Showing posts sorted by relevance for query mendatangi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query mendatangi. Sort by date Show all posts

Thursday, March 28, 2013

Dilaporkan Polisi, Adi Didukung FPI

Adi Bing Slamet

Hasil investigasi FPI ‘Mbah Dukun’ tak mengajarkan aliran sesat

JAKARTA – Mendapat serangan bertubi-tubi dari mantan muridnya, membuat Eyang Subur akhirnya gerah juga. Apalagi artis Adi Bing Slamet kemudian mengajak sekelompok orang yang mengaku pernah menjadi korbannya untuk memberikan kesaksian kepada wartawan. Eyang pun tak terima, dia pun melaporkan bekas penyanyi cilik itu ke Mabes Polri.

Melalui status Blackberry Messenger kuasa hukumnya, Ramdan Alamsyah, mengungkapkan dia akan datang ke Mabes Polri sekira pukul 12.00. Namun saat mengkonfirmasi kepada Ramdan, apakah kedatangannya berkaitan dengan tuduhan Adi Bing Slamet, dia hanya menjawab singkat.
“Di Mabes saja, jam 12.00,” tulis Ramdan, Rabu (27/3).

Sementara itu, sejak kemarin pihak Adi Bing Slamet dan beberapa orang yang mengaku korban dari Eyang Subur terus membuka aib bekas guru spiritual mereka. Bahkan, Adi mengancam akan mendatangi Subur bersama ormas Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB) bila Subur masih enggan muncul ke publik.

Seperti diketahui, sejak kasusnya terkuak, Eyang Subur belum pernah menunjukkan jati dirinya ke publik. Namun, sejumlah komedian seperti Tessy, Nurbuat, Rohana dan Unang membantah mantan penjahit itu melakukan santet seperti tudingan Adi cs selama ini. Tak ayal, Adi pun mengaku prihatin dengan teman-temannya yang masih membela lelaki berusia 70an itu.

Tak mau kalah dengan Eyang Subur, Adi pun akan menempuh langkah serupa, yakni melaporkan ‘mbah dukun’ yang katanya suka berjudi dan beristri delapan tersebut. Bahkan langkah kakak kandung Iyut Bing Slamet itu mendapat dukungan dari Front Pembela Islam (FPI). “Bila hendak memproses secara hukum, tetap kami dukung,” ujar juru bicara FPI, Salim Assegaf, seperti dilansir tempo, Rabu (27/3).

Adi memang sempat menyatakan akan menyeret Subur ke kepolisian. Ia menyatakan orang yang dianggap sebagai guru spiritual itu melakukan praktik menyimpang dalam menyebarkan ajarannya.

Sebelum ke polisi, Adi rupanya telah mengadu ke FPI sejak beberapa bulan lalu. “Kami sudah kirim surat peringatan sejak tiga bulan lalu sejak ada aduan dari warga,” ujar Salim.

“Kami kan tidak seperti ormas-ormas lain langsung main gerebek. Kami kasih peringatan dulu,” ujarnya. Setelah dua surat peringatan tak menemukan titik temu, akhirnya Salim bersama rombongannya mendatangi rumah Eyang Subur di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Ia mendatangi rumah tersebut bersama Ketua RT, RW, Danramil, dan Kapolsek setempat pada 15 Maret 2013. “Tak ada intimidasi di sana, kami hanya bertanya,” ujarnya.

Dari pertemuan itu, akhirnya FPI memutuskan bahwa Subur tak mengajarkan aliran sesat. “Dari hasil investigasi kami, enggak ke sana,” ujarnya. Namun, Salim menyatakan investigasi FPI tak berhenti dalam pertemuan itu. “Kami taruh orang di sana,” ujarnya.

Sejumlah pengakuan artis Adi Bing Slamet yang telah menjadi korban penipuan Eyang Subur cukup mengejutkan. Pasalnya hampir belasan tahun dikibuli sang dukun dan baru sadar belakangan hari. Adi tidak sadar ketika memberikan semua permintaan Eyang Subur. Benarkah ini masuk kategori penipuan?

Pakar hukum pidana Agustinus Pohan, berpendapat terjadi atau tidaknya penipuan seperti yang dituduhkan Adi terhadap Eyang Subur harus didalami terlebih dulu. “Memang mesti mendalami masalah ini dulu, apakah ada penipuan atau tidak. Karena yang saya tahu garis besarnya, jadi pengikut dan harta yang jadi persoalan mendasar,” kata Agustinus Pohan  dilansir kapanlagi, Selasa (26/3) malam.

Tuduhan penipuan, menurutnya, dapat terjadi bila ada interaksi dari dua belah pihak. Ada proses yang menyertai, sehingga korban bisa dikerjai atau diporoti oleh pelaku, termasuk dengan janji-janji dan sebagainya. “Kalau konteksnya demikian harus dibuktikan ada penipuan dan mesti tahu detailnya,” ucapnya lagi.

Dia pun mencontohkan persoalan yang bisa dikategorikan masuk dalam ranah hukum. Bisa saja Eyang Subur bukan sebagai penipu, jika yang diberikan sebagai pemberian seorang penggemar pada idolanya. Tentunya masih harus dikaji lebih jauh bukti-buktinya. “Kalau misalnya diidolakan kemudian menyumbang tapi di belakang hari muncul ketidakpantasan diidolakan. Nah kalau kayak gini nggak bisa ke ranah hukum.

Sedangkan kalau penipuan, secara sadar dilakukan,” tutur Agustinus. kpl,tmp

Komentar Mereka tentang Dukun
3 Composer
“Kalau saya enggak (percaya pedukunan). Mungkin bisa, tapi kita diciptakan tidak untuk mempercayai itu,” kata salah satu personel 3 Composer, Tengku Shafick, di gedung HighEnd lantai 4, Kebon Sirih, Jakarta Pusat Selasa (26/3).

Senada dengan Shafick, Mario “Kacang” juga tak memercayai hal mistis seperti santet dan sebagainya, karena percaya pada ilmu agama. “Ada yang kayak gitu, tapi enggak mau seperti gitu, dan ngerinya itu menyalahi agama,” ungkap pemilik single “Salah Benar”.

Septian Dwi Cahyo
“Saya tidak mau hancur dua kali ya. Saya sudah berjanji dengan istri saya yang baru untuk tidak lagi bicara soal masa lalu saya,” ungkap Septian. Namun, Septian tidak merasa keberatan namanya tetap disebut-sebut sebagai salah satu korban Eyang Subur, seperti yang diungkapkan Adi Bing Slamet.

“Saya tidak ada masalah, saya kira begitu saja. Saya akan menerimanya,” tandasnya.

Yuntianingrum (Ibunda artis Asti Ananta)
Saat datang ke rumah Eyang Subur, mbah dukun itu mengajaknya untuk mengikuti pengajian. Namun yang aneh, dalam pengajian tersebut tak ada pembacaan Al Quran. “Kita nggak tahu itu ajaran apa. Sebab saya diajaknya untuk pengajian, tetapi kok seperti ini. Kita nggak diminta baca ayat-ayat suci Al-Quran. Kita hanya diminta untuk baca doa sesuai dengan ajaran agama masing-masing,” bebernya.

Melihat keanehan-keanehan yang ada, ia dan Asti memutuskan untuk tak memperpanjang urusan dengan Subur.”Kita nggak balik lagi. Jadi di sana saya dan anak saya nggak tahu itu ajaran apa,” tambahnya lagi.

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/27267/14/02/2013/muslim-beriman-%E2%80%9Cpantang%E2%80%9D-rayakan-valentine%E2%80%99s-day.html


Dilaporkan Polisi, Adi Didukung FPI

Tuesday, June 11, 2013

Rico Ceper tiga kali sambangi makam Uje

Di hari ke-41 meninggalnya Ustaz Jeffry Al Buchori, makam Uje masih terlihat ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. Dari kerumunan peziarah yang berada dipusara Ustaz Gaul itu terlihat sahabat almarhum, Rico Ceper.


Ini merupakan kali ketiga Rico mendatangi makam sahabatnya itu. Menurutnya, untuk mendoakan Uje tidak harus mendatangi makam, yang terpenting niatnya, untuk mendoakan bisa dilakukan dimana saja.



