Showing posts sorted by relevance for query perbuatannya. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perbuatannya. Sort by date Show all posts

Friday, December 9, 2016

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank So Much for Visit this Article

Penghina Ulama Itu Minta Maaf dan Menyatakan Diri Menjadi Mualaf

RANCAH POST â€" Medio November lalu, MUI Kota Sukabumi sempat melaporkan sebuah penghinaan dan hate speech ke kepolisian. Laporan itu dilakukan atas dasar kicauan seorang warga berinisial YL di jejaring sosial yang kemudian menyebar luas di masyarakat.

“Laporan tersebut kami lakukan supaya penghinaan dan hate speech ini tidak melebar mengingat umat Muslim di Sukabumi merasa sangat dilecehkan dengan status dalam Facebook itu,” terang Ketua Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sukabumi, Deddy Ismatullah.

Usai mendapatkan laporan itu, kepolisian kemudian memanggil dan memeriksa pemilik akun penghina ulama guna menghindari kasus penghinaan kepada ulama dan hate speech itu menyebar luas ke masyarakat. “Polisi dengan sigap menanggapi pengaduan ulama dan memeriksa pemilik akun. Secara de facto, permintaan maaf YL kami terima dan secara de jure akan akan segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut perkara itu,” ujar Deddy.

Jum’at (9/12/2016), di sela-sela pertemuan terbuka di Gedung Pusat Kajian Islam di Jalan Veteran Kota Sukabumi dan dengan disaksikan oleh semua pimpinan pesantren Kabupaten dan Kota Sukabumi Jawa Barat, para ulama dan pejabat dilingkungan Mapolres Sukabumi Kota, penghina ulama yang merupakan warga Jalan Mayawati, Kelurahan Gunung Parang, Kecamatan Cikole itu meminta maaf atas perbuatannya yang mendiskreditkan MUI. Ia pun menyesal dan tak akan mengulangi perbuatannya itu.

YL, pelaku penghina ulama  tak hanya meminta maaf kepada semua ulama, ia juga menyatakan diri menjadi mualaf dan bersedia mempelajari agama Islam di salah satu pesantren yang ada di Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi Jawa Barat. “Itu atas kemauannya sendiri, sama sekali tak ada paksaan dari pihak manapun,” ujarnya.

loading...

"

| Penghina | Ulama | Minta | Maaf | Menyat | Diri | Menjadi | Mualaf | RANCAH | POST< | strong> | Medio | November | Kota | Sukabumi | sempat | melaporkan | sebuah | penghinaan | hate | speech | kepolisian | Laporan | dilakukan | atas | dasar | kicauan | seorang | warga | berinisial | jejaring | sosial | yang | kemudian | menyebar | luas | masyarakat | p>“Laporan | tersebut | kami | lakukan | supaya | melebar | mengingat | umat | Muslim | merasa | sangat | dilecehkan | dengan | status | dalam | Facebook | terang | Ketua | Majelis | Indonesia | (MUI) | Deddy | Ismatullah | p>Usai | mendapatkan | laporan | memanggil | memeriksa | pemilik | akun | penghina | ulama< | guna | menghin | kasus | kepada | ulama | “Polisi | sigap | menanggapi | pengaduan | Secara | facto | permintaan | maaf | terima | secara | jure | segera | mendatangi | kantor | polisi | untuk | mencabut | perkara | ujar | p>Jum’at | 2016) | sela | pertemuan | terbuka | Gedung | Pusat | Kajian | Islam | Jalan | Veteran | disaksikan | oleh | semua | pimpinan | pesantren | Kabupaten | Jawa | Barat | para | pejabat | dilingkungan | Mapolres | ulama yang | merup | Mayawati | Kelurahan | Gunung | Parang | Kecamatan | Cikole | meminta | perbuatannya yang | mendiskreditkan | menyesal | mengulangi | perbuatannya | p>YL | pelaku |  tak | hanya | juga | menyat | diri | menjadi | mualaf | bersedia | mempelajari | agama | salah | satu | Puyuh | “Itu | kemauannya | sendiri | sama | sekali | paksaan | pihak | manapun | ujarnya | p>loading | div> |

Thank U Very Very Much for Read this News

Saturday, January 5, 2013

Perubahan dari dalam Diri

Perubahan dari dalam Diri

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 06/01/2013 09:06 WIB • 15 klik

H. Sutan Zaili Asril

Di antara kegiatan manusia, khususnya kegiatan otak dan terlebih hati, yang sangat menguras energi adalah mendengki, bahkan dibandingkan dari ambisius dan tamak. Dengki artinya menaruh perasaan marah (karena benci dan tidak suka), karena perasaan iri hati yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain (ada istilah tak senang melihat keberuntungan oranglain/senang melihat orang gagal/tersungkur/bersalah). Hati merasa dengki dan atau mendengki, membenci perasaan karena iri hati pada orang lain/tetangga/teman sekerja—sebetulnya lebih baik energi digunakan secara positif/memilih berusaha menyamai. Kalau tamak dan ambisi pula dapat dipandang ”secara positif” karena kedua perasaan/sifat itu dapat menghasilkan/memberi hasil—hanya seringkali berlebihan dan mungkin merugikan orang lain.

