Showing posts sorted by relevance for query bertema. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query bertema. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Saturday, October 12, 2013

Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

JAKARTA – Warna rambut boleh sama hitam, namun setiap orang punya pendapat beragam tentang segala sesuatu. Apalagi menyangkut masalah keyakinan. Meskipun sama-sama muslim, umat Nabi Muhammad punya cara dan pendapat yang beragam soal ritual dan ajaran Islam. Itulah sebagian ‘warna’ yang ingin ditampilkan dalam ‘99 Cahaya di Langit Eropa’.


 Selain menampilkan perjalanan spiritual Hanum Rais (Acha Septriasa) di tanah Eropa, film ‘99 Cahaya di Langit Eropa’ juga melibatkan karakter-karakter lain yang memiliki pandangan sendiri soal kepercayaan. Mereka adalah teman-teman Rangga (Abimana) di lingkungan kampus.


Sosok pria yang tak percaya dengan agama, akan dimainkan oleh Nino Fernandez sebagai Stefan. Sedangkan Alex Abbad, memerankan tokoh Khan, pemuda keturunan Pakistan yang sangat memegang ketat ajaran agamanya.


“Khan ini orang Pakistan yang sangat strict sampai disertasinya dia tentang halal dan haram, dan ini memang real,” ujar sutradara Guntur Soeharjanto disela-sela lokasi syuting di Wina, Austria akhir September lalu.


Khan yang merupakan kalangan minoritas sebagai muslim di Wina, ‘menuntut’ haknya akan label halal dan haram sehingga ia bisa menjalankan perintah agamanya dengan tenang.  “Karena dia butuh pernyataan itu dari pemerintah, bahwa dia seorang muslim harus dijamin,” tambah Guntur.


Sementara karakter Stefan, selalu berargumen dengan logika. Ketika suatu hal tidak masuk rasionalnya, akan terjadi benturan pandangan antara si Khan dan Stefan melalui Rangga.


“Stefan sering mempertanyakan kenapa makan babi dilarang, dan sebagainya. Stefan kan porsinya lumayan banyak, karena film butuh sesuatu yang detail, akhirnya kita kembangkan dari bukunya,” jelas sutradara yang sebelumnya mengarahkan ‘Tampan Tailor’ itu.


Isu besar yang dibawa dalam film adalah ingin menampilkan bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Eksekutif Produser Yoen K menjelaskan, contoh menjadi agen muslim yang baik seperti digambarkan dalam film, misalnya, ada beberapa kali tokoh anak muslim yang di-bully, tetapi dia bukan membalas dengan melakukan hal sama.


 


Tetapi dia memberikan pelajaran dengan menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya. Bukan Islam yang menebar kebencian atas nama agama, seperti yang lebih sering disorot dunia Barat.


“Ini juga bukan film tentang bagaimana seorang wanita mendapat hidayah untuk berhijab, itu kan sebuah proses ya,” tambah Yoen.


Film ini juga dibuat dengan semangat toleransi yang besar. Meskipun bertema religi Islam, menurut Yoen film ini melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda.



“Yang terlibat di film ini bukan cuma teman-teman dari Muslim. Katolik, Kristen, Budha, Hindu pun ada. Ini film dari awal sudah ditegaskan bahwa film ini bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk memberikan gambaran rahmatan lil alamin,” terangnya dilansir detik.


‘99 Cahaya di Langit Eropa’ menampilkan Raline Shah, Acha Septriasa, Abimana, Nino Fernandezz, Alex Abbad, dan Marissa Nasution. Fatin Shidqia Lubis dan Dian Pelangi juga akan memeriahkan film produksi Maxima Pictures ini.


Proses syuting sudah dimulai sejak 9 September lalu di Wina, Austria. Dilanjutkan pengambilan gambar di Paris, Cordoba dan Istanbul. dtc



Article source: http://international.okezone.com/read/2013/10/10/412/879780/80-prajurit-israel-gerebek-masjid-al-aqsa


Pergolakan antara Si Ateis dan Muslim yang Taat

Wednesday, September 4, 2013

Ketika Angel Lelga, Jeremy Thomas dan Arzeti Bicara Politik




Jakarta – Angel Lelga, Jeremy Thomas dan Arzeti Bilbina duduk bareng satu meja bicara politik. Ketiga artis ini ikut serta menjadi caleg DPR di Pemilu 2014.

Ketiganya dipertemukan dalam diskusi bertema “Publik figur dalam belenggu parpol, apa yang diperankan?” di Media Center KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakpus, Rabu (4/9/2013).


