Showing posts sorted by relevance for query Kecamatan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Kecamatan. Sort by date Show all posts

Saturday, May 11, 2013

Solo Buka 10 SMP Plus Untuk Siswa Miskin

<!––>




dok.timlo.net/niza novita


Solo – Mulai Tahun Pelajaran Baru 2012/2013, Solo membuka 10 SMP Plus yang diperuntukkan siswa lulusan SD dari keluarga miskin. “Pendaftaran SMP Plus dimulai tanggal 27 Juni hingga 29 Juni 2012. Pengumuman tanggal 30 Juni,” kata Budi Setiono, Sekretaris PPDB Solo, di ruang kerjanya, Rabu (20/6).


Sebelumnya, Kepala Dinas Dikpora Solo, Rakhmat Sutomo, menjelaskan siswa plus (miskin) dari SD tertentu akan langsung ditempatkan ke SMP Plus yang sudah ditentukan dari pembagian tiap areanya.


Menurut  Budi, persyaratan untuk masuk SMP Plus yang utama adalah lulus SD, warga Kota Surakarta tidak mampu secara ekonomi (dibuktikan dengan kepemilikan kartu gold dan platinum. “Siswa plus yang berasal dari SD A harus mendaftar di SMP Plus yang telah ditentukan. Lulusan SD yang tak mendaftar sesuai SMP yang telah ditentukan, berarti gugur. Kalau daya tampung mencukupi ya tak ada seleksi, kalau tak mencukupi ya ada seleksi,” tambahnya.


Berikut daftar SMP Plus di Solo:


1. SMPN 11 Solo — Menerima siswa plus dari 26 SD yakni: SDN Kusumodilagan, SDN Carangan, SDN Gading I, SDN Gurawan, SDN Jogosuran, SDN Baturono, SDN Harjodipuran, SDN Semanggi Kidul, SDN Semanggi Lor, SDN Mojo I, SDN Mojo 2, SDN Tegalrejo, SDN Semanggi 40, SDN Losari, SDN Ngepung, SDN Kedunglumbu, SDN Yosodipuran, SDN Mojo 3, SD Kasatriyan, SD Muh.21 Baluwarti, SD Kanisius Semanggi, SD Muh.23 Semanggi, SD Muhammadiyah 7 Joyosuran, SD 6 Al Islam Al Fajar, SD Cokroaminoto, SDI Amanah Ummah. (Semua SD tadi di Kecamatan Pasar Kliwon).


2. SMPN 12 Solo — Menerima siswa plus dari 22 SD yakni: Kecamatan Laweyan (SDN Kleco 1 dan 2, SDN Kerten 2, SDN Wonosari, SDN Jajar 1, SDN Karangasem 1- 4, SDN Soropadan, SDN Dukuhan Kerten, SDIT Nur Hidayah, SD Muh.16 Karangasem) serta Kecamatan Banjarsari (SDN Manahan, SDN Sumber 1 – 6, SDN Banyuanyar 3, SDN Muh. 15, SD Mujahidin).


3. SMPN 17 Solo — Menerima siswa plus dari 28 SD yakni: SDN Purworejo, SDN Tirtoyoso, SDN Munggung 2, SDN Cinderejo, SDN Sumber 5, SDN Banyuanyar 1 dan 2, SDN Tempel, SDN Praon, SDN Banyuagung 1-3, SDN Prawit 1 dan 2, SDN Bayan, SDN Nusukan No.44, SDN Tegalmulyo No.157, SDN Nusukan Barat No.113, SDN Nayu Barat 1-3, MI Negeri Surakarta, SD Muh.20, SD Pangudiluhur 3, SD Kristen Tri Putra Bakti, SD Muh.3 Nusukan, SD Kristen Setabelan 2, SDII Al Abidin (semua SD tersebut masuk Kecamatan Banjarsari).


4. SMPN 18 Solo — Menerima siswa plus dari 30 SD yakni: Kecamatan Banjarsari (SDN Joglo, SDN Kadipiro, SDN Sambirejo, SDN Sekip 1-2, SDN Gebang, SDN Nayu No.77, SDN Gambirsari, SDN Bibiskalang, SDN Rejosari, SDN Munggung 1, SDN Cengklik 1-2, SDN Bibisluhur 1-2, SD Muh.22, SD Al Islam Kadipiro, SD Al Islam 3 Gebang, SD Muh.5, SD Kristen Setabelan 1) dan Kecamatan Jebres (SDN Mojosongo 1,2,3,5,6; SDN Wonowoso, SDN Sibela Timur, SDN Sibela Barat, SDN Kendalrejo, SDN Lukman Hakim).


5. SMPN 20 Solo — Menerima siswa plus dari 21 SD yakni: SDN Jagalan, SDN Purwoprajan 1-2, SDN Kandangsapi, SDN Petoran, SDN Mijen 1-2, SDN Kentingan, SDN Pucangsawit, SDN Bulukantil, SDN Ngoresan, SDN Tugu Jebres, SDN Gulon, SDN Tegalkuniran, SDN Sanggrahan, SD Muh.8 Jagalan, SD Adven, SD Kanisius Pucangsawit, SD Muh.4 Kandangsapi, SD Kristen Pelita Nusantara Kasih, SD Bina Widya (semua SD masuk Kecamatan Jebres).


6. SMPN 21 Solo  – Menerima siswa plus dari 16 SD yakni: SDN Bororejo, SDN Beton, SDN Kampungsewu, SDN Karengan, SDN Gandekan, SDN Sudiroprajan, SDN Wonosaren 1-2, SDN Badran, SDN Kalangan, SD Kanisius Sorogenen, SD Tri Pusaka, SD Warga, SD Kristen Gandekan, SD Kristen Widya Wacana, SD Muh.6 Kampungsewu (semua SD masuk Kecamatan Jebres).


7. SMPN 22 Solo — Menerima siswa plus dari 41 SD yakni: 4 SD di Kecamatan Pasar Kliwon dan 37 SD di Kecamatan Serengan.


8. SMPN 24 Solo — Menerima siswa plus dari 55 SD yakni: 35 SD di Kecamatan Laweyan, 15 SD di Kecamatan Banjarsari, dan 5 SD di Kecamatan Serengan.


9. SMPN 25 Solo — Menerima siswa plus dari 35 SD yakni: 35 SD di Kecamatan Laweyan.


10. SMPN 26 Solo — Menerima siswa plus dari 46 SD yakni: 27 SD di Kecamatan Pasar Kliwon, 10 SD di Kecamatan Banjarsari, 9 SD di Kecamatan Jebres.


 


 



<!–Dikirim melalui Timlo.Net – Portal Informasi Solo–>


 
 

 
 
 

<!––>


Berita Terkait



Komentar



  1. Klo begitu skalian aja sekolah(SMP)di Solo ditutup semua sekalian….




Tinggalkan Balasan Batalkan balasan




Article source: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=39362


Solo Buka 10 SMP Plus Untuk Siswa Miskin

Sunday, May 26, 2013

4 Penyebar Aliran Sesat Diamankan

CIREBON – Sebuah tempat kos di Kampung Kuranji, RT 02 RW 12, Kelurahan/Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon digerebeg Ormas Islam Almanar, Minggu  (26/5). Diduga lokasi itu sebagai tempat persembunyian anggota aliran sesat “An-Nubuwat”.


Pantauan Radar di lokasi, penggerebekan yang didampingi petugas Kepolisian dari Polsekta Cirebon Selatan Timur dan aparat kampung setempat itu, menjumpai tiga orang penyebar aliran An-Nubuwat. Ketiganya diduga berperan sebagai perekrut dan penyebar aliran tersebut.



Setelah dilakukan pengecekan dan pendataan, ketiga orang tersebut yang diketahui berinisial UP (38) warga Jl H Nimin, RT 4 RW 3, Kecamatan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta, MR (39) warga Kampung Poncol, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi dan MY (15) warga Kampung Pulo Asem Jaya, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi langsung digiring ke dalam mobil patroli lalu dibawa ke Mapolres Cirebon Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.



Sebelumnya atau Jumat sore (24/5), massa ormas Almanar menggerebek rumah kos tersebut. Dari penggerebekan itu, mereka berhasil mengamankan AS (20) yang diduga sebagai pimpinan aliran An-Nubuwat. Kasus dugaan aliran sesat ini terungkap setelah salah satu korban yang sempat diculik, kabur dari pengawasan kelompok aliran diduga sesat tersebut. Mereka berempat mengontrak kamar kos untuk sementara waktu, dengan alasan hanya ingin ziarah ke sejumlah tempat keramat di Cirebon.



Gelagat mereka mulai dicurigai beberapa warga sekitar, di antaranya karena mereka masuk ke wilayah itu pun tanpa sepengetahuan dan seizin Ketua RT setempat, dan juga mereka tak pernah berbaur dengan warga lainnya. Bahkan, saat melaksanakan ibadah salat, mereka tidak ingin berbaur dengan warga setempat. Mereka akan melaksanakan salat jika dipimpin atau dengan yang satu aliran.



Samsi selaku ketua RT setempat kepada Radar menuturkan, kedatangan keempat terduga penyebar aliran sesat tersebut tanpa sepengetahuan pihaknya. “Sekitar empat hari lalu, mereka datang ke sini dan tidak izin terlebih dahulu kepada kami. Salat juga ya di kosan saja, tidak ke musala. Ngakunya sih mau ziarah ke beberapa tempat di Cirebon, makanya nyewa kamar kos. Kami dan warga di sini takutnya mereka ini jaringan teroris,” jelasnya.



