Showing posts sorted by relevance for query menyesal. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query menyesal. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank So Much for Visit this Article

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank U Very Very Much for Read this News

Saturday, October 5, 2013

Gosip atau Fakta?

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh M Husnaini*


Gosip dan fakta merupakan dua istilah yang bertolak punggung. Istilah pertama bermakna pergunjingan seputar keburukan orang lain. Gosip juga semakna dengan kabar burung yang penyampaiannya minim akurasi data. Berbeda dengan itu, istilah kedua merupakan keadaan atau peristiwa yang nyata. Sesuatu dikatakan fakta biasanya karena didukung data yang kuat dan benar-benar terjadi di lapangan.


Kebenaran fakta bisa diuji secara ilmiah, sementara gosip kerap menyebar ke segala penjuru arah tanpa bisa dilacak juntrungannya. Fakta mampu mengurai kerumitan masalah, sementara gosip justru mengeruhkan masalah. Gara-gara gosip, hubungan harmonis berubah menjadi luapan dendam dan permusuhan. Itulah kenapa Al-Qur’an mengajarkan orang beriman agar senantiasa selektif menerima berita, memilah antara gosip dan fakta.


“Wahai orang-orang beriman, jika orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan mereka, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” [QS Al-Hujurat: 6].


Allah hendak membimbing orang beriman agar tidak mudah termakan fitnah dan adu domba. Langkah pertamanya adalah meneliti keabsahan berita. Setiap yang sampai pada telinga dan mata orang beriman harus melewati uji data. Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan seketika dimuntahkan. Sikap bijak itulah yang harus dipedomani orang beriman agar dapat memungut mutiara fakta di antara serpihan gosip.
 
Kendati demikian, tidak mudah membedakan mana gosip dan mana fakta. Lebih susah lagi ketika kita berada dalam era keterbukaan media seperti sekarang. Masing-masing pihak absah membuat berita, yang tidak jarang di dalamnya campuk aduk antara berita dan fitnah. Dalam situasi demikian, tentu saja orang pusing membedakan mana gosip dan mana fakta.


Sekadar ilustrasi sederhana, sebuah media memberitakan Fulanah kini terancam dipecat dari jabatannya karena terbukti berselingkuh dengan rekan pria sekerjanya. Membaca berita itu, seketika orang membayangkan betapa rendah martabat wanita itu. Sudah berumah tangga dan memiliki tiga putra, kok masih saja doyan bermain api. Di mana gerangan naluri keibuannya.


Tetapi, media lain justru mengabarkan berita berbeda untuk kasus yang sama. Fulanah hanya korban kedengkian rekan-rekannya sehingga digosipkan berselingkuh dengan PIL alias pria idaman lain. Fulanah sesungguhnya wanita jujur. Hanya karena memutuskan menjadi mualaf, banyak rekan sekantornya yang membencinya, sehingga harus dirancang beragam cara untuk menghancurkan reputasinya.


Demikianlah. Beragam berita yang menjadi menu keseharian kita sesungguhnya juga tidak pernah sepi dari gosip dan fakta. Apalagi setiap media pasti mengantongi visi dan misinya masing-masing. Boleh jadi seorang tokoh digambarkan sebagai pahlawan oleh sebuah media, tetapi media lain justru menilainya sebagai pecundang. Juga bukan mustahil seorang pejabat dianggap berjasa oleh sebuah media, tetapi media lain malah melihatnya sebagai perampas hak sesama. Demikian seterusnya.


Pastinya, era keterbukaan ini seakan mengikis semua rahasia. Hampir setiap sisi kehidupan, terutama orang-orang terkenal, layak menjadi berita. Tidak peduli apakah itu aib atau bukan, yang penting dapat menarik minat publik. Anehnya, kita malah tampak antusias menikmati berita sampah itu layaknya santapan wajib keseharian.


Lihatlah mereka yang begitu khusyuk memelototi televisi, koran, dan majalah yang memuat berita seputar kisruh rumah tangga dan permusuhan artis atau tokoh. Disangkanya itu sebuah tontonan hiburan, alih-alih mengonsumsi berita sampah berbau fitnah. Lambat laun, tradisi demikian akan meruntuhkan sendi-sendi moralitas kita sebagai orang beriman.


Untuk dapat memilah antara gosip dan fakta, terutama sekali harus diteliti dengan cermat kredibilitas pembawa berita. Sekiranya berita itu disampaikan media, perhatikan apa kira-kira kepentingan media bersangkutan. Jernihkan nalar dan hati, kemudian pastikan untuk meneliti sumber berita tidak hanya dari satu media. Jangan terburu menyimpulkan sebelum melakukan kajian secara teliti dan mendalam.


