Showing posts sorted by relevance for query Densus. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Densus. Sort by date Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Densus Tangkap Kerabat Dekat Baasyir

SOLO, KOMPAS.com — Setelah menangkap seorang warga Dipotrunan RT 04 RW 11, Kelurahan Tipes, Serengan, Solo, Slamet Pilih Utomo, Selasa (14/05/2013) pagi, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali menangkap seorang warga Solo. Sorenya, sekitar pukul 17.00 WIB, Tim Densus 88 menangkap seorang pria bernama Nuim Baasyir.


Nuim ditangkap Tim Densus 88 Antiteror di rumahnya di RT 3 RW 4 Joyotakan, Solo. “Tidak ada yang tahu persis kejadian penangkapannya,” kata Juru Bicara Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono. Nuim dikenal warga sebagai salah satu kerabat dekat Abu Bakar Baasyir.


Saat ditangkap, Nuim sedang berada di rumahnya. Dia ditangkap dengan disaksikan anaknya yang baru berusia tujuh tahun. Menurut dia, Tim Densus 88 langsung masuk rumah dan menodongkan pistol kepada Nuim. Densus langsung meringkus Nuim dan membawanya pergi. “Anaknya teriak histeris karena ketakutan,” katanya.


Beberapa saat setelah kejadian, istri Nuim langsung melaporkan penangkapan suaminya tersebut kepada LUIS. Dijelaskan Endro, Nuim masih memiliki hubungan keluarga dengan mantan pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abu Bakar Baasyir, dan pernah aktif di JAT.


Seorang tetangga Nuim, Santi (35), mengaku menyaksikan kejadian penangkapan tersebut. Dia mengetahui adanya penangkapan dari anak-anak yang tengah bermain di kampungnya. “Ada anak-anak yang datang bilang kalau ada yang ditembak, saya ke luar,” katanya.


Menurut dia, Nuim sempat mencoba memberontak saat anggota Densus 88 mencoba meringkusnya. “Sempat terdengar suara tembakan sekali, der!, karena Nuim mencoba memberontak,” katanya.


Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Jogja di lapangan, anggota Densus yang meringkus Nuim sebanyak tiga orang dengan mengendarai dua sepeda motor. Dua petugas yang masuk ke rumah membawa pistol.


Sebanyak dua anggota Densus 88 masuk ke dalam rumah untuk meringkus Nuim. Sementara seorang anggota lain menunggu di luar.


“Pak Nuim dibonceng di tengah, terus langsung pergi,” katanya.


Kejadian tersebut berjalan sangat cepat, diperkirakan tidak lebih dari lima menit. Menurut dia, Nuim sekeluarga bukan warga asli kampung tersebut. Mereka baru datang sekitar setahun yang lalu dan dikenal sebagai keluarga yang tertutup.


 
















Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Densus Tangkap Kerabat Dekat Baasyir

Thursday, May 16, 2013

Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Penggeledahan rumah terduga teroris Qomasu Nuawiyah Arob alias Nuaim (39) Rabu (15/5) siang, selain berlangsung lama, juga sempat mendapat protes keras dari istri dan keluarga.


Adik kandung Nuaim, Muhammad Fauzi kepada wartawan usai penggeledahan mengatakan, pihak keluarga merasa belum mendapat pemberitahuan resmi mengenai penggeledahan tersebut. Pihaknya juga meminta agar saat penggeledahan disaksikan oleh Tim Pengacara Muslim (TPM).


“Kami hanya minta polisi menunjukkan surat resmi (penggeledahan) sebelum masuk ke rumah. Karena saat datang tidak ada pemberitahuan dan tidak ada surat resminya,” katanya.


Menurut Fauzi, pihaknya juga menanyakan alasan Densus 88 menangkap kakaknya. “Kami tidak tahu sama sekali apa salah Nuiam sehingga ditangkap Densus 88,” ujarnya.


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Densus 88 memberikan surat penangkapan dengan nomor SPJK – 40/4/5/2013. Dalam surat tersebut disebutkan, Nuaim ditangkap terkait dengan penangkapan terduga teroris lainnya, William Maksum.


“Kami dari pihak keluarga tidak mengenal William Maksum,” tegasnya.


Sementara mengenai barang bukti yang disita polisi menurut Fauzi, tidak serta merta bisa menyimpulkan bahwa Nuaim terkait tindak terorisme.


“Benda-benda itu biasa didapati di rumah-rumah warga pada umumnya. Lagian benda-benda tersebut juga tidak disembunyikan,” terangnya.


Fauzi mencontohkan, gulungan kabel, itu dibeli untuk memperbaiki saluran listrik di rumah. Sementara paralon itu sebenarnya peredam senapan angin yang sudah rusak. Kalau sarung pistol itu dibeli Nuaim dari pasar barang bekas dan jadi mainan anaknya.


“Itu tadi kan ditemukan di kotak mainan anaknya. Kalau CD dan buku-buku yang disinyalir berkaitan dengan tindak terorisme, itu tidak benar. Buku-buku itu kan bisa dibeli di pasaran,” tambahnya.


Sebelumnya, Tim Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sekaligus penggeledahan, di tempat tinggal terduga teroris Nuaim, kampung Padangan, Joyotakan RT 03 RW 04 Serengan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (15/5).