Rico Ceper di TPU Bivak, Makam Uje Foto:Kapanlagi.com/Hendra



Lihat Juga:



Putra Bungsu Uje Menerima Santunan Dari Celebrity Golf
Sahabat Uje Persembahkan Lagu Sang Pecinta Untuk Almarhum Uje
Suasana Haru – Ibunda Uje Rilis Buku UNTUKMU UJE
Almarhum Jeffry Al Buchori Tak Pernah Sibuk Pencitraan
Uje Jatuh Cinta Saat Pipik Masih ‘You Can See’


“Kalo saya pribadi doa di mana aja bisa, dan gak perlu menunggu 40 hari, Kalo mendoakan bisa di makam, sama ke rumahnya,” ujarnya di TPU Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Rabu (5/6/2013).


Melihat antusiasme masyarakat yang berbondong-bondong ke makam almarhum Uje, Rico merasa takjub dengan kharisma sahabatnya itu. Apalagi dibeberapa tempat pada perayaan 40 hari kemarin juga melakukan doa bersama seperti di kediaman almarhum.


“Saya dari siang di sana (kediaman Uje), sampe sore ngga bergerak, dan animo banyak, dan mudah-mudahan doanya diterima,” katanya.


“Ada dari Makassar, Aceh , Papua kan jauh bener dan niat sekali. Dan ketauankan almarhum semasa hidupnya seperti apa prilakunya,” pungkasnya. (kpl/hen/uji/rth)












Article source: http://www.themalaysianinsider.com/tech/article/latin-americans-most-socially-engaged-users-in-the-world


Rico Ceper tiga kali sambangi makam Uje

Tuesday, April 30, 2013

Orangtua Ani Polisikan Eyang Subur atas Tuduhan Bawa Lari Anaknya

Jakarta – Mantan pengikut Eyang Subur, Arya Wiguna mendatangi Polda Metro Jaya bersama Ade Junaedi, ayah istri ketujuh Subur, Ani. Mereka akan melaporkan Subur atas tuduhan membawa lari Ani.

Rombongan berjumlah sepuluh orang itu pun langsung masuk ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Polda, Selasa (30/4/2013) sekitar pukul 14:30 WIB. Mereka didampingi kuasa hukum Fahmi Bachmid SH.


Sebelumnya rombongan itu telah mengadu soal Subur ke Komnas Perempuan. Di sana, Ade Junaedi mengisahkan awal mula pertemuan anaknya dengan Subur.


“Tahun 2004 akhir atau 2005 awal saya pulang dari Sulawesi Tenggara. Saya kedatangan adik saya (Arya wiguna), kemudian anak saya meminta persetujuan izin restu sama saya. Dia mau menikah dengan Pak Subur,” kisahnya.


Ade pun mengaku tak memberi izin karena kala itu Ani akan dijadikan istri keenam Subur. “Saya bilang, istri lebih dari empat itu nggak boleh dalam Islam, dilanggar itu. Anak saya tetap minta persetujuan, minta direstui,” tuturnya.


Menurut Ade, satu bulan kemudian ia pun mendatangi rumah Subur. Namun pernikahan tersebut batal digelar.


“Tapi sebulan kembali saya datang lagi ke Jakarta tiba-tiba anak saya bilang, sudah menikah dengan Pak Subur,” lanjut Ade.


Ade menambahkan, pernikahan itu digelar di kediaman Haji Memet di kawasan Bekasi, Jawa Barat. “Saya tak diundang. Haji Memet itu artis. Dia saksinya mungkin,” ujarnya.


Setelah itu, hampir setiap tiga bulan ia datang ke Jakarta untuk menemui anaknya yang tinggal di rumah Subur. Namun ia mengaku mulutnya seperti terkunci.


“Delapan tahun Ani nggak boleh pulang. Anak saya dikondisikan sesuai eyang gaibnya. Keluarga boleh pulang, tapi Ani nggak boleh,” ungkap Ade.


(nu2/mmu)


<!–HUT ke-13, detikcom bagi-bagi 13 iPad 2, juga puluhan ribu tiket bus dan kereta. Daftar di sini. –>


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/04/19/m2puoq-inilah-kisah-muslimah-yahudi-tentang-kekejaman-nazi


Orangtua Ani Polisikan Eyang Subur atas Tuduhan Bawa Lari Anaknya

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank So Much for Visit this Article

Friday, January 25, 2013

Rahmat Rampok Bank Saat Khutbah Jumat

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA–Kumandang azan zuhur baru saja berkumandang di kompleks Yayasan Pendidikan Panglima Besar Soedirman, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (25/1/2013) siang sekira pukul 12.00 WIB.

Ratusan pria sekitar kompleks berbondong-bondong mendatangi masjid yang berada di lingkup yayasan tersebut untuk menunaikan ibadah salat Jumat , termasuk para anggota satuan pengamanan (Satpam) Kantor Kas Pembantu Cabang Bank Muamalat.

Situasi di sekitar menjadi sepi dan hanya menyisakan empat orang karyawan perempuan di dalam kantor.

Saat orang tengah khusyuk mengikuti khutbah yang menjadi rukun salat, seorang pria paruh baya berseragam ungu khas Bank Muamalat terlihat mendatangi kantor bank.

Tak ada gelagat mencurigakan dari perilaku yang ditunjukkan pria tersebut. Pun siapa nyana, pria yang belakangan diketahui bernama Rahmat itu tengah melancarkan aksi perampokan yang sudah ia rancang selama satu bulan.

Perampokan ia lakukan tanpa bantuan siapapun. Malah ia hanya bermodalkan sebilah pisau dapur yang telah berkarat untuk merampok. Seragam yang ia kenakan memang seragam Bank Muamalat.

Maklum saja, Rahmat rupanya mantan karyawan bank yang mengklaim mengusung syariat Islam dalam menjalankan kegiatannya tersebut.

Sofyan (35) seorang saksi mata menuturkan, Rahmat datang menumpangi motor Honda Revo bernomor polisi B 6640 RPN yag dikendarai sendiri. Situasi di kantor bank yang berlokasi di dalam kompleks pendidikan sekolah Islam tersebut memang sedang sepi karena bertepatan dengan pelaksanaan salat Jumat.

“Salat Jumat tengah (rukun) kutbah. Pelaku sepertinya tahu kondisi bank. Apalagi dia datang pakai seragam, jadi tak ada yang curiga,” ujar Sofyan yang ditemui Tribun Jakarta di sekitar lokasi, Jumat (25/1/2013).

Adapun, Kapolsek Pasar Rebo Kompol Sutardi menuturkan Rahmat berpura-pura masih menjadi karyawan bank. Sutardi menjelaskan, saat masuk kedalam bank Rahmat mengaku santai dan tidak grogi. Rahmat menggunakan papan nama palsu bertuliskan Bank Muamalat.

Di dalam kantor ia berdalih hendak mengantarkan surat. Nyatanya, amplop yang dibawa rahmat tak berisi apa-apa. Empat karyawati yang saat itu ada di dalam, Risma Amelia (34) dan Lisa (23) yang bertugas sebagai teller serta Lisa (23) selaku costumer service dan Rohani (34) petugas kebersihan pun terkelabuhi.

“Di bawah ancaman senjata tajam ketiga korban langsung diikat dengan sumbu kompor dan rafia. Selain itu mata ketiganya juga ditutup dengan menggunakan lakban warna hitam. Saat ketiga korban diikat, tiba-tiba Rohani, masuk diapun juga langsung ditodong dan diikat dengan sumbu kompor,” jelas Sutardi.

Usai melumpuhkan para korban, pelaku memaksa para karyawati itu untuk berbalik badan ke arah tembok. Rahmat juga memaksa para karyawati untuk menunjukan tempat menyimpan uang. Di laci teller, uang senilai Rp 55.390.000 ia gondol.

“Ditunjukan uang yang ada dalam laci teller. Lalu dimasukan kedalam dua kantong celanannya. Ia pun melarikan diri menggunakan sepeda motor ke pintu utara sekolah yang masih ditutup pagarnya,” jelas Sutardi.

Beruntung, ikatan Rohani -yang tengah hamil 7 bulan, tak begitu erat. Ia berhasil membebaskan diri dari simpul tali sumbu kompor lalu berteriak minta tolong.

Seorang Satpam sekolah bernama Gunardi yang kebutulan tak mengikuti salat Jumat serta seorang anggota TNI Angkatan Darat yang sedang menjemput anaknya berusaha menghalangi Rahmat yang menggeber motornya untuk melarikan diri. Keduanya pun mengejar Rahmat.

