Showing posts sorted by relevance for query lingkungannya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query lingkungannya. Sort by date Show all posts

Saturday, February 16, 2013

Melunasi Utang Sosial

Melunasi Utang Sosial

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 17/02/2013 04:38 WIB

PENYELESAIAN suatu tahapan proses berkehidupan — apalagi satu tahapan cukup penting, rupa-rupanya, lebih dari sebatas psikologis (hendak mengatakan pada diri sendiri bahwa satu tahap kehidupan cukup penting sudah didapat/mampu diselesaikan, dan keluarga ikut berbahagia). Entah di dalam perspektif lingkungan sosial pula, penyelesaian suatu tahapan proses kehidupan memiliki nilai — seakan sekaligus menunaikan suatu beban tanggungjawab sosial. Ibaratnya nilai/beban tanggungjawab sosial adalah utang, penyelesaian satu taha­pan proses kehidupan yang penting terasa menjadi/dirasakan sebagai sudah membayarkan utang—utang ke lingkungan (keluarga dan masyarakat yang mengenal diri kita). Sebagai makhluk h sosial dan atau sebagai khalifah di muka bumi, manusia, dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, memang memiliki nilai/beban tang­gungj­awab sosial pada keluarga dan masyarakat lingkungannya.

 

Masalahnya, kemudian, setidak­nya sejauh menurut Cucu Magek Dirih, ada sebagian kita yang me­mahami/memiliki perspektif dan kesa­daran tentang nilai/beban tang­gungjawab sosial yang harus ditu­naikan, dan sebagian kita yang lain pula tidak memahami/memiliki per­spek­tif dan kesadaran tentang nilai/beban tanggungjawab sosial tersebut — secara keras dan kasar bahwa orang demikian disebut egois/hanya memikirkan diri sendiri (keberadaan orang lain pun dipandang hanya untuk dirinya) atau sebagai tidak memiliki kepekaan/kepedulian terhadap mas­ya­rakat lingkungannya atau a-sosial. Ter­lebih pada masyarakat yang me­miliki nilai bersama tentang kolegial/kekeluargaan — betapa pun negara mengakui keberadaan hak individu pun! Nilai/penilaian masyarakat lingkungan terhadap diri seseorang atau tingkah lakunya atau perbuatan seseorang menjadi perlu dan penting — tergantung seseorang tadi memiliki perpektif tentang nilai/beban tanggu­ngjawab sosial itu.

 

Secara spesifik, seorang anak tidak dapat mengabaikan keberadaan dan peranan dari kedua orang tuanya, misalnya, dan tidak dapat menga­bai­kan keberadaan/peranan/penilaian masyarakat lingkungannya. Pada masyarakat Minangkabau, selain kesadaran tentang ada/keberadaa dari para pemuka masyarakat/tetua adat yang harus dihormati/kata dan nase­hat­nya harus didengar dan dilak­sana­kan, juga ada nilai/beban tang­gung­jawab sosial terhadap masyarakat lingkungan suku/korong/nagari, misalnya. Bilamana di dalam paruik/suku dan atau korong/nagari ada kegiatan bersama, maka seseorang yang menjadi warga paruik/suku dan atau warga korong/nagari otomatis mempunyai nilai/beban tang­gung­jawab sosial yang harus mereka tunaikan. Katakanlah kenduri perni­kahan dan atau berita kematian — kaba baik baimbauan (memberi tahu/mengundang)/kaba buruak baam­bauan (kalau tahu harus datang tanpa diberitahu/diundang pun!).

 

Sedang dalam kehidupan, ada pekerjaan/tugas dan atau nilai/beban dari pekerjaan/tugas yang sebetulnya lebih pada diri sendiri, tapi, rupanya juga memiliki nilai/beban sosial untuk menunaikannya. Misalnya, mamak (bersama sumandonya) bertang­gung­jawab segala sesuatu di atas rumahnya (mencarikan suami bagi anak/kema­na­kan; rumah gadang katirisan — juga membangun rumah bagi keluarga; dan mayik tabujua di ateh rumah/harus menyelenggarakan proses me­man­dikan dan mengu­burkan mayat), misalnya. Karna seseorang dikenal/cukup dikenal secara luas, maka segala sesuatu pada diri seseorang itu men­jadi milik masyarakat lingkungan — seakan masyarakat lingkungan berhak me­nge­­tahui/menanyakan/mem­per­soal­kan satu hal atau beberapa hal (tugas/pekerjaan/kegiatan) berkaitan dengan diri seseorang. Suka atau tidak suka, masyarakat lingkungan akan me­nge­tahui atau menanyakan atau bahkan mempertanyakannya

 

BEGITULAH yang dialami/dilalui Cucu Magek Dirih dengan penye­lesaian pendidikan degree strata-1 di jurusan pendidikan bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (PBA-Faktar-IAIN-IB) Padang. Bahwa sebagai mahasiswa pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang angkatan tahun 1974, Cucu Magk Dirih sudah diwisuda jadi sarjana muda (1978). Sesuai kebijakan otoritas pendidikan tinggi Kemenag saat itu, tingkatan pendidikan tinggi dilanjutkan ke doktoral I dan doktoral II — saat itu belum ada sistem kredit semester. Tahun 1979, Cucu Magek Dirih menyelesaikan doktoral II pada jurusan PBA-Faktar-IAIN-IB Padang — kecuali ujian dua mata kuliah doktoral I/II mata kuliah ilmu hadits dan ilmu tafsir yang dosennya Drs. H. Sanoesi Latief (saat itu Rektor IAIN-IB Padang). Ujian ilmu hadits dan ilmu tafsir doktoral I (1978) belum dibo­leh­kan Sanoesi Latief karena pekerjaan sebagai staf/pegawai honor (Pj. Sek­retaris) pada Lembaga Bahasa dan permintaan beliau agar melengkapi persyaratan untuk diajukan jadi pegawai negeri sipil (PNS) golongan lu­lusan sarjana muda belum dise­lesaikan.

