Showing posts sorted by relevance for query Aturan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Aturan. Sort by date Show all posts

Friday, January 4, 2013

Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aturan mengenai larangan duduk kangkang di atas sepeda motor bagi perempuan di Aceh bisa membahayakan keselamatan. Regulasi tersebut dinilai sangat tidak masuk akal.

“Peraturan ini sangat tidak masuk akal dan membahayakan keselamatan perempuan, khususnya mereka yang berusia lanjut atau pun yang masih muda tetap sedang sakit,”kata Ahli Hukum Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Musdah Mulia kepada Tribunnews.com, Jumat(4/1/2013).

Musdah mengaku sedih perempuan terus dijadikan obyek hukum.

“Saya sedih karena atas nama syariat Islam, perempuan dan kelompok lemah selalu jadi obyek hukum,” kata dia.

Mestinya dengan syariat Islam, menurut Musdah, pemerintah daerah dapat memastikan semua warga menikmati pendidikan berkualitas secara gratis, layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, listrik dan bahan sandang serta pangan yang terjangkau.

Selain itu, memberdayakan masyarakat, terutama perempuan, mengurangi pengangguran dan membasmi koruptor. Sehingga seluruh warga terutama yang tidak mampu dapat hidup sejahtera.

“Itulah masyarakat Islami yang dicita-citakan oleh syariat Islam,”katanya.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri akan mengklarifikasi aturan pemerintah Kota Lhokseumawe yang melarang perempuan membonceng motor dengan cara mengangangkang.

“Semua aturan yang sudah disetujui pemerintah daerah akan kami klarifikasi kembali,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek saat dihubungi Rabu, (3/1/2013).

Secara normatif, kata Donny, seluruh peraturan buatan pemerintah daerah telah dikonsultasikan kepada Kementerian Dalam Negeri sebelum disetujui. Donny tak menjelaskan apakah aturan tersebut meliputi imbauan Wali Kota di tingkat provinsi.

Pemerintah kota Lhokseumawe tengah menyiapkan aturan unik. Dinas Syariat Islam membuat draf berisi himbauan agar perempuan tidak duduk mengangkang. “Draf sedang disiapkan oleh Dinas Syariah, jadi nomor berapa himbauan itu nanti ketika sudah siap,” kata Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, Dasni Yuzar, Kamis, (3/1/2013).

Dasni mengatakan draf itu memang baru disiapkan. Mulai Senin depan, pengumumannya akan di tempelkan di sejumlah tempat-tempat umum. Sejumlah spanduk dan baliho pun sudah disiapkan.

Article source: http://www.allvoices.com/contributed-news/13419711-selena-gomez-and-justin-bieber-get-back-together-for-a-date-in-hollywood


Ahli Hukum Islam: Larangan Duduk Kangkang di Motor Berbahaya!

Thursday, December 8, 2016

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this News

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U So Much for Read this Blog

Monday, February 25, 2013

Afsel Umumkan Nama Koruptor

JOHANESBURGH–Pemerintah Afrika Selatan akan mengumumkan nama pejabat yang dihukum karena koruipsi, menyusul tekanan terhadap pemerintah yang dinilai lambat terhadap suap. “Dalam beberapa hari mendatang, kami akan mengumumkan nama-nama orang yang terbukti korupsi dan mereka yang asetnya dibekukan atau telah merugikan negara,” kata Menteri Kehakiman Jeff Radebe. Ia menambahkan, pemerintah akan mengumumkan nama-nama pejabat itu kepada publik dan mempermalukan mereka terkait kasus yang menjeratnya. Pemerintah Afrika Selatan (Afsel) terus berada dalam tekanan agar lebih tegas terhadap para pejabat publik yang mencuri dana publik. “Aset dari 59 terpidana yang mencapai nilai 816 juta rand (setara 92 juta dollar AS) telah dibekukan,” kata Radebe.


Rusia Larang Merokok di Tempat Umum

MOSKWA–Presiden Rusia Vladimir Putin, kemarin, telah menandatangani aturan yang akan melarang warga Rusia merokok di tempat-tempat umum. Aturan yang baru melarang merokok di restoran, kereta api jarak jauh, dan pintu masuk permukiman. Pemerintah Rusia membuat aturan untuk mengurangi jumlah perokok dan untuk meningkatkan kesehatan publik. Rusia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, dengan perkiraan lebih dari empat orang dari sepuluh orang Rusia merupakan perokok. Aturan ini disahkan oleh parlemen pada awal Februari lalu, dan hanya satu orang perwakilan yang menolaknya. Peraturan “untuk melindungi kesehatan warga negara dari bahaya menjadi perokok pasif dan konsekuensi penggunaan tembakau” akan diterapkan mulai 1 Juni mendatang.


Bom Rakitan Meledak, Empat Tewas

BANGKOK–Empat orang tewas dan lebih dari 20 orang lainnya terluka ketika sebuah bom rakitan meledak dalam sebuah perkelahian di sebuah festival Budha di Provinis Maha Sarakham, Thailand, kemarin. Dari korban tewas dua di antaranya adalah polisi dan dua lainnya adalah pengunjung festival yang memperingati hari Makha Bhucha yang digelar di sebuah pagoda di kota Nadoon itu. Demikian penjelasan Kepala Polisi Kritchai Sreumsri. Kritchai mengatakan para petugas polisi saat itu datang untuk melerai perkelahian dan tengah mengejar seseorang yang diduga membawa sebuah benda rakitan ketika ledakan terjadi. Dari korban luka sebanyak 20 orang, satu di antaranya adalah orang yang dikejar polisi itu. Hari Makha Bucha adalah hari untuk memperingati ajaran Budha yang digelar saat malam bulan purnama.


Warga Palestina Tewas di Tahanan

RAMALLAH–Seorang warga Palestina tewas dalam tahanan di Israel. Tahanan tersebut diduga disiksa di penjara Israel. Para militan Fatah pun bersumpah akan membalas kematian pria Palestina itu. Ancaman itu dilontarkan para militan Brigade Martir Al-Aqsa, sayap bersenjata gerakan Fatah, seperti diberitakan kantor berita AP, kemarin. “Kejahatan mengerikan ini tak akan dibiarkan tak dihukum dan kami berjanji pada okupasi Zionis bahwa kami akan membalas kejahatan ini,” demikian pernyataan yang dibagikan ke warga saat pemakaman Arafat Jaradat. Jaradat tewas pada Sabtu, 23 Februari lalu di penjara Israel. Ayah dua anak itu ditangkap pekan lalu atas tuduhan melemparkan batu ke para pemukim Yahudi. Atas kematiannya, otoritas Israel menyatakan tak ada tanda Jaradat telah disiksa. Namun belum diketahui apa penyebab kematiannya.


Aquino Angkat Anggota Peralihan

MANILA–Presiden Filipina Benigno Aquino III mengangkat 15 anggota Komisi Peralihan, yang akan menyusun Undang-Undang Dasar Bangsamoro, kata pejabat tinggi pemerintah, kemarin. Aquino menunjuk Kepala Perunding Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Mohagher Iqbal sebagai kepala komisi, kata juru bicara kepresidenan Edwin Lacierda pada jumpa pers. Tujuh anggota komisi dicalonkan oleh badan perdamaian pemerintah Filipina, sementara delapan lagi berasal dari MILF. “Penunjukan seseorang mewakili konstituen Bangsamoro penting dan komitmen mereka untuk mengejar persahabatan telah terbukti dan penerimaan di Mindanao Muslim adalah langkah penting bagi peta jalan untuk pembentukan Badan Politik Otonom Bangsamoro,” kata Lacierda.


UEA Bangun Sekolah di Gaza

GAZA–Uni Emirat Arab (UEA) akan mengeluarkan biaya delapan juta dolar AS melalui Bulan Sabit Merah-nya dalam mendukung pembangunan empat sekolah baru di Jalur Gaza, kata Badan Bantuan dan Pekerja PBB (UNRWA). Badan PBB itu mengatakan dalam pernyataannya bahwa UEA akan membantu mengurangi kepadatan siswa di sejumlah sekolah di Gaza, tempat sebagian besar siswa harus belajar secara bergiliran. Pembangunannya dimulai dalam beberapa pekan mendatang dan sekolah itu dijadwalkan selesai dalam sembilan bulan. Bila siap, 1.000 siswa akan ditampung di masing-masing sekolah tersebut, kata pernyataan itu. Jalur Gaza memiliki populasi 1,7 juta jiwa, lebih dari dua pertiga dari mereka pengungsi dan menerima bantuan pangan, kesehatan serta pendidikan dari UNRWA. (AP/Ant/BBC/Kentos)

Article source: http://travel.detik.com/read/2013/02/06/072759/2162257/1025/bali-punya-5-tempat-ibadah-dalam-1-komplek?8800041024


Afsel Umumkan Nama Koruptor

Saturday, July 20, 2013

Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Nia Sjarifudin (tengah) terpanggil melakukan pembelaan terhadap kelompok minoritas.


Nia Sjarifudin mendampingi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi agama dengan pendekatan personal.


Beberapa menit setelah masjid milik Jemaat Ahmadiyah di Jati Bening, Bekasi, disegel oleh aparat Satpol Pamong Praja Kota Bekasi dan aparat kepolisian setempat, awal April 2013 lalu, sejumlah perempuan tua anggota Jemaat Ahmadiyah terlihat menangis sesenggukan.


Mereka akhirnya harus meninggalkan tempat ibadah miliknya, setelah aparat memaksakan penyegelan pada petang harinya, karena dianggap menyalahi aturan setempat.


Namun demikian, proses penyegelan itu tidak berjalan mudah, karena warga Ahmadiyah dan didukung para aktivis kemanusiaan, sejak pagi hari menolak dan melawannya.


Di antara orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap upaya penyegelan masjid itu, ada seorang perempuan berkacamata dan berambut pendek.


