Showing posts sorted by relevance for query 2006. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query 2006. Sort by date Show all posts

Thursday, May 23, 2013

Merasa damai usai bersyahadat

Ritual dilakoni Franck Ribery seolah menguatkan berita dia telah masuk Islam. Di tengah lapangan menjelang laga antara tim nasional Prancis menghadapi Swiss dalam Piala Dunia 2006 di Jerman, dia berdoa seraya mengangkat kedua tangan.


Penonton di stadion sejenak terhenyak. Ribery tidak mempedulikan komentar orang. Saban mau bertanding, di atas lapangan rumput dia selalu memohon kepada Allah.


Warta soal Ribery menjadi mualaf sejatinya sudah meledak sejak awal 2006. Majalah terbitan Prancis L’Express pertama kali melansir berita ini. Mereka menulis sejumlah pemain tim nasional Prancis rutin salat di sebuah masjid di selatan Kota Marseille. Identitas mereka tidak disebut, namun Ribery ketika itu memperkuat klub di kota itu.


Walau Ribery meneruskan kebiasaan berdoa di lapangan sebelum pertandingan bergulir, masyarakat Prancis segan menyebut secara terbuka dia seorang muslim. Ribery pun tidak mau banyak berkomentar. Dia bilang agama adalah urusan pribadi dan bukan buat publikasi.


Spekulasi pun bermunculan. Ada yang menyebut Ribery mulai mengenal Islam saat membela klub asal Turki Galatasaray. Dia dilaporkan kerap berkumpul dan berdiskusi dengan masyarakat muslim di sana.


Sebagian menilai Wahiba Belhami, perempuan keturunan Maroko, mempengaruhi dia masuk Islam. Dia kemudian menikahi Wahiba dan telah dikaruniai dua putri, Shahinez dan Hizya.


Ribery tidak pernah membenarkan atau membantah dua versi cerita dia masuk Islam. Meski tidak mau menyebutkan kapan dia bersyahadat, kepada majalah Paris Match, dia mengakui telah menjadi muslim. “Islam juga sumber kekuatan saya di dalam dan luar lapangan,” katanya. Saya pernah kesulitan dalam karier dan saya menemukan kedamaian dalam Islam.”


Kata Islam sendiri memang berarti keselamatan dan kedamaian.












Article source: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/04/23/154148/Jadi-Rumah-Besar-Tak-Ada-Alasan-PPP-Tolak-Mualaf


Merasa damai usai bersyahadat

Tuesday, October 15, 2013

Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Lopez Casanova terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Protestan yang sangat taat.  Dalam keluarganya ada beberapa pastor, penginjil, pendeta, dan guru. Kedua orangtuanya menginginkan agar Lopez menjadi pemimpin Kristen. Karenanya, sejak kecil ia dimasukan pada sekolah Bibel.


Namun, Allah SWT memberinya hidayah. Dalam perjalanan hidupnya Lopez akhirnya menemukan Islam. Ia pun memeluk agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama terakhirnya. Perjalanannya menemukan Islam berawal dari Bibel yang dipelajarnya sejak kecil.


‘’Aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga Protestan yang relijius yang memungkinkanku mempelajari Bibel. Jika tidak, aku mungkin tidak mampu memahami pesan Islam,” ujarnya.


Lopez menjadi seorang Muslimah karena kepercayaan dan keyakinannya terhadap Tuhan. ‘’Itulah yang kemudian membuatku mengakui validitas Islam sebagai agama dari Tuhan.” Lalu bagaimana perjalanan spiritualnya dalam menemukan Islam?


                                                                            
                                                                     ***


Lopez tumbuh dalam keluarga yang relijius. Keluarga dari pihak ibu Lopez adalah penganut Kristen Protestan yang taat. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dan senantiasa hidup dengan perasaan takut terhadap Tuhan. Sedangkan keluarga sang ayahnya adalah pemeluk Katolik Roma.


Maka jadilah Lopez sebagai seorang Kristen Protestan. Di sekolah menengah, Lopez bergaul dengan teman-teman Kristen dari sektor atau denominasi yang bermacam-macam. Ia juga berteman dengan mereka yang beragama Yahudi, juga seorang Saksi Yehuwa.


‘’Aku tak pernah menghakimi apa yang mereka yakini, dan akupun tidak memiliki ketertarikan terhadap kelompok agama manapun,’’ ujarnya.


Menurut dia, Kristen non-denominasi seperti dirinya selalu diajarkan bahwa “Jika kamu percaya Kristus, maka kamu adalah seorang umat Kristen, dan kita semua sama di mata Tuhan, apapun denominasi yang membedakan kita.”


Meski ada banyak kepercayaan di sekitarnya, Lopez selalu diyakinkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Menurut Lopez, perbedaan interpretasi dan perbedaan versi Bibel yang digunakan oleh umat Kristen membuat agama tersebut terbagi menjadi beberapa bagian.


Padahal, kata dia, menambah dan mengurangi naskah Bibel adalah dosa. Namun, selalu saja muncul sektor baru yang menciptakan versi Bibel yang baru. Untuk itu, ibunya selalu menekankan sejak ia masih kecil untuk menolak buku-buku agama, pamflet, maupun literatur Kristen dari orang lain.


 ”Bibel sudah cukup menjadi rujukan,” katanya menirukan ucapan ibunya. Seiring perjalanan Lopez dihadapkan pada sebuah kegamangan akan agama yang dianutnya. ‘’Aku tidak mengetahui seberapa lama Bibel telah diubah dan dimodifikasi. Setiap golongan dalam Kristen selalu mengklaim bahwa golongan merekalah yang benar, sedang yang lainnya salah.”


Sebagai seorang Kristiani, Lopez mempercayai bahwa Kristen adalah kelanjutan dari Yudaisme. Sejatinya, ia tidak pernah mengenal Islam pada waktu itu. Ia pertama kali mendengar nama “Allah” dari pengajarnya di sekolah Bibel. “Orang Cina berdoa pada Buddha, dan orang Arab berdoa pada Allah.” Saat itu, ia menyimpulkan bahwa Allah adalah nama sebuah berhala.


                                                                     ***


Kuliah di jurusan Bisnis Internasional membuat Lopez merasa perlu menguasai bahasa asing untuk menunjang kariernya di masa depan. Atas saran teman kuliahnya, Lopez mempelajari bahasa Arab.


“Temanku beralasan, negara manapun yang memiliki penduduk Muslim menggunakan bahasa Arab karena itu merupakan bahasa asli Alquran,” katanya.


Saat itu, tahun 2006, Lopez mendengar kata “Alquran” untuk pertama kalinya. Di kelas bahasa Arab yang diikutinya, Lopez mengenal banyak mahasiswa Muslim. Mereka umumnya keturunan Timur Tengah yang lahir dan besar di AS.


Kelas pertama yang diambilnya pada 2006 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Lopez terkesan dengan amalan puasa yang dilakukan teman-teman Muslimnya. Ia memandangnya sebagai bentuk ketundukan hamba di hadapan Tuhannya.


Lopez pun mencoba berpuasa. Bukan karena tertarik menjadi Muslim, namun semata untuk mengekspresikan ketundukannya sebagai umat Kristen yang taat. “Itupun karena puasa juga ada dalam agama Kristen. Yesus pernah berpuasa selama 40 hari,” katanya.


Pada bulan Ramadhan itu, seorang teman Muslim memberinya literatur Islam dan sekeping Compact Disk (CD) yang ditolaknya. Ia teringat ucapan ibunya, “Semua agama yang salah adalah benar menurut kitab mereka.” Lopez tak tergoda untuk mengenal Islam, agama asing yang salah di matanya.


                                                                    
                                                                       ***


Musim panas 2008, Lopez bergabung dengan para misionaris Kristen dan melakukan perjalanan ke Jamaika untuk sebuah misi Kristenisasi. Ia dan timnya membantu orang-orang miskin di sana. Ia dan timnya dan berhasil mengkristenkan sekitar 55 ribu orang dalam sepekan.


Sepulang dari  Jamaika, Lopez berdoa memohon petunjuk. Ia ingin melakukan lebih banyak pengabdian pada Tuhan. “Permintaan itu dijawab-Nya dengan memberiku seorang teman Muslim,” katanya.


Ia beberapa kali mengajak teman Muslimnya ke gereja, dan berpikir bahwa temannya akan terpengaruh dan menjadi seorang Kristen sepertinya.Suatu saat, temannya mengatakan bahwa gereja adalah tempat yang bagus, namun ia menyayangkan kepercayaan jamaatnya yang mempercayai Trinitas.


“Sayangnya, temanku salah menguraikan pengertian dari Trinitas itu. Aku hanya tertawa dan meralatnya,” kata Lopez. Ia sempat  berpikir tentang betapa fatalnya jika ia melakukan hal yang sama. Memberikan komentar soal agama lain yang tidak dipahami dengan baik adalah sesuatu yang dinilainya sebagai ucapan yang kurang berpendidikan.


Ia pun memutuskan mempelajari hal-hal mendasar tentang Islam. Lopez mulai menemukan persamaan antara Kristen dan Islam. Itu terjadi ketika ia mengetahui bahwa ternyata Yudaisme, Kristen, dan Islam berbagi kisah dan nabi, dan bahwa ketiganya dapat diusut asal muasalnya hingga bertemu di silsilah sejarah yang sama.


“Sebenarnya, lebih banyak persamaan antara Kristen dan Islam dibanding perbedaan antara keduanya,” kata Lopez.


