Showing posts sorted by relevance for query bertujuan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query bertujuan. Sort by date Show all posts

Thursday, September 19, 2013

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

REPUBLIKA.CO.ID, Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.


Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.


Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.


“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.


Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.


Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.


Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.


“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.


Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.


Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).


Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.


Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.


Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.


Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).


Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.


Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.


Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.


Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.


Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.


“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.


Article source: http://www.tribunnews.com/2013/06/09/juwita-bahar-pelit-bicara-soal-pacar-takut-direbut-cewek-lain


Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke 'Lain Hati'

Thursday, December 8, 2016

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U Very Very Much for Visit this News

Malaysia Siapkan Aturan Stop Anak-Anak Jadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia Nazri Aziz menyambut baik rencana amandemen aturan perkawinan dan perceraian untuk menghentikan konversi minoritas yang kurang terliterasi menjadi Muslim. Ia menilai hal itu juga akan baik bagi citra Islam.

"Sebagai seorang Muslim saya gembira dengan hal itu, ini bagus untuk Islam. Saya juga tak ingin Islam dijadikan alat bagi sebagian orang untuk lari dari tanggungjawab terhadap pasangannya," ungkap Nazri seperti dikutip New Strait Times, Senin (21/11).

Menurut Nazri, suami atau istri yang sudah menjadi mualaf tidak boleh berpikir mereka tak harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka. Sebelumnya, Pejabat Departemen Perdana Menteri Malaysia Azalina Othman mengatakan bahasan amandemen aturan ini bertujuan untuk menyelesaikan persoalan antaragama antara orang Muslim dan non-Muslim. Amandemen akan dilakukan pada bagian yang mengatur pernikahan, perceraian, dan waris.

Usulan juga mencakup agama anak-anak dari orangtua yang berbeda agama. Salah satunya Pasal 88A (1) tertera jika salah satu orang tua menjadi mualaf, agama anak tetap sama kecuali jika kedua orangtua sepakat menjadikan anak mereka mualaf juga.

Pada 25 Agustus lalu, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan Pemerintah Malaysia tengah mencari cara meredakan konflik antara para mualaf dengan pasangan mereka terutama soal anak-anak. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus yang menimpa wanita Hindu, M Indira Ghandi yang kehilangan akses atas anak bungsunya Prasana Diksa yang dibawa mantan suaminya untuk menjadi mualaf.

"

| Malaysia | Siapkan | Aturan | Stop | Anak-Anak | Jadi | Mualaf | REPUBLIKA | KUALA | LUMPUR | Menteri | Pariwisata | Kebudayaan | Nazri | Aziz | menyambut | baik | rencana | amandemen | aturan | perkawinan | perceraian | untuk | menghentikan | konversi | minoritas | yang | kurang | terliterasi | menjadi | Muslim | menilai | juga | bagi | citra | Islam | p>Sebagai | seorang | saya | gembira | dengan | bagus | Saya | ingin | dijadikan | alat | sebagian | orang | lari | tanggungjawab | terhadap | pasangannya | ungkap | seperti | dikutip | Strait | Times< | Senin | p>Menurut | suami | atau | istri | mualaf | boleh | berpikir | harus | memenuhi | tanggung | jawab | keluarga | Senya | Pejabat | Departemen | Perdana | Azalina | Othman | mengat | bahasan | bertujuan | menyelesaikan | persoalan | antaragama | antara | Amandemen | dilakukan | pada | bagian | mengatur | pernikahan | waris | p>Usulan | mencakup | agama | anak | orangtua | berbeda | Salah | satunya | Pasal | tertera | jika | salah | satu | tetap | sama | kecuali | kedua | sepakat | menjadikan | p>Pada | Agustus | Najib | Razak | Pemerintah | tengah | mencari | cara | mered | konflik | para | pasangan | terutama | soal | kasus | mencuat | adalah | menimpa | wanita | Hindu | Indira | Ghandi | kehilangan | akses | atas | bungsunya | Prasana | Diksa | dibawa | mantan | suaminya | p> |

Thank U So Much for Read this Blog

Saturday, September 21, 2013

Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke &#34;'lain hati&#34;


PRIA kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.



Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.



Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.



“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.



Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University,  Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.



Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.



Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari  lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.



“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.



Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.



Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).



Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia  percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.



Pada  tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS,  hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.



Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung.  Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.



Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12  tahun), Omar Johnson (8  tahun) dan Maryam Johnson (2  tahun).



Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.



Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.



Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.



Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.



Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.



“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum. | Sumber: republika.co.id


Article source: http://www.republika.co.id/berita/en/national-politics/12/07/13/m723x8-jakarta-election-supervisory-committee-receives-54-complaints


Lahir dari orang tua mualaf, Abdullah Johnson tak ingin ke "'lain hati"

Saturday, November 23, 2013

Taqiyah Syiah berlapang dada


  • FATHUL BARI


SYIAH yang ada di Malaysia adalah Syiah Imam 12 yang akidahnya sesat bahkan orang yang beriktikad dengannya boleh terkeluar dari Islam.



Syiah berasal dari agama Yahudi, permusuhan mereka dengan Islam telah cukup lama. Musuh utama mereka adalah sahabat Nabi SAW kerana mereka inilah yang menyebar dan berhempas pulas mempertahankan kesucian Islam, diikuti generasi tabi’in, tabi’ tabi’in dan yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat, yang disimpulkan sebagai Salaf Al-Soleh.



Sebab itu pelbagai tohmahan dilemparkan oleh Syiah terhadap golongan ini. Apabila Islam tersebar luas, musuh bertambah dengki dan sakit hati. Kumpulan orang-orang Yahudi ini berpura-pura masuk Islam, dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ bertujuan merosak pemikiran umat Islam dan menyebar akidah kufur atas nama Islam, supaya orang yang tidak tahu akidah Islam sebenar akan terpedaya.



Mereka mempergunakan Ali bin Abi Talib ra dan keturunannya, mendakwa mencintai Ahlul Bait, memperjuangkan hak Ali dan memuja keturunannya secara berlebihan.



Dalam kitab Syiah, Abdullah bin Saba’ berkata, “Sesungguhnya umat (para sahabat) telah menzalimi Ali bin Abi Talib dan merampas haknya iaitu sebagai khalifah dan imamah.” Abdullah bin Saba’ terus mengajak manusia untuk menolong Ali, dan tidak taat kepada Khalifah Osman bin Affan, dan menarik bai’at dari Osman.



Banyak orang Mesir terpengaruh oleh pemikiran ini lalu membelot dari Osman. (Sejarah Syiah, Raudhatu Al-Safa). Ini mengakibatkan timbul fitnah, rakyat keluar dari ketaatan kepada Khalifah Osman sehingga terjadi pembunuhan khalifah itu.



Kekuatan Islam menjadi lemah, penaklukan negara Islam terhenti, kaum Muslimin berbunuhan sesama sendiri dan kesannya berterusan hingga hari ini di mana umat Islam terus berbalah dan berbunuhan sesama sendiri dan hilang kekuatan menentang kafir.



Kebencian dan dendam terhadap sahabat dan isteri Nabi ditanam dalam pemikiran umat Islam. Mereka juga mempromosikan akidah Yahudi iaitu Imamah yang tidak disebut dalam al-Quran dan hadis sahih.



Ali bin Abi Talib dan ahli bait sendiri berlepas diri daripada mereka dan menghukum mereka dengan hukuman yang keras sewaktu hidup mereka. Namun hakikat ini tidak diketahui oleh kaum Muslimin sehingga muslihat Yahudi ini berjaya mempengaruhi sebahagian besar orang Islam.



Syiah dan kebohongan tidak dapat dipisahkan, bahkan agama Syiah bermula dengan kebohongan. Mereka menamakannya ‘taqiyah’ iaitu memperlihatkan suatu berbeza dari apa yang mereka rahsiakan. Taqiyah (berbohong) ini termasuk sebahagian agama Syiah dan diwajibkan atas mereka.



Sejak sekian lama mereka mengajak umat Islam bersatu dan berlapang dada dengan mereka. Mereka menyeru Ahli Sunnah wal Jamaah supaya dekat dengan mereka. Mereka melakukan usaha taqrib (mendekatkan) antara Sunni dan Syiah. Sedihnya seruan ini disambut oleh sebahagian orang Islam.



Tujuan mereka tidak lain kecuali supaya orang Islam cenderung kepada mereka, meninggalkan akidah dan kepercayaan terhadap ALLAH, RasulNya, isteri-isteri dan para sahabat Nabi yang mulia, lalu mengikuti pemikiran dan kesesatan yang disusun oleh Yahudi ini, na’uzubillah.



Mereka menggunakan slogan yang baik iaitu “bersatu” tetapi yang mereka kehendaki adalah kebatilan. Dalam Islam, bersatu hanya dibolehkan jika pihak yang berselisih kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ini seperti mana firman ALLAH, “Dan sekiranya kamu berselisih terhadap suatu urusan, kembalikanlah kepada ALLAH dan RasulNya (al-Quran dan Sunnah).” (Surah Al-Nisa: 59)



Seruan bersatu bukan suatu yang baharu. Orang kafir Quraisy pada zaman Rasulullah SAW meminta Rasulullah supaya jangan memecahbelahkan umat. Agama yang dibawa oleh Baginda dikatakan agama pemecah belah umat. Namun kebenaran tidak mungkin bersatu dengan kebatilan.



Rasulullah SAW bersabda atas perintah ALLAH, “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak sama orang yang hidup dengan orang yang mati.