Sesulit bagaimana pun, orang beriman harus mampu memastikan bahwa berita yang diterima adalah fakta, bukan gosip. Poin utamanya, jangan sampai menimpakan stigma negatif kepada individu atau kelompok semata berdasarkan kebencian. Nalar dan hati selayaknya dikerahkan untuk menilai segala macam berita secara adil dan berimbang. Menarik merenungkan pesan Allah berikut.


“Wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS Al-Maidah: 8].


*Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’. Alamat Email: hus_surya06@yahoo.co.id


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Gosip atau Fakta?

Tuesday, July 16, 2013

Mesir dan pergolakan politik Islam

KARIM RASLAN



MENJATUHKAN kerajaan dipilih secara sah sememangnya satu rampasan kuasa – tidak kira kita melihat kejadian ini dari sudut mana sekalipun. Mengamalkan demokrasi bermakna menerima apa jua keputusan tidak kira baik atau buruk.



Penggulingan Presiden Mursi di Mesir dan tindakan ganas ke atas Muslim Brotherhood hanya akan membawa kepada tragedi lebih buruk. Penyokong liberal sekular pasti menyesal dengan tindakan awal mereka untuk menjatuhkan Mursi kerana kini, kebenaran, kepercayaan awam dan undang-undang hancur kerana situasi di Kaherah.



Mereka yang anggap politik Islam perlu dikekang dengan apa cara sekalipun – sama ada mengikut undang-undang atau sebaliknya – salah sama sekali. Apabila kita bersetuju untuk melaksanakan demokrasi melalui peti undi, kita tidak boleh berpaling arah sewenang-wenangnya apabila keputusannya tidak menyebelahi kita.



Jalan pintas politik hanya akan membawa kepada penyelesaian jangka pendek yang tidak mampan, seterusnya membawa kepada kezaliman lebih serius.



Mungkinkah perkara berlaku di Algeria pada 1990 ketika pihak tentera menafikan kemenangan jelas melalui pilihan raya dan memenjarakan serta membunuh beribu-ribu orang, bakal berlaku di Mesir?



Pada masa sama, banyak parti Islam di seluruh dunia – pewaris konsep Ikhwanul-Muslimin di Mesir – akan merasakan bahawa demokrasi sememangnya bukan untuk mereka walaupun mempunyai sokongan besar untuk memenangi pilihan raya.



Malah, parti-parti Islam ini makin yakin bayang-bayang pengaruh Amerika, Eropah, puak liberal, pembiaya kewangan dan kuasa Yahudi global akan terus campur tangan bagi merampas kuasa.  Parti Islam melihat diri mereka sebagai mangsa situasi. Walaupun mungkin mendapat simpati pengundi, ini juga membuat pemimpin parti-parti ini berasa mereka tidak perlu perbaiki diri dari aspek rasuah, salah tadbir dan sifat eksklusif.



Sememangnya kerajaan Mursi dilanda pelbagai kegagalan. Ramai meletakkan harapan tinggi pada beliau ketika diundi masuk pada Jun 2012. Beliau dijangkakan mampu untuk menonjolkan imej moderat bagi Mesir setelah berdekad-dekad di bawah pemerintahan autokratik, Presiden Hosni Mubarak.



Malangnya, ini tidak menjadi kenyataan. Mursi gagal dengan teruk: ekonomi Mesir tidak berkembang dan saham di bursa saham jatuh 31.2 peratus untuk lima bulan pertama tahun ini. Defisit bajet negara kini mencecah USD29.2 bilion (RM93.10 bilion) dan statistik rasmi menunjukkan pengangguran berada pada 12.5 peratus.



Pada masa sama, Mursi meminggirkan komuniti sekular dan liberal. Golongan moderat dan Kristian Koptik cukup kecewa hingga mereka memulaukan proses perangkaan perlembagaan pada Disember 2012 – yang dikritik kerana tidak melindungi kebebasan beragama dan hak wanita – diakibatkan kegagalan kerajaan Mursi untuk berunding.



Sementara itu, politik Islam cenderung mengalami kekecewaan termasuk di Asia Tenggara sendiri. Di Indonesia, Parti Keadilan Sejahtera (PKS) kini dilanda pelbagai krisis apabila beberapa skandal timbul dan merosakkan imej suci dan anti-rasuah mereka.



Malah di Malaysia sendiri, Pas kini perlu merenung dan bermuhasabah diri setelah keputusan yang kurang memberangsangkan pada Pilihan Raya Umum 2013 – di mana mereka hilang kuasa di Kedah.



Rampasan kuasa di Mesir hanya akan memperkuat lagi prasangka parti-parti ini bahawa mereka perlu berwaspada dengan demokrasi. Kesimpulan ini mungkin ada logiknya tetapi tidaklah sempurna kerana hampir kesemua kegagalan mereka tidak mempunyai kaitan dengan demokrasi. Sebaliknya, ia disebabkan pentadbiran yang lemah, rasuah dan kegagalan untuk memahami pentingnya pendekatan yang inklusif dan seimbang.