                                                                         ***


Suatu hari, ia kagum dengan teman Muslimnya yang tidak malu berdoa dan shalat di tempat umum, dengan lutut dan kepala di atas lantai. “Sementara, aku bahkan terkadang malu untuk sekadar menundukkan kepala sambil memejamkan mata (berdoa) saat hendak makan di tempat-tempat umum.”


Di lain hari, teman Muslimnya kembali ikut serta pergi ke gereja bersama Lopez. Di tengah perjalanan dengan mobil itu, temannya memohon izin memutar CD Alquran di mobilnya, karena ia sedang mempersiapkan diri untuk shalat.


“Agar sopan, aku mengizinkannya. Selanjutnya aku hanya ikut mendengarkan dan menyimaknya,” kata Lopez.


Hal yang tidak diduga pun terjadi. Ia masih ingat bagaimana ayat-ayat Alquran yang didengarnya memunculkan sebuah perasaan aneh. Perasaan itu berbaur dengan kebingungan yang tak bisa dijelaskan.


“Aku tidak bisa memahami mengapa diriku bisa mengalami perasaan semacam itu terhadap sesuatu di luar Kristen.”


Setelah pengalaman di mobil waktu itu, perasaan takut sekaligus ingin tahu ikut menyergapnya. Ia memutuskan melihat isi sebuah DVD berjudul “The Legacy of Prophet Muhammad (Warisan Nabi Muhammad).”


Usai memutarnya, Lopez menangis untuk alasan yang lagi-lagi tak dipahaminya. Ia mengagumi sosok Muhammad SAW dan belajar tentang bagaimana menjadi umat yang baik dari sosoknya.


Lopez berkesimpulan, kedisiplinan dalam Islam membuatnya menjadi umat Kristen yang lebih baik, dan itu menjadi alasannya untuk terus mempelajari Islam. Keingintahuan Lopez membawanya belajar lebih jauh tentang Islam, dan ia sampai pada konsep monoteisme.


“Aku berhenti sejenak, karena itu seperti sebuah persimpangan. Aku hanya berniat mempelajari kesamaan Islam dan Kristen, sedangkan monoteisme berlawanan dengan konsep Trinitas.”
 
Pada titik sulit itu, ia berusaha tidak terpengaruh oleh siapapun, baik dari kelompok Kristen maupun Islam, sehingga ia memutuskan untuk mempelajarinya seorang diri.
Lopez pun membaca seluruh bagian tentang Yesus dalam Bibel, dan menelaah kata-kata yang dikutip dari perkataan Yesus. Saat itu, ia menyadari bahwa ternyata Yesus mengajarkan monoteisme, bukan Trinitas seperti yang diyakininya sejak lama.


“Di sini aku menemukan bahwa pesan Yesus selaras dengan Islam.”


Sampai di situ, Lopez merasa tertipu dengan kecewa. Ia menyadari bahwa segala praktik agama yang diamalkannya bukanlah yang diajarkan Yesus. “Yang terjadi adalah aku merasa dibelokkan dari menyembah Tuhan menjadi menyembah Yesus. Aku menjadi paham mengapa ada bagian dari Kristen yang tidak mempercayai Trinitas.”


Selesai dengan penjelasan Bibel, Lopez memberanikan diri meminjam salinan terjemahan Alquran dari seorang teman Muslim yang juga mengajarinya cara shalat. Lopez mulai melakukannya lima kali sehari untuk belajar, karena ia belum menjadi Muslim.


“Setiap selesai, aku berdoa pada Tuhanku agar mengampuniku karena telah melakukan shalat, seolah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Ada pertempuran dalam batinku.”


Setelah beberapa lama pergolakan batin itu dirasakannya, Lopez memutuskan berislam. Namun hingga hari penting itu, ia masih menyimpan perasaan takut. Hingga saat menyetir mobilnya, ia berdoa, “Tuhan, lebih baik aku mati dan dekat dengan-Mu daripada hidup selama satu hari namun jauh dari-Mu.”


Lopez berpikir, mengalami kecelakaan mobil lebih baik dialaminya jika menuju Islamic Center San Diego untuk bersyahadat adalah pilihan yang salah. Ia tiba di tujuan dengan selamat dan mengikrarkan keislamannya di hadapan publik.


Jumat itu, 28 Agustus 2008, beberapa hari menjelang Ramadhan, Lopez memeluk Islam. “Sejak itu, aku adalah seorang Muslim yang bahagia, yang mencintai shalat dan puasa. Keduanya mengajarkanku kedisiplinan sekaligus ketundukan kepada Tuhan.”


Article source: http://www.tempo.co/read/news/2013/06/06/078486229/Konvensi-Demokrat-Terbuka-untuk-Anas-Urbaningrum


Bibel Antarkan Lopez Casanova kepada Kebenaran Islam

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Wednesday, November 13, 2013

Kisah Robin van Persie: Saya Bukan Seorang Mualaf [3]

Free Kick





Kisah Robin van Persie: Saya Bukan Seorang Mualaf [3]




Liputan6.com, Jakarta : Robin van Persie mengakhiri kariernya di lapangan hijau bersama Feyenoord dengan catatan tinta emas. Namun dari sisi hubungan personal dengan pelatih dan manajemen agak kurang manis. Tak hanya para pemain yang merasakan kehilangan, tapi juga publik Rotterdam yang amat ngefans pada sang bintang muda itu.


Berita Terkait



Messi, Van Persie, Park Eun-seon, dan Berardi Curi Perhatian


Messi, Van Persie, Park Eun-seon, dan Berardi Curi Perhatian



Kisah Robin van Persie: Keras Kepala Tapi Romantis [2]


Kisah Robin van Persie: Keras Kepala Tapi Romantis [2]


Pemain muda berbakat yang dinobatkan sebagai pemain terbaik di ajang Best Talent KNVB di akhir musim 2001-2002 itu terlihat berseri-seri. Segala bebannya di Feyenoord seolah telah terlepas. Maklum, klub raksasa Arsenal asal Inggris positif menginginkannya bergabung.



Saat yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Robin van Persie bergabung di Arsenal mulai musim 2004-2005 dengan nilai transfer 2,75 juta pound. Sang Manajer The Gunners Arsene Wenger langsung memberikan kaus tim bernomor punggung 10.


Pada pekan-pekan awal debutnya, RvP mengalami kesulitan beradaptasi di lapangan hijau ajang Liga Premier yang serba bermain cepat dan keras. Namun di musim selanjutnya, 2006-2007 taji Van Persie mulai muncul. Sedikitnya 11 gol telah disumbangkan RvP bagi Meriam London.


Di musim-musim selanjutnya, Robin van Persie terus menebar maut bagi lawan-lawannya. RvP telah bermain 278 kali bersama Arsenal dan 211 kali menjadi starter. Jika dirata-rata, Robin bermain 26 kali dalam semusim. Dari seluruh perjalanan bersama The Gunners, RvP pernah mengalami 67 kali menjadi pemain pengganti.


RvP Jadi Aset Mahal Arsenal


Robin van Persie benar-benar bagai barang yang mudah sekali pecah. Van Persie seperti gampang mengalami cedera. Namun sang manajer tahu persis, pemain bintangnya ini memerlukan ‘perlakuan berbeda’ dan harus dijaga sebagai aset amat berharga bagi The Gunners.


Setiap mengalami cedera, para pemain Arsenal lainnya dan juga Arsene Wenger ikut memberikan dukungan agar RvP segera bisa pulih.


Van Persie menyadari dirinya termasuk yang rentan cedera. Perhatian yang diberikan rekan-rekan setim dan sang manajer saat dirinya cedera, langsung dibalasnya dengan aksi menawan di lapangan. Kepercayaan klub dibayarnya tunai dengan gol.



Robin mempunyai catatan unik terkait cedera. Di musim 2004-2005 bulan Februari 2005, mantan striker Feyenoord ini mengalami cedera pada bagian pergelangan kaki. Akibatnya, RvP lebih cepat mengakhiri musim ini karena harus beristirahat.


Perjalanan laga RvP di musim 2005-2006 relatif lebih mulus tanpa cedera berarti. Robin van Persie mengalami tiga kali cedera pada musim ini. Dan kondisi cederanya itu kerap kambuh. Karenanya, tak terlalu banyak gol tercipta di musim ini. Dari 26 kali penampilannya, Robin hanya menyumbangkan 5 gol. Catatan ini jelas berada jauh di bawah mesin gol Arsenal Thierry Henry.



Musim kompetisi 2007-2008 sepertinya menjadi matahari cerah buat Robin van Persie. The Gunners pun menempati markas barunya The Emirates Stadium. Sayangnya, stadion baru tak diimbangi dengan prestasi. The Gunners benar-benar puasa gelar.


Bayang-bayang Dennis Bergkham tak lagi membayang-bayanginya. Penampilan Van Persie begitu ganas. Baru di paruh musim, Robin telah sukses menorehkan catatan emas dengan 13 gol. Namun lagi-lagi, cedera menerkamnya hingga RvP harus dirawat sampai akhir musim laga. Robin van Persie dinyatakan tim medis Arsenal mengalami cedera metatarsal.



Pada musim berikutnya, Van Persie juga tak penuh mengikuti kompetisi. Ketika bulan memasuki Oktober, Robin didera cedera lutut. Akibatnya, pemain terbaik Belanda 2001-2002 itu harus istirahat beberapa bulan. Dari 15 kali tampil sebelum cedera, RvP masih mampu menyumbangkan 8 gol untuk The Gunners.