Sesungguhnya ALLAH memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya, dan kamu sesekali tidak dapat menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 19-22)

 
*Penulis ialah Penasihat Eksekutif Ilmuwan Malaysia


Article source: http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00041870.html


Taqiyah Syiah berlapang dada

Saturday, January 18, 2014

Mengapa Islam Haramkan Suap? (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Abdullah bin Rawahah bergegas menuju ke tempat orang Yahudi. Ia mengemban amanat Rasulullah untuk menetapkan jumlah pajak yang mesti mereka bayar. Setiba di tempat tujuan, Abdullah disodori sejumlah uang. Bukan setoran pajak yang mereka sodorkan, melainkan uang untuk mencapai kompromi dalam penghitungan pajak. 


Jawaban tegas terlontar dari bibir Abdullah. Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu, kami tidak akan menerimanya.” Ini adalah riwayat dari Malik yang tercantum dalam buku Halal dan Haram yang ditulis cendekiawan Muslim, Yusuf Al-Qaradhawi.


Menurut Al-Qaradhawi, menerima suap masuk dalam kategori memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Suap, ujar dia, merupakan sejumlah uang yang diberikan kepada penguasa atau pegawainya agar penguasa atau pegawainya itu menerapkan kebijakan yang menguntungkan dirinya. 


Selain itu, juga bertujuan agar penguasa memberlakukan kebijakan yang merugikan lawan sesuai keinginan pemberi suap. Tujuan lainnya adalah agar urusan si penyuap didahulukan atau ditunda karena ada suatu kepentingan. Islam mengharamkan seorang Muslim menyuap penguasa atau staf-stafnya,” kata Qaradhawi menegaskan. 


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/01/16/mzgthk-khidr-salaam-lebih-tenang-dengan-islam


Mengapa Islam Haramkan Suap? (1)

Friday, June 14, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2005.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/03/30/m1n98n-anggota-dpr-dpd-menolak-dansa-masuk-pon


Ahmadinejad, Presiden yang Senang Bawa Bekal Makanan

Friday, October 11, 2013

Palestina Sikapi Penggalian Terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha

Metrotvnews.com, Ramallah: Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) akan meminta UNESCO mengirim satu misi untuk menyelidiki perbuatan Israel baru-baru ini di Jerusalem Timur, terutama terhadap Masjid

Al-Aqsha.



“UNESCO mesti turun-tangan dan menyelidiki tindakan ini, terutama

penggalian terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha,” kata Menteri Urusan Luar Negeri PNA Reyad Al-Malki dalam satu wawancara radio seperti dilansir Antara, Kamis (10/10).



PNA juga mengutuk keputusan resmi Israel untuk membangun sebanyak 58 unit rumah di bagian timur Jerusalem. PNA menyatakan kegiatan semacam itu sepenuhnya tidak sah.



Permukiman itu, kata Al-Malki, adalah penghalang utama yang merintangi dicapainya kesepakatan perdamaian melalui pembicaraan.



Di sisi lain, satu kelompok Palestina yang menamakan diri Perhimpunan

Al-Aqsha bagi Warisan dan Harta Islam memperingatkan rencana Israel untuk menggali terowongan di bawah kompleks Masjid Al-Aqsha.



Kelompok tersebut menyatakan penggalian itu bertujuan untuk membuat

elevatof vertikal, pintu masuk dan koridor horizontal di bawah tanah yang menuju daerah Tembok Ratapan Yahudi. Pernyataan itu juga mengatakan rencana tersebut akan menelan biaya 10 juta dolar AS untuk mendorong pariwisata Israel di Kota Tua Jerusalem. (Ant)



Editor: Irvan Sihombing



Share:






 


cbn



Article source: http://celebrity.okezone.com/read/2013/08/14/33/849567/mualaf-sam-brodie-dibimbing-maia-estianty


Palestina Sikapi Penggalian Terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha

Friday, December 14, 2012

Mesir Berusaha Rampungkan Konstitusi Baru

KAIRO, KOMPAS.com – Majelis yang merancang konstitusi Mesir mengatakan mereka berharap dapat melakukan pemungutan suara atas versi kasar konstitusi. Kamis (29/11/2012).
Berita itu datang saat pengadilan konstitusi mengindikasikan akan mengambil keputusan untuk mempertahankan atau membubarkan majelis hari Minggu.
Pihak yudisial Mesir sedang terlibat ketegangan dengan Presiden Mohammed Mursi dan para pendukung Islamnya, setelah Mursi pekan lalu mengeluarkan peraturan yang memberinya kekuasaan besar.
Peraturan itu memicu protes di berbagai penjuru negeri.
Unjuk rasa itu terus berlangsung hingga Rabu dan para pejabat di majelis rakyat mengatakan mereka telah memasuki tahap akhir rancangan undang-undang, meski Mursi telah memperpanjang tenggat waktu untuk menyelesaikan hal itu hingga Februari.
Wartawan BBC John Leyne di Kairo mengatakan mengeluarkan konstitusi dalam situasi seperti sekarang ini adalah langkah yang berbahaya.
Tokoh oposisi dan ketua Liga Arab Amr Moussa mengatakan pada kantor berita Reuters, “Hal ini tidak masuk akal dan salah satu langkah yang tidak seharusnya dilakukan, atas dasar kemarahan dan penolakan terhadap majelis konstitusi yang sekarang.”
‘Misi suci’
Majelis tersebut didominasi oleh Ikhawanul Muslimin dan para pendukung gerakan Islam lain yang merupakan sekutu Mursi.
Para anggota liberal, sayap kiri dan Kristen memboikot badan itu dan menuduh kelompok Islam berusaha mengeksploitasi visi mereka.
Langkah terbaru itu tampaknya bertujuan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan konstitusi hari Minggu mendatang.
Wakil ketua pengadilan konstitusi, Maher Sami, mengatakan dalam pidato televisi bahwa pembacaan keputusan tidak akan ditunda.
“Pengadilan bertekad untuk bangkit dari penderitaan dan melanjutkan misi suci hingga titik akhir, kemana pun hal itu membawa kami,” kata dia.
Pengadilan telah lebih dahulu membubarkan majelis rendah Parlemen Mesir, yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin.
Deklarasi yang memicu protes itu memberikan Mursi kekuasaan untuk melakukan berbagai upaya untuk melindungi revolusi dan menyatakan tidak ada pengadilan yang dapat membatalkan keputusannya.
Hal itu berlaku hingga konstitusi baru ditetapkan.  Kritik menuduh Mursi berusaha memiliki kekuasaan absolut.
Para pendukung mengatakan peraturan itu dibutuhkan untuk melindungi hasil revolusi terhadap kubu yudisial yang terkait erat dengan Presiden Hosni Mubarak.

Mesir Berusaha Rampungkan Konstitusi Baru - KOMPAS.com

Thursday, July 11, 2013

Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Kaligrafi mendapat tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena bertujuan memperindah lafal Allah.


Jika menyebut seni kaligrafi, belum tentu bertuliskan Arab atau menuliskan ayat suci Alquran. Banyak tulisan lain, seperti Jepang, Cina, dan Yunani, yang juga memiliki seni visual tersebut. Secara bahasa, kaligrafi memang bermakna seni tulisan indah, yakni dari bahasa Yunani allos yang bermakna indah dan graphein, yakni menulis.


Kaligrafi Arab (khat arab) atau yang sering dikenal dengan kaligrafi Islam, hanyalah salah satunya. Hanya, Muslimin Indonesia terbiasa menyebut kaligrafi pada huruf indah Arab yang menuliskan Alquran.


Bagi bangsa Arab, tulisan pun sebetulnya bukanlah hal yang utama. Bangsa Arab pada masa lalu lebih bangga dengan lisan yang pandai bersyair ketimbang menulis indah. Kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Jikalau ada syair yang amat cantik, itu pun hanya ditulis jika akan digantungkan pada Ka’bah. Pun ketika Islam datang.


Alquran hanyalah disimpan dalam memori para sahabat. Kitabullah baru ditulis setelah banyak hafiz yang wafat di medan pertempuran. Maka, barulah dimulai penulisan Alquran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan baru mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.


Tak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan sesuatu yang diperhatikan. Meski aksara Arab diperkirakan telah muncul seabad sebelum Islam datang, kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Meski perkembangannya lamban, kaligrafi pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat Muslim.


Philip K Hitti dalam History of the Arab mengatakan, seni kaligrafi mendapat popularitas dan tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena tujuan awalnya untuk memperindah lafal Allah dan didukung oleh ayat Alquran surah 68 ayat 1 dan 96 ayat 4. Kedua ayat tersebut, yakni “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, surah al-Qalam ayat 1 dan “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”, surah al-Alaq ayat 4. Maka, saat muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, kaligrafi langsung menjadi primadona kesenian Islam.


                                                              *****



Pada tahap berikutnya, lanjut Hitti, kaligrafi sepenuhnya menjadi karya seni Islami dan membawa pengaruh pada seni lukis yang dikui banyak kalangan. Melalui karya kaligrafi, seorang Muslim menyalurkan bakat seninya yang tidak bisa diekspresikan melalui representasi objek-objek yang hidup. Seorang penulis kaligrafi atau kaligrafer menempati kedudukan yang terhormat dan mulia melebihi kedudukan para pelukis.


Terdapat beberapa pelopor pengembangan kaligrafi Arab, di antaranya, al-Raihani (meninggal 834) yang mengembangkan kaligrafi pada masa kekhalifahan al-Ma’mun dari Dinasti Abasiyah. Ia menyempurnakan gaya kaligrafi Rihan, sesuai dengan namanya. Kemudian, Ibn Muqlah (meninggal 940), seorang menteri Abasiyah yang tangan kanannya dipotong oleh Khalifah al-Radhi. Dengan tangan kiri, ia mampu menulis dengan indah.