 

Sebetulnya, juga karena kon­se­kuensi logis dari keterlibatan Cucu Magek Dirih sebagai salah seorang aktivis mahasiswa. Setelah Pang­kopkamtib Laksamana TNI Soedomo membekukan lembaga student gober­ment/organisasi intra­kampus dewan mahasiswa (DM)  — masih mem­pertahankan senat-senat ma­hasiswa (SM) di fakultas-fakultas (1978), Cucu Magek Dirih terlalu berani menye­leng­ga­rakan pertemuan/mengumpulkan para aktivis pengurus DM — juga dari Universitas Andalas dan IKIP Padang di laboratorium Lembaga Bahasa IAIN IB Padang (di mana Cucu Magek Dirih jadi pegawai honorer) Sabtu atau Minggu. Lalu, Cucu Magk Dirih dik­e­tahui mengadakan pembicaraan de­ng­an para pengurus senat-senat ma­hasiswa di lingkungan IAIB IB Padang. Ia ditangkap Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau — Rektor Sanoesi meneyerahkan Cucu Magek Dirih kepada dua perwira TNI berpa­kaian pereman yang datang men­jem­put ke kampus Sudirman Padang.

 

Keluar dari tahanan Laksusda/Kodam III 17 Agustus Sumbar/Riau, Cucu Magek Dirih merasa ia selalu diawasi — ruang geraknya dibatasi. Lalu, terbuka peluang bagi Cucu Magek Dirih menjadi wartawan/koresponden di Harian Pagi Kompas Jakarta untuk daerah kerja provinsi Sumatera Barat. Koordinator warta­wan/koresponden Harian Pagi Kom­pas wilayah Sumatera Barat/Riau memilih Cucu Magek Dirih untuk melalui masa percobaan tiga bulanan — singkatnya ia diterima menjadi wartawan/korespondn Kompas Ja­karta daerah kerja di provinsi Su­matera Barat (1979). Bersamaan pula karena situasi politis tidak men­gun­tungkan, Rektor Sanoesi digantikan caretaker Kol. Purn. Hasnawi Karim (saat itu ia menjabat Kepala Kanwil Depag Sumatera Barat). Situasi itu tak menguntungkan bagi penyelesaian studi Cucu Magk Dirih. Sampai ak­hirnya Cucu Magek Dirih dipindahkan kantor redaksinya menjadi wartawan/koresponden untuk wilayah provinsi Riau — termasuk wilayah provinsi Kepulauan Riau sekarang (1983).

 

Tadinya, Cucu Magek Dirih men­yang­ka penyelesaian kesarjanaannya dapat dilakukan di IAIN Sutan Qasim di Pekanbaru. Rupanya, untuk jurusan PBA di Faktar IAIN Sutan Qasim Pekanbaru belum ada doktoral (baru sampai sarjana muda). Lalu, dari Pekanbaru Cucu Magek Dirih ditarik ke kantor redaksi Kompas Jakarta (1987) — persiapan ke Persda Kelom­pok Kompas Gramedia (KKG) me­nangani proyek kerjasama dengan Harian Umum Sriwijaya Post Pa­lem­bang (1988-1990). Keluar dari Kom­pas/KKG, masuk ke Klompok Usaha Bakri (KUB) — menangani proyek Harian Umum Pelita Jakarta (1990-1992). Lalu, keluar. Masuk ke KUB lagi dan menangani Harian Umum Nusa Tenggara/sekaligus percetakannya. Akhir tahun 1998, return ke Padang, menangani Harian Pagi Padang Ek­spres — terbit perdana pada 26 Januari 1999. Sejak itu terbuka kembali peluang Cucu Magek Dirih menye­lesaikan kesarjanaan-lengkapnya.

 

ALHAMDULILLAH — atas pe­nye­lesaian kesarjanaan di jurusan PBA­-Faktar-IAIN-IB Padang (muna­qasah skripsi judul “Istikhdamu Kasaili al-I’lami Kawasailatun Tarabawiyatun fi Tanmiyati ath-Thaaqaati at-Ta’a­la­miyati Lillungati al-’Arabiyah, se­jum­lah kesalahpahaman terhadap kesar­janaan Cucu Magek Dirih sudah dapat dijawab/diatasi. Selama ini, ada sejumlah kenalan/masyarakat yang menganggap Cucu Magek Dirih lulu­san strata-1 (sarjana) — bahkan ada yang tidak percaya bilamana dijelas­kan bahwa Cucu Magek Dirih adalah orang surau dan atau karena pe­nam­pilan/jabatan Cucu Magek Dirih memimpin beberapa perusahaan lalu menganggap dirinya sarjana ekonomi. Kini, nilai/beban tangungjawab sosial dari Cucu Magek Dirih menerima anggapan/penilaian beberapa pihak tentang pendidikan tinggi/kesar­janaan­nya dapat dijawab — ibaratnya hutang sudah dapat dilunasinya.

 

What ever, sekarang Cucu Magek Dirih memang seorang lulusan strata-1 (sarjana lengkap) untuk jurusan pendidikan bahasa Arab Faktar-IAIN-IB Padang — walaupun sertifikat sarjana tersebut tak akan digunakan jadi PNS. Andai masih ada pihak/kenalan yang menyangka/mengang­gap dan atau menulis nama Cucu Magek Dirih yang menambahkan “drs” atau “SE”, tentu beban morilnya tidak seberat semula — sesungguhnya Cu­cu Magek Dirih adalah seorang su­rau yang semestinya menjadi guru ba­hasa Arab madrasah aliyah/sekolah menengah atas/sederajat. Bukan sar­jana ilmu politik dan atau ilmu eko­nomi yang selama ini dianggap oleh se­ba­gian — terutama saat Cucu Magek Di­­rih bertugas/jadi pemakalah di Ja­kar­ta/di Palembang Sumatera Se­latan dan sekitarnya/di Denpasar Ba­li dan se­kitarnya atau di tempat-tempat lainnya.

 

Akhirnya, di atas segalanya, Cucu Magek Dirih bersyukur kepada Allah — alhamdulillah hamdan jiddan, dan berterima kasih pada keluarganya. Khususnya isterinya Desnayetti yang menguruskan segala hal berkaitan dengan penyelesaian kuliah enam sistem kredit semester tambahan satu semester — karena di doktoral tahun 1978-1979 dahulu mata kuliah itu tak ada, mengurus makalah/tugas diberi­kan dari dosen, mengikuti ujian komp­re, penulisan/perbanyakan naskah skripsi — mencari/mengumpulkan buku dan dokumen diperlukan untuk penulisan skripsi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing (Cucu Magek Dirih belum pulih dari sakit), dan kepada ibunya, Saribanun. Cucu Magek Dirih menyampaikan terima kasih kepada dua dosen pembimbing Prof. Dr. Armen Mukhtar dan Dr. Reihani M. Ag, kepada dekan Prof. Dr. H. Duski Samad MA, penguji Prof. Dr. Masnal Jazuly M.Ag dan Drs. Lokot Nasution M.Ag.***

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=257113:-partai-islam-harus-segera-jalin-komunikasi&catid=17:politik&Itemid=30


Melunasi Utang Sosial

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Saturday, August 10, 2013

Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Friska Yolandha


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Yusha begitu yakin akan kebenaran yang tercantum dalam kitab suci itu.