Di musim kompetisi 2008-2009, Robin van Persie hanya bermain sekitar 75 persen. Sisanya, lagi-lagi sang striker harus masuk ruang perawatan karena cedera. Namun meski tak penuh mengikuti pertandingan, Robin berhasil 11 kali menjebol gawang lawan dan menjadi pembuat assist terbanyak pada musim ini. Peranan trio penyerang Robin van Persie, Samir Nasri, dan Cesc Fabregas sangat menonjol. Fans penggemar Arsenal pun berharap banyak pada trisula tajam ini.



Malang tak dapat ditolak. Di saat publik Emirates Stadium berharap banyak pada Robin van Persie, tapi justru sebaliknya yang didapat. Memasuki November 2009, RvP didera cedera di bagian pergelangan kaki. Pemain kelahiran Rotterdam 6 Agustus 1983 itu harus diistirahatkan selama 6 pekan. Bukannya menerima keadaan, Van Persie malah mencoba menjalani pengobatan eksperimental yang akhirnya justru mengharuskan dirinya absen selama 5 bulan.


Robin van Persie baru bisa main bola lagi April 2010. Meski hanya tampil 16 kali, namun bintang Arsenal itu mampu mencetak 9 gol.



Di skuat Timnas Belanda, tahun 2010 Robin van Persie berhasil mengantar Pasukan Oranye melaju ke final Piala Dunia. Sayang, penampilannya tak seciamik saat bermain di Liga Belanda dan Premier League. Setelah laga Piala Dunia, serentetan cedera kembali dialami Robin.


Di musim 2011, Van Persie mulai mencetak gol lagi. Pada musim ini, RvP tampil sebanyak 25 kali dan mencetak gol 18 buah dalam seluruh laga bersama Arsenal. Robin pun sempat mencetak gol ketika The Gunners bertarung melawan Barcelona.


Musim Emas Bersama Arsenal


Tak selamanya juga Robin van Persie menjalani musim-musim kompetisi bersama Arsenal dalam kondisi muram. Setelah Nasri dan Fabregas dijual, otomatis tanggung jawab langsung ada di pundak RvP.



Robin menjalani tanggung jawab dan harapan fans Arsenal dengan baik. Penampilannya yang menawan sepanjang musim ini membawanya pada gelar pemain terbaik Liga Premier 2011-2012. Sang bintang mengemas 37 gol dan 15 assist. Pantaslah ketika prestasinya ini diganjar dengan gelar the best player. Tak hanya itu, Robin van Persie pun menduduki urutan teratas sebagai pencetak gol terbanyak Liga Premier 2011-2012 pada akhir musim menyisihkan bintang Manchester United Wayne Rooney. Sayangnya, Arsenal tak mampu meraih gelar apa pun karena Manchester United yang akhirnya tampil sebagai jawara Liga Inggris.


Hubungan Asmaranya Ditentang


Kisah cinta Robin van Persie dengan Bouchra terjalin saat mereka masih tinggal di Rotterdam. Van Persie kala itu masih memperkuat Feyenoord. Perkenalan mereka terjadi melalui ‘jasa makcomblang’. Usia Van Persie waktu itu masih 19 tahun. Bouchra adalah cinta pertama Robin van Persie.


Hubungan cinta itu ternyata tak mulus. Orangtua sang gadis tidak setuju anaknya dipacari Robin. Salah satu alasan utamanya adalah soal keyakinan. Mereka tak seagama.


“Pihak orangtua Bouchra saat itu tidak setuju, anaknya saya pacari,” tutur Robin van Persie seperti ditulis Dutch Football beberapa waktu silam.



Sang pacar berasal dari keluarga besar Elbali asal Maroko yang memeluk agama Islam. Sementara Robin sendiri besar dalam lingkungan keluarga penganut Agnostik. Tapi sejatinya, tak hanya itu saja. Keluarga sang gadis tahu, bahwa Robin van Persie bukanlah pemuda ‘baik-baik’. Dia kerap bikin masalah. Bahkan ketika masih sekolah di SMA, nyaris setiap hari dihukum karena kebandelannya.


Bukan Robin van Persie jika menyerah begitu saja. Selama hampir 2 tahun, Robin berusaha mendekati Bouchra Elbali dan berusaha meyakinkan keluarga besarnya itu. Upayanya itu ternyata berbuah manis. Robin direstui dan akhirnya menikahi gadis berdarah Maroko itu. Setelah menikah, Robin van Persie mengajak sang istri tinggal di Distrik Hampstead di kawasan utara London. Waktu itu, Robin baru dikontrak Arsenal.



Rupanya perjalanan keluarga muda itu tidak terlalu mulus. Robin van Persie sempat diketahui menjalin cinta dengan seorang model belia Sandra Boma Krijgsman. Bouchra bahkan sempat kecewa, namun akhirnya mau memaafkan Robin. Mereka kemudian dikaruniai dua anak Shaqueel dan Dina Layla. Shaqueel dalam bahasa Arab berarti tampan.


Robin van Persie amat mencintai keluarganya. Sampai-sampai terkesan, Robin amat menurut pada sang istri. Bahkan ketika suatu saat dirinya harus memilih pindah klub. Manchester City waktu itu sempat menawarinya untuk bergabung menjelang akhir musim 2011-2012, Van Persie menunggu saran Bouchra.


“Kehidupan rumah tangga kami tenang dan anak-anak sudah nyaman di London,” tutur Bouchra seperti ditulis The Sun terkait kepindahan sang suami ketika itu.


Bukan Mualaf


Perkawinan Robin van Persie dengan Bouchra sempat memunculkan kabar, bahwa dirinya telah ikut pindah agama mengikuti keyakinan sang istri tercinta. Dalam satu hal ini, Robin ternyata memiliki keyakinannya sendiri. Selama beberapa tahun, Robin van Persie dikira telah berpindah keyakinan memeluk agama Islam.


Dalam suatu kesempatan, bintang Arsenal itu membantah dan sekaligus memberikan penjelasan terkait keyakinannya.



“Itu tidak benar. Saya bukan seorang Muslim. Saya telah dibesarkan secara bebas. Jika Anda ingin menjadi seorang Muslim, itu harus datang dari hati. Saya tidak akan melakukannya hanya untuk menyenangkan istri saya,” kata Van Persie.


RVP mengaku dibesarkan secara liberal di lingkungan keluarga yang menganut paham Agnostik sejak kecil. Van Persie mengungkapkan bahwa dirinya tidak menganut Islam seperti sang istri. Bukan pula Kristen atau Yahudi.


Sosok Robin van Persie adalah persona yang sangat unik. Bagaimana kiprah bintang Arsenal ini di Liga Inggris? Mengapa Van Persie hengkang ke MU? Ikuti terus Kisah Robin van Persie: Perjalanan Meraih Gelar. (Vin)






Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Kisah Robin van Persie: Saya Bukan Seorang Mualaf [3]

Monday, December 30, 2013

Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria

Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 3


Anis Matta baru saja memperkenalkan istri keduanya, Szilvia Fabula, yang berasal dari Hungaria. Namun, aksi sang presiden PKS pamer istri yang bule cantik, disinyalir sebagai upaya menaikkan elektabilitas partai. Benarkah demikian?


Rabu, 25 Desember 2013, saat melakukan jogging, Anis Matta tidak hanya mengajak ketiga putranya. Tetapi juga, seorang perempuan cantik berjilbab yang sesekali digenggam tangannya oleh sang politisi. Karuan saja, sosok wanita tersebut mengundang perhatian.


Anis sendiri, tidak sungkan untuk mengungkap sosok berparas ayu tersebut. Katanya kepada media, “Ini istri saya, namanya Szilvia Fabula, Saya bertemu dengannya saat di Hungaria, ketika acara suatu konferensi di Turki. Dari Hungaria ke Turki ‘kan tidak jauh.”



Pernikahan Anis Matta dengan Szilvia sudah berlangsung lama. Tanpa sungkan, Anis juga mengisahkan persuaannya dengan sang pujaan hati delapan tahun lalu. Setelah empat bulan meyakinkan Szilvia, akhirnya kedua sejoli ini menikah pada tahun 2006 lalu di Indonesia. Tentu saja, sebelumnya Szilvia terlebih dahulu sudah menjadi mualaf.


“Kami sempat surat-suratan. Dia baca surat saya dan sempat diskusi selama 4 bulan. Setelah rentang sekian bulan, dia memutuskan jadi mualaf dan akhirnya saya nikahkan dia pada tahun 2006 di Indonesia,” ungkap Anis kepada Liputan6.



Dari pernikahannya dengan Szilvia, Anis mendapatkan anugerah seorang putri, bernama Shofia Anis Matta yang lahir pada bulan September lalu. Shofia adalah anak ke-10 Anis, setelah dari pernikahan pertamanya dengan Anaway Irianti Mansyur dikaruniai sembilan anak.


Namun, upaya Anis memperkenalkan keluarga ke depan publik, ditanggapi miring oleh beberapa kalangan. Ada yang menilai, ini adalah ‘kampanye terselubung’ dari sang presiden PKS untuk mengukur seberapa jauh reaksi masyarakat terhadap partainya.


Penilaian tersebut tentu saja dibantah oleh PKS, melalui sekjennya, Muhammad Taufik Ridho yang berkata, “Poligami itu urusan pribadi. Jangan masuk ke ruang pribadi. PKS juga tidak menyuruh menghadirkan istri muda ke publik untuk menaikan elektabilitas.”