Bersama pegiat lainnya dan pimpinan Ahmadiyah, dia saat itu terlibat pembicaraan serius dengan aparat kepolisian, mengajukan argumen dan alasan penolakan penyegelan itu.


Nia Sjarifudin (berkaca mata) mendampingi seorang warga Ahmadiyah di Bekasi yang masjidnya disegel oleh pemerintah kota itu, April 2013 lalu.


Dia terlihat pula memberi semangat kepada beberapa perempuan tua warga Ahmadiyah yang menangis dan terlihat syok, akibat penyegelan tempat ibadah mereka.


Nia Sjarifudin, nama perempuan itu, selama ini memang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang menaruh peduli terhadap nasib kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.


Seperti yang dilakukannya terhadap warga Ahmadiyah di Bekasi, Nia — begitu sapaan akrab perempuan kelahiran 1966 ini — juga melakukan pembelaan terhadap warga Islam Syiah di Sampang, warga Kristen di Bekasi dan Bogor yang dipersulit beribadat, serta para penganut kepercayaan yang tidak pernah diakui oleh negara.


“Belum banyak gerakan masyarakat sipil, atau kepedulian kita terhadap isu kelompok minoritas. Masih sedikit sekali yang punya concern terhadap isu kelompok minoritas ini,” ungkap Nia Sjarifudin dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (28/06) lalu.



“Belum banyak gerakan masyarakat sipil, atau kepedulian kita terhadap isu kelompok minoritas. Masih sedikit sekali yang punya concern terhadap isu kelompok minoritas ini.“



Hal ini dia utarakan saat saya tanyakan apa yang membuatnya melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi.


Menurutnya, kepedulian terhadap nasib kelompok minoritas juga dilatari situasi saat ini yang disebutnya “banyak melahirkan kebijakan diskriminatif.”


“Karena itu, berdasarkan kesepakatan di antara teman-teman, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), kita prioritaskan memperjuangkan kelompok minoritas keagamaan dan keyakinan,” kata ibu dua anak ini, menjelaskan.


ANBTI didirikan pada 2006 lalu oleh orang-orang yang merasa prihatin (termasuk mendiang Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur) atas persoalan intoleransi dan kasus-kasus diskriminasi terhadap kelompok minoritas.Sejak 2010 lalu, Nia Sjarifudin dipercaya sebagai sekjen ANBTI.


Keyakinan diri


Pemihakan Nia Sjarifudin terhadap kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, tentu saja, dapat membuatnya berhadap-hadapan langsung dengan kelompok atau orang-orang yang dianggap sebagai pelaku diskriminasi.


Di benak masyarakat awam, situasi seperti ini seolah-olah merupakan sesuatu yang tidak gampang dilakukan.


Dalam berbagai kesempatan, Nia dan aktivis kemanusiaan lainnya memang terlibat langsung dalam unjuk rasa menolak penyegelan Gereja Yasmin di Bogor, dan berhadapan dengan kelompok yang mendukung penyegelan.


Tetapi menurut Nia, kekhawatiran seperti itu bisa dia atasi. Alasannya, dia meyakini bahwa apa yang diperjuangkan kelompok minoritas terhadap hak-haknya dilindungi oleh Konstitusi, UUD 1945.


“Ya, memang persoalan resistensi kelihatannya seperti itu ya, kalau bicara agama. Tapi kita tidak bicara soal agamanya, tapi bagaimana hak-hak konstitusinya banyak sekali dilanggar terhadap beberapa pemeluk agama, yang sebetulnya mereka sudah hidup dengan kita sejak awal jauh sebelum kemerdekaan,” jelas Nia.


Nia dan sejumlah aktivis menolak penyegelan Gereja Yasmin di Bogor, Jabar.


Dan lebih dari itu, menurutnya, “Keyakinan saya sendiri terhadap apa yang menjadi komitmen kebangsaan kita, saya rasa itu yang menguatkan saya,” kata Nia, dengan nada tegas.


Jadi, persoalan psikologi sudah Anda anggap selesai ya? Tanya saya.


“Ha-ha-ha… Saya rasa, manusiawi ya, kadang-kadang kita melihat ‘Waduh kita melawan sekelompok orang yang, mohon maaf, sering melakukan kekerasan, dan negara sering melakukan pembiaran’,” ungkap Nia, yang semasa kuliah, sudah aktif sebagai pencinta alam.


“Tapi, buat saya yang lebih menguatkan saya adalah bagaimana saya melihat saudara-saudara saya yang masih terdiskriminasi,” kali ini Nia berkata serius.



“Mereka kuat tetap bertahan, justru disitu yang sering menguatkan saya sendiri.“



“Itu buat saya jauh lebih penting, ketimbang saya melihat sekelompok orang yang melakukan pelanggaran atau sering melakukan pelanggaran”.


Dia kemudian mencontohkan, aksi Jemaat Gereja Yasmin di Bogor yang berthana dan terus memperjuangkan hak-haknya atas gerejanya, walaupun “dicaci maki, menjadi korban kekerasan, bahkan secara fisik.”


“Mereka kuat tetap bertahan, justru disitu yang sering menguatkan saya sendiri,” akunya.


Nia menambahkan, hal lain yang menguatkan dirinya adalah bahwa para korban sangat sadar dan memahami hak-hak Konstitusinya.


Pendekatan pribadi


Terjun sebagai aktivis kemanusiaan yang peduli terhadap kelompok agama minoritas, Nia dikenal melalui pendekatan kulturalnya.


Dia tidak segan-segan melakukan pendekatan pribadi saat mendampingi orang-orang dari kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi, kata juru bicara masyarakat adat Sunda Wiwitan, Dewi Kanti.


Bersama organisasi yang dipimpinnya, ANBTI, Nia tampil untuk berbagi pengalaman di Sekolah Pluralisme Kewarganegaraan yang didirikan UGM Yogyakarta.


“Dia itu turun langsung dan secara pribadi agak berbeda dengan sifat yang dimiliki beberapa NGO yang hanya melihat hubungan sekedar organisasi,” kata Dewi.


Melalui pendekatan kulturalnya, imbuh Dewi, Nia sering melakukan pendekatan yang sangat personal dan humanis. “Dia merekatkan kekuatan yang hampir tercecer,” tambahnya.


“Sekarang butuh orang-orang seperti Nia, yang bisa menembus batas, sekat perbedaan dan ego lembaga itu sendiri,” katanya lebih lanjut.


Nia Sjarifudin sendiri mengaku, dirinya sengaja melakukan pendekatan pribadi, karena pola hubungan seperti inilah yang dibutuhkan dalam mendampingi para korban diskriminasi, yaitu antara lain kepercayaan (trust).



“Sekarang butuh orang-orang seperti Nia, yang bisa menembus batas, sekat perbedaan dan ego lembaga itu sendiri.“



“Mungkin karena sekian lama ya diskriminasi itu dialami (korban), mereka juga tidak bisa secara langsung, atau bercerita dengan orang yang tidak dikenal,” kata Nia. “Kan tadinya kita tidak kenal”.


Melalui pendekatan personal, Nia mengharapkan dapat mengetahui dan memahami persoalan mereka. “Buat saya, hal-hal seperti itu tidak bisa dengan pendekatan yang kaku,” tambah istri Bambang Joedopramono ini.


“Saya mesti merasa sejajar dengan mereka. Duduk bersama dan saya berusaha untuk menempatkan diri, mencoba merasakan empati dengan apa yang mereka rasakan”.


Pengalaman emosional


“Paling menyentuh buat saya adalah persoalan anak,” ungkap Nia, saat saya menanyakan pengalaman emosional seperti apa yang pernah dialaminya selama melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang menyebut dirinya sebagai korban diskriminasi.


Menurutnya, anak yang dilahirkan dari pasangan orang tua yang agama atau keyakinannya tidak diakui negara, membuat dirinya tersentuh secara emosional.



“Saya baru bisa memahami, seorang anak lahir dari orang tua yang menikah secara cinta dan direstui keluarga, tetapi negara masih memberikan suatu bentuk diskriminasi dalam aturan terhadap kaum penghayat.“



“Saya baru bisa memahami, seorang anak lahir dari orang tua yang menikah secara cinta dan direstui keluarga, tetapi negara masih memberikan suatu bentuk diskriminasi dalam aturan terhadap kaum penghayat,” ungkapnya.


“Bagaimana saya melihat seorang anak lahir tanpa dosa, tetapi karena orang tuanya menikah, dan agamanya dianggap tidak resmi oleh negara, kemudian pernikahannya tidak dicatatkan oleh negara, maka anak itu menjadi anak yang kalau ke ruang publik itu, anak yang bisa dikatakan anak yang lahir dari orang tua yang tidak menikah,” paparnya.


“Anak yang tidak berdosa, karena aturan negara, dia lahir menjadi — kalau dia dicap secara kasar di ruang publik — dianggap sebagai anak haram”.


Pengamalan menyedihkan seperti ini, lanjutnya, bakal berdampak pula pada masa depan anak itu.


“Itu membuat saya miris,” kata ibu dari Omar Rolihlahla Hakeem (14 tahun) dan Putri Malahayati Hangkalea Bourguiba (8 tahun) ini, dengan nada bergetar.


Sosok Gus Dur


Pada pekan ketiga Juni lalu, Nia Sjarifudin sibuk melakukan konsolidasi organisasi yang dipimpinnya, yaitu Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, ANBTI. Usai kunjungannya ke Aceh, barulah wawancara dengan dirinya bisa dilakukan.


“Kita memetakan persoalan di tingkat propinsi, misalnya kejadian atau kasus yang berpotensi terhadap keberagaman kita,” ungkap Nia, mengungkapkan salah-satu bentuk konsolidasi yang dia lakukan bersama rekan-rekannya di seluruh Indonesia.