Suatu hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.


‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.


‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.


‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’


Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.


Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.


Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 


‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.


Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.


Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’


Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.


Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.


Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.


Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.


Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.


Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.


‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.


****


Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.
‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.


Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.


Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.


Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’


Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.


****


Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.


Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.


Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.


‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.


‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.


“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”


Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.


Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”


Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.


****


Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.


Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.


“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.


Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’


‘’Aku sedang menunggu Musa.’’


‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’


Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.


Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.


Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’


‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’


Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’


Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.


Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.
Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”


‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’


Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’


Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26677/07/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(1).html


Syekh Yusha Evans, Kisah Misionaris Memeluk Islam

Sunday, August 11, 2013

Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam


SUATU hari di musim panas 1996. Yusha Evans, seorang misionaris muda kedatangan seorang teman bernama Benjamin. Ia tak pernah menyangka, kehadiran temannya itu bakal menggoyahkan imannya. Sebuah pertanyaan tak terduga yang dilontarkan temannya membuatnya melepaskan keyakinannya sebagai seorang Kristen.



‘’Apakah kau pernah membaca seluruh isi Alkitab?’’ Tanya Benjamin.



‘’Apa maksudmu? Saya seorang misionaris Kristen dan bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu padaku?’’ cetus Yusha.



‘’Apakah kau pernah membaca Alkitab seperti membaca sebuah novel: mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, mengetahui plot dan tempatnya serta tahu seluruh detail isinya?’’



Yusha mengaku tak pernah membaca Alkitab dengan cara itu. Lalu Benjamin menantangnya untuk membaca kembali Alkitab dari awal hingga akhir. Ia memintanya untuk membaca Alkitab selama beberapa bulan dan tidak menyentuh buku lain, kecuali Alkitab.



Maka mulailah Yusha membaca Alkitab dari Kejadian 1:1. Ia sangat tertarik dengan kisah para nabi. Dalam Alkitab, dikisahkan bahwa Nabi Nuh menyampaikan wahyu Allah, tapi tidak ada satupun umatnya yang mengikuti seruannya. Lalu Allah menghukum umat Nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar, dan hanya Nabi Nuh serta orang-orang yang naik ke kapal saja yang selamat.



Setelah banjir, seperti dikisahkan dalam Alkitab, Nabi Nuh  meminum anggur dan keluar dalam keadaan mabuk. Yusha mengaku sangat heran, mengapa Nuh seorang utusan Tuhan bisa bersikap seperti itu. 



‘’Tidak mungkin seorang nabi bersikap seperti itu. Maka saya tahu mengapa umat Nabi Nuh tidak mendengarkan apa yang ia sampaikan, karena ia mabuk,” kata Yusha kecewa.



Yusha  kembali melanjutkan bacaannya. Semakin dalam membaca, kian banyak ia  menemukan kesenjangan dalam Alkitab. Beberapa kisah nabi yang dibacanya justru tak mencerminkan nabi itu sebagai utusan Tuhan. Mereka malah seperti pelaku kriminal,  yang justru dicari-cari polisi.



Ia pun amat penasaran. Yusha lalu bertanya kepada pendeta di gereja tempat melakukan misa. Ia mempertanyakan banyak hal. Namun Yusha tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Para pendeta yang ditemuinya berkata, ‘’Janganlah ilmu pengetahuan yang sedikit mempengaruhi keyakinannya terhadap Yesus.’’



Yusha diminta agar tidak perlu mempelajari segala hal. Ia diminta hanya cukup percaya saja pada apa yang diajarkan. Sejumlah pendeta memintanya agar tidak membaca Perjanjian Lama. Alasannya, Alkitab tersebut sudah tidak lagi terpakai. Mereka  memintanya untuk membaca Perjanjian Baru.



Di dalam Perjanjian Baru, Yusha menemukan sebuah ayat yang menyebut bahwa Yesus berkata Tuhan itu satu. Dan hal tersebut terus diulang-ulang di ayat dan surat berikutnya dengan cara yang berbeda. Sama seperti ajaran Musa dalam 10 Perintah Allah, hal pertama yang diperintahkan adalah menyembah Allah dan tidak ada yang lain.



Yusha lalu mencari tahu mengenai Yesus. Ia menemukan ayat yang menyebutkan bahwa Yesus memerintahkan hal yang sama: menyembah satu Tuhan. Rasa penasarannya semakin menggebu. Ia pun mulai mempertanyakan tentang penyaliban Yesus. Dalam ajaran yang ia terima, Yesus dipaku pada bagian tangannya.



Dalam hatinya muncul kegamangan. Yusha berpendapat, hal tersebut sangatlah konyol. Seseorang yang telapak tangannya disalib tidak akan bertahan lama di atas tiang. Ia pun menyampaikan pendapatnya itu kepada para pendeta. Alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru dilarang untuk melakukan khutbah Kristen di gerejanya.



Saat kondisi imannya sedang goyah, Benjamin kembali menemui Yusha. ‘’Aku telah membaca Alkitab berulang kali. Alitab itu pula dicetak berulang kali, namun selalu masih saja ada salah penulisan. Padahal, Tuhan itu sempurna. Ciptaannya pun sempurna dan kitabnya juga haruslah sempurna,’’ ujar Benjamin.



Sejak hari itu, Yusha melepas Kristen sebagai agama yang diyakininya. Ia memutuskan meninggalkan agamanya dan memilih untuk mencari agama lain. Ia mempelajari Buddha dan beberapa agama lain, termasuk Islam. Yusha juga sempat membaca sebuah buku tentang Islam, tetapi hal itu tidak membuatnya senang. Ia akhirnya tidak mengikuti satu agama dunia pun.



‘’Tuhan, jika Engkau tidak memberi saya petunjuk, maka saya akan mencari jalan sendiri,’’ Yusha memanjatkan sebuah doa. Saat itu, ia berusia 17 tahun.