Dalam penggeledahan tersebut, polisi menemukan dan membawa beberapa barang bukti, antara lain sebuah sarung senjata, Majalah Sabili, buku-buku dengan judul “Islam Arab dan Yahudi Zionis, “Jihad dan Terorisme”, “Melawan Kafir Yahudi”, “Salibis tunggangi SBY”.


Selain barang tersebut, polisi juga menyita beberapa potongan pipa paralon, satu ikat kepala bertuliskan “freedem Palestina”, lima VCD tanpa cover, dan beberapa kabel tiga warna.










Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/03/165621/Mahasiswa-dan-Polisi-Terlibat-Baku-Pukul/6


Penggeledahan rumah kerabat Baasyir sempat dihalangi keluarga

Tuesday, December 25, 2012

Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

JAKARTA – Puji Tuhan. Malam Natal di seluruh Indonesia berjalan damai dan aman. Pantauan posko operasi Lilin Mabes Polri menyebutkan, secara umum tidak ada gangguan keamanan di malam yang dikuduskan umat Kristiani itu.
   
Kapolri Jenderal Timur Pradopo bersama jajarannya tadi  mengunjungi sejumlah gereja di Jakarta untuk meninjau pengamanan yang dilakukan anak buahnya. ”Kehadiran saya untuk melihat adik adik mengamankan ibadah di  Jakarta,” ujar Timur di gereja Katedral Jakarta tadi malam (24/12).  

Secara umum menurut Timur, seluruh wilayah Jakarta malam ini aman dan seluruh umat dapat menjalankan ibadah dengan khidmat. Selain Jakarta, secara keseluruhan kondisi malam Natal di seluruh Indonesia juga berjalan dengan aman dan tertib.  ”Laporan dari daerah semuanya kondusif. Ini kita syukuri, alhamdulillah,” kata alumnus kpol 1978 itu. 

Titik pengamanan disesuaikan dengan kondisi. Jumlah personel di masing-masing provinsi berbeda-beda. ”Kalau untuk daerah, Pemda sudah menyiapkan untuk mengamankan kegiatan agama,” katanya.

Khusus di Jakarta, dikerahkan 5.992 personel untuk menjaga 16 ribu gereja di Jakarta. Aparat tersebut adalah aparat gabungan dari satuan Polri, TNI, Satpol PP dan Dishub Jakarta.

Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menambahkan, pengamanan akan berlangsung terus sampai awal 2013. ”Polri terus mewaspadai dan mengantisipasi kemungkinan adanya kerawanan, termasuk terorisme,” katanya.
Pengerahan pasukan Brimob, Densus dan intelijen dilakukan secara terkoordinasi. ”Tentu, jumlah dan plottingnya disesuaikan dengan analisa situasi,” katanya.

Secara terpisah, sumber Jawa Pos di lingkungan anti teror menyebutkan hingga tadi malam, kesiapsiagaan terhadap aksi terorisme sangat tinggi. ”Berbagai data intelijen yang masuk kami evaluasi dan kami ukur kadar akurasinya,” katanya.

Tren ancaman sebenarnya terbaca sejak dua pekan lalu. Saat penangkapan tersangka terorisme Roki Aprisdianto di madiun, Densus 88 menemukan beberapa ketarangan yang cukup mengejutkan. Namun, penyidik ini menolak menjelaskan secara detail. ”Yang jelas, kerawanan di Poso juga kami ukur. Itu bisa saja pengalihan strategi agar konsentrasi Densus kesana saja. Kami tidak boleh terkecoh,” katanya.
  
Menteri Agama Minta Masyarakat Tetap Akur

Di bagian lain, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menghimbau seluruh masyarakat Indonesia menyambut hari Natal 2012 dengan hikmat. ’’Harus tetap akur,’’ katanya usai pembukaan Konferensi Internasional tentang Fatwa di Jakarta kemarin (24/12).
 
Setiap perayaan natal, atau hari besar keagamaan non-Islam lainnya, selalu memunculkan persoalan. Yakni, sempat muncul fatwa jika umat muslim diharamkan mengucapkan selamat natal atau hari besar agama non-Islam lainnya. Dari kecenderungan ini, menteri yang akrab disapa SDA itu mengatakan tidak perlu dipersoalkan.

’’Pemerinta h nyatakan umat muslim boleh mengucapkan selamat natal kepada umar yang merayakannya,’’ kata SDA. Bahkan dia mengatakan akan mengikuti perayaan natal nasional yang rencananya digelar 27 Desember nanti. ’’Dalam momen perayaan natal nasional itu saya datang dan mengenakan kopyah,’’ kata dia lantas tertawa.

SDA mengatakan jika memperdebatkan fatwa yang mengharamkan umat muslim mengucapkan selamat natal tidak relevan lagi dengan semangat kebersamaan. Dia mengatakan tidak menjadi persoalan jika ada umat muslim yang mengucapkan selamat natal bahkan ikut merayakan natal.

’’Yang penting keteguhan imannya sebagai seorang muslim tetap terjaga,’’ tandas menteri yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Selain meminta masyarakat menjaga solidaritas menyambut natal, SDA secara resmi juga mewakili unsur pemerintah juga mengucapkan selamat natal kepada umat yang merayakannya. Dia berharap perayaan natal ini bisa berlangsung dengan hikmat dan aman.