Pengejaran berakhir setelah motor yang dikendarai Rahmat terjatuh. Lokasi jatuh tak jauh dari kantor bank. Rahmat memang tak bisa kemana-mana. Sepertinya, Rahmat kurang teliti soal detail pelarian diri usai beraksi. Pagar mengelilingi kantor bank itu, pintu pagar pun masih tertutup.

“Dikejar naik motor, terus jatuh dari motor. Kebetulan semua pagar ditutup. Mungkin dia bingung mau kemana,” kata saksi mata, Sofyan yang ada di lokasi saat kejadian. Rahmat pun dibekuk dan diserahkan ke polisi.

Article source: http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/60929-%E2%80%9Cseparuh-aku%E2%80%9D-break-seminggu,-%E2%80%9Ctukang-bubur-naik-haji%E2%80%9D-tayang-3,5-jam,-bagaimana-performanya.html


Rahmat Rampok Bank Saat Khutbah Jumat

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank U Very Very Much for Read this News

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Tuesday, January 15, 2013

Dewi Perssik siap jalani ritual untuk peran di Nyi Blorong

Dewi Perssik siap menjalani ritual demi peran terbarunya dalam film NYI BLORONG. Depe bakal berperan sebagai tokoh utama, yakni Laras/Larasati yang merupakan titisan Ratu Pantai Selatan. Nyi Blorong dalam film tak lain adalah titisan Ratu Pantai Selatan, atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Ular.

Ditemui saat syukuran di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Senin (14/1), Depe mengaku akan mendatangi tempat-tempat yang menurut mitos adalah tempat tinggal dari Ratu Pantai Selatan.

“Selain di Pelabuhan Ratu, ada dua tempat lagi di Bali dan Yogyakarta yang menurut mitos yang saya tahu adalah tempat istirahat Ratu Pantai Selatan. Di situ ga boleh sembarangan orang masuk kamarnya. Nanti kami juga akan mendatangi tempat-tempat itu, terutama saya sebagai pemeran utama,” ujar Depe.

Namun semua tantangan tersebut tak dirasa berat oleh Depe. Pasalnya, jauh sebelum Depe memulai syuting film garapan Chiska Doppert ini, dirinya punya kebiasaan memakan laron. Selain karena sebagai ritualnya, memakan laron dianggap Depe merupakan cara untuk menjaga kesehatan.

“Saya dulu di rumah suka makan laron mati yang digoreng. Saya kan menganut Islam Kejawen juga, jadi hal-hal seperti ini sudah biasa. Selain, itu makan laron membuat badan lebih sehat,” pungkas Depe. (kpl/pur/dka)

Article source: http://news.detik.com/read/2012/04/04/145237/1885108/103/menyoal-sikap-dua-kaki-pks?9922032


Dewi Perssik siap jalani ritual untuk peran di Nyi Blorong

Thursday, December 27, 2012

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit

KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit
<!–

Terkait

  • Mubarok: Foke Tidak Masuk Hitungan
  • Taman Narmada, Tempat Penyucian Para Pejabat
  • VIDEO: Demokrat: Pertemuan Tidak Bahas Posisi Andi
  • Choel Sambangi Rumah Andi Mallarangeng
  • Empat Menteri asal Demokrat Ikut Pertemuan di Cikeas

–>
Liputan6.com, Jakarta : Hingga menjelang berakhirnya 2012, berbagai peristiwa kelam menodai Bumi Pertiwi. Bentrokan antarwarga kerap terjadi. Suku, agama, ras, jenis kelamin, organisasi massa, status ekonomi, sosial, dan bahasa menjadi pemicunya. Akankah persoalan ini tuntas dan tak akan terulang lagi pada 2013?

Pengamat sosial dan budaya Irfan Abu Bakar memprediksi hal itu masih mungkin terjadi. “Mungkin akan muncul di tempat lain, karena Indonesia ini kan luas. Yang nggak kebagian akan terjadi tergantung status sosialnya,” kata Irfan di Jakarta.

Kawasan yang rawan terjadi konflik, tutur dia, adalah daerah yang cenderung homogen dan relasi antara kelompok yang berbeda belum terbangun dengan baik. Termasuk yang rawan adalah daerah yang belum punya pengalaman untuk hidup berdampingan dengan kelompok berbeda. Hal ini berbeda dengan kawasan yang di dalamnya terdapat masyarakat individual, berpendidikan tinggi, dan kurangnya pengalamannya terhadap perbedaan. Di kawasan seperti ini akan jarang terjadi konflik sosial.

Irfan menilai langkah pemerintah menindak tegas pelanggar hak asasi manusia sejauh ini sudah benar. Tapi efektivitas tindakan pemerintah tersebut masih dipertanyakan. Tindakan penanganan hukum tidak dilakukan dalam upaya untuk menyelesaikan atau memperkecil tindakan serupa di masa yang akan datang, tapi biasanya muncul karena tekanan dari berbagai pihak, kemudian melakukan tindakan kepada pelakunya.

“Dalam hal ini, elite agama juga bertanggung jawab bagaimana caranya melindungi keyakinan umat tanpa harus menjatuhkan korban orang lain,” saran Irfan.

Berikut adalah kasus-kasus sosial yang mengiringi perjalanan 2012:

1. Waria

Kehadirannya selalu menuai kontroversi di masyarakat. Ada yang ektrem menolak, ada yang netral, ada pula yang menyambutnya. Akhirnya mereka pun seringkali menyingkir dan tersingkir dari kehidupan sosial masyarakat. Pada 3 Desember 2012, ormas FPI membubarkan secara paksa acara kontes kecantikan di antara sesama waria. Kontes yang bertajuk Miss Waria 2012 itu dituding tidak memiliki izin. Hal itu pun diiyakan Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Yossi Prihambodo. Yossi menyatakan kegiatan yang diadakan di Gedung Nyi Ageng Tirtayasa, Kuningan, Jakarta, itu tidak mendapatkan rekomendasi dari Pemda DKI. Akhirnya acara yang dihadiri 400 peserta itu pun bubar juga. FPI mendapatkan laporan dari warga sehari sebelum acara berlangsung. Tidak hanya di Ibukota, kejadian serupa terjadi pula di Tegal, Jawa Tengah.

Bintang Idol Dangdut, sebuah kontes menyanyi yang diadakan para waria di Dedy Jaya Plaza, Kota Tegal, harus berakhir karena dibubarkan ormas Majelis Talim Darunnadzir Al Barokah. Sama seperti Miss Waria 2012, kegiatan Paguyuban Waria Tegal dan Shinta Management ini akhirnya pun urung dilaksanakan. Meski kecewa, para waria itu tak dapat berbuat banyak.

Untuk menyuarakan aspirasi kaumnya, Ketua Forum Komunikasi Waria se-Indonesia (FKWI) Yulianus Rotteblaut (50) mencalonkan diri sebagai komisioner Komnas HAM pada 20 Januari 2012, namun tak lolos. Keinginan waria yang akrab disapa Mama Yulie ini mendapatkan restu dari puluhan rekannya di FKWI. Sosoknya hadir untuk memperjuangkan kaum-kaum marginal, seperti halnya kaum transgender. Calon komisioner Komnas HAM yang kandas dalam fit and proper test di DPR pada 2007 lalu ini menuntut hak atas kaumnya dihargai sebagai warga negara. Perjuangan serupa dilakukan Dede Oetomo dengan menjadi calon komisioner Komnas HAM. Namun aktivis gay dalam komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) serta pendiri komunitas GAYa Nusantara ini kandas juga di DPR pada Oktober 2012.

Meski demikian kehadiran kaum waria mendapat perhatian lebih dari Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Lelaki yang akrab disapa Ahok ini mengingatkan waria pun makhluk ciptaan Tuhan yang harus diberikan hak dan mendapat tempat yang sama. Pria berkacamata ini pun mengimbau tegas penanganan penderita AIDS yang di antaranya adalah kaum waria. “Masak kalau ada keluarga kita seperti itu, apa mesti kita bunuh? Kita buang?” cetus Ahok. Tak salah memang jika pada Pilkada DKI Jakarta, kaum waria melalui Mama Yulie menyatakan dukungannya pada Joko Widodo alias Jokowi dan Ahok.

