Showing posts sorted by relevance for query (Semacam. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query (Semacam. Sort by date Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

REPUBLIKA.CO.ID, Wawancara Karen Armstrong Pakar Agama: Alquran Mengajarkan Belas Kasih


Di ambang pintu, Karen Armstrong menyungging senyum. Ia mempersilakan masuk, menyapa ramah, dan mengucapkan “How do you do?” Lalu, ia duduk di sofa putih di kamar hotel ia menginap. Perempuan Inggris ini mengisahkan konsep belas kasih yang ia dengungkan, Islam, dan dirinya kepada wartawan Republika, Ferry Kisihandi, dan fotografer, Prayogi, Jumat (14/6) sore. Berikut petikannya.


Sebegitu pentingkah belas kasih bagi Anda?

Saya pikir ini merupakan hal terpenting di dunia. Ini juga menjadi ujian bagi pemeluk agama untuk menjalankannya. Di Alquran, misalnya, bertebaran ajaran yang mendorong untuk berlaku belas kasih terhadap orang lain. Di antaranya, memperlakukan orang dengan hormat, menyantuni fakir miskin, dan menciptakan masyarakat berkeadilan.


Menurut saya, ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi semua agama. Ini juga sarana untuk membantu kita bertahan. Jika kita memperlakukan orang lain dengan buruk tentu dampaknya juga akan menimpa diri kita. Dan, kita melihat dunia sekarang mengalami hal seperti ini. Maka, sudah seharusnya kondisi semacam itu tak lagi berlangsung. Saya melihat Sang Buddha, Konfusius, dan Yesus semuanya bekerja di sebuah masyarakat yang penuh keserakahan. Tapi, mereka mampu bertahan dengan menggerakkan sikap belas kasih.


Bagaimana mempraktikkannya di tengah dunia yang sekarang sarat kekerasan dan konflik ini?


Saya akui, kini kita tinggal di tempat yang sangat terpolarisasi dan berbahaya. Tapi, pada dasarnya, kita tak bisa mengabaikan pengembangan ide belas kasih ini. Karena itu, sangat mendesak membangun kesadaran global soal ini. Lalu, membangun hubungan lebih baik dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.


Semua sudah melihat, hampir semua musnah oleh senjata yang manusia buat. Demikian pula kalau merunut pada sejarah perang ratusan tahun silam. Itu berulang dan meletuslah perang di Afghanistan, Irak, dan sekarang terjadi di Suriah. Ini situasi berbahaya. Bila agama tak mampu tampil dengan pesan belas kasih yang ada pada ajarannya, mereka akan gagal mengatasi ini semua. Dengan demikian, mereka harus mampu. Apa yang mereka lakukan adalah untuk generasi kita sekarang.


Anda optimistis agama bisa memainkan perannya dengan baik?

Tergantung. Kita semua mempunyai jejak rekam bagus dalam mendorong upaya yang baik. Namun, karena rasa malas, hal itu tak berkembang. Saya bahagia dengan respons terhadap pesan belas kasih yang kemudian dituangkan dalam Piagam Belas Kasih. Muncul gerakan yang begitu aktif di Amerika Serikat (AS), Yordania, dan Pakistan juga di Indonesia. Jadi, secara alamiah, saya optimistis.


Tapi, kita masih menghadapi kendala utama, yaitu prasangka walaupun telah ada serangkaian dialog antarkeyakinan yang digelar?


Ini sisi alamiah manusia dan pada prinsipnya prasangka harus diatasi. Anda dapat melakukan seperti apa yang ditempuh Islamic Society of North America (ISNA), sebuah organisasi Muslim besar di Amerika Serikat dan Kanada. Beberapa tahun lalu mereka menegaskan untuk menerapkan prinsip belas kasih lewat Piagam Belas Kasih.


Imam masjid yang memimpin kegiatan ISNA menetapkan tekad menciptakan masjid yang penuh belas kasih. Ini maknanya, masjid harus ramah gender dan pemuda, mesti memperluas dialog antarkeyakinan, serta mempelajari cara dalam mengahadapi terjadinya penyalahgunaan agama oleh segelintir orang.


Mereka juga menyebarkan pesan belas kasih yang juga terdapat pada ajaran Islam dalam berbagai pelatihan imam. Maka intinya, akar rumput menjadi bagian yang vital. Di sisi lain, saya melihat adanya dialog di antara para pemimpin agama. Namun sebaiknya, ini tak berakhir pada konferensi. Dan, cara terbaik adalah dengan bekerja bersama-sama.


Langkah ini dapat dilakukan oleh Yahudi, Muslim, Kristen, Buddhis, maupun pemeluk Hindu. Karena itu, alangkah baiknya setiap masjid, gereja, maupun kuil saling menjalankan program untuk saling merangkul dan berdialog dengan orang lain.


Tak jarang, peristiwa semacam pengeboman di Boston membuat seluruh komunitas Muslim disalahkan?

Saya pikir, komunitas Muslim perlu benar-benar proaktif. Terkadang tak ada yang menaruh perhatian penuh saat muncul pernyataan bahwa Islam menentang pembunuhan terhadap orang tak berdosa. Tak pernah digambarkan oleh media mainstream. Di sisi lain, umat Islam harus terus memperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari bahwa Muslim berbelas kasih dan menentang kekerasan.


Apakah Anda berpikir Muslim akan mampu melakukannya?


Saya tidak tahu. Muslim harus mencoba melakukannya sendiri. Tuhan menyatakan, Dia tak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tak mengubahnya. Ini pernyataan yang terkandung dalam Alquran. Saya pikir, jihad sebenarnya adalah berusaha menjadikan hal itu terwujud.


Anda pernah menulis buku tentang Muhammad, kapan pertama kali tertarik mengkaji Islam?

Saat saya bekerja di televisi. Saya membuat program mengenai Perang Salib. Ini berarti saya harus mempelajari tentang Islam. Banyak orang memandang miring agama ini, saya tak paham apa yang mereka katakan. Saya dapat mempelajari Islam dengan baik. Lalu, saya ingin membuat Islam dapat diakses bagi warga Barat sehingga mereka lebih memahami agama ini.


Bagaiman pandangan Anda tentang Muslim di Indonesia?


Saya diundang oleh penerbit buku (Mizan) saya di sini. Dalam kurun 10 tahun ini saya sibuk bepergian ke sejumlah tempat. Pernah juga singgah ke Malaysia. Bagi saya, mesti tinggal beberapa saat dulu di Indonesia, berbicara dengan orang-orangnya, dan mempelajarinya, baru saya bisa menyampaikan opini mengenai Muslim di sini. Saya baru berada di sini pada Rabu (12/6) malam lalu.


Anda menikmati saat berbicara dari satu kuliah umum ke kuliah umum lainnya?

(Karen menjawab sambil tertawa). Tidak benar-benar. Saat kuliah umum, saya selalu mengatakan kepada setiap orang tentang apa yang mesti dilakukan. Saya pergi dari sini kemudian menuju tempat lainnya. Meski tak benar-benar menikmati, saya terkesan dengan sambutan-sambutan yang hangat dan saya sangat menghargainya. Anda tahu, sebenarnya saya adalah seorang yang sangat soliter.


Saya hidup sendiri, saya menyukai keheningan. Saya membutuhkannya termasuk saat menulis. Terlalu berat bagi saya untuk selalu berada di tengah orang banyak. Ini bukan nature saya. Tapi, dalam kunjungan ke Indonesia ini, saya tersentuh. Sebab, ada sambutan hangat dan banyak yang berbuat baik kepada saya. n ed: nur hasan murtiaji


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.harianterbit.com/2013/03/23/ratusan-biksu-budha-kejar-warga-muslim-di-meiktila/


Karen Armstrong: Alquran Mengajarkan Belas Kasih

Sunday, April 21, 2013

Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston


Advertisement



Tamerlan Tsarnaev (ibtimes.com/Johannes Hirn)

Boston – Tersangka bom Boston, Tamerlan Tsarnaev diyakini telah menjalani radikalisasi Islam di wilayah Boston, Amerika Serikat. Disebut-sebut, ada seseorang yang mempengaruhi dan mencuci otak Tamerlan.

Sang paman Ruslan Tsarni yang tinggal di Maryland, AS seperti dilansir New York Times, Senin (22/4/2013), mengaku menyadari perubahan pada diri keponakannya pada tahun 2009. Tsarni kemudian meminta bantuan seorang kerabatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kakak Dzhokhar Tsarnaev, yang kini terbaring tak berdaya di rumah sakit.


“Saya terkejut ketika mendengar kata-katanya (Tamerlan), ucapannya, setiap kata yang diucapkannya diawali dalam nama Tuhan. Saya menanyakan apa pekerjaan dia, dan dia mengklaim dirinya memasrahkan semuanya kepada takdir Tuhan. Itu menjadi perhatian besar bagi saya. … Itu bukanlah keyakinan, melainkan hal lain, yang bisa disebut radikalisasi. Saya tidak memahami apa yang dia bicarakan. Dia hanya berkata-kata dengan kata-kata yang dia tahu dan tidak memahami artinya,” jelasnya.


Menurut kerabat tersebut, seperti diceritakan Tsarni, proses radikalisasi terhadap Tamerlan berawal ketika pemuda berusia 26 tahun tersebut bertemu dengan seorang mualaf di wilayah Boston. Belakangan diketahui bahwa Tamerlan bertemu dengan orang yang mempengaruhinya tersebut pada tahun 2007 silam.


Orang yang masih misterius itu, disebut-sebut berhasil mencuci otak Tamerlan. Sang paman mengungkapkan percakapannya dengan Tamerlan pada tahun 2009 silam. Saat itu, Tsarni melihat, keponakannya seperti kehilangan harapan hidup.


“Anak-anak muda semacam ini, yang tidak mampu mengatasi masalah pribadi mereka memang menjadi sasaran empuk,” tutur Tsarni kepada media Inggris, Sunday Times, dan dilansir New York Post.


“Dia (orang misterius-red) semacam mencuci otaknya,” imbuh Tsarni yang berprofesi sebagai pengacara ini.


Meski mengaku tidak mengetahui pasti siapa yang meradikalisasi Tamerlan, Tsarni menyebut orang tersebut berasal dari Armenia. “Saya ingin menekankan bahwa dia (kenalan) merupakan keturunan Armenia,” ucapnya. Armenia termasuk dalam ras Kaukasia yang sebagian besar penduduknya penganut Kristen.


Lebih lanjut, Tsarni menyebut, Tamerlan sengaja mempengaruhi dan mencuci otak Dzhokhar, sang adik. Tsarni bahkan sempat menyebut Tamerlan sebagai pengecut.


“Dia (Dzhokhar) hanyalah korban dari kakaknya… Kakaknya membawanya ke situ. Dzhokhar hanya seorang anak yang ingin memiliki kakak yang menjadi panutan. Selain sebagai seorang pembunuh, Tamerlan sebenarnya kakak yang penyayang,” ceritanya.


