Showing posts sorted by relevance for query Naim<. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Naim<. Sort by date Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Inilah Kisah Mengejutkan di Balik Keputusan Menjadi Mualaf 9 Artis Cantik Indonesia

BANGKAPOS.COM--Saat ini bukanlah sesuatu yang mengherankan jika banyak orang yang sebelumnya non muslim, akhirnya kini menjadi muslim  atau disebut Mualaf.

Begitu juga dengan sederet selebriti papan atas Indonesia, mereka yang sebelumnya non muslim kali ini telah menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Baca: Perempuan Terduga Pelaku Bom Rice Cooker Tulis Wasiat pada Orangtuanya di Cirebon

Baca: Densus Temukan Bom Rice Cooker dan Amankan Tiga Anggota Teroris Bahrun Naim

Baca: Anak Presiden Jokowi ke Manado, Naik Pesawat Kelas Ekonomi Lalu Naik Mobil Rental

Lantas siapa sajakah artis mualaf Indonesia ?

Berikut 9 artis Indonesia yang memutuskan pindah keyakinan ke agama islam alias menjadi mualaf yang dihimpun dari berbagai sumber:

1.Rebecca Reijman

Rebecca Reijman merupakan penyanyi yang berkarir di Indonesia berkebangsaan Belanda. Dan pada tahun 2007, selebriti kelahiran Den Haag 21 Februari 1985 ini ikut memeriahkan belantika musik Indonesia dan sempat merilis album bertema Kata Hati.

Selama berkarir dalam dunia musik, Rebecca sempat meraih penghargaan tertinggi AMI Award dalam kategori karya Produksi Reggae/Ska/Rock Steday Terbaik.

Mungkin belum pernah ada yang tahu jika ternyata Rebecca merupakan seorang Artis Mualaf Indonesia.

Baca: Inilah 5 Fobia Paling Aneh di Dunia, Nomor 2 dan 3 Langsung Bikin Geleng-geleng Kepala

Baca: So Sweet, Kisah Cinta Bebi Romeo yang Rela Menunggu 10 Tahun Demi Cinta Meisya Siregar

Rebecca mengaku menjadi Mualaf bukan karena hasutan orang lain maupun lingkungannya. Ia menceritakan kisahnya mnejadi mualaf saat itu setelh mendengarkan lantunan ayat suci pada saat menghadiri malam tahlilan di kediaman almarhum Andrey Chilink.

Rebecca merasa jika hatinya saat itu sudah tidak hampa lagi, ia merasa bahagia dan hidupnya lebih lengkap dibandingkan sebelumnya. Rebecca juga merasakan jika ada sesuatu yang memberikan dirinya kekuatan batin.

"

| Inilah | Kisah | Mengejutkan | Balik | Keputusan | Menjadi | Mualaf | Artis | Cantik | Indonesia | BANGKAPOS | strong> | Saat | bukanlah | sesuatu | yang | mengherankan | jika | banyak | orang | senya | muslim | akhirnya | kini | menjadi |  atau | disebut | p> Begitu | juga | dengan | sederet | selebriti | papan | atas | kali | telah | mualaf | memeluk | agama | Islam | p> Baca: | Perempuan | Terduga | Pelaku | Rice | Cooker | Tulis | Wasiat | pada | Orangtuanya | Cirebon< | strong>< | h4> Baca: | Densus | Temukan | Amankan | Tiga | Anggota | Teroris | Bahrun | Naim< | Anak | Presiden | Jokowi | Manado | Naik | Pesawat | Kelas | Ekonomi | Lalu | Mobil | Rental< | h4> Lantas | siapa | artis | p> Berikut | memutuskan | pindah | keyakinan | islam | alias | dihimpun | berbagai | sumber:< | p> 1 | Rebecca | Reijman< | p> Rebecca | Reijman | merup | penyanyi | berkarir | berkebangsaan | Belanda | tahun | 2007 | kelahiran | Haag | Februari | 1985 | ikut | memeriahkan | belantika | musik | sempat | merilis | album | bertema | Kata | Hati | p> Selama | dalam | dunia | meraih | penghargaan | tertinggi | Award | kategori | karya | Produksi | Reggae | Rock | Steday | Terbaik | p> Mungkin | pernah | tahu | ternyata | seorang | Fobia | Paling | Aneh | Dunia | Nomor | Langsung | Bikin | Geleng | geleng | Kepala< | Sweet | Cinta | Bebi | Romeo | Rela | Menunggu | Tahun | Demi | Meisya | Siregar< | h4> Rebecca | mengaku | bukan | karena | hasutan | lain | maupun | lingkungannya | mencerit | kisahnya | mnejadi | saat | setelh | mendengarkan | lantunan | ayat | suci | menghadiri | malam | tahlilan | kediaman | almarhum | Andrey | Chilink | merasa | hatinya | hampa | lagi | bahagia | hidupnya | lebih | lengkap | dibandingkan | meras | memberikan | dirinya | kekuatan | batin | p> |