2. Konflik Beragama

Sulit Beribadah di ‘Rumah’ Sendiri. Majelis Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin mengalami kesulitan menjalankan ibadah. Mereka tak bisa masuk ke GKI Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat karena disegel dan digembok warga. Peristiwa itu terjadi sejak 2010 hingga 2012. Mereka sampai mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mendatangi Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada 12 Februari 2012 dan 11 Maret 2012. Para jemaat terus mendesak dan tak akan meninggalkan lokasi sampai mereka bisa beribadah di GKI Taman Yasmin. Apalagi mengingat mereka sudah mengantongi izin mendirikan gereja dari Mahkamah Agung dan rekomendasi Ombudsman.

Ahmadiyah, Terasing di Negeri Sendiri. Kekerasan juga dialami warga Ahmadiyah. Persoalan jemaah pengikut Mirza Ghulam Ahmad itu kembali mengemuka setelah kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, pada awal Februari 2011. Sejumlah ormas Islam pada 13 November 2012, kembali mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi melarang segala aktivitas keagamaan Ahmadiyah dan membubarkan aliran tersebut. Di Cianjur, Jabar, massa FPI bahkan mendatangi masjid Ahmadiyah dan mengusir seorang warga yang sedang salat di dalam tempat ibadah. Pada 26 Oktober 2012, puluhan orang dari FPI Bandung Raya merusak kaca Masjid An Nasir milik jemaah Ahmadiyah di Astana Anyar, Kota Bandung.

Perseteruan Panjang Sunni Versus Syiah. Tak kalah panas terjadi konflik Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Keributan dipicu penyerangan muslim Sunni terhadap warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Kasus ini berawal dari persoalan keluarga sejak 2004 antara Tajul Muluk dan Rois. Dari masalah pribadi kemudian menyebar di masyarakat luas.

Pertikaian pun berujung bentrok antarwarga yang terjadi pada 29 Agustus 2012. Insiden itu menewaskan dua orang dan lainnya cedera, serta belasan rumah dibakar. Korban meninggal adalah kakak beradik, Muhammad Khosim (45) dan Thohir (40). Usai kejadian itu banyak warga Syiah mengungsi dan menempati GOR Wijaya Kusuma sebanyak 276 orang. Majelis Ulama Indonesa (MUI) Kabupaten Sampang berencana menekan warga Syiah masuk Sunni jika ingin kembali ke Desa Karang Gayam. Ini mengingat masih ada 75 persen warga Syiah menolak masuk Sunni.

30 Jemaah Syiah di Sampang, sempat dipaksa menandatangani surat pernyataan pindah aliran dari Syiah ke Sunni. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya Andy Irfan Junaidi mengatakan, warga Syiah itu mendapat tekanan atau intimidasi untuk berpindah keyakinan atau akan dibakar rumahnya.

Dalam kasus ini Polri menetapkan Roisul Al Hukuma sebagai tersangka. Adik kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang itu mendekam di Polda Jawa Timur dan diadili di Pengadilan Negeri Surabaya. Rois dijerat pasal berlapis yakni, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, Pasal 354 tentang penganiayaan berat, Pasal 170 tentang pengeroyokkan dan perusakan, serta Pasal 55 dan 56, yakni turut serta membantu melakukan kejahatan.

3. Konflik Horisontal

Pertikaian Berdarah di Mesuji. Kasus pertikaian berujung maut warga di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung sudah berlangsung lama, yaitu sejak 1996. Masalah yang sudah mengakar itu murni dipicu sengketa lahan warga dengan perusahaan. Anggota Komisi III DPR Azis Syamsuddin pun menilai sengketa tanah perkebunan kelapa sawit menjadi akar masalah utama kasus Mesuji, baik di Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.

Sementara anggota DPR Zainun Ahmadi menganggap hingar-bingar pemberitaan kasus Mesuji, baik di Kabupaten OKI atau di wilayah Lampung, tak menyentuh akar permasalahan. Zainun berpendapat banyak kasus serupa di Tanah Air, tapi selalu berujung tidak pada akar masalahnya yaitu salah urus agraria dan sumber daya alam. Anggota Komisi II ini menyatakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lebih senang menganalisa kejanggalan dalam informasi yang disampaikan Mayor Jenderal Purnawirawan Saurip Kadi kepada DPR.

Pada tahap awal, TGPF Mesuji menyodorkan enam butir rekomendasi kepada pemerintah untuk penuntasan insiden sengketa lahan antara perusahaan dan warga yang menewaskan sembilan orang. Rekomendasi disampaikan Ketua TGPF Mesuji Denny Indrayana, saat melaporkan hasil investigasinya kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto di Jakarta, 2 Januari 2012. Berikutnya TGPF Kasus Mesuji merampungkan hasil penyelidikan mereka terhadap bentrokan, baik di Mesuji Lampung dan Sumsel, 16 Januari 2012.

Saat awal terjadi kehebohan jumlah korban tewas berjumlah 30 orang. Belakangan Polri merilis kronologis dan data penyelidikan terkait kasus dugaan pembantaian di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan. Dari tiga peristiwa di Ogan Komering Ilir dan Lampung, Polri mencatat 9 orang meninggal dalam kurun waktu 2010-2011.

Kasus yang mengemuka di Mesuji antara lain masalah pengelolaan lahan milik adat di areal kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Register 45 Way Buaya. Kejadian di Talang Pelita Jaya, Desa Gunung Batu, Mesuji, Lampung mencuat sejak Februari 2006. Selanjutnya, kasus sengketa tanah lahan sawit seluas 1533 hektar (ha) antara warga Desa Sodong, Mesuji, Sumsel dengan PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang berakhir dengan tragedi pembantaian terhadap dua orang petani di tengah kebun sawit pada 21 April 2011.

Pada wilayah yang sama, sengketa tanah lahan sawit seluas 17.000 (ha) antara warga desa Sri Tanjung, Kagungan Dalam dan Nipah Kuning, Mesuji, Lampung dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) yang puncaknya berujung pada kematian Zaini pada 10 November 2011.

Tolak Harga BBM Naik Berujung Aksi Anarkis Warga. Keputusan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memicu gelombang protes warga di Jakarta dan daerah. Unjuk rasa mahasiswa berujung bentrok dengan aparat di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, 29 Maret 2012 malam. Pengunjuk rasa memblokade Jalan Diponegoro, sebagai bentuk penolakan rencana kenaikan BBM. Pos polisi yang dirusak massa membuat situasi tak terkendali. Serangan batu dan botol pun dibalas tembakan gas air mata aparat.

Masih di Jakarta. Forum Masyarakat Miskin berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Selain berorasi, demonstran juga menggelar spanduk berisi penolakan. Setali tiga uang dengan protes warga di Bogor Jawa Barat. Ratusan warga SUTET atau saluran udara tegangan ekstratinggi sekabupaten Bogor ramai-ramai mengubur diri selama sekitar lima jam. Seorang di antaranya pingsan saat beraksi.

Sementara unjuk rasa anti kenaikan BBM berlangsung anarkis di Ternate, Maluku Utara. Bandara Baabullah diserbu, fasilitas keselamatan bandara tak luput dari amukan massa. Ratusan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara pun berunjuk rasa menolak kenaikan BBM bersubsidi. Mereka merusak mobil milik anggota DPRD Kabupaten Konawe Utara. Sedikitnya 25 mahasiswa diringkus dalam insiden itu. Kemudian seribu lebih mahasiswa di Pontianak, Kalimantan Barat yang berdemonstrasi menduduki halaman gedung DPRD Kalbar.

Sedihnya saat warga Jakarta berunjuk rasa menolak kenaikan, di daerah harga BBM malah sudah naik. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Wilayah Tengah Endang Kesumayadi mengatakan, survei Kadin terhadap 17 kabupaten di 4 provinsi yang berbatasan dengan negara, harga BBM bersubsidi di kawasan ini sudah naik jauh lebih tinggi dari Rp 1.000 per liter.

Pada akhirnya hasil rapat paripurna DPR disepakati untuk menunda rencana kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Dengan demikian harga BBM bersubsidi tidak jadi naik. Belakangan DPR membolehkan pemerintah menaikkan harga BBM tahun 2013 setelah RUU APBN 2013 disetujui menjadi UU.

Teror Berkepanjangan di Bumi Papua. Serangkaian penembakan masih terjadi di bumi Papua. Suasana ini mengusik ketenangan warga. Ini mengingat banyak korban tewas adalah warga, selain aparat kepolisian. Masih hangat terjadi teror tersebut dialami Beni Yamamo dan Piter Tumoka yang menumpang mobil Kepala Desa Nayaro, Papua. Beni cedera di dada kanan dan Piter terluka di kaki. Kendaraan mereka ditembaki orang tak dikenal (OTK) di Mile 37 area PT Freeport Indonesia. Atas kejadian itu, dua dari lima penumpang mobil terluka.