“Jadi, yang disebut radikalisasi tersebut memang terjadi di sini (AS-red), tidak di Kaukasia, tidak di Rusia, tidak di Chechnya, yang sama sekali tidak ada kaitan dengan kasus ini,” tandas Tsarni.


(nvc/ita)







Article source: http://www.tubasmedia.com/berita/ulil-justru-saya-orang-baru-berani-ngomong-anas-lengser/


Paman Sebut Tamerlan Tsarnaev Dicuci Otak oleh Seorang Mualaf di Boston

Wednesday, June 26, 2013

Masjid Baitul Ihsan Keindahan yang Jadi Nilai Tambah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Mohammad Akbar


Deretan pohon kurma dan palem menghiasi tampilan Masjid Baitul Ihsan. Sebuah keindahan yang asri tersaji di halaman depan masjid yang berada di lingkungan kompleks PLN Gandul, Depok. Dari luar, pesona masjid yang berdiri di atas hamparan sekitar 1.000 meter persegi ini telah terlihat.


Bangunan utamanya berbentuk kotak. Luas bangunan masjid ini sekitar 800 meter persegi. Tetapi, sebagai ornamen penghiasnya dihadirkan bentuk lengkung an yang lebih mencerminkan adopsi gaya arsitektural bangunan Islam di Kordoba, Spanyol.


Secara umum, masjid ini memiliki empat kubah. Kubah utama berukuran diameter sekitar 20 meter. Letaknya ber ada di bagian tengah bangunan. Pada bagian kubah utama ini, terlihat ku bah kecil yang ditumpukkan pada bagian atas dengan lambang bulan sabit di bagian ujungnya. Tampilan kubah kecil yang menumpuk ini pada dasarnya hanya sebagai bentuk hiasan saja bagi kubah utama.


Selain kubah utama, terdapat pula dua kubah yang berukuran lebih kecil. Posisi kubah tersebut tepat berada di atas menara. Sedangkan, satu kubah lainnya berada di bagian mihrab. Sayang nya, untuk kubah yang terakhir ini tidak begitu jelas terlihat jika kita berada di sisi halaman muka masjid.


Lengkung-lengkungan
Dua menara menghiasi bagian mu ka masjid. Adopsi desain menara ini lebih menyerupai tampilan fasad di Masjid Raya Bogor. Tampilannya mengadopsi desain hypostyle atau Arabplan. Gaya ini menjadi salah satu keagungan seni arsitektur Islam yang pernah tumbuh pada masa Abbasiyah dan Umayyah.


Bagian menara ini menyatu dengan bagian inti masjid. Bagian dasar menaranya berbentuk kotak. Dengan posisinya yang menyatu dan berbentuk kotak itulah yang memberikan ke san gagah bagi tampilan fasad mas jid. Sedangkan, untuk bagian selasar masjid, dihiasi oleh atap yang melengkung. Lengkunganlengkungan itu menghiasi setiap ruas antartiang. Tampilan lengkungan semacam ini juga banyak terlihat pada bangunan bergaya hypostyle.


Cecep Supendi, manajer operasional Masjid Baitul Ihsan, menceritakan tampilan yang ada sekarang ini sebenarnya merupakan hasil renovasi. Dulu, masjid ini berbentuk persegi enam dengan bentuknya yang sederhana.


Lantas merujuk pada prasasti yang tertempel di dinding masjid, renovasi masjid ini peresmiannya ditandatangani oleh Eddie Widiono, direktur Utama PT PLN, 17 November 2006. “Tampilan bergaya Eropa yang muncul sekarang ini lebih ditujukan pada kepentingan artistiknya saja, tak banyak makna yang disimpannya,” kata dia saat berbincang kepada Republika.


Lalu, ketika melihat ke bagian interior, sentuhan seni tak terlalu begitu menonjol. Bentuk melengkung justru lebih menonjol pada bagian jendela. Dengan menggunakan material kayu, kusen dan jendela masjid yang dipilih berbentuk melengkung. Bentuk tersebut terlihat serasi dengan tempias yang juga membentuk tampilan melengkung.


Sedangkan, pada bagian mihrab yang lebih ditonjolkan adalah hiasan dari bahan granit. Setiap sisi dari hamparan granit itu dibuat dengan sisi miring 45 derajat. Hiasan semacam ini juga selaras dengan kacakaca jendela masjid yang dibuat dengan teknik kaca bevel.


Di bagian atas mihrab terdapat sebuah bulatan yang memancar sinar. Di dalam bulatan itu tertulis kalimat Allah dalam bahasa Arab. Sedangkan, cahaya yang muncul itu tak lepas dari pilihan kaca patri yang dipakai. Sebagaimana fungsi dari kaca patri maka cahaya yang masuk tidak langsung menyeluruh, sehingga membuat suasana di dalam menjadi panas. Cahaya yang melewati kaca patri ini menjadi me mendar se hingga mem berikan efek luas bagi cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Inilah yang tersaji pada bagian interior masjid.


Mengutamakan pemanfaatan
Pada bagian mihrab ter dapat pula bentuk ce kungan atau ceruk. Di bagian ceruk inilah terdapat lubang. Di bagian atasnya menjadi tempat kubah. Di bagian ini tak terlalu banyak dihadirkan ornamenornamen yang mendetail.


Sementara, pada bagian bawah kubah utama juga demikian. Tampilan yang tersaji hanya dominasi sebaran cat berwarna putih tanpa diberikan hiasan yang menambah nilai estetika. Permainan seni kaligrafi yang ada di masjid ini hanya tersaji di beberapa bagian saja. Di antaranya, mengelilingi bagian balokan di bawah kubah yang berbentuk kotak persegi empat.


Adapun kaligrafi yang menghiasinya berasal dari penggalanpenggalan surat di dalam Alquran, seperti Surat atTaubah ayat 18, atTaubah (108), alBaqarah (284), atTahrib (6), dan alAnkabut (45). Hiasan kaligrafi lainnya berisi huruf Arab tentang namanama baik Allah atau As maul Husna. Penempatan As maul Husna itu disebar ke setiap sudut ruangan. Setiap Asmaul Husna itu dibingkai dalam ruang bujur sangkar.


S e c a r a umum pada bagian interior ini terdapat dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai ruang ibadah bagi jamaah lelaki, sedangkan pada lantai balkon menjadi tempat ibadah bagi kaum hawa dan juga seba gai tempat pe nampung tambahan jika lantai ba wah sudah terisi penuh. “Daya tampung di sini bisa mencapai 1.000 jamaah lebih,” ungkap Cecep.


Cecep menjelaskan secara konsep masjid ini tidak terlalu terpatok pada sebuah adopsi desain Eropa atau Timur Tengah. “Tetapi, lebih mengedepankan sisi manfaatnya saja. Kalaupun terlihat indah, itu menjadi nilai tambah bagi masjid ini,” ujarnya.


Semarak Kegiatan di Rumah Kebaikan
Kehadiran sebuah masjid tak selamanya hanya mengandalkan sisi keindahannya. Tapi, jauh lebih bermanfaat adalah bagaimana menjadikan peran masjid ini mampu memberi faedah bagi lingkungan sekitar. “Konsep itulah yang coba kami ke depankan. Sebagaimana makna dari Baitul Ihsan maka kami ingin masjid ini bisa menjadi tempat yang memberi kebaikan dan manfaat bagi orangorang yang ada di sekitarnya,” kata Cecep Supendi, manajer operasional Masjid Baitul Ihsan.


Cecep pun menjelaskan sejumlah aktivitas yang diharapkan bisa menyemaikan nilai-nilai kebaikan bagi lingkungan sekitar. Di antaranya, di masjid ini terdapat juga sekolah setingkat SMP dan SMK. “Sekolah ini ditujukan bagi kaum dhuafa. Biayanya gratis,” kata dia.


Selain menyediakan pendidikan formal, Cecep juga menjelaskan, secara rutin pula pihaknya menggelar kegiatan yang mempertebal nilai keimanan. Bentuknya majelis taklim, kajian keilmuan dan Alquran, hingga pembinaan Alquran bagi anak-anak. “Alhamdulillah untuk kegiatan kajian Islam kami melakukannya secara rutin, mulai dari Senin hingga Ahad selalu ada,” ujarnya.


Article source: http://www.utusan.com.my/utusan/Bicara_Agama/20130626/ba_03/Pengalaman-jadi-kelebihan


Masjid Baitul Ihsan Keindahan yang Jadi Nilai Tambah

Thursday, December 8, 2016

Dekat dengan Syaiful Djarat, Angel Karamoy Mualaf dan Dipoligami?

>Update
download
Angel Karamoy/ Foto: Net
>RUMAH Tangga Angel Karamoy dan Steven Rumangkang, kini tengah dilanda kabar tak sedap. Keduanya kini tengah mengalami kemelut rumah tangga yang mengguncang keharmonisan mereka. Kabar ini muncul saat salah satu foto yang tersebar di sosial media, Anggel Karamoy tengah menikmati liburan bersama keluarga Syaiful Djarat, salah seorang produser yang disebut-sebut tengah menjalin asmara dengan Angel. Syaiful Djarat diketahui juga terlah beristri yang bernama Afifa Syahira. Afifa merupakan salah seorang artis senior yang juga berakting dalam sinetron Ganteng-ganteng Serigala’. Keduanya menikah pada tahun 2014 lalu. Namun hingga saat ini juga belum ada konfirlasi dari Afifa Syahira yang merupakan Istri Syaiful Djarat. Lantas apakah Angel bakal dipoligami dan pindah Agama mengikuti Syaiful Djarat? Belum ada konfitmasi resmi dari Angel maupun Syaiful. Namun asumsi netizen di sosial media mulai termakan dengan opini. Pasalnya, lewat salah satu foto yang diposting oleh salah satu akun gosip, @Lambe_Turah, Angel terlihat akrab dengan keluarga Syaiful, tak hanya itu, Ia juga mengenakan Hijab berwarnah pink, dengan memamerkan Henna di tangannya. (Semacam tato khusus yang dibuat dalam hari pernikahan-red). angel-karamoy Sementara hubungan Rumah tangga Angel Karamoy dengan Suaminya, Stevan Rumangkang, dikabarakn telah retak lama. Diketahui, Angle dan Stevam menikah pada 26 januari 2008. Rumah tangga mereka bukan saja retak pada kasus Angel dengan Stevan Rumangkan, namun jauh sebelumnya, mereka dikabarkan bercerai lantaran Angel Karamoy diisukan sempat mempunyai hubungan khusus dengan Pasha Ungu. Bahkan, Foto mesra dengan Pasha Ungu juga tersebar luas di sosial media kala itu. (dal/fajar) image
loading...
"

| Dekat | dengan | Syaiful | Djarat, | Angel | Karamoy | Mualaf | Dipoligami? | Update< | span>< | a> < | div> Editor< | span> | edal< | div> Posted | December | 2016 | @11:22 | div> < | div> Angel | Foto: | Net< | div> < | a> < | a> RUMAH< | strong> | Tangga | Karamoy dan | Steven | Rumangkang | kini | tengah | dilanda | kabar | sedap | Keduanya | mengalami | kemelut | rumah | tangga | yang | mengguncang | keharmonisan | Kabar | muncul | saat | salah | satu | foto | tersebar | sosial | media | Anggel | menikmati | liburan | bersama | keluarga | Djarat | seorang | produser | disebut | sebut | menjalin | asmara | Syaiful | diketahui | juga | terlah | beristri | bernama | Afifa | Syahira | merup | artis | senior | berakting | dalam | sinetron | Ganteng | ganteng | Serigala’ |  Keduanya | menikah | pada | tahun | 2014 | Namun | konfirlasi | Istri | Lantas | apakah | bakal | dipoligami dan | pindah | Agama | mengikuti | Belum | konfitmasi | resmi | maupun | Namun | asumsi | netizen | mulai | term | opini | Pasalnya | lewat | diposting | oleh | akun | gosip | @Lambe_Turah | terlihat | akrab | hanya | mengen | Hijab | berwarnah | pink | memamerkan | Henna | tangannya | (Semacam | tato | khusus | dibuat | hari | pernikahan | red) | Sementara | hubungan | Rumah | Suaminya | Stevan | dikabarakn | telah | retak | lama | Diketahui | Angle | Stevam | januari | 2008 | Rumah | bukan | kasus | Rumangkan | jauh | senya | dikabarkan | bercerai | lantaran | diisukan | sempat | mempunyai | Pasha | Ungu | Bahkan | Foto | mesra | luas | kala |  (dal | fajar)< | strong> < | div> Recommended | you< | h4> < | div> loading | div> | ins>< | div> |