Masih di tempat yang sama, Andy Mulya selaku koordinator Almanar (Aliansi Masyarakat Nahi Munkar) kepada Radar menjelaskan, terdapat beberapa pemahaman ajaran agama yang dianggap tak sesuai dengan yang sebenarnya. Semisal terdapat penambahan kalimat dalam syahadat yang dipakai oleh jamaah An-Nubuwat.



“Selain itu juga, ada beberapa ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam, salah satunya mereka merekrut jamaah baru yang seolah mewajibkan meninggalkan istri dan anak demi memelajari ajaran Islam. Hal itu mereka rujuk dari pengorbanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim yang menyembelih putranya, Ismail, ibadah salat Jumat juga bagi mereka sah apabila hanya diikuti oleh 3 jamaah,” tuturnya.



Ditambahkan Andy, mereka pengikut An-Nubuwat mempercayai bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir dan gerakan serta bacaan salat yang berbeda dengan muslim pada umumnya. “Selain tidak mengakui Nabi Muhammad, bacaan dan gerakan salat juga berbeda. Jelas aliran ini sangat menyesatkan,” ungkapnya.



Sementara itu, Kapolres Cirebon Kota AKBP Dani Kustoni SH SIK MHum melalui Kasat Reskrim AKP Donny Satria Wicaksono SH SIK mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut dengan masih memeriksa para keempat terduga penyebar aliran sesat tersebut.



“Kami masih periksa mereka dan menyelidiki kasusnya. Nanti ya kalau sudah jelas baru kami akan beri keterangan lebih lanjut,” ujarnya. (rdh)


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28637/20/05/2013/sejuknya-pertemuan-ulama-%E2%80%98dua-sayap-untuk-masjidil-aqsha%E2%80%99-di-istanbul.html


4 Penyebar Aliran Sesat Diamankan

Wednesday, January 9, 2013

LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Jakarta, GATRAnews – Lian Gogali menggagas sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik Poso. Usahanya yang menginspirasi dan tanpa lelah mengantarkannya menjadi penerima Coexist Prize. —

Kota Poso yang terik, awal November lalu, sekitar 50 ibu-ibu berkerumun di bawah tugu Jam Kota Poso, yang terletak di Jalan Kalimang. Mereka membawa poster kertas putih bertulisan ajakan agar menciptakan perdamaian di kota yang pernah terpecah oleh konflik selama hampir satu dekade itu. ”Kami Perempuan Poso Ingin Damai”, ”Ciptakan Poso yang Bebas dari Ketakutan”, ”Damai Tak Butuh Kekerasan”, begitu beberapa kalimat dalam poster yang dipertontonkan para perempuan setengah baya itu.

Mereka juga meneriakkan yel-yel agar perempuan Poso maju bersama membangun perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan, sembari membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang lewat. Seorang peserta aksi kadang memberikan seruan dan disambut balasan teriakan, ”Sintuwu maroso,” yang berarti bersatu dan kuat. ”Peristiwa kekerasan di Poso bukanlah kasus agama. Kekerasan Poso adalah bentuk kegagalan pemerintah, dan kami menolak segala bentuk kekerasan,” begitu pesan aksi damai itu yang dibacakan Lina Laando, koordinator lapangan.

Ibu-ibu pendemo dari berbagai latar belakang agama dan suku yang berasal dari Kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Poso Kota, Lage, dan wilayah Tentena itu memang ingin kampung mereka damai, tak ada pertikaian lagi. Sejak ada konflik horizontal sekitar tahun 2000, hingga yang paling terbaru adanya pembantaian warga oleh oknum tak bertanggung jawab, akhir Agustus lalu, Poso memang seperti tak henti dirundung teror.

Trauma itu membuat perempuan Poso tenggelam dalam ketakutan. Jangankan menyuarakan pendapat, berkumpul atau berkomunikasi dengan orang berbeda keyakinan pun tak berani. Namun hari itu para perempuan yang merupakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu itu sudah tak punya rasa takut untuk bersuara.

Ketakutan yang kini berganti menjadi kekuatan itu adalah salah satu hasil usaha panjang perempuan bernama Lian Gogali. Perempuan kelahiran Poso, 24 April 1978, ini tahu benar kondisi sosial budaya masyarakat di sana. Konflik telah memicu saling curiga, kebencian, dan permusuhan antar-warga.

Ketika konflik Poso pecah, keluarga Lian menjadi korban. Harta dijarah, rumah juga dihancurkan oleh api dan banyak yang terluka. Pada saat itu, Lian sedang belajar untuk meraih gelar master di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta. Dia sempat pulang ke rumahnya, menyaksikan dan mengalami langsung getirnya konflik yang terjadi. Meski sedih, dia menyatakan tidak memegang dendam. Ia pun kemudian memutuskan menulis tentang resolusi konflik untuk tesisnya.

Maka, pada 2002-2004, Lian melakukan penelitian di beberapa wilayah pengungsian saat konflik Poso. Ia mewawancarai ratusan perempuan dan anak-anak. Selama penelitiannya itu, Lian menemukan bahwa perempuan adalah yang pertama memulai gerakan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Seperti di masa lalu, selama konflik, sayuran, buah, dan lauk memiliki “agama”. Kristen menolak ikan yang berasal Poso Timur karena takut diracun. Sebaliknya, umat Islam di Poso menyingkirkan sayuran dari permukiman Kristen. Tapi para wanita tidak peduli. Bagi mereka, ini adalah masalah bertahan hidup. Suami dan anak-anak butuh makan.

Ratusan wanita juga membantu satu sama lain selama bentrokan. Seorang ibu muslim di Lage menyembunyikan wanita Kristen selama serangan. Di sisi lain, para pengungsi muslim menerima makanan dari pengungsi Kristen.

Dalam penelitian itu, Lian juga menemukan sesuatu yang kelak mengubah jalan hidupnya. Saat itu, seorang responden bertanya kepadanya, ”Setelah meneliti, menulis, dan mendapat gelar, lalu mau apa dengan wawancara ini?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lian tersadar. Pertanyaan itu selalu diingatnya, bahkan setelah dia kembali ke Yogya untuk menyempurnakan tesisnya. “Saya memutuskan kelak kembali ke Poso dan bekerja untuk isu perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dan, memang, begitu kuliahnya kelar sekitar tahun 2009, Lian memilih bekerja pada Asian Muslim Action Network (AMAN) sebagai fasilitator sekolah perempuan (SP) yang dibangun di Poso. Ketika AMAN menghentikan programnya, berbekal pengalaman dan pembelajaran yang didapat, Lian memutuskan membuat SP sendiri. “Saya percaya, ada kebutuhan mendesak bagi perempuan untuk berbicara dan berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Lalu didatangilah desa-desa di Poso, bertemu para wanitanya, untuk mengenal karakter mereka. Waktu itu, Lian sudah berketetapan hati untuk mengajar perempuan berpenghasilan rendah serta kelompok-kelompok minoritas yang tidak memiliki akses terhadap gender dan pengetahuan soal membangun perdamaian. Dia sengaja tak minta rekomendasi dari aparat desa atau tetua desa. Sebab biasanya dia diarahkan kepada pribadi-pribadi yang punya pamrih, bukan mereka yang benar-benar ingin memperbaiki diri.

Jadi, ada beberapa kriteria calon muridnya waktu itu. Pertama, mereka harus memiliki visi perdamaian inklusif dan keadilan. Mereka juga harus memiliki kemauan berjuang untuk orang lain. Lian pun mengutamakan muridnya adalah para korban kekerasan, karena mereka memiliki akses terbatas pada informasi dan biasanya tak berdaya.

Dengan dana yang terbatas, pada 2011 Lian bisa menyelenggarakan sesi awal SP Mosintuwu di teras rumah kontrakannya di Pamona. Sebuah ruang besar terbuka dengan dinding kayu. Angkatan pertama SP ini, kata Lian, awalnya sekitar 80 orang saja, terdiri dari umat Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Semuanya ibu rumah tangga biasa, lulusan SD, maksimal SMP. Mereka juga diajari menonton film bersama, bermain peran, mengunjungi rumah ibadah, dan sebagainya.

***

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan lancar. Pertemuan pertama diawali tatapan mata saling curiga. Beberapa peserta juga ada yang tidak memiliki komitmen dan meninggalkan kelas. Mosintuwu yang berarti hidup bersama ini pun mengembangkan kurikulumnya sendiri di sekolah itu. Akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, dan perempuan diundang untuk duduk bersama mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum sekitar seminggu. Lantas kurikulum dielaborasi oleh Lian dan dibantu Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivis sosial di Tentena.

Meski tertatih, lambat laun sekolah itu bisa digelar sekali sepekan selama empat jam. Dalam menjalankan SP dan kemudian dilengkapi dengan sanggar anak, Lian membiayainya dari honor bekerja sebagai peneliti dan penulis. Suatu ketika, seorang kawan peneliti dari Belanda merekomendasikannya untuk menceritakan mimpi-mimpinya tentang SP ke organisasi Mensen Men Een Missie. “Mereka pun membiayai operasional SP,” tuturnya.

Ternyata dana dari Belanda itu sangat berguna. Begitu lulusan pertama kelar, banyak desa yang minta agar perempuannya dilibatkan dalam SP dan meminta agar SP berdiri di sana. Lian pun bersiap memperluas jaringannya. Apalagi, bila hanya membuka di Pamona, program pemulihan konflik berlatar keyakinan ini tak akan efektif.

Lian akhirnya dengan cepat bisa mendirikan SP setidaknya di 10 desa di tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Lage yang terdiri dari Desa Toyado, Labuan, Malei, Bategencu; Kecamatan Poso Kota yang terdiri dari Desa Bukit Bambu, Sayo, Tegalrejo; dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan yang terdiri dari Desa Tangkura, Betalembah, Patiwunga. Mereka dari berbagai suku, seperti Pamona, Toraja, Bugis, Gorontalo, Bajo, dan Mori.