SDA juga mengecam jika ada pihak-pihak yang ingin mengusik ketenangan natal tahun ini. Jika kebetulan yang mengusik ini adalah umat muslim, dia mengatakan bisa memperburuk citra umat muslim di mata dunia. SDA mengatakan jika saat ini pihaknya sedang membangun citra positif umat muslim. Terutama  umat muslim yang ada di Indonesia.

’’Umat muslim di Indonesia itu bukan umat muslim yang suka kekerasan atau perang,’’ katanya. Sebaliknya, umat muslim di Indonesia adalah umat yang ramah dan toleransi. Entah itu kepada sesama muslim atau dengan umat agama lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono yang mendampingi SDA juga menyampaikan selamat natal. ’’Tidak perlu diperdebatkan halal-haram mengucapkan selamat natal,’’ kata dia. Agung juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat natal 2013 kepada masyarakat yang merayakannya. (rdl/ wan)

Article source: http://nasional.inilah.com/read/detail/1940569/pks-mesin-partai-itu-kader-bukan-artis


Natal Aman, Polisi Tetap Waspadai Potensi Teror Akhir Tahun

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Tuesday, December 25, 2012

Kisah Dua Pemuda Sidoarjo yang Ditangkap Saat Misa Natal di Gereja

Selasa, 25/12/2012 21:55 WIB


Bruriy Susanto – detikSurabaya





Kedua pemuda itu masih diperiksa polisi/ Bruriy Susanto


Sidoarjo -
Meski mengaku hanya ingin mencari angpao di Hari Natal, polisi tidak percaya begitu saja. Pemeriksaan terhadap dua pemuda yang diamankan saat misa di gereja di Sidoarjo masih berlanjut hingga malam ini.

Pantauan detiksurabaya.com Pukul 21.15 Wib, Selasa (25/12/2012), AA dan MHF masih di dalam ruangan penyidik unit ekonomi Mapolres Sidoarjo. Pemuda asal Kecamatan Tanggulangin itu diinterogasi mengenai kegiatannya sehari-harinya.

Pemeriksaan tersebut melibatkan tim dari Densus 88 AntiTeror. AA maupun MHF kepada petugas tetap bersikukuh keikutsertaannya dalam misa natal di Gereja Santo Paulus di Desa Semambung, Gedangan, itu hanya untuk mencari angpao dari umat kristiani.

“Saya memang mencari gereja yang besar. Dan tujuannya hanya ingin mendapatkan uang amplop saat perayaan hari raya natal,” kilah AA di Mapolres Sidoarjo.

Pemuda 19 tahun itu lantas menceritakan, dirinya mengajak MHF untuk jalan-jalan dan berkeliling di sekitar wilayah Sidoarjo. Nah, diperjalanan muncul ide untuk mencari uang di gereja besar yang sedang merayakan hari natal.

“Karena tidak mempunyai uang, saya mempunyai niat mencari gereja yang besar. Dan menceritakan niat itu ke dia (MHF) agar mau ikut,” aku pemuda yang mengaku masih kuliah di perguruan tinggi swasta di Sidoarjo ini.

Meski MHF sempat menentang idenya, namun akhirnya mengamininya. MHF juga sempat mengingatkan apabila perbuatan itu melanggar agama yang dianutnya.

“Dia (MHF) itu melarang saya. Karena kalau ketahuan apa alasannya. Apalagi agama kita Islam. Saya bilang kalau ketahuan bilang saja kalau ingin masuk Kristen gitu aja,” tambah AA.

Kekhawatiran MHF pun terjadi. Keduanya yang duduk di bangku tenda yang disediakan gereja di halaman itu dipergoki petugas keamanan gereja yang akhirnya menggelandangnya ke kantor polisi, sekitar Pukul 09.15 Wib.

“Belum sampai mendapatkan uang. Saya sudah dibawa oleh orang berpakaian preman. Kemudian dibawa ke kantor polisi dan diperiksa sampai sekarang,” jawab AA kepada detiksurabaya.com yang sempat menemui di ruang pemeriksaan.

Polisi juga mengamankan sepeda motor dan flashdisk milik AA. Dan juga keluarga maupun perangkat desa tempat kedua pemuda tinggal juga sudah dimintai keterangan. AA (19) tercatat tinggal di Kalidawir dan MHF (19) di Kedungbateng Kecamatan Tanggulangin.

“Keluarga dan perangkat desa hingga RT sudah kita mintai keterangan semua. Tapi kasus ini kita serahkan ke densus,” kata Kapolres AKBP Marjuki.

(gik/gik)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detiksurabaya.com/ dari browser ponsel anda!