Terdapat pula nama Ibn al-Bawwb (meninggal 1022 atau 1032), anak seorang pegawai di Majelis Umum Baghdad. Ia menemukan gaya kaligrafi muhaqqaq. Lalu, pelopor terakhir yang amat masyhur, yakni Yaqut al-Mutashimi. Muncul pada pengujung periode Abasiyah, ia sangat kondang sebagai ahli kaligrafi terkemuka yang namanya diabadikan sebagai nama gaya tulisan, yakni Yaquti.


“Dinilai dari karya kaligrafi Yaquti yang masih bertahan hingga kini dan sejumlah karya kaligrafi lain, capaian artistik dalam bidang kaligrafi pada periode ini tidak bisa dianggap tinggi. Bisa dikatakan kaligrafi merupakan satu-satunya kesenian Arab yang produknya saat ini, baik kalangan Muslim maupun Kristen, bisa kita lihat di Konstantinopel, Kairo, Beirut, dan Damaskus. Karya-karya mereka menampilkan nilai keindahan dan keagungan yang lebih tinggi dibandingkan terdahulu yang pernah diproduksi sepanjang masa,” kata Hitti.


 
                                                             *****


Lebih perinci, Habibullah Fadzoili dalam Athlasul Khat wa al-Kutub membagi enam periode perkembangan kaligrafi. Pertama, yakni era pertumbuhan di mana saat itu huruf Arab belum memiliki tanda baca atau masih gundul. Gaya kufi muncul saat periode ini. Kedua, yakni era pertumbuhan. Periode kedua baru dimulai saat kekhalifahan Bani Umayah. Saat itu, gaya kufi mulai perkembangan lebih indah. Gaya tsulus, naskhi, muhaqqaq, raihani, riq’I, dan tauqi’ muncul pada periode yang berlangsung hingga pertengahan kepemimpinan Dinasti Abasiyah tersebut.


Ketiga, periode penyempurnaan di mana mulai muncul metode kaligrafi lengkap dengan standardisasinya. Gaya-gaya sebelumnya mulai dimodifikasi dan diberi kaidah. Periode keempat, yakni pengembangan kaidah dan metode pada era sebelumnya. Saat itu mulai muncul harmonisasi dua gaya dalam satu kanvas. Kemudian, periode selanjutnya, yakni masuk ke pengolahan.


Pengembangan teknik lebih mendapat penekanan dalam era ini. Saat itu, ratusan gaya telah berhasil diciptakan para kaligrafer. Periode terakhir, yakni saat Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir dan Dinasti Safawi berkuasa di Persia. Pengembangan gaya terus terjadi saat periode tersebut hingga mencapai puncak saat periode Turki Utsmani.


                                                    ******


 
Berkembang di Timur
Saat Dinasti Abasiyah runtuh akibat serangan Mongol, perkembangan kaligrafi justru makin memuncak. Apalagi, saat itu terdapat pelopor kaligrafer ternama, Yaqut. Islamnya putra Hulagu Khan, Abaga, menjadikan Dinasti Mongol menganut Islam. Saat itulah kaligrafi mengalami perkembangan di negeri Islam timur, terutama saat Mongol di bawah kepemimpinan Ghazan dan Uljaytu.


“Ghazan seorang Muslim yang terpelajar memberikan dukungan besar terhadap seni Islam, termasuk kaligrafi dan penyalinan buku. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan penggantinya, Uljaytu, yang kemudian menjadi era kemajuan seni dan sastra. Uljaytu memiliki dua orang kepercayaan, yakni Rashid al-Din dan Sa’d al-Din. Keduanyalah yang selalu melindungi para pelajar, seniman, dan kaligrafer. Pada masa Uljaytu inilah, perkembangan kaligrafi mencapai puncaknya,” demikian yang tertulis di web calligraphicworld.


Pascaberakhirnya generasi Mongol pada abad ke-14, kaligrafi masih menjadi primadona di bawah kekuasaan Dinasti Timurid yang pimpin Timur Leng. Dia menciptakan gaya baru kaligrafi untuk penulisan Alquran. Menggantikan gaya Mongol, gaya ini lebih memiliki pola megah dan geometris.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/ledakan-bom-di-kuil-buddha-lukai-2-orang/1696938.html


Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Arab

Tuesday, July 30, 2013

Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bulan suci Ramadhan bukan berarti bulan untuk bermalas-malasan karena berpuasa. Justru, di bulan yang penuh rahmat ini kaum Muslimin harus banyak beraktivitas yang positif, baik dalam kegiatan ibadah maupun kegiatan kemanusiaan lainnya.


Begitu juga untuk para perempuan. Bagi kaum perempuan yang ingin selalu aktif dalam kegiatan positif, ada sebuah acara yang tepat agar bisa tetap aktif dalam kegiatan positif pada Ramadhan kali ini.


Republika bekerja sama dengan Scarf Magazine, menggelar sebuah event yang tepat untuk menyalurkan energi aktif tersebut. Acara tersebut adalah Fashionette Market. Manager Event dan Promosi Republika Yulia Ayu Trisia menjelaskan tujuan digelarnya acara tersebut merupakan salah satu aktivitas yang digelar oleh Leisure Community.


Leisure Community merupakan komunitas yang berisikan perempuan muda, berusia 18 – 30 tahun. “Komunitas ini terbentuk karena kecintaan pembaca pada halaman ‘Leisure’ di Republika yang terbit tiap Selasa,” ujar Yulia, Senin (29/7).


Ketika sebuah komunitas terbentuk, tak mungkin hanya diam saja. Perlu beragam aktivitas dan kegiatan dilakukan agar para anggota komunitas tersebut terjalin silaturahim yang lebih erat dan bisa berkumpul dalam acara yang bermanfaat bagi sesama. Fashionette Market ini adalah salah satunya.


Fashionette Market ini digelar sebagai salah satu aktivitas Leisure Community selama Ramadhan tahun ini. Kali ini, temanya creativity, beauty, dan charity. “Ketiga prinsip itu terwujud dalam rangkaian kegiatan di Fashionette Market,” kata Yulia.


Acara ini akan digelar selama tujuh hari, sejak 29 Juli hingga 4 Agustus 2013 di atrium lantai tiga FX Sudirman. Tidak dipungut biaya apa pun untuk masuk acara ini, jadi semua pengunjung mal ataupun masyarakat bisa dengan mudah menikmati sajian acara bermanfaat ini.


Untuk creativity, banyak kegiatan yang digelar untuk mendukung kreativitas perempuan muda. Selain untuk menunjukkan kepribadian perempuan cerdas yang aktif, kegiatan ini juga bertujuan menyalurkan ide-ide dan inovasi. Kegiatan yang dilakukan, antara lain, fashion workshop membuat aksesori, cooking class, membuat hidangan onigiri, dan kegiatan kreatif lainnya.


Sedangkan, untuk beauty para perempuan muda bisa mendapatkan inspirasi agar bisa tampil cantik nan menawan kala Ramadhan, terutama saat Idul Fitri. Tentunya, sebagai perempuan muda yang aktif, takkan mau ketinggalan mode. Bahkan, butik busana Muslim dari artis kenamaan Nuri Maulida juga tersedia di sini. Selain itu, ada pula fashion show dari desainer ketua hijabers community, Ria Miranda.


Banyak penampilan yang sayang untuk dilewatkan Fashionette Market. Ada pertunjukan musik dari komunitas hijabers juga peluncuran buku-buku terbaru, salah satunya buku Three of Us. Tak ketinggalan, acara charity dalam rangkaian Fashionette Market ini, banyak artis yang akan melelang bajunya di sini. Sebut saja Chakra Khan, Nova Eliza, Astrid, dan banyak lainnya.


Hasil dari penjualan lelang baju ini takkan dikantongi oleh para artis sendiri. Mereka akan mendonasikan hasil penjualannya ke Taman Kanak-Kanak (TK) Aluna. TK Aluna merupakan sebuah lembaga pendidikan anak yang diperuntukkan bagi mereka yang punya kekurangan dalam pendengaran, tuna rungu. n rosita budi suryaningsih ed: chairul akhmad


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.jpnn.com/read/2012/09/28/141240/Menelusuri-Jejak-Sejarah-Perkembangan-Islam-di-Negeri-Komunis-Tiongkok-(1)-


Fashionette Market bagi Muslimah Aktif

Tuesday, April 2, 2013

Bagian-Bagian Penuh Makna di Keraton Yogyakarta

Selasa, 2 April 2013 – 23:17 wib

Keraton Yogyakarta (foto: Adhia/Okezone)

Keraton Yogyakarta (foto: Adhia/Okezone)

BERKELILING Keraton Yogyakarta mungkin sudah biasa bagi wisatawan Nusantara. Namun, tahukah Anda makna beberapa sudut di dalamnya.
 
Bangunan Keraton Yogyakarta seluruhnya seluas 14.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat dari beberapa bangunan dan bangsal. Jika bangsal adalah bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, lain lagi dengan gedung yang lebih tertutup.
 
Keraton juga dikelilingi pohon beringin yang berjumlah 64 buah. Jumlahnya menyiratkan usia Nabi Muhammad saat wafat jika dihitung berdasarkan penanggalan Jawa. Dua buah pohon beringin yang ada di bagian depan Keraton Yogyakarta merupakan hadiah dari Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit. Di antara kedua beringin itulah, pemerintahan raja pertama hingga ke delapan memberlakukan hukuman kepada para penjahat.
 