Jeremy Thomas, caleg PAN di Dapil DKI Jakarta III mengatakan artis yang menjadi caleg lebih diuntungkan dibanding caleg lainnya dari kalangan kader murni parpol, pengusaha atau profesional. “Selebriti dibanding caleg jauh fonemenal karena selalu jadi pusat perhatian,” ujarnya.


Baginya menjadi caleg merupakan hak semua warga negara. Karena itu seharusnya tidak boleh ada pembedaan cara pandang terhadap para artis yang terjun ke politik.


“Yang menjadi caleg hak semua warga negara, mau artis, tukang becak mau itu profesional,” tuturnya.


Sedangkan Angel Lelga menyebut pilihannya menjadi caleg dari PPP didasari keinginan kuatnya membesarkan partai Islam. “Banyak sekali partai Islam mulai mundur. Ini kesempatan saya membesarkan partai Islam,” harap caleg dapil Jateng V ini.


Arzeti dalam pembicaraan awalnya menyebut dunia politik tak jauh beda dengan dunia seni yang digeluti selama ini. “Ditanyakan apakah sudah nggak laku Subhanallah, itu nggak perlu diucapkan. Karena dengan eksistensi kami berpuluh puluh tahun di entertaint, sekarang kami punya kesempatan baru,” tuturnya.


Caleg PKB ini mengaku keputusannya masuk dunia politik bukan karena mengikuti trend para artis yang sebelumnya lebih dulu masuk ke Senayan. “Saya bener-bener ingin jadi amanah. Kita ingin bermanfaat lagi dan jadi aspirator,” ujar Arzeti.
Anak umur 13 tahun bobol rumah bidan karena kecanduan game online. Saksikan tayangannya di Reportase Sore pukul 16.30 WIB, hanya di Trans Tv.


(fdn/mad)







Article source: http://www.riauterkini.com/politik.php?arr=63818


Ketika Angel Lelga, Jeremy Thomas dan Arzeti Bicara Politik

Monday, February 25, 2013

Obama Diperingatkan Agar Tidak Kunjungi Al-Aqsa

RAMALLAH - Pejabat Palestina menyarankan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama agar tidak mengunjungi Masjid Al-Aqsa. Hal itu disebabkan karena wilayah di sekitar masjid itu berada dalam kedaulatan warga Muslim.

Obama dipastikan tiba di Yerusalem pada musim semi mendatang. Bersamaan dengan itu, media-media di Palestina mulai bertanya-tanya, apakah presiden berkulit hitam itu akan mengunjungi masjid bersejarah tersebut. Di saat pejabat Palestina menyarankan Obama agar tidak berkunjung ke Al-Aqsa, Mufti Yerusalem Syekh Akrameh Sabri memberikan pendapat yang berbeda.

“Setiap pengunjung selalu disambut di Al-Aqsa, namun mereka harus mengikuti aturan Waqf dan masuk lewat Gerbang Singa, bukan lewat Gerbang Mughrabi. Hal itu ditujukan untuk memastikan kedaulatan Islam di wilayah itu,” ujar Sabri, seperti dikutip AFP, Senin (25/2/2013).

Salah seorang pejabat Fatah Hatem Abdel Qader juga mengatakan bahwa kunjungan Obama harus dikoordinasikan dengan pejabat Palestina dan Yordania. Kunjungan itu juga tidak boleh dilakukan sebagai tujuan politik.

“Kunjungan ini tidak boleh bertema politik karena Al-Aqsa merupakan milik warga Muslim dan tempat ini merupakan tempat ibadah. Kami akan menolak seluruh tamu yang berasal dari Israel,” ujar Qader.

Seperti diketahui, Israel membebaskan wilayah sekitar Al-Aqsa lewa peperangan 1967 (Perang Enam Hari) segala tulisan-tulisan Yahudi kuno yang ada di di situs bersejarah itu dihapus. Tim administrasi Masjid Al-Aqsa juga mendirikan papan bertulisan “Lapangan Masjid Al-Aqsa dan seluruhnya adalah milik umat Islam.”(AUL)

Article source: http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/10127-hmi-unjuk-rasa-tolak-kenaikan-harga-bbm


Obama Diperingatkan Agar Tidak Kunjungi Al-Aqsa

Tuesday, January 8, 2013

Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Selasa, 08 Januari 2013 10:49

| Ade Irwansyah

HINGGA selesai menulis artikel ini, jujur, saya belum nonton film terbaru Hanung Bramantyo, Cinta Tapi Beda.

