Showing posts sorted by relevance for query jejaring. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query jejaring. Sort by date Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Foto: Chairul Sya’ban | Dok TGJ Mirza Alfath (di depan mikrophone) sedang menyampaikan permintaan maaf.Usai disyahadatkan kembali oleh MPU seraya meminta agar Mirza Alfath (MA) dan masyarakat saling memaafkan, kasus penghinaan terhadap Islam di akun facebooknya reda di media, tetapi di jejaring sosial dan mulut ke mulut isu ini masih hangat dibicarakan. Kita pantas bersyukur masalahnya telah selesai, namun ada hal lain yang luput dari berbagai analisis. Penulis mendalami isu ini dari dua sisi, Pertama, sebenarnya heboh kejadian ini sangat dipengaruhi oleh faktor blow up media cetak hingga sang dosen mendapatkan kawalan polisi bagai seorang pejabat dan akhirnya mendapat sangsi dari rektor Universitas tempat ia bekerja.

Jika tidak, kasus ini mungkin akan berlalu dengan sendirinya di alam maya. Ke dua, dari sisi “bahan hinaan” yang diposting oleh yang bersangkutan, seharusnya menjadi perhatian khusus justru nyaris tidak “tersentuh”. Opini Hafnidar Hasbi (HH), dosen dari Universitas yang sama, (Freemason JIL dan Yahudi, Serambi, 30 /11/2012) sebenarnya juga tidak memberi jawaban spesifik untuk itu walaupun menurut HH secara pribadi MA mengaku sebagai penganut freemason.  

Semua sepakat tentang keharusan mewaspadai gerakan laten freemason, JIL atau sejenisnya dengan berbagai upaya antisipatif yang disinggung panjang lebar dalam opini tersebut. Tetapi mengkooptasikan analisis dan kesimpulan bahwa yang bersangkutan memiliki keterkaitan organisatoris dengan Freemason, JIL atau Yahudi diperlukan pembuktian, jika tidak dikhawatirkan akan menjadi “senjata makan tuan”. Tuduhan tak berdasar, bahkan tidak tertutup kemungkinan akan mengarah ke ranah pidana.Al- Qur’an mengajarkan agar dalam menyikapi berbagai objek berita harus dimulai dengan prinsip dan langkah-langkah check,  re-check and balance.

Selain itu, ada uraian HH yang sangat berpotensi menimbulkan bias bagi masyarakat luas untuk tidak dibenarkan berpikir kritis, misalnya HH menyebutkan bahwa latar belakang seorang jadi freemason disebabkan “..adanya pergulatan pikiran hebat yang terjadi dalam diri seseorang yang cenderung terlalu berpikir kritis terhadap fenomena di sekelilingnya” … Mereka siap melindungi dan terus merekonstruksi pemikirannya (cuci otak) melalui diskusi- diskusi, forum ilmiah, media cetak maupun elektronik.

Pernyataan ini bisa membunuh kebebasan media dan lembaga pendidikan, menggiring umat untuk tidak boleh berpikir kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitar plus persoalan global yang secara tidak langsung terkait dengan kita. Sebaliknya, diskusi kelompok kecil atau publik harus semakin digalakkan untuk memunculkan ide- ide brilian, merajut perbedaan- perbedan pandangan menjadi  solusi alternatif mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Di era Blackberry Messenger (BBM) ini, isu apapun bisa menyebar cepat setiap saat, sebab itu kita ingin agar reaksi massa tidak berujung pada “vonis dan hukuman” di luar penegak hukum/ lembaga peradilan. Seperti kasus Peulimbang yang kebetulan terjadi beruntun sebelum kasus MA, sebelumnya ada ‘insiden’ sekolah Fajar Hidayah, dan masih banyak lagi. Apalagi bila sampai mengakibatkan nyawa melayang “sia- sia”, karena kekerasan / pembunuhan dengan alasan dan dalam bentuk apapun di luar proses pengadilan tidak dibenarkan oleh hukum Negara/ Agama. 

Dalam sebuah Hadits Rasul bersabda: ”Si pembunuh dan yang dibunuh masuk neraka”, maksudnya jika terjadi kasus saling serang/ bunuh, para terduga pelaku harus difasilitasi untuk berdamai secara kekeluargaan, jika tidak tercapai kesepakatan damai baru ditempuh jalur hukum. Bagaimanapun, orang yang masih hidup tetap terbuka kemungkinan untuk berdialog, diberi pencerahan dan bertaubat sebab Allah Maha menerima taubat, hanya saja tentu membutuhkan “pendekatan” dan waktu. Tidak sedikit orang yang awalnya menghujat Islam dari kalangan muslim atau nonmuslim, setelah memahami dengan benar dan bertaubat, tampil menjadi pembela Islam di garda terdepan seperti Umar Ibn Khattab RA.

Benar bahwa masyarakat memiliki kewajiban mengawasi pelaksanaan syari’at atau bila menduga ada praktik menyimpang, tetapi tetap harus berkoordinasi dengan pihak berwenang dan bila kemudian terbukti sipelaku belum menghentikan kegiatan nya, dengan kepala dingin dan seksama, tetap saja harus ditempuh upaya secara hukum bersama pihak berwenang. Bila tidak, situasi justru akan semakin panas, meruncing, tak terkendali sehingga tindakan fisik alam bawah sadar karena terbakar nafsu amarah. Dalam skala makro ini bisa merambat dan melahirkan dendam- dendam baru menjadi konflik horizontal berkepanjangan yang terlalu sulit untuk dipulihkan.

Nampaknya indikasi ke arah itu sudah ada karena ini bukan kasus pertama, na’ udzubillah. Hendaknya jangan sampai ada kesan “pembiaran” terhadap kasus- kasus seperti ini, akhirnya “mengendap” apalagi menganggapnya sebagai efek jera agar aliran sesat tidak terulang. Menurut antropolog muslim, akar munculnya aliran sesat adalah ideologi akibat “kekosongan spiritual” sehingga orang yang notabene berpendidikanpun bisa terjangkit, kasarnya, orang yang menganut sebuah ideologi dalam kadar yang ekstrim “tidak takut mati”. Untuk melawannya diperlukan gerakan “counter ideologi” secara sistematis di semua lini terutama oleh kalangan Ulama Dayah, Kampus, LSM, Pemerintah dan tokoh masyarakat karena tindakan fisik berresiko semakin menyuburkannya.  

Memang tidak mudah, mungkin jika penulis berada di lokasi juga akan serba spontan dan emosional, manusiawi. Tetapi yang harus diingat bahwa jangan sampai niat membela agama (syari’at) dalam hitungan menit berubah menjadi bumerang tanpa sadar merusak sendi- sendi sosial dan ukhuwwah Islamiyyah yang mudah sekali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu termasuk jaringan freemason, JIL, Yahudi dan lain- lain. Bahkan orang Islam anti- syari’at sendiri untuk kepentingan merusak syari’at dari dalam.

Ke luar, mereka mempromosikan “wajah Islam” (syi’ar) yang angker dan menyeramkan, bahkan yang lebih miris bukan hanya dari isu- isu ekternal Islam, isu internal Islam seperti perbedaan aliran keislaman (mazhab) yang dibenarkan oleh agama pun selama ini faktanya lebih ampuh ‘menggerogoti’ fondasi persatuan dan menyulut permusuhan sesama umat Islam.     

Kembali ke MA, dari sisi “bahan olok- olok”, sebagian postingnya merupakan klaim atau pertanyaan- pertanyaan ‘biasa’ yang telah lama berkembang dalam kajian keislaman sehingga tidak seluruhnya murni penghinaan tapi juga faktor keawaman. Untuk itu, tidak semuanya harus dikemukakan atau dijawab melalui karya ilmiah/ ilmiah populer seperti saran Hasan Basri M. Nur (Al- Qura’n Bukan Skripsi, Serambi, 7/12/2012). Status dan komentar jejaring sosial juga merupakan ruang lingkup tersendiri dalam membangun kultur peradaban.

Hadits Rasulullah memberi bimbingan untuk ini: “Berbicaralah kepada manusia menurut tingkat pemahamannya”. Artinya ada level kajian tertentu yang merupakan “konsumsi” forum terbatas tidak boleh disebarkan ke publik tampa “sensor”. Nah, dengan berprasangka baik, di sinilah letak herannya,  dari sekian banyak facebooker yang sudah lama berdebat dengan MA tidak adakah yang mampu menjawab ‘celotehan- celotehan liar’ nya sehingga butuh “bantuan” media cetak? Ada apa di balik ini?

Beruntung dan respek kepada respon cepat aparat keamanan, kebijakan MPU dan sikap warga dalam menyikapi “efek negatif” dari surat pembaca (T. Zulkhairi, Droe keu droe, Serambi, 20/11/2012) tidak berakibat fatal.
Wahbah Zuhaily, Pakar Hukum Islam Internasional di sela- sela kunjungannya ke Aceh beberapa waktu lalu, sempat mengingatkan Aceh agar tidak “overdosis” menghadapi berbagai kritikan penegakan syari’at Islam. Ia menegaskan: “bahwa Aceh sedang mengemban tugas besar, jalannya masih panjang dan terjal, pada hakikatnya menjawab kritik dengan cara- cara yang cerdas dan proporsional adalah bagian fundamental dari syari’at itu sendiri yang sangat dikedepankan sejak era Nabi Muhammad SAW”.

Karenanya, diperlukan kehati hatian dalam memblow up isu- isu sensitif di media massa sehingga tidak perlu “membakar lumbung padi hanya untuk menangkap seekor tikus”. Pola pengelolaan dan respon isu via media massa secara terukur dan objektif dari ‘subjek berita’, ‘objek berita’ dan ‘publik’ akan berdampak positif bagi terciptanya keseimbangan antara etika dan kebebasan berekspresi di dunia maya. Tentu saja bukan ’kebebasan mutlak’ ala- barat.     

Sebagai contoh, penulis coba menjawab posting MA tanggal 3 Juli 2012; “Hukum Syariah jelas banyak sekali kelemahan dan kekurangan, ia sudah tidak layak lagi dipertahankan bagi manusia modern dan masyarakat maju. Hukum syariah hanya cocok pada jamannya ketika manusia masih minim ilmu pengetahuan”. Salah satu kelemahan syariah Islam adalah bahwa hukum-hukumnya tidak pernah memperkenankan ‘bukti- bukti lapangan’ dan ilmu pengetahuan dalam mengambil keputusan hukum, ia hanya bersandar pada saksi-saksi yang ter-reputasi, misalnya dalam kasus pemerkosaan, “korban harus membawa 4 orang saksi yang melihat langsung untuk menjatuhi hukuman kpd tersangka”. Sementara dalam kasus perzinahan, perempuan hamil cukup dijadikan bukti perzinahan telah terjadi untuk di rajam (meskipun hukum rajam sendiri tidak diatur dalam Al-Quran). Adakah keadilan dalam hukum Allah yang katanya Maha Adil itu?” (rilis theglobejournal.com, 23/11/2012).

Kesimpulan di atas rancu, dalam sistem hukum Islam, saksi bukan satu- satunya alat bukti.  Secara tersurat Al- Qur’an baik untuk kasus pemerkosaan atau zina memang tidak menggunakan istilah alat bukti (al- bayyinah), tetapi istilah ini diterangkan lebih lanjut dalam Hadits. Lafaz al- bayyinah memiliki makna tak terbatas mencakup segala sesuatu yang sah dan bisa menjadi alat bukti di pengadilan seperti surat- surat, alat pemeriksaan setempat (bukti- bukti lapangan). Keterangan ahli termasuk bantuan iptek/ sains seperti tes medis (DNA) untuk kasus pemerkosan/ perzinahan, uji laboratorium biji kopi luwak dan lain- lain sehingga sangat layak dipertahankan bagi manusia super modern sekalipun.