Malangnya, dengan jatuhnya Mursi, konspirasi ini akan terus merebak. Rundingan dan kesepakatan merupakan aspek kritikal dalam pentadbiran yang baik.



Seorang lagi ikon politik Islam, Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Turki (yang kini sedang menangani protes di negaranya) pernah menyangkal pendapat bahawa demokrasi adalah seperti sebuah bas yang akan kita tinggalkan setelah tiba di destinasi.



Mungkin bas yang dimaksudkan Erdogan bakal terbabas dan mencederakan semua penumpang di dalamnya, daripada puak liberal kepada tentera dan golongan Islamis dek kerana tuduhan demi tuduhan terus dilemparkan.


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=284672:artis-berprestasi-diincar-ppp&catid=17:politik&Itemid=30


Mesir dan pergolakan politik Islam

Wednesday, April 10, 2013

Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)

Home Tazkiyatun Nafs



Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)





 

Orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat agar mensyukuri iman





Kamis, 11 April 2013


Oleh: Shalih Hasyim


DALAM buku Ma’alim Fith-Thoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb (Ideolog Kedua Ikhwanul Muslimin Mesir) menulis bab khusus dengan judul Kebanggaan Iman. Bab ini menegaskan bahwa orang beriman adalah manusia yang senantiasa menjalin hubungan keimanan yang kuat dengan Rabb-nya. Allah Subhanahu Wata”ala . Dan jalinan hubungan imannya yang kuat dengan-Nya menyebabkan dirinya bermental kokoh. Bagaikan batu karang di tengah samudera. Ia tidak pernah merasa hina atau bersedih hati. Justru, ia selalu merasakan ketinggian dan kemuliaan di dalam hidupnya karena dirinya tersambung dengan Allah Subhanahu Wata”ala Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Inilah yang dimaksud oleh Sayyid Qutb dengan Kebanggaan Iman.


Betapa penting persoalan ini diangkat ke permukaan. Hal itu amat relevan jika dikaitkan dengan gejala/fenomena/realitas dunia modern yang penuh fitnah. Suatu kehidupan yang sekuler (memisahkan makhluk dari Al-Kholiq). Dan sebuah kehidupan yang mengikuti sistem ekonomi materialis, hedonis. Dua tsunami (skuler dan materialis) itulah yang menggerogoti iman dari dalam, dan menawarkan berbagai kebanggaan palsu. Ada kebanggaan harta, kebanggaan tahta dan jabatan, kebanggaan teknologi, kebanggaan intelektual-formal, kebanggaan popularitas dan kebanggaan-kebanggaan duniawi lainnya. 


Semua bentuk kebanggaan palsu tersebut tidak ada kaitan dengan iman kepada Allah Subhanahu Wata”ala . Sehingga menurut kajian Kebanggaan Iman bentuk-bentuk kebanggaan duniawi itu hakikatnya sangat lemah dan rapuh. Bahkan bersifat hina, semua dan tidak berarti di mata Allah Subhanahu Wata”ala .


Orang yang merasakan kemuliaan dan ketinggian hanya karena berbagai kebanggaan duniawi adalah orang-orang yang tertipu. Boleh jadi ia tampil dengan self-confidence (percaya-diri) yang tinggi sewaktu masih di dunia. Tetapi di akhirat kelak ia akan menyadari bahwa ia telah terpedaya. Sehingga ia akan menyesal telah membanggakan diri dengan kebanggaan-kebanggaan palsu. Ia tidak memperoleh nikmat spiritual, tetapi hanya mata’ud dunya (kenikmatan yang dekat dan sesaat). Itulah penyesalan yang sangat terlambat dan tentunya tiada berguna.


زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah Subhanahu Wata”ala-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran (3) : 14).


Janganlah kita silau/terpedaya memandang kekuasaan/jabatan, dunia dan seisinya ini dengan kaca mata Fir’aun.  Keduanya dipersepsikan sebagai ghoyah (tujuan akhir), bukan wasilatud dakwah (media dakwah). Ketika kekuasaan diraih, ia lupa diri dan lupa daratan. Ia mabuk kekuasaan dan gila harta dan pengaruh. Dia sadar dengan keimanan, ketika kondisi sedang terjepit. Sadar karena tekanan eksternal. Yaitu, ketika tubuhnya dipermainkan oleh gelombang bagaikan bola pimpong. Bukan bersumber dari lubuk hati yang dalam. Jangan berfikir aji mumpung, jangan bangga, jangan kaget dengan kekuasaan. 


وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ


“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah Subhanahu Wata”ala)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu [*] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS: Yunus (10) : 90-92)


Yang diselamatkan Allah Subhanahu Wata”ala ialah tubuh kasarnya. Menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.


