Showing posts sorted by relevance for query adanya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query adanya. Sort by date Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

SNMPTN Jangan Diskriminatif Terhadap Siswa Madrasah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kabar siswa lulusan madrasah aliyah (MA) di Yogyakarta yang tidak lolos satu pun dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di Universitas Gadjah Mada (UGM) memunculkan keprihatinan, termasuk dari Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) Nur Syam.


Dirjen Pendis meminta agar UGM lebih transparan dan terbuka terhadap mekanisme dan hasil nilai rekrutmen siswa yang lolos SNMPTN agar tidak ada anggapan diskriminasi. “Sistem rekrutmen dan hasilnya harus terbuka agar adil dan tidak memunculkan diskriminasi,” kata Nur Syam kepada Republika, Selasa (18/6).


Keterbukaan mekanisme dan hasil ini, tambah dia, penting supaya tidak memunculkan tuduhan dalam proses SNMPTN. Walau demikian, ia yakin UGM dan mungkin perguruan tinggi negeri (PTN) lain tidak ada niat untuk mengesampingkan siswa lulusan MA atau mungkin pesantren.


Tapi, alangkah baiknya transparansi mekanisme dan hasil angka lulusan SNMPTN ini tetap disampaikan. Terkait apakah ini berarti kualitas lulusan MA yang masih belum memenuhi standar masuk PTN.


Nur Syam mengatakan, saat ini sudah banyak siswa lulusan MA yang berhasil masuk PTN dengan berbagai seleksi masuk, apakah SNMPTN, beasiswa unggulan, atau tes khusus. Selain itu, beberapa madrasah unggulan binaan Kemenag pun sudah menjadi idola orang tua siswa karena hampir sebagian besar lulusan dapat melanjutkan ke PTN.


“Contoh Madrasah Insan Cendikia. Madrasah ini banyak menghasilkan kualitas siswa MA yang memenuhi syarat PTN, bahkan sampai standar sekolah internasional,” ujarnya.


Jadi, Nur Syam melanjutkan, tidak ada alasan bila MA dianggap masih belum memenuhi kualitas dan standar kelulusan untuk masuk ke PTN. Ia juga tidak terlalu setuju bila siswa lulusan madrasah mendapatkan porsi khusus untuk masuk ke PTN.


Menurut dia, biarkan siswa lulusan MA masuk PTN dengan mekanisme yang ada tanpa perlu porsi khusus atau seleksi yang berbeda. Dengan tidak adanya keistimewaan siswa lulusan MA ini membuat lulusan MA pun memiliki daya saing dengan siswa lulusan sekolah menengah atas (SMA). Asalkan, PTN juga tetap menyeleksi dengan transparan sesuai dengan aturan yang berlaku.


Sebelumnya, hasil dari SNMPTN siswa yang masuk ke UGM pada tahun ini menunjukkan tidak satu pun lulusan dari MA. Bahkan, beberapa MA unggulan di Yogyakarta, seperti MAN 1 Yogyakarta yang setiap tahunnya memiliki banyak lulusan yang masuk UGM, juga tidak ada satu pun siswa mereka yang masuk. Ini membuat kekecewaan para pimpinan MA di Yogyakarta.


Kepala MAN I Yogyakarta Imam Sujangi bahkan menilai adanya diskriminasi lulusan MA terkait tidak adanya siswa lulusan MA yang masuk UGM ini. Padahal, kata Imam, hampir setiap tahun setidaknya ada 20 lulusan madrasah tersebut yang diterima di UGM. Bahkan, pada 2012, 25 lulusan madrasah itu diterima di kampus tersebut. Tapi, sayang, tahun ini tidak satu pun lulusannya yang diterima di sana.


Pihak UGM menampik bila mereka melakukan diskriminasi terhadap siswa lulusan madrasah. Kepala Humas UGM Wijayanti mengatakan, pihaknya memberikan kesempatan yang sama antara lulusan SMA dan MA untuk masuk ke UGM. “Mekanismenya sama untuk semua lulusan SMA atau MA dan tidak ada diskriminasi. Ini semua hanya masalah nilai,” kata dia.


Namun demikian, ia mengakui akan melakukan transparansi terkait hasil nilai lulusan yang telah berhasil masuk dengan cara SNMPTN sebagai bahan evaluasi penerimaan mahasiswa baru.


Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso menyatakan tidak pernah ada sikap diskriminasi terhadap siswa lulusan MA. Semua diberlakukan sama dengan standar masuk nilai lulusan yang sama pula.


Permasalahan tidak adanya siswa lulusan MA Yogyakarta yang masuk ke UGM, menurut Djoko, lebih pada standar nilai, bukan karena masalah dikriminasi. Ia pun mengimbau agar pihak madrasah memahami hal tersebut. Namun, pihaknya berjanji akan tetap transparan terkait seleksi yang dilakukan di setiap PTN agar tidak memunculkan kesalahpahaman antarlulusan SMA dan MA. n amri amrullah ed: chairul akhmad


Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/16/116473642/Ustad-Indonesia-Orang-Berpengaruh-di-New-York


SNMPTN Jangan Diskriminatif Terhadap Siswa Madrasah

Monday, August 12, 2013

Toleransi di Kaimana Lahir dari Pandangan Agama Keluarga



<!– Berita terbaru #Kompas.com


–>





KAIMANA, KOMPAS.com – Penyebaran ajaran Islam di Kaimana, Papua Barat sejak masuk awal abad XV di Borombouw, berkembang sangat pesat. Adanya kesamaan ajaran Islam dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat asli, menjadi alasan ajaran Islam mudah diterima.


“Contohnya pasangan yang belum menikah tidak boleh tinggal serumah sebelum hubungan mereka diresmikan dalam pernikahan. Karenanya ajaran Islam memperjelas dan mempertegas apa yang dipahami masyarakat asli,” kata Umar Sabuku, Mangkubumi Kaimana, belum lama ini.


Menurut Umar, saat agama Islam masuk dengan aturan, masyarakat asli kemudian terbagi, ada yang memilih menganut ajaran islam dan ada pula yang tetap menganut kepercayaan lama dengan tradisi memakan binatang yang diharamkan oleh ajaran Islam.


“Dalam satu marga warga asli ada yang menganut keyakinan berbeda, karena sejak awal penyebaran ajaran Islam tidak ada paksaan. Tidak ada gesekan dengan perbedaan keyakinan ini karena masih ada hubungan kekerabatan, serta adanya peranan Raja Sran Kaimana yang menjembatani perbedaan keyakinan ini,” urai Imam Masjid Nurul Falah Kampung Bumi Surmai, Kaimana.


Hal Senada juga diungkapkan peneliti LIPI, Muridan Widjojo bahwa masyarakat asli Kaimana sudah terbiasa hidup dalam keluarga dengan keyakinan yang berbeda. “Karena itu muncul istilah agama keluarga,” ungkap Muridan.


Dijelaskan Muridan, meski di wilayah Kaimana terdapat dua Kerajaan Islam yakni Kerajaan Sran Eman Muun (Kerajaan Sran Kaimana) dan Kerajaan Namatota namun tidak serta merta Islam menjadi kepercayaan dominan penduduk setempat.


Menurut Muridan, Raja pada dua kerajaan ini tidak memiliki pengaruh yang efektif dalam penyebaran Islam karena belum mengalami pelembagaan dan hanya sebatas identitas nominal.


“Pelembagaan Agama Islam baru berlangsung sekitar tahun 1950-an bersamaan pendirian institusi pendidikan seperti madrasah. Itu pun mati-hidup,” kata Muridan yang pernah meneliti tentang Penyebaran Islam di Maluku dan Papua.


Berbeda dengan penyebaran agama Kristen yang masuk bersama Belanda di awal abad XX, khususnya melalui pendidikan. Kondisi masyarakat yang pragmatis pada saat itu, dan karena Pemerintah Belanda memberikan pelayanan pendidikan, kesehatan, mengakibatkan agama Kristen juga menyebar luas.


Namun adanya perbedaan yang sudah berlangsung lama di Kaimana, justru melahirkan toleransi di antara warga penganut keyakinan berbeda, karena masih kuatnya kekerabatan penduduk asli.


Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Kaimana, Muhamad Lakotani juga mengakui kuatnya toleransi antarumat beragama di Kaimana khususnya warga asli karena masih kentalnya rasa kekeluargaan.


“Misalnya marga Warfete ada yang Muslim ada juga Kristen, dan yang seperti ini banyak di Kaimana. Kalau ditarik ke atas mereka masih keluarga. Faktor perkawinan juga mempengaruhi kemajemukan ini,” kata Lakotani yang juga ketua Majelis Muslim Papua.


Menurut Lakotani toleransi umat beragama di Kaimana bisa terlihat pada saat perayaan hari besar keagamaan ataupun hajatan tertentu. Lakotani mencontohkan kepanitiaan MTQ ke-4 yang diadakan di Kaimana tahun 2012 lalu.


“Panitianya tak hanya umat Muslim tapi juga dari Kristiani. Bahkan yang menyanyikan mars MTQ adalah tim Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Kabupaten Kaimana,” ungkap Lakotani.


Toleransi yang tumbuh di Kaimana, menurut Lakotani, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dan sudah berlangsung sangat lama. Meski sempat beberapa kali dilanda isu SARA, akibat gesekan di tengah masyarakat, namun dapat dengan cepat diatasi karena semua pihak sadar untuk menjaga toleransi.


Komunikasi antarpimpinan umat beragama di Kaimana, menurut Lakotani, berjalan sangat baik melalui Forum Komunikasi yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Kaimana. Namun, sebelum forum itu terbentuk komunikasi antarpimpinan umat beragama, tokoh adat dan tokoh masyarakat juga sudah berlangsung secara informal sejak dulu sebelum Kabupaten Kaimana dimekarkan dari Kabupaten Fak-Fak. 


<!–


  • Sebelumnya

  • Halaman 1/3

  • Selanjutnya

–>






































Article source: http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/02/163205/Obama-dan-Dunia-Islam/7


Toleransi di Kaimana Lahir dari Pandangan Agama Keluarga

Friday, December 13, 2013

Polri: Pengamanan Natal Diprioritaskan di 14 Polda

KAMTIBMAS
Polri: Pengamanan Natal
Diprioritaskan di 14 Polda

Sabtu, 14 Desember 2013


JAKARTA (Suara Karya): Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Badrodin Haiti mengatakan, ada 14 kepolisian daerah (polda) yang masuk dalam prioritas utama dalam pengamanan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.