Yang tidak realistis, bila al- Qur’an/ Hadits menyebut DNA, laboratorium, CCTV dan sebagainya yang belum ada pada saat diwahyukan oleh Allah. Harusnya 4 orang atau 2 orang saksi yang ter- reputasi sesuai konteksnya di mana kondisi waktu itu saksi masih merupakan alat bukti yang dominan dan meminimalisir terjadinya kesaksian palsu. Inilah letak keadilan Allah yang Maha Tahu dan Maha adil. Ya, semoga MA menjadi yang terakhir, bila ia serius ingin mempertahankan pahamnya, silahkan berargumen “seliar- liarnya” di forum- forum tertentu bersama para ahli. Kalaupun ingin memposting di jejaring sosial jangan lupa menuliskan kata- kata ”status dan komentarnya bukan untuk konsumsi media cetak (publik)!”.

Penulis adalah Presenter AcehTV, email/fb azmiliano_rox@yahoo.com.

 

Article source: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/19/327290/293/14/Peserta-Ujian-Masuk-PTAIN-Naik-150-Persen


Catatan Kecil untuk Kita dan Mirza Alfath

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST Ć¢€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

Ć¢€œLaporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,Ć¢€ terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. Ć¢€œPolisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,Ć¢€ ujar Deddy.

JumĆ¢€™at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulamaƂ yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannyaƂ yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama Ƃ tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. Ć¢€œItu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,Ć¢€ ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>Ć¢€œLaporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | Ć¢€œPolisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>JumĆ¢€™at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulamaƂ yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannyaƂ yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku | Ƃ tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | Ć¢€œItu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank So Much for Visit this Article

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST Ć¢€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

Ć¢€œLaporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,Ć¢€ terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. Ć¢€œPolisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,Ć¢€ ujar Deddy.

JumĆ¢€™at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulamaƂ yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannyaƂ yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama Ƃ tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. Ć¢€œItu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,Ć¢€ ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>Ć¢€œLaporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | Ć¢€œPolisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>JumĆ¢€™at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulamaƂ yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannyaƂ yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku | Ƃ tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | Ć¢€œItu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank U Very Very Much for Read this News

Thursday, June 27, 2013

Harapan masyarakat pada pluralis dan Nahdlatul Ulama

Anggota Front Pembela Islam dalam salah satu aksi mereka


Setelah ketegasan pemerintah untuk mengatasi kasus kekerasan dan intoleransi yang kerap dilakukan oleh kelompok Islam garis keras tidak lagi bisa diharapkan maka banyak orang kemudian berharap kepada aksi kelompok pluralis dan ormas Islam besar, Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah untuk meredamnya.


Kekhawatiran bahwa aksi kekerasan dan intoleransi yang berlatar agama akan terus berkembang memang beralasan.


Lembaga Setara Institut dan Wahid Institut dalam penelitiannya menyebutkan ada sekitar 299 kasus peristiwa pelanggaran kebebasan beragama yang terjadi pada tahun 2011 lalu dan akan tetap ada bahkan meningkat di tahun ini.


“Peningkatannya ada jumlahnya lebih banyak sekitar 15 persen dibanding angka kasus yang terjadi pada tahun lalu,” kata Wakil Ketua Setara Institut, Bonar Tigor Naipospos.


Bonar mengatakan masih adanya kasus-kasus seperti ini terjadi karena lemahnya negara dalam menindak tegas pelaku kekerasan atas nama agama.


“Pembiaran oleh negara membuat kelompok-kelompok intoleran bisa berbuat apa saja termasuk melanggar hukum selain itu mereka bisa menyebarkan penyebaran pikiran picik dan sempit lewat buku, brosur dan ceramah oleh pimpinan agama yang berpandangan sempit selain itu pemahaman soal multikultural yang lemah di masyarakat kita.”


Bonar menyebut lembaganya mencatat kelompok seperti Front Pembela Islam adalah salah satu yang cukup sering melakukan aksi intoleran.


Kasus terakhir yang menunjukan besarnya pengaruh mereka adalah seruan penolakan FPI terhadap penolakan konser Lady Gaga yang berujung pada batalnya konser tersebut.


Menolak kekerasan


Aksi Indonesia tanpa FPI di Jakarta beberapa waktu lalu


Meski aksi kelompok ini mengatasnamakan agama Islam namun tidak semua muslim di indonesia setuju dengan aksi kelompok seperti ini.


Sejumlah orang yang tidak setuju dan hanya menyuarakannya lewat lewat situs jejaring sosial mulai bersepakat untuk unjuk diri menolak aksi kekerasan berlatar agama.


“Saya ngga pernah bicara karena siapalah saya tapi lama kelamaan kok semakin ke sini tidak ada tindakan dari aparat ya udah karena gemes kita beranikan dirilah bilang ngga setuju dan buak gerakan anti kekerasan atas nama agama,” kata Tunggal Pawastri salah satu inisiator gerakan Indonesia Damai Tanpa FPI.


“Mereka yang ikut muak juga dibilang silent majority terus, saya juga termasuk yang tidak bisa diam terus dan harus turun.”


Gerakan yang diusung Tunggal beserta sejumlah rekannya berhasil mengumpulkan sekitar seratus orang dan melakukan aksi unjuk rasa di jalan pada pertengahan Februari lalu.


Aksi Tunggal dan kawan-kawannya tidak berhenti sampai di sana, mereka menggagas dukungan lewat petisi online untuk mensomasi polisi agar berani menindak pelaku kekerasan atas nama agama.


Aksi ini mendapat dukungan dari 2500 orang lebih yang berasal dari berbagai latar belakang.


“Kalau kita amati yang mendukung ada dari kalangan artis, politisi, akademisi dan bahkan beberapa dari kalangan pegawai negeri.”


“Kita juga berdiskusi dengan LBH Jakarta, PBHI dan Elsam untuk mengambil tindakan hukum yang kongkret terhadap hal ini. Dan yang menurut yang paling realistis adalah mengambil gugatan citizen lawsuit.”


Meski banyak bergerak lewat situs jejaring sosial, usaha kampanye Tunggal menentang aksi kekerasan berlatar agama bukannya tidak mendapat perlawanan kelompok garis keras.


Kelompok ini ternyata juga memberikan perlawanan dari kampanye kalangan pluralis melalui jalur media di dunia maya ini.


“Mereka (kelompok intoleran) juga melakukan hal ini dan secara teknis mereka kadang lebih canggih dari kelompok pro pluralisme, mereka kampanye secara provokatif dan menyebarkan fitnah,” kata Peneliti Senior Wahid Institut, Ahmad Suady.


Di Kalimantan Tengah penolakan terhadap kelompok FPI yang dinilai kerap melakukan tindakan kekerasan dalam penyampaian pesannya terjadi secara meluas.


Pejabat daerah dan sejumlah organisasi lintas agama pada pertengahan Februari lalu memutuskan menolak kedatangan sejumlah petinggi FPI yang akan mendirikan cabang organisasi mereka di Kalimantan Tengah.


Keputusan ini diambil setelah sejumlah ormas besar dari kelompok agama Islam, Kristen dan perwakilan etnis Dayak melakukan pembicaraan yang menghasilkan kesepakatan bersama menolak FPI.


“Jangan ada pengertian orang luar bahwa penolakan ini merupakan penolakan terhadap agama Islam, kita sepakat bersama-sama menolak organisasi yang bertentangan dengan budaya betang di tempat kami yang kami lihat mirip dengan Pancasila,” kata Yansen Binti.


Menurut Yansen kehadiran FPI dikhawatirkan akan merusak budaya Betang di daerah itu yang menjunjung penghormatan terhadap semua kelompok dengan latar budaya, etnis dan agama yang berbeda.


“Begitu kita mendengar ada FPI akan masuk ke Kalimantan Tengah dengan dilandasi atas track record yang pernah kita lihat dengan senantiasa kegiatan menebar kekerasan berlandas agama, maka ini mendapat penolakan luas di Kalimantan tengah baik dari agama Islam maupun Kristen.”


Tokoh Dayak lainnya, Sabran Achmad juga menilai kebijakan organisasi itu tidak cocok dengan kehidupan sosial masyarakat di Kalimantan Tengah.


“Penolakan itu karena Kalimantan Tengah sudah cukup aman jadi tidak perlu ada organisasi lagi masuk ke Kalimantan Tengah dan kita melihat organisasi itu kurang cocok di masyarakat Kalimantan Tengah karena sering menimbulkan berita-berita (kasus kekerasan) di luar,” kata Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah Sabran Achmad.


Aksi di Kalimantan Tengah dan Jakarta menunjukan penolakan terhadap ormas yang berlandas kekerasan seperti FPI bukannya tidak ada di kalangan masyarakat sipil namun memang bersifat sporadis.


Peran Ormas Besar


Jika ada peran warga menolak kehadiran ormas Islam yang kerap melakukan kekerasan dan intoleran bagaimana dengan peran ormas besar seperti NU dan Muhamadiyah.


Apakah selama ini mereka berdiam diri melihat aksi kekerasan oleh kelompok Islam yang intoleran dan melakukan kekerasan.


Salah satu Ketua PP Muhamadiyah Fattah Wibisono membantah organisasinya tidak melakukan sesuatu untuk meredam organisasi islam yang kerap melakukan kekerasan dan berlaku intoleran.


“Kami selalu melakukan diskusi-diskusi tentang bagaimana seharusnya mengambail langkah untuk kebaikan umat dan Muhamadiyah melakukan itu dengan kelompok manapun,” kata Fattah.


“Saya secara individual sering berhubungan dengan FPI dan bahkan sebetulnya ada hal yang menarik pada FPI, mereka sedang membangun pola akademik karena selama ini dikenal sering melakukan itu (kekerasan) mereka tengah membangun langkah akademik dan menghindari kekerasan.”


Muhamadiyah kata Fattah juga memberikan pemahaman kepada anggotanya dan mereka yang belajar pada seluruh lembaga pendidikan yang dikelolanya untuk tidak mengedepankan kekerasan dalam menghadapi perbedaan.


Serupa dengan Muhamadiyah, Nahdatul Ulama membantah jika mereka bersikap diam terhadap aksi kekerasan yang dilakukan oleh FPI atau organisasi keagamaan lainnya.


“Kita tidak pernah diam, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah itu (faham kekerasan) kita akan lakukan misalnya memberikan penjelasan lebih masif kepada warga kita tentang peneguhan kembali prinsip NU yaitu tasamuh itu toleran, tawasuf itu moderat dan menghargai kebhinekaan,” kata Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi .


Masdar mengatakan warga NU kerap membantu menjaga kegiatan kelompok minoritas yang kerap mendapat ancaman kekerasan dari kelompok intoleran.


“Ketika ada upacara keagamaan yang diganggu oleh kelompok intoleran, Banser kita ikut berada di sana. Kita hanya menjaga dan tentu tidak bisa melakukan tindakan represif kepada mereka.”