Namun, karena keterbatasan dana, tempat mengajar ini juga sederhana. Lian sudah biasa mengajar di rumah-rumah penduduk dan teras mereka, bahkan di ladang. Untuk menjaga semangat para perempuan itu, Lian rutin berpatroli ke tiap desa.

Saking semangatnya, ia pernah mengalami kecelakaan hingga perlu menggunakan kruk. Kakinya patah dan menderita infeksi. Dia sempat menjalani sembilan kali operasi. Namun ibu satu anak ini tetap bersemangat. Ia senang murid-muridnya menemukan ruang yang aman dan terbuka untuk berbicara.

Awalnya memang tak mudah menggandeng para perempuan itu. “Ada yang datang dengan dugaan ada uang duduk, setelah tahu tidak ada, terus mundur,” kata Lian. Lalu, karena pesertanya ibu rumah tangga, sang suami kerap melarangnya. “Ada anggapan, istrinya sudah tidak memperhatikan rumah tangga dan hanya mau sekolah,” ia menambahkan.

Sementara itu, beberapa warga berpikir, bekerja atau belajar di luar rumah tanpa izin suami tidaklah baik. Muncul pula asumsi, jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.

Namun ada pula warga yang mendukung karena istrinya bertambah pintar dan berwawasan ketika diajak berdiskusi. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. “Mereka mulai paham, saling menaruh respek, dan terbuka terhadap perbedaan agama yang ada,” kata perempuan yang telah menulis tiga buku, antara lain Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, itu.

Di sebuah SP yang ada di Pamona, misalnya, sekolah dibuka para peserta dengan menceritakan persoalan yang dialami, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Lalu mereka mencoba saling mendukung, berempati, dan bersumbang saran. Kegiatan juga diisi dengan diskusi, bermain drama, menonton film, analisis film, kunjungan lapangan ke rumah ibadah agama Islam, Kristen, dan Hindu untuk mengenal dan mengetahui agama, membuat film pendek, dan permainan.

Hasil tempaan Lian memang luar biasa. Pada upacara wisuda angkatan pertama di Tentena, lulusan Mosintuwu sepakat untuk mengabdikan diri bagi masyarakat dengan membangun sebuah rumah untuk perlindungan perempuan dan anak.

***

SP Mosintuwu kini memiliki delapan modul kurikulum dan yang bisa diselesaikan dalam 10 bulan. Mata pelajaran yang diajarkan adalah toleransi dan perdamaian, gender dan isu-isu politik, berbicara di depan umum dan pembangunan ekonomi. Melalui kurikulum ini, para anggota diminta menghilangkan praduga, kecurigaan, trauma, dan dendam, membangun kepercayaan diri serta saling percaya, dan meningkatkan kerja sama.

Tahun ini, SP angkatan kedua, menurut Lian, dibiayai dari hasil Coexist Prize, yang diterimanya pada 20 Maret lalu di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith.

“Saya tidak tahu dan mendadak masuk daftar panjang nominasi. Setelah itu lupa, tidak ingat lagi,” katanya, merendah. Lian terpilih dari 300 lebih nominator yang masuk dari seluruh dunia. Lian dan para finalis lolos setelah melalui tahap penjurian yang ketat oleh Dr. Ali Gomaa, Rabbi David Superstein, Bishop Mark S. Hanson, dan Mary Robinson.

Dalam penjelasan resmi di website Coexist Foundation disebutkan bahwa Coexist Prize baru pertama kali diadakan pada 2012 ini. Para juri memilih enam nominator sebagai finalis. Hingga akhirnya, juri berkeputusan bulat memilih Lian sebagai penerima Coexist Prize. ”Lian Gogali menjadi pemenang karena dia contoh terbaik dari sebuah pengalaman pribadi dan sebuah proyek yang menginspirasi,” kata David Ford, profesor di Universitas Cambridge, Inggris, mewakili para juri.

Saat menerima hadiah senilai US$ 100.000 itu, Lian Gogali menuturkan bahwa Coexist Prize yang diterimanya adalah penghargaan untuk semua perempuan dan anak-anak yang selama ini bekerja bersama-sama dengannya dalam segala keterbatasan untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Termasuk untuk semua pihak yang tetap percaya dan terus berjuang bagi kesetaraan, untuk perdamaian dan keadilan, melalui gerakan interfaith.

Coexist merupakan yayasan yang sejak 2006 mengupayakan pendekatan antar-keyakinan untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, juga masyarakat lain, melalui pendidikan, dialog, dan penelitian. Penghargaan buat Lian itu adalah sebuah pengakuan atas usahanya membangun perempuan Poso menjadi bagian terbaik dalam mereduksi pengaruh hasutan ideologi kebencian.

Kini, setelah satu langkah dilalui Lian, ada satu harapan lagi yang ingin dia wujudkan. Lian ingin menggelar Kongres Perempuan Poso. Kongres ini dimaksudkan untuk membuka ruang bicara perempuan Poso serta akses ruang publik dan ruang politik, sehingga perempuan bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan mendapatkan keadilan. “Saya pun ingin membangun sekolah perempuan di beberapa tempat di Indonesia, juga di luar, khususnya di daerah-daerah pasca-konflik,” katanya. (Mukhlison S. Widodo dan Rach Alida Bahaweres)


LIAN GOGALI: Ruang Bicara Perempuan Poso

Tuesday, August 6, 2013

Wako Ingin Pesantren Menasional

Wako Ingin Pesantren Menasional


Padang Ekspres • Selasa, 06/08/2013 13:58 WIB • Redaksi • 47 klik


M Yamin, Padek—Wali Kota Padang Fauzi Bahar berharap kegiatan Pesantren Ramadhan ya­ng rutin diadakan Pemko Pa­dang selama Ramadhan menjadi program nasional. Program ini ber­manfaat dalam pembentukan ka­rak­ter anak sejak dini.


 


Seperti diketahui Pesantren Ramadhan diikuti 54.897 murid SD, 47.435 siswa SMP, dan 42.790 siswa SMA dan siswa nonmuslim 4.766 siswa mulai dari SD hingga SMA.


 


“Ini hendaknya menjadi program nasional. Inilah yang dibilang Pak Presiden character building (pembangunan karakter). Ini se­ba­gai upaya pembentukannya dari awal,” kata Fauzi Bahar kepada sejumlah wartawan, usai pe­nu­tupan kegiatan pastoral di Gereja HKBP Padang, kemarin (5/8). Kegiatan pastoral dilaksanakan oleh siswa beragama Kristen.


 


Saat menutup Pesantren Ra­mad­han di Masjid Nurul Yakin, Kompleks Perumahan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Mi­nggu (4/8) malam, Fauzi me­nga­takan, banyak manfaat yang di­dapat dari kegiatan tersebut, te­ru­tama meminimalisir kriminalitas.


 


“Orang Islam yang tidak taat pada agamanya rentan menjadi pelaku kriminal, kejahatan, ko­rup­si dan sebagainya. Begitu juga penganut Kristen, yang tidak taat akan melakukan kejahatan,” jelas­nya.


 


Melalui Pesantren Ramadhan, salah satu upaya menanami nilai-nilai agama bagi generasi muda sejak usia dini. “Negara ini men­jamin setiap umat, setiap warga untuk memeluk agama dan beri­ba­dah menurut agama dan ke­per­cayaan masing-masing,” tu­tur­nya.


 


Pembentukan karakter, ka­tanya, akan lebih ber­man­faat kendati mengeluarkan biaya besar. Manfaatnya akan dirasakan secara luas. “Jika kita bina olahraga sepakbola dengan biaya Rp 5 miliar ha­silnya tentu tidak akan begitu besar kita rasakan. Tapi jika kita bina anak-anak ini dengan pembentukan akhlak dan budi pekerti akan lebih bermanfaat karena akan langsung dira­sakan dampaknya. Ayah mana yang tidak suka anaknya da­tang ke gereja, masjid, vihara, dan pura,” terangnya.


 


Melalui kegiatan tersebut, intensitas beribadah anak-anak bertambah dari hari bia­sanya. “Saya terharu pada anak-anak tadi begitu antu­sias. Anak-anak ini berada di gereja 3 minggu berturut-turut. Tingkat intensitasnya beribadah meningkat diban­ding hari-hari biasa. Yang biasanya hanya sehari ke ge­reja, itu pun bersama ke­luarga. Kini mereka setiap hari selama tiga minggu ke gereja,” im­buhnya.


 


Di samping manfaat ter­se­but, pembentukan karak­ter dan akhlak ini dapat me­redam ge­sekan antaragama. “Selama ini terjadi gesekan antaragama di­sebabkan le­mah­nya pen­ge­ta­­huan agama mereka,” tu­kuk­nya. Fauzi berharap Pesantren Ramadhan dilanjutkan oleh wali kota terpilih nantinya. “Kalau wali kota berikutnya tidak melakukan hal ini, warga harus mendesaknya. Hal ini dibutuhkan warga,” paparnya.


 


Senada dengan itu, pen­deta gereja HKBP Padang, Afolo Waruwu, juga berharap kegiatan serupa dapat dilan­jutkan oleh wali kota Padang baru nantinya. “Disayangkan tidak dilanjutkan,” ujarnya.


 


Dia mengatakan, pem­bina­an rohani bagi siswa siswi Kristen bermanfaat mem­be­ntuk karakter mereka. De­ngan demikian, anak-anak terfokus untuk belajar pemahaman agama. “Anak-anak kita an­tusias” katanya.