Nanti ada dua daerah prioritas, prioritas pertama adalah daerah-daerah yang perayaan Natalnya cukup banyak ada sekitar 14 polda, kata Badroddin di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.

Jenderal bintang tiga ini menjelaskan, pembagian daerah cakupan pengamanan menjadi dua, yakni Prioritas Satu dan Prioritas Dua, didasarkan pada aspek kewilayahan.

Daerah yang diprioritaskan di antaranya DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Pengamanan dilakukan dengan mendirikan pos pengamanan yang juga menempatkan personel. Mulainya tanggal 23 Desember, ujarnya.

Ia juga menampik adanya ancaman serangan bom aksi terorisme, dan meyakinkan bahwa kepolisian melakukan antisipasi secara menyeluruh.

Kan yang kita amankan tidak hanya tempat-tempat yang ada gereja, tetapi juga tempat lain yang ada pusat keramaian, pelabuhan, vihara, semua tempat kita amankan, ujarnya.

Lebih lanjut Badrodin mengatakan, persiapan pengamanan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 masih akan dibicarakan dengan Asisten Operasional (Asops) Polri pada 17-18 Desember 2013.

Adapun operasi pengamanan dan pelayanan dalam rangka perayaan Natal rencananya akan berlangsung pada 23 Desember 2013-6 Januari 2014.

Nanti pengamanan Natal itu tidak hanya polisi saja, tetapi juga mendapat pengamanan dari instansi lain, misalnya dari masalah cuaca saat Natal dan Tahun Baru, persediaan lain seperti logistik, dan sebagainya, katanya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta aparat keamanan mempersiapkan pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru 2014 agar masyarakat dapat beribadah dengan aman dan tenteram.

Saya ingin perayaan agama apa pun, baik itu dilakukan oleh umat Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, semua harus dijamin keamanannya agar mereka bisa menjalankan ibadahnya dengan aman, tenteram, dan penuh kebahagiaan, kata Presiden di Jakarta, Kamis.

Berbicara di Bandara Halim Perdanakusuma sebelum bertolak menuju Tokyo untuk menghadiri Pertemuan Puncak ASEAN-Jepang, Presiden juga mengingatkan aparat keamanan untuk mewaspadai kemungkinan adanya pihak yang memanfaatkan perayaan Natal dan Tahun Baru untuk tujuan tidak baik.

Saya telah menerima laporan dari Kapolri tentang adanya elemen-elemen yang merancang gangguan keamanan dan ketertiban di tempat-tempat tertentu, katanya merujuk gangguan keamanan yang disebut seolah-olah berkaitan dengan pemilihan umum.

(Antara/Dwi Putro AA)

Article source: http://hot.detik.com/read/2013/11/28/142542/2426386/230/ketua-mui-cinta-ada-batasnya-jangan-karena-cinta-jadi-murtad?991104topnews


Polri: Pengamanan Natal Diprioritaskan di 14 Polda

Sunday, January 5, 2014

Islam Bertahan di Kolombia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rosita Budi Suryaningsih


Para imigran Muslim bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera.

Kolombia terkenal sebagai negara berkembang yang banyak terjadi kriminalitas. Adanya kartel narkoba yang besar dan terpelihara hingga kini memperburuk kondisi negara yang berada di Amerika Selatan ini.


Namun, di antara hiruk pikuk kehidupan warganya, ada eksistensi dari umat Muslim yang selalu berusaha untuk menunaikan semua ibadahnya, hidup dengan damai, dan terus berdakwah.


Awal mula Muslim yang tinggal di wilayah ini adalah para imigran yang berasal dari negara-negara Timur Tengah sekitar akhir abad ke-19.


Kemudian, disusul para imigran yang berasal dari Asia Selatan dan kini juga banyak warga lokal yang tertarik menjadi mualaf.


Ada tiga hal yang mendorong lahirnya komunitas Muslim di negara yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa pengantar ini. Pertama, periode setelah konflik politik di negara-negara Timur Tengah.


Kedua, jatuhnya Kekaisaran Ottoman yang mendorong minoritas Arab ke tanah Amerika. Ketiga, migrasi warga Palestina setelah perang dunia kedua dan setelah penciptaan Negara Israel pada 1948 serta migrasi warga Lebanon sekitar 1960-an.


Kolombia memiliki populasi Muslim sebanyak 86 ribu jiwa yang berarti mencakup 0,2 persen dari total penduduk yang berjumlah sekitar 42 juta orang. Kebanyakan Muslim Kolombia adalah orang Lebanon, Suriah, dan Palestina.


Mereka datang ke Kolombia sekitar 1880 hingga 1960. Mereka datang karena perang yang terjadi di Timur Tengah dan mencari kehidupan yang lebih baik lagi dibandingkan tempat asal mereka.


Kebanyakan, para imigran pertama tampak sebagai Muslim yang taat dibandingkan dengan generasi kedua dan ketiganya. Muslim generasi pertama sebagian besar masih berbicara dalam bahasa Arab antara satu dengan yang lain.


Dari tulisan Diego Castellanos yang berjudul Islam in Colombia: Between Assimilation and Exclusion, dijelaskan kehidupan Muslim di Kolombia sangatlah kompleks. Karena, budaya masyarakat lokal masih sangat kuat, tulisnya.


Muslim menjadi kaum minoritas di negara ini. Dan, melihat apa yang terjadi dalam kesehariannya, tidak terjadi proses asimilasi yang signifikan antara Islam dengan budaya masyarakat setempat. Warga asli menolak adanya proses asimilasi dengan Islam.


Tapi, justru karena inilah Islam malah bisa bertahan sesuai aslinya, berbeda dengan kedatangan agama lain, seperti Kristen Pantekosta yang mendaur ulang formasi praktik-praktik leluhur masyarakat asli Kolombia.


Kehadiran komunitas Muslim yang sudah selama 40 tahun ini menjaga eksistensinya justru memperlihatkan bahwa agama inilah yang paling luhur di antara yang lainnya, tulis Diego.


Para imigran Muslim ini justru bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan hidup sejahtera lebih layak dibandingkan warga lainnya. Ini membuat orang-orang Muslim di Kolombia, disegani.


Padahal, fasilitas, sarana, serta gaya hidup warga Kolombia sangat tidak mendukung pada eksistensi komunitas Muslim. Karena, gaya hidup warganya yang sangat menyimpang dengan ajaran Islam membuat asimilasi Islam dan budaya setempat sulit tercapai. Ini membuat penyebaran Islam mengalami hambatan yang sangat besar.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tersendat, komunitas Muslim tetap ada di sejumlah besar Kota Kolumbia. Akhir-akhir ini, terjadi fenomena yang begitu menggembirakan.


Banyak warga setempat yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam. Ini membuat jumlah jamaah di masjid-masjid di Kolombia semakin bertambah banyak. Juga, berbagai lembaga sosial Islam yang punya banyak anggota baru.


Salah satu yang menjadi alasan kuat mengapa banyak orang Kolombia memutuskan masuk Islam karena menurut mereka, berdasarkan logika Islam menawarkan sebuah kehidupan religius yang dibangun berdasarkan ketuhanan Esa dan kepercayaan adanya Tuhan di sepanjang hidupnya.


Muslim di Kolombia bisa mengembangkan karakter yang universal yang memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang bisa dipeluk oleh ras, etnis, ataupun warga negara manapun, jelasnya.


Satu hal lagi yang membuat jumlah mualaf semakin banyak di Kolombia adalah karena jalur perkawinan. Orang-orang Muslim di sana hanya mau menikahi orang Muslim juga. Ini membuat warga setempat yang jatuh cinta pada pemuda Muslim, akhirnya berani untuk masuk Islam.


Beberapa tahun terakhir Muslim Kolombia semakin terbuka untuk memperlihatkan identitas mereka, apalagi Pemerintah Kolombia tidak lagi menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara.


Para perempuan yang mengenakan jilbab dan laki-laki menggunakan baju khas masyarakat Timur Tengah semakin banyak terlihat di jalan-jalan Kolombia.


Populasi Muslim Kolombia terbanyak berada di Kota Maicao, bagian dari wilayah La Guajira. Di sinilah masjid termegah se-Amerika Selatan, Omar Ibnu al Khattab, yang didirikan pada 1987 berada.


Populasi Muslim di sini diperkirakan sekitar 8.000 orang. Sayangnya, di kota ini terjadi banyak aksi kriminalitas, seperti penyelundupan, baik rokok, barang-barang elektronik, narkoba, senjata, hingga pencucian uang, sama seperti kota-kota lain di Kolombia.


Article source: http://sidomi.com/224403/rowan-atkinson-masuk-islam-mr-bean-muslim/


Islam Bertahan di Kolombia

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Wednesday, June 26, 2013

Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Home Gazw Al-Fikr



Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi





 

Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?”



 




Rabu, 26 Juni 2013


Oleh: Kholili Hasib


PROGAM Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (25/06/2013) bertajuk “Syiah Diusir, Negara Kemana?” meninggalkan banyak catatan. Pertama, tema “Syiah Diusir, Negara Kemana”  telah menunjukkan TV One berada dalam posisi kelompok Syiah. Kedua, tak adanya banyak perwakillan Sunni yang sejak lama keberatan ulah Syiah yang dinilai menyakiti perasaannya (baca; mayoritas NU). Karenanya, agak aneh saja jika acara ini justru dirasakan menjadi ajang pembelaan tokoh-tokoh Syiah. Sementara perasaan dan hak kaum mayoritas (Sunni-NU) justru diabaikan.


Fokus Persoalan


Sudut pandang menilai kasus Syiah di Sampang harus terfokus pada akar persoalan. Bahwa kasus ini murni karena dipicu dakwah pelecehan Shahabat Nabi. M. Nur, mantan pengikut Tajul Muluk –pemimpin Syiah Sampang– memberi kesaksian, “Sejak 2008 Tajul mulai menyampaikan khutbah Jumat bahwa rukun Islam ada 8, rukun iman ada 5, khalifah Nabi Muhammad bukan Abu Bakar, Abu Bakar dikatakan merampok dari Ali”. Demikian seperti dalam release laporan tim BASRA (Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura) yang pernah berdialog dengan Tajul Muluk.