Namun menurut Masdar langkah kekuatan masyarakat sipil saja untuk melawan kelompok intoleran ini tidak cukup. Karena tindakan represif dan langkah hukum kepada mereka hanya boleh dilakukan oleh aparat negara.


Senada dengan Masdar, Peneliti Senior di Wahid Institut, Ahmad Suaedy mengatakan meski ormas besar Islam telah melakukan sesuatu terhadao kelompok intoleran seperti FPI namun yang paling menentukan adalah bagaimana kebijakan pemerintah terhadap ormas yang berperilaku seperti ini.


“Saya kira satu-satunnya cara dalam mengatasi hal ini (aksi kekerasan ormas intoleran) adalah komitmen pemimpin negara karena kepolisian ada di bawah dia,” kata Suaedy.


Harapan untuk mendesak pemerintah berlaku tegas terhadap ormas intoleran yang kerap melakukan kekerasan sejauh ini belum mendapat respon yang menggembirakan.


Pertengahan Februari lalu ketika masyarakat ramai menolak kehadiran FPI termasuk di Kalimantan Tengah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak meresponya dengan semangat yang sama.


Dia saat itu hanya meminta FPI untuk introspeksi terhaap kebijakan lapangan yang mereka tempuh.


“”Sejumlah organisasi massa pasti mengerti, membuat tidak nyaman bagi sebagian kalangan. Tentu harus bertanya kenapa? Yang lain boleh tapi saudara-saudara kita yang ada di FPI tidak boleh,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28848/04/06/2013/islam-dan-kerajaan-mali-abad-ke-13-dan-14-(bag-1).html


Harapan masyarakat pada pluralis dan Nahdlatul Ulama

Monday, December 23, 2013

13 Topik Paling Dibicarakan Tahun Ini


TAHUN 2013 ini ada banyak topik dalam dunia hiburan yang jadi bahan gunjingan publik dan media.


Topik ini tak hanya dibicarakan selama hitungan hari, ada pula yang hitungan bulan. Nah, berbagai topik hangat yang paling diperbincangkan itu kami rangkum dalam 13 Topik Paling Dibicarakan di Tahun 2013.


Tertangkapnya Raffi Ahmad

Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap Raffi Ahmad (26) dan beberapa artis seperti Wandah Hamidah, Zaskia Sungkar dan Irwansyah—belakangan tiga nama terakhir dibebaskan karena tidak terbukti memakai narkoba–pada 27 Januari lalu. Proses hukum Raffi berjalan lambat karena kejaksaan menilai zat narkoba (katinone) yang dipakai Raffi belum tercantum dalam Undang-undang Narkotika. Meski begitu, Raffi menjalankan rehabilitasi selama 3 bulan.


Perseteruan Eyang Subur vs Adi Bing Slamet

Perseteruan antara Adi Bing Slamet (46) dengan paranormal Eyang Subur (66) amat menyita perhatian media dan masyarakat. Selama 4 bulan, perseteruan mereka menghiasi isi berbagai media. Kisah ini bermula ketika Adi menuding mantan gurunya itu mengajarkan aliran sesat dan memiliki istri lebih dari 4 orang. Setelah kasus ini pecah, Adi dan Eyang Subur saling lapor ke polisi. Sampai saat ini kasus hukum Eyang Subur dan Adi masih bergulir. Uniknya, dari perseteruan mereka melahirkan artis dadakan Arya Wiguna yang terkenal dengan kalimat “Demi Tuhan…”


Julia Perez Masuk Penjara dan Menunda Perkawinan

Tahun 2013 tahun terberat bagi artis Julia Perez (33). Pasalnya, wanita yang akrab disapa Jupe ini menghadapi dua masalah besar: tuntutan royalti Rp 1 miliar dari mantan suaminya Damien Perez, dan perseteruannya dengan Dewi Perssik. Buntut perseteruan dengan Dewi, Jupe harus merasakan dinginnya lantai penjara. Cobaan Jupe pada tahun 2013 makin berat karena rencana pernikahannya dengan kekasihnya Gaston Castano sempat diundur beberapa kali. Selesai? Belum. Dua hari sebelum acara lamaran, ayah Jupe meninggal dunia pada Senin (2/12). Di tengah suasana duka, acara lamaran tetap berlangsung pada Rabu (4/12) yang disiarkan secara langsung oleh ANTV.


Kicauan Farhat Abbas

Pengacara Farhat Abbas (37) amat rajin menuliskan komentarnya di jejaring sosial Twitter. Siapapun dikomentarinya, mulai dari pasangan Jokowi-Basuki, Rhoma Irama, Iwan Fals, Agnes Monica dan yang paling terbaru Ahmad Dhani. Komentar pedas Farhat pada Dhani membuat anak-anak Ahmad Dhani, Al dan El meradang. Mereka menantang Farhat untuk bertinju. Perseteruan Ahmad Dhani-Farhat makin memanas ketika Ahmad Dhani melibatkan mantan istri siri Farhat, Rita Tresnawati. Dhani bersedia membiaya sekolah Gusti, anak Farhat dari pernikahan sirinya dengan Rita hingga S3. Perseteruan mereka bakalmakin panjang setelah aksi saling lapor ke polisi.


“Vickynisasi”Prasetyo

Siapa yang tidak kenal dengan kalimat “kontroversi hati”, “statusisasi kemakmuran”, “labil ekonomi” dan “konpirasi kemakmuran”? Kalimat itu dipopulerkan oleh Vicky Prasetyo (29), mantan tunangan penyanyi dangdut Zaskia Gotik. Sejatinya, Vicky bukan siapa-siapa. Dia baru terdeteksi media ketika menggelar acara tunangan dengan Zaskia di sebuah hotel mewah. Acara itu bak pisau bermata dua bagi vicky. Satu sisi melambungkan popularitasnya, sisi lain awal kehancurannya. Setelah Vicky muncul di media, ada beberapa penyanyi dangdut yang mengaku sebagai korban Vicky. Kemunculan Vicky di media juga memudahkan polisi untuk menangkapnya. Vicky terlibat kasus pemalsuan surat. Gara-gara kasus itu kini dia mendekam di dalam penjara.


Idola Baru dari “X Factor Indonesia”

Banyaknya acara kontes bakat sempat membuat masyarakat jenuh. Akibatnya, jumlah penonton menurun drastis. Rating dan share acara ini pun melorot.Kegairahanmasyarakat terhadap acara kontes bakat tumbuh lagi ketika X Factor Indonesia muncul. Ajang pencarian bakat yang dibidani Simon Cowell ini berhasil mencuri perhatian masyarakat. Dengan finalis yang berkualitas dan berkarakter, acara ini beroleh rating bagus. Dari kontes ini lahir idola baru Fatin, yang kini menjadi penyanyi solo perempuan paling diminati.


Goyang Cesar

Bila Korea Selatan punya Gangnam Style, Amerika Serikat punya Harlem Shake, maka Indonesia punya Goyang Cesar. Koreografi yang simpel dan unik membuat Goyang Caesar menjadi cepat populer. Mulai dari anak kecil sampai tua renta paham dengan goyang yang satu ini. Berkat Goyang Caesar, rating Yuk, Keep Smile menjulang tinggi. Caisar (24), si empunya goyangan, pun menjelma menjadi selebriti.


Kematian Tragis Ustaz Jefri Al Buchori

Umat Islam kembali kehilangan salah satu tokohnya, Ustaz Jefri Al Buchori (40) pada 26 April 2013. Uje meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan motor di bundaran Pondok Indah, Jakarta Selatan. Jutaan umat Islam menangisi kepergian suami dari Pipik Dian Irawati.


Kecelakaan Maut Putra Ahmad Dhani

Putra musisi Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani (13) mengalami kecelakaan maut di tol Jagorawi kilometer 8, pada Minggu, 8 September lalu. Kecelakaan maut yang melibatkan 3 mobil itu menewaskan 7 orang. Dhani bersyukur, anaknya lolos dari maut. Dhani berjanji menanggung smua biaya rumah sakit dan membiayai anak-anak korban hingga dewasa, bahkan sekolah hingga S3.


Drama Rumahtangga Ayu Ting Ting

Tahun 2013 menjadi tahun terberat bagi penyanyi dangdut Ayu Ting Ting (21). Bagaimana tidak, pernikahannya dengan Henry Baskoro Hendarso alias Enji mengalami gonjang-ganjing. Drama rumah tangga Ayu berawal dari persoalanresepsi pernikahan. Ayu dan keluarga ingin resepsi pernikahan, sedang Enji dan keluarga Ayu butuh waktu untuk menyiapkannya. Persoalan rumah tangga Ayu kian pelik karena melibatkan banyak pihak, terutama mantan-mantan kekasih Enji. Ayu berencana akan menggugat cerai Enji setelah melahirkan.


Pernikahan Kontroversial Asmirandah-Jonas Rivanno

Pasangan selebritis Asmirandah (24)-Jonas Rivanno (26) telah menikah pada 17 Oktober 2013. Harusnya ini jadi berita bahagia. Namun, pasangan beda keyakinan ini malah membantah. Dari sini lah, persoalan mereka muncul. Majelis Ulama Indonesia (MU) dan Front Pembela Islam (FPI) Depok kecewa atas pengakuan mereka. MUI dan FPI menjelaskan bahwa Asmirandah-Jonas telah menikah secara Islam di KUA Beji, Depok. Dua lembaga itu juga kecewa dengan bantahan Jonas Rivanno, yang tidak mengakui dirinya telah menjadi mualaf. FPI melaporkan Vanno ke Mapolresta Bogor atas tuduhan Penistaan Agama. Asmirandah yang akrab disapa Andah sudah mengajukan permohonan pembatalan pernikahan di Pengadilan Agama.


Olga Saputra Jadi Tersangka

Olga Saputra (27) beberapa kali tersandung masalah, namun keberuntungan selalu berpihak padanya. Berbagai masalah yang menimpanya bisa diselesaikan dengan jalan damai. Sayangnya, ia seolah tak pernah belajar dari pengalaman. Malah, terkesan Olga makin tidak terkontrol. Olga kembali terbelit masalah saat dia mempermalukan dr. Febby Karina di acara Fesbukers yang disiarkan langsung. Olga pun dilaporkan dr. Feby ke polisi pada 19 Juni lalu. Setelah 3 bulan kasusnya digodok, polisi menetapkan Olga sebagai tersangka pada awal Oktober lalu.


Heboh Rumah 24 Miliar Nikita Mirzani

Selama beberapa tahun belakangan Nikita Mirzani (27) rajin wira-wiri di media hiburan. Bukan karena prestasi tapikehebohan yang ia ciptakan. Dia beberapa kali terlibat dalam perkelahian, yang berbuntut saling lapor polisi. Sifat usilnya berlanjut di jejaring sosial Twitter dengan menyindir Jenny Cotez dan Zaskia Gotik. Saat Nikita dicemooh, ia malah membawa berita bahagia yang membuat semua wanita patut iri. Nikita menikah dengan Sajad Ukra, petinggi sebuah bank di Singapura. Yang membuat wanita iri, Sajad memberikan sebuah rumah seharga Rp 24 miliar sebagai hadiah pernikahan pada Nikita.


(ej/adm)



Article source: http://www.merdeka.com/politik/dilarang-masuk-parpol-sultan-lebih-baik-jaga-kearifan-diy.html


13 Topik Paling Dibicarakan Tahun Ini

Friday, January 18, 2013

Inilah Petikan Ayat Quran di Gerbang Harvard

REPUBLIKA.CO.ID, MASSACHUSETTS — Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengabadikan sebuah ayat Alquran di gerbang masuk Fakultas Hukum. Ayat yang diukirkan sebagai bentuk penghormatan itu diambil dari surat Annisa ayat 135.