 

Yang menjadi masalah, bilamana kedengkian/keben­cian/keirihatian itu menga­pung karena ketidakmampuan untuk berbuat sebaik/seting­kat orang yang didengki (orang yang menjadi sasaran keben­cian). Ada usaha memaksakan diri di atas keberdayaan men­jadi tumbuh/berkembang da­lam bentuk dengki/keben­cian terhadap orang lain/tetangga/teman sekantor yang tampil lebih baik/lebih berhasil/lebih menghasilkan/lebih sukses. Maka bentuk penyaluran ener­gi berupa kedengkian/keben­cian karena tidak berdaya itu sangat menguras energi/sa­ngat melelahkan. Sebetulnya, kita harus merasa kasihan ke­pada orang yang men­dengki/membenci karena tidak dapat berbuat/menyalurkan ener­ginya secara positif. Seringkali, orang yang marah karena men­­dengki/merasa iri hati putus asa, dan hanya dapat berharap orang yang dideng­kinya gagal/jatuh/hancur.

 

Pengalaman Cucu Magek Dirih, seringkali ia mem­per­hatikan adalah banyak orang-orang yang begitu mendengki/beriri hati padanya, tapi, Cucu Magek Dirih pula menga­bai­kannya saja. Itu karena Cucu Magek Dirih menerapkan aja­ran dari inyiaknya—dari falsa­fah silat tinggi luambek, bahwa tak semua serangan harus di­terima/ditahankan, tapi, di­biarkan lewat—hal yang mung­kin membuat orang yang ber­sangkutan menahankan hati/perasaan entah ke mana hen­dak dilepaskan/perasaan hen­dak ke mana dikatakan atau dicurhatkan. Jadi, dari penga­laman Cucu Magek Dirih, ia mengetahui ada orang yang ber­niat jahat/melakukan se­sua­tu yang jahat terhadapnya pun, maka ia memperlakukan seakan hal itu tidak ada—mengabaikannya/tidak dipi­kirkannya. Cucu Magek Dirih pun menerapkan ajaran in­yiak­nya, balas keburukan/niat jahat/perbuatan jahat orang kepada kita dengan bersikap baik/berbuat baik kepada yang bersangkutan—setidak-tidak­nya memaafkan dengan ikhlas.

 

Bagi Cucu Magek Dirih, sebaiknya beban pikiran dan hati harus selalu diringankan. Cucu Magek Dirih mengatakan kepada istrinya bahwa tidak semua dimasukkan ke dalam pikiran dan tidak semua harus dirasa-rasakan karena hanya menguras energi secara tidak berguna. Jikalau semua hal dimasukkan ke dalam otak sementara luas areal/kapasitas muat otak tak mampu menam­pungnya—nanti otak akan penuh dan sampai meleleh keluar. Jikalau semua dima­suk­kan dalam perasaan se­men­tara luas areal/kapasitas me­nampung hati tidak pula luas—nanti dada akan meledak sampai sakit hati/jantung kambuh pula. Orang yang memasukan semua ke dalam pikiran dan perasaannya, ma­ka orang itu akan gelisah, tidak bisa tidur, dan membenci/mendengki/meirihati pada orang lain/tetangganya/teman sekerja di kantornya dan atau orang-orang di kantor/peru­sahaan pesaingnya.

 

AGAMA Islam sangat tegas dalam hal orang/setiap orang setiap kelompok berusaha untuk berubah. Perubahan yang paling penting adalah tingkat kendali diri, menga­rah­kan diri, dan mengerahkan diri, sehingga mampu menya­lurkan energi secara positif (berjalan/bekerja di atas dan sesuai kodrat/takdir atau destination semampu/sedaya upaya/sesungguh-sungguh yang mungkin—sejujurnya saja pada diri sendiri/tidak karena hendak berlagak/agar diketahui dan dilihat orang lain) dan dapat menghasilkan secara lebih baik (kuantitas dan kualitas). Perubahan pula, bagi Cucu Magek Dirih diletak­kannya pada perspektif ber­syu­kur karena ada periode yang dipakai secara tentatif untuk mengevaluasi diri. Se­per­ti halnya dengan bersyukur, maka perubahan ke arah/tingkat yang baik menjadi hal yang wajib pula.

 

Perubahan diri pula, dalam pandangan Cucu Magek Dirih, adalah berusaha mengeluar­kan semua/segala hal dan sifat buruk dalam diri—pemikiran  yang counter productive dan perasaan benci/dengki/iri hati dan atau pun mengulangi ke­sa­lahan—ibaratkan unta yang terperosok di lubang yang sama, dan atau berkutat pada posisi yang sama yang sudah sebetulnya diketahui salah/keliru/tidak berguna—apakah yang bersangkutan tdak me­nge­tahui/menyadarinya, se­hingga mereka tidak mau ke­luar dari lobang hitam/me­ngeluarkan semua dan segala hal yang buruk/tidak berguna dalam dirinya. Seperti itu Cucu Magek Dirih memahami ayat Al Quran ”tidak akan berubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berusaha untuk berubah”.

 

Berubah dari dalam diri sendiri memang terutama membersihkan hati dari sega­la/semua hal yang buruk/jahat/tidak berguna. Setidak­nya, demikian Cucu Magek Dirih memahaminya. Bahwa, kisah Nabi Muhammad SAW yang dibedah malaikat saat ia masih kecil, maka malaikat mengeluarkan segala/semua hal dan sifat atau kecen­de­rungan yang tidak baik dari dalam hati Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, malaikat me­masukan sifat/kecen­de­rung­an hati yang baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Di antara sifat baik yang utama itu adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Selain itu, Cucu Magek Dirih mema­hami pula al-asmau al-husna sebagai potensi/peluang dan juga energi positif.