Berkaitan dengan itu, PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur pada Oktober 2012 mengirim peneliti yaitu HM. Shiddiq Abdurrahman untuk investigasi lapangan. Hasil investigasi PWNU di antaranya menyimpulkan bahwa ada indikasi kuat kejadian bentrokan telah disekenario sejak awal oleh Syiah. Menurut laporan PWNU yang dimuat majalah AULA edisi Oktober 2012, bahwa sekenario bentrok telah dipersiapkan di kota Malang. Mereka melanggar kesepakatan bahwa anak-anak Syiah mau dibina di pesantren Ahlus Sunnah, agar mereka tidak terjerak ajaran sesat. Berikut sebagian hasil investigasi PWNU Jawa Timur:
“Kala itu terjadi perdebatan sengit ketika ada rombongan anak-anak Syiah yang mau balik pondok. Para santri mempertanyakan keseriusan Pemkab Sampang untuk memondokkan mereka. Demikian juga mereka menolak tidak berangkat ke Bangil lantaran terikat aturan pesantren yang mengharuskan para santri untuk segera ke pondok. Pada saat bersamaan, penduduk bersikukuh untuk melarang rombongan meneruskan perjalanan lantaran sudah terikat kesepakatan bahwa anak-anak tersebut akan modok di pesantren Ahlus Sunnah bukan Syiah dengan biaya Pemkab.


Para penduduk yang awalnya mencegat, ikut mengawal minibus yang membawa anak-anak Syiah tersebut karena khawatir rombongan hanya pura-pura pulang, namun tetap berusaha berangkat dengan cara diam-diam. Saat akan memasuki kediaman Tajul inilah, ada seseorang Syiah yang membuat garis di jalan sambil mengingatkan dengan suara keras: “Polisi dan para penguntit dilarang masuk. Kalau sampai melewati garis, akan mati”.


Dari arah pesantren Tajul Muluk, ternyata ada sekelompok orang berseragam serba hitam dengan senjata tajam terhunus di tangan. Dan benar adanya, begitu ada penduduk yang melewati garis, ternyata terjadi ledakan dan beberapa benda keras beterbangan. Sebagian penduduk terluka, termasuk dalam hal ini Kapolsek Omben. Suasana pun berubah liar, kedua belah pihak saling lempar batu.


Dengan siap siaganya beberapa orang yang bereseragam hitam dan menghunus senjata tajam, serta adanya bahan peledak di area kediaman Tajul Muluk, kuat indikasi bahwa kejadian tersebut sudah disekenariokan sejak awal. Bahkan ada kabar bahwa kondisi ini sudah dimusyawarahkan di Malang, meskipun kebenarannya perlu diungkap.


Para penduduk yang sejak awal memang tidak mempersiapkan diri untuk bertarung akhirnya terdesak. Terpaksa mereka mundur ke perkampungan, menghindar serangan warga Syiah. Dalam situasi terdesak, ada sebagian penduduk menggunakan pengeras suara milik Masjid.


Dari speaker disampaikan kesediaan masyarakat sekitar untuk membantuk menghadapi serangan pengikut Tajul Muluk. Gayung pun bersambut. Terjadilah saling serang antar dua kubu”.


Dari laporan tersebut, sesungguhnya ada pelanggaran kesepakatan dari pihak Syiah. Jika saja, pengikut Tajul Muluk memenuhi kesepakatan dan menerima persyaratan damai dengan cara tidak akan menyebarkan ajaran pelecehan, pasti tidak akan terjadi bentrok.


Dari hasil kajian, beberapa pihak terkait melakukan upaya-upaya penyelesaian. MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim mencegah aliran Syiah dengan upaya edukatif, menerbitkan fatwa tentang Syiah. Surat fatwa bernomor 01/SKF-MUI/JTM/I/2012 berisi kesesatan ajaran Syiah. Sementara Gubernur Jatim menerbitkan Peraturan Gubernur No. 55 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.


Baik fatwa maupun Pergub Jatim diterbitkan untuk mencegah umat Islam Jatim melakukan tindakan tercela yang bisa memicu chaos. Upaya edukatif ini berusaha mewujudkan umat yang beradab, memahami etika beragama dan bermu’amalah antar sesama. Bahwa tindakan menghina ajaran lain bisa memantik konflik sosial. Dengan diterbitkannya dua surat keputusan tersebut, diharapkan di Sampang maupun di daerah-daerah lain tidak adalagi umat yang terinfiltrasi ajaran-ajaran ‘aneh’ dengan menghina Sahabat Nabi, istri Nabi dan lain-lain.


Pembinaan Penganut Agama


Berdasarkan hal itu, Pemkot Sampang pun berjanji membiayai anak-anak Syiah untuk mengirim ke pondok pesantren Ahlus Sunnah. Pencegahan dini harus dilakukan. Sebab, jika anak-anak tersebut dibiarkan jadi menganut ajaran penistaan terhadap Sahabat, maka Sampang akan terus membara lagi kelak.


Upaya-upaya aparatur pemerintah, ulama dan pihak keamanan harus didukung. Solusi mereka menyentuh akar utama penyebab konflik. Bahwa, penistaan terhadap Sahabat dan Istri Nabi yang dilakukan secara publik yang menjadi sebab bentrok. Menutupi akar utama, apalagi memotongnya justru akan memelihara konflik menjadi lebih besar lagi.


Yang harus kita cerna baik-baik, bahwa kekerasan membabi buta adalah kriminil tapi bukan berarti Islam tidak memiliki sikap tegas terhadap  penistaan agama. Terhadap aliran sesat, Islam memiliki aturan yang adil. Memang ada perintah bersikap ramah namun diperintah pula bersikap tegas. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah merobohkan masjid Dhirar yang dibangun oleh Abu ‘Amir Ar-Rahib.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus bertindak tegas, sebab masjid Dhirar dibangun dengan tujuan untuk menghasut umat Islam, membela kaum kafir dan berefek memecah belah para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.


Peristiwa itu direkam dalam al-Qur’an: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. al-Taubah: 107-108).


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin membiarkan penyimpangan itu yang bisa mamantik perpecahan umat Islam. Pertimbangannya dua hal penting; Abu ‘Amir Ar-Rahib berpotensi melakukan penyesatan massal dan memancing permusuhan.


Yahudi bani Quinuqa’ dan bani Nadzir pernah diusir oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah. Gara-garanya, mereka mengkhianati perjanjian. Bahkan, beberapa orang Yahudi dari bani Quraidzah dieksekusi karena ganasnya mereka memusuhi dan mengancam fisik para sahabat. Kecuali wanita dan anak-anak, mereka dilindungi dan diperlakukan dengan lembut (Sirah Ibn Hisyam jilid 3).


Berbuat baik dan bersikap bijak terhadap non-muslim atau  penganut kepercayaan yang berbeda, tidak menghalangi Islam untuk berdakwah. Mereka tetap disebut dakwah Islam, tapi bukan bersifat memaksa. Namun tidak ada kompromi terhadap penyimpangan agama, penistaan atau pencampur adukkan agama atas nama toleransi. Jika ada penyimpangan dan penistaan – yang bisa memancing konflik sosial – Islam segera mencegahnya, tidak boleh dibiarkan.


Dalam konteks Negara Indonesia, ajaran-ajaran ekstrim Syiah yang melecehkan Shahabat serta gerak dakwah politik Syiah harus jadi catatan pemerintah. Perlu ada penelusuruan lebih dalam lagi. Apalagi terdapat laporan tentang sayap militant Syiah. H. As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU, pernah mengatakan bahwa terdapat jaringan militansi Syiah. Dalam tulisannya berjudul “Gerakan Syiah di Indonesia”, di www.nuonline.com pada 30/5/2011, As’ad berpendapat bahwa terdapat jaringan yang berupaya membuat lembaga bernama Marja’iyyat al-Taqlidi seperti di Iran. Pemicunya adalah, doktrin kemutlakan imamah berdasarkan politik.


Maka dapat disimpulkan bahwa ajaran pelecehan terhadap kesucian agama-lah yang sesungguhnya memicu konflik sosial. Ajaran seperti ini jika dibiarkan memperkeruh keamanan masyarakat, karena penodaan agama hakikatnya melanggar Hak Asasi Manusia. Pelecehan terhadap agama hakikatnya pelecehan terhadap hak manusia. Sebab, hak manusia yang paling asasi adalah hak untuk menjaga agamanya. Jika kesucian agama dihujat, maka telah terjadi pelanggaran hak asasi yang berat. Pelecehan agama bukan domain toleransi lagi, sebab toleransi adalah menghormati tanpa mencaci-maki. Jika konsep toleransi ‘dibumbui’ caci maki Shahabat, maka ini toleransi yang ilusi alias rancu.*


Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya


Red: Cholis Akbar


Article source: http://news.liputan6.com/read/622779/komnas-ham-cuek-soal-tebus-ijazah-anak-bapak-mantap-jual-ginjal


Menelisik Kasus Syiah Sampang dan Kerancuan Toleransi

Monday, April 15, 2013

Sidak DPRD Solo: Ada Soal UN yang Rusak

<!––>




dok.timlo.net/daryono


Solo –  Hasil inspeksi mendadak (Sidak) Komisi IV DPRD Solo terkait pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA/SMK hari pertama, Senin (15/4) di sejumlah sekolah, rata-rata berjalan baik. Hanya ada beberapa soal rusak yang kemudian diganti dengan soal cadangan yang tersedia.


Rombongan Sidak Komisi IV dibagi dalam dua tim. Tim satu memantau sekolah-sekolah di Solo utara yang dipimpin Sekretaris Komisi IV Abdul Ghofar Ismail. Sementara tim dua dipimpin Ketua Komisi IV Teguh Prakosa yang memantau sekolah-sekolah di Solo selatan.


Sidak Komisi IV tim dua dimulai dengan memantau pelaksanaan UN di SMK N 3 Surakarta. Di sekolah itu sebanyak 335 siswa mengikuti UN secara penuh. ” Masuk semua, 335 siswa yang terbagi dalam 18 ruang dimana satu ruang 20 siswa,” ujar Kepala SMK N 3 Solo, Sri Haryanti kepada rombongan Komisi IV, Senin (15/4).


Selanjutnya, Komisi IV melanjutkan sidaknya ke SMK Kasatriyan, SMA MTA, SMK Muhammadiyah 1, SMA Al Islam dan SMK Kristen 1. Dalam pantauan tersebut, di SMK Kasatriyan dilaporkan adanya kerusakan soal. “Ada laporan soal rusak tetapi sudah diganti dengan cadangan. Jumlahnya berapa belum diketahui, tetapi ada laporan itu dari pengawas,” kata Kepala SMK Kasatriyan, Drs Danang Giyarso MSi.