Syetan sangat cerdik menipu manusia dengan berbagai kebanggaan duniawi. Menggelincirkan penguasa, ilmuan, hartawan dari jalan yang lurus. Kekuasaan, harta dan ilmu tidak semakin mendekatkan pemiliknya kepada Allah Subhanahu Wata”ala.


Syetan menyuruh manusia agar jangan peduli dengan kebanggaan iman sebab itu adalah perkara yang terlalu abstrak dan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Sementara itu kebanggaan duniawi bersifat kongkrit dan mudah terukur. Sehingga muncullah gelombang manusia yang masuk ke dalam perangkap syetan. Sehingga jabatan, ilmu dan harta tidak ditemani dan dikontrol secara langsung oleh spirit Iman.


ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ


“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS: Al Araf (7) : 17).


Kalau yang terperangkap adalah manusia awam yang jahil akan agamanya kita tentu prihatin, tetapi masih dapat memahaminya. Ironisnya, dewasa ini kita menyaksikan mereka yang terjerat tipuan syetan adalah orang-orang yang dikenal khalayak ramai sebagai orang-orang yang biasa ikut pengajian, bahkan para ustadz dan ahli ilmu syar’iyyah Islamiyyah. Mereka adalah orang-orang yang semestinya tampil mengarahkan masyarakat luas agar mensyukuri dan mempertahankan Kebanggaan Iman. 


Alih-alih melaksanakan kewajibannya sebagai mercusuar di tengah arus zaman penuh fitnah, mereka malah menjadi fihak yang mempromosikan pentingnya kebanggaan duniawi seperti kebanggaan akan tahta dan jabatan.


Mereka robah tolok-ukur keberhasilan da’wah. Keberhasilan da’wah Islam tidak lagi dinilai berdasarkan berapa banyak orang yang semakin beriman dan istiqomah. Tetapi dinilai berdasarkan berapa banyak dan berapa tinggi jabatan politik dan pos struktural kekuasaan yang berhasil direbut.


Kebanggaan tahta dan jabatan menjadi pembicaraan utama. Semua enersi dikerahkan untuk mencapai kebanggaan yang satu ini. Enersi waktu, fisik, batin, fikiran, dana dan doa semuanya dipusatkan demi kesuksesan merebut kekuasaan formal.


Kebanggaan iman semakin jarang dibicarakan dan malah semakin dirasa aneh dan tidak penting. Kerugian adalah saat seorang aktifis da’wah tidak berhasil merebut atau mempertahankan jabatan dan kekuasaannya untuk kebaikan. Keterlibatan dalam suatu kegiatan maksiat tidak dinilai sebagai sebuah kerugian, melainkan sebuah perilaku manusiawi yang wajar dan perlu dimaklumi. Mengejar ridho Allah Subhanahu Wata”ala menjadi kalah penting dibandingkan upaya image-building (pencitraan) dalam rangka mendapatkan dukungan rakyat luas.


Sayyid Qutb menjelaskan Kebanggaan Iman berpedoman kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:


وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ


“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran 139)


Selanjutnya Sayyid Qutb mengomentari ayat di atas dengan uraian sebagai berikut: “Dia melukiskan suatu keadaan yang tertinggi yang harus mendasari dalam kalbu seorang mukmin dalam menghadapi apa pun. Suatu kebanggaan karena iman dan sendi-sendinya yang mengatasi seluruh sendi yang bukan bersumber dari iman. Suatu ketinggian yang mengatasi seluruh kekuatan di bumi yang jauh dari dasar iman; dan mengatasi seluruh sendi yang hidup di bumi ini yang tidak ber¬sumber dari iman. Mengatasi seluruh tradisi di bumi ini yang tidak dicetak oleh iman. Mengatasi seluruh undang-undang di bumi ini yang tidak disyariatkan oleh iman, dan mengatasi seluruh posisi di bumi ini yang tidak ditumbuhkan oleh iman.


Suatu ketinggian yang walaupun tenaga lemah, jumlah ummat yang sedikit dan kemiskinan harta, sama dengan ketinggian di waktu kuat, jumlah yang banyak dan harta yang melimpah.


Suatu ketinggian yang tidak merasa terhina di hadapan kekuatan yang zalim, tidak merasa rendah di hadapan kebiasaan sosial dan hukum yang bathil, dan tidak merasa rendah di hadapan posisi yang diterima oleh manusia tetapi tanpa sandaran iman.” (Petunjuk Jalan – Penerbit Media Dakwah – halaman 272)


Masalahnya bukan pada memiliki atau tidak memiliki jabatan dan kekuasaan politik. Tetapi yang menjadi masalah apakah sesudah seseorang memiliki kekuasaan politik masihkah ia menjadikan Kebanggaan Iman sebagai tolok ukur kemuliaan dan ketinggian di dalam hidupnya? Dan jawabannya bukan sekedar berupa sebuah pernyataan atau claim (za’mun).