Ketika memasuki Keraton Yogyakarta, Anda akan disambut bangsal pagelaran yang digunakan untuk menggelar upacara adat keraton. Bangsal ini pernah dipugar 1934 oleh Sultan Hamengkubuwono VIII.
 
Motif lantainya berbentuk bintang delapan. Bangsal pagelaran ini juga memiliki tiang penyangga sebanyak 63 buah yang bertujuan mengingat usia wafat Nabi Muhammad jika dihitung berdasarkan kalender Masehi.
 
Tiang-tiang bangsal juga mengandung simbol agama. Misalnya, yang paling atas adalah bunga lotus yang merupakan lambang agama Hindu, bunga teratai yang merupakan lambang Budha, dan alat baca Quran yang melambangkan agama Islam.
 
Peletakan simbol tersebut diurut berdasarkan urutan masuknya agama ke Indonesia. Sayangnya, lambang Kristen dan Katolik tidak disertakan karena baru masuk ke Indonesia setelah tiang tersebut dipancangkan. Ini artinya, agama itu seperti tiang kerajaan, jadi apapun agamanya yang penting tetap damai dan bersatu.
 
Berjalan ke bagian belakang, Anda akan disambut dua buah bangsal kecil di bagian kiri dan kanan. Ini adalah bangsal Pacikeran yang digunakan sebagai tempat berdiam diri para abdi dalem yang bertugas sebagai algojo.
 
Tugas mereka memang menunggu perintah untuk membunuh penjahat. Bangsal Pacikeran ini memang sengaja dibuat pendek agar semua algojo hanya dapat duduk di dalam bangsal dan menghormati para tamu yang datang sehingga mereka tidak akan semena-mena.

mobile
Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com
untuk BlackBerry

Article source: http://sidomi.com/161056/diego-michiels-masuk-agama-islam/


Bagian-Bagian Penuh Makna di Keraton Yogyakarta

Thursday, February 28, 2013

Pendidikan Agama Islam Masuk Ujian Sekolah

SOLO – Seiring dengan dimasukkan kembali mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam ujian sekolah berstandar nasional (USBN), kini sekolah-sekolah di kota Solo di bawah koordinasi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) mulai melakukan persiapan pembuatan soal.           

“Masuknya Pendidikan Agama Islam kedalam USBN tersebut merupakan kesepakatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Agama (Kemenag),” ungkap Kepala Kemenag Kota Solo, Ahmad Nasirin melalui Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Dasar (Mapenda) Kemenag kota Solo, Nasirudin kepada wartawan, di Solo, Jawa Tengah, Jumat (1/3/2013).

Nasirudin mengatakan, tahun ini penyusunan soal tidak lagi dibuat oleh Kanwil Kemenag Jawa Tengah, tetapi dikelola oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) SD/MI dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam SD, SMP, SMA dan SMK. Namun kisi-kisinya tetap masih sama dari Kemenag pusat.

“Pelaksanaan USBN untuk mata uji Pendidikan Agama Islam di Solo tahun ini dikoordinasikan oleh MKKS Solo, agar dapat dilangsungkan secara serentak,” jelasnya.

Pendidikan Agama Islam kembali dimasukkan pada USBN tahun 2013 bertujuan untuk meningkatkan dan memotivasi anak didik dalam mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga moral anak terjaga. “Hal itu mengingat merosotnya moral anak bangsa, seperti pergaulan bebas di kalangan pelajar, maraknya tawuran pelajar dan sebagainya,” imbuhnya.(rfa)

Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=277739:fadly-nurzal-pemimpin-harapan-umat&catid=41:pilkada-sumut&Itemid=64


Pendidikan Agama Islam Masuk Ujian Sekolah

Thursday, June 13, 2013

Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Mahmoud Ahmadinejad cukup populer di masyarakat Indonesia. Presiden ke-6 Iran itu pernah berkunjung ke Indonesia pada 2009. Saat itu, Ahmadinejad mengaku kunjungan itu akan meningkatkan hubungan bilateral Iran dengan Indonesia.



Potret kepemimpinannya dikenal tegas pada lawan politik, yaitu Israel dan Amerika Serikat. Namun kesederhanaannya menghipnotis banyak orang di seluruh dunia. Salah satu kesederhanaannya yaitu kerap membawa sendiri tas berisi bekal sarapan buatan sang istri. Ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan khusus Presiden.



Akankah masyarakat Iran kembali melihat sosok sederhana presiden pengganti Ahmadinejad? Sebab pada 14 Juni 2013, masyarakat Iran menggunakan hak suara mereka menentukan Presiden baru Iran. Sementara Ahmadinejad tak dapat kembali menjabat sebagai presiden lagi.



Ahmadinejad lahir pada 28 Oktober 1956 dengan nama Mahmud Saborhijan. Saat hijrah ke Teheran, orangtuanya mengganti nama anak keempat mereka itu dengan Mahmud Ahmadinejad sebagai semangat mencari kehidupan lebih baik.



Semasa sekolah, Ahmadinejad berotak encer dan kerap mendapat nilai tinggi. Ia kuliah di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 1975. Kemudian ia mendapat gelar doktor pada 1979.



Pada masa Perak Irak-Iran, tepatnya di 1986, Ahmadinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi. Ia terlibat sejumlah misi di Kirkuk, Irak. Ia juga menjadi insinyur Kepala Pasukan Keenam Korps dan Kepala Staf Korps di sebelah barat Iran.



Perang usai, ia pun bertugas sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur di Maku serta Khoy. Ia juga menjabat Penasihat Menteri Kebudayaan dan Aharan Islam. Pada 1993 hingga Oktober 1997, Ahmadinejad menjadi Gubernur Ardabil.



Di Mei 2003, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran. Ia menjadikan kebijakannya lebih moderat dan reformis tapi mementingkan nilai-nilai keagamaan. Saat itu pula, ia masuk dalam deretan manajer Harian Hamshari dan memecat editornya, Muhammad Atrianfar. Alasannya, Sang Editor tak mendukung Ahmadinejad dalam Pemilu 2015.



Ahmadinejad pernah ‘bersinggungan’ dengan Presiden Mohammad Khatami. Itu bermula saat Khatami terjebak macet di Teheran. Khatami pun mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjadi Wali Kota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah itu, Ahmadinejad malah berkata, “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.



Khatami tak menyukai pernyataan itu. Khatami pun melarang Ahmadinejad menghadiri sebuah pertemuan dewan menteri di Teheran. Namun Ahmadinejad santai menanggapi larangan itu.



Setelah dua tahun menjadi Wali Kota Teheran, Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Iran mulai 2015. Kontroversi pun meluncur dari pernyataannya dan menuai kecaman.



Satu di antaranya, Ahmadinejad pernah menyebut peristiwa pembantaian Kaum Yahudi pada Perang Dunia II atau Holocaust hanya mitos. Itu, kata Ahmadinejad, bertujuan menciptakan negara Yahudi di jantung dunia Islam.



Di masa kepemimpinannya pula, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi menuntut Iran menghentikan proyek pengembangan nuklir. Tak jarang pula kalangan konservatif dan reformis Iran mengkritik sikap kepemimpinan Ahmadinejad.(Berbagai sumber)



Di balik itu, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana. Saat pertama kali menduduki Kantor Kepresidenan, ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang harganya mahal ke sejunlah masjid. Ia kemudian mengganti alas lantai istana dengan karpet murah.



Saat putranya menikah pada 2011, Ahmadinejad tak mengeglar pesta mewah layaknya seorang Presiden. Pestanya sangat sederhana dengan sajian buah-buahan dan kue.(Berbagai sumber)



Editor: Laela Badriyah



Share:






 


cbn



Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/27/me4lzq-islam-kian-eksis-di-fiji-2


Ahmadinejad, Presiden yang Kerap Bawa Bekal Sarapan Sendiri

Friday, February 1, 2013

Mengikuti Kereta yang Membawa 30 Napi Korupsi Jatim ke Lapas Sukamiskin ...

Tiga puluh narapidana kasus korupsi asal Jawa Timur dipindahkan ke Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Rabu (16/1). Selama 12 jam mereka menempuh perjalanan dengan kereta dari Surabaya ke Bandung. Berikut laporan wartawan Jawa Pos MAYA APRILIANI yang berada dalam satu gerbong dengan para pesakitan itu.
 
= = = = = = 

JARUM jam masih menunjuk angka 3 lebih 30 menit ketika Jumanto, salah seorang napi korupsi, bangun dari tidur di kamar selnya di blok H Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah itu, satu per satu napi yang lain ikut terjaga. Ada yang langsung mengambil air wudu untuk salat malam, ada pula yang bersiap-siap untuk aktivitas esoknya.
 
Selama dua hari, 30 napi kasus korupsi dari berbagai daerah di Jawa Timur itu dikumpulkan di blok H Lapas Kelas I Surabaya, Porong. Dua kamar disediakan untuk menampung mereka. Masing-masing kamar berukuran 7 x 6 meter. Satu kamar diisi 15 orang. Karena itu, bisa dibayangkan betapa sumpeknya kamar tersebut.
 
Setelah semua bangun dan berkemas, para napi diminta segera bersiap diri untuk perjalanan jauh ke Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung. Dengan mengenakan seragam napi bertulisan Warga Binaan Lapas Kelas I Surabaya, mereka diminta keluar dari kamar untuk selanjutnya masuk bus Transpas Lowokwaru yang akan membawa mereka ke Stasiun Gubeng.