Selain itu, kerusakan soal juga ditemukan di SMA MTA. Kerusakan berupa adanya satu soal yang rusak karena garis tengah. Namun seperti sekolah yang sebelumnya, kerusakan dicukupi dengan adanya cadangan.


Ketua Komisi IV DPRD Solo Teguh Prakosa menyatakan secara umum pelaksanaan UN berjalan dengan baik. “Kondisinya aman dan tidak ada temuan signifikan. Harapannya ini mencerminkan pelaksanaan UN sekolah-sekolah lainnya,” tandasnya.



<!–Dikirim melalui Timlo.Net – Portal Informasi Solo–>


 
 

 
 
 

<!––>


Berita Terkait




Tinggalkan Balasan Batalkan balasan




Article source: http://surabaya.detik.com/read/2013/04/14/215739/2219926/475/lima-anggota-fpi-diamankan-terkait-sweeping-toko-waralaba-di-pasuruan


Sidak DPRD Solo: Ada Soal UN yang Rusak

Saturday, February 16, 2013

"Dalam Politik Semua Mungkin Terjadi"


GAYA kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) yang sering turun langsung ke lapangan di Jakarta membuat masyarakat senang. Bahkan mereka berharap para pemimpin itu seperti Jokowi. “Pemimpin Jakarta harus memahami lebih detail rakyatnya, dekat dengan rakyat. Karena itu saya mengajak Jokowi masuk ke Jakarta,” kata Jusuf Kalla
 
Menurut Kalla, dirinya mengajak Jokowi ke Jakarta karena kepemimpinan itu harus efektif. Apa yang dilaksanakan Jokowi dapat dinilai orang efektif, bukan pencitraan, apa adanya. “Saya melihat Jokowi seperti itu dan mungkin ada juga orang yang menilai apa yang saya kerjakan juga seperti itu,” katanya.
 
Kepada Arya Sinulingga, Pemimpin Redaksi MNC News, dalam program One on One, Jusuf Kalla menyampaikan alasannya mengajak Jokowi ke Jakarta. Selain itu, Ketua Umum PMI ini juga menyatakan siap memimpin bangsa jika diperlukan. Bahkan dia sudah punya kriteria pendampingnya untuk memimpin negeri ini.
 
Kemarin ada hasil survei yang cukup mengejutkan, popularitas Jokowi dikatakan sudah melampaui Megawati. Hal ini sangat fenomenal, bagaimana Anda melihatnya?
 
Ya. Memang kelihatannya masyarakat sekarang menginginkan pemimpin yang dekat dengan rakyat. Saya kira pendekatan yang dilakukan Jokowi seperti itu, sehingga masyarakat ingin pemimpin seperti itu. Tidak berarti hanya Jokowi yang punya, tapi memang ekspektasi masyarakat kepada Jokowi untuk mengelola Jakarta ini besar.
 
Saya dengar Pak Jusuf Kalla adalah orang pertama yang meminta Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Benarkah itu?
 
Iya, saya melihat seperti itu, tipe itu, yakni pemimpin Jakarta harus memahami lebih detail rakyatnya, dekat dengan rakyat. Dia tidak hanya memiliki image yang tinggi. Karena itu saya mengajak Jokowi masuk ke Jakarta.
 
Saya melihat ada kemiripan antara Anda dan Jokowi. Apa adanya, langsung-langsung saja, apa yang dilihat langsung disikapi. Saya sempat terpikir Pak Jokowi ini tipe mudanya seorang Jusuf Kalla.
 
Masyarakat menilai itu. Mungkin karena saya menganggap kepemimpinan itu harus efektif. Bagi saya apa yang dilaksanakan Jokowi dan apa yang saya laksanakan dapat dinilai orang efektif. Bukan pencitraan, apa adanya. Saya melihat Jokowi seperti itu dan mungkin ada juga orang yang menilai apa yang saya kerjakan juga seperti itu. Tapi saya mengajak Pak Jokowi itu karena melihat kepemimpinannya yang efektif.
 
Pada 2009 yang lalu, Anda maju dengan gaya yang sama seperti Jokowi. Tapi pada masa itu masyarakat belum seperti sekarang. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Sebenarnya dalam pemilihan itu kan tergantung lawannya siapa. Waktu zaman saya, pemerintah dianggap berhasil. Saya sama-sama Pak SBY, karena dinilai berhasil ya orang melihat ke Pak SBY. Lalu menilai baiknya SBY melanjutkan.
 
Itu mungkin berbeda dengan Gubernur Jakarta sebelumnya. Banyak permasalahan seperti banjir dan macet sehingga membuat orang ingin suatu perubahan. Justru pada zaman saya, orang hanya ingin perbaikan, belum perubahan seperti sekarang ini.
 
Anda banyak melakukan perubahan itu. Salah satu contohnya di PMI. Orang melihat PMI dulu terkesan birokratif dan jauh dari pelayanan. Tapi semenjak Anda masuk, banyak perubahan terjadi. Apa yang Anda terapkan sampai terjadi perubahan seperti itu?
 
Saya cuma melihat tujuan PMI itu untuk melayani masyarakat. Dalam melayani masyarakat itu kan seringkali darurat, maka harus cepat. Sebaik mungkin tapi cepat. Inilah yang mengubah hal-hal yang lama, jadi berkualitas dan cepat.
 
Inilah yang sering dilihat orang. PMI yang dulu hanya donor darah, sekarang menjadi terdepan bila terjadi bencana.
 
Sebenarnya sejak dulu juga begitu, hanya mungkin belum terlalu besar effort-nya. Masih lambat, terlalu menunggu perintah dan sebagainya. Nah, dengan kualitas dan kecepatannya akan memberikan hasil yang baik.
 
Banyak juga konflik di negara ini dan Anda yang menyelesaikan. Misalnya Poso dan Aceh yang bertahun-tahun bergolak, Anda yang menyelesaikan. Bagaimana sejarahnya sampai Anda menjadi penyelesai konflik di Indonesia ini?
 
Saat itu saya di pemerintahan, dan masalahnya itu dapat selesai dengan dialog.
 
Apakah hanya dengan dialog?
 
Ya dengan konsesi tertentu pastinya. Tapi ya sekarang itu sudah menjadi bagian dari sejarah.
 
Kita ingat betul yang mendamaikan Aceh itu JK, tapi yang mengambil keuntungan dari itu adalah Pak SBY. Bagaimana Anda melihat ini?
 
Saya tidak pernah berpikir bila melakukan sesuatu hanya untuk manfaat pribadi, biar masyarakat yang menikmati. Dan bila kemarin suara saya itu hanya 4 persen, ya itu kan politik, hehehe.
 
Anda tidak terkejut dengan angka Anda saat itu?
 
Sangat terkejut.
 
Anda melihat tertangkapnya Presiden PKS hanya permainan politik?
 
Ya kalau kita dengar prosesnya kan tangkap tangan, karena itu lebih cepat. Tapi saya yakin KPK juga lebih profesional. Kemarin kita dengar kan penyidiknya banyak yang diambil, jadinya lebih lambat.
 
Masalah impor sapi ini, orang hanya melihat korupsinya saja. Padahal di negeri kita ini daging sapi menjadi termahal di dunia. Bagaimana Anda melihat hal itu?
 
Ya, efek kasus impor sapi ini luar biasa. Dibutuhkan perubahan kebijakan pemerintah yang betul-betul tepat. Sapi ini kan makanan pokok, daging itu makanan pokok, mahal itu merugikan masyarakat, dosa itu. Apalagi mahal karena korupsi, lebih salah lagi kan. Ada juga masalah bagi orang Islam yang berdampak sangat berbahaya. Akibat mahal, banyak orang yang makan babi. Iya kan? Karena mahal, daging sapi dicampur dengan daging babi. Siapa yang berdosa, ya yang membuat kebijakan ini.
 
Apakah Pemerintahan SBY tidak melihat ini menjadi kesalahannya?
 
Harusnya otomatis, pemerintah harus ikut bertanggung jawab. Yang ini bagian dari kebijakan umum. Dulu saat saya di pemerintahan sudah ada perencanaannya, yakni membuat kredit murah untuk para peternak. Itu sudah dimulai, tapi sekarang balik lagi. Kebijakan impor yang terlalu cepat membuat harga naik lagi. Sayang sekali.
 
Banyak masyarakat melihat, tanpa pemerintah pun pertumbuhan ekonomi ini dapat berjalan. Bagaimana Anda melihat kinerja pemerintah ini?
 
Ya tentu kita tidak bisa mengatakan pemerintah itu tidak punya prestasi. Pertumbuhan ekonomi kita tetap tumbuh dengan baik. Walaupun ada risiko akibat defisit dan subsidi yang terlalu tinggi. Kita akan menjadi negara sosialis terbesar di dunia apabila 30 persen dari anggaran kita itu subsidi, dan itu sangat berbahaya.
 
Pemerintah mengatakan subsidi harus dihentikan, tapi masalah konversi energi tidak juga dilakukan. Anda dulu pernah membuat satu gerakan besar konversi energi, bagaimana Anda mendapatkan ide ini?
 
Waktu itu kita punya konsumsi minyak tanah 11 juta kiloliter per tahun, subsidinya bisa Rp60 triliun per tahun. Kita cari cara bagaimana agar subsidi hilang, tapi tidak memberatkan masyarakat. Agar masyarakat mendapatkan yang lebih bersih, murah, cepat, dan sebagainya. Nah, cara awalnya dengan fokus dan menghitungnya dengan betul. Lalu memberikan tanggung jawab pada tim kecil di Pertamina dan antar-departemen tapi memiliki wewenang yang baik untuk melakukannya.
 
Perencanaannya hanya tiga bulan dan langsung dilakukan. Dalam tiga tahun kita selesai dan langsung melupakan minyak tanah. Nah, sekarang pemerintah ingin mengonversi mobil, memang tidak mudah. Kita harus ganti mobilnya, butuh biaya lebih dan memang cukup lama. Tapi yang sangat penting siapkan dulu infrastrukturnya. Bila tidak ada tempat pengisian gas, bagaimana mau melangkah ke konversi.
 
Masalahnya pemerintah ini membuat perencanaan itu untuk pencitraan saja, sehingga takut menaikkan harga BBM. Ya sebenarnya menaikkan BBM itu pekerjaan yang mudah. Lihat dulu yang kita takutkan dari faktor minyak tanah, sekarang sudah tidak lagi.
 