 

Shiddiq artinya benar—mustahil Nabi Muhammad SAW berdusta. Artinya nabi dan rasul bersiafat benar, baik dalam tutur kata maupun per­buatannya, yakni sesuai de­ngan ajaran Allah SWT. Seperti disebutkan Allah da­lam QS Maryam ayat 50. Kami me­nga­nugrahkan kepada mere­ka sebagian rahmat Kami, dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia. Lalu, amanah (dapat dipercaya/dapat diandala­kan)—mustahil nabi Muham­mad khianat (curang/culas atau sejenisnya). Artinya, pa­ra nabi dan rasul itu bersifat jujur pada saat menerima ajaran Allah SWT, dan meme­lihara keutuhannya, serta menyampaikannya kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Mustahil me­re­ka menyelewengkan atau berbuat curang atas ajaran Allah SWT.

 

Kemudian, tabligh (me­nyampaikan wahyu kepada umatnya—menyampaikan ke­be­naran atau ajakan kepada keluarga/sesama/masyarakat) untuk berbuat baik. Mustahil Nabi Muhammad SAW kit­man (menyembunyikan wah­yu). Artinya para nabi dan rasul itu pastilah menyam­pai­kan seluruh ajaran Allah SWT sekalipun mengakibatkan ji­wa­nya terancam. Seperti Allah menyebut pada QS Ali Imran ayat 20: Dan, katakanlah kepa­da orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi (buta huruf), sudahkah kamu masuk Islam? Jika mereka telah masuk Islam niscaya mereka mendapatkan petunjuk, dan bilamana mere­ka itu berpaling, maka kewa­ji­banmu hanyalah menyam­paikan (ayat-ayat Allah SWT). Dan Allah selalu Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. La­lu, fathanah (cerdas)—musta­hil Nabi Muhammad SAW itu jahlun (bodoh). Artinya, para nabi dan rasul itu bijaksana dalam semua sikap, perkataan, dan perbuatannya atas dasar kecerdasannya. Dengan demi­kian mustahil mereka dapat/mudah dipengaruhi/diom­bang-ambingkan oleh orang lain. 

 

MAKA berkaitan dengan perkisaran tahun yang secara kelaziman dijadikan kesem­patan untuk mengevaluasi diri sendiri, bersyukur, dan beru­bah—ke arah situasi/keadaan/posisi/tingkat yang lebih baik, maka di dalam perspektif dan pemahaman Cucu Magek Di­rih, perubahan itu memang harus terutama dari dalam diri sendiri. Mengharapkan terjadi perubahan dari luar diri malah mungkin akan membawa pe­nga­ruh/dampak buruk. Kata­kan, ada perubahan secara evolutif (evolusi) dan atau perubahan pula secara demon­trati dan atau revolutif (revo­lusi) akan memberikan sesua­tu yang dominan yang mung­kin bukan yang dicitakan/dipikirkan/diperhitungkan dan atau bukan yang dira­sa­kan/diharapkan, misalnya. Bah­kan, mungkin tidak mus­tahil perubahan ari uar diri merusak/menghancurkan hal baik yang sudah ada dalam diri.

 

Cucu Magek Dirih dapat se­paham/menerima analogi pe­rubahan pada telur—dan telur yang ditetaskan. Dikata­kan, bilamana telur ditekan dari luar—apalagi tekanan yang kuat/keras, maka mung­kin telur itu akan pecah, dan kulit telur hancur serta isinya tumpah tak dapat digunakan. Sebaliknya, kalau telur itu dipecahkan dari dalam, tentu ibarat telur yang dieramkan induknya/ditetaskan, maka anak unggas itu sendiri yang memecahkan dinding kulit telur, dan akan ayam muncul/keluar. Ibarat­nya, kalau telur dipecahakan dari dalam maka artinya muncul satu kehidu­pan baru. Lalu, apa mungkin, dalam perkisaran tahun kita mengevaluasi diri dan bersyu­kur serta berubah, maka kita seakan memperbaruhi hidup kita seakan kita memasuki satu kehidupan yang baru.

 

Mungkin perspektif/pe­mahaman Cucu Magek Dirih di atas tidak lazim dan tidak memberi pengaruh kepada kita—karena kita seringkali tahu tapi tidak mengamalkan/melembagakan/menjadi akh­lak (perbuatan pikiran dan perbuatan hati). Karena itu, apakah kita memang mengeta­hui/menyadari hal buruk/tidak berguna dalam diri kita, dan bilamana kuta mengeya­hui dan menyadarinya, kenapa pula kita tidak mau menge­luar­kannya/berubah ke arah dan tingkat, serta situasi yang lebih baik. Siapa yang meno­long kita untuk mengevaluasi diri/bersyukur/berubah? Se­ba­gai orang beriman, tentulah kota akan menujuk pada diri kita sendiri, lalu bertanya/minta pandangan dan penda­pat orang cerdas/pandai/ber­pengetahuan/berakhlak mu­lia—karena dalam pemaha­man Islam tidak ada lagi nabi dan rasul sesudah Muhammad SAW. (*)

[ Red/Administrator ]

Article source: http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2012/07/11/new-arab-spring-triumph-eluding-islamists-in-libya/


Perubahan dari dalam Diri

Thursday, September 26, 2013

Samantha Lewthwaite, Diakah Teroris Asal Inggris?

INILAH.COM, London – Nama Samantha Lewthwaite kembali berkibar. Perempuan warga negara Inggris ini dikait-kaitkan dengan penyerangan di mal Westgate, Nairobi, Kenya 21 September 2013.


Meskipun itu masih sekadar kecurigaan, namun pemerintah Kenya yakin ia bersama kelompok militan Somalia, al-Shabab tidak hanya menjadi pelaku, tetapi juga memimpin teror yang menewaskan 72 orang yang terdiri dari 61 warga sipil, enam polisi dan lima teroris.