Thank Very Much for Visiting this Article

Tuesday, January 8, 2013

Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Selasa, 08 Januari 2013 10:49

| Ade Irwansyah

HINGGA selesai menulis artikel ini, jujur, saya belum nonton film terbaru Hanung Bramantyo, Cinta Tapi Beda.

Saya tak tertarik menontonnya. Saya sedang malas nonton film bertema “berat.” Sebab, jika menonton, saya akan repot menuliskan ulasannya. Tapi, kontroversi soal filmnya, bahkan kabar Hanung memutuskan menarik filmnya dari peredaran sampai dilaporkan ke polisi segala mendorong saya menulis artikel ini.

Karena belum nonton, saya tak berhak menilai Cinta Tapi Beda. Namun, saya sudah nonton beberapa film yang mengangkat soal cinta beda agama sebelum yang ini. Jadi, menurut saya, sah saja saya punya pendapat soal tema yang diangkatnya: tentang cinta beda agama.

Negeri kita yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama sudah sejak dulu menjadi bahan baku cerita fiksi, termasuk film cerita. Kritikus film Eric Sasono pernah menulis di situs Rumah Film (2011), dahulu setidaknya ada dua pendekatan utama pembuat film menceritakan keragaman di Indonesia ini. Pendekatan pertama humoristis, dengan bercerita tentang tokoh-tokoh komikal dan stereotip etnis sebagai bahan lawakan atau ejekan. Tujuan pendekatan ini untuk mengajak penonton menertawakan diri sendiri. Humor yang semacam mendamaikan diri sendiri ini (morbid humor) dianggap efektif untuk menerima kenyataan ketimbang dipendam dan dibiarkan hingga jadi bisul kronis.

Pendekatan kedua adalah pendekatan yang menceritakan keragaman itu sebagai bagian komentar—atau kritik sosial budaya. Pendekatan ini melihat bahwa keragaman itu merupakan sebuah hal kompleks yang harus dijalani oleh manusia Indonesia. Pendekatan kedua ini menceritakan orang-orang yang harus bersiasat dengan beragam identitas yang berkumpul dalam diri mereka.

Untuk pendekatan pertama, Eric memberi contoh film-film komedi Nya’ Abbas Akup, sedang contoh pendekatan kedua di antaranya dilakukan Sjumandjaja lewat, misalnya, Si Doel Anak Modern.

Salah satu ciri yang menonjol di sinema Indonesia pasca Soeharto adalah sifat individualistis. Para pembuat film pasca Soeharto tak terlalu memusingkan keragaman latar belakang etnis, kebudayaan atau agama. Yang dikejar melulu capaian individual si tokoh. Keadaan sekitar tak kelewat dipedulikan, dan film Indonesia sekarang lebih senang membuat cerita yang berpusat pada aspirasi (capaian psikologis dan material) orang per orang yang khas kelas menengah.

Maka, kita melihat kisah-kisah from zero to hero tentang orang miskin jadi orang sukses, orang saleh mencari jodoh, dan sebagainya.

***

Namun, tentu, selalu ada yang menyempal bergeser dari titik mainstream. Kondisi pasca Soeharto yang relatif bebas juga memungkinkan mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi wacana di layar lebar. Dari sini menyempal film yang membincangkan cinta beda agama.

Film tentang cinta beda agama di sinema Indonesia pasca Soeharto dimulai oleh Cin(T)a karya Sammaria Simanjuntak yang rilis tahun 2009. Judulnya memberi simbol yang kira-kira bisa diartikan—saya meminjamnya dari tulisan Ifan Adriansyah Ismail di majalah Madina—di antara sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta ada “T” yang menghalangi. “T” itu adalah perbedaan dalam menyebut Tuhan. (O ya, sebetulnya, setahun sebelumnya, 2008, rilis Ayat-Ayat Cinta [sutradara Hanung Bramantyo] yang di dalamnya ada kisah cinta beda agama antara Fahri [Fedi Nuril], penganut Islam, dengan Maria yang menganut Kristen Koptik. Tapi persolan cinta beda agama itu tak menjadi soal berarti karena Maria kemudian masuk Islam.)

Kembali ke Cin(T)a, film itu tampak samar-samar mengisahkan cinta beda agama dengan membalutnya sebagai film esai. Tokoh-tokohnya dipinjam sineasnya untuk mengutarakan gagasan ataupun pertanyaan seputar cinta, Tuhan, dan agama. “Kenapa Allah nyiaptain kita beda-beda. Kalau Allah ingin disembah dengan satu cara?” “Makanya Allah ciptain cinta. Biar yang beda-beda bisa nyatu.”

Film berikutnya, 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta (2010). Kita bertemu Rosid (Reza rahadian) telah menetapkan hatinya pada Delia (Laura Basuki). Rosid, Islam. Delia, Katolik. Film arahan Benni Setiawan yang kisahnya diambil dari dua novel (Da Peci Code dan Rosid Delia) ini mengambil jalan ke inti persoalan: seperti apa problema yang akan ditemukan bila dua sejoli beda agama memadu kasih?

Film ini tak mencoba memberi putusan bahwa hal itu dilarang (atau juga dibolehkan). Sebaliknya, film ini menyajikan serangkaian hal untuk direnungkan penonton usai menonton. Misalnya, ada dialog soal persoalan nikah beda agama akan meninggalkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Ditanya bagaimana sebaiknya, malah dijawab dengan tawa. Kemudian, ada dialog, dari sudut Islam, ada pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Tapi, dengan bijak, film ini tak menganjurkan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu, melainkan taati agama dengan baik dulu, baru pahami betul-betul sebelum akhirnya ikut pendapat yang mana. SPOILER ALERT pada akhirnya Rosid dan Delia tak melanjutkan hubungan cinta mereka.

Kemudian juga ada sedikit cerita cinta beda agama yang terselip di film ? (Tanda Tanya) rilis tahun 2011 karya Hanung Bramantyo. Yang sudah nonton pasti ingat sub plot tentang Ping Hen (Rio Dewanto) yang memendam cinta pada Menuk (Revalina S. Temat). Di ujung film, SPOILER ALERT lagi, setelah Menuk menjanda, Ping Hen masuk Islam dan mendapatkan cinta lamanya.

Nah, yang terakhir kisah cinta beda agama hadir lewat Cinta Tapi Beda. Saya belum nonton, jadi tak berhak mengulasnya. Namun, kawan yang menulis resensi filmnya di tabloid ini mengatakan di ulasannya, “… tidak mudah melaksanakan pernikahan beda agama. Sistem di Indonesia tidak memberi dukungan pada cinta yang didasari dua Mahacinta. Ini pesan Cinta Tapi Beda. Untuk kita renungkan.”

Yang jelas, filmnya rilis di penghujung 2012, ini artinya setiap tahun sejak 2009 lahir film yang mengangkat tema itu.

Kenyataan ini lebih menarik ditelisik. Kenapa sekarang saban tahun muncul film tentang cinta beda agama?

***

Sesungguhnya, cinta beda agama terbilang sebuah keniscayaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, terdiri atas beragam agama. Kita hidup berdampingan dengan orang beragama lain, tak mungkin rasanya jika sampai tidak terjadi kisah cinta berlatar agama berbeda. Anda mungkin pernah mengalaminya, atau pastilah kenal orang-orang yang mengalaminya.

Sesungguhnya pula, cinta beda agama bisa terjadi di belahan mana saja di dunia ini. Namun, rasanya, di Barat sana hal semacam ini tak menjadi masalah. Beda dengan di Indonesia. Nilai religiusitas dan kekeluargaan yang erat dianut masyarakat kita membuat persoalan cinta beda agama jadi pelik.

Di Barat sana yang individualis boleh saja orangtua membiarkan anaknya berkasih-kasihan dengan yang lain agama karena menganggap itu sebagai hak asasi. Tapi tak demikian halnya di Indonesia. Apalagi bila hubungan beda agama itu hendak berlanjut jadi serius ke pernikahan. Percintaan, apalagi pernikahan di masyarakat kita, bukan semata urusan dua pribadi yang jatuh cinta, tapi urusan dua keluarga.

Pertama niatan sineas melahirkan kisah ini karena sudah saatnya hal tabu itu diangkat ke permukaan, dibicarakan secara terbuka. Yang saya ingat, baik Cin(T)a dan 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta tak mendatangkan kontroversi lantaran mengangkat konfliknya dengan halus: Cin(T)a lewat penuturan bergaya esai, sedang 3 Hati lewat penyelesaian harmonis. ? (Tanda Tanya) mengundang kontroversi lebih kepada tema pluralisme religius yang diangkatnya.

Pun kontroversi terbaru ini, di Cinta Tapi Beda lebih berupa protes pada tokohnya yang digambarkan sebagai orang Minang.

Ini menandakan, meski di luar sana masih ada pro-kontra atas hubungan cinta beda agama, sebetulnya sebagian besar masyarakat relatif memberi kebebasan pada sineas untuk mengangkat tema ini.

Yang tidak setuju, misalnya, pada akhirnya memilih tidak menontonnya. Mereka lebih memilih kisah cinta sejati Habibe dengan Ainun atau semangat nasionalismenya dibakar di puncak Mahameru lewat 5 cm..

Pertanyaannya kemudian, apa kontroversi Cinta Tapi Beda ini akan menghentikan sineas membuat lagi film tentang cinta beda agama?