Jadi benar bila dikatakan ini hanya pencitraan daripada penyelesaian masalah?
 
Tidak pencitraan juga sebenarnya. Akibatnya juga orang marah, lihat saja bila jalan berlubang, sekolah tidak diperbaiki, itu akan menjadi pencitraan terbalik ya, negatif juga. Tapi kalau ada uang subsidi dikurangi dan diganti untuk membangun infrastruktur, pastinya citra itu akan lebih baik.
 
Anda memiliki begitu banyak ide, mulai dari perdamaian, konversi energi, hingga birokrasi. Banyak langkah yang Anda lakukan, apa yang dilakukan Jokowi pun sebenarnya sudah Anda lakukan. Kini masyarakat rindu dengan gaya Anda ini. Mungkinkah Anda maju kembali untuk memimpin negeri ini?
 
Ya dalam politik semua mungkin terjadi walaupun harus melalui syarat-syarat, ketentuan, dan politik. Dan itu kan harus didukung oleh partai, tidak semua orang bisa memenuhi itu. Tapi selalu saya katakan seperti ini, saya tidak mencari jabatan, namun bila diharapkan pasti siap. Pengalaman saya, Indonesia bukan bangsa yang susah diatur, kita punya potensi yang luar biasa sekali.
 
Bila Anda menjadi calon presiden, siapa pesaing kuat Anda nanti?
 
Hahaha. Saya tidak bisa melihat, kita belum tahu struktur yang akan datang. Belum bisa memprediksi siapa yang akan ikut nanti. Mengira-ngira boleh, tapi belum terlihat.
 
Bila Anda jadi presiden nanti, kira-kira pasangan Anda siapa?
 
Hahaha, saya belum memikirkan orang. Tetapi kalau kriteria pasangan itu harus selalu terbalik dengan presidennya, Jawa-luar Jawa, harus kombinasi. Di mana pun terjadi, di mana-mana harus melengkapi, saling mengisi dengan tujuan untuk Indonesia.

(//ful)

Article source: http://regional.kompas.com/read/2012/11/28/14581286/Demo.Kritisi.Pendidikan.di.NTB.Berakhir.Ricuh


"Dalam Politik Semua Mungkin Terjadi"

Thursday, September 26, 2013

Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

— Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Gatot S. Dewa Broto kepada VOA mengaku belum mendapat laporan soal peredaran buku-buku berpaham radikal melalui dunia maya.


“Kalo yang muncul di scribd.com itu kami belum mengetahui. Kami butuh bantuan dari siapapun tidak hanya dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau dari Mabes Polri, masyarakat bisa melaporkannya kepada kami melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id. Pengiriman melalui email ini dimaksudkan untuk memudahkan. url nya kan lengkap. Tinggal klik. Nanti kami verifikasi,” kata Gatot S. Dewa Broto.



Gatot menambahkan, Kementrian Kominfo mempunyai keterbatasan untuk memantau seluruh materi yang ada di web site. Untuk itu, perlu adanya partisipasi masyarakat agar secara pro aktif melaporkan hal ini ke Kementrian Kominfo. Sejak 2010 hingga 2011 Kementrian Kominfo telah melakukan penghapusan situs-situs yang masuk kategori radikal. 



“Sudah sudah cukup banyak. Tapi tidak seperti pada 2010 – 2011 yang mencapai sekitar 200an situs radikal yang kami tutup. Kalau sekarang ini di 2012 sampai 2013 naik turun,” kata Gatot. “Belum lama ini pun ada pengaduan terhadap situs yang disitu memuat metode cara penggunaan bom. Kalo penggunaan bom mungkin bisa juga untuk keperluan pertambangan dan lain sebagainya. Cuma yang jadi persoalan disitu ada embel-embel untuk radikalisme. Sehingga dalam hitungan berapa jam sudah bisa kita tutup,” lanjutnya.



Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie memastikan Polri terus berupaya untuk mengungkap aksi propaganda kelompok teror melalui internet. Polri tambah Ronny juga telah berkoordinasi dengan BNPT untuk menangkap para pelaku.



Sementara itu, Kepala BNPT, Ansyaad Mbay mengatakan selain situs internet, kelompok teroris di Indonesia sudah mulai merambah jejaring sosial seperti twitter dan facebook untuk menyebarkan aktifitas mereka.



“Iya mereka belajar bikin bom juga ‘ga usah ke hutan. Lewat internet saja melalui situs-situs berpaham radikal. Termasuk di facebook twitter juga yang mulai dirambah oleh mereka,” jelas Ansyaad Mbay.



Pengamat teroris Al Chaidar memastikan penyebaran paham radikal memang sangat efektif dilakukan di dunia maya. Forum Islam al Busyro menurutnya yang paling aktif menyebarkan paham radikal melalui internet.



“Sangat efektif itu. mereka kan sekarang menyebar secara lebih massif. Jadi mereka cenderung untuk tidak melakukan pertemuan fisik. Dan internet adalah jalur yang paling aman,” kata Al Chaidar. “Memang ada itu pengajian Forum Islam al Busyro. Mereka sangat aktif menyebarkan informasi atau hasil-hasil kajian atau fatwa dari ulama-ulama mereka. Saya sudah mendownload Perang Gerilya Kota dan saya lihat memang adalah karateristik dari kelompok-kelompok itu,” lanjutnya.



Sementara itu pengamat intelijen Wawan Purwanto menekankan adanya komunikasi dua arah antar kelompok masyarakat hingga di lapisan terbawah. Sehingga aparat keamanan bisa mendeteksi secara dini munculnya kelompok-kelompok teroris. 



“Sekarang ini di dunia maya ‘kan tidak ada yang memfilter, kecuali itu diblok oleh lembaga yang berwenang seperti Kominfo. Hanya persoalannya kalau toh itu di blok kan mereka bisa mendapat dari sumber-sumber lain,” kata Wawan Purwanto. “Yang utama adalah adanya komunikasi timbale balik yang baik antar elemen yang ada di masyarakat baik yang radikal maupun moderat. Sehingga bisa diketahui mana titik-titik yang berbahaya, mana yang sudah terpengaruh dan mana yang masih abu-abu,” lanjutnya.



Sebuah buku berjudul “Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan” beredar di Internet melalui scribd.com. Dari penelusuran VOA, dokumen itu diunggah oleh seseorang dengan akun Syarief Ramzan Saluev setebal lebih dari 100 halaman. Buku ini berisi anjuran untuk melakukan serangan terhadap obyek vital pemerintah di perkotaan. Selain itu, ada banyak dalil dan ayat Al Quran yang dikutip untuk memberikan pembenaran pada rencana dan aksi teror mereka.



Buku lain yang beredar di internet adalah ‘Kursus Peledakan’ yang ditulis oleh Abu Khabbab al Misri dan diterjemahkan oleh “Forum Islam al-Busyro”. Buku setebal hampir 200-an halaman ini menjelaskan soal tekhnik pembuatan bom baik berskala ledak rendah ataupun yang berdaya ledak besar. Dijelaskan pula dalam buku itu, bahan apa saja yang dibutuhkan serta petunjuk teknis perakitan secara mendetail.



Article source: http://www.jpnn.com/read/2013/06/18/177455/Mualaf-Ahmadiyah-Dijamin-Pusat-


