Showing posts sorted by relevance for query menebus. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query menebus. Sort by date Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Saturday, November 16, 2013

Hendaklah akal mengukur maklumat


  • DR MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN


CABARAN paling besar dalam kalangan sesetengah yang memakai gelaran ‘agamawan’ atau tokoh agama adalah apabila mereka tidak memiliki manhaj atau method yang betul dalam memahami sesuatu fakta yang dikaitkan dengan Islam ini.



Lalu, atas kurang teliti, atau ‘kurang fikir’ atau ‘memang tak mahu fikir’ mereka menelan semua perkara yang dikaitkan dengan agama, sama ada hasil percakapan orang atau bahan bacaan yang mereka temui.



Dari situlah lahirnya khurafat, karut marut, tokok tambah, kekartunan pemikiran yang diberikan label agama.



 Jika hal itu berterusan, maka kekeliruan terhadap agama akan berkembang lantas agama akan dipersenda dan didustai.



Menilai



Sesuatu riwayat atau kisah atau matan yang hendak dianggap benar untuk dikaitkan dengan Islam dinilai secara kritis sejauh manakah kesahihan maklumat tersebut.



Ini mesti dilihat kepada sumber maklumat; sama ada ia berasal daripada al-Quran dan al-Sunnah atau tidak?



Sementara jika riwayat itu bersumberkan hadis atau athar; hendaklah dipastikan ia riwayat yang diterima di sisi ilmu periwayatan.



Setelah proses ini dilepasi, dinilai pula sejauh manakah kemunasabahan sesuatu teks atau riwayat itu.



Adakah ia bertentangan dengan al-Quran, atau realiti yang nyata, atau fakta sejarah yang tidak mungkin dipertikaikan, atau akal yang disepakati?



Jika ini berlaku dan tiada jalan keluar untuk menserasikannya, maka riwayat itu ditolak.



Contohnya cerita bahawa Bahtera Nabi Nuh a.s. tawaf ka’bah dan bersolat di makam Ibrahim dua raka`at. Ini semua adalah dusta. Tidak masuk akal. Nabi Nuh a.s. wujud sebelum Ibrahim a.s.



Sementara Kaabah dibina oleh Nabi Ibrahim dan Makam Ibrahim mengambil sempena nama Nabi Ibrahim a.s. Di mana Kaabah dan makamnya ketika itu untuk bahtera Nuh bertawaf?



Dengan itu para ulama hadis hadis menolak cerita ini. Termasuk yang tampail menempelak riwayat tersebut al-Imam al-Syafi’i r.h (al-Jurjani, al-Kamil fi Du’afa al-Rijal, 4/270, Beirut: Dar al-Fikr).



Malang sekali, masih ada penceramah agama yang mendendangkan kisah karut ini.



Pembunuhan Husain



Beberapa email saya terima mengadu mengenai sebuah tulisan dalam akhbar ini yang menyatakan tentang sunat membuat bubur pada sepuluh Muharram kerana mengenangkan peristiwa pembunuhan Saidina Husain bin ‘Ali r.huma.



Ada yang bimbang masuknya unsur syiah ke dalam masyarakat yang tidak diajar menilai sesuatu dengan kritis.



Saya kata; kita tidak bimbang asal-usul sesuatu unsur pemikiran atau kefahaman dari mana datangnya. Selagi ia benar atau bertepatan dengan fakta, datanglah dari mana sahaja, sekalipun dari Yahudi. Kebenaran tidak memilih bulu.



Apa yang dibimbangi adalah unsur tersebut terpinggir jauh dari kebenaran.



Soal kelebihan amalan atau fadilat adalah ditentukan oleh ALLAH dan RasulNya.



Dalam riwayat sahih yang manakah yang menyebut kelebihan membuat bubur hitam atau merah atau apa warna sahaja pada Hari ‘Asyura?



Apa yang pasti ia tidak pernah ada riwayat sahih yang menyuruh hal itu.



Apatah lagi peristiwa pembunuhan Husain bin ‘Ali berlaku pada tahun 61H, di zaman pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. (lihat: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 6/258, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).