Selain melakukan advokasi langsung terhadap kasus-kasus diskrimnasi, Nia melalui organisasinya juga mengunjungi lokasi pengungsian warga Syiah di Sampang, Madura (sebelum dpindahkan ke Sidoarjo, Jatim).


Menurut NIa, mereka juga mendorong para korban kebijakan diskriminasi untuk menyatukan gerakan.


Nia mengunjungi warga Syiah di Sampang sebelum mereka diserang kelompok penentangnya.


“Kita banyak mendorong para korban untuk survival, untuk melakukan advokasi. Dan ini sudah jalan setelah terbentuk Komunitas Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Sobat KBB),” ungkapnya.


Dalam wawancara, Nia Sjarifudin menjelaskan panjang lebar visi, tujuan serta organisasi ANBTI. Tetapi siapa yang paling menginspirasi atau mempengaruhi Anda sehingga Anda bisa seperti sekarang? Tanya saya.


“Buat saya, perjumpaan saya selalu dengan setiap korban (diskriminasi), menurut saya, itu terus menerus mempengaruhi saya,” akunya, seraya menambahkan bahwa peningkatan intolrenasi saat ini mendorognnya pula untuk lebih berjuang keras.


Nia kemudian beberapa nama, dan salah-satunya mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang disebutnya sebagai inspirator dirinya.


“Setiap orang berpikir: kalau ada apa-apa, ke Gus Dur dulu, kalau ada apa-apa ke Gus Dur, baik itu orang Kristen, orang penghayat, dan lain-lain. Buat saya itu menjadi patokan,” katanya.



“Saya merasa sebagai individu Muslim, saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan, itu menjadi rahmat buat semuanya. Itu pegangan paling penting.“



Pihak lain yang ikut mempengaruhi sikapnya dalam bertoleransi adalah kedua orang tuanya, melalui landasan agama yang ditanamkan sejak dirinya kanak-kanak.


“Misalnya Islam itu universal, buat saya itu sebuah pegangan. Islam itu Rahmatan lil alamin. Saya merasa sebagai individu Muslim, saya merasa bahwa apapun yang saya lakukan, itu menjadi rahmat buat semuanya. Itu pegangan paling penting,” ungkapnya.


“Dan buat saya, dukungan paling besar itu terutama dari pasangan hidup saya, suami saya, itu dia yang banyak sekali memberi support kepada saya,” katanya, menyebut suaminya yang bernama Bambang Joedopramono.


Menurutnya, suaminya mendukung sepenuhnya aktivitasnya sosialnya saat ini.


Seperti Nia, sang suami juga aktivis di masa kuliah. “Kami menikah tahun 1998, setelah Suharto turun dari kekuasaan,” kata Nia, yang memiliki hobi berjalan-jalan ke pasar tradisional, setiap mengunjungi setiap daerah di berbagai pelosok Indonesia.


Mempengaruhi kebijakan


Pada akhir wawancara, saya bertanya kepada Nia Sjarifudin: “jika bisa mengulang waktu, apa yang ingin dia lakukan.”


Nia Sjarifudin dalam aksi di depan Istana Merdeka, menentang kebijakan diskrimitaif terhadap kelompok minoritas.


“Saya merasa terlambat sadar bahwa saya seharusnya dulu berani mengambil jalur sebagai pengambil kebijakan. Itu yang selalu saya pikirkan sampai sekarang…ha-ha-ha…”


Nia kemudian mengisahkan pengalamannya sebagai aktivis sejak tahun 80-an, yang lebih memilih sebagai aktivis ‘parlemen jalanan’.


“Saya memikirkan, dengan kondisi parlemen sekarang, mestinya orang-orang seperti saya dulu itu masuk ke dalam, setidaknya setelah reformasi,” kata Nia yang dulu pernah aktif di organisasi Komite Independen Pemantau Pemilu, KIPP, yang mengkritisi pelaksanaan pemilu pada periode akhir Rezim Orde Baru.



“Tapi, saya memang memikirkan bagaimana saya bertahan dengan idealisme saya di dalam (dunia politik praktis) dengan situasi sekarang.“



“Seharusnya saya berani masuk ke dunia politik praktis. Kalau saya bisa mengulang ya. Kalau sekarang kayaknya terlambat,” katanya, kemudian disusul tawanya. “Karena sebenarnya di situ banyak sekali persoalan yang sekarang itu muncul, karena kebijakan-kebijakan yang dibuat di dalam”.


“Paling tidak,” lanjutnya,”dengan pengalaman (kita melakukan) advokasi masyarakat, bisa menjadi satu pengalaman kita untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang tidak meminggirkan siapapun.”


“Tapi, saya memang memikirkan bagaimana saya bertahan dengan idealisme saya di dalam (dunia politik praktis) dengan situasi sekarang,” akunya sekaligus menutup wawancara.


Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=3479


Nia memperjuangkan kelompok minoritas

Friday, March 1, 2013

Aher-Demiz Unggul Tipis pada Rekapitulasi Penghitungan Suara Kota Bandung

Bismillaahirrohmaanirrohiiim
Segala puja dan puji seluruhnya hanya milik Allaah SWT semata, Rabb-nya manusia, Raja-nya manusia, Sembahan-nya manusia dan Pemilik alam jagat raya ini beserta semua isinya baik yang nyata/riil/kelihatan maupun yang tidak/ghaib.
Allaah SWT Yang Kuasa, Maha Gagah Perkasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang !!!
Jika bukan karena Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Rahmat Allaah SWT maka bangsa Indonesia akan selalu menderita siang dan malam, lahir maupun bathin di bawah kaki kaum imperialis/libralis/kapitalis Yahudi dan Nashrani baik bangsa Eropa (Belanda, Inggris, Portugis) ataupun kaum atheis/penyembah matahari bangsa Asia yaitu Jepang dan Yahudi Asia !!!
Selama berabad-abad lamanya bangsa Indonesia dari mulai nenek moyang Soekarno, Soeharto, Gus Dur termasuk nenek moyang kita dijajah, dihina, dicaci, dimaki diperkosa hak-haknya oleh bangsa lain selama itu pula tidak ada seorang yang berdaya.
Seluruh bangsa ini diam seribu basa dan hanya para mujahidlah yang berani untuk berperang melawan para penjajah. Para mujahid dan mujahidah Islam dari mulai wilayah Indonesia bagian barat seperti Imam Bonjol, Cut Nya Dien, Cik Di Tiro dll, di wilayah tengah Pangeran Diponogoro, Pangeran Antasari, Sultan Agung, Sultan Ageng, Raden Fatah dll, di wilayah timur Hasanudin, Jamaludin dll. Mereka rela berjuang karena terdorong oleh dua hal yaitu “mati syahid dan hidup mulia” bukan karena ingin kedudukan atau jabatan baik jabatan presiden, gubernur, walikota/bupati, camat, lurah, rw dan rt !!!
Sangat berbeda sekali dengan para pejuang sekarang, mereka berjuang karena hanya mengejar tahta, harta, wanita !!!
Mereka berjuang hanya untuk menyalurkan nafsu keserakahan semata seperti di zaman orde lama setelah duduk menjadi pimpinan hartanya melimpah dan wanitanya pun banyak serta hidupnya bermewah-mewah akantetapi tidak terexkpos karena semua (rakyat Indonesia) terfokus fikirannya hanya pada urusan perut (banyak yang kelaparan) semata tidak seperti sekarang bisa menilai segala dan keadaan semua orang yang ada di negara ini dari a s/d z.
Kondisi ini berlangsung dari mulai sebelum merdeka s/d 1965 ( zaman PKI ).
Pada zaman pasca PKI s/d orde reformasi, sekarang para pejuang bergerak di kancah perpolitikan karena dorongan mengejar tahta, harta, wanita dengan berbagai cara !!!
Itulah manusia dari mulai zaman nabi Adam AS sebagai manusia pertama di muka bumi ini sifat dimiliki seperti sifat tamak, sombong, serakah, dlolim.bengis, biadab dan sebagainya serta kondisi ini akan terus bergulir s/d hari kiamat nanti !!!
Dan alasan di ataslah mengapa Allaah SWT menurunkan para nabi dan rasul untuk membimbing ummat kepada jalan yang diridhoi-Nya !!!
Allaah SWT mengutus para dan rasul adalah karena sifat Kasih dan Sayang-Nya, supaya manusia bahagia lahir dan bathin di dunia serta di akhirat !!!
Kondisi seperti di atas terjadi tidak hanya di negeri orang akantetapi di negara kita termasuk di Jawa Barat !!!
Untuk menyalurkan hasrat tersebut di atas orang-orang yang pinter dari mulai prof s/d dengan tukang batagor rame-rame berlomba-lomba di dalam mencapai cita-cita tersebut dengan berdalihkan demokrasi tanpa mengenal halal dan haram !!!
Mereka lebih memilih aturan manusia daripada aturan Allaah SWT sebagai Rabb-nya manusia, Raja-nya manusia, Sembahan-nya manusia !!!
Mereka lebih memilih taat dan patuh kepada aturan manusia sekalipun ujung-ujungnya neraka jahanam !!!
Mereka berpesta pora memakai uang rakyat yaitu dari APBD Jabar senilai Rp satu triliunan lebih !!!
Di dalam ajaran Islam sudah dijelaskan bahwa memubadzirkan sesuatu itu adalah perbuatan
syaithan sementara syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi seluruh ummat manusia dan jin !!!
Mereka lebih memilih berpesta daripada membantu memberi makan anak yatim dan orang-orang miskin !!!
Orang-orang yang menderita karena tidak punya duit berjuta-juta jumlahnya, mereka tidak memiliki uang :
- untuk membeli beras,
- untuk berobat ke rumah sakit
- untuk biaya sekolah
- untuk membayar hutang
- untuk modal
- dll
Pertanyaannya adalah
apakah orang-orang tersebut masih bertuhan ???
apakah orang-orang tersebut masih memiliki hati nurani ???
Karena hasil dari pesta itu adalah Gubernurnya KH Ahmad Heryawan tetap seperti keadaan semula !!!
Dan ternyata Beliau masih dipilih oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat !!!
Artinya kualitas calon-calon Gubernur selain Beliau masih di bawah !!!
Daripada uang Rp 1 (satu) Triliunan dipakai untuk berpesta seperti itu alangkah bijak jika dialokasikan untuk masalah-masalah yang lebih penting !!!
Karena dengan berdemokrasi seperti bangsa lain, bangsa Indonesia ini belum siap ???
Baik kualitas pemilih dan yang dipilihnya secara pendidikan maupun taraf hidupnya !!!
Bukti tersebut seperti berita demo di atas !!!
Marilah kita merenung sejenak untuk berintropeksi diri masing-masing, apakah kita sudah benar-benar di jalur yang benar ???
Jangan sampai kotoran kecil yang ada pada orang lain jelas terlihat sementara kotoran yang nambru/nempel besar di muka kita tidak terlihat artinya kalau kesalahan orang lain lain sekecil apapun kita bisa melihat akantetapi kesalahan yang fatal pada diri sendiri, kita pura-pura tidak melihat ???
Sanes ti kamari atuh Akang-akang demona sateu acan dicairkeun dana anu Rp. 1,3 triliun kanggo pilkada Jabar 2013-2018 ari geus beres nembe demo mani sigap, siap menerkam, menerjang ?????
Ari atos aya anu eleh nembe ribut, boa-boa anu demo teh ti kubu anu kawon atawa anu dibayar nya ???
Telat jang atuh demo-na lamun saacan dana keur pilkada anu Rp. 1,3 Triliun dicairkeun mah Abah oge bade turun pasang badan, ari ayeuna mah da atos telat atuh !!!
Boa-boa lamun telat kieu mah demo jalma-jalma anu hoyong ngaramekeun Tatar Sunda nya ???
Patarosanana lamun kitu carana mah aya 2 kamungkinan hiji kelompok anu kawon, kadua kelompok anu hoyong wilayah tatar Sunda ricuh/kacau balau anu mana tah ???
Cing atuh ka para inohong partai atawa sayap-sayapna, simpatisan jeung kelompok anu gaduh kapentingan sing nyaah ka diri jeung kadulur-dulur !!!
Lamun hayang aman mah ti kamari usulkeun dina 5 calon teh sakali ewang mimpinna sataun sakali gantina !!!
Lamun kitu geus teu kudu aya kaluar waragad keur spanduk, brosur jeung sajabana nya ???
PILKADAL JABAR teh bakal efektif jeung efisien hartina harapan kacumponan milih pamimpin bari waragad sagalana irit !!!
Jeung moal aya istilah money politic (politik bagi-bagi uang), Black compaiyn (kampanye hitam) moal aya perkeliruan formulir C, moal aya PNS anu digiring-giring jiga meri jeung sajabana nya !!!
Para cagub cawagub ti no 1 nepi ka no 5 bakal tenang sabab kabeh bakal kabagean nya, satuju ???
Tong jiga ayeuna ari mimiti mah jiga nu enya ti no 1 nepi ka no 5 saling mengklaim ari pek teh eleh, kumaha pokna teh “awas sia pokokna Oneng mah rek eleh atawa meunang oge bakal bebeja / ngalapor ka MK ( mahkamah konstitusi ) asa ningali budak leutik pasea ari keur mimiti mah sok sia wani ka aing ari pek teh digeubuk ku babaturanana ngagerewek bari ceurik manehna ngancam dibejakeun siah ka Mamah !!!
Matak demokrasi di urang mah demokrasi budak leutik ari taen hayang nurutan Amerika ari prak-prakanana jiga dina sinetron bajaj bajuri anu leuwih pikaseurian deui nyaeta panontonna pipiluweun (lauk buruk milu buruk) kusabab hayang kapake kucalon jagoanana polah kitu jiga Taufiq Kiemas ceuk anjeunna pokokna mah Oneng neunang ngan kudu ditingalina tanggal tilu / 3 Maret 2013, eta teu kabayang lamun tanggal 3 Maret 2013 pas diumumkeun teh eleh rek kumaha Nyai Oneng, jigana gogoleranana lain di imah Taufiq kiemas tapi di monas jadi engke mah lain Soekarno wae anu aya sangkut pautna jeung monas teh, sanggeus Anas, Oneng gogoleran pedah Taufiq kiemas ngaramalna salah nya !!!
Kedah Isin ku urang Garut sareung warga Tatar Sunda, batur mah nyengseurikeun sanajan jiga anu ngadukung, tah urang Sunda anu sejenna bisa disakompet daunkeun, boro-boro hayang jadi Gubernur Jabar gawe di DPR RI komisi IX oge teu bisa ngabeberes rumah sakit-rumah sakit anu bararenggal boh di daerah soranganana komo deui di Jakarta, hoyong buktos mangga engke sakali-kali rurumpaheun ka rumah sakit Garut wae heula saacan ka daerah anu sejen, di rumah sakit masih seueur keneh anu gaduh jamkesmas, jamkesda masih dipersulit komo anu teu gaduheun !!!
Cing atuh geura salaladar kamari Anas anu rek di gantung di monas, maenya ayeuna Oneng anu bakal gogoleran di monas ku sabab eleh di pilkadal Jabar !!!
Tapi eta oge hukum karma ari pasien miskin mah ditolak ku 8 rumah sakit di Jakarta, careurik maratan langit ngoceak maratan jagat kulantaran ku kamiskinan !!!
Ari Oneng mah ceurik gogoleran di monas kulantaran Taufiq kiemas ngaramalna salah.
Karma Oneng yaeta Manehna 1000% punya andil dina ditolakna pasien miskin ku 8 rumah sakit di Jakarta sabab Oneng adalah salah satu anggota DPR RI Komisi IX anu garapanana urusan kasehatan !!!
Ngarah aman demo mah ti kamari wae !!!
Usulna jiga kieu ngabring paksa KPU Jabar kerahkeun pendukung Oneng sa-Indonesia bari uleum Mega, Taufiq K. Jokowi bila perlu Nagara RRC oge Eropa Timur termasuk Amerika dan Israel ulah kagok supaya milih gubernur teh jiga kos di luhur sakali ewang nya, kumaha dulur-dulur satuju ???
Tong jiga ayeuna ari geus beres bari aya anu kengingna nembe ribut, kumaha ari ujang jiga si Kabayan wae !!!
Untuk para pimpinan partai dari PDIP Mega + Taufiq K, PAN Amin, Gerindra Prabowo, PKB Gus Dur, Demokrat SBY dan para calon Independen dan para sponsornya serta pendukung fanatiknya di mohon dengan hormat supaya bisa mengendalikan massanya masing-masing jika tidak mampu maka citra partai dan nama besar para tokoh di atas akan semakin terpuruk !!!
Ingat pada Pilkada Jabar sekarang yang GOLPUT 40 % kemungkinan untuk PEMILU 2014 yang GOLPUT akan semakin besar dan partai-partai yang ada akan dibubarkan Karena rakyat Indonesia sudah tidak percaya lagi kepada mereka !!!
Akibatnya stabilitas nasional akan kacau balau seperti di negara-negara yang sedang kemelut seperti Suriah, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya perang saudarapun tak dapat dihindarkan, apakah kondisi seperti itu yang di harapkan oleh para tokoh partai termasuk para pendukungnya ???
Supaya mudah untuk merebut kekuasaannya karena dengan cara demokrasi kalah terus, seharusnya sadar diri dan harus malu karena Megawati sudah ada kesempatan untuk menata bangsa ini tapi hasilnya adalah kemiskinan merajalela asset-aset negarapun dijual Laksamana, kumaha atuh ari kondisina, ari ku batur ulah kusorangan teu bisa ???
Ngomong-ngomong berpihak ka wong cilik, ari wong cilikna dimanfaatkeun keur kapentingan ngeruk suara dina kampanye wungkul, ari geus kitu mah wong cilik kalaparan eweh anu nulungan ari keluarga Mega mah naek turun mobil alus, kumaha nya ???
Adanya demokrasi itu secara teori adalah agar saluran pendapat rakyat dapat tersalurkan secara baik dan aman akantetapi pada kenyataannya di Indonesia itu tidak seperti itu bahkan sebaliknya kondisi yang tadinya kondusif menjadi kacau balau istri dan suami berbeda pilihan cerai,ulama dengan ulama beda calon yang didukung silaturahmi putus, sekelas orang-orang yang jadi panutan cerai berai apalagi masyarakat awam yang miskin harta dan miskin ilmu !!!
Wong cilik dari hari ke hari ditipu dan ditipu, katanya NKRI itu milik seluruh bangsa Indonesia, dina waktuna Jokowi disurvei ku lembaga survey ternyata urutanana saluhureun Mega ceuk keluarga Mega teh “Anak Macan ( Jokowi ) mau makan Induknya ( Mega)” ka Jokowi wae anu didukung ku Mega jadi Gubernurna tegana mega nyangka kitu komo ka batur, naha nya ???
Baca di media tong sarare wae !!!
Padahal awalna Jokowi dipuji-puji ku keluargana Mega tapi nalika ngelehkeun Mega dina survey keluarga Mega ngambek, pertanyaanana naha ari NKRI teh nu saha ???
Anu Soekarno, oh pedah eta Soekarno jadi proklamator, ari proklamator teh lain Soekarno wungkul tapi Bung Hatta oge aya, jeung keluarga Bung Hatta mah teu jiga Mega. Apan dina proklamasi kemerdekaan mah Soekarno sareung Bung Hatta ngawakilan bangsa Indonesia, hartina NKRI teh anu bogana teh seluruh bangsa Indonesia lain anu Mega !!!
Ieu dibuktikeun dina hiji acara nalika Taufiq kiemas ngomong ka anak Nyai Puan pokna teh Puan sing ingeut yen NKRI teh apan anu bogana teh Aki (Soekarno).
Jeung lamun bener NKRI warisan ti Soekarno naha ari keluarga anu sejen teu dibere kasempetan pikeun ilu biung dina kapartaean jiga Guruh, rahma jeung nu sejenna ???
Sadarlah wahai saudara-saudaraku sebangsa setanah air !!!
Ayeuna anu ngajajah bangsa urang teh geuning lain bangsa deungeun tapi dulur sorangan anu ngajual ngaran kolotna, nya ???
Sadarlah wahai para tokoh bangsa, kita sekarang sudah ada diujung tanduk alias sudah mendekati kehancuran jika kita tidak mencegah maka sia-sialah kita berjuang beratus-ratus tahun lamanya untuk mewujudkan NKRI ini !!!
Jika kekacauan ini terjadi maka kita sudah tidak akan susah mencari dalangnya, mereka itu adalah :