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share to Twitter:

You are redirected to Twitter

  Share via Email:

Share via Email

loadingSending your message

Message has successfully sent

An Error has Occured

Komentar terkini (18 Komentar)

Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto No. 17 A Surabaya
Telp/ Fax: 031 547 4465
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di iklan[at]detikhot.com,

Promosi / Event:
Hubungi: Gilang Permana Seta
Email: gilang[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan:
Email : sales[at]detik.com

<!–
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya

Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465

Iklan Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com

–>

Article source: http://www.solopos.com/2012/12/25/fatwa-mui-soal-natal-sebagai-kehati-hatian-361555


Kisah Dua Pemuda Sidoarjo yang Ditangkap Saat Misa Natal di Gereja

Friday, March 22, 2013

Tasamuh Dalam Beragama

Sebuah hasil penelitian dari Surat kabar The Daily Mail yang dirilis beberapa waktu yang lalu menyebutkan, bahwa dua agama yang memiliki pemeluk terbesar di dunia adalah Kristen dan Islam. Kedua agama ini, tersebar hampir di semua negara-negara di dunia, dengan dinamika dan sebaran yang beragam. Hal yang cukup menarik yang diungkap dalam penelitian ini menunjukkan bahwa posisi ketiga, dari jumlah pemeluk terbesar agama ditempati oleh atheisme atau agnotisime. Yakni kepercayaan tentang ketidak-percayaan terhadap Tuhan dan Agama. Penganut ”agama” ini, mengalahkan jumlah pemeluk agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Yahudi dan lainnya.

Islam dan Kristen, dalam lintasan sejarahnya memiliki akar konflik yang luar biasa besar. Meskipun kedua agama ini merupakan rumpun agama Abrahamik (agama samawi), namun konfrontsi antar keduanya telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah. Puncaknya adalah pada perang Salib. Perang yang terjadi dalam ukuran abad, dan melibatkan beberapa generasi ini telah mengorbankan ribuan nyawa dari kedua pihak. Dan hal ini masih menyisakan luka sejarah perih, yang pada titik tertentu melahirkan apa yang disebut dendam sejarah.

Tidak bisa dielakkan, hal inilah yang menjadi akar geneologi keberadaan konflik antar kedua agama tersebut. Berbagai sentimen, stereotipe, curiga, stigma dan beban psikologis selalu menjadi pemicu konflik, yang juga masuk pada ranah-ranah kehidupan keberagamaan.

Dua dasawarsa yang lalu, seorang futurolog pernah meramalkan akan benturan besar antar kedua agama tersebut. Adalah Samuel Huntington yang memprediksikan bahwa pasca Perang Dingin akan terjadi apa yang ia sebut sebagai “clash of civilization”, benturan antar peradaban. Meskipun Huntington tidak secara specifik menyebut “agama” sebagai basis pemicu benturan, namun Huntington mengindikasikan adanya entitas agama, dengan menyebut sebagai sebuah peradaban. Tiga peradaban yang akan berbenturan tersebut adalah perababan Islam dan Confusion melawan peradaban WASP (White Anglo Saxon Protestan) yang kemudian dikenal dengan peradaban Barat. Hal ini setidaknya memberi legitimasi bahwa kedua agama tersebut, Islam dan Kristen selalu diposisikan secara berhadap-hadapan, dan berpotensi melahirkan konflik yang besar.

Membangun Toleransi
Indonesia merupakan negara plural, di mana di dalamnya terdapat beberapa agama yang dianut oleh pemeluknya. Meskipun secara kuantitas, Agama Islam merupakan agama mayoritas, namun kebebasan untuk beragama sangat dilindungi dan dihargai. Dalam perkembangannya, memang terjadi letupan-letupan kecil konflik antar kedua agama ini. Konflik terbesar yang bisa kita sebutkan disini barang kali adalah konflik Ambon pada tahun 1999. Pasca itu, konflik hanya terjadi pada sekala kecil dan terjadi secara sporadis. Namun, tidak menutup kemungkinan, jika perbedaan ini tidak dikelola dengan baik, suatu saat bisa jadi akan menjadi bom waktu. Disinilah kiranya, perlu membangun budaya toleran antar kedua agama tersebut.

Dalam perspektif Islam, toleransi atau tasamuh dalam beragama menjadi spirit ajaran agama yang sangat urgen. Islam dalam sebuah teks sucinya menyatakan bahwa tujuan diturunkannya risalah Islam adalah menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan li a-alamin. Islam sangat menghargai perbedaan agama dan keyakinan. Sehingga tidak boleh ada paksaan dalam memeluk suatu agama, la iqraha fi al-din. Setiap orang boleh melaksanakan ajaran agamanya dengan bebas, tanpa ada rasa kekhawatiran dan ketakutan. Karena dalam persoalan pelaksanaan ajaran agama, berlaku prinsip lakum dinukum waliya din, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Inilah inti ajaran agama, membangun toleransi dan harmoni dalam kehidupan manusia. Islam juga menjaga hak kemanusiaan kepada non muslim, selagi mereka mau menjaga hubungan yang baik dengan ummat Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, siapa yang menyakiti seorang non muslim yang dzimmy, maka ia sama saja dengan menyakiti Rasulullah Muhammad SAW.

Menjadi seorang muslim yang tasamuh adalah keniscayaan dalam rangka membumikan tujuan risalah islam tersebut. sikap fanatisme yang berlebihan, dengan merampas hal-hak kemanusiaan ummat lain adalah sebuah tindakan anarkisme yang tidak bisa dibenarkan. Menganggap agama kita yang paling benar adalah sebuah keyakinan yang sah, namun jika disertai dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain yang tidak seagama atau sealiran dengan kita tentunya bukan merupakan inti ajaran islam.