”Ayat 135 Surat Annisa (bab tentang wanita) telah dituliskan di dinding yang menghadap gerbang masuk Fakultas Hukum sebagai kata-kata terhebat tentang keadilan,” tulis surat kabar Arab Saudi ‘Ajel’ seperti dikutip Emirates247.

Abdullah Jumma, mahasiswa Harvard asal Arab Saudi, yang memerhatikan tukilan ayat Alquran di dinding gerbang Fakultas Hukum Universitas Harvard tersebut. Dia kemudian memfoto tulisan ayat Alquran tersebut (Ini fotonya).

Jumma kemudian menyebarkannya lewat situs jejaring sosial Twitter. ”Saya menyadarinya bahwa itu sebuah ayat Alquran yang telah dituliskan oleh Fakultas Hukum untuk menggambarkan sebagai salah satu kata-kata terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,” kata Jumma seperti dikutip Ajel.

Adapun isi Surat Annisa Ayat 135 adalah “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Tahu terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”

Universitas Harvard didirikan di Cambridge, Massachusetts, pada 1636. Harvard tercatat sebagai perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat.

Article source: http://www.harianterbit.com/2012/08/04/selama-olimpiade-london-17-orang-masuk-islam/


Inilah Petikan Ayat Quran di Gerbang Harvard

Thursday, January 30, 2014

Foto Asmirandah Berdoa di Gereja Jadi Viral Internet

Solopos.com, JAKARTA – Perbincangan hangat di jejaring twitter beberapa hari terakhir banyak diisi oleh foto “penampakan” Asmirandah yang sedang berdoa di gereja bersama pasangannya Jonas Rivanno. Hal ini semakin memperkuat kabar Asmirandah telah pindah agama.


Akun twitter @eijanah dan @william_sancz jadi beberapa akun yang membagikan foto ini. Foto ini dituturkan diambil melalui kamera candid.


“Best candid Ever ! Welcome asmirandah ;) ” unkap JEin Martindas.


Foto Asmirandah ini lantas dikomentari oleh sejumlah akun twitter. Beberapa merasa kecewa, sebagian lain menjadi foto ini bahan guyonan.


“Kecewa berat sm Asmirandah!!!!!!!” kata @ms_yunni


“Kalau misalnya pindah agama, mata kuliah pendidikan agamanya harus ngulang atau gimana ya? misal aja ini sih… misal asmirandah masih TPB,” kata Fahli Sofyan


Beredarnya foto ini tidak dibantah oleh pihak Asmirandah. Urusan agama dan keyakinan, menurut Asmirandah adalah hak dirinya yang tidak bisa dicampuri orang lain.


“Agama hak aku, itu iman saya. Terserah orang mau nilai aku seperti apa, itu urusan aku sama Tuhan”, katanya seperti dikutip Kapanlagi.com, Rabu (29/1/2014).


Andah, demikian biasa dipanggil, mengaku tidak pernah membantah ataupun membenarkan, apakah dirinya berpindah keyakinan atau tidak. Perempuan kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1989 itu juga enggan untuk mencari tahu siapa yang mengabadikan gambar dan menyebarkan fotonya itu.


“Ga apa-apa lah. Mungkin ini kuasa Tuhan untuk menjawab semuanya,” ungkapnya.


Terkait pemberitaan ini ayah Asmirandah, Anton Zantman merasa miris dan sangat menyesalkan apa yang sudah dilakukan oleh anaknya tersebut.


Anton semakin yakin kalau Andah, sebutan Asmirandah sudah pindah agama.


“Kalau menurut aku sih, dia sudah. Tapi dia enggak berani ngomong sama saya. Lagian sudah lama Andah enggak pulang kemari,” kata Anton seperti dikutip aktualpost.com, Selasa (28/1/2014).


Ia juga mengakui selama ini dirinya tidak pernah mengetahui aktivitas Anda. “Masak mungkin untuk suaminya atau buat mantan suaminya atau juga buat calon suaminya. Ya saya nggak tahu,” katanya.


Bukan hanya harus berhadapan dengan cibiran publik, pasangan ini juga berhadapan dengan Front Pembela Islam (FPI) sebab kasus penistaan agama.


Diberitakan Solopos.com sebelumnya FPI memerkarakan Jonnas  Rivanno ke polisi lantaran diduga melakukan penistaan agama


“Laporan kami ini terkait dugaan penistaan atau penodaan agama karena si Vanno mempermainkan agama Islam saat tidak mengakui menjadi mualaf, jadi tetap kami akan lanjutkan,” kata Idrus Algadri.


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/14/01/08/mz23yj-penyanyi-amerika-ini-masuk-islam-saat-belajar-bahasa-arab-di-maroko


Foto Asmirandah Berdoa di Gereja Jadi Viral Internet

Monday, October 14, 2013

Madona Masuk Islam?

Madona Masuk Islam?

WartaNews, Jakarta – Artis terkenal Madonna mengungkapkan kalau dirinya telah mempelajari ayat-ayat Alquran. Bahkan, setelah belajar Islam, Madonna akan mendirikan sekolah untuk anak perempuan di negara Muslim dan ia ingin memahami lebih jauh tentang agama Islam.


Benarkah Madonna masuk Islam dan jadi mualaf? “Saya mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di negara Muslim, dan mempelajari Alquran,” kata artis berusia 55 tahun ini seperti dikutip dari Albawaba, Senin (7/10/2013).


Pemain film ‘Evita’ itu menjelaskan, betapa pentingnya memahami kitab suci agama lain. Kekasih dari Brahim Zaibat ini juga setuju dengan pendapat temannya yang menyebutkan seorang Muslim yang baik adalah Yahudi yang baik, dan seorang Yahudi yang baik adalah seorang Kristen yang baik.


Ketertarikan Madonna terhadap agama Islam semakin berkembang setelah dia menjadi pacar Brahim Zaibat, seorang Muslim kelahiran Aljazair. Baru-baru ini, foto mirip Madonna memakai jilbab juga diunggah oleh penggemarnya di jejaring sosial Facebook.(*/Hitz)


Article source: http://www.merdeka.com/dunia/perempuan-muslim-amerika-diberi-minum-teh-campur-daging-babi.html


Madona Masuk Islam?

Thursday, August 15, 2013

Sufisme Menangkal Ekstrimisme


Setiap tahun, ribuan sufi dari seluruh dunia berkumpul di Indonesia. Mereka tidak bicara soal kesesatan, mereka lebih memilih bercakap-cakap soal cinta kasih sembari mencari titik-titik temu antar beragam keyakinan.



Januari 2013, para sufi dunia berkumpul di Pekalongan, pulau Jawa. Mereka akan bicara tentang banyak hal terutama konflik di Timur Tengah.



Indonesia menjadi surga bagi para sufi. Jutaan orang menjadi pengikut aliran yang sering disebut sarjana barat sebagai mistikus Islam: mereka yang lebih mengedepankan batin dalam mendekati Tuhan.



Sufisme vs. Ekstrimisme



Mistikus Islam, kelompok tarekat atau tasawuf adalah nama-nama lain bagi mereka yang mempraktekkan sufisme.



“Sufisme fokusnya pada yang batin, sementara kelompok fundamentalis fokusnya adalah kewajiban melaksanakan hukum agama. Itulah yang membuat sufisme dalam sejarah Islam selalu berkonflik dengan kelompok fundamentalis,” kata Media Zainul Bahri, pakar sufisme yang sedang mengikuti program riset Post Doktoral Yayasan Humbolt di Universitas Kƶln Jerman kepada Deutsche Welle.



“Ketika seseorang mendalami dimensi batin agama, maka dia akan ‘bertemu’ dengan agama-agama lain. Karena itulah sufisme sangat toleran terhadap perbedaan keyakinan, karena dia lebih melihat pada dimensi batin agama.“



Meski dikenal dunia sebagai negara berpenduduk muslim moderat, namun belakangan Indonesia mengalami gelombang pasang intoleransi: pemboman oleh kelompok teroris maupun penyerangan atas kelompok minoritas oleh kelompok Islam radikal.



Kelompok sufisme sangat tidak suka dengan kelompok radikal, kata Zainul Bahri. Tapi pandangan mereka sayangnya jarang diekspos oleh media massa. Dia meyakini bahwa sufisme sangat efektif untuk melawan doktrin-doktrin di dalam Islam yang bersifat ekstrim.



“Pengikut sufisme itu bagian dari silent majority di dalam Islam”


“Sufi sangat toleran dengan perbedaan” Pakar Sufisme Media Zainul Bahri



Surga Sufisme



Islam masuk ke Indonesia abad ke-15 melalui sufisme. Menurut Zainul Bahri, para Wali Songo ketika pertama kali memperkenalkan Islam lebih banyak bicara soal nilai-nilai budi pekerti atau akhlak, dan itu dekat dengan ajaran Hindu dan Buddha yang saat itu menjadi agama mayoritas.



Sifat sufisme yang lebih banyak bicara soal nilai-nilai kebaikan itu membuat Islam menjadi lebih gampang diterima di Indonesia.



Zainul Bahri memperkirakan, kini ada lebih dari tujuh juta orang di Indonesia yang mengikuti ajaran sufisme. Organisasi Islam terbesar Nahdatul Ulama, bahkan mempunyai sayap organisasi tasawuf. Sebagian besar pengikut sufi, ada di pedesaan.



Namun beberapa tahun terakhir muncul gejala sufisme perkotaan. Di sejumlah perumahan paling elit Jakarta: kawasan Pondok Indah, Kuningan atau bahkan di hotel-hotel mewah digelar pengajian Tasawuf.



Zainul Bahri yang sempat mengajar di salah satu pengajian tasawuf elit Jakarta bercerita bahwa sebagian besar yang bergabung adalah kalangan pengusaha atau bekas pejabat.



Cendekiawan Islam paling terkemuka seperti almarhum Nurcholish Madjid, Haidar Bagir dan Jalaluddin Rakhmat termasuk diantara mereka yang “menularkan” sufisme di kalangan elit perkotaan.



Orang kaya lebih senang belajar tasawuf karena mereka ingin mencari ketenangan batin. Mereka menemukan kedamaian hati dan pencerahan: wajah Islam yang damai, toleran dan bersahabat.



Sufi Twitter



Jangan bayangkan jubah putih, sufi yang satu ini berbeda. Berambut gondrong, suka bercelana jeans, dan menenteng Ipad ke manapun dia pergi.


Sufi Twitter @candramalik


Namanya @candramalik, usianya 34 tahun. Dia mendeklarasikan diri sebagai sufi Twitter. Follower-nya di jejaring sosial lebih dari 30 ribu. Serial Tweet-nya, terutama di malam hari lewat #FatwaRindu dan #Seucap disukai para pengikut.



Indonesia adalah negara yang menggilai Twitter. Akhir 2012, lembaga riset Semiocast asal Prancis mengungkapkan bahwa Jakarta adalah kota dengan lalu lintas percakapan Twitter paling tinggi di dunia, mengalahkan di urutan berikutnya New York, Tokyo, London, Sao Paolo. Nomor enam tertinggi di dunia adalah: Bandung, yang mengalahkan Paris dan Los Angeles.