Ia kini diburu oleh Interpol atas permintaan Kenya. Uniknya perburuan itu tidak mengaitkannya dengan teror di Kenya. Pihak al-Shabab yang mengakui perbuatannya di Kenya juga membantah keterlibatan Samantha.


Siapa Samantha Lewthwaite? Dia dulunya seorang gadis pemalu asal Buckinghamshire. Namanya pertama kali muncul setelah terjadi peristiwa pengeboman di stasiun kereta bawah tanah di Piccadilly, London pada 7 Juli 2005. Ia merupakan janda Germaine Lindsay, pelaku pengeboman itu.


Ia masuk Islam sejak gadis karena tertarik pada Islam setelah diperkenalkan oleh tetangganya. Samantha tak mempunyai catatan terorisme di Inggris namun diburu oleh Polisi Kenya sebelum terjadi penyerangan Westgate dengan tuduhan pemalsuan paspor dan memiliki hubungan dengan sel teroris yang berniat melakukan pengeboman di negara itu.


Ia sendiri mengutuk serangan 7 Juli oleh suaminya itu dan menyebutnya sebagai tindakan keji. Ia mengatakan pikiran suaminya tercemar karena sering datang ke masjid radikal. “Saya tidak habis pikir bagaimana bisa ia diracuni dan menjadi orang yang sangat menakutkan. Dia itu orang yang polos, naif, dan sederhana. Saya berharap ia pasangan yang pas untuk saya,” ujarnya kepada tabloid the Sun.


Namun, tak lama setelah serangan itu, ia menghilang. Ia kemudian diketahui berada di Kenya dan tahun lalu, dia dinyatakan oleh pejabat Kenya telah meninggalkan negara itu dan pergi ke Somalia. Ia diketahui sering berganti-ganti identitas, termasuk juga menggunakan nama aslinya.


Sejumlah kalangan di Inggris masih meragukan keterlibatannya dalam aksi teror karena tidak pernah ada bukti yang mengarah ke sana. Perempuan yang besar di Buckinghamshire, Aylesbury itu diyakini tidak memiliki karakter keras.


Seorang angota Dewan kota Aylesbury, Raj Khan, mengatakan bahwa dia mengenal Samantha sejak kecil. “Saya kenal dia waktu masih kecil. Dia benar-benar perempuan polos, minder, pemalu dan mudah dipengaruhi orang. Dia hanya pengikut, bukan pemimpin (teror),” ujarnya.


Ia mengatakan tidak percaya Samantha terlibat dalam teror di Nairobi. “Teror itu perlu orang yang canggih, seperti teroris kelas internasional.”


Namun, setelah masuk Islam ia begitu percaya diri saat bersekolah di Grange School in Aylesbury. Menurut Novid Shaid, gurunya di sekolah itu, ia percaya diri sekali mengenakan hijab. Ia sama sekali tidak terpengaruh meskipun orang-orang sekelilingnya menganggapnya aneh.


Setelah beberapa tahun, ia tidak hanya mengenakan jilbab, tetapi menenakan galabiya penuh (baju Muslimah yang panjang dan menutupi semua anggota tubuh. “Kami tahunya ia semakin serius mendalami Islam,” tutur Shaid.


Bahkan pada 2002, ia mendaftar untuk kuliah di jurusan ilmu politik dan keagamaan di School of Oriental and African Studies di London. Namun, baru dua bulan kuliah ia memutuskan untuk berhenti.


Ia kemudian bertemu dengan Gabriel Lindsay, seorang muslim kelahiran Jamaika, di internet. Mereka berkenalan lalu memutuskan untuk menikah beberapa bulan kemudian. Mereka tinggal di Huddersfield lalu pindah ke Aylesburry pada September 2003.


Enam bulan kemudian ia melahirkan bayi pertamanya. Bayi yang kedua dilahirkan setelah terjadi peristiwa pengeboman di London.


Sejumlah kalangan percaya ia menikah lagi setelah ditinggal oleh Lindsay dan diperkirakan punya tiga atau empat anak. Ayah, ibu dan keluarganya juga kehilangan kontaknya sejak terjadi pengeboman di London. [BBC/tjs]


Article source: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/06/29/mp4ht5-scott-lynch-anak-pendeta-yang-menemukan-cahaya-islam


Samantha Lewthwaite, Diakah Teroris Asal Inggris?

Friday, March 22, 2013

NU dukung pasal santet di RUU KUHP

Jakarta (ANTARA ntara) - Nahdlatul Ulama melalui badan otonomnya Pencak Silat Pagar Nusa, mendukung dimasukkannya kejahatan santet dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang drafnya sudah masuk di Komisi III DPR.

“Kalau ada ancaman pidananya, diharapkan orang akan berpikir ulang melakukan santet,” kata Ketua Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa, KH Abdussalam Sokhib di Jakarta, Rabu. 

Namun, kiai yang akrab disapa Gus Salam itu mengingatkan bahwa dibutuhkan kehati-hatian dalam pembahasan persoalan santet tersebut.

Berbeda dengan pihak yang menolak dimasukkannya kejahatan santet dalam RUU KUHP dengan alasan karena kejahatan itu sulit dibuktikan, Gus Salam justru punya pendapat berbeda. Menurut dia, kejahatan santet bisa dibuktikan.

“Ini hanya masalah metode keilmuan saja. Santet bisa dipelajari dan orang yang mempelajarinya bisa dijadikan saksi untuk sebuah kasus yang dibawa ke persidangan,” ujarnya.