Terlajak membicarakan tentang pembunuhan cucunda Nabi SAW ini, al-Husain bin ‘Ali yang amat kita cintai, ingin saya jelaskan bahawa ahli-ahli sejarah ramai yang berpendapat bukan Yazid yang membunuhnya seperti yang didakwa. Saya ingin memetik apa yang diulas oleh sejarahwan besar, al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H):



“Orangramai mempunyai berbagai pendapat tentang Yazid bin Mu’awiyah. Ada yang mencintai dan mengangkatnya iaitu segolongan penduduk Syam yang beraliran Nasibiyyah. Adapun golongan Syiah Rafidah, mereka mengejinya dan mengada-adakan berbagai pembohongan yang Yazid tidak lakukan.



Ramai mereka menuduhnya zindiq (kafir yang berpura muslim). Dia tidak sampai begitu. Sementara pihak yang lain, tidak menyukainya dan tidak pula mencercanya. Ini kerana mereka tahu dia bukan zindik seperti yang dituduh oleh golongan Syiah Rafidah, namun pada zaman pemerintahannya berlaku berbagai peristiwa yang jelek dan perkara-perkara yang dibantah, hodoh dan keji.



Paling teruk adalah pembunuhan Husain bin ‘Ali di Karbala. Namun dia tidak tahu (mengarahkannya) dan barangkali dia tidak meredhainya” (al-Bidayah wa al-Nihayah, 6/256).



Kata tokoh pengkaji hadis al-Imam Ibn al-Salah (meninggal 643H):



“Tidak sahih di sisi kami bahawa Yazid memerintahkan agar dibunuh al-Husain r.a. Riwayat mereka yang dipercayai bahawa perintah agar dibunuh al-Husain dari orang yang mengepalai dalam pembunuhannya iaitu `Ubaid Allah bin Ziyad, gabenor Iraq ketika itu” (Ibn Tulun, Qaid al-Syarid min Akhbar Yazid m.s. 57, Kaherah: Dar al-Sahwah, Kaherah).



Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah (meninggal 728H) mempunyai ulasan yang menarik, katanya:



“Apabila kaum keluarga Husain datang kepada Yazid, dia memuliakan mereka dan mengiringi mereka ke Madinah. Diriwayatkan dia melaknat Ibn Ziyad atas pembunuhan al-Husain. Katanya: “Aku meredhai ketaatan penduduk Iraq tanpa membunuh al-Husain”.



Namun begitu beliau tidak menampakkan bantahannya, membela kematiannya dan mengambil tindakan membunuh balas sedangkan itu adalah kewajipannya. Maka dengan itu, pendokong kebenaran mengutuknya disebabkan dia meninggalkan kewajipan di samping perkara-perkara lain.



Adapun musuh-musuhnya mereka menokok tambah pendustaan ke atasnya berbagai-bagai lagi” (Ibn, Taimiyyah, Majmu’ al-Fatwa, 2/253, Riyadh: Maktab al-‘Abikan).



Unsur Syiah



Unsur syiah bukan baru dalam masyarakat kita, walaupun ia belum lagi keterlaluan.



Ini dapat dilihat bagaimana orang Melayu menamakan akar-akar kayu dengan nama ‘Ali dan Fatimah; seperti tongkat Ali dan Kacip Fatimah.



Tidak dinamakan tongkat Abu Bakar atau ‘Umar, tidak juga Kacip ‘Aishah, atau Habsah.



Dalam jampi juga ada menyebut: “fu kiri, fu kanan, berkat doa baginda ‘Ali”. Jika sekadar nama ‘Ali atau Fatimah tiada salahnya.



Mereka ialah kaum keluarga Nabi SAW yang amat kita kasihi. Sebaliknya, yang ditakuti apabila perkara yang tidak agama dianggap agama dalam Islam.



Itu yang menakutkan. Sehingga di Pakistan, Iraq, Iran dan kawasan-kawasan yang kuat pegangan Syiahnya, pada hari ‘Asyura’ mereka mencederakan diri masing-masing dengan alatan tajam kerana mengenangkan Saidina Husain dan kekejaman Yazid.



Ribuan bahkan ratus ribu kaum Syiah berkumpul pada sepuluh Muharram saban tahun melukai tubuh dengan darah dan membasahi pipi dengan airmata mendendami Yazid dan mengenang al-Husain bin ‘Ali.



Lalu peristiwa hitam semalam, terus menjadi dendam hingga ke hari ini. Siapakah sasarannya?



Apapun jawapannya, ia adalah antara sebab terpisahnya sunni dan syi’ah. Satu ajaran yang hidup dalam nostagia luka yang sebahagiannya mungkin benar, sebahagiannya mungkin palsu.