 


Paraklaweh Unggul


 


Secara terpisah, Kelurahan Paraklaweh Kecamatan Lu­buk­begalung berhasil me­ngung­guli 14 kelurahan dalam pe­laksanaan Pesantren Ra­mad­han 1434 H/2013 M. Ini predikat terbaik ketiga kalinya yang diraih secara berturut-turut sejak 2011 lalu pada kegiatan yang sama.


 


“Ini prestasi yang ketiga kalinya untuk tingkat Ke­ca­ma­tan Lubeg. Jadi harapan kita tinggal selangkah lagi, yakni mengukir prestasi di tingkat Kota Padang nantinya,” ujar Lurah Paraklaweh Ganefardi, saat penutupan Pesantren Ramadhan tingkat Kecamatan di Masjid At Taubah, Parak Laweh, Lubeg, kemarin.


 


Total peserta pesantren 171 siswa terdiri dari 60 murid SD dan sederajat, 59 siswa dari SLTP serta sisanya pelajar SLTA.


 


Selain itu, aparatur kelurahan yang bekerja sama dengan Karang Taruna Aster Biru, Parak Laweh, juga men­ye­rahkan bantuan kepada 89 orang anak yatim yang ma­sing-masingnya mendapat santuan sebesar Rp 500 ribu.


 


Ketua Karang Taruna Aster Biru, Paraklaweh, Febrinal me­ngu­ngkapkan, selain fokus pada kegiatan sosial ke­mas­ya­rakatan, organisasinya juga aktif dalam mendukung pem­ben­tukan men­tal generasi muda salah satunya melalui Pesantren Ramadhan ini. (bis/zul)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/207819


Wako Ingin Pesantren Menasional

Monday, November 18, 2013

Jonas Rivanno Cuma Ngaku Pernah Jadi Mualaf dengan Tulus

Senin, 18 November 2013 18:37 wib

Alan Pamungkas – Okezone

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

Jonas Rivanno (Foto: Alan P)

JAKARTA – Jonas Rivanno Wattimena (Vanno) resmi menjadi mualaf pada 21 Agustus 2013. Dia pun mengaku pernah menjadi mualaf dengan tulus.


Dibimbing Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Beji, Ustadz Mahari Madarif, Vanno mengucapkan dua kalimat syahadat selepas salat Subuh di Masjid An Nur Tanah Baru, Depok.


Vanno menjadi mualaf agar bisa menikahi kekasihnya, Asmirandah. Betul saja, pada 17 Oktober, Vanno dan Andah resmi menikah di hadapan KUA Kecamatan Beji dengan status Vanno beragama Islam.


Kedua Peristiwa itu sempat dibantah Vanno dan Andah. Vanno menggelar jumpa pers pertama pada 29 Oktober di kediamannya di kawasan Kota Wisata Cibubur. Dalam konferensi pers tersebut, Vanno mengaku masih beragama Kristen, dan belum menikah dengan Andah. Pernikahan baru dilaksanakan pada Januari 2014.


Pernyataan Vanno kemudian diperkarakan FPI Depok, dan MUI Kecamatan Beji. Vanno dinilai telah melecehkan agama Islam karena telah mengingkari pengucapan dua kalimat syahadat.


Merasa dirinya tersudut, Vanno menggelar kembali jumpa pers kedua pada 15 November. Dalam jumpa tersebut, Vanno mencabut pernyataan pertamanya, dan mengakui pernah menjadi mualaf, dan sudah menikah dengan Asmirandah.


“Saya selaku pribadi mencabut penyataan sebelumnya, saya pernah jadi mualaf dengan setulusnya dan sedalam-dalamnya,” ungkap Vanno saat ditemui di kawasan Cibubur, Depok.


Hingga saat ini, kasus tersebut masih berbuntut panjang. Namun, yang masih menjadi teka-teki apakah agama yang saat ini dianut Vanno? Dia pun enggan menjawab dengan alasan privasi.


(nsa)






mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.ngomel.com/pengakuan-vanno-dan-asmirandah-15113


Jonas Rivanno Cuma Ngaku Pernah Jadi Mualaf dengan Tulus

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank So Much for Visit this Article

Sunday, May 5, 2013

Masjid Agung Madani Islamic Center Pasirpangaraian Segera Bentuk Lembaga ...

Senin, 6 Mei 2013 06:59
Masjid Agung Madani Islamic Center Pasirpangaraian Segera Bentuk Lembaga Mualaf

Tingginya intensitas warga masuk Islam mendapat perhatian pengurus Masjid Agung Madani Islamic Center Pasirpangaraian. Sedang digagas pembentukan lembaga mualaf.


Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Untuk rencana membina ratusan para

mualaf, pengurus Masjid Agung Madani Islamic Centre Pasirpangaraian

segera membentuk sebuah Lembaga Mualaf Rokan Hulu.



Menurut Koordinator Bidang Dakwah dan Pemasyarakatan Masjid Agung

Madani, Yulihesman, pembentukan Lembaga Mualaf Rohul sangat penting.

Pasalnya, ratusan mualaf tersebar di 16 kecamatan masih kurang

pembinaan.



“Kita akan bentuk lembaga mualaf dalam waktu dekat. Tujuan lembaga ini

adalah untuk menjadi tempat pembinaan para muaalaf sehingga menjadi

Muslim sejati serta lebih mengenal Islam Kaffah (menyeluruh.red),”

kata Yulihesman, juga Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) Rohul,

Ahad (5/5/13).



Yulihesman mengaku, selama ini ratusan mualaf, terutama yang berada di

Kecamatan Ujungbatu masih kurang pembinaan. “Itu lah mengapa sangat

perlu dibentuk Lembaga Mualaf, sebab pembinaan masih kurang,” ujarnya

kepada riauterkinicom.



Lembaga Mualaf ini, kata Yulihesman, akan dirancang untuk meng-cover

seluruh bentuk pelatihan seperti latihan shalat lima waktu dan sunnah,

serta belajar membaca Alqur’an. Lembaga ini pada umumnya akan

melibatkan pengurus Masjid Agung Madani serta Kementrian Agama

(Kemenag) Rohul.



Para mualaf, ungkap Yulihesman, merupakan orang-orang yang tergugah

pindah agama ke Islam. Mereka menilai Islam memiliki ajarannya bagus.

“Itu sepengetahuan mereka selama ini. Tidak ada paksaan terhadap

mereka,” katanya.



Seperti beberapa waktu lalu, tambah Yulihesman, satu keluarga di

Kecamatan Rambah nyatakan diri masuk Islam. Lima orang satu keluarga

dari Medan dan sudah lama tinggal di Rohul ini datang sendiri ke

Masjid Agung Madani. Mereka mengucap sahadat usai Shalat

Jumat.



“Mereka datang sendiri, tidak ada pemaksaan. Masjid Agung sudah banyak

meng-Islamkan masyarakat, tapi rata-rata mereka datang sendiri dan

penuh kesadaran. Ini lah dirasa penting dibentuknya Lembaga Mualaf,”

tutur Yulihesman lagi.***(zal)





Beri

tanggapan
| Baca

tanggapan

Article source: http://www.bola.net/indonesia/pt-li-janji-selesaikan-persoalan-diego-mendieta-c5fb29.html


Masjid Agung Madani Islamic Center Pasirpangaraian Segera Bentuk Lembaga ...

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank U Very Very Much for Read this News

Tuesday, June 18, 2013

Menengok Jejak Pangeran Wiraguna di Ragunan

Jika menyebut nama Ragunan maka yang terbersit pertama kali dalam benak kita adalah tempat rekreasi fauna Taman Margasatwa Ragunan (TMR) di Kecamatan Pasarminggu, Jakarta Selatan. Namun tidak banyak yang tahu kalau nama Ragunan diambil dari nama Pangeran Wiraguna yang merupakan seorang warga negara Belanda bernama asli Hendrick Lucaasz Cardeel yang hidup di abad ke-16.

Hendrick sendiri mendapat gelar itu dari putra Sultan Ageng Tirtayasa Raja Banten, yang bernama Sultan Abunasar Abdul Qohar atau Sultan Haji. Ini dilakukan karena Hendrick telah membantu pihak Kerajaan Banten untuk membangun kembali bangunan kompleks kerajaan yang hangus terbakar saat itu. Sultan Haji yang ingin menguasai singgasana ayahnya, juga memberikan kepercayaan penuh kepada Pangeran Wiraguna dalam menjalin hubungan dengan pihak VOC di Batavia.


“Dahulu Pangeran Wiraguna sempat masuk Islam dan menikah dengan seorang perempuan muslimah. Dia dipercaya sebagai utusan untuk berhubungan dengan VOC dan membantu Sultan Haji merebut kekuasaan ayahnya,” ujar Kamaludin (56), penjaga makam Pangeran Putra Wiraguna, Rabu (19/6).


Setelah lama tinggal di nusantara, sekitar tahun 1689, Pangeran Wiraguna memohon izin kepada Sultan Haji untuk pulang ke Belanda. Namun karena jasanya juga membantu VOC menguasai wilayah jajahannya, ia diberikan lahan yang cukup luas di Batavia hingga ia mengurungkan niat pulang ke tanah kelahirannya. Dan pada tahun yang sama, Pangeran Wiraguna meninggalkan Islam untuk kembali ke agama Kristen. “Meninggalnya saya tidak tahu pasti kapan, sampai dikuburkan di sini, Sehingga orang menyebut kawasan ini jadi Ragunan,” ucapnya.


Saat ini, makam Pengeran Wiraguna berada di Jl Pekayon Pejatenbarat RT 05/03, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasarminggu, Jakarta Selatan. Kemajuan zaman, membuat lahan pekuburan wakaf yang juga terdapat makam pangeran tersebut kini mulai terjepit oleh bangunan-bangunan besar. Pintu masuk untuk menuju makam pun, melalui gang sempit. Bahkan di depannya hampir tertutup dengan usaha tambal ban.