Gus Salam juga menyesalkan pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, Jawa Tengah, Zaenal Arifin yang menyebut santet adalah tindakan musyrik.

Ia menegaskan bahwa santet ada dan dikenal di agama Islam, serta mengakui keberadaannya bukan sebuah tindakan musyrik.

“Kalau santet itu ada dan diakui oleh agama, apakah percaya keberadaannya bisa dikatakan kafir?” kata Gus Salam

Ia mengatakan sejarah keberadaan santet bahkan sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Ia menuturkan bahwa Nabi Muhammad pernah disihir oleh kaum Yahudi, hingga Allah SWT menurunkan ayat di surat An-Nas dan Al-Falaq.

“Ayat itu menjadi obat bagi Rasulullah untuk menghilangkan sihir yang mengenainya,” kata Gus Salam.

Ia mengingatkan semua pihak agar tidak gampang mengkafirkan atau menyebut orang lain musyrik.

“Menyebut orang lain musyrik, kafir, dan lain sebagainya itu perlu kehati-hatian. Mengkafirkan seorang Muslim yang sejatinya tidak kafir, bisa jadi kita sendiri yang bisa disebut kafir,” katanya.

Pasal 293 RUU KUHP sebenarnya tidak menyebut santet secara eksplisit, namun disebutkan sebagai “kekuatan gaib”. 

Dalam ayat (1) pasal itu disebutkan “Setiap orang yang meyakini dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dapat dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV. (S024/I007)

Article source: http://www.merdeka.com/dunia/158-orang-serawak-masuk-islam.html


NU dukung pasal santet di RUU KUHP

Saturday, July 20, 2013

Pelajaran dari Surah Al Baqarah Ayat 101-141










Jakarta – Ayat 101-103

1.Nabi Sulaiman as. dan semua nabi dianugerahi Allah keluarbiasaan sebagai mukjizat. Mukjizat berbeda dengan sihir. Sihir dapat dipelajari oleh siapa pun, sedang mukjizat adalah anugerah Allah yang tidak dapat dipelajari.
2.Sihir tidak memiliki pengaruh positif atau negatif kecuali bila dikehendaki Allah swt. karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam raya ini tanpa izin-Nya.
3.Sihir tidak ada manfaatnya, bahkan justru memberi mudharat. Apa yang didambakan sebenarnya dapat diperoleh melalui keimanan dan ketakwaan kepadaa Allah.
4.Kisah Nabi Sulaiman as. dan dua “malaikat” yang di celah kisahnnya terdapat uraian tentang sihir harus menjadi pelajaran agar manusia tidak terpengaruh oleh ilusi.


Ayat 104-110


1.Seseorang hendaknya pandai-pandai memilih kalimat-kalimat dalam percakapannya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman, tidak juga mengundang pelecehan dan penghinaan terhadap siapa pun.
2.Mukjizat seorang nabi merupakan kewenangan Allah swt., demikian juga penetapan hukum, keduanya disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat.
3.Bukanlah sifat terpuji mengajukan pertanyaan yang bukan pada tempatnya. Pertanyaan merupakan setengah dari pengetahuan sehingga pertanyaan yang tidak tepat menunjukkan kebodohan si penanya.
4.Tabiat dasar kaum Muslim adalah memaafkan, sabar, dan tabah, selama hal tersebut belum menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan kehormatan agama dan ketetapan-ketetapan Allah swt.


Ayat 111-115


1.Jangan mencela anutan dan sesembahan siapa pun. Hiduplah berdampingam karena hanya Allah yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
2.Pentingnya memelihara kesucian masjid dan rumah-rumah ibadah.
3.Pentingnya memberi kebebasan kepada setiap penganut agama untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan tertib dan aman.
4.Allah di mana-mana. Karena itu di mana pun seseorang mengarah, maka dia menemukan Allah, hanya saja perlu diingat bahwa ada tempat-tempat tertentu yang ditetapkan-Nya guna menghadap kepada-Nya dalam shalat, yaitu arah Bait al-Maqdis di Palestina bagi Bani Israil dan arah Ka‘bah di Mekkah bagi umat Islam.


Ayat 116-119


1.Allah Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu, tetapi segala sesuatu butuh kepada-Nya. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Tiada yang serupa dengan-Nya walau dalam khayalan. Jika Dia berkehendak, terlaksana kehendak-Nya kapan pun Dia kehendaki. Tanpa terikat oleh waktu, alat, atau apa pun.
2.Manusia—dalam kehidupan dunia ini—tidak dapat melihat atau bercakap-cakap langsung dengan Allah, karena manusia tidak memiliki potensi untuk itu.
3.Tidak diperlukan lagi bukti-bukti baru tentang wujud dan keesaan Allah, karena sudah demikian banyak bukti-bukti tentang hal tersebut yang terhampar di alam raya dan dalam diri manusia.
4.Tugas Nabi, demikian juga penganjur agama, hanyalah menyampaikan ajaran agama dengan penuh kesungguhan. Karenanya Nabi saw. atau siapa pun tidak bertanggung jawab atas kekufuran siapa pun.


Ayat 120-123


1.Kewajiban berhati-hati terhadap ajakan dan cara hidup yang diterapkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan semua cara hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam.
2.Ada sebagian penganut agama Yahudi dan Nasrani, yang memeluk agama Islam dengan tulus setelah memahami pesan dan kandungan kitab suci mereka yang menguraikan tentang Nabi Muhammad saw.
3.Kewajiban mensyukuri nikmat Allah serta keharusan menyadari betapa dahsyat pertanggungjawaban yang akan dituntut oleh Allah dari setiap orang pada Hari Kemudian.