Islam adalah agama yang ramah dan murah, hanafiah al-samhah, bukan agama yang marah. Islam menganjurkan untuk memberikan kemudahan dan kegembiraan kepada orang lain, bukan malah menyulitkan dan menakutkan. Sabda nabi dalam sebuah riwayat, yassiru wala tu’assiru, basysyiru wana tunaffiru, permudahlah jangan mempersulit, gembirakanlah jangan menakuti. Mari kita beragama dengan toleran, demi terwujudnya tatanan dunia yang penuh rahmah!

Article source: http://www.tribunnews.com/2013/01/06/jat-densus-88-melanggar-ham


Tasamuh Dalam Beragama

Friday, April 19, 2013

PPP Kumpulkan DCS di Hari Terakhir

JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah merampungkan daftar calon sementara (DCS) untuk Pemilu Legislatif 2014. Rencananya, partai berlambang kabah ini akan menyerahkan DCS pada hari terakhir pengumpulan, yakni Senin (22/4/2013).


“Sudah selesai, PPP akan mendaftarkannya ke KPU pada Senin. Ada 1.161 orang yang mendaftar, tapi kami saring menjadi 560 orang masuk dalam DCS untuk tingkat DPR RI,” ujar Sekretaris Jenderal PPP M Romahurmuzy di Kompleks Parlemen, Jumat (19/4/2013).


Romy, sapaan akrabnya, menuturkan dari seluruh bakal caleg, sebanyak 30 persen di antaranya adalah caleg perempuan. Selain itu, latar belakang para bakal caleg ini pun beragam mulai dari pengusaha, aktivis, hingga kalangan artis. “Ada lima artis yang bergabung,” kata Romy.


Sebelumnya, Ketua Bappilu PPP Fernita Darwis memastikan penyanyi dangdut Angel Lelga akan diusung sebagai caleg DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur V. Sementara itu, juru bicara Front Pembela Islam Munarman masuk sebagai caleg dari daerah pemilihan Sumatera Selatan 2.


Selain itu, ada pula penyanyi kawakan Emilia Kontesa yang juga maju sebagai caleg. Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka pendaftaran bagi partai politik untuk menyerahkan DCS hingga 22 April 2013.


Hingga kini, baru ada satu partai yang menyerahkan DCS, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebagian besar partai masih berkutat dengan kelengkapan syarat administrasi yang cukup banyak, utamanya legalisasi ijazah SMA.


Setelah DCS diserahkan, partai politik berhak mengajukan perbaikan DCS pada 9-22 Mei 2013. Pada masa perbaikan itu, partai politik bisa melengkapi persyaratan bakal caleg, menambah bakal caleg untuk mencapai jumlah maksimal, mengubah bakal caleg, hingga perubahan daerah pemilihan dan nomor urut. Namun, saat DCS sudah ditetapkan pada tanggal 23 Juli 2013 oleh KPU menjadi daftar calon tetap (DCT), partai politik tidak lagi memiliki hak untuk mengubahnya.


Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Geliat Politik Jelan 2014
















Article source: http://www.beritasatu.com/nasional/90702-jat-kutuk-penembakan-7-terduga-teroris-oleh-densus.html


PPP Kumpulkan DCS di Hari Terakhir

Wednesday, January 16, 2013

Bersama Tangani Teroris

Oleh Said Aqil Siradj

KOMPAS.com – Kembali teroris berulah. Di awal Januari 2013 ini, Detasemen Khusus Anti-teror 88 menembak mati lima terduga teroris di Dompu dan Bima. Kelima tersangka itu, menurut polisi, bagian dari tujuh teroris yang masuk dalam daftar pencarian orang dari Poso yang masuk ke Bima melalui jalur pelayaran dari Makassar, Sulawesi Selatan. Densus 88 juga menemukan bahan baku 261 bom pipa di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Kawanan teroris ini diduga mengincar kawasan wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Teroris juga diduga menargetkan menghancurkan sebuah hotel di Bima. Selain di NTB, teroris juga diduga hendak menghancurkan tempat ibadah dan kantor polisi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rupanya teroris masih kuat bercokol di negeri ini, terus berbenah diri, membangun sel-sel jaringan, dan siap melancarkan aksinya. Banyak yang mengakui bahwa gerakan kelompok terorisme sangat terorganisasi, dinamis, dan memiliki tujuan tertentu. Jangan kaget bila jaringan teroris telah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Penyakit akut

Terorisme barangkali layak diibaratkan penyakit diabetes. Manakala seseorang sudah terkena penyakit yang disebut-sebut sebagai pembunuh manusia tingkat kedua di dunia setelah kanker tersebut, ia seolah sudah divonis mustahil sembuh. Kadar gula penyandang diabetes kadang naik, kadang turun, bergantung pola diet makan, obat, dan olahraga.

Kata dokter, belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang pankreas tersebut. Namun, sudah banyak obat yang setidaknya bisa menurunkan atau menetralkan kadar gula, baik medis maupun herbal.

Persis dengan seseorang yang sudah terjangkiti ”penyakit” radikal dan terorisme. Entah karena awalnya berangkat dari ikut-ikutan pengajian-pengajian ”keras”, salah dalam membaca buku keagamaan, atau akibat rasa ”terasing” dari pergaulan sosial alias frustrasi sosial, masalah keterjepitan ekonomi, dan sebagainya.