“Di sini setiap malam Jumat sangat banyak peziarah yang berdoa. Mereka mulai datang dari sore hari, untuk melakukan doa dan lainnya. Tidak tahu juga kalau ada yang meminta pesugihan atau suatu maksud, biasanya sampai subuh banyak orang,” tuturnya.


Kamaludin sendiri baru menjadi penjaga makam pada 2007 lalu. Di tempat itu dirinya diberikan mandat untuk menjaga dan merawat makam tersebut. “Juru kuncinya sudah meninggal beberapa tahun lalu, saya hanya merawat dan menjaga. Baru direnovasi menjadi seperti rumah sekitar tahun 2010, dan pintu baru saya buka kalau malam Jumat saja,” ucapnya.
 
Karena banyak peziarah yang datang dengan maksud tertentu, untuk mencegah penyimpangan di dinding dan di atas pintu makam Pangeran Wiraguna diberikan peringatan untuk para peziarah. “Mudah-mudahan mereka mengerti hakekat dari berziarah itu, jangan sampai meminta sesuatu kepada selain Allah,” harap Kamaludin.


 


Article source: http://www.suarapembaruan.com/home/dicecar-soal-artis-hot-masuk-ppp-lukman-hakim-tolak-berkomentar/34700


Menengok Jejak Pangeran Wiraguna di Ragunan

Tuesday, January 29, 2013

'Ngaku' Sering SMS Nabi Khidir, Kades Didemo Warga

MALANG, KOMPAS.com — Joko Sudirman, Kepala Desa Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang mengaku sering saling berkirim pesan pendek (SMS) dengan Nabi Khidir, didemo warganya. Ratusan warga di halaman kantor desa setempat, Selasa (29/1/2013), mendesak Joko segera mundur dari jabatan kepala desa.

Koordinator aksi, Didik Prasetyo Prihantono, mengaku bahwa warga tidak suka dengan Joko karena pejabat itu menyukai hal mistis. “Dia mengaku sering SMS-an dengan Nabi Khidir. Ini pelecehan dan tidak masuk akal. Suka hal mistis itu jelas syirik dalam Islam. Dia dinilai berbuat syirik karena telah membuat sebuah cungkup di halaman depan rumahnya,” kata Didik.

“Joko kerap mengatakan kepada warga bahwa dirinya sering bertukar pesan lewat handphone dengan Nabi Khidir,” kata Didik lagi.

Wilayah Sumbermajing Wetan, kata Didik, banyak dihuni oleh ulama yang taat beragama. “Karenanya, kades di sini jangan hanya bertindak dengan mendengarkan suara mistis,” ungkap Didik. “Warga mendesak Joko harus mundur karena sudah melakukan perbuatan syirikdan meresahkan warga di sini,” sambungnya.

Selain terkait persoalan mistis, Joko Sudirman juga dianggap kurang aspiratif dan argumentatif dalam melayani masyarakat terkait surat-menyurat di desa. “Dalam hal penggunaan uang kas desa dan pengelolaan tanah bengkok, Kades itu juga tidak pernah transparan. Pelayanannya kepada warga tidak baik,” kata Didik lagi.

Sementara itu, Agus Hariyanto, Sekretaris Kecamatan Sumbermanjing Wetan, mengatakan bahwa warga harus menyikapi persoalan ini dengan cara musyawarah. “Soal Kades telah membuat cungkup (atap kuburan), tidak semudah itu. Harus dilihat dasar hukumnya maupun silsilahnya,” kata Agus.

Jika membuat cungkup tidak ada dasar hukumnya, maka cungkup itu harus dibongkar. “Jika cungkup itu akan dinilai menyesatkan warga, harus dibongkar,” kata Agus.






Article source: http://nasional.kompas.com/read/2012/10/29/12033158/Kegagalan.Partai.Islam


'Ngaku' Sering SMS Nabi Khidir, Kades Didemo Warga

Wednesday, August 28, 2013

Kunjungi Kuansing, JE Sabar Dengarkan Aspirasi Masyarakat

Rabu, 28 Agustus 2013 14:48
Kunjungi Kuansing, JE Sabar Dengarkan Aspirasi Masyarakat

Cagubri Jon Erizal berkampanye simpati Cerenti dan Basrah, Kuansing. Dengan sabar pengusaha nasional tersebut mendengarkan aspirasi dan masukan masyarakat.


Riauterkini-CERENTI-Calon Gubernur Riau H. Jon Erizal makin gencar melakukan

kampanye. Pada hari ke-10 kampanye, Selasa (27/8), calon gubernur yang

diusung PAN dan PKS itu menelusuri dua kabupaten sekaligus yakni Indragiri

Hulu (Inhu) dan Kuantan Singingi (Singingi). Di Inhu, JE berkampanye di Air

Molek, Kecamatan Pasir Penyu, sedangkan di Kuansing, putra kelahiran

Bengkalis, ini mengunjungi Kecamatan Cerenti dan Kuantan Hilir.



Di Cerenti, Jon Erizal menjumpai masyarakat di Pasar

Cerenti. Walaupun sudah siang, masing banyak warga Cerenti berada di pasar.

Jon Erizal berjalan menelusuri kedai-kedai yang ada di pasar dan menyalami

masyarakat. Dia agak lama minum di salah satu kedai kopi. ‘’Dengan cara

begini, kita lebih dekat dengan masyarakat,’’ ujarnya.



Banyak ibu-ibu dan perempuan yang ingin berfoto dengan Jon

Erizal. Apalagi melalui pengeras suara, tim kampanye Jon Erizal-Mambang Mit

(JE-MM) mengatakan Jon Erizal seorang yang ganteng dan masih muda. ‘’Memang

masih muda dan ganteng ya,’’ kata seorang ibu muda memuji dan minta

berfoto. Ibu muda ini juga meminta jilbab dan pakaian batik yang dibawa

oleh tim pemenangan JE-MM.


Dari Cerenti, Jon Erizal menuju Baserah, Kuantan Hilir,

untuk menjumpai keluarganya di Pasar Baru, Baserah. Jon Erizal bersama

istri, Hj. Rita Jon Erizal dan kedua kakak kandungnya, Ros dan Tini,

disambut hangat oleh sang nenek. Mereka bernostalgia ketika bersama-sama

dengan ayah Jon Erizal, Muhamamd Yatim Awal masih hidup. ‘’Beliau keluar

saya di Rumah Gadang,’’ kata Jon Erizal.



Selanjutnya Jon Erizal menuju Dusun Tuo, Kuantan Hilir,

untuk berkampanye. Namun Jon Erizal tidak lama di sana karena sudah

ditunggu pula oleh warga di tempat lain. Jon Erizal hanya menyalami

masyarakat yang ada di sekitar lapangan dan berfoto-foto. Kampanye

dilanjutkan dengan juru kampanye Ketua Umum PARRA Indonesia, Rusli Halim

Fadli dan Sekretaris DPW PAN Riau, Herman Gazali.



Dalam kampanyenya, Rusli menyatakan Jon Erizal merupakan

tokoh nasional dari Riau yang punya jaringan luas. Jika dia jadi gubernur,

tentu sangat menguntungkan Riau. Sedangkan Herman Gazali mengatakan

pasangan JE-MM merupakan pasangan ideal, kombinasi pengusaha dan birokrat

senior, dan kombinasi Riau pesisir dengan Riau daratan. ‘’Insya allah, ini

calon yang terbaik dengan nomor urut 5,’’ ujarnya.***(rls)





Beri

tanggapan
| Baca

tanggapan

Article source: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/08/24/223618/2339644/74/schalke-kalah-lagi


Kunjungi Kuansing, JE Sabar Dengarkan Aspirasi Masyarakat

Friday, August 16, 2013

[VIDEO] Diundur, Bella Saphira Kemungkinan Menikah di Binjai

[VIDEO] Diundur, Bella Saphira Kemungkinan Menikah di Binjai




Liputan6.com, Jakarta : Setelah menjadi mualaf pada pekan terakhir Juli 2013, Bella Saphira siap melangsungkan pernikahan dengan Agus Surya Bakti. Pria yang berhasil menjerat hati ratu sinetron era 90-an ini adalah jenderal bintang dua di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT.


Berita Terkait



Ditanya soal Pernikahan, Ini Jawaban Calon Suami Bella Saphira


Ditanya soal Pernikahan, Ini Jawaban Calon Suami Bella Saphira



Positif Bulan Ini, Bella Saphira Tak Nikah di Hari Kemerdekaan


Positif Bulan Ini, Bella Saphira Tak Nikah di Hari Kemerdekaan


Pasangan ini sempat merencanakan mengikat tali suci pernikahan tepat pada hari kemerdekaan 17 Agustus. Namun belakangan merebak kabar bahwa rencana pernikahan mereka diundur. Adapun kabar ini pertama kali diangkat sebuah harian Ibu Kota.


Dikabarkan pula, keduanya kemungkinan menikah di Binjai, Sumatra Utara, kampung halaman Mayor Jenderal Agus Surya Bakti yang tak lain mantan Komandan Grup 3 Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.


Namun ketika ditanya wartawan di kantornya kawasan Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat pada Rabu (14/8/2013), duda dua anak itu enggan menjawab seputar pernikahannya dengan Bella Saphira yang kabarnya akan berlangsung di Binjai.


“Itu masalah pribadi ya. Tolong dipahami ya, teman-teman,” ucap Mayjen Agus.