Saya tak tertarik menontonnya. Saya sedang malas nonton film bertema “berat.” Sebab, jika menonton, saya akan repot menuliskan ulasannya. Tapi, kontroversi soal filmnya, bahkan kabar Hanung memutuskan menarik filmnya dari peredaran sampai dilaporkan ke polisi segala mendorong saya menulis artikel ini.

Karena belum nonton, saya tak berhak menilai Cinta Tapi Beda. Namun, saya sudah nonton beberapa film yang mengangkat soal cinta beda agama sebelum yang ini. Jadi, menurut saya, sah saja saya punya pendapat soal tema yang diangkatnya: tentang cinta beda agama.

Negeri kita yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama sudah sejak dulu menjadi bahan baku cerita fiksi, termasuk film cerita. Kritikus film Eric Sasono pernah menulis di situs Rumah Film (2011), dahulu setidaknya ada dua pendekatan utama pembuat film menceritakan keragaman di Indonesia ini. Pendekatan pertama humoristis, dengan bercerita tentang tokoh-tokoh komikal dan stereotip etnis sebagai bahan lawakan atau ejekan. Tujuan pendekatan ini untuk mengajak penonton menertawakan diri sendiri. Humor yang semacam mendamaikan diri sendiri ini (morbid humor) dianggap efektif untuk menerima kenyataan ketimbang dipendam dan dibiarkan hingga jadi bisul kronis.

Pendekatan kedua adalah pendekatan yang menceritakan keragaman itu sebagai bagian komentar—atau kritik sosial budaya. Pendekatan ini melihat bahwa keragaman itu merupakan sebuah hal kompleks yang harus dijalani oleh manusia Indonesia. Pendekatan kedua ini menceritakan orang-orang yang harus bersiasat dengan beragam identitas yang berkumpul dalam diri mereka.

Untuk pendekatan pertama, Eric memberi contoh film-film komedi Nya’ Abbas Akup, sedang contoh pendekatan kedua di antaranya dilakukan Sjumandjaja lewat, misalnya, Si Doel Anak Modern.

Salah satu ciri yang menonjol di sinema Indonesia pasca Soeharto adalah sifat individualistis. Para pembuat film pasca Soeharto tak terlalu memusingkan keragaman latar belakang etnis, kebudayaan atau agama. Yang dikejar melulu capaian individual si tokoh. Keadaan sekitar tak kelewat dipedulikan, dan film Indonesia sekarang lebih senang membuat cerita yang berpusat pada aspirasi (capaian psikologis dan material) orang per orang yang khas kelas menengah.

Maka, kita melihat kisah-kisah from zero to hero tentang orang miskin jadi orang sukses, orang saleh mencari jodoh, dan sebagainya.

***

Namun, tentu, selalu ada yang menyempal bergeser dari titik mainstream. Kondisi pasca Soeharto yang relatif bebas juga memungkinkan mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi wacana di layar lebar. Dari sini menyempal film yang membincangkan cinta beda agama.

Film tentang cinta beda agama di sinema Indonesia pasca Soeharto dimulai oleh Cin(T)a karya Sammaria Simanjuntak yang rilis tahun 2009. Judulnya memberi simbol yang kira-kira bisa diartikan—saya meminjamnya dari tulisan Ifan Adriansyah Ismail di majalah Madina—di antara sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta ada “T” yang menghalangi. “T” itu adalah perbedaan dalam menyebut Tuhan. (O ya, sebetulnya, setahun sebelumnya, 2008, rilis Ayat-Ayat Cinta [sutradara Hanung Bramantyo] yang di dalamnya ada kisah cinta beda agama antara Fahri [Fedi Nuril], penganut Islam, dengan Maria yang menganut Kristen Koptik. Tapi persolan cinta beda agama itu tak menjadi soal berarti karena Maria kemudian masuk Islam.)

Kembali ke Cin(T)a, film itu tampak samar-samar mengisahkan cinta beda agama dengan membalutnya sebagai film esai. Tokoh-tokohnya dipinjam sineasnya untuk mengutarakan gagasan ataupun pertanyaan seputar cinta, Tuhan, dan agama. “Kenapa Allah nyiaptain kita beda-beda. Kalau Allah ingin disembah dengan satu cara?” “Makanya Allah ciptain cinta. Biar yang beda-beda bisa nyatu.”

