Showing posts sorted by relevance for query munkar. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query munkar. Sort by date Show all posts

Friday, July 26, 2013

Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

suarasurabaya.net – Bulan Ramadhan selalu digunakan mantan preman ini untuk bersafari ke lembaga pemasyarakatan (LP), rumah tahanan (Rutan) dan lokalisasi beberapa kota di Indonesia.


“Saya 1 minggu sekali buka puasa bersama dengan keluarga, kunjungan ke LP dan Rutan. Selain itu awal Ramadhan 10 malam kunjungan ke lokasi pelacuran,” kata Anton Medan pada Suara Surabaya, Kamis (25/7/2013).



Di bulan Ramadhan penuh berkah ini, lelaki yang mengganti namanya menjadi Muhammad Ramdhan Effendy ini punya prinsip harus ada perubahan gaya hidup. “Hidup lebih baik jika kita memberikan keberkahan untuk diri sendiri dan orang lain,” katanya. Di sisi lain kita harus lebih toleran dan ramah serta saling menghargai soal mereka beda agama, suku karena itu rahmat Tuhan yang mengharuskan kita saling mengormati,” ujar dia.



Anton Medan menceritakan pertama kali masuk Islam pada 1992. Sebelumnya sempat memeluk agama Kristen selama 4 tahun. Sebelumnya juga pernah 7 tahun sempat tidak menganut agama sama sekali. Usai masuk Islam, Anton Medan sudah dakwah di 476 Rutan dan Lapas.



“Ketika itu saya dalam keadaaan galau betul, saya pertama ketika punya anak niat bertobat karena saya sudah pernah dipenjara sejak usia 12 tahun karena kasus pembunuhan,” kata dia.



Bahkan setelah itu, lanjut dia, juga pernah dipenjara di Jakarta selama 6 tahun, 3 tahun dan 2 tahun. Kemudian harus masuk bui kembali selama 27 tahun karena merampok 16 toko emas serta 26 nasabah bank. “Saya di berbagai penjara dijadikan sebagai pemuka napi. Jadi saya bisa bawa diri dan bisa bergaul dengan napi yang terlibat kasus apa saja,” ujar Anton Medan yang menjadi Ketua Umum DPP Persatuan Islam Tionghoa.



“Saya ingin menjadi pelaku sejarah karena banyak orang bisa melakukan hal-hal baik tapi belum tentu bisa berakhir baik,” kata pengagum Umar bin Khatab ini.



Bagi Anton, segala tindakannya harus bertujuan pada amar ma’ruf nahi munkar. Untuk melaksanakannya, Anton mengaku tidak tertarik menggunakan politik sebagai alatnya. Dia juga mengkritisi organisasi masyarakat yang mengaku menganut amar ma’ruf nahi munkar dengan menggunakan metode kekerasan. “Islam wajib melawan kemunkaran, tapi tidak wajib menggunakan kekerasan dalam memeranginya,” kata dia.



Saat melihat ada kemunkaran, kata Anton, adalah peran aparat negara yang membasminya. Masyarakat bisa mendampinginya dengan imbauan lisan. “Kalau yang diimbau tidak mau berubah, ya sudah. Itu urusan mereka,” ungkap dia.



Kata Anton, Islam itu mengayomi dan memberi contoh. Dia menyesali jika Islam dikotori oleh radikalisasi dan aksi ormas tertentu yang merupakan sebuah agama radikal.



“Saya sering memberikan motivasi kalau Islam bisa jalankan semua syariat. Saya coba menggiring para napi ke arah sana dengan memberi sedikit tausiah,” kata dia.



“Penjara bukan tempatnya sampah masyarakat. Penjara bukan akhir segalanya, melainkan awal dari kebaikan. Manusia tidak perlu terus larut dalam penyesalan. Sebaliknya, catatan hitam kehidupan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri di masa depan,” pesan Anton Medan. (dwi/edy)



Teks Foto :

- Anton Medan saat berkunjung ke Suara Surabaya

Foto : Dwi suarasurabaya.net


Editor: Eddy Prastyo


Article source: http://www.tribunnews.com/2012/06/17/hti-adalah-partai-politik-islam


Tausiyah Sang Mantan Bromocorah

Thursday, December 8, 2016

Hujat MUI, Mualaf Ini Tobat dan Bersyahadat Lagi

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Seorang mualaf di Kota Sukabumi mengaku khilaf dan bertobat karena telah menghujat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Langkah tersebut dilakukan di depan pengurus MUI dan Front Pembela Islam (FPI) Kota Sukabumi Jumat (9/12).

Warga tersebut adalah Yuanta Dharma Djohanli alias Yuan Lee bin Dharmawan Djohanli (49 tahun) warga Jalan Mayawati Atas RT 03 RW 01, Kelurahan  Gunung Parang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sebelumnya, dalam akun media sosial facebook, dia menuliskan hujatan dan hinaan terhadap MUI dan FPI.

"Saya mengakui telah membuat pernyataan di akun facebook pada tanggal 18 Nopember 2016 yang menghujat FPI dan MUI," ujar Yuan Lee, membacakan ikrar di depan pengurus MUI dan FPI di Gedung Pusat Kajian Islam Kota Sukabumi. Salah satu kalimatnya antara lain ‘kalian kelompok barbar yang ingin makar terhadap NKRI dan pemerintah yang sah, kalian ingin perang saudara dan kalian organisasi bajingan'.

Yuan Lee mengaku, pernyataan tersebut salah dan berdosa. Oleh karena itu, ia meminta maaf sedalam-dalamnya kepada MUI, FPI, dan organisasi Islam lainnya. Ia juga berjanji akan bertobat kepada Allah SWT dan tidak akan mengulangi perbuaan keji dan munkar.

Dalam ikrarnya juga, Yuan Lee meminta adanya bimbingan dan pembinaan dari MUI agar menjadi mualaf yang baik. Yuan Lee juga bersedia mondok di pesantren yang ditunjuk MUI Sukabumi minimal selama tiga bulan untuk memperdalam ajaran Islam.

Terakhir kata Yuan Lee, ia memohon kasus pelaporan yang dilakukan MUI ke polisi terkait posingan di facebook tersebut agar dicabut. Harapannya, kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. "Saya sangat menyesal dan tidak mengulangi lagi," kata Yuan Lee yang masuk Islam pada 2006 lalu. Ia mengaku, proses belajar Islamnya sempat terhenti sejak lama.