Thank U So Much for Visiting this Blog

Wednesday, July 31, 2013

Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID,


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.


Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan.


Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika. Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut.


“Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani.


Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam.


Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957.


Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland.


Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika.


Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka.


Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel The Lost Story of Islam in Jamaica dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari
University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika.


Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak.


Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan,


mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya.


Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel Muslim Minority in Jamaica dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka.


Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika.


Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.


Article source: http://index.okezone.com/read/2013/04/08/411/788220/negara-besar-terlibat-timteng-sulit-damai


Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Tuesday, July 30, 2013

Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa


Selain lembaga resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan.

Jamaika, sebuah negara pulau di Amerika Utara ini menjadi rumah bagi lebih dari 5.400  Muslimin. Jumlah mereka minoritas, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi negara seluas 10.991 kilometer persegi tersebut.


Tapi, Islam mulai disadari sebagai agama awal nenek moyang saat kali pertama menginjak tanah Jamaika. Alhasil, perkembangan Islam mulai meningkat. Organisasi Muslim dan masjid banyak berdiri di negara Bauksit tersebut.


Menurut laman Carribean Muslim, Islam pertama kali datang ke Jamaika dibawa oleh bangsa Afrika Barat, terutama dari kawasan Gold Coast, yaitu Ghana, Nigeria, Mali, Benin, dan Togo. Mereka merupakan para budak yang diperjualbelikan. Menggunakan kapal, para budak Afrika tersebut dijual ke Jamaika.


Beberapa budak Muslimin, terutama keturunan Afrika Mandinka, Fula, Susu, Ashanti, dan Hausa tetap mempertahankan agama mereka saat tiba di negara karibia tersebut. “Mereka tak henti-hentinya berusaha untuk mempertahankan praktik-praktik Islam dalam kerahasiaan, sambil bekerja sebagai budak di perkebunan di Jamaika,” tulis web tersebut.
 
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar budak-budak Muslim asal Afrika itu mulai kehilangan identitas mereka. Hidup dikalangan keberagaman etnis membuat mereka terbawa agama para majikan mayoritas Nasrani. Sebagian mereka juga dipaksa, sebagian lain kehilangan keimanan saat dibebaskan statusnya sebagai budak oleh sang majikan.
 
Pada 1845 hingga 1917, datang imigran dari India ke Jamika. Sebanyak 16 persen dari 37 ribu imigran tersebut beragama Islam. Sesepuh mereka, Muhammad Khan, datang pada 1917 di usia 151 tahun. Putranya, Naim Khan, kemudian membangun Masjid Ar Rahman di Kota Spanyol pada 1957. Sejak itu, para imigran lain pun mulai mendirikan masjid di penjuru Jamaika. Muhammad Golaub yang datang menjadi imigran bersama ayahnya di usia tujuh tahun kemudian mendirikan Masjid Hussein di Westmoreland. Sejak 1960, Muslimin bertahap meletakkan dasar delapan masjid lain. Hingga kini, masjid pun tersebar di seluruh penjuru negeri.
 