Penasaran dengan kecantikan Szilvia Fabula? Berikut ini foto-fotonya.



Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 3


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungariav 2


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria 1


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/11/03/mcv825-pengakuan-hari-besar-islam-di-broward-masih-dikaji


Foto Istri Muda Anis Matta, Szilvia Fabula, Asal Hungaria

Monday, June 3, 2013

Terima Mobil dari Fathanah, Siapa Novia Ardhana?

Grafis Terkait


Obat-obatan Di Tubuh Jackson


Foto Terkait


Menyambut Final, Tiga Besar X-Factor Duet Bersama Mentornya


Video Terkait


Backstreet Boys Terima Hollywood Walk of Fame




TEMPO.CO, Jakarta -Satu lagi perempuan yang berada di pusaran Ahmad Fathanah, tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota impor daging sapi Kementerian Pertanian. Dia adalah Novia Ardhana, setelah sederet nama yang menerima derma dari Fathanah seperti mahasiswa Maharani, artis Ayu Azhari, model majalah pria dewasa Vitalia Shesya dan penyanyi dangdut Tri Kurnia Rahayu, belakangan nama Novia Ardhana juga muncul.


Hal itu diungkapkan pengacara Vitalia, Farhat Abbas, bahwa Novia memang pernah mendapat hadiah dari Fathanah berupa Honda Jazz, uang Rp 50 juta dan sejumlah perhiasan. Siapakah sebenarnya Novia Ardhana? Sampai kini Tempo masih berusaha menghubungi Novia.


Wanita yang biasa disapa Novi ini lahir di Jakarta pada 27 November 1974. Di awal tahun 2000an wajahnya sempat menghiasi layar kaca sebagai bintang sinetron. Selain artis, Novi yang berparas putih mulus itu juga pernah menjadi presenter dan memandu beberapa acara antara lain Seputar Olah Raga (RCTI) dan Sisi-Sisi Selebriti.


Di dunia sinetron namanya melambung dengan sederet sinetron yang pernah dibintanginya antara lain Jelangkung, Bila Wanita Bercanda, Misteri Nini Pelet, Maharani, Asyiknya Geng Hijau, Cahaya Kemenangan, Nyanyian Seorang Istri, dan Kembali ke Fitrah.


Berita perceraian Novi dengan suami, Muhammad Bintang merebak di tahun 2004. Novi yang memiliki pribadi supel itu dikabarkan bercerai karena kedekatannya dengan aktor senior Tio Pakusadewo di tahun 2003. Belakangan juga muncul nama aktor Agus Kuncoro yang juga sempat dekat dengan Novi. Nama Agus disebu-sebut sebagai pemicu bercerainya dengan Abin, panggilan Muhammad Bintang yang menikahi Novi pada 9 Februari 2001. Hasil pernikahan ini dikaruniai seorang putri bernama Jasmine Mutiara Bintang. Perceraian ini juga didasari tindak tanduk Abin yang sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang pernah memukuli Novi hingga lembam.


Novi yang menjadi mualaf atau memeluk agama Islam ini pernah mengaku dirinya sebagai pecandu narkoba pada April 2006. Novi juga pernah terjaring razia narkoba di Bali saat malam pergantian tahun 2006, dengan ditemukan 0,5 gram ganja, dan ekstasi. Namun karena barang terlarang tersebut bukan miliknya maka dirinya tidak ditahan.


HADRIANI P



Terhangat:
Teroris
| Edsus FANS BOLA | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Baca Juga:
Reuni Mesra Ahmad Fathanah Istri Mudanya

PKS Bungkam Soal Kicauan Mahfudz Siddiq

KPK: PKS Jangan Membalikkan Fakta

Fatin Lupa Lirik, Bebi: Ini Bukan Idola Cilik

Ahok: Komnas HAM Tidak Paham Keadilan

Rumah Seharga Rp 5,8 M, Fathanah Masih Nunggak

Ahok: Pemprov Tak Perlu Datang ke Komnas HAM

Istri Wali Kota Belanda Berebut Foto Bareng Jokowi

Ahok Ingin Tahu Alasan Detil Penolakan Deep Tunnel


Article source: http://nasional.kompas.com/read/2013/04/28/16274786/LKP.Inilah.Sebab.Parpol.Islam.Terseok


Terima Mobil dari Fathanah, Siapa Novia Ardhana?

Friday, December 21, 2012

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Home Sejarah


Perang Salib

Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)


 

Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki


Jum’at, 21 Desember 2012

Oleh: Alwi Alatas

Kekalahan yang diikuti dengan kemenangan pada peristiwa Perang Salib

Bagaimanapun, bukan hanya kemenangan yang bisa berakhir dengan kekalahan. Kekalahan juga bisa disikapi dan dikelola dengan baik sehingga akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib I dimulai dengan seruan Paus Urbanus II pada sidang gereja di Clermont, Prancis. Seruan ini pada asalnya merupakan tanggapan positif gereja Katholik atas permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi pasukan-pasukan Turki Saljuk yang mengganggu wilayahnya. Namun isu ini kemudian dikembangkan dan diarahkan oleh Paus untuk merebut kota al-Quds atau Yerusalem. Paus tentu mempunyai pertimbangan pribadi saat menyampaikan seruannya. Gereja Katholik ketika itu sedang banyak masalah: perselisihan gereja dengan kaisar Jerman (Holy Roman Empire), adanya paus tandingan (anti-pope), perpecahan Katholik dengan Kristen Orthodoks yang berpusat di Byzantium, ditambah lagi dengan berbagai masalah sosial di Prancis dan beberapa negara Eropa Barat lainnya. Penguasaan Yerusalem, yang mereka yakini sebagai tempat disalibnya Yesus tentu akan menjadi prestasi yang menonjol dan meningkatkan pengaruh gereja Katholik di Eropa (Paine, 2005: 32).

Orang-orang yang hadir menyambut seruan Paus itu dengan penuh semangat. Sepanjang khutbah Paus Urbanus II mereka berseru, ”Deus Vult! Deus Vult! (Tuhan menghendakinya! Tuhan menghendakinya!) (Cole, 1991: 1-2). Setelah itu, beberapa pendeta mengkhususkan diri untuk menyebarluaskan seruan Paus kepada masyarakat. Manusia kemudian berbondong-bondong datang untuk menyertai Perang Salib yang pertama (1095-1099). Kata Edward Gibbon, seorang Sejarawan Inggris abad ke-18, khutbah Paus itu telah ”menyentuh syaraf perasaan (Eropa) yang paling halus” dan mendorong mereka untuk menyambutnya dengan penuh semangat. 

Terjadinya pasukan Salib I bertepatan dengan keadaan kekhalifahan Abbasiyah yang sedang mengalami perpecahan. Pemerintahan di kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dipimpin oleh orang-orang Turki Saljuk. Ketika pemimpin tertingginya meninggal dunia pada tahun 1092, keadaan menjadi tidak stabil dan para emir saling memperebutkan wilayah dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Perpecahan ini membuka jalan bagi pasukan Salib untuk masuk ke wilayah Muslim di Asia Minor, Suriah dan Palestina dan menguasai beberapa kota. Kota Nicaea (Iznik) jatuh pada tahun 1097, Antioch (Antakya) pada tahun 1098, dan Yerusalem (al-Quds) pada tahun 1099. Beberapa kota Muslim lainnya juga jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun-tahun tersebut. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kekuatan di dunia Islam yang mampu membebaskan kota-kota tersebut dan menghadapi pasukan Salib secara efektif.

Kaum Muslimin mengalami kekalahan yang telak. Kekalahan itu bukan disebabkan oleh musuh yang sangat hebat, tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan yang menimpa kaum Muslimin. Mereka terkena penyakit cinta dunia dan jatuh dalam perpecahan dan permusuhan di antara sesama mereka. ”Para penguasa semuanya dalam keadaan berselisih …,” kata Ibn al-Athir (2006: 22), ”dan demikianlah orang-orang Frank menaklukkan negeri-negeri (Muslim).” Dr. Majid Irsan al-Kilani (2007: 49) memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemunduran dan kelemahan kaum Muslimin pada masa itu, termasuk para ulamanya:

“Mereka menjalani rutinitas harian tanpa arahan yang benar, standar nilai Islam lenyap dari panggung kehidupan nyata, sedangkan nafsu dan syahwat merajalela. Pengaruh-pengaruh negatif terasa begitu kental dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran. Bidang-bidang tersebut hancur, fundamen internal masyarakat rapuh dan daya tahannya lemah serta rentan terhadap segala macam krisis dan keterpurukan.”

Keadaan ini menyebabkan mereka kalah, walaupun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak dibandingkan musuh dan peradaban mereka jauh lebih maju. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung terus menerus. Belakangan ada beberapa ulama yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan ummat. Mereka memahami bahwa semua kekalahan itu adalah disebabkan oleh masalah internal kaum Muslimin. Maka mereka pun berusaha memperbaiki kondisi internal kaum Muslimin, khususnya memperbaiki barisan ulamanya agar menjadi ulama yang lurus dan mampu menerangi ummat (Al-Kilani, 2007).