Film berikutnya, 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta (2010). Kita bertemu Rosid (Reza rahadian) telah menetapkan hatinya pada Delia (Laura Basuki). Rosid, Islam. Delia, Katolik. Film arahan Benni Setiawan yang kisahnya diambil dari dua novel (Da Peci Code dan Rosid Delia) ini mengambil jalan ke inti persoalan: seperti apa problema yang akan ditemukan bila dua sejoli beda agama memadu kasih?

Film ini tak mencoba memberi putusan bahwa hal itu dilarang (atau juga dibolehkan). Sebaliknya, film ini menyajikan serangkaian hal untuk direnungkan penonton usai menonton. Misalnya, ada dialog soal persoalan nikah beda agama akan meninggalkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Ditanya bagaimana sebaiknya, malah dijawab dengan tawa. Kemudian, ada dialog, dari sudut Islam, ada pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Tapi, dengan bijak, film ini tak menganjurkan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu, melainkan taati agama dengan baik dulu, baru pahami betul-betul sebelum akhirnya ikut pendapat yang mana. SPOILER ALERT pada akhirnya Rosid dan Delia tak melanjutkan hubungan cinta mereka.

Kemudian juga ada sedikit cerita cinta beda agama yang terselip di film ? (Tanda Tanya) rilis tahun 2011 karya Hanung Bramantyo. Yang sudah nonton pasti ingat sub plot tentang Ping Hen (Rio Dewanto) yang memendam cinta pada Menuk (Revalina S. Temat). Di ujung film, SPOILER ALERT lagi, setelah Menuk menjanda, Ping Hen masuk Islam dan mendapatkan cinta lamanya.

Nah, yang terakhir kisah cinta beda agama hadir lewat Cinta Tapi Beda. Saya belum nonton, jadi tak berhak mengulasnya. Namun, kawan yang menulis resensi filmnya di tabloid ini mengatakan di ulasannya, “… tidak mudah melaksanakan pernikahan beda agama. Sistem di Indonesia tidak memberi dukungan pada cinta yang didasari dua Mahacinta. Ini pesan Cinta Tapi Beda. Untuk kita renungkan.”

Yang jelas, filmnya rilis di penghujung 2012, ini artinya setiap tahun sejak 2009 lahir film yang mengangkat tema itu.

Kenyataan ini lebih menarik ditelisik. Kenapa sekarang saban tahun muncul film tentang cinta beda agama?

***

Sesungguhnya, cinta beda agama terbilang sebuah keniscayaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, terdiri atas beragam agama. Kita hidup berdampingan dengan orang beragama lain, tak mungkin rasanya jika sampai tidak terjadi kisah cinta berlatar agama berbeda. Anda mungkin pernah mengalaminya, atau pastilah kenal orang-orang yang mengalaminya.

Sesungguhnya pula, cinta beda agama bisa terjadi di belahan mana saja di dunia ini. Namun, rasanya, di Barat sana hal semacam ini tak menjadi masalah. Beda dengan di Indonesia. Nilai religiusitas dan kekeluargaan yang erat dianut masyarakat kita membuat persoalan cinta beda agama jadi pelik.

Di Barat sana yang individualis boleh saja orangtua membiarkan anaknya berkasih-kasihan dengan yang lain agama karena menganggap itu sebagai hak asasi. Tapi tak demikian halnya di Indonesia. Apalagi bila hubungan beda agama itu hendak berlanjut jadi serius ke pernikahan. Percintaan, apalagi pernikahan di masyarakat kita, bukan semata urusan dua pribadi yang jatuh cinta, tapi urusan dua keluarga.

Pertama niatan sineas melahirkan kisah ini karena sudah saatnya hal tabu itu diangkat ke permukaan, dibicarakan secara terbuka. Yang saya ingat, baik Cin(T)a dan 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta tak mendatangkan kontroversi lantaran mengangkat konfliknya dengan halus: Cin(T)a lewat penuturan bergaya esai, sedang 3 Hati lewat penyelesaian harmonis. ? (Tanda Tanya) mengundang kontroversi lebih kepada tema pluralisme religius yang diangkatnya.

Pun kontroversi terbaru ini, di Cinta Tapi Beda lebih berupa protes pada tokohnya yang digambarkan sebagai orang Minang.

Ini menandakan, meski di luar sana masih ada pro-kontra atas hubungan cinta beda agama, sebetulnya sebagian besar masyarakat relatif memberi kebebasan pada sineas untuk mengangkat tema ini.

Yang tidak setuju, misalnya, pada akhirnya memilih tidak menontonnya. Mereka lebih memilih kisah cinta sejati Habibe dengan Ainun atau semangat nasionalismenya dibakar di puncak Mahameru lewat 5 cm..