- kelompok Libralis
- kelompok Komunis
- kelompok Atheis
Kenapa Islam tidak disebut, karena dunia luar sudah tahu secara historis terwujudnya NKRI adalah hasil jerih payah para ulama dan Ummat Islam, sebagai bukti Belanda sangat sulit untuk menundukkan Islam di Sumatera sampai mereka memasukkan Snouck Horjhe ke dalam Islam supaya kelemahan Islam dapat diketahui dan pada akhirnya berhasil pula, Pangeran Diponogoro Ulama Jawa Tengah ditipu Belanda dengan siasat akan diadakannya perundingan dan kenyataan ditipu dan akhirnya Beliau wafat, Kesultanan-kesultanan banyak yang diadu domba dari mulai Indonesia bagian, tengah dan Timur, KH Zaenal Musthafa pesantren Sukamanah di Tasikmalaya dibunuh Jepang karena berontak Beliau tidak mau menyembah matahari dan masih banyak lagi para Kyai/ ulama pahlawan yang lainnya !!!
Dan ingat para pejuang (para ulama dan ummat Islam) tidak ada seorangpun yang mengaku-ngaku bahwa NKRI itu adalah milik mereka dan keturunan !!!
Tidak seperti keluarga Mega !!!
Urang luar negeri sudah pada tahu bahwa yang berani melawan para penjajah ini adalah Ummat Islam dan para Ulamanya !!!
Karena ada slogan “ mati syahid atau hidup mulia “ !!!
Ingat istilah di atas tidak dikenal di dalam agama atau kepercayaan lain selain Ajaran Islam !!!
Kemerdekaan ini dicapai melalui peperangan bukan hadiah dari penjajah !!!
Yang berani berperang pada waktu itu adalah hanyalah orang-orang yang faham artinya perang !!!
Siapakah mereka ???
Para ulama dan ummat Islam !!!
Karena orang-orang nasionalis yang berduit kebanyakan sekolah ke luar negeri maka mustahil bila mereka berani turun bertempur karena mereka orang-orang pinter, sebelum bertindak itu difikir secara matang karena saking lamanya mikir akhirnya lebih memilih mengembangkan ilmu ke luar negeri dari pada mati di negeri sendiri karena hitungannya adalah pertempuran yang tak berimbang kita bamboo runcing penjajah memakai tank-tank dan senjata lengkap !!!
Dan yang menggembar-gemborkan demokrasi itu adalah negara barat sementara di Indonesia itu mayoritas pemerintahan dijalankan oleh para Sultan !!!
Sekarang kita sudah mengikuti cara-cara demokrasi seperti di negara lain ternyata sayang sekali para pimpinan partai dan para pendukungnya masih harus banyak belajar tentang demokrasi !!!
Sing emut Kang, ari dina demokrasi mah pasti aya anu kenging oge aya anu kawon nya ???
Eta mutlak ayana, teu tiasa dihayang-hayang, teu tiasa diembung-embung, kudu siap narima eleh !!!
Teu tiasa upami eleh teh rek bebeja ka anu-ka anu !!!
Lamun datangna ka anu geus pinter berdemokrasi mah seperti orang Amerika !!! Naha atuh bet ngiringan nyalon atuh Nyai atawa Kang ???
Di Amerika mah partaina ngan 2 siki, jadi lamun anu hiji eleh engke teh dina waktu anu meunang ngajalankeun pamarentahanana bisa ngiritik nepi ka bongkar borok-borok nya dian pemilihan dina waktu anu sejen boga senjata mematikan nyaeta data-data anu kapanggih dina nalika lawan politik urang nuju ngajabat, kitu tah ceu oneng !!!
Matak tong demo wae bari mamawa buruh anu antukna kawajiban ngurus anu miskin, elmu anu diteangan modelna ngan ka RRC, Kuba, Eropa Timur embung maca artikel ti barat the komo deui buku-buku Islam jigana mah panas nya !!!
Upami ayeuna tos jelas posisi Oneng the kawon teu kenging nektreg da masih seueur batur anu sami-sami kawon, kandidat no. 1,2, 3 mah parantos lempar handuk bari ngucapkeun selamet tur sadar legowo !!!
Naha ari salira ???
Engke oge lima taun kapayun aya deui !!!
Mun bade manggung deui, tah engke mah nyaankeun !!!

Upami alim kawon atanapi hoyong kenging mah ti kamari keneh perjuangkeun artos anggaran pilkada Jabar anu Rp. 1 Triliunan langkung teh, alokasikan kanggo jalmi-jalmi anu marariskin Insya Allaah Nyai/Akang akan mendapat ganjaran ti Allaah SWT Anu Maha Benghar oge kenging gelar pahlawan ti para dua’fa (kaum lemah harta/elmu) itu namina pejuang !!!
Upami Nyai/Akang wantun dina raraga kabela kaum dua’fa (lemah) karena mencari ridho Allaah SWT berarti Insya Allaah Nyai/Akang ka golong para Mujahid sapertos Imam Bonjol, Hasanudin, Pangeran Diponogoro !!!

Oleh karena itulah marilah kita bersama-sama merenung sejenak dan bertaubat kepada Allaah SWT Yang Maha Pengampun serta berdoa’ semoga kita semua diampuni segala dosa baik yang disengaja ataupun yang tidak baik yang terlihat maupun yang tidak !!! Aamiiin
Hatur nuhun.


Aher-Demiz Unggul Tipis pada Rekapitulasi Penghitungan Suara Kota Bandung

Friday, December 13, 2013

Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut.


Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan.


Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno.


Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel.


Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen.


Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab.


Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan.


Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan.


Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi.


Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI.


Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri.


Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR.


Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian.


Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi.


Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri. [ROL]


Article source: http://hot.detik.com/read/2013/11/28/142542/2426386/230/ketua-mui-cinta-ada-batasnya-jangan-karena-cinta-jadi-murtad?991104topnews


Goncangan Jilbab Polisi Wanita

Jilbab Polwan Terempas Dusta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nasihin Masha


Rabu pekan ini, para Polwan dengan pangkat tertentu dikumpulkan di Jakarta. Mereka beramah tamah dengan istri Kapolri yang baru. Sekilas tampak biasa saja. Namun para polisi wanita itu bertanya-tanya: ada apa? Apalagi ada catatan agar para Polwan itu mengenakan pakaian dinas harian. Artinya mereka memakai rok span, rok selutut. Pada sisi lain, para Polwan itu bukan anak buah istri Kapolri. Istri menteri atau istri pejabat negara biasanya berkumpul dengan istri para anak buah suaminya. Sebagai ibu asuh, ia banyak memberikan nasihat. Mereka harus taat aturan, jangan menggoda atasan, dan tidak boleh mbalelo atau membangkang terhadap aturan yang ada.


Pertemuan ini menjadi perhatian karena saat ini sedang ada kegelisahan di lingkungan Polwan. Kapolri Jenderal Sutarman, pada Selasa (19/11) mengizinkan Polwan untuk berjilbab mulai Rabu. Ini kebijakan baru yang menyegarkan. Apalagi Sutarman baru saja dilantik pada 25 Oktober 2013. Jadi belum genap sebulan sejak ia menjadi Kapolri. Ia mengakui berjilbab merupakan hak asasi manusia. Namun beberapa hari kemudian, Kamis (28/11), muncul telegram rahasia yang ditandatangani Wakapolri Komjen Oegroseno. Telegram itu berisi penundaan penggunaan jilbab sampai ada aturan tentang seragam. Sutarman mengaku ia menyuruh Oegro untuk membuat telegram tersebut. Dalam berbagai keterangannya, Polri menyebut itu bukan larangan tapi penundaan. Masalah seragam ini terkait dengan anggaran dan keseragaman.


Para Polwan berpendapat jika masalahnya keseragaman maka bisa dibuat dengan cepat. Polri hanya membuat ketentuan seragam tersebut: bahan, warna, dan model. Selain itu sudah ada contoh seragam di Polda Aceh yang mewajibkan Polwannya berjilbab. Jadi hanya meniru saja. Sangat simpel. Namun kemudian dijawab bahwa hal itu bukan semata keseragaman tapi juga anggaran. Padahal proses penganggaran bisa memakan waktu satu tahun. Para Polwan menjawab bahwa mereka bisa mengeluarkan dari dana pribadi. DPR pun menimpali mereka bisa memproses penganggaran itu dengan cepat. Pada akhirnya, Polri tak bisa berargumen lagi.