Apapun, saya tidak dapat bayang jika seseorang yang ingin menganut Islam hadir menyaksikan upacara yang dikaitkan dengan Islam yang dipenuhi manusia yang mencedera dan melukai diri sendiri, apakah dia akan terus menganggap agama yang membangunkan akal dan jiwa, mudah dan lurus mencapai Tuhan?



Atau mungkin dia tidak dapat membezakan antara ajaran Kristian yang mendakwa darah Jesus terpaksa ditumpah untuk menebus dosa manusia, atau mungkin dia akan keliru dengan agama sesat yang menyuruh penganutnya berjalan atas api dan melukai diri untuk menunaikan nazar atau menebus dosa? Saya tidak pasti.



Apa yang pasti itu bukan sifat Islam seperti yang terkandung indah dalam al-Quran dan al-Sunnah.



Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin

(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA


Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sport/2013/09/28/26790/UNSA-ASMI-Bidik-Juara


Hendaklah akal mengukur maklumat

Sunday, December 22, 2013

Hukum meraikan Krismas bagi orang Islam



Soalan:
Saya bekerja di sebuah pasar raya besar dan ternama. Setiap kali musim perayaan kami akan menghias dan meraikannya mengikut perayaan tersebut. Hari krismas tidak lama lagi dan kami diwajibkan memakai topi merah sepanjang bertugas sehinggalah berakhirnya krismas. Apakah hukum saya memakai topi tersebut? Adakah menjejaskan akidah saya? Saya memakai topi tersebut hanya kerana tugas bukan kerana meraikan perayaan itu. Minta penjelasan. Terima kasih.


Jawapan:
Rata-rata masyarakat di dunia ini hidup dalam sebuah negara yang mempunyai pelbagai penganut berbeza agama. Mana kala dalam setiap agama pula mempunyai tarikh-tarikh tertentu yang dirayakan bagi memperingati sesuatu peristiwa. Keadaan yang sama berlaku dalam negara Malaysia dan beberapa buah negara di Timur Tengah.


“Christmas Day” menurut orang Kristian adalah sambutan hari ulang tahun kelahiran anak Allah di muka bumi, iaitu Jesus. Walaupun di sana ada perselisihan pendapat pada tarikh kelahirannya, tumpuan utama adalah pada diri Jesus yang telah dikorbankan oleh Allah demi menghapuskan dosa-dosa manusia. Pengorbanan sebesar ini tidak patut dilupakan begitu sahaja, maka ia diingati dengan sambutan Hari Krismas. Jelas, perayaan ini disambut bersempena dua perkara; Pertama: Jesus sebagai anak Allah dan kedua: pengorbanan Jesus yang disalib demi menebus dosa manusia.


Persoalan: Adakah perayaan ini boleh disambut oleh orang Islam dan bagaimana jika kita hanya mengucapkan tahniah/memberikan ucapan kepada masyarakat Kristian?


Jawapan: Hukum sambutan krsimas ini boleh dibahagikan kepada dua :


1.Hukum Menyambut Perayaan Krismas Bersama Orang Kafir:


Ulama bersepakat dalam PENGHARAMAN meraikannya atau turut serta dalam apa-apa sahaja bentuk sambutan yang berkaitan dengan perayaan orang kafir termasuk perayaan Krismas. Seperti yang telah diterangkan di atas, umat Islam hanya mempunyai dua perayaan yang besar iaitu ‘Idulfitri dan ‘Iduladha.


Imam ibnu Qayyim menerangkan dalam kitabnya “Ahkam Ahli Zimmah” tentang hukum sambutan perayaan orang kafir: (TIDAK HARUS bagi orang mukmin itu menghadiri perayaan orang kafir dengan persetujuan semua para ulama. Perkara ini telah dijelaskan oleh para fuqaha’ mazhab empat dalam kitab mereka, berdasarkan hadis riwayat Imam Baihaqi daripada Umar bin al-Khattab berkata “Janganlah kamu masuk bersama orang kafir ke dalam gereja mereka pada hari perayaan mereka, maka sesungguhnya kemurkaan diturunkan kepada mereka”.


Imam an-Nawawi juga menjelaskan dalam kitabnya al-Majmu’ akan tegahan daripada bersama-sama dengan orang kafir di dalam majlis mereka kerana perbuatan tersebut memuliakan mereka dan dikira menyamakan kemuliaan orang mukmin dengan orang kafir, maka perkara tersebut adalah tidak harus.


