Showing posts sorted by relevance for query Stop. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Stop. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this News

Saturday, January 25, 2014

STOP THE 'POLITICAL ISLAM', it is not what we signed up for - Sabahans tell Najib

You don’t have permission to access /index.php

on this server.


Additionally, a 403 Forbidden

error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


STOP THE 'POLITICAL ISLAM', it is not what we signed up for - Sabahans tell Najib

Thursday, December 8, 2016

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U So Much for Read this Blog

Thursday, October 10, 2013

PBS asks state mufti to clarify or apologise

Posted on October 10, 2013, Thursday


KOTA KINABALU: Parti Bersatu Sabah (PBS) has called on state mufti Bungsu @ Aziz Jaafar to clarify the content and context of his statement or apologise to the people of Sabah if the strings of criticism against him for his uncalled-for “masuk Melayu” statement were to stop.


PBS secretary general Datuk Henrynus Amin said the party welcomed the firm assurances by Chief Minister Datuk Seri Panglima Musa Aman that the state mufti’s statement was his own and did not reflect the government’s stand.


However, he said PBS found the statements by the state mufti offensive, unwarranted and smack of racism.


He said while PBS agrees that the position of the state mufti as an institution to look after Islamic affairs should be respected by Muslims as well as non Muslims, the party deeply regrets the state mufti has overshot his religious duty by making unwarranted political statements deemed offensive to the multiracial and multireligious people of Sabah.


Henrynus said it was quite true historically coastal tribal groups in Borneo Island deemed primitive in culture were once converted to Islam largely by military conquest or commercial interest and have become Malays or “masuk Melayu” by adopting the faith, language and superior culture of the Malay people.


But today, many local tribal groups or indigenous communities in Sabah have chosen to either on their own accord or systematically convert to Islam while retaining and continuing to be proud of their language, culture and ethnic identity.


“Suggesting that indigenous people who converted to Islam should become Malays is tantamount to looking down on them as inferior in race and culture.”


Henrynus said Sabahans are generally proud of their multiracial and multireligious heritage and would fight hard to preserve them.


He said many Kadazandusun and Muruts and almost all of Bajau and Suluk, Sungai, Idaan, Bugis and Jawa people in Sabah are Muslim by faith but they have their own unique language and culture that defined their ethnic identity.


“So the state mufti’s proposal to encourage ‘masuk Melayu’ for Muslim converts among native Sabahans is quite alien and yet to find fertile ground in Sabah,” said Henrynus.


He said PBS would like to sit down and discuss the issue with the state mufti and find common ground to work together to promote racial and religious harmony.


“But unless and until the state mufti clarifies and convince the people of Sabah of his stand on race and religion, it would be untenable for him to stay as the state mufti responsible to the large Muslim community in Sabah who are largely indigenous but not necessarily ethnically Malays,” he said.


Meanwhile, Persatuan Kebudayaan dan Kebajikan Aak Negeri (PANAS) has called on Bungsu to report himself to the Native Court in Penampang for investigation into his allegation to be carried out.


PANAS president Samson Quintin said what the state mufti had claimed of the Kadazans is a humiliation and an insult to the community.


“We feel humiliated and insulted, what more to know that he made this humiliating statement in front of thousands of participants of a symposium,” Samson stressed.


Print Friendly

– Next Entry


Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


PBS asks state mufti to clarify or apologise

Monday, February 18, 2013

Ibunda Nikita Willy: Jangan Fitnah Anak Saya & Diego Michiels

Ibunda Nikita Willy: Jangan Fitnah Anak Saya Diego Michiels

Liputan6.com, Jakarta : Kisah cinta yang harus dilalui Nikita Willy dan Diego terhalang jeruji penjara. Kasus penganiayaan yang menjerat bek Timnas ini belum kelar, muncul lagi kabar kalau Diego ingin menikahi Nikita dalam waktu dekat. Apa tanggapan ibunda Nikita, Yora?

Rumor akan menikahnya Nikita Willy dan Diego berembus ketika Diego berpindah keyakinan memeluk Islam dua pekan lalu. Namun, Yora menepis anggapan tersebut.

“Jangan fitnah seperti itu, kasihan hubungan mereka,” tandas Yora di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (18/2) petang.

Kabar miring dan kasus yang membelit pacar putrinya itu membuat Yora miris. Ia kasihan melihat lika-liku percintaan mereka. “Hubungan mereka tuh sehat-sehat saja, tidak pikirkan nikah muda dan tante juga larang itu,” ungkap Yora.

Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/opinion/2012/07/11/stop-rambling-bring-on-the-polls/


Ibunda Nikita Willy: Jangan Fitnah Anak Saya & Diego Michiels

Monday, January 20, 2014

Don: Prepare beyond ETP

MALAYSIA is on its way towards achieving its targets set under the Economic Transformation Programme (ETP), which is to become a developed nation by 2020 by targeting a per capita income of US$15,000 (RM48,900).


However, it must prepare and devise a plan on what next to do and on how to sustain that growth for years to come.


Harvard Business School associate professor of business administration Diego Comin said it is time for Malaysia to think its next growth track to determine what type of country it wants to be post-ETP.


“To ensure sustainable growth beyond 2020, Malaysia has to stop relying on natural resources due to the volatile prices and limited supply and focus more on knowledge intensive sectors, where opportunities are self-generated, of which the more you know, the more opportunities arise.