“Lewat Twitter, saya bisa menyampaikan pesan sufisme secara lebih terbuka, egaliter, dan bisa diperdebatkan siapa saja tanpa penghalang, itu sangat cocok dengan jiwa sufisme yang selalu membuka ruang bagi dialog“ kata Candra Malik kepada Deutsche Welle.



“Ketika mendeklarasikan diri sebagai sufi Twitter, sebetulnya saya sedang mendekonstruksi sufisme untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya sufisme sangat dekat dan berada di tengah masyarakat.“



Sufi masa kini, menurut Candra Malik tidak perlu selalu berjubah, pakai surban, dan menyembunyikan diri dari publik.



Candra Malik mempunyai pesantren tasawuf di Solo. Dia juga mengajar kelas sufi di kota-kota besar: Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya hingga Bali. Dia mengaku punya 3.500 murid dan sepuluh persen diantaranya mempunyai latar keyakinan Hindu, Buddha, Katolik, Kristen hingga Kejawen.



“Sufisme mengajarkan tentang cinta damai, kasih sayang, tentang bagaimana menghargai kemanusiaan. Seorang sufi selalu berusaha mengerti keberadaan manusia berasal dari keyakinan masing-masing tanpa memaksakan kehendak mana yang lebih benar.“



Saat bulan puasa 2012, Candra Malik merilis album kidung sufi “Samudera Cinta“, dia juga mengisi acara Ramadhan di salah satu stasiun televisi. Dalam beberapa konser, Candra Malik melibatkan paduan suara gereja.



“Twitter atau musik lebih efektif untuk menyebarkan sufisme di dalam masyarakat modern. Kalau hanya berhenti di pengajian atau mesjid, maka gagasan yang cinta damai itu tidak akan bisa merangkul kalangan yang lebih luas,“ pungkas Candra Malik.


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Sufisme Menangkal Ekstrimisme

Thursday, January 17, 2013

Ayat Quran di Gerbang Fakultas Hukum Harvard

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Universitas Harvard menukil salah satu ayat Alquran sebagai bentuk penghormatan. Universitas tertua di Amerika Serikat itu mengukirkan petikan ayat Quran di gerbang masuk Fakultas Hukum.

”Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,” tulis surat kabar Arab Saudi ‘Ajel’ seperti dikutip Emirates247.

Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.

Adalah mahasiswa Arab Saudi yang sedang menimba ilmu di Universitas Harvard, Abdullah Jumma, yang menyadari bahwa tulisan yang terpampang di gerbang masuk Fakultas Hukum itu merupakan petikan ayat Alquran.

Jumma langsung menyebarkan foto tulisan ayat alquran tersebut lewat jejaring sosial Twitter. ”Saya yakin ayat alquran telah ditulis oleh Fakultas Hukum yang menggambarkan salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan dalam sejarah,” kata Jumma.

Universitas Harvard didirikan di Cambridge, Massachusetts, pada 1636. Harvard merupakan perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat.

Article source: http://www.ctpost.com/highschool/article/Wednesday-s-high-school-roundup-Fairfield-3530476.php


Ayat Quran di Gerbang Fakultas Hukum Harvard

Wednesday, October 2, 2013

Aktor Mr Bean, Rowan Atkinson, Dikabarkan Masuk Islam

TRIBUNNEWS.COM – Lama tak terdengar kabarnya, aktor komedi Rowan Atkinson atau lebih tenar dengan sebutan ‘Mr Bean’, Selasa (1/10/2013) diberitakan mengikrarkan ke-Islamannya.


Sebagaimana dilansir sadabladi.com dan diperkuat oleh media Israel israellycool, lalu kemudian dikutip oleh situs Islampos, Mr Bean menerangkan setelah `menonton’ film fitnah tentang nabi Muhammad SAW “Innocent of Muslim” adalah penyebab utama ia dirinya memantapkan hati pada keyakinan barunya.


Benarkah kabar itu? Sayangnya `Mr Bean’ tak berbicara banyak ketika ditanya media, hanya mengangkat jari saja sebagai isyarat dia bersyahadat.


Menurut beberapa sumber portal media, Sheikh Rashid Ghannousyi, adalah salah seorang pembimbing Mr Bean. Banyak yang memberi selamat kepadanya di sepanjang jalan.


Bakat seniman legendaris ini tidak dimiliki oleh setiap artis komedi, diam adalah ciri khas lawakan dari pelawak yang memulai debut kariernya dari teater.


Menurut situs Islampos, media-media mainstream di Inggris belum banyak memberitakannya. Namun sebagian media Arab sudah menurunkan berita Rowan sudah jadi mualaf.


Tribunnews.com sendiri memantau kabar ini jadi obrolan ramai di jejaring Facebook. Seorang facebookers bertanya-tanya kebenaran kabar tersebut karena belum terkonfirmasi langsung dari bibir Rowan Atkinson, kecuali hanya isyarat tangan yang bisa diartikan macam-macam.


“Aku cari-cari kebenaran beritanya di google kok nggak ketemu ya?” komentar seorang facebooker setelah membaca tautan berita dari situs Islampos.


Article source: http://www.solopos.com/2013/10/02/media-massa-timur-tengah-beritakan-mr-bean-masuk-islam-452855


Aktor Mr Bean, Rowan Atkinson, Dikabarkan Masuk Islam

Monday, December 17, 2012

Teroris Gunakan Facebook untuk Rekrut Kader

INILAH.COM, Kuala Lumpur–Kelompok teroris Malaysia Jamaah Islamiyah (JI) yang beroperasi di Asia Tenggara kini mulai menggunakan jejaring sosial Facebook untuk merekrut rookies alias anak bawang.
Warga Malaysia bernama Mohd Noor Fikrie Abd Kahar, anak seorang pensiunan polisi, belajar terorisme dari Facebook. Ia mencoba membunuh dalam sebuah misi teror yang gagal di Filipina.
Apa yang menjadi sasaran teror anak bawang ini masih menjadi misteri. Polisi Filipina mengatakan bahan peledak yang dibawanya bisa meledakkan mall, hotel atau gereja saat misa subuh pada hari Natal tak lama lagi akan digelar.
Juga muncul spekulasi bahwa Fikrie si anak bawang ini sedang melewati masa perpeloncoannya sebagai anggota JI untuk menaikkan peringkatnya.
Meskipun anak bawang, Fikrie memiliki kontak dekat dengan pemimpin top JI sesama Melayu Malaysia bernama Zulkifli Abdul Hir alias Marwan.
Marwan diyakini lolos dari serangan pasukan keamanan Filipina pada 2 Ferbuari, yang membunuh Abu Sayyaf atawa Dr Abu, pemimpin kelompok teroris Filipina Umbra Jumdali Gumbhali. .
Mohd Noor Fikrie, yang lahir di Kedah, berhubungan dengan Marwan dan Dr Abu melalui Facebook dan menggunakan kontak warga Sabah untuk melintas antara Sandakan (Malaysia Timur) dan Kota Zamboanga di Filipina Selatan.
Menurut sumber intelijen, Fikrie diketahui bersama gembong teroris Marwan dan Dr Abu saat digebrek tentara dan polisi Filipina beberapa bulan yang lalu.
“JI dan Abu Sayyaf beroperasi bersama di wilayah Sulu, namun JI pindah ke Mindanao ketika pasukan kemanan Filipina, dengan dukungan AS dan Australia, menekan mereka,” ujar sumber intelijen seperti dikutip The Star, koran Malaysia, Selasa (18/9/2012).
Setelah serangan dilakukan ke pesembunyiannya, Fikrie termasuk dalam gerombolan yang lolos. Tapi kartu tanda penduduk (KTP) Malaysia Fikrie tertinggal. Polisi Filipina terus melacak keberadaan Fikrie. Ia dikeatahui menikah dengan wanita katolik yang masuk Islam bernama Annabelle Nieva Lee, setelah bercerai dengan istrinya di Malaysia.
Ia ditangkap polisi Filipina di Davao, pada Jumat malam pekan lalu, bersama isterinya. Fikrie menggendong ransel yang berisi bom.
Fikrie tamat sekolah menengah dan bekerja serabutan di Malaka ketika ayahnya, seorang sersan yang bertugas di pusat pelatihan polisi ditempatkan di sana sampai pensiun pada 2002. Fikrie kemudian meninggalkan kota asal keluarganya di Benut, Pontian, negara bagian Johor.
Fikrie kemudian menikah dengan wanita bernama Nuzul dan tinggal di Kampung Bahagia di Malaka sampai pasangan ini bercerai tahun lalu. Ia kemudian berkelana di Mindanao dan segera mengawini Lee yang berasal dari Sorsogon, kota yang menjadi pintu masuk Filipina Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir Fikrie di ketahui direkrut JI dan berhubungan dengan para gembong JI melalui media sosial. [tjs]

Teroris Gunakan Facebook untuk Rekrut Kader

Friday, January 4, 2013

Sufi Indonesia: Melawan Ekstrimisme Lewat Twitter

Setiap tahun, ribuan sufi dari seluruh dunia berkumpul di Indonesia. Mereka tidak bicara soal kesesatan, mereka lebih memilih bercakap-cakap soal cinta kasih sembari mencari titik-titik temu antar beragam keyakinan.

Januari 2013, para sufi dunia berkumpul di Malang, sebuah kota sejuk yang ada di bagian Timur pulau Jawa. Mereka akan bicara tentang banyak hal terutama konflik di Timur Tengah.

Indonesia menjadi surga bagi para sufi. Jutaan orang menjadi pengikut aliran yang sering disebut sarjana barat sebagai mistikus Islam: mereka yang lebih mengedepankan batin dalam mendekati Tuhan.

Sufisme vs. Ekstrimisme

Mistikus Islam, kelompok tarekat atau tasawuf adalah nama-nama lain bagi mereka yang mempraktekkan sufisme.

“Sufisme fokusnya pada yang batin, sementara kelompok fundamentalis fokusnya adalah kewajiban melaksanakan hukum agama. Itulah yang membuat sufisme dalam sejarah Islam selalu berkonflik dengan kelompok fundamentalis,” kata Media Zainul Bahri, pakar sufisme yang sedang mengikuti program riset Post Doktoral Yayasan Humbolt di Universitas Kƶln Jerman kepada Deutsche Welle.

“Ketika seseorang mendalami dimensi batin agama, maka dia akan ‘bertemu’ dengan agama-agama lain. Karena itulah sufisme sangat toleran terhadap perbedaan keyakinan, karena dia lebih melihat pada dimensi batin agama.“

Meski dikenal dunia sebagai negara berpenduduk muslim moderat, namun belakangan Indonesia mengalami gelombang pasang intoleransi: pemboman oleh kelompok teroris maupun penyerangan atas kelompok minoritas oleh kelompok Islam radikal.

Kelompok sufisme sangat tidak suka dengan kelompok radikal, kata Zainul Bahri. Tapi pandangan mereka sayangnya jarang diekspos oleh media massa. Dia meyakini bahwa sufisme sangat efektif untuk melawan doktrin-doktrin di dalam Islam yang bersifar ekstrim.

“Pengikut sufisme itu bagian dari silent majority di dalam Islam”

Surga Sufisme

Islam masuk ke Indonesia abad ke-15 melalui sufisme. Menurut Zainul Bahri, para Wali Songo ketika pertama kali memperkenalkan Islam lebih banyak bicara soal nilai-nilai budi pekerti atau akhlak, dan itu dekat dengan ajaran Hindu dan Buddha yang saat itu menjadi agama mayoritas.