Antara pendapat ulama dalam mengharamkan sambutan perayaan orang kafir adalah berdasarkan beberapa dalil antaranya :


i.Sambutan tersebut menyerupai orang kafir. Pengharaman ini berdasarkan hadis baginda SAW yang bermaksud:


“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr, berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsabit, berkata, telah menceritakan kepada kami Hassan bin Athiyah dari Abu Munib Al Jurasyi dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa bertasyabuh dengan suatu kaum, maka ia sebahagian dari mereka. Barangsiapa yang menyerupai (meniru) suatu kaum (yang bukan Islam), maka dia tergolong dalam golongan mereka.” (Hadith ke-3512 riwayat Imam Abu Daud)


ii.Penyertaan atau menyambut perayaan tersebut merupakan satu daripada tanda kita menyukai dan cinta kepada mereka. Allah SWT berfirman, maksudnya:


“Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka Sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Yang berlaku zalim.” (Surah al-Maidah : ayat 51)


2.Hukum Mengucapkan Tahniah/Memberikan Ucapan Perayaan Kepada Mereka


Berhubung permasalahan mengucapkan tahniah kepada orang kafir pada perayaan mereka, terdapat perselisihan pendapat ulama. Ada yang membenarkan dan ada pula yang mengharamkan tindakan ini.


Imam Ibnu Qayyim mengharamkan ucapan tahniah ini dengan katanya dalam kitabnya “Ahkam Ahli Zimmah” pada Bab Ucapan Tahniah Kepada Ahli Zimmi: (dan adapun ucapan tahniah terhadap  syiar yang telah dikhusukan kepada orang kafir adalah haram secara sepakat, seperti ucapan tahniah terhadap perayaan dan puasa mereka, dengan ucapan : Eid Mubarak ‘Alaika / tahniah atas perayaan ini, atau sebagainya).


Tetapi menurut Dr Yusuf Qardawi dalam fatwanya, beliau mengharuskan tindakan ini selagi mana kita tidak menyambut perayaan mereka dan sekadar ucapan tahniah kepada mereka sebagai tanda hubungan kemasyarakatan. Pendapat ini bersandarkan kepada firman Allah SWT yang bermaksud:


“Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan Yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu. (Surah an-Nisaa’ : ayat 86)


“Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang Yang berlaku adil.” (Surah al-Mumtahanah : Ayat 8)


Namun, perlu diingat bahawa ucapan yang ditujukan kepada mereka adalah suatu ucapan yang bukan digambarkan dengan keredhaan kita terhadap agama mereka tetapi semata-mata ingin menjaga hubungan dan berbuat baik kepada mereka. Sikap ini dari satu sudut menunjukkan Islam merupakan agama yang mengamalkan sikap toleransi dengan penganut agama yang lain dengan menjaga batasan syara’ yang telah ditetapkan.


Kesimpulan:
Agama Islam merupakan agama yang menitikberatkan toleransi antara pengikutnya dan penganut agama lain. Namun, dalam masalah yang berkaitan dengan soal akidah, perkara ini adalah lebih utama. Berdasarkan kepada perbahasan yang telah diletakkan, kita dapat melihat penyelesaian kepada permasalahan adalah seperti berikut :


1.Haram menyambut perayaan orang kafir disebabkan kesalahan akidah yang dianuti oleh mereka. Secara umumnya, perkara ini disamakan seolah-olah kita turut sama menyokong pendirian dan pegangan mereka.


2.Dibolehkan memberikan ucapan atau tahniah pada hari kebesaran mereka dengan syarat bukan disebabkan kita berasa redha dengan perayaan ini tetapi  ingin menjaga hubungan kemasyarakatan dalam sebuah komuniti.


Yang paling penting ialah pendekatan yang digunakan oleh umat Islam dalam mendepani masyarakat berbeza bangsa dan agama dalam sesebuah kawasan. Cara ini perlu diberikan perhatian supaya Islam itu dapat diperlihatkan wajahnya yang indah dan kefahaman tentang suatu peristiwa itu dapat diperbetulkan.


“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Surah al-Maidah : ayat 2)


Memakai topi merah mengikut pandangan awam adalah seperti kita meraikan syiar mereka dan boleh menimbulkan fitnah. Sebaiknya, saudara/ri cuba usahakan untuk tidak memakai topi tersebut sekalipun ianya tidak menjejaskan akidah saudara/ri.