Saya kok ragu, ya. Sebab, hubungan cinta beda agama adalah bahan baku cemerlang untuk sebuah kisah dramatis khas Indonesia. Dalam hubungan cinta beda agama ada konflik yang menggigit penuh dilema. Di situ, cinta seakan dipertentangkan dengan agama. Ada pula tradisi dan nilai keluarga yang mungkin menentang.

Siapa yang untung? Oh, tentu produser film. Orang-orang yang penasaran jadi kepingin nonton. Apalagi sampai filmnya jadi kontroversi segala. Yuk, ke bioskop sebelum filmnya betulan berhenti tayang….

(ade/ade)

 

Berita Terkait:

Film Cinta Tapi Beda Digugat, Produser Siap MeladeniSejak Muncul Kontroversi, Penonton Cinta Tapi Beda Bertambah Lebih dari 80 RibuFilm Cahaya Kecil Siap DiproduksiKontroversi Film Cinta Tapi Beda, Hanung Bramantyo Meminta Maaf

Komentar   

Jambanizer

habibiainun

Berikan komentar

Article source: http://www.tribunnews.com/2012/12/11/peringatan-hari-anti-korupsi-di-makassar-berujung-bentrok


Film Tentang Cinta Beda Agama, Kenapa Terus Dibuat?

Thursday, May 16, 2013

Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Home Tsaqafah



Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak





 

Al-Kindi: “ilmuan Muslim tidak menerima bulat-bulat ilmu asing” (foto: ilustrasi)



 




Jum’at, 17 Mei 2013


Oleh: Edi Kurniawan


BARU-BARU ini sebuah kuliah Pluralisme Agama dalam bentuk seri mingguan diselenggarakan oleh sebuah organisasi yang menyematkan dirinya dengan ‘Jaringan Islam Liberal’ di kawasan Utan Kayu, Jakarta. Kuliah ini dihadiri oleh para mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, terutama yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sementara sang guru adalah aktifis organisasi tersebut yang selama ini banyak menyebarkan faham-faham yang ‘nyeleneh’ di tanah air.


Setiap peserta diwajibkan menulis sebuah artikel dengan tema Pluralisme Agama sebagai syarat kelulusan yang dipublikasikan melalui situs organisasi tersebut. Dalam sebuah artikel, dengan sangat lugu seorang peserta mengatakan, “Penulis meyakini, pintu menuju Tuhan itu tidak hanya satu, tetapi banyak, sebanyak pikiran manusia. Seperti kata Al-Quran: “Wahai anak-anaku, janganlah kalian masuk dari satu pintu yang sama, tapi masuklah dari pintu-pintu yang berbeda” (QS Yusuf: 67). … Hal ini menyimpulkan bahwa, sebenarnya agama itu hanya sebuah jalan menuju Tuhan. Meskipun jalan itu beragam, warna-warni, luas, plural, tetapi semuanya akan menuju ke arah vertikal yang sama: Tuhan Yang Maha Esa”.


Kutipan diatas hanyalah salah satu contoh dari beberapa tulisan yang sarat dengan dengan pemikiran sufastha’iyyah atau sophisme, yaitu faham yang menolak kebenaran absolut dan menganggap setiap pendapat sama benarnya karena semuanya bersifat relatif atau nisbi.


Keraguan yang berlebihan tanpa diiringi pemahaman dan ilmu yang memadai menjadikan si penulis hilang arah dan pupus imannya pada agama. Ia juga salah dalam menempatkan ayat tersebut (QS. Yusuf: 67). Sesungguhnya ini bukan ayat pluralisme agama, tetapi menceritakan perintah Nabi Yaʿkub as. kepada anak-anaknya agar memasuki kota Mesir melalui pintu yang berbeda, karena beliau khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya yang mempunyai paras yang indah dari gangguan orang-orang jahat sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ʿAbbas, Muhammad ibnu Kaʿab, Mujahid dan Qatadah yang dikutip oleh Ibn Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.


Salah tafsir semacam ini juga kita jumpai dalam argumentasi guru dari si murid mengenai ‘ayat pluralisme’ yakni al-Baqarah ayat 62 dan al-Ma’idah ayat 69. Konon katanya keselamatan di akhirat kelak bukanlah milik umat Islam semata, Yahudi, Nashrani dan Sabi’in juga berhak mendapatkan keselamatan asalkan beriman dan beramal salih, kata mereka.


Sebenarnya jika kita lihat dengan jernih konteks siyaq, sibaq dan lihaq dari ayat ini dan tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an serta penjelasan para mufassir, pendapat ini jelas keliru.


Ada juga praktek ‘menggunting’ teks oleh si guru untuk membenarkan yang batil. Misalnya ketika dikatakan ahlul kitab tidak terbatas hanya pada Yahudi dan Nashrani, melainkan Buddha, Hindu, Konghucu dan Shinto pun termasuk ahlul kitab. Mereka  mengutip pendapat Rasyid Ridha, tapi mengabaikan peringatan beliau akan seriusnya bahaya pernikahan antara laki-laki Muslim dengan perempuan ahlul kitab. (Lihat, Tafsir al-Manar (1948), IV: 193)


Dalam pembahasan ilmu kalam, sufastha’iyyah atau faham sophisme ini menjadi perbincangan tersendiri, bahkan Imām al-Nasafī memasukkannya kedalam pembahasan akidah: ḥaqaiq al-asy-ya’ tsabitah wa al-ʿilm biha mutahaqqiq, khilafan li al-sufastha’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap, tidak berubah (yang berubah itu hanyalah sifatnya saja). Pengetahuan tentangnya benar adanya yang bersalahan dengan golongan sufastha’iyyah. (Saʿd al-Din al-Taftazani, Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah (2000), hlm 20-21)


Al-Baghdadi adalah orang yang pertama membagikan sufastha’iyyah kedalam tiga bentuk yang kemudian diikuti oleh Imam al-Nasafi. Mereka adalah: pertama al-ʿindiyyah atau relativisme. Kelompok ini meyakini bahwa tidak ada yang objektif dalam ilmu dan kebenaran.


Semuanya bersifat subjektif. Ringkasnya, kelompok ini meyakini bahwa kebenaran itu tergantung kepada orang yang mengatakannya.


Kedua, al-ʿinadiyyah atau skeptisisme yang bermakna the obstinate alias keras kepala. kelompok ini merasa ‘masa bodoh’ dengan kebenaran walaupun kebenaran itu sudah jelas. Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tahu.


Ketiga al-la adriyyah atau agnotisisme. Kelompok ini selalu ragu dalam melihat kebenaran karena tidak tahu hakikat kebenaran itu sendiri. ‘I do not know’, begitulah tepatnya.


Ringkasnya, kelompok ini mengatakan bahwa kebenaran itu tidak dapat dicapai oleh manusia. (Syarh ʿAqa’id al-Nasafiyyah, hlm 21-22. Lihat pula Syed Muhammad Naquib al-Attas, the Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of The ʿAqā’id al-Nasafī (1988), hlm. 48)


Kelompok ini berawal dari sebuah gerakan filsafat pada zaman Yunani kuno oleh saintis gadungan alias ‘sophist’ (Greek: sophistāi) yang dipimpin oleh Protagoras (480-410 SM), Georgias (483-375 SM), Hippias dan Prodicus. Mereka ini kelompok yang menyesatkan dengan menyebarkan faham etika dan epistomologi relativisme.


Menganggap eksistensi itu tidaklah penting dan tidak akan pernah diketahui. Agama menurut mereka hanyalah sebuah penipuan belaka, sehingga sembahyang itu tidak ada gunanya serta validitas hukum itu hanya cocok untuk waktu dan tempat tertentu saja. Kemudian juga mereka memasukkan benih-benih keraguan dalam ilmu dan  kemungkinan untuk mendapatkannya serta memprakarsai faham skeptisisme. (The Oldest Known … hlm. 47-48).


Ciri-ciri dari faham ini yang telah digariskan oleh ulama kita tampak pada kelompok ‘neo-sophist’ atau mereka yang se‘nasab’ dengan mereka. Dalam bidang tafsir, tidak ada tafsir yang benar, semuanya relatif (ʿindiyyah), katanya.


Tapi aneh, mereka pun sering mengutip pendapat para mufassir yang otoritatif, tentu yang sesuai dengan selera mereka. Dalam bidang syariʿah, tidak ada lagi teks yang bersifat qathʿi (pasti) dan thawabit (tetap), semuanya dibolehkan untuk berijtihad.


“… Dengan mengecualikan ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual murni seperti shalat, puasa, dan haji, ketentuan soal makanan dan minuman (math’umat dan masybuhat), seluruh ‘ayatul ahkam’ atau ayat-ayat hukum yang keseluruhannya turun di Madinah itu harus dianggap sebagai ayat yang berlaku temporer, kontektual, dan terbatas pada pengalaman sosial bangsa Arab abad ke-7 M. Ayat-ayat itu mencakup ketentuan tentang kewarisan, pernikahan, kedudukan perempuan, jilbab, qishas, jilid, potong tangan…”, begitulah katanya. (Abd. Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al-Qur’an (2009), hlm. 136).


Bahkan yang lebih ‘nyeleneh’ lagi, homoseksual pun dihalalkan oleh salah seorang dari mereka. Mereka terjebak dalam keraguan yang tiada ujungnya.


Sikap Ilmuwan Muslim


Framework semacam ini digunakan dalam falsafah ilmu Barat modern dan diterima dengan ‘manut’ oleh mereka. Maka yang perlu kita tekankan disini adalah bahwa ilmu itu tidaklah netral atau bebas nilai, akan tetapi sarat nilai. Ilmu yang lahir dari rahim Barat, tidak dinafikan nilai-nilai Barat pun terselip di situ. Menolaknya secara mentah-mentah adalah bodoh.


Sementara bersikap taken for granted saja, itu ceroboh. Akan tetapi pilihlah mana yang sesuai budaya dan kebenaran agama kita. Hal inilah yang dilakukan oleh para ilmuan kita pada masa lalu ketika ilmu-ilmu dan filsafat Yunani, Persia dan India digalakkan untuk dikaji. Mereka tidak langsung menerima melainkan melalui proses penyaringan terlebih dahulu seperti yang dikatakan oleh al-Kindi bahwa mereka [ilmuan Muslim] tidak menerima bulat-bulat ilmu asing, tetapi ilmu itu mestilah melalui proses penyaringan yang berasaskan adat dan agama Islam. (Al-Kindi, Al-Kindi’s Metaphysics, (1974), hlm. 58). Wallahu aʿlam bi al-shawab.*


Penulis adalah mahasiswa master di Centre for Anvanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) – Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur dan Alumni IAIN STS Jambi


Red: Cholis Akbar


Article source: http://travel.detik.com/read/2013/01/03/095342/2131901/1308/inilah-5-masjid-bersejarah-di-singapura


Awas! Generasi Neo-Sophist Makin Marak

Saturday, April 6, 2013

Ulama Kumpul di Bogor Bahas Eyang Subur

BOGOR, (PRLM).- Sejumlah ulama dan organisasi Islam se-Jabodetabek berkumpul di Kota Bogor terkait merebaknya pemberitaan soal Eyang Subur. Mereka mendesak agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat segera mengeluarkan fatwa terkait hal ini. Sebab, para ulama menilai isu yang berkembang sudah semakin meresahkan masyarakat.