Adapun sejak menjadi mualaf dan mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada akhir bulan silam, nama Bella Saphira kembali menjadi buah bibir masyarakat. Banyak kalangan mengaitkan hijrahnya artis berusia 40 tahun itu sebagai pemeluk agama Islam dengan sosok Mayjen Agus Surya Bakti.


Dalam wawancara di sebuah tabloid terbitan Ibu Kota, wanita bernama lengkap Bella Saphira Veronica Simanjuntak membenarkan memundurkan rencana pernikahannya. Ini lantaran artis berusia 40 tahun itu mengaku keteteran mengurus dokumen untuk kepentingan menikah.


Ini memang bisa dimaklumi, terlebih sejak memeluk Islam Bella belum mengurus perubahan status agamanya di beberapa dokumen pentingnya. Bella pun dipusingkan untuk mengurus surat pengantar nikah bila memang benar akan menikah di Binjai.


Paling tidak Bella harus mengurus surat ke kantor kecamatan tempat ia tinggal hingga kantor urusan agama di Binjai.


Berdasarkan hasil penelusuran tim Waswas, mulai Kantor Kelurahan Pangkalan Jati hingga Kantor Urusan Agama Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, mereka menyatakan belum menerima surat permohonan menikah atau pengantar nikah.


“Sampai saat sekarang ini memang belum ada permintaan pengantar nikah atas nama Bella Saphira,” ucap Sugianto, Lurah Pangkalan Jati. Hanya saja, Sugianto mengaku tak mengetahui ketika ditanyakan kemungkinan Bella telah pindah alamat dan mengganti kartu tanda penduduk-nya.


Adapun alasan tim Waswas mengecek ke sana lantaran orangtua Bella Saphira berdomisili di kawasan Pangkalan Jati, Cinere, Depok.(Ans)






Article source: http://sidomi.com/206195/bella-saphira-masuk-islam-keluarga-menjauh/


[VIDEO] Diundur, Bella Saphira Kemungkinan Menikah di Binjai

Friday, May 3, 2013

Dari Tanah Karo, Bersyahadat di Ulang Tahun Kota Jantho

JANTHO – Pasangan suami istri, Sobar (50 th) dan Ukurta (45 th) asal Tanah Karo, Sumatera Utara mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam, Jumat (3/5/2013). Pensyahadatan mereka dibimbing oleh pengurus MPU Aceh Besar, Tgk Syahabuddin dan dilakukan usai shalat Jumat di Masjid Agung Al-Munawwarah Kota Jantho.


Usai disyahadatkan, Sobar berganti nama Islam menjadi Muhammad Sabar dan istrinya berubah nama menjadi Siti Aisyah. Pasangan suami istri yang sebelumnya beragama Kristen itu menyatakan masuk Islam tanpa paksaan dari siapapun.


Airmata terharu juga terlihat dari wajah pasangan suami istri yang kini menetap di perumahan mualaf binaan Baitul Mal Aceh Besar di Gampong Awek, Kecamatan Kota Jantho.


Hadir dalam kegiatan pensyahadatan tersebut, Imam Besar Masjid Al-Munawwarah Kota Jantho, Tgk Zaini ZA SAg MH, Kadis Syariat Islam Aceh Besar T Hasbi SH, Kabag Humas dan Protokol Setdakab Aceh Besar Muhammad Iswanto SSTP MM, KepalaTatausaha Kemenag Aceh Besar Nasrullah SAg dan Kasi Bimas Islam Kemenag Aceh Besar Drs M Zain MPd, anggota DPRK Aceh Besar Iwan Sulaiman, para PNS, serta tokoh-tokoh masyarakat Kecamatan Kota Jantho.


Dalam bimbingannya, Tgk Syahabuddin mengharapkan agar pasangan suami istri tersebut terus mendalami ajaran Islam agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan kesehariaan.


Kepada tokoh dan warga muslim, diharapkan dapat membimbing kedua saudara seiman tersebut, sehingga menjadi umat Islam yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT. ”Alhamdulillah, Saudara Muhammad Sabar dan istri telah dengan kerelaan hati memeluk agama Islam dan memperoleh hidayah dari Allah SWT. Semoga dapat terus mendalami dan mengamalkan ajaran Islam dalam aktivitas sehari-hari,” harapnya.  


Pensyahatan pasangan suami istri ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Jantho yang ke-29 yang jatuh pada Jumat (3/5/2013). Pemkab Aceh Besar sendiri pagi tadi menggelar upacara HUT Aceh Besar dan Sidang Paripurna DPRK.




Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/05/03/mm6nzv-saat-dihina


Dari Tanah Karo, Bersyahadat di Ulang Tahun Kota Jantho

Wednesday, June 5, 2013

Menari bersama si Bambu Gila

Rabu, 5 Juni 2013 – 03:21 wib



Bambu gila (Foot: Wego)

Bambu gila (Foot: Wego)


Bambu Gila, Maluku


Mendengar nama ‘Bambu Gila’ mungkin pikiran Anda akan teralih kepada sebuah benda bernama bambu. Tidak sepenuhnya salah, karena tarian berasal dari Maluku ini juga menggunakan medium bambu.


Bambu Gila merupakansebuah tarian yang mengandung unsur mistis dan kemenyan. Sebanyak tujuh pria kuat bertarung melawan sebatang bambu dengan panjang sekira 2,5 meter dan berdiameter 8 cm. Ini merupakan pemandangan menarik, saat menyaksikannya Anda akan merasakan pengalaman supranatural yang mungkin jarang atau belum pernah Anda rasakan sebelumnya.


Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh (bambu) Gila atau Bara Suwen. Pertunjukan ini bisa ditemui di dua desa, yaitu Desa Liang, Kecamatan Salahatu, dan Desa Mamala, kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Di Provinsi Maluku Utara, atraksi ini dapat dijumpai di beberapa daerah di Kota Ternate dan sekitarnya.


Untuk memulai pertunjukan ini, sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian, asap kemenyan diembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe, maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu.


Fungsi kemenyan atau jahe untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.


Dalam berbagai atraksi yang melibatkan hawa mistis, manusialah yang dirasuki oleh roh mistis tetapi dalam tarian ini roh mistis yang dipanggil dialihkan ke dalam bambu. Ketika pawang membacakan mantra berulang-ulang, dia lantas berteriak “gila, gila, gila!”. Atraksi bambu gila pun dimulai. Alunan musik mulai dimainkan ketika tujuh pria yang memegang bambu mulai merasakan guncangan bambu gila.


Bambu terlihat bergerak sendiri ketika pawang mengembuskan asap dan menyemburkan jahe ke batang bambu. Para pria yang memeluk bambu mulai mengeluarkan tenaga untuk mengendalikan kekuatan guncangan bambu. Ketika irama musik mulai dipercepat, bambu bertambah berat dan menari dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Atraksi bambu gila berakhir dengan jatuh pingsannya para pemain di arena pertunjukan. Hal yang unik dari pertunjukan ini, kekuatan mistis bambu gila tidak akan hilang begitu saja sebelum diberi makan api melalui kertas yang dibakar.


Bambu yang digunakan merupakan bambu lokal. Namun, proses memilih dan memotong bambu tidak sembarangan, karena dibutuhkan perlakuan khusus. Pawang terlebih dahulu meminta izin dari roh yang menghuni hutan bambu tersebut.


Bambu kemudian dipotong dengan adat tradisional. Bambu dibersihkan dan dicuci dengan minyak kelapa kemudian dihiasi dengan kain pada setiap ujungnya. Dahulu, bambu langsung diambil dari Gunung Gamalama, gunung api di Ternate, Maluku Utara. Saat ini, tarian bambu gila dipelajari dan dimainkan di luar Pulau Maluku.


Tradisi tari Bambu Gila diyakini sudah lama dimulai sebelum masa Islam dan Kristen masuk ke kepulauan ini. Saat ini, tarian ini hanya dipentaskan di beberapa desa kecil. Melihat tarian ini merupakan pengalaman spiritual yang unik. Lantunan mantra dari pawang dan tabuhan tifa menciptakan pertunjukan yang tidak bisa Anda temukan di tempat lain di dunia. Apalagi jika Anda ikut menari dengan bambu gila, membuat pengalaman ini sulit untuk Anda lupakan.




mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://news.liputan6.com/read/569944/5-teori-konspirasi-yang-merebak-dalam-tragedi-bom-boston


Menari bersama si Bambu Gila

Sunday, February 3, 2013

Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Temuan baru muncul mengungkap siapa sebenarnya Musso atau Munawar Musso alias Paul Mussote (nama ini tertulis dalam novel fiksi Pacar Merah Indonesia karya Matu Mona), tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an. Nama Musso terus berkibar hingga pemberontakan Madiun 1948.

Musso dilahirkan di Kediri, Jawa Timur 1897. Sering disebut-sebut, Musso adalah anak dari Mas Martoredjo, pegawai kantoran di Kediri. Penelusuran merdeka.com mengungkap cerita lain, bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di daerah Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kiai besar itu adalah KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, seorang pelarian pasukan Diponegoro.

Kabar bahwa Musso diragukan sebagai anak Mas Martoredjo muncul dari informasi awal Ning Neyla Muna (28), keluarga Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri yang menyebut Musso itu adalah keluarga mereka.

Sulit untuk dipercayai, jika Musso anak pegawai kantoran biasa di desa, bisa menjadi pengikut Stalin dan fasih berbahasa Rusia. Bahkan untuk berteman dengan Stalin dan bisa melakukan aktivitasnya yang menjelajah antarnegara hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya di masa itu.

Kalau bukan anak orang berpengaruh, sulit pula baginya menjadi pengurus Sarekat Islam pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Selain di Sarekat Islam, Musso juga aktif di ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda).