Kemudian muncul juga seorang peminpin yang shaleh di Suriah, yaitu Nuruddin Zanki, sehingga semakin menyempurnakan perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Salib. Nuruddin Zanki menjadi sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1146, hampir bersamaan dengan terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada Perang Salib II inilah mulai terlihat perubahan signifikan di dunia Islam, dan juga di kalangan orang-orang Frank (Prancis) dan Kristen pada umumnya. Dalam menghadapi gelombang kedatangan pasukan Salib yang baru ini, para pemimpin Muslim di Suriah mulai berupaya untuk menjalin kerja sama. Ketika pasukan Salib menjadikan Damaskus sebagai target serangan, emir Damaskus mengirim surat permintaan bantuan kepada Nuruddin Zanki di Aleppo dan kakaknya yang memerintah di Mosul. Keduanya segera menyambut permintaan bantuan itu.

Sebaliknya, orang-orang Kristen justru mulai mengalami perpecahan. Kaisar Byzantium mengijinkan pasukan Prancis dan Jerman melewati wilayahnya dan memfasilitasi mereka untuk menyeberang ke Asia Minor, tetapi tampaknya diam-diam memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di wilayah itu untuk menghadang pasukan dari Prancis dan Jerman ini. Orang-orang Eropa yang baru datang itu juga belakangan mengalami perselisihan dengan orang-orang Frank yang telah lama berada di Palestina. Semua itu menyebabkan pasukan Salib mengalami kekalahan dan pasukan Salib II itu terpaksa kembali ke negerinya masing-masing dengan tangan hampa (Alatas, 2012: 286-292). Steven Runciman (1987: 288), seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah Perang Salib mengomentari Perang Salib II dengan kata-kata berikut:

”Tidak ada usaha (enterprise) abad pertengahan yang dimulai dengan harapan yang begitu baiknya. Direncanakan oleh Paus, dikhotbahkan dan diinspirasikan oleh Santo Bernard, dan dipimpin oleh dua raja utama Eropa Barat, ia menjanjikan begitu banyak kejayaan dan keselamatan bagi dunia Kristen. Namun ketika ia sampai pada akhir yang begitu memalukan berupa penarikan pasukan dari Damaskus, semua yang berhasil dicapainya adalah memperburuk hubungan antara orang-orang Kristen di (Eropa) Barat dan orang-orang Byzantium hingga ke titik yang paling serius, menaburkan kecurigaan di antara tentara-tentara Salib yang baru datang dengan orang-orang Frank yang menetap di Suriah, memisahkan para bangsawan Frank di antara sesama mereka, menarik kaum Muslimin untuk saling mendekat dan bersatu, dan menghancurkan reputasi orang-orang Frank dalam hal kecakapan militer.”

Pada perang-perang Salib berikutnya kaum Muslimin juga mampu menahan serangan pasukan Salib. Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki yang meninggal dunia pada tahun 1174 berhasil membebaskan al-Quds. Pasukan Salib tidak pernah lagi mampu merebut kota al-Quds sejak saat itu. 

Kaum Muslimin memang kalah pada Perang Salib I. Tetapi para ulama dan pemimpinnya dapat merespon kekalahan itu dengan baik dan berjuang untuk mengubah keadaan internal kaum Muslimin sehingga mereka akhirnya mampu menghadapi lawan dan membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah.

Kaum Muslimin pada hari ini juga sedang mengalami kekalahan. Mereka telah dikalahkan sejak lama. Mampukah para ulama dan pemimpinnya untuk bangkit memperbaiki ummat sehingga suatu saat nanti mereka dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan? Semoga saja.*/Jakarta, 3 Safar 1434/ 17 Desember 2012 

Daftar Pustaka

Alatas, Alwi. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim. 2012.

Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh, part 1, The 

Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim Response (terjemahan oleh  D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.

Gibbon, Edward. History of the Decline And Fall of the Roman Empire, vol. 5. e-text edition by David Reed.

Al-Kilani, Dr. Majid ‘Irsan. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (terjemahan dari Hakadza Zhahara Jil Salah al-Din wa Hakadza ‘Adat al-Quds). Bekasi: Kalam Aulia Mediatama. 2007.

Al-Maqqari, Ahmed ibn Muhammed. 1984. The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, extracted from the Nafhu-t-Tib min Ghosni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-din Ibni-l-Khattib, vol. I II, translated and ilustrated with critical notes by Pascual de Gayangos. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delhi.

Paine, Michael. The Crusades. Harpenden: Pocket Essentials. 2005.

Runciman, Steven. A History of the Crusades, 2: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge: Cambridge University Press. 1987.

 

Red: Cholis Akbar

Article source: http://www.hidayatullah.com/read/26448/21/12/2012/penyesatan-opini-paham-pembela-kebathilan.html


Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang (bag. 2)

Thursday, January 30, 2014

Rhonda Refaat Terinspirasi dari Sebuah Lagu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh; Rosida Budi Suryaningsih


Suami tidak pernah memaksanya untuk segera masuk Islam.


Banyak orang menganggap masuknya Rhonda Refaat menjadi bagian dari Muslim karena dipaksa suaminya. Padahal, jauh sebelum ia bertemu dengan suaminya, Rhonda sudah mulai tertarik dengan Islam.


Ia banyak berkutat dengan dunia maya. Rasa penasarannya pada Islam membawanya pada sebuah chat room di Yahoo yang berisikan orang-orang Muslim.


“Saya ingin tahu tentang agama ini dan ingin belajar lebih banyak tentangnya,” katanya, seperti dilansir dari ifoundislam, beberapa waktu lalu.


Tak cukup hanya dari dunia maya saja. Ia juga banyak membaca buku di perpustakaan dan membeli buku-buku yang bisa menjelaskan Islam dengan sangat baik.


Ia lahir dan dibesarkan secara Kristen. Ia juga rajin pergi ke gereja dan membaca Alkitab. Sebenarnya, ada satu pertanyaan yang selalu mengusiknya sejak ia kecil, yaitu tentang status Yesus.


“Saya dulu bertanya kepada ibu saya, mengapa Yesus dianggap sebagai anak Tuhan dan mengapa Tuhan membutuhkan seorang anak?” tanyanya. Namun, pertanyaan itu tak bisa ditemukan jawabannya hingga ia dewasa.


Akan tetapi, Islam mampu menjawab pertanyaan yang membuatnya penasaran setelah bertahun-tahun lamanya.


Setelah banyak membaca buku Islam dan puas akan jawaban yang diberikan oleh sudut pandang Islam, ia semakin yakin pada agama Allah ini. Namun, ia belum berani untuk berpindah agama.


Ia tetap mempertahankan agamanya, bahkan ketika ia menikahi pria Muslim. Ia menikah di Mesir pada Agustus 2006.


Rhonda bersyukur suaminya tak pernah memaksakan kehendak agar ia berpindah agama. Islam memang tak pernah melakukan metode paksaan untuk menggaet umat.


Namun secara halus, suaminya menghujaninya dengan lagu-lagu Islami sepanjang waktu. Setelah menikah, ia kembali ke Amerika Serikat dan selalu dikirimi lagu-lagu Islami.


“Suami saya tahu, saya menyukai musik. Untuk itu, ia tak pernah memaksa saya pindah agama namun memberikan sentuhan halus secara tidak langsung agar saya jatuh cinta dengan Islam,” ujarnya menjelaskan.


Pertama kali ia dikirimi lagu-lagu yang dibawakan Sami Yusuf. Ia kemudian mengoleksi semua album dan selalu memperhatikan makna dari lirik-lirik dari lagunya.


Salah satu lagu favoritnya berjudul Al Mualim, yang menceritakan Muhammad adalah seorang nabi, utusan Allah untuk membawa manusia ke jalan kebenaran. “Aku mulai percaya pada hal ini,” katanya.


Musisi Islam lain yang menarik perhatiannya adalah seorang penyanyi bersuara merdu, Zain Bikha. Lagu-lagu berikut musiknya yang sangat pas, menyentuh hati terdalamnya. Dalam lagu I am a Moslem, lirik lagunya benar-benar merasuk ke benaknya.


Kira-kira liriknya seperti ini, “Ketika aku lahir, kata-kata pertama yang aku dengar adalah kata-kata Allah yang dibisikkan lewat telingaku dan sejak itu aku telah merasakan kekuasaan Allah dalam jiwaku, mengisi kehidupanku. Aku seorang Muslim, Islam ada dalam diriku, Allah Tuhanku, Alquran firman-Nya, Muhammad nabiku, dan kuberikan pujian kepadanya sepanjang waktu. Saya seorang Muslim selamanya.”


Mendengar lirik tersebut, Rhonda pun menitikkan air mata. Ia merasa pastilah sangat beruntung para perempuan yang lahir sebagai Muslim dan hidupnya menjadi tenang, tidak sepertinya.


Banyak memahami makna dari lirik lagu Islami ini, akhirnya membuat Rhonda semakin mantap untuk masuk Islam. Hal ini kemudian diutarakan kepada suaminya saat ia mengunjungi Mesir pada Juli 2007.


Meski suaminya sangat senang dengan hal ini, ia ingin memastikan Rhonda benar-benar yakin dengan keputusannya.


Ia kemudian memberikan waktu selama satu bulan untuk mempertimbangkan masalah tersebut dan benar-benar yakin pada langkah yang akan diambil nantinya.


“Suami saya sangat bijaksana sekali. Dalam waktu satu bulan selama saya di Mesir ini, saya terus berdoa menggunakan bahasa Inggris dan mulai belajar bahasa Arab, juga belajar gerakan shalat dan surat-surat pendek dalam bacaan Alquran, terutama surat al-Fatihah,” ujarnya.


Pada 14 Agustus 2007, suami Rhonda membawanya ke Al Azhar, kemudian membantunya untuk bertemu imam di sana dan mengucapkan syahadat secara resmi.