Sekretaris MUI Kota Sukabumi Muhammad Kusoy mengatakan, sebelumnya MUI dan FPI telah melaporkan Yuan Lee ke Polres Sukabumi Kota pada 22 Nopember 2016 lalu. "Pelaporan terkait pernyataan Yuan Lee yang menghina dan menghujat MUI dan FPI," ujar dia.

Pelaporan tersebut, kata Kusoy, untuk menjaga nama baik MUI, kemuliaan ulama, dan ajaran Islam. Selain itu, untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di Kota Sukabumi.Namun terang Kusoy, pada 3 Desember 2016 terlapor Yuan Lee beserta keluarganya mendatangi Kantor MUI Sukabumi. Kedatangan terlapor untuk meminta maaf dan mengaku berdosa serta menyesal mengeluarkan pernyataan yang menghujat MUI.

Kusoy menambahkan, terlapor juga memohon bimbingan dari MUI dan meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Pasalnya, selama ini belum mendapatkan pembinaan dari segi agama. Permohonan ini, ungkap Kuoy, langsung direspons dengan menggelar rapat antara MUI dan FPI.

Hasilnya, MUI, dan FPI memberikan maaf dengan syarat terlapor bersyahadat kembali dan menyampaikan permohonan maaf dan berikrar di hadapan pengurus MUI secara terbuka. "Terlapor juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan menebus dosanya dengan keimanan dan amal shaleh," katanya.

Selepas itu, terlapor juga harus mondok di Pesantren Dzikir Alfath Kota Sukabumi selama tiga bulan. Ketua MUI Kota Sukabumi Deddy Ismatullah menambahkan, terlapor Yuan Lee merupakan mualaf dan telah menjadi bagian saudara umat Islam. Sehingga, dengan adanya permintaan maaf dan bersyahadat, maka proses hukumnya akan segera dicabut. "MUI juga akan memberikan pembinaan kepada Yuan Lee. Sehingga harapannya Yuan Lee bisa menjadi Muslim yang taat menjalankan ajaran agama Islam," katanya.

"

| Hujat | MUI, | Mualaf | Tobat | Bersyahadat | Lagi | REPUBLIKA | SUKABUMI | Seorang | mualaf | Kota | Sukabumi | mengaku | khilaf | bertobat | karena | telah | menghujat | Majelis | Ulama | Indonesia | (MUI) | Langkah | tersebut | dilakukan | depan | pengurus | Front | Pembela | Islam | (FPI) | Jumat | p>Warga | adalah | Yuanta | Dharma | Djohanli | alias | Yuan | Dharmawan | tahun) | warga | Jalan | Mayawati | Atas | Kelurahan  | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | Senya | dalam | akun | media | sosial | facebook | menuliskan | hujatan | hinaan | terhadap | p>Saya | mengakui | membuat | pernyataan | pada | tanggal | Nopember | 2016 | yang | ujar | membac | ikrar | Gedung | Pusat | Kajian | Salah | satu | kalimatnya | antara | lain | ‘kalian | kelompok | barbar | ingin | makar | NKRI | pemerintah | kalian | perang | saudara | organisasi | bajingan | p>Yuan | salah | berdosa | Oleh | meminta | maaf | sedalam | dalamnya | kepada | lainnya | juga | berjanji | Allah | mengulangi | perbuaan | keji | munkar | p>Dalam | ikrarnya | adanya | bimbingan | pembinaan | agar | menjadi | baik | bersedia | mondok | pesantren | ditunjuk | minimal | selama | tiga | bulan | untuk | memperdalam | ajaran | p>Terakhir | kata | memohon | kasus | pelaporan | polisi | terkait | posingan | dicabut | Harapannya | diselesaikan | secara | kekeluargaan | Saya | sangat | menyesal | lagi | masuk | 2006 | proses | belajar | Islamnya | sempat | terhenti | sejak | lama | p>Sekretaris | Muhammad | Kusoy | mengat | senya | melaporkan | Polres | Pelaporan | menghina | p>Pelaporan | menjaga | nama | kemuliaan | ulama | Selain | mencipt | kerukunan | kedamaian | Namun | terang | Desember | terlapor | beserta | keluarganya | mendatangi | Kantor | Kedatangan | serta | mengeluarkan | p>Kusoy | menambahkan | Pasalnya | mendapatkan | segi | agama | Permohonan | ungkap | Kuoy | langsung | direspons | dengan | menggelar | rapat | p>Hasilnya | memberikan | syarat | bersyahadat | kembali | menyampaikan | permohonan | berikrar | hadapan | terbuka | Terlapor | harus | sungguh | menebus | dosanya | keimanan | amal | shaleh | katanya | p>Selepas | Pesantren | Dzikir | Alfath | Ketua | Deddy | Ismatullah | merup | bagian | umat | permintaan | maka | hukumnya | segera | harapannya | Muslim | taat | menjalankan | p> |

Thank U Very Very Much for Reading this Article

Saturday, June 1, 2013

Perlu pemimpin berjiwa besar

BIARPUN Pilihan Raya Umum Ke-13 (PRU-13) telah berakhir hampir tiga minggu yang lalu, namun pakatan pembangkang masih tidak dapat menerima kenyataan. Malah lebih 10 perhimpunan haram diadakan bagi membangkitkan rasa marah dan kebencian terhadap kerajaan Barisan Nasional (BN).


Perhimpunan haram atau lebih dikenali dengan ‘Blackout 505′ itu nyata mencetuskan rasa gelisah kepada rakyat. Justeru, wartawan Mingguan Malaysia, AZRAN FITRI RAHIM dan ASMA HANIM MAHMOOD bersama jurugambar IRWAN MAJID, mendapatkan pandangan Mufti Kerajaan Kelantan, DATUK MOHAMAD SHUKRI MOHAMAD mengenai perkembangan tersebut.


Dalam pertemuan di pejabatnya di Balai Islam Lundang, Kota Bharu, Mohamad Shukri tanpa berselindung melahirkan rasa kebimbangannya terhadap siri perhimpunan atau cara pakatan pembangkang itu yang disifatkannya telah terkeluar daripada ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah dan mengikut kerangka Syiah serta Khawarij.


Turut disentuhnya ialah mengenai ‘dua pil’ yang paling mujarab yang diajar oleh Islam iaitu bersyukur apabila berjaya dan bersabar apabila gagal. Jika kedua-dua pil itu tidak digunakan, beliau bimbang nikmat yang dikurniakan Allah sebelum PRU-13 iaitu keamanan, akan hancur sekiranya siri perhimpunan tersebut diteruskan oleh pakatan pembangkang.