Pertanyaannya kemudian, apa kontroversi Cinta Tapi Beda ini akan menghentikan sineas membuat lagi film tentang cinta beda agama?

Saya kok ragu, ya. Sebab, hubungan cinta beda agama adalah bahan baku cemerlang untuk sebuah kisah dramatis khas Indonesia. Dalam hubungan cinta beda agama ada konflik yang menggigit penuh dilema. Di situ, cinta seakan dipertentangkan dengan agama. Ada pula tradisi dan nilai keluarga yang mungkin menentang.

Siapa yang untung? Oh, tentu produser film. Orang-orang yang penasaran jadi kepingin nonton. Apalagi sampai filmnya jadi kontroversi segala. Yuk, ke bioskop sebelum filmnya betulan berhenti tayang….

(ade/ade)

 

Berita Terkait:

Film Cinta Tapi Beda Digugat, Produser Siap MeladeniSejak Muncul Kontroversi, Penonton Cinta Tapi Beda Bertambah Lebih dari 80 RibuFilm Cahaya Kecil Siap DiproduksiKontroversi Film Cinta Tapi Beda, Hanung Bramantyo Meminta Maaf

Komentar   

Jambanizer

habibiainun

Berikan komentar

Article source: http://www.tribunnews.com/2012/12/11/peringatan-hari-anti-korupsi-di-makassar-berujung-bentrok


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Saturday, April 6, 2013

Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Home Nasional




Bedah Jurnal Islamiah


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil





 




Ahad, 07 April 2013


Hidayatullah.com—Bertempat di Aula Pascasarjana Kampus ITS Surabaya, Jamaah Masjid Manurul Ilmi (JMMI) menggelar Seminar Akbar bertema; “Ahlus Sunnah dan Syiah: Beda Akidah, Syariah atau Politik?”


Acara yang diselenggarakan hari Sabtu, (06/04/2013) ini adalah puncak dari rangakain acara “Gebyar Manurul Ilmi (G-Mail)” yang di ikuti oleh seluruh Lembaga Dakwah Jurusan.


Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur I nstitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS dan Pimred Jurnal  Islamia), Mohammad Idrus Romli (dosen STAIN Jember dan Anggota LBM NU Jatim), dan Henry Shalahuddin, MA (dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah/STID Muhammad Natsir Jakarta). Acara  dipandu langsung oleh Bahrul Ulum  dari InPAS Surabaya.


“Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa tentang bagaimana  memahami  hingga kita bisa mengerti perbedaan Syiah dan Sunnah,” ujar Syafruddin, penanggung jawab seminar.


Pada sesi pembicara pertama,  Dr. Hamid. Fahmi Zarkasih menyampaikan bahayanya pemikiran yang mengaggap semua agama itu benar. Sudut pandang pemikiran ini menggunakan teori relativisme, di mana menganggap kebenaran menurut Anda benar, menurut orang lain belum tentu benar.


“Pemahaman kebenaran ini  kemudian dijadikan acuan untuk membenarkan semua agama. Padahal dalam Islam umatnya harus meyakini bahwa agamanya Islam yang benar, namun tetap menghormati agama lain,” ujar Hamid.


Menurutnya, menyikapi perbedaan dalam Islam bisa menggunakan tiga macam kategori rumusan dalam melihat perselisihan. Pertama adalah sesuatu yang di katakan khata’ (salah) atau shawab (betul). Perbedaan dalam kategori ini masih dalam ranah ijtihadiyah atau dalam masalah –masalah furu’.


“Kalau perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, umumnya masalah furu’,” ujarnya.


Kategori yang kedua adalah sesuatu yang dikategorikan haq dan bathil. Yang kedua ini, biasanya ditemukan dalam masalah salah dan benar dalam ruang akidah. Biasanya pula, konsekwensi dari perselisihan ini akan berujung pada akidah seseorang itu lurus atau salah.


Sedang kategori yang ketiga adalah, perbedaan yang bisa menjadikan seseorang itu mukmin dan kafir. Misalnya mendiskon atau menambah rukun iman. Karena menambah dan mengurangi itu bisa menjadikan seseorang itu kafir.