Mengobati militansi yang didasari semangat jihad yang kebablasan ini memang tak seperti membalik tangan. Namun, jelas perlu terapi yang mujarab. Memang sudah cukup banyak dilakukan, seperti deradikalisasi, resosialisasi, reedukasi, dan reintegrasi. Cara-cara tersebut harus terus digencarkan demi kemanjuran menyembuhkan penyakit akibat ”overdosis” dalam memaknai ajaran keagamaan.

Penanganan komprehensif

Pada 7 Januari lalu, saya kedatangan empat warga Poso, Sulawesi Tengah. Mereka ke PBNU difasilitasi aktivis Gerakan Pemuda Anshor dan dua komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Keempat orang ini meluapkan kecemasan terhadap sikap aparat dalam penanganan terorisme belakangan ini. Setelah mendengar segala keluh kesah mereka, saya manggut-manggut dan berjanji akan mencoba menyampaikan laporan warga Poso ini kepada Presiden.

Apa yang hendak saya wedarkan ini tentu sama sekali bukan untuk menggembosi tindakan pemberantasan teroris, tetapi lebih sebagai upaya membantu agar penanganan terorisme bisa lebih baik. Kita berharap penanganan sejumlah kasus dugaan terorisme di Tanah Air lebih profesional, menghindari sikap represif yang dapat menimbulkan waswas di masyarakat.

Memang, menghadapi ulah teroris seolah kita dibuat ”kelabakan” atau katakanlah ”dilematis”. Padahal, kelompok teroris ini bila beraksi bertindak brutal tanpa mengindahkan norma sosial dan bahkan keagamaan. Namun, pihak berwenang dituntut dalam menangani teroris harus selalu berjalan di jalur hukum dan norma-norma kemanusiaan lantaran perlu sealur dengan pemberlakuan HAM yang didudukkan sebagai ”norma internasional”. Misalnya, salah tangkap atau salah tembak bisa menimbulkan gejolak yang makin memanaskan suasana.

Adanya ”rambu-rambu” seperti ini bisa-bisa menimbulkan sikap dan tindakan ”maju kena mundur kena” sekalipun perlakuan dan penanganan terhadap terorisme lebih punya ”keleluasaan” dibanding penanganan kejahatan biasa. Sebab, terorisme dimasukkan kategori kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Sebenarnya yang justru lebih menarik dan bikin penasaran adalah model penanganan terorisme di negeri kita yang dirasa masih ”luwes dan lunak”. Namun ternyata, penanganan terorisme di negeri ini dipandang paling sukses dibanding negara lain, bahkan dibanding Amerika Serikat yang katanya jadi ”ikon” demokrasi justru memberlakukan tindakan represif terhadap tahanan kasus terorisme.

Fakta ini perlu jadi kebanggaan kita sebagai bangsa yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran sehingga segala upaya penindakan terhadap segala bentuk brutalisme selalu berjalan berdasar pada hukum yang berlaku serta norma-norma yang adiluhung. Bukan lantas menjadi ”peluang” bagi kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan aksi anarkis, terutama terhadap mereka yang diposisikan sebagai minoritas.

Tak bisa dimungkiri, aksi terorisme merupakan tindakan sadis yang melanggar kemanusiaan dan ajaran mulia keagamaan. Prinsip ini yang secara fundamental wajib menjadi pegangan dalam menindaklanjuti upaya melawan teroris. Jangan sampai kemudian tindakan yang sudah dirancang bangun demikian rupa jadi terkesan ”lembek”.

Di tataran perilaku

Apa dan siapa teroris itu? Teroris bukan penyandang sakit jiwa (psikopat), penderita gangguan jiwa (neurotik), atau orang- orang yang sadis. Pengamat Barat sebelumnya menghujami tuduhan, teroris itu akibat ketersumbatan libido seksual mereka lantaran banyaknya larangan perilaku seksual dalam ajaran Islam.

Meminjam hasil penelitian Sarlito Wirawan Sarwono (2012), para teroris adalah orang-orang biasa. Beberapa di antaranya bahkan tergolong cerdas. Kebetulan mereka punya ideologi berbeda dengan kita. Ideologi ini sangat diyakini seolah-olah ideologi mereka paling benar dan yang lain salah.

Para teroris adalah orang-orang normal yang beranak-istri, setia kawan, patuh pada orangtua, dan bekerja mencari nafkah sebelum buron.

Ideologi mereka tak ubahnya ideologi-ideologi radikal lainnya yang berada di luar basis keagamaan. Sebutlah ideologi kaum kiri yang bersumber pada Marxisme seperti pemberontak komunis di Kolombia dan Filipina. Juga seperti sekte-sekte radikal Aum Shinrikyo di Jepang dan Yoel Lerner dari Yahudi radikal di Israel. Mereka sangat militan dalam doktrin dan kalap dalam melakukan aksi kekerasan.

Akhirnya, kita perlu menimang-nimang pemahaman yang lebih baik atas gejala terorisme sehingga mampu menindaknya lebih cepat dan tepat. Pendekatan komprehensif banyak diakui berbagai pihak belum terlaksana dalam penanganan terorisme di negeri ini.

Apa yang selama ini dilakukan, seperti program deradikalisasi, perlu lebih ditingkatkan menjadi program disengagement. Maksudnya, kita tak lagi hanya berkutat di tataran ideologi, tetapi juga di tataran perilaku.