Jawabannya haruslah berupa bukti dalam perilaku dan kebijakan. Bukti terbaik adalah berupa langkah-langkah bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala. Dan sebaik-baik bentuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata”ala ialah berupa pemanfaatan kekuasaan demi memastikan tegak dan berlakunya dienullah serta hukum Allah Subhanahu Wata”ala di bawah wilayah otoritas kekuasaannya. Itulah salah satu janji Allah Subhanahu Wata”ala  kepada orang beriman di dunia ini.


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ


“Dan Allah Subhanahu Wata”ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur (24) : 55).*


Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah


Red: Cholis Akbar


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26732/12/01/2013/surat-cinta-untuk-politisi-muslim-(2).html


Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (1)

Sunday, October 6, 2013

Gosip atau fakta?


Oleh M Husnaini*



Gosip dan fakta merupakan dua istilah yang bertolak punggung. Istilah pertama bermakna pergunjingan seputar keburukan orang lain. Gosip juga semakna dengan kabar burung yang penyampaiannya minim akurasi data. Berbeda dengan itu, istilah kedua merupakan keadaan atau peristiwa yang nyata. Sesuatu dikatakan fakta biasanya karena didukung data yang kuat dan benar-benar terjadi di lapangan.



Kebenaran fakta bisa diuji secara ilmiah, sementara gosip kerap menyebar ke segala penjuru arah tanpa bisa dilacak juntrungannya. Fakta mampu mengurai kerumitan masalah, sementara gosip justru mengeruhkan masalah. Gara-gara gosip, hubungan harmonis berubah menjadi luapan dendam dan permusuhan. Itulah kenapa Al-Qur’an mengajarkan orang beriman agar senantiasa selektif menerima berita, memilah antara gosip dan fakta.



“Wahai orang-orang beriman, jika orang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan mereka, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.” [QS Al-Hujurat: 6].



Allah hendak membimbing orang beriman agar tidak mudah termakan fitnah dan adu domba. Langkah pertamanya adalah meneliti keabsahan berita. Setiap yang sampai pada telinga dan mata orang beriman harus melewati uji data. Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan seketika dimuntahkan. Sikap bijak itulah yang harus dipedomani orang beriman agar dapat memungut mutiara fakta di antara serpihan gosip.

 

Kendati demikian, tidak mudah membedakan mana gosip dan mana fakta. Lebih susah lagi ketika kita berada dalam era keterbukaan media seperti sekarang. Masing-masing pihak absah membuat berita, yang tidak jarang di dalamnya campuk aduk antara berita dan fitnah. Dalam situasi demikian, tentu saja orang pusing membedakan mana gosip dan mana fakta.



Sekadar ilustrasi sederhana, sebuah media memberitakan Fulanah kini terancam dipecat dari jabatannya karena terbukti berselingkuh dengan rekan pria sekerjanya. Membaca berita itu, seketika orang membayangkan betapa rendah martabat wanita itu. Sudah berumah tangga dan memiliki tiga putra, kok masih saja doyan bermain api. Di mana gerangan naluri keibuannya.



Tetapi, media lain justru mengabarkan berita berbeda untuk kasus yang sama. Fulanah hanya korban kedengkian rekan-rekannya sehingga digosipkan berselingkuh dengan PIL alias pria idaman lain. Fulanah sesungguhnya wanita jujur. Hanya karena memutuskan menjadi mualaf, banyak rekan sekantornya yang membencinya, sehingga harus dirancang beragam cara untuk menghancurkan reputasinya.



Demikianlah. Beragam berita yang menjadi menu keseharian kita sesungguhnya juga tidak pernah sepi dari gosip dan fakta. Apalagi setiap media pasti mengantongi visi dan misinya masing-masing. Boleh jadi seorang tokoh digambarkan sebagai pahlawan oleh sebuah media, tetapi media lain justru menilainya sebagai pecundang. Juga bukan mustahil seorang pejabat dianggap berjasa oleh sebuah media, tetapi media lain malah melihatnya sebagai perampas hak sesama. Demikian seterusnya.



Pastinya, era keterbukaan ini seakan mengikis semua rahasia. Hampir setiap sisi kehidupan, terutama orang-orang terkenal, layak menjadi berita. Tidak peduli apakah itu aib atau bukan, yang penting dapat menarik minat publik. Anehnya, kita malah tampak antusias menikmati berita sampah itu layaknya santapan wajib keseharian.



Lihatlah mereka yang begitu khusyuk memelototi televisi, koran, dan majalah yang memuat berita seputar kisruh rumah tangga dan permusuhan artis atau tokoh. Disangkanya itu sebuah tontonan hiburan, alih-alih mengonsumsi berita sampah berbau fitnah. Lambat laun, tradisi demikian akan meruntuhkan sendi-sendi moralitas kita sebagai orang beriman.