Sepanjang wawancara tersebut beliau amat menekankan tentang perpaduan umat Islam dan yakin ia akan dapat dicapai kerana masih ada banyak jalan menuju ke arah itu. Ikuti kupasan lanjut tokoh agama ini.


MINGGUAN: Pihak pembangkang mengatakan bahawa pilihan raya ini tidak adil dan zalim. Bagaimana Datuk melihat perkara ini, apakah benar wujud kezaliman di sini?


MOHAMAD SHUKRI: Sekarang ini negara kita, negara yang ada sistemnya, dengan pilihan raya itu sendiri ada peraturan dan undang-undangnya. Jadi kalau kita kata tidak adil, kita sebenarnya dalam kaedah Islam, sesiapa sahaja yang menjadi pendakwa, maka dialah bertanggungjawab untuk membuktikannya, beban bukti itu dipertanggungjawab yang mendakwa. Jadi kalau kita rasa pilihan raya ini berlaku ketidakadilan, maka kita perlu tampilkan bahan-bahan bukti. Kerana dalam kaedah Islam ‘Al-bayyinah alal mudda’ie’ sesiapa yang mendakwa, dialah dibebankan untuk menampilkan bahan bukti.


Setakat ini saya belum nampak tindakan dari segi undang-undang untuk mengatakan bahawa ini tidak adil, pilihan raya berjalan tidak adil. Ini hanya setakat ini dakwaan tidak adil. Jadi dakwaan sahaja tidak semestinya membuktikan ia tidak adil. Perlu dibuktikan dan dalam sistem yang ada kita boleh kemukakan untuk mendapatkan hak keadilan itu seperti petisyen pilihan raya dan lain-lain ruang yang dibuka yang patut dipakai.


Untuk memberi (menentukan) keadilan ini bukan orang ramai. Kalau berlaku kemalangan jalan raya antara A dan B, tentulah B akan kata A yang salah sebab berhenti mengejut, tetapi A pula mengatakan B yang salah kerana melanggar belakang kereta. Jadi bila hendak selesai? Sebab itu perlu dikemukakan kepada pihak pengadilan baru tahu siapa yang salah. Kita tidak dibenarkan menghakimi ketidakadilan itu bukan pada gelanggangnya. Katakanlah kita mengadakan perhimpunan, apakah perhimpunan ini boleh menjadi gelanggang mahkamah untuk menentukan adil atau tidak adil? Sebab itu kita raikanlah peraturan dan undang-undang yang ada kalau kita tidak berpuas hati. Sama ada kita menang atau kalah, kita masih dapat menikmati keamanan, walaupun kalah kita aman apatah lagi yang menang.


Maksudnya perhimpunan itu tidak perlu diadakan secara besar-besaran?


MOHAMAD SHUKRI: Perhimpunan itu kalau hendak diadakan juga, perlu mengikut peraturanlah, kerana undang-undang mengatakan boleh berhimpun secara aman. Nak berhimpun secara aman itu boleh, jadi pihak berkuasa boleh menentukan hendak berhimpun di mana tetapi ia bukan satu mahkamah untuk mengadili ketidakadilan yang didakwa itu.


Dari segi pandangan peribadi, adakah Datuk sendiri melihat ada penyelewengan dalam pilihan raya baru-baru ini?


MOHAMAD SHUKRI: Pilihan raya ini Pilihan Raya ke-13 bagi negara, setiap kali menjelang pilihan raya akan wujudlah dakwaan-dakwaan sebegitu. Tentang ketidakadilan, kita sudah buka ruang untuk pemerhati-pemerhati yang setakat ini tidak mendengar laporan mereka mengatakan pilihan raya berjalan dengan tidak betul. Jadi saya sendiri tidak pernah buat kajian. Kita berbalik kepada yang saya sebut tadi, kalau kita kata pilihan raya ini tidak adil, tidak telus maka kita rujuklah kepada mahkamah. Mengapa kepada hal-hal lain kita boleh rujuk ke mahkamah tetapi dalam pilihan raya kita tidak boleh percaya kepada mahkamah?


Bagaimana pula Datuk melihat kesan PRU-13 kepada umat Islam?


MOHAMAD SHUKRI: Saya cukup terpanggil dengan PRU-13 ini. Kita cukup menaruh kebimbangan trend yang berlaku dalam negara kita, terutamanya apabila rasa tidak puas hati dicetuskan dan dimanifestasi dengan mengadakan perhimpunan-perhimpunan. Perhimpunan ini ada dua, perhimpunan aman dan perhimpunan yang boleh mencetuskan huru-hara. Dalam kaedah Islam, sesuatu yang tidak baik atau ‘mafsadah’ iaitu keburukan dan kerosakan tidak boleh diatasi dengan keburukan yang sama apatah lagi dengan keburukan yang lebih memudaratkan. Satu-satu keburukan tidak boleh diselesaikan dengan melakukan keburukan juga ataupun keburukan yang lebih parah.


Yang keduanya, amalan dalam Islam kita ada ‘al-amru bilmaruf wan nahyu anil munkar’ iaitu melakukan kebaikan mencegah kemungkaran, jadi bagaimanakah pendekatan untuk melaksanakannya? Sekarang ini saya nampak trend itu sudah terkeluar daripada aliran Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ), trend untuk melaksanakan amar maaruf nahi munkar itu semacam tidak mengikut kerangka ASWJ. Ada ternampak bibit-bibit untuk melakukan amar maaruf itu dalam kerangka Syiah, dalam kerangka Khawarij. Ini yang membimbangkan saya. Padahal amalan di negara ini adalah ASWJ. Kecenderungan untuk pergi kepada amalan Syiah dan Khawarij perlu dibendung.


Bagaimana Datuk melihat fitnah yang ditimbulkan pembangkang kerana ia menimbulkan kekacauan dan menanam sikap benci kepada kerajaan?


MOHAMAD SHUKRI: Kita sebagai orang yang beragama, apa juga yang kita putuskan, pendekatan yang kita ambil mesti sesuai dengan tuntutan agama. Kita tidak boleh buat sesuatu mengikut nafsu, sebagaimana maksud hadis Rasulullah SAW, Orang yang lemah itu adalah orang yang mengikut hawa nafsunya”. Jadi ini sebenarnya orang yang lemah, oleh kerana itu apabila kita hendak bertindak perlulah secara bijak, secara rasional dan tidak terkeluar daripada agama.


Jadi maksudnya, Arab Spring atau Malaysian Spring atau orang kata sekarang Anwar Spring tidak perlu berlaku di Malaysia?