Penyebaran Paham Radikal Melalui Internet Kembali Marak

Monday, December 17, 2012

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

DI BAWAH jepretan kamera para jurnalis, Khalid Misy’al menyungkurkan dahinya ke tanah. Ia bersujud syukur karena setelah sekian tahun lamanya, Ketua Biro Politik HAMAS itu dapat kembali lagi ke tanah Gaza untuk menghadiri peringatan Ulang Tahun Harakah Al-Muqawah Al-Ismaliyyah (Gerakan Perlawan Islam) atau disingkat HAMAS yang ke-25. Walaupun jatuh pada 14 Desember, selebrasinya sudah dilangsungkan pada 8 Desember 2012 lalu.
Selebrasi ini seolah melengkapi momen-momen bersejarah dalam perjalanan HAMAS. Awal bulan ini, Israel terpaksa mengajukan genjatan senjata setelah 8 hari pertempuran antara negara Yahudi itu dengan faksi-faksi perlawanan Palestina, utamanya HAMAS. Memungkas kemenangan, lewat Misy’al, pada 22 November 2012, HAMAS berterimakasih pada Mesir dan Iran.
Ucapan terima kasih ini seolah menguak kebenaran dari desas-desus yang selama ini berkembang, yaitu apakah Iran bermain dalam konflik ini, atau sederhananya apakah Iran mendukung perlawanan HAMAS?
Ketika HAMAS meluncurkan roket Fajr 5 yang memporakporandakan Iron Dome-nya Israel, sebagian kalangan mengklaim roket itu adalah buatan Iran, walaupun hampir mustahil sebuah senjata semisal roket dapat diselundupkan ke Gaza yang dikepung oleh garis yang dikuasai otoritas Israel.
Belakangan muncul kabar bahwa Iran menghentikan bantuan finansialnya ke Hamas dengan jumlah mencapai USD300 juta  atau sekira Rp2,8 triliun (Rp9.624 per USD). Hal ini menunjukan bahwa bantuan itu memang ada. Menurut seorang pejabat HAMAS, Usama Hamdan, penyebab berkurangnya jumlah bantuan itu adalah lantaran HAMAS tidak mengikuti kebijakan Iran yang mendukung rezim Suriah Bashar Asaad.
Sebelumnya, pada Selasa, (20/11/12) ketika konflik 8 hari Israel-Gaza masih berlangsung, Misy’al dalam konferensi persnya di Kairo mengatakan bahwa HAMAS berterimakasih kepada Iran atas bantuan dana dan persenjataannya. Ini bukti bahwa hubungan ini bukan hubungan baru, melainkan sudah terjalin sejak lama. Namun, untuk apa Iran membantu HAMAS? Hal ini membawa kita untuk menelusuri garis kebijakan politik luar negeri Iran sejak revolusi, terutama soal Timur Tengah dan Palestina.
Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah
Setelah revolusi Iran 1979 yang menumbangkan Shah Pahlevi yang pro-Barat, politik luar negeri Iran berubah haluan. Imam Khomeini menggariskan kebijakan tersebut dengan ungkapan, “Laa Syarqiyah wa Laa Gharbiyah”, artinya Tidak Barat dan juga Tidak Timur.
Maksudnya, Republik Islam Iran mesti menjadi blok ideologis tersendiri. Tentu saja term ideologi ini harus kita pahami dalam konteks Islam-Syiah yang menjadi sekte resmi di negara.
Politik tersebut juga berarti tuntutan bagi Iran untuk menjadi kuasa hegemonik di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Iran terus menerus berusaha meraih hati umat Islam sedunia dan bangsa Arab dengan menggunakan semangat anti-Israel. Ini bisa dilihat retorika-retorika Ahmadinejad yang seringkali berapi-api dan froaaaaantal terhadap Israel. Pada 27 Mei 2008, kepada Khalid Misy’al yang mewakili delegasi HAMAS dalam kunjungan ke Teheran, Ahmadinejad mengatakan, “bangsa Iran dan pemerintahnya akan terus mendukung bangsa Palestina.”
Hal ini melengkapi retorika pemimpin-pemimpin Iran yang lain, di antaranya sang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pada hari yang sama, Khamanei mengatakan pada Misy’al, “Hari ini menjadi jelas bahwa rezim Zionis berada pada titik terendah dan tidak dapat menahan kesabaran bangsa Palestina.”
Melengkapi hal itu, pada 1 Oktober 2008, dalam khutbah Idul Fithri ia menyebut Ismail Haniyah sebagai mujahid lalu mengatakan, “bangsa Iran tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Seolah berbalas pantun, Haniyah pada 2 Desember 2008 mengucapkan selamat kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada “Hari Jerusalem International”. Sumber di kantor Ismail Haniyah, telah menegaskan kepada Al-Sharq al-Awsat bahwa ia telah mengirim pesan kepada pemimpin tertinggi revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamene’i, dan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, menandai Hari Internasional Jerusalem, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi mereka, dan menyuarakan harapan untuk berdoa bersama di Yerusalem.
Dukungan moral ini diikuti oleh dukungan materiil. Sepanjang tahun 2008 dilaporkan Iran memasok 120 mm mortir kepada HAMAS, di samping juga menyelundupkan roket dan senjata-senjata lainnya.
Jadi sekilas Iran menjadi “mendua”. Setelah ia menjadikan milisi Syiah itu sebagai “perwakilan resmi” di front perlawanan dengan Israel, sekarang Iran ingin masuk lebih jauh dengan menempatkan sahamnya di dalam batas wilayah Palestina, Gaza, di tengah-tengah pejuang yang lebih berhadapan langsung dengan Israel, faksi-faksi yang merupakan insider.
Namun patut didicatat bahwa laporan-laporan ini sebagiannya berasal dari laporan lembaga intelejen Zionis-Israel, yang entah fakta ataukah dugaan yang disengaja, mencerminkan ketakutan Israel akan aliansi Iran-Fatah, atau bisa juga sebagai upaya Israel untuk menempatkan HAMAS dan Iran pada satu blok musuh untuk menggiring publik dunia, khususnya Amerika, akan bahaya HAMAS. Sebagaimana dimaklumi, Israel giat melakukan monsterisasi Iran. Dan jika HAMAS ditempatkan sepihak dengan Iran, akan lebih mudah melakukan monsterisasi HAMAS, sebagaimana AS melakukan monsterisasi terhadap kelompok Islam yang lain dengan dalih “terkait jaringan al-Qaidah”.
Walaupun pernyataan-pernyataan HAMAS sebagaimana dipaparkan di awal mencerminkan adanya hubungan dengan Iran, di samping juga adanya laporan bahwa Iran juga memberi bantuan dana lewat Damaskus, hal ini tidak membuat gerakan perlawanan itu menjadi kepanjangan tangan Iran. HAMAS sendiri menegaskan bahwa ia independen dari Iran. Pada 3 Desember 2008, deputi Biro Politik HAMAS Abu Marzuq membuat klarifikasi, “Kami telah menjelaskan sikap kami ke Mesir yakni bahwa tidak ada campur tangan Iran dalam urusan Palestina. Hamas adalah gerakan yang paling independen dalam pengambilan keputusan.”
Palestina, Kartu Penting Bagi Iran
Mengapa Iran penting untuk membantu HAMAS? Setidaknya mengumbar retorika yang bernada dukungan terhadap HAMAS dan Palestina? Mengapa Iran tidak cukup puas dengan dukungannya terhadap Hizbullah atau Jihad Islam yang jelas-jelas milisi Syiah?  Ada beberapa indikasi yang dapat kit abaca bersama sebagai tujuan Iran di balik langkah-langkahnya ini;
Pertama, dengan memberi bantuan pada HAMAS, Iran ingin membeli hati rakyat Palestina yang sedang melawan. Kebetulan negara-negara Arab lain tidaklah memberi bantuan yang besar pada Palestina, di samping pemerintah-pemerintah Arab pada umumnya tidak bisa lepas dari kebijakan AS, berbeda dengan Iran yang, karena kebijakan politik dan terutama energi, dapat mandiri dari kepentingan Barat. Untuk apa Iran membeli hati Palestina? Hal ini terkait dengan tujuan kedua.
Kedua, kartu palestina dapat digunakan oleh Iran untuk menguatkan hegemoni di kawasan. Iran sangat menyadari bahwa konflik Arab-Israel menjadi sentra permasalahan Timur Tengah, maka siapapun yang mengendalikan jalannya konflik ini akan menjadi “penguasa kawasan”. Dalam hal ini, rivalitas Iran dengan blok AS-Israel memang betul-betul ada.
Tidak ada keterangan jelas apa motif di balik ambisi Iran mengintervensi Palestina. Apakah ia murni dorongan pembelaan terhadap Muslim dan Arab? Ataukah berdasar pada motif ideologis Syiah? Yang jelas, pertumbuhan pengaruh Iran seiring dengan penyebaran pengaruh Syiah pula. Ini dapat dilihat di Iraq dan Bahrain. Sebaliknya pula, adanya basis Syiah di berbagai negara turut membantu menopang perluasan pengaruh Iran (hal terakhir ini dapat kita lihat realitasnya di Indonesia). Jadi, dengan kaitan yang unik, politik luar negeri Iran selalu seiring sejalan dengan perluasan pengaruh Syiah.
Hanya saja, slogan-slogan ke-syiahan terlihat sedapat mungkin tidak dibunyikan dalam kancah politik luar negeri Iran. Ahmadinejad selalu ingin mewakili pikiran Arab tentang Palestina tanpa mengaitkan dengan Syiah. Dengan demikian umat Islam akan selalu berpikir bahwa Iran tidak berjuang untuk ke-syiahannya. Apalagi, jelas HAMAS bukan organisasi militan Syiah seperti Hizbullah, melainkan berafilisasi ke al Ikhwan al Muslimun yang Sunni. Mayoritas warga Palestina pun adalah penganut Sunni.
Penting dicatat bahwa di sini Iran tidak terlalu memberi perhatian kepada Jihad Islam yang Syiah, atau tidak mengekspos dukungannya pada faksi tersebut. Padahal milisi tersebut juga adalah insider sebagaimana HAMAS, tidak seperti Hizbullah yang outsider (di Libanon). Jadi, ada semacam pembangunan opini bahwa Iran membela umat Islam secara keseluruhan dan tidak ada kait mengkait dengan Syiah dan penyebarannya.
Konflik Suriah: Akhir Hubungan dengan Iran?
Iran nampaknya secara sungguh-sungguh dan secara konsisten membangun opini dan citra itu dengan beberapa harapan, setidaknya hasil yang menguntungkan bagi Iran.
Pertama, media-media internasional secara besar-besaran mengopinikan Iran sebagai negara paling anti-Israel dan anti-Amerika. Kedua, Iran diposisikan sebagai leader bagi umat Islam dan bangsa Arab di tengah-tengah diamnya negara-negara Arab terhadap AS, dengan mengesankan pengabaiannya terhadap aspek sektarian: Iran adalah pembela Muslim, tidak peduli Sunni ataupun Iran.
Namun, secara tak terduga, sejarah memperlihatkan kita kandasnya upaya ini ketika meletus konflik Suriah. Pada revolusi-revolusi sebelum Suriah yang lebih kental tuntutan demokratisasinya dibandingkan Islamnya.Terhadap revolusi Suriah yang telah berlangsung hampir 2 tahun dan telah mengorbankan ribuan syuhada dalam perlawanannya terhadap diktator lalim, Iran dan Hizbullah justru lebih kentara membela rezim.
Mengetahui bahwa yang terjadi di Suriah adalah bangkitnya perlawanan kaum Sunni melawan rezim bersekte sesat Syiah Nushairiyah, Iran dan Hizbullah membela habis-habisan rezim Asaad yang katanya aliansi penting untuk melawan Israel, tidak peduli pada fakta bahwa diktator itu telah membantai rakyatnya sendiri dan telah lama mengebiri pelaksanaan Islam yang benar.
Ahmadinejad dan Hasan Nasrallah,  memperlihatkan keberpihakan tersebut dalam wawancara-wawancara mereka di media elektronik (lihat di http://hidayatullah.com/read/25361/11/10/2012/the-innocence-of-shiah.html ). Ini menunjukkan bahwa blok Syiah itu adalah nyata.
Bagaimanapun,  kedok Iran mulai terkuak. Kebijakan hegemonik yang seiring dengan sentimen sektarian, yang jelas-jelas nampak pada pembelaan Iran kepada rezim Suriah, akan menodai pembelaan Iran atas umat Islam. Inilah yang dapat kita pahami dari pernyataan Usama Hamdan, “Perbedaan sikap mengenai konflik Suriah membuat Iran menghentikan sejumlah bantuannya ke pemerintahan Hamas di Gaza pimpinan Ismail Haniyah.” Walaupun kemudian Usama menambahkan, “sampai saat ini kami masih menjalin hubungan baik dengan Iran,” dapat diprediksi intervensi Iran pada Palestina perlahan akan berkurang. Apalagi, jika di Suriah umat Islam berhasil menumbangkan Asaad dan mendirikan negara Islam berbasis Sunni, tentu hentakan besar bagi Iran akan mengubah peta kekuatan di Palestina.
Bagaimana dengan HAMAS?
Bagi HAMAS, tentu posisinya tidak mudah. Berjuang di dalam sebuah penjara besar bernama Gaza, tidak akan berkutik tanpa bantuan yang berarti dari negara-negara di sekelilingnya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Gaza, pimpinan HAMAS Ismail Haniya mengatakan bahwa bantuan yang paling dibutuhkan rakyat Gaza adalah senjata. Sayangnya, selama ini negara-negara Arab masih malu-malu untuk membantu. Gejala inilah yang rupanya mainkan dan dimanfaatkan Iran.
Namun, kabar terbaru memperlihatkan perubahan di kalangan pemerintahan-pemerintahan Arab. Dalam sebuah konferensi pers bulan November di Universitas Kairo, Mesir, beberapa hari sebelum gencatan senjata, Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al  mengatakan, “Arab sudah banyak berubah. Meskipun belum maksimal. Kami tidak akan buru-buru. Rakyat mereka harus diprioritaskan. Selanjutnya silakan pikirkan kami.” [baca juga: “Arab Berubah, Kami Tak Terkejut Jadi Sasaran Pembunuhan, Al-Quran Mengabarkan Itu]
Beberapa hari yang lalu Liga Arab juga telah sepakat untuk memberi bantuan ratusan juta dolar kepada Palestina setelah diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara pengamat non-anggota.
Apakah ini secercah harapan agar Palestina bisa lepas dari intervensi Iran, ataukah hanya hiburan sesaat sebagaimana selama ini berlangsung? Kita lihat saja.*
Penulis pemerhari masalah sosial keagamaaan
Red: Cholis Akbar
Article source: http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=54310