****



Yusha Evans lahir dan besar di South Carolina, Amerika Serikat.  Ia dibesarkan oleh kakek (Indian Amerika) dan nenek (Irlandia) yang sangat konservatif. Kakek dan neneknya selalu mengajarkannya berdoa sebelum makan, sebelum tidur, tidak boleh menyalakan musik keras-keras, tidak membawa perempuan ke rumah.

‘’Itu yang saya pelajari di sekolah Minggu,’’ ujar Yusha. Masa kecilnya dihabiskan bersama nenek dan kakeknya. Menginjak usia 14 tahun, neneknya mengajak Yusha ke sebuah pelayanan Sabtu yang benar-benar berbeda dengan apa yang dialaminya di sekolah Minggu.



Di sana mereka bermain bola, voli, basket. Di pelayanan Sabtu, Yusha juga menemukan banyak makanan, kue, dan permen. Di kahir pertemuan, pastor yang memimpin acara itu mulai memberikan pengajaran tentang agama. Ia sangat menyukainya, karena tempat itu seperti sekolah normal.



Ketika berumur 15 tahun,  nenek Yusha meminta pastor muda yang biasa melayaninya di gereja untuk mengantarkan cucu kesayangannya itu ke sekolah. Yusha belum memiliki surat izin mengemudi (SIM),  sehingga belum boleh mengendarai mobil sendirian. Pastor yang usianya tiga tahun lebih tua dari Yusha itu menjadi teman baiknya.



Bersama pastor muda itu, Yusha diajak ke sebuah perkumpulan remaja yang bernama “Kehidupan Remaja”. Perkumpulan ini tidak seperti perkumpulan biasanya. ‘’Kelompok itu seperti yang kau lihat di televise. Ada orang bernyanyi dan bermain gitar. Khutbah yang dilakukan dalam kelompok itu tidak seperti khutbah yang ada gereja. Dalam menyampaikan khotbahnya, ia (pastor) berteriak-teriak dan menyampaikannya dengan lantang langsung ke orang-orang.’’



Hal ini sangat menarik bagi Yusha. Mereka mengajarkan Kristen dengan cara yang berbeda dari yang dipelajari saat masih kecil. Menginjak usia 16 tahun,  ia sudah tahu apa yang diinginkannya. Yusha ingin menjadi seorang misionaris. Sebagai seorang yang perfeksionis, ia ingin mendalami Kristen secara utuh. Ketika ia ingin sesuatu, maka apa yang ia lakukan harus terselesaikan.





****



Pada suatu hari, Yusha pergi ke New York bersama beberapa temannya. Di kota terbesar di dunia itu,  ia kehabisan uang dan memutuskan untuk mengambil uang dari sebuah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ketika mengambil uang, ia dirampok oleh orang-orang bersenjata.



Kejadian itu membuatnya sangat takut,  sehingga hari itu juga  Yushakembali ke rumah neneknya. Ia tidak menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada sang nenek. Ia menyimpannya,  sampai akhirnya mendapatkan mimpi buruk.



Dalam mimpi itu, orang yang merampoknya di ATM menembaknya hingga mati. Lalu, ia melihat sesuatu tengah menantinya di sisi lain kehidupan. Ia tidak mengetahuinya.Yusha sangat ketakutan. Ia terbangun dari mimpinya sambil berteriak.



Sang nenek datang dan bertanya, ‘’Mengapa kau berteriak? Lalu, Yusha menceritakan segalanya, tentang perampokan dan mimpi yang dialaminya.



‘’Tuhan mempunyai satu rencana untukmu, percayalah,’’ ujar sang nenek.



‘’Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyanya.



“Kau harus kembali pada-Nya. Kau harus mencari-Nya.”



Yusha pun linglung. Ia sudah mencari Tuhan kemana-mana, namun tidak menemukannya. Neneknya berkata, ‘’Tuhan tidak akan pergi kemana-mana, kau hanya perlu menemukannya.’’ Sang nenek tidak menyuruhnya untuk kembali ke gereja, hanya memintanya untuk mencari Tuhan.



Yusha mulai menjadi agnostik: mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama apapun. Ia melakukan doa dengan caranya sendiri. Ia merasa jenuh dengan hal tersebut dan akhirnya memohon pada Tuhan, “Kalau Engkau ingin aku mengenal-Mu, maka bimbinglah aku.”



Sejak saat itu, ia tidak mau mendengar lagi apa yang harus dipercayainya. Tusha ingin melihat apa yang harus dipercayainya. Ia telah membaca banyak buku dan kitab agama lain, namun tidak satu pun yang sesuai dengan apa yang dipercayai olehnya.





****



Sampai pada suatu hari, Yusha berkunjung ke rumah seorang temannya bernama Musa yang beragama Islam. Selama bertahun-tahun Yusha mengenalnya, ia sama sekali tidak menyadari kalau temannya itu adalah seorang Muslim. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan tentang agama. Dari situlah, Yusha berkenalan dengan Islam yang sebenarnya.



Karena tidak mempercayai adanya komunitas Islam di lingkungannya, teman Afro-Amerika yang Muslim itu mengajak Yusha ke masjid, sebuah tempat yang tepat untuk menanyakan tentang Islam. Yusha selama ini tidak pernah menyadari bahwa di lingkungannya terdapat masjid. Apalagi letaknya tidak jauh dari gereja.



“Dan saya tidak menyadarinya!” ujarnya.



Ia lalu berkunjung ke masjid. Saat sedang menunggu Musa, seorang lelaki mendekatinya dan bertanya, ‘’ Apa sedang kau lakukan di sini?’’



‘’Aku sedang menunggu Musa.’’



‘’Musa tidak terlalu sering datang ke masjid. Namun, jika kau ingin melihat masjid, saya dengan senang hati akan mengantarkanmu.’’



Awalnya. Yusha merasa takut. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk masuk ke masjid. Selama ini, pikirannya tentang Islam sangat buruk, namun pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.



Ia pun masuk ke dalam masjid tersebut dan mendengarkan khutbah. Awalnya, ia berpikir bahwa lafal ayat-ayat dalam bahasa Arab yang disampaikan khatib bermaksud untuk membunuhnya. Namun, ketika khatib tersebut menerjemahkan kalimat-kalimat Arabnya, Yusha menyadari apa yang dikatakan khatib itu adalah tentang menyembah Tuhan yang satu.