Maka muncullah pernyataan yang aneh-aneh. Oegro misalnya menyatakan bahwa bagi Polwan yang tetap ingin berjilbab bisa pindah ke Polda Aceh atau pindah ke bagian yang tak memerlukan mereka berpakaian dinas seperti di bagian intelijen. Sebelumnya, ada pula yang menyampaikan bahwa Polwan yang ingin berjilbab agar pensiun saja. Ada pula argumen-argumen lucu, konyol, dan bodoh. Misalnya, mereka tahu masuk Polri kok ingin memakai jilbab. Ada pula yang menyebutkan saat masuk Polri tak berjilbab lalu sekarang memakai jilbab, hal itu berarti memaksa Polri untuk menerima perubahan itu. Juga muncul argumen, jika Polwan berjilbab lalu ditugaskan di wilayah yang mayoritasnya nonmuslim hal itu bisa menimbulkan benturan. Nah, ada yang berargumen begini: jika berjilbab lalu bagaimana dia bisa bersentuhan atau bela diri saat menghadapi penjahat? Argumen-argumen itu dikemukakan oleh jenderal polisi. Semua argumentasi itu mencerminkan ketidakpahaman tentang hak asasi manusia, ketidaktahuan tentang Islam, menolak pluralitas, dan menegaskan bahasa kekuasaan. Pada sisi lain, ihwal kemungkinan ada benturan jika ditugaskan di wilayah yang mayoritas nonmuslim, berarti melecehkan nonmuslim sebagai tak toleran dan anti pluralitas. Padahal jilbab di lingkungan polisi bukan hal yang baru di negara-negara demokratis yang justru mayoritas Kristen seperti di Inggris ataupun Amerika Serikat.


Munculnya semua argumen-argumen itu mencerminkan masih kentalnya kecurigaan ideologis terhadap Islam. Walau bagaimana pun, selama 32 tahun Indonesia berada dalam genggaman rezim Orde Baru yang anti-demokrasi. Rezim itu berintikan TNI/Polri dan birokrasi. Hingga kini TNI masih belum membuka wacana kemungkinan tentara wanitanya boleh berjilbab. Sedangkan di Polri sudah sejak beberapa tahun terakhir muncul desakan soal ini. Ini tak lepas dari besarnya jumlah Polwan di tubuh Polri, bandingkan dengan jumlah tentara wanita di TNI. Sehingga wajar jika wacana ini lebih dulu muncul di lingkungan Polri. Para jenderal Polri yang ada saat ini tumbuh dan dididik dalam lingkungan Orde Baru. Sehingga sisa-sisa antidemokrasi dan gemar dengan bahasa kekuasaan masih kental mewarnai Polri. Pada sisi lain, rezim Orde Baru dikenal sebagai rezim yang sangat represif terhadap aspirasi Islam. Karena itu ketika Sutarman mengizinkan pemakaian jilbab di lingkungan Polri memberikan angin segar dan harapan baru terhadap visi seorang kepala Polri.


Ketika beramah tamah dengan pimpinan media massa, Sutarman memperlihatkan bahasa tubuh dan nada bicara yang terbuka, fair, dan berani. Ia juga mencoba memperlihatkan visinya yang baru. Hal itu juga tecermin saat fit and proper test di DPR. Ia misalnya mewacanakan kemungkinan membentuk Densus Anti-Korupsi. Sebuah usul yang menarik, walau publik skeptis. Maklum Polri termasuk institusi yang dinilai paling korup, selain DPR. Skeptisisme itu bukan terhadap Sutarmannya tapi terhadap Polri. Publik bertanya, apakah Sutarman mampu menghela institusi Polri sendirian. Benar saja, idenya tentang kebebasan Polwan untuk mengenakan jilbab langsung mendapat tekanan keras dari lingkungan internalnya. Perlu ditekankan di sini: Sutarman menyampaikan soal jilbab itu ketika ditanya wartawan usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa tersebut.


Membuat perubahan memang tidak gampang. Namun perubahan akan lebih mudah jika hadir seorang pemimpin yang efektif dan bervisi. Tanpa itu semua maka perubahan hanyalah hayalan. Kita menunggu keberanian seorang Sutarman untuk membawa Polri menjadi institusi yang dipercaya, bermartabat, dan menjadi bagian dari arus demokrasi. Masih banyak PR yang harus dilakukan Sutarman untuk membenahi Polri, dan yang akan dihadapi pertama oleh Sutarman bukanlah publik tapi lingkungan internal Polri sendiri.


Article source: http://www.tabloidbintang.com/berita/gosip/76826-fpi-dan-mui-depok-sodorkan-bukti-jonas-rivanno-sudah-masuk-islam.html


Jilbab Polwan Terempas Dusta

Saturday, July 27, 2013

Tak Ada Salahnya Aktivis &#38; Akademisi Terjun ke Dunia Politik

Bima Arya Sugiarto (Foto: Dok Okezone)Bima Arya Sugiarto (Foto: Dok Okezone)



JAKARTA- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya Sugiarto, merilis buku autobiografi bertajuk ‘Titik Balik’ di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Sabtu (27/7/2013) sore.


Bima mengundang sejumlah tokoh seperti Ketua Partai Bintang Reformasi (PBR), Bursah Zarnubi, artis sekaligus politikus Partai Demokrat, Eko Patrio, Jumhur Hidayat, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, sebagai pembicara untuk mengomentari bukunya tersebut. “Saya tidak setuju ketika Bima berniat masuk ke politik praktis. Tapi politik harus diambil,” kata Burhan memberi sambutan dalam acara tersebut mengenang pertama kali Bima masuk ke PAN.


Namun, belakangan, Burhan mengaku menjadi salut dengan kiprah Bima. “Politik membutuhkan sumber-sumber yang baik. Salah satunya dari kalangan aktivis dan akademisi,” ujar Burhan.


Peluncuran buku ‘Titik Balik’ dimulai pukul 17.00 WIB dan dikemas dalam bentuk diskusi. Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa, tampil sebagai keynote speaker.


Seratusan audiens hadir di acara rilis. Rata-rata audiens tampil mengenakan baju orange. Salah satu peserta, Riadul Muslim, mengaku sangat terkesan dengan Bima Arya. “Bima figur politikus yang mengedepankan politik santun, kecerdasan, tapi tidak pernah menghilangkan idealismenya,” ujar alumni mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif (UIN) Hidayatullah itu menggambarkan sosok Bima Arya.
(ded)




Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://index.okezone.com/read/2013/02/07/33/758458/terlibat-masalah-diego-michiels-masuk-islam


Tak Ada Salahnya Aktivis & Akademisi Terjun ke Dunia Politik

Monday, June 3, 2013

Terorisme Tak Terkait dengan Islam

IlustrasiIlustrasi



JAKARTA - Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyesalkan terjadinya aksi bom bunuh diri di Poso tadi pagi. Namun PKS berharap agar aksi terorisme tersebut tidak dikait-kaitkan dengan Islam. Meski, selama ini aksi terorisme sering melibatkan jaringan Islam garis keras.


“Nanti dikaitkan lagi dengan Islam? Mudah-mudahan ini tidak dikaitkan dengan Islam, karena itu tidak dapat membantu masalah,” kata Ketua Fraksi PKS Hidayat Nurwahid di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/6/2013).


Anggota Komisi VIII DPR ini benar-benar berharap agar aparat kepolisian benar-benar mengusut secara tuntas peristiwa ini. “Saya berharap hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya, yang tidak salah jangan difitnah dan digebukin,” harapnya.


Seperti diketahui, bom bunuh diri terjadi di halaman Mapolres Poso, Sulawesi Tengah. Pelaku meledakkan dirinya setelah berhasil menerobos pos penjagaan polisi di dekat pintu gerbang.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, bom bunuh diri itu terjadi pagi tadi sekira pukul 08.00 Wita. Tubuh pelaku bersama sepeda motornya hancur dan berserakan di halaman Mapolres Poso atau sekira dua meter dari pos penjagaan.


Sebelum kejadian, pelaku yang diketahui seorang pria masuk ke lingkungan Mapolres Poso sambil mengendarai sepeda motor. Tak lama berselang, terjadi ledakan keras berasal dari tubuh pelaku.


Saat ini, petugas telah memasang garis polisi di lokasi kejadian dan melakukan oleh tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga memperketat penjagaaan di pintu masuk maupun keluar untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


Selain itu, personel TNI dari Kodim 1317 Poso juga diterjunkan untuk membantu pengamanan.


Aksi itu mengundang perhatian warga untuk mendatangi lokasi. Namun, polisi yang melakukan penjagaan mencegah warga mendekat untuk mengantisipasi adanya kelompok pelaku yang menyusup di antara warga. (ahm)


Berita Selengkapnya Klik di Sini










okezone.com 0 Komentar


okezone.com Beri Komentar


Disclaimer




Aturan Main:

Seluruh layanan yang diberikan mengikuti aturan main yang berlaku dan ditetapkan oleh Okezone.com.

Pasal Sanggahan (Disclaimer):


  1. Okezone tidak bertanggung-jawab atas tidak tersampaikannya data/informasi yang disampaikan oleh pembaca melalui berbagai jenis saluran komunikasi (e-mail, sms, online form) karena faktor kesalahan teknis yang tidak diduga-duga sebelumnya

  2. Okezone berhak untuk memuat, tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

  3. Data dan/atau informasi yang tersedia di okezone hanya sebagai rujukan/referensi belaka, dan tidak diharapkan untuk tujuan perdagangan saham, transaksi keuangan/bisnis maupun transaksi lainnya. Walau berbagai upaya telah dilakukan untuk menampilkan data dan/atau informasi seakurat mungkin, Okezone dan semua mitra yang menyediakan data dan informasi, termasuk para pengelola halaman konsultasi, tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan data/informasi yang disajikan.

  4. Bagi Anda yang mengirimkan komentar pembaca, surat pembaca, dan artikel atau tulisan lainnya, foto dan video, tunduk pada aturan Okezone.com, di antaranya tulisan tidak SARA, tidak merupakan informasi/berita bohong, tidak beritikad buruk, tidak provokatif, dan tidak melanggar ketentuan etika dan hukum yang berlaku. Jika ditemukan pelanggaran atas hal-hal di atas, maka Okezone.com berhak untuk mengedit atau menghapus keseluruhan materi artikel/berita/informasi/surat pembaca/komentar/foto dan video yang dimaksud.