Untuk dapat memilah antara gosip dan fakta, terutama sekali harus diteliti dengan cermat kredibilitas pembawa berita. Sekiranya berita itu disampaikan media, perhatikan apa kira-kira kepentingan media bersangkutan. Jernihkan nalar dan hati, kemudian pastikan untuk meneliti sumber berita tidak hanya dari satu media. Jangan terburu menyimpulkan sebelum melakukan kajian secara teliti dan mendalam.



Sesulit bagaimana pun, orang beriman harus mampu memastikan bahwa berita yang diterima adalah fakta, bukan gosip. Poin utamanya, jangan sampai menimpakan stigma negatif kepada individu atau kelompok semata berdasarkan kebencian. Nalar dan hati selayaknya dikerahkan untuk menilai segala macam berita secara adil dan berimbang. Menarik merenungkan pesan Allah berikut.



“Wahai orang-orang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS Al-Maidah: 8].




*Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’.



| sumber : republika


Article source: http://showbiz.liputan6.com/read/628764/jadi-muallaf-rina-diana-berharap-segera-berhijab


Gosip atau fakta?

Wednesday, April 24, 2013

Inilah Politisi Belanda Anti-Islam yang Kini Masuk Islam - Sabili

Doorn menyatakan keislamannya pertama kali melalui akun Twitternya bulan lalu. Dalam profil Twitternya, dia mengumumkan keputusannya menerima Islam. Doorn bahkan membukukan tweet dalam bahasa Arab yang berbunyi, “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Nabi-Nya.”


 


Keputusan Doorn memeluk agama Islam diakuinya setelah ia melakukan studi mendalam terhadap Islam dan Nabi (saw). Dia mengatakan bahwa kemarahan umat Islam di seluruh dunia terhadap film Fitna membuatnya belajar tentang Nabi Muhammad dan akhirnya menyebabkan pertaubatannya.


 


Ketika pertama kali mengumumkan dirinya memeluk Islam melalui twitter, berita ini dianggap sebagai lelucon oleh sebagian kalangan di Belanda. Hal ini mengingat Doorn selama ini dianggap sebagai politisi yang mendukung kegiatan-kegiatan kebencian terhadap Islam dan salah satu yang terlibat dalam film Fitna.


 


Tapi, laki-laki yang kini menjabat sebagai penaesehat daerah di Balaikota Den Haag itu kemudian justru menyatakan keseriusannya memeluk Islam dengan bukti mengirimkan surat resmi kepada Walikota Den Haag agar diberi ruang dan waktu untuk sholat, sebagaimana yang diwajibkan sebagai seorang muslim, selama jam kerjanya.



 


“Saya mengerti banyak orang skeptis atas keputusan saya ini dan banyak yang tidak menduganya sama sekali,” ujar Doorn kepada alJazeera, “Ini adalah keputusan besar yang sayat tidak anggap enteng.”


 


“Dalam lingkaran dekat saya sendiri orang tahu bahwa saya telah aktif meneliti alQur’an, Hadis, Sunnah dan tulisan-tulisan lainnya selama hampir satu tahun sekarang,” katanya.“Selain itu, saya telah memiliki banyak percakapan dengan Muslim tentang agama.”


 


Lebih lanjut Doorn mengatakan, “Saya telah mendengar begitu banyak cerita negatif tentang Islam, tapi saya bukan orang yang mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan penelitian saya sendiri.”


 


Katanya,“Karena itu, saya telah benar-benar mulai untuk memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran.”


 


Keputusan Doorn untuk memeluk Islam telah mendatangkan reaksi beragam di Belanda. “Menurut beberapa orang saya pengkhianat, namun menurut sebagian orang lain saya telah benar-benar membuat keputusan yang sangat baik,” jelasnya,“Reaksi umumnya positifdan saya juga menerima beberapa dukungan melalui Twitter. Rasanya baik bahwa orang-orang yang tidak mengenal saya secara pribadi telah memahami situasi saya dan mendukung saya dalam pilihan saya.”


 


Ketika ditanya apakah ia sekarang menyesal bergabung dengan Partai Kebebasan, dia menjawab, “Saya telah belajar bahwa setiap pengalaman dalam hidup memiliki tujuan. Namun, dengan pengetahuan yang saya miliki saat ini, saya akan pasti membuat pilihan yang berbeda.”


 


“Saya telah membuat kesalahan dalam hidup banyak orang lain. Dari kesalahan-kesalahan ini saya telah belajar banyak,” sesal Doorn, “Dan dengan konversi saya ke Islam, saya memiliki perasaan bahwa saya akhirnya menemukan jalan saya. Saya menyadari bahwa ini adalah awal yang baru dan bahwa saya masih harus banyak belajar juga.” (http://www.saudigazette.com)


Article source: http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1942926/menjadi-ahli-tauhid-di-akhir-zaman


Inilah Politisi Belanda Anti-Islam yang Kini Masuk Islam - Sabili

Tuesday, July 23, 2013

Jalan Islam Sam Brodie




VIVAlife-Lelaki itu dulu kerap tampil di layar televisi sebagai perempuan. Namanya mencuat sejak tampil di acara reality show ‘Living the Dream’ dan ‘Big Brother 7 UK’. Dia kelahiran Medan, 14 Maret 1987. Dia adalah Samuel David Alexander Brodie, akrab disapa sebagai Sam Brodie.
 