Usai shalat Jumat, ia menemui khatib dan bertanya, ‘’Apa yang barusan kalian lakukan tadi?’’



‘’Tadi kami melaksanakan shalat, menyembah Allah.’’



Ketika sang khatib hendak menjelaskan kepada Yusha tentang Islam, ia segera memotongnya, ’’Saya tidak ingin penjelasan. Saya ingin bukti. Apabila memang agama Anda benar, maka buktikanlah.’’



Kakeknya pernah berkata pada Yusha. Ketika orang mengklaim sesuatu itu benar, maka perlu pembuktian. Karena Yusha meminta bukti pada khatib, ia lalu diajak ke ruangannya. Khatib itu memberikannya Alquran, kitab suci umat Islam. Lalu Yusha membawanya pulang dan membacanya.



Ia terperangah dan terpesona dengan Alquran yang dibacanya. Selama tiga hari, ia tidak dapat berhenti membacanya. Ia begitu meyakini kebenaran yang tercantum dalam Alquran. Hidayah Allah SWT memancar dalam kalbunya. Yusha pun bertekad untuk menjadi seorang Muslim.

Yusha kembali ke masjid dan menemui sang khatib. Lalu ia berkata, ’’Saya ingin menjadi Muslim.”



‘’Kau harus memahami satu hal lain apabila ingin menjadi seorang Muslim. Anda harus tahu tentang Nabi Muhammad SAW.’’



Yusha pun membaca tentang kisah Nabi Muhammad. Ia pun meyakini Muhammad sebagai utusan Allah. Pada Desember 1998,  Yusha yang bernama asli Joshua akhirnya memeluk Islam. ‘’Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah.’’



Sejak itu, ia mempelajari Islam dari sejumlah ulama di Mesir dan Amerika Serikat.  Kini, Yusha menjadi seorang dai dan penceramah. Umat Islam di negeri Paman Sam memanggilnya, Syekh Yusha Evans. Ia berkhidmat di jalan Allah SWT, dengan menyebarkan ajaran Islam. Sumber: islamevents.com/yushaevans.com/republika.co.id


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/29185/01/07/2013/15-anggota-jemaat-ahmadiyah-tasikmalaya-kembali-bersyahadat.html


Syekh Yusha Evans, kisah misionaris memeluk Islam

Monday, February 4, 2013

Islam Jaminan Ketenangan dan Kemenangan untuk Prancis

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Populasi umat Islam di Prancis semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu menjadi fenomena di Eropa.

Pakar studi Islam, Gilles Kepel mengungkap banyak pemuda yang menjadi mualaf karena dengan mudah berintergrasi dengan lingkungannya, satu hal yang sulit dijamin oleh sekularisme Prancis.

Charlie Loup, 21 tahun, warga St Maur des Fosses, memeluk Islam pada usia 19 tahun. Ia memilih Islam, setelah melalui masalah dengan lingkungan dan keluarganya.

“Saya merupakan bagian dari fenomena itu,” kata dia yang sebelumnya penganut Katolik.

Menurut Loup, fenomena itu berawal dari rasa ingin tahu warga Prancis terhadap Islam dan muslim. Warga nonmuslim di beberapa daerah yang mayoritas muslim bahkan menjalankan puasa Ramadhan.

“Kami bukan nonmuslim tapi kami ingin merasakan kemeriahan bulan suci umat Islam tersebut,” kata dia.

Sosiolog, Samir Amghar mengatakan Islam merupakan perlindungan bagi mereka yang ingin menjaga nilai-nilai keluarga dan persamaan rasa hormat antara pria dan wanita. “Jadi ada jaminan,” kata dia.

Menurut Samir, di kalangan politisi keberhasilan merangkul komunitas muslim membuat peluang mereka untuk menang dalam pemilihan semakin besar.

Umat Islam pada dasarnya tidak menuntut lebih. Mereka hanya menginginkan adanya perluasan tradisi Islam ke ranah publik yang lebih luas.

Pemilik toko, Rafaello Silltti mengungkap budaya Prancis dan Islam dapat hidup bersama dalam damai. “Inilah yang harus kita tunjukan,” kata dia.

Article source: http://www.fajar.co.id/read-20120708191210-hari-ini-pendaftaran-ulang-snmptn


Islam Jaminan Ketenangan dan Kemenangan untuk Prancis

Sunday, January 13, 2013

Hunian Eksotik Hadir di Tengah Kegalauan Individualistik

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Theresia T. Andayani

TRIBUNNEWS.COM – Kediaman Ambar Polah Tjahyono sangat mudah ditemui diantara rumah permukiman penduduk. Bangunan khas Joglo lengkap dengan arsitektur tradisional Jawa menjadi ciri khas yang membedakan dengan hunian lainnya. Rumah yang masih masuk dalam kompleks perumahan Wiromulyo itu memang begitu eksotik.

Memang lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu alasan bagi seseorang untuk memilih letak rumah hunian. Berada di tengah-tengah permukiman penduduk sebagai tempat tinggal bagi seluruh keluarga mungkin akan jarang dijumpai untuk saat ini. Terutama karena seringnya anggapan jika perkampungan terkesan berdesak-desakan, sempit, dan juga kotor.

Tapi tunggu dulu. Semua bergantung dengan komunitas yang ada dalam ruang lingkup lingkungan tersebut. Boleh jadi, di tengah-tengah kegalauan zaman yang mengakibatkan pola pikir individualistik seperti sekarang ini, kampung kembali memberi ruang bagi orang-orang yang rindu dengan kebersamaan, sosialisasi, dan juga saling berbagi dan merasakan sebagaimana hubungan manusia satu dengan yang lain.

Ambar Polah adalah salah satu dari sekian orang yang memilih hidup yang tidak jauh berbeda dengan di masyarakat perkampungan. “Karena dengan begitu saya dan keluarga justru bisa saling berkomunikasi dengan baik dengan lingkungan. Prinsipnya saya itu bisa tersenyum dan bertegur sapa dengan tetangga kanan kiri,” terang Ambar kepada Tribun Jogja, beberapa waktu lalu.

Tak heran kalau rumah Ketua Asmindo Pusat ini, benar-benar difungsikan secara maksimal untuk kepentingan kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. “Pokoknya rumah ini terbuka bagi siapa saja, untuk arisan boleh, numppang tidur boleh, main musik juga oke, he-he-he,” kelakar Ambar.