Tepat pukul 05.00, bus bernopol N 7006 AP yang mengangkut para napi meninggalkan lapas. Sejam kemudian, bus tiba di stasiun. Kedatangan bus berisi para napi kerah putih itu menarik perhatian warga dan awak media yang nyanggong beberapa jam sebelumnya.
 
Tanpa upacara, para napi digiring memasuki gerbong eksekutif nomor 5 KA Argo Wilis. Gerbong itu memang dikhususkan untuk para pesakitan. Saat berjalan menuju gerbong, tangan mereka diborgol serta dirangkai dengan tali plastik. Mereka berjalan berbaris dan dikawal ketat enam anggota Brimob Polda Jatim bersenjata laras panjang.

“Itu sudah protap pengawalan napi,” ungkap Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jatim Y. Ambeg Paramarta. Prosedur tetap itu bertujuan untuk mengantisipasi agar para napi tidak melarikan diri.

Selain warga umum dan wartawan, banyak keluarga napi yang bermaksud melepas kepergian orang yang mereka cintai. Begitu melihat barisan koruptor berkaus biru keluar dari bus menuju gerbong kereta, mereka berteriak-teriak memanggil nama napi.

Ada juga yang menangis. Sebagian lagi mengumandangkan takbir berkali-kali. Terlihat jelas kesedihan di wajah mereka. Apalagi, mereka tidak bisa mendekat karena aksesnya dibatasi. Mereka yang dipanggil namanya hanya bisa menoleh. Tanpa dapat melambaikan tangan. Mereka hanya bisa tersenyum dari kejauhan.
 
Begitu sampai di dalam gerbong, tali yang merangkai mereka dilepas. Satu per satu napi lalu menempati kursi yang telah disiapkan. Gerbong itu benar-benar steril. Baik dari penumpang umum maupun barang-barang yang “berbahaya”. Selain itu, selama dalam perjalanan, gerbong tersebut dikunci rapat. Hanya satu pintu samping yang dibuka, tapi dijaga ketat petugas keamanan.
 
Mereka tidak bisa memilih tempat duduk sesuka hati. Jumanto, napi kasus Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Lumajang, duduk di kursi nomor 5D. Di sebelahnya (C) ada Totok Setyo, napi kasus korupsi dana kas daerah (kasda) Kabupaten Pasuruan. Khudlori, mantan kepala BPN Surabaya, juga duduk di deretan kursi nomor 5 (A). Dia berdampingan dengan Hamzar Bastian, napi korupsi Kasda Pemkab Situbondo yang selama ini ditahan di Lapas Madiun.
 
Di depan Jumanto, kursi nomor 4 diduduki napi Abdul Azis dari Lapas Pasuruan dan Indra Kusuma dari Lapas Malang. Keduanya terjerat kasus korupsi Kasda Kabupaten Pasuruan dengan vonis 15 tahun penjara.
 
Tepat pukul 07.30, kereta berangkat. Suasana di dalam gerbong senyap. Para napi sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Ada yang memandang ke luar jendela. Ada yang terdiam di kursi dengan tatapan kosong. Konsentrasi mereka pecah saat ada pembagian kue dan kardus sarapan. Pagi itu, para napi mendapat menu istimewa: ayam goreng. Padahal, biasanya di dalam lapas mereka hanya mendapat nasi cadong alias nasi jatah penjara.
 
Seusai sarapan, suasana kembali hening. Tidak terdengar lagi suara napi berbincang. Maklum, tidak semua napi saling mengenal sebelumnya. Apalagi, tempat duduk mereka tidak diatur berdasar asal penjara.
 
Setelah hening beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara Khudlori yang cukup keras. Dia bercerita tentang kisah Jeffrey Lang, seorang profesor matematika yang menjadi dosen dan peneliti di Kansas University, AS, yang masuk Islam. Lang cukup lama menjadi ateis. Dia masuk Islam setelah membaca Alquran.
 
“Jawaban yang diinginkan tentang Sang Pencipta dan surga ada semua di Alquran,” katanya bersemangat kepada Hamzar, napi di sebelahnya.
 
Pria yang dipidana selama enam tahun penjara dalam kasus penerbitan sertifikat hak guna bangunan (HGB) SPBU Marmoyo itu juga memuji buku-buku karya sang profesor. “Enak dibaca, alur dan bahasanya mudah dimegerti,” lanjutnya.
 
Selama di balik jeruji penjara, Khudlori memang dikenal sebagai napi yang agamis. Selama ditahan di Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, pria yang sebagian besar rambutnya sudah memutih itu juga aktif di masjid rutan.
 
Setelah Khudlori terdiam, suasana sepi lagi. Sebagian besar napi terlelap. Saat itulah dua petugas kebersihan menjalankan tugas, mengumpulkan sampah bekas makanan. Keduanya dikawal ketat aparat di belakang mereka.
 
Suasana dalam gerbong tetap tenang hingga kereta berhenti di Stasiun Tugu, Jogjakarta, pukul 12.00. Kala itu, Kakanwil Kemenkum HAM Daerah Istimewa Jogjakarta Rusdianto masuk gerbong menghampiri ketua rombongan dari Kanwil Kemenkum HAM Jatim Ali Mustofa, sekaligus untuk menyambangi para napi korupsi Jatim yang boyongan ke Bandung itu.
 
Setelah berhenti lima menit di Stasiun Tugu, kereta berjalan lagi. Namun, kali ini suasananya sedikit gaduh karena ada pembagian jatah makan siang. Menunya gudeg jogja.
 
Seusai makan, suasana di gerbong mulai cair. Terdengar suara tawa para koruptor. Termasuk percakapan mereka terkait dengan berbelitnya proses hukum yang harus dilalui. Rupanya, Jumanto dan beberapa napi memperbincangkan proses PK (peninjauan kembali) dan perpanjangan penahanan.
 
“Ada teman yang belum diperpanjang masa penahanannya akhirnya keluar penjara. Padahal, dia sedang mengajukan PK,” ungkap Jumanto.
 
Selain itu, tidak sedikit napi yang telah diputus tapi belum memperoleh salinan putusan. Ada yang sampai bertahun-tahun. Termasuk surat eksekusi jaksa untuk melaksanakan putusan. Padahal, putusan tidak berasal dari MA (Mahkamah Agung), tapi dari pengadilan tingkat pertama dan kedua.
 
Jumanto termasuk napi yang blak-blakan dan tidak menutup-nutupi kasusnya. Bahkan, mantan ketua Fosil Mahara (Forum Silaturahmi Mantan Tahanan dan Narapidana) itu tidak berkeberatan ketika difoto dan diwawancarai media. Padahal, sebagian napi berusaha menghindar dari kejaran wartawan.
 
Kepada Jawa Pos, dia mengaku berkeberatan atas kebijakan pemindahan napi korupsi ke Lapas Sukamiskin. Namun, mantan anggota DPRD Probolinggo itu berusaha menerima keadaan, walau harus berjauhan dari keluarga dan berpisah dari teman-temannya di Lapas Pasuruan.
 
“Seharusnya pemerintah itu membuat kebijakan yang arif dong. Tidak melanggar HAM dan bisa menimbulkan dendam,” ujarnya.
 
Saat ditanya apakah kebijakan itu membuat dirinya dendam, Jumanto menggelengkan kepala. “Khawatirnya, ada teman-teman yang seperti itu,” katanya.
 
Kini setelah merasakan hidup di penjara selama tiga tahun, pria 47 tahun tersebut teringat profesinya dulu sebagai guru. Sebelum masuk dunia politik, Jumanto menjadi guru matematika di SMA selama 14 tahun.
 
Tentang politik, dia mengaku tidak kapok untuk menggelutinya lagi setelah bebas nanti. Menurut Jumanto, berpolitik tidak harus menjadi anggota parpol. “Banyak kegiatan politik yang dapat dilakukan tanpa harus aktif di parpol,” tegasnya.
 
Selama dalam perjalanan, para napi “dibebaskan” untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Misalnya, untuk ke toilet, mereka akan dikawal petugas hingga di luar WC. Begitu pula, petugas mempersilakan napi yang ingin menjalankan salat. “Alhamdulillah, selama di dalam kereta, kami bisa apa saja,” tutur Jumanto.
 
Pukul 19.13, kereta tiba di Stasiun Bandung. Namun, para koruptor tidak langsung diturunkan. Mereka diminta berbaris lebih dulu di dalam gerbong sambil menunggu penumpang lain turun. Baru pukul 19.30 mereka turun dari kereta. Tak ayal, kedatangan mereka mengundang perhatian warga dan wartawan setempat.
 
Beberapa napi tampak berupaya menutupi wajahnya dengan koran atau tangan. Melihat hal itu, masyarakat di stasiun berteriak-teriak. “Tidak usah ditutupi, ingat saat mengambil uang rakyat dulu,” ujar seorang warga.
 
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Stasiun Bandung, rombongan napi koruptor tiba di Lapas Sukamiskin. Begitu turun dari bus Transpas nopol D 7126 A, mereka dimasukkan ke aula kompleks lapas.

Begitu borgol dilepas, mereka kembali merasa bebas. Yang merokok langsung menyulut rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Mengepulkan asap ke udara untuk melepas gundah di dada. Wajah-wajah mereka tampak lelah. Tapi, mereka tetap bisa bercanda.
 