Sejak umur 12 tahun, Sam mengubah penampilannya dari lelaki menjadi perempuan. Rambutnya panjang, wajahnya cantik dipoles make up, dan jemarinya lentik terawat. Meski dikecam keluarga, tapi penampilannya itu justru membuatnya moncer menjadi artis.


Di Inggris, dia meraih banyak prestasi, antara lain Nicest Big Brother Housemate Award dari BBLB Channel 4  pada 2010. Dia kerap muncul di majalah, surat kabar, stasiun radio, dan sejumlah program televisi lainnya.


Rezekinya pun yahud. Sam getol berbisnis dengan menjual DVD, dan lagu-lagu single. Dia juga rajin menulis sebagai kolumnis. Sekali tampil di iklan TV, dia dibayar sekitar 100.000 Poundsterling. Sebagai model ia juga teken  kontrak dengan Burberry. Terakhir penghasilan Sam tercatat US$4,6 juta.


Tapi, sukses sebagai pesohor di negara makmur rupanya tak membuat Sam bahagia. Ia tetap seorang lelaki yang menyaru perempuan. Itu membuatnya tak tenang. Akhirnya Sam buka rahasia. Kepada publik, ia mengaku sejatinya ia adalah seorang pria.
 
Kejujuran itu malah kian melambungkan namanya. Sam makin terkenal. Tapi batinnya tambah meradang. Ia sungguh ingin kembali menjadi lelaki. Dalam keadaan galau itu dia rajin membaca kitab suci. Dan, sejumlah ayat Al-Quran membuatnya tersentak.


Saat ditemui di ANTV, Gedung Epicentrum kawasan Jakarta Selatan, Sam bercerita panjang lebar soal perjalanan spiritualnya.


Pada suatu hari, Sam yang masih tampil sebagai perempuan itu membaca salah satu ayat Al Quran. Isi terjemahan dalam kitab itu mengungkapkan larangan pria berpenampilan seperti wanita dan sebaliknya. Itu membuatnya menangis.


“Ada bisikan seperti mengatakan pada saya, hidup yang saya jalani selama ini penuh dosa”, ujarnya.


Dia mengatakan kitab suci umat Islam itu memberinya petunjuk bahwa sekarang waktunya dia harus berubah. Kembali ke jati dirinya sebagai laki-laki diakuinya tidak mudah. Selama satu dekade dia tampil sebagai perempuan.  Dalam keseharian, ia juga hidup layaknya sebagai perempuan.
 
Tapi keputusan Sam telah mantap. Ia tak lagi berdandan sebagai wanita. Risikonya jelas ada. Ia harus meninggalkan gemerlap, dan renyahnya dunia hiburan di Inggris, negeri yang memberinya kelimpahan materi dan ketenaran.


Keputusan itu rupanya memberikannya hikmah yang lain. Keluarga yang dulu menjauhinya, kini kembali menerima Sam. Keputusan besar lain yang diambil Sam adalah pulang ke Indonesia, dan menetap di tanah air untuk seterusnya.


Terinspirasi Maia Estianty


Sam pergi ke Inggris setelah dia lulus dari Jakarta International School (JIS), dan melanjutkan pendidikan ke Greenwood Academy di Dreghorn. Pada 2008, Sam pulang kembali ke Indonesia.
 
Dia berkisah, sebelum ikut dalam acara Big Brother di televisi Inggris, dia bukanlah siapa-siapa. Ia bahkan sempat menjadi pembantu hingga karyawan sebuah kafe.


Banyak sejarah pahit dalam hidupnya. Dia, misalnya, pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil. Dia juga pernah ditelantarkan keluarganya hingga hidup di sebuah panti asuhan di Inggris.
 
Sejak kembali ke tanah air, Sam memutuskan tampil sebagai manusia baru. Dia total meninggalkan atribut keperempuanannya itu. Ia menumbuhkan kumis, dan merawat jenggotnya.
 
Di Indonesia,  Sam mulai menjajal dunia tarik suara di bawah manajemen Ahmad Dani. Dari situ ia bertemu Maia Estianty, yang kini menjadi mantan istri Dhani.


Bertemu Maia, Sam seperti menemukan guru. Rasa penasarannya tentang isi Al Quran dan Islam, sering pula ia curahkan pada Maia. “Awalnya setiap hari aku datang ke rumah Bunda Maia. Setiap kali aku ke sana, aku tanya soal Islam,” katanya.