Para imigran India ini kemudian membentuk komunitas Muslim. Merekalah yang mendominasi Muslimin di Jamaika. Adapun keturunan Afrika yang sebetulnya pembawa Islam awal, jauh sebelum bangsa India, mulai mengetahui identitas mereka. Bahkan, dalam sejarah Jamaika, Muslimin mengambil peran besar dalam melawan tirani. Tapi, tentu saja hal tersebut tak dikabarkan dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah.
 
Dalam artikel “The Lost Story of Islam in Jamaica” dalam web Islandpen disebutkan, seorang akademisi dari University of the West Indies, Dr Sultana Afroz, menemukan fakta sejarah Jamaika. Ia mengatakan, para pemimpin Jamaika yang berhasil melawan penjajah, seperi Cudjoe, Nanny dari Maroon, Sam Sharp, dan Paul Bogle, merupakan penganut agama Islam.


Menurutnya, selama abad ke-15, Islam mendominasi Jamaika. Banyak warga Jamaika yang dididik orang-orang Afrika dari empat universitas tertua Afrika.


Lalu, mengapa Islam tidak menjadi agama utama di Jamaika? Sultana Afroz mengatakan, sebagian besar Muslimin di Jamaika merupakan para budak. Mereka tidak diizinkan mengajar anak-anak mereka, baik membaca menulis, termasuk mengajarkan ajaran dan budaya Islam. Mereka wajib menurut pada majikan. Jika tidak, siksaan cambuk atau rantai akan menjadi santapan sehari-hari.


Dari penjelasan Afroz tersebut, tak heran, jika generasi berikutnya tidaklah menganut agama Islam. Bahkan, mengenalnya saja pun tidak. Inilah yang kemudian menjadi isu hangat warga Jamaika, sehingga tak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam.


Ulama dari Dewan Islam Jamaika Abdul Baseer menuturkan, Muslim pertama Jamaika memang budak. Mereka dibawa oleh orang-orang Eropa dari Afrika Barat ke Jamaika, di mana mereka mencoba untuk berlatih dan menjaga agamanya. Bangsa Maroon, lanjut Baseer, awalnya Muslim. “Namun sekarang ini mereka telah melupakan agamanya. Oleh karena itu, di pertengahan abad kedua puluh, pegawai kontrak yang bertanggung jawab atas kebangkitan Islam di Jamaika mulai membangun tempat ibadah bagi umat Islam,” kata Baseer dikutip dari artikel “Muslim Minority in Jamaica” dari laman Usinfo.
 
Saat ini, kata Baseer, Islam berpotensi diterima masyarakat Jamaika. Antara Muslimin dan masyarakat umum pun dapat hidup berdampingan. Antara Muslim pun bersatu dan saling membantu menjaga keyakinan agama mereka. Bahkan di bidang pendidikan, pihaknya memiliki dua sekolah Islam, yakni Sekolah Dasar Islamiyah dan TK di Masjid Arrahan. Meski hanya dua, sekolah tersebut pun terbuka dan banyak mendidik siswa dari keluarga Kristen.


Selain lembaga pendidikan resmi, berbagai organisasi Islam pun menyediakan kelas pendidikan. Organisasi Islam sangat tersebar di Jamaika. Beberapa, di antaranya, Dewan Islam Jamaika serta Pendidikan Islam dan Dakwah Center di Kingston. Organisasi lain bergerak di Masjid Al Haq di Mandeville, Masjid Al-Ihsan di Negril, Masjid-e-Hikmah di Ocho Rios, dan Islamic Center di Saint Mary.
 
Masjid Menjamur

Kedatangan imigran India telah memberikan sumbangsih besar bagi Muslimin Jamaika. Banyak masjid dibangun di segala penjuru pulau. Menurut data Dewan Islam Jamaika, terdapat 12 masjid berdiri di negeri tersebut. Masjid berada di Kingston, Kota Spanyol, Town St Catherine, Pelabuhan Maria, Albany St Mary, Newell St Elizabeth, dan Westmoreland. Masjid Jamaika di Kota Spanyol merupakan masjid pertama yang berdiri.