HAMAS-Iran dan Kartu Penting bernama Palestina

Saturday, April 27, 2013

Caleg Rangkap, Bukti Manajemen Partai Amburadul

JAKARTA, KOMPAS.com – Kasus adanya satu nama calon anggota legislatif yang terdaftar di beberapa daerah pemilihan, bahkan di beberapa partai berbeda sekaligus, membuktikan betapa amburadulnya manajemen partai.


“Dari sisi partai, ini menunjukkan adanya salah urus partai atau manajemen partai yang amburadul,” kata Deputi Direktur The Political Literacy Institute, Iding R Hasan. Ia mengungkapkan penilaian itu di Jakarta, Sabtu (27/4/2013).


Dari daftar calon anggota legislatif sementara (DCS) yang disetorkan partai politik ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), terdapat beberapa keganjilan. Ada satu nama yang terdaftar di beberapa daerah pemilihan di satu partai, bahkan ada juga yang terdaftar di dua partai berbeda.


Menurut Iding R Hasan, kasus-kasus itu juga memperlihatkan kegagalan proses kaderisasi partai secara berjenjang, yaitu rekrutmen dan pembinaan kader jadi loyalis serta distribusi pada posisi kekuasaan.


“Partai tampak asal comot caleg, yang penting memiliki modal finansial dan popularitas, tanpa melakukan seleksi ketat. Sebagian orang-orang yang direkrut tersebut belum memahami platform dan ideologi partai dengan benar dan mendalam,” ujar Iding.


Dari sisi caleg, memang banyak dari mereka yang menjadikan karir di legislatif itu sebagai tempat cari uang. Motif utama berpolitik bukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, melainkan demi kemakmuran diri sendiri. Mereka maju lewat partai, karena lembaga itu merupakan satu-satunya sarana yang memungkinkan para caleg masuk dewan.


“Karena itu, tidak heran kalau mereka milih partai bukan atas pertimbangan ideologis, tapi lebih pada potensinya untuk lolos,” kata Iding.


Dosen Komunikasi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, itu mengatakan, ada dua hal yang harus dilakukan partai untuk memecahkan kondisi ini.


Pertama, partai harus melakukan proses kaderisasi yang benar. Kedua, partai mengembangkan pendidikan politik yang baik pada publik sehingga publik mengerti apa tujuan orang berpolitik. Namun, sekarang justru partai itu sendiri yang bermasalah dengan kaderisasi dan pendidikan politik.


“Karena itu, kekuatan-kekuatan civil society harus tampil mengkritisi dan menekan partai agar melakukan dua hal itu,” kata Iding.
















Article source: http://www.themalaysianinsider.com/features/article/eight-tips-on-getting-a-good-nights-sleep


Caleg Rangkap, Bukti Manajemen Partai Amburadul

Thursday, December 19, 2013

Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Berita Terkait



  • Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?

    Benarkah hewan dapat mendeteksi keberadaan hantu?


  • Ternyata ayam masih bisa tumbuh gigi!


  • 3 Faktor yang buat manusia seakan merasakan keberadaan hantu

Merdeka.com – Sebuah prasasti berusia 900 tahun ditemukan di sebuah biara di Sudan. Di dalam prasasti itu, ditemukan beberapa rahasia yang terkuak, di antaranya adalah adanya tujuh jasad yang jadi mumi secara alami.


Seperti yang dilansir oleh LiveScience (17/12), biara yang jadi situs penemuan ini dulunya terletak di Kota Tua Dongala. Dulu, kota itu merupakan ibukota sebuah kerajaan besar bernama Makuria yang makmur di sepanjang lembah Sungai Nil.


Makuria sendiri adalah kerajaan Kristen yang berdiri sekitar satu milenium yang lalu atau sekitar tahun 1000-an masehi. Kala itu, Makuria menjalin hubungan baik dengan Kekhalifahan Islam yang letaknya berada di utara.


Adapun dalam prasasti itu disebutkan bahwa salah satu mumi merupakan jasad dari Uskup Agung Georgios, yang diduga merupakan pemuka agama paling kuat pada masanya di sana. Kesimpulan ini dibuat karena identitasnya tertulis di batu nisan dengan tanggal kematian 1113 Masehi dan wafat saat berusia 82 tahun. Selain jasad Uskup Agung Georgios, juga ditemukan enam jasad lain yang semuanya laki-laki dengan kisaran usia 40 tahunan.


Jasad ini sendiri disebut para peneliti tidak dengan sengaja dimumikan atau dalam artian lain mereka jadi mumi secara alamiah. Hal ini terlihat dari pakaian yang dikenakan semua jasad tersebut yang terlihat sederhana.


Dengan adanya temuan ini sendiri para peneliti berhasil menemukan jejak dari sebuah kerajaan yang hilang bernama Makuria. Kerajaan ini diduga pernah ada di sekitar Sudan dan bagian selatan Mesir yang kala itu masih masuk wilayah Islam.


“Periode abad ke-8 sampai 12 merupakan masa emas Makuria,” kata Artur Obluski, peneliti yang mewakili University of Chicago dan University of Warsaw.


Kala berdiri, Makuria dikenal sangat baik menjaga hubungan dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang terletak di utara. Bahkan, kedua kerajaan itu sering melakukan aktivitas perdagangan dan banyak rakyat Makuria yang jadi tentara bayaran Fatimiyah.


Sayang, keharmonisan antar agama ini sirna setelah Dinasti Fatimiyah hilang berganti Dinasti Ayyubiyyah. Pada 1171 masehi, Makuria diserang hingga hancur oleh saudaranya dari utara.












Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/12/10/mxl07s-georgette-lepaulle-tak-pernah-merasa-terlambat-ucapkan-syahadat


Mumi beragama Nasrani ditemukan di Sudan

Wednesday, April 17, 2013

Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Home Nasional



Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli





 

Masjid Nurussa’adah Islamic Center Kupang/UAW



 




Rabu, 17 April 2013


Hidayatullah.com–Bila Anda punya waktu luang, sesekali cobalah berwisata ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, jangan lupa untuk mampir beribadah dan menikmati pemandangan indah Islamic Center Masjid Raya Nurussa’adah Kupang, beralamat di Jalan Soekarno Nomor 24 Fontein, Kota Kupang, NTT. 


Masjid Raya yang sekaligus Islamic Center di Kota Kupang ini belum sepenuhnya rampung untuk saat ini. Kini yang hampir selesai diperkirakan sudah 75 persen. Panitia pembangunan telah mengkonfirmasi bahwa rencana pembangunannya akan rampung pada bulan Juli tahun ini. 


Ketua Panitia Pelaksana Pembangunan Islamic Center Kupang Ir. H. Muhammad Anshor, mengatakan, pusat kegiatan Islam, baik pendidikan dan dakwah, akan dipusatkan di Masjid Raya Nurussa’adah sebagai Islamic Center kota ini. Ia juga menghimbau seluruh ormas Islam dapat bersatu dalam menyelesaikan persoalan umat. 


“Diharapkan dengan adanya Islamic Center dapat memberikan motivasi beragama umat Islam Kota Kupang dan sekitarnya,” kata Muhammad Anshor kepada kontributor Hidayatullah.com, Usman Aidil Wandan, di Kupang, Selasa (16/04/2013).


Meski umat Islam di Kupang minoritas, namun tahap demi tahap pembangunan Masjid Raya dan Islamic Center berjalan tanpa kendala berarti. Hal itu mendapat angin segar pula ketika peletakan batu pertama turut andil memberi sumbangan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang beragama Katolik sebesar Rp 100 Juta dan Walikota Kota Kupang Jonas Salean yang beragama Kristen berdonasi sebesar Rp 30 Juta. 


Dikatakan Anshor, di masa mendatang Islamic Center ini terdapat kantor untuk perwakilan ormas-ormas Islam yang ada di Kota Kupang. Ia menjelaskan, dalam bulan Juli mendatang, Islamic Center ini dijadwalkan telah rampung dengan memakan dana sekitar Rp 8 Miliar dari dana Anggaran Perbelanjaan Negara (APBN) Kementerian Agama Pusat Jakarta. Rencananya Islamic Center ini akan diresmikan oleh Menteri Agama Suryadarma Ali.


Kebanggaan Masyarakat Kupang


Wakil Imam Besar Masjid Nurussa’adah Muhammad Ramli mengatakan bahwa Masjid Raya dan Islamic Center serta Pusat Dakwah Islam Nurussa’adah Kota Kupang merupakan ikon kebanggaan umat Islam NTT nantinya. 


Sekretari DDII Provinsi NTT ini mengharapkan, ke depan masjid ini menjadi pusat kegiatan keumatan yang diharapkan mampu berperan untuk meningkatkan mutu dan kualitas umat di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, dan sinergi keumatan.


“Bentuk konkrit yang akan dilakukan adalah sebagai pusat dakwah berkumpulnya ormas-ormas Islam untuk bersama-sama berfikir dan bekerja sama untuk kemaslahatan umat,” kata Ramli. 


Harapan masyarakat Kota Kupang datang dari Saharuddin. Ia berharap semoga dengan adanya Masjid Raya Nurussa’adah kelak menjadi tempat ibadah yang nyaman dan membuat khusyu’ bagi yang beribadah. 