Tapi Maia merasa dia sendiri masih belajar, dan belum sempurna menjadi muslim. Akhirnya, Maia memberikan Sam sebuah kitab suci. “Bunda bilang, kamu mending baca Al Quran saja,” ujarnya.


Tak berhenti di situ, Sam makin penasaran pada Islam.  “Setiap kali aku datang ke rumah Bunda, aku tanya terus. Tapi bunda Maia bilang, dia bukan guru agama, jadi saya disuruh belajar Islam pada guru agama,” ceritanya.


Dari situ, Sam pun memperdalam agama Islam, dengan guru agama. Diakui Sam, Maia memang memberinya ilham untuk memeluk Islam. “Tapi sekarang, karena kesibukan masing-masing, kami sudah jarang bertemu,” tuturnya.


Menjadi muslim


Setelah melewati proses pencarian selama 18 bulan, Sam akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim di tahun 2010.  Dia tertarik pada Islam lantaran ia melihat adanya kebersamaan. Sam merasa punya keluarga besar, ketika ia melihat para muslim merayakan Lebaran, dan juga saat menajalankan ibadah puasa.


“Maklum, 14 tahun saya hidup sendiri, kesepian jauh dari keluarga. Saat saya ke Bandung saya merasakan suasana Lebaran, begitu indah.”


Saat buka puasa, katanya, juga begitu. Ada sesuatu yang menarik untuknya. Ia melihat kebersamaan dalam Islam. Setelah memeluk Islam, lelaki keturunan Skotlandia itu dihujani  banyak pertanyaan, misalnya kenapa memilih agama itu, dan sebagainya.
 
Tapi Sam menjawabnya santai. Bagi dia, agama seperti handphone dengan fitur dan aplikasi yang selalu up to date.  “Jadi sama seperti Islam, kenapa saya memilih Islam, karena Al Quran itu paling up to date.”


Menjadi muslim, bagi Sam, punya banyak tantangan.  Saat itu, timbul pro dan kontra di keluarganya. “Untuk yang bukan dari agama Islam, mereka berpikir saya memilih agama yang salah.”


Tapi Sam justru semakin yakin, bahwa  tidak ada agama yang salah. Kepercayaan itu, kata Sam, sangat personal. “Bagi saya, ya Islam itu agama itu paling benar,” ujarnya. Ia kini mengganti namanya menjadi Muhammad Sam.


Dia juga tak menyesal dengan pengalaman hidupnya yang pernah kelam. Justru karena itulah ia bisa menemukan hidayah.  “Bagi saya, lebih baik punya pengalaman hidup yang buruk dan penuh kontroversi. Sekarang saya bisa menghargai segala sesuatu yang sudah pernah saya alami. “


Belajar ikhlas


Menjadi muslim, Sam lalu giat belajar tentang Islam. Awalnya, ia sulit menjalankan ibadah shalat lima waktu. Di masjid atau musholla, ia sering bingung.
“Saya selalu lihat kanan dan kiri, karena belum  mengerti adat-adatnya bagaimana. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah lancar shalat.”


Ia mulai dari nol, seperti anak TK yang belajar mengaji. “Aku juga belajar Iqra,” ujarnya. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari mereka yang sejak lahir sudah menjadi muslim. Ia juga belajar tentang makna ikhlas, sikap menerima karena ketakwaan. Sikap ikhlas, kata dia, sangat penting dalam segala hal.  Baginya, butuh waktu sangat lama untuk bisa bersikap ikhlas.
 
Kini Sam telah menemukan pendamping hidup. Ia menikah dengan sahabatnya, Indry, seorang wanita Indonesia. Mereka kini punya seorang putri yang lucu, Kimmy Caitlyn Malika, lahir 2011.
 
Sam juga makin mantap ingin berkiprah di tanah air. “Saya orang Indonesia, saya ingin maju di sini,” kata pria yang mengaku dekat dengan sosialita Paris Hilton.


Sewaktu hijrah ke Indonesia, semua penghasilannya selama di London ia titipkan pada notaris di sana. Di Jakarta, dia kini bekerja di perusahaan multinasional. Ia juga menolak sejumlah tawaran kerja di luar negeri, karena ingin berkarir di tanah air.


Dan Sam memang tak bisa jauh dari dunia televisi.


Saat ini, dalam momen Ramadan, dia mengisi acara sahur sebulan penuh untuk program Pesbukers di ANTV.  “Saat Lebaran aku juga ada acara syuting film layar lebar, dan ada jadwal tiga program FTV. Semua acara itu saya anggap rezeki,” ujar Sam.


Article source: http://ramadan.detik.com/read/2013/07/23/074216/2310922/631/yarlina-haliwah-alhamdulillah-orangtuaku-ikhlas-aku-masuk-islam?992204cbr


Jalan Islam Sam Brodie