Anggota Brimob, Briptu Ronald yang sedang bertugas tewas ditembak orang tak dikenal. Kasus penembakan bermula saat Ronald bersama sembilan rekannya yang lain tengah berpatroli di Mile 37 Freeport, Papua, pada 7 Februari 2012 sekitar pukul 08.15 WIT.

Di kawasan areal Freeport juga mendapat teror. Seorang korban di antaranya Seperius Yamiru yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika. Seperius merupakan satu dari empat korban penembakan di areal PT Freeport. Tercatat penembakan di kawasan PT Freeport, sejak Juli 2009 hingga 9 Februari 2012 sedikitnya 15 orang tewas. Sedangkan 54 orang terluka.

Seorang wanita bernama Fredika Metal Neki misalnya. Perempuan berusia 38 tahun itu ditembak orang tak dikenal di kawasan Trans-Papua dekat Sungai Digul, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, 21 November 2012. Fredika tewas dengan bekas luka tembak di bagian pelipis kiri. Ketika itu, petugas menemukan Fredika dalam kondisi tak bernyawa. Dalam penyelidikannya Mabes Polri mendapati barang bukti peluru kaliber 4,5 mm, 1 selongsong peluru, tas, dan sandal yang diduga milik Fredika.

Korban lain yakni Pendeta Rika Metalmety. Sang pendeta yang bertugas selama sepuluh tahun di Gereja Betlehem, Boven Digoel ditemukan tewas di pinggir Jalan Trans Asiki, Merauke. Lokasi penemuan mayat berjarak sekitar 150 meter dari pos polisi Kalimak Boven Digoel. Diduga Pendeta Rika ditembak teman dekatnya yang merupakan seorang anggota TNI, 22 November 2012.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 27 November 2012 beberapa orang kelompok bersenjata menyerang Markas Kepolisian Pirime, Lany Jaya, Papua, 27 November 2012. Kapolsek Pirime Ipda Rolfi Takubesi, Briptu Daniel Makuker, dan Briptu Jefri Rumkorem tewas dalam insiden itu. Polda Papua menangkap tujuh penyerang Mapolsek Pirime. Seorang di antaranya, YW (40) diciduk saat polisi menyisir sekitar Pirime. Sementara enam lainnya dibekuk pada 29 November 2012 di Distrik Piramid, Kampung Muara Game, Kabupaten Jaya Wijaya. Mabes Polri memastikan para pelaku terkait jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

4. Perjuangan Hidup Pahlawan Devisa

Seringkali disebut sebagai pahlawan devisa, tak menjamin Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menjalani hidup layaknya pejuang atau super hero yang tangguh. Mereka justru kerap dianggap sebagai pihak yang lemah dan menjadi korban penganiayaan. Di luar negeri sana, banyak dari TKI yang harus menelan pahitnya hidup di negeri orang. Tak digaji, dipukuli, diperkosa menjadi makanan mereka selama di perantauan. Itu yang sering diberitakan media tanah air.

Beredarnya selebaran iklan ‘TKI On Sale‘ pada Oktober lalu menjadi topik hangat menjelang akhir tahun 2012. Dalam iklan tersebut, TKI ditampilkan layaknya barang komoditi. Dengan deposit 3.500 ringgit, warga Malaysia yang tertarik dapat segera menikmati jasa TKI yang dibandrol dengan harga 7.500 ringgit dan diskon sebesar 40 persen.

Menanggapi berita ini, pihak konsuler KBRI di Malaysia pun melakukan penyelidikan terhadap penyebar iklan itu. Pelacakan dilakukan demi menelusuri alamat yang tercantum pada selebaran iklan yang tersebar. Namun, hanya ditemukan tempat cukur bernama Southern’s Guy di alamat yang tertera itu. Pada 1 November lalu, Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) meminta klarifikasi dan protes kepada pihak Malaysia terkait hal ini. Kecaman pun datang dari Kementerian Luar Negeri Malaysia. Mereka berjanji akan mengusut kasus yang diduga terdapat unsur human trafficking (perdagangan manusia) ini. Sementara ini, Kepolisian Malaysia sudah menetapkan dua orang sebagai tersangka. Belum diketahui jelas siapa dan apa motif di balik pembuatan iklan ini. Di sisi lain, anggota dewan pun berusaha meningkatkan perlindungan kepada TKI dengan merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Berita miris pun datang dari Arab Saudi. TKI Satinah binti Jumadi yang berasal dari Jawa Tengah masih ketar-ketir menunggu kepastian hukuman matinya. Wanita berusia 40 tahun ini dituduh membunuh majikan perempuannya serta mencuri uang sebesar 37.970 Riyal Saudi (RS) pada 2009 lalu. Setelah proses panjang bertahun-tahun, pihak keluarga majikannya mau memaafkan Satinah. Dia bisa terhindar dari hukuman gantung jika membayar diyat sebesar 10 juta RS sebelum 14 Desember 2012. Angin segar berhembus pada pertengahan Desember. Meskipun pemerintah hampir kehabisan waktu menegosiasikan penurunan nominal diyat TKI Satinah, Arab Saudi memberikan kelonggaran 6 bulan untuk melunasi diyat itu. Selain Satinah, masih banyak TKI kita yang mengalami nasib serupa.

Kabar naas kembali datang dari Negeri Jiran. Seorang TKI wanita diperkosa 3 aparat polisi Diraja Malaysia. Kejadian bermula pada 9 November lalu saat TKI yang bernisial SM ini terjaring pemeriksaan dan hanya membawa fotokopi paspor. Alih-alih dibawa ke kantor polisi di Prai, Pulau Pinang untuk diproses, korban malah diperkosa. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib SM. Dia harus menahan malu saat media Malaysia ramai-ramai mengekspos identitas dirinya. Masyarakat Indonesia pun bertambah geram. Ketiga polisi pelaku aksi bejat itu tidak ditahan. Masing-masing hanya dikenakan denda sebesar 25 ribu ringgit dan wajib lapor sebulan sekali. Mereka pun diseret ke meja hijau. Setelah 12 Desember lalu persidangan urung digelar, hakim menjadwalkan sidang lanjutan pada 25 dan 26 Februari 2013 mendatang.

5. Pencuri Sandal Jepit dan Koruptor Kakap

Pencuri Sandal dan Koruptor dua kata tersebut sama-sama memiliki makna negatif, yakni sama-sama mencuri, mengambil hak orang lain tanpa seizin pemiliknya. Yang membedakannya adalah nilai atau kadar barang yang dicuri. Bila pencuri sandal jepit tentu hanya mendapatkan barang yang nilainya tidak lebih dari Rp 10.000, itu pun bekas pakai. Sedangkan, koruptor kakap mencuri uang negara dari rakyat yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta hingga triliunan rupiah. Keduanya layak dihukum dengan seadil-adilnya.

Namun hukum ternyata hanya masih tegas terhadap rakyat kecil. AAL, remaja berusia 15 tahun ini dibawa ke meja hijau karena dituduh mencuri sandal jepit di depan rumah kos Briptu Ahmad Rusdi di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Anehnya, peristiwa yang terjadi sekitar November 2010 silam itu baru dibawa ke pengadilan oleh sang korban yang nota benenya aparat penegak hukum enam bulan kemudian, pada Mei 2011 lalu, AAL pun diancam hukuman 5 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum karena melanggar pasal 362 KUHP. Meski akhirnya tidak dimasukkan penjara dan dikembalikan kepada keluarga oleh majelis hakim namun AAL menyandung status terpidana karena dinyatakan bersalah. Persidangan kasus pencurian yang mendapat sorotan media dan publik ini pun menuai kecaman. Massa menganggap persidangan ini mengada-ngada. Publik marah dan kecewa karena hukum sangat digdaya dengan kasus pencurian yang melibatkan rakyat kecil ini terlebih melibatkan pelaku yang masih di bawah umur. Sejumlah LSM pun menggalang aksi dukungan bagi AAL dengan mengumpulkan “1.000 sandal untuk Kapolri”. Sedangkan pada kasus-kasus korupsi besar bernilai ratusan miliar hingga triliunan yang melibatkan pejabat publik hukum takluk tak berdaya.