Memasuki rumah yang didominasi warna matang kayu ini akan mulai tampak unik. Seluruh dinding bagian depan rumah memakai gebyok ukiran yang didatangkan langsung dari Kudus, Jawa Tengah. Gebyok tersebut asli dari rumah penduduk yang berdiri kira-kira pada abad 13 ketika Islam mulai masuk. Detail ukiran tersebut sungguh menarik mengingat pada tiap bagian dikerjakan sangat rapi, teliti, dan kecil-kecil, sehingga membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi.

Berjalan melewati ruang dalam, kita lalu masuk ke ruang santai. Ruangan ini lebih familiar untuk menerima tamu-tamu dan juga untuk bersantai. Jalan yang menghubungkan dari ruang tamu depan dengan ruangan ini dibuat lantai berundak. Di ruang ini pula kita akan banyak menyaksikan barang-barang kuno yang menjadi koleksi Ambar. Mulai dari patung gajah Majapahit zaman Puteri Bali, Kelaparan, dan Kejayaan.

Di dinding terdapat topeng penthul gebyar dan wayang dari berbagai versi. Studio musik juga berada di ruang ini.

Rumah yang dibangun pada tahun 1999 ini terdiri dari dua kavling rumah yang digabung menjadi satu. Sisi ruang untuk publik lebih banyak memakan tempat jika dibandingkan dengan ruang keluarga. Bahkan sekalipun terdapat ruang pribadi, semua kamar didesain secara terbuka. Selain taman sebagai penyegar udara, juga berfungsi memisahkan ruang pribadi dengan ruang untuk publik tersebut. Tetap dalam konsep menyatu, seperti ruang makan, kerja, keluarga, dan kamar mandi dibuat saling berhubungan.

“Ya, bagi saya rumah adalah tempat untuk bisa saling bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri, sehingga saya dan keluarga tidak merasa menjadi manusia aneh yang harus hidup individu seperti sekarang ini,” pesannya.

Bahkan untuk urusan desain, Ambar mengaku melakukannya sendiri, sehingga beberapa bagian dalam rumah yang terdiri dari 2 lantai ini memang terdapat bagian-bagian yang menunjukkan bangunan tambahan. Ambar mengaku, dengan konsep yang dikerjakannya sendiri akan benar-benar dapat disebut sebagai rumah rakyat untuk semua kalangan.

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/09/27/18151274/Penasihat.Media.Presiden.Iran.Masuk.Bui


Hunian Eksotik Hadir di Tengah Kegalauan Individualistik

Tuesday, February 11, 2014

George Green: Banyak Mendapat Pencerahan dari Imam Masjid

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Ia memutuskan berhenti dari pekerjaan yang penuh maksiat.


Pria ini lekat dengan kehidupan hura-hura selebritas Hollywood. George Green pernah menjadi manajer tur untuk artis-artis besar, seperti Jay-Z, Kanye West, 50 Cent, Snoop Dogg, dan banyak lagi selebritas kelas atas lainnya.


Selama bergulat dengan pekerjaanya, ia dihadapkan langsung dengan kehidupan para selebritas itu. “Setiap saat saya melihat gaya hidup glamor di hadapan saya,” ujarnya, dilansir dalam video acara The Deen Show, yang diperoleh dari laman Firstpost.


Setiap hari tugasnya adalah menyediakan semua fasilitas bagi para selebritas tersebut. Dari mobil mewah terbaru, perhiasan, juga perempuan untuk teman mereka.


“Tak hanya itu, setiap hari mereka mengadakan pesta yang dipenuhi alkohol dan narkoba, akulah yang bertugas untuk mencari obat-obat terlarang juga perempuan panggilan untuk mereka,” jelasnya.


Dihadapkan pada situasi seperti ini setiap hari, membuatnya muak. Ia mengaku hidupnya tidak bahagia, merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. “Aku seperti sedang mencari sesuatu, namun tak tahu apa itu, aku merasa hidupku kurang lengkap,” ujarnya.


Waktu demi waktu berjalan, lama-lama ia bosan dengan pekerjaannya. Kehidupan glamour dan pesta setiap hari tak cocok untuknya. Apalagi, di setiap gegap gempita pesta tersebut, dialah yang paling repot karena harus melayani para artis dan menyediakan apa saja yang mereka minta.


Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang menurutnya penuh dengan maksiat tersebut. “Saat itu dalam pikiranku adalah sekarang saatnya saya mencari sesuatu untuk diriku sendiri, bukan untuk melayani orang lain,” katanya.


Masa kecilnya jauh dari kisah bahagia. Ia lahir di Detroit, Michigan dari orang tua yang masih sangat muda dan tak siap punya anak. Ketika memasuki usia remaja, ia kemudian pindah ke New York dan tinggal bersama neneknya.


Di sinilah ia bergaul dengan geng jalanan dan selalu berhadapan dengan narkoba dan kekerasan serta masalah kriminal yang lain. “Aku tak pernah mengenal sosok ayah dan jauh dari kehidupan religius,” katanya.


Kesehariannya lekat dengan pesta dan hura-hura. Ia mengenal salah seorang yang bekerja di perusahaan rekaman dan memanfaatkannya agar bisa ikut pesta gratis setiap saat.


Setelah lulus kuliah dari Auburn University of Montgomery, ia direkrut perusahaan rekaman Roc-A-Fella Records sebagai asisten direktur nasional untuk marketing, branding, promosi, dan manajemen tur. “Ini sesuai dengan kemampuanku untuk mengorbitkan dan mempromosikan artis,” katanya.


Menjalani pekerjaannya ini membuatnya bangga. Ia bisa meraih impian dari seorang pria kulit hitam, yaitu bisa kaya dan terkenal, punya banyak pacar, dihormati, dan punya kekuasaan. “Namun, di balik kepuasan itu jiwaku merasa kosong,” ujarnya.


Hingga suatu hari ia melakukan perjalanan kerja ke negara-negara di Timur Tengah, seperti Dubai, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Abu Dhabi pada 2004.


Di sana ia kagum dengan keramahan penduduknya yang menyambutnya dengan penuh senyuman dan tangan terbuka, padahal ia bukan Muslim. Ini berbeda 180 derajat dengan sikap yang biasa orang-orang Amerika tunjukkan jika mereka bertemu dengan Muslim.


