberapa kota bahkan tidak memiliki masjid sama sekali. Meskipun untuk kota-kota besar di Australia seperti Sydney, Melbourne, Perth, Adeleaide dan Canberra, mereka memiliki masjid.


Sydney tergolong kota yang banyak masjidnya karena selain banyak penduduk Australia yang berasal dari Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Afghanistan, maupun komunitas Turki, Indonesia dan negara-negara yang banyak memiliki penduduk Muslim. Khusus di Sydney, jamaah Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid al Hijrah atau biasa juga dikenal dengan Masjid Tempe merupakan salah satu masjid dimana mayoritas pengurusnya adalah umat Islam dari Indonesia. 


Di Sydney, terdapat kurang lebih 20 masjid yang tersebar di beberapa suburbs (kecamatan). Salah satu masjid terbesar dan tertua ada di suburb Auburn, yakni Masjid Auburn Galipoli. Dengan kubah birunya yang berukuran cukup besar maka masjid Auburn ini mirip dengan masjid berukuran menengah di tanah air.


Selain Auburn, suburb lain yang merupakan pusat komunitas Timur tengah adalah Lakemba. Di Lakemba terdapat mushola yang juga menjadi tempat bagi komunitas Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah sholat termasuk sholat tarawih pada bulan Ramadhan. Selain masjid, Lakemba juga banyak menawarkan jajanan khas Timur Tengah yang mengggugah selera, seperti Pide,Baklava asal Turki. Ini mengingatkan pada Masjid Ampel di Surabaya yang juga memiliki ragam wisata kuliner beragam mulai dari sambosa, roti mariam atau cane yang khas.


Kedua masjid tersebut merupakan dua masjid yang relatif besar di Sydney, selain kedua masjid tersebut, ada masjid Surry Hills yang lebih kecil namun terletak cukup strategis di tengah kota. Ada juga beberapa hall yang disewa oleh komunitas muslim yang biasanya pada hari jumat disulap menjadi tempat sholat jumat dan pada bulan Ramadhan, apabila banyak jamaah yang ingin tarawih, mereka patungan untuk bersama-sama menyewa hall tersebut untuk dijadikan tempat shalat tarawih.


Sedangkan Masjid Al Hijrah berada di Eastern Suburb, pinggiran kota Sydney yang terletak dekat dengan Airport Sydney. Hanya berjarak kurang 400 meter dari IKEA, brand furniture asal Swedia yang cukup favorit di Sydney.


Suasana masjid Al Hijrah rata-rata selalu penuh tiap malam. Dengan luas sekitar 10 x 25 meter persegi, maka kurang lebih 200-250 jamaah setiap harinya hadir sholat tarawih di masjid tersebut. Masjid yang tegolong kecil tersebut menjadi oase bagi umat Muslim Indonesia di Australia untuk menyambut bulan penuh berkah, bulan dimana terdapat didalamnya malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Dari segi waktu, puasa Ramadhan di Sydney cukup pendek bila dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu subuh mulai pukul 05.28, sedangkan waktu berbuka adzan maghrib masuk sejak pukul 17.03. Artinya, waktu puasa kurang dari 12 jam. Ini karena Australia sedang dalam musim dingin. Berkebalikan dengan musim di Eropa dan Amerika yang sedang musim panas. Meskipun Sydney tergolong kota yang musim dinginnya tidak terlalu dingin dengan suhu 7-17 derajat celcius, namun khususnya wudhu untuk shalat subuh, hawa dingin yang merasuk tubuh cukup mengemertakkan gigi dan membuat badan menggigil. 


Tausiyah yang disampaikan di Masjid al Hijrah biasanya dalam bahasa Indonesia, namun demikian, dalam beberapa kesempatan juga menghadirkan beberapa ustadz yang memberikan tausiyah dalam bahasa Inggris. Meskipun waktu Isya sudah masuk sejak pukul 18.35, shalat Isya dan tarawih di Masjid Tempe dilaksanakan pada pukul 19.30. Ini untuk mengakomodasi jamaah-jamaah yang tinggalnya jauh


Jadi setelah shalat Isya, akan disampaikan kultum selama kurang lebih 7-15 menit, setelah itu shalat tarawih dan witir, baru kemudian dilanjutkan oleh kajian ramadhan setiap harinya yang disampaikan oleh Ustadz Aep Saepulloh Lc Ma. Ustadz Aep malam itu memberikan khutbah dengan tema ‘Mengenal Surga rupanya mendapat sambutan yang cukup antusias oleh jamaah yang hadir. Meskipun waktu telah menunjukkan pukul  22.00, mayoritas jamaah masih menyimak penjelasan mengenai sungai-sungai di surga.