Article source: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=318455


Terorisme Tak Terkait dengan Islam

Wednesday, May 1, 2013

Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?

Terhenyak. Itulah satu kata yang menggambarkan situasi bangun tidur saya, Kamis 25 April 2013. Saya baru saja bangun kesiangan karena semalam suntuk merasa tidak mau membiarkan halaman demi halaman buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo terbiarkan.


Saya begitu penasaran dengan tuisannya yang meski belum selesai membacanya, tetapi ada begitu banyak nilai yang penting tercatat di sana. Sebuah perjalanan keliling dunia yang menjadikannya pribadi open minded. Beragam jenis dan situasi kehidupan yang dialaminya di luar sana membuka pikirannya tentang apa yang namanya nilai kemanusiaan.


Ya, terhenyak. Saya tidak terhenyak karena bangun kesiangan. Saya terhenyak karena membuka smartphone saya dan menemukan link berita dari BeritaSatu.Com (Rabu, 16 Januari 2013, 21.29) berjudul: Pemda Blitar Batal Tutup Enam Sekolah Katolik. Maaf. Saya ketinggalan berita. Berita ini sudah basi. Sudah tiga bulan yang lalu. Kurang lebih seperti ini:


Pemerintah Daerah Blitar membatalkan niatnya menutup sejumlah sekolah di wilayah itu yang tidak mau mengikuti aturan memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Romo Didik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Surabaya, menjelaskan bahwa pada hari ini, pengurus yayasan sekolah itu memenuhi undangan dari Kantor Kementerian Agama Kota Blitar demi membicarakan masalah itu.


Ada sejumlah kesepakatan yang didapatkan dari pertemuan itu, yakni pendidikan agama non-Katolik tetap dilaksanakan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh guru yang kompeten atau lembaga agama yang terkait. Berikutnya kegiatan dimaksud di atas akan dilaksanakan di luar sekolah.


“Petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan itu akan disusun secara bersama-sama,” kata Romo Didik saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/1) malam.


“Jadi tidak ada penutupan sekolah Katolik,” tegas dia.


Sebelumnya, DPR dan pemerintah diberitakan bergerak cepat untuk mengatasi adanya rencana penutupan enam sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur, karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam.


Anggota Komisi III DPR dari daerah pemilihan itu, Eva Kusuma Sundari, mengisahkan kisruh itu diawali oleh adanya Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kantor Kementerian Agama Setempat dengan Walikota mengenai hal itu. Surat itu bernomor 8 tahun 2012.


Di suratnya disebutkan bahwa wajib bagi setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.


Surat itu lalu disusul surat peringatan keenam sekolah swasta di kota Blitar yang dianggap tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain, yakni SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria, serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.


Enam sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.


Disebutkan di dalam peringatan bahwa dasar untuk itu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, yang mengacu pada UU Sistem Pendidikan Nasional.


Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut izin operasional enam sekolah tersebut.


Yang menarik dari berita tersebut adalah sudut komentar yang menggugah rasa saya untuk sebuah tulisan setelah ini yang akan saya sajikan.


Ogut – Selasa, 23 April 2013 | 14:02


kenapa ya agama selalu sj yg dipermasalahkan … org Katholik yg bersekolah / kuliah di yayasan agama Islam tidak pernah mengeluhkan ttg pelajaran agamanya …Yg penting tujuan utama utk sekolah / kuliah itu tercapai dgn baik… Jangan sllu agama yg dipermasalahkan .. Yg penting bisa lulus dgn hasil yg baik .. syukur-2 lgsg dpt pekerjaan .. Jika org Katholik bs sekolah di Yayasan Islam justru malah senang krn sebagai umat minoritas bisa belajar pengetahuan ttg Islam, tidak merasa didiskriminasi


ridho – Senin, 25 Februari 2013 | 20:11


maaf mas saya alumni SMAK Diponegoro Blitar, selama saya bersekolah disitu kami muslim hanya mengenal agama Katolik dan juga sebaliknya jadi akan terjadi toleransi beragama yang baik


anton – Selasa, 19 Februari 2013 | 08:27


Salut, dengan saudara/i muslim yang mau bersekolah di sekolah katolik tanpa harus pindah agama . Mereka tahu sekolah katolik mendidik murid jadi NASIONALIS bukan TERORIS. Berapa banyak pejabat negara yang masih MUSLIM sejati yang pernah bersekolah di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tak mengajarkan FANATISME TOLOL dan PEMAKSAAN serta senang budaya KORUP ( pengrusakan, kekerasan, tawuran ) yang membuat para siswa sering KERASUKAN BERSAMA karena murid dan gurunya hanya ingin libur bersama (malas)


Hariyadi Blitar – Sabtu, 16 Februari 2013 | 21:54


Mendapatkan Pendidikan Agama oleh Guru Seagama adalah HAK ASASI.


Inilah bunyi pasal 12 ayat 1 di UU SISDIKNAS 2003 yang menjadi acuan. Jika ada sekolah (lembaga pendidikan formal) yang tidak melaksanakannya PANTAS untuk ditinjau ulang ijin operasionalnya.


Saya dapat bocoran 60% lebih siswa di SMA Katolik Blitar adalah Muslim. 85% siswa di STM Katolik Blitar juga Muslim. Sayang nya mereka DIPAKSA mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dan TIDAK ADA PILIHAN LAINNYA.


PELANGGARAN HAM


Agustinus Wibowo (sapaan akrabnya Ming), pria kelahiran Lumajang, Jawa Timur beretnis Tionghoa yang menjadi musafir selama 10 tahun keliling dunia setelah menamatkan kuliah bermutunya di Universitas Tsinghua Beijing, Tiongkok. Saya, pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, beretnis Minahasa, belum mengembara terlalu jauh seperti Ming, tetapi cukup merasakan sembilan tahun tidak bersama keluarga.


Dengan alasan yang sama seperti Ming, saya tidak bersama keluarga bukan karena melarikan diri, tetapi karena panggilan jiwa, pendidikan dan tentunya petualangan. Tidak bermaksud menyindir siapa pun, tetapi perjalanan bertahun-tahun “di luar rumah” adalah perjalanan membuka pikiran untuk hidup tidak dengan pola piker kolot yang sok pinter melakukan justifikasi dalam setiap persoalan sensitif menyangkut hak asasi manusia (HAM).


Saya mengingat perjalanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sadar akan kekolotan kehidupan yang ada di sekitarnya, Dahlan berani mendobrak tradisi keislaman yang tradisional di tanah Jawa waktu itu dan mencerahkan pikiran dengan melakukan perjalanan belajar ke luar negeri. Itulah kemudian yang menetapkan langkahnya mendirikan sebuah organisasi Islam sebesar Muhammadiyah saat ini, sebuah organisasi Islam modern yang terkenal dengan dialog bermutu dan pemikiran-pemikiran terbukanya tentang dunia secara global.


Saya juga hafal betul dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI yang merupakan tokoh pengusung pluralisme dalam berbangsa. Bisakah Gus Dur memiliki karakter demikian jika pada masa lalunya tidak berani keluar dari zona tradisionalnya? Bisakah beliau tanpa latar belakang pendidikan ala Kairo yang pluralistik yang diterimanya saat kuliah?


Ketika tahun 2004, kakak perempuan saya secara radikal memutuskan untuk menjadi mualaf mengikuti suaminya yang beragama Islam, keluarga saya yang tumbuh dalam keluarga Katolik tradisional begitu menolak keputusan itu. Keluarga saya adalah kumpulan orang-orang yang mengetahui Islam sebagai ajaran yang tidak pernah berhubungan dengan Kristianitas. Seorang Katolik yang masuk Islam, yah, tidak bisa diterima. Itulah pemikiran tradisional keluarga kami. Apalagi keluarga kami berasal dari etnis Minahasa yang kental dengan suasana kekeluargaan dan kerabat Kristen. Keluarga besar akan mencibir keluarga inti saya jika hal itu terjadi. Malu. Itulah inti dari mengapa kakak saya tidak boleh masuk Islam. Hingga kini pun, meski kakak saya sudah menjalani imannya sebagai seorang muslimah hampir tujuh tahun, stigma sebagai seorang yang “berbeda” sudah telanjur diberikan untuk kakak saya.


Tahun 2008, untuk pertama kalinya saya mengenal Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Sebuah kampus milik yayasan gereja Katolik. Tak seperti kampus-kampus Katolik lainnya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Biasanya kampus-kampus itu bernama Santo-Santa atau nilai ke-Katolik-an misalnya De La Salle, Atma Jaya, Sanata Dharma atau Santo Thomas Aquinas, dan lain-lain. Nama “Parahyangan” sangat tidak bersangkut paut dengan nilai-nilai Katolik. Parahyangan justru merupakan representasi dari makna luas sebuah tempat yang menjadi surge dewa-dewi, surge para hyang. Meski akhirnya belakangan nama itu dimaknai khusus oleh kampus tersebut (dalam hubungannya dengan Sang-Hyang-Tuhan), tetapi menjadi sesuatu yang menarik bagi sebuah kampus Katolik yang terkenal tersebut bukan karena saja namanya, tetapi juga karena pendiri dan visi-misi pendidikan yang diusungnya.


Selama menjadi mahasiswa dan menjalani kuliah di kampus ini, sebagai seorang Katolik yang terbiasa sekolah di sekolah Katolik (dengan segala pendidikan Katolik-nya, ritual, kapel, dsb), untuk pertama kalinya saya tidak menemukan mayoritas “penduduk” kampus adalah mahasiswa non-Katolik. Untuk pertama kalinya saya menemukan sebuah Pusat Kajian Humaniora yang melaksanakan kuliah-kuliah karakter, moral , agama dan psikologi. Pusat kajian ini dipimpin oleh seorang romo. Bagi mahasiswa kampus ini – sesuai aturan harus ada pendidikan agama untuk setiap personal – disediakan pilihan untuk memilih mata kuliah dasar wajib: memilih kuliah fenomenologi agama (filsafat) atau kuliah pendidikan agama Katolik.