Selain 12 masjid tersebut, saat ini Muslimin Jamaika dikabarkan baru saja membangun masjid baru di Bushy Park dekat Old Harbour, Kota St Catherine. Masjid tersebut memiliki kubah logam dan menara. Beberapa pria dengan jubah dan kopiah pun terlihat memasuki masjid tersebut. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di Jamaika meski jumlah masjid di sana cukup banyak.


Article source: http://www.voaindonesia.com/content/fosil-dinosaurus-bercula-spesies-baru-ditemukan-di-utah/1704938.html


Alhamdulillah, Muslimin Hidup Damai di Jamaika

Sunday, February 24, 2013

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia

Home Internasional

“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia


 

Sebuah baliho di Kelantan

 


Senin, 25 Februari 2013

DALAM konstelasi perpolitikan Malaysia, Kelantan selalu “stand out” atau tampil beda dari negeri-negeri lain di negeri Semenanjung Tanah Melayu.  Betapa tidak, di negeri yang terletak di Pantai Timur Malaysia ini  Partai Islam Semalaysia (PAS), yakni partai oposisi paling sengit bagi pemerintah yang sedang berkuasa di Putrajaya, selalu keluar sebagai pemenang. Hal tersebut sudah berlangsung selama dua puluh dua tahun. Sebenarnya sudah sering kali para pemimpin Barisan Nasional (BN), berkoar-koar akan mengambil alih pemerintahan negeri Kelantan. Tetapi sejauh ini rakyat Kelantan tetap tidak bergeming dari kepemimpinan ulama. Begitu mereka menyebut pemerintahan PAS.

Fenomena ini tentu menarik dicermati di saat partai-partai Islam di Indonesia sedang kelimpungan. Seandainya survei-survei yang banyak beredar mengenai bakal anjloknya suara partai Islam di Indonesia memang layak dipercayai.

Berada di Kelantan pada detik-detik menjelang Pilihan Raya Umum (PRU) Malaysia ke-13 merupakan pengalaman menarik karena penulis berkesempatan bertemu dan berbincang secara langsung dengan beberapa orang calon pemilih. Kesan bahwa partai Islam sudah menjadi lagu lama seperti yang sering didengungkan lembaga-lembaga survey seolah tidak berlaku di Negeri Serambi Makkah ini.

Kepemimpinan ulama bagi rakyat Kelantan adalah prinsip karena menjadi bagian dari perjuangan menegakkan syariat. Sementara di Indonesia istilah “syariat” ini semakin dijauhi karena telah dilekatkan dengan streotipe menakutkan: terorisme!

“Bisa-bisanya mereka mengaku Muslim tetapi ketika dibicarakan hukum Islam eh ketakutan. Mereka bilang hukum hudud itu sudah ketinggalan zaman. ‘Lagu’ gapo (apa pula) ini?,” ujar seorang penceramah di Masjid Wakaf Bharu malam Jumat itu.

Pengajian yang menghadirkan penceramah terkenal Malaysia tersebut dikerumuni ribuan anak-anak muda. Tidak kira anak muda yang bersorban atau yang ‘masih’ memakai anting-anting serta memakai kalung sebesar ibu jari semuanya rela duduk berdesak-desakan. Sambutan terhadap penceramah ‘selebriti’ seperti Azhar Idrus selalu seperti itu.  Sehingga jalan umum memasuki masjid terpaksa disulap jadi selasar tambahan.

Tetapi jangan bayangkan Azhar Idrus sering tampil di RTM 1 atau TV3 sehingga dia disebut selebriti. Penceramah yang tidak ramah dengan arah kebijakan pemerintahan di Malaysia tidak mungkin bisa masuk televisi untuk berceramah. Ketenarannya, selain karena ceramahnya memang ‘asyik’, adalah manajemen publikasi yang baik dengan memanfaatkan social network seperti youtube.