“Harus ada satu tradisi keilmuan yang dibangun nanti melalui pusat pengkajian keislaman. Saya juga berharap ini menjadi masjid percontohan di NTT,” kata Sahar.


Hari ini perkembangan Islam cukup pesat di Kota Kupang. Hal itu dapat dilihat dengan kian semaraknya pengajian-pengajian, baik bapak maupun ibu-ibu serta kaum remaja. Perkembangan umat Islam juga bisa dilihat ketika sholat Jum’at, nyaris tidak ada masjid yang tidak dipadati jama’ah


“Setiap tahun ada saja dari kelompok masyarakat yang masuk Islam menjadi muallaf. Sehingga diharapkan dengan dibangunnya Islamic Center Kupang ini dapat menjadi solusi pembinaan keislaman di Kota Kupang dan sekitarnya,” tutup Ramli.*


Rep: Ainuddin Chalik
Red: Syaiful Irwan


Article source: http://web.inilah.com/read/detail/1941992/tolak-masuk-islam-lidah-pelajar-diiris


Islamic Center Kupang Ditargetkan Selesai Juli

Wednesday, June 19, 2013

Gerakan Dakwah Islam di Negeri Sombrero

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY–Populasi Muslim Meksiko terbilang paling sedikit diantara negara latin lainnya. Namun, semangat berislam Muslim Meksiko begitu luar biasa.


Sejak pertengah abad ke-20, aktivitas dakwah Islam mengundang perhatian dan simpati warga lokal. Ini yang kemudian melahirkan Mexico City’s Centro Cultural Islamico de Mexico (CCIM). Melalui CCIM, literatur tentang Islam mulai diterjemahkan ke bahasa Spanyol.


Organisasi skala kecil ini terbukti cukup efektif dan mengakar di tingkatan komunitas, pergi dari satu desa ke desa dan berbicara langsung dengan masyarakat. Kerja keras ini membuahkan hasil yakni dari banyaknya orang Meksiko yang tertarik mempelajari Islam bahkan hingga beralih ke agama Islam.


Di Meksiko Utara, satu dekade yang lalu, beberapa imigran Suriah membangun sebuah mesjid pertama di Torreon, Coahuila, kota di bagian utara dekat dengan perbatasan Amerika Serikat. Dua tahun yang lalu, seorang kebangsaan New Guinea bergabung dalam perkumpulan muslim di kota Saltillo. Dan di Monterrey, terdapat pusat Islam dan kelompok kecil muslim Sunni. Mereka menyatukan upaya untuk mendirikan musholah untuk melaksanakan shalat setiap harinya. Di Ciudad Obregon, Sonora, juga berdiri sebuah mushalah, tetapi sayangnya, keluarga da’i yang terdaftar di Durango tidak aktif.


Di wilayah Meksiko Tengah, berkembang kabar adanya kelompok sufi di Guadalajara. Tetapi, sampai sekarang, belum berhasil ditemukan di mana pusatnya. Memang ada beberapa umat muslim di Guadalajara, termasuk beberapa mualaf yang sering dikunjungi CCIM. Walau demikian, belum ada yang berhasil mengetahuinya dengan pasti. Di Kota Puebla, ada beberapa jejak adanya umat muslim, tetapi mereka hanya sekelompok orang Libya yang tetap teguh memegang ajaran Islamnya.


Di Toluca. terjadi peristiwa yang mengagumkan. Di sana ada mualaf bersaudara yang masuk Islam melalui e-mail. Di Queretaro, terdapat orang-orang muslim Pakistan. Di Cuernavaca dan daerah terdekatnya, terdapat beberapa muslim yang aktif, tetapi, mereka belum mengumpulkan jamaah pada shalat Jumat. Namun, ada tiga orang dari mereka yang sering mengunjungi CCIM dan sebaliknya. Di sana juga ada pemimpin sufi dan anggota terkemuka dari negara Islam yang hidup sangat mewah.


Sementara itu, di Meksiko City, ada sedikit kelompok Islam. Pusat kedutaan negara muslim sangat membantu perkembangan Islam di Meksiko. Lebih dari satu dekade, sekelompok kecil sunni, terutama staf kedutaan Muslim, bergabung dalam shalat Jumat. Pusat Islam Meksiko menjadi bagian kelompok ini di suatu mushalah yang menjadi basis kegiatan dakwah.


Article source: http://www.utusan.com.my/utusan/Rencana/20130619/re_05/Promosi-tagih-umat-Islam-lariskan-bisnes-mereka


Gerakan Dakwah Islam di Negeri Sombrero

Monday, June 24, 2013

Komunitas Muslim di Bhutan Terus Bertambah (Bagian-3, habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Afriza Hanifa


Kaum Muslimin tak kesulitan menemukan makanan halal.


Muslimin pun tak kesulitan dalam menemukan pangan halal. Bahkan, menurut tour Muslim crescent rating, Bhutan memiliki banyak sekali ragam pangan vegetarian yang terkenal lezat.


Hingga kini, Muslimin Bhutan masih mencari hak kebebasan beragama. Kendati jumlah mereka sedikit, mereka ada dan beraktivitas seperti Muslimin lain yang hidup di negara minoritas Islam.


Keinginan mendapat hak kebebasan beragama pun makin menghasilkan titik terang dengan adanya komitmen kerajaan untuk menerapkan demokrasi.


Tapi, media Barat yang mencitrakan Islam dengan buruk pun tak luput didengar masyarakat Bhutan. Akibatnya, masyarakat terbawa pemahaman Islam ala Barat yang melekatkan Muslimin dengan terorisme.


Media banyak menghasut masyarakat dunia, termasuk Bhutan. Kendati demikian, masyarakat Bhutan tak pernah terlibat bentrok dengan Muslimin. Antarumat beragama, hidup harmonis menjalin kerukunan dan toleransi.


Untuk menampung ribuan Muslimin Bhutan terdapat sebuah masjid berdiri, guna memberikan layanan ibadah. Inilah satu-satunya masjid yang dimiliki Muslim Bhutan.


Masjid Jaigaon atau Joygaon, demikian namanya. Jaigaon merupakan nama sebuah kota kecil di Bengal Barat India. Lokasinya berada di perbatasan Bhutan. Di situlah gerbang Buthan berdiri yang membatasi negara tersebut dengan India.


Kendati nama masjid mengacu pada kota di India, Masjid Jaigaon berlokasi di Kota Phuentsholing, tetangga Kota Jaiagon. Kota di Bhutan Selatan tersebut merupakan salah satu pintu masuk Bhutan dari jalur India.


Karena sebagai administrasi antarnegara, perekonomian di sana maju pesat. Bank Bhutan pun berada di kota tersebut. Karena, sebagai lalu lintas perdagangan dan kebudayaan.


Phuentsholing banyak menyerap kebudayaan dari India. Pun demikian dengan budaya Islam. Di kota tersebutlah satu-satunya masjid bagi Muslimin Bhutan berdiri.


Tak banyak kabar tentang masjid tersebut. Bagaimana bentuk dan gaya arsitekturnya pun tak pernah dipublikasikan. Adapun tahun pembangunan masjid tersebut diberitakan baru berdiri pada 2008. Dengan adanya masjid tersebut, Muslimin Bhutan pun mendapat ruang bebas untuk menjalankan ibadah mereka.



Article source: http://www.sinarharian.com.my/tawar-diri-jadi-tukang-azan-1.174982


Komunitas Muslim di Bhutan Terus Bertambah (Bagian-3, habis)

Sunday, April 28, 2013

LKP: Inilah Sebab Parpol Islam Terseok

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Lembaga Klimatologi Politik (LKP) menunjukkan elektabilitas partai-partai Islam melorot dan tak mampu masuk lima besar teratas. Anjloknya elektabilitas partai-partai Islam dilatarbelakangi tidak adanya figur yang melakukan dobrakan seperti ketokohan Gus Dur dan Amien Rais yang mampu mengangkat partai Islam.


“Selepas meninggalnya Gus Dur dan hilangnya Amien Rais dari peredaran politik nasional, partai Islam dan tokoh-tokohnya praktis tidak lagi diperhitungkan publik,” ujar Chief Executive Officer LKP Usman Rachman dalam jumpa pers di Hotel Grand Menteng, Minggu (28/4/2013).


Dalam survei LKP kali ini, lima partai berbasis massa umat Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Bulan Bintang (PBB) masih menghuni papan bawah peringkat elektabilitas parpol.


PKS yang menargetkan posisi tiga besar pada Pemilu 2014 masih terseok di posisi ketujuh dengan perolehan 5,1 persen suara responden. Setelah PKS, kemudian diikuti partai Islam lainnya secara berturut-turut yakni PAN (4,6 persen), PKB (4,4 persen), PPP (3,9 persen), dan PBB (0,9 persen).


Menurut Usman, banyak faktor yang membuat partai Islam kurang diminati. Salah satunya adalah krisis kepemimpinan yang terjadi di tubuh partai-partai tersebut. “Para ketua umum partai Islam sekarang ini kapasitasnya baru pada level manajerial, belum sampai menjadi solidarity maker bagi umat Islam. Mereka tak miliki kapasitas sebagai vote getter,” tutur Usman.


Tidak adanya sosok yang bisa menjadi vote getter, ungkap Usman, juga menjadi dasar banyaknya artis-artis yang maju sebagai caleg dari partai Islam. Mereka diharapkan bisa mendulang suara pada Pemilu 2014 mendatang nanti.


“Selain itu pimpinan parpol Islam sekarang tidak ada yang seperti Gus Dur dan Amien Rais yang berani ada di luar pemerintah. Sekarang cenderung partai Islam ini yang berusaha mengamankan posisinya masing-masing,” katanya.


Usman mengatakan, partai Islam saat ini juga masih bersifat eksklusif di mana setiap partai hanya terkotak pada basis massa tertentu seperti PKB yang dilatarbelakangi Nahdlatul Ulama (NU), PAN yang disokong Muhammadiyah, dan PKS yang didukung Ikhawanul Muslimin.


“Meski di luar bicara terbuka, tapi tetap saja prakteknya mereka terkoyak-kotak seperti itu,” kata Usman.
















Article source: http://sabili.co.id/berita/inter/item/657-inilah-politisi-belanda-anti-islam-yang-kini-masuk-islam.html


LKP: Inilah Sebab Parpol Islam Terseok