Ayat 124-129


1.Ujian Allah kepada Nabi Ibrahim as. merupakan pelajaran kepada manusia tentang perlunya menguji/mengetahui kemampuan seseorang sebelum diberi tugas.
2.Ka‘bah telah wujud sebelum Nabi Ibrahim as. Dia adalah rumah peribadatan pertama untuk umat manusia sehingga tidak berlebihan jika dikatakan ia dibangun oleh manusia pertama atau bahkan malaikat.
3.Salah satu makna Maqam Ibrahim adalah tempat yang terpatri padanya telapak kaki Nabi Ibrahim as. ketika beliau berdiri di atasnya guna meninggikan Ka‘bah agar dapat mencapai ketinggian yang melebihi ketinggian badannya.
4.Penyebutan keterlibatan Ismail bersama ayah beliau, Ibrahim as. dalam membersihkan Ka‘bah, memberi pelajaran agar orangtua hendaknya mengajak anaknya berpartisipasi dalam kebajikan.
5.Seorang pemimpin hendaknya tidak membatasi usahanya menyebarluaskan kesejahteraan duniawi kepada mereka yang seiman dengannya saja (hanya kelompok pendukungnya), tetapi harus mencakup seluruh penduduk tanpa diskriminasi.
6.Pada ayat 129, Nabi Ibrahim as. Berdoa agar Allah “mengutus untuk penduduk Mekkah seorang Rasul dari kalangan mereka,” maka itu berarti doanya baru dikabulkan setelah sekitar 3400 tahun, karena Nabi Muhammad saw. diutus pada tahun 610 M. Ini menjadi pelajaran agar yang berdoa jangan jemu berdoa dan jangan juga tergesa-gesa meminta pengabulan doanya.


Ayat 130-134


1.Nabi Ibrahim as. adalah tokoh yang sangat mulia. Penyebutan bahwa beliau terpilih di dunia dan di akhirat, mengisyaratkan bahwa ada tokoh yang hanya terkemuka di dunia, tetapi tidak di akhirat. Nabi Ibrahim as. menyandang kemuliaan dunia dan akhirat.
2.Islam adalah anutan serta pesan para nabi yang lalu kepada generasi mereka dan generasi-generasi selanjutnya.
3.Wasiat beliau: “Jangan sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Muslim/berserah diri kepada Allah,” mengandung makna jangan meninggalkan agama Islam walau sesaat pun.
4.Setiap orang mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Seseorang tidak dapat mengandalkan leluhurnya dalam meraih keselamatan dan kebahagiaan ukhrawi.


Ayat 135-141


1.Agama Allah pada prinsipnya sama. Intinya adalah mengesakan Allah swt. serta beribadah secara murni dan tulus kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as.
2.Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishaq as. bukanlah orang Yahudi atau penganut agama Yahudi.






( rmd / rmd )









Tutup


 Share to Facebook:


You are redirected to Facebook


 Share to Twitter:


You are redirected to Twitter


Sending your message


Message has successfully sent


An Error has Occured




Article source: http://www.hidayatullah.com/read/28822/02/06/2013/%E2%80%9C150-tahun-frans-van-lith%E2%80%9D-.html


Pelajaran dari Surah Al Baqarah Ayat 101-141

Nafsu, Qalbu, wa Ruh

Nafsu, Qalbu, wa Ruh


Oleh : H. Sutan Zaili Asril


Wartawan Senior


Padang Ekspres • Minggu, 21/07/2013 01:57 WIB • 21 klik


H. Sutan Zaili Asril


SEBAGAIMANA kebanyakan dari kita, masa di bulan Ramadlan digunakan Cucu Magek Dirih mengulangi kaji/menyegarkan berbagai pemahaman tentang ajaran agama Islam. Salah satunya, memahami kembali nafs, qalb, dan ruh. Ia membaca kitab-kitab atau banyak buku yang ada dalam perpustakaan pribadinya, dan masih pula kitab-kitab atau banyak buku pada library online. Misalnya, an-nafs berasal dari kata Arab, bisa bermakna: napas, nafsu, jiwa, diri, ruh, jasad, qolbu. Kata nafs berhubungan dengan nephes di dalam Hebrew (bahasa Ibrani). Dalam bahasa Inggris, kata mendekati/sering digunakan menerjemahkan nafs adalah soul, tapi, soul terbatas penggunaan suatu yang bersifat teologis dan metafisik. Kadangkala nafs diterjemahkan sebagai mind (Inggris) yang berarti pikiran, benak, tapi, mind tidak bisa mewakili kedalaman makna nafs. Dalam bahasa Indonesia nafs diterjemahkan sebagai jiwa, walau sering rancu dengan makna hawa nafsu, tapi, pemaknaan jiwa (perpaduan antara ruh dan jasad.) sering digunakan dalam istilah psikologi Islam. Kata nafs banyak disebutkan di dalam Al Quran, ada beberapa makna yang terkandung di dalamnya.


 


Pertama (QS 5:32), seorang manusia (seutuhnya): ”Oleh kare­na itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (mem­bu­nuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan ia/dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang­siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah ia/dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, lalu banyak di antara mereka sesu­dah itu sungguh-sungguh melam­paui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” Kedua, apa yang terdapat (bagian) dalam diri ma­nu­sia yang menghasilkan tingkah laku (QS 13:11): ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ketiga, me­nunjukkan diri Allah SWT (QS 6:12): ”Katakanlah: Kepunyaan Allah. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang.” Dalam Al Quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna sebagai sarana menampung dan mendo­rong manusia untuk berbuat ke­baikan dan keburukkan (QS 91:7-8): ”Dan jiwa serta penyempur­naan­nya (ciptaan), Allah me­ng­ilham­kan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan baru, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukkan. Setelah ruh dan ja­sad disatukan maka munculah pengaruh yang ditimbulkan jasad terhadap ruh, pengaruh tersebut kemudian memunculkan kebu­tuh­an-kebutuhan jasad yang di­bangun oleh ruh. Kebutuhan atau dorongan jiwa inilah yang dikenal dengan hawa nafsu.