MOHAMAD SHUKRI: Tidak perlu berlaku. Kita dalam pengajian agama ada kaedah dipanggil ‘qias’. Ia ada kaedahnya apabila kita hendak kaitkan hukum haram kepada dadah, kita ‘qias’ dengan arak, apa sebab? Di mana persamaan, kerana arak ada elemen memabukkan, Rasulullah kata setiap perkara memabukkan adalah haram, jadi arak dan dadah itu persamaannya kerana boleh menghilangkan kewarasan, jadi kalau kita nak kata Arab Spring , di mana persamaan?


Berlakunya Arab Spring di Mesir, bagaimana suasana rakyat duduk di bawah pemerintahan kerajaan mereka sehingga tercetusnya kebangkitan atau Arab Spring. Tetapi di Malaysia mengapa perlu cetus seperti Arab Spring? Hanya kerana ketidakadilan yang kita katakan sebagai persepsi bukan realiti. Padahal realitinya kita boleh bebas, kalau memang tertekan, pembangkang tidak ada yang menang, kalau pilihan raya berjalan secara tipu, patutnya pembangkang tidak akan menang satu kerusi pun.


Ini pembangkang boleh menang, hampir-hampir menubuhkan kerajaan, diakui masa berkempen ada dirasakan tidak puas hati, tidak diberi ruang dalam akhbar, media elektronik pun terhad, ini ketidakpuasan kitalah, tetapi adakah kita boleh cetuskan seperti Arab Spring itu? Saya fikir banyak lagi ruang-ruang yang boleh. Apakah dengan perhimpunan sahaja untuk menegur ketidaktelusan ini? Mengapa kita tidak boleh gunakan pendekatan sabar? Maknanya masuklah lagi dalam pilihan raya pada masa akan datang dengan mula berkempen hari ini. Barangkali berhimpun itu sudah menjadi cara kempen mereka. Tapi dalam kaedah Islam, apa yang dijangka boleh menimbulkan keresahan, kita tidak boleh mengatakan kita sahaja tidak resah, saya sendiri resah apa kalau hadir perhimpunan, tetapi peniaga-peniaga resah, pemandu-pemandu teksi resah, jalan raya tersekat sana sini, ini menyusahkan, sedangkan dalam Islam, adab-adab jalan raya mesti dipatuhi, halangan tidak boleh.


Datuk melihat bagaimana cara terbaik untuk menyatupadukan umat Islam sebab selepas PRU-13 nampak semakin ada jurang?


MOHAMAD SHUKRI: Saya melihat begini, dari segi Islam ada dua istilah, satu ‘ikhtilaf’ dan satu lagi tafarruq. Al-Quran larang tafarruq, berpecah belah, tapi ikhtilaf berbeza dengan tafarruq. Ikhtilaf bermaksud perbezaan jalan untuk mencapai kepada kebenaran, maknanya berselisih dari segi metodologi atau jalan untuk sampai kepada kebenaran dan mencapai maqasid syariah, objektif daripada syariah.


Itu yang tidak salah dari segi Islam, ikhtilaf tidak dilarang, sebab ulama besar kita, Imam Syafie, Maliki, Hambali dan Hanafi, mereka tidak pernah menidakkan orang lain atau mengatakan si A ini adalah salah. Ulama-ulama kita dalam mazhab-mazhab ini hanya berselisih dalam hal cara atau metodologi sahaja untuk mencapai kebenaran, sebab itu imam Abu Hanafi, Maliki, Hanafi dan Syafie tidak pernah menidakkan satu sama lain. Itu dipanggil ikhtilaf. Metodologi boleh kita berbeza dan memang berbeza pandangan dan pendapat adalah tabiat asal manusia. Jadi kalau kita bagaimana untuk penyatuan umat, kita berbeza pendapat dari segi metodologi tetapi bukan iktirab perbalahan sehingga kita berkerat rotan dan berpatah arang.


Kedua, kaedah yang diterima pakai oleh ulama ialah mana-mana yang kita setuju, kita sepakati, tetapi mana-mana yang selisih, kita toleransi. Jadi bersepakatlah dalam hal yang kita persetujui. Sebenarnya banyak perkara yang lebih banyak kita bersetuju, bersepakatlah dalam hal yang dipersetujui dan bertolak ansur dalam hal yang berselisih. Ketiga, kita sebenarnya sangat memerlukan kepimpinan yang berjiwa besar, fikir bagaimana nak menyatupadukan umat Islam perlu kepada kepimpinan yang berjiwa besar contoh Nabi Muhammad SAW seorang yang berjiwa besar apabila timbul perbalahan di kalangan kafir Quraisy untuk meletakkan Hajar Aswad ke dinding Kaabah mereka hampir mencetuskan peperangan tetapi bila Nabi masuk, Nabi dapat damaikan kabilah Arab yang mahu berperang ini. Apabila Nabi meletakkan hamparan dan letak Hajar Aswad dan semua ketua kabilah pegang dan usung beramai letak di dinding kaabah perbalahan tidak berlaku, sebab Nabi berjiwa besar.


Kita selagi belum ada pemimpin berjiwa besar, payah untuk kita berdamai. Kita sedang mencari pemimpin yang berjiwa besar, kalau ada pemimpin berjiwa besar, pemimpin ini akan menghargai kebenaran, pemimpin ini bukan hanya pintar, cerdik tetapi pintar dan cerdik kalau tidak sampai kepada kebenaran ia sia-sia jadi kita hendak pemimpin yang berjiwa besar yang boleh akalnya mengawal nafsu. Sekarang ini akal dikuasai, yang dominannya nafsu, inilah terjadi perpecahan dan perbalahan. Kalau akal mendominasi nafsu tak apa, lebih-lebih lagi nafsu dan akal didominasi oleh wahyu amat bagus tetapi sekarang tidak berlaku begitu, nafsu duduk di atas, nafsu mahukan kekuasaan dan kepentingan diri dan puak, maka kalau selagi ini tidak boleh diketepikan, kepentingan puak dan diri tidak diketepikan ia tidak boleh wujud perpaduan.