Saat di Surabaya Musso pernah kos di Jl. Peneleh VII No. 29-31 rumah milik HOS Tjokroaminoto, guru sekaligus bapak kosnya. Selain Musso di rumah kos itu juga ada Soekarno, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Musso, Alimin, dan Semaun dikenal sebagai tokoh kiri Indonesia. Sedangkan nama yang terakhir, menjelma menjadi tokoh Darul Islam, ekstrem kanan. Mereka dicatat dalam sejarah perjalanan revolusi di Indonesia.

Saat kos itu, Musso menjadi salah seorang sumber ilmu Bung Karno dalam setiap percakapan. Seperti misalnya saat Musso menyoal penjajahan Belanda, “Penjajahan ini membuat kita menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa.”

Merdeka.com menemui KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri untuk bertanya tentang siapa Musso. “Saya hanya mengetahui Musso memang keluarga besar Ponpes Kapurejo, namun yang paham itu adalah KH Muqtafa, paman kami. Yang saya pahami Musso itu anak gawan (bawaan), jadi saat KH Hasan Muhyi menikahi Nyai Juru, Nyai Juru sudah memiliki putra salah satunya Musso. Makam keduanya berada di komplek Pondok Pesantren Kapurejo,” kata Gus Ibiq paggilan akrab KH Hamdan Ibiq, akhir bulan lalu.

Penelusuran dilanjutkan ke rumah KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Tiba di rumah KH Muqtafa, si empunya rumah tampak sedang asyik mutholaah kitab kuning (membaca dan memahami kitab kuning) tepat di depan pintu rumahnya.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab, kemudian Kyai Tafa mempersilakan masuk. Rumah lelaki pensiunan pegawai Departemen Agama ini tampak asri, tembok warna putih dan ada bagian gebyog kayu jati yang menandakan pemiliknya orang lama. Ditambah beberapa hiasan kaligrafi Arab yang ditulis dengan indah menempel di antara dinding rumahnya. Selanjutnya Kiai Tafa masuk ke rumah induk dan berganti pakaian yang semata-mata dia lakukan untuk menghormati tamunya.

Lima menit berlalu, Kiai Tafa keluar dan menanyakan maksud kedatangan. Sebelumnya lelaki yang sudah tampak uzur ini menyatakan meski keturunan keluarga pesantren, dia tak memiliki santri. Sebab dia harus menjadi pegawai negeri dan berpindah-pindah tempat.

“Mau bagaimana lagi memang harus seperti itu,” kata Kiai Tafa membuka perbincangan.

Setelah mengutarakan maksud dan tujuan untuk mengetahui sejarah Ponpes Kapurejo, kemudian penuh semangat, Kiai Tafa menjelaskan secara gamblang dengan suara yang sangat berwibawa.

Belum membuka pembicaraan tentang Musso, merdeka.com hanya ingin mengetahui arah pembicaraannya seperti yang disampaikan Gus Ibiq, bahwa Kyai Tafa -lah yang menjadi kunci silsilah keluarga Pondok Pesantren, Kapurejo.

“KH Hasan Muhyi itu orang Mataram, sebenarnya namanya adalah Rono Wijoyo. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Kapurejo. Beliau menikah sebanyak tiga kali, istri pertamanya adalah Nyai Juru. Dari pernikahannya yang pertama itu KH Hasan Muhyi diberikan 12 putra. Dan maaf salah satunya mungkin orang mengenal dengan nama Musso,” ujar Kiai Tafa yang sedikit canggung ketika menyebut nama Musso.

Meski canggung, Kiai Tafa kembali menegaskan itulah fakta sejarah. “Mau bagaimana lagi itulah fakta sejarah,” tukasnya.

Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/02/01/156580/PKS-Diprediksi-Down-Karena-Status-Luthfi-


Cerita Musso, tokoh PKI yang ternyata anak kiai besar

Tuesday, April 16, 2013

Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah - Metro TV

Metrotvnews.com, Tapanuli Tengah: Salah satu lokasi wisata sejarah terkenal di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, adalah di Kecamatan Barus, yang menjadi pintu masuk ajaran agama Islam dan Kristen di Indonesia. Selain wisata sejarah, di Tapanuli Tengah juga terdapat potensi wisata bahari.



Setelah menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Medan, Anda akan tiba di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten dengan garis pantai sepanjang 200 kilometer ini memiliki puluhan pantai dan pulau yang terhampar indah. Antara lain ada Pantai Binasih, Pantai Kahona, Pulau Mursala dan Pulau Putri.



Pulau Mursala bisa menjadi tujuan pertama Anda. Dengan menaiki kapal berkapasitas 10 penumpang dan menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam, Anda bisa tiba di Pulau Mursala yang eksotik. Anda juga bisa ke Pulau Mursala dengan menaiki perahu-perahu kayu. Namun waktu tempuhnya dua kali lipat dari waktu tempuh perjalanan dengan kapal.



Di Pulau Mursala, Anda akan menyaksikan air terjun setinggi 35 meter. Dari puncak pulau, air terjun tersebut langsung jatuh ke Samudera Hindia. Keindahan dan keunikan alam tersebut menjadi kebanggaan Tapanuli Tengah. Bahkan sejumlah orang percaya, percampuran air tawar dan air laut memiliki khasiat khusus.



Dari Pulau Mursala, Anda yang hobi menyelam bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Putri. Di pulau tersebut ada satu titik penyelaman yang sering dikunjungi wisatawan. Selain pemandangan bawah laut yang indah dengan beragam jenis terumbu karang, berbagai biota laut alami juga dapat Anda temukan di Pulau Putri.



Tak usah khawatir bagi Anda yang tak bisa menyelam di laut dalam. Dengan berenang di sekitar pantai, Anda sudah bisa bertemu dengan beberapa ikan karang yang lucu, seperti buterfly fish, dan clown fish. Hanya sayangnya, potensi wisata bawah laut yang indah ini belum dikelola secara maksimal. Pasalnya di Pulau Putri belum ada fasilitas penginapan untuk wisatawan.



Kemudian Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata ke Pantai Kahona. Di pantai tersebut Anda akan mendapat kejutan luar biasa dari kemunculan segerombolan ikan lumba-lumba. Ikan yang terkenal akan kecerdasannya ini akan menari-nari tak jauh dari kapal yang Anda tumpangi.



Selain memiliki potensi wisata bahari, Tapanuli Tengah juga menyimpan situs sejarah berusia ratusan tahun. Tepatnya di Kecamatan Barus. Di daerah yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia di abad ke 10 itu, terdapat beberapa jejak syiar Islam. Salah satunya adalah terdapatnya makam Mahligai. Dalam komplek pemakaman ini ada sekitar 215 makam ulama yang pertama kali membawa agama Islam ke Pulau Sumatra.



Selain itu, ada pula situs sejarah yang cukup unik, yaitu makam papan tinggi yang terletak di puncak bukit. Makam dengan panjang tujuh meter ini dipercaya sebagai pusara ulama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut, tokoh ulama yang hidup pada tahun 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah, atau pada masa khalifah Umar bin Khattab. Makan ini sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri.



Perjalanan ke lokasi wisata tersebut bisa Anda tempuh hanya dalam waktu dua hari. Namun, dua hari menjadi tak cukup bagi Anda untuk mengunjungi setiap jengkal seluruh potensi wisata di Tapanuli Tegah, negeri yang memiliki sejuta pesona.



Editor: Rizky



Share:






 


cbn



Article source: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/15/1/146902/Mahfud-MD-Siap-Nyapres


Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah - Metro TV

Thursday, April 4, 2013

Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah

Metrotvnews.com, Tapanuli Tengah: Salah satu lokasi wisata sejarah terkenal di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, adalah di Kecamatan Barus, yang menjadi pintu masuk ajaran agama Islam dan Kristen di Indonesia. Selain wisata sejarah, di Tapanuli Tengah juga terdapat potensi wisata bahari.

Setelah menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Medan, Anda akan tiba di Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten dengan garis pantai sepanjang 200 kilometer ini memiliki puluhan pantai dan pulau yang terhampar indah. Antara lain ada Pantai Binasih, Pantai Kahona, Pulau Mursala dan Pulau Putri.

Pulau Mursala bisa menjadi tujuan pertama Anda. Dengan menaiki kapal berkapasitas 10 penumpang dan menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam, Anda bisa tiba di Pulau Mursala yang eksotik. Anda juga bisa ke Pulau Mursala dengan menaiki perahu-perahu kayu. Namun waktu tempuhnya dua kali lipat dari waktu tempuh perjalanan dengan kapal.

Di Pulau Mursala, Anda akan menyaksikan air terjun setinggi 35 meter. Dari puncak pulau, air terjun tersebut langsung jatuh ke Samudera Hindia. Keindahan dan keunikan alam tersebut menjadi kebanggaan Tapanuli Tengah. Bahkan sejumlah orang percaya, percampuran air tawar dan air laut memiliki khasiat khusus.

Dari Pulau Mursala, Anda yang hobi menyelam bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Putri. Di pulau tersebut ada satu titik penyelaman yang sering dikunjungi wisatawan. Selain pemandangan bawah laut yang indah dengan beragam jenis terumbu karang, berbagai biota laut alami juga dapat Anda temukan di Pulau Putri.

Tak usah khawatir bagi Anda yang tak bisa menyelam di laut dalam. Dengan berenang di sekitar pantai, Anda sudah bisa bertemu dengan beberapa ikan karang yang lucu, seperti buterfly fish, dan clown fish. Hanya sayangnya, potensi wisata bawah laut yang indah ini belum dikelola secara maksimal. Pasalnya di Pulau Putri belum ada fasilitas penginapan untuk wisatawan.