Ketua Keluarga Muslim Bogor (KMB) Fahrudin Sukarno yang hadir dalam pertemuan, Sabtu (6/4/13) mengatakan masyarakat Bogor sudah mulai resah dan bertanya-tanya tentang kejelasan Eyang Subur.


“Kalau melihat perkembangannya, ada semacam praktik penyimpangan yang dilakukannya. Itu masuk kemusyrikan dan tidak dibenarkan dalam Islam,” ujar Fahrudin.


Untuk itu, pihaknya meminta agar MUI segera melakukan kajian dan memutuskan ajaran/praktik yang dibawa oleh Eyang Subur masuk dalam kategori yang mana. Pertemuan para ulama di Kota Bogor ini, lanjut Fahrudin merupakan salah satu bentuk reaksi para ulama atas kasus tersebut. Reaksi ini muncul setelah ada keresahan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.


Sementara itu, perwakilan dari FUI, Iyus Hairinas juga mengatakan perlu ada kajian khusus soal Eyang Subur agar bisa dibuat rekomendasi untuk memosisikan yang bersangkutan sebagai apa. “Kita dorong MUI pusat untuk segera melakukan kajian dan memberi rekomendasi karena diduga apa yang dilakukannya mengarah ke perdukunan/musyrik. Kalau terbukti bersalah, aparat penegak hukum harus segera menangkap dan memprosesnya secara hukum,” ujarnya.


Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat berhati-hati dengan praktik-praktik penyembuhan atau pengobatan atau spiritual. Dia mengaku prihatin karena belakangan, praktik-praktik perdukunan marak dan bersembunyi di balik kedok pengobatan, penyembuhan atau spiritual. (A-155/A-88)***


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/perkim-penang-islam-council-get-leave-to-fight-conversion-challenge


Ulama Kumpul di Bogor Bahas Eyang Subur

Sunday, July 28, 2013

Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?










Tanya:

Assalamu’alaikum Wr Wb


Saya membaca Alquran dan artinya, kemudian menemukan ayat yang artinya sebagai berikut, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah: 62).


Apakah benar umat yang menganut agama selain Islam juga mendapat pahala dan syurga? Sedangkan yang saya tahu agama yang Allah ridhai adalah agama Islam. Mohon penjelasannya agar kami yakin. Terimakasih
Wassalamu ‘alaikum Wr Wb


(adick_syaf@yahoo.com)



Jawab:


Persyaratan beriman kepada Allah dan hari Kemudian, seperti bunyi ayat di atas, bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka, tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh Alquran dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Memang akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu persatu. Rasul saw dalam percakapan sehari-hari, sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan hari Kemudian.


Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar-umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diliputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadah yang diajarkannya.


Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah memang harus diakui. Tetapi, hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar-pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di hari Kemudian kelak agama siapa yang direstui-nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih.




( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://regional.kompas.com/read/xml/2013/06/12/18252539/Penyerangan.ke.Diskusi.Lintas.Agama.Tuai.Kecaman


Non Muslim Beramal Baik, Akankah Masuk Syurga?

Friday, August 2, 2013

Komersialisasi Alquran Tanpa Pemaknaan

Napoleon Bonaparte dalam buku Bonaparte et I’Islam karya Cherlifs menyatakan, “…the Qur’an wich alone can lead men to happiness” (…hanyalah Quran itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan). Kalimat itu semacam endorfin karena diucapkan oleh seorang jenderal, panglima perang, sekaligus kaisar penguasa Prancis.


Nama Napoleon terdapat dalam urutan ke-34 dari seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia yang ditulis Michael H. Hart (1978). Sebagai muslim tentu kita tidak meragukan lagi bahwa Alquran adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW dan memiliki banyak keistimewaan. Bahkan pada Ramadan ini dikenal dengan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) yang selanjutnya diperingati sebagai Nuzulul Quran.


Penjualan buku Islam termasuk Alquran meningkat di bulan ini. Konsumen rela menyisihkan anggaran khusus untuk membeli Alquran. Penerbit dengan gencar mempromosikan berbagai jenis  mushab atau buku Alquran lewat berbagai media. Motif seseorang berinteraksi dengan Alquran tentu berbeda-beda, bergantung keistimewaan yang ingin didapatnya.


Ada yang bermotivasi agar dijauhkan dari setan, rumahnya bercahaya, dilimpahi kebaikan, menjadi syafaat, menghantarkan si empunya ke surga, memperoleh kebahagiaan, satu huruf sepuluh kebaikan, menjadi sebaik-baik manusia, meninggikan derajat, dan masih banyak lagi. Aneka keistimewaan itulah yang akhirnya menjadi pemicu berbagai kalangan berhasrat meraihnya.


Salah satu pihak yang tidak bisa lepas yaitu penerbit dan percetakaan Alquran. Mereka mencetak/menerbitkan Alquran untuk memenuhi kebutuhan pasar di mana konsumen selalu mengingingkan produk yang berkualitas. Misi ini mengandung harapan agar seluruh kaum muslim di Indonesia dari berbagai kalangan bisa membaca dan mangamalkan Alquran.


Namun, fakta sebagaimana diungkap Republika (25/1) ternyata mencengangkan. Hanya tiga 30% siswa muslim di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang bisa membaca Alquran. Sisanya (70%) masih tergolong buta aksara Alquran. Untuk menjangkau semua kalangan maka dibuatlah Alquran dengan berbagai variasi harga, bahasa, dan fitur.


Variasi ini dibuat karena setiap orang memiliki motif yang berbeda saat membelinya. Dari segi harga ada yang dibanderol puluhan ribu rupiah, ratusan ribu rupiah, sampai jutaan rupiah. Dari segi bahasa juga diterjemhakan ke dalam bahasa Jawa, Indonesia, Arab, Inggris. Dari segi fitur juga bermacam-macam, mulai dari yang dilengkapi tajwid, aneka warna, suara, sampai video. Bahkan muncul Alquran unik, Alquran khusus bagi perempuan.


Kita beranggapan semua itu dilakukan agar setiap Alquran yang dicetak bisa dikenal dan dinikmati semua kalangan di seluruh pelosok negeri ini. Untuk mencapai tujuan itu, akhirnya dibuatlah iklan di media-media massa dengan testimoni menarik dari para artis dan ustaz ternama.


Alquran menjadi barang komersial yang harus diiklankan satu halaman penuh di sebuah koran nasional dengan harga yang fantastis. Alquran mulai menjadi komoditas. Sementara, jika membeli Alquran adalah bagian dari sebuah pemaknaan ibadah, harus merujuk pada makna awalnya.


Ibadah dalam arti luas merupakan ketundukan jiwa yang timbul karena hati (jiwa) merasakan cinta akan Tuhan yang ma’bud (disembah) dan merasakan kebesaran-Nya, disebabkan adanya keyakinan bahwa bagi alam semesta ini ada kekuasaan yang akal tidak dapat mengetahui hakikatnya (Din Al-Islam, Ajat Sudrajat: 1995).


Berwajah Puisi


Saat pihak penerbit/percetakan mendistribusikan Alquran dan konsumen telah memutuskan untuk membelinya maka motif utama yang harus dijaga adalah ketundukan jiwa yang timbul karena hati (jiwa) merasakan cinta akan Tuhan. Motif utama seharusnya bukan nalar konsumtif, komersial, dan motif duniawi lainnya. Inilah yang disebut Dr. Muhammad Iqbal (1877-1938) dengan istilah “konasi” di mana tujuan melahirkan perbuatan. Suatu perbuatan adalah bersifat duniawi atau sekuler apabila ia dilakukan terlepas sama sekali dari jiwa kompleksitas.


Kita perlu menengok sejenak ke era 1980-an, tepatnya pada 1982. Saat itu kritukus sastra Hans Bague Jassin (HB. Jassin) menerbitkan Alquran berwajah puisi yang bernama Al-Qur’an Bacaan Mulia. Alquran yang sempat menjadi kontroversi berbagai kalangan termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Departemen Agama di tahun-tahun setelahnya. H.B. Jassin seakan menjadi penerus sahabatnya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) atau lebih dikenal dengan julukan Buya Hamka (1908-1981) yang menulis Tafsir Al-Azhar.


Dalam buku Kontroversi Al-Qur’an Berwajah Puisi (1995) H.B. Jassin mengungkapkan keprihatinan dalam kata pengantarnya. Ia menuliskan mengapa Alquran yang beredar baik di Indonesia maupun di luar negeri tidak ditulis dalam bahasa puisi? Mengapa Alquran yang begitu indah bahasa dan kandungannya tidak ditulis pula secara indah perwajahannya?


Apa yang dikatakan H.B. Jassin seakan mengingatkan kembali kepada manusia abad ini yang bersemangat memenangkan perlombaan mencetak dan menerbitkan Alquran dengan mutu terbaik. Namun, masih belum menyentuh esensi Alquran yang begitu indah bahasa dan kandungannya.


Kita berdoa pihak-pihak yang terlibat di dalamnya menyelami kembali pemikiran H.B. Jassin tentang konsep memunculkan keindahan Alquran. Perbanyakan Alquran jangan hanya masuk dalam ranah duniawi/sekuler untuk memenuhi nalar konsumtif dan kapitalis. Dengan demikian hadirnya Alquran benar-benar mampu menjadi petunjuk dan penerang jiwa bagi siapa pun yang membacanya.


 


 


 


 


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1941716/athena-satu-satunya-ibu-kota-tak-punya-masjid


Komersialisasi Alquran Tanpa Pemaknaan

Saturday, December 21, 2013

Kian sukses jadi musisi setelah masuk Islam

Berita Terkait



  • Rayakan kesuksesan album, Beyonce bagikan kue ini!

    Rayakan kesuksesan album, Beyonce bagikan kue ini!


  • Tampil bugil di cover album, ini komentar Sky Ferreira!


  • Beyonce rayakan kesuksesan album dengan pesta!

Merdeka.com – Dia tidak suka hubungan seks bebas, obat-obatan terlarang, dan kehidupan ala rock n’ roll. Tapi dia justru dianugerahi penghargaan sebagai salah satu musisi terbaik oleh The Rock n’ Roll Hall of Fame.


“Meski perlu waktu, saya selalu orang yang optimis,” kata pria berusia 65 tahun lahir dengan nama Steven Demetre Georgiou. Dia biasa dikenal dengan nama Cat Stevens. Setelah memeluk Islam pada Desember 1977 dia mengganti namanya menjadi Yusuf Islam.


“Ketika saya masuk Islam,” kata musisi kelahiran Inggris ini kepada majalah musik terkenal Rolling Stone, “banyak orang tidak mau mengerti,” kata dia seperti dilansir surat kabar the Los Angeles Times, Kamis (19/12).