“Jadi ada empat sungai di dunia yang nanti juga ada di Surga yakni Jeihan, Saihan, Furat (Eufrat), dan Nil. ini merupakan nama-nama sungai di surga. Dalam ayat lain, sungai di surga itu akan mengali sungai madu, sungai susu, dan sunga arak. Namun araknya tidak akan memabukkan. Jadi kalau punya anak perempuan kalau bisa diberi nama empat ini, artinya sungai di Surga. Subhanallah” kata Ustadz Aep.


Selain tarawih, pengurus CIDE juga menyambut Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kultum short course Ramadhan, Family Talk in English, kajian dhuha, kajian Ashar, I’tikaf 10 malam terakhir, dan shalat Idul Fitri di lapangan masjid Tempe. Mereka yang mengikuti Kultum short course Ramadhan akan diberikan kesempatan untuk ‘manggung’ dan menyampaikan kultum pada saat tarawih.


Kiriman:
Mohammad Ridwansyah Saidi Ungsi, WNI di Sidney, Australia


Article source: http://www.rancahpost.com/2013075813/masuk-islam-bella-saphira-pilih-diam-seribu-bahasa/


Nikmatnya Tarawih di Masjid Tempe

Thursday, May 30, 2013

Mendadak Doyan 'Manggung'

Anas Urbaningrum dan Wiranto


Jelang Pemilu 2014 beberapa tokoh mendadak mencari panggung di berbagai media, salah satunya televisi. Bukan memperbincangkan bidangnya, mereka ‘menyeleweng’ ke peran lain mulai komentator bola hingga hadiri konser musik.


Kehadiran seorang politikus, menteri dan anggota legislatif di televisi mungkin bukan hal yang aneh. Setiap hari mereka berbicara tentang berbagai persoalan, mulai politik, ekonomi, hingga kemanusiaan.


Namun apa jadinya, mereka muncul di televisi sebagai pembawa acara, komentator sepakbola, hingga tampil dalam sebuah ajang pencarian bakat. Bahkan, ada juga yang memberikan secara simbolis hadiah.


Tentu hal ini memunculkan berbagai spekulasi. Dan sah saja jika kemunculan mereka itu dikaitkan dengan Pemilu yang tidak lama lagi. Bisa saja itu upaya agar semakin dikenal oleh publik.


Salah satu yang membuat kejutan adalah Gita Wirjawan. Menteri Perdagangan ini dipercaya menjadi komentator saat final Liga Champions, Minggu dini hari kemarin. Partai puncak itu mempertemukan dua klub sepakbola Jerman, Borussia Dortmund dan Bayern Munich yang bertanding di Stadion Wembley.


Dalam acara yang dipandu oleh Darius Sinathrya tersebut, Gita lebih banyak menjawab pertanyaan seputar dampak Liga Champions terhadap perekonomian negara-negara Eropa. Gita yang pada dini hari mengenakan kemeja putih dengan jaket hitam, menjelaskan bagaimana Liga Champions berdampak positif bagi negara penyelenggara.


Gita yang menjagokan Borussia Dortmund mengatakan, dua klub Bundes Liga tersebut bisa melaju ke babak final karena memiliki penataan keuangan yang baik. Karena itu, menurutnya, negara-negara tersebut bisa menjadikan kedua klub tersebut sebagai panutan.


Sayang, klub yang dijagokan Gita Wirjawan harus menelan kekalahan setelah ditekuk oleh Bayern Munich dengan selisih skor tipis 2-1.


Sebelumnya, Gita juga memukau dengan memamerkan keahliannya berpiano pada sejumlah wartawan yang hadir di gedung Kementerian Perdagangan, pada Jum’at (17/5) sore.Di samping kiri Gita, tampak Tompi kenakan topi khas yang sering dikenakannya.


Gita secara khusus memainkan piano mengiringi alunan lagu yang dibawakan oleh Tompi. Lagu yang dinyanyikan Tompi adalah Juwita Malam.


Seperti diketahui Gita digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden (Capres) dan mulai dilirik Partai Demokrat.