Sebutlah kasus suap Rp 24 miliar terkait pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan terdakwa Miranda Swaray Goeltom yang melibatkan Nunun Nurbaetie. Nunun yang notabene istri mantan Wakapolri Adang Darojatun itu sempat buron berpelesiran ke luar negeri. Adang yang seharusnya menjadi panutan rakyat sebagai anggota DPR dari Fraksi PKS ini selalu berkilah istrinya sedang “sakit”. Nunun akhirnya bisa ditangkap KPK dan diseret ke pengadilan. Namun, panggung sandiwara hukum kembali ditampilkan. Nunun hanya dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. Nunun akhirnya hanya divonis 2,5 tahun dan denda Rp 150 juta subsidier 6 bulan. Putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta ini menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Kedua kasus tersebut sama-sama melibatkan unsur aparat hukum sebagai korban dan keluarga mantan petinggi polisi sebagai pelaku. Namun, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dan kepolisian masih saja pilih kasih dalam menegakkannya. Hukuman untuk Nunun jauh lebih kecil ketimbang AAL. Semoga tak terulang pada 2013 dan penegak hukum mendapat tempat di hati rakyat.

6. Bernafas dalam Lumpur Lapindo

Enam tahun lebih duka menyelimuti korban semburan lumpur panas Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan ribu warga dipaksa meninggalkan permukiman, lahan pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan akibat tenggelam menjadi lautan lumpur. Selain kerugian harta benda dan matinya roda perekonomian rakyat, semburan ini juga mengakibatkan kerusakan alam dan ekosistem yang dahsyat di wilayah tersebut. Hingga kini semburan lumpur bercampur gas yang berasal dari lokasi pengeboran Lapindo Brantas Incorporation di Dusun Balongnongo – Desa Rekonongo, Kecamatan Porong itu masih terus keluar. Data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menyebutkan semburan tersebut mengeluarkan lumpur setidaknya 10 ribu hingga 15 ribu kubik per hari. Berbagai upaya telah dilakukan membuat pemerintah untuk mengatasinya, namun bencana yang terjadi sejak 29 Mei 2006 itu tetap tidak bisa dikendalikan, apalagi dihentikan.

Persoalan ganti rugi warga yang terdampak semburan lumpur panas masih juga belum selesai. Lapindo dengan kekuatan partai politik besar di belakangnya bermain mata dengan kekuasaan dengan mengalihkan tanggung jawab kelalaiannya kepada negara, seraya menyebutnya sebagai bencana nasional. Negara pun dibebani pembayaran ganti rugi kepada rakyat Sidoarjo melalui APBN. Sebagaimana hasil ahli geologi dunia konferensi internasional American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan pada 2008 menyebutkan sebagian besar ahli 42 dari 58 ahli menyatakan adanya kesalahan pengeboran gas sebagai penyebab. Hanya tiga ahli yang menyebut sebagai bencana alam, ironisnya ketiga ahli tersebut berasal dari Indonesia.

Semburan lumpur Lapindo yang juga diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 2007 lalu menemukan kesalahan teknis dalam proses pemboran sehingga mengakibatkan semburan lumpur dan gas berbahaya tersebut keluar. Upaya penegakan kasus tersebut secara pidana juga kandas. Kasus yang sudah menetapkan 13 tersangka dari Lapindo maupun subkontraktor itu akhirnya ditutup Kepolisian Daerah Jawa Timur. Polri melalui Wakil Kadiv Humas Anton Bachrul Alam yang sempat kritis kini malah bungkam seribu bahasa meski menjabat Kapolda Jawa Timur.

Persoalan ganti rugi korban Lapindo oleh negara melalui APBN digugat lembaga lingkungan hidup Walhi dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI juga kandas di Mahkamah Konstitusi awal Desember 2012. Menurut Walhi, gugatan ini bukanlah persoalan tidak peduli dengan nasib korban, melainkan ditunjukkan bagaimana negara bertindak tegas terhadap kejahatan korporasi yang merusak lingkungan serta seluruh sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat Sidoarjo. Kejahatan tersebut seharusnya ditindak tegas dengan menyita seluruh harta benda Lapindo dan jika perlu “pemiliknya”, bukan dibebankan kepada uang negara yang notabene dari kantong rakyat.

Namun pemerintah, DPR, dan institusi penegak hukum tak bertaring. Hingga menjelang penghujung 2012, lumpur panas Lapindo masih terus menyembur menenggelamkan Sidoarjo. Pembayaran ganti rugi pada korban pun tak kunjung tuntas. (Ais/Ndy/Adi)

Article source: http://www.voaindonesia.com/content/article/1522476.html


KALEIDOSKOP SOSIAL: Kisah Waria Hingga Pencuri Sandal Jepit

Tuesday, December 10, 2013

Asmirandah jadi saksi dugaan penistaan agama oleh Jonas Rivanno

Berita Terkait



  • Banyak dikecam, Jonas Rivanno tetap dianggap pria gentle

    Banyak dikecam, Jonas Rivanno tetap dianggap pria gentle


  • Jika nikah lagi, Asmirandah – Vano tak perlu ke luar negeri


  • Sidang kedua pembatalan aikah, Asmirandah hadirkan tiga saksi

Merdeka.com – Selasa (10/12), artis Asmirandah mendatangi Polres Bogor, Jawa Barat, sebagai saksi kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh suaminya, Jonas Rivanno beberapa waktu lalu.



Sekitar pukul 12.15 WIB, Asmirandah tiba menumpang mobil Chevrolet Captiva berwarna abu-abu bernomor polisi B 16 GUY. Dia terlihat cantik dengan pakaian hitam dengan keindahan rambut panjangnya.



Asmirandah didampingi pengacaranya, Afdhal Zikri, dan beberapa pria berbadan tegap. Sayang, Andah tidak banyak bicara. Ia langsung memasuki Unit III Krimsus Polres Bogor.






Kasus ini berawal dari bantahan Jonas Rivanno yang tidak mengakui menjadi mualaf. Meski pada akhirnya mengakui telah berbohong. Dia mengaku pernah menjadi mualaf dan menikahi Asmirandah pada 17 Oktober.



Pihak Front Pembela Islam (FPI) Depok menganggap tindakan Vanno sebagai tindakan penistaan agama. FPI Depok melaporkan Vanno ke polisi dan kini kasusnya sedang diproses.



(kpl/pur/dar)












Article source: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/05/31/m4w6p7-kemenag-janganlah-naik-haji-berulangulang


Asmirandah jadi saksi dugaan penistaan agama oleh Jonas Rivanno

Thursday, January 10, 2013

Jalan Kaki Datangi Markas Polisi

SURABAYA – Menteri BUMN Dahlan Iskan mendatangi Mapolda Jatim di Surabaya, kemarin (10/1). Hal itu dia lakukan untuk menyampaikan keterangan seputar kecelakaan mobil listrik Tucuxi yang dikendarainya di Plaosan, Magetan, Sabtu (5/1). Dalam kesempatan itu, Dahlan menjawab 33 pertanyaan penyidik terkait dengan mobil listrik, pelat nomor, serta kronologi kejadian.
Dahlan tiba di Mapolda Jatim sekitar pukul 10.30. Dia berjalan kaki dari gedung Graha Pena melalui kampus Universitas Bhayangkara (Ubhara). Kedatangan Dahlan dengan jalan kaki tersebut tidak diduga pihak polda. Padahal, sejak pagi gerbang VVIP polda dibuka untuk menyambut mantan dirut PLN itu. Gerbang tersebut juga sudah steril dengan penjagaan polisi.
Dahlan tampil santai dengan memakai kaus, celana sport, dan sepatu kets. Dia didampingi Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Komarul Zaman dan sejumlah petugas provos. “Saya ingin langsung diperiksa saja. Kalau bertemu Kapolda, nanti dianggap intervensi,” ujar Dahlan.
Ya, kedatangan Dahlan sejatinya memang sudah ditunggu Kapolda Jatim Irjen Hadiatmoko dan Wakapolda Brigjen Moechgiyarto di gedung Tri Brata. Namun, Dahlan memilih langsung menuju ruang penyidik di gedung Regional Traffic Management Center (RTMC) yang terletak sekitar 20 meter dari gedung Tri Brata.
Dahlan mengaku tak khawatir dengan pemeriksaan penyidik. “Untuk pemeriksaan ini, saya tidak menyiapkan apa-apa. Saya akan jawab apa adanya,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, insiden yang melibatkan dirinya adalah kesalahan karena melanggar lalu lintas. Hal itu berkaitan dengan uji coba mobil listrik Tucuxi dari Solo ke Surabaya. Siapa sangka, akhirnya terjadi insiden di Plaosan, Magetan, tersebut. Dia memutuskan untuk menabrak tebing setelah Tucuxi tidak bisa dikendalikan karena rem blong. “Ini bukan tindak pidana kriminal. Jadi, saya tidak khawatir sama sekali,” tegasnya.(mar/ca/bmn)
Baca selengkapnya di Sumatera Ekspres besok (11/1)

Article source: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2877


Jalan Kaki Datangi Markas Polisi

Friday, April 5, 2013

Ibunda Nikita Willy tak suka khitan Diego Muhammad diekspos

Entah apa yang ada di benak Yora Febrine, ibunda Nikita Willy, ketika Diego Michiels yang merupakan kekasih putrinya akan melakukan khitan. Yora justru menutup-nutupi niat baik calon menantunya itu dengan mengecoh awak media.