Bagi para penggemarnya, kata dia, masuk Islam menjadi alasan kenapa dia meninggalkan bisnis di bidang musik.


Awal pekan ini The Rock and Roll Hall of Fame mengumumkan grup band Nirvana, Peter Gabriel, Hall and Oates, Linda Ronstadt, dan Cat Stevens alias Yusuf Islam, bakal masuk dalam jajaran bergengsi di dunia musik itu. Upacara perayaan gelar itu akan dilakukan pada April tahun depan di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Hanya artis penyanyi, komposer, dan musisi diakui mumpuni yang bisa masuk dalam Hall of Fame.


Yusuf dikenal sebagai musisi sukses peraih multi-platinum di Amerika Serikat.


Banyak karya-karya dia menonjolkan pesan buruknya godaan dunia materi dan mengajak pendengar lebih mencari sesuatu yang lebih abadi ketimbang kenikmatan sesaat.


“Saya telah menemukan rumah spiritual yang saya cari seumur hidup,” kata Yusuf.


Pada lagu dan lirik “Peace Train” dan “On The Road To Find Out”, kata dia, sangat jelas terlihat proses pencarian jati dirinya dan perjalanan spiritualnya selama ini.


“Saya telah sampai pada pemikiran, jika Anda menanti dengan sabar hingga ke titik akhir, maka orang baik akan bahagia selama sisa hidupnya. Jadi penghargaan ini semacam pencapaian dari ide itu.”












Article source: http://www.sinarharian.com.my/minat-islam-sejak-usia-8-tahun-1.232715


Kian sukses jadi musisi setelah masuk Islam

Friday, October 11, 2013

Palestina Sikapi Penggalian Terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha

Metrotvnews.com, Ramallah: Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) akan meminta UNESCO mengirim satu misi untuk menyelidiki perbuatan Israel baru-baru ini di Jerusalem Timur, terutama terhadap Masjid

Al-Aqsha.



“UNESCO mesti turun-tangan dan menyelidiki tindakan ini, terutama

penggalian terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha,” kata Menteri Urusan Luar Negeri PNA Reyad Al-Malki dalam satu wawancara radio seperti dilansir Antara, Kamis (10/10).



PNA juga mengutuk keputusan resmi Israel untuk membangun sebanyak 58 unit rumah di bagian timur Jerusalem. PNA menyatakan kegiatan semacam itu sepenuhnya tidak sah.



Permukiman itu, kata Al-Malki, adalah penghalang utama yang merintangi dicapainya kesepakatan perdamaian melalui pembicaraan.



Di sisi lain, satu kelompok Palestina yang menamakan diri Perhimpunan

Al-Aqsha bagi Warisan dan Harta Islam memperingatkan rencana Israel untuk menggali terowongan di bawah kompleks Masjid Al-Aqsha.



Kelompok tersebut menyatakan penggalian itu bertujuan untuk membuat

elevatof vertikal, pintu masuk dan koridor horizontal di bawah tanah yang menuju daerah Tembok Ratapan Yahudi. Pernyataan itu juga mengatakan rencana tersebut akan menelan biaya 10 juta dolar AS untuk mendorong pariwisata Israel di Kota Tua Jerusalem. (Ant)



Editor: Irvan Sihombing



Share:






 


cbn



Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/08/14/33/849567/mualaf-sam-brodie-dibimbing-maia-estianty


Palestina Sikapi Penggalian Terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha

Sunday, May 19, 2013

Bangun Masjid Megah di Tengah Kremlin Putih

TRIBUNNEWS.COM, TATARSTAN – KETIKA mendengar nama Kremlin, biasanya terbayang sebuah benteng kuno yang kini menjadi pusat pemerintahan Republik Federasi Rusia di jantung Kota Moskow. Namun sebenarnya nama Kremlin tidak hanya ada di Moskow.


Ada Kremlin lain yang belum banyak dikenal yaitu di Kota Kazan, ibukota Republik Tatarstan, sekitar 800 km sebelah barat Kota Moskow. “Kami menyebutnya sebagai Kremlin Putih.


Sedangkan di Kota Moskow itu sering disebut Kremlin Merah,” ujar Achkinazi Ekaterina atau akrab dipanggil Katya, seorang alumnus Fakultas Bahasa Inggris Universitas Kazan, kepada Tribunnews.


Tribunnews berkesempatan mengunjungi Kazan atas undangan pemerintah Republik Tatarstan, pada 8-11 Mei 20013. Republik Tatarstan merupakan bagian dari Republik Federasi Rusia, namun mempunyai pemerintahan independen.


Negara itu dipimpin Presiden Rustam Minnikanov dan  Perdana Menteri Halikov Iidar. Sedangkan parlemen Tatarstan diketuai Farid Mukhamestsin. Dilihat dari namanya, para pemimpin itu berasal dari etnis Tatar yang mayoritas pemeluk agama Islam.


Rumah dinas Presiden Rustam Minnikanov berada di Kremlin Putih alias Kremlin Kazan, begitu pula sejumlah kantor kementerian berada di kompleks seluas 13 hektare  yang dikelilingi tembok sepanjang 1,8 km tersebut. Keunikan kompleks Kremlin Putih yaitu adanya sebuah masjid yang sangat megah, bernama Masjid Kul Sharif.  


“Masjid ini bukan sekadar tempat bersejarah tetapi juga tempat ibadah warga Tatar yang beragama Islam,” ujar Diana, warga Kota Kazan beragama Islam saat ditemui di Masjid Kul Sharif.


Masjid itu diberi nama Kul Sharif untuk menghormati imam masjid dan pemimpin agama Islam di Kesultanan Volga Bolgaria. Kerajaan Islam itu berada sekitar 180 km sebelah selatan Kota Kazan. “Dari wilayah Volga Bolgaria itulah agama Islam berkembang ke wilayah yang sekarang disebut Republik Tatarstan,” kata Katya.


Masjid Kul Sharif dibangun 1996-2005, didisain artistek bernama S Latypova, I Saifulllina, M Safronova, dan A Sattarofa. Masjid dilengkapi delapan menara, menempati areal seluas 1,9 hektare. Empat menara utama tingginya 57 meter, sedangkan dua menara lebih lebih kecil dan dua menara lainnya berada di atas pintu masuk.


Bangunan masjid bertingkat lima, terdapat kubah utama setinggi 39 meter dan diameter 17,5 meter. “Setiap Jumat, banyak warga muslim Kota Kazan salat Jumat di masjid ini,” ujar Diana.


Donasi umat
Pernak-pernik Masjid Kul Sharif membuat pengujung berdecak kagum. Mamer yang dipakai di dalam maupun luar masjid berasal dari Chelyabinsk, sebuah kawasan penghasil marmer di Tatarstan.


Dekorasi masjid punya sentuhan unik. Ada sejumlah kaligrafi, ukiran ayat-ayat suci Alquran di gipsum, kayu, dan batu. Bagian depan masjid gedung terbuat dari granit dan marmer. Lantai untuk jamaah ditutupi karpet dari Persia.


Pembangunan masjid didanai pemerintah Federal Rusia, dan  donasi sejumlah organisasi Islam serta umat Islam dari penjuru Tatarstan.  Nama-nama penyumbang dana pembangunan ditulis di serambi masjid.
 
Sheik Kul Sharif merupakan seorang negarawan, diplomat andal, dan seorang pujangga. Ketika Kazan Khan Yadigar menjazdi Sultan Volga Bolgaria , Kul Sharif bergabung menjadi pejabat kesultanan dan mengurus pemerintahan harian.


Setelah kematian ayahnya 1546,  Kul Sharif diangkat menjadi pemimpin agama di kesultanan itu. Ia pernah menjadi menjadi panglima perang yang hebat dan meninggal saat mempertahankan Kota Volga Bolgaria pada 1552.


Republik Tatarstan terbagi menjadi 43 wilayah administratif, semacam kota dan kabupaten di Indonesia. Kazan, ibukota Tatarstan berada di tepian sungai Volga, sebuah sungai terpanjang di Eropa.


Seperti Indonesia, Republik Tatarstan merupakan negeri tempat hidup berbagai pemeluk agama. Agama yang paling banyak dianut warga Tatarstan yaitu Islam dan Kristen Otodoks. Dalam jumlah lebih sedikit ada juga pemeluk agama Katholik, Kristen Protestan, agama Yahudi, dan Krisnaism.


“Seperti juga di Indonesia, warga Tatarstan sangat menjaga tolerensi beragama. Kami dapat hidup rukun. Anda bisa lihat sendiri, bukan sesuatu yang aneh di sini kalau letak masjid dan gereja saling berdekatan,” ujar Sergey Ivanov, Deputi Menteri Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Republik Tatarstan.  


Sergey Ivanov memang tidak sedang membual. Menjelajah Kota Kazan, gereja Kristen Ortodoks dan masjid, tampak bertebaran. Di kompleks Kremlin Putih, bahkan Masjid Kul Sharif bertetangga dengan Kathedral Blagoveshchensky. (febby mahendra)


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Bangun Masjid Megah di Tengah Kremlin Putih

Monday, October 7, 2013

Siapakah Orang Kaya Itu?

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini


Kekayaan merupakan tema yang menarik diperbincangkan. Sedikit sekali penghuni dunia ini yang tidak ingin kaya dalam hidupnya. Hidup kaya bisa dikatakan impian setiap orang.


Kesuksesan orang baru diakui kalau dia sudah menjadi orang kaya. Keberhasilan pendidikan juga sering dilihat dari sejauh mana hasil pendidikan itu dapat mengantarkan peserta didiknya menjadi orang kaya.


Lawan dari kaya adalah miskin. Orang disebut kaya karena memiliki banyak harta. Yang minim harta, itu miskin namanya. Dengan begitu, kekayaan selalu identik dengan segala hal yang berbau materi atau benda. Memiliki rumah megah, uang banyak, mobil berderet, pakaian necis, dan tanah luas adalah di antara simbol orang kaya. Orang miskin berarti kebalikan dari semua itu.


Tidak usah kita berdebat tentang definisi yang sudah sekian lama diamini secara luas itu. Sekiranya definisi itu dianggap benar, kebenarannya tentu tidak mutlak. Definisi demikian dimensinya serba fisik. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menerimanya. Saya teringat penuturan Rasulullah ketika mendefinisikan siapa gerangan orang kaya itu. Menurut Rasulullah, seperti dikutip Bukhari dan Muslim, “Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.”


Mencermati makna hadis di atas, kita segera mendapatkan pemahaman bahwa Rasulullah ternyata memiliki definisi berbeda dengan kebanyakan kita tentang siapa orang kaya. Barangkali hadis itu akan lebih mudah dipahami ketika kita mengaitkannya dengan daftar orang terkaya di dunia tahun 2013, sebagaimana dirilis majalah Forbes.