Kekagumannya kemudian berlanjut dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Ia pun semakin hormat dengan orang-orang Islam karena mereka mau menjawab pertanyaannya seputar dasar-dasar Islam.


“Aku ingin semakin tahu lebih dalam hingga saat Ramadhan 2010, aku memutuskan untuk tinggal di Irak dan Kuwait selama dua minggu,” ujarnya.


Pengalaman relijius ini menyentuh dasar kalbunya. Ia merasa telah menemukan jawaban atas kekosongan jiwanya selama ini yang dirasakannya. Sekembalinya ke Amerika, ia pun sudah siap untuk mengucapkan syahadat dan masuk islam.


Namun, ia masih khawatir bagaimana nanti lingkungannya, teman-teman, dan keluarganya bisa atau tidak menerimanya sebagai seorang Muslim di tengah mereka.


Sebuah mimpi di suatu malam membuatnya menepis ketakutan ini. Ia kemudian mantap masuk Islam secara resmi pada 30 April 2012.


Masa awal menjadi Muslim ia mengakui banyak menemui kesulitan. Orang-orang di sekitarnya yang dekat dengan banyak masalah kriminal mulai menghindarinya.


Saat ia ingin bergaul dengan komunitas Muslim, ia dipandang sebelah mata karena ia berkulit hitam dan penampilannya seperti anggota gangster.


“Namun, kesulitan yang aku hadapi tak pernah mematahkan niatku. Aku terus datang ke masjid dan banyak mendapatkan pencerahan dari para imam yang semakin memantapkan imanku,” katanya.


Ia menemukan sebuah kepuasaan yang tak tenilai saat ini. Ia masih ingat, saat jiwanya merasa kosong dulu, ia berkali-kali mencoba apa pun untuk mengisi relung jiwa yang kosong tersebut, namun ia tak pernah merasa puas. “Aku terus merasa kosong, hingga akhirnya aku bertemu Islam,” katanya.




George Green: Banyak Mendapat Pencerahan dari Imam Masjid

Thursday, December 20, 2012

Perlu Perda Wajib Madrasah Diniah

Kepala Seksi Penamas dan PK Pontren Kemenag Solo, Maulud Munif, memperlihatkan beberapa buku berisi kurikulum, standar kompetensi dan standar kelulusan madrasah diniah, Senin (17/12), di ruang Seksi Penamas dan PK Pontren Kemenag Solo. (FOTO/Istimewa)

Tak bisa dimungkiri pendidikan agama merupakan salah satu sarana membangun karakter generasi bangsa. Jika keimanan yang sempurna ada dalam diri setiap individu, orang tersebut akan menjadi manusia yang baik perilakunya.

Hal itulah yang melatarbelakangi keinginan Ketua Forum Komunikasi Diniah Takmiliyah (FKDT) Cabang Solo, Yuniarto Harjanto, agar di Kota Solo ada peraturan daerah (perda) wajib madrasah diniah sebagaimana diterapkan di beberapa daerah di Jawa Barat. Jika ada perda itu, diharapkan pembentukan karakter anak-anak akan lebih kuat.

”Di sekolah-sekolah umum materi pendidikan agama Islam hanya diajarkan dua jam pelajaran/pekan. Itu sangat kurang untuk belajar agama,” kata dia saat ditemui Espos di Madrasah Diniah Paisma, Kusumodilagan, Pasar Kliwon, Solo, Selasa (18/12).

Namun, ia menyadari sebelum perda itu dirumuskan harus ada kesiapan pengelola madrasah diniah di Kota Solo. Saat ini, ada satu kecamatan di Kota Solo yang belum memiliki madrasah diniah, yaitu Kecamatan Serengan. Jika perda itu hendak diwujudkan, jumlah madrasah diniah harus mampu menampung siswa di Solo.

Menanggapi hal itu, pakar sejarah pendidikan Islam dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Muhammad Munadi, berpendapat keberadaan perda madrasah diniah di Kota Solo belum memungkinkan. Kondisi sosial masyarakat belum mendukung.

Ketika ditemui Espos secara terpisah, Kepala Seksi Penamas dan PK Pontren Kemenag Solo, Maulud Munif, mengatakan ada rencana pemerintah untuk memformalkan pendidikan madrasah diniah yang selama ini masuk kategori pendidikan nonformal.

Jika menjadi pendidikan formal, madrasah diniah tidak hanya menyelenggarakan pembelajaran pendidikan Islam tapi juga materi pelajaran umum.

Berdasarkan buku panduan pengembangan kurikulum yang diterbitkan Direktorat Pendidikan Diniah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, prinsip pengembangan kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan santri dan lingkungannya, beragam dan terpadu, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, relevan dengan kebutuhan pendidikan, menyeluruh dan berkesinambungan, belajar sepanjang hayat, seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

”Dalam praktiknya, setiap madrasah diniah biasanya memiliki kurikulum sendiri tapi tetap mengacu pada standar kurikulum yang ditentukan,” ujar Maulud.

Yuniarto menjelaskan setelah reformasi 1998 pemerintah lebih berpihak pada pendidikan madrasah diniah. Keberpihakan ini kian jelas setelah muncul Peraturan Pemerintah No 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Sebelumnya, madrasah diniah seolah tak tersentuh pemerintah, kini lebih diperhatikan. Kemenag cukup sering mengadakan kegiatan pendidikan dan latihan bagi pengelola dan pengajar madrasah diniah. Pelatihan bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pemerintah juga menunjuk beberapa madrasah diniah sebagai proyek percontohan model madrasah diniah formal. Pendidikan diniah formal bisa diselenggarakan jika madrasah diniah itu memenuhi delapan standar pendidikan nasional yang ditetapkan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) dan satu standar pendidikan kepondokan.

Delapan standar itu yaitu kompetensi lulusan, isi, standar proses, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan pendidikan, penilaian pendidikan. ”Jika diformalkan, santri madrasah diniah harus mondok,” kata Maulud.