Seiring itu, perlu keterlibatan masyarakat dalam memberi informasi, mewaspadai, dan menyikapi bekas narapidana teroris sehingga langkah-langkah pembinaan, preventif, dan penegakan hukum menjadi lebih sinergis.

Said Aqil Siradj Ketua Umum PBNU

 







Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Bersama Tangani Teroris

Friday, December 13, 2013

Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut.


Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan.


Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno.


Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel.


Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen.


Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab.


Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan.


Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan.


Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi.


Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI.


Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri.


Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR.


Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian.


Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi.


Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri. [ROL]


Article source: http://hot.detik.com/read/2013/11/28/142542/2426386/230/ketua-mui-cinta-ada-batasnya-jangan-karena-cinta-jadi-murtad?991104topnews


Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Friday, December 20, 2013

Yusuf Islam Masuk Hall of Fame

WASHINGTON — The Rock and Roll Hall of Fame pada Senin (16/12) lalu, mengumumkan bahwa Cat Stevens, Nirvana, Kiss, Peter Gabriel, Hall dan Oates, dan Linda Ronstadt akan masuk Hall of Fame tahun depan. The Cleveland, Ohio Institusion juga mengatakan Brian Epstein, manajer The Beatles dari tahun 1962 sampai kematiannya pada tahun 1967, akan diberikan gelar Lifetime Achievement.

Syarat untuk bergabung dengan Hall of Fame adalah penyanyi, komposer atau musisi yang telah merilis rekaman setidaknya 25 tahun sebelum tahun induksi dan telah menunjukkan keunggulan musik yang tak diragukan lagi dalam kata-kata Hall of Fame.


Cat Stevens, juga dikenal sebagai Yusuf Islam, masuk Islam pada tahun 1970 setelah mengalami tujuh tahun kesuksesan multi- platinum nya di Amerika Serikat. Itu 17 tahun antara LP terakhirnya sebagai Cat Stevens ( 1978 Back To Hearth ), dan CD pertama sebagai Yusuf Islam dan lebih dari satu dekade dari album pop pertamanya dalam hampir 30 tahun (An Other Cup pada tahun 2006).


“Ketika saya menerima Islam banyak orang tidak bisa mengerti,” katanya kepada Rolling Stone. Untuk fans saya tampaknya masuk Islam menjadi penyebab langsung dari saya meninggalkan bisnis musik, begitu banyak orang yang marah. Namun, saya telah menemukan rumah spiritual saya untuk melanjutkan sebagian besar hidup saya. Dan jika Anda mendengarkan musik serta lirik ‘Peace Train’dan ‘On The Road To Find Out’ dapat terlihat jelas menunjukkan kerinduan saya untuk arah dan jalan spiritual yang saya tuju,” ucapnya.


Nantinya penganugerahan The Rock and Roll Hall of Fame kepada Yusuf Islam akan dilakukan pada bulan April tahun depan di Brooklyn, New York. [ROL]


Article source: http://regional.kompas.com/read/2013/05/14/22401372/Densus.Tangkap.Kerabat.Dekat.Baasyir


Yusuf Islam Masuk Hall of Fame

Sunday, May 19, 2013

Terduga Teroris di Solo Ternyata Baru 1,5 Tahun Mualaf - jogja - Okezone.com

KARANGANYAR- Banyak fakta menarik dari David, terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror di rumah Ibrahim Sungkar di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.


Ketua kelompok 1, Perumahan Polri, Gedongan Baru RT 03 RW 10 Kampung Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Sugeng, mengatakan saat mengontrak rumah tersebut David ternyata belum mualaf.


“Makannya namannya masih David. Dia memutuskan sebagai Mualaf sesudah lebaran 2011 lalu. Jadi baru 1,5 tahun jadi mualaf. Itu yang membuat kami ragu dengan keterlibatan David,” kata Sugeng kepada Okezone, Minggu (19/5/2013).


Sejak memutuskan sebagai Mualaf, Sugeng mengaku tidak pernah melihat adanya tamu yang mencurigakan datang ke rumah David.


Tamu yang sering datang yakni teman istri David. Berbeda saat David belum memutuskan sebagai mualaf dan masih berprofesi sebagai Debt Collector, rumah David sering banget didatangi tamu.


“Waktu David masih jadi Debt Collector, rumahnya sering banget didatangi tamu. Tamunya itu semuanya nasabahnya dia dan sesama rekan Debt Collector,” tuturnya.


Sejak memutuskan menjadi Mualaf, menurut Sugeng, David memutuskan berhenti menjadi Debt Collector. Namun apa pekerjaannya setelah berhenti menjadi Debt Collector, Sugeng mengaku tidak mengetahuinya.


Pantauan Okezone di lapangan, rumah kontrakan David didatangi Kepala Dusun, petugas dari Koramil Colomadu, Karanganyar, dan wartawan. “Tadi sempat dari Polsek Colomadu datang memantau, terus pergi lagi,” tuturnya. 


Berita Selengkapnya Klik di Sini


(kem)


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/05/19/bangun-masjid-megah-di-tengah-kremlin-putih


Terduga Teroris di Solo Ternyata Baru 1,5 Tahun Mualaf - jogja - Okezone.com

Tuesday, August 20, 2013

Inilah Lima Tokoh yang Merekatkan Indonesia

Foto Terkait


Anak-anak Sampaikan Surat Paskah untuk Presiden




TEMPO.CO, Jakarta – Tujuh tahun sudah keluarga Sahidin dan 31 keluarga penganut Ahmadiyah lainnya mengungsi di Wisma Transito karena rumah mereka diserbu saudara muslimnya pada Februari 2006.