Rhonda akhirnya masuk Islam dengan senyum puas mengembang setelahnya. “Saya sangat bangga mengucapkan ‘saya seorang Muslimah’ pada dunia,” katanya.


Meski syahadat telah diucapkan, ia belum berani untuk mengenakan jilbab. Lagi-lagi suaminya pun tak memaksanya untuk harus menggunakan jilbab.


“Suami saya berkata, memakai jilbab itu adalah sebuah pilihan bagi saya, tentang hubungan saya dengan Allah. Ia tak mau jika saya mengenakan jilbab hanya demi dirinya,” ujar Rhonda menjelaskan.


Lama kelamaan Rhonda pun tahu hukum memakai jilbab bagi seorang Muslimah. Sama halnya dengan keputusannya masuk Islam, keputusannya untuk mengenakan jilbab dan busana Muslim datang dari hatinya sendiri, tanpa paksaan dari siapa pun.


Article source: http://www.wartanews.com/timur-tengah/827c3d75-3a1d-4447-90a1-78334a73766f/bassem-yousef-nampak-cantik-harus-memakai-jilbab-seperti-wanita


Rhonda Refaat Terinspirasi dari Sebuah Lagu

Sunday, December 29, 2013

Kisah Cinta Anis Matta di Hongaria

Teriknya sinar matahari di kawasan itu tak membuat warga yang sebagian membawa keluarga mereka untuk bersantai dan bersenda gurau.

Tak terkecuali bagi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Penampilan kasualnya menggunakan kaus dan kacamata hitam sempat membuat awak media yang kebetulan berada di lokasi terkecoh.


Anis tak hanya sendiri. Ia berolahraga bersama seorang perempuan, tiga orang anak laki-laki, dan seorang bayi mungil yang terlelap di dalam stroller (kereta bayi).


Pada akhirnya, wartawan pun menyadari kalau seseorang yang berlalu lalang mengitari Taman Suropati adalah Anis Matta. Berulang kali, Anis beserta sang istri dengan ramah melempar senyum kepada wartawan.


“Nanti ya, kita wawancaranya habis sepuluh putaran,” kata Anis seraya tersenyum.


Setelah sepuluh putaran mengelilingi Taman Suropati, Anis menepati janjinya untuk memenuhi wawancara awak media.


Sambil mendorong stroller, Anis bercerita tentang bayi mungil yang baru saja lahir pada September 2013 lalu. Bayi perempuan yang tampak cantik dan tidur nyenyak itu bernama Sofia Anis Matta.


Ia mengenalkan anak itu sebagai buah hatinya bersama Szilvi Fabula (28), yang berasal dari Hongaria. Szilvi adalah istri kedua Anis Matta.


“Anak saya itu ada sepuluh. Jadi, urutannya itu cewek, cewek, cewek, cowok, cowok, cowok, cewek, cowok, cewek, cewek,” kata Anis menjelaskan.


Beberapa menit kemudian, Szilvia bersama tiga anak laki-laki Anis menghampirinya. Ketiga anak-anaknya masing-masing bernama Azzam, Aiman, dan Roid. Mereka buah hati keempat, kelima, dan keenam Anis dengan istri pertamanya, Anaway Irianti Mansyur.


Dari hasil pernikahannya bersama Anaway, Anis memiliki sembilan buah hati.


Szilvia yang saat itu tampak cantik mengenakan jilbab pink berkaca mata langsung berdiri di sebelah Anis. Anis kemudian mengenang pertemuan pertamanya bersama Szilvia.


Beberapa tahun silam, Anis pernah menghadiri sebuah konferensi yang diadakan di Turki. Ia pun berpikir untuk mampir ke negara tetangga Turki, Hongaria.


Di tempat asal Szilvia itulah yang kemudian menumbuhkan benih-benih cinta Anis kepada Szilvia. Butuh waktu empat bulan bagi Anis untuk mengenal lebih dekat pribadi Szilvia.


“Kemudian dia menjadi mualaf. Dia membaca surat saya dan kita berdiskusi terlebih dahulu selama empat bulan,” imbuhnya.


Akhirnya, pada tahun 2006, mereka mengikat janji sehidup semati membangun bahtera rumah tangga.


Article source: http://www.republika.co.id//berita/dunia-islam/mualaf/12/04/09/m26vtc-asumsi-bimbing-afrah-alshaibani-memeluk-islam-1


Kisah Cinta Anis Matta di Hongaria

Saturday, April 20, 2013

“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam - Agama Lain Hidup Rukun”

Home Wawancara




14 Tahun Konflik Poso dan Tuduhan “Teror” (2)


“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam – Agama Lain Hidup Rukun”





 


 




Sabtu, 20 April 2013


22 SEPTEMBER 2006, dini hari, Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu menjalani eksekusi mati di Poso, Provinsi Sulawesi Tengah di hadapan regu tembak dari kesatuan Brimob Polda setempat. Mereka menjalani eksekusi mati secara serentak selama kurang dari lima menit mulai pukul 01:10 WITA di sebuah tempat yang masih dirahasiakan di pinggiran selatan Kota Palu. Tibo CS, mengingatkan kasus kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah tahun 1999 yang menelan korban pihak Muslim dan Kristen dengan jumlah yang tidak sedikit.


Luka lama yang berumur tidak kurang 14 tahun itu kini mulai muncul kembali seiring berbagai tuduhan miring yang muncul, termasuk tuduhan “teroris”.


Hari Ahad, (14/04/2013), hidayatullah.com mewawancarai tokoh umat dari Poso, Adnan Abdul Rahman Saleh yang juga Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Poso.


Adnan kebetulan berada di Jakarta guna menghadiri acara diskusi bertopik “Memberantas Terorisme Tanpa Teror Melanggar HAM” di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng Jakarta Pusat, hari Kamis (11/4/2013).


Ustad Adnan Arsal, demikian ia akrab disapa menceritakan panjang lebar duka mendalam warga Sulawesi Tengah yang menurutnya kini difitnah dengan isu “terorisme”.


“Fitnah teroris yang telah menciptakan ketakutan baru di Poso,“ apa maksudnya? Inilai petikan wawancara pria dengan kelahiran 11 Desember 1967 yang akan dimuat selama empat seri.*


Sebenarnya apa yang terjadi di Poso?  Bagaimana hubungan agama Islam dengan agama lain?


Sebelum terjadi konflik Poso tahun 2000, umat Islam dan agama lain itu rukun sekali. Kita justru bertanya mengapa kerukunan ini bisa hancur dan susah diobati bertahun-tahun. Pada masa itu memang ada banyak kepentingan politis. Baik dari pemerintah pusat maupun oknum yang memiliki kepentingan di Poso.


Kami masyarakat Poso saat itu begitu merasakan ada kepentingan yang menunggangi konflik Poso. Tahun 2000 itu masa reformasi, terjadi pengalihan kekuasaan dari Soeharto ke BJ Habibie. Pada saat yang sama ada pengalihan kewenangan kekuasaan keamanan dari TNI ke Polri. Hal ini juga membawa dampak tidak sedikit.


Jika TNI turun saat itu merelai dan meredakan, dimungkinkan sangat mampu meredam konflik Poso hingga tak berlarut-larut seperti ini. Sebab


polisi saat itu masih berjumlah sedikit jelas tidak mampu dan berani melawan amuk massa kelompok yang berlebihan. Sementara setelah itu semua menjadi rumit setelah hadir perlawanan massa dari umat Islam. Akhirnya ada indikasi persaiangan aparat yang berujung mengorbankan masyarakat sipil.


Apakah ada kemungkinan faktor lain?


Ini juga titik penyebab kenapa konflik SARA di Poso itu berkembang dan semakin rumit. Pada kondisi lain pertumbuhan program transmigrai membuat kekuatan ekonomi umat Islam bertumbuh pesat. Lahan-lahan subur seperti pertanian dan tambang ketika dikelola umat Islam berjalan baik.


Akhirnya banyak lahan-lahan ekonomi agama lain bergeser peran. Dominasi umat Islam dalam ekonomi terus bertumbuh. Tanah-tanah di Poso semakin dikuasi umat Islam. Namun kekuasaan itu murni karena ekonomi, karena bisnis, karena jual beli yang baik bukan karena perang dan pembantaian.


Ketika umat Islam mulai masuk ke daerah-daerah yang 100% sebelumnya beragama agama lain akibat pengaruh perdagangan, yang terjadi adalah kecemburuan di kalangan umat agama lain.  Kecemburuan inilah yang terus meledak saat kasus pertengkaran anak muda karena minuman keras pertama kali terjadi.*/bersambung


Baca wawancara 1; MengapaTuduhan Terorisme Tak Habis-habis untuk Kami?


 


Rep: Thufail al Ghifari
Red: Cholis Akbar


Article source: http://sidomi.com/179276/persib-terharu-abanda-herman-jadi-mualaf/


“Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam - Agama Lain Hidup Rukun”

Monday, July 15, 2013

Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika


ISLAMIC Society of North America (ISNA) tepat sekali memilih Ingrid Mattson sebagai orang nomor satu. Banyak orang sepakat bahwa sosok Ingrid sangat tepat untuk memimpin Komunitas Islam Amerika Utara, yang merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.



Siapa yang mengira bahwa mualaf ini akan memimpin sebuah organisasi besar dan berpengaruh di Amerika. Siapa sebenarnya Ingrid dan bagaimana kisah hidupnya sehingga bisa menjadi muslimah kesohor?