Keluarga Budi Hartono, pemilik BCA dan Djarum, memiliki harta 8,5 miliar dolar AS. Michael Hartono memiliki harta 8,2 miliar dolar AS. Dua orang ini jelas lebih kaya tinimbang kita. Menurut Forbes, mereka menduduki peringkat pertama dan kedua daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, ternyata mereka tidak ada apa-apanya jika dibanding Carlos Slim Helu dan Bill Gates. Harta Carlos Slim Helu, CEO Telefonos de Mexico dan America Movil, mencapai 73 triliun dolar AS, sementara Bill Gates, yang mantan CEO Microsoft, memiliki harta 67 miliar dolar AS.


Banyaknya harta tidak pernah akan ada puncaknya. Di atas orang kaya, selalu ada orang yang lebih kaya. Di sini berlaku rumus relativitas. Fulan yang tergolong orang kaya di sini, belum tentu kaya di sana. Fulanah yang termasuk miskin di suatu tempat, justru dia orang paling kaya di tempat lain. Demikian pula seterusnya. Tegasnya, tidak ada orang yang paling kaya, sebagaimana juga tidak ditemukan orang yang paling miskin.


Penting pula dicatat, definisi kaya atau miskin semacam itu sesungguhnya muncul dari orang luar. Pelakunya sendiri kerap tidak merasakan apakah dia kaya atau miskin. Karena, kebanyakan orang masih saja merasa kurang. Meskipun orang bilang kita ini sudah kaya, tetapi senyatanya kita juga tidak merasa kelebihan harta. Selalu saja kita merasa miskin dan kurang.


Apalagi jika definisi kaya atau miskin itu dikaitkan dengan unsur diri yang bernama keinginan dan kebutuhan. Misalnya, petani desa yang saban hari mengantongi uang lima juta, dia boleh dibilang kaya. Berbeda halnya dengan seorang artis. Uang sejumlah itu tentu tidak dapat mendefinisikan dirinya sebagai orang kaya. Ini soal keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup petani desa umumnya tidak menelan uang jutaan dalam sehari. Sementara, tuntutan profesi artis mengharuskan pelakunya untuk selalu tampil mewah dan mahal, sebagaimana rekan sesama artis.


Benarlah, Islam tidak menisbahkan definisi kaya atau miskin dengan kepemilikan benda. Definisi serba fisik itu sangat memusingkan. Karena itu, Rasulullah menegaskan, kekayaan sejati itu ada di dada. Menjadi kaya atau miskin itu murni soal mental. Inilah definisi berdimensi batin. Analoginya sederhana. Orang yang lapang dada selalu merasa kaya, meskipun minim harta. Sebaliknya, orang yang bermental miskin selalu merasa kurang, meskipun menggenggam emas segudang. Pikirannya mengawang di langit harapan, berusaha menjangkau segala yang belum digenggam tangan. Hidup berselimut harta tetapi tampil bagai pecundang.


Alangkah bahagia kehidupan orang yang hati, jiwa, dan pikirannya selalu merasa kaya. Mensyukuri nikmat yang ada tanpa terus mengangankan segala yang dipunyai orang. Harta sekadarnya selalu digunakan untuk memacu amal baik dan ibadah. Batinnya tenang, karena tidak diperbudak dunia, tetapi justru merajai dunia. Rasulullah memuji pribadi demikian. “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).


Berbagai penyimpangan menyeruak di segala tempat adalah bukti ketidakmampuan orang untuk merajai dunia. Juga kebejatan moral yang berkecambah dan memperburuk sendi-sendi kehidupan. Mereka itulah orang miskin dalam makna sesungguhnya. Fisiknya mapan tetapi batinnya gersang, karena tidak pernah merasa kenyang oleh kuantitas harta. Kembali renungkan penegasan Rasulullah berikut.


“Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling mendatangi rumah ke rumah lalu ditolak ketika meminta sebiji atau dua biji kurma, atau ketika meminta sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah memiliki kekayaan untuk mencukupi keperluannya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Sungguh beruntung siapa saja yang dikaruniai Allah kelapangan harta sekaligus batin yang selalu menerima, gemar bersedekah, sehingga hidup selalu diliputi berkah dan jauh dari bencana.


Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’.  Email: hus_surya06@yahoo.co.id


Article source: http://www.sinarharian.com.my/hayati-dan-hormati-toleransi-islam-1.192405


Siapakah Orang Kaya Itu?

Friday, June 28, 2013

KPK tak Sadar Dimainkan Kekuatan Besar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengamat Hukum dari Universitas Indonesia Chudry Sitompul mengatakan, dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq KPK tidak sadar dimainkan kekuatan besar. KPK pun memfestivalisasi kasus ini menjadi sebuah pergunjingan besar. “Kekuatan besar itu ingin agar partai Islam tidak kuat,” katanya di Jakarta, Kamis (27/6).


KPK, ujar Chudry, asyik sendiri dalam menangani kasus LHI. Tapi, mereka tidak melihat ada kekuatan besar yang mencoba masuk melalui kasus LHI untuk menghancurkan kekuatan PKS. Saat ini, kekuatan politik Islam sudah tidak ada gaungnya. PKB, PPP sudah tidak bisa diharapkan untuk menyuarakan kepentingan Islam.


PKS yang masih ada, kata Chudry, juga turut dihancurkan melalui kasus LHI. Walaupun tidak bisa dimungkiri, memang terdapat kesalahan yang dilakukan personel PKS sendiri. Dengan adanya festivalisasi kasus LHI, implikasinya luas. Orang jadi tidak percaya dengan ustaz, sebab mereka korupsi dan kawin lagi.


Sebenarnya, ujar Chudry, implikasi ini tidak hanya dirasakan LHI sendiri. Bagaimana dengan nasib ustaz-ustaz yang lain yang tidak pernah melakukan hal semacam itu. “Bahayanya, kalau orang tidak mau mengaji lagi. Sebab, ustaznya juga bukan orang baik. Itu yang ngeri,” kata Chudry.


Seharusnya, KPK lebih bijak dengan memfokuskan pada kasus korupsi LHI saja. Tidak usah mengumbar dia menikah lagi, sebab itu masalah pribadi. Contoh festivalisasi itu, lanjut Chudry, bisa dilihat dari sikap KPK yang memublikasikan hal-hal di luar kasus Luthfi Hasan Ishaaq. Dalam kasus LHI, berbagai masalah pribadinya dikemukakan kepada publik. Ini berbeda dengan kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh terdakwa lain sebelumnya.


Dalam kasus korupsi Angelina Sondakh, KPK tidak membeberkan urusan pribadinya. Ia dekat dengan siapa, tidak dimunculkan ke publik. “Berbeda dengan kasus LHI yang dimunculkan berbagai wanita cantik. Apa maksud ini semua,” kata Chudry.


Menurut Chudry, KPK tidak perlu memublikasikan LHI yang menikah lagi. Ini merupakan hak privasinya. “Dengan publikasi ini, sama saja hak-hak privasi dilanggar,” katanya.


Terdakwa menikah lagi, ujar Chudry, sebenarnya tidak ada hubungan dengan kasusnya. Ini bisa disebut pencemaran nama baik. “Hal ini patut dipikirkan supaya jaksa penuntut umum (JPU) harus hati-hati dalam membicarakan suatu masalah. Jangan mentang-mentang berkuasa bisa melakukan apa saja,” kata Chudry.


Terpisah, Ketua Komite Pemantau Komisi Pemberantsan Korupsi (KP-KPK) Taufik Riyadi mengatakan, kasus LHI telah menarik perhatian banyak pihak. Hal itu menarik karena dalam kasus LHI masyarakat disuguhi dengan banyaknya perempuan cantik di sekeliling Fathanah.


KPK, terang Taufik, pertama kalinya mendakwa seorang terdakwa dengan berubah-ubah. Diawali dengan dakwaan LHI tertangkap tangan melakukan tindak pidana korupsi, meski tidak ada hasil korupsi dari Fathanah yang beralih ke LHI.


Bahkan KPK sendiri juga sempat mengembalikan sejumlah mobil yang disita oleh penyidik KPK. “Terakhir, dakwaan LHI juga melebar ke kasus Yudi Setiawan yang sebelumnya tidak pernah dipaparkan KPK ke publik,” kata Taufik. n dyah ratna meta novia ed: muhammad hafil


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/28/telat-makan-penyebab-raja-isa-pingsan


KPK tak Sadar Dimainkan Kekuatan Besar

Monday, June 24, 2013

Raja Arab Ubah Hari Libur Jadi Jumat-Sabtu

Metrotvnews.com, Arab Saudi: Raja Arab Saudi Abdul Aziz Al Saud mengubah hari libur nasional menjadi Jumat dan Sabtu. Keputusan itu untuk mendekatkan dengan kebiasaan hari libur di masyarakat global, Sabtu dan Minggu.



Dalam surat keputusan Raja Arab Saudi yang dikeluarkan Minggu (23/6), Raja Abdullah menetapkan hari kerja akan berlangsung sepanjang Minggu hingga Kamis. Sementara hari libur akan berlangsung pada Jumat dan Sabtu.



Alasannya, perubahan hari libur untuk untuk memaksimalkan potensi ekonomi negaranya. Hari libur yang mendekati kalender internasional itu akan berlaku efektif pada 28 Juni.



Selama ini, negara emas hitam itu memiliki hari kerja dari Sabtu hingga Rabu. Sementara akhir pekan jatuh pada Kamis dan Jumat.



Ketetapan Raja Abdullah itu tentu menuai dukungan dari golongan konservatif Islam. Sebab, pemberlakuan hari libur selama ini membuat negara kehilangan potensi ekonomi.



“Kami akan segera mengadaptasi hari libur seperti bangsa Yahudi dan Kristiani,” ujar pebisnis ternama di Arab Abdul Rahman Al Jeraisy yang telah mengusulkan sejak tahun 2007. Kalangan pebisnis menyambut positif terkait dengan efektivitas dan efisiensi serta kedekatan dengan jadwal bisnis mereka dengan kalender di luar Arab Saudi.



Dekrit Raja itu juga menjelaskan, perubahan ini tentu saja akan mengubah sejumlah jadwal pelayanan publik di negara Muslim terbesar di dunia. Bursa Efek Saudi, Bank Sentral Saudi, dan lembaga keuangan serta kementerian keuangan berencana akan mulai mengefektifkan hari libur itu mulai 29 Juni. Sementara institusi pendidikan akan memberlakukan aturan ini mulai tahun ajaran baru.



“Perubahan kalender libur yang sejalan dengan negara-negara lain di dunia ini akan memberikan keuntungan bagi kerajaan terutama dari sisi ekonomi,” ujar Raja Abdullah dalam dekritnya.



Jumat tetap menjadi hari libur karena ibadah utama umat Muslim. Dengan perubahan masuk kerja di hari Minggu, Arab Saudi menyusul Oman, sekaligus negara terakhir dalam Gulf Cooperation Council yang meninggalkan liburan di Kamis dan Jumat.