Article source: http://musik.kapanlagi.com/berita/evelyn-dan-arul-duo-mualaf-yang-konsisten-bawakan-lagu-religi-d6a1d0.html


Hukum meraikan Krismas bagi orang Islam

Friday, January 11, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)


 


Sabtu, 12 Januari 2013

oleh: Nuim Hidayat

Misi Dakwah Islam

Kini kita tahu bersama, banyak masyarakat yang antipati terhadap partai politik atau politik. Golongan putih makin lama makin menaik. Mereka muak terhadap tingkah laku banyak para politisi yang tidak peka terhadap kondisi rakyat. Di tengah-tengah rakyat Indonesia yang masih 40 juta miskin, malah menurut Bank Dunia, kalau kategori miskin di bawah 2 dolar US per hari, jumlah penduduk miskin bisa mencapai 100 juta orang, para politisi seenaknya bepergian ke luar negeri menghabiskan uang negara dan seterusnya.

Di sisi lain, banyak aktivis-aktivis Muslim yang tidak lagi istiqamah dalam memperjuangkan dakwah Islam. Dakwah Islam sebagai inti dari dibentuknya sebuah partai atau organisasi Islam, kini hanya tinggal slogan. Para politisi Muslim banyak yang tidak memberikan keteladanan dakwah ketika ia menjabat sebagai politisi atau eksekutif. Gaya hidup dan pergaulan tidak lagi mencerminkan sebagai seorang dai. Padahal dulu mereka diajari “Aku adalah Muslim (dai) sebelum segala sesuatu”.

Konsep-konsep dan praktek-praktek dalam politik tidak mencerminkan semangat dan nilai-nilai mendasar dalam Islam. Sehingga banyak politisi-politisi muda akhirnya kecewa terhadap partai Islam. Ada teman penulis yang kecewa dengan tingkah laku para politisi partai Islam, akhirnya membuat partai sekuler.

Tentu hal itu tidak kita ingini bersama. Kita menginginkan politisi-politisi di Partai Islam, makin Islami dan politisi-politisi Muslim di partai-partai sekuler berani melakukan islamisasi di partainya.

Lihatlah kini media massa dan masyarakat, gegap gempita menyiarkan gebrakan-gebrakan yang dilakukan Jokowi dan Ahok. Turun langsung ke masyarakat, berani memotong anggaran-anggaran yang mubazir, menggaji para pemulung dan lain-lain. Seharusnya politisi-politisi Muslim –terutama yang di partai-partai Islam- malu kalah gebrakannya dengan mereka berdua. Seharusnya politisi-politisi Muslim membuat gebrakan yang lebih hebat dari mereka. Misalnya minta penurunan gaji baik sebagai pejabat eksekutif atau legislatif, karena masih puluhan juta orang miskin di tanah air atau seperti Dahlan Iskan yang berani mengumumkan orang yang mencoba menyuap dan sebagainya.

Bila para politisi Muslim tidak berbuat demikian, kukuh terhadap akidah Islam dan membuat gebrakan-gebrakan yang ‘revolusioner’, maka masyarakat akan antipati terhadap politik Islam. Dan ini bisa disebut kegagalan politik Islam.  Kalau sudah demikian apa makna membentuk partai politik Islam? Apa makna dari pentingnya politisi Muslim memegang jabatan? Ya menjadi tidak bermakna.

Renungkanlah mengapa dulu Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin (dan dilanjutkan sahabat-sahabat terkemuka) berhasil dalam dakwahnya. Dakwah di masa mereka menyebar cepat, tidak sampai 50 tahun Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab, Afrika, Asia dan Eropa. Tidak lain karena menyatunya antara konsep dan praktik (akhlak) mereka. Hidup sederhana menjadi ciri para pemimpin Muslim saat itu. Para ulama di saat itu selalu mengingatkan bahaya hidup bermewah-mewah, apalagi bila uang yang dipakai uang rakyat dan seterusnya. Selain itu, juga keteguhan aqidah dan semangat dakwah yang tinggi yang menjadikan Islam adalah agama yang tercepat pertumbuhannya dalam sejarah dunia.

Para pemimpin Islam itu bangga dengan Islamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam surat-suratnya sering menyerukan ‘Aslim taslam’. Masuk Islam lah engkau pasti selamat. Sayyidina Umar ra, begitu teguhnya memegang Islam dan begitu tinggi tasamuhnya (misalnya ketika menaklukkan Yerusalem), sehingga para pendeta pun hormat kepadanya.

Umar ra  selalu menggelorakan dakwah Islam dan menyampaikan kemuliaan Islam, karena rasa kasihannya terhadap nasib non Muslim di akherat nanti.