Sifat sufisme yang lebih banyak bicara soal nilai-nilai kebaikan itu membuat Islam menjadi lebih gampang diterima di Indonesia.

Zainul Bahri memperkirakan, kini ada lebih dari tujuh juta orang di Indonesia yang mengikuti ajaran sufisme. Organisasi Islam terbesar Nahdatul Ulama, bahkan mempunyai sayap organisasi tasawuf. Sebagian besar pengikut sufi, ada di pedesaan.

Namun beberapa tahun terakhir muncul gejala sufisme perkotaan. Di sejumlah perumahan paling elit Jakarta: kawasan Pondok Indah, Kuningan atau bahkan di hotel-hotel mewah digelar pengajian Tasawuf.

Zainul Bahri yang sempat mengajar di salah satu pengajian tasawuf elit Jakarta bercerita bahwa sebagian besar yang bergabung adalah kalangan pengusaha atau bekas pejabat.

Cendikiawan Islam paling terkemuka seperti almarhum Nurcholish Madjid, Haidar Bagir dan Jalaludin Rakhmat termasuk diantara mereka yang “menularkan” sufisme di kalangan elit perkotaan.

Orang kaya lebih senang belajar tasawuf karena mereka ingin mencari ketenangan batin. Mereka menemukan kedamaian hati dan pencerahan: wajah Islam yang damai, toleran dan bersahabat.

Sufi Twitter

Jangan bayangkan jubah putih, sufi yang satu ini berbeda. Berambut gondrong, suka bercelana jeans, dan menenteng Ipad ke manapun dia pergi.

Namanya @candramalik, usianya 34 tahun. Dia mendeklarasikan diri sebagai sufi Twitter. Follower-nya di jejaring sosial lebih dari 30 ribu. Serial Tweet-nya, terutama di malam hari lewat #FatwaRindu dan #Seucap disukai para pengikut.

Indonesia adalah negara yang menggilai Twitter. Akhir 2012, lembaga riset Semiocast asal Prancis mengungkapkan bahwa Jakarta adalah kota dengan lalu lintas percakapan Twitter paling tinggi di dunia, mengalahkan di urutan berikutnya New York, Tokyo, London, Sao Paolo. Nomor enam tertinggi di dunia adalah: Bandung, yang mengalahkan Paris dan Los Angeles.

“Lewat Twitter, saya bisa menyampaikan pesan sufisme secara lebih terbuka, egaliter, dan bisa diperdebatkan siapa saja tanpa penghalang, itu sangat cocok dengan jiwa sufisme yang selalu membuka ruang bagi dialog“ kata Candra Malik kepada Deutsche Welle.

“Ketika mendeklarasikan diri sebagai sufi Twitter, sebetulnya saya sedang mendekonstruksi sufisme untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya sufisme sangat dekat dan berada di tengah masyarakat.“

Sufi masa kini, menurut Candra Malik tidak perlu selalu berjubah, pakai surban, dan menyembunyikan diri dari publik.

Candra Malik mempunyai pesantren tasawuf di Solo. Dia juga mengajar kelas sufi di kota-kota besar: Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya hingga Bali. Dia mengaku punya 3.500 murid dan sepuluh persen diantaranya mempunyai latar keyakinan Hindu, Buddha, Katolik, Kristen hingga Kejawen.

“Sufisme mengajarkan tentang cinta damai, kasih sayang, tentang bagaimana menghargai kemanusiaan. Seorang sufi selalu berusaha mengerti keberadaan manusia berasal dari keyakinan masing-masing tanpa memaksakan kehendak mana yang lebih benar.“

Saat bulan puasa 2012, Candra Malik merilis album kidung sufi “Samudera Cinta“, dia juga mengisi acara Ramadhan di salah satu stasiun televisi. Dalam beberapa konser, Candra Malik melibatkan paduan suara gereja.

“Twitter atau musik lebih efektif untuk menyebarkan sufisme di dalam masyarakat modern. Kalau hanya berhenti di pengajian atau mesjid, maka gagasan yang cinta damai itu tidak akan bisa merangkul kalangan yang lebih luas,“ pungkas Candra Malik.

Andy Budiman

Editor: Christa Saloh Foerster

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/25321/09/10/2012/muhammadiyah-masuk-anggota-icg-untuk-bantu-damaikan-konflik-moro.html


Sufi Indonesia: Melawan Ekstrimisme Lewat Twitter

Tuesday, February 5, 2013

Konsekuensi Mengusung Ideologi

Konsekuensi Mengusung Ideologi

Oleh : Jeffrie Geovanie

Founder The Indonesian Institute

Padang Ekspres • Selasa, 05/02/2013 11:46 WIB • 22 klik

Jeffrie Geovanie

Kecaman terhadap kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi tersangka korupsi jauh lebih keras dari kader partai lain yang melakukan hal yang sama. Mengapa begitu? Mari kita lihat.

 

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, begitu­pun saat memilih ideologi. Partai Demokrat di Ame­rika Serikat yang dalam tampilan publiknya saat ini diwakili oleh performance Presiden Barack Obama, pernah mendapatkan kritik keras dari lawan-lawan po­litiknya pada saat terlampau pe­duli dengan asuransi ke­sehatan masyarakat. Mungkin kita heran, kenapa peduli pada masyarakat kok malah di­kritik? Bukankah itu hal yang baik?

 

Peduli pada masyarakat itu baik, tapi bukan pakemnya Par­tai Demokrat yang beri­deologi liberal. Program asu­ransi ke­sehatan Barack Obama di­kritik karena membuat Par­tai Demokrat lebih mirip de­ngan Partai Republik. Itulah politik. Yang positif dan bermanfaat pun tetap dikritik jika dianggap tidak la­zim. Karena kepedulian negara yang tinggi pada na­sib masyarakat adalah kredo partai berhaluan kon­servatif.

 

Di Indonesia, partai-partai nyaris tanpa ideologi. Ka­laupun dianggap punya ideologi, tidak ada pe­r­bedaan signifikan antara yang satu dengan lainnya. Se­mua menyebut diri sebagai partai nasionalis, wa­laupun ada sebagian yang diberi embel-embel, “aga­mis” atau “demokrat”.

 

Semua partai politik ingin berada di wilayah “tengah”, dengan tujuan mau menarik simpati semua golongan. Bahkan PKS yang jelas-jelas berideologi Is­lam pun berusaha masuk ke “tengah”. Karena begitu kuatnya keinginan itu, belakangan partai ini mengu­sung semboyan “PKS untuk Semua”.

 

Kita menghormati pilihan itu sebagai bagian dari hak po­litik PKS. Tapi, sekali lagi, se­tiap pilihan punya kon­sekuensi, bisa po­sitif, bisa juga sebaliknya. Kon­sekuensi positifnya, PKS re­latif diterima semua kalangan, bah­­­kan di wilayah-wilayah mi­no­ritas Muslim, ada kader PKS yang non-Muslim. Mungkin karena upayanya yang terus ke tengah itulah, suara PKS terus me­ningkat, dari tujuh kursi pada Pe­milu 1999 (saat masih ber­nama PK) naik menjadi 45 kursi pada Pemilu 2004, dan naik lagi menjadi 57 kursi pada Pemilu 2009.

 

Apa dampak negatifnya? Secara perlahan namun pasti, PKS kian pudar dari political branding-nya sebagai partai dakwah, yang secara konotatif tak bisa lepas dari Islam yang cenderung fanatik. Kalau brand-nya hanya partai Islam tidak ber­beda dengan Partai Persa­tuan Pem­bangunan (PPP), Partai Ke­bangkitan Bangsa (PKB), atau Par­tai Amanat Nasional (PAN) yang tak bisa dilepaskan dari ba­sis massa Islam. Partai dak­wah, lebih dari sekadar Islam, tapi Islam yang lebih aktif mengajak un­tuk berislam secara kaffah (me­nyeluruh dalam semua as­pek kehidupan).

 

Ketika branding partai dak­wah memudar, dampaknya ne­gatif karena PKS menjadi sama saja dengan partai-partai Islam lain­n­ya yang cenderung men­ja­dikan agama hanya seba­tas ko­moditas politik yang pada ke­nyataannya tidak berbeda de­ngan partai-partai yang sama sekali tidak membawa-bawa nama agama.

 

Karena semakin me­mu­dar­nya ruh dakwah itu­lah, saya bisa memahami jika kader-ka­der PKS pun, dalam aktivitas po­li­tiknya, mulai nyerempet-nye­rem­pet pe­rilaku yang syubhat (di­ragu­kan kadar halal­nya), atau bah­kan mulai memasuki wi­layah yang haram, semisal ko­rup­si.

 

Maka pada saat ada kader PKS yang menjadi tersangka ko­rupsi, apalagi presidennya, pu­blik dibuat terkaget-kaget. Kok bisa ya, partai dakwah ko­rupsi? Pertanyaan ini datang ber­t­ubi-tubi menjejali ruang pu­blik, terutama di jejaring media sosial hingga “maaf” ada yang me­m­plesetkan singkatan PKS men­jadi “Partai Korupsi Sapi”. Duh!!

 

Menurut saya, inilah konse­kuen­si dari pilihan ideologi. Dari awal kelahirannya PKS memilih ideologi yang sensitif, yakni Islam. Saya sebut sensitif karena dalam terminologi Islam terda­pat muatan etika yang sangat ketat. Jika masuk wilayah politik, etika yang ketat ini akan mudah berbenturan dengan banyak perkara yang menurut Islam masuk dalam kategori haram.

 

Ketika ada kader PKS yang ter­jerat perbuatan haram (ko­rup­si), hantaman publik tentu jauh lebih keras. Mirip kasusnya se­­perti yang menimpa kader Par­­tai Demokrat. Bedanya, par­tai asuhan Presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono ini dihan­tam ke­ras bukan karena ideologi yang diusungnya tapi lebih ka­rena iklan anti korupsinya yang sangat gencar. Intinya sama saja, kecaman publik muncul lan­ta­ran ada jurang antara apa yang di­usung dengan yang diker­jakan.

 

Sejatinya, apa pun nama dan ideologinya, setiap partai yang (ka­d­ernya) terlibat korupsi ha­rus dikecam, untuk mem­berikan efek jera. Kecaman terhadap PKS berbeda (jauh lebih keras) di­­s­­ebabkan karena kebe­ra­nian­nya mengusung ideologi aga­ma yang secara doktrinal melarang keras menyuap atau menerima suap. Wallahu a’lam! (*)

 

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/12/30/167640/Sweeping-FPI-di-Lepau-Tuak-Mendapat-Perlawanan/6


Konsekuensi Mengusung Ideologi

Thursday, January 17, 2013

Polisi akan Panggil Farhat Abbas Pekan Ini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya akan melayangkan panggilan kepada terlapor atas kasus kicauan Farhat Abbas di Twitter yang dinilai rasis dan juga mengandung SARA. Pemanggilan akan dilakukan minggu ini.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, terlebih dulu, penyidik akan memanggil saksi dan terlapor, memeriksa barang bukti, dan barulah memeriksa terlapor yaitu, Farhat Abbas. ”Panggilan di minggu ini. Kemungkinan di minggu depan, dilakukan pemeriksaan,” kata Rikwanto, Kamis (17/1), di Jakarta.