Ingrid Mattson dilahirkan Kitchener, Waterloo, Ontario, Kanada pada 1964. Mattson lahir dari keluarga penganut Katolik Roma yang sangat taat. Waktu kecil dia tumbuh sebagai anak yang rajin melakukan misa harian.



“Saya punya kesalehan kanak-kanak yang polos dan sederhana,” ujar Ingrid dalam buku ‘Seeking Truth Finding Islam (Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat) halaman 44, Minggu (7/7).



Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak mempercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.



Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.



Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. “Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang,” ujarnya.



Sejak saat itu, Mattson mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga.



Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun.



Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. “Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas,” ujar Mattson.



Pada tahun 1987, Mattson lalu memutuskan pergi ke Pakistan untuk menjadi relawan kemanusiaan. Selama berada di Pakistan, Mattson akhirnya menemukan seorang pemuda yang juga menjadi relawan, Aamer Atek, seorang insinyur asal Mesir. Merasa sehati, keduanya memutuskan menikah.



Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.



Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu.



Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat. Hal ini lantaran namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inagurasi Barack Obama, setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.



Saat itu, Mattson masih menjabat sebagai presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC, sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44.



Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.



Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. | sumber: merdeka.com


Article source: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=294239:jo-taslim-jadi-mualaf&catid=103:film&Itemid=149


Ingrid Mattson, wanita mualaf pemimpin ormas Islam di Amerika

Wednesday, February 6, 2013

Korupsi Itu Bertentangan dengan Agama

KOMPAS.com – Penetapan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap kuota impor daging oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu (30/1), sungguh mengejutkan. Bagaimana mungkin presiden partai yang mengusung jargon citra bersih ternyata diduga melakukan perbuatan yang dilarang agama. Bagaimana menjelaskannya?


Jika mau menengok ke beberapa tahun ke belakang, sebenarnya kita tak perlu ”kaget-kaget amat”. Soalnya, kasus-kasus korupsi yang dianggap bersentuhan dengan ranah agama justru banyak menyeret sejumlah tokoh.
Dana Abadi Umat (DAU) menyeret mantan Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar (Kabinet Gotong Royong 2001-2004), yang divonis hukuman lima tahun penjara dan membayar denda Rp 200 juta serta uang pengganti Rp 2 miliar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Februari 2006. Hampir bersamaan, DAU juga menyeret Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Ibadah Haji Departemen Agama Taufik Kamil, yang divonis empat tahun penjara.
Juni 2012, KPK menyidik dugaan korupsi dalam pengadaan Al Quran di Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama tahun anggaran 2010-2011. Anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Jabbar, dan anaknya, Dendy Prasetya, ditetapkan menjadi tersangka. Selain pengadaan Al Quran, Zulkarnaen juga terlibat korupsi pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah di Ditjen Pendidikan Islam. Belakangan, pejabat pembuat komitmen di Ditjen Bimas Islam, Ahmad Jauhari, juga ditetapkan sebagai tersangka.
Dalam kasus Luthfi, beberapa alat bukti menunjukkan, suap dari PT Indoguna Utama tersebut mengarah kepada anggota DPR itu. Namun, PKS pun membela diri. M Anis Matta, yang menggantikan Luthfi sebagai presiden partai, bahkan menuding ada konspirasi untuk menghancurkan partai tersebut. Namun, tampaknya publik percaya dengan KPK sebagai lembaga profesional dan kredibel. Siapa pun yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh komisi itu biasanya dapat dibuktikan kejahatannya di pengadilan.
Moralitas
Kita semua sepakat, korupsi merupakan kejahatan luar biasa karena tak hanya merugikan orang per orang, tetapi juga publik luas. Kejahatan ini menggerogoti dana negara yang semestinya untuk pembangunan bagi rakyat. Semua agama jelas-jelas melarang keras praktik korupsi (rasuah). Ajaran Islam bahkan menegaskan, penyuap (al-rosyi) dan penerima suap (al-murtasyi) bakal masuk neraka dan menerima siksaan pedih.
Namun, mengapa banyak tokoh bisa terjerumus? Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, membuat pesan berseri yang menarik di laman Twitter lewat akun @ihsan_AF. Dia mengingatkan, kita jangan kaget oleh adanya agamawan yang tak kuat menahan godaan korupsi.
Agama, kata Ihsan, bukanlah yang terpenting untuk menentukan perilaku. Lidah seseorang boleh mengucapkan kalimat-kalimat bijak agama, tetapi bisa jadi perilakunya menyimpang. Apalagi, ada dorongan kebutuhan material tinggi, konsumerisme menggila.
”Faktanya, negara-negara dengan tingkat ketaatan beragama tinggi juga adalah negara-negara terparah korupsinya. Misalnya, Pakistan, India, Banglades, juga Indonesia. Politisi, sekuler atau religius, bisa korup. Itu menyangkut agama apa saja,” catatnya.
Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Ali Munhanif menilai, agama tak bisa sendirian melawan praktik korupsi. Batasan-batasan moral agama tidak cukup kuat untuk mendorong seseorang tetap bermoral ketika memperoleh peluang dan punya kekuasaan. Perlu batasan-batasan legal yang bisa memaksa siapa pun untuk mematuhi larangan korupsi.
”Kita memerlukan penegakan hukum tegas dan adil serta memperkuat lembaga pemberantasan korupsi,” katanya.
Menurut Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch Ade Irawan, nilai-nilai agama tetap relevan untuk memperkuat moralitas antikorupsi di masyarakat dan pemerintahan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesalehan sosial dapat terus dikembangkan lewat pendidikan dan lembaga agama. Penting juga keteladanan dari para pemimpin, pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab, serta publik yang kritis.
Tokoh-tokoh agama juga perlu menjadi contoh melawan korupsi dan mencegah lembaga agama sebagai tempat pencucian uang hasil korupsi. (Ilham Khoiri)

Monday, December 17, 2012

Ini Dia Sosok Penghina Mantan Presiden BJ Habibie

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sosok Zainuddin Maidin menjadi pembicaraan dua negara bertetangga, Malaysia dan Indonesia.

Bernama lengkap, Tan Sri Zainuddin Maidin, politikus Malaysia kelahiran 29 Juni 1939 ini, menyebut Presiden ketiga RI BJ Habibie sebagai pengkhianat bangsa dalam sebuah artikelnya di media Malaysia.

Dikutip dari wikipedia, Zainuddin adalah mantan menteri informasi di Malaysia. Dia juga mantan Pemimpin Redaksi Utusan Melayu, surat kabar populer di Malaysia.

Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam blognya ikut geram dengan tudingan Zainuddin ke BJ Habibie.

Karir politik Zainuddin pernah kandas dimana dalam Pemilihan Umum ke-12 Malaysia, ia gagal masuk ke Parlemen melalui Parti Keadilan Rakyat.

“Ia sering menuding dan melabel kelompok yang tidak sehaluan dengan UMNO sebagai ‘pengkhianat’,” tegas Anwar Ibrahim.

Anwar bahkan menyebut Zainudin merupakan satu-satunya menteri kanan yang kalah dalam memperebutkan kursi parlemen pada Pemilu Malaysia lalu.

“Justeru kita bisa memahami keresahan, dendam dan motif beliau dalam melancar serangan sebegini,” tulis Anwar Ibrahim.

Zainuddin lahir di Kota Kuala Muda, Kedah, sebuah keluarga Muslim keturunan Melayu dan India Campuran.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Maktab Mahmud, Alor Star. Melanjutkan pendidikan jurnalisme dari Berlin Jurnalisme Institute pada tahun 1969. Pada tahun 1981, ia dianugerahi Fellowship dengan Wartawan Profesional dari Universitas Michigan, Amerika Serikat.
Zainuddin menikah dengan Datin Zaiton Zainol Abidin dan merupakan ayah dari dua putri dan dua putra.

Zainuddin pernah bekerja sebagai Wakil Utusan Melayu di London dan menjadi Pemimpin Redaksi Utusan Melayu pada tahun 1982. Sejak tahun 1992, ia memegang berbagai non-editorial posisi seperti Konsultan Departemen Editorial dari Utusan Melayu (1992) dan Ketua Eksekutif Utusan Publikasi dan Distributor Sdn. Bhd (UP D) (1994). Kemudian ia menjadi anggota Dewan Direksi kumpulan Utusan Melayu (M) Bhd dan menjadi Wakil Ketua Dewan pada tahun 1998.

Ditulis wikipedia, Zainuddin menulis beberapa buku. Zainuddin pernah diangkat sebagai anggota Dewan Negara pada tahun 1998, sebelum namanya berganti jadi Sekretaris Parlemen dari Kementerian Informasi pada 17 Januari 2001.

Pada 21 November 2012 dia diangkat Deputi Menteri Informasi Malaysia. Dan pada 14 Februari 2006, dia diangkat menjadi Menteri Informasi oleh Perdana Menteri Tun Abdullah Ahmad Badawi menggantikan Abdul Kadir Sheikh Fadzir.

Dalam Pemilihan Umum ke-12 Malaysia pada tanggal 8 Maret 2008 memperebutkan kursi Sungai Petani di Parlemen namun dikalahkan oleh Datuk Johari Abdul Partai Keadilan Rakyat.