Berkaitan dengan masalah Syiah, perbedaan berawal dari  informasi hadits yang digunakan oleh pengikut Ali, yang dikatakan bahwa Ali lah sebenarnya yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi Wassalam untuk menjadi imam. Namun kemudian hadits ini ditolak oleh para Sahabat dan kemudian terpilihlah Abubakar Radhiallahu anhu sebagai khalifah, Imam pengganti Nabi. Hal inilah membangkitkan perlawanan pengikut Ali, kemudian menyebarkan doktrin tentang imamah. Doktrin yang mempercayai bahwa satu-satunya imam pengganti Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. [baca: Idrus Romli: Kultur Islam Indonesia Justru Melawan Syiah]


Dalam literatur Syiah dikatakan Imamah, yang artinya seorang harus mempercayai Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Imam. Barangsiapa yang tidak mempercayai Ali sebagai imam berarti kafir.


“Dalam kalangan Syiah, imamah dijadikan sebagai akidah. Sehingga hal itu yang mengakibatkan Ahlus Sunnah tidak bisa bersatu dalam masalah akidah. Jadi tidak mungkin Syiah dan Ahlus Sunnah bisa bersatu.  Namun disayangkan Syiah kurang bijak, dengan mengklaim kelompok diluar syiah telah menjadi kafir, sebagaimana tertuang dalam buku-buku mereka.”


Pada sesi pembicara kedua,  Henry Shalahuddin, MA banyak menyoroti perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah.  Menurutnya,  perbedaan Ahlus Sunnah dan Syiah masuk dalam sudah kategori haq dan bathil.


“Kelompok Syiah secara peribadatan sangat berbeda dengan Ahlus Sunnah. Contoh orang Syiah harus sujud di atas gambar imam-imam mereka. Mencambuk diri sendiri ketika memperingati hari Asyuro.”


Bukan sampai disitu saja perbedaannya, orang Ahlus Sunnah sangat menghormati dan mencintai para Sahabat Rasulullah termasuk Ali Bin Abi Thalib, tapi di kalangan Syiah, Sahabat selain Ali bin Abi Thalib adalah terlaknat, sehingga pengikut Syiah dianjurkan untuk melaknat Abubakar, Umar ibnu Khatab, Ustman bin Afan hingga istri Nabi Siti Aisyah.


“Begitu bencinya pada Sahabat Nabi, bahkan ada anjuran tempat yang paling bagus untuk melakukan laknat itu adalah di WC,” ujar Henry.


Menurut Henry kebencian kelompok ini terhadap para Sahabat diekspresikan secara nyata dalam kehidupan, seperti lewat kata, dan tulisan. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang ada.


Dalam dialog ini disimpulkan bahwa ajaran Syiah telah merasuk ke dalam kehidupan umat Islam secara perlahan lewat berbagai propaganda. Semua aspek kehidupan dimasuki, mulai dari budaya, pendidikan, politik, dan penyebaran keilmuan melalui penerbitan buku. Berbagai propaganda dilakukan melalui keilmuan dengan membalikan fakta dan sejarah. Menggunakan hadits dan ayat untuk mengklaim kebenaran keimamahan-nya. Di sisi lain syiah juga disebarkan seperti menggunakan bantuan ekonomi dan bantuan pendidikan.*/Samsul Bahri


Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.okezone.com/read/2012/12/27/58/737593/perayaan-natal-mui-dan-fpi-ikut-sibuk


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Sunday, February 17, 2013

Pergaulan Bebas Kalangan Pelajar Memprihatinkan

Hal ini disampaikan Mahyaruddin, Sabtu (16/3) terkait tingginya kasus pelaku seks bebas pra-nikah di kalangan pelajar di Kota Lhokseumawe dan Banda Aceh berdasarkan survei Dinas Kesehatan.

“Sangat memalukan di tengah upaya penerapan syariat Islam di Aceh, kasus pergaulan bebas dan seks pra-nikah justru sangat tinggi. Karena itu, semua pihak tidak boleh tinggal diam, terutama keluarga, pemerintah dan masyarakat,” ujar Mahyaruddin.

Menurutnya, pihak sekolah juga harus ikut memantau pergaulan para siswa supaya tidak terjerumus dalam prilaku menyimpang tersebut, jika perlu tingkatkan pemahaman agama dan pendidikan moral dan wawasan hukum syariat.

Demikian juga dengan kampus, agar dapat memberikan pemahaman yang baik tentang hukum agama.

“Lembaga pendidikan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak muda, untuk itu sudah saatnya pendidikan akhlak, etika pergaulan dan hukum agama ditingkatkan di semua level pendidikan,” tambah anggota dewan yang membidangi pendidikan tersebut.

Terus Pantau

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, juga mengingatkan orangtua yang mengirim anaknya untuk kuliah ke kota-kota agar terus memantau pergaulan dan memberi pemahaman tentang bahaya pergaulan bebas, karena selama ini tingkat pergaulan bebas di kalangan anak kos juga sangat mengkhawatirkan.