Karena ada tiga laporan yang diterima kepolisian melalui Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK), maka mengenai siapa dan kapan jadwal pemeriksaan akan dilakukan, juga menjadi ketentuan penyidik. Ketiga laporan yang masuk tersebut, merupakan laporan dari pihak yang berbeda. Namun dengan nama terlapor yang sama, yaitu Farhat.

Sebelumnya pengacara sekaligus suami dari artis Nia Daniati tersebut, dilaporkan ke SPK Polda Metro Jaya oleh Ramdan Alamsyah dan Anton Medan. Pelaporan ini dilakukan pada Kamis (10/1). terkait kicauan di jejaring sosial dari  pria yang juga mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden itu. Dalam akunnya, Farhat menuliskan soal pelat nomor kendaraan yang statusnya dipertanyakan Wakil Gubernur DKI, yaitu Basuki Tjahaja Purnama.

Ramdan melaporkan hal ini dengan mengatasnamakan dirinya sebagai warga Jakarta serta mewakili Komunitas Intelektual Muda Betawi dan Himpunan Advokat Muda Indonesia. Nomor atas laporan ini ialah TBL/82/I/2013/PMJ/Dit Reskrimsus.

Sementara, masih terkait hal yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPP PITI), Anton Medan, melaporkan Farhat, dengan nomor laporan TBL/86/I/2013/PMJ Dit Reskrimsus.

Kemudian, laporan ketiga atas Farhat yaitu, oleh Ketua Masyarakat Muslim Tionghoa M Jusuf Hamka. Laporan ini dilakukan Jumat (11/1) lalu ke SPK Polda Metro Jaya, dengan nomor laporan TBL /100/I/2013/PMJ Dit Reskrimsus.

Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/17/mgr4lt-hebat-muslim-california-jadi-delegasi-partai-demokrat


Polisi akan Panggil Farhat Abbas Pekan Ini

Tuesday, November 12, 2013

2 Kampus Islam Target Masuk 500 Universitas Kelas Dunia

SEMARANG - Hingga saat ini belum ada satupun kampus Islam di Indonesia yang masuk daftar 500 universitas top dunia (World Class University). Kementerian Agama (Kemenag) memproyeksikan dua kampus Islam di bawah mereka untuk masuk ranking bergengsi itu.


Dua kampus yang diproyeksikan itu adalah Universitas islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Mereka diberi ancar-ancar masuk dalam 500 universitas top dunia paling lambat 12 tahun lagi.


Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Sudarnoto Abdul Hakim tampak antusias terhadap penunjukan itu. “Aman ini penuh tantangan, kami sudah bersiap sejak dini,” katanya disela silaturahmi penerima Djarum Beasiswa Plus di Semarang kemarin. Dia menuturkan untuk masuk di jajaran kampus top dunia, banyak persyaratannya g harus dipenuhi.


Diantaranya adalah akreditasi instituai atau lembaga. Sudarnoto mengatakan UIN Jakarta merupakan satu diantara sembilan universitas yang telah mendapatkan akreditasi institusi A. Kampus lainnya didominasi dari universitas umum, di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).


Upaya berikutnya adalah mengajukan akreditasi empat program studi unggulan di jejaring universitas ASEAN (ASEAN University Network/AUN). Diantara programs tudi yang bakal didaftarkan akreditasinya ke AUN adalah adalah Sastra Arab. “Kita akan menata semuanya. Mulai dari dosen, mahasiswa, dan kurikulumnya,” ujarnya. Dia menuturkan jika berjalan lancar, akreditasi dari AUN ini akan keluar 2015 nanti.


Upaya lainnya adalah menambah jumlag guru besar atau dosen bergelar profesor. Sudarnoto tidak hafal jumlah guru besar yang ada di UIN Jakarta sast ini. Selain mendongkrak jumlah guru besar, dia mengatakan karya-karya ilmiah para dosen juga harus diterima di komunitas internasional.


Dia menyebutkan, perhitungan tingkat global tidak hanya pada jumlah karya ilmiah yang masuk di jurnal kelas internasional. Tetapi juga seberapa banyak akademisi asing menggunakan karya-karya dosn UIN Jakarta. Sudarnoto mengatakan sudah ada aplikasi jurnal internasional yang bisa merekapitulasinya.


Dia mentakan target menjadi universitas kelasd unia memang dipatok 12 tahun lagi. Tetapid ia optimis dengan kinerja yang serius, target tadi bisa dicapai pada 2020 nanti (7 tahun lagi). Sudarnoto mengatakan saat ini UIN Malang juga tidak ketinggalan mengejar target ini. “Saat ini kampus nasional yang masuk dalam daftar 500 besar kampus dunia masih kampus umum. Seperti ITB dan IPB,”ujarnya.


Menurut Sudarnoto, biaya untuk mengejar target ini sangat besar. Dia mengatakan dana itu tidak hanya bisa ditutup dari anggaran negara (APBN). Untuk itu pihaknya juga akan menjaring dana dari pihak-pihak lain, yang tidak melanggar hukum. Posisi saat ini, masing-masing kampus terus menyusun rencana strategis dan biaya yang dibutuhkan secara detail. (wan)



Article source: http://www.harianterbit.com/2013/11/04/dirikan-band-musik-rockimam-masjid-dikecam/


2 Kampus Islam Target Masuk 500 Universitas Kelas Dunia

Thursday, September 26, 2013

Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

— Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Gatot S. Dewa Broto kepada VOA mengaku belum mendapat laporan soal peredaran buku-buku berpaham radikal melalui dunia maya.


“Kalo yang muncul di scribd.com itu kami belum mengetahui. Kami butuh bantuan dari siapapun tidak hanya dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau dari Mabes Polri, masyarakat bisa melaporkannya kepada kami melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id. Pengiriman melalui email ini dimaksudkan untuk memudahkan. url nya kan lengkap. Tinggal klik. Nanti kami verifikasi,” kata Gatot S. Dewa Broto.



Gatot menambahkan, Kementrian Kominfo mempunyai keterbatasan untuk memantau seluruh materi yang ada di web site. Untuk itu, perlu adanya partisipasi masyarakat agar secara pro aktif melaporkan hal ini ke Kementrian Kominfo. Sejak 2010 hingga 2011 Kementrian Kominfo telah melakukan penghapusan situs-situs yang masuk kategori radikal. 



“Sudah sudah cukup banyak. Tapi tidak seperti pada 2010 – 2011 yang mencapai sekitar 200an situs radikal yang kami tutup. Kalau sekarang ini di 2012 sampai 2013 naik turun,” kata Gatot. “Belum lama ini pun ada pengaduan terhadap situs yang disitu memuat metode cara penggunaan bom. Kalo penggunaan bom mungkin bisa juga untuk keperluan pertambangan dan lain sebagainya. Cuma yang jadi persoalan disitu ada embel-embel untuk radikalisme. Sehingga dalam hitungan berapa jam sudah bisa kita tutup,” lanjutnya.



Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie memastikan Polri terus berupaya untuk mengungkap aksi propaganda kelompok teror melalui internet. Polri tambah Ronny juga telah berkoordinasi dengan BNPT untuk menangkap para pelaku.



Sementara itu, Kepala BNPT, Ansyaad Mbay mengatakan selain situs internet, kelompok teroris di Indonesia sudah mulai merambah jejaring sosial seperti twitter dan facebook untuk menyebarkan aktifitas mereka.



“Iya mereka belajar bikin bom juga ‘ga usah ke hutan. Lewat internet saja melalui situs-situs berpaham radikal. Termasuk di facebook twitter juga yang mulai dirambah oleh mereka,” jelas Ansyaad Mbay.



Pengamat teroris Al Chaidar memastikan penyebaran paham radikal memang sangat efektif dilakukan di dunia maya. Forum Islam al Busyro menurutnya yang paling aktif menyebarkan paham radikal melalui internet.



“Sangat efektif itu. mereka kan sekarang menyebar secara lebih massif. Jadi mereka cenderung untuk tidak melakukan pertemuan fisik. Dan internet adalah jalur yang paling aman,” kata Al Chaidar. “Memang ada itu pengajian Forum Islam al Busyro. Mereka sangat aktif menyebarkan informasi atau hasil-hasil kajian atau fatwa dari ulama-ulama mereka. Saya sudah mendownload Perang Gerilya Kota dan saya lihat memang adalah karateristik dari kelompok-kelompok itu,” lanjutnya.



Sementara itu pengamat intelijen Wawan Purwanto menekankan adanya komunikasi dua arah antar kelompok masyarakat hingga di lapisan terbawah. Sehingga aparat keamanan bisa mendeteksi secara dini munculnya kelompok-kelompok teroris. 



“Sekarang ini di dunia maya ‘kan tidak ada yang memfilter, kecuali itu diblok oleh lembaga yang berwenang seperti Kominfo. Hanya persoalannya kalau toh itu di blok kan mereka bisa mendapat dari sumber-sumber lain,” kata Wawan Purwanto. “Yang utama adalah adanya komunikasi timbale balik yang baik antar elemen yang ada di masyarakat baik yang radikal maupun moderat. Sehingga bisa diketahui mana titik-titik yang berbahaya, mana yang sudah terpengaruh dan mana yang masih abu-abu,” lanjutnya.



Sebuah buku berjudul “Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan” beredar di Internet melalui scribd.com. Dari penelusuran VOA, dokumen itu diunggah oleh seseorang dengan akun Syarief Ramzan Saluev setebal lebih dari 100 halaman. Buku ini berisi anjuran untuk melakukan serangan terhadap obyek vital pemerintah di perkotaan. Selain itu, ada banyak dalil dan ayat Al Quran yang dikutip untuk memberikan pembenaran pada rencana dan aksi teror mereka.



Buku lain yang beredar di internet adalah ‘Kursus Peledakan’ yang ditulis oleh Abu Khabbab al Misri dan diterjemahkan oleh “Forum Islam al-Busyro”. Buku setebal hampir 200-an halaman ini menjelaskan soal tekhnik pembuatan bom baik berskala ledak rendah ataupun yang berdaya ledak besar. Dijelaskan pula dalam buku itu, bahan apa saja yang dibutuhkan serta petunjuk teknis perakitan secara mendetail.



Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/06/18/177455/Mualaf-Ahmadiyah-Dijamin-Pusat-


Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

Wednesday, April 3, 2013

“Mengkristenkan Jawa”

Home Catatan Akhir Pekan


Catatan Akhir Pekan ke-358

“Mengkristenkan Jawa”


 

Dengan bantuan kolonial dan strategi pre-evangelisation, misi Kristen di Jawa meningkat tajam


Kamis, 04 April 2013

Oleh: Dr. Adian Husaini

”Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen”. Itulah judul buku karya Muhammad Isa Anshary, alumnus Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Buku terbitan Pustaka Lir-Ilir, Surakarta, tahun 2013, ini diangkat dari Tesis penulis di Universitas yang sama. Karena kajiannya yang mendalam dan komprehensif, buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan penting dalam studi Misi Kristen di Indonesia, khususnya di Tanah Jawa.

Studi yang dilakukan Muhammad Isa Anshory melengkapi studi sejenis yang pernah dilakukan oleh Aqib Suminto, Deliar Noer, Alwi Shihab, dan sebagainya. Studi ini juga menguatkan kesimpulan para peneliti sebelumnya, bahwa pemerintah penjajah Belanda secara sistematis membantu kegiatan misi Kristen di Indonesia. Disimpulkan: ”Melihat praktiknya, politik etis sebenarnya adalah upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengkristenkan atau membaratkan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.”