Kalau kita nak kata macam mana perpaduan hendak dicapai, pemimpin itu yang mustahak. Kita lihat pada tahun 70-an ada pemimpin bernama Tun Abdul Razak, ada pemimpin bernama Datuk Asri Muda yang melihat kepentingan masyarakat Melayu Islam di Malaysia, lalu pergi berunding di Geneva, empat mata lalu balik maka berlakulah kerajaan campuran Kelantan, penyertaan Pas dalam BN kerana mereka berjiwa besar melihat ke depan tetapi tidak lama berpecah balik, ini sejarah. Saya merasakan bahawa kalau kita hendak betul-betul secara sedar keperluan kepada penyatuan umat jangan jadikan gelanggang media tempat untuk mencari perpaduan, kena secara kerahsiaan. Usaha untuk menyatu padukan ini mesti digerakkan secara low profile’ tidak dihebahkan. Biasa dihebahkan, bila masuk surat khabar, orang yang ada kepentingan akan menentang. Sebenarnya usaha ke arah penyatuan umat ini lama diusahakan selepas berjaya dahulu tahun 70-an, tetapi selepas itu bergolak balik sampai hari ini, tetapi kalau ada usaha secara low profile ini saya yakin ia boleh menjadi kenyataan.


Maksudnya Pas dan UMNO mesti bersatu?


MOHAMAD SHUKRI: Siapa sahaja yang merasakan dan bertanggungjawab terhadap agama perlu bersatu, mungkin Pas dan UMNO dan mungkin lain-lain.



Di antara alasan yang sering diberikan oleh pemimpin Pas yang menolak perpaduan ialah UMNO hanya inginkan perpaduan kerana pada ketika ini mereka lemah dan ketika UMNO kuat, mereka tidak pernah memandang Pas. Bagaimana Datuk melihat alasan seperti ini?


MOHAMAD SHUKRI: Pandangan ini masih didominasi oleh perasaan tidak di dominasikan oleh akal yang rasional. Setiap yang rasional akalnya kepada perpaduan cuma perasaan. Sekarang, kalau nak bersatu, A kena masuk B, B kena masuk A. Sekarang kena merasai kepentingan umat Islam itu. Dalam kaedah syarak sendiri disebut, ‘Semoga Allah memberi kemaafan kepada yang telah berlalu’. Orang Melayu selalu kata bila biduk berlalu kiambang bertaut, air yang ditetak tidak akan putus, itu harus ada dalam pemikiran pemimpin kita. Bukan (alasan) kata dia hendak lemas baru dia hendak pada kita, kalau tidak lemas tidak datang kepada kita, itu barang kali cakap-cakap bahasa politik, bila lemah mahu datang minta tolong tetapi benarkah ada pihak yang lemah. Adakah betul-betul UMNO sudah lemah? Apakah Pas lebih kuat daripada UMNO? Saya tidak nampak juga, yang saya nampak, Pas di nombor tiga, DAP nombor satu, PKR nombor dua, DAP yang paling kuat.


Dalam hal politik ini tawar menawar siapa lebih kuat perlu diketepikan, kalau kita berbeza dari segi metodologi tetapi matlamat adalah kebenaran untuk menyelamatkan bangsa, tanah air dan kepimpinan. Kalau kepimpinan terlucut kepada yang lain, masa itu kita hanya menangis tidak berair mata. Mungkin di peringkat saya tidak ada apa sekarang, anak saya tidak ada apa, tetapi mungkin berlaku pada cucu saya. Kita boleh lihat masyarakat kita di negara jiran, apa yang berlaku? Banyak pelajaran di sekeliling kita yang boleh dipelajari terutama di Timur Tengah, Palestin, Iraq, Syria, dan Mesir sendiri mengambil masa yang lama untuk kembali pulih, silap-silap nanti berlaku lagi apabila kita lemah.


Dalam soal ini, kita bukan lihat kepada UMNO dan Pas, kita lihat kepada umat Islam kerana dari segi logik kita tidak kuat kalau kita berpecah, kita akan kuat kalau kita bersatu, kalau kita berpecah dua, dua-dua, kalau ada tiga, tiga-tiga lemah, kita tidak boleh A lemah, B kuat kerana berpecah, kalau berpecah A,B,C tetap lemah sebab al-Quran sebut begitu kalau berpecah hilang kekuatan. Sebab itu isu siapa lemas, lemah dan kuat, kita tidak boleh timbul dalam perpaduan.


Apakah Datuk yakin akan wujud perpaduan UMNO dan Pas yang menjadi impian seluruh umat Islam di negara ini?


MOHAMAD SHUKRI: Memang ajaran agama tidak membenarkan kita pesimis, kita diajar supaya positif dan optimis. Kita masih merasakan jalan untuk penyatuan itu masih ada dan banyak.




Perlu pemimpin berjiwa besar

Sunday, May 26, 2013

4 Penyebar Aliran Sesat Diamankan

CIREBON – Sebuah tempat kos di Kampung Kuranji, RT 02 RW 12, Kelurahan/Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon digerebeg Ormas Islam Almanar, Minggu  (26/5). Diduga lokasi itu sebagai tempat persembunyian anggota aliran sesat “An-Nubuwat”.


Pantauan Radar di lokasi, penggerebekan yang didampingi petugas Kepolisian dari Polsekta Cirebon Selatan Timur dan aparat kampung setempat itu, menjumpai tiga orang penyebar aliran An-Nubuwat. Ketiganya diduga berperan sebagai perekrut dan penyebar aliran tersebut.



Setelah dilakukan pengecekan dan pendataan, ketiga orang tersebut yang diketahui berinisial UP (38) warga Jl H Nimin, RT 4 RW 3, Kecamatan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta, MR (39) warga Kampung Poncol, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi dan MY (15) warga Kampung Pulo Asem Jaya, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi langsung digiring ke dalam mobil patroli lalu dibawa ke Mapolres Cirebon Kota untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.



Sebelumnya atau Jumat sore (24/5), massa ormas Almanar menggerebek rumah kos tersebut. Dari penggerebekan itu, mereka berhasil mengamankan AS (20) yang diduga sebagai pimpinan aliran An-Nubuwat. Kasus dugaan aliran sesat ini terungkap setelah salah satu korban yang sempat diculik, kabur dari pengawasan kelompok aliran diduga sesat tersebut. Mereka berempat mengontrak kamar kos untuk sementara waktu, dengan alasan hanya ingin ziarah ke sejumlah tempat keramat di Cirebon.



Gelagat mereka mulai dicurigai beberapa warga sekitar, di antaranya karena mereka masuk ke wilayah itu pun tanpa sepengetahuan dan seizin Ketua RT setempat, dan juga mereka tak pernah berbaur dengan warga lainnya. Bahkan, saat melaksanakan ibadah salat, mereka tidak ingin berbaur dengan warga setempat. Mereka akan melaksanakan salat jika dipimpin atau dengan yang satu aliran.