Article source: http://www.harianterbit.com/2012/08/04/selama-olimpiade-london-17-orang-masuk-islam/


Perlu Perda Wajib Madrasah Diniah

Saturday, March 9, 2013

Narkoba Masih Mengintai Kita

Narkoba terus mengintai dan membunuh. Kita tak bisa menutup mata dan lantas bergeming ketika melihat betapa kehidupan sekitar kita saat ini masih diincar oleh obat-obatan terlarang itu. Kehidupan yang tiba-tiba menjadi hancur berantakan disertai kematian mengenaskan. Itu hanya  potret kecil betapa narkoba terus meneror. Meski tak henti diperangi dari waktu ke waktu bagaikan musuh, penyalahgunaan narkoba masih terjadi dimana-mana.

Fakta Kasus Narkoba
Belum lama ini kita semua dikejutkan berita tertangkapnya seorang artis papan atas, Rafi Ahmad, pada Minggu (27/1) pukul 06.00 wib di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan oleh pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) karena kedapatan mengkonsumsi narkoba (entertainment .kompas.com 27/1).

Tertangkapnya Rafi, mengindikasikan bahwa narkoba bisa “mengincar”siapa saja, bahkan publik figur sekalipun. Kita tentunya belum lupa dengan sederet nama seperti Roy Marten, Sheila Marcia, Kaka Slank, Andika Kangen Band, yang juga menjadi korban barang haram tersebut. Mereka ikut menambah deretan nama-nama pengguna narkoba di negeri ini.

Hasil Penelitian BNN tahun 2011, menemukan fakta bahwa jumlah pengguna narkoba Indonesia mencapai 3,8 juta orang (tempo.com 15/3/12). Di Aceh, realitas kasus narkoba juga tak sedikit. Selama 2012, kepolisian Daerah menangani sampai 999 kasus narkotika, jumlah tersebut meningkat drastis dibanding tahun 2011 yang berjumlah 605 kasus. Kenyataan ini menempatkan Aceh pada peringkat ke empat sebagai provinsi terbanyak kasus penyalahgunaan dan kelompok pemakai narkoba di Indonesia (waspadamedan.com,30/1).

Aceh yang konon memiliki “benteng” syariat islam, bisa menempati posisi ke empat dari pengguna narkoba terbanyak di Indonesia. Pertayaannya, apa yang sudah terjadi dengan kita? Apakah syariat tidak berfungsi dengan baik dalam mendidik moral masyarakat?

Melihat fenomena ini, penulis berasumsi bahwa narkoba semakin dekat dengan kita, bahkan sedang dan akan terus mengintai kita. Presentase di atas bukan tidak mungkin sewaktu-waktu semakin bertambah. Lantas masihkah kita hanya berdiam diri? siapa yang patut disalahkan atas semua ini?

Media, Hedonisme dan Degradasi Moral
Kita memang tak perlu menunjuk hidung siapapun untuk saling menyalahkan. Kita hanya perlu jujur terhadap diri sendiri bahwa kita semua lah“tersangka” yang harus ikut bertanggung jawab atas realitas ini.

Tanpa disadari, pola hidup yang kita jalani saat ini semakin Hedonis (hanya mengejar kesenangan semata-mata) bahkan terkadang jauh dari syariat islam. Setiap kebiasaan, tontonan, bacaan, dan gaya pergaulan hanya “menuhankan” hura-hura. Sisi “manusia” kita terkadang lenyap, dan moral terlupakan begitu saja. Berbagai peluang negatif dan pengaruh dari hal-hal yang tidak bermanfaat masuk dengan mudah dan menyerang kehidupan kita.

Kontruksi budaya baru akibat majunya teknologi informasi dan komunikasi pun terkadang menggiring masyarakat ke arah hal-hal negatif.  Ketidakberdayaan dan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi arus kemajuan tersebut dengan sikap yang dewasa, akhirnya melahirkan krisis identitas. Masyarakat menjadi “galau” dan kehilangan benteng diri, sehingga berbagai pengaruh negatif yang ditahbiskan oleh teknologi dan media dengan mudahnya diterima. Termasuk salah satunya menjadi terperangkap dalam jerat narkoba.

Kita lihat saja bagaimana memprihatikannya pola kehidupan para remaja saat ini, tak terkecuali remaja Aceh. Berbagai sikap-sikap yang cendrung hedonis dipertontonkan oleh media, dan remaja menirunya. Dari mulai gaya berpakaian yang dituntut fashionable dengan gaya kebarat-baratan, cara berkomunikasi yang dituntut “gaul”dengan gadget-gadget canggih, hingga pergaulan bebas laki-laki dan perempuan yang menjerumuskan pada narkoba dan seks bebas. Semuanya dicontohkan oleh media, salah satunya televisi.

Jika hal ini kita kaitkan dengan teori, maka fenomena ini sejalan dengan sebuah gagasan yang dikemukakan salah seorang pakar komunikasi, George Gerbner , melalui Teori Kultivasi. Gebner menjelaskan bahwa pengaruh media massa (televisi) sangat besar bagi khalayak, dimana kehadirannya akan membentuk suatu kebudayaan baru. Itu sebabnya,budaya-budaya yang berkiblat hedonis pun menjadi budaya baru di masyarakat kita.  

Menurut Teori Kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat  dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisi nya.  

Mencerdasi pengaruh media
Kesimpulannya, pengaruh negatif media massa tanpa kita sadari telah menumbuhkan sikap hedonis, krisis moral dan krisis identitas dalam lingkungan masyarakat. Ketika masyarakat “galau” saat itulah narkoba begitu mudah mengintai lalu menghancurkan korbannya.

Penyalahgunaan narkoba yang kini mulai marak, terutama di Aceh yang notabene bersyariat islam ini perlu segera diwaspadai, karena hal itu tidak hanya akan merusak generasi Aceh untuk kedepan, tetapi juga meruntuhkan pilar-pilar syariat.

Potret negatif dari Globalisasi yang ditampilkan media massa saat ini terutama televisi sangat berbahaya jika tak difilter dengan baik. Pendidikan dan ilmu agama serta kedewasaan dalam menyikapi globalisasi dan perkembangan media sangat diperlukan. Masyarakat harus dididik untuk peka dalam mengamati tindak tanduk media dan bijak menerima pengaruhnya.

Perlu diingat bahwa siapapun akan diintai oleh narkoba. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri untuk menghalanginya agar kita tidak menjadi korban-korban berikutnya.
***

Penulis adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi Unimal dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan III

Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/02/07/33/758512/nikita-willy-bahagia-diego-michiels-masuk-islam


Narkoba Masih Mengintai Kita