Article source: http://internasional.kompas.com/read/2012/09/27/18151274/Penasihat.Media.Presiden.Iran.Masuk.Bui


Ini Dia Sosok Penghina Mantan Presiden BJ Habibie

Thursday, August 22, 2013

Ustad Solmed, Dari Pimpin Demo Playboy Hingga Gosip Pacari Artis

Ustad Solmed, Dari Pimpin Demo Playboy Hingga Gosip Pacari Artis




Liputan6.com, Jakarta : Nama Ustad Soleh Mahmoed atau Ustad Solmed, belakangan ramai dibicarakan. Penyebabnya adalah gara-gara kabar tarif tinggi dalam berdakwah yang dikenakannya. Lalu siapa sebenarnya Ustad Solmed?


Berita Terkait



FPI: Tarif Dakwah dan Makanan Ustad Solmed Haram


FPI: Tarif Dakwah dan Makanan Ustad Solmed Haram



[VIDEO] MUI: Tidak Bermoral Pendakwah Pasang Tarif


[VIDEO] MUI: Tidak Bermoral Pendakwah Pasang Tarif


Organisasi Front Pembela Islam (FPI) mengakui jika Ustad Solmed adalah bekas anggotanya. Saat di FPI, dia termasuk salah satu pejabat tinggi di jajaran Dewan Pimpinan Pusat, pimpinan Habib Rizieq. Kiprahnya dalam berdakwah dan memerangi kemaksiatan dan pornografi pun terbilang berani.


Masih ingat dengan aksi perusakan kantor Majalah Playboy Indonesia di Gedung Asean Aceh Fertilizer di Cilandak, Jakarta Selatan pada 12 April 2006 lalu. Aksi demonstrasi yang berujung perusakan itu ternyata dipimpin oleh Ustad Solmed yang dahulu dikenal dengan Ustad Soleh.


“Iya memang dia benar yang memimpin aksi tersebut,” kata Ustad Novel Bamu’min yang juga Sekretaris DPD FPI DKI Jakarta kepada Liputan6.com, Kamis (22/8/2013)


“Makanya, di balik sifatnya yang nggak bagus, dia memang memiliki peran yang baik dalam memerangi pornografi,” lanjutnya.


Ustad Solmed sendiri beruntung karena dirinya tidak menjadi salah satu terdakwa dalam perusakan kantor Majalah Playboy Indonesia. Malahan, dua anggota FPI yaitu Ali Zainal (koordinator aksi) dan Agus Irawan (koordinator konsumsi) yang dijadikan terdakwa dalam persidangan.


Kegiatan Ustad Solmed pasca penyerangan pun masih normal sampai dianggap bermasalah, dan berujung pada pemecatan dari keanggotaan FPI. Namun, nama Solmed tidak tenggelam begitu saja. Sempat ikut dengan pengajian bersama almarhum Ustad Jefri, lambat laun nama Solmed berkibar dengan seringnya dia masuk TV.


Solmed yang dikenal sebagai ustad alim di FPI, kini dikenal dengan ke-glamour-annya. Dari mulai digosipkan dekat dengan Syahrini, Nuri Maulida, hingga menaiki mobil mewah saat melakukan sahur on the road.


Resiko masuk ke dunia entertainmen pun dirasakan oleh Ustad Solmed dengan gosip-gosip seputar dirinya. Solmed pernah dituding kerap mengajak mantan istrinya, Dewi Yulianti berhubungan badan. Padahal, keduanya sudah resmi bercerai. Dalam menjalani taaruf bersama dengan istrinya April Jasmine, Ustad Solmed juga dianggap kebablasan. “Masa taaruf dengan pamer kemesraan di TV,” kata Ustad Novel.


Lalu, bagaimana nasib ustad Solmed kini? Para petinggi FPI pun meminta kepada Solmed untuk bertaubat. Pasalnya, apa yang dilakukannya dengan mengenakan tarif tinggi dianggap salah menurut agama.


“Segeralah bertobat. Percaya lah nggak benar men-tarifkan dakwah. Kalau dia bertobat, kembalikan harta-harta yang sudah diambil dia dan berikan kepada fakir miskin sehingga dia dianggap tobat,” pungkas Ustad Novel.(Adt)


Baca:
Ustad Solmed Kumpulkan Sejumlah Da’i untuk Cari Dukungan
Apa Komentar Ustad Yusuf Mansyur Soal Tarif Tinggi Ustad Solmed?

Obsesi Ustad Solmed: Jadi Ustad Termahal!
FPI: Haram Hukumnya Undang Solmed Ceramah
Pasang Tarif, Ustad Solmed Dianggap Permalukan Profesi Da’i
Tarif Kecil, Ustad Solmed Sering Tolak Ceramah Salat Jumat
Pasang Tarif Tinggi, Alasan FPI Pecat Ustad Solmed
FPI: Ustad Solmed Itu Penyakit







Article source: http://www.voaindonesia.com/content/kepolisian-spanyol-tahan-masinis-ka-cepat/1711564.html


Ustad Solmed, Dari Pimpin Demo Playboy Hingga Gosip Pacari Artis

Wednesday, December 19, 2012

Basuki: Saya Hanya Belum Dapat Hidayah Saja

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dikenal sebagai sosok yang blak-blakan. Saat menjadi pembicara di Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dia menceritakan bagaimana nada miring yang diterimanya saat mengikuti pilkada.
Sebagai keturunan Tionghoa, pria yang akrab disapa Ahok itu menyadari tantangannya saat terjun ke kancah politik.
“Jangan pilih Ahok yang kafir. Lalu kenapa tetap memilih Ahok? Nah ini alasannya pasti menarik,” kata Basuki dalam forum tersebut, Selasa (27/11/2012).
Basuki bercerita, selama 10 tahun, dia menjadi anggota parlemen lokal di daerah asalnya, Bangka Belitung. Dia pun menyadari posisinya sebagai orang Kristen.
“Saya Kristen, tapi sejak SD-SMP saya sekolah di sekolah Islam. Saya hanya belum dapat hidayah saja,” kata Basuki sambil tersenyum.
Dia juga mengaku belajar mengaji habis shalat isya. Namun, dia pernah merasakan ditolak masuk masjid oleh Ketua Panitia MTQ Provinsi Bangka Belitung 2006.
“Saya hanya belum mendapat hidayah,” tuturnya lagi.
“Kata warga, yang kami butuhkan yang bisa menyejahterakan umat, bukan mengaku KTP Islam tapi korupsi. Mending dipimpin Ahok daripada dipimpin orang yang ngaku punya hidayah tapi kafir,” tambahnya.
Seusai Basuki menyampaikan pandangannya, seorang perwakilan dari Norwegia yang hadir dalam dialog ini mengaku sangat puas dengan apa yang disampaikan oleh Basuki.
“Sekarang saya tahu mengapa Pak Basuki terpilih menjadi wakil gubernur,” kata dia disambut tepuk tangan para peserta dialog.
Dialog antarumat beragama ini merupakan inisiasi dari FKUB sekaligus menyambut beberapa orang perwakilan Norwegia dalam dialog hak asasi manusia (HAM) ke-11 yang berlangsung di Jakarta.
Dialog ini diarahkan untuk mengetahui dinamika FKUB sebagai leading sector kerukunan umat beragama di Provinsi DKI Jakarta. Hadir juga dalam dialog ini, Ketua FKUB KH Ahmad Syafii Mufid, Wakil Ketua FKUB Rudi Pratikno dan Echa Abdullah, serta Sekretaris FKUB H ME Syahroni.
Basuki: Saya Hanya Belum Dapat Hidayah Saja

Monday, December 30, 2013

Presiden PKS Anis Matta Pamer Isteri Muda Bukan Urusan Partai

TRIBUNJOGJA.COM - Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Taufik Ridlo membantah terkait tudingan Presiden PKS Anis Matta yang sengaja ‘memamerkan’ istri mudanya di hadapan publik, menjadi strategi untuk meningkatkan elektabilitas partai.


Ridlo mengaku tidak mengintervensi kadernya untuk memamerkan para istri muda ke hadapan publik demi mendapat perhatian dan meningkatkan elektabilitas.


“Tidak begitu, poligami itu urusan pribadi, jangan masuk ke ruang pribadi. PKS juga tidak menyuruh menghadirkan istri muda ke publik untuk menaikan elektabilitas,” katanya saat ditemui usai pemaparan hasil Pemira PKS di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (28/12/2013).


Menurutnya, Anis Matta kepergok berjalan dengan istri keduanya, Szilvia Fabula (28) di Taman Suropati Jakarta Pusat beberapa waktu lalu hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja.


“Kemarin itu kebetulan ada olah raga dan ada wartawan, jadi diliput, jadi ramai deh. Itu urusan pribadi masing-masing,” katanya.


Diketahui, Anis Matta menggandeng istri keduanya di hadapan publik dengan mengajaknya jogging di Taman Suropati, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.


Anis tidak ragu menceritakan ihwal istri keduanya itu. Szilvi bersama tiga anak laki-laki, Azzam, Aiman, dan Roid merupakan anak Anis dari istri pertama, Anaway Irianti Mansyur, mendampingi di samping kiri dan kanan Anis, kala itu.


Anis menuturkan, dirinya bertemu Szilvi pada 2005 saat dirinya ikut konferensi di Turki.


Usai perkenalan, lanjut Anis, dia surat-suratan sekitar enam bulan. Awal 2006, Szilvi menjadi mualaf dan datang ke Indonesia. Tidak lama kemudian, Anis menikahi Szilvi.


Hasil pernikahannya dengan Szilvi, Anis mempunyai seorang putri kecil yang diberi nama Shofia. Sedangkan dari istri pertama Anis dikarunia sembilan anak. (*)



Presiden PKS Anis Matta Pamer Isteri Muda Bukan Urusan Partai