Samsi selaku ketua RT setempat kepada Radar menuturkan, kedatangan keempat terduga penyebar aliran sesat tersebut tanpa sepengetahuan pihaknya. “Sekitar empat hari lalu, mereka datang ke sini dan tidak izin terlebih dahulu kepada kami. Salat juga ya di kosan saja, tidak ke musala. Ngakunya sih mau ziarah ke beberapa tempat di Cirebon, makanya nyewa kamar kos. Kami dan warga di sini takutnya mereka ini jaringan teroris,” jelasnya.



Masih di tempat yang sama, Andy Mulya selaku koordinator Almanar (Aliansi Masyarakat Nahi Munkar) kepada Radar menjelaskan, terdapat beberapa pemahaman ajaran agama yang dianggap tak sesuai dengan yang sebenarnya. Semisal terdapat penambahan kalimat dalam syahadat yang dipakai oleh jamaah An-Nubuwat.



“Selain itu juga, ada beberapa ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam, salah satunya mereka merekrut jamaah baru yang seolah mewajibkan meninggalkan istri dan anak demi memelajari ajaran Islam. Hal itu mereka rujuk dari pengorbanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim yang menyembelih putranya, Ismail, ibadah salat Jumat juga bagi mereka sah apabila hanya diikuti oleh 3 jamaah,” tuturnya.



Ditambahkan Andy, mereka pengikut An-Nubuwat mempercayai bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi terakhir dan gerakan serta bacaan salat yang berbeda dengan muslim pada umumnya. “Selain tidak mengakui Nabi Muhammad, bacaan dan gerakan salat juga berbeda. Jelas aliran ini sangat menyesatkan,” ungkapnya.



Sementara itu, Kapolres Cirebon Kota AKBP Dani Kustoni SH SIK MHum melalui Kasat Reskrim AKP Donny Satria Wicaksono SH SIK mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut dengan masih memeriksa para keempat terduga penyebar aliran sesat tersebut.



“Kami masih periksa mereka dan menyelidiki kasusnya. Nanti ya kalau sudah jelas baru kami akan beri keterangan lebih lanjut,” ujarnya. (rdh)


Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28637/20/05/2013/sejuknya-pertemuan-ulama-%E2%80%98dua-sayap-untuk-masjidil-aqsha%E2%80%99-di-istanbul.html


4 Penyebar Aliran Sesat Diamankan

Tuesday, April 16, 2013

Wawancara dengan Ustad Berpengaruh di New York

TEMPO.CO, Jakarta – Muhammad Syamsi Ali telah 16 tahun tinggal di New York, Amerika Serikat. Di sana ia bukan sekadar warga biasa. Ayah lima anak ini adalah imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah, yang didirikan muslim Indonesia di Astoria. Ia juga Direktur Jamaica Muslim Center di Queens.


Namanya kian populer karena beragam kegiatan antar-imannya. Ia rajin mengenalkan Islam ke gereja dan sinagog. Ia juga bekerja sama dengan kelompok Yahudi dan Kristen sejak serangan 11 September yang merobohkan World Trade Center dan mengoyak Pentagon.


Pada 2006, namanya pun masuk daftar tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di New York oleh New York Magazine. Kamis, dua pekan lalu, Tempo mewawancarai Muhammad Syamsi Ali saat ia berada di Jakarta.


Apa cita-cita masa kecil Anda?
Menjadi tentara. Menurut saya, tentara itu profesi paling hebat. Apalagi saya suka berkelahi.


Kenakalan paling fatal apa yang pernah Anda lakukan waktu kecil?
Saya pernah masuk tahanan polisi selama tujuh hari. Gara-garanya ada siswa pesantren yang menantang saya berkelahi. Merasa tertantang, ya, saya lawan. Hidung siswa itu patah dan harus masuk rumah sakit. Saya pun diadukan ke polisi.


Lalu, bagaimana Anda bisa menjadi imam di New York?
Itu karena undangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu, Nugroho Wisnumurti. Saya bertemu Pak Nugroho di Jeddah, Arab Saudi. Kebetulan waktu itu saya tidak betah mengajar di Islamic Education Foundation Jeddah (yayasan pendidikan milik Amir Mamduh, adik Raja Fahd) karena adanya diskriminasi.


Dari Pakistan, Arab Saudi, lalu ke Amerika. Anda mengalami gegar budaya?
Pasti. Saya waktu itu senang, tapi juga waswas. Di kepala saya itu, semua gejolak di Afganistan dan Timur Tengah adalah desain Zionis Amerika. Tapi sopir taksi pertama yang saya tumpangi dari bandara ke Kantor Perwakilan Indonesia di PBB bernama Muhammad Fazil, orang Pakistan. Sepanjang perjalanan, kami bicara. Dari situ, pola pikir saya mulai berubah.


***


Setiap tahun dia pulang ke Tanah Air. Tahun ini ia menghadiri konferensi perdamaian dunia yang digelar Muhammadiyah. Ia juga keliling Jakarta, Padang, Balikpapan, dan Makassar, untuk menyuarakan pluralisme dan sikap saling menghargai.


Setelah lama pergi, bagaimana Anda melihat perkembangan umat Islam di Indonesia?
Islam didominasi oleh kepentingan politik. Sebenarnya, mau memakai Islam sebagai kekuatan politik, silakan. Mau memakai Islam sebagai dasar politik, juga silakan. Tapi jangan dipolitisasi. Yang terjadi sekarang, banyak partai menjadikan Islam sebagai obyek politik.


Apa yang terpikir saat melihat intoleransi dan tekanan kepada kelompok minoritas di Indonesia?
Sedih. Ini mungkin proses pematangan demokrasi. Amerika juga tidak langsung matang. Kita tahu perjuangan warga kulit hitam di sana yang dipimpin Martin Luther King tidaklah gampang. Tapi pemerintah tetap harus tegas. Hukum harus ditegakkan, dan harus ada peran aktif ormas Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.


Maksudnya?
Sebagai ormas besar, NU dan Muhammadiyah harus berinisiatif mempertemukan mereka yang sedang berkonflik. Harus ada kedewasaan. Sebagai mayoritas, yang kita bangun bukanlah rasa takut, tapi justru harus mengayomi. Itu dilakukan Rasul.


Lalu, bagaimana dengan kelompok garis keras yang terus menggunakan kekerasan, misalnya Front Pembela Islam (FPI)?
Ya hukum harus jelas. Teman-teman seperti di FPI ini harus introspeksi diri. Apa yang mereka lakukan belum tentu membawa dampak positif. Karena, ketika dengan alasan melakukan nahi munkar (mencegah perbuatan buruk), tapi dilakukan dengan kekerasan, kemungkaran justru bertambah. Orang semakin benci.