Dari aula, secara bergiliran para napi masuk ke ruang registrasi untuk pencocokan data. Untuk mempercepat pemasukan data penghuni baru, sebagian napi menjalani pemeriksaan kesehatan di poliklinik. Namun, malam itu pemeriksaan tersebut tidak detail. Hanya pengukuran tensi darah.
 
“Waktu berangkat dari Porong, tensi mereka sudah diperiksa,” ungkap dr Hardjo Santoso, dokter Lapas Porong yang ikut dalam pemindahan napi itu.
 
Menurut Hardjo, berdasar hasil pemeriksaan awal tersebut, semua napi sehat. Tidak ada masalah kesehatan yang serius. “Paling hanya tekanan darah yang sedikit naik. Mungkin tegang,” lanjutnya.
 
Karena sudah malam, proses lanjutan seperti pengambilan foto untuk arsip lapas dilakukan esok harinya. Malam itu para napi diberi kesempatan untuk beristirahat.

Tapi, mereka tidak bisa langsung masuk kamar. Sebelum masuk kamar baru, mereka diperiksa di ruang pengamanan kamar. Termasuk barang bawaan mereka. Tas, koper, hingga seprai tempat tidur pun digeledah.   “Tidak ada barang terlarang yang ditemukan,” ungkap Teguh Wibowo, kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Sukamiskin.
 
Menurut Kakanwil Kemenkum HAM Jabar I Wayan K. Dusak, ada beberapa napi yang membawa uang. Padahal, uang tidak boleh masuk ke area lapas. Uang di lapas harus ditukar dengan kupon. Jika butuh apa-apa, penghuni membeli dengan kupon. “Sistem ini untuk menghindari terjadinya kejahatan di dalam penjara seperti perjudian,” tegas Dusak. (*/c11/ari)


Mengikuti Kereta yang Membawa 30 Napi Korupsi Jatim ke Lapas Sukamiskin ...

Saturday, February 16, 2013

Tata Tertib NU dan Muhammadiyah Melarang Orang Liberal Menjadi Pengurus

Home Nasional

Tata Tertib NU dan Muhammadiyah Melarang Orang Liberal Menjadi Pengurus


 

Qonun Asasi dan AD/ART Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengajarkan paham liberalisme


Ahad, 17 Februari 2013

Hidayatullah.com–Bedah buku  “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” karya Qosim Nurseha Dzulhadi, di Masjid Nuruzzaman Unair Sabtu kemarin (17/02/2013) rupanya menjadi ajang para mahasiswa mempertanyakan masih adanya oknum liberal yang masuk ormas Islam.

KH. Abdurrahman Navis, Ketua Aswaja Center PWNU Jawa Timur yang ikut menjadi pembicara kedua  bahwa dalam aturan organisasi NU, tidak boleh orang liberal menjadi pengurus.

“Qonun Asasi dan AD/ART Nahdhatul Ulama (NU) tidak mengajarkan paham liberalisme. Justru bertujuan mengamalkan syariat Islam,” tegas Kiai Navis saat menjawab pertanyaan salah satu peserta tentang masih bercokolnya oknum liberal di tubuh NU.

KH. Abdurrahman Navis yang juga ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur  ini menolak jika NU menjadi wadahnya anak-anak liberal.

Ia menjelaskan,  pada Muktamar NU di Makassar lalu misalnya, bahkan telah disusun tata tertip organisasi yang mensyaratkan bahwa pengurus NU tidak boleh ada yang liberal.

“Adapun jika masih ada, itu adalah oknum NU. Maka tugas kita adalah membersihkan,” tambahnya.

Kiai Navis menyebut oknum-oknum berpaham liberal itu dinilai gerakan ekstrim kiri yang menerima bantuan dana asing yang tidak sedikit.

Oknum tersebut bahkan dinilai telah masuk pada institusi perguruan tinggi dengan cara menggencarkan gerakan sekularisasi di kampus-kampus Islam yang dinilainya bermula saat IAIN mengubah haluan studinya pada tahun 70-an.

“Dulu berhaluan ke Universitas al-Azhar, tapi kemudian belok ke universitas di Barat,” terangnya.

Bedah buku yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya ini juga menghadirkan penulisnya, Qosim Nurseha Dzulhadi.

Qosim, yang juga almunus Al-Azhar Kairo dan ISID Gontor, sepakat dengan apa yang disampaikan Kiai Navis tentang gerakan liberalisme di Indonesia.

Menurutnya, ormas Islam memang harus bersih dari oknum-oknum liberal berkepentingan sesaat.

“Dalam Tatib di Muhammadiyah juga sama. Melarang orang liberal menjadi pengurus,” ujar Qosim yang pernah menjadi pengurus Muhamadiyah Cabang Kairo Mesir.

Ia juga meminta kaum Muslim Indoesia harus mengkaji pemikiran-pemikiran para pendiri ormas, agar jamaahnya paham bahwa pendiri ormas Islam anti-liberal.

“Kita perlu pemahaman lebih lanjut ke akar rumput tentang pemikiran KH. Hasyim Asyari  pendiri NU dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Mereka tidak pernah mengajarkan liberalisme,” terang pria asal Medan itu.

Dalam keterangannya, paham liberalisme di Indonesia yang menjiplak dari kaum Shopist di Barat, itu sudah masuk ke akar rumput. Isunya bahkan terus bergulir dan tak berhenti hingga kini.

“Maka tugas ormas dan ulama kita memberi penjelasan lebih lanjut dengan bahasa yang bisa dipahami masyarakat akar rumput,” pungkasnya.*

Rep: Kholili Hasib
Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.goal.com/id-ID/news/1108/sepakbola-inggris/2012/06/26/3200333/gaya-hidup-philippe-senderos-masuk-islam


Tata Tertib NU dan Muhammadiyah Melarang Orang Liberal Menjadi Pengurus

Sunday, December 15, 2013

'Dua Ribuan' untuk Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjadi kewajiban setiap Muslim untuk membantu mualaf. Itu bisa dilakukan dengan banyak hal.


Yang menjadi masalah, umat Islam kadang bingung bagaimana cara membantu mereka. “Iya, memang masalahnya seperti itu. Mereka bingung mau bantu apa,” ungkap Alisya Fianne, Wakil Ketua Paguyuban Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), kepada ROL, Kamis (21/11).


Selain bingung, kata dia, kemana harus membantu. Ini terjadi, karena tidak semua masjid memiliki pembinaan mualaf. “Padahal tidak seperti itu, setiap masjid kendati tidak ada pembinaan mualaf, tentukan ada satu atau dua orang yang memutuskan bersyahadat di sana,” kata dia.


Selain masalah kemana, kata dia, ada yang bingung berapa dan apa bantuan yang harus diberikan. Menurut Fianne, besaran bantuan yang diberikan itu tidak penting. Yang utama adalah niat dan kemampuan. “Bantuannya kecil, apapun itu bentuknya kalau niat untuk membantu, Insya Allah akan membawa berkah,” kata dia.


Melihat dari situasi ini, Fianne berencana membuat satu kampanye yang intinya mengajak umat Islam untuk membantu mualaf. “Sebenarnya tidak mualaf saja, tapi banyak pihak yang dibantu. Nah, bentuk bantuannya ini, umat Islam hanya cukup menyisihkan uangnya dua ribu rupiah saja,” kata dia.


“Seperti saya katakan setiap bantuan besar atau kecilnya akan mendapatkan balasan dua kali lipat. Jangan lihat nominal tapi semangat untuk membantu, jadi bisa lho dengan hal kecil bisa berdampak besar,” kata dia.


Nantinya, kata dia, dua ribu yang terkumpul ini akan disalurkan kepada yang berhak. Selain itu, uang yang terkumpulkan akan dipergunakan kepada mereka yang belum umrah dan mungkin tidak bisa berhaji. “Saya ketika berkeliling daerah, banyak ditemukan orang tua yang belum haji tapi mereka telah mengumpulkan uang sejak lama, nah mereka ini salah satu yang dibantu,” kata dia.


Terkait mekanismenya, kata Fianne, akan disiapkan satu wadah yang akan mempemudah masyarakat untuk menyisihkan uangnya. Sebagai contoh saja, setiap majelis taklim akan menyiapkan satu kotak amal yang bertujuan untuk itu.  “Intinya, apa yang kami kumpulkan ini disalurkan langsung,” kata dia.


Fianne berharap melalui kampanye ini akan tergerak satu semangat berdakwah. “Beramalkan juga dakwah. Saya percaya jiwa sosial umat Islam begitu tinggi. Sudah banyak contoh soal itu, tapi ini cakupannya lebih luas tidak hanya satu orang tapi banyak orang,” kata dia.


Article source: http://jaringnews.com/seleb/movie/23934/protes-film-anti-islam-iran-boikot-oscar-


'Dua Ribuan' untuk Mualaf

Saturday, April 6, 2013

Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Home Nasional




Bedah Jurnal Islamiah


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil





 




Ahad, 07 April 2013


Hidayatullah.com—Bertempat di Aula Pascasarjana Kampus ITS Surabaya, Jamaah Masjid Manurul Ilmi (JMMI) menggelar Seminar Akbar bertema; “Ahlus Sunnah dan Syiah: Beda Akidah, Syariah atau Politik?”


Acara yang diselenggarakan hari Sabtu, (06/04/2013) ini adalah puncak dari rangakain acara “Gebyar Manurul Ilmi (G-Mail)” yang di ikuti oleh seluruh Lembaga Dakwah Jurusan.


Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur I nstitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations/INSISTS dan Pimred Jurnal  Islamia), Mohammad Idrus Romli (dosen STAIN Jember dan Anggota LBM NU Jatim), dan Henry Shalahuddin, MA (dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah/STID Muhammad Natsir Jakarta). Acara  dipandu langsung oleh Bahrul Ulum  dari InPAS Surabaya.


“Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa tentang bagaimana  memahami  hingga kita bisa mengerti perbedaan Syiah dan Sunnah,” ujar Syafruddin, penanggung jawab seminar.


Pada sesi pembicara pertama,  Dr. Hamid. Fahmi Zarkasih menyampaikan bahayanya pemikiran yang mengaggap semua agama itu benar. Sudut pandang pemikiran ini menggunakan teori relativisme, di mana menganggap kebenaran menurut Anda benar, menurut orang lain belum tentu benar.


“Pemahaman kebenaran ini  kemudian dijadikan acuan untuk membenarkan semua agama. Padahal dalam Islam umatnya harus meyakini bahwa agamanya Islam yang benar, namun tetap menghormati agama lain,” ujar Hamid.


Menurutnya, menyikapi perbedaan dalam Islam bisa menggunakan tiga macam kategori rumusan dalam melihat perselisihan. Pertama adalah sesuatu yang di katakan khata’ (salah) atau shawab (betul). Perbedaan dalam kategori ini masih dalam ranah ijtihadiyah atau dalam masalah –masalah furu’.


“Kalau perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, umumnya masalah furu’,” ujarnya.


Kategori yang kedua adalah sesuatu yang dikategorikan haq dan bathil. Yang kedua ini, biasanya ditemukan dalam masalah salah dan benar dalam ruang akidah. Biasanya pula, konsekwensi dari perselisihan ini akan berujung pada akidah seseorang itu lurus atau salah.


Sedang kategori yang ketiga adalah, perbedaan yang bisa menjadikan seseorang itu mukmin dan kafir. Misalnya mendiskon atau menambah rukun iman. Karena menambah dan mengurangi itu bisa menjadikan seseorang itu kafir.


Berkaitan dengan masalah Syiah, perbedaan berawal dari  informasi hadits yang digunakan oleh pengikut Ali, yang dikatakan bahwa Ali lah sebenarnya yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi Wassalam untuk menjadi imam. Namun kemudian hadits ini ditolak oleh para Sahabat dan kemudian terpilihlah Abubakar Radhiallahu anhu sebagai khalifah, Imam pengganti Nabi. Hal inilah membangkitkan perlawanan pengikut Ali, kemudian menyebarkan doktrin tentang imamah. Doktrin yang mempercayai bahwa satu-satunya imam pengganti Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. [baca: Idrus Romli: Kultur Islam Indonesia Justru Melawan Syiah]


Dalam literatur Syiah dikatakan Imamah, yang artinya seorang harus mempercayai Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Imam. Barangsiapa yang tidak mempercayai Ali sebagai imam berarti kafir.


“Dalam kalangan Syiah, imamah dijadikan sebagai akidah. Sehingga hal itu yang mengakibatkan Ahlus Sunnah tidak bisa bersatu dalam masalah akidah. Jadi tidak mungkin Syiah dan Ahlus Sunnah bisa bersatu.  Namun disayangkan Syiah kurang bijak, dengan mengklaim kelompok diluar syiah telah menjadi kafir, sebagaimana tertuang dalam buku-buku mereka.”


Pada sesi pembicara kedua,  Henry Shalahuddin, MA banyak menyoroti perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah.  Menurutnya,  perbedaan Ahlus Sunnah dan Syiah masuk dalam sudah kategori haq dan bathil.


“Kelompok Syiah secara peribadatan sangat berbeda dengan Ahlus Sunnah. Contoh orang Syiah harus sujud di atas gambar imam-imam mereka. Mencambuk diri sendiri ketika memperingati hari Asyuro.”


Bukan sampai disitu saja perbedaannya, orang Ahlus Sunnah sangat menghormati dan mencintai para Sahabat Rasulullah termasuk Ali Bin Abi Thalib, tapi di kalangan Syiah, Sahabat selain Ali bin Abi Thalib adalah terlaknat, sehingga pengikut Syiah dianjurkan untuk melaknat Abubakar, Umar ibnu Khatab, Ustman bin Afan hingga istri Nabi Siti Aisyah.


“Begitu bencinya pada Sahabat Nabi, bahkan ada anjuran tempat yang paling bagus untuk melakukan laknat itu adalah di WC,” ujar Henry.


Menurut Henry kebencian kelompok ini terhadap para Sahabat diekspresikan secara nyata dalam kehidupan, seperti lewat kata, dan tulisan. Dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan yang ada.


Dalam dialog ini disimpulkan bahwa ajaran Syiah telah merasuk ke dalam kehidupan umat Islam secara perlahan lewat berbagai propaganda. Semua aspek kehidupan dimasuki, mulai dari budaya, pendidikan, politik, dan penyebaran keilmuan melalui penerbitan buku. Berbagai propaganda dilakukan melalui keilmuan dengan membalikan fakta dan sejarah. Menggunakan hadits dan ayat untuk mengklaim kebenaran keimamahan-nya. Di sisi lain syiah juga disebarkan seperti menggunakan bantuan ekonomi dan bantuan pendidikan.*/Samsul Bahri


Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.okezone.com/read/2012/12/27/58/737593/perayaan-natal-mui-dan-fpi-ikut-sibuk


Perbedaan Sunni-Syiah Masuk Haq dan Bathil

Friday, July 26, 2013

Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

suarasurabaya.net – Bulan Ramadhan selalu digunakan mantan preman ini untuk bersafari ke lembaga pemasyarakatan (LP), rumah tahanan (Rutan) dan lokalisasi beberapa kota di Indonesia.


“Saya 1 minggu sekali buka puasa bersama dengan keluarga, kunjungan ke LP dan Rutan. Selain itu awal Ramadhan 10 malam kunjungan ke lokasi pelacuran,” kata Anton Medan pada Suara Surabaya, Kamis (25/7/2013).



Di bulan Ramadhan penuh berkah ini, lelaki yang mengganti namanya menjadi Muhammad Ramdhan Effendy ini punya prinsip harus ada perubahan gaya hidup. “Hidup lebih baik jika kita memberikan keberkahan untuk diri sendiri dan orang lain,” katanya. Di sisi lain kita harus lebih toleran dan ramah serta saling menghargai soal mereka beda agama, suku karena itu rahmat Tuhan yang mengharuskan kita saling mengormati,” ujar dia.



Anton Medan menceritakan pertama kali masuk Islam pada 1992. Sebelumnya sempat memeluk agama Kristen selama 4 tahun. Sebelumnya juga pernah 7 tahun sempat tidak menganut agama sama sekali. Usai masuk Islam, Anton Medan sudah dakwah di 476 Rutan dan Lapas.



“Ketika itu saya dalam keadaaan galau betul, saya pertama ketika punya anak niat bertobat karena saya sudah pernah dipenjara sejak usia 12 tahun karena kasus pembunuhan,” kata dia.



Bahkan setelah itu, lanjut dia, juga pernah dipenjara di Jakarta selama 6 tahun, 3 tahun dan 2 tahun. Kemudian harus masuk bui kembali selama 27 tahun karena merampok 16 toko emas serta 26 nasabah bank. “Saya di berbagai penjara dijadikan sebagai pemuka napi. Jadi saya bisa bawa diri dan bisa bergaul dengan napi yang terlibat kasus apa saja,” ujar Anton Medan yang menjadi Ketua Umum DPP Persatuan Islam Tionghoa.



“Saya ingin menjadi pelaku sejarah karena banyak orang bisa melakukan hal-hal baik tapi belum tentu bisa berakhir baik,” kata pengagum Umar bin Khatab ini.



Bagi Anton, segala tindakannya harus bertujuan pada amar ma’ruf nahi munkar. Untuk melaksanakannya, Anton mengaku tidak tertarik menggunakan politik sebagai alatnya. Dia juga mengkritisi organisasi masyarakat yang mengaku menganut amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan metode kekerasan. “Islam wajib melawan kemunkaran, tapi tidak wajib menggunakan kekerasan dalam memeranginya,” kata dia.



Saat melihat ada kemunkaran, kata Anton, adalah peran aparat negara yang membasminya. Masyarakat bisa mendampinginya dengan imbauan lisan. “Kalau yang diimbau tidak mau berubah, ya sudah. Itu urusan mereka,” ungkap dia.



Kata Anton, Islam itu mengayomi dan memberi contoh. Dia menyesali jika Islam dikotori oleh radikalisasi dan aksi ormas tertentu yang merupakan sebuah agama radikal.



“Saya sering memberikan motivasi kalau Islam bisa jalankan semua syariat. Saya coba menggiring para napi ke arah sana dengan memberi sedikit tausiah,” kata dia.



“Penjara bukan tempatnya sampah masyarakat. Penjara bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kebaikan. Manusia tidak perlu terus larut dalam penyesalan. Sebaliknya, catatan hitam kehidupan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri di masa depan,” pesan Anton Medan. (dwi/edy)



Teks Foto :

- Anton Medan saat berkunjung ke Suara Surabaya

Foto : Dwi suarasurabaya.net


Editor: Eddy Prastyo


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

Saturday, October 19, 2013

Menilai tragedi di tanah Arab

HAMPIR setiap hari sejak beberapa tahun lalu, kita akan melihat dan mendengar berita sedih tentang konflik di Syria dan Mesir. Apa yang berlaku di kedua-dua buah negara ada kaitannya dengan beberapa peristiwa penting sebelum ini khususnya 40 tahun dahulu. Pada 6 Oktober 2013, genaplah 40 tahun terjadinya Perang Arab-Israel 1973 (PAI 73) atau Perang Ramadan atau juga dikenali sebagai Perang Yom Kippur. Perang tersebut bermula dalam bulan Ramadan dan hari yang sama adalah Hari Yom Kippur iaitu hari mulia kaum Yahudi ketika mereka sedang bercuti meraikannya.