Ketua DPP Partai Demokrat Kastorius Sinaga mengungkapkan, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempersiapkan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan sebagai calon presiden 2014. Menurutnya, SBY sudah merestui Gita bertarung sebagai capres, tetapi tetap mempertimbangkan tingkat elektabilitas.


“Gita masuk bursa Ketua Umum Partai Demokrat dan sasaran akhir untuk Gita sebenarnya capres 2014,” katanya.


Ia mengatakan, nama Gita kini telah masuk sebagai salah satu calon presiden dalam sejumlah survei yang dilakukan berbagai lembaga. Dengan hasil sejumlah survei, menurutnya, SBY yakin memberikan restu kepada Gita. “Seperti yang dilakukan oleh LSI, SMRC, Politicalwave dan survei persepsi dri 100 opinion maker yang dilakukan LSI Burhan Muhtadi Desember tahun lalu untuk menjaring Capres 2014 dari sisi kualitas,” katanya.


Mengapa Gita? Kastorius mengatakan, Gita dianggap merepresentasikan figur pemimpin masa depan Indonesia pasca-SBY. Selama dua periode kepemimpinan SBY, ia dianggap salah satu tokoh di balik keberhasilan tim ekonomi SBY.


“Saat ini, sebagai Mendag berani dan berhasil melawan gempuran impor asing lewat kebijakan-kebijakan pro rakyat seperti penerapan HPP garam, pembatasan impor hortukultura dan penerapan sistem HPP Kedelai,” kata Kastorius.


Intinya, lanjut dia, narasi besar Indonesia ada di bidang ekonomi. “Untuk mengemban ini, Gita layak karena dia sangat disegani dan sekaligus disenangi stakeholder ekonomi dunia,” katanya. Alasan lain, kata Kastorius, Gita tergolong masih muda dan berasal dari generasi muda yang mewakili pemilih pemul yang akan menjadi mayoritas voters pada Pemilu 2014.


“Sebagai tokoh muda, dibanding dengan tokoh-tokoh lain, Gita relatif terbebas dari beban sejarah kelam masa lalu. Artinya, Gita menjadi sangat layak untuk membawa layar Indonesia semakin berkembang di domestik dan global,” kata Kastorius.


Meski demikian, menurut  Lingkaran Survei Indonesia elektabilitas Gita belum positif.”Ada sejumlah nama yang kita survei, seperti Chairul Tandjung, Gita Wiryawan dan lainnya. Tetapi perolehan dukungan hanya nol koma sekian %,” kata Peneliti LSI Adjie Alfaraby Maret lalu.


Adjie mengungkapkan, ada lebih dari 10 nama yang disurvei termasuk Chairul Tanjung dan Gita. Dari nama-nama itu, lanjutnya, muncul empat nama yang menempati posisi teratas.”Empat nama teratas dikuasai oleh tokoh-tokoh partai nasionalis. Megawati Soekarnoputri 20,7 %, Aburizal Bakrie 20,3 %, Prabowo Subianto 19,2 % dan Wiranto 8,2 %,” tuturnya.


Adjie menambahkan, nama Gita pun kalah jika dibandingkan dengan tokoh dari partai Islam yang diantaranya berada di pemerintahan Presiden SBY seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Alie dan Muhaimin Iskandar. Bahkan dengan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan istri Presiden SBY, Gita pun masih belum bisa bersaing.


“Ketum PAN Hatta Rajasa memperoleh dukungan 6,4 %, Ketum PPP Suryadharma Ali 1,9 %, Ketum PKB Muhaimin Iskandar 1,6, Presiden PKS Anis Matta 1,1 % dan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh 2,1 %. Sedangkan Ani Yudhoyono 2,4 %,” ucapnya.ins


Wiranto-Anas Tak Mau Kalah
Ajang pencarian bakat X-Factor yang ditayangkan di RCTI, akhirnya dimenangkan Fathin Shidqia. Fathin berhasil mengalahkan pesaing terberatnya Novita Dewi. Di tengah meriahnya para pendukung Fathin, tiba-tiba nama Ketua Umum Partai Hanura Wiranto disebut MC sebagai pihak yang menyerahkan hadiah kepada pemenang.”Hadiah akan diberikan langsung oleh bapak haji Wiranto,” kata MC Robi Purba, Jakarta, Sabtu (25/5).


Saat naik ke atas panggung, Wiranto yang mengenakan pakaian hitam lengan panjang tersenyum sambil menyalami pemenang X-Factor. Saat memberikan hadiah secara simbolik kepada Fathin, Wiranto terlihat hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata.