“Orangtua tidak boleh membiarkan begitu saja anaknya, tapi harus terus memantau perilaku anaknya supaya jangan asal kirim ke kota-kota seperti Banda Aceh dan Lhokseumawe untuk kuliah, tanpa diiringi dengan pembinaan moral. Demikian juga dengan masyarakat supaya bersama-sama mengawasi perilaku para remaja,” katanya.

Mahyaruddin menambahkan, solusi untuk masalah tersebut hanya bisa ditempuh dengan meningkatkan pemahaman agama bagi pelajar dan remaja. Karena itu, ia berharap agar semua elemen masyarakat di Aceh jangan hanya tahu mengkritik syariat Islam tanpa memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat.

“Kalau syariat Islam di Aceh terus-menerus dikritik, akhirnya tidak sempat berbuat apa-apa, sedangkan pengaruh negatif terus masuk merusak generasi muda.

Kritik boleh saja asal dilakukan dengan baik dan memberi solusi terhadap masalah yang ada,” terangnya.

Tingginya angka pergaulan bebas di Aceh diungkapkan oleh dr Hj Cut Meurah Yeni Sp.OG dalam seminar bertema; “Pengaruh Pergaulan Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi” yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Aceh, Kamis (14/2) dengan mengutip hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Aceh tahun 2012.

Dari hasil survei itu Kota Lhokseumawe menduduki peringkat pertama terbanyak pelaku seks pra-nikah di kalangan pelajar yaitu 70 persen, menyusul Banda Aceh 50 persen. (mhd)

Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2092


Pergaulan Bebas Kalangan Pelajar Memprihatinkan

Thursday, June 13, 2013

Panitia Dialog Islam-Kristen Diperiksa Polisi Usai Acara

JAKARTA- Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) menegaskan acara “Dialog Teologis Islam-Kristen” di Gedung Keuskupan Surabaya, pada 11 Juni 2013 kemarin terselenggara dengan penuh antusiasme, aman, tertib dan damai. Itu berarti kekhawatiran pihak tertentu bahkan akan terjadi kericuhan, sama sekali tidak terbukti.


Demikian ditegaskan Bambang Noorsena, Penanggung Jawab ISCS,  dalam siaran persnya yang diterima Tribunnews.com, Kamis (13/6/2013). “Justru, kericuhan terjadi setelah selesainya acara karena kedatangan beberapa masa intoleran,” tegas ISCS dan semua mitra penyelenggara.


Lebih lanjut dijelaskan kronologis fakta-fakta yang terjadi mengenai acara Dialog Teologis Islam-Kristen diselenggarakan oleh Institute for Syriac Christian Studies (ISCS).  Semula acara ini direncanakan di Restoran “Forum” di Jalan Margorejo, Surabaya, Selasa, 11 Juni 2013, pukul 18.00 – Selesai.


Dialog bertema Varian-varian Teks Asli Kitab Suci Al-Kitab dan Alquran. Pembicara dari pihak Islam Dr Ulil Abshar Abdalla, menyajikan materi subtema Keragaman Bacaan dalam Alquran. Kemudian dan dari pihak Kristen Dr Bambang Noorsena yang membawakan materi “Textual Criticism: Sebuah Pengantar Dalam Kajian Varian-varian Teks Alkitab”.


Untuk penyelenggaraan acara tersebut, pihak panitia telah mengajukan “Surat Pemberitahuan” kepada pihak Kepolisian, dan telah dikeluarkan surat izin Polres Kota Besar Surabaya dengan Nomor: STTP/31/IV/2-13/Intelkam.


Namun, pada tanggal 11 Juni 2013, Pukul 11.40 WIB, pihak panitia tiba-tiba dipanggil pihak kepolisian dan menyarankan agar acara dibatalkan. Alasannya, ada pihak-pihak yang khawatir acara tersebut akan ricuh karena tema yang diangkat dianggap sensitif. Karena itu, surat yang sudah dikeluarkan diminta kembali secara paksa pada jam 13.00 untuk dicabut oleh kepolisian.


“Dan perintah pencabutan ini pun tidak secara tertulis, dan dilakukan sangat mendadak pada hari di mana acara akan berlangsung. Sehingga penyelenggara kesulitan mencari solusi terbaik selain membatalkan acara,” ungkap Bambang Noorsena.