“Malaysia has to strategise and devise a plan fit in the global economy after 2020 and to face the medium-term challenges,” he told Business Times, here, yesterday.


Comin is here as part of Universiti Teknologi Malaysia visiting researchers programme to give talks to 700 Master’s of Business Administration students at the UTM International Business School in Jalan Semarak.


He will also be meeting Prime Minister Datuk Seri Najib Razak tomorrow to give recommendations on what Malaysia can do to tweak and improve on the ETP after 2020.


“One way for Malaysia to sustain that growth post-ETP in 2020 is to bolster its knowledge economy in all sectors from information, communications and technology to oil and gas, electrical and electronics.


“It must create a knowledge inclusive society as well as a knowledge economy for companies to operate to counter low-quality exports, such as the electrical and electronics sector, which has gone down the drain.


“Malaysia has to think globally now to ensure the continuity of the growth experience for the economic development to be sustainable after 2020.”


Comin said even though Malaysia has had a strong recovery since 2009 with a gross domestic product growth of 5.5 per cent, symptoms of medium-term challenges persist for Malaysia, such as a slowdown in productivity growth, reduction in investment rate, high price-earnings and and high dividend yield at Bursa Malaysia.


He said there is also high capital and skilled labour outflow, relative contraction of high-skilled manufacturing sectors, reduction in Malaysia’s market share and quality in skilled-intensive exports, and many of these symptoms are unique to Malaysia.


“There is a missing factor, which is the lack of technological knowledge that prevents companies to move up the value chain to take advantage of new opportunities as well as prevent companies from creating more good jobs that pay well, induce workers to go to college and reduce inequality.”


Comin said to create a knowledge- friendly ecosystem where knowledge is produced and assimilated, universities and research institutes must distribute it to companies.


As an example, he said, the Malaysian Palm Oil Board (MPOB) has done well by finding technological solutions for plantation companies, such as developing a variety of palm products, improving yield, and getting rid of pests.


The role of the research organisations is to provide technical knowledge to the firms so that they can solve problems and become world-class firms.


Institutes such as Mimos and MPOB can engage in conducting and assimilating applied research and development and getting involved in contract research with private companies that need knowledge and not involved in the development of new products.


“Top science and engineering university departments connected to institutes must supply scientists who conduct research and development and participate in contract research.”


He said public institutions must coordinate and collaborate with each other because there is now an inefficient diffusion of knowledge, of which companies do not know where to go for help.


Comin said there are also weak links between research institutes and top universities’ science and engineering deparments, which must be addressed.


“It requires properly targeted actions that alleviate missing factor (knowledge) and provide new opportunities to companies.


“Such companies also need to move away from their comfort zone and take advantage of the new opportunities.”


Comin is also scheduled to meet Bank Negara Malaysia governor Tan Sri Dr Zeti Akhtar Aziz, Minister in the Prime Minister’s Department in charge of economic planning Datuk Seri Abdul Wahid Omar and Minister in the Prime Minister’s Department and Performance Management and Delivery Unit chief executive officer Datuk Seri Idris Jala.



Article source: http://life.viva.co.id/news/read/431329-jalan-islam-sam-brodie


Don: Prepare beyond ETP

Wednesday, June 26, 2013

Blogger Anti-Muslim dari AS Dilarang Masuk Inggris

Inggris – Dua orang blogger anti-Islam yang berasal dari Amerika Serikat dilarang masuk ke wilayah Inggris, demikian disampaikan Kementerian Dalam Negeri Inggris.


Pamela Geller dan Robert Spencer adalah pendiri kelompok anti-Muslim “Stop Islamization of America”.


Mereka tadinya dijadwalkan menjadi pembicara dalam Liga Pertahanan Inggris (English Defence League) di Woolwich, tempat dimana prajurit Inggris Drummer Lee Rigby tewas mengenaskan di tangan militan Jihad.


Pemerintah Inggris mengatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan orang yang berpotensi mengganggu keamanan publik.


“Kami mengutuk semua perilaku dan pandangan yang berlawanan dengan nilai-nilai yang kami anut dan itu termasuk pandangan ekstrimis dalam bentuk apapun,” demikian disampaikan juru bicara pemerintah Inggris.


Geller, penulis blog Atlas Shrugs, dan Spencer, dari Jihad Watch, juga adalah pendiri American Freedom Defense Initiative, sebuah organisasi masyarakat pro-Israel yang dikenal memasang poster propaganda anti-Jihad di New York.


Mereka mengatakan dalam blognya bahwa larangan mereka masuk ke Inggris sebagai “pelanggaran kebebasan” dan “bahwa negara yang melahirkan Magna Carta sudah mati”.


Keith Vaz, ketua Komite Terpilih Kementerian Dalam Negeri, adalah orang yang mengusulkan pelarangan terhadap Geller dan Spencer. Dia mengatakan,”Inggris jangan dijadikan panggung provokasi kebencian”.


Matthew Collins, peneliti dari kampanye anti-fasisme Hope Not Hate mengatakan “kedatangan mereka tidak ada gunanya bagi Inggris. Inggris tidak butuh lebih banyak kebencian”.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/06/26/mozhqh-masjid-baitul-ihsan-keindahan-yang-jadi-nilai-tambah


Blogger Anti-Muslim dari AS Dilarang Masuk Inggris