Kehadiran Wiranto tentu mendatangkan tanda tanya besar. Wiranto adalah seorang politikus, sedangkan X-Factor merupakan acara entertainment, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jauh. Kehadiran Wiranto diduga terkait strategi politik untuk Pemilu 2014?


Mengingat, sebelumnya Ketua Badan Pemenangan Pemilu Hanura Yuddy Chrisnandi mengatakan persoalan pemanfaatan iklan di media MNC Group merupakan janji CEO MNC Group sekaligus Ketua Dewan Pakar Hanura, Hary Tanoesoedibjo (HT).


“Wah enggak ngerti, itukan janjinya HT untuk all out membesarkan Hanura dan mendukung Pak Wiranto jadi presiden. Jadi konsekuensinya ya harus munculkan iklan-iklan Hanura dan Pak Wiranto di media yang dimilikinya. Tentu jangan sampai melanggar aturan,” kata.


Anas Urbaningrum juga muncul meski statusnya kini tersangka. Pada pertandingan Liga Champions yang mempertemukan dua klub raksasa Liga Inggris, Chelsea menjamu Manchester United, mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dipercaya menjadi komentator. Dalam pertandingan yang dihelat di Stamford Bridge, Anas menjagokan Setan Merah.


Kebetulan atau tidak, pada pertandingan tersebut, anak asuh Sir Alex Ferguson berhasil memenangkan pertandingan dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang tersebut diciptakan dari pemain penyerang Wayne Rooney setelah mendapat assist dari Ryan Giggs.


Selain menjadi komentator resmi di stasiun televisi, Sarjana ilmu politik Universitas Airlangga Surabaya ini kerap menuliskan prediksi pertandingan sepakbola di akun Twitter miliknya, @anasurbaningrum.


Anas mengatakan, kegemarannya terhadap sepakbola diturunkan dari ayahnya yang juga seorang pecinta bola.


Sementara pada final Piala Dunia 2010 yang dihelat di Afrika Selatan yang mempertemukan Belanda melawan Spanyol, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman dipercaya sebagai komentator di televisi. Pada final yang diadakan Soccer City, Johannesburg tersebut, Irman menjagokan klub matador Spanyol.


Irman mengatakan, faktor yang mengantarkan tim besutan Luiz Aragones itu mampu melaju ke babak final adalah tingkat kreativitas, kecerdikan dan penguasaan bola di lini tengah yang menjadikan ciri khas mereka. Dengan ciri tersebut, lanjut Irman, Spanyol mampu membuat lawan kesulitan dalam menyerang maupun bertahan.


Pada final yang diselenggarakan pada Senin, 12 Juli 2010 tersebut berkesudahan dengan skor 1-0. Orang yang menjadi pahlawan kemenangan Spanyol adalah Andres Iniesta yang berhasil membobol gawang Maarten Stekelenburg pada menit ke-116 lewat perpanjangan waktu.


Irman menambahkan, dengan kesuksesan Afrika Selatan dalam menggelar Piala Dunia bisa dijadikan contoh bagi persepakbolaan Indonesia. Dia pun berharap, suatu saat nanti, tim merah putih juga bisa berlaga di Piala Dunia. Biar terkenal nih!ins


Pejabat Pun Eksis ‘Ngartis’, Etiskah?
Entah sekadar aji mumpung–mumpung terkenal — atau tidak, kini pejabat publik makin banyak yang dengan percaya diri action di depan kamera sebagai bintang iklan komersial. Etiskah?


Bila ditelisik dari segi aturan, beberapa nama menteri hingga walikota yang menjadi bintang iklan produk memang tak melanggar karena tidak ada Undang-Undang (UU) yang melarangnya. Padahal secara etika hal tersebut bermasalah.


Bukti terbaru adalah nongolnya foto Marzuki Alie, Ketua DPR di selebaran dan situs resmi PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) dengan posisi sebagai penasihat. Meski menurut politisi Demokrat ini,  gambarnya bersama Direktur Utama Michael Ong–yang kini diduga melarikan diri ke luar negeri dengan membawa uang Rp 40 miliar—diambil saat launching produk dan tak pernah izin dirinya untuk dijadikan bahan promosi, tapi tetap saja nama Marzukie terseret dalam kasus investasi bodong tersebut.