Lebih lanjut, mengingat tanggal 10 Juni 2013 sudah ada sekitar 400 peserta yang dipungut biaya Rp 25.000, sedangkan sangat tidak mungkin penyelenggara melakukan sosialisasi pembatalan pada peserta hanya dalam tempo 2 atau 3 jam sebelum acara dimulai. Apalagi kepolisia hanya mengintruksikan pembatalan dan tidak memberikan alternatif pilihan lain, agar semua bisa aman dan tidak ada pihak dirugikan.


Akhirnya pihak penyelenggara mengambil keputusan memindahkan lokasi acara dan melokalisir kegiatan ini hanya untuk kalangan sendiri, ditempat biasa kami melakukan kegiatan diskusi rutin tengah bulanan, yaitu di Gedung Keuskupan, Jalan WR Supratman, Surabaya. “Lokasi tersebut ada dalam wilayah keamanan Polsek Tegalsari, yang berbeda wilayah dengan lokasi awal kegiatan,” jelas Bambang Noorsena selaku penanggung jawab ISCS.


Selain itu juga karena pemindahan mendadak ini, pihak penyelenggara kegiatan tidak mungkin membuat surat pemberitahuan tertulis kepada pihak Polsek Tegalsari, hanya dengan pemberitahuan lisan. Dan saat acara berlangsung pihak Polsek juga mengirimkan petugasnya untuk membantu mengamankan. “Selain aparat atau pihak berwajib, kami juga dibantu teman-teman dari GP Anshor dengan bansernya,” terang dia.


Lebih lanjut, tema Dialog pun diubah sedikit lebih netral  yaitu “Pancasila dan tantangannya bagi Bangsa”, dengan contoh-contoh kasus praktek intoleransi beragama.  “Acara berlangsung tertib, semarak, penuh damai dan tidak ada gejolak apa pun sepanjang acara berlangsung sampai berakhir,” ujarnya.


Namun, saat acara sudah selesai atau bubar, baru kelompok intoleran itu merangsek masuk halaman sambil berteriak-teriak mencari penanggung jawab acara. Suasana damai yang sejak awal jadi ricuh dengan kehadiran mereka. Hingga akhirnya salah satu Panitia, yaitu Ibu Susan harus “pasang badan” untuk meredam supaya tidak ada tindakan anarkhis dari kelompok berjubah putih ini.


Saat kejadian seornaglaki-laki mengaku anggota polisi. Dia terkesan ‘akrab’ dan satu pihak dengan massa penyerang.


Kemudian Susan didampingi aktifis Gusdurian, LBH, CMARS, JAMAK, JAI, Anshor, dibawa ke Polrestabes untuk diinterogasi hingga dini hari, yaitu pada pukul 02.00 WIB.


Pihak Polda malam itu juga saat panitia lain masih membereskan berkas-berkas seminar dan membersihkan ruangan, datang dan meminta keterangan tentang penyelengaraan dialog ini dan mencari penanggung jawab dari ISCS. Intelkam Polda menelpon Bambang Noorsena yang memang pendiri ISCS sekaligus narasumber dari pihak Kristen malam itu selain Ulil Abshar Abdalla, untuk datang ke Polda besoknya pada tanggal 12 Juni 2013.


Rabu, 12 Juni 2013, Pukul 11.00 WIB, Bambang Noorsena, didampingi Shafa selaku Sekretaris Panitia datang ke gedung Intelkam Polda Jatim menemui Kasubdit intelkam dan memberikan kejelasan dari apa-apa yang disalahpahami pihak-pihak yang tidak mengerti isi dari kegiatan Dialog Teologis Islam-Kristen.


Sebelumnya diberitakan terjadi tindakan penyerangan massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap acara dialog Islam-Kristen di Wisma Keuskupan Surabaya, Jalan WR Supratman Surabaya, Selasa (11/6/2013) kemarin.


Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Farman membenarkan adanya pembubaran acara yang dihadiri Dr Ulil Abshar Abdalla yangmenjabat salah sartu Ketua DPP Partai Demokrat, dan Dr Bambang Noorsena yang dilakukan FPI.


“Benar tadi malam telah terjadi insiden melibatkan FPI. Namun untuk saat ini belum ada yang kita tahan, hanya mereka kita periksa. Dan masih mengumpulkan bukti,” kata Farman kepada beritajatim.com, Rabu (12/6/2013). (Andri Malau)


Article source: http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/12/01/116038/Akbar-Tandjung-Sedih-Ical-tak-Masuk-Survei-LSI


Panitia Dialog Islam-Kristen Diperiksa Polisi Usai Acara