Pernah suatu waktu, khalifah Umar melewati sebuah tempat ibadah seorang rahib/pendeta, lalu ia berhenti sejenak. Rahib itu kemudian dipanggil dan diberi tahu bahwa khalifah Umar datang. “Ini adalah Amirul Mukminin”. Rahib itu kemudian menghadap Umar ra. Keadaaannya kurus dan lemah karena lelah dan kesulitan hidupnya. Rahib itu dalam hidupnya berusaha meninggalkan dunia. Umar ra kemudian menangis melihat kondisi Rahib itu. Seorang sahabat mengingatkan.”Rahib itu seorang Nasrani.” Umar ra menjawab,”Aku tahu itu. Dan aku teringat firman Allah Subhanahu wata’ala yang berbunyi,”Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas.”  (al Ghasyiyah 3-4). Aku merasa kasihan pada nasib dan kesungguhannya itu, padahal ia akan masuk neraka nantinya.”

Begitulah nurani yang halus dan keteguhan Umar. Ia memberikan keteladanan yang tinggi dalam memimpin, hidup sederhana, selalu berkeliling memantau kondisi rakyat, selalu aktif menggelorakan dakwah dll, karena menginginkan Islam ini dipeluk sebanyak-banyaknya umat manusia. Karena Umar ra faham, Islam ini nilainya lebih dari emas sepenuh langit dan bumi.
Al-Qur’an yang mulia mengingatkan;

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الأرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

“Sungguh orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seorang diantara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.” (QS: Ali Imran [3]: 91).

Jadi bila dakwah menjadi inti utama partai Islam, maka kebanggaan sebenarnya adalah bila berhasil partai Islam itu mengislamkan orang-orang non Muslim atau berhasil dalam program Islamisasinya. Bukan bangga memasukkan orang-orang non Muslim dalam partainya.

Mengapa kita perhatian terhadap partai Islam? Ya karena merekalah ujung tombak dakwah Islam dalam bidang politik. Bila citra mereka anjlok di kalangan masyarakat, berarti bisa dikatakan dakwah Islam gagal dalam bidang politik.

Politik memang tidak segalanya. Tapi politik banyak mempengaruhi kehidupan kita. Undang-undang dilahirkan dalam keputusan politik, kebijakan pembagian keuangan pusat dan daerah diputuskan lewat politik, kebijakan pendidikan siapa yang boleh mengajar, siapa guru yang akan diberi uang negara adalah keputusan politik. Keputusan memberikan modal baik bagi pengusaha besar maupun kecil juga keputusan politik. Pengangkatan hakim agung yang akan memutuskan perkara juga keputusan politik.  Jadi bila umat meninggalkan politik, maka alangkah ruginya umat Islam ini. Bisa dikatakan mereka telah meninggalkan tanggungjawab dan amanat yang besar dalam pengaturan tanah air, yang merupakan bumi Allah ini. Padahal Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan kita sebagai khalifah adalah untuk memakmurkan bumi ini.

Entah bagaimana wajah politik Islam tahun 2014 nanti, ketika presiden berganti. Tapi bila politisi Muslim –terutama yang berada di partai-partai Islam- tidak memperbaiki sikapnya, mungkin partai-partai sekuler akan terus menguasai negeri ini. Dan negeri ini, yang telah diperjuangkan oleh para ulama dan ‘wali’ dalam sejarahnya, sulit menjadi negeri Muslim yang disegani dunia. Apalagi menjadi pemimpin dunia Muslim. Mungkin hanya jadi pemimpi.
Akhirnya marilah kita renungkan, nasihat Sayidina Ali kepada gubernur di Mesir saat itu yang isinya aktual hingga kini:

“Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu.  Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.”

Ali melanjutkan: ”Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.  Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka… Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu.  Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang.  Dengan sikap yang waspada itu,   kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.

Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut.  Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka.  Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.

Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.

Sesungguhnya tiang agama, kekuatan kaum Muslimin dan senjata untuk menghadapi musuh adalah rakyat jelata.  Karena itu, jagalah hubungan baik dengan mereka dan perhatikan kesejahteraan mereka.” Wallahu aliimun hakim.* Habis

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta
 

Baca juga: Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Red: Cholis Akbar

Article source: http://news.okezone.com/read/2013/01/12/340/745083/silaturahmi-ke-mui-chairuman-minta-umat-islam-jangan-golput


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (2)