“Iklan-iklan itu sebetulnya bermasalah karena memperlihatkan keberpihakan pejabat publik pada produk tertentu dan mencoreng jabatan yang mereka pangku,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia Boni Hargens.


Berbeda dengan anggota DPR yang memiliki aturan tidak boleh berprofesi ganda, sehingga artis pun dilarang ‘ngamen’ lagi bila sudah duduk di parlemen. larangan tegas profesi ganda anggota dewan diatur dalam Undang-Undang Nomor 27/2009 tentang MPR, DPR, DPRD dan DPD. Meski kenyataan di lapangan masih ada beberapa politisi artis yang ‘diam-diam’ main sinetron dan menjadi host acara televisi.


Sebelumnya, Marzuki juga iklan komersial produk elektronik asli buatan Indonesia, Maspion. Marzuki kala itu menjelaskan, ia sudah lama kenal sang presiden direktur perusahaan dalam negeri itu sejak Pemilu 2004.


Menurut Boni, tak adanya aturan mengenai itu menjadi celah yang membenarkan para pejabat negara menjadi bintang iklan. Tidak salah memang secara hukum. Tapi salah secara moral politis. Ia pun berharap ke depan UU Pejabat Publik mengatur hal tersebut.


Boni pun menduga para pejabat yang menjadi bintang iklan saat ini melakukannya demi mendongkrak popularitas. Sebab dilakukan secara dadakan dan mengejutkan.


Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan juga pernah tampil pada iklan tentang menyambut ulang tahun perusahaan nasional, Astra Internasional.


Dengan memberikan sambutan atas ulang tahun Astra Internasional ke-55, Gita yang mantan bos Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini, mengapresiasi pencapaian Astra Internasional dalam mendukung perekonomian Indonesia. Iklan tersebut disiarkan di beberapa televisi swasta nasional.


Ada juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi. Saat menjadi walikota Solo secara aktif menjadi brand ambassador atau bintang iklan mobil Esemka karya putra-putri Indonesia. Berawal dari sini, nama Jokowi dan produk mobil Esemka menjadi dikenal.


Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam waktu dekat juga akan tampil sebagai bintang iklan sebuah produk jamu lokal, PT Sido Muncul. Dahlan akan tampil sebagai bintang iklan tanpa dibayar.


Kepala Humas Kementerian BUMN, Faisal Halimi menjelaskan, Dahlan dipilih karena merupakan sosok yang dicintai oleh masyarakat. Meskipun Dahlan adalah seorang menteri, tetapi Dahlan tidak melanggar peraturan dengan menjadi bintang iklan.


Selain itu, Dahlan juga aktif mempromosikan mobil listrik asli buatan Indonesia jenis city car, Ahmadi dan sejenis ‘Ferrari’ listrik, Tucuxi. Meskipun hal tersebut merupakan inisiatif Dahlan semata, namun mantan bos Jawa Pos Group ini aktif di media mempromosikan mobil listrik made in Indonesia tersebut.


Sebelumnya, KSAD Jenderal Pramono Edhie juga menjadi bintang iklan Kuku Bima dan Menteri BUMN Sofyan Djalil juga mempromosikan produk asuransi InHealth.


Etika memang tak berbuah penjara jika dilanggar. Tapi, pejabat beretika sangat dibutuhkan negeri ‘galau’ Indonesia.ins,dtc,mtv


Pejabat Eksis di Iklan Komersial


Marzuki Alie, Ketua DPR


  • Promosi PT Golden Traders Indonesia Syariah/GTIS (selebaran dan di situs resmi)

  • Promosi produk elektronik asli buatan Indonesia, Maspion (iklan televisi)

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan


  • Iklan menyambut ulang tahun Astra Internasional (iklan televisi).

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo


  • Brand ambassador atau bintang iklan mobil Esemka

Menteri BUMN Dahlan Iskan


  • Bintang iklan sebuah produk jamu lokal, PT Sido Muncul.

  • Aktif mempromosikan mobil listrik ‘Ferrari’ Tucuxi

  • Menjadi ikon sepatu DI 19

KSAD Jenderal Pramono Edhie


  • Menjadi bintang iklan Kuku Bima (iklan televisi)

Menteri BUMN Sofyan Djalil


  • Mempromosikan produk asuransi InHealth.

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/05/21/menteri-agama-jika-garuda-diganti-perkutut-itu-bukan-lagi-lambang-negara


Mendadak Doyan 'Manggung'