Suasana religius Kelantan tersebut kembali terlihat pagi berikutnya. Ribuan orang kembali meramaikan kuliah rutin yang digelar di sebuah musholla di tengah kota. Sementara diluarnya pula meriah dengan bazar-bazar yang diadakan penduduk dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota Bharu.

“Kuliah seperti ini diadakan secara rutin setiap jumat pagi,” ujar Rusydi salah seorang warga Kota Bharu sambil membawa penulis mengitari beberapa blok yang dipenuhi dengan tenda-tenda di mana penduduk dari pelosok Kelantan menjajankan dagangan mereka.

Biasanya kajian di Dataran Ilmu tersebut diisi langsung oleh Menteri Besar (Gubernur, red) Kelantan, Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Tetapi karena Menteri Besar Kelantan tersebut sedang melakukan umrah ke Tanah Suci, ceramah lalu dibawakan oleh ustadz-ustadz senior yang memang ramai sekali jumlahnya di Kelantan.

Tidak mengherankan jika Kelantan seperti gudang ustadz bagi Malaysia, mengingat Kelantan sejak zaman dahulu sudah dikenal sebagai “negeri pondok pesantren.”

Sampai saat ini mayoritas pelajar Malaysia yang studi di Kairo, Mesir, juga berasal dari Kelantan. Jumlahnya lebih dari dua ribu orang. Ketika para ustadz ini berpolitik, mereka ingin persepsi politik sebagai “dirty arts” atau kerja kotor diisi dengan ruh Islam menjadi kerja dakwah. Sebagai kerja dakwah, politik harus bersih. Mungkin terdengar klise, tetapi politik uang misalnya amat sulit dipraktekkan di Kelantan.

Menarik juga dicermati dukungan kuat yang didapatkan PAS dari kalangan intelektual dan profesional di Kelantan. Menurut YB Dato’ Hj Che Abdullah Mat Nawi, anggota dewan asal Wakaf Bharu, hal ini terjadi karena imej positif yang berhasil didapatkan PAS setelah bekerja keras dengan bersih dan sungguh-sungguh selama 22 tahun menerajui (memerintah) negeri Kelantan.

“Didaerah seperti Kubang Krian yang didiami doktor, dosen dan cerdik pandai … cukup letakkan topi haji diatas meja undi maka secara otomatis suara mereka akan diraup oleh PAS,” ujar Dato’ Che Abdullah Mat Nawi pula.

Menurutnya  kepercayaan  yang diberikan rakyat adalah amanah. Entah berapa orang yang sanggup melakukan ini: keluar rumah pukul tujuh pagi, turun ke pelosok-pelosok desa untuk menyambangi rakyat lalu pulang jam 1 atau 2 dini hari. Tetapi aktifitas tersebut merupakan rutinitasnya jika kebetulan tidak ada jam kantor. Selama dua hari mengikuti aktifitas keseharian exco Negeri Kelantan membuat penulis berpikir “kalau saya YB dah lama minta berhenti!”

Tak punya hak royalti

Negeri yang sempat ditinggali Manohara ini sama sekali tidak bisa dikatakan miskin. Pertanian di Kelantan adalah nomor dua terbesar di Malaysia.

“Tetapi Kelantan bisa kaya raya jika tuntutan kami agar royalti minyak dan gas yang telah disetujui secara tertulis dengan pihak Petronas sejak tahun 1975 segera dikembalikan ke rakyat,” ujar beberapa orang warga Kelantan.

Bagi orang Kelantan sikap pemerintah pusat terhadap mereka selama ini dianggap tidak adil. Sabah dan Sarawak menerima royalti minyak dan gas bumi mereka, demikian pula Trengganu, tetapi Kelantan tidak diberi apa-apa.

Isu ini dimainkan kembali oleh partai-partai oposisi di Malaysia menjelang Pilihan Raya Umum 13 yang disebut sebagai Pilihan Raya (Pemilu) paling menentukan dalam sejarah Malaysia.