Bagi saya, mahasiswa fakultas filsafat, sebuah kewajiban untuk memilih mata kuliah fenomenologi. Tetapi untuk mahasiswa dari fakultas lain, mereka dihadapkan pada dua pilihan tersebut. Pilihan yang memudahkan sebenarnya! Kenyataan yang sedikit lucu dan tak disangka adalah, para mahasiswa non-Katolik, justru begitu menyukai memilih kuliah pendidikan agama Katolik. Tanpa dipaksa. Itu pilihan mereka. Kalau saja mereka seorang yang tradisional dan tidak mau menjadi kafir, mereka tentunya lebih memilih kuliah fenomenologi yang notabene sama sekali tidak mempelajari tentang ajaran Katolik. Fenomenologi mengkaji realita agama-agama secara umum. Mau tahu kenapa mereka memilih kuliah pendidikan agama Katolik? Hanya satu alasannya: Dosennya seorang romo yang begitu cerdas, baik hati, murah hati dan bersahaja! Wow! Sebuah alasan yang manusiawi.


Ada hal lain yang begitu menonjol yang saya temukan di kampus ini. Selama kuliah, saya belum menemukan di mana letak kapel atau gereja kampus yang berdiri megah di dalam lingkungan kampus, seperti halnya sebuah kampus Katolik yang ada di belahan dunia mana pun. Mendapat embel-embel Katolik di antara kata “Universitas” dan “Parahyangan” bukanlah hal yang mudah.


Dalam peraturan Gereja Katolik tentang pendidikan Katolik ada pasal yang mengatur hal tersebut. Salah satunya ialah sebuah kampus Katolik harus menampakkan ciri ke-katolik-an yang khas. Maka sebuah kapel atau gereja menjadi ciri khas banyak kampus Katolik di seluruh dunia. Tetapi percayakah Anda, bahwa sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kapel megah di lingkungan kampus bernama Parahyangan tersebut?


Ya, sejak berdiri tahun 1955, pendirinya dua uskup berkebangsaan Belanda. Monsinyur Petrus Arntz, OSC (uskup Bandung) dan Monsinyur Prof Geise OFM (rektor pertama Universitas Parahyangan) mencita-citakan sebuah perguruan tinggi yang dibangun “di” dan “untuk” tanah Parahyangan! Keduanya menyadari, kampus ini berdiri di tengah-tengah tanah Sunda yang kental dengan budayanya. Kampus yang akhirnya tetap eksis hingga kini itu ialah kampus yang dipersembahkan untuk tatar Parahyangan. Dengan alasan itu pula, dua pendiri ini menghendaki sebuah kampus yang mengajarkan ilmu berdasarkan Ketuhanan untuk diabdikan kepada masyarakat atau Bakuning Hyang Mrig Guna Santyaya Bhakti.


Dua pendiri ini pertama-tama tidak menempatkan Ke-katolik-an sebagai subjek utama yang harus dicekokin di dalam otak para mahasiswanya, tetapi justru semangat kekatolikan itu sendiri yakni iman, harap, dan kasih, yang harus menyemangati para mahasiswanya agar kelak menjadi manusia yang berbakti secara manusiawi. Itulah alasan mengapa, tidak ada kapel di kampus itu. (dan katanya tidak akan pernah ada-dan itu juga mengapa, Universitas Parahyangan menjadi kampus Katolik yang selalu mendapatkan ‘pengawasan yang ketat’ dari petinggi Gereja Katolik yang mengurusi pendidikan Katolik).


Panjang-lebar tentang Agustinus Wibowo, Ahmad Dahlan, Gus Dur, dan Universitas Katolik Parahyangan, apa sebenarnya hal yang penting dari semua itu?


Dalam sejarah pemikiran Yunani, ada satu masa ketika logika mendapatkan tempat yang begitu mulia saat ia melengserkan segala mitos yang terlalu lama membelenggu masyarakat Yunani waktu itu. Masa ketika myth berubah menjadi logos itulah menjadi masa kelahiran filsafat. Manusia hidup tidak lagi dalam kungkungan tradisionalitas. Tradisional itu bukan masalah konservatif atau kekakuan. Tradisional itu adalah masa ketika otak manusia begitu keukeuh mempertahankan imajinasi kolotnya diperhadapkan dengan kebenaran logika.


Mitos pada masa itu bahkan telah menjadi keyakinan yang begitu menguratnadi dalam kehidupan masyarakat. Ketika mitos itu telah menjadi sebuah “agama”, dia lalu melakukan pembelaan yang terlalu percaya diri dan mati-matian. Dalam perjalanannya kemudian sedikit demi sedikit tradisionalitas mendapatkan tempat yang sesungguhnya harus ia tempati: tradisionalitas menjadi sebuah kearifan lokal, yang dari dialah setiap persoalan seharusnya dipelajari.


Lalu apakah yang mendasari sebuah negara menjadi begitu kolot pemikirannya terhadap pemberlakukan sebuah aturan? Itulah yang terjadi dalam konstruksi pemberitaan yang saya kutip di awal tulisan saya ini. Ketika Pancasila sebagai kearifan jiwa Indonesia yang kemudian di-logos-kan menjadi sebuah dasar negara, bahkan telah kalah dengan seperangkat aturan yang dikeluarkan oleh pemikir-pemikir kolot yang menuntut hak asasi yang sesungguhnya tidak pada pemahaman sebenarnya tentang pentingnya sebuah kemanusiaan.


Apa sebenarnya hak asasi yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Apakah mayoritas sebuah komunitas harus mengalahkan hak asasi dari sebuah kekhasan?


Ketika di satu sisi saya menuntut hak saya untuk diperlakukan sesuai kekhasan diri saya, lalu kapan saya memperhitungkan kekhasan orang lain atau institusi yang saya tuntut memberikan hak kekhasan itu kepada saya?


Sekali lagi, mitos dan tradisionalitas sempit telah lahir menjadi logika. Lalu ketika ada yang membaca tulisan ini berkomentar” “Logika justru telah menghancurkan sistem-sistem nilai moral! Rasio justru telah menjadi alat pembunuh bagi manusia!.”


Itu bukan konteks sebenarnya. Bagaimana setiap manusia menyadari bahwa setiap masalah ada di dalam konteksnya masing-masing. Dalam konteks pembicaraan saya, hak asasi manusia adalah setiap hal yang menjadi hak dasar manusia sebagai makhluk bermartabat Allah. Martabat Allah yang diembuskan dalam napas manusia membuatnya menjadi makhluk yang khusus. Dan manusia yang dimaksud itu banyak. Ada hampir delapan miliar martabat Allah di dunia ini. Lalu kita harusnya kembali ke pemahaman bahwa saya harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk hidup menurut ciri khasnya dan saya juga harus menyesuaikan untuk berusaha hidup sesuai kekhasan diri saya secara maksimal.


Ada yang keliru dalam argumentasi-argumentasi tentang mendapatkan hak asasi: aturan diperlakukan untuk memudahkan hak asasi tersebut terwujud, tetapi mengebiri hak asasi pihak lain.


Di akhir tulisan saya ini ada satu hal yang ingin saya gabungkan dalam hubungannya dengan beberapa cerita tentang Agustinus Wibowo hingga Universitas Katolik Parahyangan di atas.


Seorang Pastor Belanda di Tilburg setahun yang lalu pernah mengatakan kepada saya,“Orang Indonesia itu bagus sekali. Punya ungkapan hiduplah membumi!”


Kalimat ini menggugah saya. Ketika orang Barat hidup dengan seni individualistiknya, penilaian saya terhadap itu positif: mereka demikian bukan karena mementingkan diri sendiri, tetapi mereka hidup membumi, apa adanya. Hidup membumi juga berarti saling menghargai, rendah hati, dan memperlakukan segala sesuatu pada “bumi”-nya atau pada asalnya.


Jangan meminta sayur di warung buah. Jangan meminta besi di warung sayur. Jangan meminta pizza di warung gado-gado. Bisa saja, tetapi sulit dan lama! Bangsa ini tidak akan maju jika kita hanya berkutat pada bagaimana bisa membeli kebutuhan pada tempat yang tidak menjualnya. Dirampok, tersesat, hampir mati, dan diperhadapkan pada orangtua yang sakit parah di belahan dunia lain, telah menjadikan Agustinus Wibowo menjadi seseorang yang melihat dunia dan membagi nilai-nilai kemanusiaan yang tersembunyi untuk banyak orang.


KH Ahmad Dahlan dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pribadi yang modern dan toleran. Mereka menjadi demikian bukan berarti mengabaikan inti nilai iman mereka, tetapi justru dengan demikian menjadi pribadi yang bersahaja dan mudah menghargai orang lain.


Dan yang terakhir adalah kampus Katolik yang saya ceritakan tadi, yang terpenting adalah mendidik karakter. Percuma paham Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, percuma hafal dan paham Alquran dari awal hingga akhir kitab, percuma menguasai tiga keranjang Tripitaka, dan berbagai ajaran Veda ataupun seluruh kebijaksanaan Nabi Kongzi. Semuanya percuma, jika dalam hidup sehari-hari, kita menggunakan semua indra untuk menelanjangi kemanusiaan orang lain. Pertanyaannya, berdasarkan ajaran iman pribadi sebenarnya saya berjuang untuk hak asasi siapa?


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1ftb-geliat-islam-di-eropa-barat-1


Berjuang untuk Hak Asasi yang Mana dan Siapa?