Dua anak Sahidin: Maryam Nur Sidikah, 6 tahun, dan adiknya Muhammad Khotaman Nabiyyin, terus merengek minta pulang. Mereka dan 22 anak lainnya harus lahir di pengungsian.


“Ayah, kapan kita pulang ke rumah sendiri?” Maryam suatu kali bertanya kepada Sahidin. Sahidin, koordinator pengungsi Ahmadiyah di Wisma Transito Majeluk, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, hanya termangu mendengar pertanyaan anaknya.


Kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah di Mataram hanya satu serpihan dari pecahan kaca bernama toleransi di negeri ini. Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia-Yayasan Denny J.A. menunjukkan, sejak 1998 hingga 2012, terjadi hampir 2.400 kasus kekerasan diskriminasi—kebanyakan berbasis agama. Jika dirata-rata, tiap tahun ada 160 konflik. Atau, tiap 2-3 hari muncul satu konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan.


Nyaris tak ada solusi pada sebagian besar konflik itu. Jika ada, sekarang Sahidin tidak tinggal di pengungsian. Hukum juga tak bertaji terhadap mereka yang bersalah. Lihat saja, para penyerang jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, yang menewaskan tiga anggota jemaah, hanya divonis 3-6 bulan bui. Akibatnya, kekerasan berbasis SARA mendapatkan kesempatan untuk tumbuh subur.


“Kemajemukan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan sekarang paling mudah menyulut emosi masyarakat,” Otto Nur Abdullah, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mengingatkan. Statistik mendukung Otto. Mengutip laporan Setara Institute dan Wahid Institute, kasus kekerasan berbasis agama meningkat sekitar 30 persen sejak 2009 hingga pertengahan 2013.


Namun kita beruntung karena di negeri ini masih ada warga negara yang tak kenal lelah bergiat merajut perdamaian, hak asasi, dan kebebasan beragama. Mereka ini pantas dibanggakan. Berbekal keyakinan tersebut, Koran Tempo mempersembahkan edisi khusus Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 2013 bagi Para Perekat Republik.


Ada lima tokoh dan satu organisasi yang ditahbiskan sebagai para perekat Republik. Mereka adalah (1) Lian Gogali, penggerak pembauran di Poso, tempat di mana sayur-mayur dan buah-buahan pernah beragama. Lian menyatukan ibu-ibu Islam, Kristen, dan Hindu di Sekolah Perempuan Mosintuwu sejak tiga tahun lalu hingga sekarang. Tujuannya adalah mencegah konflik berkepanjangan di kabupaten di Sulawesi Tengah.


(2) Sofyan Tan di Medan. Pengalaman buruk ditolak masuk universitas negeri karena bermata sipit membuat dia mendirikan sekolah multi-etnis.


(3) Kami juga memilih Kholiq Arif, Bupati Wonosobo, yang juga menjadi tokoh “Bukan Bupati Biasa” versi majalah Tempo. Meskipun Kholiq bukan nama baru di media massa, kami menilai kiprahnya, yang sempat dianggap sesat karena melindungi penganut Ahmadiyah dan Syiah, menjadi antitesis dari para kepala daerah yang tak berbuat apa pun.


(4) Dari Bali, kami memilih Anak Agung Ngurah Agung. Pengagum Abdurrahman Wahid ini berusaha memulihkan keretakan hubungan umat Hindu-Islam pasca-bom Bali. Rumahnya di Puri Gerenceng-Pemecutan, Jalan Diponegoro, Denpasar, kerap dipenuhi umat Islam yang khusyuk mendaras doa dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.


(5) Ada juga Tuan Guru Subki Sasaki yang mendobrak arus utama kaum konservatif di Lombok. Ia merupakan penyokong utama keragaman di wilayah itu.


(6) Terakhir, ada Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Organisasi unik ini mendekatkan anak-anak dari mereka yang semula berseteru satu generasi yang lalu. Ada putri Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani, bergandengan tangan dengan putra S.M. Kartosuwirjo dan D.N. Aidit.


Merekalah para perawat toleransi di republik ini, setelah negara absen memenuhi kewajibannya dalam merawat keberagaman. Bukan toleransi yang dibatasi sekadar untuk menghindari konflik, melainkan dengan cinta yang tak berbatas terhadap kemanusiaan. Pembaca, inilah mereka, para perekat “kaca-kaca” yang terserpih di republik ini.


TIM TEMPO


Article source: http://www.beritasatu.com/nasional/90702-jat-kutuk-penembakan-7-terduga-teroris-oleh-densus.html


Inilah Lima Tokoh yang Merekatkan Indonesia

Friday, December 13, 2013

Jilbab Polwan Terempas Dusta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nasihin Masha


Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut. Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan. Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno. Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel. Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen. Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab. Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan. Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan. Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi. Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI. Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri. Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR. Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian. Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi. Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri.


Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/76826-fpi-dan-mui-depok-sodorkan-bukti-jonas-rivanno-sudah-masuk-islam.html


Jilbab Polwan Terempas Dusta