Rencana ini bukanlah bertujuan untuk membincangkan strategi ketenteraan semata-mata, namun sebagai perkongsian maklumat sejarah kepada generasi muda mengenai kekacauan di rantau Arab yang tidak berkesudahan sehingga ke hari ini. Berlakunya PAI 73 adalah rentetan daripada Perang Arab Israel Ke-3 pada tahun 1967 yang mana Israel telah merampas Gaza, Bukit Golan, Tebing Barat (Baitulmaqdis) dan Semenanjung Sinai daripada negara-negara Islam. Presiden Mesir ketika PAI 73 ialah Anwar Sadat, Syria dipimpin oleh Hafez Assad dan Perdana Menteri Israel adalah Puan Golda Meir.


Manakala Menteri Pertahanan Israel yang hampir-hampir dimalukan ketika PAI 73 adalah Moshe Dayan yang juga digelar “si mata satu”. Banyak buku dan sumber mengenai perang ini ditulis oleh sarjana Barat yang cenderung untuk memperlihatkan tentera Islam lemah, tidak bersatu dan mudah dikalahkan. Adakah dahulu negara-negara Arab semuanya lemah? Atau hanya mainan persepsi Barat seperti apa yang berlaku hari ini.


Pada petang bulan Ramadan 6 Oktober 1973, Tentera Udara Mesir mula membuat serangan udara diikuti serangan meriam artileri darat bertalu-talu dari seberang Terusan Suez ke arah Semenanjung Sinai yang ditakluki Israel. Setelah 15 minit, barulah askar infantri dan komando Mesir menyeberangi Terusan Suez dengan diiringi laungan takbir oleh beberapa askar yang membawa pembesar suara. Mesir mempunyai kekuatan kereta kebal sebanyak 2,200 buah, Syria 1,650 buah dan Israel 2,100 buah. Imbangan pesawat pejuang pula didahului oleh Mesir sebanyak 400 buah, Israel 359 buah dan Syria 280 buah.


Antara negara-negara Islam yang serius membantu Mesir berperang ialah Iraq, Tunisia dan Libya. Iraq menghantar satu skuadron jet pejuang Hawker Hunter buatan British khusus untuk memusnahkan kereta-kereta kebal Israel. Tunisia menempatkan 900 askar infantrinya bagi mempertahankan Port Said dan Libya sejak sebelum PAI 73 meletus lagi membantu pertahanan Mesir dengan kekuatan satu briged kereta kebal dan dua skuadron jet pejuang Mirage V buatan Perancis. Iraq turut membantu Syria dalam perang ini dengan menghantar 30 ribu tentera darat yang dilengkapi 500 buah kereta kebal dan 700 buah kenderaan berperisai.


Senjata rahsia


James R. Schlesinger, Setiausaha Pertahanan A.S. ketika itu mengakui perancangan teliti dan strategi cemerlang Mesir serta Syria. Cuba kita renungkan apakah nasib negara-negara yang membantu Mesir dan Syria (40 tahun dahulu) iaitu Iraq, Tunisia dan Libya selepas berlakunya Arab Spring? Adakah dendam lama ini berkaitan dengan pihak-pihak tertentu yang menghasut rakyat negara-negara tersebut sebelum Mesir dan Syria pula hendak dihancurkan?


Setelah diserang secara mengejut dan bertubi-tubi oleh Mesir dan Syria, Israel pada 9 Oktober 1973 mengugut AS bahawa mereka akan menggunakan senjata rahsia simpanan Israel iaitu bom nuklear, jika tidak menerima bantuan ketenteraan daripada negara Uncle Sam itu. Presiden Nixon yang bimbang akan campur tangan Kesatuan Soviet di rantau Arab akhirnya melancarkan Operasi Nickel Grass untuk menghantar beberapa buah kereta kebal, pesawat pejuang dan lain-lain peralatan pertahanan kepada Israel.


Selain bantuan kelengkapan serta peluru berpandu, AS turut menerbangkan pesawat pengintip strategik jarak jauhnya, SR-71 bagi memantau pergerakan tentera darat dan udara Mesir. Hasil daripada bantuan A.S. inilah Israel pada 14 Oktober 1973 telah berjaya menyusup masuk ke Mesir dengan menyeberangi Terusan Suez menuju ke Kaherah. Henry Kissinger, Setiausaha Luar AS turut mencadangkan kepada Israel agar mara menyerang ibu kota Syria, Damascus. Mungkinkah sejarah akan berulang kembali? Persoalannya sama ada Israel atau AS sendiri yang akan mengebom Damascus.


Selain daripada AS, Israel turut mendapat bantuan daripada salah seorang pemimpin Arab iaitu Raja Hussein, pemerintah Jordan. Berdasarkan buku tulisan Abraham Rabinovich bertajuk The Yom Kippur War: The Epic Encounter That Transformed The Middle East, beberapa hari sebelum bermulanya PAI 73, Raja Hussein telah menaiki helikopter Tentera Udara Diraja Jordan bertemu dengan Golda Meir, Perdana Menteri Isreal di Tel Aviv. Beliau telah memberitahu Meir mengenai serangan yang bakal dilaksanakan oleh Syria dan Mesir.


Buku itu turut menyatakan Raja Hussein tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuan jeneral-jeneral Syria dan Mesir yang sebangsa dengan beliau untuk berperang menentang Israel. Walaupun Raja Hussein menghantar tenteranya membantu Syria, namun ia bukanlah bantuan yang serius. Sedangkan Jordan berkongsi sempadan yang panjang dengan Israel selain telah melepaskan Tebing Barat dan Baitulmaqdis yang menjadi milik Jordan sebelum perang tahun 1967. Jika Jordan menyertai PAI 73 secara bersungguh-sungguh, mungkin situasi di Asia Barat akan menjadi berbeza kini.


Setelah melihat AS gigih membantu Israel menentang Mesir dan Syria, Kolonel Muammar Gadafi, Presiden Libya telah memberhentikan sepenuhnya eksport minyak kepada AS pada 19 Oktober 1973. Sehari berikutnya Arab Saudi di bawah naungan Raja Faisal, Kuwait, Qatar, Bahrain dan beberapa negara Arab lain turut mengikut jejak langkah Libya.


Ketika itu mereka bersatu menentang musuh yang sama. Menurut Edgar O’ Ballance, seorang pengkaji pertahanan warganegara United Kingdom, ketika PAI 73, Israel hampir-hampir tidak mendapat sebarang bekalan minyak daripada laut akibat disekat oleh Tentera Laut Mesir. Sekatan minyak dari laut ini benar-benar mengajar Israel tentang perlunya penguasaan bekalan minyak untuk jangka masa panjang. Ia juga ada kaitannya dengan harga minyak dunia kini.


Pengajaran


Namun secara senyap-senyap Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah Pahlavi tetap menjual minyak kepada Israel sejak sebelum PAI 73 lagi. AS dan kuasa-kuasa besar dunia lain telah mengambil pengajaran atas apa yang berlaku selepas PAI 73 untuk menguasai dan mengawal pasaran minyak dunia. Negara-negara pengeluar minyak utama seperti Iraq menjadi tumpuan untuk dikuasai secara halus atau melalui peperangan. Sebab itu Iraq tetap diserang pada Mac 2003 walaupun tidak mendapat sokongan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).


Selepas beberapa kali berunding, akhirnya Mesir dan Israel menandatangani perjanjian damai pada 17 September 1978. Perjanjian itu dipanggil Perjanjian Kem David atas inisiatif Presiden AS, Jimmy Carter. Sejak sebelum PAI 73 sehingga hari ini, Syria diketahui tidak pernah menandatangani apa-apa perjanjian rasmi dengan Israel. Anwar Sadat, Raja Faisal (Arab Saudi) dan Muammar Gadafi kesemuanya mati dibunuh oleh bangsa mereka sendiri.


Syria sejak dari dahulu sehingga kini mengekalkan hubungan baik dengan Rusia dan menggunakan pelbagai senjata buatan negara bekas empayar komunis tersebut. Berbanding tentera Mesir sebelum PAI 73 yang menggunakan kelengkapan ketenteraan Rusia, mereka telah beralih arah kepada AS selepas PAI 73 sehingga kini.


Jika dahulu Tentera Mesir dan tentera Syria melaungkan takbir ketika berperang menentang perampas tanah mereka, kini mereka bertakbir sambil berbunuhan sesama bangsa sendiri. Anasir asing tidak memerlukan kereta kebal atau jet pejuang untuk memusnahkan Mesir dan Syria. Apa yang perlu hanyalah demonstrasi jalanan, rusuhan, penyebaran hasutan dalam Internet, kebebasan bersuara tanpa had, kebencian terhadap sesama bangsa, ketaksuban kepada pemimpin tertentu dan undangan kepada pihak luar untuk menyelesaikan masalah dalaman negara.


Apakah umat Islam di Malaysia masih tidak mengambil pengajaran atas apa yang berlaku di Mesir dan Syria?



Article source: http://www.tribunnews.com/internasional/2013/10/19/penghina-islam-itu-kini-naik-haji


Menilai tragedi di tanah Arab