 


Berkatalah Ibnu Abbas RA: ”Sumber dari maksiat, nafsu birahi, dan kelalaian adalah hawa nafsu. Bagimu berteman dengan orang bodoh yang membenci hawa nafsu lebih baik ketimbang berteman dengan orang pandai yang menyu­kai hawa nafsunya. Ilmu macam apakah yang dimiliki orang alim (pandai) yang menyukai hawa nafsunya atau kebodohan apakah yang akan dimiliki orang bodoh yang membenci hawa nafsunya?” Al-Quran selalu mengajak manusia untuk selalu menjaga/mensuci­kan jiwa-nya dari dorongan hawa nafsu (QS 4:29): ”Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesung­guhnya Allah adalah yang Maha Penyayang padamu.” Atau (QS. 91:8-10), ”Sesungguhnya berun­tung orang yang mensucikan jiwa itu. Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”


 


Al-Ghazali memjelaskan pe­nger­tian-pengertian aql, qalb, ruh, dan nafs. Menurut Al Ghazali, ’aql adalah pengetahuan yang dikate­gorikan dalam tiga: pertama, pengetahuan aksiomatis (al-’ulum al-dharuriyyah), muncul dalam diri manusia saat ia mencapai usia tertentu. Ini mencakup penge­tahuan tentang yang kemung­kinan suatu yang mungkin dan kemustahilan mustahil. Seperti tiga lebih banyak dari dua atau sebuah benda tak mungkin berada lebih dari satu tempat di dalam waktu bersamaan. Kedua, penge­ta­huan didapat dari pengalaman/interrelasi pada lingkungan. Di sini, ’aql dipertentangkan dengan jahl (kebodohan). Ketiga, pengeta­huan memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan mengendalikan diri/hawa nafsu dan tidak lagi terjebak dengan ke­senangan-kesenangan tempo­rer—yang berakhir buruk. Dalam pe­ngertian kedua, ’aql berarti kuali­tas (washf) yang membedakan manusia dari hewan, memung­kin­kan paham ilmu-ilmu speku­latif, dan menyadari operasi mental psikologis yang terjadi dalam diri. Secara sederhana ’aql adalah fakultas penyerap pengetahuan.


 


Lalu, qalb—sebagaimana ’aql—mempunyai dua pengertian. Per­ta­ma, qalb sebagai entitas fisik yang merupakan hati, segumpal daging yang tergantung di dalam rongga dada sebelah kiri manusia. Kedua, qalb adalah esensi paling mendasar dari manusia yang dapat menalar/mengetahui infor­ma­si atau pengetahuan. Dalam definisi kedua ini kelihatan ada persamaan yang mendasar de­ngan definisi ’aql yang kedua. Ruh, sebagai fakultas psikologi adalah sama dengan qalb, meski dalam definisi material berbeda. Ruh adalah materi halus yang merupa­kan tonggak kehidupan manusia. Kehilangan ruh berarti kematian. Materi halus ini bersumber dalam hati qalb (dalam arti material) yang disebarkan oleh darah keselu­ruh bagian tubuh manusia. Lalu, nafs juga memiliki dua pengertian. Pertama, entitas immaterial yang merupakan sumber dari sifat-sifat negatif manusia seperti marah, dengki, dan sebagainya. Kedua, nafs dapat berarti esensi manusia yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pemahaman-pema­haman dan pengetahuan (sama dengan ’aql dalam definisinya yang kedua).


 


Wa ma huwa ar-ruh? Roh atau ruuh (bahasa Arab) unsur non­ma­teri yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penye­bab ada kehidupan. Dalam pan­dang­an agama Islam, manusia merupakan makhluk terakhir diciptakan Allah, setelah makhluk lain seperti malaikat, jin (iblis), alam semesta, hewan (binatang), tum­buhan, dan lain-lainnya, di­cip­ta­kan. Allah menciptakan ma­nusia dengan dipersiapkan untuk jadi makhluk paling sem­purna. Manusia diciptakan untuk jadi khalifah di muka bumi dan me­makmurkan bumi.


 


Pada persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian/kesaksian dari calon manusia. Yaitu, ruh-ruh manusia yang ada di alam arwah. Allah mengambil sumpah (Al Quran, surat Al A’raf ayat 172). Dengan kesaksian dan perjanjian itu, seluruh manusia yang lahir ke dunia dianggap sudah memiliki nilai (fitrah) beriman pada Allah dan ajaran yang lurus (agama Islam).