Sebelumnya, pemilik nama mualaf Diego Muhammad itu sangat ramah terhadap media yang ingin meliputnya. Bahkan, dengan santai dia mengungkapkan rencananya itu. Mendengar kabar rencana khitan Diego hari ini, beberapa awak media mencoba menanyakan kepada Yora melalui BBM. Namun Yora menjawab kalau hari ini Diego tidak jadi melakukan khitan karena harus ke Palembang.

Jawaban tersebut berbanding terbalik dengan pernyataan kuasa hukumnya Diego, Kapitra Ampera yang mengungkapkan kalau Diego sudah melakukan proses khitan. Bahkan Kapitra mengungkapkan juga, kalau Yora dan Nikita hadir di rumah sakit.

Melihat kehadiran awak media yang mendatangi rumah sakit untuk meliput, Yora pun kesal. Dan awak media tidak luput dari teguran Yora.

“Ngapain sih ngeliput Diego, dia kan bukan artis, tapi seorang atlet,” cerita salah satu awak media menirukan ucapan Yora di Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan, Rabu (3/4/2013). (kpl/hen/rea/dar)


{paging_prev_label}

{paging_next_label}


Article source: http://www.merdeka.com/artis/nikita-willy-dukung-diego-masuk-islam.html


Ibunda Nikita Willy tak suka khitan Diego Muhammad diekspos

Monday, January 20, 2014

Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

TRIBUNNEWS.COM, MANADO – Akibat salah paham, tawuran nyaris pecah antara pemuda Desa Kema 2 dan 3, Kecamatan Kema, Minggu (19/1/2014) sekira pukul 01.00 Wita. Hanya dipicu masalah yang sepele, pemuda dua desa tersebut saling lempar batu. Keadaan dua Desa tersebut sempat mencekam. Kabar tentang adanya korban dalam peristiwa itu membuat sebagian warga terpancing emosinya.


Sebaliknya, banyak warga ketakutan, apalagi listrik sedang padam waktu itu dan banyak petugas bersenjata berjaga di perbatasan desa. Aparat Polres Minut dan Polsek Kema langsung turun mengamankan situasi, hingga tawuran tak berlangsung.


Informasi yang dihimpun Tribun Manado (Tribunnews.com Network), kejadian itu bermula dari seorang warga Kema 3 yang mendatangi Portal di Desa Kema 2. Portal waktu itu sedang ditutup, namun warga memaksa masuk. Salah paham terjadi antara mereka. Apalagi sebelumnya mereka telah mengonsumsi minuman keras.


Hanya itu yang terjadi, namun berbagai isu sudah terlanjur menyebar. Hal itu kontan membuat darah warga dua desa mendidih, hingga bersiap tawuran. Minggu sore digelar pertemuan antara tokoh warga Desa Kema 2 dan 3 di Kantor Camat Kema.


Hadir dalam pertemuan itu, Kapolsek Kema AKP Suparno, Plh Danramil Kauditan 1310 05 Kapten Inf Takumansang serta Camat Kema Jack Paruntu. Dalam pertemuan itu, warga kedua belah pihak sepakat untuk berdamai. Hal tersebut kemudian dituangkan nota kesepahaman antarwarga. Pertemuan selama sekira 3 jam itu diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin dua pemuka agama dari Kristen dan Islam.


Sebelum doa itu, diadakan jabat tangan antara pemuda dua desa yang bertikai. Dengan raut wajah penuh penyesalan, dua kubu yang bertikai berjabat tangan, saling berpelukan sembari mengucap kata maaf. Ternyata, mereka kebanyakan masih punya hubungan saudara.


Kapolsek Kema AKP Suparno mengatakan, perkelahian itu bukan antara dua warga desa, namun hanya antara dua kelompok pemuda.


“Itu hanya antar pemuda saja,” kata dia.


Ia pun membantah, jika ada korban yang kena sabetan parang.


“Yang benar adalah seorang warga, lengannya tersangkut parang,” bebernya.


Dari ciri-ciri kejadiannya, ia menduga ada provokator yang turut bermain. Ia janji akan memburu provokator itu.


“Setahu saya, warga disini bersaudara, warga Kema coba diadu, seperti terjadi di beberapa kabupaten sebelum ini,” katanya.


Suparno juga berjanji akan memberantas peredaran miras di daerahnya, yang ditengarai menyulut perkelahian antarwarga.


Camat Kema Jack Paruntu minta aparat desa untuk menjaga keamanan desa masing-masing.


“Hansip harus berperan, jika ada potensi rusuh harus diatasi,” katanya. (art)


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/06/27/mp29k8-masjid-sheikh-zayed-masuk-landmark-terbaik-dunia


Pemuda Desa Kema 2 dan Kema 3 'Perang Batu'

Thursday, January 10, 2013

Jalan Kaki Datangi Markas Polisi

SURABAYA – Menteri BUMN Dahlan Iskan mendatangi Mapolda Jatim di Surabaya, kemarin (10/1). Hal itu dia lakukan untuk menyampaikan keterangan seputar kecelakaan mobil listrik Tucuxi yang dikendarainya di Plaosan, Magetan, Sabtu (5/1). Dalam kesempatan itu, Dahlan menjawab 33 pertanyaan penyidik terkait dengan mobil listrik, pelat nomor, serta kronologi kejadian.
Dahlan tiba di Mapolda Jatim sekitar pukul 10.30. Dia berjalan kaki dari gedung Graha Pena melalui kampus Universitas Bhayangkara (Ubhara). Kedatangan Dahlan dengan jalan kaki tersebut tidak diduga pihak polda. Padahal, sejak pagi gerbang VVIP polda dibuka untuk menyambut mantan dirut PLN itu. Gerbang tersebut juga sudah steril dengan penjagaan polisi.
Dahlan tampil santai dengan memakai kaus, celana sport, dan sepatu kets. Dia didampingi Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Komarul Zaman dan sejumlah petugas provos. “Saya ingin langsung diperiksa saja. Kalau bertemu Kapolda, nanti dianggap intervensi,” ujar Dahlan.
Ya, kedatangan Dahlan sejatinya memang sudah ditunggu Kapolda Jatim Irjen Hadiatmoko dan Wakapolda Brigjen Moechgiyarto di gedung Tri Brata. Namun, Dahlan memilih langsung menuju ruang penyidik di gedung Regional Traffic Management Center (RTMC) yang terletak sekitar 20 meter dari gedung Tri Brata.
Dahlan mengaku tak khawatir dengan pemeriksaan penyidik. “Untuk pemeriksaan ini, saya tidak menyiapkan apa-apa. Saya akan jawab apa adanya,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, insiden yang melibatkan dirinya adalah kesalahan karena melanggar lalu lintas. Hal itu berkaitan dengan uji coba mobil listrik Tucuxi dari Solo ke Surabaya. Siapa sangka, akhirnya terjadi insiden di Plaosan, Magetan, tersebut. Dia memutuskan untuk menabrak tebing setelah Tucuxi tidak bisa dikendalikan karena rem blong. “Ini bukan tindak pidana kriminal. Jadi, saya tidak khawatir sama sekali,” tegasnya.(mar/ca/bmn)
Baca selengkapnya di Sumatera Ekspres besok (11/1)

Article source: http://www.merdeka.com/politik/pks-klaim-jadi-partai-islam-paling-besar-di-indonesia.html


Jalan Kaki Datangi Markas Polisi

Thursday, November 14, 2013

Cuma Mau Tanya Agama, Polisi Buru Jonas ke Rumah Asmirandah

Kamis, 14 November 2013 18:37 wib

Jonas bersama ulama (Foto: ist)

Jonas bersama ulama (Foto: ist)

DEPOK- Polres Depok bertindak cepat menanggapi laporan Front Pembela Islam (FPI) Untuk mencari tahu agama apa yang sebenarnya dianut Jonas Rivanno. Polisi langsung mendatangi kediaman kekasih Jonas, Asmirandah di daerah Cibubur, Kamis (14/11/2013).