***


Syamsi Ali meneruskan bicara. Ia memilih menjamak takhir salat magrib. Ia pun kembali berkisah tentang kegiatannya di New York. Di antara seabrek kegiatannya, Syamsi selalu meluangkan waktu untuk hobinya: olahraga. “Tahun lalu saya ikut maraton di Chicago,” katanya.


Ia rutin joging dua kali sepekan. Kalau pas hari kerja, minimal ia berlari sejauh 5 mil. Sedangkan pada akhir pekan, bisa 10 mil. Untuk latihan silat? “Tak ada lawannya,” ujarnya sembari tertawa.


Apa perubahan terpenting bagi umat muslim Amerika pasca-tragedi 11 September?
Islam sekarang menjadi mainstream. Amerika, yang dulu dikenal sebagai bangsa Kristen-Yahudi, sekarang menjadi Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Buddha, dan semuanya. Dan yang pasti, pola komunikasi antar-agama berubah. Kami bahkan tak lagi menggunakan istilah dialog, melainkan kerja sama. Dialog identik dengan elite. Para pimpinan agamanya bertemu, tapi masyarakat tetap berkelahi. Karena itu kita ubah.


Kerja sama seperti apa?
Di New York, kita buat “Soup Kitchen for Homeless”. Jadi di dapur umum itu, masyarakat muslim, Yahudi, Kristen masak bersama untuk orang miskin. Ada juga “Midnight Run”. Kami keluar di tengah malam, membagikan sandwich dan minuman untuk orang di jalanan. Yang muslim memakai peci, yang Kristen memakai salib, dan Yahudi memakai peci yahudi. Para gelandangan heran melihat kami karena bisa bergandengan.


Bagaimana Anda memulai kerja sama dengan umat agama lain pasca-tragedi 11 September?
Saya mulai mengunjungi gereja yang dekat dengan masjid Indonesia di Manhattan. Saya juga berdialog dengan Rabi Marc Schneier, satu dari 50 rabi yang berpengaruh di Amerika. Saya kini justru dekat dengan dia. Bahkan konsep dialog lintas agama kami berdua dipelajari oleh rabi dan imam dari Eropa dan Amerika Latin yang datang ke New York. Gerakan itu jadi meluas sehingga menjadi gerakan internasional.


Anda mendapat serangan atau ancaman karena kedekatan Anda dengan rabi dan pendeta, juga sinagog dan gereja?
Tidak pernah ada ancaman. Di Amerika, ancaman adalah kriminal. Apalagi sampai memukul. Yang terjadi, saya dijelek-jelekkan. Lihat saja di Internet. Banyak sekali hujatan buat saya. Ada yang membuat website khusus yang ada foto saya dengan tulisan “A Liar”. Isinya wawancara saya yang diambil sepotong-sepotong dari berbagai media. Saya dituduh anti-syariah. Tapi saya tidak terlalu memikirkan.


Bagaimana peran pemerintah dalam melindungi kerukunan umat beragama?
Luar biasa. Ketika komunitas umat Islam diobok-obok, mereka justru mengayomi kami. Di bawah Michael Bloomberg (Wali Kota New York), kami diberi kebebasan. Islam, kalau diberi kebebasan, seperti ikan mendapatkan air. Sebanyak 10 persen dari penduduk New York—yang sekitar 8 juta itu—adalah muslim. Pernah ada kejadian menarik. Meski Bloomberg bukan muslim, dia pernah ikut salat Jumat. Ketika itu, dia datang untuk mengucapkan terima kasih atas dukungannya dalam pemilu. Dia pun mendengarkan khotbah saya tentang Islam dan pluralisme. Seusai khotbah, saya minta dia ke pojokan. Eh ternyata dia malah ikut salat di belakang. Tapi itu politik… ha-ha-ha….


Bagaimana dengan perkembangan pembangunan Islamic Center di dekat “ground zero” yang pernah menjadi perdebatan?
Sekarang ini tetap dipakai salat Jumat dan salat lima waktu. Ada kuliah rutin Al-Quran untuk anak-anak. Saya mengajar beberapa kali di sana. Tapi memang, untuk renovasi, butuh biaya besar. Di Islamic Center itu rencananya akan dibangun juga museum 11 September, lengkap dengan pusat kulinernya.


Apa rencana Anda ke depan?
Saya selalu ingin memperlihatkan bahwa Islam itu bersahabat, meski saya terus dituduh bekerja sama dengan Yahudi Zionis.


HERU TRIYONO

Topik Terhangat:
Lion Air Jatuh|Serangan Penjara Sleman|Harta Djoko Susilo|Nasib Anas


Baca juga
EDISI KHUSUS Tipu-Tipu Jagad Maya

Kata Saksi Bom Boston
Selamat dari Bom Boston, Dirut BTPN Hobi Lari
Bom Boston Diduga Disembunyikan di Tong Sampah


Article source: http://utama.seruu.com/read/2013/04/09/156708/pks-utamakan-kader-internal-ketimbang-artis-dalam-pencalegan


Wawancara dengan Ustad Berpengaruh di New York

Sunday, January 6, 2013

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)

Home Gazw Al-Fikr

Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)


 

Partai Masyumi


Senin, 07 Januari 2013

Oleh: Nuim Hidayat 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

SURAT cinta ini  saya tulis karena terpicu dengan pernyataan salah satu tokoh politisi Muslim yang bangga ketika ada non Muslim menjadi salah satu pengurus partainya.  Mungkin ia dan sahabat-sahabatnya punya dalil atau hujjah untuk pendapatnya itu. Tapi saya yakin hujjah itu tidak diuji ke publik, terutama ke para ulama dan cendekiawan yang shaleh, yang faham tentang Islam dan sejarah bangsa ini.

Sekitar tahun 2008, saya pernah menulis di Majalah Hidayatullah tentang pentingnya kesatuan akidah dalam sebuah organisasi termasuk partai politik. Kita bisa bayangkan, bila NU dan Muhammadiyah tidak dirintis oleh orang-orang yang sama dalam tujuan akidah dan dakwah. Apakah mungkin sebesar sekarang? Inilah ringkasan dari artikel yang saya beri judul; “Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang”.

Kepada sahabat-sahabat
Generasi Muda Islam
Kususun buku ini untukmu
Turutilah djejak pemimpinmu
kenangkan sedjarahnya
teruskan perjuangannya

Di tengah gegap gempitanya  partai-partai Islam saat ini berkonsolidasi untuk Pemilu 2009, maka muncullah gagasan partai Islam agar terbuka dan inklusif. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah lebih dulu memulai gagasan ini dengan memasukkan beberapa non Muslim menjadi pengurus atau anggota DPP Partai PKB.  Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang juga menerima gagasan inklusif ini.  Meski sebenarnya PKS juga telah memulai menerima anggota/pengurus non Muslim/anggota DPRD untuk daerah Irian.