Menurut pemberitaan media lokal, penguasa Saudi memutuskan hal tersebut untuk menyesuaikan dengan berbagai kebijakan dan bagian dari semacam proses adaptasi dengan komitmen internasional. (Daniel Wesly Rudolf)



Editor: Henri Salomo Siagian



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/24/mowgxd-komunitas-muslim-di-bhutan-terus-bertambah-bagian3-habis


Raja Arab Ubah Hari Libur Jadi Jumat-Sabtu

Tuesday, July 2, 2013

Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

KETIKA era komunisme melanda kebanyakan negara di dunia pada awal abad lalu sehingga pertengahan abad ke-20, semacam ada gerakan tersusun untuk menjatuhkan ideologi itu dengan pelbagai penentangan, sehingga ketakutan kepada ideologi komunisme dilabelkan dengan pelbagai gelaran dan propaganda.


Yang menariknya pula, semua propaganda itu didalangi oleh Amerika Syarikat (AS) dan disokong oleh negara-negara Barat.


Ketakutan terhadap ideologi komunisme telah membawa kepada beberapa perang besar di dunia termasuk perang Vietnam, perang di semenanjung Korea, penaklukan Afghanistan oleh Moscow semasa era Kesatuan Soviet, konfrantasi di Eropah timur, konfrantasi antara Jerman Timur dan Jerman Barat dan perang dingin antara AS dan Kesatuan Soviet.


Dalam semua konfrontasi itu, kemenangan Vietkong di Vietnam paling dramatik apabila ideologi komunis berjaya mengatasi kuasa demokrasi barat tajaan AS di bumi Vietnam, bagaimanapun komunis di bawah Kesatuan Soviet kecundang di Afghanistan apabila Taliban berjaya mengusir Moscow dari bumi Afghanistan dengan bantuan China, AS dan sekutunya.


Begitulah sengitnya konfrontasi merentasi ideologi komunisme dan sistem demokrasi yang berlaku pada pertengahan abad lalu hingga dekad 80-an, termasuk menyaksikan kejatuhan Kesatuan Soviet, selain menyaksikan penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur dan robohnya Tembok Berlin serta memperlihatan kemenangan kuasa demokrasi tajaan AS.


Namun begitu, komunisme masih bertahan di semenanjung Korea apabila Korea Utara masih menunjukkan cengkaman kuasanya di semenanjung itu, walaupun dengan kehadiran AS di rantau tersebut.


Dalam semua insiden dan konfrantasi itu menyaksikan AS dan barat cuba mengetengahkan sistem demokrasi di negara-negara terbabit dan cuba menolak komunisme dengan menyogokkan propaganda bahawa komunisme sebagai musuh penduduk sejagat.


AS dalam propaganda menentang komunisme ketika itu telah memperkenalkan Teori Domino dengan mendakwa komunisme harus ditentang habis-habisan kerana bimbang jika satu negara jatuh ke tangan komunisme akan menyebabkan negara-negara lain yang berhampiran turut jatuh ke tangan komunisme.


Begitulah cara AS dan sekutunya mengekalkan kuasa dan kedudukan mereka sebagai kuasa dunia.


Setelah beberapa dekad menentang komunisme, AS dan barat menunjukkan kemajuan dalam kempen dan propaganda mereka apabila banyak negara komunis di Eropah timur runtuh dan menerima demokrasi termasuk di Jerman timur, Czechoslovakia, Yugoslavia, Albania dan Bulgaria melalui kebangkitan rakyat di negara-negara terbabit menerusi tunjuk perasaan besar-besaran.


Ketika itu kita menyaksikan penduduk negara-negara komunis terbabit bangkit menentang pemerintah komunis yang dianggap kuku besi melalui tunjuk perasaan hampir setiap hari selama berbulan-bulan sehingga membawa kepada kejatuhan kerajaan komunis dan digantikan dengan kerajaan demokrasi.


Kini, trend serupa berlaku di negara-negara Islam bermula dengan dunia Arab, apabila meletus Arab Spring di Tunisia, apabila rakyat di negara-negara Arab bangkit menentang kerajaan dan pemimpin mereka atas alasan kemiskinan, reformasi ekonomi dan pembaharuan demokrasi.


AS dan Barat menyedari kekuatan kuasa rakyat seperti yang berlaku di Filipina apabila Corazon Aquino menggerakkan kebangkitan rakyat dengan mengadakan perarakan raksasa bagi menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos, namun di dunia Islam, AS menggunakannya untuk kepentingannya dengan memperalatkan pemimpin di negara-negara Islam untuk meracuni rakyat supaya memberontak.


Apakah tunjuk perasaan di dunia Arab dan kini merebak ke dunia Islam juga merupakan perancangan AS dan barat yang bimbang dengan perluasan pengaruh Islam di negara-negara Islam dan di seluruh dunia. Inilah konspirasi AS dan barat untuk terus kekal sebagai kuasa besar dunia yang menentukan hala tuju dunia di bawah cengkaman mereka.


Sebenarnya, AS cuba menggunakan kekerasan seperti mereka lakukan ke atas Iraq, bagi menumpaskan pengaruh dan kuasa Islam yang semakin meningkat di dunia, tetapi AS dan barat sedar akibatnya, kerana selepas Perang Iraq dan kejatuhan Saddam Hussein, imej AS dan barat di kaca mata Islam merudum dan terjejas teruk serta dianggap sebagai negara pengganas. AS tidak mahu imej itu terus menghantui mereka.


AS menyedari perkara itu dan kembali menggunakan modus operadi yang sama seperti memerangi kebangkitan komunisme dahulu dengan meracuni rakyat negara-negara terbabit dengan menanam kebencian terhadap kerajaan. Mereka menggunakan masalah dalaman di negara-negara Islam sebagai alasan untuk rakyat membenci kerajaan yang sah di negara-negara Islam.


Akhirnya, strategi AS dan barat itu dilihat berkesan apabila beberapa pemimpin negara Arab berjaya digulingkan dan dibunuh termasuk Presiden Zine El Abidine Ben Ali (Tunisia), Muammar Ghaddafi (Libya), Hosni Mubarak (Mesir), Ali Abdullah Saleh (Yemen) dan Bashar al-Assad (Syria).


Selepas melihat kejayaan strategi itu di dunia Arab, AS dan barat mula mengembangkan strategi itu ke negara-negara Islam lain termasuk di Turki, Iran dan Pakistan.


AS dan barat turut menggunakan pendekatan itu di Malaysia dan strategi itu dilihat berjaya dengan kehadiran pemimpin seperti Anwar Ibrahim dan pemimpin politik Malaysia berhaluan kiri dan pemimpin Islam liberal serta mereka yang berfahaman rasis seperti DAP.


Trend ini dilihat akan berterusan selagi AS dan barat belum berpuas hati melihat perubahan kepimpinan di negara-negara Islam berpengaruh seperti Pakistan dan Iran yang mempunyai kuasa nuklear, Malaysia dan Turki yang mempunyai kedudukan ekonomi dan politik yang stabil serta Indonesia yang mempunyai penduduk Islam terbesar di dunia serta sumber alam yang banyak.


Selepas kejatuhan semua pemimpin Islam di negara-negara Islam yang terbabit, AS dan barat akan menjadikan Arab Saudi sebagai sasaran terakhirnya untuk memusnahkan sepenuhnya pengaruh Islam kerana Arab Saudi merupakan tempat terletaknya kiblat umat Islam di Mekah dan juga kemunculan negara Islam pertama di Madinah.


Presiden George W. Bush pernah mengutarakan idea untuk mengubah kiblat orang Islam dari Mekah ke New York dan mengubah al-Quran bagi menukar persepsi masyarakat Islam terhadap jihad.


Mungkin ramai yang akan menyatakan ini adalah teori semata-mata, tetapi trend yang sedang berlaku di seluruh dunia memperlihatkan dunia Islam sedang dilanda tunjuk perasaan yang tidak ada matlamat yang jelas, selain kebangkitan rakyat yang ditanam dengan kebencian terhadap pemerintah yang sah.


Bahaya sedang menanti umat Islam, kerana AS dan Barat sentiasa mencemburui perkembangan Islam dan umat Islam pula sentiasa alpa kerana tidak menyedari mereka masuk perangkap musuh.



Article source: http://www.sinarharian.com.my/kesal-gambar-masjid-dipijak-1.177832


Siapa di belakang tunjuk perasaan di dunia Islam?

Sunday, December 16, 2012

KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah

— Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Badriyah Fayumi mengatakan sejumlah sekolah telah mengajarkan intoleransi dan mengarahkan siswa untuk memiliki fanatisme terhadap ajaran agama tertentu.

Kepada VOA Jumat (14/12), Badriyah mengatakan bahwa indoktrinasi semacam itu sudah berjalan melalui kegiatan yang sistematis di sejumlah lembaga pendidikan, dan akan berbahaya jika dibiarkan.
 
Anak, menurut Badriyah, sangat rawan menjadi korban indoktrinasi dan juga rentan untuk meneruskan tradisi intoleransi.  Ia menambahkan kurikulum pendidikan harus betul-betul memiliki muatan yang mengajarkan toleransi.

“Radikalisme di sekolah itu terjadi dari level yang paling dini sampai level perguruan tinggi, antara lain melalui proses indoktrinasi bahwa yang lain yang tidak sama seperti kita adalah musuh kita, boleh kita serang, boleh kita perangi,” ujar Badriyah.

“Bahkan kami mendapatkan pengaduan dari guru TK di Depok, yang kemudian ayahnya mengeluarkan anaknya dari TK tersebut, karena anaknya pulang mengatakan bahwa ‘Oh, itu berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh’.”

Badriyah mengatakan kasus indoktrinasi seperti itu juga dapat terjadi melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan yang ada di sekolah.

Sebelumnya, hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian selama Oktober 2010 hingga Januari 2011 menunjukkan bahwa 49 persen siswa di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah agama dan moral.

Survei ini dilakukan terhadap 1.000 siswa dari 100 sekolah menengah pertama dan atas di Jabodetabek.

Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian Bambang Pranowo mengungkapkan paham radikal bisa masuk ke sekolah dengan berbagai cara, seperti kegiatan ekstrakurikuler.

“Ada kegiatan yang memanggil orang dari luar untuk memberikan materi, ceramah mengenai ideologi seperti NII (Negara Islam Indonesia) secara meyakinkan,” ujar Bambang.

Juru Bicara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad mengatakan para kepala sekolah harus dapat mengontrol setiap kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa, apalagi kalau kegiatan tersebut memanggil pihak dari luar.

Khawatir dengan kondisi di sekolah tersebut, tokoh agama Romo Franz Magnis Suseno mengatakan pendidikan ke arah toleransi harus dimulai.

“Di situ ada dua poin yang penting. Yang pertama bahwa toleransi bukan berarti mengatakan semua keyakinan sama dan sebagainya. Dan yang kedua, belajar menerima bahwa orang dengan keyakinan yang berbeda. Nah yang dua hal itu yang harus diajarkan pada anak [sejak] kecil,” ujarnya.

Article source: http://surabaya.detik.com/read/2012/12/10/110013/2113813/475/mahasiswa-di-blitar-turun-ke-jalan-peringati-hari-anti-korupsi


KPAI Desak Pemerintah Atasi Radikalisme Agama di Sekolah