 


Dalam Kristen, secara etimo­logis, roh/ru-ach (Ibrani) unsur ketiga yang membentuk kehidu­pan manusia. Paulus menye­but­kan, bahwa manusia terdiri tiga unsur: roh, jiwa, dan tubuh. Unsur tubuh jasmani, wadag, yang dapat diraba. Jiwa atau nyawa, ada di dalam darah. Roh memberi manu­sia kesadaran. Tubuh jasmani dapat binasa, roh manusia kekal. Dalam Kristen diakui, Allah ada­lah roh (Yohanes 4:24). Yesus Kris­tus disebut Allah atau Bapa. Bapa adalah roh. Roh Kudus, roh Tuhan. Roh Kudus tidak diciptakan, tapi, keluar dari Bapa (Yohanes 15:26). Roh Kudus hanya satu, sekaligus me­menuhi banyak manusia/mem­­berikan rupa-rupa karunia roh (1 Korintus 12:4). Arwah, roh dari manusia meninggal. Kristen mem­percayai, tiap arwah manu­sia yang benar ditempatkan ma­lai­kat Tuhan di Firdaus Allah—ke pa­ngkuan Abraham (Lukas 16:23), sedang arwah orang yang tidak benar ditempatkan di Hades. Iblis pun disebut satan, dalam Kristen dipercaya sebagai pribadi roh (tunggal, bukan jamak), asal dari penghulu malaikat yang memberontak pada Allah, dan diusir dari surga. Setan-setan disebut roh-roh jahat—bermakna banyak. Sepertiga jumlah malai­kat yang terpengaruh iblis dan ikut memberontak, lalu diusir dari surga, dijatuhkan ke bumi. Iblis dan roh-roh jahat mempunyai ke­cenderungan menggoda manu­sia berbuat dosa—kelak mendapatkan hukuman Tuhan di neraka di Hari Penghakiman.


 


BEGITULAH, ulama menyu­sun tingkatan dan derajah nafs dalam tujuh tingkatan: amarah, lawwamah,  mulhimmah, mut­main­nah, radhiah, mardhiah, dan kamilah. Nafs amarah (akan selalu menyeru berbuat jahat, Surat Yusuf ayat 53) adalah tingkatan nafsu manusia yang terendah: sifat dan watah manusia pada tingkat ini sangat buruk. Ciri-ciri (QS 10:53): orangnya gampang tersinggung, selalu marah-ma­rah, merasa benar sendiri atau tidak mau kalah, dendam, ringan tangan, nafsu seksual tidak terken­dali, tidak ada pengendali dalam diri (norma/etika). Kedua, nafs law­wamah (pencela/Surat Al Qiyamah ayat 2), yang setingkat le­bih baik daripada nafs amarah, tapi, diri belum stabil, karena terkadang ia/dia kembali jatuh ke tingkat nafsu amarah. Ciri-ciri (QS 75:2): tidak stabil, setelah menjadi baik, bahkan mengajak orang untuk baik, setelah ada ujian/godaan sedikit saja masih kembali ke asal (maksiat)/tidak sabar.


 


Ketiga, nafsu mulhimah, adalah telah cukup mengetahui tentang kebenaran (al-haq) dan kesalahan (al-bathil), tapi, belum mampu untuk melaksanakan dengan/secara baik karena kelema­han­nya. Ciri-cirinya (QS 91:8): telah mengetahui kebathilan dan atau kemaksiatan tapi tetap mela­ku­kannya dengan kesadaran, telah mengetahui kebenaran tapi, tidak ada kemauan melaksanakannya. Keempat, nafsu muthmainah (te­nang, Surat al-Fajr ayat 27-28), pada tingkatan ini orang telah dijanjikan Allah SWT masuk ke dalam surga-Nya. Ciri-cirinya (QS 89:27-30): Jiwa tenang, kem­bali kepada Rabbnya dengan hati puas, kepribadian mantap menger­jakan perintah Allah, mening­gal­kan larangan, tak mudah ter­penga­ruh/istiqamah. Kelima, nafs radhiah, pada tingkatan ini ma­nusia setingkat di atas nafs mu­thmainah, ditambah rasa ikhlas/penyerahan diri total pada Allah, kesusahan/musibah/tantangan menjadi nikmat baginya. Ciri-ciri (QS 2:45; dan QS 3:146): penuh ketakwaan, menerima segala ujian/musibah/tantangan dgn keikhlasan dan penuh kesabaran (tidak lemah, tidak lesu dan tidak menyerah).


 


Keenam, nafsu mardhiah, pada tingkatan ini manusia berada setingkat lagi di atas nafsu radhiah. Baginya, sesuatu yang sunnah dilaksanakannya seakan ibadat itu juga yang (nyaris sama de­ngan) diwajibkan dan memperla­kukan hal-hal yang subhat sebagai haram. Ciri-cirinya (QS 3:104; dan QS 19:97): Semua yang dimi­li­ki pada tingkatan nafsu radhiah ditambah mempunyai daya me­lak­sanakan/menegakkan amal ma’ruf nahi dan mungkar secara sejati, menjadi pemberi peringa­tan dan atau berita gembira. Ketujuh, nafsu kamilah. Manusia pada tingkatan nafsu yang sem­pur­na, ini hanya dimiliki oleh setingkat para Nabi dan para Rasul: nafs yang sudah berada pada tingkat penyerahan diri secara totalitas dengan pengabdian pada Allah. Ciri-ciri (QS 3:110; QS 33:21): memiliki sifat utama para Nabi/Rasul: siddiq (jujur/benar), amanah (dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (menyam­pai­kan).


 


KIRANYA, kita yang berpuasa Ramadhan mampu menaklukkan dan mengendalikan diri dalam arti, selain menahan lapar/daha­ga/berhubungan dengan isteri/suami, adalah berusaha melatih mengendalikan pikiran dan hati—orang bertakwa mengendalikan/terpelihara hati, pikiran, dan perbuatannya. Insya Allah berkah. (*)


[ Red/Administrator ]


Article source: http://beritasore.com/2013/06/27/azerbaijan-ajak-indonesia-mengesahkan-rsolusi-khusus/


Nafsu, Qalbu, wa Ruh