Melihat gagasan inklusif partai-partai Islam (dalam AD/ART-nya) ini, membuat penasaran diri saya untuk bertanya: “Bolehkah dalam berpartai kita bersama-sama non Muslim?

Saya membuka-buka kembali buku sejarah.  Alhamdulillah di rumah saya ketemu buku “Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito” yang yang disusun oleh SU Bajasut. Buku ini selain memaparkan pemikiran-pemikiran Ketua Umum Masyumi Prawoto juga melampirkan dokumentasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Masyumi.

Dalam Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III). Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

-Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik
-Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan
-Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam
-Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai

Nah, ini yang menarik, di pasal V tentang anggota dinyatakan, Anggota Partai terdiri dari:

-Anggota biasa, ialah warga negara Indonesia yang beragama Islam (laki-laki dan perempuan) dan tidak menjadi anggota partai politik lain
-Anggota teras, terpilih dari anggota-anggota biasa
-Anggota Istimewa, ialah Pengurus Besar/Pusat perhimpunan Islam yang bukan partai politik

Keharusan anggota wajib beragama Islam ini lebih tegas lagi, dijelaskan dalam “Anggaran Rumah Tangga Partai Politik Islam Indonesia Masjumi”. Dalam Bab II Pasal 3 dijelaskan: “Syarat-syarat untuk menjadi anggota partai: 1.  Tiap warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam, laki-laki maupun perempuan, berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah kawin dan tidak menjadi anggota partai politik lain dapat diterima menjadi anggota biasa…” (ART Partai ini ditetapkan dalam Sidang Dewan Partai, 9-12 Oktober 1953. Artinya sebelum pemilu 1955 dimana Masjumi memperoleh suara)

Jadi Masjumi tegas mengharamkan anggota partainya non Muslim. Apalagi jadi pengurus partai. Seperti sudah lazim kita ketahui untuk menjadi pengurus partai (atau anggota DPRD sebuah partai), seseorang diharuskan menjadi anggota terlebih dahulu.  Jadi bila merujuk sejarah, maka suatu hal yang aneh partai Islam anggota/pengurus non Muslim (inklusif).

Bagi partai yang ingin menegakkan syariah Islam di Indonesia, atau partai dakwah, tentu hal yang aneh bila dalam perjuangan partai itu ada anggota/pengurus non Muslim.  Bagaimana mau berdakwah, mengajak orang lain ke jalan Islam,  sementara dalam rumah tangga partai dakwah sendiri ada yang non Muslim?  Logika berpikir yang benar, tentu untuk menjadi partai dakwah, maka anggota/pengurus yang di dalam harus bersiap untuk dakwah.  Dan untuk siap berdakwah, maka seseorang harus menjadi Muslim terlebih dulu.

Sayangnya, kini sejarah Masjumi yang didirikan oleh alim ulama dan cendekiawan Islam yang penuh keteladanan itu kini jarang lagi ditengok oleh politikus-politikus partai.  Para politikus saat ini mencoba gagah-gagahan untuk melepas diri sejarah perjuangan Islam Indonesia masa lalu.  Padahal Masjumi Masjumi didirikan dari hasil Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta 7-8 November 1945, oleh hampir semua tokoh berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang. Organisasi-organisasi Islam yang masuk Masjumi antara lain: Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam, Persis, Al Irsyad, Al Jamiyatul Washliyah, Al Ittihadiyah dan lain-lain (Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hal. 47-50).

Padahal al-Qur’an berulangkali dalam ayatnya mengingatkan kita agar menengok dan meneladani sejarah.  Baik sejarah individu, masyarakat atau sebuah bangsa. Politik hari ini, adalah sejarah sejarah esok hari. Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS: 11:120).

Maka buku pemikiran Prawoto Mangkusasmito di atas, bukanlah sekedar kalimat-kalimat pemuas akal belaka. Di halaman persembahannya ditulis:

“Kususun buku ini untukmu,
Turutilah djedjak pemimpinmu,
kenangkan sedjarahnya,
teruskan perjuangannya

Tapi, kini kondisi partai politik lebih parah. Disadari atau tidak, ideologi sekuler Barat –lewat lobi-lobi para orientalis/indonesianis– telah masuk dalam cara berpikir banyak orang partai.  Sehingga dalam dan antar partai Islam yang terjadi rebutan jabatan, rebutan angggota DPR/DPRD dan rebutan sumber-sumber uang. Tanpa melihat lagi akidah, kapabilitas dan keamanahan seorang calon. Partai bukan dilihat lagi sebagai alat perjuangan dakwah dan alat perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Padahal Al-Qur’an jelas menegaskan fungsi organisasi Islam atau partai Islam adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bukan untuk mencari suara belaka. Untuk apa kekuasaan dipegang, bila tidak ditegakkan amar makruf nahi mungkar? Al-Qur’an mengingatkan: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS: 3:104)

Cara berpikir Barat yang menyesatkan lainnya –yang banyak diadopsi oleh partai-partai sekuler— adalah partai diibaratkan negara kecil. Dari sinilah ide pluralisme, inklusivisme partai masuk.  Padahal partai bukanlah tipikal negara.  Partai bukan negara. Partai bisa diibaratkan rumah keluarga besar kita.  Dalam keluarga, kita berkewajiban menjaga akidah istri, anak-anak dan sistem dalam keluarga itu agar tidak keluar dari nilai-nilai Islam.  Keluarga kita harus Islami, tapi kita menghormati tetangga kita yang non Muslim.  Bahkan kita bisa saling membantu dalam hal kebaikan dengan mereka.

Walhasil, memang benar ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, bahwa dalam kehidupan ini –berumah tangga, bekerja, berorganisasi dan berpartai—ditentukan oleh niat.

Kalau dalam organisasi Islam bisa dilihat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya.  Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Bukhari Muslim)

Keberhasilan Masjumi dengan asas Islam dan agenda penegakan syariah Islam di Indonesia, dalam Pemilu tahun 1955, dan kegagalan Amien Rais dengan Partai Amanat Nasionalnya sudah merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Fa’tabiru ya Ulil Albab.* bersambung

Penulis adalah Dosen STEI Husnayain, Jakarta

Red: Cholis Akbar


Surat Cinta untuk Politisi Muslim (1)