Setelah terdepak dari kekuasaan pada tahun 2003, seiring dengan eko reformasi di Indonesia, Mahathir Muhammad tidak lantas tenggelam seperti keluarga cendana. Pengaruhnya luar biasa mencengkram, sehingga dia mampu menyingkirkan Abdullah Ahmad Badawi yang menggantikannya ketika itu lalu digantikannya dengan orang yang bisa melindungi ‘kebijakan-kebijakannya’ yaitu PM Dato’ Sri Najib Tun Razak.

Begitu kuatnya pengaruh Mahathir dalam kebijakan Najib ini diakui sendiri oleh PM yang merupakan incumbent itu. Seperti dikutip oleh Malaysiadigest.com (3 Desember 2012), Najib mengakui jasa Mahathir dengan Visi 2020nya, “Dia dapat tugas mudah, saya dapat sulitnya,” ujar Najib dengan maksud bercanda, “dia mengumumkan visi 2020, saya yang harus mengisinya. Karena dia masih terus memantau saya.”

Kalau dalam PRU 13 UMNO dan aliansinya dalam Barisan Nasional sampai kalah dengan Pakatan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim maka reformasi yang sesungguhnya bakal terjadi di semenanjung tanah Melayu ini.  Sejauh ini saja, hasil dari PRU 12 lima tahun yang lalu, sudah ada empat dari tiga belas Negara bagian di Malaysia, yaitu: Kedah, Kelantan, Pulau Pinang dan Selangor yang telah berhasil dikuasai Pakatan Rakyat. Meskipun Perdana Menteri Najib Tun Razak begitu yakin akan mengambil alih wilayah-wilayah yang dikuasai PR tersebut ke tangan BN namun banyak analis yang meragukan kemampuan BN melakukan hal tersebut.

Di jejaring sosial, misalnya, orang masih hangat membicarakan kejadian di Penang beberapa waktu yang lalu. Seperti diberitakan media massa, lebih jelas lagi di Youtube, BN telah berhasil membawa Psy si penari Gangnam Style ke Penang bersempena dengan sambutan Hari Raya Imlek. Tarifnya tidak tanggung-tanggung: dua juta ringgit untuk bergangnam ria bersama Psy selama kurang dari lima belas menit.

Di sela-sela acara tersebut Perdana Menteri Malaysia melontarkan pertanyaan,  “Are you ready for BN?” Tetapi di luar dugaannya, para pengunjung yang didominasi kawula muda justru meneriakkan: “No!” secara beramai-ramai.

Memang agak sulit membayangkan seperti apa nasib syariat Islam jika PR berhasil menduduki Putrajaya dalam PRU 13 nanti. Partai Keadilan Rakyat yang dikomandoi Anwar Ibrahim jelas bukan partai berbasis Islam seperti PAS. Begitu pula DAP, anggota Pakatan Rakyat yang didominasi masyarakat China dan India, sama sekali bukan partai yang ideologically friendly dengan visi dan misi yang diperjuangkan PAS. Sejauh ini partai-partai tersebut memang berhasil disatukan oleh kepentingan sesaat.

Mengenai isu ini Presiden PAS, Abdul Hadi Awang menegaskan dengan tidak ragu-ragu, “PAS memberi jaminan kerjasama dengan parti Pakatan Rakyat -dengan DAP, dengan PKR- selagi dapat mempertahankan Melayu Islam. Sekiranya kerjasama itu merugikan Melayu Islam, merugikan Islam…PAS keluar dari Pakatan Rakyat dan tidak ada ragu-ragu lagi.” Sikap seperti inilah, menurut hemat kita, yang membuat PAS tidak pernah kehilangan dukungan konstitutennya. Setidaknya di negeri Kelantan Darun Naim.*

Syaifullah Yudha,  penulis adalah peminat kajian Bahasa dan Peradaban Islam. Saat ini sedang mengawali perjalanan ke negeri-negeri di Asia Timur

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/hmi-jangan-masuk-kemelut-politik/30593


“Lagu” Dari Pantai Timur: Jelang Pilihan Raya Umum 13 di Malaysia