Namun, bukan jonas yang ditemui, melainkan poster bertuliskan rumah telah dijual yang terpampang di pintu gerbang rumah Asmirandah. Sejumlah anggota kepolisian Polresta Depok yang menggunakan kemeja putih menyambangi kediaman Asmirandah yang berlokasi di Kota Wisata.


Rumah Asmirandah tampak sepi tak berpenghuni. Pintunya tertutup rapat dan terpasang gembok menandakan bahwa tidak ada orang di dalamnya. Anggota polisi pun akhirnya meminta keterangan dari sejumlah petugas keamanan yang sedang berjaga. Menurut informasi yang didapat rumah bernomor 16 itu merupakan rumah Asmirandah.


Sementara poster bertuliskan rumah dijual baru terpasang kurang lebih empat hari yang lalu, petugas keamanan tak dapat memberikan informasi secara gamblang lantaran setiap terjadi jual beli rumah di perumahan ini langsung dari agen ke agen tanpa sepengetahuan mereka.


Tujuan anggota kepolisian menjemput Jonas untuk mencari data terkait dengan agama apa yang sebenarnya dianutnya. Pasalnya, beberapa pekan ini telah ramai jadi berbincangan publik bahwa Jonas dianggap mempermainkan agama oleh FPI dan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Karena ternyata lokasi yang dituju sudah termasuk kawasan Bogor, maka polisi pun kemudian pulang dengan tangan hampa dan tidak dapat melanjutkan penyelidik karena kondisi lokasi sudah bukan kapasitas Polresta Depok.


Jonas sebelumnya disebut memeluk agama Islam sebelum menikahi Asmirandah. Namun, Jonas membantah telah masuk Islam dan mengaku masih beragama Kristen. Padahal, ketua MUI Depok mengaku mengislamkan langsung Jonas dan disaksikan Asmirandah.


(Iyung Rizki/RCTI/rik)






mobile

Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di
m.okezone.com
bb.okezone.com

untuk BlackBerry


Article source: http://www.lensaindonesia.com/2013/04/28/formappi-calonkan-angel-lelga-di-parlemen-ppp-beruntung.html


Cuma Mau Tanya Agama, Polisi Buru Jonas ke Rumah Asmirandah

Wednesday, December 19, 2012

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata


Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering

Asyik Berfoto Bersama Keluarga Di Danau LapindoDanau Lumpur Panas Sidoarjo Menjadi Daerah Kunjungan Wisata
Sebagian permukaan danau lumpur telah mengering
Bencana Danau Lumpur Lapindo di Kecamatan Porong-Sidoarjo masih menyisakan duka. Namun, danau ini justru dibuat sebagai tempat wisata oleh masyarakat sekitar. Ada banyak kisah di sana.
Akibat kelalaian manusia bencana lumpur panas Sidoarjo terjadi. Di balik duka yang mendalam itu, semangat warga sekitar patut diacungi jempol. Betapa tidak, danau ini mereka sulap menjadi destinasi yang mendatangkan banyak wisatawan.
Bencana lumpur panas Sidoarjo atau yang dikenal dengan Danau Lumpur Lapindo, merupakan bencana tenggelamnya beberapa desa di Kecamatan Porong-Sidoarjo hingga membentuk danau yang begitu luas akibat aktivitas pengeboran minyak. Entah berapa besar kerugian yang ditanggung akibat hilangnya pemukiman penduduk, gedung-gedung sekolah, kantor-kantor pemerintah, persawahan, sektor perindustrian, dan lain-lain.
Akibat bencana ini jalur lalu litas perdagangan Surabaya–Malang dan Surabaya-Banyuwangi sempat lumpuh total. Sehingga berpengaruh pada kehidupan perekonomian di Jawa Timur.
Tiang ukur menunjukkan kedalaman danau lumpur mencapau ratusan meterKamis itu kebetulan hari libur, yaitu hari Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1434 Hijriyah. Kami memanfaatkannya dengan bepergian ke luar kota bersama anak dan istri. Terdorong oleh rasa ingin tahu kami tentang Danau Lapindo, maka berangkatlah kami menuju kota Porong–Sidoarjo.
Sesampai di pintu masuk tanggul Danau Lapindo, seorang penjaga memungut biaya masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Di dalam areal danau, para pengunjung masih dipungut biaya suka rela sebelum memasuki lokasi pusat semburan.
Danau Lumpur Lapindo dikelilingi oleh tanggul yang cukup tinggi, dengan ketebalan tanggul yang memungkinkan kendaran roda empat (dump truck) bisa berjalan lalu lalang melalui tanggul itu. Sebelum memasuki tanggul, masih di Jalan Raya Porong, banyak warga sekitar yang mendirikan warung-warung makan dan minuman. Mereka mencari rejeki dengan berjualan makanan dan minuman untuk menambah ekonomi keluarga.
Setiap pengunjung  yang  datang  mereka tawari suvenir-suvenir, berupa kaus dan CD tentang bencana lumpur panas ini. Layanan payung dan ojek juga tersedia bagi pengunjung yang kebetulan tidak membawa motor sendiri.
Mengingat begitu luasnya danau ini, sehingga berjalan-jalan keliling danau tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Terlalu capek dan keadaan udara sangat panas menyengat kulit akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Dari kejauhan tampak sesekali asap putih mengepul timbul tenggelam rupanya. Di sanalah tempat pusat semburan, ada bau khas dan tak sedap yang ditimbulkan akibat keluarnya lumpur panas dari perut bumi muncul dan hilang kembali diterpa angin kemarau.
Kami menyaksikan pompa-pompa air yang berukuran sangat besar, juga kapal-kapal pengeruk lumpur serta mess karyawan BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) yang siang itu kelihatan sepi dan lengang. Hanya suara atap mess yang terbuat dari bahan pelat seng tersingkap akibat tiupan angin yang mengundang perhatian kami.
Tidak lama kemudian, beberapa pasang pengunjung dengan mengendarai sepeda motor mendatangi tempat yang terdekat dengan pusat semburan. Kami lalu berbincang bersama sambil memandangi pusat semburan lumpur.
Mereka datang bersama keluarganya sehabis menengok sanak keluarga di daerah lain,  “penasaran dengan cerita banyak orang tentang danau Lapindo, sekalian main-main kesini,” ungkap salah satu dari mereka.
Sebagian pengunjung,  memanfaatkan waktunya dengan berfoto bersama anggota keluarganya dengan latar belakang danau lumpur yang sudah mengering. Terlihat jelas sekali permukaan lumpur yang mulai mengeras dan retak-retak akibat musim kemarau.
BPLS sengaja memisahkan material yang keluar dari lubang semburan menjadi dua bagian. Sebagian danau khusus menampung air dan danau lain untuk endapan lumpur.
Ali, seorang pemandu wisata menjelaskan, “meski tempat ini terdekat dengan lokasi semburan, namun jaraknya masih puluhan kilometer dari sini. Wisatawan tidak diperkenankan melihat terlalu dekat dengan pusat semburan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti terjatuh dan lain-lain,”.
Pohon cemara ditanam dengan jarak tanam yang teratur, tampak mempercantik jalan masuk lokasi pusat semburan ini. Meski ada sebagian yang mengering akibat kemarau panjang.
Hari menjelang sore, setelah puas mengunjungi tempat wisata Lumpur Lapindo kami lalu beranjak pulang. Dengan berhati-hati kami menuruni  tanggul yang tinggi itu. Anak kami juga merengek karena perutnya lapar.
Kebetulan ada warung sederhana di dekat danau yang menyediakan makanan khas kota Porong, ote-Ote namanya. Kami pun dengan lahap menyantap ote-ote itu. Ditambah petis Sidoarjo, duh semakin nikmat rasanya. Sebagian lagi kami bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Danau Lumpur Lapindo, Duka yang Menjadi Tempat Wisata