Catatan Akhir Pekan (CAP) kali ini sepenuhnya didasarkan pada data yang disajikan dalam buku ”Mengkristenkan Jawa” tersebut. Untuk bahan-bahan referensi lebih lanjut, pembaca dipersilakan merujuk langsung pada buku tersebut.

Hasil kajian Isa Anshory ini menunjukkan, bahwa laju penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda (Indonesia) sangat terkait erat dengan perkembangan politik kolonial. Awal abad ke-20 ditandai dengan peningkatan kegiatan misi Kristen. Pidato Ratu Wihelmina (1901) lebih menegaskan sikap terhadap kebijakan mendukung kegiatan misi Kristen yang telah berjalan.

Politik etis dilaksanakan pada masa kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia dan saat umat Islam mengalami kebangkitan. Arus Kristenisasi mencapai puncaknya saat Abraham Kuyper, pemimpin Partai Kristen Anti-Revolusioner, menduduki kursi Perdana Menteri Belanda pada 1901. Banyak anggota Parlemen Belanda menuntut agar pemerintah membatasi pengaruh Islam di Indonesia. Van Baylant, misalnya, memperingatkan pemerintah akan seriusnya bahaya penyebaran Islam dan menuntut ditingkatkannya misi Kristen. Sementara itu, W.H. Bogat meluncurkan kampanye anti-Islam yang keras dan menuduh agama ini sebagai penyebab ”kurang bermoralnya” masyarakat.”

Diangkatnya Alexander Willem Frederik Idenburg sebagai Menteri Urusan Penjajahan (1902—1909) dan selanjutnya sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1909—1916) lebih menguatkian arus Kristenisasi. Setelah tahun 1909, kelompok misi Kristen dengan cepat meluaskan kegiatan mereka di kepulauan Indonesia. Gerakan misi Kristen beroperasi dalam ruang lingkup yang luas untuk pembangunan kesejahteraan dan ekonomi. Pembatasan jumlah dan tempat misi dihapuskan, sehingga daerah baru di kepulauan ini pun terbuka bagi kegiatan misi Kristen. Idenburg menjadikan Kristenisasi sebagai tugas politik utama pemerintahannya.

Di hadapan Tweede Kamer, dia mengucapkan: De uitbreiding van het Christendom in Indiƫ, als wortel van onze hoogere beschaving, is een zaak van groot politiek belang. (Penyebaran agama Kristen di Hindia Belanda sebagai dasar peradaban yang tinggi adalah tugas politik utama).

Pemerintah Penjajah juga mencoba untuk melanjutkan pokok-pokok ajaran Kristen di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan tata pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai contoh adalah keluarnya ”Edaran Minggu” atau ”Edaran Pasar” yang diterbitkan oleh Gubernur Jenderal Idenburg, 1910. ”Edaran Minggu” memberi sugesti bahwa tidak pantas untuk mengadakan pesta kenegaraan pada hari Minggu. Edaran ini juga meminta agar seluruh administratur dan pegawai sipil agar menghindari kegiatan-kegiatan resmi atau setengah resmi pada hari Minggu. ”Edaran Pasar” melarang diadakannya hari pasar orang Indonesia apabila ini jatuh pada hari Minggu.

Fakta tentang ”Edaran Minggu” ini menarik untuk kita cermati. Jangan-jangan tradisi libur pada hari Minggu kita saat ini masih melanjutkan kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Idenburg yang sangat fanatik Kristen dan anti-Islam. Idenburg, misalnya, menyatakan, bahwa satu-satunya jalan untuk melanjutkan penjajahan adalah pengkristenan.

Seperti dikutip Robert E. Speer, Idenburg menegaskan: ”The issue for Mohammedan world is not Mohammed and Christ. Ia not Mohammed or Christ. It is Christ. It is Christ or decay and death.” (Pilihan untuk dunia Islam bukan Muhammad dan Kristus; bukan Muhammad atau Kristus; tetapi pilihannya hanya Kristus. Pilih Kristus atau akan mengalami pembusukan dan kematian).
   
Misi dengan lembaga

Selain mendapat bantuan dari negara, peningkatan Kristenisasi pada masa politik etis juga diakibatkan adanya perubahan strategi. Abad ke-19, strategi zending Protestan maupun misi Katolik pada umumnya masih diarahkan pada misi secara langsung. Tapi, pada abad ke-20, strategi misi sudah berganti dengan pendirian kelembagaan misi, seperti sekolah, rumah sakit, rumah yatim piatu,  dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Melalui kegiatan di bidang pendidikan dan kesehatan itu, zending sanggup memikat hati orang yang masih bersikap menolak terhadap Kristenisasi secara langsung.

Strategi ini disebut pre-evangelisation, yaitu suatu usaha yang perlu diadakan untuk mempersiapkan daerah supaya siap menerima Kristen. Di sekolah-sekolah zending, kesetiaan kepada pemerintah dan ratu Belanda ditanamkan ke dalam hati para murid. Meski membutuhkan biaya besar dan waktu lama, Kristenisasi lewat pendidikan ini berhasil mengkonversi banyak pribumi Muslim.

Sebagai contoh, sekolah yang didirikan oleh Frans van Lith di Muntilan, Jawa Tengah. Di desa kecil Semampir dia mendirikan sebuah sekolah desa dan sebuah bangunan gereja. Saat itulah dia memulai kompleks persekolahan Katolik di Muntilan, mulai dari Normaalschool pada 1900, sekolah guru berbahasa Belanda atau Kweekschool pada 1904, kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya Muslim. Akan tetapi, mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa dari kelompok siswa pertama bahkan melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam.

Teman van Lith, Hoevenaars, juga menempuh cara serupa. Dia membangun berbagai sekolah di Mendut dan mengumpulkan para murid yang masih belia. Semua guru sekolah tersebut beragama Katolik, namun para muridnya seluruhnya berasal dari keluarga-keluarga Muslim.

Sebagaimana misionaris lainnya, Hoevenaars berpikir bahwa agama Islam yang mereka anut hanyalah kepatuhan superfisial atau nominal sehingga tidak akan menghalangi para murid untuk berpindah ke agama Katolik. Mantan murid sekolah-sekolah Muntilan dan Mendut itu kebanyakan menjadi guru pada jejaring sekolah-sekolah dasar Katolik yang dikembangkan dengan cepat di berbagai kota dan kampung di Jawa. Para guru itu kemudian berupaya menghasilkan jemaat-jemaat Katolik baru. Dengan demikian, sekolah yang dibangun oleh Frans van Lith maupun Hoevenaars adalah sekolah kader.   

Sebuah ungkapan penting dari Frans van Lith:

“Tujuan kita adalah memberi pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa sehingga mereka mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat. Kepada mereka kita memberikan pendidikan Kristiani, dan bila mereka nanti tersebar di seluruh Pulau Jawa, kita akan menanti tumbuh dan mekarnya benih-benih yang kita sebar.”

Strategi budaya

Strategi lain dalam menyebarkan agama Kristen di Jawa pada dekade pertama abad ke-20 adalah penyesuaian ajaran Kristen dengan budaya Jawa. Strateginya: memisahkan agama Islam dari budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari.

Untuk itulah di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu dianggap identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam. J.D. Wolterbeek mengatakan, “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 

Senada dengan ini, Imam Yesuit Frans van Lith berpendapat,

Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.

Dengan bantuan pemerintah kolonial dan strategi pre-evangelisation, kegiatan misi Kristen di Jawa meningkat tajam pada masa politik etis. Walaupun orang Kristen tetap terbilang sebagai minoritas kecil, namun jumlah pribumi Muslim Jawa, terutama di Jawa Tengah, yang murtad ke agama Kristen cukup besar. Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel Steenbrink mengatakan: ”Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.”

Total populasi penduduk Pulau Jawa pada 1906 adalah 28.746.688 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 24.270.600 adalah Muslim. Lapangan yang sangat luas dan sulit ini digarap oleh enam lembaga misionaris. C. Albers, Jr. dan J. Verhoeven, Sr. melaporkan pada tahun tersebut bahwa pengaruh Islam menjadi rintangan berat bagi para misionaris. Akan tetapi, berkat bantuan medis dan penyelenggaraan sekolah, mereka berhasil mengkonversi pribumi Muslim ke agama Kristen.

Dengan sokongan pemerintah jajahan, pada era 1930-an, banyak terjadi kasus pelecehan Islam oleh kaum Kristen. Di Pesako Sulawesi Utara, pasukan Bala Keselamatan masuk ke dalam masjid dengan memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu Kristen dalam masjid dengan alat-alat musik yang mereka bawa. Di Solo, buku-buku Kristen ditulis dalam bahasa Arab, dibagikan secara gratis kepada umat Islam yang sedang melaksanakan shalat Jumat di Masjid Mangkunegaran. Di Tasikmalaya, seekor anjing dibawa masuk ke mushalla. Di Menado, opsir Bala Keselamatan, Ernst Brandt, pada 13 April 1938 dengan terang-terangan menghina Nabi Muhammad SAW, dengan mengatakan: “Muhammad seorang miskin dan penggembala. Ia menikah dengan Khadijah janda kaya dan menghabiskan hartanya. Muhammad mempunyai 14 istri, perampas istri orang, dan menuruti hawa nafsunya. Mana bisa kesucian dari orang begitu. Siapa saja yang tidak mau mengikuti agamanya, ditusuknya dengan pedang terhunus.”

Respon Muslim

Menghadapi serbuan misi Kristen yang dahsyat seperti itu, kaum Muslim tentu saja tidak berdiam diri. Sebuah respon penting dalam menghadapi misi Kristen dilakukan oleh Muhammadiyah, yang berdiri tahun 1912 –di masa Gubernur Jenderal Idenburg. Tahun 1933, Muhammadiyah bersama 30 organisasi Islam, mengadakan rapat akbar di Solo,  menentang pemberian izin masuknya dua orang misionaris Kristen Advent dari pemerintah Jajahan di Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).

Tahun 1939, Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kudus, juga menolak dicabutnya artikel 177 Indische Staatsregeling  yang isinya adalah kewajiban misionaris untuk mendapat izin dari pemerintah Jajahan. Secara individual, mubaligh Muhammadiyah asal Surakarta, R. Moehammad Sardjana, pernah menerbitkan buku “Agama Kristen” sebagai jawaban terhadap dua jilid buku tokoh Gereja, Henderick Kraemer, yang berjudul “Agama Islam”. Secara kelembagaan, Muhammadiyah masih terus menjadi salah satu garda penting umat Islam dalam membendung arus Kristenisasi, sampai hengkangnya penjajah Kristen dari bumi Indonesia.

Pendiri organisasi ini, KH Ahmad Dahlan, dikenal sangat serius dalam mengajak umat Islam untuk membandung arus Kristenisasi. Sebuah ucapannya yang terkenal: “Islam tak mungkin lenyap dari seluruh dunia, tetapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggungjawab?”

Walhasil, dalam rangka memahami sejarah, strategi, dan taktik Kristenisasi di Indonesia, buku Muhammad Isa Anshory ini sangat baik untuk dibaca. Wallahu a’lam.*/Depok, 28 Maret 2013

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.merdeka.com/peristiwa/5-kemampuan-tempur-istimewa-idjon-djanbi-bapak-kopassus-tni-ad.html


“Mengkristenkan Jawa”