Kemudian Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata ke Pantai Kahona. Di pantai tersebut Anda akan mendapat kejutan luar biasa dari kemunculan segerombolan ikan lumba-lumba. Ikan yang terkenal akan kecerdasannya ini akan menari-nari tak jauh dari kapal yang Anda tumpangi.

Selain memiliki potensi wisata bahari, Tapanuli Tengah juga menyimpan situs sejarah berusia ratusan tahun. Tepatnya di Kecamatan Barus. Di daerah yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia di abad ke 10 itu, terdapat beberapa jejak syiar Islam. Salah satunya adalah terdapatnya makam Mahligai. Dalam komplek pemakaman ini ada sekitar 215 makam ulama yang pertama kali membawa agama Islam ke Pulau Sumatra.

Selain itu, ada pula situs sejarah yang cukup unik, yaitu makam papan tinggi yang terletak di puncak bukit. Makam dengan panjang tujuh meter ini dipercaya sebagai pusara ulama Syech Mahmud Fil Hadratul Maut, tokoh ulama yang hidup pada tahun 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah, atau pada masa khalifah Umar bin Khattab. Makan ini sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri.

Perjalanan ke lokasi wisata tersebut bisa Anda tempuh hanya dalam waktu dua hari. Namun, dua hari menjadi tak cukup bagi Anda untuk mengunjungi setiap jengkal seluruh potensi wisata di Tapanuli Tegah, negeri yang memiliki sejuta pesona.

Editor: Rizky

Share:

 

cbn

Article source: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/5466/ada-pungutan-di-sma-6.html


Sejuta Pesona Wisata di Tapanuli Tengah

Friday, February 2, 2018

Masuk Islam, Warga Badui Dapat Bantuan Ratusan Juta : Okezone News


Masuk Islam, Warga Badui Dapat Bantuan Ratusan Juta : Okezone News



LEBAK - Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyalurkan bantuan bagi masyarakat Badui yang memeluk agama Islam atau mualaf sebesar Rp351 juta.

"Penyaluran bantuan itu agar warga Badui yang memeluk agama Islam bisa hidup mandiri juga mampu mengelola usaha," kata Kepala Desa Wantisari Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Feyza Ulufiyah di Lebak, Kamis (1/2/2018).
Bantuan sebesar Rp351 juta untuk memberdayakan masyarakat Badui agar mereka mampu mengelola aneka usaha kerajinan, perdagangan maupun pertanian.

Selama ini, kehidupan masyarakat Badui perlu mendapat bantuan agar kehidupan mereka layak dan sejahtera.
Mereka warga Badui menjadi mualaf itu, terlebih dahulu memperdalam agama Islam di Pondok Pesantren Hasanudin yang lokasinya tidak begitu berjauhan dengan permukiman masyarakat Badui.

Peluncuran bantuan untuk pemberdayaan warga Badui bertempat di Ponpes setempat dan dihadiri Asisten Daerah (Asda III) Dedi Lukman dan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Dede Supriatna.

Penyerahan bantuan itu diserahkan oleh Direktur PLN Jawa-Bali sebesar Rp351 juta juga bibit pepaya california dan pemasangan listrik gratis.

"Kami optimistis bantuan itu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Badui," katanya menjelaskan.

Kepala Distanbun Kabupaten Lebak Dede Supriatna mengatakan penyaluran bantuan benih pepaya california bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat Badui.

Sebab, pepaya california sudah bisa dipanen pada usia tiga bulan setelah hari tanam hingga berlangsung tiga tahun kedepan.

Namun, penanaman pepaya california banyak membutuhkan pupuk organik dan non organik.

Karena itu, pihaknya mengintruksikan kepada petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Distanbun Kecamatan Leuwidamar dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) agar membantu dan membina kelompok tani Badui yang mengembangkan pepaya california.

"Kami yakin pengembangan pepaya california bisa menghasilkan pendapatan Rp300 juta per hektare per tahunnya," ujarnya.


(ris)



Thanks for visiting our article Masuk Islam, Warga Badui Dapat Bantuan Ratusan Juta : Okezone News. Please share it with kind.
Sincery Berita Masuk Islam
SRC: https://news.okezone.com/read/2018/02/01/340/1853416/masuk-islam-warga-badui-dapat-bantuan-ratusan-juta

powered by Blogger Image Poster

Wednesday, December 19, 2012

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata


Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Asyik Berfoto Bersama Keluarga Di Danau LapindoDanau Lumpur Panas Sidoarjo Menjadi Daerah Kunjungan Wisata
Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering
Bencana Danau Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong-Sidoarjo masih menyisakan duka. Namun, danau ini justru dibuat sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar. Ada banyak kisah di sana.
Akibat kelalaian manusia bencana lumpur panas Sidoarjo terjadi. Di balik duka yang mendalam itu, semangat warga sekitar patut diacungi jempol. Betapa tidak, danau ini mereka sulap menjadi destinasi yang mendatangkan banyak wisatawan.
Bencana lumpur panas Sidoarjo atau yang dikenal dengan Danau Lumpur Lapindo, merupakan bencana tenggelamnya beberapa desa di Kecamatan Porong-Sidoarjo hingga membentuk danau yang begitu luas akibat aktivitas pengeboran minyak. Entah berapa besar kerugian yang ditanggung akibat hilangnya pemukiman penduduk, gedung-gedung sekolah, kantor-kantor pemerintah, persawahan, sektor perindustrian, dan lain-lain.
Akibat bencana ini jalur lalu litas perdagangan Surabaya–Malang dan Surabaya-Banyuwangi sempat lumpuh total. Sehingga berpengaruh pada kehidupan perekonomian di Jawa Timur.
Tiang ukur menunjukkan kedalaman danau lumpur mencapau ratusan meterKamis itu kebetulan hari libur, yaitu hari Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1434 Hijriyah. Kami memanfaatkannya dengan bepergian ke luar kota bersama anak dan istri. Terdorong oleh rasa ingin tahu kami tentang Danau Lapindo, maka berangkatlah kami menuju kota Porong–Sidoarjo.
Sesampai di pintu masuk tanggul Danau Lapindo, seorang penjaga memungut biaya masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Di dalam areal danau, para pengunjung masih dipungut biaya suka rela sebelum memasuki lokasi pusat semburan.
Danau Lumpur Lapindo dikelilingi oleh tanggul yang cukup tinggi, dengan ketebalan tanggul yang memungkinkan kendaran roda empat (dump truck) bisa berjalan lalu lalang melalui tanggul itu. Sebelum memasuki tanggul, masih di Jalan Raya Porong, banyak warga sekitar yang mendirikan warung-warung makan dan minuman. Mereka mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman untuk menambah ekonomi keluarga.
Setiap pengunjung  yang  datang  mereka tawari suvenir-suvenir, berupa kaus dan CD tentang bencana lumpur panas ini. Layanan payung dan ojek juga tersedia bagi pengunjung yang kebetulan tidak membawa motor sendiri.
Mengingat begitu luasnya danau ini, sehingga berjalan-jalan keliling danau tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Terlalu capek dan keadaan udara sangat panas menyengat kulit akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Dari kejauhan tampak sesekali asap putih mengepul timbul tenggelam rupanya. Di sanalah tempat pusat semburan, ada bau khas dan tak sedap yang ditimbulkan akibat keluarnya lumpur panas dari perut bumi muncul dan hilang kembali diterpa angin kemarau.
Kami menyaksikan pompa-pompa air yang berukuran sangat besar, juga kapal-kapal pengeruk lumpur serta mess karyawan BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) yang siang itu kelihatan sepi dan lengang. Hanya suara atap mess yang terbuat dari bahan pelat seng tersingkap akibat tiupan angin yang mengundang perhatian kami.
Tidak lama kemudian, beberapa pasang pengunjung dengan mengendarai sepeda motor mendatangi tempat yang terdekat dengan pusat semburan. Kami lalu berbincang bersama sambil memandangi pusat semburan lumpur.
Mereka datang bersama keluarganya sehabis menengok sanak keluarga di daerah lain,  “penasaran dengan cerita banyak orang tentang danau Lapindo, sekalian main-main kesini,” ungkap salah satu dari mereka.
Sebagian pengunjung,  memanfaatkan waktunya dengan berfoto bersama anggota keluarganya dengan latar belakang danau lumpur yang sudah mengering. Terlihat jelas sekali permukaan lumpur yang mulai mengeras dan retak-retak akibat musim kemarau.
BPLS sengaja memisahkan material yang keluar dari lubang semburan menjadi dua bagian. Sebagian danau khusus menampung air dan danau lain untuk endapan lumpur.
Ali, seorang pemandu wisata menjelaskan, “meski tempat ini terdekat dengan lokasi semburan, namun jaraknya masih puluhan kilometer dari sini. Wisatawan tidak diperkenankan melihat terlalu dekat dengan pusat semburan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjatuh dan lain-lain,”.
Pohon cemara ditanam dengan jarak tanam yang teratur, tampak mempercantik jalan masuk lokasi pusat semburan ini. Meski ada sebagian yang mengering akibat kemarau panjang.
Hari menjelang sore, setelah puas mengunjungi tempat wisata Lumpur Lapindo kami lalu beranjak pulang. Dengan berhati-hati kami menuruni  tanggul yang tinggi itu. Anak kami juga merengek karena perutnya lapar.
Kebetulan ada warung sederhana di dekat danau yang menyediakan makanan khas kota Porong, ote-Ote namanya. Kami pun dengan lahap menyantap ote-ote itu. Ditambah petis Sidoarjo, duh semakin nikmat rasanya. Sebagian lagi kami bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata